News
Batal
KATEGORI
link has been copied
109
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60cf4c5160ccf46b306b3722/abdurrahman-baswedan-jurnalis-mubaligh-dan-pahlawan-nasional
H. Abdurrahman Baswedan (Jawi: ????????? ????????) atau populer dengan nama A.R. Baswedan (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 September 1908 – meninggal di Jakarta, 16 Maret 1986 pada umur 77 tahun) adalah seorang pahlawan nasional. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, muballigh, dan juga sastrawan Indonesia. A.R. Baswedan pern
Lapor Hansip
20-06-2021 21:10

Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional

Past Hot Thread
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
H. Abdurrahman Baswedan (Jawi: عبدالرحمن باسويدان) atau populer dengan nama A.R. Baswedan (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 September 1908 – meninggal di Jakarta, 16 Maret 1986 pada umur 77 tahun) adalah seorang pahlawan nasional. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, muballigh, dan juga sastrawan Indonesia. A.R. Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante. A.R. Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir.

Selain berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, A.R. Baswedan juga menguasai bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda dengan fasih.


Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
A.R. Baswedan adalah seorang pemberontak pada zamannya. Harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan tentang orang-orang Arab, 1 Agustus 1934. A.R. Baswedan memang peranakan Arab, walau lidahnya pekat bahasa Jawa Surabaya, bila berbicara. Dalam artikel itu terpampang foto Baswedan mengenakan surjan dan blangkon. Ia menyerukan kepada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir, di situlah tanah airku. Pada titik inilah dia menjalani perubahan haluan yang sangat besar bagi pribadi, dan pada akhirnya menggerakkan perjalanan Indonesia.

Pada masa-masa revolusi, A.R. Baswedan berperan penting menyiapkan gerakan pemuda peranakan Arab untuk berperang melawan Belanda. Mereka yang terpilih akan dilatih dengan semi militer di barak-barak. Mereka dipersiapkan secara fisik untuk bertempur.

A.R. Baswedan sendiri pernah ditahan pada masa pendudukan Jepang (1942). Saat Indonesia merdeka, ia mengorbankan keselamatan dirinya saat membawa dokumen pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir pada 1948. Dia mendapatkan gangguan dan hambatan tak sedikit dalam menjaga dokumen ini. Padahal, semua bandara di kota-kota besar, termasuk Jakarta, sudah dikuasai tentara Belanda dan Sekutu dan tidak ada yang bisa lewat dari penjagaan mereka. Tapi, berkat kelihaian dan kenekatannya, dengan menaruhnya di kaos kaki, dokumen penting dari Mesir itu bisa selamat dan Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka secara penuh, secara de jure dan de facto.


Jurnalis
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
A.R. Baswedan adalah seorang otodidak. Dia mempelajari banyak hal secara mandiri, terutama kemampuan menulisnya. Tapi, dia mendapatkan dunia jurnalisme terbuka lebar setelah bertemu wartawan pertama dari keturunan Arab di Hindia Belanda, Salim Maskati, yang di kemudian hari membantu A.R. Baswedan dengan menjadi Sekretaris Jenderal PAI. Karena itu, profesi utama dan pertama A.R. Baswedan adalah jurnalis. Dia memang sempat menjalani kegiatan perniagaan dengan meneruskan usaha toko orang tuanya di Surabaya. Tapi, dia tak kerasan. Dia tertarik pada dunia jurnalisme. Soebagio I.N., dalam buku Jagat Wartawan memilih A.R. Baswedan sebagai salah seorang dari 111 perintis pers nasional yang tangguh dan berdedikasi.

Saat bekerja di Sin Tit Po, ia mendapat 75 gulden—waktu itu beras sekuintal hanya 5 gulden. Ia kemudian keluar dan memilih bergabung dengan Soeara Oemoem, milik dr. Soetomo dengan gaji 10-15 gulden sebulan. Setelah itu dia bekerja di Matahari. Tapi, setelah mendapatkan amanah untuk menjalankan roda organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI), ia meninggalkan Matahari, padahal ia mendapat gaji 120 gulden di sana, setara dengan 24 kuintal beras waktu itu.

"Demi perjuangan," katanya.

Sebagai wartawan pejuang, A.R. Baswedan produktif menulis. Saat era revolusi, tulisan-tulisan A.R. kerap tampil di media-media propaganda kebangsaan Indonesia dengan nada positif dan optimis, sebagaimana terekam dalam buku The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945 karya Harry J. Benda.

Suratmin dan Didi Kwartanada merangkum perjalanan AR dalam dunia jurnalistik sebagai berikut:

1. Redaktur Harian Sin Tit Po di Surabaya (1932).
2. Redaktur Harian Soeara Oemoem di Surabaya yang dipimpin dr. Soetomo (1933).
3. Redaktur Harian Matahari, Semarang (1934).
4. Penerbit dan Pemimpin Majalah Sadar.
5. Pemimpin Redaksi Majalah internal PAI, Aliran Baroe (1935-1939).
6. Penerbit dan Pemimpin Majalah Nusaputra di Yogyakarta (1950-an).
7. Pemimpin Redaksi Majalah Hikmah.
8. Pembantu Harian Mercusuar, Yogyakarta (1973).
9. Penasihat Redaksi Harian Masa Kini, Yogyakarta (70-an).

Karier politik
Jalan politik A.R. Baswedan dimulai saat menjadi ketua PAI. PAI memperjuangkan penyatuan penuh keturunan Arab dengan masyarakat Indonesia dan terlibat aktif dalam perjuangan bangsa.[9] PAI mendapatkan banyak kritikan dan cercaan dari sana-sini atas cita-citanya.

A.R. Baswedan mengonsolidasikan kekuatan internal sekaligus membangun komunikasi dengan pihak luar, yaitu gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia lainnya, seperti Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, dan Moehammad Husni Thamrin. Pada 21 Mei 1939, PAI turut bergabung dalam Gerakan Politik Indonesia (GAPI) yang dipimpin Moehammad Husni Thamrin. Dalam GAPI ini partai-partai politik bersepakat untuk menyatukan diri dalam wadah negara kelak bernama Indonesia. Berkat masuk dalam GAPI ini, posisi PAI sebagai gerakan politik dan kebangsaan semakin kuat. Selain masuk dalam GAPI, A.R. Baswedan juga membawa PAI ke dalam lingkaran gerakan politik kebangsaan yang lebih luas dengan masuk ke dalam Majelis Islam ala Indonesia (MIAI) pada 1937.

Pada masa pendudukan Jepang, A.R. Baswedan diangkat sebagai anggota Chuo Sangi In, semacam Dewan Penasihat Pusat yang dibentuk Penguasa Jepang. Organisasi ini diketuai langsung oleh Ir. Soekarno.

Menjelang Indonesia merdeka, A.R. Baswedan ikut menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), di sinilah A.R. bersama para pendiri bangsa lainnya terlibat aktif menyusun UUD 1945. Setelah Indonesia merdeka, A.R. Baswedan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Perjuangan A.R. Baswedan berlanjut di republik baru. Bersama dengan Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri), Rasyidi (Sekjen Kementrian Agama), Muhammad Natsir dan St. Pamuncak, A.R. Baswedan (Menteri Muda Penerangan) menjadi delegasi diplomatik pertama yang dibentuk oleh negara baru merdeka ini. Mereka melobi para pemimpin negara-negara Arab. Perjuangan ini berhasil meraih pengakuan pertama atas eksistensi Republik Indonesia secara de facto dan de jure oleh Mesir. Lobi panjang melalui Liga Arab dan di Mesir itu menjadi tonggak pertama keberhasilan diplomasi yang diikuti oleh pengakuan negara-negara lain terhadap Indonesia, sebuah republik baru di Asia Tenggara.

Pada 1950-an, A.R. Baswedan bergabung dalam Partai Masyumi. A.R. Baswedan menjadi pejabat teras partai Islam terbesar dalam sejarah Indonesia itu. Deliar Noer menyimpulkan bahwa A.R. Baswedan termasuk dalam kelompok pendukung Moh. Natsir dalam Masyumi.


Muballigh
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Saat bersekolah di Hadramaut School di Surabaya, A.R. Baswedan berkenalan dengan KH. Mas Mansoer, imam dan khatib Masjid Ampel, Surabaya. KH. Mas Mansoer pernah menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya. Dari perkenalan itu A.R. Baswedan sering diminta KH Mas Mansoer untuk ikut berdakwah ke berbagai daerah.

Berkat kegiatan ini, komitmen keislaman mengental dan kemampuan pidato A.R. Baswedan terasah dengan baik; pada gilirannya kemampuannya ini sangat membantunya saat ia berkeliling ke berbagai daerah dan menyampaikan kampanye tentang PAI.

Selain berpidato, A.R. Baswedan juga berdakwah melalui tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai majalah dan koran Islam. Ia mengasuh kolom Mercusuana pada harian milik Muhammadiyah, Mercusuar (di kemudian hari berubah namanya menjadi Masa kini). Pada akhir 40-an sampai akhir 50-an A.R. Baswedan menjadi pemimpin redaksi Majalah Hikmah, sebuah mingguan Islam popular. Dalam dewan redaksi, selain A.R. Baswedan, juga terdapat Moh. Natsir dan Buya Hamka. Para penulis majalah ini adalah tokoh-tokoh Islam terkemuka, seperti Sjafruddin Prawiranegara.

Dalam bidang dakwah, A.R. Baswedan juga menjadi ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Cabang Yogyakarta. Bahkan, dia menjadi pelindung dan rumahnya di Tamah Yuwono menjadi tempat berteduh bagi mahasiswa atau seniman Islam yang tergabung dalam Teater Muslim.


Peranakan Arab dan Totoknya
Foto A.R. Baswedan di majalah Matahari yang mengenakan surjan dan blangkon itu menjadi kontroversi di kalangan Arab di Hindia Belanda, terlebih karena ada tulisan A.R. Baswedan yang berjudul "Peranakan Arab dan Totoknya". Dalam tulisan itu, A.R. Baswedan mengajak keturunan Arab yang berada di Hindia Belanda saat itu untuk bersatu, membaur dengan masyarakat lainnya. Yang dimaksud dengan peranakan Arab (muwalad) adalah warga Arab yang lahir di negeri ini (saat itu bernama Hindia Belanda), sementara totok (wulaiti) adalah mereka yang lahir di kampung halamannya, di Hadramaut, Yaman. Dalam tulisan itu, A.R. Baswedan mengajak kepada peranakan Arab dan juga yang totok untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Tulisan A.R. Baswedan berjudul "Peranakan Arab dan Totoknya" ini sangat kuat dan menjadi salah satu penentu perjalanan bangsa ini. Karena itu, Majalah Tempo Edisi Khusus 100 Tahun Kebangkitan Nasional 1908-2008, "Indonesia yang Kuimpikan, 100 Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri" memasukkan tulisan A.R. Baswedan tersebut sebagai salah satu catatan yang turut membentuk Indonesia.


Sumpah Pemuda Keturunan Arab
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Berkat foto dan tulisan ini, A.R. Baswedan lalu mengumpulkan dan menyatukan para pemuda Arab untuk berkomitmen menyatakan Indonesia sebagai tanah air. Terinspirasi oleh Sumpah Pemuda yang digalang oleh Muh. Yamin, Soegondo, dan kawan-kawannya pada 28 Oktober 1928 di Jakarta, para pemuda keturunan Arab pun mengucapkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang setelah mendirikan Persatoean Arab Indonesia (PAI), di kemudian hari menjadi Partai Arab Indonesia (PAI). Berikut bunyi Sumpah Pemuda Keturunan Arab:

1. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia (sebelum itu mereka berkeyakinan tanah airnya adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke sana).
2. Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri).
3. Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah-air dan bangsa Indonesia.


Karya
Tulisan-tulisan A.R. Baswedan tersebar di banyak media. Tapi sayang, tak semua tulisannya sempat terkumpulkan dan diterbitkan secara kronologis. Berikut ini sebagian karya A.R. Baswedan yang sempat dikumpulkan dan dicetak:

1. Debat Sekeliling PAI (tahun 1939)
2. Beberapa Catatan tentang Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab (1974)
3. Buah Pikiran dan Cita-cita AR Baswedan (diterbitkan Sekjen PAI, Salim Maskati).
4. Menuju Masyarakat Baru, sebuah cerita Toneel dalam 5 Bagian.
5. Rumah Tangga Rasulullah diterbitkan Bulan Bintang pada 1940 (Shalahuddin Press menerbitkan ulang buku ini pada 1980-an; pada 2018 ini Qafmedia menerbitkan kembali buku ini atas permintaan pembaca yang kangen dengan buku ini dan kebutuhan khalayak saat ini atas bacaan berkualitas tentang Nabi Muhammad saw.).
6. AR Baswedan: Revolusi Batin Sang Perintis [2016] (buku ini dikumpulkan dan disunting Nabiel A. Karim Hayaze dan berisi tulisan terpilih A.R. Baswedan dan tentang A.R. Baswedan dari peneliti).

Wafat
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Beberapa tokoh penting hadir saat pemakaman A.R. Baswedan: (Kiri ke kanan) Abdul Gafur (berpayung, Menteri Pemuda dan Olahraga), KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Ketua Umum PBNU), H. Harmoko (Menteri Penerangan), Saleh Afif (Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan Indonesia).

A.R. Baswedan menyelesaikan naskah autobiografinya di Jakarta pada akhir bulan Februari 1986. Sekitar 2 minggu kemudian, kondisi kesehatan A.R. Baswedan menurun dan meninggal. A.R. Baswedan dimakamkan di TPU Tanah Kusir berdampingan dengan para pejuang Indonesia yang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Pemakamannya diiringi ribuan orang. Para pejabat tinggi, masyarakat, dan juga koleganya turut memenuhi jalan dan mengantarkannya hingga ke peristirahatan terakhirnya. Menteri Penerangan H. Harmoko saat mengiringi jenazah ke Tanah Kusir mengatakan bahwa A.R. ini lebih Indonesia dari orang Indonesia sendiri.

Kementerian Penerangan sehari kemudian mengadakan upacara dan apel besar untuk menghormati dan mengingat jasa-jasa A.R. Baswedan.

Obituari dan reportase tentang wafatnya A.R. Baswedan menghiasi media lokal dan nasional selama beberapa hari. Yayasan Idayu mengumpulkan obituari mengenai A.R. Baswedan ini dan menerbitkannya menjadi buku memori.


Peninggalan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Peninggalan A.R. Baswedan adalah koleksi buku-bukunya yang berjumlah lebih dari 5.000 buku. Wasiat A.R. Baswedan adalah buku-buku itu dijadikan perpustakaan. Buku-buku berbahasa Arab, Belanda, Inggris, dan Indonesia itu ditata rapi (dengan katalog modern) di kamar depan—yang dahulu menjadi ruang kerjanya—di rumahnya di Kota Yogyakarta dan masyarakat luas (terutama kaum mahasiswa) bisa dengan mudah mengakses koleksi buku-buku peninggalan A.R. Baswedan ini.

A.R. Baswedan banyak berinteraksi dengan anak-anak muda. Beberapa anak muda yang dekat dengan A.R. Baswedan di antaranya adalah Alm. Ahmad Wahib, Anhar Gonggong, Emha Ainun Nadjib, Lukman Hakim (PPP), Syu'bah Asa, Taufiq Effendi (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara 2004-2009), W.S. Rendra dan hampir semua aktivis muda di Yogyakarta pada periode 1960-an sampai 1980-an.


Kehidupan Pribadi
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
A.R. Baswedan menikah dengan Sjaichun. Pada tahun 1948 Sjaichun meninggal dunia di Kota Surakarta karena serangan malaria. Tahun 1950 A.R. Baswedan menikah lagi dengan Barkah Ganis, seorang tokoh pergerakan perempuan, di rumah KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Muhammad Natsir bertindak sebagai wali dan menikahkan mereka. Dia dikarunia 11 anak dan 45 cucu.

Baswedan sangat sederhana dan tidak pernah memikirkan harta material. Sampai akhir hayatnya A.R. Baswedan tidak memiliki rumah. Dia dan keluarga menempati rumah pinjaman di dalam kompleks Taman Yuwono di Yogyakarta, sebuah kompleks perumahan yang dipinjamkan oleh Haji Bilal Atmojoewana untuk para pejuang revolusi saat Ibu kota di RI berada di Yogyakarta. Mobil yang dimilikinya adalah hadiah ulang tahun ke 72 dari sahabatnya Adam Malik, saat menjabat Wakil Presiden.

Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional

Cucunya, Anies Baswedan adalah Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia pada Kabinet Kerja di era Presiden Joko Widodo pada tahun 2014 hingga 2016. Pada 15 Oktober 2017 Anies dilantik menjadi Gubernur Daerah Khusus Ibu kota Jakarta untuk periode 2017-2022. Cucu A.R. Baswedan lainnya adalah penyidik antirasuah yang tangguh, Novel Baswedan.

Penghargaan dan Tanda Jasa
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Piagam Penghargaan Gelar Pahlawan Nasional untuk A.R. Baswedan yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 6 November 2018.


Berkat sumbangsihnya dalam perjuangan bangsa, negara memberi A.R. Baswedan penghargaan. Tak hanya Republik Indonesia yang turut A.R. Baswedan bangun, dua negara Islam lain pun turut memberinya penghargaan atas kontribusinya dalam membangun hubungan antarnegara dan juga sikapnya yang mendorong penuh kemerdekaan, yaitu dari Mesir dan Aljazair.[3]

1.Negara pada 1970 mengakui A.R. Baswedan sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan.
Pada 9 November 1992, negara mengakui dan menghargai kontribusi besar A.R. Baswedan yang turut menyusun UUD 1945 dalam BPUPKI. Karena itu, negara menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama kepada A.R. Baswedan dan 44 anggota BPUPKI lainnya.

2. Pada Juli 1995 Duta Mesir untuk Indonesia, Sayed K El Masry memberikan penghargaan kepada A.R. Baswedan berupa piagam dari bahan papirus, yang berisikan naskah Perjanjian Persahabatan RI-Kerajaan Mesir pada 10 Juni 1947 dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.

3. Pada 23 Desember 1995, Aljazair memberikan medali kepada A.R. Baswedan atas pertemanannya dengan para tokoh Aljazair dan memberikan bantuan moril atas peristiwa Revolusi Aljazair 1 November 1954.

4. Pada 2013, Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono juga menganugerahi A.R. Baswedan Bintang Mahaputra Adipradana pada 10 Agustus 2013.

5. Pada 8 November 2018, negara memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada A.R. Baswedan atas jasa-jasanya dalam kemerdekaan Indonesia.


Pahlawan Nasional
Pada 2011-2013,[23] Drs. Eddie Lembong melalui Yayasan Nation Building (Nabil) menginisiasi gelar pahlawan kepada A.R. Baswedan. Ada 6 pertimbangan Yayasan Nabil mengusulkan A.R. Baswedan sebagai pahlawan nasional:

1. Sebagai salah seorang pembentuk bangsa (nation builder).
2. Sebagai salah satu Bapak Bangsa (Founding Father).
3. Ikut berjasa dalam Pengakuan Diplomatik Pertama bagi RI.
4. Salah seorang perintis Pers Nasional Indonesia.
5. Tokoh Multikultural yang memperjuangkan kesetaraan jender
6. Seniman dan agamawan.

Dalam rangka proses ini Yayasan Nabil mengadakan diskusi di sejumlah universitas dan tempat dan di beberapa daerah. Yayasan Nabil juga menerbitkan buku biografi A.R. Baswedan karya Suratmin dan Didi Kwartanada. Meski demikian, secara formal yang mengajukan dan mengusulkan anugerah Pahlawan Nasional untuk A.R. Baswedan adalah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui perkenan Sultan Hamengku Buwana X dan Wali kota Yogyakarta Herry Zudianto.

Selain Yayasan Nabil, ada juga upaya yang dilakukan AM Fatwa dalam proses penganugerahan ini sejak 2015.


100 Tahun A.R. Baswedan
Di awal September 2008, media massa di Indonesia menuliskan kisah perjuangan AR Baswedan sebagai peringatan 100 tahun kelahirannya.

1. (Indonesia) Majalah Tempo edisi 23 Desember 2008 menurunkan rubrik "Intermezo". Menampilkan 5 tulisan tentang AR Baswedan, Tempo menelusuri kiprah dan arti perjuangan AR bagi kaum Arab di Indonesia dan juga peran penting AR dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

2. (Indonesia) Majalah Madina No. 09/Th. I September 2008 juga menurunkan tulisan khusus untuk menyambut 100 tahun A.R. Baswedan.

3. (Indonesia) Harian JAWA POS (INDO POS): Seabad A.R. Baswedan, Pahlawan dan Perintis Pers Asal Kampung Ampel (1 dari 2): Gugah Semangat Warga Arab lewat Koran Tionghoa Diarsipkan 2016-03-04 di Wayback Machine.

4. (Indonesia) Harian JAWA POS (INDO POS): Seabad A.R. Baswedan, Pahlawan dan Perintis Pers Asal Ampel, Surabaya (2 dari 2): Gara-gara Pentas Fatimah, Warga Arab Mengadu ke Polisi Diarsipkan 2016-03-04 di Wayback Machine.

5. (Indonesia) Harian Jurnal Nasional: AR Baswedan dan PAI

6. Selain itu, (Indonesia) Majalah Gatra pada 2012 juga menulis edisi khusus Tokoh Lintas Agama Perumus Indonesia dan memasukkan A.R. Baswedan sebagai "Pluralis dari Kampung Ampel".

7. (Indonesia) Majalah Historia No. 15 Tahun II 2013 saat mengulas tentang orang Arab di Nusantara, juga menulis panjang tentang A.R. Baswedan dan kiprahnya dalam proses pembentukan kesadaran nasionalisme Indonesia.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Abdu...ahman_Baswedan
Diubah oleh LordFaries4.0
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alifrian. dan 22 lainnya memberi reputasi
21
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
20-06-2021 21:17
A.R. Baswedan dan Persatuan Arab Indonesia
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Persatuan Arab Indonesia (PAI) atau Persatoean Arab Indonesia (dalam ejaan lama) adalah suatu perkumpulan Arab Indonesia yang didirikan oleh Abdurrahman Baswedan pada tahun 1934 di Semarang untuk mendorong kesetiaan para peranakan Arab kepada Indonesia.

Singkatan: PAI
Tanggal pendirian: 4 Oktober 1934; 86 tahun lalu
Pendiri: Abdurrahman Baswedan
Lokasi: Semarang
Ketua pertama: Abdurrahman Baswedan

Di antara anggota-anggotanya yang menonjol adalah Abdurrahman Baswedan, Salim Maskati, Nuh Alkaf, dan Hamid Algadri.

Sejarah
Pada tanggal 4 Oktober 1934 suatu kelompok yang terdiri dari empat puluh Muwallad bertemu di Semarang. Setelah tiga hari mengalami perdebatan sengit mereka mengumumkan pembentukan sebuah organisasi baru yang disebut Persatoean Arab Indonesia. Awalnya organisasi tersebut dimaksudkan untuk mendorong orang Arab, kebanyakan Muwallad, untuk mengintegrasikan, mengasimilasi dan menjamin kesetiaannya kepada Indonesia yang masih dalam lingkup Hindia Belanda. Organisasi ini kemudian bergabung dengan partai politik Gabungan Politik Indonesia (GAPI) pada tahun 1939-1940. Sementara itu organisasi terpisah bernama Indo-Arabische Beweging didirikan pada tahun 1930, di sisi lain, mencoba untuk melanjutkan status terpisah dari peranakan Arab sebagai oriental asing yang dibangun oleh pemerintah Belanda.

Anggota perkumpulan ini berasal dari latar belakang dan organisasi yang berbeda, terutama dari Al-Rabithah al-Alawiyah dan al-Irshad. Manajemen pertama organisasi tersebut terdiri dari Abdurrahman Baswedan dari Al-Irshad sebagai ketua, Nur Al-Kaff dari Al-Rabithah al-Alawiyyah Sebagai sekretaris I, Salim Maskatee dari Al-Irshad sebagai sekretaris II, Segaf al-Segof dari Al-Rabithah al-Alawiyyah sebagai bendahara, dan Abdurrahim Argubi dari Al-Irshad sebagai komisaris. Anggota asosiasi tersebut menyatakan sumpah mereka untuk menegaskan kesetiaan mereka kepada Indonesia sebagai tanah air mereka (bukan Hadhramaut) dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mereka.

Pemuda Arab-Indonesia juga menyatakan sumpahnya yang disebut sebagai "Sumpah Pemuda Keturunan Arab", yaitu:

1. Tanah air orang Arab-Indonesia adalah Indonesia.
2. Orang Arab-Indonesia harus meninggalkan isolasi sosial dan eksklusivitas terhadap masyarakat adat Indonesia
3. Orang Arab-Indonesia harus memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

PAI mendapat dukungan dari banyak nasionalis melalui surat kabar mereka seperti surat kabar Tionghoa-Melayu Matahari atau Sin Tit Po sebagai salah satu pendukung utama. Namun, organisasi tersebut juga menerima reaksi negatif dari orang-orang Arab Indonesia yang menentangnya, banyak dari kelompok Wulayati. Di antara para penentangnya adalah Ali bin Yahya dari al-Rabithah al-Alawiyyah yang sering menerbitkan pertentangannya di majalah berbahasa Arab Al-Salam, dan MBA Alamoudi, seorang Arab Indonesia kelahiran Ambon, yang sangat menyerang organisasi tersebut pada mingguan berkala Al-Yaum dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan di Arabische Verbond. Para pihak kontra menggunakan segala cara dan ancaman untuk mencegah perkembangan dan pengaruh PAI, termasuk memecat anggota PAI dari pekerjaannya.

Dalam hal pendidikan, PAI mendirikan sekolah dan juga memberikan pelatihan-pelatihan semi militer kepada para pemuda keturunan Arab, mempersiapkan mereka dalam rangka bertempur melawan kolonialisme.


Persahabatan Liem Koen Hian & AR Baswedan untuk Kemerdekaan Indonesia
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Surabaya, tahun 1932. Harian Melayu-Tionghoa Sin Tit Po mengkritik asosiasi sepak bola Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Organisasi ini dianggap melakukan diskriminasi kepada etnis Tionghoa.

Asosiasi tempat berkumpul klub sepakbola dari bermacam golongan etnis. Di antaranya Belanda, Tionghoa, Arab, Indonesia dan etnis lainnya.

Diskriminasi dilakukan pengurus NIVB membuat sosok Liem Koen Hian geram. Dia membuat gelaran sepak bola tandingan. Pesertanya semua klub sepak bola di Pulau Jawa.

Liem merupakan Pemimpin Redaksi Sin Tit Po. Dalam kompetisi tandingan, klub sepak bola golongan Belanda sengaja tidak diikutsertakan. Acara sukses, menyedot banyak perhatian.

Sehari sebelum gelaran pertandingan, Abdurrahman Baswedan tiba di Surabaya. Kedatangannya dari Kudus bermaksud memasarkan produk rokok kretek. Baswedan, begitu dia disapa, menyempatkan hadir sebagai penonton. Tak disangka, dia bertemu dengan Liem Koen Hian.

Momen itu pertama kalinya mereka bersua. Dalam pertemuan itu, Liem mengaku sudah pernah membaca tulisan Baswedan diterbitkan Sin Tit Po. Meski beretnis Tionghoa, Liem berprinsip Indonesia adalah tanah airnya.

Kecintaan terhadap bumi nusantara membuat Liem menjadikan Sin Tit Po bukan lagi koran Tionghoa. Melainkan harian bagi publik tanpa mengenal warna kulit. "Sin Tit Po bukan lagi koran Tionghoa, melainkan koran bagi bangsa kulit berwarna," kata Liem pada Baswedan saat itu dalam buku Biografi AR Baswedan berjudul Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan ditulis Sutarmin dan Didi Kwartanada.

Dalam kesempatan itu, Liem mempersilakan Baswedan untuk menulis di koran miliknya. Liem dan Baswedan ternyata memiliki semangat sama. Mereka ingin mengusir Belanda dari bumi Nusantara.

Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional

Tawaran Liem disambut baik. Baswedan merasa mencium aroma pergerakan Sin Tit Po sejalan sesuai dengan keinginannya. Lewat kerja sama itu hubungan keduanya semakin dekat. Mereka kerap bertukar pikiran tentang berbagai hal.

Tak butuh waktu lama untuk Baswedan diterima di Harian Sin Tit Po. Berkat bantuan Liem, dia dipercaya mengisi rubrik Abunawas. Kesempatan itu digunakan untuk menyampaikan kritik dan berbagai pemikirannya.

Pada masa pemerintahan Belanda, penduduk Indonesia terbagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah orang-orang Belanda dan keturunan bangsa Eropa. Kelas kedua, yaitu para pendatang dari Asia Timur seperti Tionghoa, Arab, India dan lainnya. Sementara kelas ketiga adalah pribumi, penduduk asli nusantara.

Pembagian kelas dilakukan Belanda untuk mempermudah gerak dalam memanfaatkan berbagai macam kelompok untuk kepentingannya. Menurut Asep Kambali, seorang sejarawan, menyebut awal 1900-an muncul istilah politik etnis. Pada masa ini juga dinilai sebagai titik tolak kebangkitan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Belanda, penduduk Indonesia terbagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama adalah orang-orang Belanda dan keturunan bangsa Eropa. Kelas kedua, yaitu para pendatang dari Asia Timur seperti Tionghoa, Arab, India dan lainnya. Sementara kelas ketiga adalah pribumi, penduduk asli nusantara.

Sejarawan Asep Kambali menjelaskan, golongan kelas pertama pusat kota mengurus pemerintahan dan area strategis perpolitikan. Untuk golongan etnis Arab, India dan Tionghoa menempati posisi strategis secara ekonomi. Mereka banyak di area pasar Tanah Abang, Jatinegara dan Senen. Sedangkan pribumi hanya hidup biasa.

Pengelompokan strata sosial menimbulkan pro dan kontra. Tidak sedikit kelompok peranakan menentang konsep buatan Belanda. Apalagi Belanda kerap semena-mena dan memanfaatkan kelompok kelas dua. Sentimen ini pada akhirnya membuat kaum peranakan etnis mulai gerah.

"Orang tionghoa dan arab itu penjelajah, bukan penjajah. Mereka datang untuk berdagang dan membuka perekonomian," kata Asep saat ditemui merdeka.com pekan lalu.

Lahirnya Partai Tionghoa Indonesia
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
Liem Koen Hian merupakan salah seorang tokoh pergerakan nasional. Liem peranakan Tionghoa asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia lahir tahun 1897. Pernah mengecap sekolah Belanda dan lolos dalam ujian masuk Sekolah Hukum Tinggi (Rechts Hoge School) di Jakarta. Namun, sekolah itu tak diselesaikannya.

Berbagai literatur mencatat, semasa hidupnya Liem bekerja di berbagai harian surat kabar. Mulai dari Majalah Penimbangan di Banjarmasin, Tjhoen Tjhjioe di Surabaya, Soearea Publiek, Sin Tit Po. Selama di Jakarta, Liem juga membantu di Majalah Panorama, dan memimpin Majalah Timboel.

Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional

Pada 25 September 1932, Liem bersama teman-temannya mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) di Surabaya. Liem dan kelompok peranakan Tionghoa menyadari mereka adalah orang Indonesia. Lahir, dibesarkan di Indonesia dan mati pun akan dikuburkan di Indonesia.

Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar, bercerita tentang sosok Liem yang dikenal memiliki semangat kebangsaan. Masa itu, etnis Tionghoa terbagi menjadi beberapa poros. Satu poros berkiblat ke Tiongkok sebagai tanah leluhur. Poros lainnya adalah kelompok menganggap Indonesia merupakan tanah airnya. Di kelompok kedua ini Liem berdiri.

Lewat harian Sin Tit Po, Liem menyuarakan lantang tentang pergerakan. Bahkan dengan berani Sin Tit Po mengganti Hindia Belanda dengan kata Indonesia. Penggunaan kata Indonesia masih tabu di tahun 1920-an. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman juga dipublikasikan di sini.

"Itu dilakukan dua tahun sebelum sumpah pemuda, dimuat di rubrik, itu berani sekali," ungkap Azmi saat ditemui merdeka.com pekan lalu.

Banyak tokoh nasional bekerja untuk Sin Tit Po. Termasuk sosok WR Soepratman. Bahkan Soekarno juga dekat dengan banyak tokoh di media ini. Menurut Azmi, surat kabar milik etnis Tionghoa ini banyak menyokong pergerakan para aktivis saat itu. Mereka juga bergerak di bidang pendidikan dengan mereka mendirikan Kelompok Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) tahun 1900-an

Tahun 1920-an, gelora kebangkitan kemerdekaan mulai terasa. Berbagai organisasi berbasis etnis mulai terhubung dan bersatu. Tujuannya sama, mengusir penjajahan Belanda dari Indonesia.

Termasuk lahirnya Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Liem merupakan salah seorang pendiri. Mereka memiliki tujuan membantu kemajuan ekonomi, sosial dan politik di Indonesia. Kelompok ini sekaligus jadi pemberontak bagi kelompok Tionghoa lain dibuat Chung Hwa Hui.

Chung hwa Hui merupakan peranakan Tionghoa yang berpendidikan Belanda. Kelompok buatannya dikenal memusuhi orang pribumi. Mereka juga dekat dengan pemerintahan Belanda. Dalam kelompok ini terdiri dari kaum profesi, intelektual dan pengusaha terkenal di Jawa.

Tujuan Chung Hwa Hui juga bertolak belakang dengan PTI. Mereka memiliki misi memajukan kedudukan sosial, ekonomi dan politik orang Tionghoa semakin berada. Para pemimpinnya banyak mengadopsi pemikiran dan tindakan orang barat. Wakilnya di Volksraad pun condong berpihak ke Belanda. Mereka juga menjauhkan diri dari persoalan antara Belanda dan golongan pribumi.


Menginspirasi AR Baswedan
Hubungan Liem Koen Hian dan AR Baswedan semakin akrab. Persahabatan mereka melampaui batas etnis dan kepentingan kala itu. Dua tokoh ini kerap bertukar pikiran. Baswedan banyak belajar dari Liem, sang pendiri PTI.

Pengalaman Liem membuatnya tergerak berbuat sesuatu untuk Indonesia. Kala itu di tubuh kelompok Arab juga sedang terjadi perpecahan. Adanya gesekan antara kaum Sayid dan Non Sayid.

Tiap etnis Arab di Indonesia mendirikan organisasi. Ar Rabitah berdiri tahun 1928. Kelompok ini merupakan masyarakat arab golongan Sayid. Sementara golongan Non Sayid mendirikan organisasi Al Irsyad tahun 1915.

Sebagai peranakan Arab, Baswedan termasuk dalam golongan Non Sayid. Beberapa tulisan dan pemikirannya tidak sedikit mengkritisi golongan Ar Rabitah. Sebenarnya dia merasa gerah dengan perseteruan dua golongan ini.

Pemikirannya tentang nasionalisme belum cukup matang saat itu. Lewat Liem, sosok Baswedan banyak belajar tentang pengalaman mendirikan partai berbasis etnis. Hingga akhirnya muncul ide untuk menyatukan peranakan arab.

Anies Rasyid Baswedan, cucu AR Baswedan, menceritakan bahwa tahun 1934 kakeknya mendirikan organisasi Persatuan Arab Indonesia. Perkumpulan ini bertujuan untuk menyatukan keturunan Arab di Indonesia.

AR Baswedan, menurut Anies, berpikir untuk menyatukan mereka dalam satu wadah dan bersepakat untuk mendeklarasikan Indonesia sebagai tanah air. Selanjutnya di kemudian hari, Persatuan Arab Indonesia (PAI) bertransformasi menjadi partai politik.

"AR bersama keturunan Arab lainnya yang progresif berhasil mendirikan PAI pada 1934," kata Anies kepada merdeka.com pekan lalu.

Gubernur DKI Jakarta itu mengaku tidak terlalu mengenal sosok Liem. Dia hanya pernah mendapat cerita bahwa Liem dan keluarganya sempat meminta perlindungan AR Baswedan. Ketika itu Liem menjadi buron tentara Jepang.

Saat itu, pasukan Jepang mendarat di berbagai wilayah Jawa. Mereka membubarkan berbagai macam partai politik. Termasuk PAI, besutan Baswedan. Penertiban terhadap media massa juga dilakukan. Hanya koran berbahasa Tionghoa yang dibiarkan terbit, yaitu Kung Yong Pao.

Baswedan saat itu menjadi pembina kantor berita Antara di Jakarta. Jepang ingin mengganti nama kantor berita Antara menjadi Domei. Ide ini lantas ditentang. Baswedan tidak sendiri, anggota pembina lainnya juga memiliki keyakinan sama. Dianggap mengganggu, Baswedan kemudian ditangkap.

Saat menjalani interogasi di markas militer Jepang di Gedong Loji, Solo, datanglah Mr Singgih. Seorang tokoh Parindra yang mengenal Baswedan. Singgih memang bekerja untuk pemerintah Jepang. Melihat Baswedan, Singgih meminta tentara Jepang melepaskannya. Singgih memastikan kepada Jepang bahwa Baswedan adalah tokoh nasionalis anti Belanda.

Bersih-bersih tentara Jepang dilakukan juga di Solo. Liem jadi target operasi Jepang lantaran tulisannya di koran Mata Hari. Liem memang dikenal wartawan anti Jepang. Bahkan di Solo, banyak etnis Tionghoa membenci PTI besutan Liem.

Merasa terancam, Liem memboyong keluarganya ke rumah Baswedan. Liem memilih lari ke rumah Baswedan ketimbang bersembunyi di rumah para kelompok Tionghoa. Dia beranggapan Jepang tidak mungkin menggeledah kediaman Baswedan.

Menurut Anies, Jepang tidak akan berani macam-macam dengan tokoh Islam seperti AR Baswedan. Tanpa pikir panjang, Baswedan bersedia menampung Liem dan keluarganya dari kejaran tentara Jepang. Sikap ini memang menuai kecaman dari para sahabat Baswedan. Sebab bisa membahayakan dirinya dan keluarga.

"Persahabatan mereka di atas segalanya. Karena itu, AR berani ambil risiko untuk melindungi mentornya, Liem dan keluarganya," kata Anies mengungkapkan.

Akhirnya Liem dan keluarganya selamat. Setelah satu bulan, Liem dan keluarga kembali ke rumah. Mereka merasa sudah aman dan memutuskan kembali. Sayangnya, di tengah perjalanan, mereka justru jadi korban perampokan. Selebihnya Anies mengaku tidak tahu kabar mereka. Semasa hidup sang kakek juga tidak banyak bercerita tentang sosok Liem. (mdk/ang)

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pers...Arab_Indonesia

https://m.merdeka.com/khas/persahaba...indonesia.html
Diubah oleh LordFaries4.0
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yoseful dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
20-06-2021 21:26
Space kosong buat jaga2
Diubah oleh LordFaries4.0
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan simsol... memberi reputasi
2 0
2
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 04:47
sehebat2nya pahlawan, kalau keturunan mereka blangsak, nama mereka pun ikut rusak......itu aja emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yoseful dan 15 lainnya memberi reputasi
14 2
12
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 07:22
Pahlawan nasional Yaman Hadramaut atau Indonesia ni?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
crusiodhik dan 3 lainnya memberi reputasi
1 3
-2
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 07:52
Sepertinya ane pernah dengar nama BASWEDAN ...
tapi dimana ya. ane lupa emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan 2 lainnya memberi reputasi
2 1
1
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 08:33
Baswedan... kayak inget sesuatu..tapi apa ya....


emoticon-Amazed emoticon-Amazed


profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan simsol... memberi reputasi
1 1
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 09:42
kafir pura2 lupa sama cacingan baca ni trit
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mypurplesaturn dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 10:20

lah

soekarno ok,,,,>>> bu mega,,,,,hmmmmm
soeharto mantap kejam......>>>>tommy soeharto,,,,,hmmmmmm
gusdur pluralis>>>>>anaknya lumayan lah
baswedan wow,,,,>>>> anis,,,,bentar,,bentar,,,kita susun dulu kata katanya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiresh dan 6 lainnya memberi reputasi
6 1
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 11:27
baru tau kalau beliau itu mengumpulkan dan menyatukan para pemuda Arab untuk berkomitmen menyatakan Indonesia sebagai tanah air. emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 14:10
yang bilang klan baswedan itu keturunan yaman adalah orang licik. mereka itu asli pribumi. jawa tulen, dan lebih tulen dari banyak orang.

ngga percaya? google is your friend.


emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiresh dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:07
heran orang-orang gampang banget generalisasi
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan simsol... memberi reputasi
2 0
2
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:18
Yg berjasa kan Abdurrahman Baswedannya..bukan cucunya,,cucunya tdk bisa sama dengan kakeknya dalam hal jasa kepada NKRI...tau ndiri cucunya BLANGSAK..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
secer dan 9 lainnya memberi reputasi
8 2
6
Lihat 13 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 13 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:20
Ini sejarah ama xenology lho.
Nape komennya surem kek bp.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:23
Nice info
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jerrystreamer1 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:24
Indonesia pada masa itu msh belum mabok agama kyk sekarang..
Murni perjuangan kemerdekaan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Jamaludin45 dan 6 lainnya memberi reputasi
5 2
3
Lihat 20 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 20 balasan
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:27
Ouchh... Beliau adalah kakek dari Anies dan Novel Baswedan yaa gansiss...

Kereen memang perjuangan beliau...

Semogaa turun ke anak cucu cicit nyaa yaa gansisss.

Rela demi bangsa

Bahkan tak bergelimang hartaaa...

Panutan...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:28
perjuangan beliau luar biasa ya gansiss..walaupun pejuang beliau sampai akhir hayat tidak memiliki rumah dong ya gansiss...
soalnya tetap bertahan dari rumah pemberian dong ya...
sakmadya...
ora luwihh ora kurang..
profile-picture
profile-picture
simsol... dan LordFaries4.0 memberi reputasi
2 0
2
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:33
keren banget ya gansis perjuangan beliau..
kecerdikan dan keberaniannyaa luar biasa...
patut diacungi jempol
dan bisa dijadikan panutan...
profile-picture
LordFaries4.0 memberi reputasi
1 0
1
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:35
Takjub sekalii....

Beliau tokoh jadi panutan emang nih gan siss...
Hanya saja kok ane merasa aneh dengan yang di makam entu.. Salfok gitu..
Entuu yang dijadikan pijakan entuu batu nisan kan yaa.... Apa ane salah ngeliatnya??? Heii...
profile-picture
jerrystreamer1 memberi reputasi
1 0
1
Abdurrahman Baswedan, Jurnalis, Mubaligh dan Pahlawan Nasional
21-06-2021 22:35
Sejarah tetaplah sejarah, pelaku sejarah memiliki keturunan apakah akan sama dengan sang pelaku?? Belum tentu, kharisma mungkin saja masih ada, kelebihan2 lain mungkin menurun secara genetis bahkan mungkin keburukan2 tentunya, tapi apakah akan sama dengan zaman yang berbeda dewasa ini, apalagi bila disandingkan dengan kepentingan pribadi lepas pribadi...... ?

Tetap perjuangan beliau2 adalah tolok ukur untuk bersikap, berbangsa dan bernegara, bagaimana cita2 luhur mereka, idealisme mereka di manifestasikan dalam karya kerja nyata, mengesampingkan segala perbedaan menuju satu bangsa yang besar, bangsa Indonesia.

Btw atas gw monolog gak sih??
Diubah oleh johankontolatos
profile-picture
simsol... memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia