Pencarian Tidak Ditemukan
KOMUNITAS
link has been copied
128
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60ec142963b5d3639e360143/aku-dan-bajingan-yang-berlagak-seperti-ayah
Menurutmu seberapa bermakna kah kata sampai jumpa lagi? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang.
Lapor Hansip
12-07-2021 17:06

Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah


Quote:Sinopsi : Menurutmu seberapa bermakna kah kata sampai jumpa lagi? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan bahkan saking dan ringannya banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku.

Suatu ketika takdir menuntunku menemui sebuah alur yang menjabarkan tentang seberapa beratnya makna kalimat sampai jumpa kembali.

Ini kisahku, kisah tentang bagamana caraku untuk memaafkan dan memberi kesempatan kedua


Quote:Akan ada beberapa sudut pandang dalam kisah ini, untuk mengetahui sudut pandang siapa yang tengah di terapkan pada sebuah chapter, silahkan lihat nama yang tertera setelah judul. Selamat membaca


Quote:

Daftar isi :

Story 1: A story about a farewell sentence

Kanaria

Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf

1. Ketika bajingan itu muncul

2. Pembuktian yang cukup gila

3. Matsurika

4. Sarapan yang terlalu pagi

5. Rahasia ibu

Epilog: Kesempatan kedua

Story 2: A painting, friendship and catastrophe that separates

Hestia

Prolog: Si kucel dan Srikandi

1. Rather be

2. Pertengkaran abadi

3. Pohon Kayu, Melati, Anggrek, Akashia dan Kenari

4. Masa lalu, masa sekarang dan masa depan

5. Tahta sang Hestia

6. Bunga untuk sang bunga

7. How to be the Necrommancer

8. Cinta bersemi di saat hati ini merana

9. Kelinci dan Kura-kura

Epilog: Hero

Story 3: A rhythm that changes everything

Kanaria

Prolog: Rockabye

1. Bagaimanapun lalat akan lebih menyukai sampah dari pada bunga

2. Sunyi

3. Jadi, aku adalah kakamu?

4. Now It's Time For Us To Go Home

5. Analogi Cabai dan Takdir

6. Eclair

7. Viva la Vida

8. Izin

9. Anugrah yang menjadi kutukan





1. A story about a farewell sentence



Prolog: Terima kasih jauh lebih menenangkanku dari pada maaf

Kanaria.

Namaku Kanaria, sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang dan memiliki arti kenari. Sampai sekarang aku tidak pernah tau mengapa ibu menamaiku demikian, bagaimanapun kenari terdengar seperti sesuatu yang kurang layak di jadikan nama karena hanya sedikit makna yang dapat muncul dari jenis kacang kesukaan tupai itu.

Ini lah kisahku, dalam mencoba memberikan kesempatan kedua untuk seseorang.

Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit, bulan pun masih bertenggger di angkasa memamerkan kemilaunya yang perlahan terlihat semakin sayu.

Suara alarm HP yang sangat bising berhasil membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP yang semalam memang sengaja aku letakan di dekat telinga, lalu mematikan alarm.

Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lumrah bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.

Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang yang masih berantakan ini, dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku pun beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Air yang tadi membasuh wajah ini sepertinya belum cukup untuk mengusir kantuk yang masih setia menggelantungi mataku, sekuat tenaga aku menahan hasrat untuk kembali berbaring dan memejam mata, karena masih ada tanggung jawab yang harus diri ini tuntaskan terlebih dahulu.

Tanganku mulai Sibuk bekerja memasukan bahan demi bahan ke dalam penggorengan. Menu yang aku masak sangat sederhana, hanya telur dadar, sedikit tumis toge sisa kemarin yang kembali aku hangatkan, lalu tahu. Aku menyajikan semua hidangan tadi di meja kemudian beranjak ke kamar ibu untuk membangunkannya.

Dia harus berangkat kerja sebentar lagi, mengemudikan busway dari halte ke halte demi menafkahiku. Rutinitas di luar kelaziman gadis SMA ini lah yang aku jadikan sebagai balasan dari kerja kerasnya. Memang apa yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan yang di berikannya selama ini. Aku hanya bisa mengurangi sedikit beban yang harus di pikul nya seorang diri, dengan menambah satu jam waktu tidurnya, serta jamuan pagi yang mungkin dapat menambah semangatnya saat bekerja nanti.

" Bu, bangun sudah jam setengah empat " Ujarku setelah memasuki kamarnya.

Wanita itu nampak tertidur dengan sangat pulas, sejujurnya aku tidak tega untuk membangunkannya sekarang. Tapi ada hal yang harus dirinya lakukan, jadi mau tidak mau aku harus tetap melakukannya.

" Bu, bangun " Ujarku sekali lagi sambil menggoyang-goyangkan badannya. Usahaku membuahkan hasil, ibu bangun dari tidurnya dan segera duduk.

" Pagi " Ujarnya sambil mengecup dahiku.

" Sarapan sudah siap, mandi lah setelah itu silahkan santap masakanku di dapur "

" Kana, maafkan ibu ya, Kau jadi harus bangun pagi-pagi sekali " Ujarnya sambil mengelus kepalaku.

" Bukan kah sudah berkali-kali aku katakan, hati ini akan jauh lebih senang jika kau mengucapkan Terima kasih dari pada meminta maaf. Aku melakukan semua ini bukan karena paksaan, melainkan balas budi terhadap orang yang begitu aku sayangi "

" Terima kasih Kana "

" Sama-sama " Ujarku sambil mengecup keningnya. Aku melakukan semua ini atas dasar sayang, bukan karena paksaan, Jadi tidak perlu sungkan " Nah, sekarang mandi lah. Aku akan menunggumu di dapur "

" Baik "

" Bu, berhenti lah menyalahkan dirimu sendiri. Kau tidak salah, sebab yang membuatmu harus menanggung beban seberat ini adalah pria tolol itu "

" Kana, jangan begitu. Bagaimana pun dia adalah ayahmu "

" Jika dia ayahku, maka pria itu seharusnya ada di sini mencarikan nafkah untuk kita dan tidak menghilang entah kemana "

" Kana "

" Cukup bu, segera lah mandi. Aku akan membuat kopi di dapur agar rasa kantukmu hilang " Ujarku sambil melangkah keluar kamarnya.

Berapa banyak kenangan indah yang kau miliki bersama ayah? Jika pertanyaan tersebut di ajukan padaku, maka lisan ini akan menjawabnya dengan ucapan " Tidak ada ". Karena Pria brengsek itu hilang begitu saja tujuh tahun yang lalu setelah menoleh kan luka besar ke dalam alur kehidupan kami berdua.

Dalam benakku, tidak ada satupun kenangan indah mengenai dirinya. Dia hanyalah sesosok pria kasar yang bisa dengan begitu ringannya menghantamkan tinju ke wajah ibu, sering mengamuk tidak karuan, dan tega membuat istrinya banting tulang demi menafkahi keluarga padahal hal itu merupakan tugasnya. Oleh karena itu aku sangat membencinya.

Walaupun sering di perlakukan dengan kejam, entah mengapa ibu tetap memilih untuk tetap bersabar. Dia selalu berusaha menenangkan ayah yang sedang mengamuk dengan cara lembut, lisannya pun selalu mengucapkan maaf saat tangan pria brengsek itu menghantam wajahnya tanpa sebab.

Aku tidak paham, mengapa ibu bisa bersikap seperti itu? Kenapa lisannya lah yang harus mengucapkan maaf saat ayah memukulinya. Padahal aku sangat yakin jika tidak ada satu kesalahan pun yang dirinya buat. Mengapa dia bisa begitu lembut ketika menangkan pria itu. Padahal, tindakan ayah sudah sangat layak di anggap sebagai pelanggaran HAM, dan dari semua itu, yang paling tidak aku pahami adalah kenapa ibu bisa tetap mencintai ayah dan mau bertahan dengannya.

Bukan kah yang mencari nafkah adalah ibu? Jika mereka bercerai, aku sangat yakin hidup ibu akan menjadi jauh lebih baik. Bagaimanapun, masalah ekonomi tidak akan pernah menghampirinya, karena sekarangpun dia lah yang mencari uang, bukan ayah.

Aku tidak pernah bisa memahami jalan pikiran ibu, selepas tubuhnya di hajar habis-habisan, dia selalu menghampiriku kemudian memeluk tubuh ini dengan begitu erat sambil berkata " Jangan pernah membenci ayahmu ya, dia sebenarnya adalah orang baik yang tengah berada dalam kebingungan ". Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa mengangguk, dan berpura-pura mempercayai ucapannya. walaupun hati ini sebaliknya. Apanya yang baik? Tindakannya bahkan jauh melampaui kekejaman iblis.

Entah ibuku yang terlalu berfikir positif terhadap sikap ayah, atau memang ucapannya merupakan kebenaran. Namun bagiku, kemungkinan pertama lah yang paling rasional untuk di percayai. Sikap ibu terus di manfaatkan oleh ayah agar dirinya bisa berbuat demikian, dan anggapanku tentang hal itu membuat diri ini kian membencinya.

Jika di sangkut pautkan dengan akutansi, pria itu hanyalah akun di bagian beban yang kian membengkak, sehingga kas yang di miliki ibu terus berkurang. Jika di hubungkan dengan Biologi, maka simbiosis yang terjadi antara ibu dan ayah adalah simbiosis parasitisme, salah satu pihak di untungkan sementara yang satunya lagi di rugikan. Jika ini matematika, maka ayah adalah bilangan minus, yang jumlah semakin banyak angkanya bukan bernilai semakin besar, melainkan semakin kecil.

Pria breksek itu hanya lah beban, tidak bekerja, tidak mengurusi rumah, dan tidak melakukan apapun, hanya duduk sambil sambil menghisap rokok sepanjang hari. Sampah masyarakat itu hanyalah parasit, yang terus menyerap kebahagiaan ibu dan menukarnya dengan penderitaan. Ayahku hanya lah bilangan minus yang kian hari semakin membuat ibu rugi.

kenapa orang seperti itu masih harus ibu beri makan dan tempat tinggal? Kenapa ibu tidak mengajukan cerai kepadanya? lalu menguris sampah masyarakat itu keluar dari rumah dan hidup bahagia bersamaku. Benakku terus bertanya-tanya akan hal itu, tanpa pernah berani mengutarakannya pada ibu, karena takut tanda tanya tersebut malah akan melukai hatinya.

Lima tahun yang lalu pria itu tiba-tiba menghilang, entah kemana dia pergi, tapi aku tidak peduli karena hal tersebut justru membuatku sangat senang. Akhirnya manusia tidak berguna itu pergi, andai aku memiliki nomor telepon sang maut, maka aku akan segera menghubunginya agar sosok tak kasat mata itu bisa segera menjemput ayah dan membawanya ke neraka yang paling dalam.

Ibu terlihat biasa-biasa saja saat suaminya itu pergi, dan baguku sikap yang di terapkannya sangat lah wajar, mengingat betapa kejamnya perlakuan si bedebah itu selama ini.

Aku tumbuh dewasa tanpa hadirnya sosok ayah, ibu memainkan peran ganda dalam membesarkanku. Peran ibu sebagai pemberi kasih sayang dan peran ayah sebagai pencari nafkah serta tempat berlindung bagi putrinya. Kehidupanku mulai terasa indah karena mata ini tidak perlu lagi menyaksikan ibu yang menahan rasa sakit saat di pukuli ayah.


Tidak ada lagi amukannya yang merusak rasa makan malam, tidak ada lagi bau asap yang memenuhi rumah saat dirinya sibuk menganggur, dan tidak ada lagi sosok pria yang membuatku selalu ingin menendang kepalanya.

Tujuh tahun berlalu, sekarang aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang tidak kekurangan apapun. Meski kami terbilang miskin, aku Tetap bisa bersekolah tanpa tunggakan SPP, tetap menjadi anak yang ceria walaupun secara tidak langsung aku termasuk anak yang mengalami broken home, dan tetap menjadi sosok yang tidak kurang kasih sayang, karena ibu selalu menuangkan kasih sayangnya padaku di sela-sela kesibukannya.

Bulan lalu, entah bagaimana mulanya tiba-tiba ibu mengajukan sebuah pertanyaan padaku, pertanyaan yang membuat lisan ini mengungkapkan tentang betapa bencinya aku pada ayah

" Kana, apa kau merindukan ayahmu? " Ujarnya. Pertanyaan tersebut nyaris membuatku tersedak lauk makan malam yang tengah aku kunyah kalau itu.

" Kenapa tiba-tiba ibu menanyakan hal itu? "

" Haha, ya bagaimana ya.. "

" Aku tidak tau apa kau sudah bercerai dengan pria brengsek itu atau belum. Tapi ada satu hal yang perlu ibu tau, aku tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya ayah, dan jika ibu ingin kembali menerimanya di rumah ini, maka aku akan langsung menendang kepalanya, kemudian minggat dari rumah ini " Ujarku yang secara reflek mengutarakan betapa bencinya diri ini kepada ayah.

" Tapi Kana dia ayahmu "

" Apa dia mencarikanku nafkah? Apa dia menjadi tempat bernaung bagi putrinya? Apa dia menulis kan kisah bahagia dalam alur hidupku ini? Aku rasa tidak. Ya, dia memang ayahku, tapi pria itu tidak menjalankan kewajibannya maka dia tidak layak menerima haknya dariku "

" Kana, sebenarnya ayahmu itu.. "

" Cukup " Aku menggebrak meja dengan sangat keras, emosiku begitu meluap karena ibu membahas pria tolol yang begitu aku benci itu " Begini saja, kau adalah kepala keluarga rumah ini, aku tidak punya hak untuk melarangmu membawa laki-laki itu kemari, silahkan ajak ayah tinggal di sini lagi, silahkan rujuk dengannya jika memang kalian bercerai. Tapi, jika kau membawanya ke sini, maka aku lah yang akan pergi. Pilih lah, aku atau dia "

Aku pun bangkit dari duduk dan segera melangkah meninggalkan dapur. Aku tidak percaya jika lisan ini benar-benar membentaknya, sial apa sekarang aku sudah menjadi anak durhaka? Semoga ibu tidak sakit hati dan mengutuk ku jadi batu. Maafkan aku bu, sungguh aku hanya tidak ingin kau kembali menderita.

Setelah itu ibu tidak pernah membahas ayah lagi, aku sempat meminta maaf padanya tapi seperti biasa justru ibu lah yang malah mengaku salah dan meminta maaf jauh kepadaku. Sejak saat itupun Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi mengungkit segala sesuatu mengenai pria itu.

Aku merasa sangat bodoh sekarang. Karena ternyata malah diri ini lah yang pertama kali membahasnya kembali. Kakiku melangkah dengan begitu beratnya ke dapur, hatiku tengah berada di dalam kondisi yang sangat tidak karuan, sekali lagi lisan ini membentak wanita baik hati itu.

Aku menunggu ibu di meja makan, setelah sepuluh menit berlalu ibupun muncul dan langsung ikut duduk. Tangannya mulai menyendok nasi dan lauk yang aku hidangkan, kemudian menyantapnya dengan begitu lahap.

" Bu, maafkan aku karena telah membentakmu tadi " Ujarku yang langsung mengutarakan rasa bersalah yang semula begitu nyaman bersarang di dalam hati.

" Terima kasih karena kau mau minta maaf, Kana " Ujarnya sambil tersenyum.

" Bagaimanapun aku tidak bisa memaafkan ayah, karena dulu dia selalu saja menyakiti orang yang begitu aku cintai ini "

" Ya, dia memang kerap kali menyarangkan tinjunya itu kepadaku. Tapi percayalah nak, aku tidak pernah bisa membencinya "

" Kenapa? "

" Akan panjang jika aku menjelaskannya sekarang. Ibu berjanji akan menjelaskannya padamu nanti. Intinya dia adalah pria yang baik baginsudut pandang ibu "

Aku tidak perlu penjelasan apapun, bagiku ibu lah yang terlalu memandang positif sifat ayah sehingga seburuk apapun perbuatannya ibu akan tetap menganggapnya baik. Tapi aku tidak mau mengutarakan pemikiran ini kepadanya. Sekarang aku hanya harus mengangguk tanda jika diri ini mengerti akan ucapannya dan menunggu malam nanti untuk mendengarkan ocehannya tentang ayah.

" Nah, sekarang saatnya bekerja " Ujarnya setelah melahap habis hidangan yang aku buat. " Masakanmu enak sepeti biasanya "

" Terima kasih "

" Oh iya, hari ini sepertinya ibu akan mendapat bonus. Jadi aku akan memberikanmu laptop " Ujarnya.

" Ayo lah bu. Dari pada untuk membeli laptop, lebih baik uang bonus itu ibu gunakan untuk membeli beras. Lagi pula aku tidak membutuhkan benda itu " Ujarku.

" Kana, aku tau kau kesusahan tiap kali mendapat tugas untuk mencari artikel di internet. Apa kau pikir ibu tega membiarkan putri ke sayangannya kesulitan? sementara dirimu terus melayaniku dengan baik? Kita memang tidak kaya, tapi untuk memenuhi kebutuhanmu, aku akan berusaha sebaik mungkin"

" Tapi "

" Mungkin aku hanya bisa memberikanmu laptop bekas. Tapi pergunakanlah benda itu sebaik mungkin, aku berjanji akan membelikannya untukmu sepulang kerja nanti "

" Terima kasih bu "

Sejujurnya hatiku merasa sangat senang, karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menyewa biling di warnet ketika ingin mengerjakan tugas sekolah yang mengharuskanku mencari artikel di internet. Semoga laptop itu tidak membebani nya karena sudah begitu banyak beban yang harus wanita ini tanggung.

" Kalau begitu ibu berangkat dulu " Ujar ibu sambil mulai beranjak dari dapur.

Aku menemaninya keluar rumah, membuka gerbang saat Ibu mulai mengeluarkan motornya dari ruang tamu. Ibu menyalakan motor, memakai helm dan bersiap untuk meluncur ke tempat kerjanya.

" Sampai jumpa lagi "

" Sampai jumpa lagi " Ujarnya sambil menancap gas motor. Wanita itupun pergi meninggalkan rumah.

" Hati-hati di jalan bu "

Di sinilah semua bermula....

Menurutmu, seberapa bermakna kah ucapan " Sampai Jumpa lagi " ? Mungkin bagi sebagian orang kalimat tersebut hanyalah rangkaian kata yang nilainya tidak lebih dari sekedar formalitas. Ucapan yang secara reflek terlontar saat kita mengakhiri kebersamaan, atau sebuah ujaran rutin yang selalu mengiringi perpisahan kita dengan seseorang. Kalimat yang begitu ringan untuk di ucapkan sehingga banyak orang yang tidak menyadari betapa beratnya makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, termasuk diriku

Langit begitu indah sore ini, lembayun merah yang biasa mengiringi terlelapnya Sang mentari sedang terlukis dengan begitu sempurna, sehingga sangat layak untuk di nikmati oleh para manusia yang mulai mengakhiri hari. Namun, apa yang aku alami di sore ini tidak lah sesempurna karya Tuhan yang berjudul kan " Rona sore hari " Itu.

Sialnya keindahan itu berbanding terbalik dengan alur takdirku. Salah satu rahasia langit yang bernama maut baru saja mengunjungi ibuku, sosok tak kasat mata itu menjemput ruh miliknya untuk kembali bersama ke langit dan menemui Sang Pencipta.

Ibuku telah tiada..
Pergi begitu jauh hingga upaya apapun yang diri ini lakukan tidak akan mampu lagi meraihnya.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sisinin dan 26 lainnya memberi reputasi
23
Masuk untuk memberikan balasan
stories-from-the-heart
Stories from the Heart
19K Anggota • 28.5K Threads
Halaman 1 dari 5
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
13-07-2021 07:43

1. Ketika Bajingan Itu Muncul

Kanaria

Sebuah truk mengalami rem blong dan
menabrak toko elektronik yang di dalamnya ada ibuku dengan kecepatan penuh. Tragedi itu pun langsung merenggut nyawa wanita yang sangat aku sayangi itu.

Aku tidak pernah menyangka jika pagi tadi merupakan pertemuan terakhirku dengan ibu. Aku tidak pernah mengira jika ucapan sampai jumpa kembali yang tadi lisan ini ucapkan tidak akan pernah terwujud karena bagaimanapun ibu tidak akan pernah kembali padaku.

Aku menagis terseduh seduh saat melihat jasadnya yang terbujur kaku di tengah ruang tamu rumah. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Mengapa tadi pagi aku tidak menolak saja tawarannya untuk membelikan diri ini laptop. Jika aku menolaknya mungkin ibu masih ada bersamaku dan tidak tertabrak oleh truk itu.

Aku terus menyalahkan diri sendiri, sambil menangis sekeras-kerasnya berharap Tuhan mengasihaniku kemudian memerintahkan sangat maut untuk menunda kematian ibu. Ruang tamu rumah kian ramai, banyak pelayat yang berdatangan hingga rumah sempit ini menjadi begitu sesak. Pak Rt yang merupakan kerabat terdekat ku terus menenangkan diri ini, sambil mengelus kepalaku dengan begitu lembut dan terus berkata " Ikhlaskan kepergian ibumu kana "

" Kana " Ujar pak Yusuf yang baru saja tiba di rumah, dia salah satu rekan kerja ibu yang ada di lokasi kejadian " Maaf aku agak telat, polisi memintaiku keterangan mengenai kejadian naas yang menimpa ibumu "

" Pak Yusuf, kenapa bisa jadi seperti ini? " Ujarku sambil menatapnya.

Pak Yusuf menghampiriku kemudian memberikan sebuah paper bagian berisi laptop sambil berkata " Ibumu menyuruhku memberikan laptop ini kepadamu "

" Ibuku? " Ujarku yang saat itu masih bergetar karena tidak menerima kenyataan yang harus diri ini alami.

" Saat dirinya terpental karena di hantam oleh truk. Dia masih tetap memeluk erat laptop ini, oleh sebab itu benda tersebut tidak rusak sedikitpun. Ketika aku menghampirinya, dia terus memintaku untuk menyerahkan benda ini kepada putrinya, padahal saat itu kondisi tubuhnya sangat lah parah "

" Bodoh, kenapa kau malah lebih mementingkan laptop ini dari pada nyawamu ? " Gumamku pelan.

" Dia menitip kan beberapa pesan untukmu, sebelum pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir " Ujar Pak Yusuf yang mananya mulai berkaca-kaca.

" Apa yang dia ucapkan? "

" Belajar lah dengan giat, aku mencintaimu dan....." Pesan pria itu membuatku semakin menangis, kenapa sempat-sempatnya dia mengingatkanku untuk belajar? Padahal dia sendiri sedang sekarat " Percayalah jika ayahmu adalah orang yang baik "

Aku terus memeluk laptop darinya itu, sambil memandangi jasadnya yang mulai di balut oleh kain kafan. Tadi ibu berjanji akan menjelaskan penyebab dirinya bisa selalu menganggap ayah baik, saat aku sudah siap mendengar ocehannya tentang pria brengsek itu, ibu malah harus pergi untuk selamanya dan memintaku untuk percaya jika pria itu adalah sosok yang baik di akhir hayatnya.

Aku tidak habis pikir, Mengapa wanita baik sepertinya harus meninggal dengan cara yang begitu tragis? Mengapa harus ibuku yang di jemput oleh sang maut lebih dahulu, padahal dia merupakan sosok yang sangat baik, kenapa bukan ayahku yang brengsek itu saja dan Mengapa dia masih saja berusaha meyakinkan diri ini jika pria itu adalah sosok yang baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebur terus berputar di dalam benakku.

" Kana, maafkan aku. Andai saja aku tidak mengantarnya ke toko itu, mungkin mamah tidak akan berakhir seperti ini " Ujar pak Yusuf sambil memulukku dengan begitu erat dan mulai menangis " Sekarang kau jadi sebatang kara "

" Semua bukan salahmu pak " Ujarku.

" Maafkan aku Kana "

Maut memang merupakan rahasia langit yang di jaga sangat erat oleh sang Maha Kuasa, bahkan tanda kehadirannya pun tidak di bocorkan sedikitpun oleh para penduduk langit kepada setiap manusia yang ada di bumi. Muncul secara tiba-tiba mungkin merupakan ciri khas darinya, sehingga banyak manusia yang tidak siap bertemu atau menerima dampak dari kemunculannya, termasuk diriku dan mungkin juga pak Yusuf.
" Pak, terima kasih karena telah menyampaikan amanah terakhir ibu kepadaku " Ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan agar pak Yusuf tidak terus menerus menyalahkan dirinya lagi. " Jika anda merasa bersalah, maka aku akan jauh lebih merasakan hal tersebut karena bagaimanapun, ibu tewas ketika berusaha mengabulkan keinginanku "

" Maafkan aku "

Tangis pria berusia empat puluh tahun itu perlahan mulai mereda, begitu juga dengan diriku. Rasa bersalah memang masih bersarang di lubuk hati ini, namun berlarut-larut dengan perasaan bersalah itu juga tidak akan membawakan hasil. Mungkin langkah pertama yang harus diri ini ambil setelah semua ini usai adalah berusaha memaafkan diri sendiri.

Para pelayat kian memenuhi rumah sempitku, lantunan ayat suci terus di kumandangkan oleh para hadirin, berharap iringan bacaan yang memang di gemari oleh sang Maha pencipta itu bisa mempermudah ibu ketika menghadapi alam baru yaitu alam kubur.

" Kau sudah tumbuh dewasa ya, Kana " Tiba-tina Seseorang memanggil namaku dari arah belakang, dan saat aku menoleh ke arah tersebut diri ini langsung merasa sangat kaget karena asal suara itu adalah lisan milik pria yang paling aku benci di dunia ini.

Ayah berdiri tepat di belakang punggung ini, matanya terpaku pada jasad ibu yang sudah siap di angkut ke tempat peristirahatan terakhirnya, pandangannya nampak kosong, tidak ada sedikitpun kesedihan yang terlihat di sana, seolah-olah kepergian ibu bukan kah sesuatu yang menyedihkan baginya.

" Apa yang kau lakukan disini " Ujarku dengan amat kesal

" Apa kah salah jika aku hadir di upacara pemakaman istri sendiri? " Ujarnya dengan begitu datar.

" Pergi, kau adalah orang yang dulu sering membuat ibuku menderita " Aku meneriakinya dengan begitu keras sehingga kami langsung menjadi pusat perhatian. Pak Rt yang semula tengah berbincang dengan para pelayat langsung menghampiri kami.

" Hoi, kau mengusirku dari rumah sendiri ? "

" Ini rumah ibuku, kau tidak memiliki hak apapun di sini jadi cepat pergi!! "

" Oh ya? Asal kau tau saja, sertifikat rumah ini menggunakan namaku, jadi aku lah yang memiliki rumah ini "

" Brengsek!! " Aku mengepal tinju dan langsung mengarahkannya ke perut bajingan itu, aku pun berhasil menyarangkan sebuah pukulan di perutnya.

" Kana, hentikan.." Ujar pak Rt.

" Apa kau sudah puas ? " Tanyanya

" Belum " Ujarku sambil mulai memukuli perutnya dengan sekuat tenaga.

" Apa ini sikap yang pantas untuk di terapkan pada acara pemakaman seseorang? " Ucapannya langsung membuatku sadar kalau aku sudah merusak kehidmatan prosesi pemakaman ibu. " Sekarang, apa aku boleh mendoakan istriku? "

Ayah melangkah mendekati jasad ibu, kemudian lisannya bergerak tanda jika dirinya tengah merapalkan doa. Entah mataku yang salah lihat atau memang ini kenyataan, ada beberapa air mata yang mengalir ke pipinya saat memandangi ibu.

" Kana tenangkan dirimu " Ujar pak RT sambil memenangi tanganku.

" Pak Roy, apa namuku masih ada di daftar penduduk Rt ini? " Tanya ayah kepada pak Rt.

" Tentu saja namamu masih ada pak Itsuki, mengapa kau menanyakan hal tersebut? " Tanya pak Rt.

" Kana, mulai sekarang aku lah yang akan merawatmu " Ujarnya dengan begitu santai. Ucapannya jelas membuatku kembali marah

" Apa kau pikir aku mau tinggal satu atap dengan sampah masyarakat sepertimu? "

" Oh, jadi kau mau apa setelah ini? Berhenti sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri lalu mengabaikan wasiat terakhir ibumu untuk terus belajar dengan giat? "

Ucapannya benar, aku memang belum memikirkan apa yang harus di lakukan setelah ini, memaafkan diri sendiri itu urusan hati, namun untuk urusan ragaku? jika aku sampai memilih jalan tersebut, maka ibu akan sangat kecewa ketika melihatku dari atas sana. Dilema pun muncul, tinggal dengan pria brengsek ini? Atau mengabaikan wasiat ibu?

" Terserah kau mau bilang apa, tapi aku sudah berjanji pada Ika untuk merawatmu jika sesuatu terjadi kepada dirinya " Ujarnya.

" Cukup! " Ujar pak Roy menghentikan perdebatan kami " Kalian bisa melanjutkan perdebatan ini usai bu Rika di kebumikan "

" Kau benar, maaf " Ujarku bersamaan dengan ayah.

Sial betapa bodohnya aku, malah berdebat di depan jasad ibu. " Maafkan aku bu "

Jasad ibu yang sudah di mandikan mulai di angkat ke mobil ambulace, ada begitu banyak orang yang hadir untuk menemui ibu untuk terakhir kalinya. Teman kerjanya, warga komplek, teman dan guruku dan masih banyak lagi.

Ibu adalah sosok yang begitu baik hati, sehingga kepergiannya membuat lubang yang mengaga di hati orang-orang yang dirinya tinggalkan. Banyak rekan kerjanya yang menangis tersedu-sedu sambil berkata " Mamah, kenapa kau pergi begitu cepat "

Mamah adalah panggilan untuk ibu di tempat kerjanya. Bagi sebagian orang di sana dia merupakan sosok yang sudah di anggap seperti ibu mereka sendiri. Dia selalu Memberi nasihat pada rekan kerjanya yang jauh lebih muda, menyemangati mereka yang lelah menghadapi dunia, serta menjadi motivasi tersendiri bagi para sopir busway yang memang mayoritas pria.

" Wanita sepertinya saja mampu untuk terus Berjuang, mengapa mereka tidak? ". Mungkin ungkapan seperti itu lah yang mereka bisikan dalam hati sehingga ibu layak di jadikan sosok panutan yang memberi banyak motivasi. Kegigihannya saat bekerja untuk menafkahi sang putri, membuat sopir lain merasa malu jika sampai mengeluh di hadapannya.

Ibu juga merupakan sosok yang sangat berarti bagi orang-orang di sekitarnya, maka wajar banyak yang menangis begitu keras saat jasadnya mulai di angkut ke pemakaman oleh mobil ambulan.

Ibu begitu peduli pada tetangga, dia juga aktif di PKK dan berbagai kegiatan Rt, banyak tetanggaku yang berkata jika kepergiannya akan sangat terasa. Tidak ada lagi sosok wanita yang begitu semangatnya memilih sampah plastik untuk di masukan ke bank sampah, tidak ada lagi sosok yang dengan begitu getolnya mengajak warga untuk kerja bakti, tidak ada lagi orang yang begitu sabarnya mendengar keluh kesah para ibu-ibu mengenai suami mereka sambil memberikan mereka beberapa saran.

Iring-iringan yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir sangat lah ramai, seakan-akan apa yang tengah orang-orang itu kawal adalah seorang pejabat, padahal dia hanya seorang supir busway yang baik hati.

Dulu ibu sering berkata " Kita terlahir dalam keadaan menangis, karena ruh yang ada dalam diri kita barulah beranjak dari alam lain ke alam dunia. Sementara itu orang-orang yang ada di sekitar kita akan tersenyum, karena akan ada satu manusia baru yang mewarnai hidup mereka "

Setelah menceritakan hal tersebut, ibu akan selalu mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku " Menurutmu, apa kah serakah itu perbuatan yang baik? "

" Tidak " Ujarku

" Ya, serakah itu adalah perbuatan yang buruk. Tapi ingat, ada satu keserakahan yang sangat di sukai oleh Tuhan, yaitu serakah dalam kebaikan. Jika di artikan secara simpel Hidup ini hanyalah tentang seberapa banyak orang yang tertawa bersama kita saat masih ada di dunia, dan seberapa banyak yang menangis saat kita pergi nanti "

Apa yang aku lihat sekarang adalah bentuk dari kesuksesannya dalam menerapkan arti simpel dari kehidupan yang sering lisannya ucapkan. Begitu banyak tangis yang mengiringi kepergiannya, dan sebagai mana yang aku tahu dia juga berhasil membuat banyak orang tertawa bersama saat nyawa masih melekat pada tubuhnya.

" Selamat bu, kau berhasil mewujudkan kata-katamu " Ujarku saat menemani jasadnya di ambulance.

Pesan tentang kehidupan yang dirinya berikan kepadaku tidak berhenti sampai di situ. Ibu juga sering mengatakan " Jadikan kehadiranmu sebagai penambah jumlah bilangan yang begitu besar di masyarakat, dan entah bagaimana caranya kepergianmupun harus menciptakan lubang besar yang mengaga di hati orang-orang yang kau tinggal "

Sekarang kepergianmu pun berhasil meninggalkan lubang besar di hati orang-orang yang kau jumpai. Aku, Teman-teman kerjamu, pak Rt, Pak Rw, ibu ketua PKK, pak Anton si penanggung jawab bank sampah, tetangga-tetangga kita, Sari si bungsu dari rumah sebelah, intan si sulung dari rumah depan gang yang sering curhat mengenai pacarnya, bahkan ayah. Di hati mereka sekarang terdapat lubang besar yang muncul setelah kepergianmu.

" Buat keadaan saat kita mati berkebalikan dengan keadaan saat kita di lahirkan. Semua orang menangisi kepergianmu, sementara kau tersenyum karena sang maut langsung menuntunmu kesurga. Ingat Kana, sosok tak kasat mata itu akan memperlakukanmu dengan baik jika timbagan kebaikan jauh lebih berat dari pada timbangan keburukan "

Itulah bait terakhir petuah yang lisannya sering ucapkan kepadaku. Ratusan bahkan mungkin ribuan kali aku mendengarnya, namun telinga ini tidak pernah merasa jenuh ketika rangkaian kalimat itu masuk dan tercerna oleh otakku.

" Selamat beristirahat dengan tenang bu " Bisikku dalam hati.


Komplek Pemakaman tempat ibu akan di kebumikan mulai terlihat dari balik kaca mobil ambulan yang aku tumpangi. Di mobil ini hanya ada aku, pak Rt dan si bedebah yang tiba-tiba muncul itu. Aku bersikeras agar ayah tidak ikut naik ke ambulan, bersamanya di sebuah lingkup kecil jelas membuatku sangat muak. Namun pak RT memintaku untuk menahan rasa benci ku terlebih dahulu, karena bagaimanapun ayah masih lah suami ibu, dan menemani sang istri menuju Liang lahat merupakan hak bagi seorang suami. Pada akhirnya akupun menuruti permintaan pak RT.

" Jadi, mulai sekarang kau lah yang akan merawat Kana? " Tanya pak RT yang memecah keheningan.

" Ya, aku lah yang akan merawatnya " Jawab ayah.

" Cih, apa kau pikir aku sudah sudi tinggal satu atap denganmu? " Ujarku dengan begitu kesal.

Sejujurnya aku masih ada di dalam sebuah diema. Apa yang harus diri ini lakukan setelah ibu meninggal? Meneruskan hidup itu pasti, tapi bagaimana caraku untuk melakukannya? Mencari nafkah sendiri merupakan sesuatu yang mustahil bagiku. Bagaimanapun orang-orang yang sudah mengantongi ijasah sarjana saja kesulitan mendapatkan pekerjaan di ibu kota, apa lagi diriku yang SMA saja belum lulus? Sementara itu di akhir hayatnya, ibu telah memintaku untuk terus belajar dengan giat, jika aku sampai mencoba untuk bekerja maka wasiat tersebut tidak akan pernah terjalankan dan dia pasti kecewa.

Aku tidak memiliki saudara di ibu kota, memang saat mengetahui kepergian ibu, ada banyak orang yang menawarkan diri untuk merawatku, tapi jika samapai hal tersebut terjadi maka secara tidak langsung aku akan menjadi beban tambahan bagi mereka. Kenalanku memang kondisi ekonominya mayoritas menengah ke bawah, jika ada satu orang lagi yang biaya hidupnya harus di tanggung, maka aku yakin mereka akan sangat terbebani. Bagaimanapun aku tidak mau menyusahkan orang lain.

Pilihan yang paling masuk akal saat ini adalah tinggal bersama bajingan ini. Hak asuhku sekarang sepenuhnya ada pada ayah, dia wajib menafkahiku mulai detik ini. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang apakah dia akan bertanggung jawab atas diriku? Sementara dulu dia tidak pernah sedikitpun mencarikan nafkah untuk ibu, sehingga wanita malang itu terpaksa bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.

Tadi dia memang berkata jika dirinya akan merawatku, apa ada maksud tersembunyi dalam niatannya itu? Apa mungkin dia hanya ingin menguasai rumah dan uang bela sungkawa dari kerabat ibu kemudian mengusir diri ini? Bagaimanapun gelagatnya terlihat seperti itu, dia muncul begitu saja saat istrinya telah tiada, mengaku akan merawatku padahal hal tersebut seharusnya ia lakukan sejak dulu sekali.

" Kana, bukan kah tidak sopan bicara seperti itu pada ayahmu? " Pak RT menegurku dengan begitu halus.

" Jika dia ayahku, seharusnya pria ini memenuhi kewajibannya, menafkahiku, tidak menyikasa ibuku dan menjadi tempat berlindung bagi diri ini. Kau tidak melakukan semua itu, jadi apa aku masih memiliki kewajiban untuk memenuhi haknya? "

" Apa maksudmu, bukan kah... "

" Maaf Pak Roy, bisa kita bahas ini nanti saja? Kasihan istriku karena harus mendengar perdebatan saat dirinya hendak di kebumikan " Ayah memotong ucapan pak RT.

" Seharusnya kau bersikap seperti itu dari dulu, bukan sekarang. Jika kau menjadi ayah yang benar dan mau mencari nafkah, maka ibu tidak akan berakhir seperti ini. " Aku membentaknya dengan begitu keras.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
13-07-2021 13:54
nice, lanjut terus.
profile-picture
Rebek22 memberi reputasi
1 0
1
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
13-07-2021 22:52
emoticon-coffee Sambil ngopi dimari
0 0
0
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
14-07-2021 08:49

2. Pembuktian Yang Cukup Gila

Kanaria

Menurutmu, apakah tugas dan peran dari seorang ayah? Mungkin secara garis besar tugas dari sesosok pria yang di nobatkan sebagai kepala keluarga itu adalah mencari nafkah. Namun jika di jabarkan secara terperinci terutama dalam konteks tugas dan perannya dalam membesarkan anak, Akan ada dua hal berbeda yang harus sosok itu lakukan karena cara membesarkan seorang anak laki-laki dan perempuan jelas berbeda.

Menjadi panutan dan contoh bagi anak laki-lakinya agar kelak dapat menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Menjadi tempat bernaung bagi anak perempuannya agar sang putri tau kemana dia harus menangis takala dirinya menghadapi paitnya dunia.

Quote:Menurut anda apakah tugas dari seorang ayah? Mungkin agan memilik pendapat lain?


Apakah dia telah memenuhi peran dan tugasnya kepadaku?


Sebenarnya hatiku terasa perih saat mengucapkan hal tersebut, bagaimanapun aku sedang berusaha mengkambing hitamkan ayah agar rasa bersalah yang bersarang di dalam hati ini berkurang. Bagaimanapun ibu tidak akan mati jika aku menolak tawarannya untuk membelikan diri ini laptop. Andai tadi pagi aku memaksanya untuk mengakomodasikan bonus yang dirinya dapat ke kebutuhan pangan kami, aku yakin ibu tidak akan pernah di hantam truk yang mengalami rem blong, karena ia tidak berada di toko elektronik itu. Sial, kenapa aku payah sekali.

" Itu memang kesalahanku, maka dari itu lisan ini hanya bisa mengucapkan kata Maaf kepadamu sekarang "

" Apa kau pikir kata maafmu itu bisa menebus semua kesalahan yang dirimu buat samapai saat ini? " Ujarku yang tetap mencoba menyalahkannya.

Bagaimanapun penyebab utama kematian ibu adalah bedebah ini. Jika dulu dia bekerja, maka ibu tidak perlu bersusah payah menjadi supir busway. Jika dulu dia menjadi ayah yang baik, mungkin ibu tidak perlu merasa terbebani karena tidak bisa membelikan anaknya laptop untuk belajar Karena bagaimanapun memenuhi kebutuhanku pada hakikatnya adalah kewajiban seorang ayah bukan ibu.

Dia lah yang salah, bukan aku. Aku sudah berusaha mengurangi beban ibu, maka wajar jika dia ingin memberiku hadiah. Tragedi naas yang menimpanya di toko elektronik itu bukan lah kesalahanku, melainkan kesalahannya. Aku yakin dia jahat, aku yakin anggapan ibu tentang kebaikan pria yang ada di hadapanku ini semuanya salah, dia bajingan yang memiliki maksud lain ketika hadir di pemakaman istrinya, aku yakin itu.

" Tentu tidak, oleh sebab itu ingin memohon padamu agar pria tidak berguna ini di berikan kesempatan kedua. Kana, jika kau bersedia memberiku kesempatan kedua itu, maka ayah berjanji, akan benar-benar membahagiakan hidupmu "

" Omong kosong, maka mungkin aku bisa percaya kepada bajingan yang tega membuat istrinya banting tulang demi mencari nafkah? "

" Apa yang harus aku lakukan agar kau bersedia memberikanku kesempatan itu? " Ujarnya dengan nada yang sangat serius.

Sesaat hatiku menagkap getaran keseriusan yang terkandung dalam ucapannya tadi, matanya menatapku dengan begitu tajam seakan dia benar-benar siap melakukan apapun agar diri ini mau menerimanya.

" apakah dia serius? " Sesaat ucapan itu muncul di dalam benak ini, namun aku langsung membuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Dia adalah orang jahat, pria ini lah yang menjadi penyebab utama tewasnya ibuku, jangan pernah percaya dengan ucapannya, jangan pernah berfikir untuk memberinya kesempatan kedua, keseriusan yang tadi dirinya pancarkan hanyalah omong kosong belaka, ya aku yakin itu.

" Bersujud lah, lalu jilati kaki ini dan biarkan aku menginjak-injak kepalamu hingga hancur " Aku mengajukan syarat yang mungkin tidak berprikemanusiaan kepadanya.

Aku yakin dia tidak akan mau melakukan hal tersebut, di mataku pria ini hanya sedang bersandiwara di depan Pak Roni. Aku yakin semua itu dia lakukan agar dapat membuat pak Rt percaya kepadanya dan mulai mendukung si brengsek itu untuk meyakinkan diri ini kalau dia adalah orang baik

Pria ini pasti hanya ingin segera menguasai apa yang ibu miliki, kemudian melakukan hal yang sama seperi dulu. Memukuliku dan memaksa putrinya bekerja sementara dia sibuk menganggur di rumah. .

" Aku bukanlah ibu, jadi jangan harap diri ini bisa dengan mudah kau perdaya dengan ucapan indah yang terus terlontar dari lisamu itu. Nah, sekarang cepat tolak permintaanku dan tunjukan sifat aslimu " Ujarku dalam hati

" Kana kau sudah keterlaluan " Pak Roy kembali menegurku.

" Maafkan aku bu, bagaimanapun wasiat ketigamu tidak akan pernah bisa aku penuhi karena Hati ini sudah sangat membencinya. Aku juga minta maaf karena membuat perjalananmu ke tempat peristirahatan terakhir di penuhi dengan bentakan. Aku berjanji akan melindungi semua yang kau tinggalkan dari tangan kotornya " Ujarku dalam hati.

" Hanya itu? " Tanya ayah.

" Ya, lakukan lah sekarang agar ibuku bisa menyaksikannya juga "

" Baik aku akan melakukanya " Ujar ayah sambil mulai bersujud di dekat kakiku. Tindakannya yang begitu tiba-tiba itu jelas membuatku sangat kaget.

Dia benar-benar melakukannya? Aku harus bagaimana? Awalnya diri ini sangat yakin jika ayah tidak akan mau melakukan apa yang tadi aku minta, diri ini tidak pernah menyangka jika yang terjadi justru malah sebaliknya, dia mau bahkan langsung melakukan permintaan gilaku itu. Apa yang sebenarnya terjadi? mungkin kah niat ayah untuk membahagiakanku di kesempatan keduanya itu nyata?

" Tidak, aku yakin ini bagian dari sandiwaranya " Ujarku dalam hati demi menguatkan tekad untuk membuatnya tau seberapa bencinya diri ini padanya. Namun, hatiku malah menjadi semakin bingung seiring dengan ayah yang semakin mendekatkan wajahnya ke arah kaki ini.

Aku melirik ke arah pak RT dan berharap pria itu segera menghentikan tindakan ayah, sayangnya beliau hanya diam dan terus menyaksikan aksi bajingan ini. Mungkin kah beliau juga merasakan getaran keseriusan yang tadi terpancar dari ayah? Sehingga membiarkan pria ini menunjukan kesungguhannya adalah pilihan yang beliau ambil sekalipun itu dengan cara yang agak ekstrim.

" Aku mohon, hentikan. Siapapun tolong aku, hentikan lah tidakan pria ini " Bisikku dalam hati.

Kontradiksi antara nurani dan dendam di dalam hatiku pun mulai terjadi. Aku ingin menjatuhkan harga dirinya dengan meminta pria itu melakukan hal gila, namun di sisi lain diri ini malah berharap bajingan ini segera menghentikan aksinya.

Sebenarnya apa yang aku inginkan? Memaafkannya atau memberinya pelajaran? Mana yang harus aku turuti, hasratku untuk menghajarnya atau bisikan hati yang meminta diri ini untuk memaafkannya? Mengapa diriku yang biasanya tegas dalam memilih malah menjadi plin-plan hanya karena sosok yang begitu aku benci ini? Kenapa amarah yang tadi sempat menggebu-gebu malah padam saat melihat tindakannya? Kenapa rasa bersalah malah muncul di dalam hatiku?

" Cukup " Ujarku sambil menghentikan ayah yang mulai menjulurkan lidahnya ke arahan sepatuku, entah mengapa air mata malah mengalir ke arah pipiku, apakah aku menyesal karena membuatnya melakukan hal yang tidak manusiawi itu? "Sial kenapa kau malah memperumit keadaan? Kenapa kau mau menuruti perintah gilaku begitu saja? Mengapa kau tidak bersikap sebagaimana yang benak ini bayangkan? Menolak permintaan ku dan mulai menujukan sifat jahatmu itu, Sungguh kau membuatku sangat bingung "

" Aku hanya ingin membuktikan keseriusanku kepadamu Kana " Ujar ayah yang masih menundukan kepalanya ke arah kakiku.

" Kenapa kau tidak melakukannya dari dulu, sebelum hatiku benar-benar membencimu, sebelum ibu tiada dan sebelum cermin yang menggambarkan keluarga kita itu pecah? "

" Seseorang akan terasa begitu berarti ketika dia hilang dari hidup kita, mungkin kalimat itu lah yang menggambarkan diriku saat ini. Aku terlambat menyadari tentang betapa berartinya ibumu dalam hidupku. Sekarang dia telah tiada sehingga aku tidak lagi bisa mengucapkan kata maaf padanya, sekarang dia telah pergi untuk selamanya, maka dari itu, diri ini tidak mungkin lagi mengungkapkan betapa besarnya penyesalanku selama ini terhadapnya " Ayah mulai menangis, nada bicaranya terdengar begitu berat seakan-akan ribuan penyesalan terkandung di dalam tiap kata yang keluar dari lisannya.


Hari ini merupakan kala pertama aku melihat sisi lain yang di miliki ayah. Sosok yang sekarang ada di hadapanku nampak seperti orang lain yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya, hal tersebut pun membuat benakku langsung di penuhi dengan pertanyaan " Apa kah memang seperti ini sifatnya? "

Sejujurnya aku tidak begitu mengenal pria yang beraada tepat di hadapanku saat ini. Seakan-akan ada jarak yang membentang di antara kami sehingga aku tidak pernah sekalipun mencoba untuk mengenalnya lebih jauh. Aku selalu merasa dirinya adalah orang asing dan menolak untuk memahami dirinya, sebab apa yang ada di dalam memori otakku hanya lah kenangan mengenai sifat kejamnya terhadap ibu, tidak ada yang lain.

Perilakunya terhadap ibu terlanjur membuatku sangat membencinya sehingga mind set mengenai segala hal yang berhubungan dengan dirinya hanyalah keburukan. Hanya ada beberapa hal yang diri ini ketahui tentang ayah dan salah satunya adalah sikapnya yang begitu tegas dalam memilih, sama seperti ku.

Pada dasarnya aku memang merupakan buah dari cinta antara ibu dan dirinya, artinya ada beberapa sifatnya yang mau tidak mau akan terwariskan kepadaku. Sekian tahun kami tinggal bersama entah mengapa baru akhir-akhir ini aku menyadari jika diri ini memiliki kemiripan dengannya dalam bersikap.

Sekarang kedua mataku menyaksikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh benak ini. Dia menangis dan nampak begitu menyesal, Rasanya akan sangat tidak masuk akal jika aku menganggapnya tengah bersandiwara saat ini.

" Hal yang lisan ini bisa ucapkan sekarang hanyalah kata " Andai " Dan " Jika ". Andai aku tidak terlambat menyadarinya, andai dulu aku membahagiakannya, jika saja aku dulu menjadi suami yang baik baginyabaginya mungkin dia tidak akan berakhir seperti ini "

Hatiku merasakan getaran penyesalan yang terkandung dalam tiap ucapannya tadi. dia sungguh-sungguh menyesali semua kesalahannya dulu dan aku mempercayai penyesalanyan. Maka dari itu diri ini memutuskan untuk memberinya sebuah kesempatan.

Sebenarnya bukan hanya dirinya lah yang nantinya akan mendapat sebuah kesempatan, akupun demikian. Sekarang lah saatnya diriku mengenal sosoknya jauh lebih dalam, ini merupakan kesempatan bagiku untuk mengetahui seberapa baik kah dirinya, aku akan mencoba percaya pada kata-kata ibu, dan mencoba mempersempit jarak yang membentang di antara kami.

" Aku akan memberimu kesempatan kedua, ya mulai saat ini aku akan mencoba mempercayaimu, walau begitu jangan pernah berfikir jika aku sudah memaafkan semua kesalahanmu "

" Terima kasih " Ujarnya sambil menundukan kepalanya, ada tetesan air mata yang terjatuh saat dia melakukan hal tersebut. Apa dia sangat senang karena pada akhirnya aku memberinya kesempatan kedua? Dan bolehkan aku mulai mempercayainya setelah semua yang mata ini lihat?

" Jika kau sampai melakukan hal yang sama seperti dulu, percayalah aku tidak akan segan-segan untuk menendang kepalamu "

" Aku menerima syarat darimu "

Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti, namun pada akhirnya mempercayai orang ini merupakan pilihan yang aku ambi. Apakah dia akan menepati janjinya untuk menjadi sosok yang lebih baik ? atau malah sebaliknya? Entah lah, biar waktu yang menjawab semua itu.

Sisa perjalan kami ke pemakaman terasa begitu sunyi, ayah tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara pak Rt terlihat sedang mengelap matanya yang berair, tadi dia sempat mengatakan jika dirinya terharu dengan pengakuan ayah dan kedewasaan ku saat bersikap.

Aku memandangi keranda mayat yang di dalamnya terdapat jasad ibu. Dulu wanita baik hati itu pernah jatuh hati pada pria yang selalu aku anggap bajingan ini, Kira-kira apa yang membuatnya begitu mencintai ayah? Ah, cinta memang selalu terlihat rumit.

" Bu, sekarang aku telah memutuskan untuk mempercayai kata-katamu. Aku akan berusaha mengenal ayah, jika memang segala tindakan kejamnya terhadapmu dulu memiliki sebuah maksud tersendiri, maka aku akan berusaha mencari taunya. Sekarang, beristirahat lah dengan tenang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pangerankodo353 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
15-07-2021 13:51

3. Matsurika

Kanaria

Akhirnya kami tiba di gerbang kawasan pemakaman, sang supir segera memarkirkan ambulance di depan gerbang, pak Rt langsung membuka pintu belakang mobil dan turun, ia pun menginstruksikan beberapa warga yang sudah tiba lebih dahulu untuk membantu menurunkan jenazah dari atas mobil.

Aku dan ayah turun setelah keranda ibu di bopong ke luar oleh warga, isak tangis pun mulai terdengar dari segala Arah, masa yang datang ke pemakaman ini sangat lah banyak, mereka adalah orang-orang yang merasa sangat kehilangan ibu dan mau mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Keranda ibu mulai di bawa menuju Liang lahat, saat kakiku melangkah mengikuti iring-iringan yang warga yang tengah membawa ibu, beberapa orang menghampiriku dan mengutarakan kesedihan mereka karena telah di tinggal pergi olehnya, setelah itu lisan mereka juga melontarkan beberapa kata guna memberiku semangat, sebagian dari mereka bahkan sampai memeluk tubuh ini sambil berkata

" Semoga kamu tabah, kana "

Ya, aku akan tabah, bagaimanapun terus hidup dan menebar manfaat bagi orang lain adalah salah satu hal yang ibu harapkan dariku. Beberapa orang juga mengajak ayah bicara, dan sama halnya dengan diriku, dia juga mendapat begitu banyak kalimat motivasi yang bertujuan untuk menyemangatinya.

Wajah ayah nampak datar ketika menerima kalimat-kalimat itu, matanya masih terlihat sembam karena sepanjang perjalanan tadi dia terus menangis. Aku tau dia sedang menahan kesedihan yang begitu mendalam, namun dirinya berusaha menutupi hal tersebut dengan ekspresi datarnya. Mengapa aku mengetahui hal itu? Jawabannya simpel, karena aku juga melakukan hal yang sama dengannya. Ini lah salah satu sifat yang dirinya wariskan kepadaku, tidak pandai mengekspresikan diri dan lebih memilih memendam kesedihan di dalam hati dari pada menampakannya kepada orang-orang.

" Kana " Seseorang memanggilku dari arah belakang. Akupun menoleh ke arah sumber suara itu dan mendapati tiga orang gadis tengah berdiri tepat di belakang diri ini. Mereka adalah sahabatku, Rani, Fany, dan Amelia, sepertinya mereka sudah tau mengenai kabar duka tentang ibu, dan langsung pergi ke sini setelah sekolah usai.

Aku mendapat kabar tentang tragedi yang menimpa ibu saat jam pelajaran siang berlangsung, salah seorang guru memanggilku keluar kelas dan langsung memintaku untuk ikut pergi dengannya menggunakan motor. Rani sempat bertanya kepadaku mengenai apa kiranya yang menyebabkan diri ini di panggil oleh seorang guru di tengah-tengah pelajaran. Saat itu aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala karena aku sendiri tidak tau apa penyebab guru itu memanggilku. aku tidak menyangka jika guru tersebut membawaku ke rumah yang sudah di padati oleh warga.

Setelah motor sempurna berhenti, aku langsung turun dan berlari ke dalam rumah karena merasakan firasat aneh yang sangat mengganggu hati ini. Setibanya di dalam aku mendapati tubuh ibu yang sudah terbujur kaku di tengah ruang tamu. Akupun menjerit dengan histeris karena tidak percaya jika kenyataan pahit harus aku Terima.

" Kana, yang sabar ya " Ujar Rani sambil memeluk tubuhku dengan begitu erat.

" Terimakasih Rani " Aku menanggapi ucapan Rani dengan ala kadarnya, karena sejujurnya lisan ini bingung harus bagaimana membalas kata-kata tersebut.

" Kami turut berduka cita " Ujar Amel yang matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

" Aku tidak percaya sekarang Mamah telah tiada " Ujar Fany, sambil membenamkan wajahnya di punggung ku dan mulai menagis. Mereka bertiga sangat dekat dengan ibu, ketiganya pun memanggilnya dengan " Mamah " Sama dengan rekan kerjanya di pull busway.

" Ya, akupun demikian " Ujarku.

" Mamah " Ujar Fany sambil mulai menangis.

Ketiganya sering mampir kerumahku sepulang sekolah, dan jika ibu kebetulan sudah pulang, maka kami akan melakukan banyak hal bersama dengannya mulai dari memasak, ngobrol, hingga menonton DVD. Mereka sama sekali tidak merasa canggung dengan kehadirannya malah terkadang ketiga gadis itulah yang mengajak ibu bergabung.

Di saat kebanyakan anak akan merasakan canggung jika salah satu orang tua temannya ikut berkumpul dengan mereka, kami justru sebaliknya, malah terkadang ketidak hadiran ibu membuat kami merasa sepi dan hal ini lah yang membuat sosok ibuku sangat berarti bagi mereka.

" Kana, kenapa orang baik seperti mamah harus pergi duluan. Kenapa sang maut malah merenggut nyawanya, bukan nyawa mereka yang gemar membuat keonaran di dunia ini, bukan kah takdir jadi terasa tidak adil? " Ujar Fany.

" Fany, apa kau tau? Arwah seseorang akan sulit menuju langit jika orang-orang yang di tinggalkannya belum ikhlas menerima kenyataan tentangnya. Ya takdir memang sering terasa tidak adil, tapi percayalah, Tuhan pasti menyelipkan sebuah makna dari kematian mamah yang nantinya akan membuat kita semua menjadi lebih baik. Maka dari itu, aku mohon, ikhlaskan lah kepergian ibuku " Aku mulai mengelus kepalanya dengan lembut.

" Maafkan aku Kana, seharusnya kau lah yang kami semangati, tapi aku malah... "

" Santai saja, kita ini kan teman "

Berat rasanya mengatakan hal tersebut karena pada hakikatnya akupun belum cukup ikhlas menerima nasip ibu yang seperti ini. Fany ada benarnya, mengapa harus ibu? Mengapa harus sosok baik hati itu?

Semoga hati ini dapat segera merelakannya, atau ibu akan menghalangi hambatan saat dirinya melangkah menuju alam baru.

" Kana.. " Ayah memanggilku, dia memberi isyarat jika sebentar lagi jasad ibu akan segera di masukan ke Liang lahat, akupun mengangguk tanda jika diri ini paham maksud isyaratnya.

" Si.. Siapa dia? " Tanya Amel.

" Dia ayahku " Aku menjawab pertanyaan amel. Mereka belum pernah meilhat wujud si brengsek itu, maka wajar jika ketiga sahabatku ini tidak mengenalinya.

" Ma.. Maksudmu laki-laki brengsek yang dulu sering memukuli mamah itu? " Tanya Rani.

" Iya, kau benar "

" Kurang ajar.... Mau apa dia di sini, beraninya dia membuat mamah menderita " Ujar Fany sambil mulai melangkah ke arah ayahku.

" Cukup Fany " Aku langsung menahannya dengan sekuat tenaga " Tolong, jangan buat prosesi pemakaman ibuku kacau "

" Ma.. Maaf Kana " Emosi Fany berhasil aku redam dan gadis itupun kembali diam.

" Kau tau, mulai sekarang aku akan tinggal bersamanya. Maka dari itu, bersikap baik lah dengannya " Ujarku sambil mengelus-elus kepala Fany.

" Ka.. Kau serius? " Tanya kegitanya nyaris bersamaan.

" Yup aku serius. Bagaimanapun aku belum bisa mencari uang sendiri, maka dari itu aku harus bergantung padanya jika tetap ingin hidup " Ujarku sambil melangkah mendekati tempat di mana ibu akan di istirahatkan untuk selamanya.

" Kana, tinggal lah bersamaku. Bagaimanapun aku tidak akan membiarkanmu tinggal bersama si breksek itu " Ujar Fany.

" Terima kasih atas tawarannya. Kalian tau, aku tidak mau menjadi beban bagi siapaun. Kalaupun ada, maka yang wajib aku bebani adalah ayahku. Maka dari itu aku akan tinggal bersamanya "

" Tapi, kau mungkin akan di perlakukan semena-mena, sama seperti ibumu dulu " Ujar Fany.

" Aku percaya dia sudah berubah. Oleh sebab itu, keputusan akhirku adalah memberinya kesempatan kedua "

" Tapi.. "

" Fany, kesempatan memang tidak datang dua kali. Tapi semua orang berhak menerima kesempatan kedua, jadi jika Kana sudah memutuskan hal tersebut kau tidak boleh mengganggu gugatnya seperti itu " Ujar Rani.

" Baik lah kalau begitu. Kana, berjanjilah padaku jika nanti dia tidak berubah, maka kau akan mengatakannya kepada kami " Ujar Fany.

" Tentu saja " Ujarku sambil melangkah mendekati Liang lahat ibu.
Sejujurnya, aku juga belum seratus persen yakin dengan keputusanku yang memilih untuk memberikan kesempatan kedua bagi ayah. Meski begitu, aku akan tetap mencobanya, bagaimanapun apa yang mata ini lihat saat di ambulance tadi membuat presentasi tingkat kepercayaanku kepada ayah meningkat, setidaknya angka yang menunjukan hal itu sekarang tidak lah nol.

Tindakan Fany yang begitu peduli kepada diriku jelas membuat hati ini merasa senang. Hidupku memang serba pas-pasan, ibu yang hanya seorang supir tidak bisa memberiku beragam kemewahan, bayangkan saja untuk membelikanku laptop bekas saja dirinya harus menunggu hingga bonusnya cair. Namun aku sadar akan satu hal, Tuhan tidak mengkaruniaku harta benda sebagai pewarna kehidupan, melainkan orang-orang yang begitu menyayangi diri ini.

Fany, Amel dan Rani adalah salah satu bukti dari karunia tersebut. Mereka senantiasa menemanimu menjalani keseharian yang di luar ke laziman seorang gadis SMA, ketiganya mau menemaniku di saat diri ini harus segera pulang untuk merapihkan rumah dan memasaka, bahkan mereka rela bermalam di rumah agar aku tidak sendirian jika ibu mendapat shift malam.

Perlahan, jasad wanita yang telah terbungkus kain kafan itu mulai di turunkan ke lubang tempat dimana dirinya akan beristirahat untuk selamanya. Isak tangis kembali terdengar dari para hadirin yang datang melayat. Ayah lah yang bertugas untuk menutup Liang lahat setelah tubuh ibu di baringkan di sana, setelah pria itu naik, tanahpun mulai diturunkan hingga pada akhirnya tertutup sempurna.

Pak Rt menghampiriku, lalu memberikan sebuah nisan kayu bertuliskan nama ibu. "Matsurika" Sebuah nama yang di ambil dari bahasa jepang, dan memiliki arti melati putih. Ibu sering bercerita jika dirinya sangat menyukai nama itu, melati adalah bunga yang begitu harum. Selain itu mahkota bunga itu miliki warna yang begitu putih layaknya sebuah salju sehingga kehadiranya selalu mampu memanjakan mata manusia.

Pak Rt mempersilahkanku untuk meletakan nisa tersebut di sisi makam. Akupun menurut dan segera melakukan apa yang dirinya minta, setelah itu beliau mulai memimpin para pelayat untuk menghaturkan doa kepada ibu.

" Selamat jalan bu, Sampai jumpa lagi " Bisikku di sela-sela doa yang lisan ini tujukan kepadanya.

Ayah mendekati makam kemudian menaburkan bunga dia atas gundukan tanah tempat ibu beristirahat untuk selamanya. Semua kelopak bunga yang jatuh mengenai makam ibu berwarna putih, dan aku sadar jika itu adalah melati. Aku sempat melirik ayah, apa dirinya sengaja memilih bunga itu? Mungkin kah ini bukti jika dirinya begitu kehilangan? Menghiasi makam sang melati dengan melati.

Proses pemakamanpun selesai, para pelayat mulai melangkah meninggalkan makam, hingga pada akhirnya hanya meninggalkaku dan ayah. Matan pria itu terlihat sembab, dia terus memandangi makam ibu, mulutnya diam seribu bahasa, mungkin dia tidak tau lagi bagaimana caranya mengungkapkan kesedihannya saat ini.

Apa yang harus aku katakan sekarang? Haruskah lisan ini menghiburnya? Dia dan aku sama-sama baru kehilangan sosok yang begitu berarti dalam alur kehidupan ini. Aku sudah mampu menerima kepergian ibu, namun bagaimana dengan ayah? Di ambulance tadi dia telah mengutarakan betapa besar penyesalan yang dirinya rasa ketika tau ibu telah tiada. Dia memiliki begitu banyak kata yang masih ingin di ungkapkan kepada ibu, namun kata-kata itu tidak dapat lagi tersampaikan karena batas yang memisahkan keduanya terlampau jauh.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk diam dan membiarkannya terhanyut dalam lamunan. Beberapa menit berlalu, ayah masih mematung dan belum juga mengatakan apapun. Pak RT terlihat menunggu kami di depan gerbang pemakaman, tadi dia sempat berkata jika kami bisa pulang ke rumah dengan menumpangi mobil yang di bawa anak sulungnya, di rumah pasti banyak tamu yang menunggu kami, termasuk Ketiga sahabatku itu.

Kira-kira berapa kali lagi telingaku harus mendengar kata " Kana, yang sabar ya " Dari lisan para tamu, sepertinya aku akan sibuk mengingat betapa banyaknya orang yang datang untuk melayat.

" Kana, ayo kita pulang " Ujar ayah tiba-tiba. Dia berbalik dan mulai melangkah menjauhi makam ibu.

" Ya, pak RT sudah menunggu kita " Ujarku sambil mengikutinya dari belakang.

" Apakah ketiga gadis tadi temanmu? " Tanyanya yang mungkin bermaksud basa-basi.

" Iya, mereka sangat dekat dengan ibu. Oleh sebab itu, kepergiaan nya menyisakan luka mendalam di hati mereka "

" Ibumu sungguh luar biasa "

" Ya aku tau itu "

" Aku berharap, suatu hari nanti kau akan menganggapku sama luar biasanya dengan dia "

" Ya, aku menunggu hal tersebut "
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pangerankodo353 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
16-07-2021 21:42

4. Sarapan Yang Terlalu Pagi...

Kanaria

Pagi masih lah berada di permulaan, mentari belum menampakan raganya di ufuk timur, sehingga gelap masih menjadi nuansa dasar dari warna sang langit. Suara alarm HP yang sangat Cumianan telinga membangunkanku dari tidur. Walaupun terasa agak berat, aku tetap berusaha membuka kedua mata ini, setelah itu meraih HP untuk mematikan alarm yang memang sengaja di atur dengan volume suara tinggi itu.

Mataku tertuju pada jam yang ada di layar HP. Sekarang masih pukul tiga pagi, waktu yang sangat tidak lazim bagi seorang gadis SMA untuk bagun. Bayangkan saja, ayam belum berkokok, bulan pun masih terlihat samar di langit, sementara aku sudah bangun dan memulai aktifitas, mendahuli sang penguasa siang yang mungkin baru bersiap-siap untuk memamerkan wujudnya nanti.

Aku bangkit dari kasur menguncir rambut panjang inj dan segera menuju kamar mandi untuk membasuh muka, berharap rasa kantuk yang masih menggelayuti mata ini bisa sedikit berkurang. Setelah itu aku segera beranjak ke dapur, menyalakan kompor dan mulai memasak sarapan. Tanganku mulai Sibuk bekerja, memasukan bahan demi bahan ke dalam penggoren. Entah mengapa ada sesuatu yang terasa janggal di tengah rutinitas pagiku ini.

Benakku terus memikirkan apa yang sebenarnya membuatku merasa aneh pagi ini sambil terus memasak, hingga sebuah pertanyaan akhirnya muncul dan membuat tanganku seketika berhenti bekerja. " Untuk apa aku memasak sepagi ini? "

Sial, karena telah menjadi rutinitas tubuh ini pun bergerak sendiri sampai-sampai aku melupakan satu hal penting. Orang yang seharusnya menyantap makanan ini, sekarang telah tiada, aku lupa jika kemarin lah kala terakhir aku bisa menghidangkan masakan kepada ibu di pagi hari.

Tiba-tiba air mataku mengalir " Siapa yang akan memakan hidangan ini? Bu, teganya kau membuatku bagun mendahului sang mentari, sementara dirimu tidak akan mungkin lagi menyantap hidanganku lagi "

Padahal aku membuat menu yang agak berbeda pagi ini, semur daging dan kentang yang mungkin bisa menambah semangatmu saat bekerja. kemarin sebelum aku berangkat sekolah, pak RT datang ke rumah dan memberikan kita sekantung daging kambing, dia berkata jika cucunya baru saja aqiqah, daging tersebut telah beliau presto sehingga aku tidak perlu repot lagi mengukus nya.

Aku ingin menjamu dirimu, sebagai ucapan Terima kasih atas hadiah berupa laptop yang kau berikan kepadaku. Hadiah itu telah sampai di tanganku, namun sosok yang seharusnya diri ini jamu justru tidak akan pernah hadir dan duduk lagi di ruangan ini.

" Kana, kau sudah bangun " Suara ayah tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Aku segera menghapus air mata yang semula menggenangi pelupuk mata ini, bagaimanapun aku tidak ingin pria itu tau jika putrinya tengah menangis. Aku tidak boleh menunjukan sisi lemahku kepadanya.

" Aku terbiasa bangun jam segini " Ujarku yang pada akhirnya memutuskan untuk lanjut memasak.

" Kau hebat nak "

" Aku peduli pada ibu, dia selalu berjuang demi diri ini. Maka dari itu entah bagaimanapun caranya aku harus bisa mengurangi bebannya walaupun sedikit. Hanya hal ini yang bisa aku lakukan, Bagun pagi hari menyiapkan segala hal yang dirinya butuhkan saat bekerja agar waktu tidurnya bisa bertambah walaupun hanya satu jam kemudian menjamunya dengan sarapan yang mungkin bisa menambah semangatnya saat bekerja "

" Ibumu pasti sangat bahagia karena memiliki seorang putri yang begitu perhatian kepada dirinya "

" Semua yang aku lakukan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dirinya berikan, namun aku tetap berusaha untuk tidak menjadi beban tambahan baginya. Tidak seperti dirimu yang malah pergi entah kemana setelah mengukir kan luka "

Aku merasa sangat bodoh karena malah kembali mengungkit hal yang seharusnya tidak diri ini bahas. Bagaimanapun Keputusanku untuk memberinya kesempatan kedua sudah bulat, maka dari itu akan sangat tidak etis jika lisan ini malah terus mempermasalahkan kesalahan yang pernah pria itu buat.

Nilai kebaikan seseorang tidak akan pernah bisa di temukan jika melihat menggunakan sudut pandang orang yang membencinya. Oleh karena itu, kebencian ku terhadapnya harus bisa mulai di redam, agar segala hal yang ada hubungannya dengan ayah tidak selalu menjadi kesalahan di mata ini.
" Kau benar Kana " Ujarnya sambil melangkah mendekati lemari es.

Aku yang merasa tidak enak hati pun sedikit melirik ke arahnya, dan mendapati raut wajah pria itu masih saja datar sama seperti kemarin. Dia nampak sama sekali tidak merasa terganggu dengan ucapanku yang pada dasarnya menghinanya habis-habisan, mungkin kah sebenarnya dia marah namun tidak mau menunjukannya kepadaku?

" Kau mau apa? " Tanyaku.

" Apa kau punya kopi? " Jawabnya sambil membuka kulkas.

" Duduk lah, biar aku yang buatkan "

" Aku tidak mau merepotkanmu kana " Ujarnya sambil terus mencari bungkus kopi di dalam kulkas.

" Aku malah akan semakin repot jika kau mengobrak-abrik kulkas seperti itu "

" Ah, maaf " Diapun menghentikan pencariannya.

" Duduk lah " Perintah ku sekali lagi.

Ayah pun menurut dan mulai melangkah menuju meja makanmakan. Sebenarnya aku tidak keberatan jika dirinya membuat kulkas berantakan, karena ibu pun sering melakukannya jika dia mencoba memasak. Aku ingin sedikit melayani ayah karena mulai sekarang dirinya lah yang akan menanggung hidupku, sebagai permulaan aku ingin membuatkannya kopi sambil menjamunya dengan hidangan spesial yang mungkin seharusnya di santap oleh ibu, yaitu semur daging ini.

" Kopi hitam? " Aku menanyakan jenis kopi apa yang ingin dia nikmati.

" Ya, tolong.... "

" Tambahkan banyak gula " Entah mengapa Aku langsung reflek meneruskan ucapannya.

" Iya, tolong " Ujar ayah dengan raut wajah yang terlihat agak terkejut.

Kopi kesukaannya ternyata sama seperti ibu, maka dari itu aku bisa langsung menebak berapa sendok gula yang dia ingin masukan ke dalam kopi hitamnya. Mungkin kah cara minum kopi ibu mengikuti ayah? Sepertinya persepsi tersebut ada benarnya juga, karena bagaimanapun mereka memang pernah bersama dalam kurun waktu yang cukup lama.

" Baik lah " Ujarku sambil mengambil kopi di laci bahan minuman, meraih gelas kecil yang biasa aku gunakan untuk menyuguhi ibu, menuangkan kopi ke dalam gelas kemudian merebus air di atas panci. " Apa kau mau sarapan? "

" Bukan kah masih terlalu pagi untuk sarapan? " Tanya ayah.

" Baik lah kalau begitu, katakan padaku jika kau mau sarapan agar diri ini bisa menghangatkan lauk " Ujarku sambil menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi kopi kemudian membawanya ke pada ayah.

" Terima kasih "

" Boleh aku duduk? " Tanyaku.

" Mengapa kau bertanya? Tentu saja boleh "

" Terima kasih " Aku segera duduk di seberangnya. Sejujurnya aku merasa sangat canggung saat berbicara dengannya, bagaimanapun tujuh tahun bukan lah waktu yang sebentar.

" Kana, bisa kah kau tidak begitu canggung terhadapku " Ayah bisa langsung menyadari apa yang aku rasakan, mungkin gelagatku benar-benar menunjukan hal tersebut. Wajahnya yang selalu terlihat datar benar-benar membuatku semakin canggung.


" Maaf, tujuh tahun sudah kau menghilang entah kemana. Maka wajar aku merasa canggung " Aku mengutarakan apa yang menyebabkan sikapku menjadi seperti ini.

" Jadi begitu " Ujarnya.

" Boleh aku menanyakan sesuatu? "

" Tentu saja "

" Kau tau, aku memang tidak suka berbasa-basi. Maka dari itu, jawab lah pertanyaanku dengan jawaban yang tidak bertele-tele " Ujarku yang malah seperti mengancam dirinya.

" Baik lah. Tapi hal tadi berlaku juga untukmu, ajukan pertanyaan yang tidak di bumbui basa-basi " Aku tidak pernah menyangkan jika ayah juga mengajukan syarat yang sama denganku. Sial, sifatku yang tidak suka basa-basi sepertinya berasal dari nya.

" Katakan kepadaku, kemana saja kau selama ini? " Aku mengikuti aturannya, tidak membumbui basa-basi pada pertanyaan yang di ajukan.

" Aku mencari uang untuk ibumu " Jawabnya pendek.

" Jangan bercanda, bukan kah sudah aku katakan untuk tidak bertele-tele dalam menjawab pertanyaan " Aku sangat kesal ketika mendengar jawabnya, sehingga tangan ini reflek menggebrak meja.

" Aku bicara apa adanya Kana "

" Jika kau memang mencari uang untuk menafkahi ibu, mengapa dia masih harus bekerja keras sebagai supir busway untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Jangan bercanda, jawab lah pertanyaanku dengan benar, kemana saja kau selama ini? "

Sekali lagi aku menggebrak meja dengan sangat keras agar pria bresek itu tau jika diri ini tidak sedang main-main. Namun ayah masih saja terlihat santai, dia malah menyerutup kopinya dengan perlahan.

" Jadi Rika belum menceritakan apapun kepadamu? " Ayah malah balik bertanya kepadaku.

" Menceritakan apa? "

" Kana, apa kau tau dimana ibu meletakan buku tabungan yang dirinya miliki? " Tanya ayah yang malah memabahas hal lain.

" Kau mau apa? Menarik semua uangnya lalu pergi meninggalkanku? "
Aku merasa sangat marah hingga tangan ini merasa sangat gatal dan ingin buru-buru memukulnya, kenapa dia malah menanyakan buku tabungan ibu? Apa memberinya kesempatan kedua merupakan pilihan yang salah? Apa selama ini yang dia incar adalah uang tabungan ibu?

" Kana, aku tau kau sangat membenciku. Ketika kau membenci seseorang maka dari sudut pandang manapun kau akan melihatku sebagai penjahat, maka dari itu aku memohon kepadamu untuk sebentar saja memadamkan api kebencianmu itu, dan mendengarkan penjelasan ku " Ujar ayah yang masih mempertahankan gaya santainya.

Dia benar, aku melupakan pertaruan pertama dalam memberikan kesempatan kedua bagi orang lain, yaitu meredam kebencian agar sudut pandang yang bisa di gunakan memiliki nilai ke rasionalan. Akupun menarik nafas panjang, agar dapat menenangkan hati yang semula bergejolak dengan begitu hebatnya.

" Maaf, sekarang katakan kepadaku mengapa kau ingin melihat buku tabungan ibu? " Tanyaku.

" Aku hanya ingin melihat nominal yang tertera di dalamnya "

" Baik lah, namun ada satu hal yang perlu kau ingat " Ujarku sambil bangkit dari posisi duduk.


Aku melangkah menajuhi meja makan dan mengarahkan langkah kaki ini ke arah rak peralatan dapur, kemudian meraih sebuah pisau dan menunjukannya kepada ayah. Bagaimanapun langsung percaya kepada sosok yang dulu tega memukuli seorang perempuan bukan lah pilihan yang tepat, maka dari itu aku meraih pisau ini untuk berjaga-jaga jika dia macam-macam.

" Baik, aku paham maksudmu " Ayah langsung mengerti maksud dari perbuatan ku. Dia pun ikut bangkit dari duduknya.

" Ikuti aku "

Aku menuntun ayah menuju kamar ibu, matanya terlihat memandangi foto-foto yang tertempel di dinding lorong ketika berjalan. Banyak foto tentang dirinya dan ibu di sana, saat mereka menikah, saat mereka berbulan madu, bahkan saat pertama kali dirinya menggendong ku ketika baru lahir.

Foto-foto itu seolah-olah menggambarkan kami merupakan keluarga yang bahagia, namun pada kenyataanya tidak sama sekali. Siapa yang akan menyangka jika laki-laki yang ada di foto-foto tersebut ternyata merupakan seorang bajingan?

Kami berdua pun tiba di depan kamar ibu, ada getaran tak biasa yang muncul di dalam hatiku. Rasanya baru kemarin aku membuka pintu kamar ini dan membangunkan ibu, tapi sekarang pemiliki ruangan ini justru telah tiada. Salahkah jika aku berharap jika ketika tangan ini membuka pintu kamar, sosok ibu akan nampak dan mengukirkan sebuah senyuman ke arahku?
" Maafkan aku Kana. Aku malah membuatmu langsung menuju kamar ini setelah kematiannya " Ujar ayah yang seolah-olah menyadari isi hatiku ini.

" Tidak apa-apa "

Akupun langsung membuka pintu kamar ibu, dan segera melangkah masuk ke dalamnya. Ruangan ini sudah aku rapihkan kemarin, maka dari itu keadaanya masih tidak jauh berbeda dengan biasanya, hanya saja ruangan ini sekarang menjadi tidak memiliki tuan.

" Masih sama seperti dulu " Gumam ayah. Wajar jika dia berkata demikian, karena bagaimanapun dulunya dia merupakan penghuni kamar ini.

Aku segera membuka lemari pakaian yang ada di sisi kanan ruangan, kemudian mengeluarkan berangkas besi yang biasa ibu gunakan untuk menyimpan barang-barang penting. Aku tau mengenai brangkas ini, sebab ibu selalu berpesan, jika terjadi sesuatu padanya maka aku akan tau di mana barang-barang penting ibu simpan.

Siapa yang menyangka jika hari yang di maksud ibu itu adalah kemarin? Aku segera memasukan rangkaian angka yang menjadi pasword berangkas itu. Ibu merupakan orang yang sangat hati-hati, maka wajar jika sampai buku tabungan dan kartu ATM dirinya masukan kedalam brangkas.


Aku pun meraih buku tabungan ibu, kemudian menyerahkannya kepada ayah. Aku tau nominal yang ada di dalamnya tidak begitu banyak karena pekerjaan ibu tidak menghasilkan uang yang berlimpah. Jika bajingan ini masih mau merampasnya, maka dia sudah tidak layak lagi di sebut manusia.

" Jumlahnya tidak banyak, dia bahkan sering minta maaf kepadaku karena khawatir tidak sanggup menguliahkan dirku " Ujarku sambil memandangi ayah yang sedang membuka buku tabungan ibu.

" Kau sangat memaksakan diri, Ika " Ujarnya sambil mengembalikan buku tersebut kepadaku. " Kana, di dalam brangkas itu masih ada buku tabungan lain. Bisa kah kau mencarikannya untukku? "

" Apa maksudmu? Ibu hanya supir bus way. Gajinya tidak banyak, untuk apa dia memiliki dua tabungan? "

" Percayalah padaku, pasti ada buku tabungan lain di dalam sana "

Aku tidak mau berdebat dengannya, maka dari itu diri ini pun menurutinya dan mulai mencari buku tabungan lain yang ayah maksud. Aku memang tidak pernah membuka brangkas ini sehingga diri ini tidak tau apa saja yang ada di dalamnya, walaupun demikian aku sangat yakin jika di sini hanya ada satu buku tabungan.

" Apakah ada? "
Baru saja aku ingin menjawab pertanyaannya, Tiba-tiba mataku terbelalak karena ternyata memang ada satu buku tabungan lagi di brangkas itu. Akupun meraihnya kemudian segera menyerahkannya kepada ayah. Mengapa ibu punya dua buku tabungan?

" Ika, kau sungguh sangat memaksakan diri " Gumam ayah saat dirinya melihat isi buku tersebut. Dia pun mengembalikan buku tabungan itu kepadaku, karena penasaran diri ini pun langsung membukanya dan mata ini nyaris terbelalak ketika mengetahui nominal yang tertera di dalamnya.

" Enam puluh juta? " Ujarku menyebut jumlah tabungan yang tertera di buku itu.

" Kana, apa kah kau tau jika ibumu itu mengidap sebuah penyakit berbahaya? "

" A.. Apa maksudmu? " Ujarku bingung.

" Dia memiliki penyakit mematikan yang sudah lama menggerogoti tubuhnya "

" Kau bercandakan? "

" Tentu tidak aku sedang bicara seirus. Bukan kah kau yang memintaku untuk tidak bertele-tele dalam menjawab pertanyaanmu?, sepertinya dia tidak pernah menceritakannya kepadamu "

Apakah ucapannya bisa di percaya? Ibu memiliki sebuah penyakit ? Dia bohongkan, mana mungkin ibu sakit, dia selalu terlihat sehat dan bugar. Bagaimana mungkin wanita itu sakit.

" Bercandamu sangat tidak lucu sialan " Ujarku sambil menodongkan pisau ke arahnya.

" Kau tadi bertanyakan kemana saja aku selama ini? Maka ini lah jawabanku, mencari uang untuk bisa menyembuhkanya. Apa buku ini tidak cukup untuk di jadikan bukti "

" Bohong, jangan pikir aku akan percaya padamu. Jika memang ibu sakit, mengapa kau meninggalkannya? Mengapa kau membiarkanya membanting tulang demi menafkahi diriku? "
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
17-07-2021 22:13

5. Rahasia Ibu.

Kanaria

Mencari nafkah merupakan tugas utama seorang ayah dalam sebuah keluarga. Tidak ada yang bisa mengganggu gugat hal tersebut, karena bagaimanapun Membanting tulang demi menjaga dapur rumah tetap mengepul merupakan hal yang wajib di lakukan oleh seorang ayah, maka wajar jika gelar kepala keluarga di sandangkan kepadanya.

Banyak ayah yang rela tidak makan agar dapat melihat anak istrinya kegirangan ketika melahap sebuah hidangan, banyak dari mereka yang berbohong dan berkata jika dirinya tidak lelah padahal keringan sudah memenuhi sekujur tubuhnya agar keluarganya tidak merasa khawatir.

Maka wajar juga jika banyak anak perempuan yang merasa jika sang ayah merupakan segalanya baginya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagiku, aku tidak mengidolakannya bahkan sering kali diri ini mencemooh nya, karena bagaimanapun dia tidak pernah mencarikan nafkah untukku.

Sekarang dia mengaku jika kepergiannya selama ini bertujuan untuk mengumpulkan uang agar bisa mengobati ibu, bukan kah hal tersebut terdengar seperti lawakan? Ibu tidak sakit, setidaknya itulah yang aku tau, dan mana ada orang yang mau percaya jika sosok bajingan itu pergi demi tujuan mulia sementara dulu dia lebih sering memukuli ibu daripada membuainya dengan kasih sayang.

" Aku tidak memintamu untuk percaya " Ujar ayah sambil mulai melangkahkan kaki menuju pintu kamar ibu " Aku hanya menjawab pertanyaan yang kau ajukan tadi "

Sejujurnya, aku merasa sangat kaget ketika tau jika ibu memiliki tabungan sebanyak itu. Rasanya tidak mungkin dirinya mampu mendapatkan nominal yang bisa mencapai tujuh angka mengingat gajinya yang tidak seberapa. Selain itu, dia juga harus membiayai diriku, sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menabung merupakan hal yang nyaris mustahil untuk di lakukan olehnya.

Lantas dari mana dirinya mendapatkan uang sebanyak itu? Apakah yang di katakan oleh ayah benar? Dia selama ini pergi untuk mengumpulkan uang agar dapat mengobati ibu, Sial kenapa jawaban yang paling logis hanyalah ucapan bajingan itu?

" Baik lah, aku mempercayai kata-katamu " Ujarku yang pada akhirnya memilih untuk mempercayai ayah.

" Syukur lah kalau begitu " Ujar ayah sambil terus melangkah ke arah luar.

" Jelaskan padaku semuanya " Aku menuntun penjelasan darinya.

" Bisa kita melakukannya sambil duduk? "

" Baik lah "

Akupun merapihkan kembali brangkas ibu kemudian mengikuti ayah kembali ke meja makan, setibanya di sana kamipun langsung duduk berhadapan. Aku sudah tidak sabar untuk mendengar penjabaran darinya, karena jika memang ibu memiliki sebuah penyakit yang menggerogoti tubuhnya maka diri ini akan merasa sangat bodoh karena sampai tidak menyadari hal tersebut.

" Aku bukan orang yang pandai bercerita, jadi silahkan tanyakan padaku apa yang menjadi tanda tanya besar dalam benakmu? " Ujar ayah.

" Penyakit apa yang di derita ibu? "

" Kanker "

" Sejak kapan ibu mengidap penyakit itu? "

" Lima tahun yang lalu "

" Apa kau memiliki bukti jika ibu mengidap penyakit tersebut ? "

" Di tempat tinggal ku, ada rekap medis yang di miliki ibumu. Jika kau mau, aku akan mengambilkannya hari ini "

Aku sempat tertegun mendengar ucapannya, raut wajahnya memperlihatkan suatu keseriusan yang tidak layak untuk di anggap sebagai kebohongan. Baik lah, aku percaya atas apa yang lisanya lontarkan. Sialnyax sekarang aku malah merasa sangat bodoh, lima tahun yang lalu? Sudah selama itu ibu mengidap kanker? Sial mengapa aku sama sekali tidak menyadarinya, Mengapa malah bajingan ini yang tau lebih dahulu?

" Mengapa kau tau ibu mengidap kanker? " Tanyaku lagi.

" Aku suaminya, bukan kah wajar jika diri ini tau? " Jawabnya dengan begitu datar.

Hal tersebut memang masuk akal, bagaimanapun ayah dan ibu tidak pernah bercerai. Wajar jika orang yang pertama kali ibu beritahu mengenai penyakitnya adalah ayah, bukan aku yang pada dasarnya tidak bisa melakukan apapun jika tau. Namun jika demikian, bukan kah itu artinya ibu tau kemana perginya ayah selama ini? Bukan kah artinya mereka masih saling berhubungan? Ah aku semakin tidak paham dengan semua ini.

" Jika dirimu tau kalau ibu mengidap kanker, mengapa kau tidak pulang dan malah membiarkanya kerja keras membanting tulang demi menafkahi diriku? "

" Setiap bulan aku selalu mengirimi kalian uang, untuk sekolahmu dan kebutuhan sehari-hari. Nominalnya lumayan banyak sehingga ibumu bisa menabungnya walaupun sedikit dan tabungan itulah yang aku maksud sebagai uang untuk mengobati penyakit nya. "

" Lantas, kenapa ibu masih bekerja? "

" Bukan kah seharusnya kau yang paling tau sifat dia? Keras kepala dan selalu menganggap segala hal merupakan tanggung jawabnya. Ibumu merasa jika penyakit yang di deritanya meruapakan tangung jawabnya sendiri. Sejujurnya aku baru tau dia bekerja akhir-akhir ini, saat kami bertemu aku sempat bertanya mengapa dia memaksakan diri bekerja, dan kau tau apa jawabannya? "

" Tidak "

" Uangmu akan aku tabung agar oprasiku bisa segera di lakukan. Urusan kana dan kebutuhan rumah biar aku cari sendiri, ya walau pun nantinya anak itu tidak akan mampu aku buat menikmati kemewahan "

" Mengapa kau tidak melarangnya melakukan hal tersebut? " Ujarku sambil menggebrak meja. Sial, aku kembali berusaha mengkambing hitamkan ayah, padahal Salah satu penyebab ibu memaksakan diri bekerja adalah aku.

" Sudah ratusan kali aku memintanya untuk berhenti bekerja setiap kami bertemu, namun karena sifat keras kepalaya itu, dia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Aku bahkan sudah menambahkan uang kiriman untuknya namun dia malah meminta untuk menghentikan hal tersebut "

" Tunggu, A.. Apakah kau sering bertemu ibu? " Entah mengapa lisanku langsung melontarkan pertanyaan tersebut. Bagaimanapun aku agak penasaran dengan perkataannya tadi, " Setiap kali bertemu"?

" Cukup sering, hampir setiap bulan aku mengajaknya makan malam dan bermalam di hotel "

" Bermalam di hotel? " Ibu memang pernah beberapa kali tidak pulang, dia berkaya jika dirinya harus lembur dan menginap di kantor. Hoi, mungkin kah itu hanya alasan?

" Yup, memangnya kenapa? "

" Kalian tidur berdua, kau pasti macam-macam dengannya, kau pasti memaksanya melakukan hal yang tidak senonoh " Wajahmu memerah karena membayangkan ibuku di tiduri oleh pria ini.

" Hoi, bagaimanapun ibumu memerlukan nafkah biologis " Ujar ayah datar.

Sial, mengapa dia bisa dengan santainya mengatakan hal tersebut di depan anaknya. Apa pria ini tidak punya malu?

" Sialan, beraninya kau " Ujarku sambil sekali lagi menggebrak meja.

" Kana, ternyata kau cukup polos " Ujar ayah yang sekarang terlihat seperti menahan tawa.

" Kenapa kau tertawa? "

" Bagaimanapun kau ada di dunia ini karena aku dan ibumu melakukan hal yang tidak senonoh "

Sial dia ada benarnya juga, bagaimanapun pria ini ayahku dan aku adalah buah cinta dari hubunganya dengan ibu. Mereka belum bercerai, maka wajar jika keduanya melakukan hal tersebut. Tapi mengapa mereka malah terlihat seperti menutupi hubunganya dariku?

" Ke.. Kenapa ibu tidak pernah memberi tahu ku akan penyakitnya? Jujur saja, aku merasa bingung, yang aku ketahui kau sudah lama pergi dari rumah, meninggalkanku dan ibu begitu saja. Namun kau berkata jika ibu sering menemuimu, kau pun mengaku jika setiap bulan dirimu memberinya uang. Lantas mengapa kau tidak pulang saja? "

" Kana, bukan kah kau yang dulu mengusirku? " Ujar ayah.

Ya, dulu memang akulah yang mengusirnya. Saat itu batas kesabaranku sudah koyak karena tidak tahan melihat dirinya memukuli ibu, kebencianku terhadapnya pun sudah sangat menggebu-gebu sehingga akal sehat ini sedikit bergeser dan menyebabkan diriku bertindak gila.

Aku ingat diri ini yang saat itu masih kecil segera berlari ke dapur saat melihat ayah mulai memukuli ibu di kamar mereka, setibanya di sana aku langsung mengambil pisau kemudian berlari kembali ke arah dimana ayah memukuli ibu.

" Berhenti memukuli ibuku!! " Teriakku sambil menodongkan pisau ke arahnya.

Ayah yang baru saja ingin memukuli ibu kaget ketika melihat ku membawa pisau, hal serupa juga terjadi pada ibu. Wanita itu terlihat merinding ketika mendapatiku yang seolah-olah ingin membunuh ayah.

Ibu sempat menenangkanku yang kalau itu sudah gemetaran karena berusaha menodongkan senjata tajam ke arah ayah. Namun tekadku sudah bulat, jika pria itu tidak berhenti menghajar ibu, maka apapun yang terjadi aku akan berusaha menusuknya dengan pisau ini.

" Pergi, aku tidak mau melihatmu lagi " Ujarku sekali lagi.

Aku ingat saat itu ayah akhirnya pergi, dan tidak kunjung kembali hingga saat ini. Ucapannya benar, aku lah yang mengusirnya dari rumah ini. Namun, apa kah itu penyebab utama dirinya tidak pernah muncul lagi di hadapan kami?

" Ya, memang aku yang mengusirmu. Bagaimanapun aku sangat ingin membunuhmu waktu itu "
" Ya itu hak yang wajar. Kala itu aku masih lah laki-laki yang brengsek "

" Apa kau tidak pernah kembali karena aku? Rasanya sangat tidak logis jika memang itu alasanmu "

" Untuk saat ini, cukup hal tersebut lah yang perlu kau tau "

" Mengapa begitu? "

Ayah hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaanku sama sekali. Mungkin kah, penyebab rumitnya hubungan antara ayah dan ibu adalah aku?

" Mengapa ibu tidak pernah memberi tahuku jika kau dan dia sering bertemu? "

" Dia berkata jika kau masih tidak sudi jika aku menginjakan kaki kembali ke rumah ini"

Dia benar, beberapa bulan yang lalu ibu sempat memabahas ayah, dan aku menolak mentah-mentah kehadiranya di tempat ini. Bagaimanapun aku menganggap dialah sumber penderitaan ibu, maka dari itu memunculkannya kembali dalam alur hidup kami merupakan hal yang sangat diri ini larang.

Namun setelah mengetahui kenyataanya aku jadi agak menyesal karena mengatakan hak tersebut.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pangerankodo353 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
18-07-2021 20:38

Epilog: Kesempatan Kedua

Kanaria

Quote:Kesempatan tidak datang dua kali, namun setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan kedua



Terkadang sesuatu yang kita lihat justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, maka dari itu mata, lisan, telinga dan hati harus senantiasa di gunakan secara bersamaan saat menanggapi suatu kejadian atau masalah.

Banyak orang bijak yang mengatakan bahwa suatu permasalahan tidak akan pernah selesai bahkan akan menjadi makin parah jika kita hanya menggunakan salah satu indra sebagai alat pemecah persoalan.

Apa yang kita lihat sering kali berbeda dengan yang telinga dengar, apa yang terlontar dari lisan sering kali tak sama dengan yang di rasakan oleh hati, apa yang kita dengar belum tentu apa yang kita katakan dan apa yang kita lihat tidak serta merta mampu di olah oleh hati.

Rasa benci membuatku benar-benar melupakan hal tersebut ketika menyikapi kepergian ayah. Hanya penglihatan ini lah yang aku gunakan untuk menilai dirinya sampai-sampai diri ini lupa jika menumpukan penilaian pada mata saja akan menuai kesalah pahaman.

Sekarang apa yang dulu mata ini lihat justru berbeda jauh dengan apa yang lisan ayah katakan. Aku bisa saja mementalkan perkataannya namun pria ini siap memberikan bukti dan kata-katanya pun masuk di akal sehingga akan sangat tidak rasional jika diri ini serta merta mengabaikannya.

Aku tidak pernah mempertanyakan kemana perginya ayah selama ini, sehingga persepsi burukku terhadapnya kian tumbuh dan berhasil menuai kesalahan pahaman besar. Walaupun masih banyak tanda tanya yang muncul dalam benak ini, aku mulai menyesali tindakanku yang selalu membencinya dan bersikeras menolaknya untuk kembali. Mungkin kah hal ini yang ingin ibu ceritakan kepadakukepadaku kemarin?

Sial, takdir memang tidak bisa di tebak, ketiak lisan wanita yang paling aku sayangi itu ingin mengungkapkan sebuah kebenaran, sesuatu malah terjadi kepadanya sehingga dirinya bungkam dan tidak mungkin lagi mengatakan apapun. Alur yang di pilihkan Tuhan justru lebih ekstrim karena dia menghadirkan langsung orang yang ingin di bicarakan di hadapanku dan lisannya lah yang justru mengungkap kebenaran.

" Jadi kau tidak pernah kembali ke rumah karena aku? Sungguh aku minta maaf karena itu " Ujarku dengan nada lirih.

Aku jelas merasa sangat bersalah, karena pada dasarnya yang membuat mereka terpisah adalah diri ini. Ibu mungkin sudah lama memaafkan ayah, karena pria itupun sepertinya sudah berubah. Pria itu berhasil mendapatkan kesempatan kedua dari wanita yang begitu dirinya cintai, maka wajar jika ibu berusaha membuka hatiku agar mau memberinya kesempatan kedua.

Sialnya, aku tidak pernah mencoba untuk membuka hati ini kepada ayah. Kebencianku membuat diri ini melupakan sebuah prinsip yaitu kesempatan tidak datang dua kali, namun semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Semua orang berhak mendapatkanya, bahkan manusia bisa hidup di bumi ini merupakan bentuk kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepada adam setelah dirinya memakan buah khuldi. Bukan kah sangat arogan jika manusia yang merupakan tempat salah dan lupa justru enggan memberikan kesempatan kedua bagi orang lain?

Ayah telah menunjukan keseriusannya untuk berubah, dia bahkan menyesali perbuatan kejam yang selama ini diri-Nya lakukan kepada ibu dan mata ini pun telah melihatnya sendiri, betapa menyesal nya pria itu ketika sang pujaan hati tiada.

Mungkin dia dulunya dia memang merupakan sesosok bajingan, namun daratan yang begitu besar dan kokoh pun bisa berubah, apa lagi manusia. Ya, dia telah berubah sejak lama. Maka dari itu aku berani memberinya kesempatan kedua, walaupun agak telat.

" Kau tidak salah Kana, aku lah yang membuatmu begitu. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri " Ujar ayah

" Kau tau, andai saja aku lebih awak memberimu kesempatan kedua. Mungkin ibu tidak akan berakhir seperti ini, jika saja dulu aku mencoba sedikit saja membuka hati ini untukmu lalu kau pun bisa pulang. Mungkin ada hal yang bisa kita lakukan agar ibu berhenti bekerja, mungkin kita akan menjadi keluarga yang bahagia, dan mungkin ibu tidak harus berakhir seperti ini " Tanpa sadar air mataku mengalir ke arah pipi.

Hati terasa sangat sesak ketika mengucapkan kata-kata itu. Semua salahku, kenapa aku sangat egois kala itu, menganggap cukup diri ini seorang lah yang mampu membahagiakan ibu. Kenyataanya, pemikiranku lah yang membuat semuanya berantakan, ibu harus menjalani hubungan aneh dengan ayah dan ayahpun tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan kenekatan ibu, sementara aku terbuai dengan asumsi egois yang mengatakan jika sumber penderitaan ayah adalah ibu.

Ayah terlihat bangkit dari duduknya, pria itu menghampirimu kemudian dengan begitu lembut tangannya mulai membelai rambut panjang ini. Aku pun mulai menangis, mentalku benar-benar ambruk usai menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanku.

" Kana, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri " Ujar ayah dengan nada yang begitu lembut.

" Tapi semua memang salahku... "

" Jika kau menganggap dirimu salah, maka harus bagaimana kah aku menganggap diri sendri yang pada dasarnya penyebab awal semua ini? "

" Jika saja aku menerimamu lebih awal... "

" Jika saja aku tidak berlaku kejam terhadap ibumu... "

" Maafkan aku, sungguh diri ini memang sangat egois kala itu "

" Kana " Ayah memeluk tubuhku dengan begitu erat, aku pun membalas pelukan tersebut dengan sama eratnya " Kau telah memberiku kesempatan kedua, maka aku akan melakukan apapun agar kesempatan tersebut tidak jadi sia-sia "

" Ya, aku mempercayaimu. Kau pasti atau mungkin sudah berubah menjadi lebih baik " Ujarku sambil di selingi isakan tangis.

" Kau tau, penyesalan tidak akan membuahkan apapun jika hanya di biarkan begitu saja. Namun lain ceritanya jika kita melangkah maju sambil menjadikan penyesalan tersebut sebagai sebuah pembelajaran " Ayah mulai menasehatiku.

" Aku pernah mengalami hal itu, terus berkabung dalam sesal, hingga pada akhirnya diri ini sadar jika yang bisa aku tuai setelahnya hanyalah kesia-siaan. Maka dari itu aku memberanikan diri untuk melangkah maju, tapi bukan berarti aku melupakan penyesalan itu begitu saja. Aku menjadikannya panutan, agar apapun yang aku lakukan tidak akan bermuara pada hal itu lagi. Maka dari itu, berhentilah menyesal dan mulai lah melangkah maju. Beri dirimu sendiri kesempatan kedua, agar setidaknya kau bisa memaafkan diri sediri " Lanjut ayah.

Aku yakin penyesalan yang ayah maksud tadi adalah sikap kejam nya terhadap ibu dulu. Ucapan Ayah Benar, dia adalah salah satu contoh orang yang berhasil berubah, dia tidak berkabung dalam sesal, dia melangkah maju sambil menjadikan kesalahannya sebagai sebuah kitab agar tidak lagi terjerumus dalam lubang yang sama.

Memberi kesempatan kedua bagi diri sendiri, hal tersebut tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Aku bisa memaafkan ayah dan mencoba memberikan kesempatan kedua kepadanya, lantas mengapa hal tersebut tidak aku berlakukan juga pada diri ini? Semua orang berhak mendapatkan kedua, termasuk diriku sendiri.
" Kau benar, aku tidak boleh terus berkabung dalam sebuah penyesalan " Ujarku sambil mengelap sisa-sisa air mata yang menggenangi pipi ini.

" Awalnya mungkin berat, tapi perlahan-lahan kau akan terbiasa dengan beban itu " Ayah melepaskan pelukan yang sendiri tadi membalut diriku, lalu tangannya kembali mengelus-elus kepala ini " Kau pasti bisa melakukannya Kana "

" Terima kasih atas sarannya ayah " Ujarku sambil berusaha mengukirkan sebuah senyuman.

Pria itu terlihat tersipu ketika aku memanggilnya " Ayah ". Mungkin ini pertama kalinya aku memanggilnya begitu setelah tujuh tahun lamanya. Sendari tadi aku hanya memanggilnya dengan kata ganti, akan tetapi rasanya sangat tidak sopan jika lisan ini terus memanggilnya begitu, bagaimanapun dia ayahku dan dia lah pria yang mau menerima ke egoisan diri ini.

" Sa.. Sama-sama " Ayah terlihat gelagapan saat menanggapi ucapanku.

Inilah kala pertama pria itu menunjukan ekspresi yang berbeda selain raut datarnya. Hasratku untuk tertawa segera membeludak, namun diri ini berusaha menahannya sekuat mungkin karena hal tersebut jelas akan merusah suasana.

" Hoi kenapa kau tertawa? " Tanyanya.
" Maaf, bagaimanapun tadi kau menunjukan ekspresi wajahnya yang aneh " Ujarku yang pada akhirnya tertawa.

" Hah, memangnya ekspresi wajahku se aneh apa? "

" Entah lah "

Ayah pun pada akhirnya ikut tertawa, dan suasana dapurpun langsung berubah dari penuh emosi dan ke canggungan, menjadi tawa dan kebahagiaan, jika seperti ini bukan kah kami terlihat seperti keluarga yang bahagia?

Sial, aku merasa sangat senang sekarang karena pada akhirnya kesalah pahaman yang terjadi di antara kami sudah terluruskan. Aku merasa sangat bersyukur karena kemarin memutuskan hal yang benar, yaitu memberikan ayah kesempatan kedua. Dari keputusan itu banyak kisah yang terungkap, dan banyak juga pembelajaran yang bisa aku tuai, dan dari pemberian kesempatan kedua itu, akupun mengerti jika diri ini sendiri butuh kesempatan tersebut juga.

" Ayah, apa kau mulai lapar? " Tanyaku setelah berhasil meredakan tawa.

" Lumayan "

" Baik lah, Mari kita sarapan "
Aku pun bangkit dari duduk dan segera menyiapkan sarapan, sekarang sudah pukul enam pagi, waktu yang tepat untuk sarapan. Maka dari itu aku segera menata semua lauk di meja, dan mempersilahkan ayah makan.

" Kana, apa rencanamu hari ini? " Tanya ayah sambil mulai melahap makananya.

" Entah lah, mungkin aku akan ke sekolah. Berdiam di rumah akan terus membuatku mengingat ibu "

" Kana, maafkan aku. Hari ini dan besok aku harus mengurus pekerjaan, jadi bisa kah kau menginap dulu di rumah temanmu? " Ujarnya sambil membungkuk tanda jika dirinya benar-benar memohon kepadaku.

" Haha kenapa sampai sebegitunya. Tentu saja aku tidak keberatan jika di tinggal di rumah sendirian, lagi pula ibu juga sering pergi hingga tidak pulang "

" Maafkan aku, karena tidak bisa menemanimu di saat dirimu memerlukan seorang teman "

" Santai saja... "

Aku masih bisa mengajak sahabat-sahabatku menginap, maka keperluannya yang memakan waktu dua hari itupun tidak akan memberarkanku.

" Ambil ini, uang sakumu. Pergunakan dengan bijak " Ujar ayah sambil meletakan tiga lembar uang pecahan seratus ribu di atas meja. " Apa kah kurang ? "

" Hoi, ini terlalu banyak "

Bagaimanapun ibu tidak hanya mampu memberiku uang saku sebesar tiga puluh ribu per hari. Bagiku itu cukup, makan siang dan ongkos perjalanan hanya menghabiskan dua puluh ribu, sisanya aku tabung untuk membeli benda yang diri ini inginkan. Aku juga memiliki penghasilan sendiri dari berjualan online, maka dari itu diri ini tidak pernah bergantung pada uang pemberian ibu.

" Sungguh? "

" Te.. Tetapi aku tidak keberatan menerimanya " Ujarku yang mulai tergoda oleh uang tersebut.

" Haha, wajahmu terlihat lucu "

" A.. Apakau akan selalu memberiku uang jajan sebanyak ini "

" Tentu tidak, aku memberi sebanyak ini karena kau akan aku tinggal sementara waktu "

" Huft "

" Ibumu bilang kau pandai dalam berhemat, jadi aku rasa lima puluh ribu per hari sudah cukup "

" Sepakat " Ujarku, ya Setidaknya uang sakuku naik sebesar dua puluh ribu.

" Aku akan berangkan pukul sembilan, bolehkah aku meminta kunci duplikat rumah ini? "

" Tentu saja, nanti akan aku siapkan "

" Oh iya. Soal buku tabungan tadi, aku harap kau menyimpannya dengan baik. Anggap saja semua itu warisan dari ika, agar kau bisa melanjutkan jenjang kuliah di kampus ternama "

Quote:setelah ini kita akan masuk ke sudut pandang kedua. Untuk sementara tokoh utama dalam kisahnya akan di ganti menjadi seorang gadis bernama Hestia.

Apa kah kisah ini akan saling berhubungan?anda lah yang akan memutuskan hal itu sendiri.

Selamat membaca.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pangerankodo353 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
19-07-2021 20:20

Hestia

Quote:kita akan beranjak ke karakter berikutnya. Setiap kisah dalam cerita ini memang awalnya terpisah-pisah, namun secara perlahan alur dari masing-masing kisah ini akan menyatu


Quote:mengapa kau tidak mau memaafkan, sedangkan kehadiranmu di dunia ini merupakan bentuk dari di maafkannya kesalahan pendahulumu?



2. A painting, friendship and catastrophe that separates



Prolog : Si kucel dan Srikandi

Apa kalian tau? Jika ada dua orang yang bertengkar hingga saling mengacuhkan sampai lebih dari tiga hari, maka langit akan senantiasa melaknat kedua orang tersebut sampai salah satu di antara mereka mengucapkan kata maaf.

Aku lupa mendengar ucapan tersebut dari siapa namun yang jelas diri ini belum mempercayai hal tersebut. Sebab bukan kah tidak rasional jika hanya karena perkara ucapan maaf, langit harus sampai membuat aturan yang sebegitu menyeramkannya. Namun pada akhirnya takdir menuntunku untuk menjumpa sebuahi alur yang nantinya akan membuatku memahami seberapa bermakna kata " Maaf " Dalam kehidupan ini.

Tempat salah dan lupa, mungkin begitulah para penghuni langit menyebut manusia, Salah satu maha karya Tuhan yang di gadang-gadang memiliki wujud paling sempurna. Setiap jam, menit bahkan detik manusia senantiasa melakukan kesalahan, baik itu yang di sengaja mau pun tidak, baik itu yang di sadari maupun tidak. Maka wajar jika meminta maaf itu merupakan hal penting yang harus selalu di lakukan oleh kita selaku manusia, karena bisa saja tanpa di sadari kita telah berbuat kesalahan dan menyakit hati orang lain.

Percayalah, sikap paling sombong dari seorang manusia adalah enggan meminta maaf dan menolak untuk memaafkan. Mengapa? Karena pada dasarnya kita bisa ada di dunia ini karena Tuhan berbaik hati untuk memaafkan manusia.

Adam dan hawa tanpa sengaja memakan buah khuldi, sehingga membuat Tuhan murka, karena bagaimanapun satu-satunya aturan surga kala itu adalah menjauhi buah tersebut. Keudanya pun memohon ampun kepada sang Pencipta dan menyesali kebodohan mereka yang termakan tipu muslihat iblis.

Sebagai bentuk kasih sayangnya, Tuhan pun menerima maaf pasangan tersebut. Kemudian memberikan hukuman kepada Adam dan Hawa yaitu turun ke bumi. Maka dari itu, kehadiran manusia di bumi ini merupakan bentuk dari di terimanya maaf seorang Adam.

Lantas masih layak kah seorang manusia menolak memaafkan dan enggan meminta maaf? Aku rasa tidak, dan Mungkin hal tersebut lah yang membuat langit membuat aturan ketat mengenai kata maaf tersebut.

Namaku Hestia, sebuah nama yang di ambil dari mitologi Yunai yang artinya dewi perapian. Perapian merupakan lambang dari kehangatan karena di hadapannya sebuah keluarga biasa berkumpul dan saling bencengkrama. Ibuku pernah mengatakan jika dia memberikanku nama tersebut karena berharapa kehadiran diri ini dapat selalu membuat suasana menjadi hangat.

Siang itu aku sedang melangkah riang menelusuri koridor lantai dua sekolah yang saat itu dalam keadaan ramai, bell penanda jam istirahat makan siang baru saja berbunyi, maka wajar jika koridor di penuhi oleh para siswa yang mulai asik bersenda gurau.

Beberapa dari mereka memperhatikanku, percayalah mata mereka bukan tertuju pada wajahku, karena memang aku tidak cantik, apa lagi tubuhku, serius, bagian tubuhku yang satu itu sangat jauh dari kata seksi, pandangan mereka tertuju pada benda yang aku bawa.

Saat ini tanganku tengah membawa sebuah benda yang di anggap sakti bagi seluruh siswa di sekolah ini. Apa yang saat ini aku pegang bukan lah sesuatu yang bernilai tinggi seperti emas atau berlian, melainkan selembar kertas atau lebih tepatnya sertifikat berukuran kertas A3.

Sertifikat ini di anggap sakti, karena hanya siswa terpilih lah yang bisa memeganggnya. Seperti yang aku bilang sebelumnya, ini adalah benda sakti karena ketika sertifikat ini ada dalam genggaman seorang siswa artinya dia merupakan seseorang yang berprestasi di suatu bidang.

Hadiah dari siswa berprestasi di sekolahku bisa di bilang merupakan sesuatu yang sangat berharga, karena untuk satu kedepan seluruh biaya sekolah akan di gratisnkan atau dengan kata lain di beasiswa kan.

Pekan lalu aku baru saja memenangkan sebuah lomba melukis tingkat nasional, dan tadi aku baru saja beranjak dari ruang kepala sekolah setelah menerima sertifikat dan hadiah beasiswa langsung dari pemimpin sekolah ini. Rasa senang jelas membanjiri hariku, maka dari itu sedikit memamerkan pencapaian kepada beberapa orang yang ada di sekolah merupakan hal yang diri ini lakukan selanjutnya.

Aku sengaja mengambil jalan memutar ketika melangkah menuju kelas, dengan harapan banyak mata yang terpukau dengan bukti prestasi yang sengaja aku pamerkan ini. Melukis memang merupakan keahlianku, maka dari itu banyak prestasi yang aku dapatkan dari bidang tersebut. Namun baru kali ini lah aku menjuarai tingkat nasional, dan menerima hadiah sebesar ini.

" Tia " Seseorang memanggilku dari arah belakang, akupun langsung menghentikan langkah kaki ini, lalu menoleh ke arah sumber suara.

Seorang perempuan terlihat tengah berjalan cepat menghampiriku, perempuan itu memiliki rambut pendek sebahu, wajahnya begitu cantik, dan tubuhnyapun sangat seksi, ah sungguh bertolak belakang dengan rupaku, dimanapun dia melangkah maka semua perhatian laki-laki akan segera tertuju padanya, serius respond orang-orang terhadapnya itu selalu membuatku merasa sangat iri, padahal aku sudah mengenalnya sejak lama.

Dia adalah sahabatku namanya adalah Zahra, gadis manis asal Bandung yang juga merupakan teman sekelasku. Aku mengenalnya sejak SMP, kami sangat akrab dan selalu bersama. Zahra pindah dari bandung ke Yogyakarta empat tahun silam, karena ayahnya ada urusan pekerjaan di kota kecilku ini.

Ayahnya membeli sebuah rumah yang letaknya berasa repat di samping rumahku, maka dari itu aku merupakan teman pertamanya. Percayalah Dulunya dia adalah gadis yang pendiam, hanya aku satu-satunya teman yang dirinya miliki. Namun siapa sangka, akan pendiam itu sekarang sudah berubah menjadi srikandi sekolah?

Aku memandangi wajah cantiknya yang entah mengapa mengukiran raut kesal. Akhirnya Zahra tiba di hadapanku, dia tidak langsung bicara karena nafasnya masih tengah-engah, setelah berusaha mengejarku tadi. Hah, dia memang payah dalam urusan fisik.

" Ada apa Ra? " Tanyaku bingung

" Hoi, kamu kemana saja? Jam istirahat ini, kita ada gladi resik tau " Ujarnya setelah berhasil mengatur nafas.

" Ah, aku malas ikut "

Pekan depan sekolah ini akan mengadakan pentas seni, siswa kelasku memutuskan untuk menampilkan paduan suara. Zahra lah yang di beri amanah untuk mengetuai penampilan itu, dia langsung di tunjuk oleh wali kelas karena memang pada dasarnya dia juga merupakan siswa berprestasi di bidang akademik.

" Tia, jangan begitu. Pentasnya akan di adakan minggu depan, maka dari itu kau harus hadir untuk latihan "

" Ayolah, akukan hanya figuran. Penampilan kelas kita juga tidak akan terhambat hanya karena tidak ada diriku "

" Apa maksudmu? Tentu saja ke tidak hadiranmu akan ada dampaknya "

" Berisik, apa dampak dari tidak adanya diriku? Bidang ku melukis bukan menyanyi, aku tidak mau jadi batu pijakanmu untuk menjadi lebih bersinar ketika memainkan peran solo "

Selain pintar, gadis ini memang memiliki suara yang sangat merdu. Bakatnya dalam menyanyi sudah terlihat sejak kami masih duduk di bangku SMP, banyak orang yang menikmati suaranya indahnya begitu juga aku. j

Sejujurnya aku bersikap seperti ini karena lelah terus di banding-bandinhkan dengannya oleh orang-orang sekitar. Bagaimanapun dia sudah di anggap sebagai seorang primadona yang serba bisa, bahkan dalam tatan kelas Zahra merupakan sosok yang menduduki tahta teratas sementara aku hanya gadis biasa yang sering berangkat ke sekolah dengan noda cat wajah.

Walau begitu aku masih sangat menyayangi gadis itu. Karena bagaimanapun dia sahabatku dan kehadirannya dalam hidup ini merupakan sesuatu yang terlampau berarti.

Para penduduk tahta teratas kelas sering mengolok-olok diriku, mereka menganggap diri ini sok dekat dengan Zahra, padahal pada dasarnya kami memanglah dekat. Mereka sering berkata anak kucel sepertiku merusak keindahan yang terpancar dari wujud seorang Zahra.

Yah aku tidak keberatan di anggap kucel, karena memang seragam yang aku kenakan kebanyakan memiliki noda bekas cat. Wajar bukan karena aku memang selalu berlatih melukis di manapun, lagi pula tidak salahkan jika seorang gadis berjuang keras demi meraih impiannya?

Zahra sering membelaku, namun tanggapan terhadap pembelaan sahabatku itu justru malah membuat hati ini tambah sakit, maka dari itu secara perlahan aku mulai menjauhinya. Tak apa, dia yang sekarang mungkin lebih cocok bergaul dengan para elit kelas ketimbang diriku.

" Mengapa kau bicara seperti itu? " Tanya Zahra dengan nada bicara yang agak tinggi.

" Ya karena memang itulah kenyataanya " Jawabku ala kadarnya.

" Bagaimana pun aku ingin berada satu panggung denganmu Tia, kau sahabatku "

" Aku akan ada satu panggung denganmu Zahra, tapi mungkin di bagian belakangnya karena saat pentas nanti diri ini lah yang bertanggung jawab terhadap backgroud penampilan kelas kita " Ujarku sambil mulai melangkah menjauhinya.

" Tia... Kenapa hubungan persahabatan kita jadi seperti ini? "

Aku kembali menghentikan langkah kaki ini, pertanyaan yang tadi dia ajukan jelas membuatku bingung. " Kenapa hubungan persahabatan kita jadi seperti ini? " Sungguh pertanyaan yang amat berat karena jangan kan dia, akupun juga ertanya-tanya mengapa hal itu terjadi?

Aku sangat menyayanginya, namun jika kami tetap dekat maka dia juga akan ikut di olok-olok oleh para elit kelas. Mungkin ini yang terbaik, biar lah retakan dalam hubungan kami kian merenggang hingga pada akhirnya sempurna terpisah.

" Zahra, percayalah selama ini aku tidak pernah menganggapmu sahabat. Sejujurnya aku muak selalu menemanimu, maka dari itu sebaiknya kita tidak saling berhubungan lagi " Ujarku yang mulai merangkai kebohongan agar kami bisa mengakhiri hubungan persahabatan yang kian tidak jelas ini.

" Ke.. Kenapa kau mengatakan hal tersebut? "

" Kau tau, karena kita dekat diri ini malah selalu di olok-olok dan tak henti-hentinya di banding-bandingkan. Banyak lisannyang berkata, mengapa primadona sepertimu mau berteman dengan gadis aneh yang setiap berangkat ke sekolah wajahnya selalu di penuhi cara. Apa kau pikir itu enak? "

Entah mengapa aku mulai benar-benar membencinya, segala perlakuan tidak menyenangkan yang para elit kelas berlakukan kepadaku membuat lisan ini benar-benar menuangkan kebencian pada tiap kata yang terlontar kepasa Zahra.

Niat awalku hanya membuatnya menjaga jarak denganku, namun entah mengapa lisan ini malah semakin tak terkendali ketika mengungkapkan rasa benci yang tumbuh karena dirinya.

" Ti.. Tia "

" Jadi mulai sekarang, menjauh lah dariku " Aku meneriakinya dengan cukup keras hingga banyak mata yang langsung tertuju pada kami.

Sial, mengapa aku malah mengatakan hal tersebut, mengapa aku malah jadi benar-benar membenci Zahra. Apakah karena aku iri dengan prilaku spesial orang-orang yang di terapkan kepadanya? Sial lisanku tidak bisa berhenti mengutarakan kebencian padanya.

" Te.. Teganya dirimu "

" Menjauh lah dariku " Ujarku sambil benar-benar meenginggalkan zahra.

Sial, perasaanku campur aduk. Aku menyesal karena telah mengatakan hal tersebut, namun di sela-sela penyesalan itu diri ini justru malah merasa senang.

Semoga dia benar-benar menjauh, karena jika demikian aku akan terbebas dari olok-olok dan para elit kelaspun tidak akan memiliki alasan untuk menggangguku lagi. Mungkin hal ini lah yang membuatku senang.

Aku lelah di anggap sebagai debu yang menempel pada sebuah berlian, aku kesal karena pencapaianku selalu tertutup oleh kemilau yang terlampau terang dari kesempurnaan zahra.

Bagaimanapun aku juga memiliki prestasi. Namun semua itu tidak pernah terpandang oleh teman-teman, dan penyebab utama dari hal itu adalah zahra. Ya aku tidak menyesal telah membentaknya.

" Zahra, kita sudahi saja permainan persahabatan ini "
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
topaqwerty dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
20-07-2021 21:31

1. Rather Be

Quote:Monyet mungkin dapat berenang ketika kita mengajarkan bagaimana caranya. Namun bukan berati semua hewan sama, kau akan di anggap gila jika menganggap ikan dapat memanjat ketika merasa berhasil menjadikan monyet pintar berenang


Hestia



" Lisan itu layaknya pedang, jika kau tidak mampu mengendalikannya maka ia akan memotongmu " Kurang lebih seperti itu lah penggalan kalimat bijak dari sebuah literasi mengenai lisan yang dulu pernah aku baca.

Percayalah, ketika membaca literasi itu, aku sempat merasa geli, sebab bagi diri ini apa yang sang penulis tuangkan kedalam tulisannya terlihat sangat lah berlebihan. Menyamakan lisan dengan sebilah pedang? Bukan kah itu hal konyol?

Namun pada akhirnya aku menyadari di mana letak persamaan dari mulut ini dengan sebuah pedang. Keduanya sama-sama mampu untuk menyayat sesuatu, mata sebuah pedang dapat memotong raga, semetara kata-kata yang terlontar dari lisan bisa mencincang hati.

Aku baru saja menusukan sebilah pedang yang tak kasat mata tepat ke inti hati Zahra. Ujaran kebencian yang lisan ini keluarkan secara frontal jelas-jelas berhasil menyayat-nyayat hati srikandi itu. Mungkin dia tidak pernah mengira, jika seorang sahabat yang telah lama dirinya kenal akan tega mengatakan hal yang begitu menyakitkan seperti tadi.

Entah mengapa, perasaan yang tumbuh dalam hati ini justru malah berupa kepuasan, bukan penyesalan. Padahal aku baru saja merusak sebuah hubungan yang telah kami jalani selama bertahun-tahun. Sial, apa kah pada dasarnya hati ini memang sudah membusuk? Apa kah rasa iri dan benci berhasil mengubahku menjadi sosok yang bisa di bilang biadab?


Aku terus melangkah kan kaki ke arah taman sekolah, meninggalkan Zahra begitu saja. Entah bagaimana tanggapan srikandi itu setelah aku membentaknya, semoga saja sekarang dia sedang tersenyum dan merasa sangat gembira karena akhirnya terbebas dariku. Reaksi itu mungkin akan lebih menenangkan hati ini karena dengan begitu aku tidak perlu merasa bersalah, biar lah kami jadi dua insan yang saling membenci.

Setibanya di taman, aku pun segera duduk di salah satu bangku yang biasa di gunakan oleh para siswa saat menyantap makan siang. Taman jni merupakan salah satu tempat favoriteku ketika ingin menyendiri. Ada begitu banyak warna dari mahkota bunga-bungaan di tempat ini, semuanya sengaja di tata sedemikian rupa oleh tukang kebun sehingga ke elokan yang nampak terasa begitu sempurna.

Aku dapat menemukan banyak inspirasi untuk lukisan yang nantinya akan aku buat. Sehingga diri ini sangat betah untuk berlama-lama di tempat ini, bahkan kadang-kadang sampai membuatku lupa waktu.

Aku menghela nafas panjang kemudian mulai memandangi langit yang kebetulan sedang terlukis dengan begitu indah. Mulutku secara perlahan mulai membentuk sebuah senyuman. Kecamuk dalam hatiku mulai mereda, kontradiksi antara perasaan puas dengan sesal setelah membentak Zahra perlahan mulai usai.

Pemenang dari gesekan perasaan itu ternyata adalah rasa puas. Rasa iri dan benci berhasil menuntun perasaan itu hingga mampu menjadi pemenang setelah berhasil mengalahkan rasa kasih sayangku terhadap zahra. Sial, jadi sehitam ini kah perasaan iri itu?
Aku merasa sangat puas. Akhirnya aku bisa terbebas dari Zahra, kemilau gadis itu tidak akan bisa menutupi pencapaianku lagi, semoga hubungan kami benar-benar kandas, semoga dia membenciku karena bagaimanapun hati ini telah sempurna membencinya, biarlah kami saling membenci, persetan dengan kata sahabat.

Ah, andai aku bisa melihat wajah Zahra tadi. Raut wajah yang gadis itu tunjukan pasti akan terlihat sangat menarik. Sayangnya tadi aku tidak berani untuk menoleh, dan malah kabur ke taman ini. Tiba-tiba saja aku merasa ingin tertawa, hasrat untuk melakukan hal tersebut pun kian menggila hingga pada akhirnya aku menurut dan melepas tawa sekencang-kencangnya..

" Hoi, apa kau sudah gila? " Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari arah punggung ini, akupun langsung menghentikan tawa dan menoleh ke arah sumber suara itu

Seorang anak laki-laki dengan raut wajah mengantuk terlihat tengah berdiri di belakangku, aku mengenalnya dia adalah si murid pertukaran pelajar yang berasal dari ibu kota, kebetulan anak ini satu kelas denganku namanya Akashia. Dia adalah anak laki-laki yang terbilang tampan, ciri khasnya adalah wajah tanpa ekspresi, apapun keadaanya raut muka yang orang itu ukir selalu saja datar.

Karena hal tersebut seharusnya dia di anggap aneh, namun karena dirinya tampan banyak gadis yang mengatakan jika ke dataranya itu termasuk sikap cool. Dia sudah sebulan berada di sekolah ini, nilai akademiknya terbilang luar biasa bahkan nyaris menyaingi Zahra, maka wajar dia di beri kesempatan untuk mencoba mengenyam pendidikan di sekolah terkemuka yang ada di Yogyakarta ini.
" Aka, apa yang kau lakukan di sini? " Tanyaku.

" Ya biasalah, tidur siang sebentar " Ujarnya sambil ikut duduk di sampingku.

" Kau tidur siang di taman? "

" Begitulah. Hmmm kalau tidak salah kau si nona pelukis "

Aku langsung tersipu ketika mendengar ucapannya, nona pelukis? Baru pertama kalinya ada orang yang memanggilku seperti itu. Aku sering melukis di kelas, namun karena hal tersebut orang-orang malah menganggapku aneh, lisannya lah yang pertama kali menyebutku sebagai nona pelukis.

" Ka.. Kau benar. Aku lah sang nona pelukis " Ujarku bangga.

" Kau tidak bersama si nona srikandi? "

" Ti... Tidak "

Sial, kenapa dia tiba-tiba menanyakan Zahra? Ah moodku seketika berubah ketika mendengar nama itu. Apa dia juga mulai terpukau dengan ke cantikan Zahra? Cih, srikandi sialan itu memang selalu menjerat hati laki-laki manapun.
" Aku sering melihat kalian bersama saat pulang sekolah. Sepertinya kalian akrab, sayangnya para bedebah kelas itu seperti membuat sekat antara kalian berdua "

" Bagaimana kau tau jika kami sering pulang bersama? "

Dia benar, kami memang seperti di sekat saat berada di kelas. Aku enggan mendekatinya walaupun dia sering mengajak bicara diri ini. Bagaimanapun aku malas di olok-olok ketika berdekatan dengannya.

" Ah, aku sering ke mini market yang ada di dekat rumah kalian "

" Ya kami memang dekat. Tapi tadi, aku baru saja menghancurkan hubungan kami karena diri ini muak dengan olok-olok para elit kelas ketika kami berdekatan " Aku memutuskan untuk menceritakan kejadian tadi kepada Akashia.

" Hoho, sepertinya hal rumit terjadi di antara kalian "

" Entah lah. Namun ada satu hal yang pasti, tadi ketika aku mengutarakan kebencian yang selama ini terpendam di dalam hatiku. Aku merusak persahabatan yang telah kami jalani sejak lama, namun entah mengapa hati ini malah merasa senang "

" Biar aku tebak. Kau jadi membencinya karena ketika berdekatan dengan srikandi itu dirimu selalu di olok-olok "
" Kau benar "

" Apa aku boleh berpendapat? "

" Silahkan saja "

" Menurutku, rasa bencimu salah sasaran "

" Apa maksudmu? "

" Bagaimanapun yang seharusnya kau benci adalah mereka yang menyekat hubungan kalian. Namun karena dirimu tidak sanggup menyalahkan mereka, kau memilih jalan pontas dengan menyalahkan semuanya pada si srikandi " Ujarnya yang seperti biasa dengan wajah datar.

" Kau tidak akan memahami perasaanku "

" Mungkin kau benar, namun percayalah aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu "

" Maksudmu? " Ujarku bingung.

" Hmmm boleh aku bercerita? " Tanyanya.

" Silahkan saja "

" Di jakarta aku memiliki seorang kembaran, karena aku lahir lima menit lebih cepat maka secara tidak langsung diri ini telah menjadi kaka baginya. Kembaranku adalah gadis manis yang sangat ceria "

" Eh, apa adikmu selalu berekspresi datar sepertimu? " Ujarku sambil menahan tawa karena diri ini membayangkan ada seorang gadis yang sama dengannya, berekspresu minim.

" Hahah. Percayalah, sekalipun kami kembar identik, sifat dan bakat kami berbeda "

" Bakat? Apa kau mau bilang jika adikmu tidak sepintar dirimu? " Tanyaku. Aku pernah mempelajari hal tersebut, sekalipun kembar bakat, sifat, dan lain sebagainya belum tentu sama.

" Kau benar, keahliannya bukan lah di bidang akademik, melain kan atletis. Dia sangat ahli dalam bidang olahraga, namun payah dalam pelajaran. Berkebalikan denganku yang payah dalam olahraga raga namun ahli dalam akademik "


" He? Orang tua kalian pasti bangga karena memiliki anak hebat seperi kalian"

" Haha, sayangnya orang tua kami sudah lama meninggal "

" Eh, maaf " Aku merasa sangat tidak enak dengannya, karena membahas kedua sosok yang telah lama tiada dalam hidup mereka.

" Santai saja "

" Jadi apa maksudmu dulu kau pernah mengalami permasalahan yang sama dengan diriku? " Tanyaku yang seberusaha mungkin mengalihkan topik pembicaraan.

" Lima tahun lalu, hak asuh kami di ambil alih oleh seorang pria. Dia merupakan sosok yang layak kami sebut sebagai pahlawan. Ketika semua sanak saudara menolak untuk mengurus kami, dia yang pada dasarnya orang luar malah langsung mengajukan diri untuk mengambil alih hak asuh kami "

" He? Dia pasti pria yang baik " Ujarku sambil membayangkan seperti apa wujud dari pria luar biasa itu.

" Kau benar, setelah itu kehidupan baru kamipun di mulai. Semua kebutuhan kami di penuhi olehnya bahkan aku dan Ran di masukan ke sekolah yang terbilang elit. Sebagai balas budi kami ingin menghadiahinya dengan prestasi, maka dari itu aku dan Ran mati-matian belajar agar mampu memperoleh nilai yang bagus dan membuatnya bangga "

" Haha dan perjuanganmu sepertinya sudah menunjukan hasil " Aku memujinya karena memang dia sudah berhasil menorehkan prestasi dengan terpilih sebagai siswa pertukaran pelajar.

" Sayangnya dulu Ran salah kaprah, dia menganggap hal yang dapat membahagiakan pria itu hanyalah nilai hingga dirinya membuang jauh bakat alami yang di milikinya "

" Maksudmu dia berhenti bergelut di bidang atletik? "

" Kau benar, dia memilih untuk terus belajar walaupun pada dasarnya Ran sangat lemah dalam bidang akademik. Aku terlambat menyadari hal tersebut, Ran terlanjur mendapatkan luka hati karena terus di banding-bandingkan oleh guru dan teman-teman ku. Sehingga kembaranku sendiri mulai membenci diri ini "

" Kau ingin bilang keadaan adikmu kalau itu sama seperti kondisi ku saat ini " Aku berusaha menebak-nebak inti dari cerita Aka.

" Aku tidak memintamu menyamakan Ran dengan keadaanmu saat ini. Namun yang jelas, hal tersebut menjadi masalah serius di antara kamu sehingga hubunganku dengan Ran kian merenggang. Untungnya ayah angkat ku tidak mau untuk ikut ambil andil dalam menengahi perkara kami " Ujar Aka.
" Saat itu ayahku berkata, jika kita mengajarkan monyet cara untuk berenang, maka kemungkinan besar hewan tersebut akan mampu untuk melakukannya. Namun kita tidak boleh berfikir jika metode tersebut bisa diterapkan kepada semua hewan, bagaimanapun, merupakan sebuah kesalahan apabila kau berfikir bisa mengajarkan ikan memanjat setelah berhasil mengajarkan monyet berenang "

" Haha ayahmu benar. Bagaimanapun ada hal yang mustahil di lakukan, salah satunya membuat ikan bisa memanjat pohon kayaknya monyet " Aku mulai memahami maksud dari ceritanya.

" Begitu lah. Oleh sebab itu ayahku berkata, jika memiliki bidang dan batasan masing-masing, akan sangat tidak adil jika dirinya menuntun hal yang mustahil untuk kami lakukan. Seperti menuntunku untuk menjuarai sebuah kompetisi renang dan berharap Ran bisa menjadi ranking satu di kelas "

" Kau benar, bagaimanapun kalian memiliki bakat masing-masing "

" Permintaan ayah angkatku cukup simpel kalau itu "

" Apa yang ayahmu minta? " Tanyaku penasaran.

" Berkilau lah di bidang masing-masing. Aku harus bisa menjadi matahari yang menguasai siang, sementara Ran menjadi rembulan yang memprimadonai malam. Seterang apapun mentari, dia tidak akan dapat di lihat ketika malam, begitu juga bulan. Seindah apapun raganya dia tidak akan mampu menjadi pusat perhatian ketika siang "

" Sungguh kata-kata yang luar biasa " Lisanku memberikan pujian bagi pria itu. Bagaimanapun dia merupakan orang yang terdengar bijak, ah aku jadi penasaran dengan sosoknya.

" Sama hal nya dengan kau dan sang srikandi. Jenis kemilau yang kalian berdua miliki berbeda, sang srikandi ada di bidang akademik dan menyanyi, sementara dirimu ada di bidang lukisan. Kemilaumu mungkin belum di pandang karena apa yang sang srikandi pancarkan masih jauh lebih terang darimu, berhentilah berfikir untuk menyaingi kemilau gadis itu. Sebab kau memiliki pancaran tersendiri, jika dirimu menganggap sang srikandi membuat kemilau unikmu tidak terlihat. Maka jadikan dirinya rival, terus lah berusaha dan berjuang hingga pada akhirnya kemilau spesial milikmu bisa mulai di lirik oleh orang lain "

Ucapan Aka benar, kenapa aku harus iri jika pada dasarnya pancaran kemilau kami berbeda. Aku mungkin tidak akan bisa menjadi ranking satu sepertinya, aku juga tidak akan bisa menyanyi sebagus si srikandi itu. Namun dengan tangan ini, ada banyak lukisan indah yang bisa aku buat, Zahra tidak akan pernah bisa melukis seperti diriku sama halnya aku yang tidak akan mungkin menyamai kemerduan suaranya.

Kenapa aku tidak berfikir seperti itu seblemunya? Pada dasarnya yang membuatku membecinya bukan lah olok-olok dari para elit kelas. Melainkan kan perasaan iri yang tumbuh karena bakat Zahra selalu lebih di pandang. Padahal ada sisi baik yang bisa aku ambil dari hal tersebut, diri ini menjadi semakin terpacu untuk terus meningkatkan skill menggambar yang diri ini miliki.

Rasa iri membuatku lupa, jika sebenarnya berkat pancaran cahaya yang Zahra miliki aku berhasil mencapai titik di mana diri ini bisa membuat sebuah prestasi nyata yaitu memenangkan kompetisi menggambar tingkat nasional. Jika aku tidak terpacu dengan hasrat ingin mengalahkan kemilau Zahra, mungkin diri ini akan terus berjalan di tempat dan tidak berkembang.

Sekarang rasa puas yang tadi bersarang di hatiku seketika sirnah, dan berubah menjadi penyesalan karena baru saja diri ini melakukan hal yang begitu tercela. Sial, mengapa aku baru sadar sekarang.

" Aku sungguh bodoh, mengapa tadi hati ini malah merasa puas setelah menyakiti hati sahabatku sendiri, mengapa aku malah membenci sosok yang pada dasarnya membuat diri ini terus berkembang " Ujarku sambil tertunduk malu.

" Hei nona pelukis, apa kau tau? Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan sang srikandi di ruang musik "

" Apa yang dia lakukan di sana? " Tanyaku penasaran.

" Mengaransemen sebuah lagu "

" Lagu untuk pentas nanti? "
" Yup. Apa kau tau lagu apa yang akan kita nyanyikan nanti? " Aka balik bertanya kepada diriku.

" Kalau tidak salah judulnya Rather be dari clean bandit " Ujarku menyebutkan judul lagu yang akan kelas kami bawakan saat pentas nanti.

" Kau benar. Percayalah, lagu tersebut memiliki tempo cepat yang sangat tidak cocok untuk di nyanyikan oleh paduan suara "

" Hmmm. Kau benar, lantas mengapa Zahra memilih lagu itu ya? " Ujarku bingung.

" Sang srikandi memilih lagu tersebut karena ingin menyampaikan perasaanya kepadamu. Dia bersikeras ingin menyanyikan lagu tersebut walaupun yang lain keberatan, minggu depan saat pentas seni berlangsung itu merupakan tanggal ulang tahunmu bukan? Dia ingin menghadiahimu lagu tersebut "

" Menghadiahiku sebuah lagu? " Tanyaku bingung.

" Yup. Apa kau tau Rather be jika di dalam bahasa indonesia artinya adalah tempat ternyaman "

" Yup aku tau "

" Diblagu tersebut ada lirik yang seperti ini But as long as you are with me, There's no place I rather be apa kah kau tau arti dari bait tersebut? " Aka sekali lagi mengajukan pertanyaan kepadaku.

" Tapi selama aku bersamamu, tidak ada tempat yang lebih aku sukai "

" Kau benar. Sang srikandi ingin mengutarakan tentang berapa berharganya dirimu dalam hidupnya, maka dari itu dia bersikeras ingin menghadiahimu lagu tersebut saat pentas yang berbarengan dengan ulang tahunmu itu berlangsung "

Hoi, dia bohong kan. Zahra berjuang keras demi menghadiahiku sebuah lagu, sementara aku yang termakan perasaan iri malah menghancurkan hatinya. Bodohnya diri ini, karena menganggap pentas tersebut hanyalah langkah baginya untuk menjadi semakin terkenal. Sial, mengapa aku bodoh sekali.

" Sial, mengapa aku malah membentak nya tadi? "

" Tak apa nona, kesalahan pahaman antara manusia itu menang sering terjadi. Karena memang pada dasarnya kita tidak mampu untuk mengintip isi hati seseorang "

" Katakan padaku, tindakan apa yang harus aku ambil untuk membuat semuanya kembali seperti sedia kala? "

" Mudah saja. Segera lah minta maaf, karena bagaimanapun hanya itulah yang manusia bisa lakukan sebagai tempat dari salah dan lupa " Ujar Aka.

" Kau benar " sambil bangkit dari duduk. Aku harus segera meminta maaf kepadanya, dan membuktikan jika diri ini merasa menyesal telah ber kata-kata kasar seperti tadi.

" Semangat nona pelukis "

" Aka, terimakasih atas sarannya. Aku berjanji akan mentraktirmu nanti "

Aku pun mulai melangkah menuju gedung sekolah, namun tiba-tiba saja, tanah bergetar dengan sangat hebat. Aku melirik ke arah bawah, aspal yang diri ini injak mulai retak, gempa bumi?

Getaran terasa semakin kuat, akibatnya keseimbanganku hilang dan jatuh ke jalanan yang saat ini mulai mengalami ratakan besar hingga terlihat seperti terbelah. Akashia segera berlari menghampiriku dan membantu diri ini berdiri.

" Kita harus menjauhi bagunan " Ujar Aka sambil menuntunku menjauhi gedung sekolah.

Kadaan sekitar nampak sangat mengerikan, retakan yang semula hanya ada di tanah mulai merambat hingga ke arah bangunan dan perlahan mulai meruntuhkan bangunan yang selama ini aku gunakan untuk belajar.
" Aka, bagaimana dengan Zahra? " Ujarku yang baru sadar jika kemungkinan sahabatku itu masih ada di dalam bagunan yang runtuh itu.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
21-07-2021 22:29

2.Pertengkaran Abadi

Quote:Para penghuni langit akan melaknat dua orang manusia yang bertengkar kemudian saling mengacuhkan hingga lebih dari tiga hari.


Hestia

Takdir merupakan salah satu mahluk langit yang paling sulit untuk di pahami oleh para manusia. Terkadang sosok itu memisahkan dua hati yang saling mencintai, namun tidak jarang juga dirinya mempertemukan mereka yang menurut nalar manusia tidak akan mungkin lagi bersama.

Kita tidak bisa menganggapnya sebagai salah satu penghuni langit yang terbilang kejam, karena memang pada dasarnya dia memiliki sifat untuk yang sering memperkeruh sebuah akur agar manusia mampu memetik suatu pembelajaran tentang kehidupan..

Meskipun begitu banyak manusia yang membencinya, terlebih lagi mereka yang dengan sengaja di buat kehilangan oleh sosok tak kasat mata itu. Butuh waktu yang cukup panjang untuk membuat nalar manusia mampubmemahami keunikannya. Bagi mereka yang sabar, maka kata Terima kasih lah yang akan terlontar dari lisannya, lain halnya dengan mereka yang enggan untuk bersabar. Mereka cenderung mengumpat lantaran tertekan setelah alur hidupnya di buat penuh oleh sebuah polemik.

Hari ini sepertinya sang takdir telah menuntunku menjumpai alur yang memilukan. Di saat lisan ini belum sempat mengucapkan kata maaf kepada seorang sahabat yang baru saja diri ini sakiti, dia justru meminta bumi untuk menggetarkan raganya sehingga kata maafku kemungkinan tidak akan pernah mencapai sang srikandi.

" Pikirkan keselamatan dirimu dulu " Ujar Aka yang terus menarik di tengah guncangan yang kian membesar.

" Tapi bagaimana dengan Zahra? "
Retakan yang ada di tanah semakin menyebar, bukti bahwa gempa bumi yang saat ini terjadi sangat lah dasyat. Aku kembali melirik ke arah gedung sekolah, bagunan kokoh lima lantai itu terlihat mulai runtuh, gempa ini berhasil merusak pondasi yang selama ini menopang tempat tersebut.

Banyak orang yang mulai berlarian keluar gedung sekolah dengan panik, beberapa orang nampak jatuh dan terinjak-injak oleh masa yang sudah tidak peduli pada keadaan sekitar karena hati mereka memang sudah di tawan rasa takut.

Aku sempat melihat dewi, salah satu temanku yang berada di kelas sebelah, Dia baru saja berhasil hendak keluar dari gedung sekolah, Tiba-tiba saja lantai dua gedung sekolahku amblas sehingga material yang menjadi komponen bagunan tersebut terjun bebas kebawah dan menimpa dewi sekaligus menutup pintu keluar bagi mereka yang masih ada di dalam.

" Dewi, dewi " Lisanku menjerit dan terus memanggil nama salah satu teman kelasku yang mungkin sekarang telah tiada. Puing-puing yang beratnya mencapai ratusan kilogram itu pasti langsung menghancurkan tubuh gadis itu.

" Jangan menoleh ke belakang " Aka memberiku perintah sambil terus menarik tangan ini.

Aku sempat membayangkan tentang betapa mecekamnya suasana di dalam sana, puing-puing bagunan terjun bebas dan menimpa orang-orang yang sedang berlarian karena panik. Lantai yang orang-orang itu pijak tiba-tiba saja ancur dan langsung mengantarkan mereka ke akhirat setelah bagian kepala pecah karena menghantam lantai bawah.

" Aka, pintu itu sudah tertutup oleh puing-puing, sementara masih ada banyak teman kita yang ada di dalam, termasuk Zahra. Kita harus menolong mereka "

" Aku tau kau khawatir, tapi dua bocah seperti kita ini memangnya bisa apa selain menambah angka korban yang tewas? "

Tewas? Bayangan mengenai Zahra yang tertimpa oleh puing-puing bangunan pun langsung membanjiri benakku. Sahabatku ada dalam bahaya, aku tidak bisa lari menjauh begitu saja, bagaimanapun caranya diri ini harus bisa memastikan srikandi itu selamat juga.

Aku menepis tangan Aka, dan saat genggamanya terlepas diri ini pun langsung berlari ke arah gedung sekolah. Aku belum minta maaf kepada Zahra, membayangkan jika sang maut malah menjemputnya sebelum diri ini mampu mengutatakkan kata maaf adalah satu hal yang jauh lebih aku takutkan ketimbang gempa dasyat ini.


" Bodoh, apa yang mau kau lakukan? " Jerit Aka ketika tau aku malah mendekati bagunan sekolah yang sudah semakin hancur.

Aku mengabaikan jeritan Aka dan tetap berlari menuju gedung sekolah. Apa yang ada di pikiranku saat ini hanyalah tentang bagaimana caranya menyelamatkan Zahra sehingga aku tidak memperhatikan keadaan sekitar.

Tanpa di sadari sebuah tiang listrik tiba-tiba ambruk dan tumbang tepat ke arah raga ini. Aku yang merasa syok sehingga tidak padat menggerakan tubuh ini barang sejengkal pun, untungnya Aka muncul dan mendorongku sehingga tiang tersebut tidak jadi menimpa diri ini.

" Aka, kau baik-baik saja? " Jertiku.

" Bagaimana caranya aku bilang baik-baik saja setelah diri ini nyaris mati tertiban tiang? "

" Ma.. Maafkan aku "

" Hoi, bukan kah sudah aku katakan jika sebaiknya kau memikirkan dirimu dulu " Ujar Aka sambil kembali bangkit.

" Tapi Zahra? "

" Memangnya sekarang kau bisa apa? Tadi saja kau tidak bisa menjaga nyawa sendiri, sekarang kau mau berlagak menolong orang? " Aka membentaku.

" Tapi aku tidak bisa membiarkan Zahra begitu saja "

" Ah dasar gadis bodoh " Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebagan. Tanpa bicara sepatah katapun, Akashia kembali menarik diri ini agar dapat segera menemukan tempat aman.

Sebenarnya, apa yang di ucapkan Aka ada benarnya juga, memangnya apa yang bisa aku lakukan sekarang? Hati ini telah di tawan oleh kepanikan, sehingga sangat sulit rasanya untuk berfikir secara rasional.

Akashia mengenggam tangan ini dengan sangat erat, alih-alih menuntunku sekarang dia lebih terlihat seperti sedang menyeret diri ini. Dia tidak mau kecolongan lagi, maka dari itu dia menggenggam tangan ini jauh lebih erat dari sebelumnya. Aku hanya bisa pasrah saat ini, dan terus berharap Zahra baik-baik saja.

Gempa bumi mulai mereda, namun sebagaimana yang aku pelajari dalam pelajaran geografis, gempa itu sering kali tidak hanya terjadi sekali, ada yang di namakan gempa susulan, maka dari itu hal yang pertama kali harus di lakukan setelah selama dari bencana tersebut adalah tetap beridiam di luar dan menghindari bangunan.

Aka terus menarikku hingga akhrinya kami tiba di lapangan sepak bola sekolah. Ada cukup banyak orang yang berkumpul di sana, Wajah mereka semua sama, terlihat panik dan ketakutan. Para guru yang berhasil menyelamatkan diri segera memberi instruksi kepada para siswa untuk berkumpul di bagian tengah lapangan.

Baru saja aku dan Aka hendak melangkah ke arah yang di maksud oleh para guru, Tiba-tiba suara dentuman keras terdengar dari arah gedung sekolah. Aku menoleh dan alangkah kagetnya diri ini ketika mendapati sebagian besar gedung itu sudah roboh.

Banyak dari korban selamat yang terlihat mulai menangis, mungkin di gedung itu masih ada teman, keluarga, kaka, adik, kekasih, sahabat mereka yang tertinggal. Aku yakin saat berlari ke sini, masing-masing dari mereka memiliki hasrat dan keinginan kuat untuk kembali kemudian menyelamatkan orang-orang yang masih tertinggal di dalam sana, Sama seperti diriku.

Namun apa yang sekarang bisa kami lakukan? Manusia tidak ada apa-apa nya di bandingkan dengan alam. Ketika Tuhan memerintahkan bumi untuk berguncang, maka hanya berlarian dengan perasaan panik lah yang dapat manusia lakukan, sehingga hasrat untuk kembali itu perlahan terkikis dan kami terpaksa memasrahkan semuanya kepada takdir.

" Baik, bapak tau kalian masih ketakutan. Namun saya mohon, agar teman-teman siswa sekolah ini bersedia untuk duduk berdasarkan kelas masing-masing " Ujar seorang guru laki-laki yang kalau tidak salah merupakan salah satu guru senior di sekolah ini.

Aku paham maksud dari guru itu, dia ingin menghitung berapa banyak kah siswa yang berhasil lari ke tempat iin, dan berapa jumlah yang kemungkinan masih terjebak di dalam atau berlari ke arah lainnya. Aku segera menebar pandangan, mencari sosok teman kelasku di antara para murid yang berkerumun di lapangan ini.

Saat kelas lain mulai membentuk kelompok, diri ini masih belum juga berhasil menemukan anggota kelas dua C selain Aka. Padahal kelas lain, sekurang-kurangnya sudah terdiri dari lima orang, semetara kelasku hanya ada kami berdua.

" Aka, apa kau menemukan teman kelas kita? " Tanyaku.

" Nona pelukis, aku rasa yang tersisa dari kelas dua C hanya lah kita " Akashia melontarkan jawaban yang terdengar sangat mengerikan.

" Apa maksudmu? " Tanyaku bingung.

" Hari ini, kelas kita seharusnya ada gladiresik yang di adakan di auditorium "

Aka benar, hari ini kelas kami memang mengadakan gladiresik di auditorium. Awal mula aku bertengkar dengan Zahra pun adalah saat gadis itu memintaku untuk menghadiri gladiresik dan diri ini menolaknya. Lantas apa hubungannya gladiresik dengan jawaban menyeramkan yang tadi?

" Kau tau auditorium ada di lantai berapa? " Tanya Aka lagi.

" Tentu saja berada di lantai lima..." Saat mengucapkan hal tersebut nalarku langsung memahami maksud dari kata-kata yang tadi terlontar dari lisan Akashia " Yang tersisa dari kelas dua C hanyalah kita "

Ketika gempa terjadi, seluruh teman kelasku sedang gladiresik di auditorium yang letaknya berada pada lantai paling atas gedung sekolah. Dengan kata lain, potensi mereka selamat sangat lah kecil karena bagaimanapun gempa yang baru saja terjadi sangat lah dasyat sehingga dalam hitungan detik, guncangannya sudah mampu meluluh lantahkan gedung sekolah.

Kemungkinan besar mereka terlambat melarikan diri dan tertimbun oleh puing-puing dari bagunan sekolah yang runtuh. Aku ingat betul, orang terakhir yang mencapai pintu keluar adalah dewi, itupun dia tidak dapat selamat karena gadis malang itu harus tertimpa reruntuhan bangunan di saat sedikit lagi dirinya akan selamat.

" Srikandi dan yang lainnya masih ada di sana " Ujar Aka sambil menunjuk reruntuhan yang dulunya merupakan sekolah itu.

" Hoi, yang benar saja " Ujarku yang mengalami syok berat.

Zahra dan yang lainnya kemungkinan sudah tiada? Sial, lawakan macam apa ini. Wahai takdir bukan kah kau terlalu kejam karena telah menuntunku ke alur yang seperti ini? Mentalku nyaris ambruk, bagaiamana tidak? Seluruh teman kelasku kemungkinan sudah mati, dan parahnya lagi lisan ini belum sempat mengucap kata maaf kepada salah satu dari mereka.

Ah sial, sekarang aku paham mengapa langit membuat aturan yang begitu ketat mengenai pengucapan kata maaf. Umur, jodoh dan rezeki merupakan rahasia langit yang begitu di jaga ketat oleh para penghuninya. Sehingga sesakit apapun manusia, dia tidak akan pernah tau kapan ajal akan menjemputnya, kapan rezeki muncul dan menghampiri nya hingga siapa jodoh yang akan Tuhan hadiahkan kepadanya.

Maka dari itu, manusia di larang saling mengacuhkan lebih dari tiga hari. Sebab bisa saja saat dua manusia itu saling mengacuhkan karena bertengkar, salah satu dari mereka justru malah di hampiri oleh sang maut. Pertengkaran mereka mau tidak mau menjadi sesuatu yang abadi karena tidak mungkin lagi keduanya saling memaafkan.

Sama halnya dengan aku dan Zahra sekarang, jika memang gadis itu telah tiada, maka kata maafku tidak akan pernah dapat sampai kepadanya, Sehingga pertengkaran kami menjadi abadi. Zahra semoga kau baik-baik saja, semoga dirimu akan muncul di hadapanku nanti sambil cekikikan kemudian berkata " Aku selamat "

" Nona pelukis, kau baik-baik saja? " Tanya Aka yang mungkin menyadari tingkah gusarku.

" Ya, aku baik-baik saja "

" Kalian berdua dari kelas berapa? " Tanya seorang guru.

" Kami dari kelas dua C pak " Jawab Aka.

" Baik lah " Ujar guru tersebut sambil kembali melangkah untuk mendata kelas selanjutnya.

" Aka, katakan padaku. Apa yang harus diri ini lakukan jika memang Zahra tidak selamat dari bencana ini? " Tanyaku pada Aka.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piripiripuru dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
22-07-2021 22:19

3. Pohon Kayu, Melati, Anggrek, Akasia Dan Kenari

Quote:Jangan dulu berlagak dewasa, sebab bisa saja orang tuamu masih berharap anaknya mau bermanja-manja dengan mereka


Hestia


Setengah jam telah berlalu setelah gempa dasyat mengguncang kotaku, sampai saat ini tidak ada tanda-tanda terjadinya gempa susulan, Hal tersebut jelas membuat hatiku merasa sangat lega. Semua korban selamat yang memadati lapangan sekolah sepertinya sudah bisa bernafas lega karena jiwa mereka bisa di bilang tidak lagi terancam.

Raut ketakutan masih terukir jelas di wajah mereka, namun gelagat panik yang sedari tadi nampak di semua penjuru lapangan mulai sirnah. Beberapa dari mereka terlihat tengah menggunakan Handphone, menghubungi keluarga mereka demi memastikan keadaannya saat ini.

Orang tuaku kebetulan sedang keluar kotakota dan baru akan pulang lusa nanti, jika memang gempa ini hanya melanda Yogyakarta, maka keadaan mereka bisa di pastikan akan baik-baik saja. Baru saja aku memikirkan mereka, tiba-tiba saja Hpku bergetar, menandakan jika ada panggilan yang masuk.

Aku menatap layar HP dan mendapati nama kontak Papah tertera di sana, benar saja mereka menghubungi diri ini. Kekhawatiran pasti menawan hati papah dan mamah, karena bagaimanapun putri mereka berada di sebuah tempat yang baru saja di landa bencana.

" Halo " Ujarku saat panggilan tersambung.

" Tia, syukur lah... " Ujar papah dan mamah.
" Aku baik-baik saja pah, mah. Kebetulan saat gempa berlangsung diri ini berada di luar sekolah " Aku memberi kabar bahagia kepada mereka.

" Syukur lah... " Isak tangis mulai terdengar. Aku yakin keduanya merasa sangat lega setelah tau putrinya merupakan korban yang selamat.

" Apa kalian baik-baik saja? " Tanyaku.

" Tentu saja baik, di jakarta tidak terjadi apapun. Kami sempat panik saat mendapat kabar kota kita terkena gempa, tapi syukurlah kau baik-baik saja " Ujar papah.

" Ya aku baik-baik saja. Tapi tidak dengan semua teman kelasku... "

" Maksudmu? "

" Kau tau, minggu depan akan ada pentas seni di sekolah. Kalian sudah berjanji untuk datang ke acara tersebut bukan? "

" Ya kami tau "

" Hari ini kelas kami ada gladiresik di auditorium, kebetulan aku sedang di panggil ke ruang yayasan sehingga diri ini belum berada di ruangan tersebut. Zahra mencariku dan saat kami bertemu, diri ini malah melakukan hal bodoh yang membuat kami bertengkar. Aku memutuskan untuk bolos, dan lebih memilih untuk di taman. Saat itulah gempa terjadi, aku tidak tau bagaimana nasip Zahra dan yang lainya. Namun, sampai saat ini mereka belum juga muncul semetara gedung sekolah sudah ambruk. Mungkin kah Zahra sudah tiada? " Ujarku sambil mulai menangis.

Sial, entah rasa sukur atau sesal yang seharusnya diri ini terapkan dalam hati. Aku selamat berkat pertengkaran itu, namun hal itu juga membuatku tidak bisa mengucapkan kata maaf kepada Zahra. Apa kah langit akan mulai melaknat ku setelah tiga hari berlalu? Bagaimanapun aku dan Zahra akan tetap saling mengacuhkan untuk selama-salamanya.

" Tia, tidak banyak yang bisa papah ucapkan saat ini. Namun selama Zahra belum di temukan, kau tidak boleh putus asa dan langsung menganggapnya telah tiada. Terus lah berharap, karena hal itu bukan lah sebuah kesalahan "

Papah benar, mengapa aku langsung menyimpulkan jika Zahra telah tiada? Bukan kah masih ada kemungkinan jika dirinya selamat? Bisa saja setelah aku membentaknya dia tidak langsung pergi ke auditorium, melainkan menuju tempat lain untuk menenangkan diri seperti diriku. Orang yang selamat tidak hanya berkumpul di tempat ini, bisa saja Zahra berada di tempat lain.

" Terima kasih pah, kau benar bisa saja Zahra sebenarnya selamat " Ujarku sambil mengelap air mata.

" Nah itu baru anak papah "

" Semoga Zahra selamat "

" Ya semoga begitu. Baik lah Tia, tunggu kami di sana. Aku dan mamah akan berusaha secepat mungkin kembali ke Yogya. Jangan melakukan hal nekat, ingat itu " Papah memperingatiku.

" Baik pah " Akupun mengakhiri panggilan tersebut.

Ucapan papah membuat hatiku sedikit merasa lega, mata ini kembali memandangi gedung sekolah yang sudah hancur itu. Semoga kau selamat sahabatku, jika kita bisa bertemu lagi, percayalah aku akan rela bersujud demi mendapatkan kata maaf darimu.

Saat aku termenung, Tiba-tiba suara bising dari putaran baling-baling helikopter terdengar. Aku menoleh ke arah langit dan mendapati sebuah helikopter tengah menurunkan ketinggianya. Aku yakin itu helikopter milik tim SAR, yang hendak mengevakuasi para korban selamat, syukur lah mereka cepat datang karena bagaimanapun kehadiran mereka akan membuat hati para korban sedikit merasa lega.

" Semuanya, kami harap kalian bisa sedikit menjauh dari lapangan karena helikopter ini akan segera mendarat di lapangan " Ujar seseorang yang berada di dalam helikopter dengan menggunakan pengeras suara.
Kamipun menurut dan mulai menjauh dari lapangan, helikopter itupun segera mendarat tidak lama berselang beberapa orang tim SAR terlihat mulai turun dari helikopter dan segera menghampiri kami. Tim SAR bergerak dengan begitu cekatan, sebagian dari mereka mulainmenanyai para korban tentang bagaimana keadaan mereka saat ini, sebagian lagi langsung bergegas menuju reruntuhan bekas gedung sekolah.

Tim medis mulai merawat para korban yang terluka, termasuk Aka yang sepertinya mengalami luka di bagian tangan saat dirinya berusaha menyelamatkanku tadi. Aku merasa sangat bersalah ketika lengan laki-laki tanpa ekspresi itu di balut perban oleh seorang tim medis.

" Apa kau baik-baik saja? " Tanyaku.

" Menururmu? "

" Eh ya.... "

" Santai saja nona, aku baik-baik saja " Ujar Aka sambil menyentil pelan dahiku.

" Maafkan aku, karena diri ini kau malah jadi terluka "

" Aku lebih senang menerima kata Terima kasih nona "

" Eh? Baik lah, Terima kasih Aka. Berkat dirimu aku jadi tidak mengalami cedera "

" Sama-sama " Wajah tanpa ekspresi itu tiba-tiba mengukir kan sebuah senyuman.

Aku langsung gelagapan ketika melihat wajah tampan menunjukan ekspresi lain. Sial, dia tampan sekali. Perawat yang berhasil membalut lukanya, maka dari itu dia izin pamit dan bergegas ke arah pasien berikutnya.

" Apa kau sudah menghubungi orang tuamu? " Tanyaku.

" Hpku tertinggal di kelas, maka dari itu aku belum mengabari ayah "

" Kau mau menggunakan Hpku? " Ujarku sambil menyodorkan HP ke arahnya.

" Terima kasih " Aka segera meraih HPku, kemudian menekan beberapa digit nomor kemudian menyalakan mode load speaker.

" Kenapa kau load speaker? "

" Ayahku berkata, jika menggunakan benda milik orang lain. Maka orang tersebut berhak mengetahui di gunakan untuk apa kah barang yang aku ponjam. Anggap saja ini sebagian bukti jika aku tidak meminjam HP untuk menghubungi orang lain "
" Haha, teori macam apa itu? "

" Halo " Ujar Aka saat panggilannya tersambung.

" Hoi, jika kau ingin menipuku maka diri ini bersumpah akan melacak nomormu kemudian saat kita bertemu nanti lehermu minimal akan aku buat patah. Apa kau tau, anakku berada di Yogyakarta, dan kau tau? Kota itu baru saja dilanda gempa, diri ini jelas sangat khawatir sebab anak bodoh itu tidak kunjung menjawab panggilanku, jadi jika kau ingin menipuku maka lakukanlah lain hari " Ujar seseorang yang ada di sebrang sana.

" Hoi, aku ini anak bodohmu yang kau maksud " Ujar Aka menanggapi pria yang mengira jika nomorku ini adalah milik seorang penipu.

" Aka? "

" Merindukanmu? "

" Dasar bodoh, mengapa kau tidak menjawab telepon dari ku? " Pria itu meneriaki Aka.

" Yah, hehe. Handphone ku tertinggal di kelas saat gempa berlangsung " Aka menanggapi teriakan pria itu dengan begitu santainya.

" Ah, anak bodoh. Sudah ku bilang kan segera lah cari pacar agar Hpmu itu tidak pernah kau tinggalkan "

Aku nyaris tertawa ketika mendengar sebuah loika aneh yang terlontar dari lisan ayahnya. Memangnya apa hubungannya pacar dengan terus membawa HP kemanapun? Sekarang aku paham dari mana asalnya logika aneh milik Aka. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

" Hehe, aku belum ada perempuan yang membuatku jatuh hati "

" Hah sudah lah, kau baik-baik saja kan? "

" Ya aku baik-baik saja "

" Syukurlah kalu begitu. Aku bisa gila jika harus kehilangan sosok yang begitu diri ini cintai secara berturut-turut "

" Aku sudah mendengarnya dari Ran, diri ini turut berduka cita atas meninggalnya istrimu " Suara Aka terdengar begitu lirih saat mengucapkan hak tersebut.

Tunggu dulu, bukan kah istri dari ayahnya berarti ibu dari dirinya? Aku tau pria yang saat ini tengah bicara dengan Aka merupakan ayah angkatnya, jika demikian bukan kah secara otomatis istri dari pria itu merupakan ibu angkatnya?

" Hoi, berhentilah bicara seperti orang dewasa. Karena bagaimanapun aku belum siap melihatmu mulai merasa enggan untuk bermanja ria dengan diri ini "

" Hoi, jangan membuatku terdengar seperti anak manja. Aku sedang meminjam HP teman sekelasku, dia bisa salah paham tau " Wajah Aka nampak memerah.

Untuk yang ini, aku sudah tidak bisa lagi menahan hasrat untuk tertawa. Maka dari itu seketika tawaku pecah usai melihat wajah malu-malu si tuan tanpa ekspresi itu dan ucapan lucu dari ayahnya.

" Hoi kenapa kau tertawa? " Ujar Aka yang wajahnya semakin memerah.

" Ma.. Maaf " Aku berusaha keras untuk meredam tawa ini. Bagaimanapun, ini adalah saat yang sangat tidak tepat untuk tertawa.

" Hmmm jadi teman yang kau maksud itu seorang perempuan " Ujar ayah Aka.

" Ya dia perempuan "

" Hmmmm apa dia pacarmu ? "

" Jelas saja bukan, kau yang bilang sendirikan jika diri ini memiliki pacar maka HPku tidak mungkin akan tertinggal "

" Ah, kau ada benarnya juga. Jadi apa temanmu cantik ? "

" Bagiku dia cantik "

" Eh? " Ujarku kaget. Sekarang keadaan berbalik, wajahku lah yang seketika memerah ketika mendengar lisan laki-laki tampan itu mengatakan diri ini cantik.

" Hmmm, jadi kapan kau akan menyatakan cinta kepadanya? " Tanya sang ayah.

" Ah, percakapan kita semakin ngelantur. Bagaimanapun sekarang bukan lah saat yang tepat untuk membahas hal tersebut "

" Haha maaf. Aka, tunggulah diri ini. Aku sedang memacu mobil langsung menuju tempatmu "

" Apa kau tidak apa-apa? Bukan kah seharusnya kau masih harus mengurusi segala hal yang berkaitan dengan kematian istrimu "


" Bukan kah sudah aku katakan tadi? Berhentilah bersikap sok dewasa, aku tau kau pada dasarnya sedang ketakutan. Bagaimanapun kau membutuhkan diriku, maka dari itu kau cukup diam di sana dan menanti kedatanganku "

Ah aku yakin ayahnya Aka merupakan sesosok pria yang sangat keren. Bisa di simpulkan jika pria itu merupakan orang yang tidak suka bertele-tele. Aku tau Aka sama sepertiku, merasa ketakutan dan butuh sosok orang dewasa.

Mungkin ada hal yang di khawatirkan Aka sehingga dirinya tidak bisa berkata jujur mengenai hal tersebut, dan sang ayah menyadarinya maka dari itu lisanya terus meminta Akan untuk tidak berlaga tegar.

" Ya, aku butuh dirimu yah. Diri ini sebenarnya merasa sangat ketakutan "

" Aku akan segera datang ke tempatmu "

" Terima kasih "

" Kau tau, setelah aku menjemputmu kita semua akan pindah ke Jakarta "

" Pindah? " Aka nampak terkejut dengan ucapannya.

" Kau taukan aku memiliki satu anak lagi selain kalian berdua "

" Ya aku tau. Dia adalah anak kandungmu " Ujar Aka dengan nada lirih.

" Bodoh, kalian semua itu anakku. Tidak ada yang anak kandung maupun angkat, aku menyayangi kalian semua "

" Haha Terima kasih karena telah menyayangi kami semua " Nada lirih yang tadi dia terapkan pada ucapannya seketika sirnha setelah mendengar kata-kata dari ayahnya.

" Aka, dia telah menerima kata maaf dariku. Maka dari itu dia bersedia memberiku kesempatan kedua. Sebenarnya aku dan istriku belum pernah menceritakan tentang kalian kepadanya, entah bagaimana reaksinya nanti ketika anak itu tiba-tiba aku hadiahi dua orang saudara. Aku yakin pada awalnya dia akan marah kepadaku karena menganggap diri ini telah menghamili wanita lain, tapi tak apa aku suka dengan ekspresi marahnya. Setelah puas memandangi wajah geramnya, aku baru akan menjelaskan segala hal tentang kalian. Semoga saja dia percaya padaku, agar kita semua dapat hidup bersama "

" Haha kau sungguh seorang pria yang gemar menjahili orang lain. Jadi apakah dia akan menjadi kakaku? "

" Dia lahir bulan Januari, maka dari itu dia merupakan kakakmu. Baik kah, aku akan ngebut agar bisa segera menjemputmu dan kembali sebelum pagi datang kembali "
" Kau tidak mau singgah sebentar di Yogyakarta? "

" Aku ingin segera menyantap sarapan berupa semur daging yang kakamu masak "

" Bukan kah agak aneh jika kita sarapan menggunakan lauk semur daging? " Tanya Aka. Aku setuju dengan ucapannya, keluarga mana yang sudah menyantap menu daging di pagi hari?

" Haha tidak apa, anggap saja makanan tersebut merupakan bentuk dari sebuah perayaan "

" Ayah, sendiri dulu kau belum pernah memberi tau nama dari kakaku itu. Apa kau tidak bosan memanggilnya dengan kata ganti dia? "

" Nama kakamu adalah Kanaria " Pria itu menyebut sebuah nama. Sungguh nama yang terdengar indah, Kira-kira apa ya makna dari nama tersebut?

" Haha, Itsuki, Matsurika, Ran, Akashia dan Kanaria. Pohon kayu, melati putih, Anggrek, akasia, dan kenari. Kenapa semua nama keluarga kita memiliki unsur tanaman? "

Ah, aku baru memahami maksud dari ucapan Aka. Semua nama yang tadi dirinya sebutkan menggunakan bahasa Jepang, itsuki artinya pohon kayu, Matsurika melati putih, Ran memiliki makna bunga anggrek, Akashia adalah arti dari bunga akasia dan kenari merupakan bahasa Indonesia dari Kanaria.

" Anggap saja sebagai sebuah ciri khas "

" Haha kau memang yang terbaik "

" Baik kah, tunggu aku nak "

Panggilan pun berakhir.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan oceu memberi reputasi
3 0
3
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
23-07-2021 14:06

4. Masa Lalu, Masa Sekarang Dan Masa Depan

Quote:Kau boleh berharap, namun siapkah dirimu menerima kenyataan jika apa yang telah di harapkan justru tidak menjadi nyata?


Hestia

Semua orang sanggup membeli sebuah jam, namun tidak ada satupun dari mereka yang dapat membeli waktu. Kurang lebih seperti itu lah bait dari sebuah literasi yang pernah diri ini baca. Sekaya dan sesakti apapun manusia mereka tidak akan pernah mampu untuk membuat sang waktu berhenti walau hanya sedetik, apa lagi memutarnya.

Maka dari itu banyak orang bijak yang berkata " Manfaatkan lah waktu dengan sebaik mungkin " Jangan sampai ada penyesalan karena mau bagaimanapun sang waktu tidak akan mau memundurkan raganya sekalipun seorang manusia mengorbankan segala hal yang di miliki nya.

Masa lalu adalah sebuah pembelajaran, masa kini adalah kenyataan, dan masa depan adalah misteri. Penyesalan tidak akan menghasilkan apapun, sementara Tuhan jelas tidak mau memerintahkan sang waktu untuk mundur, namun dia memberi sebuah solusi bagi manusia yaitu mengubah penyesalan tersebut menjadi sebuah pembelajaran agar di masa sekarang mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama dan kembali menyesal hingga sang waktu tiba di masa depan.

Masa sekarang adalah kenyataan, maka dari itu terus menempatkan pikiran di masa lalu merupakan hal yang salah, bagaimanapun masa lalu adalah fatamorgana dari masa sekarang. Para manusia harus terus melangkah maju menuju masa depan yang masih berupa misteri.

Masa depan adalah misteri oleh sebab itu kita harus mempersiapkan diri di masa sekarang, agar waktu yang tengah kita jalani tidak berubah menjadi masa lalu yang di penuhi oleh penyesalan. Melangkah maju sambil menjadi kan masa lalu sebagai sebuah pedoman.
Aku memandangi Aka yang sepertinya merasa sangat bahagia setelah dirinya berhasil menghubungi sang ayah. Aku tidak tau polemik apa yang membumbui keluarganya, dari yang telinga ini dengar, sepertinya ada sebuah kerumitan yang terjadi di antara ayahnya, istri ayahnya, dan kaka yang tidak pernah di lihat olehnya.

Sepertinya semua kesemrautan yang ada dalam keluarga itu perlahan mulai terurai, syukur lah si tanpa Ekspresi itu bisa mengukirkan raut kebahagiaan di wajahnya. Sejujurnya aku merasa penasaran dengan polemik tersebut, namun menanyakannya sekarang jelas bukan hal yang baik karena bagaimanapun kami baru saja selamat dari sebuah bencana.

" Terima kasih nona " Ujar Aka sambil menyerahkan Hpku.

" Sama-sama "

" Sepertinya ayahku sedang gebut ke sini "

" Haha bukankah itu jauh lebih baik, karena sebentar lagi dirimu bisa kembali ke jakarta "

" Entah lah, ada satu hal yang tidak baik jika aku kembali ke jakarta "

" Apa itu? " Tanyaku heran.

" Berpisah denganmu " Jawabnya yang Seketika membuat wajahku memerah.

" Hoi candaanmu jelek " Ujarku malu.

" Hahah " Aku dan Aka tertawa secara bersamaan.

Saat kami sedanga asik tertawa, suara helikopter kembali terdengar dari arah langit. Sepertinya lapangan ini akan menjadi tempat parkir helikopter tim SAR, kami kembali di perintahkan untuk menjauh.

Helikopter kedua pun berhasil mendarat, para tim SAR segera keluar dari sana dan kembali menunjukan pergerakan yang cekatan. Sebagian dari mereka langsung berlari menuju reruntuhan bekas gedung sekolah, sebagian lagi terlihat tengah menggotong kantung tenda ke sisi lapangan kemudian mulai mendirikan tempat pengungsian.

Para guru memerintahkan murid-murid untuk ikut membantu para tim SAR untuk mendirikan tenda dan kamipun menurut. Tidak lama berselang tenda-tenda peleton pun sudah berdiri dengan kokoh di sisi lapangan, tim SAR yang bertugas mendirikan tempat pengungsian segera mengisi tenda-tenda tersebut dengan terpal lalu mempersilahkan kami untuk masuk dan beristirahat.

Beberapa siswa pun segera masuk ke dalam tenda, lalu di saat yang bersamaan helikopter ketiga muncul dan bersiap mendarat. Sejujurnya dari dulu aku sangat ingin melihat helikopter dari dekat, dan sekalinya di beri kesempatan untuk hal tersebut mata ini langsung di suguhkan tiga unit helikopter yang berjejer rapih di hadapanku.

Saat penumpang dari helikopter ketiga keluar, aku mendapati ada cukup banyak perempuan bahkan beberapa ada anak yang sesuaiaku. Mereka juga tidak mengenakan seragam tim SAR, sehingga membuatku agak penasaran mengenai siapa sebenarnya mereka?

" Aka, apa kau tau siapa mereka? " Tanyaku.

" Mungkin relawan tim medis dan para psikiater "

" Psikiater? "

" Ya kau tau kan pasti banyak yang akan mengalami trauma akibat kejadian ini. Makan dari itu sebelum ada yang mentalnya ambruk, mereka segera melakukan terapi "

" Oh begitu "

Baru saja diri ini menanyakan hal lain kepada Aka, tiba-tiba dua orang tim SAR terlihat berlari dari arah gedung sekolah, mereka terlihat sedang menandu seorang gadis yang sekujur tubuhnya penuh luka. Seragam putih yang dirinya kenakan nyaris berubah warna menjadi merah marun saking banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.

" Medis, medis " Teriak salah satu dari tim SAR itu.

Tim medis pun segera menghampiri mereka, dan langsung melakukan segala upaya agar gadis itu bisa tetap hidup. Benakku pun kembali di penuhi dengan Zahra, apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah tim SAR berhasil menemukannya? Zahra bertahan lah, aku mohon jangan sampai mati karena lisan ini belum mengucapkan kata maaf kepadaMu.

Tim SAR lain terlihat mulai kembali dari arah gedung sekolah, namun tidak seperti yang sebelumnya, mereka bukan membawa seorang siswa yang terluka, melainkan kantung mayat. Hal itu jelas membuat dada ini langsung terasa sesak, tidak bisa di pungkiri lagi, bencana tadi berhasil merenggun banyak nyawa.

" Semuanya cepat masuk ke dalam tenda " Ujar salah seorang guru. Aku tau maksud dari tindakannya itu, dia tidak mau mental para siswa tambah anjlok karena tau banyak teman mereka yang telah tiada.

Semua siswa menurut, kecuali aku yang merasa enggan untuk masuk ke tenda, karena bagaimanapun diri ini tidak bisa tenang sebelum mataku melihat sosok Zahra secara langsung. Maka dari itu saat guru tersebut lengah, aku pun segera lari ke arah para penumpang helikopter ketiga dan berusaha berbaur agar diri ini tidak di paksa untuk masuk ke tenda.

" Hoi kau mau kemana? " Tanya Aka yang ternyata mengikutiku.

" Aku tidak bisa tenang jika belum bisa memastikan kondisi Zahra " Ujarku sambil menyelinap masuk ke dalam salah satu tenda.

Di dalam tenda tersebut ada begitu banyak meja dan peralatan memasak lengakap dengan bahan-bahannya, untungnya keadaan di sana kosong, tidak ada satu orang pun yang ada di tenda ini. Aku yakin ini adalah tenda yang akan di jadikan dapur umum, wajar saja jika keadaan di dalamnya begitu sepi.

Bagaimanapun prioritas utama tim SAR adalah mengevaluasi korban, setelah itu baru lah mereka membantu memenuhi kebutuhan orang-orang yang selamat selama berada di pengungsian.

" Ah aku jadi lapar " Ujar Aka.

" Kau masih sempat merasa lapar? " Tanyaku heran.

" Tadi aku belum sempat makan siang " Gerutu si tuan tanpa ekspresi itu.

" Kalau begitu kita sama "

" Jadi kau mau apa sekarang? " Tanya Aka.
" Entah lah, yang jelas aku harus memastikan keadaan Zahra " Sejujurnya diri ini juga tidak tau harus apa, karena memang diri ini belum sempat mengatur rencana.

" Bodoh "

" Ya aku memang bodoh. Sejujurnya aku sendiri bingung harus bagaimana, diri ini sangat takut jika nantinya kabar yang di bawa oleh para tim SAR mengenai Zahra berupa kabar duka, hal tersebut jelas membuatku tidak bisa tenang. Maka dari itu aku sangat enggan hanya menunggu di dalam tenda, setidaknya diri ini harus bisa menemukan daftar korban yang meninggal sampai saat ini agar dapat memastikan keadaanya " Ujarku sambil menahan tangis.

" Baik lah, aku akan menemani kebodohanmu ini "

" Aka katakan padaku, apakah salah jika diri ini tetap berharap sahabatku itu akan baik-baik saja? "

" Entah lah, aku tidak bisa berkata banyak. Kau tau, saat orang tuaku mengalami kecelakaan diri ini benar-benar panik. Aku terus berharap jika mereka baik-baik saja, karena itu lah diri ini panik, bahkan saking paniknya, aku sampai bertindak tidak karuan, namun pada akhirnya berita duka lah yang justru sampai di telingaku " Ujar Aka.

" Akun turut prihatin "
" Hei, aku tau kalian saling mencintai. Tapi percayalah tenda ini bukan lah tempat yang tepat untuk bermesrah-mesrahan " Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari arahan bekakang kaki.

Saat kami menoleh, seorang gadis yang sepertinya seusia denganku tengah berdiri sambil memandangi kami dengan tatapan kesal. Hoi, apa dia berfikir kami sedang melakukan hal mesum di tenda darurat ini?

" Ka.. Kami tidak sedang bermesrahan " Ujarku yang malu karena di anggap sudah memiliki hubungan spesial dengan Aka.

" Lantas mau apa kalian di sini? Mencuri makanan? " Tanya gadis itu lagi.

" Maaf nona, pacar bodohku ini sedang menanti kabar mengenai seseorang. Maka dari itu dia enggan untuk masuk ke tenda " Ujar Aka.

Pacar bodohku? Ucapan Aka jelas membuat wajahku memerah. Sial, perasaanku jadi tidak karuan, bagaimana caramu menanggapi ucapannya tadi apakah diri ini harus senang karena di bilang pacaranya ataukah kesal sebab dia baru saja berkata jika aku ini bodoh.

" Hah, jika kau mau melihat daftar korban. Maka pergilah ke tenda medis, itu pun jika kau sanggup karena bagaimanapun di dalam sana ada begitu banyak korban yang mengalami luka serius " Ujar gadis itu.
" Ja.. Jadi tenda yang mana kah itu? " Tanyaku.

" Apa kau pikir aku akan memberi tahumu? " Bukanya menjawab pertanyaanku, gadis itu malah mengajukan pertanyaan balik.

" Apa maksudmu? "

" Aku tidak akan memberi tahumu "

" Hoi, cukup bercandanya gadis sialan. Kau tidak memahami kondisi dan perasaanku, jadi jangan banyak bicara dan cepat katakana tenda manakah yang merupakan tenda tim medis "

" Memangnya kau mau apa di sana? "

" Bukan kah diri ini sudah mengatakannya tadi? Aku ingin memastikan keadaan sahabatku " Aku malah jadi membentuknya karena emosi dalam diri ini benar-benar mencuat.

" Hoi tuan kekasih. Aku minta maaf karena tadi tidak sengaja menguping ceritamu. Hanya sekedar saran, seharusnya kau menasehati pacarmu menggunakan pengalaman nyata yang telah kau alami. Ajarkan padanya konsep dari sebuah harapan " Gadis itu malah memarahi Aka.
" Jangan mengalihkan pembicaraan " Bentakku.

" Hoi, siapa namamu? "

" Hestia "

" Perkenalkan namaku Athena. Baik lah, menasehatimu akan jauh lebih mudah ketika kita saling mengenal " Ujar gadis bernama Athena itu.

" Hei, bukan kah ini kebetulan yang menarik? Nama kali sama-sama di ambil dari mitiologi Yunani " Aka malah asik sendiri saat mengetahui nama gadis itu ternyata juga berasal dari nama salah satu dewi dari mitiologi Yunani.

" Aka " Aku memarahi si tuan tanpa ekspresi itu.

" Kau tau? Aku paham tentang kondisimu, mungkin kekasihmu juga sama. Kami berdua sama-sama sudah kehilangan kedua orang tua. Ibuku meninggal setelah melahirkan adiku sementata ayahku tewas di hadapan diri ini dalam sebuah kecelakaan kapal "

Aku tertengun ketika Athena mulai menceritakan kisahnya, gadis itu bernasip sama seperti Aka. Yatim piatu setelah takdir memutuskan untuk memerintahkan sangat maut mencabut nyawa orang terkasih mereka.

" Sialnya lagi, orang yang di beri amanah untuk merawat aku ternyata sudah meninggal juga. Untuknya ada salah seorang tim SAR yang mau meneruskan hak asuhku, sehingga diri ini bisa tetap melanjutkan hidup tanpa kekurangan apapun " Athena melanjutkan kisah pilu nya.

" Ma.. Maafkan ucapanku tadi " Ujarku.

" Aku ingan tujuh tahun lalu, ayah mendorong ku agar sebuah langit-langit kapal yang terjun bebas tidak menimpa diri ini. Percayalah mentalku sudah setengah hancur saat itu. Aku dan adikku berusaha mati-matian untuk menyingkirkan puing-puing yang menimpa ayah. Hatiku terus berharap agar dirinya baik-baik saja, untungnya takdir masih mau mengabulkan harapan itu, walaupun hanya sesaat " Athena kembali menceritakan masa lalunya.

" Ayah selamat, awalnya itu lah yang aku pikirkan karena kepalanya belum pecah tertimpa material yang sangat berat. Aku berusaha keras untuk membebaskan tubuhnya dari puing-puing kapal yang menggunung itu, namun kenyataan pahit harus diri ini Terima. Ayah yang saat itu sempat siuman berkata jika bagian bawah tubuhnya sudah tidak dapat lagi dirinya rasakan. Dia memintaku untuk meninggalkanya, ayah tidak keberatan mati asalkan kedua putrinya selamat. Bayangkan saja, saat usiaku masih lah sepuluh tahun, diri ini di minta untuk mengambil keputusan yang benar-benar gila "

" Lantas apa yang kau lakukan kala itu? " Tanyaku penasaran.

" Aku meninggalkannya, saat itu diri ini sudah tidak memiliki pilihan lain. Mati bersama ayah lalu membuat pria itu benar-benar bersalah hingga sampai di akhirat, atau pergi meninggalkan pria itu dan berusaha menyelamatkan diri bersama adikku. Pilihan kedua lah yang diri ini ambil, maka dari itu aku bisa hidup sampai detik ini "

" Kisahmu sungguh tragis nona " Ujar Aka bersimpati atas kisahnya.

" Aku sadar saat itu berharap saja tidak akan membuat diri ini bisa meraih apapun. Takdir memutuskan untuk mengabaikan harapanku. Aku rasa itu wajar karena mungkin ada sesuatu yang ingin sosok tak kasat mata itu ajarkan kepadaku "

" Lantas, apakah kau mau berkata jika diri ini tidak boleh berharap? " Tanyaku.

" Hestia, ketika dirimu menuju tenda itu, artinya ada dua kemungkinan yang akan kau dapatkan. Sahabatmu selamat dan hanya mengalami luka, atau tewas tertimbun beton. Jika kemungkinan pertama yang dirimu dapat, jujur saja aku pun akan ikut senang, akan tetapi bagaimana jika malah kemungkinan kedua yang kau lihat? "

Aku terdiam saat mendengar ucapannya, gadis itu ada benarnya juga. Sendari tadi aku hanya berharap jika Zahra selamat, namun belum memikirkan apa yang harus diri ini lakukan ketika ternyata takdir merasa enggan untuk mengabulkan harapanku. Apakah aku siap jikan ternyata Zahra sudah tewas?

" Berharap itu boleh, namun kau harus mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan jika ternyata takdir enggan mengabulkan harapanmu itu " Athena menjabarkan inti dari ceritanya tadi.

" Dia benar, nona pelukis apakah kau sudah siap menerima kenyataan jika ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapanmu? " Aka mengajukan pertanyaan kepadaku.

Siapkah aku menerima kenyataannya jika nantinya takdir tidak mengabulkan harapanku? Sekarang aku paham mengapa Athena melarang ku untuk pergi ke tenda tim medis, dia menganggapku belum siap untuk menerima kenyataan.

" Entah lah. Sejujurnya aku bigung, apa yang membuatku sangat ingin menemuinya adalah karena diri ini belum meminta maaf kepada-Nya. Athena, apa kah tau aku dan zahra tadi bertengkar. Aka membuatku sadar jika diri ini lah yang salah, maka dari itu aku sangat ingin menemuinya sekarang. Aku hanya ingin minta maaf kepadanya, namun ada kemungkinan takdir memutuskan untuk tidak pernah membuat kata maafku sampai kepadanya. Katakan padaku, apa yang harus diri ini lakukan jika ternyata Zahra telah tiasa? " Ujarku sambil mulai menangis.

" Hestia, sekarang kau sudah belajar bukan tentang mengapa langit sangat tidak suka jika ada dua insan yang bertengkar lalu saling mengacuhkan hingga berhari-hari " Tanya Athena.

" Ya, aku sudah belajar. Para penghuni langit begitu karena khawatir jika pertengkaran tersebut justru malah akan menjadi abadi karena salah satunya terlebih dahulu di jemput oleh sang maut sehingga tidak ada yang dapat mengucapkan ataupun menerima maaf "

" Syukurlah jika kau memahaminya. Hestia, manusia tidak memiliki kuasa untuk mengulang waktu, apa yang telah terjadi hari ini akan segera menjadi masa lalu. Mungkin kau pernah mendengar kata-kata ini, masa lalu adalah sebuah pembelajaran, masa sekarang adalah kenyataan dan masa depan adalah misteri. Maka dari itu, kau harus menjadikan apa yang telah berlalu sebagai pembelajaran untuk menghadapi masa depan yang masih menjadi misteri. Bukan kah begitu tuan kekasih? " Ujar Athena.

" Athena benar, maka dari itu jika nanti kenyataan yang dirimu dapat adalah sebuah kabar duka. Maka kau harus siap menjadikannya masa lalu, jangan biarkan pikiranmu terjerat di sana, karena sekali lagi yang merupakan kenyataan adalah masa sekarang. Cukup jadikan hal tersebut pelajaran, dan itu artinya mulai sekarang kau harus bisa selalu menjaga hubungan baik dengan siapapun, agar tidak ada lagi kata maaf yang tidap sempat terucap " Ujar Aka.

Mereka benar, salah satu hal yang bisa aku lakukan jika kenyataan yang diri ini dapat berupa tewasnya Zahra adalah terus melangkah. Tidak boleh ada kata maaf yang tidak sampai lagi. Sekarang aku masih harus berharap jika sangat srikandi itu selamat.

" Terima kasih Aka, Athena. Sekarang hatiku sudah siap untuk menerima segala kenyataan yang ada "
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
25-07-2021 22:13

5. Tahta Sang Hestia

Quote:Kita akan sejenak memundurkan alur kisah Hestia. Kisah ini akan meceritakan awal mula persahabatan anatara nona pelukis dengan sang Diva


Hestia



Apa yang harus kau lakukan ketika menjumpai ke gagalan? Jika di tanya seperti itu, sekiranya ucapan apa kah yang akan terlontar dari lisan kalian? Mungkin jawaban yang berbeda-beda akan muncul karena bagaimanapun semua orang memiliki persepsi masing-masing.

Jika pertanyaan tersebut di ajukan kepadaku, maka jawaban yang diri ini pilih akan berupa sesuatu yang sangat simpel, yaitu bangkit lalu kembali mengambil langkah maju. Siklus jatuh, bangun merupakan hal yang wajar dalam hidup dan akan di rasakan oleh semua orang. Bagaimanapun di situ lah letak seni dari suatu kehidupan.

Gagal itu biasa, bahkan banyak orang bijak yang berkata " Jatuh dan gagal lah sebanyak mungkin ketika kau muda, karena itu merupakan salah satu cara untuk menemukan kedewasaan serta kesuksesan "

Gagal itu biasa, namun yang jadi soal adalah siapkah seseorang bangkit kembali setelahnya? Banyak orang yang enggan untuk bangkit setelah merasakan sakitnya kegagalan, namun tidak sedikit juga yang mampu untuk langsung bangkit. Banyak juga orang yang siap gagal namun tidak memahami bagaimana caranya untuk bangkit kembali, bahkan ada sebagian orang tidak sanggup menahan luka ketika jatuh akan terapi paham bagaimana caranya jatuh.

Unik bukan? Maka dari itu siklus tersebut layak di bilang seni dari kehidupan, karena bagaimanapun seni indentik dengan keunikan.

Impianku adalah menjadi seorang pelukis profesional yang karyanya akan mampu memukau banyak orang. Aku bersyukur karena apa yang diri ini impikan ternyata sesuai dengan bakat yang Tuhan berikan kepada diri ini.

Sepuluh tahun yang lalu....

Hestia

Suatu hari papah mengajakku untuk menghadiri sebuah pelelangan lukisan. Papah memiliki hobi unik yaitu mengoleksi lukisan dari segala penjuru dunia, ya walaupun aku rasa kata hobi bukan lah kata yang cocok untuk menggambarkan ketertarikan ayah terhadap lukisan.

Dia lebih terlihat seperti seorang maniak, karena dirinya memang begitu tergila-gila dengan ragam coretan di atas kandas bahkan rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk mendapatkan sebuah lukisan.

Aku dan mamah tidak pernah merasa keberatan dengan hobinya itu, sebab pada dasarnya ayah memang memiliki uang yang cukup untuk memuaskan hasrat pribadinya, tanpa harus mengorbankan kami, dia juga begitu menyayangi kami, ya bisa di katakan aku dan ibu berada satu tingkat lebih tinggi dari lukisan di mata papah dalam hal menuangkan kasih sayang.

Papah adalah seorang pekerjaan keras, selain itu dia juga memiliki otak yang encer sehingga mampu untuk selalu memperbesar bisnisnya. Maka dari itu ke maniakan papah terhadap lukisan bisa di anggap sebagai penambah semangatnya dalam berbisnis.

Saat itu merupakan pertama kalinya aku ikut papah ke pelelangan lukisan. Dinding rumah hampir setiap sudutnya di penuhi lukisan, namun aku tetap terkejut ketika mendapati gedung yang diri ini datangi. Berbeda dengan di rumah, dinding gedung ini tidak di padati oleh lukisan, hanya ada beberapa kanfas berbingkai penuh warna yang tertempel di dinding.

Namun lukisan-lukisan tersebut di tata dengan begitu rapih sehingga nampak lebih elgan ketika di pandang. Para penyelenggara sudah mengatur semuanya, menentukam sudut, pencahayaan serta tata letak agar setiap lukisan itu mampu memancarkan keindahan sejatinya.

Mataku begitu terpukau ketika memandangi lukisan-lukiaan tersebut, begitu indah sehingga tatapan ini seakan terpaku pada tiap goresan penuh warna yang berada di atas tiap kanfas itu. Sejak Saat itulah aku mulai memahami mengapa ayah begitu menyukai lukisan dan sepertinya diri ini mulai tertular ke maniakan nya itu.

Aku dan papah terus melangkah maju, menelusuri koridor yang di hiasi dengan aneka lukisan yang menakjubkan hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan. Kamipun memasuki ruangan itu, dan aku mendapati ada begitu banyak bangku yang sudah hampir. Semua yang duduk di sana merupakan orang-orang dewasa berpakaian serba rapih. Mereka terlihat sedang memperhatikan seorang pria paruh baya yang sedang berbicara di atas panggung.

Papah mengajakku untuk mencari tempat duduk, akhirnya kami menemukan tempat kosong yang letaknya begitu jauh dari panggung. Papah terlihat menghela nafas, mungkin dia kecewa karena mendapat tempat duduk di baris paling belakang, bagaimanapun posisi ini membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di atas panggung.

Namun papah tetap duduk, dan mulai memperhatikan si pembawa acara. Si pembawa acara mengucapkan banyak hal, namun karena tata bahasa yang di gunakannya tinggi ada banyak kata-kata yang tidak begitu aku pahami.

Setelah pembawa acara itu berhenti berbicara, semua orang yang ada di dalam ruangan bertepuk tangan, begitu juga papah. Tidak lama berselang, beberapa orang terlihat masuk ke dalam panggung sambil membawa sebuah lukisan yang masih di tutupi kain.

Aku melirik ke arah papah, mata pria itu nampak berbinar-binar, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin melihat lukisan macam apa yang ada di balik kain itu. Salah seorang yang ada di atas mulai mengangkat kain, setelah itu sebuah lukisan bertemakan laut pun terpampang di hadapan para hadirin.

" Baik hadirin sekalian, lukisan di beri judul Ao. Lukisan ini di buat oleh seorang seniman terkenal yang berasal dari Jepang " Ujar sang pembawa acara.

Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Mataku begitu terpukau ketika melihat kanfas yang di dominasi oleh warna biru itu. Entah mengapa lukisan itu langsung membuat hatiku damai, benar-benar seperti melihat lautan secara langsung.

" Indah sekali " Ujarku.
" Kau benar Tia. Lukisan yang sungguh indah " Papah membenarkan ucapanku.

" Baik lah para hadirin, harga awal lukisan ini adalah dua puluh juta. Jika ada yang berminat silahkan ajukan harga anda " Ujar sang pembawa acara.

Para hadirin pun mulai mengangkat tangan sambil mengucapkan nominal harga yang mereka ajukan, papah terlihat tidak mengangkat tanganya, hal itu membuatku bigung karena tadi dia berkata jika lukisan itu indah. Bukan kah jika demikian papah tertarik dengan lukisan tersebut? Lantas mengapa dia tidak mengangkat tanganya?

Pada akhirnya Ao terjual dengan nilai tiga puluh juta, naik hingga sepuluh juta karena ternyata banyak orang yang menginginkan lukisan tersebut. Peningkatan harga yang cukup gula bukan?

Setelah lukisan tersebut menemukan seorang pemilik baru, beberapa orang terlihat mulai membawa lukisan baru ke atas panggung. Kain yang menutupi lukisan tersebut pun di buka, dan menampakan sebuah kanfas yang di dominasi oleh warna hijau. Lukisan kali ini bertemakan alam, indah sekali hingga seakan-akan tubuh ini bisa merasakan hembusan angit yang bertiup di dengah hutan.

Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

" Lukisan ini di buat oleh Seniman muda yang berasal dari Spanyol, judulnya adalah viento que sopla en el bosque " Ujar sang pembawa acara.

" Namanya rumit sekali " Gerutuku.

" Haha itu bahasa Spanyol Tia " Ujar ayah.

Pelelangan pun di mulai. sama seperti Ao, viento que sopla en el bosque di banroll dengan harga awal dua puluh juta. Orang-orang pun mulai meneriaki harga yang mereka ajukan, namun papah sekali lagi tidak mengangkat tanganya. Apakah menurut ayah lukisan itu jelek? Bagiku karya si Seniman muda asal Spanyol itu sangat bagus, apa kah selera papah aneh?

" Apakah menurut papah lukisan itu tidak bagus? " Tanyaku penasaran.

" Menurutku viento que sopla en el bosque sangat lah bagus " Jawab papah.

" Lantas mengapa kau tidak mengangkat tangan dan menawarkan harga? "

" Lukisan itu bagus, namun aura yang terpancarkan dari lukisan itu tidak sampai ke hatiku "

" Aura? "

" Tia, apa kah kau merasakan sesuatu yang spesial ketika menatap lukisan itu? " Tanya papah.

" Iya, aku merasa seperti ada angin yang berhembus " Jawabku dengan penuh semangat .

" Hmmm begitu ya. Artinya aura lukisan tersebut sampai kepadamu, sejujurnya papah tidak merasakan apapun ketika melihatnya. Bagiku lukisan tersebut hanyalah pemandangan alam semata, dan tidak ada yang terasa spesial di dalamnya "

" Oh begitu "

" Kau akan memahaminya nanti, setelah matamu itu melihat banyak lukisan "

" Siap bos "

viento que sopla en el bosque pun terjual di harga tiga puluh juta. Lima juta lebih tinggi dari pada Lukisan si Seniman Jepang tadi. Lukisan ke tiga pun di bawa naik ke panggung, kali ini warna yang mendominasi kanfas tersebut adalah orange. Temanya adalah senja, di padang pasir.

Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

" Kali ini berasal dari Seniman legendaris timur Tengah, judul adalah eindama tabda alshams bialnuwmi " Ujar si pembawa acara.

" Nama dari bahasa lain lagi " Aku mengomentari nama lukisan tersebut.

" Ketika sang mentarai mulai mengantuk, itulah arti nama lukisan tersebut "

" Oh begitu "

Aku memandangi lukisan tersebut, entah mengapa diri ini tidak bisa merasakan sesuatu dari warna-warna yang di tuangkan ke dalam kanfas tersebut. Tidak seperti Ao yang membuatku seakan-akan berada di laut, dan viento atau apalah itu yang mampu membuatku merasakan hembusan angin.

Lukisan ini bagus, namun auranya tidak sampai kepadaku, Mungkin ini lah maksud ucapan papah tadi. Jadi begitu, tiap lukisan memiliki aura, namun ada orang-orang yang tidak bisa memahami aura tersebut. Aku jadi berfikir, adakah seseorang yang mampu membuat lukisan dengan aura unik yang mampu membuat semua orang merasakannya.

Karya seniman legendaris terjual dengan harga lima puluh juta, setelah sebelumnya di banroll tiga lupuh juta oleh sang pembawa acara. Ternyata aura lukisan itu justru sampai ke hati banyak orang, karena tadi pelelangan sempat berlangsung sengit, dan banyak orang yang bersikeras mendapatkan lukisan tersebut. kenapa aku tidak bisa merasakan aura nya ya? Mungkin kah seleraku jelek?

" Baik lah lukisan terakhir " Ujar sang pembawa acara setelah lukisan baru tiba di atas panggung. " Hasil karya anak bangsa.... "

Entah mengapa ketika sang pembawa acara mengatakan hal tersebut, banyak hadirin yang menghela nafas. Mereka seakan-akan merasa sangat kecewa, apa ada yang salah dengan lukisan ini?

" Mengapa banyak yang terlihat kecewa? " Tanyaku.

" Haha orang-orang yang kecewa itu adalah para kolektor amatir. Mereka menganggap karya anak negeri tidak lah bernilai " Ujar papah.

" Apa mereka menganggap orang Indonesia tidak memiliki ke ahlian seni? "

" Ya kurang lebih begitu, padahal nenek moyang kita merupakan Seniman terhebat di dunia. Kau bisa lihat orang asing mengunjungi kota kita hanya untuk melihat borobudur dan prambanan yang merupakan seni dari tangan nenek moyang kita. Banyak juga turis yang menyukai batik, hasil karya masyarakat negeri kita "

" Kau benar "

" Mereka akan menyesal karena melewatkan yang satu ini " Ujar ayah sambil membenarkan posisi duduknya.

Kain yang menutup lukisan tersebut pun di angkat seketika sebuah lukisan yang luar biasa indah terpampang. Gorsan cat membentuk sebuah lukisan berupa seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya di atas kursi goyang. Di belakang ibu itu, terlihat sebuah perapian yang menyala, aura kehangatan langsung dapat aku rasakan. Sangat menenangkan hingaa seakan-akan aku adalah anak yang tengah wanita itu gendong. Aku bahkan seperti merasakan hangatnya perapian yang tergambar di sana.

" Judul dari lukisan ini adalah, the throne of the Hestia " Ujar sang pembawa acara.

Aku langsung tau arti dari judul lukisan itu, Tahta sang Hestia. Aku juga tau siapakah sang Hestia itu, serta maksud dari tahta yang di katakan dalam judul lukisan tersebut. Hestia adalah dewi perapian dalam mitologi Yunani, lambang dari kehangatan dan keluarga.

Papah dan mamah menyematkan nama itu kepadaku dengan harapan diri ini mampu memberikan kehangatan kepada siapaun. Aura yang terpancar dari lukisan itu benar-benar sangat terasa di hati ini, begitu menghangatkan layaknya perapian dan teramat menenangkan seperti keluarga.

Orang-orang yang semula terlihat kecewa seketika berubah menjadi terpukau, mereka pun mulai mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tangannya dan menawarkan harga agar dapat segera membawa pulang lukisan tersebut.

" Harga awal lukisan ini adalah tiga puluh juta " Ujar sang pembawa acara.

Seketika itu juga, banyak tangan yang terangkat jumlah orang yang tertarik dengan lukisan itu sangat banyak, bahkan bisa di bilang hampir semua hadirin menginginkan Tahta sang Hestia itu. Lisan para hadirin mulai menyebutkan harga, nilai dari lukisan itu terus naik, hingga sampai di angka lima puluh juta.

Keadaan ruangan lelang itu sekarang terlihat seperti zona perang, semua orang terus menawarkan harga hingga nilai lukisan itu mencapai enam puluh juta. Papah yang tidak menawarkan harga pada tiga lukisan sebelumnya, sekarang malah terlihat begitu berhasrat untuk membawa pulang maha karya itu.

Nilai lukisan telah mencapai tujuh puluh juta, banyak orang yang mulai menyerah karena harga tersebut mungkin sudah di luar budget mereka. Ketika nilai the throne of the Hestia sudah mencapai angka delapan puluh juta, semakin banyak orang yang mundur hingga menyisakan lima orang saja.

Papah termasuk salah satu dari lima orang yang bertahan. Dia masih berjuang untuk membawa pulang lukisan itu, aku tidak tau ada berapa banyak uang yang ada di tabungannya. Namun dahinya mulai berkerut ketika harga lukisan itu sudah mencapai angka sembilan puluh juta.

Penawar yang tersisa hanya ada dua orang, papah dan seseorang yang ada di baris paling depan. Ketika lawannya masih sanggup menaikan harga, papah mulai bimbang saat hendak berbicara.

" Papah, aku siap tidak jajan selama satu tahun. Jadi menangkan lah lukisan itu " Ujarku dengan harapan papah mau terus berjuang.

Bagaimanapun aku sangat menginginkan lukisan itu juga, coretan warna yang menggambarkan makna nama ini. Aku tidak peduli apa konsekuensi dari ucapanku tadi, yang jelas bagaimanapun caranya ayah harus memenangkan pelelangan ini.

" Baik lah anakku " Ujar papah.

" Sembilan puluh delapan juta, apakah tuan yang di sana masih mau menaikan harga? " Tanya sang pembawa acara sambil menunjuk ayah.

" Seratus juta " Ayah mengajukan harga kepada pembawa acara.

" Papah hebat " Pujuku.

" Tia, mungkin mamahmu akan menggantungku karena mengeluarkan uang yang terlampau tinggi untuk lukisan ini " Ujar papah sambil memasang ekspresi aneh, Berhasrat namun takut.

" Heh? " Ujarku kaget.

" Tapi demi dirimu, aku akan berjuang " Ayah mengacungkan jempol ke arahku.

" Papah keren, aku siap menemanimu saat mamah marah " Ujarku sambil membalas acungan jempolnya.

" Seratus juta. Apa tuan yang di sana masih mau menaikan harga? " Tanya pembawa acara.

" Heh, dia pasti menyerah " Ujar ayah sambil tersenyum jahat.

" Seratus lima puluh juta " Ucapan pria yang berada di barisan paling depan itu seketika membuat semua orang terdiam. Dia langsung menaikan harga hingga lima puluh juta? Sekaya apakah orang ini?

" A.. Apa tuan yang di sana masih mau menaikan harga? " Tanya pembawa acara.

" Aaaahhhh " Papah. terlihat sangat kesal. Sepertinya angka seratus juta merupakan kesanggupan akhir dirinya.

" Tiga... Dua... Satu " Si pembawa acara mulai menghitung mundur, setelah hitungan tersebut selesai dia pun mengetuk palu dan menyatakan pria di barisan depan itu adalah pemenangnya.

" Aaaahhh, kurang ajar " Papah mulai mengacak-acak rambutnya.

" Hahaha " Aku tertawa ketika melihat reaksi papah.

" Mengapa kau tertawa " Ujar papah sambil mengacak-acak rambutku.

" Lukisan itu luar biasa ya pah. Sekarang Aku jadi paham mengapa papah menjadi maniak lukisan "

" Apa maksudmu maniak? " Tanya papah ketus.

" Papah tau, sekarang aku memiliki impian " Ujarku mantap.

" Impian? "

" Ya, aku ingin menjadi pelukis yang hebat. Karyaku akan di perebutkan seperti tadi, dan nilai dari satu lukisan ku akan bisa menembus angka satu milyar " Aku mengacungkan jempol lagi ke arah ayah.

" Haha baiklah papah akan mendukung mimpimu "

Kami memang gagal mendapatkan lukisan luar biasa itu, namun berkat kunjungan ku ketempat ini, diri ini seketika menemukan hal yang ingin di lakukan. Melukis, the throne of the Hestia, aku akan membuat lukisan yang jauh lebih memukau dari pada itu.

Setelah itu papah mulai memasukan ku ke kursus melukis, banyak guru yang mengatakan jika diri ini memiliki bakan akan hal itu dan diri ini pun jelas bangga. Aku terus berlatih, tiap jam, tiap hari, tiap minggu. Kamarku seketika di penuhi kanfas dan cat, karena diri ini sepertinya telah kecanduan melukis. Ada begitu banyak lukisan yang aku buat, dan kebanyakan dari mereka di puji oleh banyak orang.

Saat beranjak dewasa aku mulai sering mengirim lukisan yang diri ini buat untuk mengikuti kompetisi, namun sayangnya semuanya langsung gugur di babak penyisihan. Aku jelas sedih karena hal tersebut, mengapa lukisan yang banyak di puji itu selalu gagal bahkan saat masih babak pertama? Apakah orang-orang berbohong ketika memuji lukisanku?

Rasa depresi pun mulai menyelimuti hati ini, aku pun mulai berfikir " Apakah sebenarnya aku tidak berbakat? " Sial, sebenarnya apa yang salah dengan lukisanku. Aku masih menolak untuk menyerah, sehingga porsi latihan pun semakin diri ini tambah. Berjuang, berjuang dan berjuang hanya itu lah yang ada di pikiranku.

Suatu hari ada sebuah kompetisi melukis yang di adakan dinas setempat. Akupun mengikutinya dengan sebuah lukisan yang diri ini beri judul The throne of the Dementer. Konsep judulnya aku ambil dari lukisan yang dulu gagal papah menangkan, hanya saja kali ini aku mengambil nama Dementer, dewi bunga dalam mitologi Yunani.


Lukisan yang aku buat berupa sebuah taman yang penuh bunga. Di tengah taman itu aku melukis seorang gadis bertopi yang mengenakan gaun putih. Aku menamainya Tahta sang dementer karena ingin menggambarkan rupa dari singgasana sang dewi bunga. Aku begitu bersemangat mengikuti kompetisi itu hingga membawa sendiri lukisan yang diri ini buat ke tempat perlombaan.

Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Sialnya, sang takdir malah mempertemukan ku dengan akur pahit. Saat menyeberang sebuah mobil menabarakku hingga tubuh ini terpendal dan tidak sadarkan diri. Akhirnya aku gagal mengikuti lomba, karena tidak dapat mengumpulkan lukisan tepat waktu.

Tiga minggu lamanya diri ini di rawat di rumah sakit, tangan kananku patah hal itu semakin meyakinkan ku jika Tuhan tidak menghendaki seorang Hestia menjadi pelukis hebat sebab setelah pulih pun tangan ini selalu bergetar saat memegang kuas.

Akhirnya aku pasrah dan membuang impian yang dulu pernah lisan ini utarakan kepada papah. The throne of the Demeter merupakan karya terakhirku, lukisan itu selamat saat diri ini di tabrak mobil. Namun aku yang sudah kehilangan minat dalam dunia melukis, memutuskan untuk menyimpanya di gudang dan tidak akan pernah mengirimnya lagi ke kompetisi manapun.

Hari demi hari berlalu hingga tanpa teras aku sudah memasuki jenjang pendidikan baru yaitu SMP. Impian menjadi pelukis sudah nyaris sirnah dalam benak ini, namun suatu hari aku di pertemukan dengan seseorang yang akan mengubah segalanya.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
26-07-2021 22:18

6. Bunga Untuk Sang Bunga

Hestia

Saat ini aku sedang duduk di ruang tamu keluarga, sambil memandangi papah yang tengah asik mengobrol dengan seorang pria. Di samping pria itu, ada sesosok wanita yang merupakan istrinya serta gadis seusiaku bernama zahra yang merupakan putri tunggal pasangan tersebut. Mereka adalah tetangga baruku, sebuah keluarga yang pindah dari bandung karena sang ayah di mutasi ke kota kecil ini.

Papah merupakan orang yang selalu ramah terhadap siapapun, terlebih lagi keluarga tersebut juga sangat asik ketika di ajak ngobrol, hal itu membuat percakapan mereka menjadi panjang, segala hal kedua pria itu bahas. Obrolan sudah berlangsung selama satu jam dan belum juga menunjukan tanda-tanda akan selesai, aku mulai merasa sangat bosan karena tidak memahami topik yang keduanya bahas.

Untungnya mamah menyadari hal itu, dan meminta ku mengajak Zahra ke kamar. Aku pun menurut dan mengajak gadis itu ke kamar, Sepertinya zahra merupakan sosok yang pemalu, hal tersebut begitu nampak pada gelagatnya. Sebelum itu dia meminta izin untuk ke toilet, dan akupun mengantarnya ke sana.

" Ka...kau tidak perlu menungguku Hestia, aku tidak mau merepotkan mulai. Beri tahu saja di mana kamarmu. Nanti aku akan menyusul setelah urusan di sini selesai " Ujarnya.

" Baik lah, kamarku ada di lantai dua. Ruangan ke tiga dari kiri "

" Baik lah "

Zahra pun masuk ke kamar mandi, aku juga langsung beranjak ke kamar karena beranggapan dia akan lama di kamar mandi. Mungkin dia sudah menahannya dari tadi, aku akan membiarkannya mebuang apa yang harus di buang selama mungkin.

Setibanya di kamar, aku segera naik keranjang kemudian membaca sebuah komik kemarin baru diri ini beli. Sepuluh menit berlalu, suara ketika pun terdengar dari arah pintu kamarku. Aku malas beranjak dari ranjang, maka dari itu lisan ini berkata " Masuk " Dengan keras, agar Gadis itu bisa masuk sendiri.

" Silahkan duduk " Ujarku, zahra pun menurut dan mengambil posisi duduk. Sepertinya urusan buang membuangnya sudah selesai, sebab wajahnya nampak lega.

" Hestia, boleh aku bertanya sesuatu? " Tanya Zahra setelah aku menyelesaikan basa-basi tadi.

" Kau bisa memanggilku Tia, karena memang namaku agak sulit di ucapkan "

" Baiklah. Tia apa aku boleh menanyakan sesuatu? "

" Tentu saja "

" A... Apakah kau seorang pelukis? "

Ucapannya jelas membuatku terkejud, dari mana dia tau jika dulunya aku adalah seorang pelukis? Rasanya papah tidak membahas apapun sensari tadi. Aku memandangi wajah gadis cantik itu dengan tatapan tajam. Hal itu berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.

" Ma.. Maafkan aku. Tadi aku salah masuk ruangan, dan malah tiba di gudang, di sana aku melihat sebuah kanfas yang dintutupi kain. Karena penasaran aku pun membuka kain itu dan mendapati sebuah lukisan yang sangat indah " Zahra menceritakan bagaimana caranya dia mendapatkan asumsi jika diri ini seorang pelukis.

" Hah... Jadi kau melihat lukisan itu ? " Tanyaku.

" Ma... Maafkan aku karena berlaku tidak sopan "

Sial, kenapa gadis kikuk ini bisa sampai masuk ke gundang? Rasanya aku sudah memberi tahu dia letak kamar ini. Terlebih lagi dia melihat lukisan itu dan mulai bertanya mengenai sesuatu yang sangat ingin benak ini pendam.

" Ya, aku memang pelukis. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi " Ujarku ala kadarnya sebab diri ini begitu malas untuk menceritakan kisah lama itu kembali.

" Me.. Mengapa kau berhenti melukis? Padahal lukisanmu sangat indah "

" Berhenti lah melebih-lebihkan nona. Aku muak mendengar seseorang yang tidak tau seni mengometari lukisanku " Aku menaikan nada saat mengucapkan hal tersebut.

" Tapi aku tidak melebih-lebihkan "

" Semua orang berkata jika lukisanku bagus. Tapi sampai saat ini, tidak ada satu lukisan pun yang menjuarai kompetisi. Terlebih lagi, tanganku sudah tidak bisa lagi di pakai melukis setelah sebuah kecelakaan terjadi " Aku semakin kesal karena gadis itu membuatku kembali mengingat hal yang tidak penting.

" Apakah hal yang indah harus selalu memenangkan kompetisi? " Tanyanya.

" Tentu saja harus, bagaimanapun lukisan tidak bisa di nilai bagus jika hanya di lihat oleh para amatir "

" Tia, dulu guruku pernah berkata. Lukisan itu memiliki aura, dan aura tersebut berasal dari hati pelukis nya. Segenap upaya mereka lakukan agar apa yang mereka gambar mampu mencerminkan perasaan yang ingin mereka sampaikan kepada orang banyak "

" Aku sudah mengetahui hal itu sejak lama "

" Lantas mengapa kau terlalu berfokus pada kemenangan? "

" Hah kau tidak akan paham "

" Aku paham. Bagi diri ini, menyanyi adalah segalanya, aku pernah mengalami apa yang kau alami. Berusaha untuk terus menyanyi demi sebuah kemenangan, bukan untuk menyampaikan perasaan melalui irama "

" Bernyanyi itu beda dengan melukis "

" Tidak, mereka sama Tia. Mungkin memang beda caranya, tapi pada dasarnya menyanyi dan melukis merupakan perantara kita untuk menyampaikan suatu perasaan kepada orang lain. Melukis dengan coretan kuas di atas kanfas sementara menyanyi berbicara namun di iringi melodi dan di latari irama " Ujar Zahra.

" Ah aku tidak memahami ucapanmu "

" Katakan padaku, apa selama ini kau melukis hanya untuk menjuarai kompetisi? Jika iya kau tidak mungkin bisa membuat maha karya seperti yang ada di gudang itu. Sebenarnya Apa tujuanmu ketika melukis? Menuangkan perasaan agar coretan warnamu dapat membuat orang lain merasakan apa yang hatimu rasakan atau hanya untuk membuat para profesional terpukau? "

Pertanyaan tersebut seketika membuatku tertegun, apa tujuanku melukis selama ini? Dia ada benarnya juga, apakah selama ini lukisanku sudah menjadi perantara hatiku dalam mengungkapkan suatu perasaan? Atau kah hanya coretan warna yang bertujuan untuk memenangkan kompetisi?

Mungkin kah aura dari lukisanku hilang karena tidak ada perasaan yang hati ini tuangkan dalam tiap coretan di atas kanfas itu? Hasrat untuk menang selalu hati ini utamakan sehingga konsep aura dalam lukisan yang dulu pernah aku pelajari hilang.

Sial, mengapa aku baru menyadari hal tersebut. Impian ku adalah membuat lukisan yang nantinya akan di perebutkan oleh banyak orang. Namun untuk menggapai hal tersebut aku harus mampu membuat aura dari lukisanku sampai ke semua orang.

Membuat orang lain merasakan apa yang ingin aku ungkapkan melalui sebuah lukisan. Seperti lukisan Ao yang membuatku merasa seperti di laut, atau venti entah apalah itu yang bisa membuat diri ini seakan merasakan hembusan angin.

Aku baru sadar jika tiap lukisan yang diri ini kirimkan untuk komtisi hanyalah gambar tanpa perasaan dan di penuhi hasrat untuk menang semata, Bukan coretan kuas yang mengutarakan isi hatiku. Ketika melukis the throne of the Dementer sejujurnya aku sudah merasa pesimis untuk menang.

Maka dari itu aku tidak menungakan hasrat ke dalamnya, melainkan perasaanku yang begitu menyukai bunga. Ternyata gambar itu malah memiliki aura, dan Zahra adalah orang pertama yang berhasil merasakan aura tersebut.

" Ah sial " Ujarku sambil bangkit dari kasur kemudian membuka lemari dan mengambil peralatan melukis yang telah lama diri ini segel. Aku membawanya keatas meja, kemudia meletakaannya dan mulai menggebrak meja.

" Kau mau apa? "

" Berisik, lihat saja aku... "

" Ma... Maafkan aku Tia " Ujar Zahra panik. Dia mungkin menganggapku kesal kepadanya, padahal pada kenyataanya aku kesal dengan diri sendiri.Mengapa aku baru sadar jika banyak lukisanku yang tidak memiliki aura karena diri ini terlalu berhasrat untuk menang?

Aku berusaha memegang kuas, namun tangan ini masih saja bergetar. Luka akibat kecelakaan itu benar-benar mempengaruhi tanganku, sehingga memegang kuas dengan benar pun sangat sulit. Ah sial, padahal aku ingin sesegera mungkin kembali melukis.

Tapi aku menolak untuk menyerah, mungkin memang butuh waktu yang cukup lama untuk membiasakan diri dengan keadaan tangan ini. Impian itu akan kembali aku kejar, takdir telah berbaik hati mempertemukan diri ini dengan Zahra. Gadis itu berhasil membuatku sadar akan segala kesalahan yang dulu diri ini buat.

" Kau tau, ucapanmu benar. Selama ini aku benar-benar melupakan konsep aura pada lukisan, sehingga apa yang diri ini buat selalu berupa gambar kosong. Berkat dirimu aku mulai bersemangat untuk kembali melukis. Ya walaupun sepertinya butuh waktu, karena tangan ini harus kembali membiasakan diri " Ujarku.

" Sungguh ? "

" Yup. Terima kasih Zahra " Ujarku sambil mengukirkan sebuah senyuman.

" Sama- sama "

" Baik lah, aku akan mulai berlatih kembali " Aku berteriak dengan penuh semangat.

" Ti.. Tia " Ujar Zahra.

" Ada apa? "

" Ma.. Maukah kau menjadi temanku? " Tanyanya.

" Tentu saja mau " Jawabku.

" Kau serius? "

" Yup aku serius "

" Terima kasih Tia... " Zahra bangkit dari posisi duduknya kemudian memulukku dengan begitu erat.

" Hoi kau berlebihan. Tanpa di minta pun aku tetap mau jadi temanmu "

" Apa kau tidak suka hal yang berlebihan? "Tanyanya.

" Tidak juga "

" Kalau begitu boleh aku memelukmu lebih erat lagi? "

" Kau mauembuatku mati sesak? "

Kamipun tertawa lepas setelah aku mengatakan hal tersebut. Sial, takdir memang unik, dia memperkeruh alur damai yang tengah aku jalani dengan cara mencelakakan diri ini dan membuat tanganku kesulitan memegang kuas. Impianku pun seolah-olah hancur untuk selamanya. Tapi Ternyata dia sedang menuntunku untuk bertemu dengan Zahra, sosok yang membuatku kembali mengingat sebuah konsep yang selama ini terlupakan.

Takdir memang lah unik, terkadang sosok tak kasat mata itu seolah-olah meruntuhkan impian seseorang dengan begitu kejamnya. Padahal pada kenyataanya dia tidak serta merta meluluh latahkan impian tersebut begitu saja, tanpa menyelipkan suatu makna di dalamnya. Bisa jadi jatuhnya seseorang ketika mengejar impian merupakan bentuk teguran dari sang takdir.

" Kau tau, aku memiliki sebuah impian. Menjadi seorang Diva dan mengadakan konser keliling dunia " Ujar Zahra dengan penuh semangat.

" Sugguh impian yang indah " Pujiku.

" Berjanjilah padaku, suatu saat nanti kau akan menggambarkan sebuah backgroud yang luar biasa indah untuk konserku "

" Haha aku berjanji. Maka dari itu, segeralah jadi Diva agar aku tidak terlalu lama menunggumu "

" Ya, aku akan terus berlatih hingga menjadi diva yang layak untuk bernyanyi di depan background buatanmu "

" Oh iya apa kau menyukai lukisan yang ada di gudang itu? "

" Tentu saja aku menyukainya "

" Kalau begitu aku menghadiahkan lukisan tersebut kepadamu "

" Su.. Sungguh? " Gadis itu terlihat tidak pecaya ketika mendengar uucapanku tadi.

" Ya. Anggap itu sebagai hadiah pertemanan kita " Ujarku sambil meletakan tangan di bahu kirinya.

" Terima kasih Tia. Kau tau? Ketika melihat luksanmu itu, aku merasa seperti berada di tengah padang bunga. Sungguh memanjakan mata hingga aku ingin terus memandangnya setiap hari "

" Haha kau bisa saja "

Entah mengapa pada akhirnya aku memutuskan untuk memberikan lukisan tersebut kepada Zahra, hati ini merasa jika pemiliki paling layak dari the throne of the Dementer adalah dirinya. Sosok yang seirama dengan lukisanku yang satu ini.

Nama gadis itu adalah Zahra, sebuah kata yang di ambil dari bahasa arab dan memiliki arti bunga. Bukan kah sangat sesuai jika gadis yang bernamakan bunga itu memiliki lukisan bertemakan bunga?

Ya, the throne of the Dementer adalah lukisan bertemakan bunga, dan rupa dari karyaku itu adalah sebuah taman yang di penuhi bunga. Aku pernah melihat taman seperti itu Australia, begitu indah dan sangat memanjakan mata. Semua itu membuatku ingin menyampaikan pada semua orang tentang betapa menawannya padang bunga itu. Oleh sebab itulah aku membuat lukisan tersebut, agar semua orang yang belum bisa hadir di tempat itu bisa tetap merasakan keindahannya.

" Aku akan menjaga lukisan ini "


Quote:Usai sudah kisah yang seharusnya menjadi sebuah prolog itu. Sekaranv Kita akan kembali ke aliran waktu semula



Sekarang...


" Berjanjilah padaku, suatu saat nanti kau akan menggambarkan sebuah backgroud yang luar biasa indah untuk konserku "

Sampai detik ini aku masih mengingat permintaan Zahra kala itu. Aku pun menerima permintaanya dan berjanji, suatu hari nanti diri ini akan melukis sebuah background yang luar bisa indah agar penampilan srikandi itu terlihat semakin menakjubkan. Apakah Zahra masih mengingat hal itu?

Sayangnya aku tidak akan mungkin lagi menanyakan hal tersebut kepada Zahra.


Saat ini, Aku tengah memandangi sebuah kantung mayat yang berisikan jasad Zahra. Gadis itu tidak selamat, tim SAR yang menemukan jasadnya mengatakan jika Zahra tertimbun oleh reruntuhan bangunan sehingga sangat sulit mengevaluasi mayatnya. Pria itu berkata jika kepala Zahra lecah karena tertimpa sebuah beton, maka dari itu Tim SAR tersebut melarangku untuk membuka kantung mayat itu.

Athena juga menganjurkanku untuk menurut, sebab diri ini tidak akan sanggup dan pasti akan langsung muntah setelah melihat kondisi naas Zahra. Air mata mengalir begitu deras hingga membasahi kedua sisi pipi ini.

Kata maafku sekarang tidak akan pernah tersampaikan kepadanya, perasaan sesal begitu menyesakkan hati ini, mengapa aku harus bertengkar dengannya tadi? Andai saja diri ini tau kalau tadi adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Zahra. Maka aku akan terus mengutarakan berapa berharganya gadis itu dalam hidupku, bukan malah memulai pertengkaran.

Manusia memang hanya mampu berkata andai ketika mereka terlambat menyadari jika sesuatu yang berharga bagi mereka telah hilang untuk selamanya. Akupun demikian, bagaimanapun tidak ada yang bisa diri ini lakukan lagi selain mengucapkan hal tersebut berulang kali, sebab waktu pun pasti tidak akan pernah berkenan untuk mundur dan membiarkanku mengubah penyesalan tersebut.

Aku telah kehilangan sosok yang begitu berarti, dia adalah sosok yang membuatku kembali melangkah setelah terpuruk begitu lama ketika mengejar suatu impian. Sahabatku, teman terbaikku, orang yang selalu berada di sisiku dan nama orang tersebut adalah Zahra.

" Aka, apa kah kehilangan memang selalu terasa semenyakitkan ini " Tanyaku sambil terus menangis.

" Ya, memang begitulah rasa kehilangan. Sangat menyakitkan hingga mampu menyesakkan hati " Ujar Aka sambil mengelus kepalaku.

" Hestia, aku rasa sekarang kau sudah memahami betapa perihnya hati ini ketika kehilangan sosok yang kau cintai " Ujar Athena, sambil memandangi kantung mayat yang berisikan jasad Zahra itu.

" Ya aku sudah memahaminya "

" Jika kau tidak ingin kembali merasakannya, maka jagalah semua yang kau cintai dengan sekuat tenaga. Agar tidak ada penyesalan di masa depan yang memang masih merupakan sebuah misteri "

" Kau benar Athena, bagaimanapun caranya aku akan menjaga semua orang yang diri ini cintai. Aku tidak mau merasakan sakit yang begitu terasa seperti sekarang ini " Ujarku sambil mengusap air mata.

Aku sudah berjanji kepada mereka berdua untuk siap menerima kenyataan apapun yang akan aku temukan. Apapun yang terjadi aku tidak boleh tetap diam dan terus terpuruk dalam rasa sesal, jadikan kehilangan ini sebagai masa lalu yang bernilai pembelajaran agar aku bisa terus melangkah maju dan menyongsong masa depan.

Takdir memutuskan untuk kembali memperkeruh alur hidup ini, dia memerintahkan sang maut untuk menjemput Zahra dan membuatku sama sekali tidak bisa mngucapkan maaf kepadanya. Entah apa buang sosok tak kasat mata itu rencana kan sekarang, yang jelas aku akan tetap berusaha berpikir postife mengaku segala keputusannya.

Pasti akan ada hikmah yang bisa diri ini ambil dari semua ini, pasti ada sebuah pembelajaran yang takdir sematkan pada alur aneh ini dan aku harus berhasil menemukannya.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piripiripuru dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
27-07-2021 00:00
Salam kenal, ijin mengikuti cerita ente.
profile-picture
Rebek22 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
27-07-2021 18:28

7. How To Be The Necromancer

Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah

Quote:Seorang Penulis adalah Necromencer. Penyihir yang mampu menghidukan orang mati


Hestia

Aku pernah membaca sebuah Buku yang terbilang unik, Judulnya adalah The Jorney Of Necromancer. Awalnya aku mengira jika kisah di dalam buku itu akan menceritakan seorang Necromancer, penyihir yang memiliki ragam mantera untuk menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang telah lama mati.

Ternyata buku itu sama sekali tidak mengisahkan tentang sihir, atau segala hal yang berbau fantasi, melainkan kisah tentang perjalanan seorang penulis yang menjelajah ke segala penjuru dunia.

Aku sempat kecewa ketika membaca bagian awal Buku itu, sebab diri ini merupakan penikmat cerita fantas yang di penuhi pertarungan sihir, bukan kisah perjalanan seseorang. Namun karena Buku itu merupakan salah satu bestseller yang sudah melakukan pencetakan untuk keempat kalinya, aku masih berekspetasi tinggi dan tetap membacanya.

Ekspetasi ku sepertinya tidak di khianati oleh kisah dalam buku itu, sebab aku mulai menikmati alur yang buku itu sajikan. Nama tokoh utama dalam kisah tersebut adalah Rasputin, seorang pria yang memiliki impian gila yaitu membuat sebuah maha karya berupa buku yang akan membuat semua umat manusia memujanya.

Pada bab ke dua, penulispun mulai menjelaskan mengapa buku ini di beri Judul The Jorney Of Necromancer, ada Sebuah dialoh yang terjadi antara tokoh utama dengan sang istri. Rasputin mengucapkan sebuah kalimat yang seketika membuat dahiku berkerut.

" Jika detektif adalah juru bicara orang mati, maka seorang penulis merupakan Necromancer. Penyihir yang mampu menghidupkan kembali seseorang "

Awalnya aku tidak bisa memahami maksud dari penulis buku itu, mengapa dia menyamakan profesinya sendiri dengan sesosok penyihir yang sering di anggap jahat oleh banyak kisah fiksi. Di dasari rasa penasaran, akupun terus membaca buku itu hingga selesai hanya dalam waktu dua jam.

Percayalah kisah yang di sajikan dalam buku itu sangat menarik, penulis benar-benar membuat alur yang tidak bisa di tebak oleh siapapun. Sialnya buku ini ternyata masih lah belum selesai, kelanjutan dari kisah Rasputin akan di rilis tahun depan dengan buku yang berjudul the Spokesperson for the dead.

Pada akhirnya aku berhasil memahami makna dari kalimat yang di ucapkan Rasputin pada bab ke dua. Penulis hampir serupa dengan Necromancer, penyihir yang dapat menghidupkan kembali seseorang. Namun konteks menghidupkan keduanya berbeda, penulis adalah seseorang yang dapat membuat orang mati kembali hidup di dalam pikiran manusia.

Penulis cerita biografi atau sejarah misalnya, mereka secara tidak langsung kembali menghidupkan para tokoh yang ada di dalam kisah mereka dan terus hidup dalam pikiran seseorang. Sebagai mana yang kita ketahui, Adam dan hawa telah begitu lama tiada, namun sampai saat ini dua nenek moyang manusia itu masih terus hidup di dalam benak kita.

Semua itu terjadi karena adanya para penulis, mereka mengemas kisah manusia pertama di muka bumi ini menjadi cerita yang di tulis dalam sebuah buku. Jutaan tahun yang lalu kita masih belum ada, namun kitab suci mengisahkan tentang keduanya, dan para penulis pun mulai membuat kisah berdasarkan penggalan ayat yang mereka teliti.

Kita jadi tau bagaimana mana awal muka manusia di turunkan dari bumi, kita jadi tau jika iblis merupakan musuh nyata bagi manusia karena saat di surga mahluk terlaknat itu menipu hawa untuk memakan buah khuldi, dan kita jadi tau siapa sosok yang melakukan pembunuhan pertama kali di muka bumi ini. Seakan-akan kita melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Maka dari itu kisah dalam buku The Jorney Of Necromancer itu banyak menceritakan tentang usaha Rasputin untuk menghidupkan kembali seseorang dalam hati dan pikiran banyak orang. Dia menulis kisah manusia-manusia hebat yang layak untuk di ketahui oleh dunia.

Mulai dari kakek tua penjaga mercusuar yang mati demi menyelamatkan sebuah kapal hingga pelacur yang merawat puluhan anak yatim korban perang namun di hukum pancung karena kedapatan mencuri emas sang Raja. Rasputin terus berkeliling dunia, mencatan segala kisah yang dirinya dapat kemudian mengemasnya menjadi suatu kisah yang menarik.

Semua itu dirinya lakukan hanya untuk menghidupkan kembali orang-orang hebat itu, sehingga dapat menginspirasi begitu banyak manusia untuk melakukan hal yang sama dengan pahlawan-pahlawan itu.
Entah mengapa kisah Rasputin itu muncul secara tiba-tiba dalam benak ini, mungkin hati ini sangat ingin melakukan hal yang sama dengannya, Menghidupkan kembali seseorang. Aku sempat berfikir, mungkin kah aku yang seorang pelukis bisa menjadi penulis? Bagaimanapun diri ini sangat ingin menceritakan kisah tentang sahabatku kepadanya banyak orang.

Sesosok gadis dengan suara merdu yang harus menutup usianya di saat masih sangat muda. Mungkin itu judul yang cocok jika aku pada akhirnya memutuskan akan benar-benar mulai menulis kisah tentang sang srikandi itu. Aku harap tangan ini bisa menuliskan bait kalimat yang mampu mengutarakan betapa menyesalnya diri ini karna gagal mengucapkan kata maaf kepadanya.

Aku sangat berharap orang lain memahami maksud dari tulisanku itu, dan mulai memperbaiki beragam hubungan yang ratak dalam hidup mereka sebelum ada yang benar-benar pergi untuk selamanya.

Sayangnya kemampuanku dalam merangkai kata sangat lah payaha, bukannya memahami isi dan maksud dari tulisanku orang-orang mungkin akan tertawa ketika membaca rangkaiaan kata yang diri ini buat.

Bagaimanapun aku hanya tau cara melukis, bukan menulis. Walaupun sama-sama seni, keduanya tetap memiliki dasar yang berbeda dan layak di anggap bertolak belakang. Menulis adalah upaya menggambarkan tulisan sementara melukis adalah upaya menuliskan sesuatu dengan gambar.

" Kau baik-baik saja " Ujar Athena sambil menyodorkan segelas teh kepadaku.

" Terima kasih Athena " Akupun meraih teh itu.

Saat ini aku sedang duduk di sisi barat lapangan, memandangi langit malam yang kebetulan terlukis begitu indah. Lapangan sekolahku benar-benar di jadikan tempat pengungsiaan. Korban yang selamat di arahkan untuk menetapkan sementara di sini oleh para tim SAR.

Suasana pun jadi ramai, banyak siswa yang sudah bertemu keluarganya, banyak siswa yang masih menanti kabar ayah dan ibunya, banyak siswa yang harus menerima kenyataan pahit berupa kabar duka mengenai orang tuanya, dan banyak juga orang tua yang harus menagis karena mendapati anaknya tidak selamat dan salah satunya adalah orang tua Zahra.

Ayah dan ibu sahabatku selamat, namun mereka harus menerima kenyataan pahit karena putri tunggalnya harus tewas dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Mereka baru tiba sore tadi, saat ayah dan ibu Zahra mengetahui jika putrinya sudah tiada, keduanyapun menangis dengan sangat kencang.

Aku yang sudah mampu menerima kenyataan sampai ikut meneteskan air mata. Diri ini memahami kesedihan mereka, buah cinta mereka telah tiada, hal itu jelas akan sangat menyesakkan hati keduanya, Maka wajar jika mereka menangis dengan sangat keras.

Saat mereka mulai tenang dan mampu menerima kenyataan, ayah Zahra menghampiriku kemudian memeluk diri ini dengan sangat erat lalu berkata :

" Tia, tolong maafkan semua kesalahan putriku "

Ucapan itu jelas membuat hati ini sesak, bagaimanapun aku lah yang seharusnya meminta maaf pada Zahra, karena siang tadi lisan ini mengucapkan kata-kata yang sangat tidak pantas kepadanya dan membuat persahabatan kami retak.

" Tidak, seharusnya aku lah yang minta maaf " Ujarku saat itu.

" Kau tidak mungkin meminta maaf kepada orang yang telah tiada, jangan melakukan hal yang sia-sia, sekarang tugasmu adalah memaafkannya, karena hidup Zahra telah berakhir sementara kau belum. Kata maafmu akan jauh lebih berarti baginya saat menjumpai hari penghakiman nanti "

" Aku pasti memaafkan semua kesalahannya tante "

Setelah itu orang tua Zahra pamit, mereka akan mulai mengurus jenazah putrinya untuk di makamkan secara layak. Aku sempat melihat ibunya tadi sore, dia mampu untuk tegar dan mulai ikut membantu di dapur umum. Mereka mungkin telah ikhlas, dan tidak mau terus berkabung karena hal itu tidak akan menghasilkan apapun, maka dari itu keduanya mulai menapaki langkah baru dan berfokus pada apa yang bisa mereka raih.
" Bagaimana perasaanmu? " Tanya Athena.

" Sudah agak baikan, Terima kasih karena telah membantuku menerima kenyataan "

" Sama-sama "

" Athena, boleh aku menanyakan sesuatu? " Tanyaku.

" Hmmm bisa kau panggil aku dengan sebutan Ana saja? Rasanya Athena terlalu panjang "

Aku setuju dengan perkataanya, memang nama kami berdua agak sulit di ucapkan oleh orang Indonesia, karena memang terlalu panjang. Maka dari itu orang-orang memanggilku Tia, dan dia juga di panggil Ana.

" Baik lah Ana "

" Kau mau menanyakan apa? "

" Mengapa kau bisa ikut dengan para tim SAR ke tempat bencana? " Aku menanyakan halnyang sendari tadi memenuhi benakku. Mengapa gadis seusia ku bisa ikut dengan tim SAR?
" Haha akhirnya pertanyaan itu muncul juga "

" Kau sering dapat pertanyaan seperti ini? " Tanyaku bigung.

" Ya begitu lah, aku merupakan relawan yang di tunjuk untuk membantu korban bencana. Pada dasarnya tugas yang aku Terima sama seperti pisikiater, membantu anak yang mengalami goncangan mental setelah selamat dari bencana. Karena bicara dengan anak yang perbedaan usianya hanya sedikit akan lebih efektif, maka dari itu tim SAR sering meminta bantuan ku "

" Oh begitu. Haha kau telah menjalankan tugasmu dengan baik nona pisikiater, sebab dirimu lah yang membuatku tegar saat mengalami goncangan mental "

" Hoi, mengapa kau menyebutku seperti itu? Apa kau mulai tertular dengan pacar mu yang selalu menyebutmu dengan nona pelukis? "

" Eh? Entah lah " Ujarku.

Dia masih menganggap kami sebagai sepasang kekasih, Kira-kira sampai kapan aku harus membiarkan ke salah pahaman Ana berlanjut? Sejujurnya aku senang-senang saja di anggap berpacaran dengan Akan, namun apa si tuan tanpa ekspresi itu merasakan hal yang sama juga?

" Dia mana kah pacar mu sekarang? "

" Dia sedang mengatri makan di dapur umum "

" Oh begitu. Kau tau, bagiku kalian berdua adalah pasangan yang menarik. Aka memiliki pemikiran yang dewasa, sementara kau adalah gadis yang bisa memikirkan nyawa orang lain di saat dirinya sendiri dalam bahaya "

" Haha apa hebatnya hal itu? " Ujarku malu

" Aku sudah berkali-kali datang ke tempat bencana, dan kau adalah orang pertama yang begitu mementingkan seorang sahabat. Bagaimanapun ketakutan akan membuat seseorang menjadi sangat egois dan enggan memikirkan orang lain "

" Bagaimanapun ada urusan yang belum terselesaikan antara aku dan Zahra, maka dari itu aku sangat mengkhawatirkannya "

" Pertahankan sifat pedulimu itu Tia, karena kelak kau akan dapat balasan dari hal tersebut "

" Aku akan menuruti kata-kata "

" Baik lah, saatnya bekerja " Ujar Ana sambil bangkit dari posisi duduk.

" Boleh aku menemanimu? " Tanyaku.

" Banyak yang terjadi padamu hari ini, maka dari itu beristirahat lah dulu. Besok aku akan meminta bantuanmu "

" Sampai kapan kau akan berada di sini? "

" Empat hari "

" Ana, mau kah kau jadi temanku? " Ujarku begitu saja.

" Haha " Ana malah menanggapi ucapanku dengan sebuah tawa, hal itu jelas membuatku merasa kesal. " Tentu aku mau, tanpa di mintapun kita memang sudah menjadi teman "

Ana pun mulai melangkah menjauhi diriku, dia adalah gadis yang hebat maka wajar jika diri ini sangat ingin berteman dengannya. Bagaimanapun dia merupakan sosok yang berusaha agar orang lain tidak mengalami penderitaan yang sama dengannya, sungguh gadis yang baik hati.

" Merindukanku? " Tiba-tiba sosok Aka muncul, dan langsung duduk di sebelahku. mulut si tuan tanpa ekspresinitu di penuhi makanan begitu juga dengan piring yang tengah dirinya bawa.

" Apa yang kau lakukan ? " Tanyaku bigung.

" Menimbun makanan, banyak korban yang tidak mau makan. Maka dari itu aku meminta jatah mereka " Ujar Aka dengan begitu santainya.

" Memangnya kau selapar apa? " Ujarku sambil mengambil tahu goreng yang ada di piring

" Sangat lapar " Aka pun mulai makan dengan begitu lahapnya.

Melihat si tanpa ekspresi itu makan, rasa lapar pun mulai muncul dalam perut ini. Aku memutuskan untuk mengambil beberapa tahu goreng lagi dari piring nya, dan mulai memakannya.

Semua makanan yang ada di piring Aka ludes hanya dalam hitungan menit. Setelah makan dia langsung menenguk air yang tadi di bawanya, kemudian bersendawa tanda jika dirinya puas makan.

" Hoi, itu menjijikan " Gerutuku.

" Maaf nona "

" Aka, apa menurutmu aku bisa jadi penulis? " Tanyaku membuka percakapan.

" Nona apa kau sakit? " Aka memperlihatkan ekspresi terkejut.

" Tentu tidak bodoh "

" Lantas mengapa bicaramu aneh? "

" Apa kau pernah membaca buku berjudul The Jorney Of Necromancer? "

" Pernah, buku itu sangat booming tahun lalu dan kelanjutannya akan segera terbit " Ujar Aka. Sepertinya memang buku itu merupakan karya best seller, sebab di ibu kota sekalipun kisah si Rasputin itu ternyata sangat terkenal.


" Penulis sama seperti Necromancer, mampu menghidupkan orang mati walau hanya dalam pikiran. Sejujurnya aku jadi ingin menjadi penulis, agar diri ini bisa menulis kisah tentang Zahra dan membuatnya hidup di benak banyak orang " Ujarku

" Bodoh, kau tidak perlu jadi penulis jika ingin melakukan hal tersebut " Ujar Aka sambil menyentil keningku " Tetap lah jadi pelukis, sebab memang itukah bakanmu "

" Haha tadi aku hanya bertanya, lagi pula kemampuan merangkai kataku sangat lah payah "

" Menulis adalah menggambarkan sesuatu menggunakan tulisan, sementara melukis adalah menulisaknan sesuatu sebagai lukisan. Kau tidak perlu menjadi penulis jika ingin membuat banyak orang mengenang sang srikandi. Cukup lukiskan perasaanmu tentang nya, karena gambar seorang pelukis sama dengan tulisan seorang penulis. Bukankah begitu konsepnya? "

" Kau ada benarnya juga, tulisan dan lukisan merupakan perpanjangan perasaan dari seorang penulis dan pelukis. Semua itu merupakan seni, yang bisa menginspirasi seseorang "

" Menyerahlah untuk menjadi penulis, dan tetap fokuslah pada lukisanmu. Jika keadaan sudah normal, buat lah lukisan yang sekiranya mampu memancarkan aura kesedihanmu. Tunjukan pada dunia, inilah kisah tetang sang srikandi dalam bentuk sebuah lukisan. Mak kau akan mampu menghidupkan kembali sahabatmu dalam benak orang-orang "

" Kau benar. Terima kasih atas sarannya Aka "

" Kau tau, tadi aku melihat ayah sang srikandi. Dia terlihat sedang membawa sebuah lukisan "

" Lukisan? "

" Ya, lukisan yang menurutku sangat indah. Seorang gadi bertopi yang sedang berada di tengah padang bunga "

Aku sangat yakin lukisan yang di maksud Aka adalah tahta sang Dementer, lukisan itu selamat dari terjangan gempa.

" Itu lukisanku "

" Sungguh? "

Entah mengapa sebuah ide muncul dalam benakku. Aku memang tidak bisa jadi penulis, namun bukan berati diri ini tidak bisa menghidupkan zahra di benak orang-orang.

Aku akan melakukan hal tersebut dengan caraku sendiri. Ya, mengubah sedikit tahta sang Dementer menjadi sebuah maha karya yang akan menjadi perpanjangan perasaanku.

" Aka apa kau mau menemaniku untuk melakukan hal gila? " Tanyaku pada Aka.

" Tentu saja sayang "
profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
29-07-2021 13:29

8. Cinta Bersemi Di Saat Hati Ini Merana

Quote:Punggung seseorang yang tengah mengejar impian selalu nampak luar biasa


Hestia

" Aka, pelan-pelan jalannya " Ujarku sambil menggengam erat lengannya.

" Apa kau takut? " Tanyanya dengan nada meledek.

" Siapa yang tidak takut jika keadaanya seperti ini "

" Haha, baiklah. Jadi kita mau kemana nona? "

Saat ini kami berdua berada di sebuah tempat yang nampak begitu gelap gulita, hanya cahaya dari senter Hpku lah yang menjadi sumber penerangan kami, sebab listrik masih padam sampai saat ini. Hal itu rasanya wajar mengingat banyak tiang listrik yang tumbang saat gempa, salah satunya bahkan nyaris menimpaku.

Suasana tergambar begitu sepi, tidak ada satu orang pun di sini, padahal tempat ini biasanya ramai karena merupakan kawasan pertokoaan kota. Ada banyak retakan besar di jalan yang membuat aspal terangkat dan berhasil membuatku beberapa kali tersandung dan nyaris terjatuh.

Bangunan-bangunan yang ada di sisi jalan semuanya hancur, bahkan beberapa di antaranya nyaris rata dengan tanah. Gempa berhasil memporak-porandakan kawasan pertokoan kota dan memaksa para penghuninya mengungsi ke lapangan sekolahku sehingga tampat ini nampak seperti sebuah kota mati yang biasa aku lihat di film horor.

Aku bersyukur karena Aka bersedia untuk menemani diri ini. Bayangkan saja jika tidak, aku pasti akan langsung kembali ke pengungsian karena mental ini keburu ciut di terpa ketakutan.

Tadi aku menjelaskan kepadanya jika diri ini ingin pergi sebentar dari tempat pengungsian, namun untuk tujuannya belum lah lisan ini beritahukan kepadanya. Tim SAR jelas akan melarang kami keluyuran, maka dari itu aku dan Aka menyelinap kabur saat ada kesempatan.

" Ke rumahku " Aku memberitahunya kemanakah tujuan perjalanan kami.

" Kau mau apa? " Tanya bigung.

" Mengambil alat lukis " Jawabku pendek.

" Ah kau mau melakukan sesuatu dengan lukisan yang di bawa oleh ayah sang srikandi itu?"

" Bagaimana cara kau bisa mehetahui niatanku? "

" Mudah saja, kau tadi menyinggung the Jorney of Necromancer. Kemudian secara tiba-tiba kau mengatakan hal bodoh mengenai alih profesi menjadi penulis demi menghidupkan sang srikandi dalam benak orang lain. Aku menasehatimu dan sepertinya dirimu mau menurut. Kemudian kau mengetahui jika ayah sang srikandi membawa lukisan yang mungkin dirimu hadiahkan kepada putrinya. Semua itu menuntunku pada satu kesimpulan" Aka menjelaskan bagaimana caranya dia bisa menebak apa yang ingin aku lakukan.

" Sial, kau hebat sekali tuan " Ujarku kagum.

Ini bukan pertama kalinya aku melihat Aka mampu menebak sesuatu dengan sangat mudah dengan Hanya bermodalkan potongan informasi samar, meski begitu diri ini tetap saja merasa terkejut. Secerdas apakah sebenarnya tuan tanpa ekspresi ini?. Aku yakin Aka akan menjadi sesosok deketif yang luar biasa jika memang dirinya memilih profesi tersebut di masa depan.

Dia memang orang yang unik dan penuh kejutan. Di kelas Aka tidak terlihat seperti orang pintar yang layak menerima program pertukaran pelajar. wajahnya selalu menunjukan ekspresi datar, terlebih lagi hampir setiap saat dirinya terlihat mengantuk.

Kurang lebih satu bulan yang lalu dia tiba di Yogyakarta dan di tempatkan di kelasku. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah " Orang aneh " banyak teman sekalasku yang sepertinya sepemikiran dengan diri ini.

Semua orang Meremehkan Aka dan menganggap kepala sekolah telah salah memilih orang untuk menerima program pertukaran pelajar. Bagaimana tidak? Wajahnya selalu saja mengukirkan raut datar seakan hidupnya sangat lah hambar.
Namun siapa sangka, saat semua orang yang ada di kelas terdiam ketika tidak bisa menjawab soal matematika di papan tulis, dia tiba-tiba maju dan mengerjakannya dengan sangat mudah.

Guru sampai tercengang karena ternyatabsoal tersebut di peruntukan bagi mahasiswa semester akhir bukan anak SMA. Dia berhasil menggeser posisi Zahra yang semula merupakan anak terpintar di kelas. Aka juga merupakan sosok yang mampu mengajari orang lain, penjelasannya sangat mudah di pahami sehingga banyak orang yang bertanya kepadanya jika tidak memahami pelajaran.

Hal yang paling hebat dari si tuan tanpa ekspresi itu bukan hanya keenceran otaknya melainkan kemampuan analisa yang di luar nalar serta kelihayannya dalam menata sebuah skenario. Sepertinya hebat bukan lah kata yang tepat untuk menggambarkan dua kemampuannya tadi, sepertinya lebih layak di anggap mengerikan karena memang begitu lah kenyataanya.

" Tidak ada yang bisa di tutupi darinya " Kurang lebih begitu lah anggapan orang-orang terhadapnya sekarang.

Para pendukung tahta teratas kelas pernah menjahili Aka dengan cara menyembunyikan tasnya. Dengan raut tanpa ekspresi dia bisa begitu saja menemukan keberadaan tasnya. Gilanya lagi dia sanggup memberikan serangan balasan kepada para tahta teratas kelas dengan cara yang sangat tidak terduga.

Dengan santainya dia membeberkan aib mereka, membongkar rahasia Dino si pemimpin elit kelas yang ternyata menyelingkuhi kekasihnya. Mengatakan jika salah seorang tahta teratas kelas ternyata budak dari preman sekolah lain dan sebagainya. Dia membeberkan hal tersebut lengkap dengan penjelasan hingga tidak ada yang bisa menganggapnya bohongnya

Para elit kelas pun langsung menghajarnya karena geram, namun siapa sangka ternyata dia sudah menyiapkan serangkai skenario yang malah membuat semua tahta teratas kelas nyaris di drop out.

Awalnya Aka menerima pukulan mereka begitu saja, namun setelah itu dia membalasnya hingga semua terkapar. Saat guru datang dia mengaku di pukuli oleh elit kelas yang berusaha memalaknya dengan menunjukan vidio di HPnya. Ternyata dia sengaja menerima pukulan sementara HP saku kemejanya merekam semua kejadian.

Diapun mengaku jika orang-orang yang memukulinya malah saling bertengkar karena memperebutkan uang hasil jarahan. Hal itu membuat semua elit kelas di panggil ke kantor kepala sekolah, mereka harus pasrah di fitnah karena tidak memiliki bukti untuk mengelak.


Para elit kelas di buat kocar-kacir sehingga tidak ada lagi yang mau mengusik hidupnya. Aku menghormatinya sejak saat itu, karena dia memberi pelajaran kepada orang-orang yang membuat hubunganku dengan zahra retak.

Seharian ini aku terus bersamanya hingga diri ini sadar jika sebenarnya si tuan tanpa ekspresi memiliki hati yang sangat baik, pemikiran dewasa serta dapat di andalkan. Anasai kami dekat sejak awal, mungkin dia akan mampu memberiku saran sehingga diri ini tidak di perbudakan perasaan iri dan bertengkar dengan Zahra.

" Aka, mengapa kau begitu baik kepadaku? Bahkan kau mau menemaniku melakukan hal gila seperti ini " Tanyaku.

" Bukan kah itu wajar bagi sepasang kekasih? " Jawaban Aka jelas membuat wajah ini memerah. Sampai kapan sebenarnya dia ingin bermain kekasih-kesaihan dengan ku? Sial, baku jadi berharap lebih pada kata-katanya.

" Hoi kita hanya sedang berduaan, tidak ada Athena di sini jadi kau tidak perlu repot berpura-pura. Lagi pula mengapa tadi kau malah membuat hubungan di antara kita menjadi sepasang kekasih? Athena jadi salah paham tau "

" Bagaimana kalau kita mengubah ke pura-puraan ini menjadi kenyataan? "

" Maksudmu? " Tanyaku bigung.

" Bodoh " Aka malah mencemooh diri ini.

" Mengapa kau malah mengejekku? " Ujarku kesal.
" Haha maaf "

" Jadi apa maksud perkataanmu tadi? " Tanyaku lagi.

" Bagaimana kalau kita jadi sepasang kekasih sungguhan saja? " Ujar Aka dengan begitu santainya.

. " Hah? " Aku jelas terkejut ketika Aka mengucapkan hal tersebut. Menjadi sepasang kekasih sugguhan? Apa ini merupakan pernyataan cinta? Atau dia hanya sedang menggoda diri ini?

" Kau tau, aku menyukaimu " Sekali lagi si tuan tanpa ekspresi itu mengatakan hal yang membuatku benar-benar berharap. Sial, apakah dia serius ketika mengatakan hal tadi?

" Aka, jika kau bercanda maka aku akan menghajar wajah tanpa ekspresimu itu " Aku memberikan ultimatum kepada nya. Jangan membuatku berharap jika akhirnya semua ini hanyalah candaan.

" Aku tidak sedang bercanda nona "

" Me.. Mengapa kau menyukaiku? " Tanyaku yang mulai memutuskan untuk menganggap serius perkataanya.

" Entah lah "

" Bodoh, kau benar-benar ingin mempermainkan perasaanku ya? "

" Haha, sayangnya di sini gelap. Padahal aku sangat ingin memandangi wajah malu-malumu itu "

" Siapa yang malu-malu " Ujarku berbohong.

" Nona, bagiku kau adalah perempuan yang unik. Mataku tidak pernah luput darimu, kau Selalu datang ke kelas dengan penampilan seadanya dan wajah penuh cat. Di mata orang lain mungkin kau aneh, tapi bagiku kau sungguh luar biasa. Aku tau kau setiap hari berlatih melukis, dan cat yang menempel di wajahmu itu merupakan saksi bisa atas semua usahamu, maka dari itu kau layak di anggap luar biasa karena mampu untuk tetap konsisten berjuang demi meraih impian tanpa memperdulikan cemoohan dari orang sekitar "

Aku tidak pernah menyangka jika selama ini ada seorang laki-laki yang selalu memperhatikanku. Aka adalah orang yang mampu menghargai perjuanganku dalam mengejar impian, bahkan dia mengaku kagum dengan hal itu. Kata-katanya jelas membuat diri ini sangat senang, karena ternyata ada yang mau menilai tinggi setiap usaha yang aku kerahkan dalam mengejar sebuah impian.

" Haha kau membuatku menjadi bangga " Ujarku dengan ala kadarnya karena pada dasarnya diri ini memang merasa bingung harus merespond ucapannya dengan cara apa.

" Maka dari itu aku menyukaimu "

" A.. Aku " Aku semakin gelagapan ketika Aka kembali mengatakan hal tersebut.

" Hestia, mau kah kau menjadi kekasihku? "

Aku tidak percaya jika dia benar-benar menyatakan perasaanya. Semuanya sangat mendadak sehingga aku merasa sangat bigung, bagaimana diri ini harus menanggapi pernyataanya itu?

Sejujurnya aku mulai tertarik dengan Aka sejak dirinya berhasil membuat elit kelas kocar-kacir. Namun karena tidak terbiasa berkomunikasi dengan lawan jenis, aku tidak pernah berani mengajaknya ngobrol, tadi merupakan pertama kalinya diri ini bisa berbicara panjang lebar dengannya.

Setelah mengetahui sisi lain dari si tuan tanpa ekspresi, diri ini pun merasa semakin tertarik dengannya. Bahkan mungkin, benih perasaan suka terhadap dirinya sudah mulai tumbuh di dalam hatiku. Siapa yang menyangka jika malamnya Aka akan makan menyatakan perasaan kepadaku?

" Aka, jika kau ingin menyatakan perasaan setidaknya pilih lah tempat yang tepat " Ujarku.

" Maksudmu? " Tanya Aka bigung.

" Apa menurutmu menyatakan perasaan di tempat gelap seperti ini pantas? Setidaknya pilih lah tempat yang romatis, bodoh "

" Ma... Maaf, bagaimanapun aku tidak bisa menahan lagi hasrat untuk menyatakan cinta kepadamu " Ujar Aka.

" Aku senang kau menyukaiku, sebab siapa yang menyangka jika ahli analisa kelas ternyata selalu memperhatikan gadis kucel sepertiku "

" Jadi jawabanmu? "

" Ya. Aku mau menjadi kekasihmu " Ujarku sambil mencium pipinya.

Aku tidak tau akan seunik apa hubungan kami nanti, yang jelas diri ini setuju untuk menjadi kekasihnya. Benih cinta yang semula hanya berupa tunas seketika tumbuh dengan sangat cepat hingga menjadi pohon yang kokoh. Aku sadar jika hati ini sebenarnya tidak hanya sekedar tertarik kepada Aka, diri ini mencintainya bahkan mungkin sangat mencintainya.

Dia orang yang mampu menghargai usahaku, dia juga merupakan sosok yang mau menerima diri ini apa adanya. Selain itu banyak hal yang telah dia lakukan untukku hari ini, sehingga hati ini seketika jatuh ke dalam kubangan cintanya. Aku sangat senang ketika dia berpura-pura menjadi kekasihku, dan sekarang diri ini merasa lebih senang lagi karena Aka resmi menjadi kekasihku.

" Aku mencintaimu Hestia " Ujarnya sambil memeluk tubuhku

" Aku juga mencintaimu Akasia " Akupun membalas pelukannya.

Aku baru saja kehilangan seorang sahabat, namun siapa yang menyangka jika setelahnya diri ini justru mendapatkan seorang kekasih. Jika Zahra masih hidup, mungkin dia adalah sosok yang paling ramai mengomentari hubungan kami.

Ah sobat, andai kau ada di sini. Aku sangat ingin pamer kepadamu, lihat lah ada seorang laki-laki yang ternyata menyukaiku. Kau memang cantik, tapi justru aku lah yang bisa mendapatkan kekasih lebih dulu. Jika kau melihatku dari langit, tolong katakan pada Tuhan untuk tetap membuat sahabatmu ini merasa bahagia dengan laki-laki yang di cintai nya ini.

" Hoi " Tiba-tiba seseorang dari arah depan meneriaki kami sambil menyorotkan senter.

" Ah sial, cinta masa SMA memang lah selalu membara. Aku tau kalian saling mencintai, tapi sedikatnya pilih lah tempat yang tepat ketika ingin bermesra-mesraan " Ujar orang tersebut.

Aku dan Aka langsung saling melepaskan pelukan dan mulai salah tingkah. Sial, orang ini benar-benar mengganggu momen ke romantisan kami. Orang itu pun mulai melangkah mendekati kami, ketika sudah semakin dekat aku pun akhirnya tau jika orang tersebut adalah salah seorang tim SAR.

Dia adalah pria paruh bagaimana yang memiliki tubuh cukup kekar, selain itu aura yang di pancarkan olehnya sangat luar biasa. Hanya dengan melihatnya saja aku sudah bisa merasakan wibawanya yang sangat tinggi.

" Sedang apa kalian? " Tanyanya.

" Berpelukan " Ujar Aka ala kadarnya.

" Ka.. Kami sedang menuju suatu tempat " Ujarku sambil memukul pelan lengan Aka.

" Dari yang aku lihat kalian sedang bermesrah-mesrahan. Bukan sedang menuju suatu tempat " Ujar pria itu.

" A.. Aku tadi ketakutan, maka dari itu dia berusaha menenangkanku " Aku mulai membuat alasan. Semoga saja dia percaya walaupun pada dasarnya alasan tadi tidak lah logis.

" Baik lah aku akan berpura-pura percaya. Jadi kemanakah kalian hendak pergi malam-malam begini? "Tanya pria itu lagi.

" Aku ingin mengambil sesuatu di rumah "

" Mengambil apa? "

" Alat lukis"

Pria itu nampak mengkerurkan keningnya, tanda jika dirinya meganggap jawabanku tidak masuk di akal. Ah sial, dia pasti akan segera meminta kami untuk kembali ke kamp pengungsian. Jika sudah seperti itu, aku tidak akan bisa mempersembahkan sesuatu kepada Zahra.

" Rai, ada? " Ujar seseorang dari arah bekakang.

Tak lama berselang Tim SAR lain pun muncul, bersama seorang wanita cantik berambut panjang sepunggung yang mengenakan jas doktor. Aku yakin mereka adalah tim yang di tugaskan untuk mencari jasad para korban yang tertimbun reruntuhan di kawasan pertokoan ini.

" Aku mendapati kedua anak ini sedang melakukan hal mesum " Ujar pria bernama Rai itu.

" Hoi, kami tidak melakukan hal mesum " Ujarku dan Aka secara bersamaan.

" Haha bercanda " Pak Rai tertawa ketika melihat ekspresi kesal kami.

" Jangan menuduh orang sembanrangan dasar bodoh " Ujar wanita berjas dokter sambil menarik pipi pak Rai.

" Ampun nona... " Pak Rai terlihat pasrah ketika dokter itu menarik pipinya.

" Ehem. Kenapa kalian malah pamer ke mesrahan " Ujar tim SAR yang baru tiba itu.

Sekarang malah pak Rai dan bu dokter lah yang nampak malu dan salah tingkah, sepertinya mereka merupakan sepasang kekasih. Aku ingin tertawa melihat gelagat salah tingkah mereka, namun diri ini menahannya karena hal tersebut kurang sopan untuk di lakukan.

" Rangga " Ujar Pak Rai dan bu Dokter secara bersamaan.

" Biasanya kalian berdua terlihat seperti kucing dan anjing, selalu saja bertengkah setiap kali ketemu. Siapa yang menyangka jika kalian berdua malah menjadi sepasang suami istri "

" Hoi itu bukan sesuatu yang layak untuk di bicarakan sekarang " Bu dokter mengomentari ucapan pak Rangga dengan ketus.

" Yaya, terserah kau saja Fara " Ujar pak Rangga.

" Jadi mengapa kau ingin mengambil alat lukismu? " Tanya pak Rai.

" Eh.. Pokoknya ada sesuatu yang ingin aku lakukan " Ujarku menjawab dengan ala kadarnya.

" Ucapanmu mencurigakan " Ujar pak Rangga.

" Pacarku ingin mempersembahkan sesuatu kepada sahabatnya yang telah tiada " Aka membantuku menjawab pertanyaan pak Rai.

" Mempersembahkan sesuatu? " Dokter Fara terlihat bigung.

" Ah aku susah menjelaskannya " Di todong oleh banyak pertanyaan jelas membuatku sangat kebigungan.

" Tolong izinkan kami melakukan hal tersebut " Aka maju untuk membela diriku.

" Hoho bagaimana jika kami memutuskan untuk tidak mengizinkannya? " Tanya pak Rai.

" Aku akan meminta gadis ini lari, dan menghadang kalian dengan segala cara agar tidak ada yang bisa menghalanginya " Ujar Aka dengan tatapan serius.

" Haha menarik. Baik lah kami akan menemani kalian mengambil alat lukis itu " Ucapan pak Rai jelas membuat kami berdua terkejut.

" Kau serius ? " Ujarku tidak percaya.

" Yup, ayo "
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
oceu memberi reputasi
1 0
1
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
30-07-2021 19:45

9. Kelinci Dan Kura-kura

Quote:Terkadang dunia memang terasa sangat tidak adil, namun percayalah pada hakekatnya tidak demikian. Dunia ini adil, semua tergantung pada sudut pandang yang tengah kau gunakan


Hestia

" Jangan lah berjalan di depanku, karena diri ini terlalu masih terlalu sombong untuk mengikutimu. Jangan berjalan di belakangku, karena diri ini masih terlalu payah untuk memimpin. Tapi berjalanlah bersamaku karena kita teman yang saling melengkapi setiap kekurangan "

Kata-kata tadi merupakan sebuah quotes yang pernah aku baca dalam buku The Jorney of Necromancer. Sepenggal Kalimat indah yang Rasputin katakan kepada sahabatnya ketika terjadi selisih pendapat di antara mereka. Seperti itulah konsep sebuah pertemanan yang penulis tuangkan kedalam bukunya, saling melengkapi kekurangan bukan saling melebihkan kelebihan.

Setiap manusia di ciptakan lengkap dengan kelebihan dan kekirangan, tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, maka dari itulah Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain.

Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri, bahkan adampun merasa bosan di surga yang merupakan tempat semua kenikmatan, sehingga Tuhan menghadiahinya seorang pendamping yaitu hawa.

Aku dan Zahra merupakan dua pribadi yang pada dasarnya bertolak belakang. Dia mengerjakan segala sesuatu secara sistematis sementara diri ini tidak. Zahra mampu mengungkapkan segala sesuatu dengan kata-kata, sementara diri ini tidak. Aku adalah tipikal orang yang tidak begitu taat dengan peraturan sementara Zahra adalah sosok yang begitu menjunjung tinggi peraturan. Aku berani dan mengutamakan tindakan dari pada ganjaran sementara Zahra tidak demikian.

Sekilas kami terlihat sangat tidak cocok, akan tetapi aku dan Zahra tetap bisa menjadi sepasang sahabat. Disitu lah letak keunikan suatu hubungan yang di namakan persahabatan, melangkah bersama untuk saling melengkapi kekurangan, mendorong maju jika ada yang takut melangkah dan menahan jika ada yang terlalu cepat dalam melaju.

Bertengkar lalu saling berbaikan sudah menjadi siklus rutin dalam hubungan kami, walaupun pada akhirnya siklus tersebut harus usai pada sebuah pertengkaran. Kedua Tim SAR yang memutuskan untuk menemaniku sepertinya memiliki hubungan yang sama uniknya dengan diri ini dan Zahra.

Pak Rai dan Pak Rangga sepertinya merupakan sepasang sahabat, atau istilah dalam dunia pekerjaan biasa di sebut patner. mereka berdua nampak sangat akrab walaupun dari yang diri ini lihat kepribadian mereka sangat lah bertolak belakang.

Pak Rai memiliki wibawa tinggi, hanya saja dia sering membuat keputusan yang asal, seperti sekarang ini. Seharusnya dia memaksa kami untuk kembali ke kamp pegungsian karena bagaimanapun tempat ini berbahaya terlebih lagi untuk bocah SMA seperti aku dan Aka

Namun pak Rai malah memperbolehkan ku untuk tetap pergi, bahkan memutuskan untuk menemani kami berdua. Pak Rangga sempat geleng-geleng kepala karena patner nya memutuskan sesuatu yang mungkin di luar standarisasi pekerjaan mereka

Keduanya sempat adu mulut, namun pada akhirnya pak Rai lah yang menang. Pak Rangga pasrah dan sepertinya di sudah terbiasa mengalami hal tersebut karena wajahnya tidak mengukirkan raut kekesalan sama sekali.

Mereka pun menemani kami menelusuri bekas daerah pertokoan menuju rumahku yang berada dua blok dari kawasan ini. Dokter Fara sendiri tadi hanya cekikikan ketika kedua tim SAR itu adu mulut, sepertinya dia juga sudah terbiasa melihat kelakukan pasangan aneh itu.

" Jadi pak Rai dan Nona dokter itu merupakan sepasang suami istri? " Tanya Aka kepada pak Rangga saat dokter Fara dan Pak Rai berada cukup jauh di depan kami.

" Yup, mereka baru menikah dua minggu yang lalu " Jawab pak Rangga.

" Apa dulunya mereka selalu bertengkar? " Aku ikut-ikutan bertanya karena merasa penasaran.

" Ya begitu kah. Keduanya seperti kucing dan anjing yang tidak pernah berdamai jika saling berpapasan " Jelas pak Rangga.

" Mengapa mereka bisa menikah? " Tanyaku lagi.

" Di sana lah letak keunikan hubungan mereka, walau sering bertengkar pada dasarnya kedua orang itu saling peduli. Namun tidak ada yang mau saling mengungkapkan sehingga terjadi lah pertengkaran, pada akhirnya kedua orang itu sadar jika hati mereka saling mencintai dan jadilah seperti sekarang ini "

" Haha sungguh pasangan yang unik " Aka memberikan komentar tentang keunikan hubungan pak Rai dan dokter Fara.

" Bagaimana dengan anda? " Tanyaku lagi.

" Aku? "

" Yup, menurutku sifat kalian sangat berbeda namun di sisi lain kau dan pak Rai terlihat seperti pasangan emas yang mampu menyelesaikan segala masalah "

" Kau tau, walaupun terlihat bodoh Rai adalah Kapten dari tim SAR ini "

" Kau serius? " Ujarku dan Aka nyaris bersamaan.

" Yup, dia sangat bisa di andalkan. Namun di sisi lain dia sering bertindak gegabah, dan asal sehingga Rai sangat membutuhkan seseorang yang mampu merapihkan ke gegabah annya itu "

" Orang yang mampu merapihkan dampak dari ke gegabahannya adalah anda? " Tanyaku.

" Kau benar, maka dari itulah aku di pilih menjadi wakil kapten. Tanpa diriku tim kami akan amburadul karena si bodoh itu selalu mengambil keputusan tanpa berfikir panjang. Tanpa dirinya pun tim kami akan menjadi sangat payah, karena ide bodohnya lah yang justru membuat unit ini luar biasa "

" Kau dan pak Rai saling melengkapi, dan jika tim kalian di ibaratkan seperti burung, maka anda dan pak Rai merupakan sayang kiri dan kanan. Jika salah satu dari kalian tidak ada, maka timpun tidak akan mambu untuk terbang " Ujar Aka.

" Pengibaratan yang bagus " Puji pak Rangga.

" Apa kau tidak pernah merasa lelah karena harus selalu membenahi dampak tindakan pak Rai? " Entah mengapa aku malah menanyakan gak tersebut kepada pak Rangga.

" Tentu saja sering, bahkan karena terlalu sering pada akhirnya aku pun jadi terbiasa. Walau demikian, aku tetap sangat menghormati si bodoh itu, karena bagaimanapun dia lah raga yang terus bergerak demi menyelamatkan orang lain, sementara diri ini merupakan otak yang membuat pergerakannya maximal "

" Mengapa kau bisa sangat menghormatinya? " Tanyaku lagi yang entah mengapa malah merasa semakin penasaran.

" Haha sepertinya kau sangat penasaran dengan kami " Pak Rangga malah tertawa ketika telinganya kembali mendengar sebuah pertanyaan yang terlontar dari lisanku.

" Ada apa? " Tanya pak Rai yang sepertinya ikut penasaran karena rekannya tertawa dengan begitu riang.

" Hei kenapa kau sangat penasaran? Sana bermesrahan lagi " Ujar Pak Rangga.

" Rangga, kau minta di hajar? " Dokter Fara mengacungkan tinjunya ke arah Fara.

" Haha maaf nona "

" Pak Rai, katakan padaku mengapa kau bisa membuat pak Rangga sangat menghormatimu " Aku melemparkan pertanyaan tadi kepada pak Rai.

" Menghormatiku? " Tanya pak Rai bigung.

" Gadis ini penasaran mengapa aku bisa tahan dengan kebodohanmu " Ujar pak Rangga.

" Haha dia bukan tahan dengan kebodohanku "
" Lantas apa? " Tanyaku bigung.

" Dia sudah tertular dan mungkin sudah sama bodohnya denganku "

" Hei aku bertanya serius " Aku kesakitan karena menganggap pak Rai tengah menggoda diri ini.

" Tia, apa kau tau kisah tentang kura-kura dan kelinci? " Tanya pak Rai.

" Maksudmu kisah tetang kekalahan kelinci dalam lomba lari karena terlalu menganggap remeh kura-kura? "

" Kau benar. Katakan padaku apa hikmah yang bisa kau ambil dari kisah itu? "

" Jangan sombong dan menganggap remeh seseorang " Sahut Aka.

" Kau benar, sekarang tahukah kalian kelanjutan dari kisah itu? " Tanya pak Rai yang langsung membuat keningku berkerut. Kelanjutan kisah kura-kura dan Kelinci? Sejak kapan cerita lama itu memiliki part ke dua?

" Tidak " Aku dan Aka menggeleng secara bersamaan.

" Begini kisahnya. Kelinci menyadari kebodohannya, dia terlalu meremehkan kura-kura sehingga dirinya mengalami kekalahan yang begitu memalukan. Kesombongan hewan itu berhasil di tebang habis oleh si kura-kura. Hewan tercepat kalah dalam balap lari melawan hewan terlambat di hutan, tidak ada hal yang lebih memalukan lagi dari pada itu. Kelinci mendapatkan banyak pelajaran dari kekalahnnya, dan ketika hewan itu memutuskan untuk menetapkan apa yang dirinya dapat. Kelincipun menantang kura-kura lomba lari lagi. Bisa kalian tebak siapa pemenangnya? " Ujar pak Rai yang mengakhiri kisah dengan sebuah pertanyaan.

" Kelinci? " Jawabku.

" Kau benar. Karena ke sombongan kelinci telah sirnah, diapun mampu memenangkan bertandingan, ratusan bahkan ribuan kali perlombaan di ulang pemenangnya tetap saja sama yaitu kelinci. Sekarang apa hikmah yang bisa kalian ambil dari partai ke dua kisah kelinci dan kura-kura " Tanya Pak Rai lagi.

Aku dan Aka bungkam, karena bigung dengan hikmah yang sekiranya bisa kami ambil dari kisah tadi. Kening Aka nampak berkerut, bukti jika si ahli analisa ini sedang berfikir dengan sangat keras.

" Ketidak adilan dunia " Ujar Aka yang jelas membuatku tambah bigung.

" Kau benar "

" Heh kenapa jawabannya malah itu? " Ujarku bigung.

" Menurutmu mana kah yang akan memang, orang yang berbakat namun tidak mau berjuang. Atau orang yang mau berjuang walaupun tidak memiliki bakat? " Tanya pak Rai yang entah mengapa malah bertanya mengenai bakat.

" Orang yang berjuang walaupun tidak memiliki bakat " Jawabku.

" Mengapa begitu? " Tanya pak Rangga.

" Karena perjuangan tidak akan mengecewakan hasil "

" Kau benar. Sekarang bagaimana jika pertanyaannya aku ganti. Siapa kah yang akan menang, orang tanpa bakan namun berjuang atau orang yang berbakat tapi tetap berjuang?

" Orang yang berbakat tapi tetap berjuang "

" Awalnya kelinci adalah sosok yang berbakat dalam lari namun tidak mau berjuang, sementara kura-kura merupakan hewan yang tidak berbakat dalam lari namun mau berjuang. Jika demikian sama dengan yang tadi kau katakan perlombaan akan di menangkan oleh si kura-kura. Namun setelah lomba usai, kesombongan kelinci tumbang dan membuatnya mau berjuang walau sudah memiliki bakat. Maka dari itu di perlombaan berikutnya kura-kura lah yang kalah, dan tidak mungkin lagi baginya untuk kalah dari kura-kura karena sebagai mana yang kau ucapkan tadi, kelinci telah menjadi sosok berbakat yang tetap mau berjuang "

" Aku paham sekarang. Hikmah dari kisah tersebut adalah ketidak adilan dunia, karena seberusaha apapun kura-kura mencoba untuk menang dalam lomba lari, dia akan tetap kalah karena kelinci memiliki bakat di bidang tersebut " Ujarku yang akhirnya paham mengapa Aka mengatakan jika hikmah dari part kedua itu adalah ketidak adilan dunia.

" Jadi apakah dunia ini memang tidak adil? " Tanya pak Rai lagi.

Apakah dunia ini tidak adil? Sejujurnya pertanyaan tersebut sering muncul dalam benakku, terlebih lagi saat rasa Iri terhadap zahra sempurna menguasai hati ini. Mengapa bakat Zahra yang lebih di pandang sementara aku tidak? Pertanyaan seperti itulah yang membuatku selalu mempertanyakan keadilan dari hidup.

" Tidak " Jawaban itulah yang pada akhirnya aku lontarkan sebagai jawaban.

" Tia, dunia ini adil. Hanya saja manusia sering tidak memahaminya, baik lah kita lanjut ke part 3" Ujar pak Rai yang membuatku bahkan Aka kaget, part ketiga?

" Mengapa kalian nampak terkejut? " Tanya pak Rai bigung.

" Kisah kelinci dan kura-kura part dua saja sudah membuat kami merasa aneh, sekarang ada part ke tiganya juga? " Ujar Aka.

" Haha begini lah kisahnya, kura-kura pada akhirnya merasa depresi karena selalu kalah dari kelinci dalam lomba lari. Kelinci yang mengetahui hal tersebut pun berusaha mencari solusi agar sosok yang membuatnya sadar akan kesombongan tidak merasa semakin terpuruk. Dia pun memberi usulan untuk mengganti jenis lomba yang di pertandingan, dari yang awalnya lomba lari, berubah menjadi lomba renang. Keduanya pun sepakat, dan di mulai lah lomba renang itu. Kalian tau siapa yang menang? "

" Kura-kura "

" Tepat, dalam lomba renang ke adaanya justru berbalik. Kelinci memiliki bakat renang dan dia mau berjuang keras. Sementara kelinci tidak berbakat renang namun tetap mau berjuang. Sekarang kura-kura lah yang selalu mampu meraih kemenangan, tanpa memberi kesempatan kepada kelinci. Sekarang hikmah apa kah yang bisa kalian dapatkan dari kisah ini? "

" Dunia adil jika di lihat dari sudut pandang yang tepat " Ujar Aka.

" Kau benar. Namun di satu sisi kalian juga dapat belajar dari kedua hewan teresbut, tidak ada yang sempurna di dunia ini dan masing-masing individu memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Jangan memaksakan diri untuk bisa segala hal, karena dunia tidak membutuhkan sosok yang seperti itu, namun ahli lah dalam satu bidang, dan biarkan lah kelemahanmu di tutupi oleh orang lain yang memeiliki ke ahlian di bidang kelemahanmu " Pak Rai memberi kami penjelasan.

" Dulu aku terus mengejar Rai orang yang berbakat dalam hal fisik dan mau terus berjuang, maka dari itu diri ini sama seperti kura-kura di part kedua kisah tadi, Merasa depresi karena tidak kunjung mampu mendekati Rai. Untungnya si bodoh ini sadar akan kondisi ku dan mulai menasehati diri ini mengenai manusia yang pada dasarnya memiliki bakat berbeda " Pak Rangga mulai menceritakan mengenai masa lalunya kepada kami.

" Dan kau sadar jika bakat yang dirimu miliki bukan lah di bidang fisik? " Tanya Aka.

" Kau benar. Bidang ku adalah berfikir, maka dari itu akan sangat salah jika diri ini berusaha menyaingi Rai dalam hal fisik, begitu juga sebaliknya. Si bodoh itu menasehatiku agar berjalan pada jalan yang seharusnya, yaitu mengasah kemampuan logik dan berfikir kemudian memintaku untuk menjadi patnernya agar mampu menutupi kekurangan yang di milikinya yaitu berfikir " Jelas pak Rangga.

" Jadi itulah yang membuatmu sangat menghormati pak Rai? " Tanyaku kepada pak Rangga.

" Lebih tepatnya Kami saling menghormati, maka dari itu aku dan Rangga menjadi satu paket. Dia raganya dan aku otaknya, jika di antara kami tidak saling menghormati, mana mungkin aku dan si bodoh ini bisa saling menutupi kekurangan "

" Haha kau benar " Aka terlihat puas dengan pembelajaran yang dirinya dapat dari dua tim SAR itu.

Sial, andai aku berjumpa dengan mereka lebih awal. Aku tidak pernah memikirkan semua yang di katakan pak Rai dan pak Rangga sebelumnya, mereka bisa saling melengkapi walau pada dasarnya memiliki kepribadian yang bertolak belakang karena saling menghormati.

Aku sudah bersahabat dengan zahra cukup lama, namun sekalipun diri ini tidak pernah berusaha menghormatinya, bahkan lebih sering merasa cemburu karena dirinya lebih di pandang ketimbang diri ini. Hubungan kami hanya sekedar saling menutupi, bukan melengkapi. Tidak seperti kedua tim SAR ini, yang benar-benar menjadi sepasang sayang bagi timnya.

Aku yakin pak Rai jauh lebih sering menjadi sorotan dari pada pak Rangga, karena memang dia adalah seorang kapten. Namun pak Rangga sepertinya tidak pernah merasa iri karena keduanya telah menjadi satu kesatuan. Pujian yang di berikan orang kepada pak Rai akan meliputi pak Rangga, begitu juga sebaliknya. Andai aku menyadarinya lebih awal, mungkin siklus persahabatan kami tidak akan berakhir di sebuah pertengkaran.

" Terima kasih atas nasehatnya " Ujar Aka.

" Sama - sama "

" Tia, apa kah rumahmu masih jauh? " Tanya pak Rai yang membuatku tersadar dari lamunan.

Perjalanan kami tanpa terasa sudah cukup jauh, dan aku sadar jika tiang sementara yang ada di hadapan kami merupakan bekas gapura penanda komplek rumahku. Artinya sebentar lagi kami akan sampai di tempat tujuan.

" Sedikit lagi kita sampai " Ujarku.

" Jadi, kau seorang pelukis? " Tanya dokter Fara.

" Ya kurang lebih begitu " Jawabku dengan agak malu-malu karena diri ini merasa belum layak di anggap seorang pelukis.

" Hmmm papahku adalah maniak lukisan, mungkin kalian berdua akan cocok jika bertemu "

Aku merasa sedikit terkejut, siapa sangka ayah dari seorang dokter adalah maniak lukisan? Apa sekiranya orang itu akan mau membeli lukisan ku? Semoga saja iya, sebab aku akan berusaha membuat sebuah maha karya menggunakan tahta sang Dementer.

" Di sini lah rumahku " Ujarku saat kami tiba di depan bangunan besar yang bentuknya sudah tidak karuan.

Sial, ternyata rumahku hancur berantakan. Kira-kira bagaimanakah nasib lukisan koleksi papah? Kanfas bernilai ratusan juta itu mungkin sudah hancur lebur tertimpa langit-langit rumah yang ambruk.

" Rumahmu besar juga " Puji Aka yang nampak tercengang.

" Berbahagialah karena pacarmu orang kaya " Ujarku sambil melangkah masuk melalui gerbang yang sudah ambruk.
Diubah oleh Rebek22
profile-picture
oceu memberi reputasi
1 0
1
Aku Dan Bajingan Yang Berlagak Seperti Ayah
02-08-2021 19:30

Epilog : Hero

Hestia


Malam ini bulan menampakan wujud terindahnya, yaitu purnama. Saat ini Sang penguasa malam nampak asik bertengger di puncak langit sembari memantau kami, para korban selamat dari amukan sahabatnya yaitu bumi. Kemilau sang rembulan yang selalu mampu menenangkan hati itu, terlihat jauh lebih terang dari biasanya, mungkin karena daratan di bawahnya gelap gulita, atau mungkin dirinya memang sengaja memperindah diri agar dapat menghibur para manusia yang kelelahan setelah seharian berjibaku dengan maut.

" Indahnya " Gumamku saat mata ini asik memandangi lukisan Tuhan berjudul langit malam itu.

" Aku setuju denganmu, Tia " Ujar Dokter Fara.

Saat ini kami sedang berjalan kembali ke kamp pegungsian setelah berhasil menemukan alat lukis yang tertimbun puing-puing bagunan bekas rumahku. Pak Rai dan Pak Rangga membuatku bisa menemukan kotak berisikan alat lukis itu dengan sangat cepat.

Mereka memang pasangan emas, kinerja keduanya sangat efisien dan kompak. Sehingga hanya dengan dua orang saja reruntuhan yang semula berserakan di kamarku bisa di singkirkan dalam kurun waktu yang terbilang singkat.
Sekarang aku bisa membuat sesuatu untuk mengenang Zahra dan membuatnya kembali hidup dalam benak banyak orang. Aku jadi tidak sabar ingin segera sampai di kamp dan mulai mengubah Tahta Sang Dementer.

" Aku lapar " Ujar Pak Rai sambil memegangi perutnya.

" Aku pun demikian " Ujar Aka ikut-ikutan.

" Kau baru saja makan bodoh " Aku mencubit pipi Aka dengan gemas.

" Hei, semua ini membuatku kembali lapar " Protes Aka.

" Haha baik lah kita akan makan setibanya di camp " Ujar Pak Rai dengan penuh semangat.

" Apa kau yakin di dapur umum masih ada makanan? Bagaimanapun suplie kita belum datang " Pak Rangga mengatakan sesuatu yang langsung membuat Aka lemas.

" Tenang saja, jika dapur kosong kita tinggal meminta Ana membuatkan sesuatu untuk kita " Pak Rai pun tertawa setelah mengucapkan hal tadi.

" Hoi kau pikir adikmu itu pembantu? " Dokter Fara mencubit pipi pak Rai.
" Adik? " Aku dan Aka jelas kaget setelah mengetahui fakta bahwa Ana adalah adik dari Sang Kapten.

" Ada apa? " Tanya ketiganya dengan ekspresi bigung.

" Kau kakanya Athena? " Ujarku.

" Ah, kalian mengenal Ana ya "

" Jadi kau adalah tim SAR yang meneruskan hak asuh Ana "

" Yup Kau benar " Pak Rai mengacungkan jempolnya ke arahku.

" Tidak biasanya anak itu mau membahas masa lalu " Dokter Fara memberikan komentar.

" Sepertinya kedua bocah ini sudah Ana anggap sebagai teman " Ujar Pak Rai sambil mengelus kepalaku dan Aka " Terima kasih karena sudah mau berteman dengannya "

" Aku semakin mengidolakanmu kapten " Ujar Aka.

" Mengidolakan ku? " Pak Rai nampak senang ketika Aka mengungkapkan hal tersebut.

" Kau adalah pahlawan di dunia nyata, menyelamatkan orang yang terdampak bencan dan berhati sangat mulia karena mau mengasuh Ana yang bukan siapa-siapanya dirimu"

" Haha kau berlebihan "

" Tidak, sungguh bagiku kau sangat layak di anggap sebagai pahlawan. Bagaimanapun orang-orang biasanya menjauhi masalah seperti bencana, namun kau malah menghampirinya.

" Hoi itu memang tugasku sebagai tim SAR "


" Kau juga berhati mulia, bagaimanapun juga Ana hanyalah orang asing bagimu, walau demikian kau tetap mau merawatnya. Menahan langit yang runtuh dalam alur hidup Ana, menarik hadis itu dari jurang ke putus asaan, membuka kembali jalan menuju masa depannya. Jika bukan pahlawan lantas julukan apa kau layak di sematkan kepada dirimu? " Mata Aka nampak berbinar-binar ketika mengatakan hal tersebut.

Kurang lebih aku paham mengapa dia menganggap pak Rai sebagai sosok yang luar biasa. Pak Rai terlihat seperti ayah angkatnya, sosok yang mau merawat Aka walaupun tidak ada hubungan apapun antara mereka. Sepertinya aku mulai menaruh rasa hormat terhadap pak Rai. Aka benar, jika bukan pahlawan lantas julukan apa lagi yang layak di sematkan kepada dirinya.

" Haha baik lah aku Terima gelar pahlawan itu " Ujar pak Rai sambil meninju pelan dada Aka. " Berjanjilah padaku, jika suatu saat nanti kau bertemu seseorang yang bernasip sama seperti Ana. Kau lah orang pertama yang akan mengulurkan pertolongan kepadanya "

" Aku berjanji " Aka mengacungkan jempolnya ke arah pak Rai, dan momen tersebut berhasil membuatku merasa sedikit terharu. Sial, keren sekali pacarku....
Aku yakin Aka akan menepati janji itu, mengulurkan tangannya kepada siapa saja yang jatuh di jurang keputus asaan, menahan runtuhnya langit yang hendak terjun bebas menghantam alur hidup seseorang, serta kembali membukakan jalan menuju masa depannya.

Sial, aku tidak sabar melihatnya melakukan hal tersebut. Apa kah takdir akan menetapkan kami sebagai jodoh, sehingga diri ini dapat terus bersamanya hingga dewasa nanti? Semoga saja iya, karena si tuan tanpa ekspresi ini telah mencuri hatiku dan membuat diri ini begitu mencintainya.

Setelah momen tadi kami kembali melanjutkan perjalanan, sebentar lagi kami akan segera tiba di camp pengungsian. Aku memeluk tangan Aka sepanjang perjalanan, entah mengapa diri ini jadi ingin terus menempel kepadanya. Si tuan tanpa ekspresi itu juga sepertinya tidak keberatankeberatan, dia malah sesekali mengelus kepalaku dengan begitu lembut.

Jarak antara kami dengan Kamp pengungsian hanya tinggal hitungan meter lagi, dari kejauhan tiba-tiba aku melihat sesosok gadis yang begitu Familiar di mata ini. Gadis itu adalah Ana, dia nampak berlari ke arah kami dengan raut wajah kes. Ah sial, saat kabur aku benar-benar lupa memberi tahunya, mungkinkah dia marah karena tidak di ajak?

" Hai Ana " Ujarku saat Ana sempurna berdiri di hadapan diri ini.

" Bodoh kemana saja kau, aku sangat mengkhawatirkanmu " Ana memeluk tubuhku dengan begitu erat.

" Haha ada sesuatu yang harus aku ambil di rumah " Aku menjabarkan alasan mengapa diri ini menghilang kepada Ana.

" Kau tidak apa-apakan? Apa kedua predator itu macam-macam denganmu? " Tanya Ana sambil melepas pelukannya.

" Siapa yang kau maksud predator? " Pak Rai dan Pak Rangga menggerutu secara bersamaan.

" Tia " Suara yang sangat tidak asing di telingaku terdengar, aku menoleh ke arah belakang punggung Ana dan mendapati kedua orang tuaku tengah berlari mendekati kami.
" Mamah, papah " Ujarku senang karena akhirnya mereka tiba

" Syukurlah kamu baik-baik saja " Papah memeluk tubuhku dengan sangat erat, begitu juga mamah.

" Kapan kalian sampai? " Tanyaku.

" Kami menumpang di mobil seseorang yang hendak pergi ke sini. Bandara sepertinya hancur maka dari itu tidak ada penerbangan ke Yogyakarta " Jelas Mamah.

" Syukurlah anda sekalian berhasil bertemu dengan nona kecil ini " Ujar seorang Pria kekar yang entah mengapa langsung mengingatkanku kepada Aka, wajahnya datar dan sama sekali tidak menunjukan ekspresi.

" Terima kasih pak Itsuki berkatmu kami bisa tiba di sini " Papah mengucapkan Terima kasih kepada pria itu.

" Hoah... Kau sudah sampai " Aka terlihat kaget ketika melihat pria bernama Itsuki itu.

" Apa itu sikap yang tepat ketika bertemu ayahmu " Pak Itsuki mendekati Aka, kemudian menjewer telinganya anak itu dengan cukup kencang.

Ayah? Ah jadi dia pria yang tadi berbicara dengan Aka di telepon. Kebetulan yang unik, karena orang tuaku dan Aka bisa tiba bersamaan. Mungkinkah ini bukti jika kami berdua merupakan jodoh?

" Ampun " Ucapan Aka langsung membuat kami semua tertawa.

" Syukurlah kau tidak apa-apa. Nah sekarang, ayo kita kembali ke jakarta " Ujar pak Itsuki.

" Hoi kenapa buru-buru sekali " Gerutu Aka.

" Aku meninggalkan Ran sendirian di rumah, tanpa meninggalkan nya uang dan kabar. Apa kau mau melihat adikmu mati kelaparan? Dia mungkin mengkhawatirkanmu juga karena tau jika yogya terkena gempa " Ujar pak Itsuki.

" Apa kau tidak lelah? " Tanya papah.

" Lelah itu pasti ada kawan, namun aku tidak mau membiarkan putri tercinta ku kesusahan. Maka dari itu lelah hanyalah hal spele "

" Kau memang keren kawan " Ujar papah sambil menepuk bahunya.

" Haha sama-sama kawan " Pak Itsuki melakukan hal yang sama dengan papah. Aku merasa agak kaget karena Mereka terlihat sangat akrab, mungkinkah keduanya sudah lama saling kenal?

" Mah, apa kedua pria itu sudah berteman sejak lama? " Tanyaku dengan berbisik kepada mamah.

" Tidak keduanya naru bertemu tadi siang. Namun papah mu sepertinya cocok dengan pak Itsuki " Ujar mamah.

" Baik lah ayo kita pergi nak " Pak Itsuki pun kembali mengajak Aka untuk segera beranjak dari tempat pengungsian ini.

" Aka " Ujarku sedih karena tau akan segera berpisah dengan dirinya. Entah mengapa hal ini baru terpikirkan olehku sekarang, bagaimana hubungan kami jika Aka kembali ke jakarta? Apakah berakhir? Atau LDR? Atau apa?

" Ada apa Tia? " Tanya papah.

" Pak Itsuki, bukan kah program pertukaran Aka baru akan berakhir tiga bulan lagi? Mengapa kau buru-buru mengajaknya pulang " Ujarku.

" Jika kondisinya seperti ini, bukan kah wajar jika aku mengajaknya kembali ke jakarta " Ujar pak itu aku yang Sialnya terdengar sangat logis. Orang tua mana yang mau membiarkan anaknya tetap tinggal di kota yang habis terkena bencana?

" Ta.. Tapi " Aku bigung harus mengatakan apa lagi.

" Tuan, perkenalkan namaku Akashia. Kekasih putrimu " Ujar Aka yang langsung menghampiri papah.

" Kekasihmu? " Tanya papah sambil menatapku.


" Yah begitulah " Ujarku malu

" Huh, akhirnya ada yang mau dengan putriku juga " Ucapan papah jelas membuatku kesal, maka dari itu akun mencubit lengan pria itu dengan sangat kecang.

" Aku sebenarnya ingin tetap tinggal setidaknya sampai program pertukaran pelajar ku selesai. Namun hal itu akan membuat ayahku khawatir dan diri ini tidak mau hal itu terjadi. Maafkan aku karena menyatakan cinta kepada putrimu, sementara di hari yang sama diri ini juga harus pergi jauh darinya. Tapi aku mohon, percaya lah padaku jika dalam waktu cepat diri ini akan kembali dan menemui putri anda dan melamarnya " Ucapan Aka langsung membuat papah, mamah, aku bahkan semua orang yang ada di situ tercengang.

" Wow " Gumam Ana.

" Kau keren nak " Ujar pak Rai.

Wajahku jelas memerah ketika mendengar ucapan Aka, Melamar ku? Hoi dia serius kan mengatakan hal tersebut. Aku belum pernah melihat wajahnya mengukir raut seserius itu, maka dari itu akan sangat tidak sopan jika ada yang menganggapnya tidak serius.

Aku melirik ke arah papah guna memastikan reaksinya. Aku merasa sangat terkejut ketika tau jika papah malah terlihat sedang mengukir sebuah senyuman di wajahnya. Senyuman yang entah mengapa membuatku berfikir jika dia sangat puas dengan ucapan Aka.

" Hahah " Papah tertawa sangat keras. Dia menghampiri Aka kemudian mengacak-acak rambut si tuan tanpa ekspresi itu " Pak Itsuki, anakmu sungguh menarik "

" Yah begitulah "

" Aku akan mempercayai ucapanmu nak, maka dari itu diri ini akan memberimu sebuah hadiah " Ujar Papah.

" Hadiah? " Tanya Aka bigung.

" Yup, kau akan tau bentuk hadiah ku nanti. Sekarang ikut lah dengan ayahmu, percayakan Tia kepadaku. Bagaimanapun caranya aku akan menjaga dirinya dari laki-laki lain sekalinya dirimu "

" Terima kasih banyak " Aka terlihat sangat senang.

" Aka, aku akan memberimu waktu sepuluh menit untuk memberikan salam perpisahan pada gadis itu. Kebetulan aku ingin kw toilet " Ujar pak Itsuki sambil beranjak pergi.

" Pak Itsuki, ada yang ingin aku bicarakan denganmu " Pak Rai nampak mengikuti pak Itsuki.

Akupun segera menarik tangan Aka dan mengajaknya mencari ayah zahra. Sebelum kami berpisah, si tuan tanpa ekspresi ini harus bisa menyaksikan maha karyaku. Kami pun berhasil bertemu dengan ayah Zahra kemudian memohon agar lukisan tahta Sang Dementer di berikan kepadaku.

Untungnya tanpa banyak bertanya, ayah zahra mau menyerahkan lukisan itu. Aku pun segera bekerja, membuat sebuah maha karya dengan menggunakan lukisan yang diri ini hadiahi kepada Zahra sebagai tanda pertemanan.

Aku menghapus lukisan seorang gadis bertopi yang semula ada di tengah taman bunga itu. kemudian menggantinya dengan lukisan sesosok perempuan yang tengah terbujur kaku di atas padang bunga. Pakaian yang di kenakannya serba putih, lalu wajahnya di tutupi sebuah kain tanda jika nyawa sudah tidak lagi melekat dalam raga tersebut.

Aku mengubah latar dari lukisan itu dari yang awalnya pagi hari, menjadi malam lengkap dengan hamparan bintang dan wujud Sang bulan dalam bentuk purnama. Semua perasaan tentang Zahra aku tuangkan pada lukisan itu, sedih, bersalah, rindu dan lain sebagainya seolah menjadi energi bagi tanganku yang masih asik menari di atas kamfas.

Pada akhirnya lukisan pun selesai, entah bagaimana caranya semua itu rampung dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Mata ayah Zahra seketika meneteskan air mata, sepertinya aura lukisanku sampai kepada pria itu. Dia seakan menyaksikan putrinya yang tengah si semayam kan di atas hamparan bunga.

" Pak, aku kembalikan lukisan ini " Ujarku kepada ayah Zahra.

" Tidak, Tia simpan lah lukisan ini " Keningku berkerut ketika mendengar ucapan pria itu.

" Aku mempersembahkan lukisan ini kepada mendiang putrimu "

" Tidak, jika lukisan itu ada padaku. Maka selamanya diri ini tidak akan mampu melangkah kedepan? "

" Apa maksudmu? "
" Aku berhasil merasakan aura kesedihan yang kau tuangkan pada lukisan indah ini. Sangat terasa bahkan mampu membuatku langsung ingin menangis, karena mata ini seakan-akan menyaksikan langsunh sosok Zahra yang tengah di kebumikan oleh bunga-bunga "

" Apakah lukisanku berhasil menghidupkan Zahra dalam benakmu? "

" Ya, maka dari itu kau lah yang lebih layak menyimpan lukisan tersebut "

" Mengapa? "

" Karena kau pelukis, suatu saat nanti lukisan itu akan jadi salah satu karya yang kau pajang. Harapanku ada orang yang melihat lukisan itu, dan langsung mampu membayangkan seperti apa sosok Zahra sehingga putriku bisa hidup dalam benak banyak orang "

" Terima kasih "

" Tidak aku kah yang seharusnya mengucapkan Terima kasih "

Aku pun segera menutup kembali lukisan tadi dengan kain, menudian meminta Aka untuk membawanya. Aku pamit kepada ayahnya Zahra kemudian melangkah bersama Aka menuju tempat ayahnya.
" Sudah selesai? " Tanya pria itu ketika kami sampai.

" Eh, sebenarnya belum " Ujar Aka.

" Kalau begitu silahkan lanjutkan, kita masih harus menunggu gadis bernama Athena "

" Athena? "

" Ya, kapten meminta kita membawanya juga karena adiknya sakit di rumah "

" Baik lah " Aka melangkah menjauhi ayahnya sambil menarik tanganku. Setelah cukup jauh diapun langsung memelukku dengan sangat erat.

" Kau percaya padaku kan? " Tanyanya.

" Tentu saja, maka dari itu jangan membuatku menunggu terlalu lama "

" Tentu saja "

" Jangan main mata dengan Ana "

" Siap bos "

" Berjanjilah kau akan menghubungiku segera " Ujarku yang entah mengapa mulai meneteskan air mata.

" Siap "

" Aku mohon, segera temui aku "

Quote:Kita akan mengakhiri sejenak sudut pandang Hestia dan kembali ke sudut pandang awal. Semua yang ada di cerita ini akan saling berhubungan
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan oceu memberi reputasi
2 0
2
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Copyright © 2022, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia