Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1463
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/611902e86121d56cfc108e31/petaka-tambang-emas-berdarah
Salam lekum agan sista semua. Ane balik lagi dengan cerita baru masih dengan latar, mitos, budaya, urban legen maupun folklore Kalimantan. Thread kali ini kayaknya lebih ancur dari cerita sebelumnya 不不不. Genrenya juga gak jelas. Entah horor, thriler, misteri, drama atau komedi 不 Semoga thread kali ini bisa menghibur gansis semua yang terdampak PKKM, terutama yang isoman moga cepat seha
Lapor Hansip
15-08-2021 19:04

Petaka Tambang Emas Berdarah

Petaka Tambang Emas Berdarah


Salam lekum agan sista semua.

Ane balik lagi dengan cerita baru masih dengan latar, mitos, budaya, urban legen maupun folklore Kalimantan.

Thread kali ini kayaknya lebih ancur dari cerita sebelumnya 不不不. Genrenya juga gak jelas. Entah horor, thriler, misteri, drama atau komedi 不

Semoga thread kali ini bisa menghibur gansis semua yang terdampak PKKM, terutama yang isoman moga cepat sehat.

Ane juga mohon maaf apabila dalam cerita ini ada pihak yang tersinggung. Cerita ini tidak bermaksud untuk mendeskreditkan suku, agama, kelompok atau instansi manapun. Karena semua tokoh dan pihak yang terlibat adalah murni karena plot cerita, bukan bermaksud menyinggung.


Quote:beberapa gambar ane comot dari google sebagai ilustrasi, bukan dokumentasi pribadi.


Quote:Update teratur tiap malam Senen dan malam Jumat pukul 19.00. wib


Quote:Dilarang keras untuk memproduksi ulang cerita ini baik dalam bentuk tulisan, audio, visual, atau gabungan salah satu atau semua di antaranya tanpa perjanjian tertulis. Terima kasih



Quote:






















Diubah oleh benbela
profile-picture
profile-picture
profile-picture
batuguling dan 98 lainnya memberi reputasi
97
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 16
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 19:10
Quote:Original Posted By benbela


Bab 1 : Kepergian Abah


Aku terpaksa jadi penambang emas liar, kehidupan keras yang tak pernah kuinginkan sebelumnya. Jujur, setelah lulus SMA dua tahun lalu sebenarnya aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.

Aku iri dengan Jali, anak haji Dullah si juragan sembako. Padahal si Jali ini terkenal bandel dan suka bolos waktu sekolah dulu. Tapi karena terlahir dari orang kaya, tentu saja nasib si Jali jauh lebih beruntung. Dengan duit orangtuanya yang berkarung-karung, Jali bisa menyandang status mahasiswa di salah satu universitas di pulau Jawa sana.

Aku juga kesal dengan si Mila. Gadis genit berotak kosong itu dengan gampangnya memakai jas almamater salah satu perguruan tinggi di kota. Sewaktu sekolah dulu, Mila ini hanya sibuk dengan pupur dan gincu. Ketika ditanya oleh guru bahasa Inggris, jawabannya hanya yes dan no. Tapi lagi-lagi karena punya duit, otak kosong bukanlah penghalang bagi orang seperti Mila, anak salah satu pejabat di kabupatenku.

Sedangkan aku, hanya bisa pasrah menyandang status sebagai orang miskin. Apesnya, udah miskin tetap saja tidak pernah dapat BLT dari kelurahan. Aku juga sudah malas mengurus tetek bengek administrasi yang ribet. Selalu saja kurang berkas, entah apa alasanya. Yang kutahu, BLT dan sebagainya hanya dibagikan bagi keluarga Lurah, keluarga pegawai kelurahan, juga keluarga pak RT dan kawan-kawannya yang tidak layak disebut miskin.

Lalu orang miskin sepertiku ini hanya bisa memaki dalam hati. Pasrah dengan keadaan dan menjalani pahitnya kemiskinan. Ngadu pada camat, dicuekin. Ngadu pada Bupati, tetap dicuekin. Ngadu pada Tuhan, eh...tetap dicuekin.

Mau gimana lagi, terkutuknya kemiskinan sepertinya belum mau lepas dari kehidupanku.

Sebenarnya kehidupanku pernah sedikit nyaman sewaktu Abah masih hidup. Walau tidak pernah berlebihan duit, setidaknya aku dan Ibu tidak pernah makan pakai garam. Tidak juga hanya makan daun singkong rebus selama berhari-hari. Walau setahun sekali, dulu aku juga bisa pakai baju baru sewaktu lebaran.

Kemudian Abah meninggal akibat tenggelam di sungai Barito. Jasadnya ditemukan tiga hari kemudian dengan kondisi yang sulit dikenali. Sungguh aneh, karena Abah orang yang jago berenang.

Yang kuingat, waktu itu selepas Isya Abah pamit pergi ke Lanting, rumah apung yang ada pinggiran sungai Barito. Kata Abah, beliau ingin bertemu dengan kawannya untuk membahas lokasi penambangan emas berikutnya. Namun hingga lewat tengah malam Abah tak juga kunjung balik. Hingga tersiar kabar keesokan paginya Abah terjatuh dan tenggelam di sungai.

Kata kawan-kawannya, malam itu Abah datang ke lanting sebenarnya bukan untuk membahas lokasi penambangan, tapi untuk pesta miras. Memang beberapa hari sebelumnya usaha Abah dan kawan-kawannya sebagai penambang emas liar dapat hasil yang lumayan. Sudah rahasia umum juga, orang-orang susah itu kalau dapat duit agak lebih sedikit gak jauh-jauh dari miras.

Karena dalam kondisi mabuk, Abah yang berusaha pulang malah terpeleset di titian batang kayu dan terseret arus sungai Barito yang deras.
Tiga hari kemudian, jasad Abah ditemukan tersangkut di Lanting yang ada di bagian hilir sungai.

Ibu tidak terima, sakit hati dan hampir gila. Walau bukan orang relijius, menurut ibu, Abah bukanlah orang yang suka mabuk. Jangankan mabuk, melihat botol miras saja Abah tak suka. Waktu itu, Ibu menangis sejadi-jadinya, meraung-raung bagai orang kesurupan melihat jasad Abah yang sudah membusuk.

Selepas pemakaman Abah, berhari-hari ibu tidak makan, tidak mandi dan tidak ganti pakaian. Tubuhnya bau, jorok dan rambutnya acak-acakan. Kukunya pun semakin panjang dan menghitam karena tidak dipotong.

Bila malam tiba, aku sering ketakutan sendiri di rumah melihat tingkah ibu. Sering aku terbangun tengah malam karena mendengar suara tangis menyayat hati.

Dari balik kelambu, sambil menahan jerit aku memelototi punggung perempuan yang meratap di dapur.
Rambut yang hitam, panjang dan terurai menyentuh lantai dengan pundak yang bergoyang akibat sesenggukan, membuat jantungku rasanya mau copot.

Aku semakin gemetaran ketika perempuan itu tiba-tiba menoleh, menatap tajam kearahku yang tengah berbaring di dalam kelambu.

Memang, rumah kami yang sempit ini tidak punya kamar. Hanya sekat ruang tamu, lalu tempat tidur yang langsung lurus ke arah dapur. Sehingga dari tempat tidur, aku bisa melihat langsung ada perempuan yang tengah duduk di dekat kompor.

"Hamid...? Kok belum tidur ?" tanya perempuan itu tiba-tiba.

"Be-belum bu." jawabku terbata. Antara kaget dan lega, ternyata perempuan yang duduk di dapur tadi bukanlah kuntilanak nyasar. Tapi ibu yang sedang berduka.

"Tidur nak...besok kamu harus sekolah." kata ibu lagi pelan. Sedih, perih dan menyayat hati. Matanya sembab karena menangis.

"Besok hari Minggu bu, sekolah libur." jawabku polos.

Ibu terlihat kaget. Sepertinya tersadar sudah hampir 10 hari ia tak pernah mengurusku. Aku dibiarkan sendiri, mencari makan kesana kemari. Bila lapar, kadang aku mencuri buah jambu di kebun Haji Rasyid. Bila apes, sumpah serapah mengiringi langkahku berlari, menghindari kejaran anak-anaknya yang membawa kayu.

Seragam putih merahku pun sudah menguning, dekil, penuh daki dan bau. Sejak kepergian Abah, kesedihan ibu membuatnya tak lagi peduli padaku. Jangankan mengurusku yang masih duduk di kelas 5 SD, mengurus dirinya sendiri pun ibu sudah tak mampu.

Untung saja ada Mang Anang, sahabat sekaligus boss almarhum Abah sewaktu bekerja sebagai penambang emas liar.

Mang Anang inilah, yang disebut anak buahnya Kapten, yang banyak membantu mengurus pemakaman Abah. Mang Anang juga yang kerap membantuku dan ibu setelah kematian Abah. Tak jarang Mang Anang mengantari kami beras, ikan asin, serta keperluan dapur lainnya.
Tentu saja ia sisipkan sedikit uang untuk ibu dan uang jajanku.

Apa yang dilakukan Mang Anang, bukan hanya sekedar belas kasihan pada anak dan istri sahabatnya. Tapi lebih rasa bersalah. Mengetahui kematian Abah, Mang Anang yang waktu itu ada di kota Banjarmasin untuk menjual emas, bergegas pulang hari itu juga.

Mang Anang mengamuk habis-habisan. Anak buahnya yang mengajak almarhum Abah untuk pesta miras malam itu, dimaki tanpa ampun.

Penambangan emas yang dilakukan oleh kelompok mang Anang pun dihentikan berbulan-bulan. Mang Anang menyesal, menyalahkan diri sendiri. Kata mang Anang, mungkin saja Abah masih hidup kalau saja ia mengajaknya ke Banjarmasin. Tapi apa mau dikata, takdir tak bisa ditolak dan umur tidak berbau.

"Terimalah, Arbayah. Tak perlu kau sungkan. Almarhum suamimu juga pasti melakukan hal yang sama untuk keluargaku. Kau juga tahu, aku dan almarhum sudah bagai saudara kandung. Kami hidup serantang-seruntung sedari masih bujang."

Tangan ibu bergetar dan matanya berkaca-kaca, ketika pertama kali mang Anang mengantarkan bantuan waktu itu. Ibu langsung bersujud dengan uraian air mata, mengucapkan beribu terima kasih pada mang Anang.

Memang sudah berhari-hari kami tidak pernah merasakan makanan manusia. Hanya memakan daun singkong rebus yang tumbuh tak terurus di samping rumah. Derajat kami hanya satu tingkat diatas kambing. Bedanya, daun singkong rebus olahan ibu ditambah garam, supaya ada rasanya.

Dan sepertinya penyakit miskin kami juga menular pada kebun singkong warisan almarhum Abah. Begitu dicabut, singkong-singkong itu tidak ada umbinya. Hanya ada kayu yang tidak bisa dimakan. Babi pun tak sudi memakannya, apalagi kami yang masih berstatus manusia.

Kembali ke mang Anang, bantuan yang diberikannya tentu saja tak bisa setiap saat. Hasil menambang emas tidak menentu. Bila hasil menambang emas cukup lumayan, maka mang Anang mengantarkan bantuan padaku dan ibu. Bila hasilnya merugi, siap-siap saja gigit jari.



...bersambung...

Diubah oleh benbela
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 48 lainnya memberi reputasi
49 0
49
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 19:15
Quote:Original Posted By benbela


Bab 2 : Orang Miskin Baru


Sejak kematian Abah, status keluarga kami yang tadinya hampir miskin, secara resmi dinyatakan OMB. Orang Miskin Baru.

Perlahan, Ibu sudah mulai normal, tidak jadi gila dan berhenti main kuntilanak - kuntilanakan. Aku juga sudah kembali diurus, dikasih makan, dicubit dan dipukul hingga menangis bila berbuat bandel.

"Jangan lama mandi di Barito ! Nanti dimakan Tambun, baru tahu rasa !"

...bak...buk...bak...buk...

Potongan rotan mendarat di pantatku yang tepos.

"Huu...hu...hu..."

Aku tersedu menahan sakit. Meronta dan meraung berurai air mata. Ku gosok-gosok pantat yang memar karena pukulan ibu, tapi ia tak berhenti memukul.

"Ibu jahat...ibu jahat..." teriakku dalam tangis, "aku mau abah...aku mau abah...abah tak pernah jahat. Abah tak pernah memukul. Abah selalu sayang Hamid...Huu...hu...hu..."

Pukulan ibu berhenti, rotan terlepas di tangannya. Ia terdiam, matanya berkaca-kaca. Dipeluk dan diciumnya aku tanpa suara.

Memang, biasanya aku lupa diri kalau sudah mandi di sungai.

Saat malam, diam-diam rotan ibu kubuang ke sungai kecil dekat rumahku, sungai beriwit, anak sungai Barito.

Saat pagi, ibu kebingungan mencari rotannya. Katanya buat ngangkat jemuran. Kujawab saja tak tahu.

Waktu berlalu. Satu-persatu harta peninggalan Abah sudah terjual. Motor bututnya pun sudah dijual demi beras dan menutupi utang.

Listrik dari PLN juga diputus karena tak sanggub dibayar. Bantuan dari mang Anang pun tidak selalu lancar. Bagaimana pun juga, mang Anang juga punya keluarga yang harus dihidupi.

Ibu kemudian mengampil upah sebagai tukang cuci di rumah Haji Rasyid yang hasilnya tidak seberapa. Kadang, ibu juga bantu-bantu memasak di rumah Haji Rasyid. Aku paling suka bila ibu membantu memasak, karena pulangnya bisa makan enak. Aku bisa merasakan patin, ayam atau makanan enak lainnya.

Tapi pekerjaan ibu sebagai tukang cuci di rumah haji Rasyid tidak bertahan lama. Status ibu yang janda jadi bahan gunjingan tetangga. Tukang gosipnya adalah acil Asnah. Tukang gosip kelas wahid di kelurahan Beriwit.

Beredar kabar, Haji Rasyid berniat menjadikan ibuku sebagai istri kedua. Istri Haji Rasyid mengamuk, mencaci dan menghina. Ibu dipecat dan digantikan orang lain. Penggantinya, siapa lagi kalau bukan acil Asnah.

Hari terus bergulir, tapi nasib kami sebagai orang miskin belum juga berubah. Kadang makan, kadang puasa berhari-hari. Para pedagang pun tidak mau lagi menghutangi ibu, sedangkan hutang terdahulu belum juga terbayar.

Agar tetap bisa makan, ibu kerja apa saja yang penting halal. Kadang bantu orang jualan di pasar, kadang terima jasa jadi tukang cuci pakaian orang-orang kaya.

Aku juga tidak berdiam diri. Sepulang sekolah aku langsung ganti baju lalu pergi ke dermaga, jadi buruh angkut pelabuhan. Aku juga terima jasa membersihkan rumput atau kebun milik siapa saja.

Kehidupanku dan ibu agak sedikit hampir membaik sewaktu aku duduk di kelas 2 SMP. Itu adalah kali pertama aku bekerja sebagai penambang emas liar. Sungguh ironis, ternyata aku mewarasi profesi ayahku, yang juga diwarisinya dari kakek.

Tentu saja aku ikut kelompok mang Anang, boss sekaligus sahabat Abah. Dan aku juga tidak lagi memanggilnya mang Anang, tapi kapten Anang. Entah kenapa dia dipanggil kapten, aku hanya ikut-ikutan saja dengan pekerja lainnya.

Badanku rasanya saat itu remuk. Sakit luar dalam hingga ke tulang. Dua minggu di tengah hutan belantara rasanya bagai neraka. Badan menghitam,kulit semakin dekil dan rambut acak-acakan. Sungguh pekerjaan yang tak layak bagi remaja 13 tahun.

"Sabar Mid. Sekarang kau miskin, tapi nanti aku yakin kau akan jadi orang kaya. Jarang ada anak seusiamu yang mau bekerja seperti ini." hibur Kapten Anang yang melihatku merenung di balik pondok waktu itu.

"Kau sedari kecil sudah terbiasa berusaha keras. Nanti saat kau dewasa, kau akan menuai hasilnya." lanjut kapten Anang.

Aku hanya diam saja, tidak mengiyakan tidak pula membantah. Yang kutahu, kapten Anang dan almarhum Abah sudah sedari kecil kerja keras banting tulang. Namun setelah dewasa, nasib mereka tak juga berubah. Tetap berkutat dengan kemiskinan.

Melihatku yang hanya diam saja, kapten Anang kembali mengeluarkan nasihatnya.

"Yang penting, begitu terima hasil harus kau tabung. Jangan kau habiskan seperti orang-orang susah itu." Kapten Anang menunjuk rekan kerjaku yang lain yang tengah sibuk main gaple dibawah pohon besar, dekat tumpukan mesin penyedot pasir.

"Kau lihat mereka, begitu terima pembagian hasil kerja, duitnya habis untuk mabuk-mabukan. Habis di meja judi atau main perempuan di kota. Sudah miskin, cara berpikirnya juga miskin. Makanya tak pernah lepas dari kemiskinan."

Kali ini aku setuju. Aku mengangguk dan mengiyakan nasihat kapten Anang. Ia lalu tersenyum dan membelai rambutku, layaknya belaian seorang ayah pada anak.

"Ingat Hamid. Meski sudah tak ada harapan lagi, kau harus tetap tegak berdiri."

"Siap, kapten !" Ucapku sambil berdiri lalu memberi hormat pada kapten Anang. Melihat ulahku, ia hanya tertawa lalu menepuk-nepuk punggungku.


Setelah dua minggu menambang emas di hutan, segala derita langsung terbayar saat pembagian hasil. Segera saja kuserahkan uang itu pada ibu. 4 juta rupiah. Uang yang sangat banyak bagi kami. Bahkan teramat banyak bagi remaja kampung sepertiku.

Mata ibu berkaca-kaca. Dipeluk, dibelai dan diciumnya diriku tanpa henti.

"Kau sudah dewasa nak. Kaulah kepala keluarga kita. Abdul Hamid, anakku yang bauntung batuah." peluk ibu berurai air mata.

"Bu, ketekmu bau !" seruku menahan muntah sambil menghindari pelukan ibu.

Mengusap air mata, ibu hanya tertawa mendengar celetukanku. Ia lantas bergegas ke kamar mandi, membersihkan badan, berganti baju dan memakai minyak wangi murahan.

Ibu harus bahagia, kataku dalam hati. Sejak kehilangan Abah, ibu semakin kurus. Matanya cekung, rambutnya jarang disisir dan kulit putih mulusnya menjadi dekil. Baju daster ibu juga penuh tambalan. Sebenarnya lebih layak dijadikan lap kaki daripada disebut pakaian.

Ibu juga tak mau menikah lagi, katanya takut suami barunya tak menerima kehadiranku. Selama ini, ibu sudah berjuang keras membesarkan dan menghidupiku, sekarang saatnya aku membalas kebaikan ibu.

*****


Malam itu kami makan enak. Ibu memasak patin bumbu kuning, kulit cempedak goreng, daun singkong goreng baupet dan sambal tampuyak. Sudah bertahun-tahun kami tak pernah makan enak semenjak kematian Abah.

Utang di warung pun dicicil, sisanya ibu simpan. Waktu terus berlalu, aku beranjak semakin besar. Badanku semakin hitam akibat terbakar matahari, tubuhku juga berotot akibat bekerja keras.

Bila libur semester, aku ikut kapten Anang menambang emas. Selain itu, aku kerja apa saja. Kadang aku jadi tukang untuk membangun gedung sarang burung walet. Di lain waktu, aku juga ikut orang menebang pohon di hutan untuk dijadikan papan dan bahan bangunan.

Hasil kerjaku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rumah kami tetap reot. Hanya ditambal sana-sini seadanya. Utang di warung juga masih gali lobang tutup lobang. Ternyata, modal kerja keras juga tidak cukup untuk lepas dari kemiskinan.

Di sisi lain, polisi juga semakin gencar melakukan razia. Penambang emas seperti kami banyak yang ditangkap. Alasannya merusak lingkungan, ilegal dan tak berijin. Sungguh ironis, padahal kami hanya ingin mencari makan di tanah sendiri. Kami bukan pencuri, bukan perampok, bukan pula maling.

Sedangkan perusahaan tambang dari luar semakin banyak yang berdiri. Padahal, hasilnya pun tak pernah kami nikmati. Jalan kabupaten masih banyak yang rusak, listrikpun masih belum sepenuhnya kami nikmati.

Kapten Anang pun berhenti total memberi bantuan, karena pekerjaan sebagai penambang emas semakin sulit. Lagian, aku juga malu bila terus-menerus dibantu. Aku sudah bisa menghidupi ibu.Tapi kalau ada urusan mendesak, kapten Anang adalah orang pertama yang membantu kami.

Sebagai remaja, aku juga jatuh cinta. Beruntung, cintaku bersambut. Selepas SMA, aku menikah dengan Raudah, gadis dari desa seberang sungai. Adalah hal lumrah bagi orang di daerahku menikah muda. Lagian, orang miskin seperti kami juga tidak bisa sekolah lebih tinggi lagi.

Karena sama-sama berasal dari keluarga miskin, maka urusan pernikahanku tidak terlalu ribet. Kapten Anang adalah orang yang paling banyak membantu agar pernikahanku lancar.

Setelah menikah, istri kuboyong ke gubuk kami yang reot. Tentu saja sudah diperbaiki. Kebun singkong di samping sudah dibabat habis. Dibantu kapten Anang dan penambang lainnya, rumahku dibuat lebih luas.

Aku dan istri punya kamar sendiri, sehingga tak perlu malu pada ibu bila ingin mengeong seperti kucing.

Dan yang namanya orang miskin menikah dengan orang miskin, tentu saja melahirkan generasi miskin berikutnya.

Setahun setelah menikah, putri pertamaku lahir. Keinginanku untuk bertahan hidup semakin tinggi. Semangat untuk tetap tersadar semakin kuat.

Meski tubuhku terluka,melemah dan kehabisan tenaga di tengah belantara, aku harus tetap hidup. Aku harus bisa bertahan demi anak, istri dan ibu di rumah.

Aku harus tetap hidup, demi 3 orang yang sudah tak sabar menanti kepulanganku di rumah.

Aku harus selamat apapun yang terjadi. Aku harus bisa lepas dari buruan mahluk itu. Mahluk yang telah menghabisi dan menyeret satu -persatu rekan kerjaku ke dalam sungai.



...bersambung...



Sampai jumpa malam Jumat Gansist.

Jangan lupa sakrep, komeng dan syeer ewer ewer
Diubah oleh benbela
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mas444 dan 53 lainnya memberi reputasi
54 0
54
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 19:27
Cerita baru nih, pasti menarik...emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 19:51
Lanjutkan om
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 20:12
Pertamaaaxxx oiiii.....
D trit khusus horor kalimantan..... emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 20:39
Lanjutken juragan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 20:42
Kayanya seru nih ceritanya..lanjutkan gan sampe tamat...



emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 20:43
Hadir
Biar rame emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
baronfreakz dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 20:44
Ahaha...thread baru, quotenya dlgedein...
Mantulll..

Cendolin dulu... Baca belakangan...emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 14 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 14 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 20:47
Ok fix... Dah ane rate juga....
Puyer bintang llma....emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 21:47
Woah udah ada yg baru aja nih om ben emoticon-I Love Indonesia
Masih kebagian pejwan emoticon-Ngakak

Rate dan cendol sent emoticon-Rate 5 Star emoticon-Toast
Diubah oleh fadlost26
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 21:59
Weh, ane ketinggalan nih, udah ada yang baru ternyata.


Pasang tenda dulu ah, moga ga kena gusur
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sudahdaridulu dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 16 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 16 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 22:40
Ikut komen ah d thread agan penguasa tanah Kalimantan emoticon-I Love Indonesia

Semangat jangan sampe kagak tamat emoticon-Bola
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 23:30
Gelar tikar, rabahan, Nunggu malam jumat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Petaka Tambang Emas Berdarah
15-08-2021 23:33
Mantap kula.... Lanjut tarus..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Petaka Tambang Emas Berdarah
16-08-2021 00:54
Tak pantengin terus gan belaemoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Petaka Tambang Emas Berdarah
16-08-2021 01:06
biar horornya lebih berasa, bacanya pas malem jumat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Petaka Tambang Emas Berdarah
16-08-2021 02:01
Asyikk... Benbella is back... Moga lancar bre updatenya... Seru nih cerita dr tanah borneo... emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sudahdaridulu dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Petaka Tambang Emas Berdarah
16-08-2021 04:24
Quote:Original Posted By chaoshary20
Ikut komen ah d thread agan penguasa tanah Kalimantan emoticon-I Love Indonesia

Semangat jangan sampe kagak tamat emoticon-Bola


Siap...turunkan ekspektasi yak


Quote:Original Posted By pro.mill
Gelar tikar, rabahan, Nunggu malam jumat


Seperti biasa gan

Quote:Original Posted By adinea06
Mantap kula.... Lanjut tarus..


Okehh sanak

Quote:Original Posted By Fariedjoe
biar horornya lebih berasa, bacanya pas malem jumat


Belum ada horornya lagi 不


Quote:Original Posted By aan1984
Asyikk... Benbella is back... Moga lancar bre updatenya... Seru nih cerita dr tanah borneo... emoticon-Jempol


Terkopi gan
profile-picture
profile-picture
69banditos dan bonita71 memberi reputasi
2 0
2
Petaka Tambang Emas Berdarah
16-08-2021 06:19
Masih pejwan kah?
Yey beben's back..
Subscribe, rate n cendolll...
emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh heiji000
profile-picture
profile-picture
benbela dan indrag057 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 16
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia