Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
54
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60925219a3299c566474edb4/halal-non-halal-dan-negara-gagal
Saya tahu, bagi banyak orang Singapura bukanlah tempat ideal untuk hidup. Seorang kawan agak sinis ketika saya sebutkan bahwa sekarang saya tinggal di Singapura. "Apanya yang menarik dari Singapura?" ujarnya. Iya benar. Apa yang menarik di sini? Pertanyaan itu pula yang ada dalam benak saya ketika datang ke Republik mini ini: negara-kota kecil, tetapi semuanya serba rapi dan steril. Tran
Lapor Hansip
05-05-2021 15:06

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Saya tahu, bagi banyak orang Singapura bukanlah tempat ideal untuk hidup. Seorang kawan agak sinis ketika saya sebutkan bahwa sekarang saya tinggal di Singapura. "Apanya yang menarik dari Singapura?" ujarnya.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Iya benar. Apa yang menarik di sini? Pertanyaan itu pula yang ada dalam benak saya ketika datang ke Republik mini ini: negara-kota kecil, tetapi semuanya serba rapi dan steril.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Transportasi publik berjalan dengan sangat baik dan efisien. Ada MRT yang bersih dan tepat waktu. Demikian juga bus. Bahkan New York tidak bisa menyaingi negeri ini dalam hal kebersihan dan efisiensi transportasi publiknya. Taman-taman tertata. Pohon-pohon selalu dipangkas dan dipotong.

Apa menariknya hidup di negeri yang serba diatur ini? Di mana-mana ada kamera untuk mengawasi para pelanggar. Orang tidak bisa meludah sembarang. Apalagi kencing di tempat umum. Sekali pun sudah sedikit melonggar, Singapura tetaplah "a fine country" alias negeri denda. Pelanggaran sedikit saja akan didenda.

Adalah berbeda kalau Anda sekadar menjadi pelancong dan menjadi 'penetap'. Saya, untuk sementara waktu, menjadi penetap. Artinya, sebagai kuli kontrak jangka panjang, saya harus menetap di tempat ini.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Saya mendapat subsidi perumahan. Karena ingin berhemat, saya memilih tinggal di sebuah kompleks yang isinya adalah orang-orang Singapura "asli", alias mereka yang menjadi WNS (Warga Negara Singapura). Di negeri ini sesungguhnya semua orang adalah pendatang. Untungnya semua orang tampaknya menyadari itu.
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
Negeri ini sebenarnya adalah negeri majemuk. Penduduknya mayoritas keturunan Cina (peranakan). Namun, ada penduduk Melayu dan juga keturunan India, Pakistan, Bangladesh dalam jumlah yang siginifikan.

Singapura memiliki apa yang namanya perumahan publik (public housing). Dengan cara demikian, sesungguhnya pemerintah Singapura mengubah tatanan sosial masyarakat dan mengatur hubungan antar ras, suku, dan agama. Public housing ini dikelola oleh Housing and Development Board (HDB) yang berada di bawah Kementerian Pembangunan Nasional.

HDB mengelola semua perumahan publik yang berupa flat (apartemen). Penghuni setiap blok apartemen selalu dibikin beragam. Orang Cina harus bertetangga dengan orang Melayu atau India, dan lain sebagainya. Dengan demikian tidak ada lagi kampung-kampung berbasis suku atau ras. Singapura pernah mengalami kekerasan rasial di masa awal berdirinya. Mereka membereskan persoalan ini lewat rekayasa perumahan publik.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Pemerintah menyediakan semua kebutuhan dasar di setiap kompleks perumahan publik. Ada ruang bemain anak, ruang komunitas untuk ajang bertemu para warga, juga halaman untuk berolahraga. Pendeknya: pemerintah menyediakan kebutuhan dasar untuk para warganya.

Untuk makan, tidak perlu pusing. Ada pujasera yang bisa dengan gampang dijumpai di setiap blok perumahan HDB. Pengalaman pertama di pujasera inilah yang sesungguhnya mengubah pandangan saya tentang Singapura. Di tempat ini, saya menemukan sesuatu yang lain, yang membuat saya berefleksi tentang individu dan masyarakat.

Saya ingat persis, warung pertama yang saya jumpai adalah warung Muslim India. Tentu saja, karena mencantumkan label Muslim, makanan yang disediakan adalah makanan halal. Hanya berjarak empat warung dari warung tersebut, saya menjumpai warung yang menjual sup perut babi. Diukur dari segi apa pun, sup perut babi adalah makanan yang super tidak halal.

Tidak itu saja. Di setiap food court atau kafetaria di Singapura, ada tempat untuk mengumpulkan piring kotor. Hampir bisa dipastikan bahwa ada dua tempat terpisah di sana, yakni piring untuk makanan non-halal dan piring untuk makanan halal. Keduanya dicuci secara terpisah, walaupun letaknya selalu bersebelahan.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Kenyataan ini membuat saya termenung.

Mungkinkah hal ini dilakukan di Indonesia? Warung Muslim hanya berjarak empat warung dari warung sup perut babi? Mereka yang makan makanan halal dihormati dan peralatan makan mereka tidak dicampur dengan peralatan makan yang tidak halal?

Hari-hari berikutnya saya menjumpai pengalaman yang juga lumayan aneh. Satu kali saya masuk ke warung mie yang menjual mie pangsit. Penjualnya menolak melayani saya.

“I can’t, I can’t, please go away-lah," ujarnya dengan logat Singlish yang khas.

Ternyata dia menolak karena muka saya, yang dalam persepsinya, sangat Melayu! Dalam pikiran si penjual, karena tampang saya Melayu, maka otomatis saya seorang Muslim. Mie pangsit itu jelas bukan halal karena lauknya terbuat dari babi cincang.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
ilustrasi mi ayam pangsit (bukan babi cincang)

Paling tidak, tiga kali saya sudah mengalami penolakan seperti itu. Semua pengalaman ini membuat saya berpikir, mengapa para pedagang ini menolak saya? Akhirnya, saya mendapat penjelasan dari kolega di tempat saya bekerja.

“Di Singapura,” katanya, “hubungan antar-etnis diatur dengan ketat. Kami mewarisi hukum Inggris yang pernah menjajah Malaysia dan Singapura. Orang non-Muslim dilarang menjual makanan yang tidak halal kepada mereka yang Muslim. Jika itu dilanggar, dendanya besar dan bahkan penjualnya bisa masuk penjara.”

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Hubungan antar-etnis adalah sesuatu yang membuat masyarakat Singapura (dan juga Malaysia) rentan. Konflik menjadi sangat laten. Itulah sebabnya pemerintah negeri ini melakukan rekayasa sosial dengan tangan besi. Mereka membangun perumahan, dan penghuninya ditentukan lewat lotre. Sebelumnya sudah dipastikan bahwa ada perimbangan etnis di sana. Akibatnya, musnah pula kekhasan kampung-kampung berdasar etnis. Tidak ada lagi kampung Melayu atau India.

Sebagai gantinya, pemerintah berusaha memajukan kebudayaan etnis. Ada Bulan Bahasa Melayu, misalnya. Ada pula festival seni Melayu yang diselenggarakan secara rutin dan disponsori oleh pemerintah. Sekalipun demikian, tidak semuanya sempurna. Ada juga keluhan diskiriminasi terhadap penduduk Melayu dalam hal pekerjaan dan pendidikan. Keluhan ini nyata dan absah.

Saya menceritakan hal ini bukan untuk mengglorifikasi Singapura, melainkan untuk bahan pertanyaan saya sendiri: pelajaran apa yang bisa saya tarik dari semua ini? Saya kira, hal paling mendasar yang saya dapati adalah bahwa sebuah masyarakat harus memiliki kekuasaan yang memiliki kekuatan memaksa.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Tidak bisa tidak, pikiran saya melayang ke Indonesia. Khususnya pada kejadian akhir-akhir ini. Apakah mungkin membuka sebuah warung yang menjual makanan mengandung babi hanya dalam jarak beberapa meter dari warung Muslim yang halal?

Saya menjadi semakin yakin bahwa kondisi Hobessian—suatu kondisi di mana tidak ada pemerintah, tidak ada aturan, tidak ada otoritas dan ‘manusia menjadi serigala untuk manusia lain (homo homini lupus)—bisa dicegah jika ada kekuatan yang memiliki otoritas.

Untuk itu, saya kira Singapura telah berusaha membuat negara Weberian bekerja dengan baik untuk mencegah terjadinya homo homini lupus. Dalam negara Weberian, hanya negara yang memiliki monopoli atas kekerasan yang dipakainya untuk menegakkan aturan-aturan yang sudah disepakati bersama.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Suka atau tidak, sebuah masyarakat memerlukan otoritas. Dan dalam sebuah masyarakat modern, otoritas itu dimiliki oleh negara. Bila negara tidak mampu memaksakan aturan-aturannya maka dia pantas disebut sebagai negara gagal.

Dengan demikian, saya tidak terlalu percaya bahwa kehidupan sosial bisa diatur karena ‘kerelaan’ atau kesadaran individual. Kita sering mendengar para intelektual, elite, atau kalangan terpelajar lainnya berkata bahwa yang dibutuhkan oleh masyarakat kita adalah toleransi.

Salah.

Kita juga sering mendengar keluhan bahwa masyarakat kita menjadi semakin intoleran. Kemudian ada juga argumen bahwa satu-satunya jalan untuk keluar dari intoleransi ini adalah dengan memberi pendidikan agar anggota masyarakat menjadi toleran.

Salah besar.

Satu-satunya cara agar masyarakat menjadi toleran adalah dengan memberdayakan negara untuk memaksakan otoritasnya. Jika itu tidak terjadi, negara tersebut menjadi negara gagal.

Yang kita butuhkan adalah toleransi yang dijaga dan ditegakkan oleh negara sehingga tidak ada hak sebuah komunitas yang dilanggar oleh komunitas lainnya. Selalu akan ada orang atau kelompok orang yang memaksakan kehendak atau menginterpretasikan bahwa kelompok yang lebih kecil atau lemah harus mengalah kepada dirinya.

Karena itu pula: tak ada seorang atau sekelompok orang yang berhak memaksakan kehendaknya, apalagi dengan kekerasan dan ancaman kekerasan. Hanya negaralah yang memegang monopoli atas kekerasan itu dan menjadi kekuatan pemaksa demi tegaknya monopoli itu.

Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal

Maka, jika ada sekelompok orang yang bangga mengatakan bahwa mereka berhasil menutup sebuah restoran yang menyajikan masakan mengandung babi, dan tidak ada tindakan apa pun dari negara, kita tidak bisa bicara toleransi. Yang jelas tampak telanjang di sini adalah: inilah bentuk negara gagal.


Penulis:
Made Supriatma
Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof...


sumber: tirto.id

Komentar TS:

Mari intropeksi diri
Diubah oleh karyanakbangs4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Gurke dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 15:13
reserved
0 0
0
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 16:29
Hukum adalah kuncinya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nowbitool dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 16:57
tulisan yang sangat menarik gan, karena tujuannya sendiri untuk intropeksi diri ... dan memang ada benarnya juga, jadi ane no komen hehe

ane cuma mau cerita, melihat peneliti dan jurnalis di kaskus, mungkin ane yang kurang main dan jalan jalan, tapi patut di apresiasi kembali ... sayangnya kaskus kini telah berubah, seandainya saja banyak peneliti dan jurnalis seperti agan kembali bermain di kaskus hmmmm .... era itu mungkin kembali membuat jaya kaskus kembali ...

soalnya mati aku di koyak sepi ... emoticon-Ngacir
Diubah oleh lucis.caelum
profile-picture
profile-picture
profile-picture
agungkumara dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 17:12
Singapura negara kecil, penduduknya juga gak sebanyak Endonesia, jadi gampang dibuat sebuah aturan atau hukum.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamarnr dan 2 lainnya memberi reputasi
2 1
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 17:38
terlalu susah kyknya mau bandingin indonesia dengan singapura emoticon-linux2 klo dibanding filipina masih memungkinkan karena sama negara kepulauan penduduk banyak cuma beda agama mayoritas emoticon-linux2 secara kultur aja singapura itu pulau kosong ngga ada sejarah kerajaan2 kebudayaan dsb emoticon-linux2 dan dari awal sudah dikelola sama inggris dari perekonomian,pendidikan dsb mereka sudah punya jangka panjang mau kyk gimana emoticon-linux2 pulau kecil dan jumlah penduduk g terlalu banyak lebih gampang ngawasin dan ngatur dan bagusnya hukum disana pukul rata g ada yg dianak emaskan bagusnya lagi media dikontrol ketat disana jadi g ada yg namanya media provokasi yg ada digulung emoticon-linux2 tebakan gw medsos disana juga diawasi emoticon-linux2 disini mungkin sudah ribuan tahun bahkan puluhan ribu tahun kebudayaan sudah terbangun jadi orang2 sini sudah punya perangai/kebudayaan masing2 emoticon-linux2 nah apa yg terjadi kalo negara ini setiap pulau punya kebudayaan,kerajaan dan agama sendiri dilebur jadi 1? pasti bakal ada pergesekan emoticon-linux2 apalagi local pridenya tinggi daerah dia berasa lebih baik dari daerah lain emoticon-linux2 intinya negara ini logistical nightmare sama cultural nightmare karena aturan orang jawa belum tentu diterima orang papua begitu juga sebaliknya emoticon-linux2 makanya belanda dulu menetapkan negara ini kalau merdeka pakai sistem federal RIS tapi proklamator g mau maunya terpusat g sampe 1 tahun ganti emoticon-linux2 liat sekarang setiap daerah punya ego masing2 dan ujung2 punya aturan sendiri sampe jadi Daerah istimewa otonomi khusus emoticon-linux2
profile-picture
profile-picture
crockoaches dan nowbitool memberi reputasi
2 0
2
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 17:40
Quote:Original Posted By karyanakbangs4

Satu-satunya cara agar masyarakat menjadi toleran adalah dengan memberdayakan negara untuk memaksakan otoritasnya. Jika itu tidak terjadi, negara tersebut menjadi negara gagal.


Ya itu kunci dan contoh negara-negara maju seantero dunia, silakan di google negara-negara yang sudah berhasil menghilangkan isu agama di dalam bernegara-nya.

Melanggar : tangkap, edukasi dan berikan kesempatan.

Ngeyel ---->MUSNAHKAN emoticon-thumbsup



Diubah oleh Jazed
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 18:07
hmm... latar belakang secara historis dan geografisnya beda, mungkin bisa sih tapi bakal memakan waktu yang lama untuk mengikuti singapura
0 0
0
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 18:38
Jadi ingin jalan-jalan kesana
Mau lihat peninggalan Majapahit

Sekalian mempelajari sejarah serbuan Majapahit di Singapura
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
1 0
1
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 19:44
Kalau menurut ku tata cara / pola hidup di singapura sudah cukup baik,asal kita terbiasa dengan tatanan hidup seperti itu. Di Negara lain kemungkinan kalau makanan yang mereka jual non halal,bisa saja ia jual tuk mereka yang muslim, toh mereka tidak tau. Dengan cara di Singapura seperti itu, tentu kita tak khawatir, karena penjualnya langsung menolak
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
1 0
1
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 19:47
ribet

ke arap aja udah, ga usah ke perancis, italia, inggris, jepang ga halal semua
Diubah oleh ushirota
profile-picture
37sanchi memberi reputasi
1 0
1
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 19:59
Saya menyadari bahwa sangat sangat susah memimpin Indonesia yg isinya beraneka-ragam agama, adat & kebiasaan. Masalah lain kondisi geografis terdiri ribuan pulau.
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
1 0
1
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 21:00
di Singapura ada ormas ga ya
0 0
0
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 21:02
Enak tinggal di luara negeri saya merasakan langsung di sana masyarakatnya tertib, teratur dan sadar hukum, mikir dulu sebelum bertindak, pemerintahnya pun bertindak represif terhadap pelanggar hukum dan pelaku kriminal, sehingga bikin masyarakatnya mikir2 dahulu kalau mau bikin rusuh . Nggak kayak di sini penegak hukum kog kalah sama pelanggar ketertiban, dibentak diem aja, yang bikin rusuh seperti biasa damai masalah selesai.
Kalau hukumannya ringan, jelas aja nggak bikin kapok dan jadi pelajaran buat yang lain kalo mau bertindak rusuh emoticon-Cape d...
profile-picture
profile-picture
orisjs dan black_robo memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 21:19
Konsistensi penegakan & penerapan hukum adalah poin yg harus diperhatikan.

Pemerintah, Aparat Penegak Hukum serta Aparatur Pemerintah yg bersih, tdk ada kepentingan individu serta berpendidikan juga tidak kalah pentingnya.
Diubah oleh black_robo
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
1 0
1
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 21:59
Beda gan... disana pemerintah tegas aturan..

Disini pemerintahnya sok idealis dengan simbol pancasila dan bhinekanya ..
Padahal sampe mampus pun gak akan terwujud tuh

Disini? Liat aja SKB 3 mentri (cacat).
Pemerintahnya gak bisa bergerak karena mayoritas berkuasa.

Di spore Protes toa wajar aja.. disini protes toa aja vihara dibakar bakar..

Disini masyarakat gampang terhasut (faktor pendidikan)
Malahan ormas terkesan lebih sangar (taulah yg mana)

Disini ketika orangtua mabok agama.. anaknya dari kecil didoktrin sangat keras ngikuti bapak emaknya.

Bom gereja udah hampir tiap tahun.
Sentimen agama pas pilkada 😶
Dari pilkada tingkat desa sampek pusat ada tuh.
Malah ulama ulama sama ustad karbitan yg provokasi via produk kaperr yg namanya fesbukk dan yutup

Soal makanan ? Tuh bulan puasa semua kaperrr kaperr disuruh tutup resto (banten,acehdan sebagian sumatera)


Jadi idealisme di spore bisa terwujud di negara indonesia saat indonesia sudah tak jadi negara lagi
emoticon-Leh Uga
Diubah oleh palmox
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mamarnr dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 22:13
berlakukan lah hukum secara ekstrim jadi masyarakat nya nurut
0 0
0
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
05-05-2021 22:18
Ribet, ke arab sana aja, gak usah ke tempat2 lain
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh KS06
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
06-05-2021 01:23
Tulisannya enak dan jelas. Ane setuju bahwa peran negara dalam aturan2nya sangat penting buat membangun iklim toleransi kaya di singapura
profile-picture
nowbitool memberi reputasi
1 0
1
Halal, Non-Halal, dan Negara Gagal
06-05-2021 02:00
iya sih satu-satunya solusi adalah negara yg otoriter untuk kebaikan.
bakalan banyak protes karena yg merasa kehilangan kebebasan adalah mayoritas.
termasuk yg duduk dalam pemerintahan sendiri adalah orang-orang yg kebanyakan dari golongan mayoritas, kuncinya disana apaka bisa bijaksana dalam melihat suatu negara tanpa kepentingan fihaknya sendiri?

terlalu banyak alasan, semoga suatu hari Indonesia bisa lebih melihat solusi ketimbang alasan terus. emoticon-Malu (S)
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia