Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
34
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60cb2da99a2817344c162885/terobsesi
Cerita ini mengisahkan tentang seorang pria yang bernama Jun yang mencintai istri sahabatnya sendiri. Saking cintanya kepada istri sahabatnya, sampai-sampai Jun terObsesi berat. Sedangkan hubungan persahabatan mereka masih berjalan baik sampai saat ini. Semua berawal dari masa lalunya. Kenapa Jun bisa terobsesi pada istri sahabatnya? Apa yang terjadi di masa lalunya?
Lapor Hansip
17-06-2021 18:10

Terobsesi [END]

Past Hot Thread
Terobsesi
SYNOPSIS
Cerita ini mengisahkan tentang seorang pria yang bernama Jun yang mencintai istri sahabatnya sendiri. Saking cintanya kepada istri sahabatnya, sampai-sampai Jun terObsesi berat.
Sedangkan hubungan persahabatan mereka masih berjalan baik sampai saat ini. Semua berawal dari masa lalunya.

Kenapa Jun bisa terobsesi pada istri sahabatnya? Apa yang terjadi di masa lalunya? Semua akan terjawab dalam cerita ini.


WARNING !
Quote:Cerita ini mengandung konten dewasa, mohon untuk bijak dalam membacanya. Nama tokoh bukan nama asli, latar waktu, tempat juga bukan asli.


JANGAN TANYA CERITA INI FIKSI ATAU REAL ! Baca saja dengan RILEX. Jangan lupa kasih dukungan seperti kasih Rate bagus, cendol, agar TS bersemangat lagi bikin ceritanya.


INDEX STORY
Quote:Eps 1: Hidupku
Eps 2: Misteri Taperwer
Eps 3: Misteri Taperwer Part 2
Eps 4: Misteri Taperwer Terpecahkan
Eps 5: Miniatur Senja
Eps 6: Permen
Eps 7: Tanda Merah Di Leher
Eps 8: Akhir
Eps 9: Takdir
Eps 10: Terobsesi

Pesan dari cerita ini adalah, janganlah terlalu terobsesi dengan pasanganmu, jika dia tidak berjodoh denganmu, relakanlah, dan cobalah ceritakan isi hatimu kepada orang lain. Hindari hal-hal negative lainnya, karena kebahagianmu adalah tujuanmu. Namun cinta tidak bisa di tebak.
Quote:
SESI Q N A !
Q: Apakakah cerita ini akan ada lanjutannya?
A: Yes, di tunggu aja ya gan.
Q: Kenapa Broto tidak di ceritakan lagi? Karena dia kan sahabat Jun juga?
A: Di karenakan Cerita ini hanya berfokus kepada pemeran utama nya saja.
Q: Di cerita selanjutnya, Broto akan muncul ga?
A: Yes.
Q: Cerita lanjutannya akan menceritakan apa?
A: Cerita lanjutannya akan menceritakan lebih ke perselingkuhan antara Jun dengan Viona (spoiler)


Sambil nunggu Season selanjutnya rilis, baca dulu Short story ane gan, dijamin seru !
Short Story

Diubah oleh ihsanjun29
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Rohmatullah212 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Terobsesi
17-06-2021 18:12

Episode 1

Eps 1: Hidupku..
Quote:Takdir, adalah sebuah kenyataan yang tak bisa di hindari, semua sudah terjadi, berlalu. Hidupku dan hidupnya berbeda, banyak perbedaan diantara kita, kau yang terlahir sempurna, sedangkan aku? Aku hanyalah manusia biasa dengan banyak kekurangan yang signifikan. Biarlah tak mengapa, yang penting bisa hidup dan bersyukur dengan segala yang ada, ini bukan berarti pasrah, percayalah, dalam hidup itu semua hal mungkin akan terjadi.

Dia adalah wanita idamanku, jatuh hati di setiap detiknya, parasnya yang indah membuat diriku terpacu ingin memilikinya. Namun sayang, dia sudah ada yang punya, dia adalah istri sahabatku. Memang itu terlihat tidak wajar, aku yang mencintai istri sahabatku sendiri. Cinta hanyalah sebuah kata, yang bermakna kasih sayang, namun harta dan tahta adalah prioritas yang terpandang, mereka yang menilai sendiri.

Dari segi harta memang aku kalah, tapi bukan berarti aku menyerah lalu pasrah, aku hanya mengalah, ikuti alurnya, lalu biar waktu yang menjawab semuanya.
Fisik? Aku jelek, tidak terlalu tampan, tapi bisakah ketampanan mampu memberikan kebahagiaan tanpa harta? Jawabannya adalah Tergantung diri sendiri.

_____________


Aku adalah manusia biasa yang sederhana, panggil saja aku Jun, untuk bisa bertahan hidup, aku bekerja di salah satu Dealer Motor Ternama di Jawa Barat, kerjaanku membagikan ratusan brosur di jalanan setiap hari. Aku terlahir dari keluarga yang biasa aja, di sebut miskin tidak terlalu miskin, disebut kaya mana mungkin, belum waktunya menjadi kaya raya.

Kedua orang tua ku hanyalah buruh tani, bukan petani, ya mereka hanya kerja serabutan musiman, jika musim panen disitulah ada uang. Meskipun begitu, aku beruntung terlahir di keluargaku, karena berkat mereka aku bisa lulus kuliah s1 dan bekerja sebagai marketing, lebih tepatnya menjadi sales.

Aku adalah anak sulung dari satu bersaudara, emm.. Maksudku anak tunggal. Maka dari itu aku harus membanggakan kedua orang tuaku. Ya itu wajib, sebagai anak yang budiman harus melakukan itu.

Oh ya, kenapa aku bisa mencintai istri dari sahabatku sendiri? Semua berawal dari satu tahun yang lalu...

Flashback
Satu Tahun Lalu



Di sebuah kampus biru, ada seorang wanita cantik yang menarik perhatianku, dia bernama Viona, nama yang ku tau dari temanku, apa benar dia bernama Viona? Entahlah, aku makin penasaran dengannya. Saat itu hari sudah mulai gelap, langit sudah mendung, nampaknya akan terjadi hujan, bersamaan dengan bubarnya kelas.

Ku pandangi ke arah timur, nampak bercahaya, ternyata ada bidadari tak bersayap sedang berjalan menuju gerbang kampus. Perlahan aku ikuti setiap langkahnya, namun langkah ku terhenti, karena aku menginjak sesuatu.

Dalam hati aku bertanya, apa yang ku injak barusan? Rasanya keras, tapi aku yakin ini bukan batu, setelah aku pastikan ternyata Taperwer, lalu aku ambil taperwer itu, setelah di lihat-lihat ternyata taperwer itu ada tulisannya, tertulis sebuah nama, yaitu Viona.

Hatiku seketika riang, dalam benak ku muncul ide, ya, aku akan mengembalikan taperwer ini sebari kenalan dengannya, sentuhan pertama yang ku harapkan, mudah-mudahan lancar sesuai rencana. Oke, aku percepat langkahku menuju ke arah Viona, ahh kayanya harus lari, biar cepet.

Aku berlari sekencang angin, namun sia-sia, ternyata Viona sudah tidak ada, kemana dia? yeee lu kira Dora tanya tanya? Pikirku, mungkin dia sudah pulang, entah pulang sama siapa, aku tidak tau dan yang aku tau adalah dia bernama Viona.

Taperwer ini sementara aku bawa pulang dulu ke kosan, lalu saat aku melamun tiba-tiba ada suara manggil, dalam tak sadar aku berhalusinasi bahwa yang manggil itu adalah Viona, lalu aku pun tersenyum, akan tetapi..

"Juuuun....! (Teriak) "

Yaelah ternyata itu si Broto, dia adalah sahabatku, teman sekosan juga.

" Apa sih teriak-teriak lu bro? " Sahut ku.

"Gawat Juun ! (Terengah-engah) " Kata si Broto.

" Gawat kenapa? " Jawabku panik.

"Euum.... Gue haus jun (merebut taper war) "

" Eh.. Eh.. Eh.. Itu bukan punya gue, sini ah maen rebut aja lu ! " Sahutku sambil merebut kembali taperwer milik Viona.

"Emang tu taperwer punya siapa jun? Pantesan warnanya pink ! Gue juga pikir Pasti bukan punya lu kan? " Kata si Broto.

Ini anak emang ngeselin banget, tapi gimanapun juga dia sahabat karib ku, susah senang di nikmati bersama itulah arti sebuah persahabatan.

Tiba di kosan aku langsung mandi, beda dengan si Broto, dia setiba di kosan langsung rebahan sambil main game.
Di kamar mandi aku termenung, dalam benak ku timbul tanya, " Apakah aku pantas mendapatkan cinta dari Viona? " Suara air keran terdengar nyaring, mengisi bak mandi yang terkuras habis.

Akan kah hatiku yang kosong ini pun akan terisi oleh cinta dari Viona? Khayalanku makin tinggi, senyum sembringah sambil memikirkan Viona, lalu seketika terdengar suara cempreng dari luar...

"Junn ! Lama amat di kamar mandi ! Coli lu yak? " Teriak si Broto.

" BERISIK ! " Sontak aku teriak.


Bersambung...
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Terobsesi
17-06-2021 18:13

Episode 2

Eps 2: Misteri Taperwer

Quote:Tak terasa waktu sudah tengah malam, aku belum ngantuk, besok aku kuliah pagi. Perut mulai keroncongan, mau makan malas beli, mau masak mie instan ga ada mie nya. Aduh gimana nih, ah go food aja deh.

Lah kok ga ada paket hemat sih, kalo gini caranya mending keluar deh nyari tukang nasgor. Kepaksa deh harus keluar, tapi ajak si Broto ga ya? Tapi dia tidur nyenyak banget kaya latihan mati, ya sudahlah pergi sendiri aja.

Saat aku keluar dari kamar kos, aku melihat penghuni kamar kos sebelah bawa cewek. Berhubung kosan ini bebas ga ada aturan, ya udah hiraukan saja, ngapain juga harus kepo sama orang lain.

Udara malam ini cukup dingin, untung saja aku pake hoodie, jadi kepalaku ga kedingan karna ada kupluknya. Tapi jam segini masa iya ga ada tukang nasgor, aku udah berjalan beberapa kilometer ga nemu juga tuh nasi goreng.

Apa karena sekarang malam jumat ya, hii.. Tapi ngeri juga ya, sial jadi merinding. Fokus deh nyari tukang nasgor, ah di depan ada warkop tuh, sebat dulu ah.

" Punten (permisi) ! Kang, beli rokok setengah ! " Kataku.

"Mangga, rokok apa A ? " Tanya si tukang warkop.

"Biasa kang, Rokok yang makin gede makin puas kang ! " Jawab ku.

"Oh.. Okeoke, ini A rokonya (menyodorkan) 10rb . "

"Sip. Nuhun (makasih) kang ! "


*cekessss.. (Nyalain korek)


*Shhhhhh....... (Hisap rokok)
Huuuuuuuhhhhh..... (Ngeluarin asap)

Wiihh mantap nih, dingin dingin gini emang cocok buat ngerokok, apalagi kalo di rokok sama si dia makin mantap deh, Hahaha.

*Gratatataa... (Suara nada dering telpon)

"Halo ! Jun, lu dimana? "

"Gue lagi nyari tukang nasgor, lapar. "

"Yaelah ga ngajak, Eh mendingan lu balik deh ke kosan. "

"Iya nanti kalo udah dapet nasgor langsung balik ! "

"Buruan balik sekarang. Gawat nih jun ! "

"Emang ada apa sih? "

"Pokonya lu cepet balik deh ! "

"Ya allah. Iyaiya ! "

*tutututut... (Suara telpon di tutup)


Ada apa ya, kayanya si Broto panik bener, jadi penasaran.


Di Kosan


Haduh capek juga lari tengah malam, tapi kok suasana nya masih kaya tadi, gaada apa apa, terus kenapa si Broto keliatan panik banget, hmm.. Jangan-
Jangan dia ngerjain.

Tanpa basa basi aku langsung masuk ke kamar kos ku, lalu aku lihat si Broto lagi nempel di tembok.

"Bro, lu ada apa sih bikin penasaran aja? " Sahut ku.

"Sstttt.... Jangan berisik ! Sini lu cepet ! " Ujar si Broto.

"Eh, mau ngapain? Lu sendiri kenapa nempelin kuping di tembok? " Tanyaku.

"Hehehe... (Cengengesan) Jun, kayanya kamar sebelah lagi indihoy ! " Kata si Broto sambil cengengesan.

"Ah elu, gabaik nguping orang yang lagi ena ena, entar karma lu baru tau rasa Bro ! " Ucapku.

Ah ku kira apaan, ternyata bener si kampret broto emang ngerjain gue.

_________________


Di Kampus


Sudah jam 9 pagi, ko Viona belum muncul ya, apa jangan-jangan dia ga ada kelas hari ini. Kalo dia ga datang, gagal deh rencana buat balikin taperwernya.
Eh ada si burhan, dia kan sekelas sama Viona, gue tanyaain ah.

"Bur ! Han ! " (Teriak)

"Apa jun? Teriak teriak aja kaya tukang koran ! " Celoteh si Burhan.

"Sini gue mau nanya, Lu liat Viona ga? "

"Viona? (Mikir) Oh, mahasiswi baru yang satu jurusan sama gue? "


"Iya, hari ini dia masuk ga ya? " Tanyaku.


"Ya mana gue tau, gue bukan bapaknya. Haha"
Jawab Burhan sambil ketawa.

"Ya udah. Gue masuk duluan ya ! Bye. "


Eh, malah pergi gitu aja dia, tapi sepertinya ada yang aneh, gue jadi curiga sama si Burhan. Kenapa ya?
Ah daripada mencurigai orang lain, mending ke kantin dulu ah.


Di Kantin..


Aku duduk di kursi itu, sambil meratapi taperwer ini, lalu benak ku timbul tanya, apakah taperwer ini benar-benar milik Viona? Sejenak ku merenung, namun entah kenapa aku jadi curiga terhadap taperwer ini.

Jika taperwer ini bukan milik Viona, lalu milik siapa? Ahh aku bosan diskusi dengan diriku sendiri. Saat aku memandang ke arah lain, tiba-tiba...
VIONA ! Kebtulan sekali, ini saatnya. Terima kasih tuhan, engkau telah mempertemukan hamba dengan beliau lagi.

Tanpa basa basi aku langsung menghampiri Viona.

"Emm.. Hai, Viona ya? " Tanyaku.

"Hah? Bukan. (Cuek) " Jawabnya.


"Loh ko bukan, bukannya nama kamu Viona? " Tanya ku lagi.

"Bukan mas. (Ketawa kecil) " Jawabnya lagi.

"Te-terus ini, ta-taperwer ini.. Bukan milik kamu ya? " Tanyaku lagi.

"Jelas bukan lah, saya ga punya taperwer kaya gitu, dan satu hal lagi. Nama saya bukan Viona. Jadi, permisi saya mau lewat. " Ucapnya dengan angkuh.

Bersambung...


profile-picture
profile-picture
jiyanq dan pulaukapok memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Terobsesi
17-06-2021 18:14

Episode 3

Eps 3: Misteri Taperwer Part 2
Quote:Sial, aku jadi dilema, kenapa ini dapat terjadi, lalu siapa wanita yang ku puja itu, kalau dia bukan Viona, berarti dia siapa? Ahh sepertinya aku di kerjain oleh Burhan, aku harus bikin perhitungan sama dia.

Lalu aku mulai mencari keberadaan si Burhan, karena gara-gara dia aku di bikin malu sama wanita itu, ini soal harga diri, akan ku hajar si Burhan.

Setelah ku cari, ternyata si Burhan sudah ga ada di kampus, ku tanya teman-temannya juga mereka ga tau.
Aarrrggghh... Saking kesalnya ku tendang bekas minuman kaleng sekencangnya.


*pletaaaak (suara kaleng jatuh)

"Woyy.. Siapa yang lempar kaleng? " Teriak orang yang tertimpa kaleng minuman.


Wah gawat, tendanganku mengenai sasaran, kaburrrrrrrr..

____________



Di Kosan

Aku menceritakan semua kejadian itu kepada Broto, namun Broto hanya tertawa, seakan dia puas mentertawaiku. Ternyata aku salah, menceritakan kepada orang yang salah, fuxckxkxkxk.

Dari pada kesal di kosan, dan jenuh juga, akhirnya aku memutuskan untuk hijrah dari tempat ini ke tempat lain yang lebih asyik. Tempat itu adalah sebuah mini cafe, biasanya cafe itu di penuhi oleh mahasiswi-mahasiswi yang.. Tentunya cantik lah.

"Bro. Lu mau ikut ga? " Ajak ku ke Broto.


"Kemana jun? " Tanya Broto.

"Mini Cafe. Ikut ga? " Ajak ku lagi.


"Maulah, asal lu traktir ya? " Ucap Broto.


"Sip. Ya udah kuy berangkat ! "


Kami pun berangkat menuju mini cafe.


______________


Di Mini Cafe

Kami sudah di dalam cafe, aku pun mulai mencari tempat duduk, akhirnya kami duduk di dekat kaca. Terlihat ada seorang wanita yang hendak menghampiri ke arah kami. Wanita itu ternyata seorang waitres dan memberikan selembar kertas yang berisi daftar menu di cafe ini.

Kemudian aku membaca daftar menu itu dengan teliti, berharap ada paket makanan yang murah. Ternyata tidak ada promo. Waitres itu terus memandangiku, seakan dia menunggu jawaban atas daftar menu yang ia sediakan.

Lalu ku tanya Broto, " Bro, lu mau pesen apa? " Tanyaku. Dia menjawab " Terserah. " Seakan Broto mempercayakan semuanya kepadaku, aku tau, ia lagi tidak punya uang.

Aku pun berfikir dengan keras, keringat dingin bercucuran, akhirnya aku memberanikan diri bertanya kepada waitres itu.

"Maaf mbak, ada paket hemat ga untuk dua orang? " Tanyaku kepada waitres.

"Oh, ada mas . " Jawab waitres itu dengan tersenyum.


"Alhamdulilah. Apa mbak paket hematnya? " Tanyaku lagi sambil tersenyum lega.

" Warteg mas. Jadi mas nya keluar dulu dari cafe ini, terus lihat deh di sebrang cafe ini, ada warteg. Biasanya hari jumat warteg itu suka bagi-bagi nasi bungkus khusus Duafa. Haha" Jawab waitres itu dengan tertawa.


"Hahaha... (Broto Ketawa lepas) "


"Eh kampret malah ngetawain lu ! "

"Engga mbak makasih. Pesen Black Coffe aja dua gak pake susu. " Ucapku dengan kesal.


"Lah, ya iyalah. Kopi hitam kan emang ga pake susu. Ya udah tunggu ya mas. " Ucap si waitres.

" Jun, kenapa pesen kopi hitam doang? " Tanya si Broto.

"Duit gue dikit lagi ! " Jawabku.

"Kalo cuma pesen kopi doang mah mending di warkop aja samsul ! " Ucap si Broto.

"Udah lu jangan banyak bacot. Yang penting nyaman tempatnya, bisa wifi, adem kagak panas. Terus bisa liat pemandangan. Liat tuh banyak cewek cakep ! " Ucapku.

"Iya sih banyak cewek cakep, tapi password wifi nya apa jun? " Tanya si Broto.

"Lupa gue belum tanya. Entar gue tanyain, nah waitres nya mau kesini. " Jawabku.


Setelah lama menunggu akhirnya pesananku datang.

"Ini mas, silahkan.. " Kata waitres itu sambil meletakan dua gelas kopi.


"Eh mbak, password wifi nya apa ya? " Tanyaku pada waitres.

"Maaf mas, disini untuk dapat wifi harus belanja minimal 50rb. Sedangkan mas pesennya cuma kopi, itupun harganya hanya 40rb. Permisi mas.. " Jawab waitres itu lalu pergi.

"Makan tuh wifi ! " Ucap si Broto.


Dengan wajah yang sedikit kesal, aku pasrah. Sambil aku nikmati segelas kopi ini. Seketika aku teringat kembali dengan taperwer itu, masih menjadi tanda tanya, siapa pemilik taperwer itu sebenarnya.

Dan wanita itu, siapa namanya. Aku penasaran, semoga secepatnya aku mendapat jawaban. Untuk si Burhan, kalo ketemu akan aku hajar dia karena telah mengerjaiku.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara wanita yang tak asing, lalu aku menoleh ke sumber suara itu.
Dan tidak di sangka, ternyata itu adalah Viona, tidak dia bukan Viona, maksudku namanya bukan Viona, wanita itu...

"Jun, lihat wanita itu. Kaya pernah liat? Di kampus kalo ga salah. " Ucap si Broto.

"Iya Bro. Dia emang sekampus sama kita. Dia anak baru ! Cantik ya " Kataku.


"Oh anak baru. Kenalan ah ! " Ucap si Broto sambil beranjak ke arah Viona.

"Eh.. " Aku pun tidak bisa mencegahnya, entah kenapa aku jadi malu sama dia.

Rasanya jadi tidak karuan, ada apa dengan perasaan ini, ketika si Broto mau kenalan sama dia, aku jadi merasa cemburu, namun apa daya, aku tidak bisa apa-apa.

Terlihat mereka langsung akrab, ko bisa si Broto langsung akrab gitu aja. Dari sini aku hanya bisa memandang, ingin rasanya menghampiri mereka. Namun aku seperti tidak punya kekuatan, seakan aku terkunci disini.

Saat mereka menoleh kepadaku, aku hanya menunduk terdiam dan membisu.

"Jun ! Sini ayo ! " Ajak si Broto.

Broto mengajak ku kesana, tapi aku malu, aduuhh sial kenapa ini, aku jadi gerogi.


"Jun ! Sini.. (Suara lembut) " Ajak Viona.


Hah, dia juga memanggil ku? I... I-ini baru pertama kalinya dia memanggilku, aku harus memberanikan diri.

"Emm... I-iya bentaar . "

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bergabung dengan mereka.


"Lu kenapa jun. Gerogi gitu, biasa aja kalee ! Haha" Ucap si Broto sambil tertawa.


"Iya jun, santai aja. Hehe" Ucap Viona dengan lembut sambil tersenyum.


Kok dia aneh banget ya, pas ketemu di kantin sikapnya jutek dan sombong pula, tapi sekarang jadi baik, ada apa gerangan? Entahlah.

Tapi ini kesempatan untuk menanyakan siapa nama aslinya.

"I-iya.. Eh, kalo kamu bukan Viona, terus nama kamu siapa? "

"Namaku? " Sahutnya.


"Iya.. " Jawabku singkat.


"Namaku emang Viona. Haha" Katanya, sebari tertawa.

"Waktu di kantin, kamu bilang bukan. Berarti, taperwer itu... Punya kamu kan?

" Hah, taperwer? Bukan. "

"Kok tulisannya nama kamu? " Ucapku penasaran.

"Iya tapi.. Taperwer itu emang bukan punya ku. Kamu dapat taperwer itu dimana? " Kata Viona yang mulai penasaran.


"Nemu di kampus. " Kataku. Aku tidak meceritakan kejadian saat menemukan taperwer itu, karena aku malu jika harus ceritain yang sebenarnya. Hehe

"Taperwer aja di permasalahin. Gue disini di anggap cendramata kali ya. " Celoteh Broto.


"DIAM!!! " Teriak ku bersamaan dengan Viona.

"What? Bisa kompak gitu njirr ! " Ucap Broto yang keheranan.

"Eh.. " Ucap Viona dengan wajah yang memerah.

"Emhh.. Ko wajah kamu jadi merah. Hehe" Canda ku. Sebari ketawa kecil.

"Apaan sih! " Ucap Viona tersipu malu.

Melihatnya seperti itu, membuat dirinya semakin cantik dan menarik. Aku jadi tambah suka dengannya. Senyumnya yang menawan seakan gemas melihatnya, ingin rasanya mencubit pipi merahnya.

Kami pun bertiga mengobrol panjang lebar, sampai lupa waktu. Ternyata Viona itu sikapnya memang baik, orang nya mudah bergaul, humble, periang, itu sementara yang aku tau.

Tak terasa, hari sudah sore obrolanpun berakhir. Tak lupa aku meminta kontak Viona, dia pun tidak ragu memberinya.
Katanya, dia baru di daerah sini, jadi belum punya teman, menurutnya aku dan Broto orang nya asyik.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hakkekkyu dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Terobsesi
17-06-2021 21:31
Monggo di lanjut cerita nya oppa juun emoticon-2 Jempol
Diubah oleh me0n9
0 0
0
Terobsesi
17-06-2021 22:05
wah seru nich, baca ach!
0 0
0
Terobsesi
17-06-2021 23:50
Quote:Original Posted By me0n9
Monggo di lanjut cerita nya oppa juun emoticon-2 Jempol


Quote:Original Posted By Grescia
wah seru nich, baca ach!


Thank yg udh nongol di thread ane, moga betah ya emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Terobsesi
18-06-2021 16:38
Salam kenal, gan. Ijin gabung.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Terobsesi
19-06-2021 19:24

Episode 4

Eps 4: Terungkapnya Misteri Tuperwer
Quote:Setelah pertemuan di cafe tadi, kini aku semakin akrab dengan Viona. Sampai sekarang kita masih chatingan via whatsapps. Tapi aku pengen nelpon dia, mudah-mudahan aja di angkat.

*tuuutttt (bunyi telpon)



Obrolan dalam telpon..

"Hai Vio. emoticon-Smilie "

"Hai juga Jun emoticon-Smilie "


"Besok aku jemput kamu ya? "


"Emang tau rumahku? "


"Belum. Sebentar lagi juga kamu ngasih tau emoticon-Smilie "

"Ihh.. Pede deh :P "


"Ya udah kalo ga mau di jemput emoticon-Big Grin "


"Nyebelin. Katanya mau jemput !. "


"Kan belum di kasih tau alamat rumahnya :') "

"Eh bentar. Emang besok mau pergi kemana? "


"Ke kampus lah. Wkwk "


"Besok kan libur ! "


"Astagfiruloh. Iya ya. Hehe"


"Makanya kalo punya kalender tuh jangan cuma di pajang doang. Haha"



"Kan aku ga punya kalender. Bentar lagi punya nya kamu, yang akan selalu ngingetin aku setiap saat. Hahaha"


"Ish... Gombal :') "


"Itu namanya bukan gombal. Tapi salah satu usaha buat dapetin kamu. Hehe"

"Tuh kan gombal lagi. Pasti tiap cewek di gombalin kan? :P "


"Mana ada kaya gitu. Oh iya aku mau tanya sesuatu. "


"Tanya apa? "


"Waktu di kantin kampus, pas aku nyamperin kamu. Kenapa kamu bohong? Malah jutek gitu. "


"Hahaha. Mau ngerjain kamu aja emoticon-Stick Out Tongue "


"Lah ko gitu. Aku malu tau di gituin sama kamu. Wkwk"


"Hehe. Ya udh maaf. Aku ga bermaksud kaya gitu. Sebenarnya aku tuh malu... "


"Malu kenapa? "


"Emm... "


"Malu kenapa coba? "


"Eu.... Engga ah nanti deh ceritainnya. Hehe"


"Lah kenapa ga sekarang? Bikin penasaran aja. "


"Pokonya nanti deh. Nunggu waktu yang tepat emoticon-Smilie "


"Iya tapi kapan?. "


"Ya tunggu aja emoticon-Smilie "


"Ya udah iya.. Eh, aku masih kepikiran loh soal taper wer itu punya siapa ya. "


"Hahaha.. Taper wer yang ada tulisan namaku? "


"Iya, kalo bukan punya kamu, terus punya siapa ya? "


"Em... Sebenarnya Taper.... (Terpotong) "




"Juuun ! Kecoaaaaa juuunn " Teriak si Broto


"Mana... Mana... " Serentak Aku pun kaget saat si Broto teriak ada kecoa.


*Tut.. Tut... Tut.. (Telpon terputus)


"Hallo.. Vio.. " Yah telpon nya terputus. " Gerutu ku.


"Itu jun ke arah mu ! " Teriak Broto.


Aku dan Broto panik gegara kecoa, jujur aja kami takut pada kecoa, eh tapi sebenarnya bukan takut, lebih ke jijik aja, apalagi kalo kecoa nya udah mode terbang.

____________




Hari Sabtu..
Singkat cerita pagi pun tiba, tepat di hari sabtu kuliah di liburkan. Pukul 8 pagi aku baru bangun, sedangkan Broto masih terlelap dengan nyenyak. Lalu aku beranjak untuk mandi, rencana hari ini aku mau ajak Viona ngedate, mudah-mudahan dia gak nolak.


Ingin rasanya mengutarakan perasaanku sama dia, tapi kayanya terlalu cepat kalo sekarang. Aku harap dia memiliki perasaan yang sama kepadaku. Setelah selesai mandi, aku bersiap untuk jemput Viona, sebaiknya aku telpon dia sekarang.

"Hallo.. "


"Iya, jadi mau jemput aku? "


"Jadi dong. Ya udh aku sekarang ke rumah kamu ya. "


"Oke. Alamat rumahku aku sharelok ya! "


"Oke Vio. "


"Daaaah."


Jadi ga sabar pengen main sama dia, pasti dia seneng banget kalo di ajak keliling kota ini pasalnya kan di baru di kota ini.

Lalu aku pacu motor ini dengan cepat, rupanya hari ini cukup mendukung, jalanan tidak terlalu macet, langit masih cerah, mudah-mudahan tidak turun hujan.

Beberapa saat kemudian akhirnya aku sampai di depan rumah Viona, rumah gedung bertingkat yang sangat evic. Aku jadi ragu, ternyata Viona anak yang berpunya. Namun aku tidak boleh terlihat mengecewakan, karena aku memang tulus jatuh cinta kepadanya.

"Dimana bel nya ya? " Gumam ku dalam hati.

Setelah pelanga pelongo akhirnya aku menemukan bel nya, kemudian aku tekan tombol belnya dan tiba-tiba muncul suara.

"Maaf ini dengan siapa? " Suara dari dalam bel.

Aku yang keheranan mendadak katro, baru kali ini mendapati rumah secanggih ini. Dengan sedikit gugup aku menjawab suara itu.

"S-saya Jun ! " Jawabku sedikit gugup.

"Maaf, ada keperluan apa ya? " Kata dari suara dalam bel itu.

"Ss-saya te-teman nya Viona, apakah Viona nya ada? " Tanyaku.

"Tunggu sebentar ya! " Ucap suara dalam bel itu.

Setelah menunggu, akhirnya Viona keluar dari rumahnya. Dengan penampilannya yang menawan, seakan aku terpesona melihatnya.

"Astaga, cantik banget Viona ! " Gumam ku dengan replek.

"Jun? Kamu kenapa? Ko bengong? " Tanya Viona yang keheranan karena aku terlihat bengong dan kaku.


"Eh, engga kok. Hehe. Kamu cantik hari ini. " Ucapku dengan memujinya.

"Jadi, kemarin-kemarin ga cantik gituh? " Sahut Viona dengan sedikit becanda.


"Ti-tidak maksudku, kamu hari ini berbeda. Tapi, kamu ga malu jalan sama aku naik motor? " Ucapku yang sedikit kikuk.


"Kenapa harus malu. Yang penting nyaman emoticon-Smilie " Ucap Viona dengan tersenyum.

"Yuk kita jalan ! " Tambahnya.

"A-ayo, ini helmnya di pake. (Menyodorkan helm) " Ucap ku.


Kami pun beranjak pergi, dengan hati yang senang, dicampuri dengan
perasaan yang canggung, membuat diri ini merasa tidak enak, telah membawa seorang wanita yang sempurna untuk berboncengan denganku.

Akan tetapi sepertinya Viona menikmatinya, dia tidak sedikitpun mengeluh, semoga saja ini bukan drama, yang dimana ia berpura-pura mau denganku.

Langit masih sama, mentari bersinar dengan teriknya, kami masih berjalan menyusuri jalan ramai ini. Karena hari yang sudah semakin panas, kami memutuskan untuk berteduh di taman kota.

"Vio, kita duduk dulu yuk di tamkot. " Kataku kepada Viona.

Viona hanya mengangguk, lalu setelah memarkirkan motor, kami mencari tempat duduk. Dan akhirnya mendapati tempat duduk dekat pohon yang rindang.

Ku pandangi Viona yang mulai berkeringat, aku pun langsung mencari minuman dingin. "Vio, tunggu bentar ya, aku beli dulu minuman. " Ucapku sebari beranjak membeli minuman.

Lalu setelah aku mendapatkan minuman, saat aku kembali, aku melihat Viona sedang di goda oleh dua orang pria. Tak terima melihat itu, aku pun langsung menghajar salah satu pria yang menggoda Viona.

*plaaaaak (suara pukulan)


"Awww... " Salah satu pria itu kesakitan.


"Wow, santai dong bang ! " Kata pria satynya lagi.


"Kalian ngapain ganggu cewe gua? " Teriak ku dengan berani.


"Jun, udah, aku gpp ko . " Ucap Viona menenangkan ku.


"Oh jadi lu pacarnya? " Kata pria itu.


"Iya gua pacarnya ! Mending lu pada pergi dari sini ! " Bentak ku.


"Baiklah kalo begitu. Bray (temennya) ayo kita pergi. " Ucap pria itu, lalu pergi begitu saja.


"Lah, ko mereka gitu amat sih? Baru di bentak udh pergi. " Ucap ku.


"Em.. Tadi kamu bilang, aku pacarmu? " Ucap Viona dengan wajah merah.


"Hehe. Iya, becanda ko " Jawab ku sedikit malu.


"Ko becanda ! Tau ah. " Ucap Viona cemberut.


"Lah ko jadi cemberut gtu? " Sahut ku.


"Kamu nyebelin . " Ujar Viona.


"Lah, salah ku apa Vio? " Ucapku pura-pura gatau.


"Pikir aja sendiri ! " Ucap Viona yang kesal masih dalam keadaan cemberut.


"Iya deh iya. Maafin aku. " Rayu ku.


"Engga ! " Ucap Viona.


"Kalau gitu, kamu mau ga jadi pacar aku? " Dengan lancang aku nembak Viona. Hehe


"Hah, kamu serius? " Tanya Viona dengan wajah merahnya.


"Jangan kan serius, beribu rius pun aku berani. Jujur, aku emang suka sama kamu " Ucapku dengan meyakinkan.

"Em... Sebenarnya aku juga suka sama kamu. Dan sejujurnya, taperwer itu memang punya ku. Aku sengaja ninggalin taperwer itu, karena aku lihat kamu terus melihatku. Jadi alasanku meletakan taperwer itu agar kamu mengembalikannya, dan bisa bertemu sama kamu. Tapi.. " Viona menjelaskan semunya.


"Tapi apa? " Ucapku memotong penjelesannya.


"Iya tapi, saat kamu ngembaliin taperwer nya, aku jadi gugup dan malu. Akhirnya aku pura-pura gatau apa-apa. Maafin aku ya jun udh bohong sama kamu emoticon-Frown " Ucap Viona dengan wajah yang makin memerah.


"Akhirnya misteri taperwer terpecahkan juga. " Gumam ku dengan tersenyum.


"Ish... Ko gtu emoticon-Frown "


Entah ini mimpi atau bukan, aku bahagia sekali rasanya. Moment yang aku tunggu-tunggu akhirnya terwujud juga. Dan yang tak ku sangka adalah ternyata Viona juga suka kepadaku. Tapi apakah dia mau nerima aku apa adanya?


"Vio. Apa kamu nerima aku apa adanya? Aku masih banyak kekurangan, sedangkan kamu... (Terpotong) "


"... Ssstttt... Aku tidak peduli soal itu, yang penting adalah perasaan kita, kebahagian, aku harap kamu tidak mengecewakan. " Kata Viona meyakinkan ku.


Hari ini, tepat di hari sabtu, aku dan Viona resmi berpacaran, namun aku takut satu hal, yaitu setelah hari wisuda nanti, tinggal beberapa minggu lagi.

Bersambung...

profile-picture
hakkekkyu memberi reputasi
1 0
1
Terobsesi
19-06-2021 22:37
lanjut, gas terus.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Terobsesi
22-06-2021 10:48

Episode 5

Eps 5: Miniatur Senja

Quote:Satu Minggu Kemudian...


Hubunganku dengan Viona kini sudah di ketahui publik, khususnya di kampus, banyak yang tidak menyangka aku bisa mendapatkan Viona, termasuk Burhan dan Broto. Mereka awalnya tidak percaya, lalu setelah Viona yang mengatakannya akhirnya mereka pun percaya.

Jelas banyak yang tidak menyangka, perbedaan antara aku dan Viona memang mencolok, aku yang terlihat sederhana, sedangkan Viona yang terlihat good looking dimata orang lain.

Namun itu bukanlah suatu penghalang bagi cinta kita, perbedaan adalah saling melengkapi satu sama lain. Aku merasa manusia paling beruntung di muka bumi ini, bagaimana tidak, untuk bisa kuliah pun aku mendapat beasiswa hasil dari program bidik misi, lalu soal percintaan, aku bisa mendapatkan Viona dengan mudah. Hehe (ketawa jahat)

Maaf, bukan berarti aku sombong, tapi itulah kenyataannya. Haha
Namun di balik itu semua, aku terlahir dari keluarga yang tidak mampu, ayah ibu ku yang hanyalah buruh tani, tak bisa memberi banyak soal materi.

Maka dari itu, setelah aku lulus kuliah nanti, aku akan secepatnya mencari kerjaan, agar suatu saat nanti aku bisa mengangkat martabat keluarga kecilku.

Aku sebenarnya sedang mengerjakan skripsi, tinggal beberapa minggu lagi aku harus segera menyelesaikannya, karna sudah di ujung tanduk.

Dan setelah lulus kuliah nanti, semoga hubungan ku dengan Viona masih berlanjut, hingga ke pelaminan.

Di bawah langit jingga, aku masih menikmati angin yang berhembus kencang ke wajahku. Dengan motor klasik ku yang melaju dengan pelan, di iringi lagu akustikan yang terdengar merdu di headsetku.

Di temani oleh sang kekasih yang memelukku dengan mesra dari belakang, sore itu sungguh romantis.

Kota yang menawan ini, menyimpan banyak keindahan di setiap sudut kotanya. Banyak tempat romantis untuk di kunjungi.

Saat itu, aku dan Viona berhenti di sebuah tempat. Tempat yang paling di gemari oleh para pecinta seni, yaitu pameran lukisan.

Karya seni lukis yang terpampang indah di setiap kedainya. Banyak pengunjung yang meminta di lukis di sana, ada juga yang sekedar berfoto dengan nuansa lukisan sebagai backgroundnya .

Viona sangat menyukai tempat itu, karena sesuai dengan hoby nya, Viona hoby melukis. Dia juga masuk jurusan seni di kampusku.

Mata Viona tertuju pada sebuah lukisan kecil disana, sebuah miniatur senja yang terlukis dengan sangat indah, aroma cat lukisan itu begitu khas tercium.

Lalu aku membeli lukisan itu untuk Viona, ia sangat senang. Terus ia juga memeluk ku dengan manja. Sikapnya yang manja menuai banyak perhatian.

Semua orang yang ada disana seolah memandang ke arahku, entah ada yang iri, atau mungkin terlihat kampungan di mata mereka.

Aku tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting Viona bahagia bersamaku, anggap saja lukisan itu tanda kasih sayang dariku. Dan semoga dia bisa menyimpannya dengan baik. Seperti menyimpan perasaannya yang akan aku jaga sampai akhir hayatku.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan hakkekkyu memberi reputasi
2 0
2
Terobsesi
22-06-2021 22:41

Episode 6

Eps 6: Permen
Quote:
Masih dalam menjalani kisah asmaraku bersama Viona, setiap pulang kuliah kami selalu menghabiskan waktu bersama. Menikmati waktu setiap harinya, sampai aku lupa dengan Broto.

Tapi tak mengapa, Broto juga sedang sibuk pdkt dengan wanita incarannya. Jadi, aku dan Broto saling mengerti satu sama lainnya.

Aku harap suatu saat bisa double date bersama Broto, itupun kalo Broto sukses pdkt nya, mudah-mudahan saja Broto bisa menaklukan wanita pujaannya itu.

Viona ingin sekali membawaku ke rumahnya, tapi aku selalu menolak. Karena aku malu dengan keadaan ku yang seperti ini. Takut menimbulkan suatu masalah, keluarga Viona pasti akan menentang tentang diriku.

Meskipun Viona bisa menerimaku apa adanya, belum tentu orang tuanya bisa. Itu yang aku takutkan saat ini.

Nyatanya, cinta sejati akan kalah oleh materi, persetan dengan cinta. Orang terpandang akan selalu memandang tinggi orang-orang yang bertahta.

Lalu, bagaimana dengan diriku, aku bukan orang terpandang yang mencintai dia dari keluarga kaya? Yang jelas aku akan berusaha sampai aku mapan, Masih banyak waktu untuk berjuang.

Intinya aku harus bisa meyakinkan kedua orang tuanya, karena semua tergantung diriku. Jika aku gagal, maka harapan ku akan sia-sia.

___________


Di sore itu, tiba-tiba hujan turun cukup deras, aku dan Viona kehujanan. Lalu aku pacu motorku dengan cepat, Viona mulai kedinginan dan memeluk ku dengan kencang sebari menggigil.

Aku segera mencari tempat untuk berteduh, hingga aku menemukan sebuah warung kopi di pinggir jalan. Terpaksa kami berteduh disana, sambil memesan segelas kopi dan segelas susu hangat untuk Viona.

"Vio, kamu kedinginan ya? Ini minum dulu susunya. " Ucapku sebari memberikan segelas susu.

"Brrrrr... (Kedinginan) em.. I-iya m-makasih jun. " Jawab Viona sambil menggigil kedinginan.

Rasanya aku ga tega liat Viona kedinginan seperti ini, aku berdosa sekali telah membawanya hujan-hujanan begini.

Jika aku langsung mengantarnya pulang, jaraknya terlalu jauh, dia jadi makin kedinginan. Jadi, aku putuskan untuk membawanya ke kosan ku dulu sambil mengeringkan bajunya yang basah.

Setelah beberapa saat, akhirnya hujan pun reda. Kamipun langsung bergegas pulang ke kosan ku. Sambil mengendarai motor, terjadilah obrolan kecil aku dan Viona.

"Vio, maaf ya, aku hanya bisa bawa kamu pake motor. Jadinya kamu kehujanan deh. " Ucapku sambil mengendarai motor.

"Ngapain minta maaf. Aku seneng tau, jalan-jalan pake motor kamu, apalagi naik vespa. Kesannya jadi romantis gimana gitu. Hehe" Kata Viona sambil tersenyum.

"Aku seneng banget deh punya kamu . "
Ucapku tersenyum.

"Aku juga emoticon-Smilie " Jawab Viona tersenyum.

"Btw, kamu kenapa bisa mau sama aku emoticon-Big Grin " Tanyaku pada Viona.

"Itu masalah hati. Saat pandangan pertama, aku tertarik. Matamu tajam emoticon-Big Grin " Jawab Viona dengan jujur.

"Hahaha.. " Aku pun tertawa mendengar hal itu.

Jatuh cinta pada pandangan pertama memang hal yang lumrah, ketika saling pandang dan merasa cocok, maka akan tumbuh benih cinta dalam hati. EAaaaa.

Kemudian kami pun tiba di kosan, aku langsung membawa Viona ke kamar, kebetulan saat itu Broto lagi gak ada. Lalu, aku pinjamkan baju ku, sedangkan baju Viona aku keringkan di mesin cuci.

Sambil menunggu baju Viona kering, aku lanjut mengobrol. Viona curhat tentang pacarnya yang dulu, katanya mantan Viona itu selingkuh dengan sahabatnya sendiri yang bernama Vina.

Sampai saat ini Viona membenci mereka, terutama Vina, bahkan saat Viona berpapasan dengan Vina pun mereka saling acuh. Untung saja tidak saling jambak.

Setelah lama mengobrol, aku dan Viona saling berdekatan, posisi kami berada di atas kasur. Lalu Viona meminta permen kepadaku, untung saja aku punya, dan langsung saja aku berikan permen itu.

Kemudian Viona mengemut permen itu sambil menatapku. Seketika pikiranku jadi traveling, apalagi saat melihat bibirnya yang merah, membuat aku bergairah.

Sial ! Setan mulai merenggut pikiranku, naluri kejantananku mulai bangkit, tubuhku kaku, tapi jantungku berdetak lebih kencang.

Viona hanya tersenyum manja sebari menikmati permen itu, lalu wajah Viona mulai mendekat ke wajahku. Matanya setengah terbuka, bibirnya mulai mendekati bibirku.

Tanpa aba-aba kini bibir Viona bersentuhan dengan bibirku, ia menjulurkan permen itu ke mulutku. Tanpa sadar aku meresponnya, aku melumat permen itu bersamaan dengan lidah Viona yang menempel di mulutku.

Sebuah kenikmatan yang tercipta tanpa di rencanakan, ahhh... Kami begitu menikmatinya.

Lalu tanganku mulai bergetar, tapi sedikit liar, rasanya aku tidak bisa mengontrol diriku. Tanganku mulai berjelajah, dan berhenti di sebuah gunung kembar.

Terasa kenyal, agak keras, lalu aku meremasnya, seketika Viona mendesah. Dan aku kaget, dengan refleks aku mendorong Viona, hingga ia terbaring di kasur.

Raut wajah Viona seperti kesal, aku kira dia bakalan marah, akan tetapi...

Dia menarik ku, hingga akhirnya tubuhku menindih Viona, dan seketika dunia pun gelap.


Bersambung..
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Terobsesi
25-06-2021 14:27

Episode 7

Eps 7: Tanda Merah Di Leher

Quote:Bulan ini adalah bulan terakhir untuk menyelesaikan skripsi ku, harus segera terselasaikan. Agar bisa mengukuti ujian skripsi, lalu wisuda setelah itu baru lah awal hidup sesungguhnya dimulai...

Dunia ini memang kejam, tidak bisa berdamai dengan waktu. Hari yang terus berganti, seiring dengan bergantinya musim. Berharap hari itu aku kaya mendadak biar hidup menjadi senang.

Ah, khayalanku makin tinggi, sepertinya kurang ngopi, yasudah bikin dulu kopi biar badan seger.

*pergi bikin kopi

Hmmm... Aroma kopi ini begitu mantap, tapi sepertinya apa ya? Temenya kopi apa ya? Yap, rokok. Oke, sebats dulu biar ga panik, setelah itu lanjut beresin skripsi.

Saat asyik ngopi, tiba-tiba si Broto muncul dari kamar mandi.


"Jun ! Lagi ngapi yak? Bagi dong, dingin gue habis mandi ! " Sahut si Broto yang masih pake handuk.

"Bikin sono ! Stok kopi masih banyak tuh ! " Ucapku sebari nyeruput kopi.

*srupuuutt... Ahhh..


"Wiih... Enak tuh ! Sini gue minta ! " Broto mengambil paksa kopi ku.

"Eh, dasar temen kamvret ! " Ucapku.


"Ahhh.. Mantapp ! Bagi rokok sekalian ! " Broto mengambil sebatang rokok punya ku.


Lalu saat Broto mau duduk, ia menatapku dengan serius.


"Jun, leher lu kok merah? Wah habis di cupang si Viona ya ! Haha" Broto pun tertawa melihat leherku yang merah.

Dan aku baru sadar, itu bekas kemarin bercumbu dengan Viona, tapi Broto tidak tau bahwa kemarin aku bawa Viona ke kosan. Aku pun mengelak soal itu.


"Ahh apaan sih, ini bekas di gigit nyamuk semalem. " Ucapku mengelak.


"Bohong lu, di gigit Viona kali? Haha" Si Broto pun hanya tertawa sambil meledek ku.

Aku hanya tersenyum, sambil membayangkan kejadian kemarin bersama Viona. Dan berharap kejadian itu terulang kembali. Hehe.

Setelah selesai bercekrama dengan Broto, lalu aku mengambil laptopku. Rencananya hari itu aku mau ngerjain skripsiku di suatu tempat yang sejuk, biar aku bisa fokus.

Namun tiba-tiba saja Viona menelponku.

*kriiiinggg... (Suara telpon)


"Hallo Vio ! " Telpon itu aku angkat.

"Kamu dimana? " Tanya Viona.


"Aku di kosan. Tapi lagi mau pergi, mau ngerjain tugas skripsi sambil ngadem. " Jawabku.


"Oh, jadi kamu gak ngajak aku? " Bentak Viona.


"Emm.. Bukan gitu, hari ini kan kamu ada kelas? " Ucapku.


"Kata siapa? Engga kok ! " Ujarnya.


"Yakin? Yaudah kalo memang kamu ga ada kelas. Kamu mau ikut? " Ajak ku.


"Mau dong ! Aku mau nemenin kamu, biar kamunya ga nakal. " Ucap Viona dengan manja.


"Ya udah, aku jemput sekarang ya. " Ucapku.

Lalu aku beranjak pergi jemput Viona.


___________



Kini Viona sudah bersamaku, lalu aku mencari tempat yang ideal untuk ngerjain skripsi sambil santai, agar otak ku gak kaku.

Setelah mencari tempat lewat maps di handphone, akhirnya aku menemukan tempat yang cocok. Kami pun langsung meluncur kesana.

Satu jam sudah berlalu, akhirnya kami sampai di tempat itu, tempatnya sangat sejuk, pemandangannya indah. Viona juga menyukai tempat itu. Tempat itu semacan caffe, tapi letaknya di pegunungan.

Tidak terlalu banyak pengunjung yang datang, mungkin bukan hari libur. Tapi baguslah, jadi aku benar-benar bisa Fokus ngerjain skripsiku.

Eh, tapi kan aku sama Viona, mana bisa fokus. Aduuuh, yang ada malah jadi...
Ahh sudahlah, yang penting sekarang ngerjain dulu skripsi.


Viona dengan setia menemaniku, sambil bersandar di bahuku, sesekali aku elus rambutnya dengan manja. Ia pun hanya tersenyum sambil memainkan handphonenya.

Hari sudah semakin siang, tugasku hampir selesai. Viona yang bersandar kebahuku kini dia tiduran di pahaku, saat ku tanya dia ngantuk atau tidak, dia jawabnya ngantuk.

Akhirnya dia pun ketiduran, sedangkan aku masih meratapi laptop ku. Aku ingin segera menyelasaikannya.

Namun, aku baru sadar, seperti ada yang janggal dalam diriku, sekilas banyak orang yang melirik ku. Apa karena mereka melihat Viona di pangkuanku?
Lalu aku introvert, takutnya ada yang salah dalam diriku.

Terus aku melihat ada cermin milik Viona, kemudian aku berkaca, dan ternyata benar saja, aku lupa, ada bekas gigitan Viona di leherku. Ahh sial ! Aku jadi malu saat itu. Untung saja aku pake hoodie.

Lalu ada orang yang lewat seraya berkata.

"Bang, tato di lehernya bagus ! " Kata orang itu sambil ketawa kecil.

Shit, aku jadi makin malu, aku hanya membalasnya dengan senyuman.


Biarlah tak mengapa, semua orang juga pasti pernah mengalami hal yang sama, lalu aku bangunin Viona.

"Bangun Vio, kita makan dulu yuk? " Ucapku sebari ngebangunin Viona.

Kasian Viona, dari tadi aku cuekin, hingga tertidur lelap. Tapi Viona juga mengerti bahwa aku sedang fokus ngerjain tugas kampus.

"Vio, kamu mau makan apa? " Tanya ku.

"Emhh.. Apa ya? Terserah deh. " Jawab Viona dengan tersenyum.

Ini nih yang aku bingung, tiap di tanya mau makan apa, pasti bilang nya 'Terserah', dasar wanita.

Aku jadi teringat ketika pada jaman Nabi Adam dan Siti Hawa dulu, saat nabi adam bertanya kepada Siti Hawa, "mau makan apa? " Lalu Siti Hawa menjawab "makan ini (buah holdi/buang yang di larang) " Dan pada akhirnya Nabi Adam di usir dari Surga karena memakan buah itu.

Jadi kesimpulannya, memang bener wanita jangan suruh pilih makanan sendiri, bayangin kalo pilihannya itu yang mahal, terus uang buat bayarnya kurang.
Seketika KTP pun jadi jaminan, gimana coba? Bayangin aja dulu.

Akhirnya aku yang memutuskan memilih makanan, oke, hari itu kami makan yang paket promo deh, yang jelas ga di suruh ke warteg lagi. Hehehe.


Bersambung...


profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Terobsesi
01-07-2021 13:10

Episode 8

Eps 8: Akhir!
Quote:1 Hari Setelah Wisuda..

Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu sudah berakhir. Kini aku mendapat gelar S1 Marketing. Sekarang tinggal mempersiapkan diri menuju dunia yang sesungguhnya. Yang dimana semuanyaa akan di mulai pada hari itu.

Impian yang selalu aku gantungkan dengan tinggi, semoga harapan ku akan terwujud. Aku akan terus berjuang demi orang tuaku, juga demi hubunganku dengan Viona. Aku ingin secepatnya menikah dengan Viona.

Meskipun hubunganku dengan Viona baru jalan beberapa bulan, tapi aku merasa bahwa Viona adalah cinta sejatiku.

Besoknya aku mendatangi sebuah Dealer motor, tapi bukan untuk membeli motor, melainkan untuk melamar kerja disana, karena aku mendapat info bahwa disana membuka lowongan kerja.

Lalu aku pun mendatangi Dealer itu, sambil berharap bisa di terima kerja disana. Kemudian aku masuk ke dalam, kudapati seorang perempuan cantik nan seksi yang hampir melemahkan iman ku, rupanya ia adalah orang kepercayaan di perusahaan ini, juga memiliki jabatan sebagai HRD.

Perempuan itu bernama Vanesha, lalu aku di bawanya ke sebuah ruangan kantor. Aku pun di persilahkan duduk di pangkuannya, maksudku di kursi yang sudah di sediakan.

Lalu, Vanesha mulai melakukan interview kepadaku, layaknya tanya jawab namun tak sesulit ujian nasional.
Aku bisa menjawab semua pertanyaannya. Kemudian Vanesha membuka amplop coklat milik ku yang berisi CV ku sendiri.

Vanesha mulai membaca CV nya, lalu tanya jawab pun di lontarkan lagi, akan tetapi ada satu pertanyaan yang tak bisa aku jawab, pertanyaan itu adalah...

"Jika kamu mau bekerja disini, kamu harus single, belum menikah dan belum punya pasangan, apa kamu bersedia? "

Jelas itu membuat aku terdiam, lalu aku pun menjawabnya, " Maaf bu, kenapa harus single ya? Kan itu tidak mengganggu kedalam pekerjaan? " .

Vanesha hanya tersenyum setelah aku mengatakan seperti itu, rupanya itu hanyalah sebuah Prank. Sepertinya Vanesha suka nonton video Prank di youtube.

Namun hatiku lega, ku kira pertanyaan itu sungguhan, lagian mana mungkin aku harus putusin Viona demi bekerja disini.

Setelah interview usai, akhirnya aku di terima kerja disana sebagai Salesman Executive.

Ah, aku sungguh senang saat itu, lalu aku mengabari Viona atas keberhasilan ku diterima kerja disana, Viona juga pasti akan senang mendengar hal ini.

Kemudian aku pun menelpon Viona
"Hallo, Vio. " Ucapku dengan rasa senang.

"Iya, kok kamu kaya lagi seneng gitu? "
Jawab Viona yang penuh tanya.

"Iya aku emang lagi seneng. Hehe
Aku udah mulai bekerja besok. " Ucapku.

"Waah.. Serius? Selamat ya Jun sayang, jadi kapan mau lamar aku? " Ucap Viona bahagia.

"Secepatnya aku akan melamar kamu, doain aja. Jalan yuk, kamu di rumah kan?" Ucapku.

"Iya aku di rumah, ya udah aku siap-siap dulu ya. Aku tunggu kamu di rumah " Ucap Viona kepadaku.


Lalu aku segera berangkat menuju rumah Viona, setelah beberapa menit aku sampai di rumahnya. Aku menunggunya di depan rumah, sejujurnya aku belum berani masuk ke dalam Viona dengan keadaan seperti ini.

Tak lama kemudian muncul lah Viona, dia menyapaku dengan tersenyum manja, kemudian Viona menyuruhku untuk masuk ke dalam rumahnya, karena katanya ayahnya Viona ingin bertemu denganku.

Sontak itu membuatku tercengang, aku merasa bahwa ini belum saat yang tepat, tapi Viona berusaha meyakinkan ku untuk bernani menghadap ayahnya.
Dengan terpaksa akhirnya aku pun masuk ke dalam rumahnya yang mewah itu.

Setelah di dalam rumah, aku di sambut baik oleh ayahnya Viona, lalu aku di persilahkan duduk. Kemudian ayahnya Viona menyuruh Viona untuk mengambilkan minum untuk ku.

Saat Viona pergi ke dapur, ayah Viona mulai mengintrogasiku, aku benar-benar gugup saat itu. Banyak pertanyaan yang membuatku seketika menjadi down.
Benar saja apa yang ada di benak ku selama ini, bahwa sesungguhnya orang tua Viona ingin Viona menikah dengan pria kaya.

Jelas itu membuatku sedih di campur dengan gundah gulana, faktanya aku bukan kriteria yang ia harapkan, tentu sangat jauh. Aku yang terus berusaha meyakinkan ayahnya seakan ia tidak percaya dan meremehkan ku.

Kami pun diam sesaat ketika Viona datang membawa segelas minuman untuk ku. Obrolan pun terhenti, kemudian ayahnya Viona beranjak pergi meninggalkan kami.

Tak lama kemudian aku pun pamit pulang dengan perasaan yang sangat hancur, Viona hanya menatapku dengan raut wajah yang sedih seperti menahan air matanya yang akan jatuh.

Aku hanya bisa pasrah menerima semua kenyataan ini, tujuanku untuk berjuang menikah dengan Viona seakan pudar, seperti tidak ada harapan lagi.

Apa mungkin ini akhir dari semuanya?
Meskipun aku tau, aku tau akan janji ku pada Viona. Tapi berat bagiku, bukan berarti aku tidak ingin berjuang lagi, namun dalam situasi ini menurutku tidak akan berhasil.

Setiap manusia pasti punya rasa batas masing-masing, jika sabar ada batasnya, maka harapanku menikah dengan Viona pun sangat kecil kemungkinan terjadi.

Hanya akan ada filu yang menerkam, intinya ayahnya Viona tak setuju jika aku menikah dengan Viona, alasan pertama ia ingin anak nya bahagia, alasan kedua harus menjadi pengusaha, paling tidak punya satu perusahaan milik ku sendiri.

Itu sangat berat bagiku, harta, tahta adalah kunci untuk mendapatkan Viona selamanya. Meskipun Viona cinta kepadaku, itu takkan berarti, bukan soal hati melainkan soal materi.

Perlu waktu lama bagiku untuk menjadi orang sukses, sedangkan orang tuanya tidak akan bisa menungguku selama itu, walaupun Viona bisa. Maka aku putuskan malam itu untuk mengakhiri hubunganku dengan Viona.


____________


Beraambung...

profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Terobsesi
02-07-2021 10:15
Numpang mangkal ya gan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Terobsesi
02-07-2021 13:40

AQ PENASARAN

Penasaran kali pun aku dibuatnya... malah jadi terobsesi menunggu kelanjutannya ini...
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Terobsesi
05-07-2021 23:19
Gelar tikar dlu
0 0
0
Terobsesi
05-07-2021 23:22
nenda
0 0
0
Terobsesi
07-07-2021 10:51

Episode 9

Eps 9: Takdir
Quote:1 Minggu setelah putus dengan Viona...

Hari yang sangat melelahkan, aku pun istirahat sejenak di sebuah warung kopi pinggir jalan bersama kawan baru ku. Namanya Yogi, dia satu pekerjaan denganku, sebagai sales.

Satu minggu sudah berlalu, namun aku belum bisa move on dari Viona, sejujurnya aku masih cinta sama dia sampai detik ini, namun apa daya, kita berbeda kasta. Orang tuanya tak setuju Viona jadi milik ku, aku terpaksa harus merelakan Viona.

Nyatanya perjuanganku selama ini sia-sia, bukan karena aku tidak mampu berjuang, namun itu terasa berat bagiku. Pasalnya orang tua Viona ingin punya menantu kaya raya. Sedangkan dalam kondisi ku seperti ini mana mungkin aku bisa kaya mendadak. Orang tuanya ingin secepatanya, sayangnya aku tidak punya waktu, perlu proses jangka panjang.

Yogi adalah kawan baru ku, dia orangnya baik, setia kawan, tapi sebenarnya Yogi adalah anak dari orang kaya. Namun dia tidak ingin bergantung kepada orang tuanya, dia ingin hidup mandiri.

Dia juga sudah lama kerja disana, bisa di bilang dia adalah seniorku, sikapnya yang ramah, mudah bergaul dengan siapapun. Menjadikan dia di senangi oleh karyawan lainnya, termasuk aku sendiri.

Meskipun kami baru berteman beberapa hari, tapi rasanya seperti sudah kenal lama. Dia selalu kasih suppport kepadaku, apalagi melihatku yang sedang galau berat begini, dia selalu menghiburku dan memberikan semangat.

Namun tetap saja, pikiranku selalu terbayang wajah Viona, entah sampai kapan dirinya membekas di benak ku.
Bagaimanapun caranya aku tidak akan pernah bisa melupakan Viona.

______________


1 Bulan Kemudian...

Satu bulan sudah berlalu, hubungan pertemananku dengan Yogi semakin dekat, bahkan Yogi juga sering curhat tentang keluarganya, tentang percintaannya, dan apapun yang dia alami pasti akan menceritakannya kepadaku.

Bahkan aku di percaya olehnya, katanya aku adalah satu-satunya sahabat terbaiknya, maka dari itu aku harus menjaga rahasia Yogi.

Saat itu Yogi curhat tentang masalah perjodohannya, ia di jodohkan dengan seorang Wanita cantik anak dari orang kaya, walaupun awalnya Yogi menolak, pada akhirnya dia menerima perjodohan itu.

"Jun, gue mau di jodohin . " Ucap Yogi.

"Yaelah, jaman sekarang masih ada perjodohan!. Haha" Kataku sambil tertawa.

"Gue serius jun, gue mau di jodohin sama anaknya temen bapak gue. " Ucap Yogi meyakinkan.

"Beneran lu? Terus gimana? " Tanya ku.


"Ya, awalnya sih gue menolak. Tapi mau tidak mau gue terima perjodohan itu. "
Jawab Yogi.


"Lah, terus kenapa lu mau? Sedangkan lu kan belum ketemu sama orangnya? " Tanya ku penasaran.


"Memang belum ketemu sih, tapi di lihat dari fotonya cantik banget. Dan alasan utama gue nerima perjodohan itu adalah karena gue gak mau ngecewain orang tua gue jun. " Jawab Yogi denan jelas.


"Hmm, tapi gue salut sama lu Bro, lu emang berbakti sama orang tua. Gue jadi iri sama lu. " Ucap ku.

"Ahh itu kan sudah kewajiban kita sebagai anaknya, jadi gimana pun caranya kita harus bahagiain orang tua, meskipun dengan cara apapun. Yang penting orang tua kita seneng. " Kata Yogi.


"Iya betul banget gi, gue jadi kangen sama orang tua gue di kampung. " Ucapku.


"Kalo ada waktu, mending lu temuin deh ortu lu selagi mereka masih hidup. Btw, kalo lu butuh bantuan gue perihal keluarga lu, kabarin gue aja ya jun. " Kata Yogi.


"Emm.. Iya minggu depan kayanya gue mau balik dulu ke kampung gi, makasih banyak ya, lu emang sahabat gue yang paling baik. " Ucapku.


"Santai aja bro. Eh, gimana lu udah move on belum dari si dia? " Tanya Yogi.


"Sebetulnya belum sih, gue kayanya cinta banget sama dia. Gue jadi terobsesi. Sumpah, gue ga bisa lupain dia. " Jawabku.


"Ya mudah-mudahan aja lu cepet dapet penggantinya, biar lu bisa move on. " Kata Yogi.


"Iya gi. Sekali lagi makasih ya . " Ucapku.


"Eh gi, siapa nama cewek yang di jodohin sama lu? " Tanya ku.


"Namanya... "
Bersambung...

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Terobsesi
07-07-2021 10:53
Quote:Original Posted By syaifudinbage
Gelar tikar dlu


Quote:Original Posted By mr..dr
nenda


Monggo gan, udh ada eps baru nih emoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
Terobsesi
08-07-2021 21:48

Episode 10

Eps 10: Terobsesi
Quote:"Namanya Viona jun. " Ucap Yogi.

"Hah? " Aku kaget mendengar itu, apa mungkin Viona mantanku? Gumam ku dalam hati.

"Loh, kenapa kaget jun? " Tanya Yogi kepadaku.

"Em... Engga gi, gapapa. Boleh liat fotonya ga? " Jawabku yang penasaran serta ingin melihat fotonya, untuk memastikan bahwa Viona yang Yogi maksud apakah benar-benar Viona mantanku.

Lalu Yogi pun memperlihatkan fotonya kepadaku, dan ternyata benar, itu adalah Viona mantanku. Seketika aku menjadi lemas, shock, seakan tidak percaya dengan semua ini.

Namun aku dengan terpaksa tidak memberitahukan Yogi bahwa wanita itu adalah bekas pacarku, karena aku takut nanti Yogi jadi ga enak. Mungkin ini cara terbaik ku untuk merahasiakannya, meskipun ini berat bagiku, tapi ini demi kebaikan Yogi.

Yogi sudah ku anggap sodaraku sendiri karena kebaikannya itu, jadi aku tidak ingin melihat Yogi kecewa. Sebisa mungkin akan aku rahasiakan identitas Viona yang sebenarnya adalah mantanku. Aku tau cara ini juga salah, setidaknya ini adalah jalan untuk kebahagiaan mereka.

Terlintas wajah Viona dalam pikiranku, membuatku terbayang selalu akan senyumanannya, sikapnya yang manja menjadikannya wanita yang selalu ingin di belai. Teringat saat-saat hal manis terjadi saat aku bersama Viona, meninggalkan sejutua kenangan yang tak bisa di ulang kembali.

Kini hanya menjadi luka yang amat besar dalam hatiku, ingin rasanya merenggut kembali untuk kepuasanku.

Entah bagaimana cara untuk melupakannya, untuk hijrah ke hati orang lain pun aku tidak mampu. Selalu terbayang wajahnya, kini membuatku terobsesi berat.

____________


Beberapa Bulan Kemudian...


Hari itu adalah hari terindah bagi Yogi dan Viona, yang dimana hari itu adalah hari pernikahan mereka. Namun aku tidak datang kepernikahan itu, karena seminggu sebelum acara pernikahan itu di mulai, aku memutuskan untuk pulang kampung, berkumpul kembali dengan keluarga kecilku.

Meskipun Yogi memaksaku untuk menghadiri pernikahannya, namun aku menolak karena ingin pulang kampung, akhirnya Yogi memahami keinginanku itu. Mungkin Viona juga tidak tau bahwa Yogi itu sahabatku, semoga saja tidak tau.

Rasa filu ini sedikit terobati karena aku bisa bertemu dengan orang tuaku lagi.
Melihat diriku yang seperti ini, membuat orang tuaku bertanya-tanya karena khawatir, namun aku tidak menceritakan yang sebenarnya.

Cukup aku dan tuhan saja yang tau, setelah semuanya telah terjadi, kini membuatku menjadi penyendiri. Aku hanya ingin hidup tenang menikmati sisa-sisa hidupku ini.

Viona kini hanyalah sebatas angan bagiku, sekarang hanya bisa mengaguminya saja. Mungkin dia sudah bisa melupkanku, memikirkannya semkain membuat aku terobsesi di buatnya.

Entah ini kelainan atau bukan, yang jelas isi di otakku 95℅ tentang Viona. Dalam keheningan malam aku tertegun melihat indahnya bintang, sambil berharap ada bintang jatuh agar aku bisa memohon ingin menjadi orang kaya dan menikah dengan Viona.

Rasanya itu tidak mungkin, khayalanku makin tinggi, kini membuatku menjadi si penghayal. Orang tua ku makin cemas melihat keadaanku sekarang, tapi tenang aku tidak gila, aku masih normal.

Malam itu, pikiranku makin kacau, khayalan ku makin tinggi, bicaraku mulai ngelantur, akhirnya aku terkapar di atas balkon, mencoba untuk berdiri namun tidak bisa. Ku teguk lagi segelas anggur merah, sambil berharap aku bisa sadar dari keadaan ini, namun bukannya sadar malah menjadi-jadi.

Ku hisap lagi gele sebatang, khayalanku semakin tinggi, pikiranku tak karuan, sambil ku sebut-sebut nama Viona, ahh bicaraku makin ngelantur, penglihatanku mulai samar-samar, rasanya kepalaku semakin berat, lalu ngeblank.... ***




_____________


Satu Tahun Telah Berlalu....


Kembali lagi dimasa sekarang, dalam keramaian kota, masih bekerja seperti biasa, bersama partner ku sekaligus sahabatku, Yogi.
Hari ini adalah tanggal jadian ku dengan Viona, namun sayang, Viona sudah menjadi istri temanku.

Setahun yang lalu adalah tahun yang indah namun ada sedihnya juga bagiku, yang dimana aku harus merelakan wanita yang paling aku cintai harus menikah dengan sahabatku yang aku banggakan.

Sampai saat ini, aku masih memiliki rasa kepada Viona, tapi aku tidak peduli dengan perasaan ku ini. Biarlah semua berjalan dengan semestinya, sambil berharap aku bisa menemukan penggantinya.

Setelah pekerjaanku selesai, aku di ajak oleh Yogi ke rumahnya, seketika hatiku senang, karena akan bertemu kembali dengan Viona. Namun apakah Viona masih ingat kepadaku? Aku tak peduli, yang penting aku bisa memandang nya dari dekat.

Aku tau, semuanya sudah berubah, namun karena hal itu aku menjadi depresesi hingga tekanan mental yang berat, serta mengalami gangguan psikologis, membuatku harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, setelah menjalani perawatan dan tes urin, aku ketauan telah memakai barang haram yaitu ganja. Namun aku tidak masuk bui karena saat itu aku langsung di bawa ke rumah sakit jiwa, karena mental ku sudah terganggu.

Setelah di rumah sakit jiwa, aku mendapatkan lagi perawatan, akan tetapi tidak berselang lama, mental dan psikologis ku mulai normal, karena berkat bantuan ahli psikologi. Aku merahasiakan ini semua kepada orang lain, hanya keluargaku saja yang tau.

Namun sekarang aku sudah sembuh total, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku, semenjak kejadian itu, aku merasa seperti mendapatkan kekuatan baru, yang dimana aku tidak memiliki perasaan apapun kepada orang lain, namun hanya memiliki perasaan kepada Viona saja.
***

Yogi dan Viona menempati rumah baru mereka, di sebuah komplek di kota, pukul 7 malam kami tiba di rumahnya, ada sedikit ragu dalam diriku, namun aku berusaha untuk tetap tenang dan bersikap profesional.

Setelah masuk kedalam rumahnya, aku di sambut baik oleh Viona, dan Yogi pun memperkenalkan diriku kepada Viona, binar matanya terpancar indah saat menatapku, namun hanya sesaat. Sepertinya Viona masih mengingatku, tapi ia berusaha menghiraukannya.

Viona menyuruhku duduk dan menawariku minuman, setelah itu Viona pergi ke dapur dan Yogi memintaku menunggu dan mengobrol dulu dengan Viona, karena Yogi ijin ke kamar mandi.

Lalu datanglah Viona dengan membawakanku segelas minuman, kemudian ia mempersilahkan ku untuk meminumnya, dan menanyakan keberadaan Yogi kepadaku.

"Silahkan diminum mas, eh Yogi kemana ya? " Tanya Viona dengan suara lembutnya.

"Yogi katanyanya mau mandi.. " Jawabku dengan tersenyum.

Lalu tinggal lah aku dan Viona hanya berdua, kemudian Viona bertanya kepadaku.


"Emm... Kamu masih ingat aku? " Tanya Viona dengan pelan.

"Viona kan? Tentu aku masih ingat.. " Jawabku dengan pelan juga.

Dengan suara yang saling pelan, kami pun mengobrol, Viona membahas masa lalunya.

"Maksudku, kamu ingat kan saat dulu kita masih pacaran? " Ucap Viona.


"Iya, tapi itu masa lalu. Biarlah berlalu, kau tau? Sejak saat itu aku sudah bersahabat dengan Yogi. " Ucapku.


"Emm.. Iya, aku juga tau kok, Yogi pernah menceritakan tentang kamu kepadaku. Tapi kamu harus tau satu hal. " Kata Viona dengan serius.


"Hah, hal apa? " Tanya ku.

"Bahwa aku masih mencintai kamu, seandainya perjodohan ini tidak terjadi, mungkin aku tidak menikah dengan Yogi. Aku belum mencintainya. " Ucap Viona.

Mendengar hal itu, membuatku merasa sangat senang, apakah ini sebuah harapan? Namun aku sadar, apa yang aku harapkan tidak akan terjadi, bahwa Viona sekarang sudah menjadi istri sahabatku sendiri.

"Hah, kamu serius? " Tanyaku sedikit shock.


"Iya aku serius, oh ya, ini nomorku. Lain kali kita ngobrol diluar saja, biar bisa ngobrol panjang lebar. Tapi aku mohon jangan sampai Yogi tau. " Kata Viona.

"Baiklah, aku mengerti. " Jawabku singkat.


Lalu muncul lah Yogi, dan berkata, " Wah kalian lagi ngobrol apa nih, kaya yang serius gitu? "

Pikirku Yogi mendengar percakapanku dengan Viona, ternyata Yogi hanya bercanda saja.


Saat Yogi kembali dari kamar mandinya, kamipun mengobrol, sedangkan Viona beranjak pergi ke kamarnya. Pukul 10 malam aku pulang, tak lupa berpamitan kepada Yogi.

Malam itu merupakan suatu hal yang istimewa, yang dimana aku bisa berjumpa lagi dengan Viona setelah hampir setengah tahun tidak bertemu.
Dan setelah bertemu ternyata Viona masih menyimpan perasaan yang sama terhadapku.

Hatiku senang, namun bimbang, disisi lain mungkin aku mengkhianati sahabatku sendiri, namun disisi lain aku merasa puas, aku seperti mempunyai alter ego.

Itulah yang aku anggap sebagai kekuatan, aku tidak memiliki perasaan apapun kepada orang lain, namun setengah diriku masih normal, hanya memiliki perasaan kepada Viona saja. Meskipun begitu, aku masih sadar bahwa aku mempunyai sahabat, masih bisa membedakannya.



______________


1 minggu kemudian...

Setelah Viona memberikan nomor telponnya minggu lalu, saat itu juga aku mulai kontekan lagi, namun belum bertemu, dikarenakan belum ada waktu yang cocok. Aku mulai mengatur jadwal pertemuanku dengan Viona, semoga saja pertemuan pertamaku akan berjalan dengan baik.

Setelah semuanya sudah diatur, akhirnya aku bisa bertemu dengan Viona di sebuah cafe. Cafe yang pernah kami singgahi dulu, lalu kami pun mulai mengobrol kecil, kemudian aku mengajak Viona ke sebuah hotel, Viona tidak menolak. Dengan cepat kami pun beranjak pergi ke hotel itu.

Sesampainya kami di hotel, lalu check in dan mendapati kamar No 12 di lantai dua. Setelah di dalam kamar, kami pun mengobrol lagi.

"Akhirnya kita bisa bertemu lagi ya, aku senang ! " Ucap Viona dengan tersenyum.

"Iya, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. " Ucapku.

"Jun, aku sayang kamu ! " Ucap Viona sambil menatap tajam padaku.

"Aku juga sayang kamu Viona. " Jawabku dengan tersenyum sambil menatapnya.

Lalu setelah saling tatap, kamipun berciuman dengan mesra, seakan mengulang lagi masa-masa indah dulu seperti di kosan dulu.

Kami berciuman cukup lama, melepas kerinduan yang lama tidak bertemu, layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai, hasratku kini terobati.

Rasa senang bercampur puas menyelimuti perasaanku sekarang, tak peduli ia sudah menjadi istri orang lain, bagiku terasa sama, masih sama seperti dulu.

Tubuhnya yang indah, mulai ku jamahi, aku mulai memasuki zona terlarangnya, begitu bergairah saat aku mulai merangsangnya, ia pun mulai bersuara kecil, merintih dengan lembut.


_____________


THE END



profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Poetry
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia