Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610022b08c92f302de0cafb2/bankers-day-out
Keputusan Terberat Sepanjang Waktu Hidup Saya tau, mungkin saya lebay memulai chapter pertama ini dengan judul seperti diatas, tapi, dari 32 tahun waktu yang telah berlalu dimulai dari tangisan pertama saya hingga saat ini,--saya rasakan memang ini keputusan yang paling berat yang pernah saya ambil. Jangan di bandingkan dengan kalian ya, saya yakin, bagi sebagian dari kalian mungkin terkesan berle
Lapor Hansip
27-07-2021 22:13

Banker's Day Out

icon-verified-thread
Keputusan Terberat Sepanjang Waktu Hidup

Saya tau, mungkin saya lebay memulai chapter pertama ini dengan judul seperti diatas, tapi, dari 32 tahun waktu yang telah berlalu dimulai dari tangisan pertama saya hingga saat ini,--saya rasakan memang ini keputusan yang paling berat yang pernah saya ambil.

Jangan di bandingkan dengan kalian ya, saya yakin, bagi sebagian dari kalian mungkin terkesan berlebihan, tapi bagi saya, yang mempunyai tanggungan keluarga kecil terdiri dari 1 istri tentu saja dan dua anak, berumur 5 tahun dan 1 tahun, satu ibu dan 2 orang adik dimana salah satunya menderita kebutaan permanen yang diakibatkan tumor di batang otaknya, keluar dari pekerjaan yang telah memberikan saya kehangatan priuk nasi selama hampir 7 tahun terakhir merupakan sebuah keputusan terberat sepanjang waktu hidup saya.

Dilema, penolakan, keragu-raguan tentu saja menjadi hal lumrah sebelum saya mengambil keputusan ini. baiklah, oke--oke, saya tau, bahwa Tuhan dalam hal ini adalah Allah karena saya muslim tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya, semua akan indah pada waktunya, dan bla-bla-bla segala macam motivasi, sepertinya sudah terasa seperti omong kosong tukang obat di pinggir jalan yang membuat saya muak.

Cerita-cerita indah orang-orang yang "Hijrah" keluar dari lembaga ribawi dengan kesuksesannya atau cerita-cerita orang-orang yang bangkrut karena berhutang dengan sistem riba dan kemudian sukses setelah meninggalkan dan lepas dari Ribawi,. selalu menjadi mimpi manis yang menjanjikan bagi orang-orang yang galau bekerja di bank dan orang-orang yang masih berhutang di bank namun sedang terlilit masalah.

Jujur pada saya, tidak usah hipokrit, bagi kalian yang punya pikiran untuk keluar dari pekerjaan kalian di bank, atau ingin menghentikan berurusan dengan bank, pasti ada satu masalah besar pada kehidupan kalian tapi kalian enggan mengakui kalau itu kesalahan kalian dan lebih senang, lebih mudah tentunya menyalahkan faktor eksternal. iya kan?

Oh tidak, saya hijrah ini panggilan Allah, hidayah. Alah! Kebo duduk!, ngaku aja, kalian ada masalah kan di kantor? atasan yang galak? target kerjaan yang sangat menekan? atau biasanya kasus korupsi dan fraud kecil-kecilan yang kalian lakukan yang hampir ketahuan, atau mungkin bagi kalian yang punya pinjaman dari bank, lalu saat ini, karena pandemi tentunya, usaha kalian bangkrut, alih-alih menyalahkan diri sendiri dan instropeksi, kalian malah menuduh pihak yang sudah "Menyenangkan" kalian dulu, sebagai akar dari kemalangan kalian saat ini, iya kan?

Apalagi ditambah ceramah-ceramah yang beredar di youtube, dimana ustad-ustad yang bergelar LC alias Langsung Ceramah dengan jenggotnya yang tebal itu dengan kencang dan lantangnya mengatakan bank-bank itu cerminan iblis yang tidak ada benarnya, salah pokoknya, bank itu jahat, memeras keringat, akar dari semua kejahatan, lalu kalian menonton salah satu video dari yufid TV dimana ada seorang telemarketing bank yang diceramahi seorang ustad yang ia telepon dengan tujuan menawarkan pinjaman, praktislah, bukan kalian yang salah, tapi BANK yang salah, penyebab kalian bangkrut, kesusahan, kegelisahan hati kalian, rumah tangga yang tidak akur, anak yang kena narkoba, itu bukan kesalahan kalian, tapi kesalahan BANK dengan KEHARAMANNYA.

iya kan?

gak usah malu mengakuinya, itu hal yang saya lakukan, dan saya yakin, haqul yakin, TIDAK ADA, sekali lagi TIDAK ADA orang yang keluar dari bank karena dapet hidayah tiba-tiba sadar bank itu haram tanpa ada embel-embel kesusahan dan masalah di belakangnya.

Dengan pertimbangan penuh emosi, walau dengan pikir panjang yang cukup lama dari 2 tahun yang lalu, masalah saya saat ini mentriger saya untuk membuat surat pengunduran diri sore itu dan menyerahkannya langsung ke kepala cabang saya, bu mulyanah.

"Ndra, lu yakin, pikir-pikir dulu lah, jangan pake emosi" ucap ineu, perempuan berkerudung dengan wajah cantik bulatnya, dan kacamata yang mirip sekali dengan saya

"Gak ineu, gw yakin lah, gw udah ga dihargai disini, lagian ini mungkin teguran dari Allah supaya gw berani melangkah keluar dari Bank, tempat najis ini"

"sabar ndra, lu cuma di pindah ke cakung, gw mantan cakung, di sana enak kok, orang-orangnya"

"Tapi neu, gw baru 3 bulan disini, terus gw di pindah lagi dengan alasan bu retno kejauhan dari rumahnya di cakung dan dia udah tua, lah, emang rumah gw ga jauh dari cakung? lagian rumah bu retno itu deket neu, di walikota jakarta timur, kalo dibandingin sama gw yang di cijantung, jauhan rumah gw lah!"

"tapi kan kebutuhan organisasi, lagian bu retno dah tua ndra, maklumin lah" ucap ineu menenangkan saya sambil merapihkan buku cek yang baru dicetak di atas meja kedalam kotak. "Jangan ambekan gitu"

"Neu, kalau dari awal gw di pindah ke cakung, gw ga ada masalah, tapi kan ini gw baru 3 bulan disini, di bolevar, langsung di pindah, ini mah gw di buang, emang si lutfi aja baik, udah ga seneng dia ama gw, mungkin ini tujuannya supaya gw keluar, dan kasus korupsinya aman"

"Eh jatuhnya fitnah tuh ndra,"

"Bro sabar ya bro," Irvan yang wajahnya 11:12 dengan ari wibowo mencoba menenangkan saya dari depan pintu sambil memperhatikan saya dan ineu yang sedang merapihkan barang-barang.

"iye van, gw jg udah sabar ini lu tau gw kan, tapi memang ini yang mesti gw jalanin"

"ah, kesel gw jg sebenernya elu di pindahin, gila 3 bulan terakhir ini, gw kaya bergairah lagi kerja, karena lu kaya bawa keceriaan dan semangat gitu" ucap irvan yang di amini oleh anggukannya ineu.

"lebay ah van, jadi terbang gw, neu, lanjutin laporan pajaknya ya bentar, gw mau ke tempat bu mulyanah, ngasihin surat ini"

"oke boss"

saya langsung meninggalkan ineu dan irvan di ruangan saya dan beranjak ke banking hall dimana ruangan bu mulyanah berada. terlihat dari luar dibalik kaca buram, bu ully (nama panggilan bu mulyanah) sedang didatangi seorang nasabah,

"siapa nes?" tanya saya kepada perempuan berponi kecil berbaju biru yang meja layanannya berada persis di sebelah ruang kaca bu ully.

"Nasabah asuransi mas, ada komplain, biasa, main tanda tangan aja ga baca kontraknya dulu, skrng duitnya habis mau komplain" terang agnes.

"Ah, emang asuransi bank ini gembel aja, di janjiin di awal, ntar blangsak di belakang, haram nes haram" ucap saya sambil tertawa meledek

"ah jangan gitu ah mas, walaupun iya sih kadang-kadang hahahha" jawab agnes tertawa, sepertinya semua agen asuransi menyadari kelemahan dari janji-janji sorga yang ditawarkan, tapi apa daya, mereka hanya pion yang menjalankan tugas, yang jalan-jalan ke spanyol ya para petingginya.

"nes, kalo udah keluar nasabahnya, kasih tau gw ya, ke ruangan gw atau miscall WA"

"Okay mas" jawabnya tersenyum kecil.

gw beranjak kembali keruangan dimana ternyata ruangan gw lebih ramah dari sebelumnya yang tadinya cuma ada ineu dan irvan, sekarang ada ratna, pak imam dan pangestu.

"yah mas, beneran elu mau resign?" ucap ratna,

"terus kalo nanti ada apa-apa sama komputer, gimana?" timpal pangestu.

"Buset dah, ineu, irvan, kelemesan banget ya, udah cerita-cerita aja"

"hahaha sori bro, anak-anak nanyain soalnya sama draft surat yang elu salah print barusan" jawab irvan sambil memutar-mutar kursinya.

ya bisa di tebak, terjadi obrolan hangat sore hari seperti biasa di antara para garda terdepan bank biru berpita kuning, tapi topiknya kali ini adalah saya dan niat saya untuk resign, dari semua orang yang berdebat dan beradu arguman, cuma pak imam saja yang agaknya setuju dengan keputusan saya, yang lain sepertinya menolak, apalagi irvan, sampai bawa-bawa alm. ustad arifin ilham yang katanya bapaknya ustad arifin ilham itu dulunya kerja di bank dan anaknya bisa jadi ustad, woi van ga ada hubungannya.

itu sekelumit yang masih saya ingat, kisah sore dimana akhirnya setelah lama mengalami pergolakan batin, saya memutuskan untuk resign dengan menyerahkan surat itu.

dan sekarang, sudah hampir 2 tahun saya meninggalkan mereka, rekan2 yang baru 3 bulan bekerja bersama namun sudah seperti 5 tahun, hahaha, perasaan sesal tentu ada dan kadang masih melintas di dalam pikiran saya, keluar dari pekerjaan tanpa persiapan, seketika itu juga penghasilan lenyap! 

tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, dimakan keluar lewat dubur, sore itu untuk mengobati kekangenan saya, saya datang ke cabang bolevar setelah hampir 2 tahun terakhir, dan ini untuk kali pertamanya.

"Woii.. boss hendra!!!" ucap revi, driver cabang yang memang dekat sekali dengan saya dari sewaktu saya masih di area.

saya menyalaminya segera setelah turun dari mobil sedan abu-abu saya, "apa kabar pi"

"baik pa hendra, wuidih, udah sukses nih mobilnya bagus begitu, naik sedan sekarang, keren" ucap repi yang langsung berkeliling memandangi mobil saya

"alah pi, sedan bekas, eh temen-temen ada didalem?"

"ada pa, masuk lah"

"Sekarang semua pake masker ya pi, hahaha"

"iya pak kan kopit"

Sembari berjalan masuk lewat pintu belakang, menciumi keharuman khas dari bank biru pita kuning, sebut saja namanya bank sendiri gitu lah sebut aja gitu dengan ACnya yang sedikit kotor dan berbunyi kretek-kretek dari tangga pintu belakang yang disambut senyuman ramah sekuriti2 yang ternyata masih ingat saya, dari balik pintu banking hall, keluarlah seorang wanita berjilbab dengan tinggi sebahu saya yang sudah tidak asing lagi di mata saya.

"Mas hendra," ucapnya, yang langsung melepas maskernya dan berjalan kearah saya, memeluk saya dengan erat.

"dek, aduh, jangan begini dong malu atuh"

"Biarin mas," nada bicaranya mulai sesenggukan,"lagian mas dulu keluar ga pamit sama sekali, terus ilang gitu aja, mas mesti tanggung jawab!" ucapnya kencang, yang sepertinya di dengar oleh sekuriti yang barusan menyambut saya

"Waduh gawat!" batin saya, "Gw udah hijrah dek, hijrah, elah"

Diubah oleh natgeas2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
keroppy15 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk untuk memberikan balasan
Banker's Day Out
27-07-2021 22:22
lanyut
0 0
0
Banker's Day Out
28-07-2021 20:08
Lanjut dong mantan pemain ribawi
0 0
0
Banker's Day Out
30-07-2021 12:54
Makan Siang

Pertanyaannya, skrng ada kerjaan tetap?

- iya, kerjaan tetap jadi manusia


enggak, bukan itu maksudnya, apakah setelah resign dari Bank dapat pekerjaan

- iya, hanya 2 bulan nganggur, di umur yang sudah kepala tiga dan experienced, bukan hal mudah cari pekerjaan "yang cocok"

=============================================================

Bukan hal gampang loh masuk bank BUMN, banyak yang daftar langsung di reject bahkan tanpa wawancara, dengan segitu rumitnya tes dan segitu jelimetnya tes kesehatan yang sampe di usg ginjalnya, akhirnya gw putusin untuk masuk ke bank sendiri itu,

setelah gw keluar dari perusahaan sebelumnya yang memproduksi mobil sejuta umat, masuk bank adalah salah satu impian ayah saya kepada saya, karena, ayah saya yang flores biasanya paling banter jadi sekuriti di bank itu, kecuali bank itu di cabang NTT ya, kalau di jakarta paling banter ya cs itu pun udah jarang banget, pernah liat cs atau teller di jakarta kulit hitam? bukan rasis ya, ya walaupun kulit saya ga item2 banget karena ibu saya orang jawa putih banget bahkan sering di panggil cina di tempat kerjaan ibu saya dulu saat masih muda

jadi bisa dibayangkan dong pridde gw, masuk bank BUMN gitu, pake dasi, pake AC, adem, jujur ya, 1 tahun awal saya kerja di bank, kulit saya putihan loh, kata temen-temen saya, dan badan agak berisi, tinggi saya yang 178 dengan berat 69 itu keliahatan kaya orang tak terurus, setelah masuk bank berat saya jadi 82 kg, dengan tambahan leemak perut membuat saya makin cocok kerja di bank, kadang2 saya suka memegang perut saya sendiri, dan merasakan panas, apa karena isinya harta haram ya ? hahaha...

jabatan saya di bank emang ga mentereng-menterang amat, cm supporting, tapi kalo ga ada saya, satu area yang membawahi 19 cabang bisa kalang kabut, hehehe, sebegitu pentingnya saya dalam kelancaran operasional. pernah satu waktu, saya tidak masuk dan tidak mengabari, saya di jemput paksa dirumah didatangi driver kantor untuk segera masuk mengatasi masalah cabang, tentu saja dengan protokol pengamanan super ketat ya setara paspampres nya pakde jokowi lah,

***

waktu itu, seminggu awal kerja, setelah beberapa bulan training di sendiri university di daerah tanah abang, saya masih penyesuaian, ibaratnya dulu itu berkutat sama mesin produksi mobil dan suara-suara bising, sekarang senyap sekali, tenang dan sunyi, rekan-rekan kerja saya sudah demi-God, eh maksudnya demi-Old, memang ada beberapa yang seumuran, tapi rata2 demi-Old alias setengah tua, dan sisanya 10-15 tahun lebih tua diatas saya,

dan yang pertama kali menarik perhatian saya ketika masuk ke kantor itu adalah seorang gadis yang rambutnya di sanggul belakang, karena kalau di bank, rambut dibawah bahu tidak boleh di urai, gadis itu ada di balik kaca sebelum ruangan pemimpin tertinggi area.

dia putih, tidak tinggi memang, ya 164 lah, pasnya kurang tau, saya nebak segitu karena dia pernah cerita, dulu sebenarnya dia mau masuk polisi, tapi karena tingginya kurang, akhirnya dia mengambil jurusan hukum untuk meneruskan cita-citanya sebagai penegak hukum. karena masuk polisi tinggi wanita minimal 165, jadi saya asumsikan 164 ya biar ga pendek2 amat, hehehe.

gadis itu putih, yakin saya dia masih gadis, putih banget, wajahnya kaya keturunan barat, dan memang benar dia keturunan barat, sumatera barat tepatnya, dan nama gadis itu adalah Anneke tapi biasa dipanggil ike. tapi awal2 dulu saya manggilnya anne, karena ga pantes wajah secantik itu dipanggil ike, karena bayangan saya tentang ike adalah kelas penyanyi dangdut bintang iklan sampo tier 2.

dalam sebulan, beberapa kali kontak sama dia, saya mulai bersemangat masuk kantor, walaupun saya berfikir pasti dia sudah punya pacar, tapi, saya yakin tidak di kantor ini, karena wajah2 di kantor ini standar lah, untuk laki2nya, termasuk saya, hahaha dan anneke wajahnya diatas rata-rata, jadi ga mungkin menurut saya dia punya pacar orang sekitar tempat kerja saya.

jiwa detektif saya keluar, karena saya itu gampang sekali dekat dengan wanita, tapi agak susah dekat dengan wanita yang saya target, dan karena wanita itu informan yang baik (pembawa acara gossip pasti wanita, dan cowo yang agak kemayu).

posisi saya adalah supporting yang membuat saya kenal dan dapat akses dengan seluruh wanita di cabang, dan ada satu informan wanita yang berhasil saya dekati, namanya novi, semua gossip dari 19 cabang selalu masuk kedalam bucket listnya dia, jadilah saya mencoba mengajaknya pulang bareng, khusus untuk mengorek tentang anneke.

novi ini sebenernya cm menampung gossip dan kabar angin, tapi tidak meneruskannya, jadi sebenernya dia ini bukan biang gossip, tapi seperti blackhole yang menyerap segala informasi dan menyimpannya dalam dalam, bahkan cahaya aja diserap, dan untuk mengetahui apa saja yang ada didalamnya, ya saya harus masuk ke dalam blackhole itu

"nov, jadi pulang bareng?"

"ayo ndro.."

"cieee... novi, inget udah mau nikah" ujar para cs dan teller yang sirik, seperti biasa kalau ada laki-laki dan perempuan jalan bareng.

Novi ini enak banget di ajak ngobrol, oh wajahnya ya, mirip sama isyana sarasvati, serius deh, banyak yang bilang gitu, dan novi ini udah punya pacar, namanya imung, pacaran sejak jaman kuliah, jadi gw nyaman aja deket sama dia, karena gw yakin dia ga bakal suka sama gw, begitupun gw, yang udah punya target anneke.

oh gw punya panggilan "teman" buat novi yang ditiru sama semua orang, gw manggil dia noli,

"nol, anneke itu udah punya pacar belum sih?" tanya gw sembari mesenin pizza ke mba2 penjaga di rumah pasta daerah rawamangun

"aelah ndro, ngorek tentang ike aja pake nyogok,"

"namanya juga usaha nol,"

"udah ada dia pacarnya, temen kerja lu juga, mas udin"

kaget bukan kepalang gw pas noli nyebut nama mas udin, ada satu laki-laki, dia seumuran gw lahiran sama 89, rapi, steril, pakaiannya selalu necis, tapi kemayu, mungkin ga kemayu banget kaya olga sama ruben onsu, tapi pak arifin, atasan langsung gw suka ngecengin si udin ini "bisa ngaceng ga din"

"masa sih nol?, masa mas udin, ah elu becanda"

"yeee.. emang kenapa ndro, mas udin kan baik, rapih, ganteng lah lebih ganteng dari pada elu"

"nol, pizza belum mateng itu belom dateng"

"hahaha.. iya dah elu ganteng ndroo, mas udin kalah gantengnya sampe tu pizza di tangan gw"

"nol gw nanya serius nol, masa mas udin"

"lah emang kenapa?" tanya noli heran

"kaya ga ada yang lain" jawab gw kesel

sepanjang jalan, gw kepikiran tuh, kesel lah, kemayu gitu, mirip nasar KDI waktu kurus, masa gw saingan sama pria yang seperti mati lampu gitu, masa ike mau, bohlam gw lebih terang, dan ga mati lampu, haduh, tapi kalo emang bener, ya kalo gt gue mundur.

===========================================================================

udah 3 bulanan gw kerja, suatu siang, karena males keluar, akhirnya gw mesen ke mita buat beliin makanan biar gw makan di pantry, oh ike gmn? dah males lah, 2 bulan terakhir udah jarang liatin ruang kaca, kalaupun mau minta tanda tangan sama pemimpin tertinggi ya gw jarang lama-lama di ruang kaca.

"mas hendra, nasi ayam bakarnya udah di meja pantry ya" bunyi pesan mita via sms, ah gw ga punya BB, selain ga tertarik, gw males denger bunyi pang ping pang ping ga jelas, gw pengguna nokia sejati, dan mendingan gw langganan WhatsApp yang sepuluh ribuan perbulan dari pada pang ping pang ping minta pin BB, WhatsApp itu praktis, punya nomor HP otomatis punya WAnya

Sampe di pantry, gw ngelonggarin dasi dan ngebuka bungkusan nasi, terciumlah semerbak bau khas ayam bakar dan sambalnya yang hangat itu, ah, siang itu, ayam bakar trondol namanya, bener-bener enak, dibakar manual siang hari, dan jeruk panas, pokoknya pas lah buat keringet2.

begitu gw mau menyatap dengan lahap, cklek, pintu pantry kebuka, muncullah ike di balik pintu

"Eh ndra," ucapnya kaya kaget gitu

"eh ke, makan ke, sini duduk" dengan sigap gw bangun dan mengeluarkan kursi dari bawah meja,

"Eh iya makasih ndra"

ternyata makanannya ike sudah ada di meja, dan dia makan ayam bakar yang sama kaya yang gw makan, hmm.. jodoh nih, jodoh dari mana sih malih, orang cuma menu sama doang, kepedean banget gw saat itu.

mulailah gw makan, tapi pelan-pelan banget, yang biasanya gw makan cepet banget, itu gw makan pelan banget, pakai table manner anjir, pake sendok dan garpu, ngunyah pelan pelan kaya keturunan raja louis XVII, pokoknya pencitraan lah gw, biar keliatan rapih aja dan elegan, first impression gw harus bagus, karena ini momen pertama gw berdua doang sama ike.

sumpah itu makan siang paling ga enak, biasa gw makan pakai tangan ya, makan pake tangan colek nasi potek ayam cocol sambel sambil ngejilatin sisa-sisa kecap di jari itu nikmat banget. ini gw kaya bangsawan, gw jadi baru tau kenapa bangsawan rata-rata kurus, karena makannya biarpun mahal dan enak tapi ga merasakan kenikmatan.

melihat gw agak kesusahan nyongkel ayam pake sendok dan garpu, ike agak sedikit tersenyum kecil,

"susah banget ndra makannya" ucapnya pelan sambil secara elegan ngunyah setelah memotong ayam dengan garpu

batin gw, anjir lah ketauan pencitraan gw, sepandai2nya bajing(an) melompat, pasti akan jatuh jg, eh bukan berarti gw ga bisa table maner ya, udah diajarin pas training masuk bank ini, cuma ya karena jarang gw pake, agak sedikit blepotan aja, gw tetep elegan sat!

"biasa nih ke, ayamnya bakarnya kurang lembut" allibi gw mempertahankan gengsi

"pake tangan aja ndra, bukannya kamu biasanya makan pakai tangan, aku liat kemarin"

DEG!!! KUSSOOOOOO


gw kaya di ledek, pencintraan gw ketauan banget, tapi dalam hati ada perasaan seneng walaupun bercampur malu, senengnya apa? ternyata ike memperhatikan gw, hahaha, jodoh ini namanya, jodoh apaan si malih, ga sengaja kali dia ngeliat lu makan pake tangan, malah abis itu dia sial. eh anjir, kok kata hati gw malah ngerendahin gw sendiri.

cklek, pintu pantry kebuka lagi

"eh kamu mau makan bareng ga?" tanya seseorang dari balik pintu, yang ternyata itu mas udin "terduga" pacar ike, dengan nada kemayunya, iya kemayu beneran.

"enggak, aku mau makan disini aja, aku udah beli makan" jawab ike datar

"oh yaudah," ucap mas udin cuek sambil melengos keluar dengan teman2nya yang 10 tahun lebih tua yang saya ceritakan di awal.

"eh itu siapa ke?" tanya gw yang pura-pura ga tau.

"temen," jawab ike datar.

"temen?" tanya gw memastikan,

"iya temen deket" jawabnya menegaskan

======================================================================

Berapa penghasilan di bank pertahun?
- guede bray, dalam satu tahun gaji yang diterima gaji bulanan 12 kali, uang cuti 1 kali uang THR 2 kali gaji, dan bonus 6 kali gaji, jadi setahun gw bisa terima 21-22 kali gaji

Diubah oleh natgeas2
0 0
0
Banker's Day Out
31-07-2021 08:00
Ayah


Memang ayah saya bukan orang berpendidikan, dia besar di pulau yang jauh di ujung peradaban saat itu, dia sudah harus menanggung beban keluarga di umur 10 tahun, saat kakek saya tiba-tiba di paksa naik ke atas truk oleh gerombolan tidak di kenal, katanya sih bertepatan dengan G30S/PKI.

sampai sekarang saya tidak mengetahui wajah ataupun jejak kakek saya, kecuali dari wajah ayah saya yang katanya mirip sekali dengan kakek saya.

ada cerita bahwa semua orang yang diangkut saat itu keatas truk, di buang kejurang, kakek saya, mungkin bisa disebut pemimpin adat, atau orang yang disegani di sana, diantara para anggota suku, dan ketika kakek saya hilang ditelan misteri, ayah saya akhirnya menjadi tulang punggung keluarga,

Ayah saya, dia ahli sekali dalam bidang air conditioner, tukang servis AC lah, barang serumit itu bisa dia betulkan bahkan di kerusakan parah sedikitpun tanpa perlu membaca, iya betul, ayah saya buta huruf dan tak bisa membaca, saat itu jangankan akses sekolah, jalan di tempat ayah saya pun belum ada, harus melalui semak belukar dan berhadapan dengan babi hutan untuk sampai ke kota.

saya kadang membayangkan sepintar dan sehabat apa ayah saya jadinya kalau dia bisa membaca,

Dia, sangat bangga dan tersenyum sumringah, kulitnya yang hitam legam memerah karena saking senangnya ketika saya memberikan gaji pertama saya kepadanya, semua ambil pah, buat papah.

apalagi ketika saya membelikannya smartphone full touchscreen windows phone, dimana sebagian besar bapak-bapak RT di tempat saya masih menggunakan handphone jadul dengan keyboard angka, dan BB yang sudah mulai ditinggalkan.

ayah saya sering sekali bercerita dan mengagungkan saya di depan teman-teman pergaulannya, pernah satu kali saya mendengar langsung betapa ayah saya membanggakan saya di depan teman-temannya. kalau mengingat kejadian itu, sampai saat ini pun, air mata masih menetes.

saat itu youtube belum tenar, saya masih hobi menonton di bioskop, jadi dakwah2 tentang riba dari ustad2 salafy belum sampai ke telinga saya, jadi saya masih enjoy alias menikmati AC dan gaji yang diberikan pada saya setiap bulan. ahh andai youtube tidak pernah ada pasti saya masih bekerja di bank dan menyuapi anak2 saya dengan bara api neraka.

suatu minggu,saya mengantar ayah saya ke gereja, oh iya ayaah saya katolik, tapi ibu saya muslim. saya dibesarkan di tengah keluarga yang penuh keragaman dan toleransi.

saat saya menunggu ayah saya kebaktian di gereja, biasanya saya ke masjid yang lokasinya tidak terlalu jauh dari gereja ayah saya untuk sekedar rebahan dan membaca buku-buku sejarah islam, kebetulan itu masjid di komplek sekolahan yang mempunyai perpustakaan buku-buku islam yang lumayan lengkap.

saat sampai di masjid, saya lumayan kaget karena ternyata masjid yang biasanya hari minggu itu sepi, lumayan ramai, tidak terlalu penuh memang, tapi masjid itu hari minggu biasanya kosong, dan saat itu ramai mungkin sekitar 5 shaft yang dibagi kanan kiri untuk laki-laki dan wanita.

setelah selesai mengambil wudhu dan bersiap masuk ke perpustakaan di samping masjid saya sekilas mendengar pembicaraan ini

"Bekerja di Bank itu HARAM, RIBA! dan dosa riba itu lebih berat dari pada berzina dengan ibu sendiri sebanyak 36 kali" teriak toa dengan suara keras yang sedikit mengganggu telinga saya.

"eh apaan itu?" batin saya, kok bawaa-bawa bank

akhirnya saya putuskan untuk masuk ke masjid melihat apa sih yang di bicarakan, kok ada keyword yang sangat melekat di telinga saya, "Bekerja di Bank"

ketika saya masuk, saya melihat seseorang duduk di kursi depan mimbar solat jumat, ada meja ada laptop dan ada mic, seseorang iitu boleh saya sebut ustad dengan perawakan yang lumayan tinggi dan yang membuat saya sedikit terpaku adalah jenggotnya yang lebat, seperti jenggot saya jika tidak di rawat 3 bulan mungkin.

"Jadi buat ibu-ibu dan bapak-bapak, yang masih kerja di bank, segera resign, tinggalkan!"

"WTF apa-apaan ini, main suruh-suruh resign aja, emang kenapa kerja di bank? apa yang salah?" pikir saya dalam hati, saya langsung tidak mood melanjutkan kajian itu dan memilih untuk langsung meninggalkanna, "Dasar ustad teroris" batin saya dalam hati.

tapi dari ceramah itu, setelahnya, saya sering di bombarbird tentang kajian2 riba bahkan di grup WA kantor yang tidak ada pemimpin tertingginya. ada seseorang yang sering share link kajian youtube yang ternyata itu adalah ustad yang sama dengan yang saya tonton di masjid.

***

Ya walaupun tau dan mengerti tentang keharaman riba secara perlahan-lahan, tapi saya tetap mencari pembenaran bahwa ternyata ada juga ustad2 yang membolehkan bekerja di bank. dan karena memang saya adalah tulang punggung keluarga, karena sejak ayah saya terkena serangan jantung di tahun 2009 praktis saya lah yang menanggung seluruh kebutuhan keluarga saya.

di 2009 ayah saya di larikan kerumah sakit dan sempat 3 hari tidak sadarkan diri akibat pembengkakan jantung yang dideritanya akibat gaya hidup merokok, begadang, ngopi dan peminum (dulunya). padahal, ayah saya termasuk orang yang jarang sekali sakit, karena fisiknya yang begitu kuat, dibanding saya yang klemar-klemer ini.

saat serangan jantung pertama, saya sedang kuliah di jogja, mendengar kabar itu, saya langsung berangkat meninggalkan kelas saya menuju jakarta dengan menumpang kereta batubara. ya waaupu memakan waktu 32 jam, akhirnya saya tiba di jakarta untuk memastikan bahwa ayah saya "tidak apa-apa"

sesampainya di jakarta, saya malah di berondong tudingan anak tidak tau diri, dan dipaksa berhenti kuliah oleh orang2 sekitar ayah saya, saya, sebagai anak paling tua harus menggantikan tugas ayah saya saat itu juga untuk menjadi tulang punggung keluarga.

terlintas pikiran untuk berhenti kuliah dan segera mencari uang agar ayah saya tidak lagi bekerja berat, karena dokter inggrid pardede saat itu berpesan kepada ibu saya bahwa ayah saya jangan lagi bekerja terlalu berat.

"pah, aku berhenti kuliah saja ya, biar aku lanjutkan usaha servis AC papah" ucap saya di samping tempat tidur ayah saya yang sudah sadar ketika di tangannya masih tertancap benang infus

"jangan ya, kamu ga usah berhenti kuliah," ucap ayah saya sambil mengusap kepala saya, "yang mau kamu kuliah kan bukan kamu, tapi papah, papah ingin agar anak papah jadi orang yang tinggi, biarpun papah ga bisa baca"

saat itu saya bingung mesti gimana, satu sisi ada kebanggaan yang harus dipertahankan ayah saya, satu sisi saya ga mau ayah saya terus menerus bekerja, keetika jantungnya sudah tidak mampu lagi untuk menopang beban berat hidupnya.

"Papah masih sanggup, untuk sekedar cari uang buat makan dan bayar kontrakan sampai kamu selesai kuliah, setelahnya papah serahkan kepada kamu"

saat itu biaya rumah sakit ditanggung oleh adik kandung ayah saya yang menyuruh saya untuk berhenti kuliah, jumah yang dikeluarkan saat itu sekitar 9 juta rupiah karena belum ada BPJS dan itu memang rs swasta khusus jantung

9 juta adalah angka yang sangat besar saat itu dimana UMR DKI masih 1.06 juta.

Dari situ, kadang ayah saya menelepon saya untuk menyemangati saya dan mengingatkan bahwa saya tidak perlu memikirkan biaya kuliah.

"Kamu harus lulus dan buat papah bangga" begitulah kalimat di setiap akhir teleponnya.

***

"Mas, papah sesek nafas" ucap singkat adik saya menelepon sebelum sahur, saat itu saya sama istri baru saja terlelap setelah menghabiskan waktu semalam suntuk untuk nonton interstellar di rumah saya.

sekejap tanpa menggunakan baju, saya loncat dari tempat tidur saya dan bergegas menuju rumah orang tua saya, di depan pagar ayah saya sudah terlihat kepayahan sambil memegangi pagar dengan nafas yang termegap2,

"Papah sesak ya? sebentar pah, enda pinjam mobil haji sapto dulu"

setelah menggedor2 pak haji sapto yang rumahnya persis di seberang rumah orang tua saya, saya langsung membawa ayah saya kerumah sakit, di jalan, ayah saya selalu bilang "saya ga papa, tenang aja kalian"

dan sampai pintu IGD, ayah saya berjalan langsung menuju tempat tidur, para perawat yang sedang jaga bersigap menempatkan ayah saya di tempat tidur dengan segala perawatan yang di perlukan, infus dan segala macam yang diperlukan untuk menunjang kehidupannya.

"mas urus administrasi dulu" ucap salah seorang perawat disitu

saya pun langsung menuju kasir administrasi,

"pak ada KTPpasien"

"mba, ayah saya pasien disini, cari aja datanya, ini kartu ATM saya, duitnya banyak, di gesek aja semau mba, Pinnya 301289, saya mau jaga ayah saya"

"Tapi pak,"

"Mba tolong urrus saja ya, duitnya banyak"

"bb..baik pak" ucap mba itu terbata-bata

saya bergegas kembali kedalam ruangan dimana ibu saya sedang menangis didepan meja dokter, "ayah kamu denyut jantungnya tidak stabil, harus di kejut jantung, ada 2 kemungkinan, satu jadi stabil, satu lagi selesai"

"ga bisa di apa2in lagi dong? berapapun saya bayar"

"itu saja mas kemungkinannya, silahkn tanda tangan disini"

"coba telepon dokter munawar dok, itu dokter ayah saya, tolong dok" perintah saya dengan agak sedikit memaksa, karena saya melihat ayah saya masih sadar waktu itu, dan alat kejut jantung biasanya di film2 dipakai saat pasien sudah tidak sadar dan indikator kehidupannya menunjukan garis lurus

saya sangat PD sekali saat itu, karena uang saya banyak dan ayah saya masih sadar, ayah saya harus selamat

"baik.." dokter itu menelepon dokter munawar

ibu saya terduduk dilantai dan mulai menangis ketika para perawat berteriak-teriak "Pak, sadar pak, bangun pak, jangan tidur ulu pak"

dokter pun langsung ke ruangan untuk memijat jantung ayah saya, ditekannya berkali-kali

tapi ternyata Tuhan lebih sayang kepadanya

ia pergi untuk selama-lamanya, setelah 3 hari sebelumnya pergi membeli baju lebaran bersama-sama untuk merayakan hari raya, dan sudah menyiapkan amplop2 kecil receh yang siap di bagikan kepada anak-anak sekitar nanti di hari raya

tepat 3 hari sebelum lebaran, ayah saya berpulang,

saat itu sudah agak siang, saya memandangi langit yang tanpa awan dengan tatapan kosong

"padahal uang saya banyak"



profile-picture
gajah_gendut memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Poetry
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia