News
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
219
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60950c52fe3b0c523b029ddc/akar-jejak-pemikiran-quranisme
Bagi sebagian orang, Quranisme tidaklah asing di telinga mereka. Tapi bagi sebagian lagi, Quranisme tampak begitu asing. Apakah ini sekte baru? Agama baru? Atau apa? Quranisme secara sederhana adalah sebuah gerakan intelektual Islam yang mengusung doktrin bahwa sudah sepatutnya Al-Qur'an diandalkan sepenuhnya sebagai segala hukum agama dan pengertian keagamaan Islam tanpa melibatkan penukilan lain
Lapor Hansip
07-05-2021 16:45

Jejak Akar Pemikiran Quranisme

Akar Jejak Pemikiran Quranisme


Bagi sebagian orang, Quranisme tidaklah asing di telinga mereka. Tapi bagi sebagian lagi, Quranisme tampak begitu asing. Apakah ini sekte baru? Agama baru? Atau apa?

Quranisme secara sederhana adalah sebuah gerakan intelektual Islam yang mengusung doktrin bahwa sudah sepatutnya Al-Qur'an diandalkan sepenuhnya sebagai segala hukum agama dan pengertian keagamaan Islam tanpa melibatkan penukilan lain, terutama hadits. Dalam keyakinan Quranis, Al-Qur'an sudah sangat jelas dan terperinci sebagai satu-satunya dasar pengambilan pendapat hukum, tidak memerlukan tambahan dari nash lain. Walaupun keyakinan ini dengan mudah dianggap sesat oleh kalangan Muslim mainstream, tapi sebenarnya di kalangan internal Quranis sendiri memiliki keragaman pendapat. Sebagian Quranis ada yang berkeyakinan bahwa semua hadits pada dasarnya palsu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tapi bagi sebagian Quranis lainnya, ada yang berkeyakinan bahwa setiap hadits tertentu, yang secara lahiriah tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, dapat diyakini kebenarannya. Itu artinya, Quranis sendiri tidak bisa serta-merta dikatakan sebagai gerakan anti-hadits. Dalam hal ini, Quranis memiliki karakter keyakinan yang sama: Al-Qur'an tidak dapat dipertanyakan lagi kebenarannya, sedangkan hadits harus dipandang secara skeptis dan kritis.

Jadi sejak kapan Quranisme muncul? Apakah benar bahwa Quranisme baru muncul di abad ke-20? Apakah benar bahwa sepanjang sejarah, ummat Muslim senantiasa menggunakan Al-Qur'an dan hadits sebagai sumber hukum agama seperti yang sering kita dengar belakangan ini?

Mengingat banyaknya artikel yang cenderung menempatkan Quranisme secara negatif, dan umumnya artikel-artikel tsb tidak dalam rangka peninjauan historis, maka dalam hal ini, TS terdorong untuk merangkum berbagai literatur kesejarahan yang diharapkan dapat membuka cakrawala pengetahuan dan wawasan kita semua tentang keragaman pemikiran Islam di masa awal kemunculan Islam.

Thread ini tidak dalam rangka mempromosikan maupun mengkritik Quranisme. Thread ini hanya merangkum jejak akar pemikiran Quranisme sepanjang sejarah intelektual Islam, dalam kerangka sejarah itu sendiri. Jika agan-agan ingin membela ataupun menyanggah Quranisme, atau ingin mengetahui lebih detil tentang ajaran dan penafsiran Quranisme, silahkan agan-agan langsung ke thread Anda Bertanya Quranist Menjawab (ABQM).

INDEX THREAD
  1. Penggunaan Ra'yi Tabi'in Senior
  2. Abu Hanifah dan "Proto-Quranisme" (1)
  3. Abu Hanifah dan "Proto-Quranisme" (2)
  4. Rivalitas Ahlur-Ra'yi VS Ahlul-Hadits
  5. Kebangkitan Anti-Pluralisme Islam dan Intoleransi
  6. Munculnya Ahl-e Hadith dan Oposisi Ahl-e Quran
  7. Quranisme dalam Reformisme Islam
  8. Quranisme Hari Ini
  9. Trivia


Versi ringkas pelacakan sejarah Quranisme di thread ini dapat ditonton di channel Youtube Let's Talk Religion.



Bagi yang ingin mendalami sejarah Islam awal dan kritik sejarah Islam, silahkan bergabung ke thread ane: Misteri Islam Awal (MIA).
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pakisal212 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:46
PENGGUNAAN RA'YI
TABI'IN SENIOR


Akar Jejak Pemikiran Quranisme
Peta aktifitas sirkulasi hadits di masa Tabi'in pertengahan


Meskipun gerakan Quranisme modern dipengaruhi oleh gagasan Muhammad Tawfiq Sidqi (1881-1920) di abad ke-20, namun jejak akar pemikiran Quranisme sudah ada sejak abad ke-7, yaitu ketika ra'yi (pendapat pribadi) mengambil peranan besar dalam memutuskan suatu keputusan hukum (fiqh). Sejarah Islam tradisional mencatat bahwa faqih (ahli hukum) generasi salaf yang sangat terkenal mengutamakan ra'yi adalah Abu Hanifah (w. 150 Hijriyyah / 767). Namun, sebenarnya ra'yi telah digunakan pula secara luas sebelum Abu Hanifah. Di antaranya, oleh para Fuqaha'us-Sab'ah (Tujuh Faqih Awal di Madinah) yang umumnya juga merupakan para perawi Tabi'in senior dari thabaqah (generasi) ke-3. Namun, kebanyakan ra'yi Tabi'in senior dinaik-tingkatkan menjadi hadits Nabi, dengan cara: (1) idraj - penyisipan rijal/individu perawi, yang lazimnya menyisipkan nama shahabat; dan (2) rafa' - disambungkan/di-marfu'-kan ke Nabi. Cara rafa' bisa dengan melalui idraj, bisa juga dengan melalui frase sama' ("aku mendengar"), atau bisa juga kombinasi keduanya.

Sebagai contoh, ra'yi 'Urwah bin Zubair dapat ditemukan dalam Al-Muwaththa' Vol. 2 No. 93 tentang batalnya wudhu' apabila menyentuh alat kelamin. Akan tetapi kemudian, ra'yi ini mengalami rafa' (penyambungan isnad - dalam hal ini, dari ucapan 'Urwah menjadi ucapan Nabi) kepada Busrah binti Shafwan dalam Al-Muwaththa' Vol. 2 No. 90 dengan frase samar (sighat tamridh) berupa "dia mendengar Rasulullah SAW berkata". Kemudian, terjadi lagi rafa' dengan frase tegas (sighat jazm) berupa: "dia berkata: "Rasulullah SAW berkata", yaitu dalam Sunan Ibnu Majah Vol. 1 No. 517. Contoh lainnya adalah ra'yi Al-Qasim bin Muhammad pada atsar Sunan Darimi No. 111 tentang khitan. Namun kemudian, ra'yi Al-Qasim ini juga mengalami rafa' menjadi hadits Nabi melalui A'isyah binti Abu Bakar pada hadits Jami' Tirmidzi No. 102. Begitu juga satu bab penuh Al-Muwaththa' Vol. 2 Bab. Thaharah yang mengandung atsar-atsar tentang mimisan tidak membatalkan wudhu', dimana semuanya juga merupakan ra'yi Salim bin 'Abdullah bin 'Umar (lihat Al-Muwaththa' Vol. 2 No. 82).

Tidak hanya Fuqaha'us-Sab'ah, banyak perawi generasi awal lainnya yang juga melakukan ra'yi. Bahkan tidak melulu soal fiqh. Salah satu contohnya justru merupakan syair apokaliptik (prosa ramalan akhir zaman), yaitu ra'yi Mundzir bin Ya'la Ats-Tsauri dalam atsar 'Abdur-Razzaq No. 20730 (Al-Mushannaf Vol. 11 Hal. 352-353) sbb:

أخبرنا عبد الرزاق، عن معمر، عن طارق، عن منذر الثوري قال: ويل للعرب من شر قد اقترب، الأجنحة وما الأجنحة؟ الويل الطويل في الأجنحة، ويل للعرب بعد الخمس والعشرين والمئة، من قتل ذريع، وموت سريع....

"Telah mengabarkan kepada kami 'Abdur-Razzaq, dari Ma'mar, dari Thariq, dari Mundzir Ats-Tsauri, dia berkata: "Celakalah orang-orang Arab dari keburukan yang telah mendekat, sayap apa yang mereka kepakkan? Amat celakalah yang di balik sayap-sayap mereka! Celakalah orang-orang Arab setelah tahun seratus dua puluh lima, siapapun akan terbunuh karena bencana, dan mati cepat ...." dstnya.

Dan lagi-lagi, kita menemukan ra'yi Mundzir bin Ya'la ini juga mengalami rafa' menjadi hadits Nabi dalam Ibnu Abi Syaibah No. 42022, Ahmad No. 8711, Bukhari No. 3346, Muslim No. 2880a, Abu Dawud No. 4249, dstnya.

Belum lagi kita juga harus mempertimbangkan fakta bahwa keberadaan hadits-hadits mudallas (perawinya disembunyikan/disamarkan, aksinya disebut tadlis) dan mursal (isnad-nya terputus/tidak bersambung, aksinya disebut irsal) yang disandarkan kepada Al-Hasan Al-Bashri (w. 110 Hijriyyah / 728) adalah sebenarnya merupakan kumpulan ra'yi Al-Hasan Al-Bashri. Sebagai buktinya, pertama, bahwa Al-Hasan tidak pernah sama sekali bertemu shahabat kecuali di masa kecil saat masih di Madinah. Terdapat salah satu klaim dari Al-Hasan bahwa dirinya menukil riwayat 'Ali bin Abu Thalib langsung, sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar (Tahdzibut-Tahdzib Vol. 2 Hal. 266) dan Suyuthi (Majmu' min Rasa'il Hal. 40). Namun kemudian Ibnu Hajar juga mengutip kritikan Ibnu Al-Madini (Tahdzibut-Tahdzib Vol. 2 Hal. 267) bahwa Al-Hasan tidak pernah bertemu dengan 'Ali. Selengkapnya sbb:

الحسن بعد ذلك وقال الحسن رأيت الزبير يبايع عليا وقال علي بن المديني لم ير عليا الا أن كان بالمدينة وهو غلام ولم يسمع من جابر بن عبد الله ولا من أبي سعيد ولم يسمع من ابن عباس وما رآه قط كان الحسن بالمدينة أيام كان ابن عباس بالبصرة

"Al-Hasan setelah itu berkata: "Aku melihat Zubair ber-bai'at kepada 'Ali", lalu 'Ali bin Al-Madini mengatakan: "Dia [Al-Hasan] tidak pernah melihat 'Ali, melainkan pada saat dia berada di Madinah, dia saat itu [masih] anak-anak dan dia tidak mendengar hadits apapun selain dari Jabir bin 'Abdullah, atau dari "Abu Sa'id", dan dia tidak mendengar apapun hadits dari Ibnu 'Abbas. Al-Hasan juga tidak pernah bertemu dengan Ibnu 'Abbas saat dia sudah di Bashrah".

Bukti kedua, adalah testimoni dari Ibnu Sirin (w. 111 Hijriyyah / 729) yang merupakan kolega Al-Hasan sendiri, sebagaimana dicatat oleh Ahmad bin Hanbal (Al-'Ilal wa Ma'rifatur-Rijal Vol. 1 Hal. 442 No. 989) dan Daruquthni (Sunan Vol. 1 Hal. 179 No. 635). Selengkapnya sbb:

حدثني وهيب، نا ابن عون، عن محمد بن سيرين قال: كان أربعة يصدقون من حدثهم ولا يبالون ممن يسمعون الحديث: الحسن وأبو العالية وحميد بن هلال وداود بن أبي هند

"Telah menceritakan kepadaku Wuhaib, juga Ibnu 'Aun, dari Muhammad bin Sirin, dia berkata: "Ada empat orang yang terpercaya dari hadits-hadits mereka walau mereka tidak peduli darimana mereka mendengar hadits itu: Al-Hasan, Abu 'Aliyah, Humaid bin Hilal, dan Dawud bin Abi Hind".

Bukti ketiga, bahwa sekalipun Al-Hasan memiliki predikat tsiqah (terpercaya), namun murid-muridnya rata-rata memiliki predikat kadzdzab (pendusta) dan matruk (tertolak). Saya pernah merangkum murid-murid Al-Hasan di sini, bahwa sebagian besar dari mereka adalah para pendukung doktrin qadar (doktrin yang menyatakan bahwa manusia memiliki kehendak bebas (free will) menentukan takdirnya sendiri) dimana doktrin ini memang sedang berkembang di awal abad ke-7. Atas dasar ini, riwayat-riwayat Al-Hasan terkontaminasi merupakan ra'yi dari para muridnya.

Artinya, kita menemukan fakta bahwa:
  1. Para faqih paling awal juga mengandalkan ra'yi dalam memberikan pendapat fiqh, tidak melulu mengandalkan hadits.
  2. Ra'yi dari para faqih paling awal ini banyak yang disambung-sambungkan menjadi ucapan/qaul Nabi, sehingga menjadi suatu hadits Nabi.
  3. Tidak menutup kemungkinan bahwa riwayat-riwayat mursal dan mudallas sebenarnya merupakan: (1) ra'yi dari perawi yang dianggap melakukan irsal ataupun tadlis; atau (2) pseudo-ra'yi (ra'yi semu) dari perawi yang dianggap melakukan irsal ataupun tadlis.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayang.dahar dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:46
ABU HANIFAH DAN "PROTO-QURANISME" (1)

Akar Jejak Pemikiran Quranisme


Pada periode berikutnya, yakni di masa Tabi'in junior / peralihan (antara thabaqah ke-6,7, dan 8), seorang faqih dan mutakallim (ahli dialektika) yang paling menonjol adalah Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsabit (w. 150 Hijriyyah / 767) dari thabaqah ke-6, yang digelari "Imam Besar" (Al-Imamul-A'zham) di Kufah. Metode kalam yang dianut oleh Abu Hanifah adalah interpretasi Al-Qur'an berdasarkan penalaran pribadi.

Banyak dari ummat Muslim sendiri yang tidak begitu mengetahui tentang bagaimana sebenarnya pemikiran Abu Hanifah. Al-Khathib Al-Baghdadi mencatat dalam Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 323-423, terdapat suatu riwayat ketika Abu Hanifah memulai terjun di bidang fiqh hingga akhir hayatnya.

أخبرنا الخلال، أخبرنا علي بن عمر الحريري، أن علي بن محمد النخعي حدثهم، قال: حدثنا محمد بن محمود الصيدناني، حدثنا محمد بن شجاع بن الثلجي، حدثنا الحسن بن أبي مالك عن أبي يوسف، قال: قال أَبُو حنيفة: لما أردت طلب العلم جعلت أتخير العلوم وأسأل عن عواقبها، فقيل لي: تعلم القرآن، فقلت: إذا تعلمت القرآن وحفظته فما يكون آخره؟ قالوا: تجلس في المسجد ويقرأ عليك الصبيان والأحداث ثم لا تلبث أن يخرج فيهم من هو أحفظ منك - أو يساويك - في الحفظ فتذهب رياستك. قلت: فإن سمعت الحديث وكتبته حتى لم يكن في الدنيا أحفظ مني؟ قالوا: إذا كبرت وضعفت حدثت واجتمع عليك الأحداث والصبيان ثم لا تأمن أن تغلط فيرمونك بالكذب فيصير عارا عليك في عقبك. فقلت: لا حاجة لي في هذا

"Telah mengabarkan kepada kami Al-Khilal, telah mengabarkan kepada kami 'Ali bin 'Umar Al-Hariri, bahwasanya 'Ali bin Muhammad An-Nakha'i menceritakan kepada mereka, dia berkata: "Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahmud Ash-Shidanani, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syuja'i bin Ats-Tsalji, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Abu Malik, dari Abu Yusuf, dia berkata: "Abu Hanifah berkata: "Ketika aku hendak menuntut ilmu, aku mulai memilih mana bidang ilmu [yang tepat] untukku dan aku bertanya tentang manfaat apa saja dari cabang-cabang ilmu berbeda yang akan kuterima. Lalu aku diberitahu: "Belajarlah Al-Qur'an". Tapi aku bertanya: "Ketika aku memulai belajar Al-Qur'an dan memutuskan untuk menghapalnya, maka bagaimana nantinya?". Jawabnya: "Kamu akan duduk di dalam masjid, lalu anak-anak dan remaja lainnya akan membacakan [Al-Qur'an] kepadamu. Maka, tidak butuh waktu lama, seseorang dari mereka akan mengunggulimu -atau setidaknya berusaha menandingimu- demikianlah". Aku bertanya: "Dan jika aku mendengar sebuah hadits dan menuliskannya hingga tidak ada satupun di dunia ini yang menghapalnya melebihi dari yang aku miliki, lantas bagaimana nantinya?". Jawabnya: "Ketika kamu menua dan lemah, akan datang anak-anak dan remaja, berkumpul untuk mendengarkan hadits-haditsmu. Kamu tidak bisa untuk tidak membuat kesalahan [dalam meriwayatkan hadits], lalu mereka akan menuduhmu berdusta, dan itu akan menjadi aib bagimu selamanya". Aku berkata: "Aku tidak butuh ini [hadits]".

Lalu selanjutnya tentang belajar fiqh sbb:

قلت: فإن تعلمت الفقه؟ قالوا: تسأل وتفتي الناس وتطلب للقضاء، وإن كنت شابا. قلت: ليس في العلوم شيء أنفع من هذا، فلزمت الفقه وتعلمته

"Aku berkata: "Lalu bagaimana dengan belajar fiqh?". Jawabnya: "Kamu akan dimintai pendapat oleh banyak orang dan akan ditawari jabatan sebagai qadhi". Aku berkata: "Tidak ada cabang ilmu yang lebih bermanfaat bagiku selain daripada ini", maka aku memilih fiqh dan mempelajarinya".

Pada masa itu, orang-orang selalu bertanya kepada para faqih di masing-masing daerahnya tentang suatu masalah hukum, dan masing-masing faqih akan menjawabnya. Pada umumnya, jawaban para faqih berimbang, yaitu berdasarkan ra'yi (sebagaimana contoh dari Tabi'in senior di atas) dan berdasarkan nash hadits. Namun tidak bagi Abu Hanifah. Jika masing-masing faqih akan merumuskan berbagai dictum fiqh, namun Abu Hanifah tidak akan merumuskan dictum apapun jika tidak ditemukan problematika. Jadi, pendekatan yang digunakan oleh Abu Hanifah dalam memutuskan suatu perkara fiqh adalah mas'alah (jamak: masa'il) yang artinya "pertanyaan". Maksudnya, setiap putusan fiqh harus didasari oleh adanya sebuah masalah yang ditanyakan. Jika tidak ada masalah, maka tidak perlu ditetapkan suatu hukum tertentu.

Selain masa'il, Abu Hanifah juga menganut doktrin irja'. Doktrin ini adalah keyakinan bahwa iman tidak akan pernah bertambah maupun berkurang. Iman berada hanya pada satu sisi dari dualisme, yang berlawanan dengan kufur. Doktrin ini mengajarkan pula bahwa iman adalah suatu pancaran hati yang tidak lekang oleh lisan dan perbuatan, sehingga iman tidak didasari oleh kredo syahadat dari lisan seseorang, atau dari kebiasaannya mendirikan shalat 5 (lima) waktu. Artinya, doktrin ini menolak menyatakan iman dan kufur dapat diketahui secara lahiriah. Pada abad ke-7 dan ke-8, muncul berbagai kalam (dialektika) dalam lingkungan intelektual Muslim disebabkan munculnya berbagai gagasan tentang makna takdir, sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menggelitik 'aqidah, di antaranya adalah keimanan seseorang. Demikian kemudian muncullah sekte Murji'ah yang mengusung doktrin irja' ini. Meskipun Abu Hanifah bukan seorang Murji'ah, namun Abu Hanifah mendukung doktrin irja' yang menjadi fondasi utama Murji'ah, sehingga Abu Hanifah dijuluki "Murji'ah dalam Sunnah". Tampaknya, doktrin ini dianutnya dari pengaruh gurunya, seorang perawi bernama Hammad bin Abu Sulaiman. Abu Hanifah senantiasa duduk di dalam majlis Hammad dan selalu bersepakat/memberi suara bulat kepada hadits-hadits yang dia riwayatkan (Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 331). Hammad adalah perawi yang juga mengusung doktrin irja', memperoleh predikat dha'if, dan banyak meriwayatkan hadits (katsirul-hadits) dari Ibrahim An-Nakha'i sebagaimana dicatat oleh Ibnu Sa'ad (Thabaqatul-Kubra' Vol. 6 Hal. 232). Tidak hanya doktrin irja', Abu Hanifah juga mengembangkan teknik-teknik ra'yi-nya selama berguru dengan Hammad.

Adapun ketika Abu Hanifah menetap di Kufah, seorang perawi hadits terkenal menjadi rival/oposisinya. Dia adalah Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 Hijriyyah / 778), seorang perawi dari thabaqah ke-7. Keduanya saling meng-counter satu sama lain, berbeda pendapat, berbeda teknik, berbeda prinsip, namun tidak saling bermusuhan. Al-Khathib juga mencatat (Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 344), bahwa Abu Dawud pernah mengatakan:

عن ابن داود، قال: إذا أردت الآثار - أو قال: الحديث - وأحسبه، قال: والورع - فسفيان، وإذا أردت تلك الدقائق، فأبو حنيفة

"Dari Abu Dawud, dia berkata: "Jika kamu menginginkan atsar..." —atau dia berkata: "...hadits",— "dan menghitung banyaknya", —[atau] dia berkata: "dan sikap wara'-nya"—, maka [datanglah kepada] Sufyan, !namun jika kamu menginginkan kecermatan [hukum], maka [datanglah kepada] Abu Hanifah".

Riwayat keilmuan Abu Hanifah memang unik dan kadang-kadang membingungkan. Dia tidak menggunakan hadits sebagai dasar hukum dan kalam yang diinterpretasinya, namun beberapa riwayat mengatakan bahwa Abu Hanifah akan mendengarkan dahulu suatu atsar sebelum memutuskan suatu perkara hukum. Misalnya dalam caranya menilai Jabir Al-Ju'fi sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar (Tahdzibut-Tahdzib Vol. 2 Hal. 48) sbb:

ما لقيت في من لقيت أكذب من جابر، ما أتيته بشيء من رأيي إلا جاءني فيه بالأثر

"Apa yang kutemukan pada siapapun yang bertemu dari Jabir adalah dusta, aku tidak membawa sesuatu apapun dari ra'yi-ku kecuali telah datang kepadaku dengan atsar".

Namun, walaupun demikian, tetap saja tidak ada yang menyangkal preferensi ra'yi pada diri Abu Hanifah yang menomortigakan hadits setelah ayat-ayat Al-Qur'an dan penalaran akal.

Bukti pertama, adalah banyaknya testimoni negatif terhadap Abu Hanifah dari kalangan Ahlul-Hadits daripada testimoni positif. Meskipun kita dapat menemukan testimoni yang positif untuk Abu Hanifah dari para 'ulama belakangan, seperti misalnya yang dicatat oleh Al-Khathib Al-Baghdadi (Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 331) dimana dia dipuji karena kemampuan bahasa Arabnya dalam menelaah makna Al-Qur'an dengan hasil yang tidak bertentangan dengan sunnah), namun kita lebih banyak menemui testimoni negatif yang cukup keras dari para Ahlul-Hadits terkait sikapnya yang menomortigakan hadits. Perlu diingat bahwa hadits di masa itu masih berbentuk oral, Abu Hanifah juga diketahui menyampaikan ilmunya menggunakan tradisi penyampaian oral seperti hadits, sehingga para 'ulama meragukan riwayat-riwayat Abu Hanifah yang diduga tercampur merupakan ra'yi Abu Hanifah sendiri. Beberapa testimoni negatif tsb dapat dirangkum sbb:

Syu'bah bin Al-Hajjaj (w. 160 Hijriyyah / 777) pada No. 126 sbb:
كف من تراب خير من أبي حنيفة
"Membersihkan debu itu lebih baik daripada [mendengarkan] Abu Hanifah".

Yahya bin Sa'id Al-Qaththan (w. 198 Hijriyyah / 814) pada No. 13 sbb:
هذا مجلس لا أعود فيه أبدا
"[Majlis Abu Hanifah] ini adalah majlis yang tidak akan pernah aku kembali memasukinya lagi".

Yahya bin Ma'in (w. 233 Hijriyyah / 848) pada No. 142 sbb:
كان أبو حنيفة ثقة لا يحدث بالحديث إِلا ما يحفظ ولا يحدث بما لا يحفظ
"Abu Hanifah itu tsiqah, [tapi] jangan menceritakan haditsnya kecuali dari huffazh, dan jangan menceritakannya dari yang bukan huffazh.
No. 145 sbb:
كان يضعف في الحديث
"Dia dha'if dalam haditsnya".

Ahmad bin Hanbal (w. 241 Hijriyyah / 856) pada No. 135 sbb:
يسأل أصحاب الحديث، ولا يسأل أصحاب الرأي، ضعيف الحديث خير من رأي أبي حنيفة
"Bertanyalah kepada as'habul-hadits, jangan bertanya kepada as'habur-ra'yi, hadits yang dha'if lebih baik daripada ra'yi Abu Hanifah".
No. 136 sbb:
حديث أبي حنيفة ضعيف، ورأيه ضعيف
"Hadits Abu Hanifah itu dha'if, ra'yi-nya pun dha'if".

Ibnu Mubarak (w. 181 Hijriyyah / 797) pada No. 107 sbb:
كتبت عن أبي حنيفة أربعمائة حديث إذا رجعت إلى العراق إن شاء الله محوتها
"Aku menulis dari Abu Hanifah empat ratus hadits, apabila aku kembali dari Iraq, insyallah akan kuhapus itu semua".
No. 108 sbb:
لئن رجعت من هذه لأخرجن أبا حنيفة من كتبي
"Jika aku kembali dari sini, aku akan mengeluarkan nama Abu Hanifah dari kitab-kitabku".
No. 111 sbb:
لحديث واحد من حديث الزهري أحب إلي من جميع كلام أبي حنيفة
"Satu hadits dari hadits Az-Zuhri lebih kucintai daripada sekumpulan ucapan (kalam) Abu Hanifah".
(hanya satu pujian kepada Abu Hanifah dalam kapasitasnya sebagai imam madzhab yang diatribusikan kepada Ibnu Mubarak, yaitu No. 105)



Dari semua testimoni negatif di atas, yang paling menarik datang dari Yahya bin Sa'id Al-Qaththan, dimana dia bergabung duduk di majlis Abu Hanifah. Selama Abu Hanifah mengajar, ada seseorang bertanya kepada Abu Hanifah tentang sebuah hadits. Selengkapnya sbb:

فقد جاءه رجل قبل هذا فسأله عن مسألة فأجابه. قال: فما رواية رويت عن رسول الله ﷺ: أفطر الحاجم والمحجوم؟ فقال: هذا سجع. فقلت في نفسي: هذا مجلس لا أعود فيه أبدا

"Seorang pria mendatanginya [Abu Hanifah] dengan membawa pertanyaan dari sebuah masalah, dan dia [Abu Hanifah] menjawabnya. [Pria] itu berkata: "Maka bagaimana pendapatmu dengan riwayat dari Rasulullah SAW: "Batallah [puasa] orang yang membekam dan orang yang dibekam". Maka [Abu Hanifah] berkata: "Ini cuma sajak". Maka aku [Yahya] berkata dalam hati: "Ini adalah majlis yang tidak akan pernah aku kembali memasukinya lagi".

Cara Abu Hanifah mengkritik hadits seperti ini bukanlah satu-satunya. Beberapa atestasi lainnya menunjukkan fenomena serupa. Misalnya dalam Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 388 (no. 9) sbb:

حدثني أبو بكر بن أبي الأسود، عن بشر بن المفضل، قال: قلت لأبي حنيفة: نافع، عن ابن عمر، أن النبي ﷺ قال: البيعان بالخيار ما لم يفترقا، قال: هذا رجز

"Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abu Al-Aswad, dari Bisyir bin Mufadhal, dia berkata: "Aku berkata kepada Abu Hanifah: "[Hadits dari] Nafi', dari Ibnu 'Umar, bahwasanya Nabi SAW berkata: "Dua orang diperbolehkan khiyar dalam jual-beli selama keduanya belum berpisah". Dia [Abu Hanifah] berkata: "Ini cuma rajaz (rima pantun)".

Hadits yang dimaksud di atas adalah Bukhari No. 1967 tentang dibolehkannya khiyar (memilih-milih dan menimbang suatu barang) sebelum akad jual-beli. Jawaban Abu Hanifah cukup enteng, bahwa hadits ini menurut Abu Hanifah hanyalah rajaz, yaitu salah satu jenis rima dalam persajakan.

Kemudian terdapat pula atestasi lain yang dicatat Al-Khathib (Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 389) dimana Abu Hanifah mendebat mengenai makna sebuah hadits tentang "wudhu' adalah sebagian dari iman", dimana menurutnya, dictum yang dimaksud adalah "bersuci adalah sebagian dari iman". Penjelasan tsb mengandung unsur doktrin irja' bahwa iman tidak bisa berkurang/bertambah. Selengkapnya sbb:

قال يحيى بن آدم: ذكر لأبي حنيفة هذا الحديث: أن النبي ﷺ قال: الوضوء نصف الإيمان، قال: لتتوضأ مرتين حتى تستكمل الإيمان؟ قال إسحاق: فقال يحيى بن آدم: الوضوء نصف الإيمان، يعني نصف الصلاة، لأن الله تعالى سمى الصلاة إيمانا، فقال: (وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ)، يعني صلاتكم، فالطهور نصف الإيمان على هذا المعنى. إذ كانت الصلاة لا تتم إلا به
"Yahya bin Adam berkata: "Aku menyebutkan sebuah hadits kepada Abu Hanifah: "Bahwasanya Nabi SAW berkata: "Wudhu' itu sebagian dari iman". Dia [Abu Hanifah] berkata: "Kalau begitu mengapa kamu tidak ber-wudhu' saja dua kali sehingga menjadi sempurna imanmu?". Maka Ishaq melanjutkan: "Yahya bin Adam lantas berkata: "Wudhu' adalah sebagian dari iman, sebagiannya lagi adalah shalat, karena Allah ta'ala menyebut: shalat adalah iman". Maka dia [Abu Hanifah] berkata: ([QS 2:143] "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu"), yaitu shalatmu. Maka makna sebenarnya, bersuci adalah sebagian dari iman. Karena shalat tidak akan sempurna kecuali dengan bersuci".

Rivalitas dan kontestasi antara Ahlur-Ra'yi dengan Ahlul-Hadits adalah polemik advokasi hukum sejak masa pemerintahan Al-Manshur (akan dibahas di bawah). Para pendukung Abu Hanifah, yang merupakan cikal-bakal madzhab fiqh Hanafi, berada pada kubu Ahlur-Ra'yi.

Bersambung .....
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan 4 lainnya memberi reputasi
4 1
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:47
ABU HANIFAH DAN "PROTO-QURANISME" (2)


.... Lanjutan

Itu bukti pertama. Bukti kedua yang tidak dapat terbantahkan bahwa Abu Hanifah sangat enggan menggunakan nash hadits dalam mengeluarkan pendapat fiqh-nya, adalah dari tulisan Abu Hanifah sendiri. Abu Hanifah menulis kitab berjudul Al-'Alim wal-Muta'allim (judulnya hampir ambigu dengan kitab 'Adabul-'Alim wal-Muta'allim karya K.H. Hasjim Asjari). Kitab kalam Islam yang misterius dari Abu Hanifah ini ber-genre balaghah (retorika) yang termasuk karya tulis Murji'ah yang pertama kali. Kitab ini ditulis dalam bentuk dialog antara seorang 'alim ("orang yang berpengetahuan") dengan muta'allim ("orang yang menuntut pengetahuan"), atau antara guru-murid, dimana guru tsb diatribusikan sebagai Abu Hanifah, sedangkan muridnya diatribusikan sebagai Abu Muqatil. Pada kitab ini, sang 'alim menyampaikan berbagai ajarannya tentang 'aqidah, sunnah, fiqh, adab, dan syarah melalui penukilan Al-Qur'an dan penafsirannya melalui penalaran akal/rasio murni dan pendekatan linguistik, tanpa ditemukan sedikitpun penukilan hadits.

Salah satu contohnya, ketika sang muta'allim (Abu Muqatil) yang mengeluh kepada sang 'alim (Abu Hanifah) tentang sedikitnya amalan-amalan fiqh yang diperolehnya selama mengembara, dan dia berkeinginan sang 'alim memberitahu banyak tentang 'ilm ("pengetahuan", istilah yang merujuk prototype ilmu-ilmu agama / awa'il). Sang 'alim menjawab (Al-'Alim wal-Muta'allim Hal. 9) sbb:

نعم، ما رأيت في ابتحائك عما يغنيك، واعلم ان العمل تبع للعلم كما أن الاءتمناء تبع للبصر، فالعلم مع العمل اليسير أنفع من الجبل مع العمل المكثير، ومثل ذلك الزاد القليل الذي لابد منه في المفازة مع الهداية بها أنفع من الجهالة مع الزاد الكثير ولذلك قال الله تعلى: ( قُلْ هَلْ اِسْتَوِى الذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ) و ( إِنمَا يَتَذَكرُ أُولُو الْأَلْبَابِ )

"Ya, aku tidak melihat apa yang kamu cari akan memperkaya [pengetahuan]-mu, ketahuilah bahwa tindakan ('amal) harus didasari oleh pengetahuan ('ilm), sama seperti iman yang didasari oleh cara pandang. 'Ilm dengan sedikit 'amal lebih bermanfaat daripada gunung yang dipenuhi 'amal. Demikian pula, sedikit peraturan yang diperlukan disertai dengan bimbingan ['ilm] di dalamnya lebih bermanfaat daripada lebih banyak tidak tahu, dan oleh karena itu Allah telah berfirman: "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS 39:9) dan "Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran" (QS 13:19)".

Dengan cara inilah, Abu Hanifah juga tidak menganggap Yahudi dan Kristen adalah kafir. Dia menulis (Al-'Alim wal-Muta'allim Hal. 11-13) tentang makna iman ("percaya") dengan 'amal ("tindakan/perbuatan"). Abu Hanifah ditanya tentang status orang-orang Yahudi dan Kristen, apakah mereka mu'minin atau kafir. Abu Hanifah menjawabnya dengan teknik qiyas dari Al-Qur'an, tanpa juga sedikitpun menukil hadits. Selengkapnya sbb:

الست تعلم ان رسول الله صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين لم يكونوا على اديان مختلفة ولم يكن كل رسول منهم يأمر قومه بترك دين الرسول الذي كان قبله لأن دينهم كان واحداً، وكان كل رسول يدعو الى شريعة نفسه وينهى عن شريعة الرسول الدءي قبله لأن شرائعهم كثيرة مختلفة، ولذلك قال الله تعلى: ( لِكُل جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا، وَلَوْ شَاءَ اللهُ لَجَعَلَكُمْ أُمةً وَاحِدَةً )، واوصاهم جميعا باقامة الدين وهو التوحيد وان لا يتفرقوا لأنه جعل دينهم واحداً، فقال: ( شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الديْنِ مَا وَصىٰ بِهِ نُوْحًا وَالذِيْ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ، أَنْ أَقِيْمُوا الديْنَ وَلَا تَتَفَرقُوا فِيْهِ )، وقال سبحانه: ( وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوْحِيَ إِلَيْهِ أَنهُ لَا إِلهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ )، وقال جل وعلا: ( لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ، ذلِكَ الديْنُ الْقَيمُ )، اى لا تبديل لدينه، فالدين لم يبدل ولم يحول ولم يغير، والشرائع قد غيرت وبدلت لانه رب شيء قد كان حلالا لأناس قد حرمه الله عز وجل على آخرين، ورب امر امر الله به اناسا ونهى عنه آخرين، فالشرائع كثرة مختلفة، والشرائع هي الفرائض مع انه لو كان العمل بجميع ما امر الله به والكف عن جميع ما نهى الله عنه دينه لكان كل من ترك شيئا مما امر الله تعالى به او ركب شيئا مما نهى الله عنه تاركا لدينه ولكان كفرا، وإذا صار كافرا ذهب الذي بينه وبين المسلمين من المناكحة والموارثه واتباع الجنائز واكل الذبائح واشباه هذا لأن الله تعالى اوجب ذلك كله بين المؤمنين من اجل الايمان الذي به حرم الله تعالى دماءهم وأموالهم الا بحدث، وإنما امر الله تعالى المؤمنين بالفرائض بعد ما اقروا بالدين، فقال سبحانه: ( قُلْ لِعِبَادِيَ الذِيْنَ آمَنُوا يُقِيْمُوا الصلَاةَ )، فقال الله تعالى: ( يَا أَيهَا الذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ ) و ( يَا أَيهَا الذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ) واشباه هذا، فلو كانت هذه الفرائض هي الأيمان لم يسمهم مؤمنين حتى يعملوا بها وقد فصل الله تعالى الايمان من العمل، فقال تعالى: ( الذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصالِحَاتِ )، وقال: ( بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ ) اى مع إيمانه، وقال: ( وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ ) فجعل الايمان غير العمل، فالمؤمنون من قبل ايمانهم بالله يصلون ويزكون ويصومون ويحجون ويذكرون الله وليس من قبل صلاتهم وزكاتهم وصومهم وحجهم بالله يؤمنون، وذلك بأنهم آمنو ثم عملوا فكان عملهم بالفرائض من قبل إيمانهم بالله، ولم يكن إيمانهم من قبل عملهم بالفرائض، ومثل ذلك ان الرجل إذا كان عليه الدين وهو يقر بالدين ثم يؤدى، وليس يؤدى ثم يقر بالدين، وليس إقراره من قبل ادائه ولكن اداؤه من قبل اقراره، والعبيد من قبل اقرارهم لموالهم بالعبودية ويعلمون لهم، وليس من قبل عملهم يقرون لهم بالعبودية، وذلك أنه كم من انسان يعمل لآخر، ولا يكون بذلك مقرا له بالعبودية، ولا يقع عليه اسم الاقرار بالعبودية، وآخر قد يكون مقرا بالعبودية ولا يعمل فلا يذهب عنه اسم اقراره بالعبودية
"Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya Rasulullah, shalawatullahu wasallamahu 'alaihim ajma'in, tidak berbeda din? Dan tidak pernah ada setiap Rasul dari masing-masing din mereka memerintahkan ummatnya untuk meninggalkan din Rasul yang ada sebelum dia, karena pada dasarnya din mereka adalah satu, dan setiap Rasul menyerukan syari'at-nya masing-masing dan menolak syari'at Rasul sebelumnya, karena syari'at mereka banyak mengalami perbedaan pendapat. Terkait itu, Allah berfirman: "Untuk masing-masing ummat di antara kamu, Kami berikan syari'at dan manhaj-nya yang jelas, [yang] jika sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu sudah dijadikan-Nya satu ummat [saja]" (QS 5:48). Dan Dia menganjurkan mereka semua [para Rasul] untuk menegakkan din, yakni [din] tauhid, dan tidak berpecah-belah karena Dia telah menjadikan din mereka satu, sebagaimana firman[-Nya]: "Dia telah men-syari'at-kan bagi kamu sebuah din yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu [Muhammad], dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan 'Isa yaitu: "Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah-belah terhadapnya" (QS 42:13). Dan firman Yang Maha Suci: "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya: "Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian" (QS 21:25), dan [lagi] firman Yang Maha Agung lagi Perkasa: "Tidak ada yang berubah dari yang telah diciptakan Allah, itu semua din yang lurus" (QS 30:30), maksudnya: Tidak usah berpindah dari din-Nya, din tidak berubah, tidak berganti, dan tidak berbeda. Yang berubah adalah syari'at-nya, dan perubahan itu karena Tuhan menghendaki demikian. Ada yang dihalalkan Allah bagi sekelompok orang, namun diharamkan-Nya untuk sekelompok orang lainnya, dan Tuhan memerintahkan suatu perintah Allah bagi sekelompok orang dan melarangnya bagi kelompok lainnya dari sekelompok orang lainnya. Maka itulah banyak syari'at berbeda. Dan syari'at adalah suatu ketetapan yang dengan itu semua orang dapat meng-'amal-kan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Din-Nya tidak sekali-kali untuk setiap orang yang meninggalkan sesuatu yang diperintahkan Allah ataupun menjalankan sesuatu yang dilarang Allah, dan itu dapat menyebabkan kekufuran. Dan jika seseorang hanya mengkufuri salah satu di antara din-nya dengan [din] Muslimin, sedang dia masih menjalankan [ketentuan] pernikahan, warisan, mengikuti [ketentuan] penguburan, dan memakan makanan sembelihan dan sejenisnya, itu karena tidak lain Allah Yang Maha Tinggi yang telah menuntut ini semua di antara Mu'minin, karena iman terhadap apa yang dilarang Allah-lah yang telah mengharamkan darah dan harta mereka, kecuali oleh suatu sebab. Sebaliknya, Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kaum Mu'minin untuk menjalankan ketetapan[-Nya] setelah mereka tentu saja berikrar kepada din-nya, sebagaimana firman Yang Maha Suci: "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat" (QS 14:31), dan [lagi] firman Allah Yang Maha Tinggi: "Hai orang-orang yang beriman, telah ditetapkan bagimu [hukum] qishash" (QS 2:178) dan "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah" (QS 33:41), dan seterusnya. Dan jika ketetapan ini bukan iman, maka Dia tidak akan menyebut mereka Mu'minin sampai mereka meng-'amal-kan [ketetapan]-Nya, karena Allah telah memisahkan antara iman dengan 'amal, sebagaimana firman Yang Maha Tinggi: "Orang-orang yang beriman dan yang ber-'amal saleh" (QS 103:3), dan lagi firman[-Nya]: "[Surga itu] untuk siapapun yang menyerahkan diri dan menghadapkan wajahnya untuk Allah, sedang dia orang [yang berbuat] bajik" (QS 2:112), maksudnya: disertai imannya, [juga] firman[-Nya]: "Dan siapapun yang menginginkan kehidupan di akhirat dan berusaha menuju itu, sedang dia Mu'min" (QS 17:19), jadi Dia menjadikan iman selain 'amal. Maka [yang disebut] Mu'minin itu adalah mereka yang beriman kepada Allah terlebih dahulu, lalu shalat, zakat, puasa, haji, dan mengingat Allah, bukan mereka yang shalat, puasa, haji terlebih dahulu, lalu beriman kepada Allah. Keimanan mereka bukanlah karena [menjalankan] ketetapan[-Nya]. Jadi, setelah beriman, lalu ber-'amal [saleh]. Maka, yang benar itu orang beriman baru meng-'amal-kan ketetapan[-Nya], bukan meng-'amal-kan ketetapan[-Nya] baru beriman. Perumpamaannya seperti seseorang berhutang, maka dia mengakui hutangnya terlebih dahulu, baru melunasinya. Bukan melunasinya terlebih dahulu, baru mengakui hutangnya".

Untuk atestasi kedua di atas, dapat tampak dengan jelas beberapa unsur doktrin irja'. Abu Hanifah yang dijuluki sebagai "Murji'ah dalam Sunnah" memiliki pendapat bahwa 'amal seseorang tidak berhubungan dengan iman. Iman saja, atau 'amal saja, belum menjamin keselamatan seseorang di akhirat. Keduanya harus berjalan beriringan, dan bagi Abu Hanifah, iman seharusnya mendahului 'amal. Pada atestasi di atas, suatu 'amal yang tidak didasari iman adalah sia-sia, tapi tidak seorang pun dapat mengetahui keimanan seseorang. Konteks zaman dari literatur ini adalah fakta bahwa pada saat itu orang-orang Yahudi dan Kristen memiliki penampilan dan tradisi yang serupa dengan Muslim. Menariknya, berbagai ritual seperti pernikahan, waris-mewaris, hingga penguburan, adalah ritual yang umum digunakan masyarakat 'Abbasiyyah, apapun agamanya. Dan yang terpenting adalah cara Abu Hanifah memaknai din bukan sebagai agama, melainkan seperti kredo (creed), dan kredo ini mengusung doktrin yang sama, yaitu Tauhid. Bagi Abu Hanifah, perbedaan antara Muslim dengan Yahudi dan Kristen bukan terletak pada din-nya, yang dia sebut sama-sama Tauhid, melainkan pada syari'at (kodifikasi hukum/peraturan) dan manhaj (konsistensi). Dan lagi, dengan merujuk QS 5:48, Abu Hanifah tidak menyebut salah satu syari'at dan manhaj sebagai yang paling benar. Hal ini karena keyakinan irja' bahwa iman tidak bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana kufur tidak bisa bertambah dan berkurang, sehingga memperbanyak 'amal tidak berarti apa-apa tanpa diikuti iman kepada din Tauhid ini. Kita dapat melihat pula apa yang dimaksud sebagai syari'at dan manhaj bagi Abu Hanifah adalah masalah 'amal, yang tidak berhubungan dengan iman. Pada akhir atestasi di atas, Abu Hanifah menggunakan teknik mitsal (perumpamaan), salah satu teknik turunan dari teknik qiyas yang biasanya tidak merujuk pada ayat Al-Qur'an, melainkan merujuk pada nalar murni. Teknik ini juga sebenarnya ada di banyak ayat Al-Qur'an yang sering mengumpamakan sesuatu dengan sesuatu lainnya, namun untuk penggunaannya dalam kalam, Abu Hanifah yang terlihat paling menonjol menggunakannya.

Berkenaan dengan teknik qiyas (analogi), Abu Hanifah memang dikenal sebagai faqih yang pertama kali menggunakan teknik ini untuk mengeluarkan ra'yi dan kalam-nya. Secara teknis, qiyas adalah upaya menganalogikan suatu gejala/fenomena pada realitas dengan suatu diskursus yang ada di dalam Al-Qur'an untuk menentukan suatu dictum/hujjah (pendapat hukum). Penggunaan teknik ini memungkinkan seorang 'ulama untuk memberikan analogi yudisial, deduksi general, dan/atau silogisme dalam bentuk jukstaposisi (perbandingan dua elemen berbeda untuk diukur persamaan hakikatnya). Jika qiyas di zaman sekarang ini telah diatur syarat dan ketentuannya (yang umumnya mengikuti madzhab Syafi'i), seperti misalnya qiyas untuk menentukan mana pendapat shahabat yang lebih layak dijadikan sunnah, atau madzhab Hanbali yang menggunakan qiyas untuk yang tidak ditemui dari pendapat shahabat, maka qiyas di masa Abu Hanifah masih berbentuk prototype tanpa aturan baku. Dan sepanjang sejarah Islam klasik, Abu Hanifah lah yang diketahui pertama kali menggunakan teknik qiyas.

Dari kedua bukti di atas, kita mengetahui bahwa Abu Hanifah terbiasa mengeluarkan pendapat dengan mengutip Al-Qur'an, lalu menafsirkannya melalui penalaran, tanpa sedikitpun menggunakan hadits. Cara Abu Hanifah ini merupakan "Proto-Quranisme" yang muncul di abad ke-7.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:47
RIVALITAS AHLUR-RA'YI
VS AHLUL-HADITS


Akar Jejak Pemikiran Quranisme


Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas tentang peran besar Abu Hanifah dalam menginspirasi pemikiran "Proto-Quranisme". Khalifah Al-Manshur (754-775) mendirikan sebuah lembaga peradilan yang disebut Qadhi'al-Qudha'at ("Hakim Agung"). Di lembaga itu, Al-Manshur mempersilahkan semua ahli hukum menjadi advokat secara ad hoc, siapapun, baik itu faqih, qanun Kristen, maupun filsuf dan ahli dialektika (mutakallimin) lainnya. Dengan segera, advokasi di Qadhi'al-Qudha'at terpecah menjadi 2 (dua) fraksi/kubu:
  1. Kubu Ahlur-Ra'yi, yaitu para faqih, qanun Kristen, filsuf, dan siapapun ahli hukum yang mengandalkan ra'yi untuk memberikan pendapat hukum. Tokoh paling menonjol adalah Abu Hanifah, kemudian diteruskan oleh muridnya, Abu Yusuf (w. 182 Hijriyyah / 798), sebelum akhirnya kubu ini didominasi oleh para 'ulama Mu'tazilah yang sangat mengandalkan penalaran akal/rasio murni (dan kelompok Hanafi akhirnya keluar dari Ahlur-Ra'yi dan hanya berfokus pada pendidikan).
  2. Kubu Ahlul-Hadits, yaitu para faqih yang mengandalkan nash hadits secara total untuk memberikan pendapat hukum. Tokoh yang paling menonjol adalah Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 Hijriyyah / 778), kemudian diteruskan oleh Yahya bin Sa'id (w. 198 Hijriyyah / 813), dan diakhiri oleh Ahmad bin Hanbal (w. 241 Hijriyyah / 855) sebelum akhirnya dia dipenjara oleh khalifah Al-Ma'mun (813-833).

Sebagaimana telah dibahas di bab sebelumnya, bahwa kubu Ahlul-Hadits sangat menentang kubu Ahlur-Ra'yi. Kritikan pedas yang negatif terhadap Abu Hanifah dari mayoritas kubu Ahlul-Hadits menyebabkan terjadinya rekonsiliasi di kalangan internal Hanafi. Abu Yusuf sendiri kemudian mulai terbuka dengan penggunaan riwayat (hadits, atsar, dan akhbar), di samping tetap dalam prinsip mengutamakan ra'yi. Namun, murid-murid Abu Hanifah lainnya, sibuk memperbaiki citra/reputasi Abu Hanifah.

Citra Abu Hanifah pada mulanya sangat positif, terbukti dari gelar "Imam Besar" (Imamul-A'zham) yang disandangnya dari penduduk Baghdad. Namun, bagi kalangan Ahlul-Hadits, Abu Hanifah mendapat citra yang negatif, sebagaimana telah saya rangkum pada bab sebelumnya. Citranya semakin negatif ketika dia akhirnya dipenjara oleh khalifah Al-Manshur hingga akhir hayatnya. Sebab-sebab pemenjaraan Abu Hanifah oleh Al-Manshur pun sebenarnya simpang-siur, setidaknya ada 2 (dua) versi.

Versi pertama dicatat oleh Al-Khathib Al-Baghdadi (Tarikh Baghdad Vol. 13 Hal. 325) sbb:

أشخص أَبُو جعفر أمير المؤمنين أبا حنيفة، فأراده على أن يوليه القضاء فأبَى، فحلف عليه ليفعلن، فحلف أَبُو حنيفة أن لا يفعل، فحلف المنصور ليفعلن، فحلف أَبُو حنيفة أن لا يفعل، فقال الربيع الحاجب: ألا ترى أمير المؤمنين يحلف! فقال أَبُو حنيفة: أمير المؤمنين على كفارة أيمانه أقدر مني على كفارة أيماني، وأبَى أن يلي، فأمر به إلى الحبس في الوقت.

"Amirul-Mu'minin Abu Ja'far [Al-Manshur] mengenal Abu Hanifah, lalu dia [Al-Manshur] menunjuknya menjadi qadhi, namun dia [Abu Hanifah] menolaknya. Kemudian dia [Al-Manshur] bersumpah untuk memastikannya [sebagai qadhi], namun Abu Hanifah juga bersumpah untuk menolaknya [menjadi qadhi] sampai kapanpun. Abu Hanifah berkata: "Suatu kafarat (sanksi untuk menebus kesalahan/dosa) atas diriku lebih pantas dijatuhkan oleh Amirul-Mu'minin daripada aku yang menjatuhkan kafarat atas diriku sendiri". Karena dia [Abu Hanifah] menolak perintahnya [menjadi qadhi], maka dia [Al-Manshur] memerintahkan agar dia [Abu Hanifah] dipenjara pada saat itu".

Sementara itu pada versi kedua, Abu Hanifah diceritakan dipenjara atas tuduhan telah terlibat dalam dukungan pemberontakan oposisi 'Alawiyyin yang dipimpin oleh Muhammad An-Nafs Az-Zakiyyah (w. 145 Hijriyyah / 762) pada pemberontakan 'Alawiyyin (762-763) di Madinah. Dia kemudian ditangkap dan dipenjara di Baghdad pada 2 (dua) tahun menjelang kematiannya (Tarikh Daulatul-'Aliyyah Hal. 40, dan dirangkum dalam GanaIslamika). Selengkapnya sbb:

وفي سنة ١٤٥ بايع أهل المدينة محمد بن عبد الله بن الحسن بن الحسن ـــ الملقب بالنفس الزكية ـــ بالخلافة فارسل إليه أبو جعفر عيسى بن موسى فحاربه وقتله مع كثير من أهل البيته في رمضان من السنة المذكورة، وفي أثناء ذلك كان أخوه إبراهيم قد قصد البصرة وطلب البيعة من أهلها لأخيه محمد النفس الزكية فبايعوه ثم أرسل من استولى على الأهواز وواسط ولما أتاه خبر قتل أخيه سار بجموعة قاصدا الكوفة فلاقاه عيسى بن موسى وكان قد عاد من المدينة بعد موت محمد فحاربه حتى قتله، وبذلك انتهت هذه الفتنة وأمن المنصور جانب العلويين، وفي أثناء هذه الفتن توفي ببغداد الإمام الأعظام أبو حنيفة النعمان رضي الله عنه، ثم تفرغ المنصور لبناء مدينة بغداد وانتقل إليها وتوفي في ٢ ذي الحجة سنة ١٥٨
"Pada tahun 140, para penduduk Madinah ber-bai'at kepada Muhammad bin 'Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan — yang dipanggil "An-Nafs Az-Zakiyyah" — sebagai khalifah, lalu Abu Ja'far [Al-Manshur] mengirim pasukan 'Isa bin Musa ke sana, dan dia berperang dan berhasil membunuhnya bersama keluarganya di bulan Ramadhan pada tahun tersebut. Sedangkan saudaranya, Ibrahim, berangkat ke Bashrah dan meminta bai'at dari penduduk di sana atas nama saudaranya, Muhammad An-Nafs Az-Zakiyyah, lalu mereka ber-bai'at kepadanya, lalu dia mengutus seseorang untuk merebut Ahvaz dan Wasith. Dan ketika datang kepadanya berita bahwa saudaranya telah terbunuh, dia [Ibrahim] membawa pasukan tambahan dari Kufah untuk menghadapi pasukan 'Isa bin Musa. Dia kembali ke Madinah setelah kematian Muhammad [An-Nafs Az-Zakkiyyah], dia berperang di sana hingga dia ['Isa] membunuhnya [Ibrahim]. Dengan demikian, perang fitnah ini berakhir dan Al-Manshur menangkap semua pendukung 'Alawiyyin. Akibat dari fitnah ini, Imam Besar Abu Hanifah An-Nu'man dipenjara sampai wafat di Baghdad. Maka, Al-Manshur mengosongkan Baghdad dan membangun ulang kota itu, lalu memindahkan [pemerintahan]-nya ke sana hingga [Al-Manshur] wafat pada tanggal 2 Dzulhijjah tahun 158".

Tampaknya, yang membuat Abu Hanifah dipenjara adalah tuduhan bahwa dia membantu secara moral dalam memberikan pasukan tambahan bagi Ibrahim saat dia menetap di Kufah dalam rangka melawan 'Isa bin Musa di Madinah yang telah membunuh Muhammad An-Nafs Az-Zakiyyah.

Bagaimanapun juga, sebagian besar murid Abu Hanifah umumnya berfokus pada perbaikan reputasi Abu Hanifah. Untuk memperbaiki citra Abu Hanifah, para Hanafi awal berusaha mencitrakan nama Abu Hanifah secara prestisius sebagai seorang perawi yang handal dengan memalsukan beberapa isnad hadits untuk disisipkan nama Abu Hanifah di dalamnya. Contoh di antaranya adalah Ahmad bin Muhammad Al-Himmani, salah seorang murid Abu Hanifah yang meriwayatkan hadits-hadits melalui nama Abu Hanifah, kemudian dia diberi predikat kadzdzab/pendusta (Lisanul-Mizan Vol. 1 No. 829). Nasib berbeda dialami Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, dimana Syaibani juga menulis berbagai kitab ushul-fiqh Hanafi dengan menggunakan hadits-hadits sebagai pendukung ajaran Abu Hanifah, tanpa mencoba menyisipkan nama Abu Hanifah ke dalam isnad-isnad-nya. Karena Abu Hanifah menafsirkan Al-Qur'an tanpa menggunakan hadits, sementara pada masa itu kritik atas Abu Hanifah berdatangan dari kalangan Ahlul-Hadits, maka tampaknya Syaibani pun terdorong untuk menulis berbagai traktat (maqalat) Hanafiyyah yang membawa fitur hadits di dalamnya. Berkat jasa Syaibani lah, nama Abu Hanifah menjadi harum di kalangan Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah.

Karena fokus Hanafi terpusat kepada pendidikan dan perbaikan citra, pengaruh mereka di Ahlur-Ra'yi secara perlahan menurun. Sebaliknya, para pemikir Mu'tazili mulai mendominasi Ahlur-Ra'yi. Kelompok Mu'tazilah pada konteks abad ke-8 dan 9 adalah kelompok mutakallimin yang mengusung penalaran akal/rasio murni secara utuh. Mereka tidak hanya menolak menggunakan hadits, bahkan, mereka secara ekstrim menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah ciptaan (makhluq) Allah. Sebagaimana umumnya makhluq, maka Al-Qur'an dipandang tidak abadi. Sementara untuk memahami Al-Qur'an diperlukan penggunaan akal yang unggul sehingga Al-Qur'an juga tidak dijadikan dasar pengambilan pendapat hukum oleh kebanyakan Mu'tazili. Pada masa itu, rivalitas Ahlur-Ra'yi vs Ahlul-Hadits seolah-olah bertransformasi menjadi konflik pengusung akal (rasionalisme) vs pengusung dalil (tradisionalisme). Tidak banyak diketahui tentang siapa saja tokoh Mu'tazili di dalam Ahlur-Ra'yi. Setidaknya ada 2 (dua) tokoh Mu'tazili yang terkenal, yaitu Dhirar bin 'Amr (w. 199 Hijriyyah / 815) dan Ibrahim An-Nazhzham (w. circa 210/230 Hijriyyah, antara 825/845). Tokoh-tokoh Mu'tazili ini dikenal sangat menentang keras penggunaan hadits sebagai dasar pengambilan pendapat hukum. Sebagai respon terhadap pemikiran Mu'tazili, Ahmad bin Hanbal kemudian menghimpun seluruh anggota Ahlul-Hadits ke dalam sebuah gerakan yang disebut Atsariyyah. Gerakan Atsari adalah sebuah gerakan yang tidak hanya mengusung dalil hadits, namun juga dalil atsar shahabat sebagai dasar pengambilan pendapat hukum. Pada masa itulah, Abu Idris Asy-Syafi'i (w. 204 Hijriyyah / 820) menulis berbagai traktat/risalah yang mengandung kritik terhadap semua sekolah hukum, dan berusaha mencari "jalan tengah" (mid-path) untuk mensintesiskan antara kubu yang cenderung lebih rasionalisme (Hanafi, Mu'tazili, dll) dengan kubu Atsari. Traktat-traktatnya yang kemudian terhimpun dalam kitab Al-Umm memperkenalkan berbagai alternatif pengambilan hukum, termasuk cara pandang terhadap hadits. Syafi'i secara garis besar menilai bahwa hadits Nabi harus diprioritaskan daripada atsar shahabat, dan penalaran akal/rasio haruslah dipadukan dengan wahyu Al-Qur'an dan nash hadits. Pemikiran Syafi'i seperti gabungan antara kubu Ahlur-Ra'yi (sekolah Hanafi, Mu'tazilah, Maliki, dan Syaibani) dengan kubu Ahlul-Hadits (sekolah Tsauri, Auza'i, Wahbi, Zhahiri, dll). Hanya saja, Syafi'i belum terlalu populer saat itu, karena Syafi'i cenderung menghindari hubungan politik terlalu dalam. Karena itulah, konflik pemikiran rasionalisme Mu'tazilah vs tradisionalisme Atsari menjadi semakin tajam.

Kedudukan Atsari semakin terpojok ketika khalifah Al-Ma'mun (813-833) menjadikan Mu'tazilah sebagai satu-satunya kelompok hukum yang diperbolehkan oleh negara 'Abbasiyyah. Al-Ma'mun dikenal sangat mencintai ilmu pengetahuan seperti para pendahulunya, dan dia sering mengadakan perdebatan oral terbuka di istananya yang dihadiri semua ahli hukum. Namun, Al-Ma'mun tampaknya melihat Mu'tazilah adalah satu-satunya kelompok yang paling unggul, baik secara keilmuan maupun secara dialektika. Sebaliknya, Al-Ma'mun melihat kelompok Atsari seperti kelompok yang terbelakang dan tidak layak mengambil bagian dalam lingkungan keilmuan dan dialektika. Itulah sebabnya, Al-Ma'mun mengeluarkan kebijakan inkuisisi yang kontroversial di tahun 833, yaitu kebijakan Mihnah. Kebijakan ini pada intinya mewajibkan seluruh pegawai negara dan ahli ilmu untuk berikrar bahwa Al-Qur'an adalah sekedar ciptaan Allah, tidak kurang dan tidak lebih. Ahmad bin Hanbal secara keras menolak berikrar dan menentang kebijakan tsb. Untuk menghindari adanya gelombang pemberontakan dari Atsari, maka Ahmad bin Hanbal pun dipenjara oleh Al-Ma'mun. Penerusnya, Al-Mu'tashim (833-842) semakin menancapkan kebijakan Mihnah melalui dukungan Ahmad bin Abu Duwad (w. 239 Hijriyyah / 854) yang saat itu menjabat sebagai Hakim Agung (Qadhi'al-Qudha'at).
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayang.dahar dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:47
KEBANGKITAN ANTI-PLURALISME ISLAM DAN INTOLERANSI


Beberapa tokoh pemikir Mu'tazili tidak hanya memusatkan lingkungan intelektualnya pada bidang hukum semata, melainkan juga pada sains sekuler. Tokoh-tokoh Mu'tazili yang menonjol di abad ke-8 di antaranya adalah:
  1. Khalifah Al-Ma'mun (813-833).
  2. Al-Jahiz (w. 254 Hijriyyah / 868).
  3. Al-Jubba'i (w. 302 Hijriyyah / 915).


Selama Ahmad bin Hanbal dipenjara, sisa-sisa anggota gerakan Atsari tersisihkan dari lingkungan intelektual. Akibatnya, mereka mencoba mencari pengaruh melalui dukungan politik dari oposisi-oposisi 'Abbasiyyah. Mereka mulai mendekati tokoh-tokoh Seljuk yang saat itu masih merupakan bangsa nomaden yang dikenal barbar dan gemar menaklukan wilayah. Akan tetapi, Seljuk sendiri tidak ingin memilih perang terbuka melawan 'Abbasiyyah. Mereka mencoba jalur diplomasi yang bertujuan mengisi berbagai kursi-kursi pemerintahan 'Abbasiyyah. Ketika akhirnya khalifah Al-Mutawakkil (847-861) menempatkan seorang tokoh Seljuk yang bernama Al-Fath bin Khaqan (w. 246 Hijriyyah / 861) menjadi wazir, Al-Mutawakkil mulai melemah dengan tekanan politik dari kubu tradisionalisme Atsari untuk membebaskan Ahmad bin Hanbal dari penjara. Pengaruh Mu'tazilah lambat-laun melemah.

Al-Mutawakkil pun membebaskan Ahmad dari penjara, dan sekolah Hanbali mulai semakin diminati. Di masa ini pula, Ahmad menulis kitab Al-'Ilal wa Ma'rifatur-Rijal untuk menguatkan hujjah/argumen keandalan hadits-hadits yang mengandung 'illat (termasuk membela riwayat-riwayat yang terindikasi mengalami rafa'). Akan tetapi, kecerdasan Ahmad tidak diikuti oleh kecerdasan pengikutnya. Sebagian besar simpatisan Hanbali yang tidak memiliki keilmuan umumnya bergerak secara ekstrim.

Sepeninggal Ahmad, simpatisan Hanbali yang tidak memiliki keilmuan yang cukup sering berkumpul dan mengadakan persekusi fisik (sweeping dan semacamnya) terhadap tokoh-tokoh Mu'tazilah dan Syi'ah yang tersisa. kemudian mereka secara peyoratif disebut sebagai "Hanabilah" (antek-antek Hanbali). Persekusi yang dilakukan oleh ekstrimis Hanabilah juga memainkan peran besar dalam membungkam kebebasan berpikir, dan pemikiran skeptis dan kritis yang telah lama terbangun di lingkungan intelektual 'Abbasiyyah. Persekusi ekstrimis Hanabilah yang tercatat di antaranya:
  1. Ekstrimis Hanabilah menyusup di antara jemaat yang sedang mendengarkan pengajaran Muhammad Al-Bukhari (w. 256 Hijriyyah / 870) di Nishapur (Iran), dan memberikan pertanyaan jebakan: "Apakah Al-Qur'an itu makhluq", pertanyaan yang sebenarnya bertujuan untuk menuduh Bukhari seorang Mu'tazilah. Sebagaimana dicatat oleh Dzahabi (Siyar A'lamun-Nubala' Vol. 12 Hal. 453-454), seorang oknum ekstrimis Hanabilah menanyakan hal ini kepada Bukhari. Bukhari pun menjawab, bahwa "Al-Qur'an bukan makhluq, tapi perbuatan hamba adalah makhluq" (maksudnya, Firman Allah di dalam Al-Qur'an bukan ciptaan, tapi segala bentuk pengejawantahan Al-Qur'an seperti tulisan, tinta, kertas, dan pelafalnya (manusia) adalah ciptaan). Dia melanjutkan, "Barangsiapa yang masih mempertanyakan ini, maka dialah yang bid'ah". Namun, sebagian oknum ekstrimis lainnya kemudian berdiri dan melafalkan ayat Al-Qur'an sembari berkata: "Berarti, dia [Bukhari] berpendapat bahwa ayat Al-Qur'an yang kulafalkan ini adalah ciptaan!". Sontak kemudian provokasi ekstrimis Hanabilah ini menjadi keributan yang berujung pengusiran Bukhari dari Nishapur.
  2. Ekstrimis Hanabilah melakukan pengeroyokan terhadap Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 Hijriyyah / 923), seorang mufassir klasik paling berpengaruh di kalangan pengikut Syafi'i, dengan dalih menuduh Thabari menganut Syi'ah. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Katsir (Al-Bidayah wan-Nihayah Vol. 11 Hal. 166), tercatat bahwa sekelompok ekstrimis Hanabilah mendatangi sekolah Thabari. Mereka menuding Thabari sebagai seorang Syi'i karena dianggap melakukan tasyayyu' (mengutamakan 'Ali) karena di dalam kitab Tarikhur-Rusul wal-Muluk-nya, Thabari mengutip riwayat-riwayat Syi'ah dan tampak mendukung gerakan 'Aliyyah di Kufah. Secara biadab, Thabari diseret keluar dan digebuki oleh simpatisan ekstrimis ini. Thabari dalam keadaan luka-luka parah dirawat selama beberapa hari di rumahnya, namun dia tidak tertolong dan akhirnya wafat. Lebih biadab lagi, para ekstrimis Hanabilah juga memukuli jenazah Thabari sehingga Thabari akhirnya dikuburkan di rumahnya. Hingga beberapa saat kemudian, rumah Thabari juga masih saja dilempari batu oleh mereka.
  3. Ekstrimis Hanabilah seringkali mempersekusi tokoh-tokoh Sufi awal. Christopher Melchert merangkum banyak sekali persekusi yang mereka lakukan terhadap para Sufi tsb (The Ḥanābila and the Early Sufis). Yang paling menonjol di antaranya adalah Al-Busthami (w. 261 Hijriyyah / 874), seorang Sufi dari Qumis (Iran). Suatu ketika Busthami diundang sejumlah jemaat masjid di Baghdad untuk mengajar di bulan Ramadhan. Di tengah perjalanan, Busthami beristirahat di sebuah kedai milik seorang Kristen. Sekelompok ekstrimis Hanabilah mendatanginya dan menuduhnya zindiq karena tidak berpuasa di bulan Ramadhan, terlebih lagi dia beristirahat di kedai orang Kristen. Ekstrimis ini kemudian melakukan perusakan kedai tsb dan mengusir Busthami. Dalam kesaksiannya, Busthami ditanyai oleh para muridnya perihal mengapa dia tidak berpuasa dan malah mampir di kedai milik orang Kristen, Busthami mengatakan: "Adakah syari'at yang kulanggar? Aku dalam keadaan safar (di tengah perjalanan), dan Allah memaafkan hamba-hamba-Nya yang tidak berpuasa karenanya. Lalu aku mencari kedai yang tersedia, dan hanya milik orang Kristen yang tersedia".


Persekusi yang dilancarkan ekstrimis Hanabilah pada periode berikutnya tidak hanya menyasar kepada orang-orang yang dituduh Mu'tazilah, Syi'ah, maupun kalangan Sufi, tapi juga mereka yang dituduh zindiq dan munafiq. Akibatnya, keragaman pemikiran yang telah ada dalam lingkungan intelektual Muslim awal sebelumnya, lambat laun memudar. Mereka yang menolak menggunakan hadits akan dengan mudah dituduh sebagai inkarus-sunnah (mengingkari sunnah). Selama berabad-abad kemudian, kelompok Muslim yang menjadi menonjol adalah kalangan yang mengutamakan Al-Qur'an dan hadits terlebih dahulu sebagai dasar pengambilan pendapat fiqh.

Melemahnya pengaruh Mu'tazilah bukan hanya disebabkan oleh kemunculan ekstrimis-ekstrimis seperti Hanabilah. Di kalangan internal Mu'tazili sendiri pun juga muncul beberapa orang yang mulai melakukan otokritik terhadap doktrin-doktrin Mu'tazilah. Yang paling menonjol adalah Abu Hasan Al-Asy'ari (w. 324 Hijriyyah / 936), murid dari Al-Jubba'i (w. 302 Hijriyyah / 915). Asy'ari tadinya seorang tokoh Mu'tazili yang kental. Namun, karena dia merasa ada yang janggal dari doktrin kehendak bebas (free will), dia pun sering mendebat gurunya, Jubba'i. Pada titik tertentu, dia kemudian menyatakan "bertobat", dan menyatakan mengabdikan diri untuk menyangkal Mu'tazilah sebagaimana dicatat oleh Ibnu Nadim (Al-Fihristul-'Ulum Hal. 257). Asy'ari kemudian merangkum berbagai traktat bantahan/sangkalan terhadap Mu'tazilah dan Syi'ah.

Semenjak Asy'ari bangkit, disertai bangkitnya ekstrimisme Hanabilah, pemikiran dan gagasan Mu'tazilah semakin menurun, dan sebaliknya, kubu tradisionalisme semakin populer. Secara de facto, Mu'tazilah sebenarnya sudah tidak lagi memiliki pengaruh di lingkungan pemerintahan 'Abbasiyyah sejak awal abad ke-9.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:48
MUNCULNYA AHL-E HADITH DAN OPOSISI AHL-E QURAN


Pada abad ke-19, sekte Wahabisme yang puritan dari Arab Saudi sedang bertumbuh. Pengaruhnya sampai ke India utara. Sejumlah tokoh Wahabi menganggap tradisi Muslim di India utara dipenuhi oleh bid'ah, dan tidak mengikuti sunnah. Beberapa tokoh Wahabi di India utara kemudian berkumpul dan mendirikan sebuah gerakan yang dinamai Ahl-e Hadith. Para tokoh Wahabi pendiri gerakan Ahl-e Hadith di antaranya adalah:
  1. Syed Ahmad Barelvi (1786-1831).
  2. Syed Nazeer Husain (1805-1902).
  3. Siddiq Hasan Khan (1832-1890).

Gerakan Ahl-e Hadith banyak mempropagandakan pemahaman Wahabi dengan jargon: "kembali kepada Al-Qur'an dan sunnah". Simpatisan Ahl-e Hadith banyak terlibat dalam perlawanan melawan kelompok tarekat Sufi Deobandi yang saat itu merupakan tarekat mayoritas di Kashmir. Perlawanan terhadap Ahl-e Hadith tidak hanya muncul dari kalangan Deobandi dan Hanafi, namun juga dari sejumlah tokoh yang membangun gerakan oposisi melawan Ahl-e Hadith, yang disebut Ahl-e Quran. Gerakan ini dicetuskan oleh seorang tokoh Hanafi bernama Abdullah Chakralavi (w. 1916) di Lahore. Meskipun Chakralavi bukan tokoh yang mempopulerkan Quranisme, namun Chakralavi berperan dalam mengembalikan pemikiran-pemikiran "Proto-Quranisme" yang telah berabad-abad lamanya tersisihkan di lingkungan intelektual Muslim. Ahl-e Quran tidak begitu mendapat dukungan secara luas. Namun, melalui Moulvi Cherágh Ali (1844-1895) dan bekas mahasiswanya Chakralavi, Aslam Jairajpuri (1882-1955), pemikiran Islam yang reformis mulai bermunculan di India.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:48
QURANISME DI DALAM REFORMISME ISLAM

Akar Jejak Pemikiran Quranisme
Sheikh Dr. Muhammad Abduh (1849-1905), pelopor reformisme Islam.


Pada awal abad ke-20, pemikiran Islam yang reformis sedang bertumbuh tidak hanya di India, tapi juga di berbagai lingkungan kesarjanaan Muslim dunia. Seorang tokoh reformis bernama Muhammad Abduh (1849-1905) dari Al-Azhar University di Kairo (Mesir) menulis berbagai tesis tentang modernisme di dunia akademik Islam. Pemikirannya tentang membangkitkan kembali ijtihad telah menginspirasi kebangkitan berbagai sayap intelektual Muslim, baik yang moderat hingga liberal, strukturalis hingga post-strukturalis, menyatukan gerakan Sunni-Syi'ah dalam kerangka Pan-Islamisme. Demikian juga kemudian, karena terinspirasi dari reformasi Islam, Muhammad Tawfiq Sidqi (1881-1920) dari Mesir juga menulis esai berjudul Al-Islam huwal-Qur'anu Wahdah yang diterbitkan majalah Al-Manar tahun 1904, sebuah majalah asuhan Rashid Rida (1865-1935). Dalam esai tsb, Sidqi menyatakan secara berulang-ulang untuk kembali menggunakan Al-Qur'an secara total. Sidqi juga mengkritik keandalan hadits sebagai dasar pengambilan pendapat fiqh. Seolah seperti Abu Hanifah di abad ke-7 yang mengutip berbagai ayat Al-Qur'an untuk mendukung pendapatnya, Sidqi juga mengutip berbagai ayat Al-Qur'an untuk mendukung pendapatnya. Dari situ, Sidqi menganjurkan bahwa ummat Muslim seharusnya menjadikan Al-Qur'an sebagai patokan untuk menilai sumber-sumber hukum lain selain Al-Qur'an. Meskipun dia kemudian ditentang pula oleh Rashid Rida sendiri, namun gagasan dia juga telah membawa inspirasi bagi perkembangan ilmu Tafsir Al-Qur'an Kontemporer, terutama dalam pengembangan metode tafsirul-qur'an bil-qur'an (teknik eksegesis Al-Qur'an secara intertekstual dengan menganalisis makna hermeneutika yang terkandung antar ayat/perikop Al-Qur'an sendiri). Walaupun Sidqi tidak pernah menyebut "Quranisme" (baik dengan diksi al-qur'aniyyah maupun diksi al-qur'aniyyun), namun dia dapat dipandang sebagai pelopor Quranisme modern.

Akar Jejak Pemikiran Quranisme
Halaman depan esai Al-Islam huwal-Qur'anu Wahdah yang ditulis oleh Muhammad Tawfiq Sidqi dalam kolom majalah Al-Manar tahun 1904.


Pemikiran dan gagasan Sidqi mendapat kritikan dari kalangan reformis dan konservatif (terutama Wahabi-Salafi yang secara keras menolak pemikirannya). Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini banyak pula kalangan kesarjanaan Muslim modern mendukung dan turut mengembangkan Quranisme. Beberapa di antaranya adalah:
  1. Gamal al-Banna (1920-2013), adik bungsu dari Hassan al-Banna (1906-1949), pendiri Ikhwanul-Muslimin (IM). Dia banyak menulis penafsiran Al-Qur'an berbasis metode bil-qur'an dalam kerangka sekularisme, liberalisme, dan reformisme.
  2. Chekannur Maulavi (hilang 1993). Dia berjasa dalam mempelopori gagasan terjemahan literal Al-Qur'an. Dia mendirikan komunitas Quran Sunnath Society di Kerala (India) sebelum akhirnya dinyatakan menghilang di tahun 1993 sampai sekarang.
  3. Dr. Rashad Khalifa (1935-1990) dari University of California. Dia mengembangkan ilmu "pseudosains" matematika Al-Qur'an, dimana dia menelurkan gagasan Keajaiban Angka 19 Al-Qur'an yang secara kontroversial ditolak oleh para pemikir Quranis lain, namun justru sempat diminati di kalangan Muslim Sunni mainstream di abad ke-21. Walaupun demikian, dia tetap berjasa mempopulerkan "Islam inklusif", dimana dia menganjurkan pemaknaan kembali kata muslim sebagai "orang yang berserah diri" (submitter), bukan diterjemahkan sebagai "orang yang beragama Islam". Dia mendirikan komunitas United Submitters International (USI) di Arizona, Amerika Serikat. Dia juga yang pertama kali menggunakan istilah Quraniyoon dan Quranists. Dia tewas terbunuh pada tanggal 31 Januari 1990 oleh diduga anggota ekstrimis Islam Jamaat ul-Fuqra.
  4. Sheikh Dr. Ahmed Subhy Mansour dari Al-Azhar University. Dalam status exile dari Mesir di Amerika Serikat, dia mendirikan komunitas The International Quranic Center (IQC) di Boston, Amerika Serikat. IQC bertujuan untuk membangun kerjasama intelektual yang terbuka antar para pemikir Quranis dunia. Dia juga menganjurkan untuk senantiasa mengadakan dialog antar kalangan kesarjanaan Muslim tradisional (Sunni-Syi'ah), dan antar kalangan kesarjanaan Barat yang sekuler dan kesarjanaan agama Abrahamik lainnya (Kekristenan dan Yudaisme).
  5. Ayatollah Mirza Rida dari Najaf University. Dia yang pertama kali membawa pengaruh pemikiran Quranisme di kalangan Syi'ah modern di Iran, dan dia menolak doktrin Imamah yang menjadi doktrin Syi'ah mainstream Itsna 'Asyariyyah.
  6. Allama Sayyid Abul Fazl Borqei dari Qom University. Dia merangkum berbagai kritikan terhadap teknik Ushuli yang telah digunakan sejak masa para 'ulama Syi'ah klasik, sembari juga menerjemahkan traktat Ahkamul-Qur'an dalam kitab Ar-Risalah karya Syafi'i.
  7. Dan kritikan sekaligus dukungan lain yang datang bersamaan dari kalangan intelektual modern.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
hayang.dahar dan epopolocroia memberi reputasi
2 0
2
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 16:49
QURANISME HARI INI

Akar Jejak Pemikiran Quranisme
Sheikh Hassan Farhan al-Maliki, tokoh Quranis asal Saudi yang aktif menyuarakan kebebasan berpendapat dan berkeyakinan di Arab Saudi, dicekal atas tuduhan melawan pemerintah dan mendukung pemberontakan Houthi di Yaman.


Di abad kontemporer hari ini, Quranisme telah tersebar ke berbagai negara. Namun, di awal abad kontemporer, tokoh-tokoh Quranis mengalami diskriminasi dan/atau persekusi di negara-negara mayoritas Muslim. Beberapa di antaranya, pemerintah Arab Saudi mengumumkan fatwa hukuman mati terhadap Hassan Farhan al-Maliki, seorang Quranis asal Arab Saudi, atas tuduhan mempropagandakan kebencian terhadap otoritas Wahabisme dan negara, serta mendukung "terroris" Houthi di Yaman. Dengan dalih counter-terrorism, pemerintah Arab Saudi juga mulai menangkapi berbagai aktivis sekuler dan liberal di negaranya sejak tahun 2009. Meskipun saat ini Arab Saudi sudah mulai terbuka dengan pemikiran modern, namun kritikan tajam terhadap Wahabisme Arab Saudi masih terasa. Tokoh Quranis Arab Saudi lainnya, Abdul Rahman al-Ahdal, turut aktif mengadvokasi penolakan terhadap hadits dan "kembali kepada Al-Qur'an" melalui twitter-nya. Tidak berbeda dengan Arab Saudi, Mesir yang menjadi tempat lahirnya Quranisme modern juga menangkapi tokoh-tokoh Quranis sepanjang 1972-2013. Tokoh-tokoh Quranis Sudan juga dilarang menerbitkan tulisan apapun di negara tsb.

Sedikit berbeda dengan negara-negara tetangganya, di Syria, Quranis mendapatkan perhatian dan dukungan yang lumayan luas. Tokoh Quranis yang terkenal di Syria, Prof. Muhammad Shahrur (1938-2019) dari University of Damascus, menerbitkan berbagai jurnal ilmiah di bidang kritik-historis sejarah Islam. Dia menyimpulkan dalam salah satu wawancara eksklusif dengan AsiaNews, "The hadiths do not have any religious value and that the Quran should be Muslims' exclusive source". Sejauh ini, negara-negara Timur Tengah mayoritas Muslim yang terbuka dengan Quranisme hanya Syria, Lebanon, Qatar, dan Iran.

Sementara di negara-negara lainnya, respon terhadap Quranisme bervariasi. Di Russia, penyebaran Quranisme menuai kecaman dari kalangan Muslim Sunni. The Russian Council of Muftis (Majelis Ulama Russia) mengeluarkan fatwa menolak dan mengecam Quranisme pada tahun 2004. Sementara itu, Turki yang sedang dilanda kebangkitan konservatisme Islam, Quranisme mendapatkan kritikan tajam dari Diyanet (Kementerian Urusan Agama). Berbeda dengan di Afrika Selatan, tokoh Quranis yang bernama Dr. Taj Hargey yang secara kontroversial membangun masjid pertama khusus LGBT-Q yang dinamai Open Mosque dengan harapan dapat menekan diskriminasi terhadap komunitas LGBT-Q di Afrika Selatan dengan motto: "Quran-centric, gender equality, non-sectarian, inter-cultural and independent". Hal ini menyebabkan Quranis di Afrika Selatan dicitrakan sebagai komunitas gay.

Meskipun sebagian Quranis menuai kontroversi dan mengalami diskriminasi dan persekusi, namun banyak juga tokoh Quranis lainnya yang menorehkan prestasi cemerlang di bidang intelektual. Tidak hanya Prof. Muhammad Shahrur (1938-2019) di Syria dan Sheikh Dr. Ahmed Subhy Mansour di Amerika Serikat, beberapa tokoh Quranis lainnya juga berasal dari kalangan kesarjanaan Muslim kontemporer. Di antaranya adalah Prof. Mohamed Talbi (1921-2017) dari University of Tunis, sejarahwan Tunisia yang sangat produktif menulis berbagai jurnal ilmiah dan buku-buku sosial politik. Selain itu juga Dr. Kashif Khan merekomendasikan berbagai tools untuk teknik penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an literal yang dapat digunakan oleh seluruh Quranis dunia. Beberapa tools yang direkomendasikannya adalah:
  1. DuoLingo, aplikasi untuk belajar bahasa Arab fush'ha.
  2. Islam Awakened, aplikasi untuk terjemahan literal Al-Qur'an.
  3. Corpus Qur'an - Word by Word, aplikasi untuk terjemahan literal Al-Qur'an dilengkapi akar katanya.
  4. Quranix, aplikasi untuk perbandingan terjemahan literal Al-Qur'an.
  5. E-Arabic Learning, aplikasi untuk tashrif.
  6. Lane's Lexicon, kamus leksikal Arab terbaik saat ini.


KESIMPULAN

Kita telah menemukan bahwa pemikiran Quranisme bukan suatu pemikiran yang baru dalam petualangan intelektual Islam. Pemikiran ini dapat dilacak sejak masa awal Islam (salaf), ketika generasi Tabi'in senior juga menggunakan pendapat pribadi (ra'yi) untuk menentukan suatu pendapat hukum selain daripada meriwayatkan hadits. Pada generasi Tabi'in akhir, terjadi perdebatan sengit antar faqih dan mutakallim, dimana yang mendukung ra'yi condong pada penggunaan Al-Qur'an dan penalaran akal/rasio murni untuk menentukan suatu pendapat hukum. Pada masa ini, juga terjadi keragaman pemikiran dan pendapat. Keragaman itu kemudian ditutup melalui kebangkitan pemikiran tradisionalisme yang secara ekstrim mempersekusi perbedaan pendapat. Hingga beberapa abad kemudian, esensi pemikiran Quranisme terabaikan hingga kemudian gerakan reformisme Islam bangkit. Dan sejak itulah, para pemikir Quranis turut mewarnai intelektualisme Islam modern.

Thread ini tidak untuk mendukung maupun menyanggah Quranisme. Thread ini hanya merangkum akar pemikiran Quranisme dalam kerangka sejarah. Jika agan-agan ingin memberikan dukungan maupun sanggahan terhadap Quranisme, atau ingin mengetahui lebih detil tentang ajaran dan penafsiran Quranisme, silahkan agan-agan langsung ke thread Anda Bertanya Quranist Menjawab (ABQM).
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hayang.dahar dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 17:35

TRIVIA

Khusus merangkum info-info dan isu menarik seputar Quranisme.

  1. Tahukah anda, bahwa banyak Quranis yang tidak suka disebut Quranis, dan tidak setuju menempatkan Quranisme sebagai salah satu firqah/sekte Islam. Mereka lebih suka disebut "orang yang berserah diri", atau dalam bahasa Inggris disebut submitters. Kata submitters merupakan terjemahan asli dari kata muslim. Bagi sebagian besar Quranis, jika kata muslim diterjemahkan sebagai "Muslim", atau "orang yang beragama Islam", maknanya menjadi bias dan cenderung polemis.
  2. Tahukah anda, bahwa Quranis di berbagai negara Barat telah mempraktikan penafsiran Al-Qur'an mereka. Beberapa contohnya, penafsiran tentang shalat 3x sehari berdasarkan Al-Qur'an, dan mereka benar-benar mempraktikannya di masjid-masjid Quranis.
  3. Tahukah anda, bahwa Quranis di Indonesia sebagian besar tidak membuka jati-diri mereka untuk alasan keamanan, dan untuk menghindari pelabelan sektarian. Akibatnya, kita tidak tahu secara persis siapa saja tokoh-tokoh Quranis di Indonesia. Banyak spekulasi mengarah kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), namun sebenarnya Quranis di Indonesia lebih beragam dan lebih luas daripada sekedar ikut dalam satu organisasi/jaringan eksklusif. Pada intinya, kita tidak akan mengetahui siapa saja Muslim Indonesia yang Quranis secara persis selama kita tidak mengenal individu ybs secara pribadi.
  4. Tahukah anda, bahwa Quranis internasional membangun forum internet dengan laman https://free-minds.org/, untuk menjalin diskusi dan solidaritas maya antar Quranis dunia, dan untuk mempromosikan persatuan antar agama. Pada halaman beranda, terdapat sambutan sbb: "This website invites all people of various beliefs (Sunni, Shia, Christian, Jewish, Buddhist, Hindu, Bahai, Agnostic, Humanist, and even Atheists) to come and examine for themselves the system of Submission/Islam which is based on God Alone".
  5. Tahukah anda, bahwa terdapat satu thread khusus Quranis di SF DC (Debate Club) Kaskus, yaitu thread "Anda Bertanya Quranist Menjawab" (ABQM). Kadang-kadang secara populer disingkat "ABMQM" (Anda Bertanya Muslim Quranist Menjawab). Sampai dengan tanggal hari ini (8/5/21), ABQM sudah mencapai Part 3.
  6. Tahukah anda, bahwa Quranis tidak hanya sering dicap sesat dan kafir, tapi juga sering dicap radikal dan teroris. Walaupun faktanya Quranis muncul sebagai respon melawan radikalisme dan terorisme Islam.
  7. Tahukah anda, bahwa Quranis pada umumnya tidak pernah mencap seseorang kafir, bahkan jika orang itupun mengaku ateis sekalipun. Hal ini dikarenakan sebagian besar Quranis percaya bahwa keimanan dan kekufuran manusia yang tampak hanya lahiriah saja. Sementara, mereka percaya bahwa keimanan dan kekufuran batiniah hanya diketahui oleh Allah saja.
  8. Akan diupdate lagi info baru.
Diubah oleh tyrodinthor
profile-picture
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 19:11
Ada gak penganut Quranis yg cuman tekstual puh tyr?
Artinya hanya menggunakan penafsiran tanpa logika.
Karena banyak ayat Quran yg dipotong2/dinukil jadinya destruktif
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan tyrodinthor memberi reputasi
2 0
2
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 19:20
Ninggalin jejak dulu...emoticon-Shakehand2
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
1 0
1
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 19:31
emoticon-Shakehand2 emoticon-2 Jempol emoticon-Toast
0 0
0
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 20:42
masala sederhana yang di bikin ribet,
kerana tokoh yang di jadi kan plafon nya seorang rebel: farhan malik.

Quranism ada lah ajakan tuk bertuhan,
melupakan kesibukan beragama.
sesederhana itu, ndan.
sala nya para Quranis:
menentang keagamaan. rebel.

padahal mah sante ae yakan.
toh loe datao semua yang loe benci itu cuma bagian ritus tuk kepentingan beragama?
loe kan mesti nya zibuk bertuhan??

mending loe tanya:
kenapa kebencian itu nancep di ati loe,
sementara loe membaca alQuran, ..
sehingga kebencian itu mesti nya bisa loe abay kan!?

gw tao itu susa, kerana umum nya Quranis berangkat dari muak di boongin ulama; tuk coba baca ndiri.
wicis gut yakan.
residu baper nya yang bikin alae emoticon-Stick Out Tongue


gw mala jadi pingin nanya:
kenapa farhan malik loe kasi label Quranis, ..
sementara banyak pernyataan diya sendiri, menentang persuratan alkitab?
e.g.
diya berani sumpah akan mencabut nyawa *sapakek* klo ketemu.
klo itu dosa, akan diya bawa ke neraka.

emoticon-Sundul Up
klo yang begituan Quranis,
para teloris jugak Quranis, mesti nya.
kerana masama mengusung
penegakan-kebenaran.

geswat!?
kaga ada ayat yang nyuru loe menegakan kebenaran emoticon-Smilie
mempertahan kan kebenaran, ..
nyari kebenaran pun kaga ada emoticon-Smilie

prupit aderways emoticon-Wink


____
*gw ciyusli mendakwa loe sedang melakukan penyesatan, ndan.
loe mantek sosok farhan malik yang jelas rebel.

tokoh laen yang loe bawa, sama ae.
kasif khan, yang berantem terbuka Vs guru nya??
lyk rili, brow? macem dalam alkitap gada ayat yang njelasin gimana cara loe ngadepin bani uban, gituh?

ciyusli, ndan..
gabisa lebi alus lagi??
dengan segala pengalaman loe nulis,
.. cuma segini doang?!?

mending gosa bahas sejarah, todong langsung ae:
Quranism haram kerana menghasil kan kecenderungan rebel.
emoticon-Sundul Up
.. yang ga perlu jugak loe ulang,
kerana pemerentah uda nglakuin itu.
uda ada stempel haram nya.


loe tanyak balik: sapa dong tokoh Quranis,
.. gituh?
ya kaga ada pake lah.
Quranis kok ngidol .__.
Quranis tuh zibuk bertuhan.
Quranis tuh ga sempet mbangun firQoh baru cem farhan malik.


ato mari kita bikin simpel, ndan emoticon-Smilie
Quranism, sama kek semua firQoh laen nya, memuat golongan item n puti;
ada yang soleh ada yang rebel.
..
tapi jadi nya lucuk yakan.
gosa ada yang di bahas ae yadong.

ato ganti judul:
sejarah kelam Quranism.
bikin preambul yang jelas:
ini cuma bahas Quranis pengikut kegelapan loya.
cemitu.

watseiyu emoticon-Wink
0 0
0
Lihat 34 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 34 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 20:55
Katanya dulu al qur'an ga dibikin pada jaman nabi kan..
Al Qur'an dikumpulkan dari serpihan2 arsip yg tersebar, ada di daun, ada di batu, ada di kain, dll. Kemudian arsip2 tsb dikumpulkan dan dijadikan buku jauh setelah nabi wafat. (Dan kl ga salah setelah muslim terpecah sunni syiah) Itu kenapa al qur'an ga disusun secara kronologis. Urutannya dari yg terpanjang sampe terakhir yg terpendek..

Pertanyaannya.. jaminan dr mana kl pada saat pengumpulan arsip dan pembukuan al qur'an adalah tanpa adanya campur tangan setan? dlm arti tanpa campur tangan keinginan2 jahat politikus?? sedangkan bbrp hari setelah nabi wafat saja, setan telah memecah belah pengikut nabi menjadi sunni syiah...
profile-picture
profile-picture
atmajazone dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 20:59
Titip jejak dulu
masih membaca dan menelaah

sementara:
Karena pada dasarnya Qur'an saja jelas tidak cukup sebagai pegangan. Dua perkara yang perlu dipegang agar tidak sesat adalah Qur'an dan Hadith (sunnah Nabi Muhammad SAW). Maka untuk sementara saya kurang setuju dengan paham quranisme tersebut
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan epopolocroia memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 21:04
kelompok quranist ni di indonesia ada ga? yg skala nasional gitu
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan tyrodinthor memberi reputasi
2 0
2
Lihat 23 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 23 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 22:19
Quote:Original Posted By tyrodinthor

Ekstrimis Hanabilah melakukan pengeroyokan terhadap Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 Hijriyyah / 923), seorang mufassir klasik paling berpengaruh di kalangan pengikut Syafi'i, dengan dalih menuduh Thabari menganut Syi'ah. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Katsir (Al-Bidayah wan-Nihayah Vol. 11 Hal. 166), tercatat bahwa sekelompok ekstrimis Hanabilah mendatangi sekolah Thabari. Mereka menuding Thabari sebagai seorang Syi'i karena dianggap melakukan tasyayyu' (mengutamakan 'Ali) karena di dalam kitab Tarikhur-Rusul wal-Muluk-nya, Thabari mengutip riwayat-riwayat Syi'ah dan tampak mendukung gerakan 'Aliyyah di Kufah. Secara biadab, Thabari diseret keluar dan digebuki oleh simpatisan ekstrimis ini. Thabari dalam keadaan luka-luka parah dirawat selama beberapa hari di rumahnya, namun dia tidak tertolong dan akhirnya wafat. Lebih biadab lagi, para ekstrimis Hanabilah juga memukuli jenazah Thabari sehingga Thabari akhirnya dikuburkan di rumahnya. Hingga beberapa saat kemudian, rumah Thabari juga masih saja dilempari batu oleh mereka.


Wow! Ane baru tau puh kalau Imam Thobari wafatnya sangat mengenaskan. Ironisnya, itu dilakukan oleh oknum² yg mengaku² membela Sunnah. emoticon-Leh Uga

Edited=
imam-at-thabari-yang-terdzalimi
Ternyata benar emoticon-Turut Berduka

RIP Imam Thobari emoticon-Turut Berduka semoga beliau husnul khotimah, insya Allah syahid emoticon-Mewek
Diubah oleh diknab
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 22:29
Jaman sekarang hanya sedikit orang yang yang benar benar memahami alquran, kalopun paham mereka hanya terpaku pada terjemahan mushaf alquran dan tafsirnya,, mereka mengganggap alquran itu hanya sebatas ayat ayat yang tertulis dalam satu kitab, tidak memahaminya secara dialektis, padahal alquran dan mushaf itu adalah dua hal yang berbeda.. Dan tidak jarang terjemahan dan tafsit justru malah mempersepit makna dari alquran itu sendiri..

Contoh sederhanya adalah khalifah dan khilafah,, dalam alquran kata halifah dan khilafah itu bermakna sangat luas tergantung konteks kata itu di pakai, tapi dalam terjemahan dan tafsir mushaf alquran sendiri justru malah mempersempit arti dan maknanya. Apalagi dalam bahasa indonesia kata khalifah dan khilafah malah menjadi sangat sempit, contoh paling sederhana yang sering kita temui adalan kata "jihad" yang sangat serampangan di artikan sebagai berperang, padahal kata "jihad" itu sangat luas maknanya.

Itulah kenapa orang orang yang memahami alquran hanya sebatas "katanya" dan hanya sebatas membaca justru banyak yang tidak sesuai dengan yang di ajarkan alquran dan malah bertentangan dengan alquran itu sendiri. Itu karna mereka tidak benar benar memahami alquran sebagai teman untuk bedialog, di tambah lagi rendahnya pemahaman sejarah islam dan rendahnya pemahaman literasi alquran justru malah membuat banyak orang semakin menjauh dari yang di ajarkan alquran.



Sebenarnya jika ingin memahami islam dan segala keruwetanya tidak bisa memakai satu sudut pandang disiplin ilmu saja, sebab untuk bisa memahami islam, kita juga harus memahami konflik konflik sekterian yang ada di timur tengah,

keruwetan yang terjadi di tubuh islam tidak lepas dari tabiat orang arab itu sendiri, yang gemar berkonflik antar clan / kelompok sekterian, orang Arab itu berperinsip WIN TO ZERO.
Di tempat lain umunya konflik otomatis akan berhenti jika salah satu pihak memenangkan pertarungan, tetapi tidak di timur tengah, mereka tidak akan akan pernah behenti berkonflik sekalipun telah memenangkan pertarungan , mereka justru mewariskan dan melebarkan konflik kepada kolompok pengikutnnya,

Itulah kenapa konflik timur tengah kebanyakan berlatar belakang konflik antar clan / kelompok sekterian, dan konflik konflik antar klan / kelompok sekterian ini sudah ada jauh sebelum islam muncul, Makanya tidak heran kenapa timur tengah jadi medan perang sampai sekarang,
Diubah oleh ronnie158
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pakisal212 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 157 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 157 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 22:41
Secara sejarah udah ok puh @tyrodinthor. Tp ane masih belum nangkap garis besar aliran Quranis ini .

Apakah Quranis berkutat di masalah penafsiran Quran atau memberdayakan Qiyas, ijma ulama dan Ijtihad dalam pengambilan keputusan?
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan tyrodinthor memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Akar Jejak Pemikiran Quranisme
07-05-2021 23:08
Hadith bukhari sama muslim memang jd pertanyaan dari dulu karena ditulis 200 tahun setelah quran. Blom lagi ada Abu Hurayra yg bareng muhammad cmn 2 tahun dan punya hadith sampe 4000
Diubah oleh redharbingerid
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia