Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6079422982439e09cc07abb1/ramadhan-bersama-bapak
Alarm pukul setengah empat dini hari berdering cukup keras, aku terjaga hanya untuk mematikan alarm dan kembali tidur. Ini sahur pertama puasa Ramadhan tahun ini, namun rasa kantukku terus bergelayut di pelupuk mata, itu karena aku terlambat tidur malam tadi. "Nur, Bangun. Sudah jam empat, buruan sahur." Terdengar ketukan pintu kamar dan suara Bapak yang memanggilku dari luar. "Hemm
Lapor Hansip
16-04-2021 14:52

Ramadhan Bersama Bapak

icon-verified-thread
Alarm pukul setengah empat dini hari berdering cukup keras, aku terjaga hanya untuk mematikan alarm dan kembali tidur.
Ini sahur pertama puasa Ramadhan tahun ini, namun rasa kantukku terus bergelayut di pelupuk mata, itu karena aku terlambat tidur malam tadi.
"Nur, Bangun. Sudah jam empat, buruan sahur." Terdengar ketukan pintu kamar dan suara Bapak yang memanggilku dari luar.
Ramadhan Bersama Bapak
"Hemmm. Iya,Pak." Aku menggeliat malas di atas tempat tidur.
Setelah seluruh kesadaranku terkumpul, perlahan aku keluar dari kamar.
"Anak gadis kok lelet." Bapak mengacak pucuk kepalaku.
"Masih ngantuk." Aku bergelayut manja di pangkal lengannya.
"Bantuin Ibu tuh nyiapin makanan."
Terlebih dahulu aku pergi ke kamar mandi sebelum bergabung lagi bersama Bapak dan Ibu di dapur.
Di ruang makan, Bapak tengah duduk dengan secangkir kopi panas yang masih mengepulkan asap. Indra pendengarannya tengah fokus pada siaran Radio yang sedang di putar. Sementara aku Ibu mulai menyajikan beberapa hidangan di hari pertama santap sahur kami.
Menu sederhana tersaji di atas meja. Pindang ikan mas kesukaan Bapak, Sayur bayam, sambel dan kerupuk. Makan sahur pertama terasa begitu nikmat.
"Besok-besok kamu yang gantian bangunin Bapak sama Ibu sahur, Nur." Bapak memulai obrolan setelah selesai makan.
"Iya Nur, masa Bapak terus yang bangunin anak gadis, Malu dong," sahut Ibu.
"Biar ah, Bapak aja." Aku mengulum senyum menggoda Bapak.
"Jangan gitu, nanti kalau Bapak udah nggak ada repot loh." Celetukan Bapak baru saja berhasil membuat Ibu dan aku sedikit terkejut.
"Pak, jangan ngomong gitu." Ibu mendelik, sedangkan Bapak hanya tertawa menampakkan giginya yang sebagian sudah hilang.
"Iya nih. Bapak nggak bakal kemana-mana pokoknya, biar Nur ada yang bangunin tiap sahur."
"Doain Bapak supaya sehat dan panjang umur," Pintanya dan kami langsung mengamini permintaan Bapak.
Tidak terasa obrolan hangat kami mengalir begitu saja hingga peringatan Imsak sudah di umumkan di Microphone Mushola. Sebentar lagi suara kumandang Adzan subuh segera menyusul.

Kami mengakhiri perbincangan tersebut lalu Aku dan Ibu merapikan meja serta mencuci piring kotor. Setelah itu, kami bersiap-siap untuk shalat subuh ke Mushola.
Jarak antara rumah dan Mushola tidak terlalu jauh, jadi kami cukup berjalan kaki sembari membawa senter untuk penerangan di jalan.
Suasana Mushola sudah ramai, warga sekitar sudah datang untuk menunaikan Sholat subuh berjamaah.
Pulang dari Mushola kami dan tetangga yang lain berjalan berbarengan sambil membicarakan banyak hal. Ada yang membahas masalah harga buah sawit, harga getah karet, dan sebagian Ibu-Ibu lebih senang membicarakan harga cabai dan bawang yang biasanya naik setiap bulan puasa, apalagi saat mendekati lebaran.
"Tadarus dulu. Jangan langsung tidur," Ujar Bapak memberikan nasihat saat kami sampai di rumah. "Tidurnya buat nanti siang aja."
"Siap!! " Aku mengangkat telapak tangan dan meletakkan di pelipis, memberi hormat kepada Bapak. Bapak hanya tersenyum lebar, keriput di wajahnya tampak begitu jelas saat beliau tertawa.
"Segala perbuatan kamu itu, akan menjadi tanggung jawab Bapak di Akhirat kelak, Nur. Jadi banyak-banyak lah memperbaiki diri dan mencari pahala," katanya lagi.
"Insya Allah, Pak." Aku mengangguk walau dengan perasaan ragu, teringat tentang banyaknya kesalahan yang aku perbuat selama ini.
"Nur! Nur! Buruan bangun. Sebentar lagi Imsak." Suara cempreng Ibu spontan membuat ku terjaga di atas tempat tidur.

***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.25. Kusingkap selimut tebal itu dengan tergesa, aku langsung bergegas keluar kamar.
"Ibu bangun jam tiga, tapi ketiduran lagi. Eh, malah kebablasan," adu Ibu padaku.
"Nur udah nyalain alarm juga, Bu. Tapi kayaknya Nur matiin, jadi nggak bunyi lagi," kataku.
"Ya udah, yuk buruan makan, mumpung masih ada waktu sepuluh menit lagi. Nggak apa-apa ikannya dingin juga." Ibu tidak sempat menghangatkan sayur seperti biasanya karena bangun kesiangan.
Aku dan Ibu duduk berdua, kali ada yang berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Ramadhan sebelumnya, selalu ada Bapak yang akan membangunkan ku saat sahur. Ibu juga tidak pernah kesiangan karena kadang Bapak yang membangunkan Ibu lebih dulu.
Kursi di seberangku tampak kosong. Dulu, Bapak yang selalu duduk disana bersama secangkir kopi hitam panas dan Radio kesayangannya.
Tak terasa air mataku menetes saat kenangan tentang Bapak hadir di bulan penuh berkah tahun ini.
"Loh kok malah nangis? " Protes Ibu saat melihat aku berhenti menyuap dan justru sibuk menyeka kedua pipi yang basah. "Nanti keburu Imsak."
Ibu kemudian membantu menyeka air mataku yang lolos begitu saja menggunakan punggung tangannya.
"Kangen Bapak." Aku semakin terisak, nasi yang sedang di kunyah berusaha ku telan dengan susah payah.
Ibu langsung merangkul dan turut menangis, bahkan air matanya menetes ke atas piring yang masih terisi nasi.
"Kita semua kangen Bapak. Bapak udah tenang disana. Kita akan terus doain Bapak."
Kesedihan kami tak bisa lagi disembunyikan. Ramadhan pertama kami lalui tanpa Bapak.
Bapak pergi untuk selamanya akibat Maag kronis yang di deritanya sejak lama. Kami harus mengikhlaskan Bapak saat beliau menghembuskan napas terakhir satu minggu setelah Lebaran tahun lalu.
Banyak hal berkesan yang kami lalui bersama Bapak. Pergi Tarawih dan shalat subuh bersama ke Mushola.
Aku melangkah menuju kamar Bapak. Sejadah usang yang biasa di pakai beliau menggantung apik bersama kopiyah hitam disana. Bapak Bilang, sejadah itu adalah salah satu mas kimpoi yang Bapak berikan untuk Ibu dulu, dan mereka masih menjaganya sampai sekarang.
Tak cukup sampai disitu, aku perlahan membuka lemari pakaian dan menemukan baju koko paforit Bapak. Aku mengambil dan memeluknya, aroma baju tersebut sangat khas, seolah Bapak memang hadir dan memelukku sekarang.
"Pak, Nur tidak bermaksud meratapi kepergian Bapak. Tapi, izinkan Nur untuk mengungkapkan rasa rindu ini." Lagi-lagi tangis ku pecah.
"Sudah, sudah." Ibu mengusap-usap punggungku. Beliau hanya berpura-pura kuat di hadapan ku padahal nyatanya hati Ibu sangat rapuh setelah berpisah dengan Bapak.
Seringkali kutemukan Ibu menangis diam-diam di depan tungku saat beliau sedang masak. Selain itu, aku juga selalu melihat Ibu menangis dalam setiap doa yang ia panjatkan untuk Bapak selepas Sholat.
Sesungguhnya kehidupan di dunia ini tiada yang abadi. Semua yang bernyawa pasti akan menemui Sang Pencipta.
Ketika kematian telah datang, maka siapapun tak bisa menolak, ajal sudah didepan mata. Tak peduli sekeras apapun tangisan kita, tak peduli seberapa banyak air mata kita. Tatkala nyawa sudah diujung tandu maka segalanya tak ada gunanya.
"Tuh sudah Adzan, ayo Sholat subuh habis itu kita doakan Bapak."
Ibu menghela napas panjang, ia merangkul untuk menenangkan ku.
Bapak, sekarang kami juga menunaikan Sholat tanpa adanya dirimu, yang biasanya berdiri di depan sebagai Imam.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Ramadhan Bersama Bapak
18-04-2021 18:27
Bagus banget Gan, tapi terlalu rapat
profile-picture
Karimake.akuna memberi reputasi
1 0
1
Ramadhan Bersama Bapak
24-04-2021 03:49
Singkat, tapi ngena banget di hati
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lebih-dari-sekedar-no-absen
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia