Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
3920
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2
WARNING!!! All right reserved! Thread original! Dilarang mengutip, mengcopy, memperbanyak, dan atau merepost sebagian atau seluruh isi thread ini dalam bentuk apapun dan di media manapun tanpa terkecuali. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi tegas! 18++ Thread memuat beberapa adegan kekerasan dan sadisme! Mohon kebijaksanaannya dalam membaca dan memahami isi dari cerita ini! gambar diambil da
Lapor Hansip
04-08-2021 12:03

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

icon-verified-thread




SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis





Part 1 : Firasat



Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prabuuya dan 129 lainnya memberi reputasi
124
Masuk untuk memberikan balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
05-09-2021 17:22

Part 18 : Pak Slamet Dan Ramadhan

"Astaghfirullah!" Ramadhan sampai terlonjak dari duduknya saat melihat beberapa mayat hidup yang sudah berkeliaran di teras. Bahkan beberapa diantara mereka mulai menggebrak gebrak kaca jendela, berusaha untuk menerobos masuk kedalam rumah.

"Cepat masuk ke kamar Ratri! Lindungi dia dan jangan biarkan makhluk makhluk itu sampai menyentuhnya!" tegas Pak Slamet sambil menyambar tongkat baseball yang tersandar di sudut ruangan.

"Baik Mas!" tak kalah tegas Ramadhan segera menghambur kedalam kamar Ratri. Namun baru beberapa saat anak itu kembali keluar.

"Rom! Apa yang...!"

"Sayang Mas, tinggal dikit lagi!" tukas Ramadhan sambil menyambar cangkir kopinya dan menenggak isinya sampai tandas, lalu kembali berlari masuk ke dalam kamar.

"Cah edan!" Pak Slamet mendengus melihat tingkah konyol adik iparnya itu. Tapi ia tak punya waktu banyak untuk mengomel. Mayat mayat hidup di luar itu semakin beringas menggebrak gebrak kaca jendela. Tak lama lagi mereka pasti akan berhasil menerobos masuk.

"Baiklah!" Pak Slamet menggenggam erat tongkat baseball di tangannya. Laki laki itu sepertinya sudah benar benar siap untuk berperang kini. "Berani kalian masuk ke rumah ini, itu berarti kalian sudah siap mati untuk keduakalinya!"

"Braakkk...!!! Braakkk...!!! Praaannggg...!!!"

Suara kaca jendela yang pecah yang disusul oleh derap langkah para mayat hidup yang merangsek masuk, terdengar bagai genderang perang yang mulai ditabuh. Pak Slamet tak mau ketinggalan start. Dengan berteriak lantang laki laki itu merangsek maju sambil mengayunkan tongkat baseballnya sekuat tenaga.

"IT'S TIME TO WAAARRRR...!!!"

"WHUUUSSS...!!!"

"BHUAAAGGHHH...!!!"

Sosok mayat hidup yang berada di barisan paling depan menjadi korban pertama tongkat Pak Slamet, yang dengan telak menghajar kepalanya hingga terlepas dan menggelinding di lantai.

"Hahaha...! Hanya segini kemampuan kalian hah?! Ayo, maju! Maju kalian semua! Biar kuhabisi satu persatu!" bagai orang kesurupan Pak Slamet mengayun ayunkan tongkatnya dengan membabi buta, menghajar apa saja yang berada di dekatnya. Bukan hanya para mayat hidup yang menjadi lawannya, tapi juga perabotan yang berada di ruang tamu itu kini telah hancur berkeping keping.

Entah sudah berapa banyak mayat hidup yang telah berhasil ditumbangkan oleh Pak Slamet. Laki laki itu tak sempat menghitungnya. Yang jelas, lantai ruang tamu itu kini telah dipenuhi oleh potongan potongan tubuh membusuk, yang baunya membuat kepala Pak Slamet menjadi pusing bukan kepalang. Meski begitu, gerombolan makhluk makhluk menjijikkan itu seolah tiada habisnya. Setiap ada yang tumbang, pasti ada sosok lain yang seolah datang untuk menggantikan mereka.

"Sial! Kalau begini caranya, lama lama aku bisa mati kecapekan!" gerutu Pak Slamet sambil mundur beberapa tindak untuk sekedar mengatur nafasnya yang sudah nyaris putus di tenggorokan. Sementara makhluk makhluk itu terus merangsek maju, mengepung Pak Slamet yang kini terpojok di sudut ruangan, seolah tak ingin memberi waktu kepada laki laki itu untuk sedikit memulihkan tenaganya.

Mau tak mau laki laki itu kembali harus mengerahkan sisa sisa tenaganya untuk melawan makhluk makhluk itu. Pertarungan mulai terlihat tak seimbang. Makhluk makhluk itu, meski gerakannya lamban namun akhirnya bisa juga mendaratkan serangan serangan mereka ke tubuh Pak Slamet.

"Arrrgghhhh...!!!" Pak Slamet mengerang keras, sambil terus berusaha untuk bertahan. Namun sekuat apapun ia melawan, sepertinya akan sia sia. Makhluk itu semakin banyak, sedang tenaga Pak Slamet mulai terkuras habis. Jelas, ia menjadi bulan bulanan kini. Mahluk makhluk itu dengan ganasnya memukul, menendang, mencakar, dan menginjak injak tubuh Pak Slamet yang sudah tak berdaya.

"Ramadhan! Kita tak mungkin menang! Cepat, bawa Ratri menyusul ibunya! Aku akan mencoba menahan makhluk makhluk terkutuk ini!" dengan sisa sisa tenaganya, Pak Slamet berteriak lantang. Ya, kalaupun ia harus mati malam ini, tak apa, asal Ratri bisa selamat. Dan Ramadhanlah satu satunya orang yang bisa ia harapkan saat ini.

"Ramadhaaannn...!!! Jawab aku kalau kau masih hidup! Jangan....! Jangan diam saja! Kau..., arrgghhhh...!!! Sial! Ramadhaannn...!!!" setengah putus asa Pak Slamet mencoba merangkak menuju ke kamar Ratri, sementara makhluk makhluk itu masih terus saja mengejarnya.

"Biadab! Aku tak akan memaafkanmu kalau sampai...."

"Krrooaaakkkk...!!!" alih alih mendengar jawaban dari Ramadhan, Pak Slamet justru mendengar suara aneh yang terdengar dari arah kamar putrinya. Suara serak dan berat mirip seperti kakek kakek yang sedang bersendawa.

"Sial! Jangan sampai...."

"Krooaaakkkk...!!!" kembali suara itu terdengar, namun tak sekeras suara yang pertama tadi, seolah apapun yang bersuara itu, kini mulai menjauh dari kamar Ratri.

"Tidak...!!! Jangan...!!!" Pak Slamet mencoba berdiri dan melangkah terhuyung, tanpa ada lagi makhluk makhluk menjijikkan yang menghalanginya. Seolah dikomando, begitu mendengar suara aneh itu, makhluk makhluk menjijikkan itu sontak berhamburan keluar dan meninggalkan Pak Slamet yang sudah babak belur itu.

"Ramadhan...!!! Ratri...!!!" dengan langkah terhuyung huyung Pak Slamet mencoba mencapai pintu kamar sang anak yang tinggal beberapa langkah lagi itu.

Namun begitu ia sampai diambang pintu kamar, langkahnya terhenti tiba tiba. Matanya nanar memperhatikan kondisi kamar yang tak kalah berantakan dengan kondisi di ruang tamu, dengan tubuh Ramadhan yang tergeletak bersimbah darah diatas lantai, serta ranjang sang anak yang kini telah kosong.

"Ratriii...!!!" Pak Slamet merintih.

"Mereka..., mem...bawa...nya Mas! Me...reka, mem...,bawa... Ratri...!!!"

"Bruukkk...!!!" Pak Slamet jatuh terduduk di ambang pintu kamar itu. Seluruh persendian tubuhnya serasa lunglai, tak ada tenaga lagi untuk menopang tubuh tuanya. Apa yang diucapkan oleh Ramadhan dengan terbata bata barusan, terdengar bagai sambaran petir yang menyambar tepat di telinganya.

"Mas...," Ramadhan beringsut, berusaha mendekat ke arah kakak iparnya itu. "Maafkan aku Mas, aku sudah berusaha, tapi...."

"Tidak Ramadhan!" desis Pak Slamet tajam. "Ini semua belum berakhir! Selama nyawaku ini belum lepas dari ragaku, tak akan kubiarkan siapapun menyakiti anakku! Tidak juga dengan makhluk terkutuk itu! Sekuat apapun mereka, sehebat apapun mereka, kalau berani mencolek Ratri, maka aku tak akan segan segan untuk mengadu jiwa dengan mereka. Sekarang katakan Rom, katakan! Kemana makhluk itu membawa anakku!"

"Ke arah selatan Mas, sepertinya..."

"Hmmm..., seperti itu ya," Pak Slamet kembali berdiri dengan bersusah payah, dengan kedua tangan berpegangan pada kusen pintu. "Sudah kuduga, pasti kisah lama akan terulang lagi."

"Apa maksudmu Mas?"

"Kau masih bisa bangkit Rom?"

"Ya."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Ayo kita kejar makhluk yang sudah berani kurang ajar membawa kabur keponakanmu itu!"

"Apa tidak sebaiknya kita beritahu Mbak Ratih dulu Mas?"

"Bodoh! Kau tau apa yang akan terjadi kalau sampai kakamu tau apa yang terjadi dengan Ratri?"

"Tapi, aku tak yakin kita bisa..."

"Tenang saja! Kudengar sore tadi Wak Dul ke rumah Mas Joko. Mudah mudahan kita masih sempat bertemu dengan beliau disana."

Ramadhan mulai mengerti dengan apa yang direncanakan oleh kakak iparnya itu. Mereka berduapun akhirnya bergegas meninggalkan rumah itu. Dengan langkah mengendap endap untuk menghidari pertemuan dengan mayat mayat hidup yang masih berkeliaran, keduanya menuju ke arah selatan, ke arah Tegal Salahan!

Sementara itu, tak lama setelah kepergian Pak Slamet dan Ramadhan, Bu guru Ratihpun tiba di rumah itu. Perasan tak enak mulai ia rasakan saat melihat kondisi rumah yang berantakan. Pintu dibiarkan terbuka lebar, kaca jendela yang pecah berantakan, potongan potongan tubuh membusuk yang memenuhi lantai ruang tamu, dan kamar Ratri....

"Gawat!!!" perempuan itu segera menghambur masuk kedalam kamar sang putri. Dan mata Bu Ratih terbeliak lebar saat mendapati kondisi kamar sang putri yang tak kalah berantakannya dengan kondisi di ruang tamu. Selintas pikiran buruk menyergap di hatinya. Sedikit banyak ia bisa menerka apa yang baru saja terjadi di rumah itu.

"Ratri anakku...!!!" Bu Ratih terhuyung mundur. Membayangkan apa yang telah terjadi dengan sang putri, membuat rasa pening yang teramat sangat mulai menyerang bagian belakang kepalanya.

"Arrgghhh...!!!" Bu Ratih jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa hendak meledak. Kesadaran perempuan itu perlahan mulai memudar. Kepalanya tertunduk, membuat sebagian rambut panjangnya menjuntai ke depan menutupi wajahnya.

Suasana menjadi hening sesaat. Hanya desah nafas perempuan itu yang terdengar memburu. Lalu sekejap kemudian, perempuan itu pelan pelan mengangkat wajahnya. Wajah yang sedikit berbeda dengan beberapa detik yang lalu.

Wajah cantik itu terkesan bengis kini. Nafsu membunuh jelas terpancar dari kedua matanya. Mata yang juga mulai berubah. Pupil mata yang biasanya hitam jernih itu pelan namun pasti berubah menjadi kekuningan. Senyum sinis pelan tersungging di bibir tipis itu.

"Hihihi...!!!" sambil tertawa lirih Bu Ratih bangkit berdiri. Samar samar cahaya tipis berwarna kuning keemasan berpendar dari tato rajah yang terukir di punggungnya, cahaya yang semakin berpendar itu pelan pelan melebar, menyelimuti tubuh guru perempuan itu. "Makhluk haram jadah mana yang telah berani mengusik keluargaku hah?! Kalian..., kalian semua, yang telah berani mengusik keluargaku! Kalian semua akan MATIIIIIIII....!!!"

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gundamzz dan 72 lainnya memberi reputasi
73 0
73
Lihat 25 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 25 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
04-08-2021 12:04

Part 2 : Sumur

Pagi yang cerah di hari Jumat. Matahari masih malu malu untuk menampakkan sinarnya di ufuk timur sana. Embun masih membasahi rerumputan. Hawa dingin juga masih terasa menusuk tulang. Meski begitu geliat kehidupan mulai nampak di Desa Kedhung Jati. Anak anak berseragam putih merah tampak menghiasi jalanan desa, diselingi oleh para bapak yang berangkat ke sawah atau ladang sambil memikul cangkul, serta para ibu yang menggendong bakul berisi hasil panen mereka untuk dijual ke pasar.

Semua orang nampak sibuk. Semua orang sadar akan kewajiban mereka masing masing. Kegiatan yang sudah menjadi rutinitas mereka setiap hari, mereka jalani dengan hati riang, diiringi oleh merdunya kicauan burung yang hinggap diatas dahan serta canda tawa anak anak yang bermain di halaman rumah mereka masing masing.

Begitu juga dengan Mas Yudi. Salah satu warga desa Kedhung Jati itu tak mau ketinggalan. Sepagi itu ia sudah menjalankan motor tuanya perlahan menyusuri jalanan Tegal Salahan sambil bersiul siul kecil. Sudah seminggu ini ia mendapat job untuk membantu Lik Diman menggali sumur di rumah Pak Jarwo, salah seorang warga baru yang mendirikan rumah di area Tegal Salahan.

Meski tugasnya hanya sekedar membantu, karena yang ahli dalam menggali sumur memang Lik Diman, namun upah yang diterima oleh Mas Yudi cukup lumayan. Pak Jarwo memang dikenal sebagai orang yang kaya raya. Lihat saja rumah yang dibangunnya yang sudah hampir mirip dengan istana itu. Juga kendaraan roda empat yang dimilikinya, entah apa jenis dan mereknya, Mas Yudi tak terlalu paham. Yang ia tau, hanya Pak Jarwo yang memiliki mobil sejenis itu di seantero desa ini. Mobil yang kalau berjalan suaranya nyaris tak terdengar. Mobil yang kalau lalat hinggap di bodynya saja bisa terpeleset karena sangking mulusnya. Mobil yang meski hanya dalam mimpipun Mas Yudi yakin tak akan sanggup untuk memilikinya.

Angan Mas Yudi terus melambung, sampai tak sadar ia telah sampai diatas tanjakan jalan Tegal Salahan. Motor tua yang dikendarainya ia belokkan ke arah barat, lalu mengurangi laju kendaraannya itu saat melintas dihalaman rumah Mas Joko.

"Pagi Mas," sapa Mas Yudi padi si pemilik pondok kayu sederhana itu, yang tengah duduk diatas lincak (balai balai bambu) di teras rumahnya. Disebelahnya nampak Mbak Romlah, istri Mas Joko yang tengah sibuk menyuapi Ndaru, anak bungsu mereka yang baru berusia lima tahun.

"Eh, Yud, belum selesai juga toh nggali sumurnya?" sahut Mas Joko ramah.

"Belum Mas. Sudah hampir limabelas meter tapi belum ketemu sumber juga. Maklumlah Mas, lagi musim kemarau begini, mana tanahnya keras banget, banyak batunya juga. Jadi agak lambat deh kerjanya," Mas Yudi mematikan mesin motornya.

"Sini, mampir dulu Yud, ngopi ngopi dulu. Masih pagi ini. Lik Diman juga sepertinya belum datang kok," ujar Mas Joko lagi, yang segera diamini oleh Mas Yudi. Laki laki itu segera turun dari sepeda motornya lalu masuk ke teras pondok kayu itu dan ikut duduk diatas lincak, setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk menowel pipi Ndaru yang gembul itu.

"Kok tumben ya Yud, sudah sedalam itu belum keluar air juga? Padahal biasanya warga sini bikin sumur nggak sampai sedalam itu sudah ketemu sumber," kata Mas Joko sambil menyalakan rokok kreteknya. Sementara Mbak Romlah masuk ke pondok lalu tak lama keluar lagi sambil membawa secangkir kopi untuk Mas Yudi.

"Makasih Mbak," Mas Yudi menyambut cangkir kopi yang dihidangkan untuknya itu. "Ndak tau juga aku Mas. Tapi kalau kata Lik Diman sih, memang lokasinya yang salah."

"Salah gimana maksudmu Yud?"

"Awalnya kan Lik Diman bilang kalau bagusnya bikin sumurnya itu disebelah kiri rumah itu Mas, yang bersebelahan dengan bangunan dapur itu lho. Lik Diman pasti tau lah mana mana tempat yang banyak sumber airnya, secara dia sudah ahli. Tapi Pak Jarwo itu ngotot mau bikin sumurnya dibelakang rumah, biar nggak merusak pemandangan katanya. Ya akhirnya kita nurut nurut aja, wong dia yang punya duit kok. Tapi ya gini jadinya, kerjanya jadi lambat, sudah seminggu belum kelar kelar juga. Lik Diman bahkan sudah pesimis kalau bisa menemukan sumber disitu."

"Iya juga sih, setahuku memang kalau mau bikin sumur itu memang harus mencari lokasi yang tepat gitu. Tapi ya mudah mudahan saja nanti bisa ketemu sumber Yud. Sayang kan kalau sudah dikerjain capek capek tapi ternyata nggak ada hasilnya," ujar Mas Joko.

"Iya Mas, aku juga berharap begitu," Mas Yudi menyeruput sedikit kopinya yang masih panas mengepul itu. "Oh ya Mas, Wulan sekarang jarang pulang ya?"

"Iya Yud. Lagi persiapan menghadapi ujian katanya. Mudah mudahan saja ujiannya lancar Yud, dan kuliahnya bisa cepat selesai."

"Amiiinnnn...!"

Tengah asyik keduanya mengobrol, dari kejauhan nampak Lik Diman berjalan santai ke arah mereka sambil memanggul cangkul. Kedua orang itu lalu berdiri dan mengikuti langkah Lik Diman menuju ke rumah Pak Jarwo. Meski tak diminta untuk membantu, namun sebagai seorang tetangga dekat Mas Joko merasa berkewajiban untuk ikut membantu pekerjaan menggali sumur itu meski tak setiap hari. Sudah menjadi kebiasaan memang, hidup di desa, semangat gotong royongnya masih sangat kental. Disaat ada warga yang kerepotan, maka warga yang lain tanpa diminta akan segera datang membantu.

***

Hari semakin meninggi. Matahari mulai menampakkan kegarangan sinarnya. Keringatpun mulai bercucuran membasahi tubuh mereka yang sedang bekerja. Lik Diman yang didhapuk sebagai tukang gali sudah semenjak pagi tadi turun ke lubang yang dalam itu. Menggali dan terus menggali hingga lubang itu semakin dalam dan dalam. Sementara diatas Mas Yudi dan Mas Joko bergantian menarik tanah bekas galian dengan menggunakan tali tambang dan katrol. Mereka bekerja dengan sangat giat, meski si tuan rumah sendiri tak pernah mengawasi pekerjaan mereka. Pak Jarwo terlalu sibuk dengan bisnisnya di kota. Hanya Bu Jarwo, sang istri yang berada di rumah.

Tengah asyik bekerja, tiba tiba seorang laki laki tua berpakaian kumal dan bertubuh dekil datang menghampiri mereka sambil menceracau tak jelas. Warga desa mengenal laki laki itu sebagai Si Klanthung, orang gila yang sering berkeliaran di desa itu.

"Lagi ngopo Lik?" (lagi ngapain Lik?) seru Si Klanthung sambil tersenyum senyum sendiri seperti orang stress, eh, memang dia stress ding!

"Lagi mbutgawe ki! Wis kono ojo ngrusuhi! Dolan sing adoh kono!" (Lagi kerja! Sudah sana, jangan ganggu! Main yang jauh sana!) sungut Mas Yudi yang sepertinya merasa sedikit terganggu dengan kedatangan Si Klanthung.

"Hehehe! Ojo galak galak to Lik! Wong mung ditakoni wae kok muring muring lho!" (Hehehe! Jangan galak galak apa Lik! Wong cuma ditanya saja kok marah marah lho!) Si Klanthung terkekeh, lalu berjalan mendekat ke bibir lubang yang sedang digali dan melongok ke dalamnya.

"Iki lagi ndhudhuk opo to?" (ini lagi nggali apaan to?) gumam Si Klanthung sambil melongok kedalam lubang.

"Hei! Jangan melongok longok begitu! Nanti kamu jatuh, bikin kita repot saja!" seru Mas Joko memperingatkan.

"Wah, susuh dhemit iki! Susuh dhemit kok didhudhuk lho! Edan sampeyan kabeh iki! Nek nganti dhemite ucul, ciloko sampeyan kabeh!" (wah, sarang dhemit ini! Sarang dhemit kok digali lho! Gila kalian semua ini! Kalau sampai dhemitnya lepas, celaka kalian semua!) sungut Si Klanthung seolah tak memperdulikan hardikan Mas Joko barusan.

"Wah, dasar orang sableng! Lha kok malah kita yang dikatain gila! Sudah Mas, kasih makanan saja itu Si Klanthung biar cepet pergi! Ganggu orang kerja saja!" gerutu Mas Yudhi.

Mas Jokopun segera mengambil beberapa potong singkong rebus yang tadi disediakan oleh Bu Jarwo dan memberikannya kepada Si Klanthung. "Nih, tak kasih singkong rebus, tapi habis ini kamu main yang jauh sana ya, jangan ganggu orang lagi kerja," kata Mas Joko sambil memberikan beberapa potong singkong rebus yang sudah ia bungkus dengan daun pisang itu kepada Si Klanthung.

Namun bukannya menerima makanan yang diberikan oleh Mas Joko, Si Klanthung justru terus asyik melongok longok kedalam lubang sambil menceracau tak jelas.

"Neng njero jugangan iki akeh dhemite lho Lik! Sampeyan ga wedi to?" (didalam lubang ini banyak dhemitnya lho Lik! Sampeyan ndak takut to?) desis Si Klanthung sambil menatap tajam ke arah Mas Joko yang berdiri disebelahnya.

Mas Joko sampai tercekat mendapat tatapan seperti itu. Ia sudah cukup lama mengenal laki laki tak waras itu. Namun baru kali ini ia melihat sorot mata laki laki stress itu terasa begitu menusuk ke matanya. Mas Joko sampai merinding melihatnya. Dan belum habis rasa keheranan yang dirasakan oleh laki laki iti, sebuah suara terdengar menggema dari dalam lubang, membuat laki laki itu terjingkat kaget.

"Craakkk...!!!"

"As*!"

Suara berderak seperti suara ujung cangkul yang mengenai benda keras, lalu disusul dengan suara umpatan dari Lik Diman, sukses membuat Mas Joko dan Mas Yudi seperti dikomando melongok kedalam lubang. Sementara Si Klanthung justru mundur pelan pelan menjauh dari bibir lubang, lalu berlari dengan sangat cepat menuju ke arah desa.

"Wis, ucul tenan iki! Ucul kabeh dhemit'e! Ciloko sampeyan kabeh Lik!" (Wis, lepas beneran ini! Lepas semua dhemitnya! Celaka kalian semua Lik!) teriakan Si Klanthung terdengar semakin menjauh. Mas Joko dan Mas Yudi sudah tak begitu memperhatikan lagi tingkah si laki laki stress itu. Perhatian mereka tertuju kepada Lik Diman yang nampak memanjat naik ke atas lubang dengan sangat terburu buru, seolah sedang ketakutan akan sesuatu yang baru saja ia temukan didasar lubang sana.

"Kenapa Lik?" hampir bersamaan Mas Joko dan Mas Yudi bertanya, begitu laki laki bertubuh gempal itu sampai diatas.

Lik Diman diam sejenak, sambil matanya menatap nanar kesekelilingnya seperti orang kebingungan, lalu laki laki itu meliuk liukkan pinggangnya kekiri dan kekanan hingga terdengar suara bergemeretak dari tulang tulang punggungnya yang saling beradu.

"Capek to Lik?" tanya Mas Yudi lagi. "Istirahat saja dulu kalau capek. Nanti biar gantian aku yang turun."

Lik Diman masih diam seribu bahasa, seolah tak mendengar ucapan Mas Yudi barusan. Laki laki itu justru mengulurkan tangan kanannya ke belakang kepala dan menarik rambutnya yang agak gondrong itu, sementara tangan kirinya menopang dagunya, lalu memutar kepalanya kekiri dan kekanan hingga tersengar bunyi "krek! krek!" dari tulang tulang lehernya yang bergesekan.

Mas Joko dan Mas Yudi saling pandang sesaat, merasa sedikit aneh dengan tingkah Lik Diman itu. Apalagi saat tangan kanan Lik Diman semakin kuat menarik rambut di belakang kepalanya ke kanan dan tangan kirinya mendorong dagunya ke arah kiri dengan sekuat tenaga.

"Hegh!" terdengar suara Lik Diman melenguh, seiring dengan semakin kuat kedua tangannya memutar kepalanya hingga urat urat di lengan dan lehernya bertonjolan keluar.

"Lik, apa yang..."

"Hegh! Kraakkk...!" belum sempat Mas Yudi menyelesaikan kalimatnya, Lik Diman sudah ambruk keatas tanah dengan tubuh mengejang dan kepala yang terpuntir kebelakang hingga 180 derajat. Laki laki itu tewas setelah memelintir kepalanya sendiri!

"Astaghfirullah...!!!"

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
12a12a dan 66 lainnya memberi reputasi
67 0
67
Lihat 49 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 49 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
20-09-2021 23:52

Part 23 : Kembalinya Sang Jagoan

Hari masih pagi, saat jeep tua berwarna hitam itu keluar dari halaman rumah kost yang lumayan besar, lalu merayap pelan menyusuri jalanan kota Atlas yang mulai ramai dengan segala aktifitas warga. Pengemudinya, seorang gadis berwajah tegas dengan rambut hitam panjang terikat ke belakang dan bandana warna putih yang melingkar di lehernya, nampak mengangguk angguk mengikuti alunan musik cadas yang mengalun dari radio tape yang terpasang di dashboard mobil tua itu.

Sesekali gadis itu bersenandung pelan mengikuti alunan suara dari vokalis band rock favoritnya. Wajahnya yang berbinar jelas menampakkan keceriaan. Hari ini hari terakhir dari ujian tengah semester yang harus dijalaninya. Dan ia sangat yakin, ia akan mendapatkan nilai yang cukup memuaskan.

Namun bukan itu yang membuat si gadis terlihat sangat bersemangat. Tapi rasa rindu terhadap keluarganya di desa yang telah sekian lama ia pendam, sebentar lagi akan segera tertuntaskan. Selepas ujian akan ada libur panjang, yang berarti ia bisa pulang dan berkumpul kembali dengan kedua orang tua serta adik semata wayangnya di desa.

Mobil itu terus melaju pelan, membiarkan kendaraan kendaraan lain mendahuluinya. Tak perlu terburu buru, pikir gadis itu. Toh hari masih sangat pagi. Jarak dari tempat kostnya ke kampus memang tak terlalu jauh, dan ujian baru akan dimulai sekitar satu jam lagi.

"Asem!" tiba tiba gadis itu merutuk, saat musik kesukaan yang ia dengar belum sampai tuntas tiba tiba dipotong dengan siaran berita pagi. Sebelah tangan gadis itu lalu bergerak untuk mengganti saluran gelombang radio. Namun niatnya itu segera ia urungkan, begitu telinganya mendengar si pembawa berita mewartakan sebuah kabar yang membuatnya tersentak kaget.

"Para pendengar yang budiman, sejenak kita ikuti berita pagi bersama saya Bambang Hermawan. Berita penting! Sebuah musibah telah melanda kota kecamatan S di kabupaten W beberapa hari belakangan ini. Wabah yang belum diketahui secara pasti apa penyebabnya itu dengan cepat menyebar hingga hampir ke seluruh wilayah di kecamatan S. Menurut beberapa narasumber yang berhasil kami wawancarai, wabah ini berawal dari sebuah desa yang bernama Kedhung Jati. Dan karena wabah ini dianggap sangat berbahaya, maka pihak yang berwajib terpaksa menutup kota ini sampai waktu yang belum ditentukan. Belum diketahui secara pasti tentang adanya korban, namun..."

"As*!" bagai tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, gadis itu tersentak, lalu menginjak pedal gas dalam dalam, hingga jeep tua yang awalnya berjalan pelan itu melesat cepat menerabas ramainya arus lalu lintas.

Sumpah serapah dan suara klakson dari pengendara lain sudah tak dihiraukan oleh gadis itu. Ia terus saja memacu mobilnya bagai orang kesetanan. Wajahnya yang semula cerah ceria berubah menjadi penuh ketegangan. Sebelah tangannya dengan lincah mengendalikan stir sambil sesekali mengoper gigi persnelling, sementara tangan yang satunya lagi dengan cepat menyambar ponsel yang tergeletak diatas dasboard dan menghubungi beberapa nomor yang sialnya tak satupun yang bisa dihubungi.

"Wedhus!" kembali gadis itu mengumpat, seolah menyahuti suara mbak mbak operator yang mengatakan bahwa nomor yang ia hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Hingga akhirnya, nomor terakhir yang dia hubungi bisa tersambung juga.

"Neng ngendi Mbul?" (dimana Mbul?) tanpa basa basi lagi gadis itu langsung berseru keras saat di seberang si pemilik nomor menerima panggilannya.

"Isih neng kost-an," (masih di kost-an) jawaban bernada malas terdengar dari seberang. Sepertinya si pemilik nomor baru saja terbangun dari tidurnya.

"Metuo! Enteni aku neng ngarep kost-anmu! Saiki!" (keluar! Tunggu aku di depan kost-anmu! Sekarang!)

"Lho, enek opo to? Kok tumben tumbenan..." (lho, ada apa to? Kok tumben tumbenan...)

"Ra sah nyoc*t! Metu wae! Cepet! Nganti telat tak antemi kowe!" (nggak usah banyak nanya! Keluar saja! Awas kalau sampai enggak! Kuhajar kamu!)

""Iyo iyo, iki lagi..." (iya iya, ini lagi...)

Tanpa menunggu si penerima telepon melanjutkan ucapannya, gadis itu lalu memutuskan sambungan. Matanya lalu sibuk mencari tempat memutar balik, karena tempat kost yang ingin ditujunya itu memang berada di trmpat yang berlawanan dengan arah laju mobilnya. Dan begitu ia mendapatkan tempat untuk memutar balik, tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan gadis itu membanting stir hingga jeep tua itu bermanuver tajam. Sebelah rodanya sampai sedikit terangakat. Moncong jeep itu juga nyaris menyambar gerobak tukang bubur yang sedang melintas di pinggir jalan.

"Wedhus! Kirik wedok tenan!" si pemilik gerobak mengumpat keras sambil mengacungkan tinjunya.

"Cuangkemmu!" tak kalah keras gadis itu membalas umpatan si tukang bubur sambil mengacungkan jari tengahnya keluar jendela.

Mobil itu terus melaju, membelah jalanan yang semakin ramai. Hingga saat tiba di sebuah persimpangan kembali bermanuver ke arah kiri, memasuki jalanan kampung yang tak seberapa lebar, lalu berhenti mendadak di hadapan seorang pemuda yang tengah berdiri di depan sebuah rumah kost.

"Mlebu!" (masuk!) sentak gadis itu sambil membuka pintu depan bagian kiri mobilnya.

"Sik to, enteni sedhelok, tak salin sik! Mosok mung nganggo kolor karo kaos ngene!" (sebentar to, tunggu sebentar, tak ganti baju dulu. Masa cuma pake kolor sama kaos begini.) si pemuda yang menyadari ada gelagat yang tak baik dari sorot mata si gadis, mulai bisa meraba apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Mlebu! Opo perlu tak seret?!" (masuk! Apa perlu kuseret?!)

"Iyo iyo," (iya iya) tanpa banyak cakap lagi si pemuda segera naik dan duduk disebelah sang gadis.

"As* kowe yo Mbul!" (anj*ng kamu ya Mbul!") dengan kasar tangan kiri si gadis merenggut kerah t-shirt yang dikebakan oleh pemuda itu, sementara kakinya kembali menginjak pedal gas.

"Sik to, ada apa ini? Kok pagi pagi begini kamu sudah kayak orang kebakaran jenggot gitu?" Lintang, si pemuda itu terlihat begitu tenang menghadapi keberingasan sikap si gadis.

"Jangan bilang kalau kamu ndak tau apa yang tengah terjadi di desa!" dengus Wulan, si gadis pengemudi jeep itu kasar.

"Jadi kamu juga sudah tau ya?"

"Kirik tenan kowe Mbul! apa maksudmu menyembunyikan semua ini dariku hah?!" Wulan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah t-shirt Lintang, lalu dengan cepat mengoper gigi dan menambah kecepatan.

"Lha kan kita sedang menghadapi ujian Lan. Lagipula sudah ada Bu Ratih dan Pak Modin di desa. Aku yakin mereka berdua mampu mengatasi masalah ini!"

"Bodoh!" kembali gadis itu mendengus. "Kalau mereka bisa mengatasi, masalah ini tak akan menyebar kemana mana. Barusan kudengar berita di radio, musibah ini sudah menyebar sampai satu kecamatan. Kau benar benar bodoh Mbul! Awas saja! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan keluargaku, aku tak akan mengampunimu!"

Lintang terdiam. Pemuda itu menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran jok. Sudah sejak lama ia mendapat firasat buruk, tapi ia tak menyangka kalau kejadiannya akan separah ini. Ia memang tak tau pasti, apa yang sebenarnya telah terjadi di desa. Tapi dari ucapan Wulan barusan, ia bisa menduga, musibah apa yang sedang melanda desa mereka.

Lintang lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana kolornya, mencoba menghubungi nomor emaknya di desa. Namun ternyata tak tersambung.

"Percuma Mbul! Komunikasi ke desa sepertinya juga terputus total! Entah apa sebenarnya yang telah terjadi! Aku cuma berharap, semoga kedatangan kita belum terlambat!"

Lintang kembali diam, sementara Wulan terus memacu jeep tuanya, melesat ke arah timur, membelah jalanan yang semakin ramai oleh hiruk pikuknya lalu lintas. Beruntung, Wulan adalah seorang pengemudi yang handal. Semenjak usia belasan tahun ia sudah diajari mengemudi oleh ayahnya. Hingga jarak dari kota Atlas ke Kedhung Jati yang biasanya memakan waktu tiga jam lebih itu bisa mereka tempuh hanya dalam waktu satu setengah jam saja.

Sampai di perbatasan kota kecamatan S, Wulan mengurangi laju kendaraannya. Dari kejauhan ia sudah melihat beberapa petugas kepolisian yang memblokade pintu masuk ke kota itu.

"Mohon maaf mbak, untuk sementara arus lalu lintas ke kota S ditutup, silahkan putar balik," seorang petugas polisi menghampiri mobil Wulan.

"Ini darurat Pak, tolong ijinkan kami lewat. Kami warga Kedhung Jati, dan ..."

"Sekali lagi maaf Mbak, jalan untuk sementara kami tutup. Jadi silahkan putar balik dan kembali di lain waktu." ujar petugas polisi itu lagi.

"Pak, ini..."

"Silahkan putar balik Mbak!"

"Wedhus!" habis sudah kesabaran Wulan. Gadis itu lalu kembali menginjak pedal gas dan kopling secara bersamaan, hingga suara mesin mobil itu menderu deru, menarik perhatian beberapa petugas yang sedang berjaga.

"Hei, ada apa ini?" seru salah seorang petugas.

"Ini komandan, ada orang yang mau nekat masuk ke kota S!" jawab petugas yang barusan berbicara dengan Wulan.

"Cepat buka portalnya! Atau aku akan nekat menerobosnya!" Wulan berteriak sambil mengeluarkan kepalanya dari kaca jendela samping.

"Hei! Tunggu! Jangan nekat!" beberapa petugas berusaha menghalangi jeep tua itu. Wulan sengaja menghentak hentakkan laju mobilnya, berusaha menggertak para petugas itu.

"Edan! Jangan nekat Lan! Kau mau menabrak petugas polisi heh?!" Lintang mulai cemas dengan ulah sahabatnya itu.

"Hmmm, sepertinya mereka perlu diberi sedikit pelajaran Mbul," Wulan lalu mematikan mesin mobilnya, membuka pintu dengan kasar, lalu keluar dan melangkah dengan bergegas menghampiri para petugas yang berusaha menghadangnya itu.

"Untuk terakhir kalinya, kuminta kalian untuk membuka portal ini, atau ..."

"Atau apa? Kamu anak kemarin sore mau mengancam kami hah?! Kami sedang bertugas disini, jadi mohon pengertiannya. Kalau kamu masih nekat juga, maka kami juga tak akan segan segan untuk mengambil tindakan tegas!"

"Oh, begitu ya? Coba saja kalau kalian bisa!" Wulan lalu bergegas menuju ke arah portal yang dipasang melintang di tengah jalan itu dan berusaha untuk membukanya.

"Benar benar nekat! Tahan gadis itu!" seorang petugas berseru. Petugas yang lain lalu berusaha mencegah tindakan nekat Wulan dengan menarik bahunya. Tindakan yang akhirnya berakibat sangat fatal, karena dalam waktu hanya sepersekian detik saja, nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, tubuh si petugas itu telah terbanting dan terkapar di hadapan Wulan.

"Jangan coba coba menyentuhku dengan tangan kotormu!" dengus Wulan.

"Klik!" sebuah suara terdengar dari arah belakang Wulan, disusul dengan sebuah benda dingin yang menempel di tengkuk gadis itu.

"Jangan bergerak! Kamu sudah sangat keterlaluan dengan menyerang petugas kami! Jadi jangan salahkan kami kalau kami juga bertindak tegas!"

Wulan dengan cepat berbalik, hingga moncong pistol yang awalnya menodong tengkuknya itu kini tepat berada di depan wajahnya. Gadis itu menatap sinis ke arah si petugas pemegang pistol, dan tanpa disangka sangka, Wulan menyambar tangan si petugas dan menempelkan ujung laras pistol itu di dahinya.

"Tembak!" sentak gadis itu keras. "Ayo tembak! Tapi kalau aku tak mati, kalian semua yang akan mati!"

Gemetar tangan si petugas pemegang pistol. Ketegangan jelas terasa, menghantui para petugas lain yang seolah dikomando segera meraba senjata yang terselip di pinggang mereka masing masing.

Lintang yang menyaksikan kejadian itu dari dalam mobil hanya bisa menggeleng gelengkan kepala. Tingkah konyol sahabatnya itu, sepertinya hanya akan menambah masalah saja. Pelan pelan pemuda itu lalu membuka pintu mobil, turun, lalu meliuk liukkan pinggangnya sebentar untuk mengurangi rasa pegal di punggungnya.

"Merepotkan saja," sungut pemuda itu pelan. "Kalau aku ndak turun tangan, ndak akan selesai ini masalahnya."

Lintang kembali menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat kuat, sebelum akhirnya berteriak lantang. "Bapak bapak petugas yang terhormat, kita semua punya urusan masing masing ya, jadi tolong, biarkan kami lewat dan menyelesaikan urusan kami, dan bapak bapak semua juga bisa kembali meneruskan tugas yang sedang bapak bapak semua emban!"

Getaran suara Lintang menelusup ke semua indera pendengaran para petugas itu, disertai dengan sebentuk hawa dingin yang menelusup sampai ke relung hati mereka. Dan, bagai kerbau yang dicocok hidungnya, para petugas itu segera menuruti apa yang telah dikatakan oleh Lintang barusan. Si petugas yang sedang menodongkan senjatanya ke arah Wulan mundur pelan pelan, lalu mengunci dan menyarungkan kembali senjatanya. Sementara beberapa petugas yang lain bergegas membuka portal yang melintang menghalangi jalan.

"Gampang kan? Gitu aja kok pake ngotot," Lintang mengerling ke arah Wulan, lalu berbalik dan kembali masuk kedalam mobil. Wulan yang nampak masih kesal mau tak mau ikut menyusul, lalu kembali menjalankan mobilnya melintasi portal yang kini telah terbuka lebar, meninggalkan para petugas yang masih terbengong memandingi kepergian mereka. Hingga saat jeep hitam itu menghilang di tikungan jalan, barulah para petugas itu tersadar.

"Hei, apa yang terjadi? Kenapa portalnya terbuka? Dan kenapa mobil jeep itu bisa lewat?"

Mau tak mau Wulan tertawa geli menyadari keisengan Lintang barusan. "Bisa bisanya kamu mengerjai para petugas itu Mbul."

"Itulah! Ndak semua masalah itu harus diselesaikan dengan kekerasan Lan. Kadang akal lebih diperlukan untuk menyelesaikan masalah," sahut Lintang santai, sambil bersandar pada sandaran tempat duduk.

Jeep hitam itu terus melaju, menyusuri jalanan kota S yang sunyi sepi. Tak ada satupun kendaraan yang melintas. Tak nampak seorangpun yang terlihat beraktivitas di sepanjang jalan yang mereka lalui. Kota ini benar benar telah berubah menjadi seperti kota mati.

"Gila! Apa yang sebenarnya telah terjadi Mbul? Kenapa kota ini menjadi seperti kota mati begini? Kemana semua orang?" Wulan mengedarkan pandangannya le segala penjuru, sambil terus melajukan kendaraannya melintas di depan pasar kota kecamatan.

"Benar benar gila! Bahkan di pasarpun sama sekali tak ada orang. Padahal hari masih pagi. Dan, barang barang yang berserakan di depan pasar itu..."

"Sudahlah, fokus saja menyetir, agar kita segera sampai di desa. Nanti juga kita akan segera tau apa yang sebenarnya telah terjadi." lagi lagi Lintang berujar santai.

"Kamu tuh menyebalkan Mbul! Sebenarnya kamu sudah tau kan apa yang terjadi? Kenapa kau tak memberitahuku Mbul?"

"Kau pikir aku paranormal yang bisa mengetahui segalanya Lan?"

"Ya siapa tau aja. Selama ini kan..., eh, apa apaan ini?" Wulan menghentikan laju kendaraannya saat mereka memasuki gerbang desa Kedhung Jati. Mata gadis itu nanar menatap keadaan desa yang benar benar telah porak poranda. Beberapa pohon besar tumbang menghalangi jalan. Jelas mereka tak akan bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan.

"Hmmm, sepertinya mulai dari sini kita harus berjalan kaki Lan," Lintang turun dari kendaraan, diikuti oleh Wulan. Keduanya lalu berjalan pelan menyusuri jalanan yang juga sunyi senyap itu.

"Perasaanku semakin tak enak Mbul," desis Wulan.

"Jaga emosimu Lan, apapun yang terjadi, tetaplah tenang. Ingat, emosi tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah." Lintang yang juga merasakan perasaan yang sama yang juga dirasakan oleh Wulan, mulai merasa was was. Pemuda yang memiliki insting tajam itu sedikit banyak mulai bisa meraba, masalah apa yang sedang menunggu mereka di desa.

Keduanya terus melangkah, semakin jauh memasuki desa. Angin mulai berhembus kencang, seolah menyambut kedatangan keduanya. Sebuah sambutan yang kurang ramah, karena Lintang mulai merasa beberapa makhluk tak kasat mata tengah memperhatikan mereka. Tanpa sepengetahuan Wulan, Lintang sedikit menekan energi didalam tubuhnya untuk menetralisir aura jahat yang sedang mengincar mereka itu.

"Ini benar benar diluar dugaanku," batin Lintang sambil terus memperhatikan suasana di sekelilingnya. "Makhluk makhluk ini, aura mereka terasa begitu kuat! Pantas saja kalau Bu Ratih dan Pak Modin belum bisa mengatasinya. Mudah mudahan saja...."

"Mbul, kamu dengar itu?" suara Wulan membuyarkan lamunan Lintang. Pemuda itu segera memasang telinganya baik baik. Benar saja, sayup sayup dari pertengahan desa terdengar suara ledakan ledakan kecil. Samar samar juga terlihat kilatan kilatan cahaya aneh di kejauhan sana. Jelas, ini adalah sebuah pertarungan.

"Mbul, itu...., astaga! Bu Ratih Mbul! Aku yakin..., sial! Ini tak bisa dibiarkan!" secepat kilat Wulan melesat ke arah asal suara itu. Sekilas Lintang melihat kilatan aneh di mata sang gadis yang kini telah menghilang dari pandangannya itu. Kilatan yang menjadi pertanda bahwa hal buruk akan segera terjadi.

"Ah, lagi lagi, sudah dibilangin kalau..., dasar keras kepala!" Lintang mendengus kesal, lalu mau tak mau pemuda itu ikut melesat menyusul si gadis keras kepala itu menuju ke pertengahan desa.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
1980decade dan 63 lainnya memberi reputasi
64 0
64
Lihat 56 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 56 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
07-08-2021 09:04

Part 4 : Kendhi

"Siapa perempuan itu Pak?" bisik petugas polisi itu kepada Pak Bayan Mangun yang berdiri di sebelahnya.

"Bu Guru Ratih," jawab Pak Bayan Mangun pelan, sambil menatap ke arah si perempuan berkacamata yang kini nampak tengah berbicara serius dengan seorang laki laki tua bertongkat di teras rumah Mas Joko.

"Bu Guru Ratih?!" si petugas polisi mengerutkan alisnya. "Seperti pernah dengar namanya."

Pak Bayan Mangun menoleh dan menatap ke arah petugas itu. "Sudah berapa lama sampeyan berdinas di kota ini?"

"Belum genap setahun Pak, sebelumnya...."

"Pantas saja," sela Pak Bayan. "Desa ini Nak, dengan segala misterinya, sampeyan harus mulai membiasakan diri dengan semua ini."

"Eh...,?"

"Ada baiknya sampeyan libatkan perempuan itu dalam penyelidikan sampeyan. Itu juga kalau sampeyan...."

"Pak...!!!"

Seruan seorang petugas yang lain dari arah lubang galian memaksa kedua aparat itu menyudahi obrolannya. Keduanya lalu mendekat kearah sumur, dimana si petugas yang berseru tadi nampak tengah mengerek sesuatu dari dalam lubang dengan menggunakan tali tambang dan katrol.

"Apa yang kalian dapat?" tegur si petugas pertama kepada petugas kedua yang masih sibuk menarik tali tambang.

"Hanya cangkul, linggis, dan ini Ndan!" si petugas kedua menunjukkan benda benda yang telah berhasil ditariknya keatas itu kepada sang komandan.

"Apa itu?" si komandan berusaha memungut bungkusan kain kumal sebesar kepala berwarna putih kecoklatan itu, namun tangannya segera ditepis oleh Pak Bayan.

"Jangan disentuh dulu," seru Pak Bayan. "Yud, tolong panggil Pak Modin, eh, jangan, jangan Pak Modin. Ia sudah terlalu sepuh untuk keluyuran di tempat seperti ini! Bu Ratih saja! Suruh cepat kesini! Penting!"

Mas Yudi yang mendapat perintah segera ngibrit ke rumah Mas Joko. Tak lama kemudian ia telah kembali bersama Bu Guru Ratih.

"Ada apa Pak?" tanya Bu Guru Ratih begitu sampai di tempat itu.

"Ada sesuatu yang perlu sampeyan lihat, Bu" jawab Pak Bayan sambil menunjuk ke arah bungkusan aneh itu.

Bu Ratih maju selangkah, lalu berjongkok didepan bungkusan kain kumal itu. Tangannya terulur perlahan hendak menyentuh bungkusan itu. Namun seruan dari komandan polisi itu menyurutkan niatnya.

"Tunggu! Jangan asal sentuh! Itu barang bukti yang mungkin saja penting! Jadi..."

"Pak Komandan!" Pak Bayan berseru tak kalah tegas. "Saya tau sampeyan yang bertanggung jawab disini. Tapi saya sudah menjadi Bayan disini bahkan sebelum sampeyan dicetak di rahim ibu sampeyan. Apa apa yang ada dan terjadi disini, saya lebih tau banyak dibandingkan dengan sampeyan. Jadi..."

"Tak apa Pak," Bu Ratih berujar lembut, berusaha untuk menengahi ketegangan itu. "Sedikit banyak saya juga tau SOP saat polisi sedang bertugas. Saya tidak akan menyentuhnya. Tapi ijinkan saya untuk melihat benda ini, sebentar saja."

Komandan polisi itu terdiam sejenak. Ucapan perempuan yang dipanggil Bu Ratih itu terdengar lembut, namun terasa dingin dan menusuk. "Baiklah! Kalian, bisa tolong bawa senter kesini?"

Salah seorang petugas segera menyorotkan senternya ke arah benda aneh itu. Bu Ratih kembali mengulurkan tangan kanannya ke depan. Lalu merentangkan telapak tangannya sejengkal diatas bungkusan aneh itu. Dibalik lensa kacamatanya, sepasang mata lentiknya terpejam sesaat. Pak Bayan memperhatikan apa yang dilakukan oleh guru cantik itu dengan wajah tegang. Sementara para petugas saling berpandangan, tak mengerti dengan yang dilakukan oleh perempuan berkacamata itu.

"Kosong!" guru perempuan itu bergumam, membuat orang orang yang ada di sekelilingnya terkejut. "Tapi sebelumnya isi! Apakah bapak keberatan kalau saya meminta bungkusan ini dibuka disini?"

Suara Bu Guru Ratih yang terdengar lembut namun berwibawa itu membuat si komandan tak bisa menolak permintaannya. Ia segera menyuruh salah satu anak buahnya untuk membuka bungkusan itu.

Wajah wajah tegang nampak dari orang orang yang menunggu untuk mengetahui apa isi dari bungkusan itu. Tangan si petugas yang mendapat amanat untuk membukanya nampak gemetar. Pelan pelan ikatan pada ujung bungkusan itu ia urai. Sehelai kain mori yang awalnya mungkin berwarna putih telah berubah menjadi kecoklatan, menandakan kalau bungkusan itu sudah sangat lama terpendam di dalam tanah. Bahkan kain itu sudah sangat rapuh, hingga saat membukanya, tanpa sengaja si petugas itu merobekkan salah satu ujungnya.

Petugas yang sudah berumur itu terjengkang kebelakang, efek dari rasa terkejutnya karena tak sengaja merobekkan kain itu. Wajahnya membias pucat dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. Jelas kalau petugas itu ketakutan setangah mati.

"Boleh kalau saya saja yang membukanya?" Bu Ratih tersenyum lembut. Ada rasa kasihan saat melihat petugas yang sudah berumur itu gemetar ketakutan seperti itu.

"Silahlan Bu," si komandan polisi segera memberikan sepasang sarung tangan kepada Bu Ratih. Guru perempuan itu lalu mengenakannya, dan dengan cekatan membuka bungkusan itu.

"Sebuah kendhi?" serempak orang orang yang berkerumun disitu berseru. Ya. Kini nampak sudah dengan jelas, apa isi dari bungkusan itu. Sebuah kendhi yang nampak sudah sangat tua berwarna hitam kecoklatan, dengan sumbat dari potongan kayu (entah kayu apa, yang jelas terlihat sangat keras hingga mampu bertahan sekian lama terpendam di dalam tanah). Sumbat yang mungkin awalnya menutup bagian lubang di kendhi itu telah terlepas, entah karena kurangnya kehati hatian para petugas yang tadi menyentuhnya, atau karena sebab lain. Ada bagian yang gompal pada salah satu bagian dari kendhi itu, dengan serpihan bekas gompalan yang masuk kedalamnya. Jelas terlihat, bekas gompalan itu masih baru, mungkin tanpa sengaja terkena ujung cangkul atau linggis saat Lik Diman sedang menggali. Selain itu juga nampak serpihan serpihan serta bubuk bubuk aneh kehitaman yang ikut terbungkus dalam kain itu.

mulustrasi kendhi
pic: olx.com


" Kukira tadi isinya tengkorak manusia," entah siapa yang berbisik seperti itu, tak ada yang menanggapi meski terdengar sangat jelas.

"Aku bahkan mengira kalau isinya bongkahan emas," bisik yang lain.

"Hanya ini?" sang komandan ikut berjongkok di depan benda aneh itu.

"Seperti yang bapak lihat," Bu Ratih bangkit berdiri. "Pak Bayan, ada baiknya sampeyan ikut saya, ada yang ingin Wak Dul sampaikan kepada bapak. Dan biarkan bapak bapak polisi ini melakukan tugasnya."

"Tunggu Bu, apakah tak ada yang bisa ibu jelaskan tentang benda ini kepada kami?" si komandan polisi menahan langkah Bu Ratih.

"Sudah jelas kan, seperti yang bapak lihat, itu hanya sebuah kendhi," Bu Ratih melangkah pergi diikuti oleh Pak Bayan, sementara komandan polisi itu menatap kepergiannya dengan tatapan penuh tanya.

Perempuan aneh! Cantik, nampak terpelajar, namun terkesan dingin dan misterius. Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh si bayan tua itu tadi. Aku harus melibatkan perempuan itu dalam penyelidikanku.

"Woy! Tak adakah yang punya cita cita untuk menarikku keluar dari sini?!" teriakan Mas Joko dari dalam lubang sumur terdengar menggema, membuat komandan polisi itu menepuk jidatnya.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gundamzz dan 59 lainnya memberi reputasi
60 0
60
Lihat 15 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 15 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
28-09-2021 09:38

Part 26 : Strategi Lintang

"Pak Modin...!!!" Lintang mendesah pelan, seiring dengan tubuhnya yang kembali jatuh terduduk. Ramadhan yang sedang merangkul tubuh Lintang dari belakangpun ikut terjatuh. Namun pemuda itu sama sekali tak melepaskan rangkulannya. Justru ia semakin mempererat pelukannya, sambil terus membisikkan kata kata yang dilambari dengan energi penyejuk ke telinga Lintang.

"Sadar Tang! Eling! Kendalikan dirimu! Jangan terbawa emosi! Kita semua sangat berharap kepadamu! Kau satu satunya harapan kami sekarang Tang! Kami semua bergantung kepadamu! Aku tau apa yang kau rasakan Tang! Kita sama sama murid Wak Dul! Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan! Aku juga sangat ingin membalas kematian Wak Dul! Tapi tidak begini caranya Tang! Kita..."

"Ya," Lintang mendesis pelan. "Aku..., aku sadar Mas! Aku eling! Terimakasih karena sudah menahanku! Sekarang ....." Suara Lintang tersendat, di sela nafasnya yang memburu. Pemuda itu lalu berusaha untuk bangkit kembali. Tubuhnya terhuyung. Nyaris saja tersungkur kalau saja Ramadhan tidak buru buru menahannya.

"Mereka itu...," Lintang kembali mendesis sambil menatap ke arah Wulan dan Bu Ratih yang masih mengamuk membabi buta di kejauhan sana. "Mereka berdua, merepotkan saja ya! Kita harus menghentikan mereka Mas, agar masalah ini bisa segera diselesaikan."

"Ya. Seharusnya begitu Tang," Ramadhan ikut menatap ke arah Wulan dan Bu Ratih. "Tapi itu bukan hal yang mudah Tang. Tadi, menghadapi Mbak Ratih seorang saja aku sudah babak belur. Apalagi sekarang ada Wulan."

"Jangan khawatir Mas! Biar aku yang mengurusnya. Sekarang, lebih baik Mas Ramadhan mundur dulu. Menjauhlah dariku." ujar Lintang. Suaranya mulai terdengar tenang kini.

Meski tak begitu mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Lintang, toh akhirnya Ramadhan menuruti semua kata kata Lintang. Ia mundur, sambil terus mengamati Lintang yang kini telah berdiri dengan gagahnya. Kepalanya sedikit menunduk, dengan kedua mata terpejam dan tangan terkepal rapat disamping tubuhnya. Sejenak kemudian kemudian, terlihat Lintang mengangkat wajahnya. Kedua matanya nyalang menatap ke depan. Pelan pelan juga ia lalu merentangkan kedua tangannya kesamping dengan telapak tangan tetap terkepal.

Ramadhan merasakan ada perubahan dengan suasana di sekelilingnya. Udara mulai bergerak. Dari arah utara, selatan, timur, dan barat, angin sepoi sepoi berhembus menuju ke satu titik. Tubuh Lintang. Disertai dengan suhu udara yang semakin menurun drastis. Dingin, terasa menusuk sampai ke tulang. Membuat tubuh Ramadhan menggigil hebat.

Angin sepoi sepoi itu bertiup semakin kencang, menerbangkan debu debu dan dedaunan kering yang berserakan, berkumpul membentuk semacam perisai yang menyelubungi tubuh Lintang, lalu menjalar dan berkumpul di kedua lengan pemuda itu, berputar membentuh semacam tornado kecil yang berputar menyelubungi kedua lengan Lintang.

Suara angin berkesiur berubah menjadi suara menderu, seiring dengan semakin membesarnya pusaran tornado yang menyelubungi kedua lengan Lintang. Lalu, dengan diiringi dengan suara teriakan keras, Lintang menyentakkan kedua tangannya kedepan.

"BAYU SEGOROOOOO...!!!"

"HEAAAAAA....!!!"

"WHUSSSSSSSS....!!!"

Kedua pusaran angin tornado yang bergulung di kedua lengan Lintang terus membesar dan membesar, memanjang ke depan, mengarah tepat ke arah Bu Ratih dan Wulan yang berada di kejauhan sana. Angin berhawa sangat dingin itu lalu menggulung kedua tubuh perempuan itu.

"Grrrrrrrr....!!! Biadab! Siapa yang telah berani ...."

"Bu Ratih! Wulan! Tolong dengarkan aku!" Lintang berteriak lantang ditengah suara deru angin yang ssmakin dahsyat itu.

"Lintang! Gembul! Kau..." Wulan dan Bu Ratih berusaha membebaskan diri dari gulungan angin tornado berhawa dingin itu. Lintangpun tak mau menyerah. Ia terus menambah dan menambah energi dingin yang ia salurkan melalui angin tornado yang ia ciptakan. Terjadilah adegan tarik menarik antara Lintang yang berusaha menarik kedua perempuan itu dengan Wulan dan Bu Ratih yang berusaha membebaskan diri dari gulungan angin tornado ciptaan Lintang.

"Bu Ratih! Wulan! Tolong sekai ini saja kalian dengarkan aku! Mundurlah sebentar! Kita perlu bicara! Masalah ini tak akan pernah selesai dengan tindakan kalian itu! Kumohon! Andaipun kalian tak mau menganggapku, paling tidak tolong hormati Pak Modin! Jangan nodai pengorbanan beliau dengan tindakan konyol kalian ini!"

Kata kata Lintang sepertinya sedikit banyak mempengaruhi kedua perempuan yang tengah dibakar emosi itu. Lintang bisa merasakan, energi kedua perempuan itu berangsur angsur melemah, seiring dengan pendar cahaya kuning keemasan dan kobaran api yang menyelubungi tubuh kedua perempuan itu yang juga berangsur angsur meredup. Kesempatan itu tak disia siakan oleh Lintang. Dengan satu sentakan keras Lintang lalu menyentakkan kedua lengannya kebelakang, membuat angin tornado ciptaannya seolah menarik dan mencampakkan tubuh Bu Ratih dan Wulan mundur dan mendarat di belakang tubuh Lintang.

Lintang lalu berbalik, sambil kedua lengannya terus terarah ke tubuh Bu Ratih dan Wulan yang kini telah berdiri di hadapannya. Angin tornado ciptaannya, meski mulai melemah, namun Lintang tak serta merta melepaskannya dari kedua tubuh perempuan itu.

"Apa yang kau lakukan Mbul? Beraninya kau menghalangiku untuk menghancurkan iblis iblis itu,?" Wulan menggeram marah. Kobaran api, meski sudah tak terlalu besar namun masih berkobar menyelimuti tubuh gadis itu. Sementara Bu Ratih, sepertinya emosinya benar benar sudah mereda. Pendaran cahaya kuning keemasan yang menyelimuti tubuhnya benar benar telah lenyap kini.

"Wulan! Bu Ratih! tolong dengarkan aku! Lihat dan perhatikan! Tindakan yang barusan kalian lakukan itu, itu semua sia sia! Bukan para iblis yang telah kalian lenyapkan! Tapi justru para warga yang kesurupan yang telah kalian bantai! Sadarlah! Sadar Bu Ratih, Wulan! Iblis iblis itu hanya memanfaatkan kalian! Kalian diperdaya dan dimanfaatkan untuk membunuh teman teman kita sendiri. Sadar! SADAR...!!!"

Wulan dan Bu Ratih saling pandang sesaat. Lalu seperti dikomando, keduanya menatap ke depan, dimana nampak beberapa warga yang telah terkapar kehilangan nyawa. Sementara para iblis justru semakin banyak berterbangan, seolah tengah berpesta pora dan mentertawakan kebodohan mereka.

"Sial! Apa yang telah kulakukan?!" hampir bersamaan Wulan dan Bu Ratih mendesah, lalu jatuh terduduk dengan bertumpu pada kedua lutut mereka.

"Sekarang, tolong dengarkan aku," Lintang yang menyadari bahwa Bu Ratih dan Wulan telah sadar sepenuhnya, lalu melepaskan pusaran angin tornado ciptaannya dari tubuh kedua perempuan itu. "Ini semua, harus kita selesaikan dengan kepala dingin. Dan untuk sementara, biar aku yang mengambil kendali. Aku punya rencana, tapi aku butuh bantuan kalian semua."

"Apa yang kau rencanakan Mbul?" Wulan kembali bangkit. Matanya yang masih memancarkan kemarahan menatap tajam ke arah iblis iblis yang masih berterbangan itu.

"Jadi begini! Melihat pertarungan kalian tadi, aku jadi tau bahwa iblis iblis itu tak bisa dianggap enteng. Serangan serangan yang kalian lancarkan, justru mereka serap, dan itu membuat mereka semakin kuat. Jadi untuk sementara, kita jauhkan dulu mereka dari desa, agar kita punya kesempatan menyusun rencana untuk melenyapkan mereka." ujar Lintang.

"Rencana?" Bu Ratih ikut bangkit. "Rencana yang seperti apa?"

"Kita bagi tugas. Bu Ratih, bisa sampeyan keluarkan iblis iblis yang merasuki para warga itu?" tanya Lintang.

"Sepertinya bisa, meski agak sulit. Gerakan mereka begitu cepat Tang! Begitu berhasil kukeluarkan dari raga salah satu warga, mereka akan segera melesat cepat dan masuk ke raga warga yang lain," jawab Bu Ratih.

"Itu bukan masalah Bu! Kita eksekusi mereka satu persatu. Aku akan berusaha menyapu setiap iblis yang telah ibu keluarkan dari raga para warga agar menjauh dari desa dan tak punya kesempatan untuk merasuk ke raga warga yang lain. Tapi sebelumnya Bu Ratih bisa kan memasang pagar di sekeliling rumah ini?" kata Lintang lagi.

"Hmmm, pagar ya? Sepertinya bisa Tang! Tapi aku tak yakin pagar yang kubuat bisa banyak membantu. Sebelumnya sudah kucoba, tapi makhluk makhluk itu tak perlu waktu lama untuk bisa menembusnya. Apalagi dengan keadaanku yang sekarang, energiku sudah banyak terpakai, jadi pagar yang akan kubuat juga sepertinya tak akan sekuat yang sebelumnya." jawab Bu Ratih.

"Kira kira berapa lama pagar yang Bu Ratih buat bisa bertahan dengan kondisi Bu Ratih yang sekarang ini?"

"Yach, mungkin hanya dalam hitungan jam. Dua atau tiga jam tepatnya."

"Itu sudah lebih dari cukup Bu. Dua atau tiga jam kurasa cukup untuk menahan para iblis itu untuk sementara. Soal bagaimana nanti setelahnya, itu akan kupikirkan nanti. Jadi, sekarang tolong ibu buat saja pagarnya. Kau bisa membantu kan Lan?"

Wulan hanya mengangguk. Kedua perempuan itu lalu bahu membahu memasang pagar di sekeliling rumah itu.

"Jangan habiskan energi kalian untuk membangun terlalu banyak pagar. Cukup dua atau tiga lapis saja. Ingat, setelah ini kita masih harus bertempur lagi." Lintang mengingatkan.

"Ya. Tiga lapis sepertinya cukup," ujar Bu Ratih dengan nafas sedikit terengah. Membangun pagar gaib setelah tadi sempat bertarung habis habisan benar bemar telah menguras tenaganya.

"Bagus! Selanjutnya, mari kita beraksi. Lakukan yang kuminta tadi Bu, keluarkan iblis yang merasuki para warga itu satu per satu. Aku akan menyapu mereka keluar dari desa begitu mereka keluar dari raga para warga itu, agar tak punya kesempatan untuk merasuki raga warga yang lain. Mas Ramadhan, nanti begitu ada warga yang sudah berhasil disadarkan oleh Bu Ratih, cepat bawa masuk kedalam rumah, agar tak menjadi incaran para iblis itu."

"Baik. Akan kulakukan tugasku sebaik mungkin Tang," jawab Ramadhan tegas. Ada rasa bangga yang ia rasakan melihat kemampuan Lintang dalam mengendalikan situasi. Benar benar mirip dengan kebijaksanaan yang selama ini dimiliki oleh Pak Modin. Lintang memang benar benar sangat pantas menjadi murid Pak Modin.

"Lalu apa tugas untukku?" Wulan yang sejak tadi diam bertanya.

"Kamu...., ah, dari matamu aku tau, amarahmu belum benar benar mereda Lan. Jadi sebaiknya kamu...., emmm..., ah, iya. Aku punya tugas yang pantas untukmu. Tugas yang sangat menyenangkan.Kau lihat mayat mayat yang dirasuki oleh para iblis itu?"

"Ya. Aku tau."

"Bagus! Lampiaskan amarahmu kepada mereka! Habisi mayat mayat hidup itu."

"Dengan senang hati Mbul!"

"Baiklah kalau begitu. Jangan buang buang waktu. Mari kita beraksi. SERAAAAANNGGGG....!!!."

Keempat sosok itu lalu melesat ke depan. Dibawah komando Lintang, mereka kembali berjibaku melawan iblis iblis yang sepertinya semakin banyak itu.

Pertarungan sengit kembali terjadi. Namun dibawah kendali Lintang, kini pihak dari Kedung Jati sepertinya sedikit diatas angin. Rencana yang telah disusun Lintang, sedikit banyak mulai menampakkan hasilnya.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 58 lainnya memberi reputasi
59 0
59
Lihat 31 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 31 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
08-09-2021 21:59

Part 19 : Menyelamatkan Tumbal

"RATRIIII...!!! KEMBALIKAN RATRI ANAKKUUU...!!!" suara jeritan melengking terdengar, mengiringi sekelebatan bayangan kuning keemasan yang melesat keluar dari rumah di pertengahan desa itu.

"Dorrr...!!! Dorrr...!!! Dorrr...!!!" suara tembakan terdengar beberapa kali dari arah rumah Pak Dul Modin, menghentikan sosok yang tengah melesat ke arah selatan itu. Samar masih terlihat wajah Bu Ratih yang kini terlihat bengis dan menyeramkan itu tersenyum sinis diantara cahaya kuning keemasan yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

"Hmmm...! Disana kalian rupanya! Bagus! Jangan lari kalau kalian memang bukan pengecut! Malam ini akan kuhabisi kalian semua!" Bu Ratih yang semakin terbakar oleh rasa amarah lalu melesat ke arah barat, tempat dimana rumah Pak Dul Modin berada, dan melupakan niatnya semula yang hendak menuju ke Tegal Salahan yang berada di selatan desa.

Perempuan itu tak sadar, bahwa ia sebenarnya telah termakan oleh pancingan makhluk makhluk jahat yang tengah mengacau di rumah Pak Dul Modin. Karena sesungguhnya, di Tegal Salahanlah sebenarnya akar dari semua permasalahan yang terjadi di desa itu.

Apa yang sebenarnya terjadi di rumah Pak Dul Modin sampai Pak Bambang dan anak buahnya harus melepaskan tembakan secara beruntun? Dan bagaimana nasib Pak Bambang dan para warga yang sedang dijaganya? Kita tahan dulu ceritanya gaess, karena sekarang kita akan mengikuti terlebih dahulu perjalanan Pak Dul Modin bersama Mas Toni yang sedang mencari Ndaru di Tegal Salahan.

****

Seperti diceritakan sebelumnya, bahwa di waktu yang bersamaan Pak Dul Modin dan Mas Toni sedang berusaha mencari Ndaru yang tiba tiba menghilang dari kamarnya. Kedua laki laki itu berjalan tersaruk saruk ditengah kegelapan, menyusuri jalanan menurun yang mengarah ke arah buk yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu.

"Sial! Kenapa kita sampai lupa meminjam senter tadi kepada Mas Joko," gerutu Mas Toni yang berjalan dibelakang Pak Dul Modin.

"Ndak usah ngomel! Bawa senterpun sepertinya ndak akan berguna, karena...."

"Eh, sebentar Pak," Mas Toni dengan setengah berbisik memotong ucapan Pak Dul Modin.

"Ada apa?" tanya Pak Dul Modin sambil ikut menghentikan langkahnya.

"Sepertinya ada yang mengikuti kita Pak," ujar Mas Toni sambil berbalik. Benar saja, dari arah belakang mereka nampak cahaya senter yang menari nari mendekat ke arah mereka.

"Ah, dasar ndableg! Sudah dibilang jangan keluar, kenapa malah mengikuti kami?" seru Pak Dul Modin yang sepertinya telah mengetahui siapa si pembawa senter yang mengikuti mereka itu.

"Maaf Pak, Ndaru anak kami, tak mungkin kami diam saja sementara Ndaru entah dimana sekarang sedang terancam bahaya," jelas itu suara Mas Joko.

"Huh! Merepotkan saja!" dengus Pak Dul Modin. "Tapi, ya sudahlah! Tak ada waktu untuk berdebat, tapi kuharap kalian berhati hati, karena...."

"Pak...," lagi lagi Mas Toni memotong ucapan Pak Dul Modin.

"Apa lagi?!"

"Itu, sepertinya juga ada yang datang dari arah desa," Mas Toni menunjuk ke arah utara, dimana nampak dua sosok bayangan melangkah bergegas ke arah mereka.

"Lho, mereka kan...,Slamet dan Ramadhan?! Ngapain mereka malah kemari?"

"Ah, syukurlah, kita bertemu disini Wak," Pak Slamet yang juga melihat kehadiran Pak Dul Modin cs segera berseru dengan nada cemas.

"Ngapain kalian kesini? Dan kenapa sampai babak belur begitu? Jangan bilang kalau..."

"Gawat Wak! Makhluk makhluk itu..., mereka membawa Ratri!"

"Sial!" Pak Dul Modin menggeram marah. "Makhluk makhluk itu, jadi ini yang sebenarnya mereka rencanakan. Kenapa aku sampai tak berpikir kesana!"

"Eh, apa maksudnya Wak?" hampir serempak mereka semua menatap ke arah Pak Dul Modin.

"Tak ada waktu untuk menjelaskan," tukas Pak Dul Modin, masih dengan nada kesal. Ratri sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri. Dan ia sangat menyayangi anak itu. Jadi wajar kalau laki laki tua itu terlihat sangat gusar. "Bagaimana dengan Ratih? Apa dia tau kalau makhluk makhluk itu telah membawa anaknya?"

"Tidak Wak, aku sengaja tak memberitahunya, takut kalau..."

"Baguslah," Pak Dul Modin menukas ucapan Pak Slamet. "Sekarang, aku tau kemana makhluk makhluk itu membawa Ratri dan Ndaru. Ayo, kita selamatkan mereka sebelum terlambat."

Pak Dul Modin melangkah bergegas, diikuti oleh yang lainnya. Sampai di pertengahan jalan tanjakan dan turunan itu, Pak Dul Modin membelokkan langkahnya ke arah timur, menyusuri tanggul kali kecil itu, menuju ke arah batu besar berpermukaan datar yang biasa disebut Watu Jaran oleh warga setempat.

"Disni kalian rupanya!" desis Pak Dul Modin sambil menghentikan langkahnya. Rombongan yang mengikutinya mau tak mau juga ikut berhenti. Sejenak mereka saling pandang, karena tak mendapati apapun disekitar batu besar itu. Tak ada Ratri. Tak ada Ndaru. Dan tak ada makhluk makhluk menyeramkan seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.

"Kita..."

"Dorrrr...!!! Dorrrr...!!! Dorrrr...!!!"

Baru saja Pak Dul Modin hendak bicara, dari arah desa terdengar suara tembakan berkali kali. Pak Dul Modin terdiam sesaat. Laki laki tua itu merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi di desa.

"Ratih," tanpa sadar laki laki tua itu mendesis.

"Apa yang terjadi di desa?" Mbak Romlah yng sejak tadi diam bertanya.

"Aku ndak tau pasti Mbak! Tapi yang aku tau tadi, banyak mayat hidup berkeliaran. Merekalah yang tadi menyerang kami dan membawa lari Ratri," jawab Ramadhan.

"Ma...yat hidup?!"

"Sudah! Jangan pikirkan apa yang terjadi di desa. Masih ada Ratih disana. Mudah mudahan dia bisa mengatasi semuanya. Sekarang, ada hal yang lebih penting yang harus segera kita lakukan." tegas Pak Dul Modin.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang Pak?" tanya Mas Toni.

"Apalagi?! Tentu saja menyelamatkan Ndaru dan Ratri. Makhluk makhluk itu, ternyata mereka sengaja mengalihkan perhatian kita dengan kerusuhan yang mereka buat, agar bisa menculik Ratri dan Ndaru untuk mereka jadikan tumbal!"

"Tumbal?!" hampir serempak mereka berseru.

"Ya. Aku baru sadar. Makhluk makhluk sialan itu, mereka akan menjadikan Ndaru dan Ratri, dua bocah yang masih suci dan memiliki garis keturunan dari lereng Lawu untuk mereka jadikan tumbal dan persembahan agar bisa membangkitkan nenek moyang mereka."

"Astaga! Jadi..."

"Ramadhan!"

"Iya Wak!"

"Kau masih sanggup untuk bertarung?"

"Tentu saja Wak!"

"Bagus! Kalau begitu kamu ikut aku. Yang lain, tolong jaga raga kami, selama kami berdua bermeditasi, jangan biarkan apapun atau siapapun mendekati raga kami."

"Baik Pak!"

Pak Dul Modin dan Ramadhan segera naik keatas batu besar berpermukaan rata itu, lalu keduanya duduk berhadapan dengan posisi bersila dan kedua tangan terentang kedepan dan telapak tangan saling menyatu. Mata keduanya terpejam rapat. Mulut mereka berkomat kamit seperti sedang membaca doa atau merapal mantera.

Tak lama, angin berkesiur lembut menerpa kedua laki laki yang sedang bermeditasi itu. Tak ada gerakan, tak ada suara, bahkan tak terlihat lagi hembusan nafas dari keduanya, seolah kedua laki laki uwak dan keponakan itu telah berubah menjadi patung batu.

"Apa yang mereka lakukan?" bisik Mas Toni.

"Mereka pergi ke alam gaib," desis Pak Slamet.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 58 lainnya memberi reputasi
59 0
59
Lihat 17 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 17 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
21-08-2021 03:43

Part 12 : Tewasnya Pak Bayan Mangun

Mbak Yuni meringkuk dengan tubuh gemetar di sudut kamar. Duduk memeluk lutut sambil membenamkan wajahnya dalam dalam di sela sela kedua pahanya. Sedikitpun ia tak berani untuk sekedar mengangkat wajah dan menatap sosok yang berdiri sangat dekat di hadapannya itu.

Sosok hantu Pak Jarwo. Hantu leher buntung yang meneteng kepalanya sendiri itu menyodorkan kepala yang ditentengnya tepat didepan wajahnya, sambil berkali kali menawarkan kepala busuk itu kepadanya.

"Yu, gelem ndhas ora?" (Yu, mau kepala nggak?) begitu ucapan yang keluar dari bibir berlumuran darah busuk itu berkali kali.

Mbak Yuni mengumpat dalam hati. Bisa bisanya Mas Danang, sang suami, kabur meninggalkannya sendirian bersama makhluk sialan ini. Benar benar laki laki pengecut! Dalam hati Mbak Yuni bersumpah, jika ia berhasil selamat dari hantu leher buntung ini, akan ia paksa Mas Danang keliling kampung sambil mengenakan daster warna pink.

"Yu, gelem ndhas ora?" kembali makhluk itu bersuara. Kali ini tidak hanya sekedar menyodorkan potongan kepala yang ditentengnya, tapi sudah mulai berani menempel nempelkan benda berbau busuk itu ke lengan tangannya, membuat Mbak Yuni semakin gemetar ketakutan.

"Emoh! Aku ra butuh ndhas bosok! Kono, minggato kono! Ojo meden medeni aku! Aku ra duwe urusan karo sampeyan!" (Nggak! Aku nggak butuk kepala busuk! Sana, pergi sana! Jangan nakut nakuti aku! Aku nggak punya urusan sama kamu!) Mbak Yuni memberanikan diri untuk menggertak, meski belum berani mengangkat wajahnya.

"Hehehe...!!! Ayu ayu kok galak! Bojomu nangdi Yu?" (Hehehe...!!! Cantik cantik kok galak! Suamimu kemana Yu?)

Sial! Hantu leher buntung itu semakin kurang ajar sepertinya, karena kini mulai berani menyentuh dan mencolek colek tubuh Mbak Yuni yang semakin mengigil ketakutan.

"Lunga! Minggato! Ojo kurang ajar sampeyan!" (Pergi! Pergi sana! Jangan kurang ajar sampeyan!)

"Haha, aku gelem lunga nek karo sampeyan Yu! Ayo, timbang sampeyan karo Danang sing jirih kae, mending karo aku wae Yu." (Haha, aku mau pergi kalau sama sampeyan Yu! Ayo, daripada sampeyan sama Danang yang penakut itu, mending sama aku saja Yu.)

"Ra sudi! Minggato! Nek ra gelem minggat,..." (Nggak sudi! Pergi! Kalau nggak mau pergi...)

"Bruaakkkk...!!!" belum selesai Mbak Yuni meratap, pintu kamar tiba tiba terdobrak dari luar, disusul dengan sekelebatan bayangan putih yang menerjang sosok hantu Pak Jarwo hingga sosok itu terpental menghantam dinding kamar. Sialnya, kepala yang ditenteng oleh sosok itu terlepas dan jatuh menggelinding tepat di dekat kaki Mbak Yuni, membuat perempuan itu menjerit sekencang kencangnya.

"KYAAAAAA....!!!"

"Keluarlah Yun, biar kuurus makhluk mesum ini!"

"Eh, Bu guru?!" lega hati Mbak Yuni mendengar suara perempuan itu. Pelan ia mengangkat wajahnya, lalu berdiri dan berjingkat menjauh dari potongan kepala yang busuk menjijikkan itu.

"Terimakasih Bu," ujar Mbak Yuni sambil melipir keluar kamar, lalu berlari sekencang kencangnya keluar rumah, mencari sang suami yang kini entah berada dimana.

Sementara sosok hantu Pak Jarwo itu kini meraba raba permukaan lantai, mencari kepalanya yang tadi terlepas dari genggamannya. Bu Ratih memungut kepala itu, lalu menyodorkannya pada sosok yang kebingungan itu.

"Nyari ini Pak?" ujar Bu Ratih.

Hantu Pak Jarwo mengangkat kedua tangannya, meraba raba kepala yang ditenteng oleh guru perempuan itu.

"Dhemit ra nggenah!" (Hantu ndak jelas!) Bu Ratih mendengus keras, lalu sebelah tangannya bergerak cepat menghantam makhluk di hadapannya itu, tepat di bagian ulu hatinya.

Pukulan yang dilambari dengan sedikit kekuatan batin itu rupanya sudah cukup untuk memusnahkan hantu yang merasuki jasad Pak Jarwo. Jasad tanpa kepala itupun jatuh tersungkur dan tak bergerak gerak lagi.

"Cih! Ternyata yang ini juga cuma amatiran!" Bu Ratih melemparkan kepala yang ditentengnya iru ke arah sosok yang kini tergeletak tak berdaya di depannya. "Kemana biang mereka? Auranya kurasakan semakin menjauh!"

Pelan Bu Ratih keluar, lalu memerintahkan beberapa warga untuk membereskan mayat Pak Jarwo dan membawanya kembali ke pemakaman, menyusul para peronda yang tadi sudah terlebih dahulu kesana dengan membawa mayat Lik Diman.

"Bu Guru! Gawat Bu Guru!" sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan Bu Ratih yang baru saja keluar dari rumah Mas Danang.

"Ada apa? Bukankah tadi saya minta kalian untuk membawa mayat Lik Diman ke kuburan?" tanya Bu Ratih saat mengenali si pengendara motor itu adalah salah satu peronda yang tadi ia temui di Tegal Salahan.

"Saya sudah kesana tadi Bu! Tapi di kuburan....., ah, pokoknya Bu Guru harus kesana sekarang! Pak Modin butuh bantuan sampeyan!" seru si pengendara motor dengan nafas ngos ngosan. Gurat ketakuran terpancar jelas dari wajah laki laki itu, membuat Bu Ratih paham bahwa terjadi sesuatu yang buruk di pemakaman.

"Baiklah! Aku akan segera kesana!"

****

Sementara itu sebelumnya, para peronda dengan dipimpin oleh Pak Modin dan Pak Bambang yang mendapat tugas mengembalikan mayat Lik Diman ke pemakaman telah sampai. Namun langkah mereka terhenti di gerbang pemakaman desa itu, saat menyaksikan pemandangan ganjil di area pemakaman itu. Sosok laki laki bertelanjang dada nampak tengah sibuk membongkar salah satu makam yang masih baru.

"Darmaji?! Wedhus! Apa yang dia lakukan?!" Pak Bayan yang mengenali laki laki itu sebagai Darmaji, si penjaga makam, bergegas mendekat ke arah laki laki itu yang bagai orang kesetanan terus saja mengayunkan cangkulnya dengan cepat, menggali sebuah makam di salah satu sudut pemakaman itu.

"Darmaji! Apa apaan ini?! Sudah gila kamu ya?!" bentak Pak Bayan keras. Namun suara Pak Bayan yang menggelegar itu sama sekali tak dihiraukan oleh laki laki bertubuh kekar itu. Ia terus menggali dan menggali. Jelas terlihat tubuh laki laki itu telah bermandi keringat. Entah sudah berapa makam yang ia gali, karena selain makam yang tengah digali itu, masih ada lagi makam makam yang lain yang telah menganga terbuka dengan bekas tanah galian yang menggunung di sebelahnya.

"Edan!" kesal, Pak Bayan setengah berlari menghampiri laki laki itu.

"Hati hati Pak," Pak Bambang yang melihat gelagat tak baik meperingatkan. Namun terlambat. Begitu Pak Bayan telah sampai le trmpat laki laki itu, Darmaji tiba tiba berbalik dan mengayunkan cangkulnya ke arah Pak Bayan.

"Awas Pak!"

"Dhuagkkk...!" lagi lagi terlambat. Tak sempat menghindar, ujung cangkul yang tajam itu mendarat tepat di kepala Pak Bayan dan menancap sangat dalam.

Tak ada jeritan! Tak ada teriak kesakitan! Tubuh Bayan tua itu limbung, lalu roboh dengan cangkul yang masih menancap di kepalanya.

"Huahahaha...!!!" Darmaji tertawa keras, lalu dengan kasar menginjak kepala Pak Bayan yang kini sudah tak bernyawa itu dan mencabut cangkul yang menancap disana dengan sangat kasar. Darah segar seketika muncrat membasahi tanah kuburan yang lembab oleh embun itu

"Sial!" Pak Bambang yang menyadari bahwa kondisi sudah diluar kendali segera mencabut pistolnya dan berlari memasuki area pemakaman, diikuti oleh para peronda di belakangnya.

"Jangan bergerak! Atau kutembak!" tegas Pak Bambang keras.

"Jangan ditembak Pak," bisik salah satu peronda. "Kasihan anak dan istrinya nanti kalau dia mati. Anaknya masih kecil kecil Pak, dan istrinya...."

"Iya. Aku tau!" sungut Pak Bambang. "Kita lumpuhkan saja! Sepertinya dia juga sedang kesurupan!"

"Bagaimana caranya Pak?"

"Bodoh! Dia cuma sendirian, dan kita bertujuh! Kita ringkus saja! Masa kalah sih sama satu orang!"

"Iya juga ya. Tapi kalau dia benar kesurupan, berarti dia dibantu sama setan dong Pak! Sampeyan berani melawan setan?"

"Halah! Setan atau bukan, harus kita lawan! Daripada kita bernasib seperti Pak Bayan!"

"Hahahaha...!!!" sosok Darmaji tertawa, lalu mendekat ke arah kerumunan peronda itu sambil mengayun ayunkan cangkul di tangannya.

"Mundur!" teriak Pak Bambang. "Jangan sampai jatuh korban lagi! Salah satu dari kalian, tolong kembali ke desa dan jemput Bu Guru Ratih! Aku akan mencoba menahan orang ini!"

Kerumunan itupun bubar seketika, menyisakan Pak Bambang seorang yang kini telah menyarungkan pistolnya kembali. Komandan polisi itu bersiaga, sementara Darmaji semakin mendekat ke arahnya. Dan begitu keduanya telah berhadapan, tanpa basa basi lagi Darmaji segera mengayunkan cangkulnya ke arah Pak Bambang.

"Whuusss...!!!"

"Praakkkk...!!!"

Cepat Pak Bambang melompat mundur, hingga serangan Darmaji meleset. Ujung cangkulnya mengayun deras dan menghantam batu nisan hingga bilah cangkul itu terlepas dari gagangnya.

Kesempatan itu tak disia siakan oleh Pak Bambang. Dengan cepat ia menyerbu ke depan, menubruk tubuh Darmaji hingga keduanya jatuh bergulingan diantara batu nisan. Pergumulan serupun terjadi. Ternyata Darmaji yang telah dirasuki setan itu bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Pak Bambang yang sudah kenyang akan pengalaman dibuat kerepotan oleh laki laki itu.

Para peronda yang menyaksikan kejadian itu tak ada yang berani mendekat. Mereka hanya bisa melihat kedua orang itu bergelut diantara onggokan onggokan batu nisan ditengah kegelapan. Saling tindih, saling pukul, saling jambak, sampai akhirnya, pada satu kesempatan, Darmaji berhasil mengunci leher Pak Bambang.

"Hahaha...!!! Mati...!!! Mati...!!! MATIIIIIII...!!!" Sambil tertawa keras Darmaji mencekik leher Pak Bambang, membuat komandan polisi itu tak punya pilihan. Tangannya meraba pistol yang terselip di pinggang. Namun sebelum senjata itu menyalak, sesosok bayangan berkelebat menerjang tubuh Darmaji yang tengah menindih tubuh Pak Bambang hingga terpental menghantam batu nisan!

"Whuussss...!!!"

"Bhuaghhhh...!!!"

"Hegghhh...!!!"

"Ramadhan!" seru para peronda yang mengenali sosok pemuda yang kini berdiri dengan gagahnya diantara Pak Bambang dan Darmaji yang kembali merangkak berdiri itu.

(hayooo, masih pada inget nggak nih sama tokoh Ramadhan?)

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
v3ah1307 dan 58 lainnya memberi reputasi
59 0
59
Lihat 53 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 53 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
24-09-2021 09:57

Part 24 : Sambutan Yang Tak Ramah

Bergegas Lintang segera mempercepat langkahnya, berusaha mengimbangi langkah Wulan yang telah terlebih dahulu berlari meninggalkannya. Namun, sekuat apapun ia berusaha, sepertinya ia tak akan bisa mengimbangi kecepatan gadis itu. Wulan kini telah menghilang dari pandangan matanya.

Bukan! Bukan karena tubuhnya yang sedikit 'montok' itu yang membuatmya kesulitan untuk mengejar Wulan. Tapi suasana yang ia rasakan saat mulai menginjakkan kaki di desa itu, membuatnya harus ekstra waspada dan hati hati. Ia tak boleh gegabah.

"Sial!" Lintang mendengus disela deru nafasnya yang terengah. Pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada kedua lutut sambil berusaha menhirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru parunya.

Sesak terasa melanda dadanya. Sesuatu yang entah apa dan darimana datangnya, ia rasakan semakin mendekat ke arahnya. Terasa menekan dan berusaha menghimpitnya dari segala arah, membuat pemuda itu semakin waspada.

"Hmmm, rupanya kalian tak mengharapkan kehadiranku disini ya," pemuda itu menggumam lirih, sambil kembali menegakkan tubuhnya. Nafas panjang ia hembuskan untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya. Lalu dengan gerakan perlahan, pemuda itu merentangkan kedua tangannya kesamping dengan telapak tangan terbuka lebar.

Angin sepoi sepoi lalu berhembus pelan. Udara disekitar pemuda itu bergerak, seolah tersedot dan berkumpul menyelubungi kedua telapak tangannya, lalu berputar pelan, merambat sampai ke ujung lengan, membentuk semacam tornado kecil yang membungkus kedua lengan kekar itu.

Lintang tersenyum, lalu memejamkan kedua matanya. Desau angin semakin jelas terdengar, seiring dengan semakin banyaknya udara yang tersedot ke telapak tangannya. Kini pusaran udara berbentuk tornado itu semakin membesar, menyelimuti seluruh tubuh pemuda gempal itu, dan semakin lama semakin tebal dan melebar, terus berputar dan menekan sesuatu yang tadi berusaha menghimpit dan berusaha menahan langkah Lintang.

"Aku belum berniat untuk bertarung. Jadi menyingkirlah, dan biarkan aku lewat," pemuda itu bergumam pelan, lalu kembali melangkah tenang menyusuri jalanan yang sunyi dan kelam itu.

"Benar benar seperti desa mati," kembali Lintang bergumam. Ia berjalan sambil terus memperhatikan suasana disekelilingnya. Sangat berantakan. Jalanan dupenuhi oleh sampah dedaunan kering berserakan dan ranting ranting pohon yang berguguran, seolah telah ditebas dari dahan tempatnya bergantung semula. Di kiri kanan jalan, rumah rumah penduduk terlihat kosong dengan pintu dibiarkan terbuka lebar. Tak nampak sosok manusiapun yang bisa dijumpainya.

Semakin ke tengah desa, udara terasa semakin pengap. Suasana semakin mencekam. Kelam, sunyi, dan temaram. Bahkan sinar matahari yang semakin meninggi seolah tak sanggup menjangkau desa ini.

"Sreeekkk...!!! Sreekkk...!!! Sreeekkk...!!!"

Lintang tercekat. Telinganya yang tajam samar mendengar suara langkah diseret dari arah belakangnya. Pemuda itu lalu kembali menghentikan langkahnya.

"Sreeekkk...!!! Sreeekkk...!!! Sreeekkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Semakin jelas dan mendekat. Lintang menajamkan semua inderanya, bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi tiba tiba.

"Sreeekkk...!!! Sreeekkk...!!! Sreeekkk...!!!"

Kini suara itu tepat berada dibelakangnya. Namun Lintang tak merasakan adanya ancaman. Lintang menghela nafas lega. Ia lalu berniat untuk berbalik, namun niat itu tertahan saat sebuah tangan menepuk pundaknya.

"Tap!"

"Sinten nggih?" (siapa ya)Lintang bertanya, pelan dan tenang. Karena meski belum melihat, tapi ia tau sosok yang menepuk bahunya itu adalah manusia, dan yang jelas tidak berbahaya.

"Hehehe..., kaget yo Lik?" (Hehehe..., kaget ya Lik?) terdengar suara laki laki terkekeh, suara yang sudah sangat familiar di telinga Lintang. Pemuda itu segera berbalik.

Asem! Klanthung! Ngaget ngageti wae! Ngopo kowe ki kelayapan neng kene?" (Asem! Klanthung! Bikin kaget saja! Ngapain kamu keluyuran disini?)

"Lagi panen dhemit Lik!" celoteh laki laki setengah gila itu sambil menunjukkan karung besar yang diseretnya.

"Panen dhemit?" Lintang melirik karung yang terlihat menggembung itu. Entah apa isinya, yang jelas terlihat sangat berat, terlihat dari Klanthung yang menyeretnya dengam sedikit bersusah payah.

"Iyo Lik! Lagi usum dhemit neng kene. Ki lho, lagi sedhelok wae aku wes oleh sebagor!" (Iya Lik! Lagi musim dhemit disini. Ini lho, baru sebentar saja aku sudah dapat sekarung)

"Ono ono wae! Arep mbok nggo opo, dhemit kok mbok panen?" (Ada ada saja! Mau buat apa? Dhemit kok dipanen?)

"Yo nggo ingon ingon to! Sopo ngerti mengko payu di dol, hehehe... Tur maneh, nek ora didemak'i rak mbebayani to Lik! Iki dhemit lho! Nek dijarke klambrangan neng ndeso rak iso nyilakani menungso to." (Ya buat dipelihara to, siapa tau nanti laku dijual, hehehe..., lagipula, kalau tidak ditangkapi kan berbahaya to Lik! Ini dhemit lho! Kalau dibiarkan gentayangan kan bisa mencelakai manusia to)

Lintang terdiam sesaat. Ucapan Klanthung barusan, memang terdengar sedikit ngelantur. Namun sedikit banyak ia bisa tau apa yang sebenarnya terjadi di desa ini dari ucapan orang gila itu.

"Wis yo Lik, aku tak golek dhemit maneh! Sampeyan ati ati lho, dhemit dhemit iki galak Lik. Nek ra ngati ati iso iso sampeyan iso dadi korban!" (sudah ya Lik, aku tak nyari dhemit lagi! Sampeyan hati hti lho, dhemit dhemit ini galak Lik. Kalau ndak hati hati bisa bisa nanti sampeyan bisa jadi korban)Klanthung kembali menyeret karung besarnya itu menjauh dari Lintang.

"Sik Kang Klanthung! Ojo lungo sik, aku arep takon!" (sebentar Kang Klanthung! Jangan pergi dulu, aku mau nanya) Lintang berusaha menahan kepergian laki laki gila itu.

"Halah! Ngganggu wae lho! Aku lagi repot ki! Kae delok'en, neng ndhuwur isih akeh dhemit mabur mabur koyo laron!" (Halah! Mengganggu saja lho! Aku lagi sibuk nih! Tuh lihat, di atas masih banyak dhemit beterbangan kayak laron)

"Sik to! Sedhelok wae Kang! Aku mung arep takon sithik! Iki, tak wenehi rokok!" (sebentar to, sebentar saja Kang! Ini, tak kasih rokok!)

"Arep takon opo to?" (mau nanya apa to?) mendengar kata rokok, mata Klanthung terlihat berbinar.

"Anu Kang, piye to mulo bukane kok nganti iso ono lelakon koyo ngene? Dhemit dhemit iki asale soko ngendi?' (anu Kang, bagaimana sih awalnya, kok sampai bisa ada kejadian seperti ini? Dhemit dhemit ini asalnya dari mana?)Lintang mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana kolornya, yang segera disambar oleh laki laki gila itu.

"Soko ngendi meneh nek dudu soko Tegal Salahan! Wong wong kuwi podho ngeyel! Wis dikandhani nek susuh dhemit malah didhudhah! Dadine yo ngene iki! Dhemite ucul kabeh!" (darimana lagi kalau bukan dari Tegal Salahan! Orang orang itu pada ngeyel! Sudah dibilangin kalau sarang dhemit, malah digali! Jadinya ya seperti ini, dhemitnya lepas semua!)

"Susuh dhemit? Didhudhah? Maksude piye to Kang?" (sarang dhrmit? Digali? Maksudnya gimana Kang?)

"Jare arep nggawe sumur," (katanya mau bikin sumur) Klanthung menjawab setelah menyalakan rokok yang tadi diberikan oleh Lintang. "Lha nggawe sumur wae kok pas nggon susuh dhemit! Mbok yo nggolek papan liyo! Dhasare wong ndhableg! Dikandahani malah maido, dumeh sing ngandhani wong ora waras!" (lha bikin sumur saja kok tepat di tempat sarang dhemit! Mbok ya nyari tempat yang lain. Dasarnya orang susah dikasih tau! Dibilangin malah marah marah! Mentang mentang yang ngasih tau orang nggak waras)

"Sopo sing nggawe sumur Kang?" (siapa yang bikin sumur Kang?)

"Kae lho, wong sugih sing manggon neng tilas tegal'e Mbah Kendhil!" (itu lho, orang kaya yang tinggal di bekas ladangnya Mbah Kendhil)

Lintang semakin terkejut mendengar ucapan laki gila itu. Semua yang dikatakan oleh Klanthung barusan, jika dihubung hubungkan dengan mimpi yang dialaminya beberapa hari yang lalu, bisa memberi gambaran tentang apa yang sebnarnya telah terjadi di desa ini.

"Yo wis! Matur nuwun Kang! Monggo nek arep golek dhemit maneh! Aku tak nang omahe Pak Modin!" (ya sudah! Terimakasih Kang! Silahkan kalau mau lanjut nyari dhemit! Aku tak kerumah Pak Modin dulu)

"Yo! Ngati ati Lik! Nang omahe Pak Modin lagi ono ontran ontran." (Ya. Hati hati Lik! Di rumahnya Pak Modin lagi ada huru hara tuh!)

Klanthung berlalu sambil menyeret karungnya. Sedang Lintang kembali berjalan pelan menuju ke rumah Pak Modin yang berada di pertengahan desa. Sambil berjalan, pikran pemuda itu mulai sibuk mengatur rencana. Apa yang barusan dikatakan oleh Klanthung, serta mimpi yang dialaminya beberapa hari yang lalu, membuat Lintang semakin yakin, bahwa tragedi yang sedang melanda desa ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan itu tak bisa diatasi hanya dengan mengandalkan kekuatan fisik semata.

****

Sementara itu di rumah Pak Dul Modin, Wulan yang baru tiba sudah disambut oleh pemandangan yang sanggup membuat darahnya mendidih. Bagaimana tidak, di halaman rumah yang luas itu nampak gumpalan cahaya kuning keemasan yang berkelebatan cepat ditengah keroyokan beberapa warga yang sedang kesurupan, juga makhluk makhluk aneh berbentuk mayat hidup yang juga dirasuki oleh iblis iblis berkemampuan tinggi. Sementara dari dalam rumah, Wulan bisa merasakan aura ketakutan yang teramat sangat, terpancar dari orang orang yang hanya bisa bersembunyi tanpa bisa berbuat banyak.

" Bedebah!" Wulan mendengus kasar, melihat sang guru yang sedang dipermainkan oleh iblis iblis terkutuk itu. Jelas kalau kali ini Bu Ratih mendapat lawan yang seimbang. Iblis iblis itu seolah sedang mempermainkan Bu Ratih.

Saat Bu Ratih berusaha menyerang salah satu lawannya, baik itu warga yang sedang kesurupan ataupun mayat hidup, maka iblis yang merasuki mereka dengan cepat segera keluar dan berpindah ke tubuh orang atau mayat hidup yang sudah terlebih dahulu ditumbangkan oleh Bu Ratih.

Gerakan iblis iblis itu sangatlah cepat. Beberapa kali serangan Bu Ratih yang berusaha menyerang iblis iblis itu dengan mudah bisa dihindari. Sekali dua kali memang sambaran cahaya kuning keemasan yang melesat dari tubuh Bu Ratih berhasil menngenai sosok iblis iblis itu. Tapi sepertinya tak berpengaruh banyak.

Cahaya kuning keemasan berhawa panas yang sanggup membakar apa saja yang diterjangnya itu justru seolah terserap kedalam tubuh iblis iblis itu, dan justru membuat mereka semakin kuat.

"Iblis terkutuk jahanam! Beraninya kalian mempermainkan guruku!" Wulan berteriak lantang. Matanya berbinar memancarkan cahaya kemerahan. Kedua tangannya terkepal keras, lalu dari kepalan tangan itu mulai memancar cahaya kemerahan yang semakin lama semakin terang dan membesar, untuk akhirnya menyala dan berkobar menjadi kobaran api yang dengan cepat menjalar membungkus tubuhnya.

"HIYAAAAAAAAA....!!!" diiringi suara teriakan keras menggelegar, tubuh yang telah berkobar terbungkus api itu melesat kedepan. Gumpalan gumpalan api sebesar bola sepak segera berterbangan terlempar dari tubuh itu, menghajar iblis iblis yang sedang berpesta pora.

"Whuuuusss....!!!"

"Blaaarrrr....!!!"

"Jedhuaaarrrr...!!!"

"GRROOOAAARRR...!!!"

Suara ledakan ledakan semakin gencar terdengar. Sebagian dari iblis iblis itu lalu mengalihkan serangan mereka kepada Wulan. Sementara Bu Ratih, menyadari ada bantuan datang, semakin bersemangat menyerang. Pertarungan semakin dahsyat, membuat tempat itu semakin porak poranda. Korban korban semakin banyak berjatuhan. Kedua perempuan yang sudah dilanda amarah itu sudah tak peduli lagi dengan orang orang kesurupan yang menjadi lawan mereka. Keduanya tak sadar, bahwa yang mereka bantai saat itu justru adalah para warga kesurupan yang seharusnya harus mereka lindungi. Sementara iblis iblis yang merasuki tubuh tubuh itu, sama sekali tak terpengaruh oleh serangan Bu Ratih dan Wulan.

Warga yang masih selamat dan bersembunyi di dalam rumah hanya bisa berharap harap cemas. Orang yang mereka tunggu tunggu akhirnya datang juga. Namun kedatangannya bukan menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah.

"Arrgghhh...!!!" Ramadhan yang sudah terkapar dan babak belur karena tadi sempat dihajar habis habisan oleh sang kakak hanya bisa mengerang lirih. "Ini..., ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera bertindak! Aku..., ah, dimana Lintang gembul? Kenapa Wulan datang seorang diri? Ah, sepertinya....., eh, itu kan.....?!"

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 57 lainnya memberi reputasi
58 0
58
Lihat 32 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 32 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
19-09-2021 02:46

Part 22 : Kedhung Jati Membara

Sejenak kita tinggalkan area Tegal Salahan, dan kita kembali ke pertengahan desa, dimana nampak Pak Bambang dan Mas Yudi yang merasa semakin resah setelah kepergian Bu Guru Ratih. Makhluk makhluk aneh di luar sana semakin banyak berkeliaran, sementara Bu Guru Ratih yang mereka tunggu tunggu belum juga kembali ke rumah itu.

Memang, sampai detik ini makhluk makhluk itu seolah olah acuh pada rumah tempat warga berlindung itu. Mereka hanya hilir mudik di jalanan tanpa sekalipun melirik ke arah rumah itu. Mungkin karena efek dari pagar gaib yang telah dibuat oleh Bu Ratih sore tadi.

Namun ingat pesan Bu Guru Ratih bahwa kemungkinan pagar itu tak akan bisa bertahan lama akibat dari banyaknya makhluk makhluk jahat itu, tak urung membuat Pak Bambang dan Mas Yudi sedikit khawatir.

"Kenapa Bu Ratih belum juga kembali ya? Padahal jarak rumahnya tak begitu jauh dari sini," gumam Pak Bambang pelan, sambil terus memandang ke arah luar jendela.

"Entahlah Pak, mungkin sekalian menjemput keluarga Mas Joko di Tegal Salahan, mangkanya agak lama," Mas Yudi yang berdiri tak jauh dari komandan polisi itu menyahut.

"Heran, kenapa makhluk makhluk itu sepertinya semakin banyak saja ya? Padahal tadi siang Pak Modin juga sudah menanam pagar di keempat sudut desa ini?" ujar Pak Bambang lagi.

"Kalau menurut dugaan saya sih, makhluk makhluk itu sudah bersembunyi di dalam desa sebelum Pak Dul Modin menanam pagar Pak. Tapi tak perlu khawatir, percaya saja, Bu Ratih pasti bisa menjaga diri di luar sana. Dia bukan orang sembarangan lho." kembali Mas Yudi menyahut.

"Bukan itu yang aku khawatirkan Mas," Pak Bambang mendesah, lalu mengalihkan pandangannya pada para warga yang kini duduk berdesak desakan ditengah tengah ruangan. Sebagian dari mereka bahkan sudah tertidur pulas dengan alas seadanya. Sungguh suatu pemandangan yang bikin hati menjadi trenyuh. Orang sebanyak itu, mereka semua menggantungkan keselamatan hidup mereka kepadanya, sedang ia sendiri tak yakin bisa melindungi mereka semua. "Yang aku takutkan, mereka, makhluk makhluk jahat itu, berhasil menerobos masuk, menembus pagar yang telah dibuat oleh Bu Ratih sebelum beliau kembali kesini. Dengan jumlah personel yang kita miliki sekarang ini, aku tak yakin bisa menahan mereka. Ditambah dengan banyaknya warga yang harus kita lindungi ini, itu benar benar membuatku sangat khawatir."

"Yach, mau bagaimana lagi Pak. Kalau memang terjadi seperti itu, maka tak ada pilihan lain bagi kita, selain berperang sampai titik darah penghabisan. Jujur, saya lebih suka mati konyol daripada harus merelakan raga saya dirasuki oleh iblis iblis terkutuk itu."

"Bagus!" Pak Bambang menoleh ke arah Mas Yudi dan tersenyum. "Aku suka dengan semangat sampeyan untuk melindungi warga desa ini Mas. Tidak salah kalau sampeyan ditunjuk sebagai ketua pemuda di desa ini."

"Ah, itu sudah menjadi kewajiban saya kan Pak. Lagipula, ini bukan pertama kalinya saya berhadapan dengan makhluk makhluk jahat seperti mereka. Sebagai warga asli desa ini, bertemu setan bukanlah hal yang baru buat saya."

"Hahaha, bisa saja sampeyan Mas," Pak Bambang tertawa sumbang. Ucapan Mas Yudi barusan. Kedengaran memang sedikit berlebihan. Namun bagi orang yang sudah tau akan desa ini, tentu bisa memakluminya. Ia sendiri memang sudah sering mendengar dari anak buahnya, cerita soal keangkeran desa ini. Namun baru kali ini ia mengalami sendiri kejadian kejadian yang sangat tak masuk akal yang terjadi tepat di depan matanya.

"Biar ndak terlalu tegang, nih, kita ngopi ngopi dulu, sekalian buat menahan rasa kantuk," Mas Teguh keluar dari arah dapur sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi.

"Wah, tau saja kamu Guh kalau kita lagi butuh kopi," tanpa menunggu dipersilahkan untuk keduakalinya, Mas Yudi segera meraih salah satu cangkir diatas nampan itu dan langsung menyeruputnya.

"Cuma kopi doang Yud, ndak ada cemilannya," sahut Mas Teguh sambil membagi bagikan cangkir kopi itu kepada para petugas bawahan Pak Bambang yang masih bersiaga. "Bapak bapak sekalian, kalau mau kopi juga silahkan bikin sendiri ya di dapur, kebetulan Wak Karni masih punya stok kopi lumayan banyak. Tapi tolong jangan berisik, takutnya nanti menarik perhatian makhluk makhluk yang di luar sana itu!"

Seperti dikomando, beberapa warga yang masih terjaga segera menuju ke dapur. Rumah Pak Dul Modin memang sangat luas, dengan bangunan dapur yang juga tak kalah luas menempel di bagian sisi kiri bangunan rumah utama. Tak heran kalau tadi sore Bu Ratih memilih tempat ini untuk menjadi benteng pertahanan mereka.

"Yud, sudah ada kabar dari Wulan belum?" Mas Teguh lalu ikut duduk disebelah Mas Yudi.

"Belum Guh! Denger denger sih Pak Modin sedang ke pondok Mas Joko, mau membicarakan soal Wulan," jawab Mas Yudi.

"Semoga saja Wulan sudah tau kejadian yang menimpa desa ini ya Yud, dan bisa cepet pulang. Firasatku mengatakan, cuma Wulan kayaknya yang bisa mengatasi masalah ini, mengingat Pak Modin dan Bu Ratih saja masih dibuat kerepotan begitu," ujar Mas Teguh lagi.

"Ya semoga saja Guh."

"Oh ya, aku beberapa kali mendengar nama Wulan disebut sebut," Pak Bambang ikut nimbrung dalam obrolan tersebut. "Memangnya Wulan itu siapa to?"

"Lho, Pak Komandan belum tau to?"

"Aku kan belum lama dinas disini Mas."

"Wulan itu anaknya Mas Joko Pak, yang kemarin ikut kerja bikin sumur itu."

"Soal itu aku tau Mas, yang aku maksud, kenapa seolah semua orang disini begitu berharap sama Wulan?"

"Ya karena Wulan itu anak istimewa Pak. Dia satu satunya cucu Mbah Kendhil yang mewarisi ilmu dari kakeknya itu."

"Mbah Kendhil? Siapa lagi itu Mbah Kendhil?"

"Mbah Kendhil itu....!"

"Pak komandan! Sepertinya sampeyan harus melihat ini!" seruan dari salah satu anak buah Pak Bambang yang berjaga di dekat jendela menyela obrolan mereka. Pak Bambang dan kedua pemuda desa Kedhung Jati itu segera mendekat ke arah jendela.

"Ada apa?! Astaga!" Pak Bambang berseru panik saat melihat bahwa beberapa makhluk aneh diluar itu mulai menerobos masuk ke pekarangan rumah tempat mereka berlindung.

"Hmm, apa yang saya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Pagar yang dibuat oleh Bu Ratih sepertinya telah berhasil ditembus!"

"Lalu, apa yang akan kita lakukan Pak? Kami menunggu perintah!"

"Jika pagar gaib itu sudah tak mampu lagi melindungi kita, apa boleh buat. Siagakan diri kalian! Kita buat pagar betis! Keselamatan warga menjadi priorotas kita. Siapkan senjata kalian, dan mari kita sambut tamu tamu tak diundang itu! Mereka hanya mayat yang sebenarnya sudah mati, jadi, jangan segan segan untuk menghabisi mereka!"

"Siap Komandan! Perintah komandan akan segera kami laksanakan!"

"Bagus! Mari kita berpesta!" Pak Bambang tanpa ragu membuka pintu dan melangkah keluar, diikuti oleh anak buahnya yang jumlahnya tak seberapa itu. Sementara Mas Yudi juga tak mau ketinggalan. Ia memilih pemuda pemuda desa yang masih memiliki keberanian untuk mendukung pasukan Pak Bambang dari belakang.

"Kalian dengar sendiri kan apa kata Pak Komandan tadi? Ini desa kita, desa tempat kita dilahirkan dan dibesarkan! Jadi jangan biarkan makhluk makhluk jelek di luar sana itu seenaknya membuat onar di desa kita tercinta ini! Ambil apa saja yang bisa kalian gunakan untuk senjata, dan mari kita sambut musuh yang sudah datang menyerang!" ucapan Mas Yudi yang berapi api itu mampu membangkitkan semangat para pemuda desa. Mereka segera menyambar benda apa saja yang sekiranya bisa mereka jadilan senjata, lalu merangsek keluar menyusul pasukan Pak Bambang yang telah terlebih dahulu berjuang di garis depan.

Suasana malam yang sepi berubah menjadi gaduh. Diiringi dengan teriakan teriakan penuh semangat, para pemuda itu menyerbu keluar dan menghajar apa saja yang muncul di hadapan mereka. Beberapa mayat hiduppun jatuh bergelimpangan dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Hancur dicacah cacah, atau lumat diinjak injak sampai tak berbentuk lagi.

"Cih! Ternyata hanya segini kemampuan kalian hah?! Ayo kawan kawan, habisi mereka! Jangan kasih ampun!" teriakan Mas Yudi menggema, membuat semangat para pemuda itu semakin membara. Teriakan teriakan kemarahan yang diselingi dengan geraman geraman makhluk makhluk aneh dan suara tembakan dari para petugas polisi benar benar merubah suasana malam yang semula mencekam itu menjadi malam yang penuh gejolak.

Pertarungan terus berjalan, hingga pagi hampir menjelang. Entah darimana datangnya, makhluk makhluk aneh itu terus saja berdatangan dari segala penjuru seolah tiada habisnya. Pekarangan Rumah Pak Dul Modin kini telah dipenuhi oleh potongan potongan jasad setengah membusuk yang berserakan.

Satu dibantai, dua sosok datang menggantikan. Begitu terus menerus, dan meski pihak dari kepolisian yang dibantu oleh para pemuda itu berada diatas angin, namun keberadaan makhluk makhluk yang seolah tiada habisnya itu tak urung membuat Pak Bambang sedikit cemas. Jika begini kejadiannya, bisa bisa mereka yang akan kehabisan tenaga dan tumbang.

"Hemat tenaga kalian! Kita kalah jumlah! Kalau diteruskan kita bisa kalah karena kehabisan tenaga! Jadi, tak perlu menyerang! Tak perlu mengejar! Biar mereka yang datang menghampiri kita, baru kita habisi!" Pak Bambang berteriak lantang memberi komando.

Para petugas dan pemuda desa lalu mundur dan membuat pagar betis mengelilingi rumah besar itu. Strategi yang bagus dari Pak Bambang, karena dengan begini mereka bisa sedikit menghemat tenaga. Namun ada satu hal yang luput dari perhatian komandan polisi itu. Ia lupa, kalau sejatinya yang menjadi musuh utama mereka bukanlah mayat mayat hidup itu, melainkan sesuatu yang merasuki mereka. Sesuatu yang tak kasat mata, yang setelah keluar dari jasad yang berhasil dibantai oleh pasukan Pak Bambang, bisa leluasa menerobos masuk kedalam rumah dan merasuki warga yang berlindung di dalamnya.

"Arrggghhh...!!!"

"Tolooonngggg...!!!"

"Hahahaha....!!!"

"Hihihihi....!!!"

"Wedhus! Apa yang...!!!"

"Kesurupaaannn...!!!"

Suara hingar bingar kini berpindah kedalam rumah. Warga yang kerasukan mulai melakukan tindakan tindakan aneh yang bisa saja membahayakan keselamatan mereka sendiri.

"Gawat! Kalau begini caranya....!"

Belum sempat Pak Bambang menyadari apa yang sebenarnya terjadi, para warga yang mulai kesurupan itu berlarian keluar rumah. Macam macam tidakan yang mereka lakukan, dari mulai berusaha menyakiti diri sendiri sampai saling serang dan berusaha melukai lawan yang sejatinya adalah tetangga mereka sendiri.

Suasana semakin kacau. Pihak Pak Bambang dan pemuda desa tak bisa asal serang sekarang, karena iblis iblis itu kini merasuki warga desa yang notabene masih hidup, bukan mayat mayat setengah membusuk seperti yang mereka hadapi beberapa saat yang lalu.

"Sial! Kalau begini caranya....!"

"Ciaaaattttt....!!!"

Syuuuuttt....!!!"

"Whuuuuusssss...!!!"

"Blaaaarrrrrr....!!!"

"Blegaaaaarrrr...!!!"

Pak Bambang dan pasukannya, juga para pemuda desa itu terlompat kaget saat tiba tiba selarik sinar kuning keemasan melesat cepat dari arah selatan dan jatuh menghantam tepat ditengah kerumunan orang orang yang tengah kerasukan itu, hingga mereka terpental ke segala arah.

"Eh, apa yang...?!"

"Bu Guru Ratih...?!"

Sesosok tubuh perempuan yang memancarkan sinar kuning keemasan kini telah berdiri dengan angkuhnya ditengah tengah halaman rumah besar itu. Matanya yang berkilat tajam menyapu kesegala penjuru, memancarkan sinar dendam penuh kebencian, menebar ancaman kepada siapapun yang berada di hadapannya.

"MAKHLUK MAKHLUK TERKUTUK!!!! AYO, MAJU DAN HADAPI AKU! BIAR KUKIRIM KALIAN SEMUA KE DASAR NERAKA!!!" sosok itu menggeram dahsyat, lalu tanpa menunggu lama segera melesat dan menghajar siapapun yang berhasil ia kejar. Kilatan kilatan cahaya kuning keemasan berkelebatan menerjang orang orang yang berusaha berlarian untuk menyelamatkan diri. Ledakan ledakan dahsyat terdengar, disusul dengan kobaran api yang membakar apa saja yang disambar oleh kilatan sinar kuning keemasan tersebut. Suasana menjadi semakin kacau, karena Bu Ratih mengamuk dengan membabi buta. Tanpa peduli yang ia bantai adalah warga desanya sendiri, ia terus menerjang dan menyerang, hingga tak butuh waktu lama, gerombolan mayat hidup itu bergelimpangan dengan tubuh hangus dilalap api. begitu juga dengan orang orang yang kesurupan itu, mereka tak luput menjadi sasaran amukan Bu Ratih hingga lari kocar kacir kesegala penjuru.

Jerit kesakitan dan kematian menggema di pagi buta itu. Dan itu barulah awal dari amukan si guru perempuan. Karena disaat matahari telah menampakkan sinarnya di ufuk timur sana, dan rombongan kecil Ramadhan muncul dari arah selatan dengan membawa jasad Pak Dul Modin, sosok Bu Guru Ratih semakin kehilangan kendali. Menyadari bahwa sang Uwak telah tewas, amarah guru perempuan itu semakin memuncak. Ia menggeram keras, dengan suara yang menggelegar hingga mampu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Menggema ke segala penjuru, hingga merambat dan menggetarkan hati seorang gadis yang berada berpuluh puluh kilometer jauhnya dari desa itu. Gadis yang memiliki ikatan khusus dengan sang guru perempuan itu.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 57 lainnya memberi reputasi
58 0
58
Lihat 59 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 59 balasan
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
14-09-2021 01:38

Part 21 : Tewasnya Pak Dul Modin

Malam merambat menuju pagi. Suasana semakin hening dan sunyi. Angin seolah enggan berhembus, hingga bayangan dedaunan yang menghitampun seolah enggan untuk bergerak. Diam. Bagai bayangan tangan raksasa yang siap mencengkeram mangsa. Bias cahaya rembulan meredup, enggan menerangi bumi yang tengah berduka. Burung Beluk, jangkrik, belalang, dan binatang binatang malampun seolah enggan untuk bersenandung, seolah angkara murka yang sedang melanda desa ini, membuat binatang binatang itupun menghilang entah kemana.

Hanya suara ledakan ledakan yang terus terdengar dari arah desa, diiringi jerit kematian yang menggema Cumiakkan telinga. Namun suara suara itupun seolah tak mempengaruhi keempat orang yang tengah duduk di dekat batu besar berpermukaan datar itu.

Mas Joko, Mbak Romlah, Pak Slamet, dan Mas Toni, mereka juga diam terpaku, larut dalam kecemasan yang melanda perasaan masing masing. Pak Slamet resah, memikirkan keselamatan Ratri dan juga sang istri yang tengah berjuang seorang diri di desa. Mas Joko dan Mbak Romlah gelisah, menunggu hasil dari usaha Pak Dul Modin dan Ramadhan yang sedang berjibaku untuk menyelamatkan putra bungsu mereka. Dan Mas Toni, laki laki itupun tak kalah gundah, memikirkan kambing kambing ternaknya yang mungkin saja sudah menjadi korban dari huru hara yang tengah terjadi di desa. Kambing kambing yang sedianya hendak ia jadikan modal untuk menikah itu, entah bagaimana nasibnya sekarang. Lalu siapa yang memikirkan nasib Pak Dul Modin dan Ramadhan? Entahlah!

"Sampai kapan kita akan terus menunggu Mas?" bisik Mas Toni memecah keheningan.

"Entahlah! Mungkin sampai Pak Dul Modin dan Ramadhan kembali," desah Mas Joko, juga dengan berbisik.

"Andai Wulan disini Mas, mungkin pageblug ini tak akan separah ini."

Serempak Mas Joko dan Mbak Romlah menoleh dan menatap tajam ke arah Mas Toni, membuat laki laki itu sadar bahwa ia telah salah berucap.

"Sampeyan punya rokok Mas?" buru buru Mas Toni mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun kalimat yang ia pilih sepertinya juga salah, karena mata Mas Joko justru semakin mendelik lebar ke arahnya.

"Eh, ini lho, banyak nyamuk. Kalau sambil merokok kan lumayan, asapnya bisa buat mengusir nyamuk," ujar Mas Toni lagi sekenanya.

Meski sedikit kesal, toh akhirnya Mas Joko mengeluarkan juga sebungkus rokok dari dalam sakunya. Asap tipis seketika mengepul saat lintingan tembakau itu mereka nyalakan. Bahkan Pak Slamet yang selama ini dikenal sangat anti dengan rokok itu ikut ikutan menyulutkan batang bernikotin itu.

"Tadi sudah beberapa kali aku mencoba menghubungi Wulan. Tapi tak pernah nyambung. Ndak ada sinyal sama sekali," gumam Mas Joko, entah ditujukan kepada siapa.

"Memang, semenjak pageblug ini terjadi, sinyalpun seolah olah ikut menghilang. Sepertinya kita benar dikurung oleh makhluk makhluk itu, tanpa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar." Pak Slamet yang semenjak tadi diam ikut bicara.

"Ya. Kita jadi seperti ayam aduan sekarang. Dikurung ditengah arena agar saling membunuh satu sama lain," Mas Joko menghembuskan asap rokoknya kuat kuat.

"Apa salah dan dosa kita, sampai harus mengalami nasib yang seperti ini?" Mbak Romlahpun ikut bicara.

"Entahlah Mbak, yang jelas...., eh, tunggu, kalian merasa nggak?" Pak Slamet tak melanjutkan ucapannya.

"Ada apa Pak?" Mas Toni yang paling penakut diantara mereka terlihat sedikit panik mendengar pertanyaan Pak Slamet barusan.

"Ini seperti...., gempa!" jawab Pak Slamet.

"Eh, iya. Tanah yang kita pijak bergoyang"

"Astaga! Pertanda apa ini?"

Keempat orang itu saling pandang, saat sama sama merasakan bumi yang mereka pijak bergoyang. Semakin lama semakin terasa, hingga keempatnya mulai panik dan mencoba berpegangan pada apapun yang bisa mereka pegang.

"Gawat! Ini..."

"Dhuaaarrrr...!!!"

Ledakan keras terdengar, disusul dengan guncangan yang semakin keras, membuat keempat orang itu sedikit limbung. Dan sesuatu yang burukpun kembali terjadi. Tubuh Pak Dul Modin dan Ramadhan yang masih duduk bersila diatas batu tiba tiba terpental dan terlempar jauh ke arah yang berlawanan.

"Whuuuussss...!!!!"

"Gussrraaakkkk...!!!"

"Gedhabrruussshhhh...!!!"

"Keceprroooottttt...!!!"

Tubuh Pak Dul Modin terlempar dan jatuh diantara rumpun semak semak, hampir sepuluh meter jaraknya dari batu besar yang tadi didudukinya. Sedang Ramadhan, nasibnya lebih sial lagi. Pemuda itu terlempar ke tengah tengah sawah hingga hampir sekujur tubuhnya terbenam kedalam lumpur.

"Arrrgghhhhh....!!!"

"Huadhuuuuhhhh....!!!"

Keempat orang yang menjaga batu itu terkesiap. Bukan karena tubuh Pak Dul Modin dan Ramadhan yang terpental, tapi keempatnya justru terpaku pada dua tubuh mungil bersimbah darah yang tergeletak diatas batu besar itu.

"Ratriiiii...!!!"

"Ndaruuuu...!!!"

Pak Slamet dan Mas Joko serta Mbak Romlah segera memburu dan memeluk kedua tubuh mungil itu. Dan seolah baru tersadar dari mimpi buruk, kedua bocah itu hanya terbengong bengong, tak mengerti dengan semua yang telah terjadi.

"Bapaaakkkk...!!! Dimana ini? Kok gelap gulita begini?" jerit Ratri yang disusul dengan suara tangisannya.

"Emaakkk....!!! Bapaaakkk...!!! Kenapa badan Ndaru basah dan lengket begini? Mana bau amis lagi?! Kita dimana Maaakkk...?!"

"Sudah sudah! Kalian ndak papa! Tenang! Jangan ribut! Jangan berisik! Ayo kita...."

"Woooyyyy...!!! Ndak ada yang punya cita cita buat nolongin aku apa?" teriakan Ramadhan dari tengah tengah sawah menyadarkan keempat orang itu.

"Mas Joko, tolong lihat keadaan Wak Dul. Aku dan Toni akan menolong Ramadhan. Mbak Romlah tolong tetap disini ya, jaga anak anak ini," Pak Slamet membagi tugas.

Mas Joko segera bergegas menuju ke semak semak dimana tempat Pak Dul Modin tadi terlempar, sedang Pak Slamet dan Mas Toni dengan susah payah membantu Ramadhan keluar dari benaman lumpur ditengah sawah.

"Wedhus! Sampai njedhindhil begini aku!" gerutu Ramadhan. "Eh, gimana nasib Wak Dul Mas? Dan anak anak..."

"Sudah, itu lagi diurus sama Mas Joko dan Mbak Romlah," jawab Pak Slamet. "Sekarang lebih baik bersihkan dulu tubuhmu di kali itu, biar kita bisa cepat kembali ke desa. Ratri dan Ndaru juga selamat kok."

Ramadhanpun segera menceburkan sekujur tubuhnya pada aliran air kali yang berada tak jauh dari tempat itu, untuk membersihkan lumpur yang melekat di hampir sekujur tubuhnya. Lalu tak lama kemudian ketiganya kembali naik menuju ke batu besar berpermukaan datar itu.

Nampak Mbak Romlah masih sibuk menenangkan Ratri yang masih menangis histeris. Sementara Ndaru, anak laki laki itu sepertinya mewarisi sifat sang kakak. Ia begitu tenang dalam suasana yang kacau seperti ini. Bahkan sesekali anak itu membantu sang emak untuk menenangkan Ratri.

"Dimana Mas Joko?" tanya Mas Toni.

"Itu, masih disana," Ramadhan menunjuk ke arah semak semak.

"Lho, kok malah duduk mengelesot begitu? Bukannya membawa Wak Dul kesini?"

"Jangan jangan...?"

Firasat buruk menyergap ketiga laki laki itu. Ketiganya lalu setengah berlari menghampiri Mas Joko yang bampak terduduk lemas diatas hamparan rerumputan.

"Mas Joko, apa yang..."

"Pak Dul Modin...., beliau sudah ndak ada!"

"Innalillahi...!!!"

"Uwaaaaaakkkkkk....!!!" jeritan Ramadhan menggema ditengah keheningan malam yang mencekam itu.

****

Jasad tak bernyawa itu mereka baringkan diatas batu. Jasad yang telah dingin dengan beberapa bagian tubuh yang membiru lebam, serta darah kental yang masih mengalir dari sudut bibir serta kedua lubang hidung dan telinganya. Anehnya, ada senyum yang tersungging di bibir jasad itu, seolah kematian yang menjemputnya bukanlah sesuatu yang menyakitkan.

Kesedihan jelas terpancar dari keempat orang yang mengelilingi jasad itu. Bahkan Ramadhan menangis histeris seperti anak kecil, mengalahkan suara tangis tangis Ratri yang sudah mulai mereda.

Pak Slamet beberapa kali menghela nafas panjang, mencoba menenangkan perasaannya yang terguncang. Demikian juga dengan Mas Joko dan Mbak Romlah. Sementara Mas Toni sengaja membawa Ratri dan Ndaru agak menjauh dari mayat Pak Dul Modin.

"Ini semua salahku! Aku benar benar anak tak berguna! Andai saja...., andai saja tadi tak kubiarkan Uwak bertarung sendirian, ini semua tak akan terjadi! Aku..., aku...., Uwaaaaakkkkk....!!! Bangun Wak! Jangan tinggalkan Ramadhan! Apa kata Mbak Ratih nanti kalau tau aku tak bisa menjaga Uwak?! Bisa bisa dia akan membunuhku kalau tau aku...."

"Rom! Sudah! Jangan seperti anak kecil begitu! Ini semua bukan salahmu, tapi salah kita semua. Kita semua merasa kehilangan Rom. Kita semua sedih dan berduka! Tapi, masih banyak hal yang harus segera kita selesaikan! Sekarang, lebih baik kita bawa jasad Uwak ke desa. Soal bagaimana reaksi Ratih nanti, biar kita tanggung bersama," Pak Slamet mencoba membujuk sang adik ipar yang masih histeris itu.

Bukan perkara mudah, karena Ramadhan selama ini memang dikenal paling dekat dengan Pak Dul Modin. Bisa dibilang, setelah sang ayah meninggal beberapa tahun yang lalu, Pak Dul Modinlah yang menjadi ayah kedua bagi Ramadhan. Dan sekarang, Ramadhan harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Bisa dibayangkan, seperti apa hancurnya hati Ramadhan saat ini.

Hingga sampai beberapa waktu kemudian, barulah Ramadhan bisa ditenangkan. Pemuda itu pelan pelan bangkit dan mengusap air matanya. Direngkuhnya tubuh sang Uwak yang telah dingin itu, lalu dinaikkannya ke punggungnya. Tanpa memperdulikan yang lainnya, pemuda itu lalu pelan pelan berjalan menuju ke arah desa sambil menggendong jasad sang Uwak. Samar samar, Pak Slamet masih bisa mendengar sang adik ipar itu bergumam lirih.

"Jangan khawatir Wak, akan kubalaskan kematian Uwak ini! Iblis iblis terkutuk itu, mereka akan merasakan kematian yang lebih menyakitkan lagi! Aku berjanji Wak, mereka, iblis iblis terkutuk yang telah membunuh Uwak, akan kuhabisi mereka dengan tanganku sendiri!"

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 57 lainnya memberi reputasi
58 0
58
Lihat 35 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 35 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia