Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Yuk Gan / Sis, Saatnya Ikutan Survey di Forum Stories Form The Heart
13
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60d01eab93d0fd36244207b6/jatuh-cinta-sama-teman-sekantor
Haiii agan dan sista kaskuseeerrr.... Thread kali ini aku mau curhat, kejadian yang sedang aku alami saat ini.  Cerita ini berawal dari merger perusahaan tempat aku bekerja. Sebelum merger, aku ada cerita gagal menikah. Yang sebenarnya itu anugerah juga sih, soalnya rencana itu karena aku nurutin kemauan orang tuaku, dan ternyata lelaki itu brengsek. Dan aku berkata sepele, agak berharap juga sih
Lapor Hansip
21-06-2021 12:07

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor

Haiii agan dan sista kaskuseeerrr....
Thread kali ini aku mau curhat, kejadian yang sedang aku alami saat ini. 
Cerita ini berawal dari merger perusahaan tempat aku bekerja. Sebelum merger, aku ada cerita gagal menikah. Yang sebenarnya itu anugerah juga sih, soalnya rencana itu karena aku nurutin kemauan orang tuaku, dan ternyata lelaki itu brengsek. Dan aku berkata sepele, agak berharap juga sih "Yaudah sih, toh bentar lagi juga merger, makin banyak ikan di laut. Pastilah ada yang nyangkut" emoticon-Big Grin

Sampai akhirnya jadilah merger. Aku dengan timku yang baru, campuran dari tim lama dan legacy perusahaan yg ikut merger. Di hari pertama kita yah, istilah kata masa perkenalan sedivisi lah. Aku baru tau, di timku, ada cowok ganteng. Satu-satunya pemuda lah di divisiku. Aku kaget, dan terpana gitu. Saking terpananya, aku nggak berani kenalan sama dia. Aku cuma diem, ngelirik sesekali, dan dengerin cowok itu waktu memperkenalkan diri. 

Dan setelahnya, aku nyuekin dia gitu. Aku cuma wanita biasa yang normal, suka cowok ganteng, tapi aku cukup tau diri buat nggak mengharapkan dia. Karena dia ganteng banget, kalem lagi anaknya, dan dari penampilannya, kayak high class gitu. Dia nggak belagu sebenarnya, tapi aku yang tau diri. Aku takut jatuh cinta sama dia dan patah hati. Aku takut dia punya pacar, atau nggak melihat aku. Karena aku cuma perempuan biasa. Cantiknya standar, harta pas-pasan, introvert pula, nggak yang humble kayak cewek gaul gitu. Dan itu berlangsung selama hampir 4 bulan kita sekantor. Jadi kita menjaga komunikasi tetap plain dan nggak jauh-jauh dari kerjaan. Ya, sesekali dia curhat tentang kerjaannya, tapi aku berusaha nggak masukin ke hati. Ya itu tadi, aku menghindari banget buat jatuh cinta sama dia. Cause he's too good to be true.

Sampai kemudian, ada satu project, di mana aku dan cowok itu, hmm sebut aja namanya Lutfi. Hampir seharian kita kerja berdua-duaan. Jujur aja aku salah tingkah. Tapi aku tetap berusaha cool dan fokus ke pekerjaan aku. Lutfi pun kelihatan fokus sama project itu. 

Ketika akhirnya projectnya selesai, kami ngobrol. Awalnya obrolan ringan seputar kerjaan yang emang lagi hectic, soal project yang baru aja kami kerjain, ghibahin beberapa temen ehehe. Sampai akhirnya, Lutfi curhat tentang yah, betapa kerjaan bikin dia pusing dan kadang bikin dia ingin resign. Mungkin tempaan mentalnya belum matang ya, Lutfi emang baru pertama kali kerja. Belum pernah pindah-pindah perusahaan dan baru setahun dia kerja di perusahaan ini.

Aku cuma senyum aja dengerinnya. Bukannya gimana-gimana, tapi pengalaman aku emang lebih banyak daripada Lutfi. Since, aku cuma perempuan biasa aja, jadi aku harus kerja buat bantu keluargaku. Apalagi aku udah ngga punya Ayah dan aku anak pertama, yang otomatis beban tulang punggung jadi tanggung jawabku. Pahit-pahitnya kerja udah aku alami. Mulai dari atasan yang sensi dan nggak mau disalahin, kerja lembur sampai larut malam tapi nggak dibayar, harus jadi serbatahu saat nggak tahu apa-apa, dicecar nggak karuan, nangis di kamar mandi, pusing sampai mual, dipersulit saat mau resign, dan aku harus bertahan demi keluargaku. Karena kalau aku resign, ya mau makan apa sekeluarga? Kalau cuma keluhan diganggu saat weekend, atau disindir-sindir, istilah kata itu cuma level dua lah. Dan kantor tempatku bekerja saat ini, kantor yang sama dengan Lutfi, adalah kantor terbaik. Di mana hasil kerja selalu dihargai, atasan dan rekan yang support dan kompak, gangguan di weekend pun juga selalu ada solusinya sehingga aku nggak keberatan buat itu.

Semua itu aku ceritain ke Lutfi. Bukan bermaksud gimana-gimana. Aku mau kasih gambaran ke Lutfi, kalau dunia kerja emang sekeras itu. Aku mau dia bersyukur, karena kalau dia resign dan nyari lagi, belum tentu dapat yang lebih baik daripada kantor yang ini. Lutfi dengerin cerita aku antusias banget lah pokoknya. Bahkan dia masih antusias walau banyak interupsi. Dan dia nggak segan-segan buat bilang kalau dia kagum sama aku. Yang udah banyak pengalaman dan bisa lewatin semuanya. Kami bener-bener cerita heart to heart lah tentang pengalaman kerja.

Di hari itu, runtuhlah semua pertahanan aku. Bahkan sampai-sampai aku kegirangan kayak orang mabok. Hanya karena Lutfi mau terbuka dan kagum sama aku. Hahaha... jujur, aku bisa tahan godaan cowok goodlooking, tapi aku paling nggak bisa tahan dengan perhatian dan obrolan yang cocok. Tanpa bisa dicegah, aku jatuh hati sama Lutfi. 

Kemudian, atas saran adek aku, yang lebih ngerti tentang cinta daripada aku (apalah dayaku, ngga pernah pacaran wkwk... sekalinya punya hubungan, itu juga terpaksa). Dia nyaranin aku buat coba PDKT. Ngajak nonton kek, apa kek gitu kan. Tapi pas aku jalanin saran dari dia, justru aku dicuekin huhuhu... Dia bahkan (kayaknya) blokir sementara kontak aku. Dan bisa dihubungi lagi di hari kerja. Parah kan? Saking aku kesel sama itu cowok, aku ganti nama kontak dia jadi CHATBOT. Yah, namanya cewek dicuekin, pasti kesel lah yaa. Kesel plus malu. Tapi untung abis itu aku ngga ketemu dia 3 hari. During the weekend, sama WFH. Lumayan lah yaa, buat recovery muka gue ini wqwq.

Dan di hari pertama kami ketemu di kantor, si Lutfi innocently nyapa aku dengan senyum manis dan suara kalemnya. "Hai mba Anna!" lalu bersikap layaknya teman kerja. Dari situ, aku beraniin tuh nodong dia. Hahaha padahal selama naksir cowok seumur hidup, mana pernah aku berani modus, apalagi sampe nodong. Aku samperin ke meja dia.

"Parah ih mas Lutfi! Whatsapp aku nggak dibales!"

Lalu dia, dengan mengernyit heran. Entah itu beneran apa boongan, jawab. "WA yang mana?"

"Yang aku ngajak nonton."

"Aku bales kok, malah mba Anna yang nggak bales."

"Mana ada? Aku bales tauk!"

"Ih, beneran mbaa..." lalu ngambil hpnya dan kasih unjuk chat dia ke aku. "Tuh, aku kan balas, mau nonton kapan dan sama siapa aja. Trus mba nggak balas lagi."

Wah, totalitas dia playing innocent. Ya udah aku ladenin. Demi menyelamatkan harga diri kaan. Dan aku rasa cukup sudah aku nodong, kalo kebangetan dan makin parah, bisa kacau juga kerjaan kan. Secara dia satu tim sama aku. "Masa sih mas? Aku bales lagi tau abis itu."

Dan dia masih berlagak nggak tahu. Kemudian aku ngomong aja apa adanya. "Sebenarnya tuh mas, aku nggak apa-apa nonton sendirian. Tapi Mama aku nggak akan bolehin. Makanya aku cari temen. Akhirnya aku ngga jadi nonton deh itu."

Pas aku mau pergi, dia bilang. "Kalau mau mah jangan pas weekend, mending abis pulang kantor aja." Lalu aku cuma jawab iya dan balik ke mejaku. 

FYI, aku sama Lutfi itu seumuran. Tapi aku kebiasaan selama kerja semua aku panggil mas dan mbak, jadi aku panggil dia Mas Lutfi. Dan dia kebawa manggil aku Mbak Anna emoticon-Big Grin. Dan insiden whatsapp itu. Di balasan terakhir, whatsapp aku ke Lutfi ceklis, tapi fotonya masih ada. Waktu itu aku pikir error. Tapi kemudian aku dikasih tau temenku, kalau ternyata whatsapp bisa diblokir tapi fotonya masih keliatan. Entah gimana caranya. 

Setelah kejadian itu, aku memutuskan buat berhenti PDKT. Juga supaya kita bisa tetep profesional dan nggak terlalu bawa perasaan pribadi sih. Lalu di situ, aku jadi ingat pesan Ayah dulu. Aku paling nggak bisa PDKT dan punya pacar, sama kayak Ayah. Jadi, aku lebih baik cari teman. Kalaupun aku naksir orang, ya berteman aja. Kalau cocok, lanjut deh serius. Hmm kadang aku berharap Ayah masih ada dan aku bisa curhat. Tapi sekarang, cuma nasehat itu yang bisa aku pegang. Sambil aku berdoa sama Allah buat dikasih kesabaran dan keikhlasan buat nerima bagaimanapun sikap dia ke aku.

Dan Lutfi adalah satu-satunya lelaki yang aku naksir, yang bikin aku mau belajar. Mau belajar menanggalkan sifat-sifat childish. Mau belajar untuk kalem dan tenang. Mau belajar untuk rajin sholat, karena sebelumnya aku malaaasss banget sholat, beda sama Lutfi yang sangat-sangat rajin dan selalu ambil wudhu tiap adzan. Mau belajar buat memperbaikin penampilan dan caraku berjalan. Mau belajar bersyukur. Dan mau belajar ta'aruf dari pertemanan. Intinya, aku tergerak buat jadi lebih baik. 

Saat itu, aku emang pada akhirnya berniat melupakan aku jatuh hati sama Lutfi. Tapi itu belum selesai. Cerita ini masih akan berlanjut. Dan mungkin akan terus menerus berlanjut. Karena selama jalan ceritanya, akan ada banyak pertanyaan. Lutfi itu ramah, baik, sholeh, dan terbuka tapi misterius di saat bersamaan. Makanya di kontaknya aku namain CHATBOT. Karena ramahnya dia lempeng sekali kayak chatbot wkwk.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mr.buky dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
21-06-2021 15:28

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 2)

Seperti yang kubilang sebelumnya, cerita ini masih berlanjut.
Begini kelanjutannya...

***

Hari-hari berlalu setelah Lutfi mencueki aku. Dan aku berusaha bersikap sewajarnya, seperti dia juga yang bersikap sewajarnya sama aku. Dan aku mengaguminya seperti sebelum jatuh hati kepadanya. Sekadar kagum karena dia ganteng. Apalagi setelahnya, kerjaan di tim kami benar-benar sibuk dan itu bikin aku jadi lebih sensi dan overthinking dengan kecuekan dia. Padahal mah kalau dipikir-pikir ya wajar aja. Selain karena emang sibuk, dia juga emang orangnya kayak gitu.

Oh iya, aku juga dikasih tau, kalau Lutfi emang belum mau punya relationship. Dia masih lebih suka berteman. Jadi itulah kenapa juga aku berhenti PDKT sama dia, dan menyamankan diri sebagai temannya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, ini masuk juga ya sama nasehat Ayah. Berteman aja dulu, nanti kalau cocok, ya lanjut serius. Hmm... dan setidaknya, itulah yang masih aku lakukan sampai sekarang. Berusaha untuk membenahi diri, berteman sama dia sewajarnya, dan being nice ke semua orang. Sambil bersabar dan berdoa. Karena kali ini, aku benar-benar sadar, nggak ada daya upaya selain dari Allah. Dan hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati manusia, termasuk hatinya Lutfi yang misterius itu. Jadi daripada aku curhat sana-sini, harapanku dipatahkan sama teman-teman ngga ada akhlak, atau malah ngikutin saran yang salah, mending aku berdoa sama Allah. Senggaknya hatiku yang menggebu-gebu bisa lebih tenang. Well, thanks Lutfi, yang udah mendekatkan aku sama Allah. Meski kamu sama sekali nggak sadar.

Di suatu hari Kamis, tumben-tumbenan kantor sepi. Padahal aku datang kesiangan. Oh iya, btw aku sama Lutfi, walau satu tim, kita beda ruangan. Soalnya dia masih nempatin ruang lamanya, dan aku di ruang baru sama teman-teman yang baru gabung juga. Pas lewat ruangannya Lutfi, cuma ada dia seorang duduk manis di mejanya. Pagi itu Lutfi lagi meeting online dan... cuek baanget :')

Begitu sampai mejaku, aku pun ikut gabung di meeting itu. Untung ga ketinggalan terlalu jauh hehehe... Cukup lama meeting itu, sampai siang. Kelar meeting, aku mulai kerja. Pertama-tama, aku mau ngecek kerjaanku yang butuh approval dari atasan. Kebetulan, orang yang approve kerjaan itu seruangan sama Lutfi. Sebenarnya aku udah minta approve dari kemarin, tapi ya gitu, dia kebanyakan basa-basi. Kelamaan. Akhirnya nggak jadi di-approve.

Sebenarnya, pas aku lihat mejanya masih kosong. Tapi entah, iseng aja otak ini pengen modus hahaha. Ya nggak modus juga sih, aku beneran nanya. Kali aja Lutfi tahu hari ini doi masuk kantor apa enggak, kan mereka seruangan.

"Mas Lutfi, Pak Bram masuk nggak hari ini?" sambil duduk di kursi kosong di sampingnya.

"Nggak tahu, Mbak. Wah, kalau Pak Bram masuk bete juga nih berdua doang sama doi," jawab Mas Lutfi.

Aku tersenyum kecil. "Kalo Pak Bram nggak masuk, aku yang kacau nih. Kerjaan aku belum di-approve." Karena Lutfi sedang asyik, ya udah aku terusin. "Sebenarnya aku udah minta approve dari kemarin, tapi Pak Bram malesin, nggak approve-approve."

Lutfi tertawa kecil. "Emang dia begitu, Mbak. Sabar aja."

"Iya hmm kesel banget aku. Masa minta approval aja mesti berkali-kali sih, kayak lagi ngejar-ngejar dosen jaman revisi aja. Mesti nunggu dia sampai selesia meeting lah. Orang mah udah kek approve aja. Apa susahnya sih?!" aku mulai curhat.

Daan... Lutfi pun terpancing. Dia mulai ikut-ikutan ghibah. Kemudian, mengalirlah cerita kami. Banyak hal. Mulai dari soal pekerjaan, tentang masa-masa sekolah kami, masa-masa kuliah kami, dan dia mulai terbuka dalam beberapa hal. Begitu asyiknya obrolan kami hingga tak terasa satu jam berlalu. Bahkan aku mendengar beberapa kali ponselku berdentang, menandakan banyak pesan masuk. Tapi momen akrab bersama Lutfi terlalu berharga untuk berlalu begitu cepat.

Saat dia menghindar ketika kuajak nonton, dan kurangnya intensitas obrolan kami setelahnya, kukira dia sudah membaca niatku menyukainya dan dia berusaha menjauhiku. Bahkan kukira dia sudah tidak mau lagi berteman denganku. Singkatnya, kukira dia sudah tidak nyaman padaku. Dan jujur saja, itu membuatku khawatir. Tapi obrolan kami yang panjang, ringan, dan nyaman itu membuatku tahu aku tidak seburuk itu di matanya. Bahwa ia masih mau membuka diri kepadaku, setidaknya untuk berteman denganku. Dan aku lega karenanya.

Yah, walaupun aku berniat ingin berteman saja dengannya, tapi tak bisa kupungkiri, aku menikmati sekali momen-momen dekat dengannya. Menatap wajahnya yang cerah, senyumnya yang manis, matanya yang cokelat, jakunnya yang naik turun saat bicara, lesung pipinya yang malu-malu, dan suaranya yang berat dan kalem. Aduuh... jujur saja saat ini aku sedang senyum-senyum sendiri seperti fangirl saat mendeskripsikan sambil membayangkannya hahaha....

"Mas Lutfi mau makan siang di mana?" aku mencoba mengakhiri percakapan kami yang sepertinya tak akan pernah berakhir kalau aku tidak bertindak. Bukan apa-apa, aku sudah kebelet ingin ke toilet.

"Mba Ana di mana?" dia bertanya balik.

"Aku mah bawa bekal," jawabku sambil berdiri, siap-siap kabur.

"Ooh iyaya. Hmm..." Lutfi berpikir. "MCd masih tutup nggak ya?" gumamnya.

Tahulah yaa.. kejadian itu kebetulan bertepatan dengan kegaduhan yang ditimbulkan BTS X MCD, alias BTS meal. Yang membuat antrian membludak di MCd di mana-mana dan membuat outlet makanan cepat saji itu banyak yang tutup.

Aku mengangkat bahu. "Nggak tahu. Coba aja cari di berita. Googling."

Aku bingung juga kenapa ide sepele itu tampak sangat membantunya. "Oh iya, bener juga ya Mba Ana."

Sementara dia mulai searching, aku kabur dengan sisa tawaku dan menggumam. "Mas Lutfiii.. Mas Lutfi."

Telingaku masih menangkap tawanya dan dia membalas. "Mba Ana... mba Ana"

Sepanjang jalan ke toilet, senyumku benar-benar tak mau hilang. Untung kantor sedang sepi. Sambil bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Lutfi menggumam begitu menirukan aku? Kalau aku, menggumam begitu karena dia lucu. Masa googling aja sampai nggak kepikiran. Sedangkan Lutfi? Hmm terserah. Mungkin dia sedang menirukan aku, atau sadar aku menggodanya, jadi dia membalasnya.

Di hari itu, lalu aku sadar. Kesempatan masih terbuka untukku. Entah dia sedang bersikap netral atau bagaimana, yang terpenting adalah, dia tidak membenciku dan masih sudi berteman denganku. Semangatku bangkit lagi. Tapi kali ini lebih kalem dibanding sebelumnya. Ya, dengan cara itulah Lutfi mengajariku. Menanggalkan sifat childishku yang menggebu-gebu saat jatuh cinta, mengajariku akan arti sebuah kesabaran dan lapang dada, mengajariku untuk ramah pada semua orang, dan untuk terus berdoa.

Bagi yang mau menanggapi, silakan yaa... Atau mungkin mau berbagi cerita serupa? Boleh baanget.
Cerita ini masih berlanjut. So, tunggu kelanjutannya yaa...

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adietaenk dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
21-06-2021 23:56

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 3)

Udah malam, tapi belum ngantuk. Jadi ane lanjut aja ya ngepost ehehe. Sejak nulis thread ini rasanya jadi semangat lagi mau nulis.

***

Dulu, sewaktu masih sekolah, aku ingin sekali menjadi anggota OSIS. Kemudian waktu kuliah, aku ingin jadi anggota BEM. Meskipun aku introvert yang lebih nyaman dengan kesendirian, tapi aku juga suka beraktivitas. Dan yang ada dalam pikiran polosku waktu itu, jadi anggota BEM atau OSIS artinya jadi seksi wira-wiri kalau ada acara. Sibuk menyiapkan segala sesuatunya, dan ada di balik sebuah acara yang sukses. Itu adalah kebanggaan tersendiri bagiku. Tapi keinginanku buat jadi anggota OSIS terhalang. Waktu SMP gara-gara aku pindah sekolah. Dan waktu SMA, aku sudah kehilangan minat, gara-gara aku salah pilih jurusan dan harus belajar ekstra untuk mengejar nilai.

Kemudian waktu kuliah, aku sempat ikut organisasi kampus. Tapi hanya satu semester saja. Karena di semester dua, aku pindah kelas karyawan dan mulai bekerja. Kesibukanku itu membuatku terpaksa berhenti dari organisasi kampus yang kuikuti karena bekerja sambil kuliah sudah sangat menguras tenaga dan pikiran. Dan akhirnya, aku melupakan keinginan itu.

Tapi rupanya Allah memang punya cara lain untuk mengabulkan keinginan umat-Nya. Setelah beberapa kali pindah kerja, qadarullah, di bagian kantorku yang sekarang aku bekerja di bagian Marketing Communication. Memang sih, di jobdesk aku hanya mengurusi administrasi dan arsip. Tapi tak jarang aku juga turun langsung dalam beberapa kegiatan. Meski melelahkan, tak kenal waktu, tapi aku sungguh senang dan menikmatinya. Apalagi kalau acaranya sukses. Rasanya semua rasa tegang, lelah, setiap tetesan keringat, terbayar semua. Sungguh, aku mencintai pekerjaanku sekarang dan aku bersyukur atas pemberian Tuhan yang tak terduga ini.

Seperti project yang lagi-lagi akan kukerjakan bersama Lutfi. Sebenarnya, sama sepertiku, jobdesk Lutfi juga tak jauh-jauh dari urusan administrasi. Tapi karena load pekerjaan yang begitu banyak dan tim yang hanya sedikit mengharuskan aku dan Lutfi untuk menangani project itu langsung. Saat aku diberi mandat itu, aku benar-benar senang sampai tertawa cekikikan seperti ABG. Pertama, aku senang turun langsung menangani sebuah acara (walau sebenarnya aku masih belajar dan belum ngerti-ngerti amat). Kedua, aku akan menanganinya bersama Lutfi! Sebenarnya bukan cuma berdua sih, ada salah seorang timku yang akan menuntun kami, Pak Tama.

Ya, ini benar-benar seperti yang pernah kumimpikan dulu. Sibuk dalam sebuah project, lalu ada percik-percik asmara seperti di film-film dan novel romantis! Aku akan benar-benar menikmati project ini.

Pembagian tugas dan meeting-meeting koordinasi pun dimulai. Acara ini harus sangat dipersiapkan dengan matang karena akan dihadiri direksi. Persiapan yang kami lakukan benar-benar lebih matang dibanding acara-acara yang pernah kami tangani langsung. Apalagi ini pengalaman pertamaku menyiapkan acara direksi, begitu juga dengan Lutfi dan Pak Tama.

Sore itu, padahal sebenarnya kami sudah meeting beberapa kali siang tadi terkait persiapan acara. Tapi lagi-lagi Pak Tama kembali mengundangku dan Lutfi untuk meeting koordinasi. Kali ini dengan mengajak Pak Ridwan, atasan kami.

"Nanti Lutfi, ke gedung A ya sama saya," ajak Pak Ridwan kepada Lutfi. "Kita setelin malam ini aja digital bannernya."

"Baik, Pak."

Usai meeting, kami pun siap-siap. Lalu tiba-tiba saja Pak Ridwan mengajakku serta. "Anna mau ikut?"

Sesaat aku bingung. Kenapa pula aku diajak? Pemasangan digital banner sebenarnya bukan bagianku. Memang sih, aku yang menghubungi tim yang hendak kami pinjam digital bannernya. Tapi kurasa itu sudah cukup. Atau mungkin Pak Ridwan mau mengajakku untuk ikut untuk nantinya aku didrop di stasiun terdekat?

"Boleh."

Pak Tama tiba-tiba iseng menggodaku. "Anna, dijagain ya itu cowok ganteng."

"Hehehe... iya, Pak," jawabku sok santai sambil cengengesan. Ingat, aku nggak boleh salah tingkah kalau nggak mau Lutfi jadi annoyed kepadaku.

Kebalik atuh, Pak Tama! Harusnya mah Lutfi yang digituin! Suruh jagain aku. batinku.

"Lutfi, itu dijagain ya Anna nya." Pak Tama berkata lagi seolah bisa mendengar pikiranku.

Sama sepertiku, Tama juga cuma cengengesan dan mengiyakan saja.

Dan sore itu, aku pun ikut mereka ke gedung A. Well, ternyata perkiraanku salah. Aku benar-benar diajak serta ke gedung A. Di sana, aku benar-benar merasa nggak berguna dan kebosanan. Pak Ridwan dan Lutfi sibuk menyetting. Sedangkan aku duduk seperti anak ilang di pojokan. Mana aku juga perempuan sendiri. Lutfi yang sejak tadi kulirik juga tidak merasa, tampak terlalu fokus dengan setelah digital banner.

Aku melihat jam tanganku. Pukul delapan kurang seperempat malam. Bosan yang kurasakan sudah overload! Aku ingin cepat pulang. Lagipula mereka sudah selesai menyetting digital banner. Tapi Pak Ridwan tampaknya belum berniat meninggalkan kantor gedung A. Ia masih terlihat mengobrol dengan orang-orang yang ada di sana yang tadi membantu menyetting digital banner. Malah kemudian mereka streaming bola! Mau pamit duluan juga nggak enak.

Lutfi, yang baru kembali dari sholat isya, duduk di sofa yang tak jauh dari kursi tempatku duduk. "Mas Lutfi, pulang jam berapa?" tanyaku pelan.

Sambil memakai kaos kaki, ia menjawab. "Paling lambat setengah sembilan."

"Okedeh, aku juga," kataku akhirnya. Kemudian iseng-iseng aku bertanya. "MRT sampai jam berapa emang, Mas?" Karena Mas Lutfi menggunakan MRT sebagai moda transportasinya.

"Sampai jam 10 malam, tapi nggak tentu juga sih. Kadang bisa lebih awal."

"Sama kayak KRL dong ya berarti. Tapi kalo KRL mah bisa dicek jadwalnya di aplikasi. Kalau MRT nggak bisa emang? Ada aplikasinya nggak sih?" Ya, aku kalau bosan bisa melantur tak karuan. Walaupun Lutfi menjawab pertanyaanku masih tanpa menatapku, sibuk dengan ponselnya.

"Ada sih, tapi HP aku kan nggak kompatibel buat download aplikasi MRT." Barulah saat itu Mas Lutfi mempedulikan kehadiranku emoticon-Big Grin

"Beli lah, Mas. Di toko tempatku beli HP, murah-murah di sana."

Lalu Mas Lutfi kembali mengalihkan pandangannya lagi. Tapi kali ini dia menerawang. "Mau nabung dulu nih aku, banyak pengeluaran soalnya bulan ini. Eh, dari bulan Mei malah."

Yang kutahu saat itu, Lutfi adalah cowok high class. Dia hanya bekerja untuk cari pengalaman atau mengisi waktu luang, bukan karena kebutuhan sepertiku. Orang tuanya masih lengkap dan keluarganya tampak bahagia. Bahkan tempat tongkrongannya adalah jenis tempat nongkrong mahal yang, orang sepertiku pasti akan berpikir seribu kali untuk nongkrong di sana. Begitulah yang kupikir tentang Mas Lutfi. Hal yang juga membuatku jiper untuk mengharapkan cintanya, atau setidaknya berharap dia akan melihat orang biasa sepertiku.

Jadi saat dia cerita "banyak pengeluaran" dan "mau nabung dulu", otakku lola mencerna. Memang seurgent apa sih kebutuhan orang seperti itu? Dan, kenapa dia harus nabung? Kalau dia mau, gajinya sebulan pastilah sangat cukup untuk membeli ponsel sepertiku, yang meski bukan versti terupdate, tapi cukup kompatibel untuk mendownload aplikas-aplikasi sesuai kebutuhan.

Kemudian Lutfi cerita kalau salah satu adiknya akan lulus kuliah tahun ini. Sedangkan adiknya yang lain masuk kuliah tahun ini. Jadi saat ini ia harus berhemat. Otakku masih lola. Dengan hati-hati, aku bertanya.

"Mmm... maaf, emang papanya pensiun kah, Mas?"

Lutfi tampak berpikir sejenak. Kemudian ia mulai bicara. "Bukan pensiun sih, Mba. Ada hal lain. Aku nggak cerita ini ke siapa-siapa tapi, Mbak."

Karena ini permintaan Mas Lutfi, aku tidak bisa menceritakannya secara detail. Dan yang kuceritakan di atas, hanyalah apa yang kupikirkan dari sisiku. Intinya, malam itu, dari cerita Lutfi, yang kutahu ia bicara jujur, membuatku menjadi lain dalam memandangnya. Aku melihat sisi lain dari seorang Lutfi. Yang membuatku kagum kepadanya. Penilaianku akan laki-laki manja pun berubah. Intinya, ternyata hidup Lutfi pun penuh perjuangan dan diwarna dengan fase naik-turun, tak ubahnya dengan cerita hidupku sendiri.

Malam itu, mengalirlah cerita itu. Yang kata Lutfi, ia tidak menceritakannya kepada siapapun. Dan tampaknya lagi-lagi ia bicara jujur. Lutfi menceritakannya dengan pembawaan tenang. Tanpa kesan sombong, emosional, atau perubahan tone bicara yang berarti. Aku mendengarkannya bercerita dengan antusias. Dia pun seperti antusias bercerita kepadaku. Bahkan pertandingan sepak bola yang ditonton teman-teman, yang sempat menarik perhatiannya, ia abaikan karena bercerita kepadaku.

Aku tercenung setelah ia selesai. dengan ceritanya. Tak menyangka dengan fase-fase hidup yang ia lewati, tak menyangka perjuangan yang ia lalui, dan tak menyangka ia akan seterbuka itu kepadaku. Entah kenapa ia menceritakannya. Apakah karena ia memang percaya kepadaku, atau karena ia ingin mengetesku? Bisa saja kan? Meski Lutfi lempeng dan kadang kelihatan polos, mungkin saja dia sebenarnya tidak sepolos itu. Mungkin saja sebenarnya ia membaca aku suka padanya.

Entahlah, perkiraan kedua sepertinya membuatu tampak GR. Tapi yang jelas, malam itu aku senang sekali. Benar-benar senang dengan keterbukaan Lutfi.

Akhirnya, aku menanggapi ceritanya dengan senyuman dan membagikan ceritaku. Ya, Lutfi sudah terbuka kepadaku. Tak ada salahnya kan kalau aku juga berbagi cerita dengannya? Intinya, aku juga menceritakan bagaimana perjuangan keluarga kami untuk hidup mapan, yang juga terobrak-abrik gara-gara pindah rumah. Bagaimana kami mulai dari nol saat kembali ke Jakarta. Bagaimana aku ikut berjuang bekerja sambil kuliah demi membantu keluargaku. Bagaimana kemudian, saat kami hampir bangkit, Ayah berpulang ke Rahmatullah. Dan bagaimana saat ini aku berjuang dan memutar otak mengelola keuangan setiap bulannya.

Aku nggak terlalu memperhatikan Lutfi karena larut dalam cerita. Dan berusaha menahan emosi dan tremor. Selain karena aku nggak biasa nyeritain ini ke orang yang aku anggap spesial, cerita aku bisa dibilang cukup menguras emosi.

Pas aku selesai cerita, Lutfi lagi-lagi keliatan kayak terheran-heran. Lalu dia bilang. "Tough banget ya Mba Anna. Beneran loh, aku aja sampe begini tadi," sambil ngusap-usap keningnya. "Kalau kita tukar posisi, aku nggak akan kuat, Mba"

Jujur aja, selain bikin tersanjung, reaksi Lutfi juga bikin salting cuy! Setelahnya yah, macam filosopis aja omongan kita. Orang dengan masalah dan bebannya masing-masing. Orang nggak akan tahu belajar sebelum benar-benar jatuh. Dan seterusnya. Dan lagi-lagi, nyebelin emang, obrolan kita berakhir gara-gara Anna kebelet pipis. Padahal sebenarnya mah nggak apa-apa balik malem. Asal bisa cerita lebih lama emoticon-Big Grin

***

Berikutnya Anna update lagi ya pas hari H. Seru baanget asli wkwk... Bahkan rasanya ane nggak ingin event itu berakhir.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mr.buky dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
22-06-2021 17:57
Tarik mon...... Kemonthollll
0 0
0
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
23-06-2021 18:21
Falling in love with someone is a truly beautiful experience. It’s also terrifying, exhilarating, nauseating, and generally a veritable roller coaster of emotion that’s wonderful and hideous at turns.

If you’re fortunate enough to have met someone special and think you’re falling in love with them, you’ll likely experience the following. In fact, pretty much everyone who has ever fallen for another has gone through these stages, so you can be certain that most of the people in your life can relate to what you’re going through.
profile-picture
annaonymus memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
24-06-2021 12:54

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 4)

Sekarang kita masuk cerita hari H yaa
Mohon maap nih ane ngga bisa posting selancar kemarin. Ane ngetik di HP cuy, ngisi kegabutan selagi naik kereta sepulang kerja sambil ngayalin doi #CMIW
Laptop ane lagi lagi ane titipin di meja Lutfi. Selain krn males nenteng2 berat, sekalian modus wkwk. Yah yg penting sering2 aja muncul di hari-harinya. Salah satu caranya? Ya nitip laptop emoticon-Big Grin
Oke, mulai yaak

***

Hari itu aku benar-benar kurang tidur. Walau aku pulang duluan, tapi rasanya pikiran ini masih tertinggal. Kadang di kantor, kadang di lokasi acara. Lutfi bersama seorang teman kami yang kami minta untuk membantu masih di lokasi acara, sedang memasang banner. Aku juga masih mendapat beberapa whatsapp terkait persiapan yang menjadi tanggungjawabku. Wah, baru kali ini aku benar-benar disibukkan dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran, bikin kurang tidur, tapi aku menikmati.

Sebenarnya aku nggak enak juga pulang duluan. Sementara Lutfi, Pak Tama, dan seorang yang membantu Lutfi masih di acara. Hanya karena aku perempuan dan rumahku paling jauh, Pak Tama menyuruhku pulang duluan dan beristirahat dengan catatan aku harus ada di lokasi pukul tujuh. Sedangkan Lutfi baru pulang pukul 11 malam (begitu katanya saat kutanyai keesokan harinya). Dan Pak Tama malah baru pulang pukul setengah satu pagi.

Aku sudah berusaha berangkat pagi buta walau tidur dinihari. Pukul lima pagi, setelah subuh saat Bogor sedang dingin-dinginnya, aku sudah mulai berangkat. Niatnya sih ingin menyambung tidur di kereta, tapi celakanya aku malah melek seger gara-gara habis ngopi sebelum berangkat. Padahal ngopinya cuma sedikit, nggak sampai setengah gelas. Dan celaka berikutnya adalah, aku nggak tau rute ke arah lokasi itu. Sebenarnya Lutfi ngasih tau, tapiiii aku bingung begitu keluar dari stasiun. Ditambah lagi aku disorientasi arah.

Aku terlambat hampir 20 menit, sedangkan Lutfi sudah ada di lokasi sejak sebelum pukul tujuh dan langsung berkoordinasi dengan baik. Huh aku malu sekali. Sudah telat, aku malah jadi kayak anak ilang. Pokoknya kacau lah. Tau lagunya Lenka yang “The Show” kan? Begini liriknya.

“The sun is hot, in the sky. Just like giant spotlight. The people follow the sun, and synchronize in time”

Lalu…

“I’m just a little girl lost in the moment. I’m so scared, but I don’t show it. I can’t figure it out, it’s bringing me down…”

Menyedihkan. Canggung setengah mampus. Ketambahan lagi aku yang bertanggung jawab monitoring gladiresik. MC slowrespon, pembaca doa kesiangan, posisi belum tahu persis. Huh rasanya seperti dilempar ke tengah hutan. Beda sama Lutfi yang walau katanya ini pengalaman pertamanya, tapi dia lebih tau apa yang harus dia lakukan. Nggak canggung sepertiku.

Hari itu Lutfi ganteng baanget. Ya, tiap hari juga dia ganteng siih haha. Dan pas itu, pakaian kita bisa samaan masa 😂
Kemeja hitam, celana jeans. Tadinya aku hampir mau pakai sepatu putih. Kalo aja jadi, sama juga tuh sampai sepatu sepatunya wkwk.

Nggak cuma hari itu. Dalam seminggu, sudah tiga kali kita pakai baju samaan. Salah satunya saat acara, yang barusan aku ceritakan.

Kemudian hari Senin. Jadwal seharusnya kami WFH. Waktu itu, aku masuk karena malas dirumah, juga salah satunya menyiapkan acara besar itu. Kukira Lutfi WFH, jadi aku dandan ala kadarnya. Eeeh tiba-tiba Lutfi muncul. Aku yang kaget langsung nyeplos. “Loh. Mas Lutfi masuk?!” Dan dengan senyum nicenya seperti biasa, Lutfi jawab. “Iya mba.” Hari itu aku pakai batik biru. Ternyata Lutfi juga pakai batik biru. Ada gradasi kuningnya sih, tapi dominan biru. Aku nggak terlalu mikirin siih. Males GR juga.

Lalu kemudian, saat aku ingin pakai tunik hijau army dan rok plisket hitam. Ternyata Lutfi juga pakai kemeja hijau army dan celana hitam. Hahaha untung pakai masker, jadi nggak terlalu kelihatan aku sedang cengengesan menahan tawa saat bertemu dia. Bahkan sampai ada yang bilang begini. “Lutfi sama Anna kompak banget. Bajunya aja samaan terus.” Hahaha asli, badanku langsung panas dingin dan hati ini kegirangan dengernya wkwk.

Seminggu yang indah, seolah semesta sedang mendukung alias mestakung.

Satu momen di tengah kesibukan menyiapkan acara di hari H, aku dan Lutfi papasan. Dia bilang kalau dia sibuk banget dan belum sarapan.

“Eh, ini tadi aku beliin kopi mas di stasiun,” kataku.

“Wuiih kopi apaan mba?”

Aku mengeluarkan sebotol untuknya. “Nih, aku sama beliin Pak Tama juga sebenarnya, tapi orangnya belum datang.”

Ya, sebelum keluar stasiun, aku membeli kopi untuk teman-temanku. Sebentuk perhatian kecil sebagai rasa terimakasihku karena aku dibolehkan pulang duluan. Lagipula kerja sampai pagi dan bangun pagi buta, pasti mereka butuh kopi.

“Mba Anna nggak ngopi?” tanya Lutfi saat menerima kopi yang kuberikan.

“Aku udah di rumah.”

“Makasih banyak ya mba,” kata Lutfi sambil menenggak kopinya lalu larut lagi dalam kesibukan. Buseeettt kuat juga lambungnya belum sarapan udah ngopi!

Setelahnya, kami benar-benar sibuk dan super tegang. Pokoknya, aku pribadi aja sampai tangan dingin semua, keringat dingin, panik ini panik itu… pun dengan Lutfi yang juga tampak sibuk.

Kesibukan mulai suruh beberapa menit sebelum acara inti. Kita para panitia kumpul2 gitu, ngobrol kan sambil becanda-becanda.

“Tau ngga mba semalem, colokan digital bannernya copot. Mana nyambungin kabelnya susah banget,” cerita mas Lutfi.

“Oh iyaa… pantesan semalem aku ditelpon yang bantu mas Lutfi,” jawabku sambil refleks menepuk lengannya. Terasa hangat di tanganku yang udah sedingin es kutub utara. Lagi-lagi, itu adalah pertama kali aku beraninya melakukan sentuhan fisik ke orang yang aku suka. Kan katanya biasanya sentuhan fisik itu bakal ngaruh banget. Tapi ya aku sok asik aja kaan, stay cool, biar akrab dan ngha canggung hehehe. “Panik banget tuh aku ya ampuun. Maaf ya semalem nggak angkat telepon. Aku lagi mandi soalnya. Trus gimana tuh mas?”

“Ya udah, aku akalin. Alhamdulillah bisa. Wah perjuangan banget itu,” cerita mas Lutfi.

Asik sih, tapi cuma sebentar karena banyak interupsi. Maklum lah yaa namanya juga rame-rame.

Acara pun dimulai. Khidmat banget selagi jalannya acara. Kita para panitia tuh kayak ngeri2 sedap sepaneng gitu. Secara kan, muka divisi dipertaruhkan dalam acara yg dihadiri direksi dan diliput pers cuy!! Aku bahkan nggak percaya aku, yang masih merasa undal undul dan canggung, ikut terjun langsung nyiapin acara itu. Tampaknya Lutfi pun begitu.

Tapi ya, seperti yang kubilang tadi. Acaranya ngeri2 sedap. Ada sedapnya juga doong emoticon-Big Grin
Sepanjang acara, hummm manis baanget. Ya namanya orang lagi kasmaran, pasti curi2 pandang lah yaa ke dia. Mana dia ganteng banget lagi. Dan tiap bertemu tatap, dia senyum.

Terus nih, humm ngga tau sih ini dasar aku yang GR atau emang beneran. Katanya nih, kalo ada orang liatin kita, and we do something, maka orang itu akan refleks ngikutin apa yang kita lakukan. Bener ga sih gansis?? Kalau yang tau boleh banget jawab yaa hehehe… Karena apa??? Aku memergoki dia betulin masker, tepat setelah aku benerin masker. Dua kali lagi hahaha…

Selesai acara, lega banget rasanya sumpah. Acara sukses, bahkan pak Dirut tampak puas sama digital banner hasil perjuangan Lutfi. Dan hari itu, Lutfi yang biasanya lempeng, feel unreachable (kecuali kalo dia lagi curhat) tiba-tiba jadi asik. Kami saling makasih dan dia menghargai banget bantuan aku, walau sebenarnya aku cuma melakukan bagian aku. Hmm Lutfi itu emang anaknya santun banget, khas anak kota yang ramah dan tahu sopan santun. Makin meningkat aja nih love love gue wkwkwk… Dia bahkan ngajak aku toast, udahlah, macam dynamic duo kita. Padahal biasanya enggak. Biasanya tuh ya, cuma salaman tanpa sentuhan ala anak pesantren gitu. Setelahnya kita dokumentasi. Hmm ada salah satu foto, yang mana gaya aku dan Lutfi kebetulan banget sama. Lagi-lagi aku kok kayak melebih-lebihkan ya? Whatever, yang jelas, aku senang lihat foto itu.

Kemudian, aku posting di Instastory. Aku mention timku yang ada di sana. Dan itu adalah pertama kalinya Lutfi lihat instastory aku. Sebelumnya mah mana pernah! Aku temenan IG sama Lutfi dari pas hari pertama aku jatuh cinta sama dia, di project pertama yang kami berdua kerjakan. Itu pun aku duluan yang nanya akunnya dan follow dia. Hahaha ya ampun, bener-bener nggak tau malu! Tapi ya udah aja ya, deketin cowok lempeng, kalau nggak kita yang proaktif duluan, mana bakal ada jadi?? Ya walau belum tau sih nanti bakal jadi atau enggak, yang penting udah usaha yekaaan??? Hmm padahal dalam keadaan normal, nggak bakal aku lakuin itu. Biasanya aku cuma berbekal nama lengkap, lalu stalking kayak penguntit. Tapi sama Lutfi, ya agak segan sih, tapi aku beranikan. Kan niatnya bertemen dulu ajaa hehehe…

Maaf OOT. Awalnya, kukira Lutfi tumben-tumbenan lihatin instastory aku just because I mentioned him. Tapi seterusnya, dia jadi liat terus doong tiap kali aku bikin instastory! GR? Pasti laah wkwk… Ya, meski lagi-lagi ini mungkin sepele buat orang-orang (sampai-sampai aku malas cerita karena malas dengernya disepelein), tapi bagiku ini berarti banget. Bahkan aku sampai lonjak-lonjak pas dia liat IG story aku wkwkw… astagaaaa bener-bener berasa balik jadi ABG lagi gara-gara doi.

***

Oke, sampai sini dulu yaah kelanjutan thread ane. Karena seperti yang ane bilang di atas, ane nyeritain hari H event itu aja hehehe…
Tenang gan! Nanti ane lanjutin lagi kok tritnya. Buat yang mau komen atau share, silakan banget ya gan! Ane welcome sangat.
Ane juga mau bilang terimakasih banyak buat agan dan sista yang udah komentar dan kasih cendol. Alhamdulillah, sebagai penulis, nggak ada hal yang lebih membahagiakan ketimbang tulisan kita disukai pembaca gan. So sekali lagi, thank you so much yaa... emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
mr.buky dan mmuji1575 memberi reputasi
2 0
2
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
24-06-2021 14:44

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 5)

Ane lanjutin ya gaan… laptop yang ane titip ke Lutfi udah balik niih hehehe. Tapi hati yang ane titipin ke Lutfi kok nggak balik-balik ya? wkwk... Canda baliikk emoticon-Big Grin

***
Way Back Into Love


I've been living with a shadow overhead
I've been sleeping with a cloud above my bed
I've been lonely for so long
Trapped in the past
I just can't seem to move on

I've been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need them again someday
I've been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
Oh oh oh

I've been watching but the stars refuse to shine
I've been searching but i just don't see the signs
I know that it's out there
There's got to be something for my soul somewhere

I've been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night
I could use some direction
And I'm open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can't make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I'm hoping you'll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I'll be there for you in the end

Kenapa bagian thread ini ada lagunya? Tenang, nanti ada ceritanya. Mungkin saat ini cerita lagu ini hanya berdasarkan cocokologi dan khayalan aku aja. Tapi siapa yang tahu masa depan kan? Siapa yang tahu akankah lagu ini akan tetap jadi khayalan dan cocokologi, atau jadi kenyataan? Hmm kalau aja jadi kenyataan, mungkin kata bahagia aja nggak cukup buat menggambarkannya. Atau mungkin, aku bakal menangis saking bahagianya?

Oke, lanjut cerita ya.

Waktu aku baru banget memasuki masa remaja, masih ada sisa-sisa anak ingusan yang nggak ngerti apa-apa, aku pernah berkata begini “Ah, aku mah nggak mau pacar-pacaran. Aku maunya ya langsung menikah aja. Ngapain pacaran, maksiat!” Kenapa aku berkata begitu? Karena dulu aku pernah sekolah di MTs, walau cuma sebentar doang sih. Dan aku melihat, ada temanku pacaran, dan itu nggak bener. Makanya aku berkata begitu. Kemudian aku juga pernah berjanji pada diriku sendiri, nggak lama setelah itu, kalau aku nggak mau pacaran sebelum lulus kuliah. Karena aku mau fokus belajar, nggak mau sekolahku terganggu sama pacar-pacaran. Dan itu tadi, aku takut maksiat.

Dan sepertinya Allah mengabulkan doaku. Di MTs, lalu pindah ke SMP, aku sama sekali nggak pacaran. Lalu ketika lulus, aku sekolah di SMK, yang mayoritas isinya cewek semua. Bahkan di kelasku cowoknya cuma dua gelintir doang gais, nggak ada yang ganteng lagi wkwkwk. Malahan dulu jurusan administrasi perkantoran nggak ada cowoknya sama sekali. Ditambah lagi, dulu aku nggak bisa move on dari cinta pertamaku. Untuk alasan itu juga aku menutup hati dari cowok manapun. Karena aku menunggu dia. Yah, walau pada akhirnya sia-sia juga sih penantianku. Aku nolak-nolakin cowok yang suka sama aku. Berat kah? Berat. Di satu sisi, aku ingin masa SMA yang indah kayak di film-film romance. Di sisi lain, sepertinya semesta belum mendukung ahaha…

Lalu berlanjut ketika aku kuliah. Yah, di thread sebelumnya, aku cerita kan kayak apa cowok yang mengejar-ngejar aku? Dan bagaimana dia nyakitin aku dan keluargaku? Oke, aku nggak mau bahas lagi lebih jauh. Tapi yang jelas, selama masa itu aku nggak melakukan apa-apa sama dia. Paling yah, sebatas pegangan tangan. Itu juga baru sekali. Duduk aja jauh2an kayak physical distancing wkwk…

Sebenarnya, aku punya satu komitmen, kalau aku mau menjaga statusku buat calon suamiku kelak. Aku ingin dia jadi cinta pertama dan terakhirku. Aku ingin waktu sama dia, dialah orang yang pertama bersamaku, walau bukan yang pertama di hatiku. Tapi tampaknya Allah ingin aku belajar dan tahu mengalah, bertanggungjawab, dan kecewa.

Tapi nggak apa-apa, walau aku ingin sangat hilang ingatan tentang masa bgsd itu, but I take it as a lesson to learn. Bahwa cinta itu penting dalam sebuah hubungan. Bukan hanya soal teknis yang dibutuhkan dalam mencari pasangan like, yang penting dia cowok, yang penting dia cinta sama aku, yang penting dia baik, dia kerja, dia apalah… Ya, itu penting. Tapi cinta dalam sebuah hubungan juga penting. Apalagi untuk kita-kita ladies, yang akan melayani suami kita seumur hidup, punya anak dan menua bersamanya. Alangkah lebih indahnya kalau ada cinta di dalamnya kan?

Lalu lepas dari cerita bgsd itu, bertemulah aku dengan Lutfi. Sebelum bertemu Lutfi, aku sempat mengalami nggak percaya akan cinta. Benci lihat film romansa, marah-marah tiap ada lagu romantis, muka sama cinta-cintaan, bahkan aku nggak mau baca novel romansa dan udah enggan menulis. Haha ironis, padahal aku penulis romansa.

Akhir pekan setelah hari H event itu, aku rinduuu banget sama Lutfi. Aku bahkan sampai nggak nafsu makan, nggak bisa tidur, dan ngebayangin kayak apa penampilan dia kalau jadi pengantin bersamaku, mengucap ijab kabul, gimana jadinya kalau kita tinggal serumah… Jujur sepanjang jatuh cinta, baru kali ini aku sampai ngebayangin sejauh itu. Tanpa jemu-jemu. Bahkan bayangan itu rasanya nyata sekali. Sepertinya aku udah bukan lagi di level mabuk cinta, tapi overdosis cinta cuy! Nggak sabar menunggu hari saat kami ngantor bareng-bareng lagi.

Tapi eh tapiii… ketika kami ngantor, nothing’s special happen. Ya, ada sih percik-percik asmaranya (cieh!) tapi mungkin terlalu biasa buat aku ceritakan, walau buat aku yang sedang bucin ini, tetep aja spesial hahah.

Kejadiannya sih cuma, yah di cie-ciein sama teman-teman dan dia cuma cengengesan. Tapi gitu-gitu dia sadar nggak ya kira-kira kalau aku tuh suka beneran sama dia? Kalo yang lain, kayaknya sadar. Bahkan kemarin, aku nggak sungkan-sungkan buat mengiyakan. Nggak di depan Lutfi sih sebenarnya. Begini ceritanya.

“Anna, udah sholat?” tanya Pak Tama sore itu.

“Udah, Pak.” Aku langsung sholat begitu adzan berkumandang. Sekalian ke toilet soalnya. “Lagi cari makmum ya pak?” candaku.

“Iya nih, biar ada barengannya.”

Aku tersenyum. “Kalau aku sih carinya imam pak hehe…” Pak Tama, no matter what people say, udah aku anggap kayak bapakku sendiri. Aku nggak segan-segan curhat, bahkan bercanda sama beliau. Tapi aku belum cerita eksplisit kalau aku suka sama Lutfi sih. Belum sempat, masih malu juga.

Lalu tiba-tiba Pak Ridwan, yang tadinya khusyuk sama kerjaannya pun nyamber. “Lutfi kan, Na?” tanyanya.

Pancingan itu pun lantas disahuti teman-teman yang lain. Kemudian aku ditanya berjamaah. “Mau dibilangin apa bilang sendiri nih?”

Waduh! Jebakan ini sih! “Humm gimana ya? Enaknya gimana, Pak Tama?” tanyaku. Karena aku pernah berbagi tentang susahnya cewek kalau suka duluan sama cowok.

Bukannya peka kode, malah Pak Tama nanya lagi. “Ya, terserah Anna, maunya dibilangin apa bilang sendiri?”

Sial! Aku beneran bingung mau jawab aja. Sebenarnya sih mereka cuma bercanda, tapi lagi-lagi, aku malu. Masih segan juga buat lempar kode eksplisit. Takutnya Lutfi salah paham dan langsung kabur menjauh!

Lalu kejadian lagi, waktu mau zuhur. Adzan berkumandang di seluruh penjuru kantor. Notifikasi ponselku pun menunjukkan sudah masuk waktu zuhur. Dan kebetulan lagi, aku ingin ke toilet.

Waktu melewati ruangan mas Lutfi, aku meliriknya. Dia sudah nggak ada di tempatnya. Yah, seperti biasa, cowok itu langsung ambil wudhu begitu mendengar adzan. Dan sekarang aku sedang mengikuti jejaknya hehehe. Ketika sampai di ujung lorong, aku berpapasan dengan Lutfi yang baru selesai wudhu. Biasanya, kalau kami papasan kami hanya saling melempar senyum, atau menyapa, atau bahkan lewat aja tanpa senyum atau tegur sapa. Intinya mulus lah.

Sedangkan kali itu, mungkin karena pikiranku sedang tidak settle gara-gara mikirin Lutfi (efek jatuh cinta, biasa lah yaa) aku kaget saat melihatnya di depan mukaku. Langkahku berhenti, begitupun Lutfi. Dan dengan kaget (setengah blo’on), aku menyapanya “Eh, Mas Lutfi.”

Lutfi pun membalas. “Eh, Mba Anna.”

Dia juga berhenti gaes! Entah ini perasaanku aja atau emang bener, Lutfi juga kaget. Terus pas mau melanjutkan langkah, kita kayak salting gitu. Sama-sama bingung. Tatap-tatapan lagi, salting lagi. Terus kita sama-sama tertawa kecil dan akhirnya melanjutkan langkah. Duh, tertawaku benar-benar kelihatan banget jatuh cintanya! Tawa tersipu-sipu sambil nunduk, lalu kabur.

Heran aja sih, tumben banget kami papasan kayak gitu hahaha… Dan setelahnya, keseringan aku kagetan jadinya kalau papasan sama Mas Lutfi.

And after that, nothing’s so special. Sikap Lutfi tetap ramah sebagai teman, helpful, tapi juga lempeng kayak chatbot, terus kalo dicie-ciein juga cengar cengir aja dia. Eh, tapi pernah deng dia bales WA tumben banget kelihatan agak peduli. Yah, walau bahasan kita cuma tentang kerjaan sih. Tapi ya, tumben aja gitu dia balesin pesanku yang biasanya dikacangin doang.

***

Sekian dulu ya gan update ane. Nanti setelah ini, mungkin cerita ane bukan lagi sebuah kejadian, tapi lebih ke menggambarkan bagaimana perasaan dan sudut pandang ane tentang Lutfi.

See you soon! emoticon-Wink
profile-picture
profile-picture
mr.buky dan mmuji1575 memberi reputasi
2 0
2
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
29-06-2021 14:15

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 6)

Bisa jadi, mungkin ini postingan kelanjutan thread “Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor” ane yang terakhir. Ane sebenarnya emang penulis cerita, tapi cerita yang ane tulis ini bukan cerita fiksi, yang bisa ane tentuin alurnya, mau prosesnya kayak apa dibikin seseru mungkin, dan endingnya disetting sesuka hati ane. Enggak gan, ini yang ane tulis adalah cerita nyata. Real life dan sedang on going. Kalaupun nanti berlanjut, ane nggak terusin di thread ini mungkin. Mungkin ane akan bikin thread baru di episode kedua. Insyaallah kalau ada terusannya ehehe

***

Entah ini yang dinamakan jeda, atau kode keras buat aku berhenti mengharapkannya. Deketin cowok cuek itu susah. Perilakunya susah ditebak. Kadang bikin optimis, kadang bikin pesimis. Kadang keramahan dia keliatan wajar layaknya perhatian ke teman, tapi kadang adaaa aja bikin bapernya.

Seperti yang kubilang, mungkin Lutfi memang belum tertarik ke hubungan sama perempuan yang lebih dari sekadar teman. Tapi kadang dia ngomongin tentang pernikahan. Ingat kan aku pernah berkata bahwa aku pernah dengar Lutfi berencana mau menikah di bulan Oktober? Walau pas ditanya dia sepertinya belum yakin, bahkan masih berkata “Ya elah, ditanggapin serius amat.” Over again, bukan ane yang tanya yaa.. ane cuma dengar. Lalu pernah juga, waktu dia diledek ketika ibu-ibu kantor ngomongin soal masalah perempuan (biasa lah yaa) dia bilang “emang gue entar nggak mau punya istri?!”.

Mungkin Lutfi nyaman bertemen dulu, nggak mau komitmen dulu karena dia masih fokus sama pekerjaan dan keluarganya. Yah seperti yang aku ceritakan di bagian sebelumnya, dia juga tumpuan keluarga sama kayak aku. Aku sendiri? Aku ingin menikah. Impianku nggak jauh-jauh beda sama impian perempuan-perempuan pada umumnya. Dan lagi, aku juga kadang pusing mikirin target bulan Oktober itu. Aduuh, masalahnya, nenekku nanyain masalahku ini ke ‘Orang Tua’, tau lah ya maksud aku, termasuk target bulan Oktober itu. Aku khawatir, kalau aku gagal lagi, bisa-bisa aku dijodohin! Huhuhu… nggak mauuuu…!!! Semoga segera ada jalan keluar dari situasi ini. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan doa-doaku di waktu yang tepat.

Sebenarnya aku dan Lutfi sama aja. Sama-sama sayang keluarga, dan jadi tumpuan. Adik-adik kita juga belum mandiri. Aku juga nggak bisa lepasin keluargaku sebelum adikku yang kedua lulus kuliah (which is Agustus nanti, doakan ya gansis!), dan kerja mapan, dan bisa gantiin posisiku. Adiknya Lutfi pun sama, dia juga akan lulus pertengahan tahun ini. Oh iya, btw adikku sama adiknya Lutfi seumuran gan! Mungkin dia pun sama sepertiku, masih fokus sama keluarganya, makanya dia belum mikir tentang komitmen sama perempuan. Dunno, mungkin sebenarnya dia kepikiran, tapi dia merasa belum waktunya. Makanya dia masih santai kayak di pantai! Apalagi dia sayang banget sama keluarganya, terlebih ibunya.

“I’ve been hiding all my hopes and dreams away, just in case I ever need them again someday. I’ve been setting aside time. To clear a little space in the corners of my mind…” Kayaknya lirik bagian ini kok sesuai ya sama dia hahaha. Ah, dasar aku sok tau!

Tapi bagaimanapun ini berlanjut, aku berharap semoga pada akhirnya, akulah yang ada untuk dia. Semoga pada akhirnya dia akan membuka hatinya buat aku.

“And if I open my heart again, I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end…” just like that.

Lutfi itu sekarang, kalau kita nggak ketemu face to face, rasanya dekat. Hanya dengan ngebayangin dia aja aku udah bahagia. Tapi kalau kita ketemu, di kantor (iya lah! Mau ketemu di mana lagi emang wkwk) karena dia cuek, kita beda ruangan pula, rasanya kayak aku hopeless. Mungkinkah orang seperti Lutfi, yang cuek bebek dan masa bodoan, melihat aku? Mungkinkah orang yang terbiasa ada di lingkungan high class, dengan teman-teman perempuannya yang sophisticated dan cantik-cantik akan bisa suka sama cewek biasa aja kayak aku? Andai dia tahu aku pun bisa jadi seperti itu, aku bisa menyenangkan dia andai dia kasih aku kesempatan. Dia mau perempuan cantik? Aku bisa berubah. Dia mau perempuan bisa masak? Bisa bebenah rumah? Bisa cari duit? Aku bisa. Atau dia mau perempuan yang bisa dibangga-banggakan? Pamerin aja novelku di toko buku emoticon-Big Grin Haduuh kadang aku suka geregetan sendiri gara-gara Lutfi.

***

Sekian gan thread ane. Buat agan dan sista yang udah kasih cendol, juga komentar di thread ane, makasih banyak yaa…
Satu hal yang pasti, jatuh cinta itu pengalaman terindah. Rasa heroin yang tidak terlarang (asal jangan jatuh cinta sama pacar atau suami orang ya!). Apapun situasinya, cinta rasanya bisa meringankan, ngasih semangat, dan light up our mood (koreksi kalo salah yaa). Dan bagiku, jatuh cinta itu rasanya kayak anugerah terindah yang bisa kunikmati. Sepotong surga di antara kemelut hidup yang memusingkan. Dan jika kalian merasakannya, tak peduli akankah kalian bisa memilikinya atau tidak, nikmatilah. Ya, syukur-syukur kalau akhirnya bisa jadi hehehe emoticon-Big Grin

Sampai jumpa di thread ane selanjutnya gan! Atau doakan ane yaa supaya thread ini bisa berlanjut dengan happy ending! hehehe
profile-picture
mr.buky memberi reputasi
1 0
1
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
29-06-2021 16:24
komentar nih ane gan
bacaan untuk nanti malam
0 0
0
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
10-07-2021 12:54

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 7)

Kemarin Ane bilang postingan terakhir di thread “Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor” itu terakhir ya gan? Nggak juga kayaknya hehehe… Ya, itu kan baru “mungkin” ya. Mungkin ya, mungkin tidak. Dan sepertinya tidak karena hari ini ane mau ngepost lagi kelanjutannya hehehe…

Betewe, makasih banyak yaa buat agan-agan yang udah komen dan kasih cendol. Wah, nggak nyangka ane ternyata banyak uga yang mampir baca thread ane ini. Sampai 1,1k! Hmm ini pertama kalinya ane bikin thread yang pembacanya sampai seribu. Thank you so much ya gan!
Oke, lanjut....

***
Cinta itu buta. Begitu yang kebanyakan orang bilang. Tapi menurutku, cinta yang sekarang sedang kurasakan ini lebih seperti membiaskan mata. Menciptakan bias antara kenyataan dan fatamorgana. Aku sendiri bahkan tak tahu apa yang kulihat, kudengar, dan kurasakan dia rasakan kepadaku itu benar atau hanya ilusi semata. Hanya waktu yang akan menjawab.

Ada beberapa keanehan yang kurasakan tentang Lutfi. Ya, seperti yang kubilang tadi, entah ini memang benar adanya atau hanya ilusi semata. Jujur saja aku ini aslinya perempuan yang kurang peka dan minderan, apalagi sama cowok yang aku suka. Aku yakin kebanyakan orang yang jatuh cinta pun merasakan yang sama. Jadi begini ceritanya.

Di masa pandemi ini, kantorku menerapkan pembagian WFO dan WFH. Dan kepala divisiku akan lebih senang kalau karyawannya banyak yang WFH. Tapi di beberapa bagian, ada yang pekerjaannya harus dikerjakan di kantor sehingga kami harus tetap WFO dengan menerapkan protokol kesehatan tentunya. Pembagian jadwal WFO dan WFH aku dan Lutfi sama. Hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Sedangkan Senin dan Jumat, jadwal kami WFH. Namun tiga minggu belakangan, aku tidak bisa menyesuaikan jadwal itu karena padatnya load pekerjaan. Terlebih pekerjaanku kebanyakan mengurusi administrasi. Dan rekan-rekan satu timku, kebanyakan minta tolong kepadaku. Karena menurut mereka kerjaku cepat, tangkas, tidak banyak tanya, cukup membantu (walaupun kadang aku sedikit melenceng dan harus jadi ‘tukang sulap’), dan proaktif. Yang jelas, di mana seharusnya hari Senin jadwalku WFH, aku jadi harus masuk demi menyelesaikan tugas-tugasku.

Sebenarnya bukan hanya kali itu aku harus masuk di jadwal seharusnya aku WFH, sebelumnya sudah pernah beberapa kali. Dan setiap kali aku masuk di hari Senin, aku tak pernah melihat Lutfi. Dia sangat mematuhi jadwal WFH / WFO-nya. Pokoknya aku selalu pesimis lah akan melihat Lutfi di kantor kalau masuk hari Senin. Tapi beberapa kali, aku mendapatinya masuk hari Senin.

Hari Senin pertama aku bertemu dengannya di kantor (aku bahkan sampai kaget melihatnya datang membawa tas) sepertinya itu dadakan karena dia datang agak siang, tidak pagi seperti biasanya. Karena ada pekerjaan mendadak yang harus dia selesaikan. Lalu Senin-Senin lain aku melihatnya ngantor, sepertinya tidak ada pekerjaan yang mendesak yang harus diselesaikan hari itu juga. Bahkan beberapa sebenarnya bisa dikerjakan di rumah. Tapi dia tetap ada di kantor setiap hari Senin. Oke, di situ aku masih denial walau sebenarnya agak GR juga sih hehehe…

Selain kemunculannya di hari Senin, ada satu kejadian lagi yang membuatku cukup GR. Jadi begini, aku dan Lutfi sama-sama mendapat fasilitas laptop. Kalau misal hari itu ngantor, dan esok harinya aku ngantor lagi, biasanya laptop aku tinggal di kantor dan kutitip di mejanya. Selain karena memang sengaja modus, juga karena di meja Lutfi ada lacinya, sementara di mejaku tidak ada laci atau lemari sama sekali (kekurangan yang sungguh menguntungkan hahaha). Tapi kalau hari ini aku ngantor dan keesokannya libur atau WFH, aku akan membawa pulang laptopku karena aku sama sekali tidak memback up file-file yang berhubungan dengan pekerjaan. Jadi intinya, aku tidak bisa bekerja kalau tidak ada laptop. Sampai sini paham yaa…

Nah, di suatu hari Rabu, seperti biasa aku menitipkan laptopku di meja Lutfi. Lalu malamnya, ketika aku di jalan dan sudah hampir sampai rumah, aku mendapat kabar bahwa ada rekan kerja satu lantai yang terpapar covid19, jadi satu lantai dilockdown selama tiga hari. Sebenarnya aku sudah mendengar selentingan itu saat mau pulang. Kami disuruh segera pulang karena kantor mau disemprot desinfektan. Aku mendengar percakapan Lutfi dengan OB kantor.

“Besok dengar-dengar mau ada yang lockdown nih. Tapi nggak tahu lantai kita lockdown apa enggak,” kata OB.

“Wah, kalau lockdown berarti harus ambil laptop nih. Laptop aku tinggal,” kata Mas Lutfi.

Sebelumnya, setiap ada lockdown, aku biasa mampir sebentar ke kantor, minta izin kepada pihak terkait untuk dibukakan pintu sekadar ambil laptop, lalu pulang atau numpang kerja di divisi lain. Dan aku hanya sendiri. Laptop Lutfi, ya bertengger manis saja di mejanya.

Karena aku sempat mendengar Lutfi mau ambil laptop jika kantor jadi lockdown, maka aku mengirim pesan singkat kepadanya. Memberitahunya bahwa aku juga mau ambil laptop. Biar sekalian izinnya (soalnya lumayan ribet). Dia bilang jam delapan sampai kantor. Dan aku hanya bilang oke saja. Agak gimana gitu juga sih, karena biasanya aku termasuk golongan ngaret yang datang di atas jam sembilan. Maklum laah, rumahku jauh, dan aku sudah kebiasaan datang siang ke kantor sejak pandemi karena tak pernah ada teguran untuk karyawan yang datang kesiangan. Juga karena kalau sudah siang, kereta lebih lega.

Tapi gara-gara janjian sama Lutfi jam delapan sampai kantor, aku jadi mendadak rajin dan berangkat pagi. Tapi ternyata sesampainya di kantor, Lutfi tidak sampai-sampai. Aku menunggunya sampai ditanyain security. Sumpah sih, menyebalkan. Untung ganteng kamu Mas Lutfi, kalau orang pada umumnya, nggak siapa-siapa, pasti sudah aku sembur habis-habisan kalau telat janjian emoticon-Big Grin.

Ketika akhirnya Lutfi datang, kami pun mengambil laptop dan pergi dari kantor. Sebenarnya waktu itu aku agak modus juga ke dia. Jadi aku tanya kan, habis ini dia mau kemana? Dia bilang mau langsung pulang. Lalu aku sok kode.

“Hmm.. aku bingung nih. Aku udah terlanjur bilang ke orang rumah kalau aku ngantor. Terus nanti kalau aku pulang cepet jawab apa coba?”

Dia jawab. “Sama, Mba, aku juga nggak bilang ke keluargaku kalau kantor lagi lockdown.”

“Terus kalau nanti ditanyain, Mas Lutfi jawab apa?”

“Ya aku bilang aja baru tahu,” jawabnya dengan santainya.

“Hmm apa aku gitu aja ya? Tapi kalau pulang juga sayang, udah jauh-jauh dari Bogor. Aku numpang aja ke divisi HR kali ya.” Di sini, aku berharap Mas Lutfi mengajukan diri buat ikut. Tapi lagi-lagi dia lempeng aja. Huh, gemes!

“Emang di HR ada siapa aja Mba?” tanya Lutfi.

Aku menyebutkan siapa-siapa saja yang kukenal dan hari ini mungkin sedang kebetulan WFO. Dan si Lutfi cuma ber oh aja. Sama sekali nggak mengajukan diri buat ikut. Dan akhirnya aku menyerah. Ya sudahlah.

Lalu hari itu, karena aku bingung mau ke mana lagi, luntang-lantung di jalan kayak anak ilang, akhirnya aku balik ke stasiun sambil mikir-mikir. Tadinya mau nongkrong di Depok. Tapi kemudian aku kepikiran nongkrong di Bogor aja. Kayaknya banyak kafe-kafe ngehits, terus pulangnya nanti dekat. Akhirnya aku memutuskan nongkrong seharian di sebuah kafe dekat Kebun Raya Bogor. Dan itu beuuuhhh… asik baanget! Tempatnya, suasananya, makanan dan minumannya, pelayanannya, fasilitasnya. Kafenya itu namanya Baked and Brewed, dekat lapangan Sempur. Kalau nanti pas lagi di Bogor, coba mampir deh. Recomended! Hehe…

Oke, selesailah hari itu. Saat Mas Lutfi ngambil laptop barengan pun, aku masih nggak GR. Aku masih menganggapnya wajar. Apalagi setelah itu aku mencoba modus dan ternyata dia nggak peka juga.

***

Segini dulu ya gan lanjutan cerita ane tentang Lutfi. Nanti bakal ane lanjutin lagi. Cerita berikutnya, tentang sebuah event lagi yang nantinya bakal berkaitan juga. Kebayang kan serunya gimana kalau ada event hihihi….
So, ditunggu yaa…
Dan bagi yang belom sempat baca, nenda dulu aja gan! emoticon-Big Grin
0 0
0
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
14-07-2021 16:42

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 8)

Haii agan dan sista!
Seperti yang kubilang di thread kemarin, aku mau lanjut cerita. Dan kali ini, lagi-lagi aku dan Lutfi terlibat event. Ya, walau kita nggak menangani bareng-bareng, tapi ya namanya sama gebetan adaa aja serunya.
Oke, langsung mulai aja yaa…

***

Hari Rabu yang melelahkan. Selama perusahaan merger, belum pernah lembur terasa semelelahkan ini. Project yang sedang dikerjakan timku memang sangat padat. Bahkan aku sampai harus membantu pekerjaan yang sebenarnya bukan bagianku. Beberapa orang menilai aku terlalu loyal pada pekerjaan, terlalu penurut pada rekan-rekan kerjaku. Tapi mau bagaimana lagi? Load pekerjaan kami memang sedang banyak tak terbendung, dan mereka memang butuh bantuan. Dan aku mengerjakannya dengan ikhlas. Bagiku, yang penting, tumpukan dokumen di mejaku segera hilang karena aku sudah selesai mengerjakannya. Lagipula, apa salahnya membantu pekerjaan teman-temanku yang sebenarnya diluar jobdescku? Bagiku, itu bekerja itu bukan sekadar mencari uang, tapi juga mencari ilmu. Dengan membantu pekerjaan mereka, aku jadi sedikit banyak melakukan manuver dan belajar cepat. Mana tahu suatu saat aku bisa naik jabatan hehehe…

Karena load pekerjaan yang tak terhingga, aku jadi harus pulang malam. Kantor sudah sepi, gelap, dan tak ada seorangpun di ruanganku. Aku masih bisa merasa tenang, karena aku tahu ada orang lain di gedung sebelah. Yah, andaikan ruang sebelah kosong, aku pasti akan kabur. Apalagi cerita-cerita horor yang beredar di kantor. Dan salah satunya, Lutfi sendiri yang mengalami. Hiii serem!!! Maka, meski hari semakin gelap, aku berusaha fokus, pandangan mata lurus menatap layar lapotp agar pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa cepat pulang.

Namun pekerjaan yang kuusahakan untuk cepat selesai terpaksa kuhentikan sejenak saat ponselku berdentang memecah kesunyian. Ada pesan whatsapp masuk dari salah satu rekanku, Mas Ghilman.

Mas Ghilman : “Anna, minta tolong koordinasi sama Rara ya untuk nyiapin kamera buat syuting besok.”

Aku melenguh. Aku sedang buru-buru mengejar waktu, malah dimintai tolong. Kenapa pula minta tolongnya baru sekarang? Kenapa tidak dari tadi? Huh, kebiasaan memang Mas Ghilman, apa-apa sukanya dadakan kayak tahu bulat!

Jadi, besok akan ada dua kegiatan yang running. Pertama, event webinar yang akan diadakan di gedung kantor HR. Selain itu, ada produksi video untuk iklan. Kebayang kan gimana hecticnya?

Ponselku kembali berdentang, Mas Ghilman kembali mengirim pesan untukku.

Mas Ghilman : “Kalau Anna sibuk, minta tolong Lutfi aja.”

Aku tersenyum miring. Nah, akhirnya dia mengerti kalau aku sedang sibuk. Sebelum membalas pesannya, aku menyimpan dulu pekerjaan yang tengah kukerjakan. Kebiasaanku saat bekerja agar pekerjaanku tidak hilang kalau terjadi apa-apa pada laptop atau jemariku yang salah pencet. Aku hampir menyetujui usul Mas Ghilman dan meminta Lutfi untuk berkoordinasi terkait persiapan kamera dengan Rara.

Tapi kemudian, sesuatu mencegahku, sesuatu yang dinamakan perasaan posesif. Membayangkan Lutfi berkirim pesan dengan perempuan lain rasanya menyebalkan. Yah, walau sebenarnya perempuan itu bukan sainganku, walau perempuan itu sahabatku, dan nothing romantic between them, tapi tetap saja aku tidak mau. Walau aku masih sibuk, akhirnya kuturuti ego dan perasaan posesif kekanakkanku. Lebih baik aku meluangkan waktu sebentar untuk melakukannya sendiri daripada menyuruh Lutfi. Lagipula ini cuma soal koordinasi pengambilan kamera saja. Tidak akan sampai lima menit. Lakukan dengan to the point tanpa basa basi, dan selesai!

Setelah berkoordinasi dengan Rara, akhirnya kami sepakat soal kamera yang akan digunakan untuk produksi video tersebut. Rara akan menitipkan kamera kepada OB yang kebetulan rumahnya juga di Depok agar dibawa ke kantor esok hari. Dan selesailah tugas! Bah, kalau cuma begini doang, ngapain harus minta tolong Lutfi? Toh aku sendiri bisa menyelesaikannya walau di tengah pekerjaan segambreng!

Namun ternyata persoalan tidak selesai sampai di situ gais! Saat aku baru menjejakkan kaki di teras rumah, aku mendapat kabar kalau lagi-lagi kantor akan lockdown. Dan sialnya, aku meninggalkan laptopku di kantor. Yang artinya, aku harus ke kantor untuk mengambilnya. Seperti sebelumnya, aku mengirim pesan singkat untuk Lutfi, memberitahunya bahwa aku akan mengambil laptop.

Anna : “Mas Lutfi, besok divisi kita lockdown lagi. Mau ambil laptop nggak?”

Sambil menunggu Lutfi membalas pesanku, aku menelepon OB yang dititipi kamera oleh Rara. Karena besok aku ke kantor dan berangkat dari Bogor, maka aku akan berhenti sebentar di Stasiun Pondok Cina. Sementara OB akan mengantar kamera ke Stasiun Pondok Cina untuk diberikan kepadaku, dan aku akan membawa kamera tersebut ke kantor. Mas Ghilman juga memberitahuku bahwa yang akan berangkat syuting iklan besok adalah salah satu kameramen internal dan Lutfi. Yang artinya, mau tak mau aku harus menyerahkan kamera tersebut ke Lutfi.

Tak lama setelah bertelepon dengan OB dan berkoordinasi dengan Mas Ghilman, Lutfi pun membalas pesanku.

Lutfi : “Pengen sih ngambil, tapi nggak tahu nih besok aku kan berangkat syuting juga.”

Lalu aku membalas pesan Lutfi dengan to the point. Agak otoriter sedikit sih, aku sudah capek dan agak malas memikirkan pekerjaan.

Anna : “Besok tetep ke kantor dulu Mas, ambil tripod. Kameranya aku bawa. Janjian aja besok yaa.. Paling aku sampai kantor sekitar jam 9”

Jaga-jaga, malas banget kalau Lutfi mengajak janjian jam 8 lagi.

Lutfi : “Okee mba Anna ikut?”

Aku baru baca balasan dari Lutfi setelah mandi dan hilang sebagian besar penat. Aku tersenyum dan membalasnya iseng-iseng.

Anna : “Ikut, Mas. Ikut doain ajaa wkwk.”

Selesai. Lutfi tidak lagi membalas. Yah, mungkin dia sudah tidur. Atau mungkin dia memang nggak membalas pesanku seperti biasanya? Karena balasanku tidak penting? Yah, tipikal Lutfi, memang biasanya dia seperti itu. Hanya membalas dan mengirim pesan kalau ada sesuatu yang betul-betul penting. Sampai aku sudah kebal dari perasaan baper tiap kali dikacangin Lutfi emoticon-Big Grin

Atau kukira begitu. Sampai aku melihat pesan masuk dari Lutfi keesokan paginya. Yang membuat pagiku cerah seketika. Aku bahkan sampai loncat-loncat saking girangnya. Berlebihan sekali ya. Balasan Lutfi sebenarnya biasa saja, aku euforia karena ini seperti kejutan. Kukira aku bakal dikacangin, tapi ternyata tidak!

Lutfi : “Wkwk beneran ikut ngga? Soalnya aku mau janjian sama Mas Erik di gedung HR buat syutingnya.”

Anna : “Lah, jadinya mas Lutfi ke mana dulu? Aku juga janjian sama Mas Ghilman buat jadi panitia acara webinar. Aku juga mesti ambil laptop dulu kan. Mending ke kantor dulu aja, terus nanti barengan ke gedung HR.”

Lutfi : “Iya, aku ke kantor dulu mba.”

Iyess!!! Satu momen lagi bersama dia. Wah, sungguh awal Juli yang indah! Tapi ada sedikit momen nggak mengenakkannya. Karena aku telat sampai kantor! Telatnya parah lagi, satu jam lebih sedikit dari waktu yang kujanjikan. Mas Lutfi bahkan kelihatan upset. Mukanya kalem sih, tapi kode keras banget kalau dia buru-buru. Aku jadi nggak enak sama dia.

Seolah belum cukup, ada satu lagi yang cukup memperparah keadaan. Tepatnya memperparah perasaan nggak enakku. Aku dan Lutfi ke gedung HR bareng, itu saja kami sudah melangkah diam-diaman, nggak saling bicara kecuali ada hal penting. Kami ke gedung HR naik Transjakarta. Aku jalan memimpin, sementara Lutfi mengekor saja di belakangku.

“Mas, ayo naik!” seruku saat ada bus melintas.

Lutfi hanya mengangguk dan mengikutiku naik. Bus melompong, hanya ada empat orang penumpang saja. Karena efek pandemi dan harus jaga jarak, aku dan Lutfi duduk jauh-jauhan. Beberapa kali aku melirik Lutfi. Tapi dia asyik saja memperhatikan keluar jendela. Seolah sama sekali tidak menganggapku. Aku pun melakukan hal yang sama, berusaha sebisa mungkin tidak menatapnya walau hal itu cukup sulit. Ya, sulit mengabaikan pesonanya gais!!

Ketika melintas Bundaran HI, mataku melotot saat bus melaju lurus dan bukannya belok. Perasaan nggak enakku ke Lutfi gara-gara terlambat, jadi semakin parah. Kami salah naik bus! Dudukku yang semula bersandar rileks jadi menegak dengan mata melotot.

“Mas Lutfi! Kita salah naik bus!” ujarku.

“Salah gimana?” Sebenarnya aku heran saat Mas Lutfi nanya. Dia kan tadi katanya buru-buru, tapi nanyanya santai banget.

“Sebenarnya bisa naik bus ini. Tapi muter. Aduh, apa kita turun aja ya? Terus nyambung naik bus yang benar?” tanyaku panik.

“Udah, nggak apa-apa naik ini aja.”

“Yakin, Mas?” aku memastikan.

Mas Lutfi mengangguk mengiyakan. Ya sudah aku ikut saja. Sumpah ya, sepertinya ungkapan dunia terbalik itu benar. Seharusnya Mas Lutfi yang panik karena dia harus syuting pagi, sedangkan aku ya santai saja, toh acara webinarnya dimulai pukul dua siang. Tapi malah aku yang panik, sedangkan Mas Lutfi santai kayak di pantai. Tapi sisi baiknya, sikap santai dan tenang Lutfi mengurangi perasaan tidak enakku. Aku jadi lebih tenang.

Dan lagi, sepanjang sisa perjalanan yang akhirnya jadi lebih jauh, Lutfi mencuekiku. Seolah aku cuma hantu kuntilanak yang duduk di bangku sebelah kanannya. Nggak menyapa, nggak bertanya, nggak ada basa-basi sama sekali. Ya, aku tahu memang Mas Lutfi orangnya kayak gitu. Tapi lama kelamaan dicuekin, bete juga. Aku bahkan sampai overthinking dan berpikir, apa dia masih kesal padaku gara-gara aku menyebalkan pagi ini?

Karena bete dan jenuh, akhirnya aku menunduk dan memejamkan mata. Tidur ayam. Sebenarnya aku sama sekali tidak mengantuk. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan sepanjang jalan. Dan lagi, aku harus menahan diri agar tidak mencuri-curi pandang terus kan? Jadi ya amannya mending aku tidur ayam saja.

Belum lama mataku terpejam, ponselku berbunyi. Menandakan satu pesan masuk. Tapi aku malas membukanya, jadi tak kuhiraukan. Nanti saja aku buka kalau sudah sampai. Paling dari Mas Ghilman, yang sejak pagi tadi sudah menerorku.

Aku membuka saat bus yang kutumpangi sudah hampir sampai Kuningan. Aku melirik Lutfi di sebelah kiriku. Ternyata dia juga ikut-ikutan tidur! Ya ampun, sumpah aku jadi ingin tertawa. Aku tidur, kenapa dia juga ikutan tidur? Kalau kebablasan gimana coba?! Dan lagipula, dia kan katanya buru-buru, kok bisa-bisanya tidur juga? Sumpah, aku harus menahan diri agar tidak tertawa. Untung pakai masker.

Aku kaget saat bus yang kutumpangi berbelok ke arah Ragunan karena sejujurnya aku juga kurang paham rute bus ini. Aku mencoba mengendalikan kepanikan yang semakin menjadi-jadi dan membangunkan Mas Lutfi.

“Mas Lutfi,” panggilku pelan.

Sekali panggil, Lutfi juga bangun. Hmm tampaknya dia juga tidur ayam. “Nanti di halte berikutnya kita turun ya, Mas. Salah rute ini.”

Lutfi hanya mengangguk dan membuntutiku turun dari bus. Tepat saat kami turun, bus jurusan Kuningan pun berhenti di halte yang sama.

“Ayo mas cepet!” seruku berlari, takut ketinggalan. Apalagi Transjakarta sekarang tidak ada kondekturnya. Kan malas banget kalau harus menunggu lagi.

“Maaf ya, Mas kita jadi salah naik bus. Kukira bus tadi lewat Kuningan juga,” kataku nggak enak saat kami sudah di dalam. Sebenarnya di situ aku heran juga sih. Kok Lutfi nurut-nurut aja ya? Kenapa dia nggak mengingatkan aku saat aku salah naik bus tadi? Apa dia sendiri juga kurang hapal rute Transjakarta? Padahal dia tinggal di Jakarta dan setahuku sering juga menggunakan transportasi umum, sedangkan aku tinggal di Bogor.

“Nggak apa-apa, Mbak,” lagi-lagi Mas Lutfi mengatakannya dengan santai.

Ponselku berdentang lagi. Aku mengambil dan mengeceknya. Rupanya sudah ada beberapa pesan masuk. Aku memicingkan mata, memastikan tidak salah lihat karena aku melihat nama Lutfi juga. Dia mengirimiku pesan dengan hanya memanggil namaku saja.

“Kenapa, Mas?” tanyaku.

Mas Lutfi yang asyik melihat jalanan pun menoleh. “Kenapa apanya?” tanyanya bingung.

“Ini tadi Mas Lutfi WA aku, ada apa?” tanyaku sambil menunjukkan pemberitahuan di ponselku. Tampaknya pesan itu dikirim saat aku tidur ayam tadi.

“Ooh, nggak apa-apa, Mbak. Nggak jadi.”

Aku hanya mengangguk-angguk sambil mengulum senyum di balik masker yang menutupi separuh wajahku. Jujur saja, meski sepele, tapi aku merasa GR juga. Kukira Mas Lutfi benar-benar cuek. Tapi tampaknya dia menyadari saat aku tidur ayam dan mengirimiku pesan.

Kami pun sampai kantor HR dengan selamat. Di depan lift, kami berpapasan dengan dua orang yang janjian dengan aku dan Lutfi, Mas Ghilman dan Mas Erik. Aku melirik Mas Erik. Mas Erik tahu aku suka pada Lutfi, gara-gara ia pernah tak sengaja mendengarku curhat tentang Lutfi (memalukan sekali!), dan dia sering meledekku dan Lutfi. Tapi untungnya pagi ini dia tak meledek kami. Sepertinya Mas Erik pun buru-buru.

Mas Erik dan Lutfi pun berangkat syuting, sedangkan aku bergabung dengan Mas Ghilman mempersiapkan acara webinar hari ini. Kami berpisah. Sejujurnya, aku masih belum puas bertemu Lutfi. Aku ingin bersamanya lebih lama. Tapi apa daya? Kami bertugas di dua tempat berbeda. Dan sepertinya setelah syuting nanti Lutfi akan langsung pulang. Tidak ada alasan yang mengharuskannya lebih lama di kantor. Apalagi kantor sedang lockdown.

***
0 0
0
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
14-07-2021 16:44

Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor (Part 9)

Lanjut ya gan!
Sebenarnya cerita ini tadinya jadi satu sama part 8, tapi karena kebanyakan, jadinya ane pisah aja yaa hehehe

***

Lagi-lagi, begitulah yang kukira. Sampai siang hari, selepas jam istirahat, Mas Erik muncul di aula gedung HR (tempat webinar akan diadakan) dengan Lutfi mengikuti di belakangnya. Wah, sumpah aku kaget sekali melihatnya. Sumpah, aku tak menyangka. Kukira dia akan langsung pulang setelah selesai dengan tugas syutingnya. Senang sekali melihatnya lagi.

“Mbak Anna, aku pinjam kartu akesnya dong. Mau ke masjid, mau sholat,” Mas Lutfi langsung menghampiriku.

Berusaha menghilangkan gugup, aku menjawab. “Oh, kebetulan sih, Mas aku juga mau sholat. Sekalian aja ya.” Kali ini bukan modus. Aku memang mau sholat karena aku tahu setelah itu aku akan sibuk sekali.

Dan mulailah kompor meledug. “Ciyeee samaan! Waah, curiga nih gue sama Lutfi sama Anna. Waah waaah…” Dan teman-teman yang lain ikut-ikutan meledek kami gara-gara Mas Erik!

Karena malu, aku pun ngacir duluan. Sementara Lutfi menyusul di belakangku. Lagi-lagi dia kelihatan tenang dan santai. Well, kuduga mungkin tadi dia cengar-cengir saat diledek. Biasanya kan dia begitu. Enak sekali jadi Lutfi, bisa tenang di segala situasi. Tidak sepertiku yang mudah panik, malu-maluin, dan meledak-ledak.

“Gimana tadi, syutingnya? Lancar?” aku mencoba berbasa-basi, menjernihkan suasana selagi menunggu lift membawa kami turun.

“Alhamdulillah lancar.”

“Terus tadi telat nggak sampai sana?” yang ini aku beneran basa-basi gais. Sebenarnya tadi aku mendengar kasak-kusuk teman-temanku yang ada di aula gedung HR berkata “wah nggak keburu, wah nggak keburu”.

Sangat berbeda dengan jawaban Lutfi. “Enggak sih, Mbak. Tepat waktu.”

Hmm sebenarnya dia jujur, atau memberikan jawaban template? Tapi malas memperpanjang, keburu sampai masjid juga, aku pun hanya mengangguk-angguk. “Syukur deh, alhamdulillah.”

Namun langkah kami terhenti di bibir pintu lift. Masjid kosong gelap gulita, alias tutup! Akhirnya, mau tak mau kami kembali ke aula dan numpang sholat di sana.

Lalu seperti yang kubilang sebelumnya. Sebenarnya tidak ada alasan yang mengharuskan Lutfi untuk tetap di kantor. Bisa saja dia pulang. Tapi dia tetap di kantor, entah apa yang dia lakukan. Sementara aku sibuk menyiapkan tetek bengek event yang semakin dekat dan mengejar deadline kerjaan hari ini sambil sesekali mencuri pandang ke arah Lutfi. Duuh… makin dilihat, makin cakep, makin bikin jatuh cinta! Mungkin kalau tidak ada dia, dengan load pekerjaan sebanyak ini, aku sudah burnout bahkan sebelum sampai setengah hari.

Satu waktu aku sedang meliriknya, Lutfi tampak sibuk mencari sesuatu. Kuperhatikan lagi selagi dia tidak menyadari. Ia mengambil salah satu tas laptop, yang tergeletak di meja. Tapi kemudian tidak jadi. Karena apa ya? Aku lupa hehehe

“Pakai ini aja, Mas,” kataku sambil menyodorkan tas laptopku yang nganggur.

“Nah, oke. Makasih Mbak Anna,” kata Mas Lutfi tersenyum.

Lagi-lagi, aku kembali fokus dengan pekerjaanku, sambil sesekali curi-curi pandang. Awalnya, Lutfi terlihat membongkar tas laptopku. Wah, sumpah malu sekali, kelihatan banget aku perempuan yang berantakan. Hasil-hasil swab antigen beserta struknya, uang receh, karet jepang (persediaan kalau tiba-tiba karet kunciranku putus), dan brosur perumahan yang kudapat dari stasiun. Ternyata, Lutfi menggunakan tasku untuk menyangga ponselnya yang dicharge. Sepertinya gara-gara colokan ponsel Lutfi kendor atau gimana. Dan dia berpesan padaku, agar tidak penyangganya, yang agak ribet, tidak disenggol.

Setelahnya, mulailah acara. Aku suka sekali kalau jadi panitia, apalagi di acara-acara webinar. Selain karena kesibukan yang menyenangkan, aku juga jadi bisa ikut menyimak ilmu yang bermanfaat yang disampaikan narasumber. Seperti webinar yang berlangsung hari itu. Yang membahas tentang keluarga harmonis. Lumayan kan buat nambah-nambah ilmu berumah tangga nanti hehehe…

“Mbak Anna,” Lutfi memanggilku.

“Hm?” aku menoleh.

“Aku pinjem Instagram dong.”

Aku mengernyit, lalu tanpa beban, aku memberikan ponselku kepadanya.

“Aku numpang login bentar ya.”

Lagi-lagi aku mengangguk. Dan saat Lutfi sudah asyik dengan ponselku, barulah aku sadar sesuatu. Kalau dia mau login, berarti dia tahu dong second accountku. Akun asli, dan akun nama penaku. Tapi ya sudahlah, kepalang basah. Lagipula, Lutfi kan cuek, mana mau tahu dia tentang second accountku. Setelahnya, dia asyik dengan ponselku, mungkin menjelajahi Instagramnya.

Hmm… lagi-lagi aku jadi baper. Melihatnya asyik mengutak-atik ponselku. Entahlah ya, berbagi privasi dengannya, walau mungkin Lutfi nggak begitu mau tahu, rasanya menyenangkan. Membuatku merasa lebih dekat. Ah, andaikan ini nyata, bukan cuma pikiran dan khayalanku saja. Pasti akan menyenangkan.

Acara berjalan lancar sampai selesai. Sungguh melegakan. Usai acara, kami pun bersantai-santai. Bercanda dan mengobrol. Lagi-lagi, aku mendapat kesempatan momen mengobrol berdua dengan Lutfi. Aku lupa bagaimana membuka percakapan, intinya, kami berakhir saling menceritakan bagaimana pengalaman kami saat wawancara masuk kerja. Seru sekali. Lutfi menceritakan bagaimana dia dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya pusing, sedangkan aku menceritakan deg-degannya aku saat terlambat satu jam mengikuti wawancara.

Ngomong-ngomong, aku dan Lutfi sama-sama punya kesalahan fatal saat mau masuk kerja dulu. Aku bisa saja diblacklist gara-gara terlambat dan dinilai kurang disiplin. Sedangkan Lutfi, tidak menjawab telepon perusahaan bahkan setelah berkali-kali dihubungi, bisa saja dia terlewat dan perusahaan mencari kandidat lain yang lebih responsif. Tapi yah, rejeki memang tidak kemana emoticon-Big Grin

Lutfi berniat mencari camilan seusai kami mengobrol. Namun sayang, camilannya habis.

“Anna, beli camilan dong. Apa makan malam,” kata Mas Ghilman.

“Yah, saldo aku udah habis, Mas,” kataku. Yah, aku sudah mengorbankan uang cukup banyak untuk operasional. Iya sih, nanti akan diganti, tapi kan aku juga butuh ongkos perjalanan.

“Minta Pak Ridwan aja,” jawab Mas Ghilman enteng.

“Ya udah, Mas aja yang minta. Aku nggak enak,” tolakku.

Mulai lah Mas Ghilman kode-kode Pak Ridwan, agar beliau mau menalangi dulu untuk beli snack atau makan malam. Tapi sepertinya, Pak Ridwan sedang fokus dengan pekerjaannya sehingga agak tidak peka dengan kode yang diberikan Mas Ghilman.

“Yah, nggak peka lagi,” gumam Mas Ghilman kepadaku.

“Hmm… susah emang kalau nggak peka mah,” gumamku asal. Agak kencang juga supaya Lutfi dengar. Nggak maksud banget sih, cuma mau tahu aja reaksinya kalau aku mulai-mulai lempar kode.

“Makanya jangan kode. Mending ngomong langsung,” kata Pak Ridwan.

Lalu dengan polosnya (polos yang ngeselin banget gue geregetan!) Lutfi ikut-ikutan menyahut. “Iya, Mbak, mending ngomong langsung aja.”

Huh, apa kamu bilang, Mas Lutfi?? Ngomong langsung?? Jangan kode?? Maksudnya apa?? Dan coba bayangkan kalau aku ngomong langsung ke kamu aku suka sama kamu, nggak pakai kode-kode cantik, apa yang bakal kamu lakukan? Memblokir nomorku? Mencuekiku? Pindah divisi? Atau bahkan resign sekalian?? Baru mau diajak nonton saja sudah menghindar. Enak banget ngomong begitu. Sumpah bikin gemes!!

Tapi itu cuma dalam hati. Di luar, aku cuma cengar-cengir ironis di balik masker yang menutupi separuh wajahku. Entahlah, sebenarnya, dengan teknik PDKT yang benar, mungkin bisa saja dia luluh. Apalagi hatinya masih kosong, belum mau memikirkan romansa. Tapi tentu saja itu butuh waktu, dan usaha cukup keras. Kalau sudah sukses, baru bisa to the point, nggak pakai kode-kode segala. Setidaknya kalau aku sudah memastikan dia tidak akan kabur kalau tahu aku mencintainya.

Kami sampai pulang malam hari itu. Karena memang acaranya mulai menjelang sore. Menyenangkan sekali hari itu. Aku benar-benar tidak menyangka dia akan ikut dan dikantor sampai selesai. Jujur saja aku agak GR juga. Kenapa pula Mas Lutfi kerajinan, tidak WFH saat tidak ada yang dia lakukan di kantor? Dia bahkan tidak membuka laptop sama sekali? Lepas dari benar atau tidaknya khayalan indahku, tapi aku bersyukur bisa melihatnya seharian, mengobrol dengannya, menikmati suara, senyum, dan tawanya.

***

Setelah ini PPKM deh. Jadi kayaknya bakalan lama lagi ngga posting emoticon-Big Grin
Secara ngga boleh ngantor, ngga ketemu doi. Dan yah, tau sendiri lah yaa gimana doi di sosmed! :')
profile-picture
JabLai cOY memberi reputasi
1 0
1
Jatuh Cinta Sama Teman Sekantor
15-07-2021 07:58
emoticon-Toast
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
back-to-black
Stories from the Heart
langkah-kecil-kecil
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
journey-of-decision
Heart to Heart
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia