Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
69
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60cf7ef93af72e708d1fc462/dusta-chapter-1
“Aku menyayangimu," satu kalimat meluncur tanpa aba-aba. Desah angin menelisik senja yang kian menjingga, menerpa sepasang mata yang sedang beradu tatap. Bangku taman dengan cat berwarna putih, terpaku di bawah pohon yang daunnya kian mengering dan gugur tersapu angin. Dan kami, aku dan Joe, memilih untuk tidak mendudukinya,
Lapor Hansip
21-06-2021 00:46

DUSTA

Past Hot Thread
icon-verified-thread
  DUSTA [Chapter 1]         
        “Aku menyayangimu," satu kalimat meluncur tanpa aba-aba. Desah angin menelisik senja yang kian menjingga, menerpa sepasang mata yang sedang beradu tatap. Bangku taman dengan cat berwarna putih, terpaku di bawah pohon yang daunnya kian mengering dan gugur tersapu angin. Dan kami, aku dan Joe, memilih untuk tidak mendudukinya, berdiri dengan ribuan sumpah serapah yang tertahan di dalam kepala dan perih yang menguliti permukaan hati.
      Aku hanya bisa menatapnya, mendesah tertahan. Lantas, apa yang harus aku lakukan, selain membalas perasaanya? Mulutku yang kaku perlahan terbuka, "Tapi, kau sudah bersama dia, kau ingat?"

"Kau salah paham, Rein, sungguh," napas Joe tertahan sepersekian detik. "Aku dan dia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku serius," ucapnya seolah meyakinkan.

       Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan selain membalas perasaannya? Aku tidak bisa menyangkal bahwa hatiku juga merasakan perasaan yang sama. Ah, benar, apakah sebentuk rasa yang dikatakannya benar adanya? Entahlah.

         “Reina? Kenapa kau diam?” Tatap Joe menyelidik.

        Kegelapan seolah tak sabar menggelitik langit yang hampir kehilangan sinar jingga sang mentari, hari pun merangkak menuju malam. “Sepertinya hari mulai gelap, Joe, kita bertemu lagi besok, ya?”

           “Tapi bukan ini tujuan kita bertemu. Ada yang harus kita tuntaskan. Kau bahkan diam. Ya, diam. Bahkan menatap mataku pun sepertinya kau enggan.” Untaian kalimat keluar dari mulut Joe dengan wajah yang tampak merah padam.

        “Tuntaskan? Apa yang harus kita tuntaskan, Joe?” Aku terdiam sejenak, menahan butiran air mata yang sepertinya tak tahan untuk segera mengalir di pipi. “Kita ... Ah ... Ya, kau ingat?”

           “Apa maksudmu, Rein? Katakan dengan jelas.”

           “Tidak ada yang perlu dituntaskan di antara kita. Apa maksudmu? Tuntaskan?” Seulas tawa berhasil kupaksakan menggurat di wajahku.

     “Kau kenapa, Rein?” Tanya Joe yang kian tampak pasrah dengan keadaan yang disuguhkan.

          “Tuntaskan? Kita ... sudah selesai. Tidak ada yang belum tuntas di antara kita.”

          Joe tertunduk menatap rumput yang hijaunya kian tertelan gelapnya hari yang beranjak malam. Dengan ragu, perlahan Joe menatap wajahku, “Kau sudah tidak mencintaiku. Perasaanmu sudah hilang, benar?”

        Aku tertegun. Mana mungkin perasaanku sudah hilang. Aku bahkan terlanjur menikmati sakit yang dia hempaskan tanpa ampun. “Joe, hari sudah gelap, masih ada hari esok. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini esok siang.” Tanpa meminta persetujuan darinya, aku mebalikkan punggungku dan perlahan pergi, meninggalkan sosok Joe yang tampaknya diam mematung dengan alunan kata yang terpaksa ia bungkam.

         Aku menelusuri jalanan yang mulai menyuguhkan deretan cahaya lampu. Kota ini, kota kecil dengan keindahan yang sederhana, menjadi saksi manis tentang ribuan kata penuh amarah yang kumuntahkan dalam bisik. Aku mendongak ke atas, langit sempurna menggelap. Perasaanku kian berkecamuk tak menentu. Angin malam mulai menyapu setiap jengkal kulitku, dingin. Jarak dari rumahku ke taman kota memang terbilang dekat, dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah dengan air mata yang mendingin menyelimuti pipi.

         Tentang sebuah perasaan yang baru saja diungkapkan Joe, apa benar dia selalu menyayangiku? Dan perempuan itu, di antara mereka tidak terjadi apa-apa? Sebatas teman? Sungguh? Ah, entahlah. Aku ... ya, aku ... hanya bisa menerimanya, lagi dan lagi.


*Bersambung*


Sumber Gambar (Cover)

DUSTA [Chapter 2]
DUSTA [Chapter 3]
DUSTA [Chapter 4]
DUSTA [Chapter 5]
DUSTA [Chapter 6/TAMAT]
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Rohmatullah212 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
DUSTA [Chapter 1]
21-06-2021 07:22
as always




nice storyemoticon-Jempol
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
DUSTA [Chapter 1]
21-06-2021 13:52
Salam kenal,sis. Ijin gabung, sepertinya menarik. emoticon-Toast
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
DUSTA [Chapter 1]
22-06-2021 21:53

DUSTA [Chapter 2]

DUSTA [Chapter 1]
Aku menatap langit-langit kamar dengan lampu yang cahaya putihnya menusuk mata. Seolah tak sempat untuk merasa silau, pikiranku kian gelap dan kalut. Riri, sebuah nama yang bukan tanpa alasan selalu kubenci, bahkan hanya dengan deretan huruf tak bernyawa. Sosoknya yang cantik dengan balutan senyum yang manis dan kulitnya yang laksana salju terjamah sinar mentari. Wajahnya seolah sebuah karya seni yang dilukis sempurna. Matanya bulat dengan tatapan teduh, hidungnya yang mungil nan mancung, bibirnya yang berwarna merah muda, bahkan dia mempunyai gingsul yang memperindah caranya tertawa dan bergurau dengan lelakiku, Joe. Ya, betul, satu-satunya alasan mengapa aku selalu membencinya karena dia jauh lebih cantik dariku. Meski Joe selalu meyakinkanku bahwa parasku mempunyai definisi cantik yang berbeda dengan Riri, tetap saja, aku tahu dia hanya berdusta.

Aku dan Joe sudah dekat semenjak SMA. Dia sudah berkali-kali dekat dengan perempuan lain dan pada akhirnya selalu menjadikanku tempat pulang. Tak peduli sudah berapa perempuan yang telah tersenyum bahkan menangis dibuatnya, ketika dia sudah lelah bermain, dia akan kembali kepadaku. Dan aku, tentu saja, aku selalu menyambut kepulangannya. Namun, berbeda dengan Riri. Menurutku, dia yang paling cantik di antara yang lainnya, termasuk aku. Aku merasa ... Riri mempunyai posisi yang sama denganku. Aku merasa ... ketika Joe bersamanya, dia enggan pulang. Satu kebenaran yang sebenarnya selalu kupungkiri adalah tentang mereka yang saling mencintai di belakangku. Kebenaran lainnya yang tak kalah menyakitkan, Joe tak bisa memilih antara aku dan Riri. Dia ... hanya bisa mengukir dusta.

Aku dan Joe baru memasuki dunia perkuliahan di tahun pertama. Kami memang memutuskan untuk memilih kampus dan jurusan yang sama dan sisanya hanya takdir semesta. Ya, aku dan Joe berada di kelas yang sama. Kelas B Psikologi, yang juga merupakan tempat dimana kisah cinta Joe dan Riri dimulai.
***


Setengah semester sudah aku lewati tanpa Joe. Dari sekian banyak janji yang sudah biasa hanya terucap dan dilupakan, yang satu ini yang menurutku paling menyakitkan. Yaitu, ketika dia berjanji untuk bersikap sedikit lebih dewasa, tentang kesungguhannya kepadaku tanpa ada perempuan lain lagi. Kala janji itu terucap, aku hanya bisa percaya sampai wanita itu datang.

“Rein, aku mau bicara,” Riri menghampiriku ketika semua mata kuliah di hari senin ini sudah tuntas.

Sinar mentari yang menjingga kini mulai menerobos ke sela-sela jendela kelas. “Sudah sore. Lain waktu, ya,” aku menarik napas sejenak, “Emm, maksudku, ketika aku mau.” Aku membalikkan badan dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.

“Ini tentang Joe,” dia masih berusaha menahanku.

Aku kembali menoleh kepadanya, “Urusanku?”

“Tentu saja,” dia menatapku tajam, “Urusanmu.”

Aku menyunggingkan seulas senyum untuk menghargai usahanya bersuara, “Urusanku? Benar, kah? Sepertinya menarik. Baik, bicaralah.”

“Dia selalu membicarakanmu di hadapanku.”

“Lalu?”

“Aku sudah muak, Rein.”

“Jadi, ini yang kau sebut urusanku?”

“Ya, benar.”

“Lucu sekali. Bagaimana bisa disebut urusanku sedangkan aku tak sedikit pun peduli?”

“Dengarkan aku dulu, Rein.” Kulit wajahnya yang cerah kini mulai memerah, “Sungguh, tak kupungkiri, dia sangat mudah membuatku jatuh cinta.”

“Itu memang keahliannya. Luara biasa, bukan?” Aku sedikit menahan tawa yang sebetulnya terbalut luka.

“Aku tahu, dia membuat pengakuan kepadaku bahwa dia sangat sering mempermainkan perempuan. Tapi itu dulu, sungguh. Lalu, dia bersumpah bahwa aku berbeda dari yang lainnya. Dia tak akan tega menjadikan pertemuan denganku diakhiri dengan perpisahan.” Dia berhenti sejenak seakan sedang memungut kata-kata yang terhempas di udara, “Dia juga menyebutkan bahwa kau sama denganku, ya ... berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah ia dekati.”

Napasku tertahan sejenak. Aku sudah menduga bahwa Riri memang berbeda dari yang lainnya. Aku dan dia ... berada di lerung yang sama, relung hati Joe. “Sampai sini, aku masih belum mengerti mana bagian yang menjadi urusanku.”

“Apa kau masih mencintainya?” Tanyanya denga berani.

Aku menatapnya dengan amarah yang terkungkung di kerongkongan, “Sungguh, kali ini bukan urusanmu.”

“Bisakah kau menjauhi Joe?” Pungkasnya terus terang.

Sekali lagi kuamati wajahnya. Terlihat napasnya memburu dengan rona wajah yang merah padam. Gejolak amarah di hatiku semakin membuncah tak tertahan, ada tangis yang dengan susah payah kugenggam. “Maksudmu ... kau ingin menyingkirkanku?”

*BERSAMBUNG*


Sumber Gambar (Cover)
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
mr..dr memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
DUSTA [Chapter 1]
24-06-2021 21:29

DUSTA [Chapter 3]

DUSTA [Chapter 1]
“Maksudmu ... kau ingin menyingkirkanku?”

Dia terdiam untuk beberapa saat. Waktu berjalan dengan lambat, nihil, dia tak bersuara, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya yang kelu.

“Sudah sore, aku pulang dulu,” aku bergegas keluar dari ruangan itu. Tak ada jawaban dari Riri, tak ada kata-kata untuk mencegahku pergi, hening.

Semilir angin menelisik tubuh, langit mulai berselimut jingga dengan sempurna. Aku menghirup napas panjang, kuhempas dengan perlahan, terasa sesak. Bulir air mata mulai kupersilakan untuk terurai begitu saja, tak ada lagi yang mendorongku untuk berpura-pura kuat. Aku seorang perempuan, aku menangis, kuusap sendiri air mataku. Aku seorang perempuan, aku terluka, kututup sendiri lukaku yang menganga. Semua hal tersebut tak mengapa, sungguh.

Kendaraan semakin ramai berlalu-lalang sementara mentari tak kuasa untuk tetap berdiam lebih lama lagi. Langit semakin gelap bersamaan dengan suasana hatiku yang tak kalah menggulita. Sejak satu jam yang lalu aku hanya termangu di halte bus di depan kampus, kakiku terlalu lunglai untuk melanjutkan langkah. Dari kampus, aku hanya perlu naik angkutan kota selama sekitar 15 menit. Namun, sudah sekian banyak angkot melaju di depanku, aku memutuskan untuk mematung lebih lama dan lebih lama lagi.
***


Semester satu sebentar lagi berakhir, tak satu pun kata yang terucap dari mulut Joe untuk sekadar menyapaku. Tak ada segores senyum apalagi tawa yang terlempar darinya untukku. Atau ... mungkin memang aku selalu menghindarinya ketika kami saling berpapasan. Sulit rasanya menghindarinya ketika kami memang satu kelas.

Dari saat pertama kedekatan Riri dan Joe, tak satu hari pun mereka lewatkan tanpa duduk berdampingan di kelas. Aku hanya bisa memerhatikan mereka dan tetap bersikap semuanya tampak baik-baik saja. Tak ada satu orang pun di kelas yang tak mengetahui kedekatan Joe dengan Riri. Sebaliknya, tak satu orang pun yang tahu bahwa Joe pernah dekat denganku. Di balik itu semua, aku memiliki sahabat baik, namanya Melati. Bersama dialah kuhabiskan hari-hariku selama hampir satu semester ini.

Mata kuliah pertama sudah rampung dilalui. Kini tiba saatnya pergantian mata kuliah sekaligus pergantian kelas. Aku pun merapikan barang-barangku dan segera bergegas.

“Reina.”

Aku tersentak. Suara itu ... suara yang sudah kukenal sejak di bangku SMA. Suara itu ... suara yang membuncahkan beribu-ribu janji yang menguap begitu saja sebelum akhirnya dianggap tak pernah terucapkan. Suara Joe, suara yang setelah sekian lama tak pernah melafalkan namaku. Kini, suara itu terdengar lagi. Aku masih terlalu takut untuk menoleh, aku bahkan enggan untuk bernapas untuk beberapa saat, rasa dingin mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhku, aku hanya mematung di kursiku, tak beranjak pun tak bersuara. Akhirnya, aku putuskan untuk berdiri tanpa menoleh sedikit pun, bersiap-siap untuk meninggalkan kelas.

“Rein, kumohon.” Suara itu terdengar lagi dengan nada putus asa.

Baiklah, aku menyerah. “Ada apa?” Tukasku singkat sembari menoleh ke arahnya.

“Kau ada waktu selepas matkul ini selesai? Hari ini hanya ada 2 matkul, benar?” Tanyanya tanpa basa-basi.

Aku sangat terpana dengan kemampuannya berbicara kepadaku setelah sekian lama mengacuhkanku, “Aku selalu mempunyai waktu.”

“Baguslah, kalau begitu ...”

“Tapi tidak untukmu,” potongku dengan senyum yang terpaksa terulas.

“Maksudmu?’

“Aku tak pernah tak mempunya waktu. Tapi untukmu, satu detik pun tak akan kubuang sia-sia.” Aku menarik napas sejenak, “Mata kuliah selanjutnya akan dimulai, aku pergi dulu.”

“Rein ... kutunggu kau di Taman Kota selepas mata kuliah ini.” Ucapnya lantang.

*Bersambung*


Sumber Gambar (Cover)
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
mr..dr memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
DUSTA [Chapter 1]
29-06-2021 22:32

DUSTA [Chapter 4]

DUSTA [Chapter 1]
Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di Taman Kota sekitar pukul 4 sore. Aku sudah berada di tempat lebih dulu. Selama menunggunya, aku hanya termangu di atas bangku taman dengan cat putih. Kilauan air danau di depanku memantulkan bayangan langit yang berselimut senja. Terkadang airnya tenang, terkadang beriak tersentuh semilir angin sore. Pikiranku masih berkecamuk, entah apa yang kupikirkan saat memutuskan untuk menyetujui ajakan Joe untuk bertemu di taman ini.

“Rein.” Joe tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Tidak mengejutkanku hanya saja tiba-tiba terasa ada hentakan di dada ketika mendengar suaranya.

Aku hanya tersenyum membalas sapaannya.

“Sudah lama ya ....”

“Sudah lama?” Tanyaku memotong ucapannya.

“Emm ... ya, sudah lama.”

“Sudah lama apa?” Tanyaku dengan tatapan masih lurus ke permukaan danau yang terhampar di depanku. Sejak pertama dia datang, tak sama sekali kusempatkan untuk menatap sosoknya yang sekarang duduk di sebelahku.

“Emm ... ya ... bertemu,” tuturnya sedikit terbata.

Aku mulai menoleh ke arahnya dengan senyuman yang terpaksa kusunggingkan, “Lucu sekali, ya?”

“Apanya?”

“Kau.”

“Aku?”

“Betul.”

“Maksudmu?” Tanyanya dengan raut wajah yang semakin terlihat menahan muntahan tanya.

Sekali lagi kugoreskan senyum, “Ya ... maksudmu, kita sudah lama tak bertemu?”

“I ... ya. Kenapa?”

“Hampir setiap hari kita bertemu, hanya saja ... kau tak melihat hadirku,” jelasku dengan perasaan yang mulai memburu.

“Rein ...”

“Ah ... Maksudku, kau sengaja memalingkan pandanganmu dariku.”

“Biar kujelaskan, Rein. Aku mohon,” ungkapnya dengan nada putus asa.

Sekali lagi aku menoleh ke arahnya, kupandangi wajahnya yang selama ini tak pernah menghiraukanku. Kuamati kedua bola matanya lamat-lamat, sepasang mata yang selama ini berpaling dariku. Ada gejolak di dalam dada yang tak bisa tercurahkan dengan kata-kata, ada sakit yang tak berjodoh dengan penawar, ada luka yang selama ini terus membasah meski kupersilakan angin menyentuhnya. Akhirnya, tangis mulai mendera meski beribu kekuatan sudah kukerahkan untuk menahannya. “Aku ... tak mau tahu ... maksudku, semuanya sudah bukan urusanku,” jelasku dengan suara yang mulai terisak.

“Kau menangis?”

Tangisanku semakin tersedu-sedu, deruan napasku semakin tak terkendali. Sebenarnya aku sedang mengutuk diri sendiri atas air mata yang mengkhianatiku. Aku tak seharusnya terlihat lemah di hadapannya, atau ... aku tak seharusnya menemuinya? Aku menyerah, tak ada satu patah kata pun meluncur dari mulutku yang kelu. Aku hanya beranjak dari tempat dudukku untuk kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan Joe di taman ini.

Melihatku berdiri, Joe ikut beranjak. “Kau mau kemana?”

“Sepertinya ... tak seharusnya aku menemuimu,” ucapku yang tak bisa menutupi kebohongan. Ya, aku tak pernah menyesal menemuinya di tempat ini. Hanya saja, aku tahu, tujuannya ingin bertemu denganku yaitu ... ya, betul, dia ingin pulang kepadaku, lagi.

“Aku menyayangimu," satu kalimat meluncur tanpa aba-aba. Desah angin menelisik senja yang kian menjingga, menerpa sepasang mata yang sedang beradu tatap. Bangku taman dengan cat berwarna putih, terpaku di bawah pohon yang daunnya kian mengering dan gugur tersapu angin. Dan kami, aku dan Joe, memilih untuk tidak mendudukinya, berdiri dengan ribuan sumpah serapah yang tertahan di dalam kepala dan perih yang menguliti permukaan hati.

Aku hanya bisa menatapnya, mendesah tertahan. Lantas, apa yang harus aku lakukan, selain membalas perasaanya? Mulutku yang kaku perlahan terbuka, "Tapi, kau sudah bersama dia, kau ingat?"

"Kau salah paham, Rein, sungguh," napas Joe tertahan sepersekian detik. "Aku dan dia tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku serius," ucapnya seolah meyakinkan.

Sekali lagi, apa yang harus aku lakukan selain membalas perasaannya? Aku tidak bisa menyangkal bahwa hatiku juga merasakan perasaan yang sama. Ah, benar, apakah sebentuk rasa yang dikatakannya benar adanya? Entahlah.

“Reina? Kenapa kau diam?” Tatap Joe menyelidik.

Kegelapan seolah tak sabar menggelitik langit yang hampir kehilangan sinar jingga sang mentari, hari pun merangkak menuju malam. “Sepertinya hari mulai gelap, Joe, kita bertemu lagi besok, ya?”

“Tapi bukan ini tujuan kita bertemu. Ada yang harus kita tuntaskan. Kau bahkan diam. Ya, diam. Bahkan menatap mataku pun sepertinya kau enggan.” Untaian kalimat keluar dari mulut Joe dengan wajah yang tampak merah padam.

“Tuntaskan? Apa yang harus kita tuntaskan, Joe?” Aku terdiam sejenak, menahan butiran air mata yang sepertinya tak tahan untuk terus mengalir di pipi. “Kita ... Ah ... Ya, kau ingat?”

“Apa maksudmu, Rein? Katakan dengan jelas.”

“Tidak ada yang perlu dituntaskan di antara kita. Apa maksudmu? Tuntaskan?” Seulas tawa berhasil kupaksakan menggurat di wajahku.

“Kau kenapa, Rein?” Tanya Joe yang kian tampak pasrah dengan keadaan yang disuguhkan.

“Tuntaskan? Kita ... sudah selesai. Tidak ada yang belum tuntas di antara kita.”

Joe tertunduk menatap rumput yang hijaunya kian tertelan gelapnya hari yang beranjak malam. Dengan ragu, perlahan Joe menatap wajahku, “Kau sudah tidak mencintaiku. Perasaanmu sudah hilang, benar?”

Aku tertegun. Mana mungkin perasaanku sudah hilang. Aku bahkan terlanjur menikmati sakit yang dia hempaskan tanpa ampun. “Joe, hari sudah gelap, masih ada hari esok. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini esok siang.” Tanpa meminta persetujuan darinya, aku mebalikkan punggungku dan perlahan pergi, meninggalkan sosok Joe yang tampaknya diam mematung dengan alunan kata yang terpaksa ia bungkam.

*BERSAMBUNG*


Sumber Gambar (Cover)
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
mr..dr memberi reputasi
1 0
1
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
DUSTA [Chapter 1]
03-07-2021 20:51

DUSTA [Chapter 5]

DUSTA [Chapter 1]
Sejak pertemuan aku dan Joe di taman kota, hidupku kembali mempunyai arti. Ya, benar, seperti tak ada pilihan lain bagiku kecuali menjadi rumah untuknya pulang. Bagiku, tak ada bahagia yang serupa dengan senyuman Joe yang tergores untukku. Bagiku, cukup menjadi tempatnya pulang ketika dunia luar sangat melelahkan adalah arti dari bahagiaku. Sekali lagi, tak ada alasan yang cukup tepat bagiku untuk tidak menerimanya kembali.

Sejak saat itu, tak ada satu hari pun kami lalui sendiri-sendiri. Juga, hampir setiap hari hidupku diusik oleh perempuan itu, ya, Riri. Hampir selama satu semester, dia tak pernah jemu mengirimi pesan kebencian kepadaku dan diselingi kata-kata yang menjelekkan Joe. Namun, tak ada yang lebih pantas kulakukan selain membalas pesannya dengan kata-kata yang lebih pedih. Ya, begitulah aku. Kami terus seperti itu sampai di titik perempuan itu menemui rasa jera dan menyerah untuk mengganggku. Menurutku, aku tidak bisa dikatakan jahat ketika aku merenggut kembali Joe dari tangannya. Karena, aku yakin, sejauh apapun Joe pergi, dia akan kembali kepadaku, selalu seperti itu.

Sejak saat itu sampai kami menyelesaikan kuliah kami, kami selalu bersama. Senyum demi senyum selalu tersuguh, tawa demi tawa selalu merekah, dan tak lupa dihiasi pertengkaran-pertengkaran kecil yang membuat kami semakin memahmi arti dari kata “kami”, aku dan Joe, berdua.

“Rein, aku mau ikut kakakku,” celetuk Joe di suatu sore di pinggir danau di Taman Kota.

“Kakakmu?”

“Ya, kakaku.”

“Kakakmu yang mana?” Tanyaku dengan tatapan menyelidik.

“Kakakku yang pertama, yang laki-laki,” jelasnya dengan tatapan masih terfokus ke hamparan danau yang ada di depan matanya.

“Kak Randy?”

“Betul.”

“Kau mau ikut kakakmu? ke Jakarta? Mau apa?” Tanyaku tanpa jeda.

“Ya ... aku mau kerja, lah,” masih dengan tatapan ke depan.

Keheningan mulai terasa. Semilir angin sore baru saja terasa kehadirannya. Sejak tadi, aku hanya asyik berbincang-bincang dengan laki-laki di sampingku tanpa peduli keadaan sekitar. Sekarang, ketika tak ada lagi kata yang mampu terucap, kubiarkan alam yang bercerita.

Joe mulai menoleh ke arahku, “Kenapa kau diam?”

“Kita akan berpisah?” Tanyaku tak mampu menyelimuti luka baru yang siap merajam hati.

“Untuk sementara kita harus. Tak ada pilihan, Rein.”

“Tak ada pilihan?”

“Maafkan aku, Rein. Dengan terpaksa, selama aku bekerja di sana, komunikasi kita akan lebih terbatas. Mungkin aku bisa menghubungimu saat malam sebelum tidur,” dia menghela napas sejenak, “Oh, ya ... dan di hari libur, sabtu dan minggu, tentu saja,” ucapnya seolah menemukan kebahagiaan kecil di antara hamparan luka.

Aku menunduk, tak ada kata-kata yang mampu kucurahkan. Lebih tepatnya aku tak sanggup untuk sekadar mengucap barang satu kata dari mulutku yang kian kelu.

Kudengar dia menghembuskan napas dengan kuat. Ada jeda sebelum sebuah kalimat indah diutarakannya, “Kita tak akan terus seperti ini, kan?”

Aku termangu sejenak, kembali menoleh ke arahnya dan menatapnya, “Coba jelaskan.”

“Ya, kita tak akan selamanya seperti ini, maksudku ....” sekali lagi dia terdiam, seolah ingin berhati-hati sebelum mengucapkan kata-kata selanjutnya.

“Lanjutkan,” Perintahku penasaran.

“Ya, kita harus menikah, bukan?”

Ada hentakan kuat yang berlabuh di dadaku. Perasaanku mulai tercampur, antara sedih dan bahagia seolah hanya terpisah oleh tabir tipis. Air mata menetes tanpa perintah. Sekali lagi, tak ada kata-kata yang sanggup terucap dari mulutku.

Dia kembali menatapku dengan tatapan menerawang. Raut wajahnya seolah penuh keberanian untuk meyakinkanku tentang apa yang baru saja dia ucapkan, “Rein, kau bisa genggam kata-kataku kali ini, sungguh. Hanya masalah waktu, kita akan menikah,” jelasnya yakin.

Aku hanya menatapnya, meneliti kedua bola matanya. Tak ada lagi yang pantas kulakukan selain percaya dan percaya. Tak ada lagi.

“Aku janji.” Pungkasnya tegas.

*BERSAMBUNG*



Sumber Gambar (Cover)
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
mr..dr memberi reputasi
1 0
1
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
DUSTA [Chapter 1]
07-07-2021 17:09

DUSTA [Chapter 6/TAMAT]

DUSTA [Chapter 1]
Selama hampir satu tahun kami menjalani hubungan dengan jarak sebagai pemisah di antara aku dan Joe. Tak hanya itu, seperti yang sudah dikatakan Joe, komunikasi kami pun sangat terbatas. Walaupun begitu, di sela-sela kesibukannya, dia selalu menyempatkan untuk sekadar menelepon atau mengirimiku pesan. Sampai saat ini, tak pernah ada masalah serius yang menerpa kami. Kami hampir tak pernah berseteru apalagi sampai mengucapkan kata perpisahan. Karena kami tahu, di antara aku dan Joe, ada tujuan yang harus dicapai, ada janji yang harus ditepati, dan ada rindu yang harus ditemu.

Selepas lulus kuliah, setiap hari terasa sama saja bagiku. Aku hanya mengurung diri di kamar dan hampir tidak ada kegiatan lain yang berarti selain menulis, kegiatan yang paling menyenangkan bagiku. Hari ini adalah hari minggu, hari dimana Joe sedang bebas dari pekerjaannya. Sudah pukul 10, hari mulai menuju siang. Namun, belum juga ada kabar dari Joe, entah pesan atau panggilan telepon. Aku memutuskan untuk membaringkan kembali tubuhku ke atas tempat tidurku. Setelah itu, ponselku mulai berdering tanda panggilan masuk dari Joe. Tanpa menunggu lama, spontan kuraih ponselku dengan senyum mengembang.

“Rein, apa kabar?” Ucap Joe di seberang sana.

“Joe! Aku sudah menunggumu sejak tadi,” ucapku antusias.

Kudengar dia menghela napas, mungkin dia sedang tersenyum manis, “Apa kabar, Rein?” Tanyanya sekali lagi.

“Aku baik, Joe. Bagaimana denganmu?”

“Baik,” jawabnya tenang.

Hening ... tak tahu harus membahas apa lagi. Ketika sedang tidak berkomunikasi dengannya, rasanya banyak sekali hal-hal yang ingin ditanyakan. Namun, ketika sudah ada kesempatan berbicara, rasanya sirna sudah, hening.

“Rein,” Panggilnya dengan nada bicara yang semakin tenang. Atau ... sedih?

“emm ... ya?”

“Kau sudah mandi?” Tanyanya seolah hal tersebut penting untuk dijadikan topik pembicaraan.

“Ya, sudah, tadi pagi. Kenapa?”

“Tidak,” jawabnya singkat.

Keadaan kembali senyap untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berinisiatif memulai pembicaraan yang lebih serius, “Rein, kau tidak ada kegiatan?”

“Tidak, ada apa?”

“Ada hal yang harus aku bicarakan,” ujarnya dengan nada bicara yang sulit kutebak.

“Ada apa? Katakan,” ungkapku penuh tanya.

“Emm ... besok ...” ucapnya terbata.

“Kau kenapa, Joe? Kau boleh menceritakan semuanya,” aku menghela napas sejenak, “Kau pun tahu bahwa aku selalu mendengarkanmu apapun yang terjadi. Bicaralah,” ujarku menenangkan.

Untuk beberapa saat tak terdengar jawaban dari Joe. “Besok ... aku mau pulang," satu kalimat mengejutkan akhirnya meluncur dari mulutnya.

Aku tersentak. Senyumku tak bisa tertahan untuk merekah. Sebuah kalimat yang selalu ingin kudengar selama setahun terakhir ini. Mungkin Joe tak pernah memahami betapa sesaknya jiwaku menampung rindu. Mungkin, rinduku akan sirna hanya dibayar dengan segores senyuman darinya. “Sungguh?!” Tanyaku seolah tak mampu menyembunyikan perasaaan bahagia.

“Ya, aku akan pulang,” jawabnya dengan nada bicara seolah tak senang.

“Kau kenapa, Joe? Bukan kah seharusnya kau senang? Kita akan segera bertemu, bukan?”

“Ah ... betul, maafkan aku, Rein, aku hanya lelah. Besok ... ya, besok kita akan segera bertemu. Aku sangat merindukanmu, Rein. Sungguh.” Nada bicaranya kembali seperti semula.Terdengar sekilas tawa di sela kata-kata yang diucapkan Joe.

Aku tersenyum lega, kukira sesuatu yang buruk sedang menimpa Joe. “Aku sangat bahagia, Joe.”

“Aku pun. Sampai bertemu besok, ya. Aku akan segera ke rumahmu begitu aku sampai.”
***


Sudah pukul 4 sore, sinar mentari yang cerah kini berubah sendu, menjingga. Angin sore mulai berhembus, menelisik relung hati dengan rasa yang membuncah. Aku hanya duduk termangu di depan rumah, tak sabar menunggu kedatangan Joe. Dia berjanji akan segera datang ke rumahku setelah dia sampai di rumahnya dan beristirahat sejenak.

Tak henti-hentinya senyumku mengembang. Telapak tanganku dibanjiri keringat dingin, jantungku mulai berdegup tak terkendali, sedangkan kakiku tak henti-hentinya dihentakkan ke lantai tak teratur. Bagaimana mungkin aku bisa bersikap tenang saat mengetahui aku akan segera bertemu dengan Joe, laki-laki pujaanku yang tak pernah kujamah selama satu tahun terakhir.

“Rein,” sapa Joe sembari berjalan menghampiriku.

Aku tersenyum, tak bisa menyembunyikan raut bahagia dari wajahku. Kini, rinduku sudah terbalaskan. Lengkungan senyumnya yang selama ini hilang, kini ada di depan mataku. Wangi tubuhnya bahkan masih sama seperti saat terakhir kami bertemu. Aku, sungguh merindukannya. Tak terasa, air mata mengalir tanpa arahan. Aku bahkan tak memahami perbedaan makna sedih dan bahagia untuk saat ini. Aku hanya menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas.

“Rein, kenapa kau menangis?” Tanya Joe dengan raut wajah penuh simpati.

Aku menarik napas sejenak, aku terlalu terisak untuk sekadar menjawab pertanyaannya. Kuraih tangannya, “Aku ... sungguh merindukanmu, Joe.”

Tatapannya menerawang, tak terlihat bahagia atau pun sedih, “Ada yang harus aku bicarakan kepadamu,” ungkapnya sembari mengehembuskan napas secara perlahan.

Aku melihat tangan kirinya menggenggam sesuatu, seolah disembunyikan dari pandanganku, “Itu apa, Joe?” Tanyaku seolah sesuatu itu lebih penting dari yang akan dibahas olehnya.

Diatampak kebingungan, “Ya? Apa?”

“Yang ada di tanganmu?”

Ada rasa gugup yang tergores di raut wajahnya, “Oh ... ya, ini ...” Dia menarik napas lalu mengehmbuskannya dengan berat, “Ini ... yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Aku tertegun, berusaha menebak apa yang sedang digenggam Joe, secarik kertas berwarna biru muda, “Apa itu, Joe?” Tanyaku penasaran.

“Rein, ini kartu undangan pernikahanku,” ucapnya sembari memberikan amplop undangan berwarna biru yang sedari tadi digenggamnya. Di sana tertulis dua nama yang saling bertautan, tulisan indah berwarna gold yang terhampar di permukaan kertas berwarna biru yang menawan, “Joe dan Riri.”

TAMAT


Sumber Gambar (Cover)
Diubah oleh nanitriani
profile-picture
mr..dr memberi reputasi
1 0
1
Lihat 19 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 19 balasan
DUSTA [Chapter 1]
07-07-2021 21:17
ahh,...Reina,
kasihan sekali dirimu
baiklah, aku akan senandungkan sebuah lagu untuk menemanimu


Sunyi sepi sendiri
Sejak kau tinggal pergi
Tiada kabar berita
Hidupku merana

Berdebar hatiku
Terima sepucuk suratmu
Ku membacanya
Dan kecewa

Hampa kini harapan
Kekasih tak kembali
Yang kuterima undangan
Esok akan mengikat janji

Sahabat karibku
T'lah menawan hatimu
Ku doa selamat dan bahagia




song title ; Surat Undangan
artist ; Yuni Shara



salam dariku, sang angin lalu
0 0
0
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
DUSTA [Chapter 1]
14-07-2021 18:42
Salam kenal suhu, newbie haha
profile-picture
nanitriani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
DUSTA [Chapter 1]
28-07-2021 15:26
Mantap sekali, salam dan terimakasih
0 0
0
DUSTA [Chapter 1]
21-08-2021 13:53
ijing gabung menarik nih
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
misteri-gunung-kemukus
Stories from the Heart
sakti-wirajati
Stories from the Heart
elang-mataram
Stories from the Heart
si-anak-yang-kebingungan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia