Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
34
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60fd1a7d568dd4570a5c89d0/keluarga-suamiku
"Kamu, gak bisa halangin Julian buat ngasih sama keluarga Uwak, Del!" ucap Wak Neni menegurku. "Kamu juga bisa hidup enak seperti sekarang ini bersama Julian berkat keluarga Uwak yang sudah membiayai dan menyekolahkan Julian," sambung Wak Neni lagi. "Iya, sebagian biaya sekolahnya juga dari hasil keringat, Teteh jadi kamu gak ada hak ngelarang-ngelarang Julian buat ngasih
Lapor Hansip
25-07-2021 15:02

KELUARGA SUAMIKU

"Kamu, gak bisa halangin Julian buat ngasih sama keluarga Uwak, Del!" ucap Wak Neni menegurku.

"Kamu juga bisa hidup enak seperti sekarang ini bersama Julian berkat keluarga Uwak yang sudah membiayai dan menyekolahkan Julian," sambung Wak Neni lagi.

"Iya, sebagian biaya sekolahnya juga dari hasil keringat, Teteh jadi kamu gak ada hak ngelarang-ngelarang Julian buat ngasih ke kita." Teh Kinan ikut bersuara.

"Kalau bukan karena kasian keluarga kami mungkin sudah jadi yatim dan gembel suamimu itu." Aa' Ramdan menimpali.

"Teteh, harusnya berterima kasih sama keluarga kita!" ucap Rena anak paling bungsu Wak Neni yang katanya sebentar lagi akan menikah.

Sementara, Dimas anak Wak Neni yang satunya lagi hanya diam, dan cuek. Sebenarnya anak Wak Neni ada lima, hanya A' Firman yang tidak ikut ke rumah, katanya ada urusan.

"Iya, Wak, Teh, Aa. Dela gak ada niat buat ngelarang Bang Julian berbuat baik sama keluarganya sendir," jawabku pelan.

Asal itu masih wajar dan tidak berlebihan tentunya aku tidak akan marah, dan melarang. Apalagi aku tahu, sedari kecil suamiku sudah tidak punya orang tua dan di asuh oleh keluarga Uwak Neni yang merupakan kakak ipar Ibunya Bang Julian.

Tidak lama setelah mereka berkata begitu, Bang Julian pun keluar dari dalam kamar membawa amplop berisi uang 5 juta yang di minta Wak Neni, katanya buat bayar tagihan listrik sama kebutuhan lainnya, karena uang pensiun Almarhum Wak Hery sudah habis buat bayar hutang sementara anak-anaknya belum gajian. Matanya langsung berbinar menyambut kedatangan Bang Julian.

Ini bukan kali pertamnya keluarga Wak Neni datang untuk minta bantuan sama Bang Julian. Bang Julian pun tak keberatan saat Wak Neni meminta bantuan, selain keluarga Wak Neni sudah berjasa mereka juga keluarga yang Bang Julian miliki. 

"Ini, Wak uangnya!" Tangan Bang Jualian terulur memberikan amplopnya, dengan sigap Wak Neni mengambil amplopnya dan mengecek isinya, senyumnya langsung terkembang dari bibir merahnya.

"Gak dihitung dulu Wak?" tanya Bang Julian, lalu menghempaskan pantatnya di samping Dimas yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.

"Gak usah," jawab Wak Neni singkat dan terus tersenyum lebar. "Terima kasih ya Jul, Uwak benar-benar bangga sama kamu. Uwak juga gak nyangka berkat bantuan keluarga Uwak akhirnya kamu bisa sukses seperti sekarang ini.

"Rumahmu besar dan bagus, Jul." Dengan pongahnya Wak Neni terus menyebut-nyebut jasa keluarganya terhadap Bang Julian.

"Iya, Wak, Alhamdulillah," jawab Bang Julian singkat.

"Iya, Jul kamu masih ingat gak waktu Aa' beliin kamu es krim, saat kamu nangis minta es krim?" tanya Aa' Ramdan.

"Ingatlah, A' Julian pastinya tidak akan lupa dengan segala kebaikan keluarga Aa'."

Mereka pun kompak tertawa, aku yang sejak tadi menyaksikan hanya diam sembari menahan geram. Bisa-bisanya mereka mengakui Bang Julian sebagai keluarga setelah apa yang mereka lakukan.

Padahal setelah tamat SMK dengan teganya mereka mengusir Bang Julian dari rumah, dan menyuruh kerja dengan alasan agar lebih mandiri. Saat, Bang Julian bilang mau menikah pun mereka cuek-cuek saja dan pura-pura tidak tau, datang pun sekedarnya jangankan untuk membantu biaya pernikahan. Namun, setelah beberapa tahun jarang bertemu dan Bang Julian sudah sukses mereka dengan bangganya mengakui Bang Julian sebagai saudara dan menyebut-nyebut jasa kebaikan yang pernah mereka lakukan.

"Oh iya, Wak dengar-dengar sebentar lagi, Rena akan melepas masa lajangnya apa benar, Wak?" tanya Bang Julian sembari menyesap tehnya.

"Nah itu dia, sekalian Uwak juga mau ngasih tau kamu soal itu, Jul. Ya siapa tau nantinya kamunya mau ikut nyumbang," ucap Wak sembari tertawa renyah.

"Kalau Julian ada Insya Allah, Wak."

Wah jangan-jangan mereka mau minta Bang Julian ikut bantu biaya kayak di cerita-cerita KBM yang lagi viral? Batinku. Entah kenapa perasaanku langsung tidak enak, Astagfirullahhaladzim, sekita aku langsung beristighfar takut jadi suudzon. 

"Calonnya Rena itu pengusaha lho," puji Wak Neni.

"Alhamdulillah."

"Iya, Jul malulah nantinya kalau bikin resepsinya biasa aja," lanjut Wak Neni diiringi tawa.

Terlihat Bang Julian hanya manggut-manggut menanggapi sekenannya. Tapi, entah kenapa aku merasa ada udang dibalik bakwan mendengar ucapan Wak Neni barusan. Astagfirullahhaladzim, kan jadi suudzon lagi. Aku terus beristighafar sembari mengelus dada.

"Memangnya kapan, Wak rencana pernikahannya?" Kali ini aku yang bertanya, karena dari tadi aku hanya diam udah kayak patung menyaksikan mereka berceloteh.

"Mungkin dua atau tiga bulan lagi, nunggu Rena wisuda dulu," jawab Uwak.

Aku hanya ber oh ria menanggapi jawaban Wak Neni. Yang ku tau semua anak Wak Neni berkuliah. Tapi, kudengar hanya Dimas yang kuliahnya biaya sendiri. Anak keempat Wak Neni itu memang terlihat mandiri dan pendiam, aku yakin dia ikut kesini karena dipaksa. Nah kan jadi suudzon lagi, Astagfirullah.

"Ngomong-ngomong, itu Aa' lihat sepedanya gak kepake lagi? Aa' minta ya lumayan buat Farhan main," ucap Aa' Ramdan.

"Oh iya, A' ambil saja!" jawab Bang Julian.

Sebenarnya aku ingin protes, bukan pelit sih tapi setiap ada mainan Al-Faruq anak kami yang sudah berusia enam tahun tidak terpakai pasti diminta. Memang Aa' Ramdan punya anak kecil tiga tahun, anak kedua dari pernikahannya dengan Santi, sementara anak pertamanya  dua tahun lebih tua dari Al.

"Teh tadi, Rena ke kamar mandi lihat ini belum di buka, Rena minta ya!" ucap Rena sembari menunjukkan pembersih wajah Wa*d*h yang baru saja kubeli. Belum sempat menjawan Rena sudah memasukkannya kedalam tas.

Astaga, harusnya aku senang kedatangan keluarga, apa lagi mereka adalah keluarga suami satu-satunya yang katanya sangat berjasa. Tapi, kenapa aku malah merasa di rampok.

"Oh iya," jawabku pasrah. Mungkin Rena memang sedang butuh dan tidak punya uang untuk membeli, pikirku.

"Ya udah kalau begitu, kita pamit dulu ya!" ucap Wak Neni.

"Iya, Wak." ucapku dan Bang Julian hampir berbarengan, dan segera bangkit dari kursi guna mengantar mereka ke pintu.

"Jul, biscuitnya Teteh ambil ya mayan buat cemilan, gak apa-apa kan Del?" tanyanya Teh Kinan sembari memasukkan beberapa pics biscuitnya ke dalam tas, tanpa menunggu persetujuanku.

Aku hanya mengangguk, ikhlas atau enggak ikhala-ikhlasin aja deh, percuma kalau barangnya udah gak ada tapi terus menggerutu. Barangnya gak kembali, pahalanya gak dapat. Sebelum mereka ke sini aku memang habis pulang dari indoapril dan membeli beberapa biscuit dan cemilan, untungnya sudah kupisahkan untuk Al. Soalnya beberapa biscuit yang aku suguhkan semuanya dibawa pulang.

"Sekali lagi makasih ya, Jul," ucap Wak Neni.

"Iya, Wak," balas Bang Julian lalu menyalami tangan Wak Neni yang kemudian disusul olehku.

"Oh iya, Jul tadi sebelum kerumah Ibu, Aa' lupa bawa uang buat ongkos naik taksi,"

Aa' Ramdan rumahnya memang terpisah dari Wak Neni. Sementara Teh Kinan masih tinggal bersama Uwak karena suaminya yang sering kerja ke luar kota, entah sebagai apa.

Bang Julian pun mengerti maksud dari Aa' Ramdan dan segera mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. Seketika senyum dibibir Aa' Ramdan mengembang.

"Makasih ya Jul, kamu memang adek Aa' yang paling pengertian," puji A' Ramdan.

Setelah mereka pulang aku segera menutup pintu pagar dengan kasar.

"Neng, kamu kenapa?" tanya Bang Julian terlihat penasaran.

Aku pun langsung masuk ke rumah tanpa menjawab pertanyaannya. Kalau kalian diposisi gue kesal gak sih ngelihat kelakuan keluarga suami kek gitu?








profile-picture
profile-picture
profile-picture
aldebaranlp dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:05

Bagian 2: TAMU TAK TERDUGA

"Neng! Neng marah ya sama Abang? Kalau Abang ada salah ngomong Abang minta maaf?" cerca Bang Julian dengan pertanyaan begitu melihat gelagat kesalku.

Rasanya aku benar-benar gemas melihat tingakah dan kepolosan suamiku. Aku jadi ingat saat ia pulang membawa bekal makanan pemberian salah satu karyawan yang suka padanya.

"Neng coba lihat Abang bawa apa?" tanyanya dengan senyum semringah.

"Apa, Bang?" tanyaku balik.

Dengan semangat Bang Julian langsung membuka bekal makanannya.

"Tada ... Nasi goreng kambing. Tadi si Nita salah satu karyawan Abang ngasih ini, karena Abang ingat Eneng suka nasi goreng kambing jadi Abang bawa pulang," jelas Bang Julian panjang kali lebar.

"Memangnya si Nita suka ngasih Abang bekal?" tanyaku penasaran.

"Suka, Neng dia salah satu karyawan yang menurut Abang sangat perhatian."

Tanpa sadar tanganku menggebrak meja. Hingga membuat Bang Julian terlonjak kaget.

"Abaaaannngg ...," teriakku.

"Astagfirullahaladzim, ada apa Neng? Abang salah?"

"Ya salahlah, Bang!" 

Bang Julian langsung terlihat bingung, dan garuk-garuk kepala.

"Terus nasi gorengnya gimana?" tanyanya.

Kalau aku suruh dia makan, jangan-jangan nasi gorengnya dikasih pelet. Terus, Bang Julian ...

"Ah, tidak itu tidak boleh!" teriakku, yang membuat Bang Julian kembali terkejut.

"Kenapa sih, Neng?"

"Em ... Gak apa-apa sini nasi gorengnya biar aku yang makan."

"Neng, Abang boleh minta satu sendok aja!" ucapnya saat melihatku begitu lahap.

"Tidak, tidak boleh. Abang gak boleh makan nasi gorengnya. Nanti kalau ternyata nasi gorengnya dikasih pelet gimana?" ucapku keceplosan dengan mulut berisi penuh.

Bang Julian langsung tergelak, mungkin ia tidak percaya atau pura-pura bodoh kalau ada perempuan lain yang sedang berusaha merebut hatinya dengan memberi perhatian lebih. Karena, ia yakin aku dan Al-Faruqlah cintanya.

***

"Neng, kok Abang tanya cuma diam?" ucap Bang Julian membuyarkan lamunan panjangku.

"Gak, apa-apa aku gak marah. Cuma sedikit kesal aja," jawabku.

"Maafin keluarga Abang ya! Mereka sangat berjasa dan berarti buat, Abang," ucap Bang Julian tulus sembari memegang tanganku.

Kalau sudah melihatnya begitu aku tidak tega mau marah. Ya sudahlah, barangkali memang begitu caranya balas Budi terhadap keluarga yang telah rela merawatnya.

***

[Jul, tolong isikan pulsa Teteh ya yang 50 ribu, suami Teteh belum gajian]

Dahiku mengernyit saat membaca pesan dari Teh Kinan di ponsel Bang Julian yang memang tidak pernah pake password.

Bukan sekali dua kali, Bang Julian harus memenuhi permintaan keluarga Wak Neni yang terkadang terdengar sepele dengan dalih balas budi.

Akhirnya kuberanikan diri untuk membalas pesan Teh Kinan yang menurutku terlalu sering.

[Maaf Teh, ini Dela. Bang Juliannya lagi mandi] 

Pesan terkirim, dan sudah dibaca namun tidak dibalas.

Bang Julian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di pinggangnya.

"Pesan dari siapa, Neng?" tanya Bang Julian saat melihatku memegang ponselnya sembari mengeringkan rambut dengan handuk lainnya.

"Bukan siapa-siapa, Bang!" jawabku. Aku sengaja menghapus pesannya ingin lihat ekspresi Teh Kinan jika permintaannya tidak dituruti.

"Oh," jawab Bang Julian singkat sembari mengenakan setelan kerja yang sudah kusiapkan.

"Hari ini, Neng mau ke toko bunga?" tanya Bang Julian sembari memasang dasi kerjanya.

"Iya, Bang suntuk kalau cuma di rumah aja. Tapi, agak siangan setelah mengantar Al ke TK dulu," jawabku sembari membantunya memasangkan dasi.

Setelah resign dari kerja aku memutuskan untuk membuat usaha kecil-kecilan dengan membuka toko bunga, yang jaraknya tidak jauh dari rumah.

Terdengar sebuah notif dari ponsel Bang Julian.

"Coba, Neng lihat siapa yang kirim pesan?" ucap Bang Julian sembari memasangkan kaos kaki.

Aku pun segera mengecek ponsel, Bang Julian dan membuka pesannya. Ternyata Teh Kinan lagi.

[Jul, tadi Teteh hubungi kamu minta diisiin pulsa 50 ribu, tapi yang balas pesannya istri kamu. Jangan lupa sebelum berangkat kerja isiin pulsa Teteh dulu ya!]

Malas juga membaca isi pesannya.

"Siapa, Neng?" tanya Bang Julian masih sibuk dengan kaos kaki dan sepatunya.

"Teh Kinan, Bang," jawabku malas tanpa memberi tahu maksud dan tujuannya.

"Oh, mau apa dia?" tanya Bang Julian.

Aku memberikan ponselnya ke Bang Julian menyuruhnya untuk baca sendiri. Sepertinya, Bang Julian sudah tau kalau pesan sebelumnya sudah kuhapus, percuma juga gak dikasih tau, mereka pasti ngehubungi Bang Julian lagi sampai hajatnya terkabulkan, mereka kira Bang Julian ATM berjalan apa?

"Ya udah atuh, Neng sarapan dulu Abang udah laper," ajak Bang Julian.

"Bang, memangnya suami Teh Kinan kerja apa?" tanyaku penasaran, karena merasa heran hampir tiap bulan minta diisikan pulsa sama Bang Julian belum lagi Uwak dan Aa' Ramdan.

"Abang kurang tau, Neng?" ucap Bang Julian sembari menyendokkan nasi gorengnya ke dalam mulut.

"Masa hampir tiap bulan, minta diisiin pulsa sama, Abang?" protesku.

Bang Julian menghentikan aktivitas makannya dan menatapku.

"Neng keberatan kalau Abang bantuin keluarga Abang?" tanyanya serius.

"Bu-bukan gitu Bang, Neng cuma penasaran aja," jawabku.

Bang Julian hanya tersenyum. "Makasih ya, Neng!" ucapnya kemudian.

Aku jadi bingung, mendengar Bang Julian yang malah bilang terima kasih.

"Makasih buat apa, Bang?"

"Makasih karena telah menjadi istri Abang," ucapnya sembari melempar senyum.

Membuatku tambah bingung, ya sudahlah mungkin Bang Julian sedang bersyukur memperoleh istri pengertian sepertiku. Tuh kan jadi narsis dengar Bang Julian gak jelas kayak gitu. Ah sudahlah.

***

Sehabis pulang kerja biasanya kami istirahat sebentar, setelahnya makan malam bersama. Lalu, kalau masih belum ngantuk biasanya kami memilih untuk nonton bersama sembari ditemani secangkir teh hangat dan cemilan lainnya. 

Kami baru saja selesai makan malam, bahkan Bang Julianpun belum sempat beranjak dari tempat duduknya begitu pun Al. Meski sibuk bekerja aku bahagia dengan kebersamaan ini.

"Gimana, Al sekolahnya tadi?" tanya Bang Julian ke Al.

"Senang, Pa. Al jadi banyak teman tadi juga disekolah Ibu guru nyuruh Al dan teman-teman bikin huruf F," jawab Al antusias.

Aku hanya tersenyum mendengarkan dua lelakiku yang tengah bercerita, sembari membereskan piring kotor dan sisa makan di atas meja.

Tidak lama kemudian terdengar bel pintu berbunyi, itu artinya ada tamu yang datang. Tapi, siapa malam-malam begini datang kemari.

Terlihat Bang Julian hendak bangkit dari duduknya bersiap membukakan pintu. Tetapi, segera kucegah.

"Biar aku aja, Bang yang buka pintunya," ujarku. Bang Julian pun kembali duduk.

Dengan langkah lebar-lebar aku menuju pintu depan, melihat siapa tamu yang datang malam-malam begini.

"Iya, Waa ...." Belum sempat aku meneruskan menjawab salamnya, mataku langsung membulat saat melihat tamu yang datang dengan membawa anak istri, di sampingnya terdapat dua koper besar.
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:06

Bagian 3: Kegeraman Dela


"A-aa' Ramdan, Teh Santi?" Terbata aku berucap.

"Siapa, Neng?" tanya Bang Julian yang tengah berjalan ke arahku.

Aku menoleh ke arah Bang Julian tanpa menjawab, begitu tiba di depan pintu wajah Bang Julian tak kalah terkejut denganku.

"A-aa', Teteh? Ada apa kenapa malam-malam begini kalian kemari dan bawa koper segala, memangnya kalian mau kemana?" tanya Bang Julian dengan ekspresi terkejut bercampur penasaran.

"Boleh kita masuk dulu, Jul?" tanya Aa' Ramdan lemas.

"Oh iya, ayo A' masuk! Teh masuk!" ujar Bang Julian, lalu ikut mengakat koper milik A' Ramdan ke dalam rumah.

Wajah mereka terlihat begitu sedih entah apa yang terjadi pada mereka.

"Ayo, A', Teh duduk!" ucap Bang Julian. Lalu, mengisyaratkan padaku untuk segera mengambilkan air minum ke dapur. Aku pun mengerti dan langsung menuruti perintah Bang Julian.

"Astagfirullahaladzim, kok bisa?" tanya Bang Julian, ke A' Ramdan saat aku kembali ke ruang tamu.

Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas dari nadanya Bang Julian terdengar begitu kaget.

"Silahkan, A', Teh diminum dulu!" ujarku sembari meletakkan teko yang berisi air putih beserta gelas.

"Ada apa, Bang?" Aku pun tak kalah penasaran mendengar percakapan mereka yang begitu terdengar serius.

"Si Aa' bisnis yang baru dirintisnya di tipu, semua uangnya dibawa lari, dan sekarang mereka diusir dari kontrakan," ucap Bang Julian menjelaskan.

"Astagfirullahaladzim," Aku pun tak kalah kaget mendengar penjelasan Bang Julian.

"Jadi apa rencana, Aa'? tanya Bang Julian.

"Begini, Jul kalau kamu tidak keberatan, rumahmu, 'kan besar dan luas, kamarnya banyak. Em ... Aa' sama Teteh juga anak-anak mau numpang tinggal di rumah kamu, untuk sementara waktu selama Aa' belum dapat pekerjaan lagi.

"Itu pun kalau istrimu, Dela juga setuju," ucap A' Ramdan terlihat lemas.

"Tadinya, Aa' mau ke rumah Ibu, tapi kamu tau sendiri disana ada Teh Kinan dan suaminya, juga Rena sama Dimas, kasian Ibu kalau Aa' pulang kesana," sambung A' Ramdan lagi.

"Iya, Del tolong kasihani kami, terutama anak-anak. Apa kamu gak kasian lihat mereka?" ucap Teh Santi, matanya mulai berkaca-kaca, sedetik kemudian ia terisak.

Bang Julian langsung menatap ke arahku. Duh bingung juga kalau sudah begini, aku tidak mungkin menolak mereka untuk tinggal di sini, apa lagi melihat Teh Santi wajahnya benar-benar terlihat sedih.

Aku mengangguk tanda setuju. Aa' Ramdan dan Santi pun langsung berpelukan dan tersenyum.

"Makasih ya, Jul kamu benar-benar adik yang tau akan balas budi," ujar A' Ramdan.

"Makasih juga ya, Del!" timpal Teh Santi.

Aku hanya mengangguk sembari mengulas senyum, entah mengapa perasaanku tidak enak. Tetapi, tentunya aku tidak boleh suudzon.

"Ya udah kalau gitu, Dela siapin kamarnya dulu ya Teh!" ucapku.

Teh Santi langsung mengangguk, sembari tersenyum lebar.

Akupun bangkit dari tempat duduk dan bersiap merapikan kamar yang nantinya akan mereka tempati.

"Jul, masih ada makanan gak? Aa' sama Teteh juga anak-anak belum makan." Terdengar A' Ramdan bertanya pada Bang Julian.

"Sebentar ya A' Jul lihatin ke dapur dulu!" jawab Bang Julian, tak lama kemudian terdengar langkah menjauh.

Kamar yang akan mereka tempati nantinya memang tidak jauh dari ruang tamu, jadi aku masih bisa dengar apa yang mereka bicarakan.

"Wah, maaf A' ternyata makanannya habis, gimana ya? kalau makan mi instan aja gimana?" tanya Bang Julian memberi usul.

"Gimana ya? Sebenarnya Teteh kurang suka kalau harus makan mi instan." Terdengar Teh Santi menolak tawaran, Bang Julian. "Masak juga, Teteh udah merasa lelah gak kuat," sambungnya lagi.

Aku yang mendengar percakapan mereka seketika merasa tak enak, apa mereka yang mintanya berlebihan atau kami yang kurang dalam menjamu? Mau masak aku juga sudah merasa lelah, hari juga sudah hampir pukul sembilan.

"Em, ya sudah kalau begitu pesan via go food aja gimana?" usul Bang Julian lagi.

"Ya udah, Jul gak apa-apa. Pake ayam goreng ya Jul!" ucap A' Ramdan.

Setelah membereskan kamarnya aku pun segera ke luar.

"Teh, kamarnya udah saya rapikan," ucapku sopan.

"Oh iya," balas Teh Santi tanpa ucapan terima kasih. Lalu, bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar sembari membawa kopernya. Aku pun mengikuti untuk menunjukkan fasilitasnya.

"Wah benar kata A' Ramdan rumah kalian bagus ya!" puji Teh Santi, sembari meletakkan kopernya.

Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. Lalu kami pun kembali ke luar.

"Ma, Aida laper!" keluh anak sulung Teh Santi.

"Sabar ya, Oom Jul lagi pesanin makanan buat kita," ucap Teh Santi berusaha menghibur anaknya.

Kulihat Bang Julian memang tengah sibuk dengan ponselnya, mungkin sedang pesan makanan sesuai permintaan A' Ramdan.

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanannya datang juga. A' Ramdan segera mengambil pesanannya dan berlalu begitu saja, tadinya kupikir A' Ramdan yang akan bayarnya. Tetapi, rupanya ia hanya menerima barangnya dan Bang Julian bagian bayarnya.

"Yeay, ayam goreng," teriak Aida senang.

"Jul kalian sudah makan, 'kan?" tanya A' Ramdan.

"Sudah, A'."

"Berarti ayam gorengnya buat kita semua ya?"

Bang Julian mengangguk, mereka pun segera makan dengan begitu lahap.

"Itu ayam goreng, Aida," teriak Aida saat Farhan adiknya dengan isengnya merebut ayam gorengnya.

Mereka pun main kejar-kejaran, tetapi orang tuanya malah cuek saja dan terus sibuk makan tanpa niat menegur anak-anaknya, membuatku risih. Aida dan Farhan pun tak segan menginjak-injak sofa.

Astagfirullahaladzim, geram bukan main mau negur aku masih canggung, takut mereka tersinggung.

Selesai makan, A' Ramdan tanpa canggung langsung bersendawa dengan nyaring.

"Ayam gorengnya enak, Jul," ujarnya.

"Iya, aku sampai nambah porsinya anak-anak," timpal Teh Santi diiringi tawa renyah.

Aku sudah tidak tahan melihat pemandangan ini, lebih baik aku segera istirahat. Toh, mereka juga pasti capek dan butuh istirahat.

"Bang, Dela ke kamar dulu ya udah ngantuk, sekalian mau lihatin Al dulu, biarkan A' Ramdan dan teh Santi istirahat mereka pasti juga capek!" pamitku, berusaha menghindar.

Bang Julian pun mengangguk.

"Teh, Dela pamit ke kamar dulu ya. Kalau Teteh butuh sesuatu bisa tanya saya atau Teteh bisa ambil sendiri," ujarku.

"Iya, Del," balas Teh Santi sembari tersenyum lebar. Kesedihan di wajah Teh Santi yang waktu datang ke sini seakan lenyap ditelan bumi, yang ada hanya senyum bahagia. Nampaknya setelah aku mengizinkan mereka tinggal di sini benar-benar memberi kebahagian.

Aku pun segera menuju kamar, tetapi sebelumnya aku masuk ke kamar Al. Menyelimuti tubuhnya, membisikkan doa dan harapan di telinganya, lalu mencium keningnya.

Setelahnya aku mematikan lampu, dan kembali menuju kamar. Sebelum berbaring aku menyempatkan diri untuk menggosok gigi dan berwudu.

Baru saja hendak berbaring, Bang Julian masuk ke kamar.

"Mereka sudah tidur, Bang?" tanyaku.

"Baru siap-siap, tadi Abang lihat A' Ramdan lagi masukin koper satunya ke kamar," jawab Bang Julian sembari ikut berbaring di sampingku.

***

Menjelang pagi, usai melaksanakan salat subuh dan sibuk di dapur biasanya aku sibuk dengan pekerjaan rumah, aku berjalan ke arah ruang tamu. Kulihat pintu kamar mereka masih tertutup, aku maklum mungkin mereka kecapekan, batinku.

Mataku tertuju ke sofa ruang tamu, Astaga seketika bola mataku rasanya mau melompat dari tempatnya saat melihat keadaan ruang tamu yang semalam kutinggal lebih dulu. Geram bukan main.
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:07

Bagian 4: Sesuatu yang Mengejutkan

Seketika nafasku memburu melihat pemandangan sisa makan A' Ramdan, dan Teh Santi juga anak-anaknya semalam. Piring, cangkir dan sampahnya tergeletak di meja ruang tamu begitu saja, belum lagi sisa nasi, bekas tulang ayam dan sambal yang tercecer di lantai.

Mungkin aku lagi-lagi aku harus maklum karena mereka baru sampai semalam, dan kecapekan. Namun, perasaan kesal tak urung menguasai hati, apa Teh Santi tidak bisa membereskannya lebih dulu sebelum mereka tidur?

Dengan perasaan dongkol aku segera merapikan mejanya, dan mengambil sapu dan alat pel lantai, aku yang tidak suka melihat rumah kotor tentunya merasa tidak tenang melihat itu semua. Saat tengah bersih-bersih, terdengar pintu kamar mereka terbuka, ternyata Teh Santi.

"Eh, Dela rajin amat pagi-pagi udah beres-beres," ucap Teh Santi basa-basi, tanpa ada raut wajah tak enak. Aku hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi ucapannya.

Tidak lama kemudian anak sulungnya menyusul keluar. "Ma, Aida laper," ucapnya sembari mengucek mata.

"Iya, Sayang Mama juga laper."

Aku pura-pura tidak dengar dan terus melanjutkan pekerjaanku.

"Em ... Del?" sapa Teh Santi.

"Iya, Teh ada apa?" tanyaku sembari menghentikan aktivitas.

"Em ... Aida laper, kamu udah masak belum?"

"Oh udah Teh ambil saja di dapur tadi aku masaknya banyak, aku mau lanjutin beres-beres dulu!" ucapku. 

Biar saja Teh Santi ngambil sendiri, tadi juga aku sengaja masak nasi gorengnya banyak. Karena ada tamu.

"Ada apa, Dek ribut-ribut?" A' Ramdan bertanya sembari menguap dan meregangkan ototnya yang habis bangun tidur.

"Bukan ribut, A' ini si Aida laper," jelas Teh Santi.

"Oh, Aa' juga laper," ucap A' Ramdan sembari mengelus perutnya.

"Oh, ya udah atuh tadi kata Dela dia udah masak banyak, iya, 'kan Del?" tanya Teh Santi lagi memastikan.

"Iya, maaf ya Teh gak apa-apa, 'kan kalau Teteh ngambil sendiri?" tanyaku, bagaimanapun mereka adalah tamu, dan baru datang semalam kupikir tak ada salahnya menjamu tamu dengan baik.

"Iya, Del gak apa-apa."

Mereka pun pergi ke dapur, sementara aku melanjutkan beres-beres. Usai membersihkan ruang tamu aku hendak ke dapur guna menyimpan peralatan tadi, setelahnya baru ngajakin Bang Julian dan Al sarapan.

Saat melintas depan kamar kulihat Bang Julian keluar dari kamar, dan sudah rapi.

"Bang," tegurku.

"Eh, Istri Abang rajin bener," candanya.

"Ayo, Bang sarapan dulu!" ajakku, Bang Julian pun mengangguk dan mengikutiku ke dapur.

Kulihat Teh Santi dan A' Ramdan masih duduk di meja makan.

"Eh, Dela, Julian," tegur Teh Santi melihat kami datang. "Del, nasi goreng buatanmu enak, A' Ramdan sampai minta nambah," ucap Teh Santi sembari tersenyum lebar.

"Iya, Jul ternyata selain berduit kamu juga punya istri jago masak, jadi tidak perlu ngeluarin biaya buat bayar pembantu," timpal A' Ramdan, entah pujian entah apa yang jelas aku tidak begitu suka mendengarnya.

Bang Julian hanya tersenyum tipis, lalu sekilas menatap tak enak kearahku.

Aku melirik ke wajan yang berisi nasi goreng, hanya tinggal sedikit, untuk porsi Al saja tidak cukup. Aku dan Bang Julian saling berpandangan, setelahnya kulihat Bang Julian hanya bisa meneguk saliva, saat tau kalau ternyata nasi gorengnya sudah habis.

"Neng, Abang berangkat dulu ya!" pamitnya, lalu mengulurkan tangan untuk kusalami.

Aku pun menyambut tangannya dan menciumnya dengan takzim, ada perasaan bersalah melihatnya pergi tanpa sarapan.

"A', Teteh, Jul berangkat dulu ya!"

"Oh iya, hati-hati Jul," ucap A' Ramdan.

Aku pun mengantar Bang Julian ke depan.

"Bang, Neng minta maaf ya!"

"Gak apa-apa, Abang yang harusnya minta maaf gara-gara keluarga Abang tinggal dimari kamu jadi susah," ucap Bang Julian sembari memakaikan helmnya. Bang Julian kadang memang lebih suka menggunakan motor untuk berangkat kerja, katanya biar bisa cepat sampai kalau macet.

"Gara-gara, Eneng Abang jadi gak sarapan."

Bang Julian hanya tersenyum, lalu mencium keningku.

"Ya udah, nanti Abang bisa cari sarapan di kantin, Abang berangkat dulu ya!"

Aku mengangguk, Bang Julian pun perlahan mengeluarkan motornya dari pagar.

Aku kembali masuk, dan bersiap untuk mengantarkan Al kesekolah, lalu ke toko bunga.

***

"Del, kamu mau kemana?" tanya Teh Santi saat melihatku sudah rapi dan siap mengantarkan Al.

"Mau nganterin Al ke sekolah dulu, Teh sekalian ke toko bunga," jawabku. "Oh iya, Teh lalu gimana dengan sekolah Aida?" tanyaku penasaran.

"Mungkin untuk sementara, Aida cuti dulu, Del. Atau kalau enggak pindah sekolah itupun kalau A' Ramdan sudah dapat pekerjaan," jawab Teh Santi.

Aku hanya mengangguk menanggapi jawaban Teh Santi bingung mau kasih solusi apa.

"Al, nanti setelah pulang sekolah kita main ya!" ajak Aida ke Al.

"Iya, sekarang aku mau sekolah dulu ya!" jawab Al.

"Em ... Oh iya, Del nanti pas jam makan siang kamu pulang, 'kan?" 

"Em, belum tau Teh biasanya enggak," jawabku.

Wajah Teh Santi langsung terlihat panik. "Em ... Memangnya kenapa Teh?" tanyaku penasaran.

"Em gak apa-apa," jawab Teh Santi diiringi tawa yang terlihat dipaksakan. 

Entah apa yang dikhawatirkannya, "Ya udah kalau gitu, aku pamit dulu ya Teh! Maaf ya Teh aku gak bisa nemanin Teteh, di rumah," ujarku merasa tak enak karena harus pergi saat ada tamu di rumah. "Insya Allah akan saya usahakan pulang lebih cepat!" sambungku lagi.

"Iya, Del gak apa-apa," jawab Teh Santi.

Aku dan Al pun segera pergi dengan menggunakan sepeda motor matic kesayanganku.

***

Sudah hampir Asar, tadi aku bilang akan mengusahakan untuk pulang lebih cepat, Tetapi sepertinya tidak bisa karena hari ini toko lumayan ramai. Kulihat Al pun tengah tertidur pulas di sofa setelah habis makan siang tadi.

Aku harus ngehubungi Bang Julian karena mungkin pulangnya agak sorean, jadi gak sempat masak.

[Bang mungkin, Eneng pulangnya agak sorean jadi gak sempat masak, nanti Abang beli aja ya ditempat biasa kita beli] 

Pesanku terkirim, tidak lama kemudian ada balasan 

[Iya, Neng gak apa-apa]

Setelah membaca pesan balasan, aku kembali menaruh ponsel di atas meja. Tidak lama setelah itu ada lagi tamu yang datang untuk memesan bunga.

'Alhamdulillah, hari ini tokonya ramai' batinku sembari menghitung pemasukan hari ini.

Aku melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan, sudah pukul 17 lebih lima. Lebih baik aku tutup tokonya dan segera pulang, Al pun sudah bangun dari tidurnya.

Setelah memastikan tokonya aman terkunci aku dan Al pun segera pulang.

Sepertinya Bang Julian belum pulang, motornya belum ada. Aku pun segera memasukkan motor ke dalam garasi. Lalu, melangkah masuk ke rumah.

Astaga!

Begitu membuka pintu mataku langsung disuguhi dengan pemandangan yang tak enak beberapa barang berserakan dilantai, sofa ruang tamu pun nampak bergeser dari tempatnya. 

Aku berjalan ke arah dapur, lagi-lagi mataku rasanya mau melompat melihat pemandangan yang begitu mengejutkan.

Allahuakbar!

Apa sebenarnya yang Teh Santi dan keluarganya lakukan saat kami tidak ada di rumah?


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:08

Bagian 5: Keterlaluan

Untungnya Al sudah kusuruh masuk ke kamar. Aku terus mengelus dada sembari beristighfar. Ini benar-benar keterlaluan. Bekas sarapan tadi pagi saja Teh Santi enggan membersihkannya, ini untuk yang ke dua kalinya, kalau yang semalam aku masih bisa maklum, tapi untuk yang bekas tadi pagi apa alasannya?

Hatiku benar-benar terasa dongkol, melihat ini semua. Sudah capek kerja diluar seharian pulang-pulang disuguhi pemandangan rumah yang seperti kapal pecah.

"Del, kamu sudah pulang," Tiba-tiba Teh Santi datang mengejutkanku yang tengah menahan geram.

Teh Santi terlihat pucat, apa Teh Santi sakit? Ingin marah, tapi kuurungakan melihat ekspresinya begitu.

"Teteh kenapa?" tanyaku, semarah-marahnya aku tetap saja aku khawatir melihat Teh Santi begitu.

"Dari tadi siang, Teteh pusing dan mual," jawabnya.

Eh, jangan-jangan Teh Santi ... Hamil?

"Sudah minum obat?" tanyaku.

"Sudah." 

Tidak lama kemudian saat aku dan Teh Santi tengah bercakap terdengar deru motor memasuki halaman, sepertinya Bang Jul yang pulang.

"Sebentar, Teh aku kedepan dulu ya!" ucapku yang dibalas Teh Santi dengan anggukan.

Benar ternyata Bang Julian yang pulang, aku langsung menyambut tangannya dan menciumnya dengan takzim.

"Assalam ...." Bibir Bang Jul langsung tercekat saat melihat pemandangan dalam rumah, bahkan salamnya pun terputus. "Neng," ucap Bang Julian seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Aku hanya menghela nafas, "Maaf, Bang aku belum sempat beres-beres, Neng juga baru pulang," jawabku.

"Eh, Jul kamu udah pulang?" sapa A' Ramdan dari dalam. "Bawa apaan tuh, baunya makanan?" tanya A' Ramdan lagi sembari tersenyum lebar.

"Iya, A'" jawab Bang Jul.

"Wah kebetulan sekali, dari tadi Aa' sama Teteh belum makan." A' Ramdan mengusap-ngusap perutnya, dan tersenyum lebar.

"Eh, Jul udah pulang?" Teh Santi muncul dari arah dapur, dan berbasa-basi ke Bang Jul.

"Udah Teh. Kok Teteh terlihat pucat?" tanya Bang Jul penasaran begitu melihat Teh Santi.

"Iya Jul dari tadi Teteh pusing dan mual," jawabnya.

"Sudah makan?" 

Teh Santi menggeleng, lalu Bang Jul pun menyerahkan makanan yang tadi dibelinya.

"Wah apa ini, Jul?" tanya Teh Santi yang tiba-tiba berubah ceria dengan mata berbinar.

"Makanan, Teh tadi sebelum pulang, Jul sengaja beli buat  makan malam."

A' Ramdan melongokkan kepala ke plastik yang dipegang Teh Santi untuk melihat isinya.

"Kalian sudah makan, 'kan Jul? Ayo, Neng kita makan kamu belum makan, ' kan dari tadi," ujar A' Ramdan ke istrinya.

"Iya, A' ayo kita makan, Santi udah laper banget."

Sekarang aku tau alasan kenapa Teh Santi sakit pasti gara-gara belum makan, padahal dikulkas ada banyak stok sayur dan daging tinggal masak apa susahnya.

"Khem ... Kita juga belum makan, A', Teh," ucapku kemudian dengan suara pelan.

"Makanan yang dibeli suamimu sedikit, Del. Kalian, 'kan banyak duit kenapa gak pesan aja lagi," jawab A' Ramdan dengan entengnya.

"Ya gak bisa gitulah, A' kami seharian keluar kerja jadi capek kalau harus pesan lagi, lama juga nunggunya," protesku.

"Neng, udah gak apa-apa," tegur Bang Jul lirih.

"Ya gak bisa gitu, Bang Neng capek, Abang juga capek, kita semua laper," jawabku.

Wajah A' Ramdan langsung terlihat tak suka mendengar protesku.

"Ya sudah, Jul gak apa-apa kita memang numpang disini." Sindir A' Ramdan merasa tak dihargai.

Aku hanya menghela nafas dan membuangnya pelan, sabar Dela. Mereka cuma sebentar di sini, aku berusaha menenangkan diri.

"Ya udah, aku ambil nasi dulu!" ujarku sembari melangkah ke dapur.

Begitu sampai di dapur, mataku kembali terbelalak saat membuka mejicom yang ternyata sudah kosong.

"Allahuakbar," pekikku.

"Ada apa, Neng?" Dengan langkah tergesa Bang Julian menghampiriku sembari bertanya panik.

Tubuhku sudah terasa lemas, kuangkat bagian dalam mejicomnya dan memperlihatkannya ke Bang Jul.

Terlihat Bang Julian hanya pasrah dan menghela nafas.

"Teh, Teteh sama Aa' yang udah ngehabisin nasinya?" tanyaku begitu sampai di ruang tamu.

Terlihat Teh Santi hanya nyengir, wajahnya terlihat tak enak. Entah tak enak sungguhan atau hanya pura-pura.

"Iya, Del maaf tadi Teteh sama Aa' juga anak-anak laper jadi kita habisin nasinya. Itupun kurang."

Lagi-lagi aku menghela nafas, sembari menahan kesal. "Kenapa Teteh gak masak lagi?" tanyaku masih dengan suara pelan. Bang Jul berada di sisiku nampaknya ia sudah wanti-wanti takut kalau kemarahanku meledak.

"Maaf, Del Teteh lupa," jawabnya singkat.

"Terus kita mau makan apa?" 

Teh Santi terlihat menggaruk kepalanya yang kuyakin tak gatal.

"Ya sudah biar Abang pesan go food aja," usul Bang Julian menengahi.

"Kenapa gak dari tadi aja sih, Jul," protes A' Ramdan tak suka.

"A' bisa gak ...." Kalimatku terhenti saat Bang Julian memberi isyarat agar aku tidak melanjutkan ucapannya.

"Udah, Neng jangan bertengkar malu sama tetangga," bisik Bang Jul pelan.

Bang Julian memang orangnya selalu tak enakan, dan cenderung mengalah. Kadang membuatku gemas melihat sifatnya yang terkesan suka mengalah tersebut.

"Jul, pesan makanannya kayak semalam ya!" ucap A' Ramdan, setelahnya tanpa rasa bersalah sembari tersenyum lebar.

"Iya, A'" jawab Bang Jul pelan.

Seperti biasa, setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesannya datang. Bang Jul segera menerima dan membayar pesanannya.

Malam ini kami makan di ruang tamu karena jumlah kursi makan yang hanya empat jadi tak memungkinkan jika harus makan di sana.

"Aida, Farhan sini ... Om Jul beli ayam goreng lagi, Nih!" seru A' Ramdan pada kedua anaknya yang tengah asyik bermain bersama Al.

Mereka pun berlari kegirangan.

"Al, jangan lari-lari nanti nyenggol barang-barang," sindirku, agar dua orang yang tengah menumpang ini juga tergerak menegur anaknya. Tetapi, nyatanya aku salah mereka malah cuek saja.

Aku membuka bungkusan ayam gorengnya dan menaruhnya di piring, nasinya terus membuka lauk rendang yang tadi siang dibeli Bang Jul.

"Wah ada rendang, makanan kesukaan nih," A' Ramdan kembali bersuara.

"Mangkok cuci tangannya mana, nih?"

"Bentar A' biar Jul ambilkan," Bang Jul bangkit menuju dapur, tak lama kemudian kembali dengan mangkok berisi air cucian tangan.

"Aku dulua ya!" ucap A' Ramdan tanpa merasa sungkan.

Mereka begitu lahap seperti orang yang belum makan seharian, membuatku terasa malas untuk makan.

"Enak ya, Neng?" tanya A' Ramdan ke istrinya.

"Iya, A' rasa pusing dan mual Eneng seketika langsung hilang," jawab Teh Santi.

Oh jadi Teh Santi pusing dan mual karena lapar, padahal mereka sudah menghabiskan nasi yang kumasak tadi pagi memang tidak banyak hanya setengah kilo beras.

"Ma, besok Aida mau makan ayam goreng lagi ya!" ucapnya sembari mengigit paha ayamnya.

"Minta sama Om Jul," jawab A' Ramdan sambil tersenyum.

"Maklumlah, Jul mereka jarang-jarang makan Enak," ucap A' Ramdan ke Bang Jul.

Aku tak habis pikir kok ada ya orang tak tau malu seperti mereka, karena merasa berjasa tanpa sungkan minta ini itu. Terlalu!

Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:08

Bagian 6: Julian Marah

Sudah satu minggu lebih, A' Ramdan dan keluarganya tinggal di sini. Namun, nampaknya belum ada tanda-tanda A' Ramdan akan pergi atau pun cari pekerjaan, mereka hanya sibuk bermalas-malasan. Kalau ditanya kapan akan cari kerja, A' Ramdan pasti berdalih.

"Kalian, 'kan tau sendiri cari kerja di kota itu tidak mudah."

Padahal, Bang Julian sudah menawarkan pekerjaan di kantornya sebagai OB.

"Masa, Aa' yang sudah serjana ini kamu tawarin, OB Jul?" 

Memang susah ngehadapin orang yang gengsinya tinggi. Tetapi, gak punya apa-apa, dan memilih hidup berpangku tangan sama saudara sendiri.

***

Hari ini aku sengaja meliburkan diri, dan berniat ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur sekalian ngantar Al ke sekolah.

Sebelum berangkat aku berniat pamit terlebih dahulu ke Teh Santi, aku pun melangkah menghampiri kamar yang mereka tempati.

"Gimana, keputusan Aa' buat ngajak kalian tinggal di sini udah benar, 'kan?"

"Iya, A' kalau kayak gini terus Eneng betah, A'. Seumur hidup pun Eneng gak masalah kalau hidup numpang. Kita udah kayak Tuan dan Nyonya," jawab Teh Santi.

Mereka pun tertawa. "Jangan keras-keras A' nanti kedengaran," tegur Teh Santi pada suaminya.

"Iya, lagian sudah seharusnya Jul, berbuat baik sama Aa' kalau bukan karena keluarga Aa' mungkin hidupnya tidak akan bisa enak seperti sekarang ini." Dengan pongahnya A' Ramdan terus-terusan menyebut-nyebutkan jasa keluarganya.

Aku yang mendengar dari balik pintu geram bukan kepalang, tanganku terkepal ingin sekali rasanya aku menyuapi dua sejoli tidak tau diri itu dengan sambal geprek level paling pedas biar tau rasa.

"Ya udah atuh, A' Neng mau keluar dulu mau ambil minum!"

"Ya udah, Aa' juga mau ngerokok dulu ke depan!"

Setelahnya terdengar langkah menuju pintu, aku pun pura-pura tidak tau dan segera mengetuk pintu. Begitu pintu terbuka mereka berdua nampak terkejut, namun kubalas dengan senyum seolah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Teh, aku pamit antar Al dulu ya sekalian mau kepasar." ucapku seperti biasanya.

"Ka-kamu udah lama di situ, Del?" Tergeragap Teh Santi bertanya.

"Baru kok, Teh. Memangnya ada apa Teh?" tanyaku pura-pura.

Terlihat keduanya langsung saling berpandangan, dan menghela nafas lega. 

"Ya udah kalau gitu, Aa' ke depan dulu!" pamit A' Ramdan. Teh Santi pun mengangguk.

"Ya udah, Teh aku juga mau berangkat ya!"

"Oh iya, Del," jawab Teh Santi.

Setelah pamit aku pun segera keluar bersama Al, di teras depan terlihat A' Ramdan sedang duduk santai sembari menyalakan rokok. Sudah kayak bos aja kelakuannya, bikin kesal.

"Eh, Dela mau ke pasar ya?" tegur A' Ramdan basa-basi. "Aa' titip bakso ya udah lama Aa' gak makan bakso."

"Teteh juga ya, Del!" Teh Santi ikut bersuara sembari melongokkan kepala di depan pintu.

"Ya sudah mana uangnya, Dela cuma bawa uang pas buat beli sayur!" jawabku.

"Ya pake uang kamulah, Del kamu kan tau sendiri Aa' belum dapat pekerjaan. Lagian itu uang juga uangnya Julian.

"Kamu harus ingat, Del kalau bukan keluarga Aa' Julian gak mungkin bisa hidup enak seperti sekarang ini, kamu juga bisa nikmatinnya," jawab A' Ramdan santai. 

Lagi-lagi ia terus menyebut jasa kebaikan keluarganya, yang membuatku semakin geram.

"Iya, Del masa sama saudara sendiri itung-itungan," Teh Santi ikut bersuara.

"Maaf, A' yang berhutang budi kan, Bang Julian kenapa aku mesti yang membalasnya, dan maaf ya Teh bukan itung-itungan, sekarang yang bekerja hanya Bang Julian di rumah ini jadi kita harus hemat," tukasku.

"Lho, bukannya kamu juga kerja di toko bunga?" jawab Teh Santi tak terima.

"Ya aku memang kerja, tapi itu uangku ya terserahku mau aku pake buat apa yang jelas bukan buat kebutuhan dapur, dan jajan yang gak penting," jawabku.

Tentu saja jawabanku membuat keduanya seketika berwajah masam dan tak suka, tetapi aku tidak peduli karena itu bukan urusanku. Harusnya mereka tau dirilah sudah hidup numpang malah enak-enakan minta ini itu.

"Ya sudah, karena keluarga A' Ramdan sudah baik sama Bang Jul, demi Bang Jul nanti Dela beliin deh," ucapku, biar saja sesekali orang seperti mereka perlu dikasih pelajaran. 

"Nah gitu dong, Del itu baru istri yang pengertian. Tau bagaimana cara balas Budi ke orang yang sudah berbuat baik sama suami sendiri," ujar A' Ramdan merasa bangga.

Aku hanya menghela nafas, maaf ya A', Teh kalau setelah makan baksonya nanti kalian akan mengalami sesuatu. Batinku.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya akupun pergi untuk mengantar Al ke sekolah lalu berangkat ke pasar.

Karena sekarang di rumah ada banyak orang, otomatis aku harus membeli stok bahan makanan lebih banyak dari biasanya.

"Tumben, Neng beli dagingnya banyak," tanya yang jualan daging langganan ku.

"Iya, Mang lagi ada saudara jauh di rumah," jawabku.

"Oh, begitu. Ya udah ini Mamang kasih dagingnya buat saudara jauhnya."

"Eh, gak usah Mang jadi ngerepotin."

"Gak apa-apa, Neng."

Akhirnya aku pun menerima pemberian, Mang Adang. Dan permisi pergi.

Setelah di parkiran aku baru ingat belum beli bakso pesanan A' Ramdan dan Teh Santi.

"Mang, Baksonya dua ya! Sambelnya lima sendok," ucapku.

"Siap, Neng!"

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanannya datang, " Makasih ya, Mang!" Aku mengangsurkan uang dua puluh ribu. Lalu bergegas untuk pulang.

Tiba di rumah, keadaan nampak sepi. Aku melangkah masuk. Suasana nampak sepi, kemana mereka. Samar kupingku kembali mendengar suara dari dalam kamar yang ditempati A' Ramdan dan Teh Santi.

"Tinggal di sini sih enak, A'. Tapi, kayaknya istrinya Jul yang tidak suka dengan keberadaan kita," ucap Teh Santi.

"Iya, kadang Aa' juga kesel dengan kelakuan istrinya Jul itu, songong sekali. Padahal semua uangnya milik Jul.

"Kalau tidak ingat dia itu perempuan udah, Aa' pukul dan remas mulut lemesnya itu." Terdengar kesal sekali, A' Ramdan berucap.

'what apa dia bilang mau mukul, dan meremas mulutku? Belum tau aja dia kalau aku ini dulunya tingkat juara karate sekabupaten' 

Mereka ini benar-benar tamu tidak tau diri dan tidak tau diuntung. Lihat saja kalian tinggal di rumahku, akan kubuat kalian menyadari kesalahan kalian, dan menyadari bagaimana seharusnya bersikap di rumah tempat kalian tinggal.

Aku lekas mengetuk pintu, aku yakin di dalam sana mereka kembali terkejut. Tidak lama kemudian pintu terbuka.

"De-dela kapan kamu pulang?" tanya Teh Santi panik.

"Baru kok, Teh. Oh iya ini bakso pesanan Aa' sam Teteh." Aku mengangsurkan dua bungkus bakso pesanan mereka.

***

Setelah makan baksonya, aku tidak tau sudah berapa kali mereka berdua bolak balik ke toilet, bahkan wajah keduanya terlihat pucat.

Mereka saling berdebat untuk segera gantian ke toilet. Nampaknya, Baksonya benar-benar bikin mereka sakit perut.

***

"Lho, Aa', Teteh kalian kenapa?" tanya Bang Jul saat pulang dari kantor begitu melihat A' Ramdan dan Teh Santi terkulai lemas.

"Istri kamu, Jul yang bikin kita kayak gini," jawab A' Ramdan lemas. "Dia sengaja mau ngeracunin kita ngasih bakso dengan banyakin cabenya."

"Benar itu, Del?" tanya Bang Julian, ekspresinya terlihat marah.

"Aku cuma ...."

"Dela." Bentak Bang Julian.

Rasanya aku benar-benar syok mendengar suamiku yang selama ini selalu berkata lemah lembut tiba-tiba membentakku.

Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:10

Baian 7: Merasa Paling Berjasa

Demi apa coba Bang Julian beraninya membentakku.

"Abang gak suka ya kalau Istri Abang bercandanya keterlaluan seperti ini!" lanjut Bang Julian kemudian.

Aku melangkah pergi ke arah kamar. Menangis, tentu saja iya hatiku benar-benar sakit mendengar orang yang selama ini sudah kutemani beraninya membentakku. Demi membela saudaranya yang sudah keterlaluan dan tidak tau diri itu. Bang Julian lantas menyusulku.

"Dela, Abang belum selesai bicara main pergi aja. Gak sopan!"

Mungkin iya aku gak sopan, tapi aku lebih tidak sudi Bang Julian memarahi dan membentakku di depan dua benalu itu, makin tinggi dan besar kepalalah keduanya.

"Udahlah, Jul buat apa kamu menyusul perempuan kurang ajar seperti itu, gara-gara tidak suka kami tinggal disini saudara sendiri dikerjain hampir mau mati," tukas A' Ramdan yang terdengar olehku.

"Maafin, Dela ya A'" Bang Julian meminta maaf demiku padahal aku sendiri tidak berniat minta maaf setelah tau kelakuan dan keinginan mereka menghajarku.

Aku menyeka air mataku dengan kasar, dan berbalik menghadap ke arah mereka.

"Sudahlah, Bang tidak usah mengejarku. Bela saja terus saudaramu yang sudah berjasa itu. Bahkan kalau sampai dia ingin memukul dan meremas mulutku kamu tidak usah peduli," ucapku lantang.

Seketika wajah A' Ramdan yang pucat semakin terlihat pucat. 

"Apa maksud Neng?" tanya Bang Jul bingung.

"Kamu tanyakan saja pada saudaramu itu!" Aku menunjuk ke arah A' Ramdan yang sekarang terlihat pucat dan gelisah.

"Em ... Aa'- Aa' cuma bercanda. Lagian mana mungkin Aa' tega memukul perempuan," ucapnya takut-takut yang kemudian diikuti senyum terpaksa.

***

"Neng, Maafin Abang ya soal yang tadi. Abang khilaf, Abang tidak bermaksud membentak Eneng," ucap Bang Julian takut-takut saat keadaannya sudah mulai tenang. Wajahnya terlihat menyesal.

Aku hanya mengangguk, ya mungkin aku memang keterlaluan dan salah.

"Tadi, Abang sudah takut saat kamu beranjak pergi, waktu Abang bentak. Abang takut kayak di cerita-cerita itu, Eneng pergi ninggalin Abang, gara-gara Abang bentak Eneng," ucap Bang Julian penuh sesal.

Rasanya aku ingin tertawa melihat ekpresi wajahnya yang begitu kelihatan sedih dan menyesal, juga mendengar penjelasannya yang katanya takut ditinggal istri gara-gara dibentak karena ngebela saudara. Ah ternyata diam-diam Bang Julian suka baca cerita-cerita di KBM juga.

"Iya, Bang Neng juga minta maaf. Gak mungkinlah Neng ninggalin Abang, dan biarkan Abang tinggal bersama saudara Abang yang semena-mena itu!" ucapku gusar. "Eneng gak rela lah Bang kalau sampai rumah ini jadi milik mereka," lanjutku.

"Jangan keras-keras, Neng gak enak kalau sampai terdengar oleh mereka," keluh Bang Julian.

"Habisnya aku empetlah Bang melihat kelakuan mereka yang udah kayak Tuan rumah, memangnya aku babu mereka?" ketusku.

"Sabar ya, Neng kita doakan semoga A' Ramdan segera dapat kerjaan."

"Gimana mau dapet kerjaan, Bang kalau cuma malas-malasan dan belagu kayak gitu, Abang tawarin kerja di kantor Abang jadi OB gak mau. Katanya malu lulusan sarjana jadi OB. Apa dia gak lebih malu hidup berpangku tangan?"

Bang Julian nampak kebingungan menghadapiku yang sudah terlanjur emosi.

"Ya sudah nanti, Abang akan coba bicara sama A' Ramdan."

Aku hanya menghela nafas, menghadapi sikap Bang Julian yang sering merasa tak enak tersebut.

***

Pagi harinya seperti biasa, aku sudah menyiapkan sarapan. Kali ini aku hanya membuat sarapannya hanya untuk kami bertiga. Untuk mereka biar, Teh Santi masak sendiri saja. Lagian, kalau dia mau masak apa saja bisa aku sudah menyediakan semua bahan di kulkas.

"Ayo, Bang sarapan dulu!" ajakku saat melihat Bang Jul sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

Bang Jul pun menarik kursi dari kolong meja dan mendudukkan pantatnya, kini posisi kami saling berhadapan hanya terhalang meja. Sementara Al duduk di sebelah kiri Bang Jul.

Aku senang melihat Bang Jul dan Al begitu menikmati sarapannya.

"Wah lagi pada makan nih, kayaknya enak." Tiba-tiba A' Ramdan muncul dan bersuara. Tidak lama kemudian Teh Santi menyusul bersama dua anaknya.

"Eh, Aa', Teteh udah bangun," sapa Bang Jul.

Aku hanya diam, dan melipat muka sedemikian rupa agar benalu-benalu itu tau diri.

"Ma, laper," rengek Aida ke Teh Santi.

"Del nasi gorengnya masih?" tanya Teh Santi hati-hati.

"Maaf, ya Teh tadi Dela masaknya cuma sedikit, aku pikir Teteh dan Aa' masih sakit perut," ujarku.

Tapi melihat dua anaknya yang tidak berdosa tersebut aku tidak tega.

"Tapi, kayaknya masih ada kalau cuma buat Aida sama Farhan," lanjutku.

Teh Santi terlihat meneguk saliva, sementara A' Ramdan memegangi perutnya.

"Kamu gimana si, Jul kok istrimu cuma masak buat kalian, kita, 'kan juga laper," protes A' Ramdan tak terima.

"Maaf A' Jul gak tau," ucap Bang Jul tak enak.

Dasar tidak tau malu, sudah hidup numpang makan pun minta disuapin, maunya tinggal makan.

"Kalau Teteh, mau masak stok nasinya masih kok," tawarku.

Teh Santi terlihat ragu, sepertinya ia enggan ke dapur karena merasa menjadi tamu, dan tamu sudah sepatutnya dilayani. Ah, sudahlah aku sudah berbaik hati, terserah saja mereka mau makan atau tidak.

***

"Neng, Abang berangkat dulu ya!" ucap Bang Jul sembari memberikan beberapa lembar uang warna merah.

"Wah lagi bagi-bagi duit, nih!" Entah dari mana datangnya manusia tak tau malu itu, tau-tau sudah ada di belakang Bang Jul.

"Bagi dong, Jul. Aa' mau beli rokok!" Tanpa rasa malu A' Ramdan berucap.

"Maaf, A' semua uangnya udah Jul kasih ke Dela buat bayar tagihan listrik dan jajan anak-anak."

A' Ramdan mendengkus kesal. Tapi, ia tak kehilangan akal.

"Bagi dong, Del sudah dua hari Aa' gak ngerokok."

"Maaf ya, A' uangnya buat bayar tagihan listrik. Lagian kalau mau uang ya kerjalah A'," sindirku.

"Jadi kalian, gak suka Aa' tinggal di sini?" Seketika A' Ramdan langsung emosi mungkin tersinggung dengan ucapanku.

"Bukan begitu A' ...," ucap Bang Jul terlihat tak enak. Sementara aku hanya cuek saja.

"Halah. Harusnya kamu nyadar, Jul kalau bukan karena kasian Ibu sama Bapak kamu gak akan bisa seperti sekarang ini," Dengan sombongnya A' Ramdan berucap seolah-olah apa yang Bang Jul dapatkan hari ini karena semata-mata jasa mereka.

"Aa' minta uang rokok saja kamu tidak mau kasih, padahal itu tidak seberapa dengan kebaikan keluarga Aa', dan juga ya Del itu uang, uangnya Jul jadi jangan mau ngehakin sendiri, kamu ketemu Jul setelah dia sukses," ucap A' Ramdan kesal, lalu berlalu pergi dengan wajah seperti dilipat.

Ucapan A' Ramdan benar-benar bikin geram, ia terus saja menyebut-nyebut kebaikan keluarganya, demi bisa membuat Bang Jul merasa tak enak dan bersalah.

Aku mengelus tangan Bang Julian demi membuatnya tenang, dan tidak perlu merasa tak enak dan bersalah. Lagian aku yakin, melihat sifatnya begitu kalau Wak Hery masih hidup tentu saja ia tidak akan terima.

Suara ponsel di saku celana Bang Jul bergetar, buru-buru Bang Jul mengambil ponselnya dengan wajah terlihat lesu, karena habis mendengar ucapan A' Ramdan.

"Siapa, Bang?" tanyaku saat melihat Bang Jul menatap layar ponselnya.

Bang Jul nampak mengernyitkan dahi, lalu menjawab pertanyaanku.

"Uwak Neni," jawab Bang Jul lesu.


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:11

Bagian 8: Benalu tak Tahu Diri

"Iya, Wak hallo," sapa Bang Jul begitu sambungan telponnya terhubung.

Entah apa yang dikatakan Wak Neni hingga membuat Bang Jul sesekali ber oh ria, dan berkata iya, lalu kemudian mengangguk. Tidak lama kemudian telponpun terputus.

"Ada apa, Bang?" Aku kembali bertanya.

"Besok, Wak Neni nyuruh datang ke rumah katanya ada yang perlu dibicarakan," jelas Bang Jul.

Entah apa yang akan dibicarakan Wak Neni, dan hanya kutanggapi sekenannya. Lalu, Bang Jul pun kembali pamit pergi  ke kantor.

***

Siang ini aku sengaja tidak masak, Bang Jul pun pastinya tidak akan pulang sebelum sore. Biar saja nantinya aku akan makan diluar saat menjemput Al dari sekolah, dan singgah ke toko bunga. Lama-lama aku empet kalau kebanyakan libur dan diam dibrumah apa lagi melihat kelakuan mereka.

A' Ramdan dan Teh Santi mereka sudah besar biar usaha sendiri kalau mau makan. Jangan cuma mau enak-enakan. Mentang-mentang merasa tamu, tidak mau melakukan apa-apa karena merasa terlanjur nikmat setiap hari disuguhin jadi tidak mau melakukan pekerjaan rumah, walau untuk makan mereka sendiri.

Aku tengah bersiap untuk menjemput Al di sekolahnya. 

"Mau jemput Al ya Del?" tanya Teh Santi basa-basi.

"Iya, Teh sekalian mau bayar tagihan listrik."

"Oh begitu. Em ... Del Teteh boleh pinjam uang gak? Nanti kalau Aa' udah dapat kerjaan teteh ganti. Dari tadi anak-anak minta jajan. Teteh udah gak punya uang lagi. Aa' juga," jelas Teh Santi.

Kapan Aa' mau dapat kerjaan kalau cuma kerjaannya malas-malasan kayak gitu. Sebenarnya kasian melihat Aida dan Farhan yang harus menjadi korban kemalasan orang tuanya.

"Em, maaf Teh. Aku lagi gak pegang banyak uang cuma buat bayar listrik sama jajan Al. Kalau Teteh mau ini ada sepuluh ribu buat Aida dan Farhan gak usah dibayar ambil aja." Aku mengangsurkan uang sepuluh ribu ke Teh Santi.

"Ya ampun, Del segini mana cukup buat jajan Aida sama Farhan, kamu, 'kan tau sendiri sifatnya anak-anak kalau sudah ke warung," gerutu Teh Santi bukannya terima kasih malah bicara begitu.

"Ya dicukup-cukupin aja, Teh. Biar Aida sama Farhan bisa jajan cari kerja atuh teh, apa kek jualan online, nulis cerita kek. Aku lihat Teteh suka main ponsel," ucapku.

Teh Santi langsung terlihat memasang wajah masam. Mungkin tidak terima dengan apa yang kukatakan. Tapi, mau sampai kapan mereka begitu hidup bergantung sama orang lain.

"Ya udah kalau Teteh gak mau uangnya balikin aja!" Aku meminta uang yang tadi kukasih.

"Kalau sudah dikasih ya jangan diminta lagi, ngasih kok gak ikhlas." Tiba-tiba A' Ramdan ikut bersuara entah sejenis makhluk apa dirinya itu, hampir setiap saat aku berbicara entah dengan Bang Jul atau istrinya tau-taunya ia muncul.

Aku merasa ia sedang mengatai dirinya sendiri, dia bilang ngasih gak ikhlas, bukankah kehadirannya disini sebab ketidak ikhlasannya yang sudah merasa membantu Bang Jul?

"Sudah mana uangnya, Neng Aa' mau beli rokok!" ucapnya kemudian meminta uang yang tadi kukasih ke Teh Santi.

"Jangan A' kasian Aida sama Farhan mereka mau jajan. Makanya Aa' cari kerja!" tegur Teh Santi, tak suka.

Terlihat A' Ramdan mengusap- ngusap tengkuknya mendengar Teh Santi membentaknya.

"Iya, Aa' juga lagi usaha. Neng yang sabar ya!" Suara A' Ramdan memelan. Nampaknya, ia segan dengan istrinya.

Teh Santi pun memberengut sembari meninggalkan A' Ramdan. A' Ramdan pun buru-buru menyusul  Teh Santi.

***

Hari ini Bang Jul gajian ia sudah berpesan menyuruhku untuk tidak usah masak karena ia kan membeli makanan di luar.

"Wah makan-makan enak lagi nih," ucap A' Ramdan saat melihat Bang Jul pulang membawa makanan.

"Neng, Aida, Farhan sini Jul bawa makanan kesukaan kalian nih!" seru A' Ramdan pada Teh Santi dan kedua anaknya.

Aku menaruh makanannya ke atas piring goreng ayam, rendang daging dan sayur sop plus sambal.

"Wah banyak banget Jul kamu beli makanannya. Kamu habis gajian ya? Bagi dong Jul masak mau kamu makan sendiri?" ujar A' Ramdan sambil terkekeh.

Allahuakbar!

Apa aku gak salah dengar dia bilang Bang Jul mau makan sendiri? Apa dia gak sadar kalau selama tinggal di sini, tidur, makan dan semuanya gratis? Rasanya pengen kusumpal mulutnya itu dengan sambal ini.

Kulihat Bang Jul merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan lalu memberikannya ke  A' Ramdan. Melihat itu rasanya aku benar-benar tak rela.

"Masa cuma lima puluh ribu Jul? Tambahlah!" ucap A' Ramdan tanpa rasa malu, Bang Jul pun kembali mengangsurkan lima puluh ribu. "Nah gitu dong, Jul jangan pelit-pelit. Juga jangan mau hidup dikekang perempuan," ucap A' Ramdan lalu sekilas melirik ke arahku, sepertinya ia sedang menyindirku.

"Teteh juga mau dong, Jul buat jajan Aida sama Farhan," Teh Santi ikut bersuara.

Aku sebagai istrinya saja belum kebagian mereka sudah menodong Bang Jul lebih dulu benar-benar bikin geram.

Bang Jul kembali mengangsurkan uang selembar lima puluh ribuan ke  Teh Santi.

Mata A' Ramdan beralih menatap makan. "Aku duluan ya, gak apa-apa, 'kan Jul? Aa' udah laper banget nih!" Tanpa menunggu jawaban dari Bang Jul A' Ramdan pun menyentongkan nasi ke dalam piringnya.

Mataku kembali terbelalak saat melihat hampir setengah piring rendang berpindah kepiringnya, belum lagi ayam goreng sayur sop dan sambalnya.

Bang Julian langsung menatap khawatir ke arahku.

Mereka benar-benar makan dengan rakus, bahkan lauknya yang menurutku tadi banyak usai mengambil nasi, kami hampir tidak kebagian bahkan Bang Julian hanya kebagian keriuknya saja.

"Makanannya benar-benar enak, Jul maaf ya kalau kamu cuma dapat sisanya habisnya Aa' sama Teteh juga anak-anak jarang-jarang makan enak. Istrimu masaknya itu-itu aja bosan," A' Ramdan masih saja berceloteh sambil tertawa.

Darahku langsung naik ke kepala geram bukan main mendengar ucapannya yang mungkin sudah tidak ada lagi urat malunya. Tanganku langsung terkepal hingga menampakkan buku-buku putih.

"Sudahlah, Bang suruh pulang saja mereka ke rumah Uwak. Aku sudah tidak sanggup lagi menampung benalu-benalu ini, kita sudah berbaik hati tapi mereka tetap saja tidak tau diri," ucapku lantang sembari bangkit dari duduk.

Semua terkejut mendengar aku bersuara, apalagi Bang Julian.

"Sabar, Neng semua bisa dibicarakan baik-baik," ucap Bang Julian pelan, wajahnya benar-benar terlihat pucat.

"Neng kok melamun?" ucap Bang Julian membuyarkan lamunanku.

"Eh iya, Bang ada apa?" Aku tergeragap rupanya aku sedang berkhayal, saking kesalnya dengan kelakuan mereka yang tidak tau diri itu. A' Ramdan pun langsung menatapku dengan tersenyum miring benar-benar menyebalkan.
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:12

Bagian 9: Sebuah Kebenaran

Hari ini Bang Jul libur, seperti permintaan Wak Neni kemarin kami disuruh datang ke rumah, terutama Bang Jul. Tapi, tentunya aku juga akan ikut menemani Bang Jul.

"Udah siap, Neng?" tanya Bang Jul sembari memasangkan jam tangannya.

"Udah, Bang," jawabku tersenyum. Bang Jul memang lumayan tampan meski hanya memakai celana kain Dan baju kaos yang terlihat santai tidak mengurangi auranya ketampanannya.

Ia tipe suami penyanyang dan baik, bahkan baiknya kesemua orang. Kebaikannya itulah yang seringkali menurutku dimanfaatkan orang lain. Sifat tidak tegaannya membuat orang semakin mudah berlaku semena-mena.

"Udah siap, Jul?" tanya A' Ramdan begitu melihat kami keluar dari kamar.

"Udah, A' ayo berangkat!"

Kami pun berangkat ke rumah Wak Neni. Jaraknya tidak terlalu jauh hanya sekitar 50 menit dari rumah dengan kecepatan sedang.

Kami tiba di rumah Wak Neni. Wak Neni nampak terkejut melihat kami datang bersama A' Ramdan.

"Lho, Ramdan kok kamu bisa bareng Jul? Satu mobil lagi?" tanya Wak Neni penasaran.

"Iya, Bu Ramdan tinggal di rumah Jul." Wajah Wak Neni terlihat tidak percaya. "Udah nanti Ramdan jelasin, Bu." Wak Neni mengangguk mengerti dan mengajak kami untuk masuk. Ternyata di dalam juga sudah ada Wak Rahmi saudara tiri almarhum Wak Hery dan Ibunya Bang Jul, yang datang dari Pekalongan.

"Lho, Wak kok gak bilang-bilang kalau mau kesini?" tanya Bang Jul terlihat kaget saat melihat Wak Rahmi. Lalu menyalami tangannya yang kemudian disusul olehku.

"Iya. Uwak baru sampai kemarin belum sempat ngabarin kamu, gimana kabar kamu dan keluargamu?"

"Alhamdulillah baik, Wak. Keluarga disana gimana?"

"Alhamdulillah baik juga."

"Eh, Bang Jul udah datang?" sapa Yuni istrinya A' Firman. Ia hanya menyapa Bang Jul, dan tersenyum sekilas ke arahku.

"Iya, kamu apa kabar?" tanya Bang Jul ke Yuni. Bang Jul tidak memanggilnya Teteh, karena kata Bang Jul, Yuni yang minta karena mereka sudah lama berteman jauh sebelum mereka menikah.

"Baik, Bang." 

"Semuanya sudah pada ngumpul lebih baik kita mulai saja, setelah itu baru kita makan-makan," ucap Wak Neni. Semua langsung fokus ke Wak Neni.

"Setuju," sahut A' Ramdan mendengar kata makan-makan ia terlihat langsung bersemangat.

"Baiklah, jadi begini kemarin calonnya Rena datang kemari membahas rencana pernikahan mereka, dan keluarganya ingin pernikahannya dilaksanakan satu minggu sebelum Rena Wisuda itu artinya bulan depan.

"Nah, untuk itu mulai sekarang kita akan mempersiapkan segalanya jadi mohon kerjasamanya. Karena calon Rena ini pengusaha dan dari keluarga terpandang tentunya kita harus membuat pernikahannya yang mewah," ucap Wak Neni menjelaskan panjang kali lebar.

"Iya, aku sih setuju, kalau pernikahan Rena dibuat mewah," sahut Teh Kinan.

"Atur-atur aja gimana baiknya," timpal A' Firman.

"Benar apa yang dibilang Teh Kinan, acara pernikahan Rena harus terlihat mewah apalagi kalau calonnya pengusaha." A' Ramdan ikut bersuara.

"Berarti semuanya sepakat, kalau acaranya Rena kita buat semewah mungkin," tanya Wak Neni.

Semua anaknya menjawab kompak setuju, tak terkecuali Dimas. Ia hanya diam tetap sibuk dengan ponselnya.

"Nanti kita buat seragam ya!" saran Rena.

"Pasti itu," jawab Wak Neni.

"Iyalah, masa gak pake seragam," timpal Teh Kinan.

"Itu urusan perempuan atur-atur ajalah," A' Ramdan ikut bersuara.

"Kalau kamu sendiri gimana, Jul kamu setuju gak kalau acara adikmu dibuat mewah?"

"Em, Jul sih terserah Uwak saja," balas Bang Jul, Wak Neni langsung tersenyum lebar.

"Berhubung Mbakyu juga ada di sini gimana menurut Mbak?" Wak Neni bertanya pada Wak Rahmi.

"Ya sesuai bajet aja," jawab Wak Rahmi.

Wak Neni langsung terlihat berwajah masam, mungkin tidak suka mendengar jawaban Wak Rahmi.

Setelah semua pembahasannya selesai, Wak Neni mengajak kami untuk makan-makan, sebagai rasa bahagianya dia sudah masak banyak.

"Ayo, Jul makan yang banyak ini Uwak masak sop buntut khusus buat kamu karena Uwak tau itu makanan kesukaanmu," ucap Wak Neni, ia terlihat begitu senang.

Kami pun makan di ruang tamu dengan cara lesehan. A' Ramdan dan istrinya yang paling antusias, aku sudah hapal cara mereka makan.

***

"Bang aku kebelakang dulu ya!" ucapku saat kami tengah duduk santai di teras depan. Rumah Wak Neni lumayan besar, rumah ini juga peninggalan almarhum Wak Hery dari orang tuanya terdahulu karena Wak Hery anak lelaki satu-satunya jadilah ia mendapat warisan rumah.

"Jadi gimana ceritanya, Ram kamu bisa tinggal di rumahnya, Jul?" tanpa sengaja aku mendengar Wak Neni bertanya pada A' Ramdan.

"Kemarin, bisnis Ramdan habis kena tipu, Bu dan diusir dari kontrakan karena Nunggak dua bulan. Ramdan bingung, pulang kesini gak mungkin jadilah Ramdan numpang tinggal di rumah Jul.

"Lagian Jul itu bisa sukses kayak gitu karena bantuan keluarga kita juga, Bu gak ada salahnya dia balas Budi membantu kita saat lagi susah," jelas A' Ramdan.

Terlihat Wak Neni manggut-manggut mendengar penjelasan A' Ramdan.

"Lagian ya, Bu yang lebih dulu nikmatin kesuksesan, Jul itu harusnya kita bukan istrinya," Entah dari mana A' Ramdan bisa sampai berpendapat begitu.

"Iya sih, masa semua harta kekayaan Jul jadi milik istrinya sementara kita yang sudah merawat dan membesarkannya tidak kebagian apa-apa?" Wak Neni jadi ikut-ikutan.

"Oh iya, Bu tadi Ramdan lihat Ibu masak banyak amat?"

"Oh itu, iya kemarin Jul yang ngasih uang buat Ibu."

"Kalian ini masih saja suka bersifat serakah?" tiba-tiba Wak Rahmi datang menimpali. "Dan kamu, Ramdan apa kamu tidak punya malu numpang tinggal di rumah Julian?"

Wak Neni dan A' Ramdan langsung terlihat terkejut mendengar Wak Rahmi.

"Jangan mentang-mentang merasa berjasa kalian bisa seenaknya minta ini itu ke Julian, ingat dia juga punya tanggungan!" tegur Wak Rahmi.

"Kita gak minta ini itu, Mbakyu kita cuma mengingatkan Jul biar gak jadi kacang lupa kulitnya." Wak Neni membela diri.

Terlihat Wak Rahmi menggeleng-geleng melihat kelakuan Wak Neni.

"Jangan sebut-sebut jasa kalian, dulu kalian mau merawat Jul, karena warisan jatah Lasmi."

"Sudahlah, Mbakyu. Mbakyu irikan karena gak dapat apa-apa, sekarang Jul sudah sukses dan suka ngasih ke kita? Mbakyu juga iri karena rumah warisan Lasmi ini akhirnya jadi milik kita."

Aku benar-benar kaget mendengar semua penjelasan Wak Neni, aku pikir rumah ini memang hak mereka tetapi ternyata harusnya menjadi milik Bang Jul. Kenapa Bang Jul tidak pernah cerita? Aku bukan mau rumah ini, tetapi mereka benar-benar keterlaluan.

Kulihat Wak Rahmi kembali menggeleng. "Kalian benar-benar serakah padahal kita sudah dapat warisan masing-masing, karena Lasmi yang merawat Ibu dan Bapak sampai meninggal jadi dia kebagian rumah, sementara kalian karena tidak mau merawat Ibu dan Bapak kalian lebih memilih uang, saya tidak habis pikir," sesal Wak Rahmi.

Wajah Wak Neni langsung berubah masam, mungkin tersinggung mungkin juga tidak suka mendengar Wak Rahmi mengungkit-ungkit masa lalu.

"Dela?" Wak Rahmi nampak terkejut melihatku berdiri mematung. "Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Wak Rahmi.

Aku hanya mengangguk lemah, sementara Wak Rahmi menghela nafas dan membuangnya dengan masygul.

Aku pun kembali ke teras, begitu sampai disana aku dibuat tertegun melihat, Bang Jul tertawa lepas, bersama Yuni apa mereka seakrab itu?


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:12

Bagian 10: Pesan WhatsApp

Ragu aku melangkah mendekat ke arah mereka.

"Bang," tegurku, demi mengurai rasa tak enak. Ah kenapa meski tidak enak Julian kan suamiku.

"Eh, Neng. Sini, Neng dengerin Yuni cerita lucu," ujar Bang Julian.

Aku hanya tersenyum, tidak lama kemudian A' Firman keluar sembari memegang segelas air. Kulihat A' Firman juga tidak terlalu suka banyak bicara sama seperti, Dimas.

"Oh iya, Bang ini no Wa Yuni coba Wa-in, biar Abang Yuni gabungin ke grup keluarga."

"Oh iya, sekalian juga istri Abang gabungin juga ke grup keluarga, ya!"

"Ok, Bang!" jawab Yuni. "Udah, Bang," ucap Yuni kemudian sembari menunjukkan layar ponselnya. Bang Jul pun terlihat mengangguk.

Hari sudah menjelang sore, sudah hampir seharian kami di sini, waktunya untuk pulang. Wak Rahmi pun bersiap hendak pulang, ia sengaja ke sini karena ada urusan.

"Uwak gak mau mampir ke rumah, Jul aja dulu? Besok baru pulang. Nanti Jul antar ke terminal" tanya Bang Jul, sembari menawarkan diri untuk mengantar Wak Rahmi.

"Iya, Wak jarang-jarang Uwak kesini," sambungku.

Wak Rahmi sejenak nampak berpikir. "Ya sudah kalau kalian maksa," ujarnya sembari tersenyum.

Kami pun lantas tersenyum. Setelah berpamitan dengan keluarga besar Wak Neni kami pun segera masuk ke mobil.

"Kenapa kamu juga ikutan masuk, Ramdan?" tanya Wak Rahmi.

A' Ramdan nampak terdiam, sepertinya mereka segan dengan Wak Rahmi. 

"Sudah, Jul kamu tidak perlu memikirkan mereka. Mereka bukan tanggung jawab kamu. Apa lagi tinggal di rumahmu cuma buat malas-malasan, numpang makan dan tidur," tukas Wak Rahmi. Padahal aku tidak menceritakan apapun dengan Wak Rahmi perihal sifat mereka. Apa Wak Rahmi punya indera keenam?

Tentu saja hal demikian membuat, A' Ramdan dan Teh Santi langsung menatapku, nampaknya mereka curiga aku yang bercerita.

Wak Neni pun langsung bermuka masam mendengar ucapan tajam dari, Wak Rahmi. Tetapi, ia pun tak mampu berkutik karena apa yang dikatakan Wak Rahmi memang benar, mereka bukan tanggung jawab Bang Jul.

"Tapi, Wak  kita tinggal di rumah Jul hanya sementara, sampai A' Ramdan dapat pekerjaan." Takut-takut Teh Santi berucap, wajahnya langsung kembali menunduk.

"Bagaimana mau dapat kerjaan? Lha wong Ramdan itu cuma malas-malasan. Neni, harusnya kamu beri tau anakmu jangan menjadi beban Julian."

"Lha wong saya juga Ndak tau, Mbakyu kalau Ramdan tinggal di rumahnya Jul, mereka tidak pernah cerita," jawab Wak Neni membela diri.

"Sudah ... Sudah, Wak jangan diteruskan malu kalau sampai terdengar tetangga," tegur Bang Julian. 

Terlihat Wak Rahmi hanya menghela nafas.

"Selama belum dapat pekerjaan, Jul gak keberatan kalau A' Ramdan tinggal di rumah, Jul," ucap Bang Julian.

Aku sampai greget ngelihat sikap lembek suamiku itu, tapi aku juga tidak mungkin menghalangi ataupun membantah keputusannya, apalagi saat ini bukan waktu yang tepat.

"Tu, kan Jul aja gak keberatan!" ucap Wak Neni merasa menang.

"Terserah kamu saja, Jul. Dari dulu kamu tidak berubah selalu ingin berbuat baik." Akhirnya Wak Rahmi mengalah dan masuk ke mobil, begitu pun aku. Sementara A' Ramdan dan Teh Santi pun kembali ikut ke rumah, entah sampai kapan mereka akan seperti itu.

***

"Jadi, Uwak punya usaha kuliner dan akan buka cabang di sini?" tanyaku sembari meletakkan teh panas ke atas meja ruang tamu.

Pagi ini tumben Teh Santi mau ikut membantu ke dapur, membuat sarapan mungkin takut ditegur Wak Rahmi.

"Alhamdulillah, doakan saja semuanya lancar," jawab Wak Rahmi.

"Aamiin, semoga saja, Wak. Berarti Uwak akan sering ke sini dong?"

"Paling dua atau tiga bulan sekali."

"Kalau lagi ke sini jangan lupa mampir, Wak pintu rumah ini selalu terbuka untuk, Wak!" ucapku.

Wak Rahmi pun tersenyum. Wak Rahmi terlihat lebih muda dari usianya. Almarhum suami Wak Rahmi pensiunan telkom, anak-anaknya pun telah sukses, dan melarangnya untuk bekerja. Namun, tak lantas membuat Wak Rahmi mau hidup hanya dengan berpangku tangan. Katanya bosan kalau hanya diam di rumah.

"Iya, Wak," timpal Bang Jul.

"Kalau lihat kamu, Uwak jadi ingat Lasmi, dia persis seperti kamu, baik dan gak tegaan dan cenderung suka mengalah. Dia begitu baik karena sifat baiknya itulah orang-orang dengan mudah memanfaatkannya.

"Kalau dia masih hidup, tentunya dia pasti bahagia melihat  anak, istrimu. Tapi, sayang penyakit kanker darah yang dideritanya menjadi jalan kematiannya," kenang Wak Rahmi, lalu menyeka sudut matanya.

"Allah lebih sayang sama, Ibumu," lanjut Wak Rahmi lagi, lalu tersenyum. Bang Jul pun hanya tersenyum mendengar cerita Wak Rahmi, tidak banyak ingatannya tentang Ibunya. Karena kata Bang Jul Ibunya meninggal saat ia baru duduk di kelas dua SD.

"Ya sudah sarapan aja dulu, nanti keburu dingin nasi gorengnya," ucapku mengalihkan topik pembicaraan.

Akhirnya kami pun sarapan bersama, kali ini A' Ramdan tidak banyak komentar seperti biasanya. Dari tadi dia hanya diam mendengarkan. Usai makan, Bang Jul pun mengantar Wak Rahmi ke terminal sesuai janjinya kemarin sore.

***

"Ya makanya, Aa' kerja. Kalau kayak gini terus, Neng bakalan ninggalin Aa'!" Aku tak sengaja mendengar perdebatan Teh Santi dan A' Ramdan di kamar.

"Mau kerja apa, Neng? Neng kan tau sendiri cari kerja itu susah."

"Ya kerja apa aja, Bang. Abang sih banyak pilih-pilih. Pokoknya kalau Aa' masih belum kerja-kerja, lebih baik, Neng pulang kerumah orang tua, Neng!" ancam Teh Santi.

"Jangan atuh, Neng!"

Terdengar hentakkan kaki lalu berjalan menuju pintu, aku pun gegas pergi, takut dibilang sengaja menguping dan malah menimbulkan fitnah.

Aku kembali menyibukkan diri di dapur.

"Del, mau masak apa? Teteh bantu ya?" tawar Teh Santi.

Aku sedikit terkejut mendengar suara Teh Santi yang datang tiba-tiba.

"Eh, iya. Boleh Teh," jawabku. Aku senang jika Teh Santi sudah berubah.

Teh Santi pun membantu mengiris bawang, dari tadi ia terlihat murung dan sedih.

"Teh," tegurku.

"Eh, iya ada apa Del?" Tergeragap Teh Santi menjawab.

"Teteh kenapa, dari tadi Dela perhatiin banyak diam?" tanyaku pura-pura tidak tau permasalahannya.

"Em, gak apa-apa, Del. Teteh gak apa-apa," kilahnya.

"Beneran?" tanyaku memastikan. Teh Santi pun mengangguk.

"Ya udah, Dela ke depan dulu ya Teh mau beli garam kemarin lupa." Lagi-lagi Teh Santi hanya mengangguk.

Di teras depan kulihat A' Ramdan duduk termenung sepertinya, A' Ramdan tengah memikirkan ucapan Teh Santi tadi. Ah entahlah.

***

Seperti biasa setelah pulang kerja, Bang Jul langsung masuk ke kamar mandi, usai melepaskan pakaian kerja dan meletakkan di atas tempat tidur begitu saja. Aku pun segera memungutnya dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor.

Saat tengah merapikan tempat tidur, terdengar ponsel Bang Jul bergetar, sebuah pesan di aplikasi warna hijau masuk karena penasaran aku pun membukanya.

"Lagi ngapain, Bang? Udah pulang kerjanya? Kapan ya kita ketemu lagi?" 


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:13

Bagian 11: Membalas Pesan Yuni

Dahiku mengernyit membaca pesan dari Yuni tersebut. Perasaan baru kemarin bertemu.

Aku tidak berniat membalasnya karena pesannya ditujukan untuk, Bang Jul. Baru saja kuletakkan kembali ponselnya, sudah ada pesan susulan.

[Kok cuma dibaca aja, Bang. Memangnya pesan Yuni koran?]

Belum sempat kubalas, Bang Jul sudah keluar dari kamar mandi. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.

"Ada pesan, Bang dari Yuni," ucapku.

"Oh, apa katanya?" tanya Bang Jul sembari melangkah menuju lemari pakaian karena aku belum sempat menyiapkan pakaian untuknya.

Bang Jul memang tipe lelaki mandiri, ia tak pernah protes kalau aku belum sempat menyiapkan segala keperluannya dan memilih untuk mengambil sendiri.

"Baca sendiri aja, Bang!" jawabku sedikit malas, dan kembali merapikan sepray kasur.

Usai mengambil baju, Bang Jul langsung mengambil ponselnya, dan terlihat mengetik pesan. Setelahnya kembali meletakkan ponsel ke atas nakas.

"Hari ini, Neng masak apa?" tanya Bang Jul sembari memakai baju.

"Masak goreng ayam tepung, sayur sop sama sambal terasi, Bang!" jawabku.

"Wah, Abang jadi laper."

"Ya udah, Neng siapin makan dulu ya!" Bang Jul hanya mengangguk, dan kembali mengambil ponselnya.

Aku pun gegas ke dapur menyiapkan makan malam. Kulihat Al, Aida dan Farhan nampak asik bermain, di dekat mereka ada Teh Santi dan A' Ramdan.

"Del, mau kemana?" tanya Teh Santi.

"Mau nyiapin buat makan malam, Teh."

"Teteh bantu ya!" tawar Teh Santi yang kubalas dengan anggukan.

Aku dan Teh Santi pun menyiapkan makan malam.

"Teh, kita makannya di sini aja ya gelar tikar!" usulku sembari menunjuk ruangan bagian dapur yang masih kosong.

"Boleh, Del. Biar Teteh ambil tikarnya dimana?"

"Tikarnya di sana Teh!" Aku menunjuk bagian sudut dapur. Lalu, Teh Santi pun mengambil tikar dan membentang ya.

Selesai menyiapkan makan malam, lantas aku memanggil Bang Jul. Sementara Teh Santi memanggil A' Ramdan dan anak-anak. Aku senang, sejak tadi pagi Teh Santi mau membantu pekerjaan rumah, mudah-mudahan mereka benar-benar berubah, batinku.

Aku melangkah menuju kamar. Saat masuk kulihat Bang Jul masih sibuk dengan ponselnya sembari tersenyum dan duduk di sisi ranjang

"Bang, makan malamnya udah siap ayo makan!" ajakku.

Bang Julian masih fokus menatap benda persegi tersebut, sepertinya ia tidak menyadari kedatanganku.

"Bang!" tegurku dengan sedikit keras.

"Eh, i-iya ada apa, Neng? Masuk kok diam-diam, bikin Abang kaget," ucap Bang Jul sembari memegangi dada.

"Khem ... Abang aja yang terlalu fokus, sampai-sampai Neng ngomong dicuekin. Emang lagi ngapain sih," tanyaku sedikit kesal.

Bang Jul langsung tersenyum tak enak. "Iya, maaf ya, Neng! Ini si Yuni lagi curhat sama Abang soal Aurel, katanya gak suka makan," jelas Bang Jul.

"Memangnya Abang Dokter anak?" tanyaku tak suka. "Lagian ya, Bang kan ada A' Firman kenapa mesti curhat sama Abang segala?" protesku.

Bang Jul nampak menghela nafas. "Iya, Abang cuma kasian, A' Firman lagi kerja katanya suka pulang malam jadi sepi," jelas Bang Jul.

Aku menghela nafas, kadang tidak mengerti dengan jalan pikirannya.

"Kalau dia memang butuh teman curhat kenapa gak Abang suruh chat aku aja, Bang. Kalau terus ngechatin Abang nanti malah timbul Fitnah. Dikira selingkuh."

"Astagfirullahhaladzim, kok Neng ngomongnya gitu? Ya enggaklah Abang udah nganggep Yuni itu udah kayak Adik sendiri."

"Iya kalau Abang, belum tentu dia."

"Astagfirullah, kok Neng malah jadi suudzon?" ucap Bang Jul, yang membuatku semakin gemas.

"Ya udah deh serah Abang," ketusku yang membuat Bang Jul terlihat tak mengerti.

"Dela, makan malamnya jadi?" Saat tengah bercakap dengan Bang Jul, Teh Santi memanggil.

"Oh iya, Teh jadi bentar ya!" jawabku.

"Oh iya, kita tungguin ya!"

"Iya, Teh." Terdengar langkah menjauh.

"Tuh gara-gara, Abang A' Ramdan sama Teh Santi jadi lama nunggu, udah ah ayo makan!"

***

Kami pun makan malam bersama, aku menyentongkan nasinya ke dalam piring Bang Julian tak lupa beserta lauk pauknya, juga untuk Al.

"Jul, Aa' boleh nanya gak," tanya A' Ramdan hati-hati saat kami lagi tengah makan.

"Iya, boleh A' mau tanya apa?" jawab Bang Jul.

"Em ... dikantormu masih ada lowongan kerja gak? OB juga gak apa-apa?"

Terlihat Bang Jul menghentikan makannya. Lalu, menatap ke arahku mungkin tidak percaya dengan ucapan A' Ramdan barusan.

"Em ... Aa' serius mau jadi OB?" tanya Bang Jul memastikan.

"Iya, Jul Aa' pengen kerja."

"Em ... Kalau gitu besok Jul tanyakan ke bagian ARD ya masih ada apa enggak lowongan ya."

A' Ramdan nampak tersenyum, begitu pun Teh Santi, wajahnya terlihat bahagian mendengar suaminya mau kerja.

"Makasih ya, Jul!" ucap A' Ramdan yang dibalas Bang Jul dengan anggukan.

***

"Neng, kira-kira kenapa ya, kok tiba-tiba Aa' Ramdan mau kerja jadi OB?" tanya Bang Jul saat kami sudah di kamar.

"Gak tau, Bang. Tapi, tadi pagi Eneng gak sengaja dengar Aa' sama Teteh lagi bertengkar, dan Teh Santi ngancem kalau Aa' gak kerja-kerja Teh Santi mau pulang ke rumah orang tuanya," jelasku.

"Oh gitu, ya Neng?"

"Iya, Bang. Ya udahlah Bang mudah-mudahan aja, A' Ramdan benar-benar serius dan niat berubah."

Bang Jul nampak mengangguk, dan mengaminkan ucapanku. "Aamiin ... Iya, Neng semoga saja ya! Ya udah tidur yuk, Abang udah ngantuk!" ajak Bang Jul.

Aku hanya mengangguk, dan mematikan lampunya.

"Neng ...," bisik Bang Jul.

"Apa, Bang? Ayo tidur katanya udah ngantuk," jawabku.

"Khem ... Masa gak ngerti sih, Neng?"

Aku hanya tersenyum, dan beralih menghadapnya begitulah Bang Jul selalu membuat gemes. Aku mengerti maksudnya sebagaimana sepasang suami adalah pakaian istri, dan istri pakaian suami.

***

Menjelang subuh aku terjaga mendengar alarm yang sengaja ku aktifkan, aku pun lekas bangkit dan menuruni ranjang, untuk segera mandi Hadas besar. Kulihat Bang Jul masih tertidur pulas.

Usai mandi dan bertukar pakaian aku lekas membangunkan Bang Jul menyuruhnya untuk segera mandi, karena sebentar lagi azan.

Selagi Bang Jul mandi aku menghamparkan sejadah, membaca kitab suci Al-Qur'an sembari menunggunya untuk salat Subuh berjamaah.

"Sodaqollahhualadzim ...." Aku menyudahi dan menutup mushapnya, saat mendengar pintu kamar mandi terdengar dibuka.

Aku sudah menyiapkan baju Koko dan sarung untuk Bang Jul di atas dipan, Bang Jul pun segera memakainya. Bersamaan itu pula suara azan menggema memenuhi jagad raya, panggilan untuk umat muslim untuk segera melaksanakan salat Subuh.

Suara lantunan ayat suci Al-quran yang dibacakan Bang Jul begitu terdengar indah ditelinga.

Usai salat subuh aku sengaja berbaring sebentar sebelum sibuk di dapur, sementara Bang Jul melanjutkan membaca Al-Qur'an.

Iseng aku membuka ponsel Bang Jul. Lagi-lagi ada pesan whatsApp dari Yuni.

[Udah salat, Bang? Jangan lupa salat Subuh ya!]

Seketika tanganku ingin sekali membalasnya.

[Iya, Alhamdulillah udah, Istri Abang yang udah dulu ngingatin, Abang] kubalas pesannya dan berpura-pura sebagai Bang Jul. Aku yakin setelah membaca itu raut wajahnya berubah.


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:14

Bagian 12: Kedatangan Wak Neni

Pesannya sudah dibaca, namun tak ada tanda-tanda akan dibalas. Baguslah kalau begitu pikirku.

"Neng, memangnya kamu gak masak hari ini?" tanya, Bang Jul mengangetkanku, sembari menutup mushapnya.

"Masak kok, Bang ini baru mau ke dapur," jawabku sembari meletakkan kembali ponselnya. Lalu beranjak dari tempat tidur.

"Mau, Abang bantuin gak masaknya?" tanya Bang Jul yang kini tengah melipat sarungnya.

"Boleh, Bang!" jawabku senang.

Aku dan Bang Jul pun pergi menuju dapur.

"Jadi mau masak apa kita?"

"Gimana kalau masak bubur ayam aja, Bang?"

"Em ... Boleh."

Aku pun mengambil beberapa potong ayam dalam kulkas sementara Bang Jul memasak nasinya.

Tangannya begitu cekatan mengerjakan pekerjaan dapur. Ya kuakui, Bang Jul memang pintar masak, hanya jarang saja karena sibuk bekerja.

"Udah, Neng duduk aja biar Abang yang mengeksekusinya!"

Aku tersenyum. "Ya udah kalau gitu, Neng buat teh sama goreng kerupuknya aja ya!" Bang Jul pun mengangguk setuju.

Sembari menunggu air panas aku menyiapkan cangkirnya terlebih dulu. Memasukkan gula dan teh. Saat akan memasukkan teh ke cangkir terakhir, Bang Jul berucap.

"Neng kayaknya, Abang minta dibuatin kopi susu aja ya! Abang lagi pengen minum itu aja!"

"Oh, ya udah kalau gitu."

Usai membuat teh dan kopi susu pesanan Bang Jul, aku melanjutkan menggoreng kerupuknya sementara Bang Jul sibuk memotong daun bawangnya.

"Bang, itu ayamnya biar sekalian, Neng goreng ya!"

"Oh, iya boleh!"

Setelah hampir satu jam di dapur akhirnya selesai juga. Bubur ayam ala Bang Jul.

"Eh, Dela maaf Teteh kesiangan," ucap Teh Santi dengan wajah tak enak.

Aku tersenyum. "Gak apa-apa, Teh masaknya udahan kok."

"Iya, Teh," timpal Bang Jul sembari meletakkan beberapa mangkok bubur ayamnya ke atas meja.

"Eh ada Julian?" Teh Santi nampak terkejut.

Lagi-lagi aku tersenyum. "Iya, Teh ini semua Bang Jul yang masak."

"Aduh, Teteh jadi tambah gak enak," ucap Teh Santi.

Alhamdulillah, kalau Teh Santi dan A' Ramdan beneran berubah.

Seperti biasa kami pun sarapan bersama.

***

"Neng, Abang berangkat kerja dulu ya!"

"Iya, Bang hati-hati ya!" Aku menyalami tangan Bang Jul dan menciumnya dengan takzim, setelahnya Bang Jul pun berangkat ke kantor.

Usai mengantar, Bang Jul ke depan aku kembali masuk, dan menuju kamar. Kulihat ponsel Bang Jul tergeletak di atas nakas sepertinya ketinggalan.

Aku segera mengambilnya dan berniat untuk memberikan ke Bang Jul, tetapi ternyata Bang Jul sudah tidak ada. Ah, sudahlah aku pun kembali masuk.

Aku menghidupkan ponselnya ternyata ada pesan masuk, lagi-lagi dari Yuni.

[Tadi yang bales pesannya beneran, Abang?]

[Yuni, lagi sedih, Bang. A' Firman sekarang suka pulang malam, alasannya lembur]

[Beruntung banget ya istri, Abang punya suami pengertian kayak, Abang. Yuni jadi iri]

[Bang kok gak dibales sih?] Emot sedih.

Semua pesannya sudah kubaca, dan kulihat di grup juga ada pesan. Yuni lagi, dengan gambar dirinya disertai caption. 'Sebel banget kalau kirim pesan ke orang terus cuma dibaca doang, udah kayak baca koran aja!'

Banyak yang komen dari anggota grup termasuk Teh Kinan.

"Sabar ya, Firman orangnya memang terkesan cuek tapi dia perhatian kok." Komentar Teh Kinan satu jam yang lalu. Yang di balas Yuni dengan emot ketawa.

"Iya, Teh memang sebel kalau kitanya peduli terus di abaikan." Rena ikut berkomentar lalu disertai emoticon tertawa.

"Iya, Dek," balas Yuni.

Banyak yang berkomentar termasuk Teh Santi dan A' Ramdan juga. Semuanya dibalas oleh Yuni.

Aku menghela nafas melihat kelakuannya, dan menekan tombol kembali. Kulihat lagi-lagi ada pesan.

[Tu kan Abang berubah deh gak kayak dulu. Mentang-mentang udah sukses sekarang pesan Yuni cuma dibaca aja] emoticon marah.

Lagi-lagi aku menghela nafas, dan membalas pesannya. Aku harus tegas dengan Yuni, ini bukan hanya masalah cemburu. Tetapi, aku khawatirnya chatnya ke Bang Julian akan menimbulkan fitnah.

[Maaf, Yun ini, Dela]

[Mana, Bang Juliannya]

[Bang Juliannya lagi kerja, kalau ada yang penting bilang aja nanti aku sampaiin]

[Oh, gak usah nanti aja. Btw kok hpnya di kamu]

[Hp Bang Julian ketinggalan]

[Ya udah nanti bilangin kalau dia udah pulang! Bilang aku yang ngehubungin]

[Kalau kamu cuma mau curhat, kamu bisa curhat ke saya, Yun. Lagian gak enak kalau kamu sering ngehubungi Bang Jul cuma mau curhat, takutnya jadi Fitnah. Dan gak enak juga sama A' Firman] aku mengirimkan pesannya berharap setelah membaca ini Yuni sadar.

[Kok kamu jadi sewot sih, A' Firman aja gak masalah. Lagian ya aku tu udah kenal lama sama Bang Jul jauh sebelum kamu]

Allahu rasanya aku benar-bener nyesek membaca pesan balasan dari Yuni.

[Mungkin A' Firman gak masalah. Tapi, masalah buatku] sedikit gusar aku kembali mengirimkan pesan.

[Oh jadi kamu cemburu? Dengar ya Mbak Dela aku sama Bang Jul itu sudah kenal dari sejak SD. Kamu aja yang tiba-tiba datang dan merusak semuanya]

Entah apa maksud dari pesannya Yuni, apa mereka pernah mempunyai hubungan spesial sebelumnya? Kenapa dia malah marah-marah? Padahal aku hanya mengingatkannya untuk tidak terlalu sering chat dengan Bang Jul kalau tidak penting agar tidak terjadinya fitnah.

Ah sudahlah, tidak ada gunanya aku meneruskan berdebat dengannya, lebih baik kumatikan saja ponselnya dan membicarakannya sama Bang Julian nanti setelah dia pulang. Sekarang lebih baik aku bersiap-siap untuk mengantarkan Al ke sekolah.

***

Menjelang siang Wak Neni datang kerumah karena nomor Bang Jul tidak bisa dihubungi.

"Jadi, Jul kemana Del?" tanya Wak Neni saat aku menyuguhkan secangkir teh dan cemilan.

"Jul lagi kerja, Wak," jawabku sembari duduk di sofa.

"Dari tadi, Uwak hubungi gak bisa," jelas Wak Neni.

"Oh itu. Iya, Wak Hpnya Bang Jul ketinggalan dan sengaja, Dela matiin!"

"Oh, begitu?"

"Iya, Wak. Ngomong-ongomong ada apa ya, Wak?" Aku bertanya penasaran.

"Uwak minum dulu ya!"

"Oh iya, Wak," jawabku.

Uwak Neni pun mengambil gelas berisi tehnya dan meminumnya dengan pelan. Lalu kembali meletakkannya ke atas meja.

"Hem ... Jadi begini, Del kemarin Uwak dan Kinan, Rena juga Yuni sudah membahas untuk acara nikahan Rena.

"Masalah gedung, catering, seragam dan lainnya sudah kita bahas. Calon dan keluarganya Rena juga sudah sepakat. Tinggal biayanya yang belum. Maksud kedatangan Uwak kemari ingin menanyakan ke Jul kira-kira kalian mau nyumbangnya berapa ya untuk acara Rena nanti?" tanya Wak Neni terdengar ramah dan tersenyum lebar.

Aku sidikit kaget mendengar pertanyaan Wak Neni, aku juga belum tau akan nyumbang berapa karena aku dan Bang Julian sama sekali belum membahas ini.

"Em, soal itu aku belum tau Wak soalnya aku dan Bang Jul belum membahas ini," jawabku.

"Em, begitu ya? Ya sudah kalau kalian sudah sepakat mau nyumbang berapa cepat kabarin, Uwak ya!"

"Insya Allah, Wak," jawabku.

Duh kok aku jadi deg-degan ya takut kayak di cerita-cerita KBM itu, dipaksa buat nyumbang 100 juta.


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:15

Bagian 13: Rencana Biaya Pernikahan Rena

Astagfirullah, kok lagi-lagi aku ya suudzon ya? Mendengar pertanyaan Wak Neni.

Sudah hampir dua jam Wak Neni di sini, ia begitu antusias menceritakan rencana pernikahan, Rena. Kemewahan dan kemegahan pestanya nanti sudah ada dalam bayangannya. 

"Jadi, 'kan, Bu nanti kita pakai seragam di acara nikahannya Rena?" Teh Santi bertanya.

"Jadi dong, masa gak pake seragaman? Ya malulah," jawab Wak Neni.

Mata Teh Santi langsung berbinar. Bibirnya selalu menerbitkan senyum. "Wah, Santi udah gak sabar nungguin acaranya, Bu. Acara nikahannya artis aja bisa kalah kalau begitu."

Wak Neni tertawa lebar. "Bisa aja kamu, San. Yang jelas acaranya, Rena bakalan beda dari yang lainnya," jelas Wak Neni.

Wak Neni juga begitu bangga dan sangat senang, karena sebentar lagi akan mempunyai menantu pengusaha.

"Memangnya calonnya, Rena pengusaha apa, Wak?" Aku bertanya penasaran mendengar semangat Wak Neni yang begitu menggebu saat menceritakan calon menantunya tersebut.

Terlihat Wak Neni nampak bingung mendengar pertanyaanku.

"Em ... Uwak kurang tau, Del. Tapi, kata Rena pengusaha."

Aku manggut-manggut mendengar jawaban dari Wak Neni, jangan suudzon lagi ya. Aku mensugesti diri sendiri agar tidak berprangsangka buruk terhadap calonnya, Rena. Pasalnya cerita begini sudah sering kudengar.

"Sebentar lagi, Ramdan bakalan punya adik ipar orang kaya, Bu."

"Iya, dong. Adikmu memang pintar cari calon suami, Ibu bangga."

Mereka begitu terlihat bahagia dan terus memuji-muji calon suaminya, Rena yang aku sendiri belum tau seperti apa laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya, Rena tersebut.

Usai bercerita dan makan siang bersama akhirnya, Wak Neni pamit pulang.

"Ya sudah kalau begitu, Uwak pulang dulu ya! Ramdan, Santi, Ibu pulang dulu ya!"

"Iya, Wak," jawab kami hampir berbarengan seraya bangkit dari tempat duduk dan mengantarnya ke depan.

"Titip salam buat, Jul dan anak-anak!" ucap Wak Neni sebelum benar-benar pulang.

***

"Neng, tadi HP Abang ketinggalan ya?" tanya Bang Jul sembari ikut berbaring di sebelah kananku.

"Iya, Bang tu ada pesan!" 

"Dari siapa?"

"Dari, Yuni."

Bang Jul pun bangkit dan mengambil ponselnya.

"Bang ... Memangnya dulu Abang sama Yuni ada hubungan spesial?" tanyaku yang tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.

Terlihat Bang Jul menghentikan aktivitas mengacak ponselnya lalu menatapku.

"Memangnya kenapa kok, Neng nanya gitu?" 

Aku menghela nafas dan bangkit dari rebahan menjadi posisi duduk.

"Gak apa-apa, cuma nanya aja."

"Abang gak pernah merasakan suka sama seseorang, kecuali pertama kali lihat, Eneng," jawab Bang Jul sembari kembali fokus ke HP.

Rasanya wajahku seketika memerah, aku tau Bang Jul bukan tipe lelaki romantis. Bahkan mengatakan itu saja ia seperti cuek, namun aku tau ia jujur.

"Em, ma-mass sih, Bang?" Gugup aku bertanya, ingin sekali lagi aku mendengarkannya.

Perempuan itu memang selalu minta kepastian, seperti kata Tere Liye. Sekalipun kau telah menikahinya wanita tetap akan bertanya 'Apa kau mencintaiku?' mungkin begitulah yang kurasakan saat ini.

Bang Jul hanya mengangguk, membuat debaran dihatiku terasa berpacu begitu cepat, rasanya kayak seperti pertama kali Bang Jul bilang cinta.

"Kok, Yuni bilang gitu ya?" Di saat hati sedang merasa berbunga-bunga tiba-tiba Bang Jul terdengar kaget setelah membaca pesan Yuni tadi pagi.

"Gak tau, Bang. Apa dulu Yuni suka sama Abang?" 

"Gak mungkinlah, orang Abang anggepnya kayak adik sendiri," jawab Bang Jul.

"Ya udah, Bang lain kali kalau dia chat Abang yang gak penting gak usah diladeni, atau kalau dia mau curhat suruh aja sama aku," saranku.

"Iya," jawab Bang Jul singkat.

"Oh iya, Bang tadi Wak Neni juga ke sini."

Bang Jul kembali menatapku, dan menghentikan aktivitasnya. 

"Uwak kesini?" tanya Bang Jul lagi memastikan. Aku mengangguk.

"Uwak ada perlu apa datang kesini?"

"Uwak nanya untuk acara nikahan, Rena kita mau nyumbang berapa?" jelasku.

"Kalau menurut, Abang kita nyumbang berapa, Bang?" 

"Kamu ikhlasnya berapa?" Bang Jul balik bertanya.

Aku menghela nafas, bingung mau jawab apa dan berapa.

"Eneng, bingung takut salah dan gak sesuai. Mereka adalah keluarga Abang."

Sejenak Bang Jul nampak terdiam.

"Em ... Kalau 10 juta kamu setuju gak?" tanya Bang Jul.

"Eneng, setuju aja Bang asal itu masih wajar."

"Ya udah kalau begitu kita sepakat nyumbangnya 10 juta ya!" ucap Bang Jul.

"Iya, Bang sepakat."

***

Menjelang pagi, Bang Jul berencana ngajak aku dan Al buat lari pagi, kebetulan hari ini dia libur.

A' Ramdan dan Teh Santi juga kedua anaknya sepertinya masih tertidur, biar saja.

Setelah siap dengan sepatu sport masing-masing kami pun bersiap keluar. Namun, tiba-tiba ponsel Bang Jul berdering dan ia buru-buru merogoh dari saku celananya.

"Iya, Wak mungkin agak siangan kami kesana, sekarang Jul mau jalan-jalan pagi dulu." Tidak lama kemudian sambungan telpon terputus.

"Ada apa, Bang siapa yang telpon?" tanyaku sembari menutup pintu.

"Uwak Neni nanyain yang kemarin, aku bilang siang kita akan kesana."

"Oh gitu. Di suruh kumpul kayak kemarin?" Lagi aku bertanya. Namun, hanya dibalas Bang Jul dengan mengendikkan bahu.

Akhirnya kami pun melanjutkan rencana awal jalan pagi bersama-sama, setelah cukup lumayan berlari.

"Ma, Al haus," ucap Al sembari memegangi tenggorokannya.

"Mama juga haus."

"Ya udah kalian tunggu di sini! Papa cari minuman dulu!"

Aku dan Al pun mengangguk setuju. Setelah menunggu beberapa menit, Bang Jul pun kembali dengan membawa tiga botol minuman.

Al, sudah tidak sabar dan segera menenggak isi botolnya.

"Al, pelan-pelan!" tegurku.

"Pa, Al juga laper," keluhnya setelah menenggak minumannya yang hanya tinggal setengah.

Aku dan Bang Jul pun saling berpandangan lalu tersenyum.

"Ya udah ayo kita makan, Papa tau dimana bubur ayam yang enak," ujar Bang Jul.

Kami pun segera pergi ke tempat jualan bubur yang direkomendasikan Bang Jul. Bang Jul benar bubur ayamnya enak.

Usai makan, terlihat Bang Jul memesan Beberapa bungkus bubur ayam.

"Untuk siapa, Bang?" tanyaku sembari mengelap bagian sudut bibir dengan tisu.

"Buat, A' Ramdan dan keluarganya!" jawab Bang Jul sembari mengangkat plastik yang berisi bubur ayamnya.

Aku hanya ber oh ria. Ya begitulah Bang Jul selalu ingin berbuat baik.

***

"Dari mana, Jul?" tanya A' Ramdan saat kami baru saja masuk halaman rumah.

"Dari jalan-jalan, nih Jul bawain oleh-oleh bubur ayam!" ucap Bang Jul sembari menyerahkan plastiknya.

"Wah kebetulan sekali, Jul Aa' belum sarapan," jawab A' Ramdan semringah.

Bang Jul pun tersenyum. "Ya udah A' Jul masuk dulu  ya mau ganti baju, dan siap-siap ke rumah, Uwak!"

***

Pukul 10 lebih 30 kami tiba di rumah Wak Neni. Wak Neni langsung menyambut kami begitu pun dengan yang lainnya.

"Gimana kabar kamu, Jul? Uwak senang kamu datang." ucap Wak Neni tersenyum lebar.

"Baik, Wak," Bang Jul pun langsung menyambut tangan Wak Neni dan menciumnya dengan takzim.

Kami saling bersalaman, dan tersenyum. Namun, saat akan menyalami Yuni wajahnya langsung berubah tak suka berbeda sekali saat ia menyalami, Bang Jul. Ah, sudahlah tak perlu kupikirkan. Lagian, dia itu sudah punya A' Firman aku tidak boleh berpikir macam-macam.
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:16

Bagian 14: Tawaran Rena

Semua anak-anak Wak Neni sudah berkumpul. Meski Bang Julian bukan anak Wak Neni, tetapi kehadiran Bang Julian juga tak kalah penting bagi Wak Neni karena ini akan membahas mengenai biaya pernikahan, Rena.

"Baiklah, saya mulai saja, tentunya kamu sudah tau, 'kan Jul maksud Uwak mengundang kalian datang kemari?" tanya Wak Neni memulai membuka percakapan. Bang Jul pun mengangguk.

"Jadi kita akan membahas mengenai biaya pernikahan, Rena dan segala persiapan lainnya mulai dari seragam, pelaminan, catering dan lain sebagainya.

"Kemarin kita sudah berdiskusi kira-kira berapa biaya yang akan di butuhkan. Dan perkiraan 70 sampai dengan 90 juta. Firman dan Yuni akan menyumbang 15 juta, Kinan dan Arya 15 juta, calonnya Rena 30 juta jadi totalnya 60 juta. Masih kurang sekitar 30 juta. Kalian akan nyumbang berapa?" tanya Wak Neni.

Aku sampai meneguk saliva mendengar penjelasan Wak Neni, aku saja waktu menikah dengan Bang Jul tidak sampai menghabiskan biaya sebanyak itu.

Aku menghela nafas, perlahan membuangnya. "Setelah berdiskusi dengan, Bang Jul kemarin kita sepakat untuk nyumbang 10 juta, Wak," jawabku. Sebelum datang ke rumah Wak Neni Bang Jul sudah memintaku untuk menjawab pertanyaan Wak Neni nantinya.

Wak Neni nampak terkejut mendengar penjelasanku, begitupun dengan yang lainnya mungkin mereka tidak menyangka kalau Bang Jul akan menyumbang sebanyak itu, pikirku.

Wak Neni nampak mengusap hidungnya. "Begini, Jul kamu, 'kan yang paling sukses diantara saudaramu yang lainnya apa tidak bisa ditambah lagi?" Pertanyaan Wak Neni diluar dugaan, kupikir segitu sudah membuatnya senang.

"Iya, Jul apa gak bisa kamu tambah lagi?" tanya Teh Kinan.

"Saya tau dari dulu, Bang Jul itu orangnya baik gak perhitungan sama saudara," ucap Yuni menimpali sembari melirik ke arahku, seolah ingin menyindir kalau aku yang menghalangi Bang Jul.

"Kamu gak ngehalangi Julian buat nyumbang ke acara pernikahan Rena, 'kan Del? Masa Julian nyumbangnya cuma segitu?" Teh Kinan langsung bertanya padaku begitu mendengar ucapan Yuni.

"Astagfirullah, enggak Teh," jawabku.

"Ya baguslah kalau begitu," balas Teh Kinan acuh tak acuh.

Astagfirullah, bisa-bisanya mereka berpikir begitu.

"Jadi gimana, Jul kamu mau nambah berapa?" tanya Teh Kinan.

Bang Jul nampak terdiam, dan sekilas melirikku seakan minta persetujuan.

"Ba ...." Belum sempat aku meneruskan kalimatku, tetapi Teh Kinan sudah memotongnya.

"Begini saja bagaimana kalau kamu tambahin lagi 30 juta buat nutupin kekurangannya, ya itung-itung buat balas Budi kamu sama kelurga Uwak. Juga karena sekarang Ramdan tidak bisa nyumbang. Anggap aja kamu juga ngebantu Ramdan nyumbang?" ucap Teh Kinan.

Tentu saja aku terkejut mendengar permintaan Teh Santi dan aku tidak setuju.

Bang Jul nampak terdiam berpikir. Semua orang menanti jawabannya. Aku menghela nafas, ini tidak bisa dibiarkan aku harus bertindak. Kalau nunggu Bang Jul dia pasti tidak tega, dan menuruti permintaan mereka. Apalagi kalau sudah menyebut-nyebut jasa kebaikan mereka.

"Maaf, Teh aku sama Bang Jul bukannya gak mau bantu. Kita sudah sepakat buat nyumbang 10 juta. Kita juga punya kebutuhan lain," jawabku pelan.

"Lho, kita gak minta keputusan kamu, Del. Yang berhak nentuin Julian bukan kamu. Lagian harta Julian itu bukan punya kamu," ketus Teh Kinan.

Rasanya kepalaku langsung berdenyut mendengar jawaban dari Teh Kinan.

"Maaf, Teh Julian setuju sama Dela," jawab Bang Jul, membelaku.

"Lho, kamu ini gimana sih Jul. Kamu gak inget dulu siapa yang ngurusin kamu?" ucap Teh Kinan tak terima.

Terlihat sekali wajah Bang Jul langsung berubah tak enak. "Bukan tidak ingat, Teh Jul selalu ingat."

"Terus kenapa kamu gak mau bantu?"

"Bang Jul bukan gak mau bantu, Teh. Kalau kayak gini namanya bukan minta bantu tapi pemerasan." Lama-lama aku emosi juga.

"Sudah, sudah kalian jangan memaksakan kehendak kalian sama Bang Jul, dia berhak buat ngambil keputusan jangan serakah. Kamu juga Rena kalau memang gak ada biaya bikin pernikahan yang sederhana saja, yang penting terpenuhinya syarat sah menikah." Akhirnya Dimas yang tadinya hanya diam, cuek dan sibuk dengan ponselnya ikut bersuara membela Bang Julian.

"Sudahlah, Bang jangan diturutin keinginan mereka," ucap Dimas ke Bang Jul.

"Dimas kamu ini apa-apaan sih, gak usah ikut campur urusan orang dewasa kamu itu gak ngerti," ucap Teh Kinan kesal.

"Maaf Teh kalau Dimas lancang, Dimas memang gak ngerti urusan orang dewasa yang seperti anak kecil memaksakan kehendak," tegas Dimas yang seketika membuat wajah Teh Kinan memberengut.

"Ya sudahlah kalau kamu memang gak niat bantu," ucap Wak Neni kesal.

***

"Pokoknya, Aa' mesti bantu Rena bujuk Bang Jul biar ngasih uang itu. Rena malu A' kalau nikahnya cuma sederhana apa kata teman-teman Rena," rajuk Rena pada A' Ramdan yang tak sengaja kudengar.

"Lagian ya A' calon suaminya Rena itu pengusaha. Kalau sudah jadi suami Rena pasti Rena bantulah buat kasih Aa' pekerjaan gajinya besar," ucap Rena dengan terisak.

"Beneran, kalau Aa' bisa bujuk Jul nanti kalau Rena udah nikah suami kamu bisa kasih Aa' pekerjaan yang gajinya besar?" tanya A' Ramdan terdengar semangat.

"Ya benerlah, A' masa Rena bohong," jawab Rena seambil menghembuskan ingus.

"Ya sudah kalau begitu kamu tenang saja, Aa' pasti akan bantu kamu buat bujukin Jul."

"Beneran, A'?" Suara Rena terdengar begitu senang mendengar A' Ramdan akan membantunya membujuk Bang Jul.

Oh jadi ini rencana kalian, batinku. Aku sudah mendengar semuanya dan tidak akan kubiarkan kalian memeras suamiku karena gengsi kalian itu.

***

Pulang dari rumah Wak Neni, di mobil wajah Bang Jul nampak begitu sedih, mungkin ia tidak enak karena habis menolak permintaan mereka. Tapi, aku bersyukur akhirnya ia mau membelaku.

"Bang sebelum pulang kita beli makan aja dulu ya!" Bang Jul pun mengangguk dan menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan Padang.

"Mau makan di sini atau bawa pulang aja?" tanyaku sembari melepas sit belt.

"Makan di sini aja, Abang juga udah laper."

"Iya, Del Aa' sama Teteh juga udah laper," timpal A' Ramdan.

Akhirnya kami pun turun dari mobil dan memesan tujuh porsi makan. Empat rendang dan tiga ayam goreng.

Setelah menunggu tidak lama kemudian pesanan pun datang, anak-anak nampak antusias begitu pun A' Ramdan dan Teh Santi.

"Oh iya, A' Jul lupa bilang soal lowongan kerjaan yang Aa' tanyain kemarin," ucap Bang Jul di sela-sela makan.

"Alhamdulillah, lowongan ya masih ada jadi kapan Aa' mau ngirim lamaran kerjanya?" lanjut Bang Jul lagi.

"Wah beneran, Jul?" tanya Teh Santi semangat, dan senang. Sementara A' Ramdan terdiam dan bingung. Sepertinya Teh Santi belum tau soal tawaran Rena tadi.


Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 15:59

Bagian 15: Ramdan dan Santi Pergi dari Rumah

Jika Teh Santi terlihat begitu bersemangat lain halnya dengan A' Ramdan.

"Alhamdulillah, akhirnya kamu dapat pekerjaan, A'," ucap Teh Santi senang. A' Ramdan masih terdiam.

"A' kok diam aja, bukannya senang?" tegur Teh Santi pada A' Ramdan yang tak memperlihatkan reaksi apa-apa.

"I-iya." Terbata A' Ramdan menjawab karena tangannya di guncang Teh Santi.

Kulihat Bang Jul tersenyum, begitu pun Teh Santi sejak Bang Jul mengatakan lowongan ya masih ada, Teh Santi terlihat begitu bahagia binar matanya begitu kentara.

Nampaknya A' Ramdan masih ragu dengan niatnya buat ngelamar kerja di kantor Bang Jul sebagai OB setelah mendengar tawaran dari Rena tadi.

***

"Jul, hari ini Aa' mau datang ke kantormu buat ngelamar kerja," ucap A' Ramdan terlihat serius, saat kami tengah sarapan.

Syukurlah kalau A' Ramdan mau kerja, dan tidak tergiur dengan tawaran Rena. Batinku.

"Oh iya, A' kalau gitu kita berangkatnya bareng aja ya naik motor," jawab Bang Jul ramah sambil tersenyum menyambut niat baik A' Ramdan.

"Em ... Kok pake motor sih, Jul? Kenapa gak peke mobil aja, panas," protes A' Ramdan.

Dahi Bang Jul terlihat mengerut, namun akhirnya ia mengiyakan permintaan A' Ramdan.

"Memangnya beneran, Jul gak ada loker lain selain OB?" tanya A' Ramdan, terlihat gengsi.

"Untuk saat ini belum ada, A' yang ada cuma itu. Memangnya kenapa A'?"

"Em ... Gak apa-apa," jawab A' Ramdan terlihat kecewa. "Sebenarnya sih, Aa' ada tawaran kerja gajinya lumayan ... Tapi?" Belum sempat A' Ramdan melanjutkan ucapannya, Teh Santi sudah memotong ucapannya.

"Wah, beneran A' dimana, dan tapi kenapa?" tanya Teh Santi tak sabar.

"Iya, A' tapi kenapa?" Bang Jul ikut bertanya.

Aku yakin tawaran kerja yang dimaksud A' Ramdan pasti tawaran dari Rena. Syaratnya A' Ramdan harus bisa bujuk Bang Jul untuk menutupi biaya pernikahan Rena yang kurang, dan aku tidak boleh membiarkan Bang Jul melakukan itu. Karena kami sudah ikut menyumbang.

"Em ... Rena yang tawarin Aa' kerja."

"Rena?" tanya Teh Santi terlihat bingung, yang dibalas A' Ramdan dengan anggukan. "Kerja apa?"

"Aa' belum tau, Rena bilang kalau nanti dia sudah menikah suaminya yang akan kasih Aa' pekerjaan."

"Wah bagus dong, A'," timpalku berpura-pura tidak tau yang sebenarnya.

A' Ramdan terlihat canggung, aku tau ada beban pikiran yang ia tanggung apalagi kalau bukan permintaan Rena untuk membujuk Bang Jul.

"I-iya, Del." Terbata A' Ramdan menjawab.

"Rena bilang gitu ke Aa'?" tanya Bang Jul.

"I-iya, Jul. Makanya Aa' mesti bisa bantu acara pernikahannya Rena biar lancar. Kamu bisa bantuin Aa' kan Jul?"

"Memangnya apa yang bisa, Jul bantu A'?"

"Aa' butuh pinjaman, nanti kalau Aa' sudah kerja dengan suaminya Rena Aa' ganti deh," jawab A' Ramdan yakin.

"Memangnya Aa' sudah ketemu dengan calonnya Rena? Sudah bicara langsung?" Aku bertanya penasaran melihat A' Ramdan begitu yakin dengan apa yang dijanjikan Rena.

"Be-belum sih. Tapi, Aa' yakin kalau Rena tidak mungkin bohong sama Aa'!" Lagi A' Ramdan menjawab dengan begitu yakin.

"Bagaimana kalau ternyata bohong?" cercaku dengan pertanyaan.

"Ya gak mungkinlah Rena berani bohongi, Aa'. Gimana Jul kamu bisa bantu, 'kan?"

"Memangnya Aa' mau pinjam berapa?" tanya Bang Jul.

"Gak banyak kok, Jul hanya lima puluh juta," jawabnya enteng.

Apa A' Ramdan bilang hanya Lima puluh juta? Apa aku gak salah dengar? Kulihat Bang Jul pun nampak terlihat kaget mendengar jawaban A' Ramdan.

"Jul gak punya uang sebanyak itu, A'."

"Masa gak punya sih, Jul? Kamu gak percaya sama Aa'? Nanti kalau Aa' sudah kerja dan sukses pasti Aa' bayar," A' Ramdan nampak terima dengan penolakan Bang Jul.

"Jul bukan gak percaya, A' tapi Jul gak ada simpanan sebanyak itu saat ini."

"Alah, percuma keluarga Aa' udah baik-baikin kamu, ngerawat kamu kalau akhirnya disaat Aa' lagi kesusahan kamu gak mau bantu," ucap A' Ramdan.

Aku yang mendengar itu langsung nyesek, tega-teganya A' Ramdan bicara begitu. Jadi apa dia pikir selama tinggal di sini bukan bantuan?

"Bukan gak mau bantu, A' ...."

"Ah sudahlah, kalau memang gak mau bantu. Aa' kecewa sama kamu, Jul. Atau jangan-jangan semua uangmu sudah kamu berikan sama, Dela dan gak ingat lagi sama keluarga Aa' yang sudah bela-belain membesarkan dan menyekolahkan kamu."

Tentu saja aku tidak terima dengan ucapan A' Ramdan barusan.

"Maaf, A' apa maksud Aa' berkata begitu?" ucapku pelan dan masih sopan.

A' Ramdan tersenyum sinis. "Kamu kan yang mempengaruhi Jul, biar gak bantu pernikahan Rena?" tuduh A' Ramdan. "Asal kamu tau ya dulu Jul itu bukan apa-apa kalau bukan ...."

"Cukup A'!" Bentak Bang Jul. Aku tidak menyangka Bang Jul berani begitu. "Jangan bawa-bawa Dela dalam hal ini."

"Lihatlah kamu, Jul sudah berani bentak Aa' demi orang lain yang baru kamu kenal berapa tahun?" ucap A' Ramdan tersenyum sinis.

A' Ramdan benar-benar sudah keterlaluan.

"Kalau Aa' gak suka Aa' boleh pergi dari sini!" ucap Bang Jul tegas.

Aku benar-benar tidak menyangka Bang Jul bisa bersikap demikian, sampai-sampai aku syok dibuatnya.

"Oh jadi kamu ngusir Aa'? Ini balasan kamu, Jul untuk semua kebaikan keluarga Aa' selama ini? Tidak tahu balas Budi." geram A' Ramdan.

"Terserah, Aa' mau bilang Apa."

"Baiklah kalau itu mau, kamu. Kamu jangan menyesal, Jul sudah memperlakukan Aa' seperti ini," ucap A' Ramdan tak terima dan mengancam Bang Jul.

"Ayo, Neng kemasi barang-barang. Kita pergi dari sini. Biar saja Jul akan menerima balasan karena sudah semena-mena dengan Aa' keluarganya sendiri."

A' Ramdan lantas bangkit dari duduknya dengan wajah memerah menahan amarah, Teh Santi hanya bisa mengikuti tanpa berani berbicara apa lagi menegur kelakuan sang suami yang tengah murka.

Kulihat Bang Jul mengusap wajahnya dengan kasar, sembari beristighfar. Aku berusaha mengusap tangan Bang Jul untuk menenangkannya.

Tidak lama kemudian terdengar pintu kamar dibanting dengan keras.

"Ayo, Neng cepat kita pergi dari rumah ini. Rumah yang penghuninya tidak tau balas Budi dan rasa terima kasih," umpat A' Ramdan terdengar nyaring.

Aku hanya bisa mencoba menenangkan Bang Jul. Lalu beranjak menghampiri A' Ramdan dan keluarganya yang justru tidak tau rasa terima kasih tersebut. Sementara Bang Jul memilih duduk diam dengan segala kekesalannya.

"Jangan sampai ada barang-barang di sini yang kalian bawa!" tegurku saat keduanya sudah hampir mencapai batas pintu.

"Tenang saja, aku pun tidak sudi mengambil barang-barang murahan seperti itu," ucap A' Ramdan tak terima.

"Baguslah kalau begitu," balasku santai.

A' Ramdan tersenyum sinis. "Dasar perempuan serakah, suami mau berbuat baik ke keluarga sendiri dilarang! Bahkan keluarga suami sendiri di usir." Nampaknya A' Ramdan sengaja mengeraskan volume suaranya biar tetangga di sini mendengar dan berpikir macam-macam, terlihat dari luar pagar sudah ada Bu Darmi tetangga kepo dan suka ngegosip yang mulai melirik ke sini.

"A' sama Teteh hati-hati di jalan ya, ini uang jajan untuk keponakan Tante!" Aku sengaja meramahkan suaraku dan tersenyum lebar. Lalu memberikan dua lembar uang warna hijau untuk Aida dan Farhan.

Tentu saja hal demikian membuat A' Ramdan kembali merasa jengkel karena tidak berhasil memancing tetangga untuk berpikir macam-macam.

"Makasih, Tante!"

Aku mengangguk dan tersenyum, dua bocah itu tidak bersalah.

A' Ramdan menatap tak suka. "Jangan kotori pikiran anak-anakku dengan sikap pura-puramu itu," ancamnya. Entah apa maksudnya.

"Ma, Pa kita mau kemana? Kenapa kita harus pergi dari rumah Al? Di sini kan enak, banyak makanan?" cerca Aida yang ditanggapi A' Ramdan dengan kekesalan.

Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 16:00

Bagian 16: Biar Bang Jul Memutuskan

"Ma, Pa kita mau kemana? Kenapa kita harus pergi dari rumah Al? Di sini kan enak, banyak makanan?" cerca Aida yang ditanggapi A' Ramdan dengan kekesalan.

Tak lama kemudian kulihat Bang Julian menyusul ke depan. Seperti ada sesuatu yang ingin diucapkannya pada sepupunya itu. Namun, nyatanya Bang Jul hanya terdiam.

"Puas kamu, Jul ngusir keluarga Aa' dari sini?" tanya A' Ramdan sinis. "Aa' gak nyangka kamu tega melakukan ini sama Aa'? Ingat, Jul perempuan di sebelah kamu ini tidak ada ikatan darah sama kamu." A' Ramdan berucap sembari melihat ke arahku.

"Bila kalian berpisah akan menjadi bekas. Tapi, sama Aa' tidak ada kata bekas saudara," tegas A' Ramdan lagi.

Astagfirullah!

Kenapa A' Ramdan sampai semurka itu gara-gara Bang Jul tidak bisa meminjamkannya uang. Kulihat Bang Jul hanya diam, nampaknya malas berdebat. Aku pun begitu. Biar saja kali ini A' Ramdan puas menumpahkan kekesalannya, tak ada gunanya berdebat dengan orang yang lagi tersulut emosi.

Dengan perasaan kesal karena tak ditanggapi, akhirnya A' Ramdan dan keluarganya pergi. Entah kemana paling juga ke rumah Wak Neni. Biarlah mereka pulang ke rumah orang tuanya.

Meski ada perasaan sesal karena tidak bisa membantu, namun tidak bisa dipungkiri ada juga perasaan kesal atas sikap A' Ramdan yang begitu. Sebagai saudara tak seharusnya A' Ramdan berlaku begitu terhadap Bang Jul yang sudah berbaik hati menampungnya tinggal di sini. Aku bisa saja menolak, namun aku menghormati dan menghargai Bang Jul sebagai suami. Dia pasti sedih jika tidak bisa membantu, namun entah mengapa kali ini ia bahkan menyuruh A' Ramdan dan keluarganya pergi dari sini lantaran tak bisa menerima keputusannya.

"Yang sabar ya, Bang!" ucapku saat melihat wajah lesu, Bang Jul. Aku tau semarah-marahnya dia tetap saja dia tidak bisa membenci A' Ramdan. "Kita doakan saja semoga mereka bisa berubah, Abang jangan merasa bersalah," sambungku mencoba membesarkan hatinya.

"Iya, Neng. Makasih ya! Abang minta maaf, atas nama A' Ramdan dan keluarganya," jawab Bang Jul.

"Tidak apa, Bang. Aku ngerti. Bagaimanapun mereka tetap saudara Abang, saudara Neng juga setidak sukanya kita tetap saja apa yang dibilang A' Ramdan tadi benar tidak ada namanya bekas saudara. Neng tau Abang melakukan ini bukan karena Abang benar-benar benci sama mereka."

"Abang tidak tau harus bilang apa, Abang bersyukur punya istri seperti, Neng. Maafin Abang ya, belum bisa jadi suami yang baik!" ujar Bang Jul dengan merasa bersalah.

"Justru, Neng yang minta maaf, Bang masih belum sempurna menjadi istri."

Bang Jul tersenyum. "Sebagai manusia yang tidak sempurna, Neng sudah menjadi istri Abang yang baik."

Aku hanya tersenyum, merasa tersanjung dengan ucapan Bang Julian. Namun, sebagai insan biasa yang penuh alpa tetap saja aku selalu merasa kurang baik dan masih tetap harus belajar dan belajar.

***

Sudah satu minggu lebih A' Ramdan dan keluarganya pergi dari sini tak ada kabar sama sekali. Namun, pagi ini aku tak sengaja membaca pesan di aplikasi hijau ponsel Bang Jul.

[Jul, Uwak minta tolong kirim Uwak uang Calonnya Rena mau datang ke sini. Uwak gak ada uang sama sekali, sejak Ramdan kamu usir pengeluaran Uwak jadi bertambah]

Aku menghela nafas, ada perasaan kesal juga kasian. Kesal kenapa A' Ramdan tidak mau berusaha cari kerja bukannya bantuin orang tua malah menjadi beban. Kasian karena dimasa tuanya Wak Neni harus banyak menanggung beban, tapi juga karena gengsinya.

"Ada apa, Neng?" tanya Bang Jul, sembari menyisir rambutnya yang masih basah.

Ingin kuhapus saja pesannya dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, rasanya aku begitu jahat aku tau mungkin mereka memang keterlaluan. Tapi, perasaan dan naluri sebagai manusia tetap saja aku merasa ada perasaan kasian. Ah, biar Bang Jul saja yang memutuskan.

Aku menunjukkan pesannya ke Bang Jul. Kulihat Bang Jul menghela nafas dan membuangnya masygul. Kemudian mengetik sesuatu di ponselnya entah apa.

Usai sarapan dan rapi dengan setelan kerjanya, Bang Jul pamit untuk pergi ke kantor. Seperti biasa menyambut tangannya dan menciumnya dengan takzim sudah menjadi kebiasaanku.

Hari ini aku akan pergi ke toko bunga bersama Al karena kebetulan Al sedang libur sekolah.

"Bang HP-nya tinggal," ucapku saat melihat ponsel Bang Jul tergeletak di atas nakas.

"Biar saja, Abang lagi tidak ingin bawa HP hari ini," jawab Bang Jul santai.

Aku yang masih dalam kebingungan hanya bisa mengangguk, mungkin Bang Jul sedang tidak ingin diganggu karena banyak beban pikiran pikirku.

"Nanti kalau kangen sama, Abang telpon ke nomor kantor aja ya!" godanya.

Reflek aku langsung mencubit pinggangnya yang ditanggapi Bang Jul dengan erangan kesakitan. Lalu, tertawa.

Bang Jul pun berangkat ke kantor, aku pun bersiap-siap untuk pergi ke toko bunga bersama Al.

Saat akan mengambil tas aku melirik ke arah nakas, melihat ponsel Bang Jul.

"Apa kubawa saja ya?" tanyaku pada diri sendiri sembari mengambil ponselnya. Akhirnya aku memutuskan untuk membawa ponselnya Bang Jul.

***

Di toko bunga aku tengah duduk di kursi kerjaku sembari menunggu pembeli yang datang. Sementara Al sibuk bermain dengan robot-robotannya.

Iseng aku membuka ponsel Bang Jul. Kulihat ada pesan SMS Banking masuk, karena telah berhasil transfer dengan senilai satu juta setengah.

Di Wa ada pesan Wak Neni sebagai ucapan terima kasih.

[Jul, uangnya udah masuk ke rekening Uwak. Makasih ya! Sebenarnya kurang tapi gak apa-apa] dengan emot tersenyum lebar. Aku hanya mendesah, setelah membaca pesan tersebut yang telah dulu dibaca Bang Jul. Tidak ada balasan dari Bang Jul.

Tidak lama kemudian pesan masuk dari Rena.

[A' hari ini Rena mau foto prewedding, bisa tolong kirimi Rena uang gak? Gak banyak cuma dua juta aja]

Lagi-lagi aku hanya mendesah, membaca pesan dari keluarga Wak Neni yang tak ada bahasan selain meminta uang.

[Ini Teteh, Bang Julnya lagi kerja] kubalas pesan Rena. Tidak lama ada pesan balasan.

[Lho kok HP-nya Bang Jul, sama Teteh sih?]

[Iya, Bang Jul sengaja ninggalin HP-nya]

[Hem ... Pasti karena Teteh yang minta, karena gak percaya sama Bang Jul iya, 'kan? Ngaku aja Teh] balasnya.

Aku hanya mengelus dada membaca pesan balasan dari Rena.

[Terserah mau percaya atau gak, tapi begitulah kebenarannya] dengan perasaan kesal kubalas pesannya.

[Ya udah deh, biar nanti Rena datang langsung aja ke kantor Bang Jul]

Aku tidak berniat untuk membalasnya, dan kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Karena kebetulan ada pembeli yang datang. Aku pun gegas menyambut dan melayani pembeli tersebut dengan ramah.

Saat lagi melayani pembeli notif dari ponsel Bang Jul kembali bergetar. Namun, tak kuhiraukan karena tetap fokus melayani pembeli.

Usai melayani pembeli, aku kembali membuka pesan dari ponsel Bang Jul karena nampaknya penting sampai terdengar bunyi beberapa kali.

Ternyata pesan dari tel*omsel, namun satu pesan yang membuatku memicingkan mata, pesan dari Yuni.

[Bang, makasih ya hadiah bonekanya. Aurel sangat senang. Coba dulu Abang gak pergi mungkin kita tetap bersama] emoticon sedih.

Seketika jantungku berdegup, sementara berbagai pertanyaan berkelabat di kepala.

Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 16:01

Bagian 17: Pengakuan Julian

[Bang, makasih ya hadiah bonekanya. Aurel sangat senang. Coba dulu Abang gak pergi mungkin kita tetap bersama] emoticon sedih.

Seketika jantungku berdegup, sementara berbagai pertanyaan berkelabat di kepala.

Apa maksud pesan Yuni?

Rasa penasaran telah membuat fokusku berkurang, aku ingin segera pulang dan meminta Bang Jul untuk menjelaskan maksud dari pesan Yuni tersebut.

Aku segera menepis segala praduga, harus percaya sama Bang Jul, bukankah sebuah hubungan itu akan tetap langgeng karena adanya rasa saling percaya dan setia? Tapi, apa aku juga salah jika meminta Bang Jul memberi penjelasan agar tidak ada praduga dan cemburu?

Aku teringat Rena, apa sebaiknya aku bertanya langsung padanya saja ya? Tapi, apa anak itu akan berkata jujur, bagaimana jika sebaliknya. Aku mondar-mandir dengan perasaan bimbang antara harus bertanya padanya atau tunggu di rumah saja.

Akhirnya aku coba memberanikan diri untuk bertanya pada, Rena.

[Rena, Teteh akan transfer uang yang kamu minta. Tapi, sebelumnya apa boleh teteh bertanya sesuatu yang rahasia, hanya kita berdua?]

Pesan terkirim centang dua. Aku menunggu balasan lima menit, sepuluh menit belum ada tanda-tanda pesannya akan dibalas dibacapun belum, hatiku sedikit gelisah. Aku kembali meletakkan ponsel, berniat untuk mencari makan siang bersama Al. Sembari menunggu pesan balasan.

Tidak lama setelah aku mengambil jaket, sebuah pesan masuk dari Rena.

[Apa?]

Aku menghela nafas mencari kalimat yang pas untuk menanyakan prihal ada hubungan apa sebenarnya Bang Jul dan Yuni, karena aku tidak ingin menduga-duga dan mencurigai Bang Jul.

[Teteh mau nanya. Apa sebelum menikah dengan Teteh, Bang Jul ada hubungan khusus dengan Yuni?]

[Yang Rena tahu, mereka hanya berteman baik. Kenapa memangnya?] tanyanya balik.

Aku menghela nafas, berusaha menghilangkan segala ketidak nyamanan. Rasa penasaran masih mengganjal pikiran, tapi aku tidak bisa mendesak Rena untuk mengatakan sesuatu yang ia tidak tau, setahuku anak itu tidak begitu peduli dengan urusan seperti itu.

[Tidak apa-apa. Baiklah, terima kasih infonya. Mana noreknya?]

Tidak lama Rena pun mengirimkan nomor rekeningnya, dan segera kutransfer sebagaimana janjiku.

[Tapi, kalau Bang Jul lagi ke sini, Teh Yuni memang suka terlihat begitu senang, tak jarang Bang Jul pun suka ngasih sesuatu buat Aurel katanya. Terima kasih transferannya]

Aku tidak lagi berniat untuk membalas pesan dari Rena, Oke setidaknya ada sesuatu yang lain kuketahui selain chat yang sering kubaca di ponselnya Bang Jul.

Usai berbalas chat aku dan Al pun segera keluar untuk mencari makan siang.

***

Menjelang sore, aku untuk menutup toko bunganya, dan bersiap pulang. Meski sibuk bekerja aku tidak lupa ada tanggung jawab yang mesti tetap harus kukerjakan, apalagi kalau bukan masak menyediakan makanan yang diolah tangan sendiri untuk kami sekeluarga.

"Neng, memangnya kamu gak mau cari pembantu? Kasian kamunya kalau harus kerja sambil ngerjain semua pekerjaan rumah," ucap Bang Jul kala itu.

Aku tersenyum, kuakui Bang Jul memang tipe lelaki perhatian. "Tidak apa, Bang untuk saat ini belum," jawabku.

Lamunanku terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di depan toko, sebuah mobil yang sangat kukenal pemiliknya.

Tidak lama kemudian pemilik mobil pun turun dengan senyum khasnya.

"Udah tutup ya, Neng?"

"Iya, Bang."

"Wah saya telat, padahal saya ingin beli bunga buat istri saya tercinta."

Aku tersenyum menyambut candaan dari Bang Jul yang datang tiba-tiba, entah apa sebutan untuk hal semacam itu romantis kah atau humor yang jelas, Bang Jul memang selalu membuat suatu kejutan.

"Abang sengaja tadi pulang dulu ambil mobil buat jemput kalian. Mau ngajakin kalian makan di luar biar, Neng gak usah masak kasian istrinya Abang pasti capek."

"Abang tau aja," jawabku sembari masuk ke dalam mobil bersama Al. Bang Jul pun hanya tersenyum dan ikut masuk.

Seperti biasa kami pun pergi ke rumah makan yang biasa kami kunjungi, entah mengapa sejak dulu rumah makan Padang ini selalu menjadi pilihan, mungkin karena rasanya yang selalu menggugah selera dan pas di lidah. Bahkan nyaris kami tidak pernah bosan, dengan menunya yang beragam. Hanya sesekali membeli menu lain.

Momen makan seperti ini adalah waktunya bersama keluarga, meski rasa penasaran begitu masih mengganggu pikiran. Tetapi, aku tidak ingin menanyakan prihal chat Yuni tadi. Aku tidak ingin suasana ini rusak.

Usai makan kami pun segera pulang, pukul sudah menunjukkan 18 lebih tiga puluh.

"Neng, itu di depan ada masjid salat Magrib dulu yuk!"

Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju, Bang Jul pun segera memarkirkan mobil.

Rasanya selesai salat beban benar-benar terasa berkurang dan membuat perasaan terasa tenang. Segala kepenatan dunia ini seakan terhenti, damai itulah yang terasa.

***

Perasaan begitu tenang mendengar ayat demi ayat yang dibacakan Bang Jul. Selepas salat Isya Bang Jul biasanya akan menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur'an.

"Sodaqollahul'adzim."

"Bang, apa Neng boleh tanya sesuatu? Tapi, Abang jujur!" ucapku setelah melihat Bang Jul meletakkan mushapnya dan melipat sarung.

"Mau tanya apa kayaknya serius," tanya Bang Jul balik sembari duduk mendekat.

Aku menunjukkan chat di ponselnya yang tadi dikirim Yuni, kulihat Bang Jul biasa saja tidak ada reaksi yang berlebih.

"Maaf, Bang sebelumnya. Tapi, ini mengganggu pikiran Neng. Dan Neng mau Abang jujur. Apa Abang ada hubungan khusus dengan Yuni?" tanyaku hati-hati.

Sejenak Bang Jul terdiam, maniknya menatapku dengan serius.

"Maaf, kalau itu membuat Neng merasa tidak nyaman. Tapi, Abang benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Yuni, Abang hanya menganggapnya sebagai teman.

"Soal hadiah boneka itu, bukan hanya Aurel yang Abang kasih anaknya Teh Kinan dan A' Ramdan juga Abang kasih. Abang memang kalau ke rumah Uwak sering bawa hadiah sebagai oleh-oleh. Abang gak ada maksud apa-apa."

Bang Jul kembali sejenak terdiam dan menghela nafas. "Yang, Abang tau dulu Yuni memang suka sama Abang. Tapi, Abang cuma anggap dia sebagai teman. Baik karena dulu kami tetangga, Abang sudah anggap dia sebagai selayaknya seorang adik dan itupun ada batasan karena antara Abang sama dia tidak ikatan darah.

"Kalau itu buat, Neng tidak nyaman Abang akan jauhi Yuni."

Aku sejenak terdiam, memikirkan kalimat terakhir Bang Jul, aku tidak ingin melarangnya berbuat baik ke pada siapa pun. Mungkin Yuni yang salah paham akan kebaikan Bang Jul, atau ... Ah, entahlah aku tidak ingin terlalu berprasangka hal yang tidak-tidak.

"Iya, Bang. Neng bukan ngelarang Abang berbuat baik. Tapi, kalau Yuni anggap kebaikan Abang suatu perhatian dan salah arti, Neng cuma takut jadi fitnah," jawabku jujur.

Bang Jul langsung merengkuh tubuhku, membenamkan kepalaku dalam dadanya. Mungkin begitulah cara laki-laki menenangkan wanitanya dengan memeluknya.

"Ya udah kalau, Neng mau tidur duluan. Abang masih ada kerjaan tadi ada berkas yang belum Abang kerjakan di kantor."

"Neng buatin teh jahe ya!" tawarku.

"Boleh."

Aku lekas berangkat dan menuju dapur untuk membuat teh jahe untuk menemani Bang Jul menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah membuat teh jahe dan memberikannya ke Bang Jul, aku duduk bersandar di atas kasur sembari memainkan ponsel, membukan aplikasi dengan simbol F iseng-iseng membaca status yang lewat di beranda, satu status dari Ina R menarik perhatianku.

"Jangan terkecoh dengan kebaikan seseorang, lalu beranggapan (dia suka/ jatuh cinta padamu). Jika tak berbalas menganggapnya (PHP). Barangkali dia memang pribadi yang baik" Ina R.

Aku sengaja mencopas dan mempostingnya di status FB dan WA. Tidak lupa juga ku buat di status WA-nya Bang Jul berharap Yuni membacanya dan tidak lagi salah mengartikan kebaikan, Bang Jul.



Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 16:07

Bagian 18: Ternyata Wak Neni Pinjam Online

Aku dan Bang Jul tengah bersiap untuk pergi ke rumah Wak Neni untuk bantu-bantu Rewang, karena besok acara pernikahan Rena akan dilaksanakan. Setelah terakhir kali Wak Neni minta transfer, mereka tidak lagi mendesak Bang Jul untuk membantu biaya pernikahan, Rena. Mungkin sudah ada yang menutupi kekurangannya, atau tidak calonnya Rena. Karena, kata Wak Neni calonnya Rena seorang pengusaha.

[Jul, sebelum ke sini tolong belikan bolu lapis empat kotak yang di lampu merah ya!]

Aku mendesah pelan membaca pesan dari Wak Neni.

"Bang ada pesan dari Wak Neni!" ucapku sembari duduk menghadap meja rias, sementara Bang Jul tengah sibuk mengancingkan kemejanya.

"Apa katanya?"

"Wak Neni minta dibelikan bolu lapis empat kotak yang ada di lampu merah."

"Oh," balas Bang Jul singkat.

Entah kenapa untuk urusan sekecil ini pun harus Bang Jul? Apa aku yang terlalu merasa Bahwa Bang Jul dimanfaatkan oleh keluarganya sendiri?

Usai merias diri dengan polesan bedak natural dan memasangkan kerudung coksu di kepalaku, aku segera masuk ke kamar Al untuk membantu Al memakaikan bajunya.

***

Sekarang kami sudah siap berangkat ke rumah Wak Neni, tidak lupa berhenti di toko bolu untuk membeli pesanannya.

Jalanan tidak terlalu macet seperti biasanya karena bukan jam kantor. Hari ini Bang Julian sengaja tidak masuk kerja karena ingin datang kerumah Uwak.

Begitu melihat mobil Bang Jul memasuki halaman, Wak Neni tersenyum semringah, aku melihatnya dari balik jendela kaca mobil.

"Ada pesanannya, Uwak?" tanya Wak Neni tak sabar saat aku dan Bang Jul baru menginjakkan kaki ke halaman.

"Ada, Wak," jawab Bang Jul sembari hendak menyambut tangan Wak Neni.

"Mana?"

Bang Jul melihat ke arahku memberi kode untuk mengambil bolunya.

Dengan semangat Wak Neni langsung mengambil bolunya dari tanganku, lalu melangkah masuk ke rumah dengan langkah lebar-lebar.

Aku hanya bisa menghela nafas, seakan kehadiran kami, tak lebih penting dari pada bolu yang kami bawa.

Aku dan Bang Jul pun menyusul masuk. Terlihat Rena tengah membagikan pakaian seragamnya.

"Wah baju seragamnya cantik banget, Ren," puji Teh Santi.

"Iya dong, Teh siapa dulu yang pesanin," jawab Rena sambil tersenyum lebar.

Rena membagikan baju seragamnya ke semua anggota keluarga.

"Ini buat Bang Jul!" Tangan Rena terulur menyerahkan sepotong kemeja panjang dengan warna biru langit.

"Buat Teh Dela mana?" tanya Bang Jul melihat hanya kemeja saja yang diberikan, Rena.

"Duh, maaf ya Bang, Teh buat Teh Dela-nya gak ada kemarin uangnya gak cukup," jawab Rena.

"Iya, Jul lagian kamu nyumbangnya cuma segitu," timpal Teh Kinan.

Jujur ada perasaan sesak menerima perlakuan mereka, padahal selama ini aku tidak pernah melarang Bang Jul untuk membantu keluarga Wak Neni.

Kulihat Bang Jul hanya menghela nafas. "Ya sudah kalau begitu, biar Abang juga gak usah pake seragam!" ucap Bang Jul menyerahkan kemejanya kembali.

"Kok gitu sih, Bang?" tanya Rena dengan wajah cemberut.

"Abang gak perlu seragam, kalau istri Abang gak ada percuma,"

"Ya payah kamu, Jul gara-gara Dela gak di kasih seragam jadi baper gitu, lagian ini itu buat keluarga inti," terang Teh Kinan.

Deg!

Apa selama ini aku tidak pernah dianggap keluarga? Makanya Teh Kinan bilang buat keluarga inti?

"Udahlah, Jul mestinya kalau kamu juga mau Dela pake seragam juga kamu Tambahlah uangnya, jangan pelit-pelitlah sama keluarga sendiri!" sambung Teh Kinan lagi.

Aku hanya mengelus tangan Bang Julian memberi isyarat untuk tidak perlu meladeni mereka, tidak ada seragampun tidak mengapa.

"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Wak Neni yang datang dari arah dapur, sembari membawa piring berisi bolu.

"Ini lho, Bu si Jul gak mau pake seragamnya gara-gara kemarin itu uangnya kurang buat bikin seragam untuk, Teh Dela," jelas Rena.

"Aduh, maaf ya Jul apa yang dibilang Rena benar kemarin uangnya kurang bikinin seragam buat Dela-nya," ucap Wak Neni membenarkan ucapan Rena.

"Tuh kan benarkan, Rena gak bohong!"

"Iya, Wak gak apa-apa," jawabku, dengan perasaan tak enak karena selama ini merasa tak dianggap.

"Ya sudahlah kalau begitu, nanti biar Jul sama Dela dan Juga Al pesan sendiri saja!" jawab Bang Jul menyudahi perdebatan.

"Uwak jadi gak enak, ini juga karena uangnya kurang terpaksa uang pinjam online," jelas Wak Neni.

"Jadi Uwak pinjam online?" tanya Bang Jul seakan tidak percaya dengan keputusan Wak Neni.

"Ya mau bagaimana lagi, Jul. Uwak gak ada pilihan lain, kamu juga gak mau nambahin lagi," jawab Wak Neni seolah-oleh ia terpaksa melakukan itu karena Bang Jul.

Kulihat Bang Jul hanya menghela nafas.

"Permisi!" Setelahnya di depan terdengar seseorang yang datang, menghentikan percakapan diantara kami.

Rena gegas ke depan melihat tamu yang datang.

"Siapa, Ren?" tanya Wak Neni.

"Ini, Bu yang bakalan nge-hiasin tangannya, Rena. Namanya Desi," ucap Rena memperkenalkan.

Desi pun langsung memperkenalkan diri dengan ramah, kemudian Rena pun mengajaknya ke kamar untuk menghiasi tangannya.

Setelah hampir satu jam menghiasi tangan Rena, calonnya Rena pun datang sepertinya, Rena yang menelpon.

***

"Kenapa sih, Bang kok Abang berubah? Dela yang ngelarang Abang buat chatin, Yuni?" tanya Yuni saat hanya tinggal kami bertiga.

"Gak ada yang berubah, semunya masih sama seperti dulu!"

"Terus kenapa chat, Yuni sering gak di bales?"

"Kalau penting pasti, Abang bales."

"Oh jadi gitu, chat Yuni gak penting buat Abang?"

"Maaf, Yun. Bang Jul bukan gak mau balas chat kamu, tapi seperti yang sudah kubilang takut jadi fitnah, dan Mas Firman nantinya salah paham," ucapku berusaha menengahi.

Terserah saja, Yuni mau terima apa enggak yang penting aku sudah mencoba untuk menjelaskan, dan Bang Jul juga tidak keberatan.

"Maaf, Yun kalau kebaikan Abang buat kamu salah paham, Abang anggap kamu sudah seperti adik sendiri, tapi tetap saja diantara kita ada jarak karena memang tidak ada hubungan darah," ucap Bang Jul menimpali memberi penjelasan.

Kedua netra Yuni nampak memerah, seperti menahan tangis. "Baiklah kalau begitu, Yuni minta maaf karena sudah salah paham, dan ganggu keluarga Abang," jawabnya lalu berlalu meninggalkan kami.

Bang Jul dan aku hanya menghela nafas, entah apa namanya perasaan kami saat ini sesal atau merasa bersalah, tetapi di sisi lain merasa lega akhirnya Yuni mau menerima.

Tidak lama kemudian terdengar suara ribut-ribut.

"Kalau gak punya uang, jangan pake nyewa jasa hena segala," teriak perempuan bernama Desi yang tadi datang.

"Kamu sih pake lupa bawa dompet segala," gerutu Rena ke calon suaminya yang hanya menggaruk-garuk kepala.

Bang Jul berangkat dari duduknya. "Berapa, Mbak biayanya?" tanya Bang Jul ramah.

"Satu juta!"

Aku sempat kaget mendengar biaya hena semahal itu.

Bang Jul mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, berniat membayar biaya Hennanya.

"Sudah, Bang biar Dimas saja!" ucap Dimas yang datang tiba-tiba. Seraya menyerahkan uang sebanyak satu juta seratus ke Desi.

"Maafin, keluarga Dimas ya, Bang sudah terlalu menyusahkan, Abang!" sesalnya.

Dimas, memang berbeda dari saudara-saudaranya yang lain terlihat sopan dan santun.

"Aku harap, besok Abang tetap datang!"

Bang Jul hanya mengangguk dan tersenyum.

Entah setelah ini akan ada masalah apa lagi?
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 16:08

Bagian 19: Pernikahan

Begitu pulang dari rumah Wak Neni kemarin, Bang Jul langsung ngajakin ke toko baju membeli baju seragam yang sudah jadi, mau jahit, tidak mungkin karena waktunya tidak akan cukup.

Pagi ini aku dan Bang Jul tengah bersiap untuk datang ke acara pernikahan, Rena. Baju seragam warna maroon dengan motif batik menjadi pilihan kami, karena kemarin hanya warna ini yang tersisa untuk pas dengan ukuran Al.

"Ayo sarapan dulu!" ajakku pada Bang Jul dan Al.

Dengan kompak dua lelakiku itu menjawab semangat.

Kami pun sarapan terlebih dulu sebelum berangkat ke rumah Wak Neni.

Usai sarapan, kami pun kembali bersiap untuk datang ke rumah Wak Neni. Masih pagi, pukul menunjukkan 06 lebih 15. Tetapi, sebagai saudara kami diminta datang lebih awal. Acaranya akan dimulai setengah delapan nanti.

Setelah memastikan mengunci seluruh jendela dan pintu, aku lekas menuju mobil Bang Jul yang masih dipanaskan lalu masuk ke mobil. Perlahan mobilpun meninggalkan halaman rumah, membelah jalan raya, untungnya hari Minggu jalanan sedikit lenggang tidak semacet hari-hari biasa.

Pukul 06 lebih 29 kami tiba di rumah Wak Neni. Anak-anak Wak Neni terlihat sudah rapi dengan seragamnya.

"Ya ampun, Jul kamu ini kayak bukan keluarga aja gak mau seragaman dengan kita," ketus Teh Kinan begitu kami turun dari mobil.

Bang Jul hanya tersenyum, tidak menanggapi mungkin sudah lelah mendengar ucapan-ucapan unfaedah tersebut.

"Bang, sini Bang!" ajak Dimas begitu melihat kami masuk. Bang Jul pun melangkah mendekat ke arah Dimas, sementara aku dan Al mengekor di belakang.

"Udah sarapan belum? Ayo Bang, Teh sarapan dulu!" ajak Dimas ramah. "Al mau makan apa?" Tak lupa Dimas menawari Al.

"Kita udah kenyang, tadi udah sarapan," jawab Bang Jul.

***

Selesai bersiap-siap kami pun berangkat ke gedung yang sudah di sewa, yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah Wak Neni.

Mobil pengantin pun sudah datang menjemput calon mempelai wanita. Rena terlihat cantik dengan balutan baju adat Sundanya.

"Jul, Aa' ikut mobil kamu aja ya!" ujar A' Firman.

"Oh, iya A'," jawab Bang Jul tak bisa menolak, jika A' Firman ikut satu mobil dengan Bang Jul itu artinya Yuni juga ikut. Astagfirullah, aku tidak boleh suudzon, buang jauh-jauh pikiran negatif.

"Aa' ikut mobil kamu ya Jul," ucap A' Ramdan.

Ya ampun, memangnya mau kehutan pada mau ikut ke mobil Bang Julian semua, nanti kalau kena tilang gimana?

"Em, maaf A'! A' Firman udah lebih duluan," jawab Bang Jul.

"Udah, Firman sama Yuni ikut mobil Kinan aja, Aa' males kalau satu mobil sama Tetehmu, cerewet," jawab A' Ramdan.

Tanpa aba-aba lagi, A' Ramdan pun menerobos masuk ke mobil tidak peduli kalau A' Firman sempat protes dan akhirnya mengalah. Di sisi lain aku merasa lega karena tidak harus satu mobil dengan Yuni, karena aku merasa akan terasa canggung.

Perlahan mobil mulai meninggalkan kediaman Wak Neni.

"Jul, juga Dela. Aa' sama Teteh minta maaf ya soal yang tempo hari. Doakan Aa' setelah Rena menikah nanti Aa' beneran dapat kerja," ucap A' Ramdan.

"Iya, A' Jul sama Dela juga minta maaf, Amin semoga saja ya A'," jawab Bang Jul sembari tetap fokus pada kemudi.

"Em, jadi benar A' kalau untuk biaya pernikahan Rena Uwak pinjam online?" tanya Bang Jul.

"Iya, Jul soalnya gak ada pilihan lain, itu juga Aa' yang ngusulin."

"Terus nanti bayarnya gimana?"

"Nanti kalau acara nikahannya, Rena udahan dan dapat amplop banyak sebagian di cicil, sebagian lagi kalau Aa' udah beneran kerja seperti yang dibilang, Rena," jawab A' Ramdan dengan penuh rasa yakin, dan percaya diri.

Arahan dari tukang parkir tempat acara menghentikan percakapan antara Bang Jul dan A' Ramdan. Selesai memarkirkan mobil kami pun segera turun.

Tempat acaranya memang terlihat megah seperti impian, Wak Neni. Entah habis berapa biaya yang dikeluarkan, tadi baik aku ataupun Bang Jul tidak sempat bertanya lagi soal biayanya setelah pembahasan sumbangan kemarin.

Gedung pernikahan yang di sewa, bersebelahan dengan masjid. Jadi, sebelum resepsi terlebih dulu calon pengantin mengadakan ijab qobul di masjid.

Para tamu undangan yang ku taksir seribu lebih terlihat begitu khidmat mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan seorang qori'.

Suasana mendadak menjadi hening, perasaan begitu tenang ketika hanya kalimat Allah yang terdengar menggema memenuhi pendengaran. Betapa kecil dan hinanya diri ini sebagai seorang hamba yang penuh alpa. Tanpa terasa air mataku mengalir.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an sesuatu yang ditunggu-tunggu tiba juga, hal yang mendebarkan bagi calon pengantin yang akan mengikat dirinya dengan ijab qobul. Andika calon suaminya Rena dengan lantang membacakan ijab qobulnya.

"Saya terima nikahnya Rena Putri dengan mas kimpoi tersebut tunai!"

Begitu mendengar ijab qobul yang di lafalkan Andika dengan lancar, serempak empat orang yang diminta sebagai saksi berucap 'sah' dan diikuti para tamu undangan yang mendengarkan.

Setelahnya para tamu undangan menadahkan tangan, demi mendoakan sepasang pengantin yang baru saja menikah agar menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.

Usai berdoa, Rena dan Andika nampak sungkeman dengan kedua orang tua mereka ada haru biru saat melihat keduanya memohon doa restu untuk kebahagian rumah tangga mereka kedepannya. Juga meminta maaf, dan mengucapkan rasa terima kasih kepada orang tua yang telah mendidik, merawat dan menyayangi mereka selama ini.

Acara masih terus berlanjut ke saweran dengan cara menghamburkan uang dan kupon hadiah. Setelahnya para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Namun, sebelumnya para tamu undangan juga dipersilahkan untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.

Mata Wak Neni begitu nampak berbinar, menerima ucapan selamat, apalagi jika diantara tamu ada yang langsung menyelipkan amplop.

Usai makan-makan, berlanjut lagi dengan rangkain acara adat lainnya. Nginjak telur, berebut ayam panggang, saling suapi nasi tumpeng dan hiburan lainnya.

Dua pasang sejoli bak raja dan ratu itu begitu nampak bahagia.

Acara pernikahan, Rena benar-benar terlihat sangat istimewa. Semoga setelah ini mereka hidup berbahagia.

Aku dan Bang Jul pun merasa bahagia melihat pernikahan Rena akhirnya berjalan dengan lancar tanpa halangan dan rintangan apapun, semoga begitu pun kehidupan mereka kedepannya selalu diberi kebahagian dan kemudahan dalam setiap langkah yang mereka jalani.

Juga harapan-harapan, setelah ini menjadi lebih baik lagi seperti harapannya A' Ramdan yang akan mendapat pekerjaan dan terlunasinya hutang setelah pernikahan ini.

Tidak ada harapan lain selain berharap, Tuhan melimpahkan segala kebaikan juga keberkahan atas menyatunya dua insan dengan ikatan pernikahan, dan juga hubungan keluarga semakin baik lagi.
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 16:10

Bagian 20: Pelajaran Berharga (POV Author)

Sudah satu bulan lebih sejak Rena menikah, keluarga Wak Neni sudah lama tidak menghubungi. Begitupun dengan keluarga Julian sibuk dengan masa depan mereka.

Namun, hari ini Dimas menghubungi Julian, mengabarkan kalau Wak Neni sudah dua hari dirawat di rumah sakit karena stroke.

Julian dan istri pun gegas menjenguk Wak Neni untuk melihat kondisinya.

***

Di rumah Wak Neni, anak-anaknya tengah berkumpul memikirkan untuk membayar biaya rumah sakit juga cicilan pinjaman online, ternyata setelah menikah, Rena sudah lama tidak ada kabar uang amplop yang di dapatkan di pernikahannya kemarin, diambil semuanya.

Wak Neni begitu pusing mendapati semua kenyataan itu, A' Ramdan pun masih saja menganggur ternyata suami Rena bukanlah pengusaha sukses seperti yang dibangga-banggakan, melainkan hanya seorang yang memiliki toko kain di sebuah pasar.

"Satu-satunya cara cuma rumah ini," usul Teh Kinan dengan wajah putus asa.

"Aa' ikut saja!" timpal Firman terdengar lemas.

"Saya juga." Ramdan ikut bersuara dengan wajah menunduk.

Mereka semua tidak ada lagi solusi, semua uang hasil pinjaman 100 juta habis untuk biaya pernikahan Rena.

"Kita bisa menjual rumah ini dengan harga 500 ratus juta," ucap Kinan. "Bayar hutang, biaya rumah sakit dan sisanya bisa kita bagi bertiga. Bagaimana apa kalian setuju?" lanjutnya.

"Saya setuju," Ramdan menjawab.

"Tapi, setelah ini siapa yang akan merawat, Ibu?" tanya Firman.

"Karena Aa' yang paling tua tentunya Aa' lah," jawab Kinan.

"Ya gak mungkinlah, kamu kan tau sendiri Yuni harus ngurusin Aurel yang masih kecil," jawab Firman.

"Kalau begitu, Ramdan saja!"

"Kalau sama saya juga gak mungkin, rumah saja gak punya. Baiknya sama Teteh saja! Tetehkan anak perempuan satu-satunya!"

Kinan nampak mendesah pelan, wajahnya terlihat geram. "Kalian gimana sih, dimana-mana orang tua itu tanggung jawab anak laki-laki."

Ponsel Firman berdering, sebuah panggilan masuk dari Dimas mengabarkan kalau Uwak kritis. Mereka pun tidak jadi melanjutkan perdebatan dan gegas berangkat menuju rumah sakit.

Tiba di sana ternyata, sudah ada Rena yang tengah menangis tersedu karena merasa bersalah kepada sang Ibu.

Setelah mendapat penangan dokter dan dipersilahkan masuk, keadaan Wak Neni mulai membaik meski belum bisa bicara.

Julian dan Dela, berpamit keluar karena ingin melaksanakan salat Zuhur begitu pun Dimas. Jadi tinggallah anak-anak Wak Neni.

"Mumpung ada, Rena soal yang tadi gimana kalau nantinya, Ibu ikut Rena saja. Dia kan juga belum punya momongan," usul Ramdan.

Rena nampak kebingungan mendengar perkataan Ramdan. Kinan pun segera menjelaskan.

Kini mereka saling berdebat soal, Ibu mereka akan tinggal dengan siapa jika rumah sampai di jual.

Dengan mata terpejam, ternyata Wak Neni mendengarkan itu semua. Air matanya mulai menetes tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari anak-anaknya, ia tidak menyangka kalau anak-anaknya berencana menjual rumah tersebut, dan lebih tak menyangka lagi diantara anak-anaknya tidak ada yang mau merawatnya.

"Ibu, juga jadi begini karena memikirkan kamu!" ucap Kinan, hingga membuat Rena tertunduk dalam.

Wak Neni kembali kritis, karena merasa syok mendengar percakapan anak-anaknya.

Mereka pun panik dan memanggil dokter.

"Bagaimana, Dok keadaan Ibu saya?" tanya Rena begitu lelaki dengan seragam serba putih itu keluar.

"Ibu Neni hanya perlu istirahat, tolong jangan diajak bicara dulu, nampaknya tadi dia syok," jawab Dokter bernama Ari itu.

Semua anaknya hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan sang dokter.

***

Keesokan harinya, Dimas berencana pulang karena ada sesuatu yang ingin diambil sementara di rumah sakit Julian kembali menjenguk dengan membawa makanan.

"Bang, Dimas titip Ibu dulu ya!"

"Sip, kamu tenang saja Abang pasti akan jaga Uwak. Bagaimanapun Abang sudah anggap Uwak sebagai Ibu Abang sendiri, soal biaya rumah sakit kamu jangan pikirkan, sudah Abang urus semuanya!" jawab Julian panjang lebar sembari tersenyum.

"Dimas gak tau harus bilang apa," Kedua netranya nampak berkaca-kaca karena begitu terharu akan perhatian Abang sepupunya itu.

Julian hanya tersenyum dan menepuk pundaknya seolah memberi kekuatan dan mengatakan tidak apa-apa.

***

"Apa kalian mau jual rumah ini?" tanya Dimas begitu mendengar rencana kakak-kakaknya yang tengah berkumpul.

"Ya mau bagaimana lagi, kita gak ada solusi," jawab Kinan santai.

"Gak, pokoknya Dimas gak setuju. Kalian juga tidak berhak jual rumah ini karena rumah ini bukan milik kita, tapi milik Bang Julian. Bang Julianlah yang berhak atas rumah ini!" tegas Dimas ke kakak-kakaknya.

"Julian sudah punya rumah, lagian itung-itung buat balas jasalah," Kinan kembali bersuara.

"Iya, Dim hanya itu jalan satu-satunya!" timpal Ramdan.

"Gak pokoknya saya gak setuju!" tegas Dimas lalu beranjak ke kamar Wak Neni mencari surat rumahnya.

"Dim, mau apa kamu?" tanya Kinan berang.

Dimas tidak memperdulikan ucapan kakak-kakaknya dan terus mencari surat rumahnya. Begitu ketemu ia langsung membawanya pergi dan menyerahkannya ke Julian.

Tentu saja hal demikian membuat kakak-kakaknya marah, karena tidak bisa menjual rumahnya juga tidak bisa bagi hasil dari penjualnnya. namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

***

Akhirnya keadaan Wak Neni mulai membaik, dan sudah diizinkan untuk pulang, meski masih harus kontrol sesekali.

"Jul, maafin Uwak ya, selama ini Uwak sudah jahat sama kamu!" Wak Neni terisak untuk pertama kalinya menyadari kesalahannya kepada Julian. "Del, Uwak juga minta maaf ya sama kamu!"

Julian dan Dela hanya tersenyum, tidak ada dendam di hati keduanya melainkan perasaan syukur karena Wak Neni akhirnya menyesali kesalahannya.

"Jul, dan Dela juga minta maaf ya kalau selama ini ada salah," ucap Julian sembari duduk mensejajari kursi roda yang tengah di duduki Wak Neni.

Pemandangan itu juga membuat anak-anaknya merasa tersentil hatinya dan meminta maaf pada Wak Neni juga Julian dan Dela.

Namun, Wak Neni masih nampak gelisah memikirkan cicilan hutangnya.

"Dimas tau apa yang membuat, Ibu khawatir," Dimas memperlihatkan layar ponselnya dan sebuah tanda bukti bahwa ia telah melunasi hutang-hutang, Ibunya. Ternyata selama ini, Dimas adalah seorang youtuber dengan membuat konten-konten islami khusus anak-anak muda.

"Maafin, Rena ya Bu. Gara-gara Rena Ibu harus menanggung ini semua." Rena terisak dengan membenamkan wajahnya dalam pangkuan sang Ibu.

Dengan wajah basah oleh air mata Wak Neni mengelus rambut putri bungsunya tersebut.

Anak-anaknya yang lain pun turut bersimpuh meminta maaf. Dan tidak lupa meminta maaf ke pada Julian dan Dela.

Seperti kata orang bijak, 'Tidak akan menjadi hina bagi mereka yang meminta maaf, dan juga tidak akan menjadi rendah bagi mereka yang memaafkan'

Tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang tiada cela. Sebaik-baik manusia adalah dia yang menyesali perbuatannya dan memohon ampun atas segala dosanya.


TAMAT


Agan-Agan dan Sista semua, ebook ini sudah terbit di PLAY STORE atau PLAY BOOK,

Kalau Gan dan Sis mau baca offline, bisa dibaca di sana.

Terima kasih dukungannya ya Gan, hehe.
Diubah oleh inayasri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gajah_gendut dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
KELUARGA SUAMIKU
25-07-2021 19:15
Emmmmmm
profile-picture
Rainbow555 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-gunung-kemukus
Stories from the Heart
sakti-wirajati
Stories from the Heart
elang-mataram
Stories from the Heart
si-anak-yang-kebingungan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
cinta-putri-khodam-mirah-delima
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia