News
Batal
KATEGORI
link has been copied
103
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6078f6fd6760a61ac14bdc05/mengapa-kita-tetap-butuh-toko-buku
Lalu apa penyebab beberapa toko buku tutup, selain ekonomi yang memang melorot di masa pandemi? Menurut Steven Sitongan yang sehari-hari mengelola toko buku Ksatria Buku di Ambon, "Salah satunya tentu saja penyewaan space yang mahal. Ditambah lagi karena pandemi yang menyebabkan pengunjung jadi khawatir untuk datang dan berkerumun."
Lapor Hansip
16-04-2021 09:31

Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?

Past Hot Thread
https://entertainment.kompas.com/rea...buku-?page=all

Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?


Quote:Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
Kompas.com - 14/04/2021, 07:00 WIB
Leila S. Chudori

Editor: Laksono Hari Wiwoho

KAPANKAH terakhir kali kita berdiri di depan rak sebuah toko buku sambil membaca judul satu per satu dengan hati bahagia dan penuh ketika melihat ada karya terbaru penulis kecintaan, seperti Alice Munro atau Orhan Pamuk? Atau, kapankah merasakan bergairah ketika menemukan novel grafis terbaru yang gambar serta warnanya menyembuhkan mata yang lelah?

Untuk saya: Maret 2020, tepat setelah pengumuman bahwa pandemi sudah masuk ke Jakarta. Dari yang seminggu sekali mampir di toko buku sampai yang absen setahun dan hanya memesan melalui online.

Sejak Maret 2020, hidup di Indonesia (dan dunia) berubah di semua lini industri, termasuk kehidupan ekonomi para pecinta buku, penulis buku, penerbit buku dan toko-toko buku. Ketika pengumuman Toko Buku Kinokuniya ditutup 1 April 2021, sebetulnya kita tahu ini salah satu bagian dari kesedihan di era pandemi yang tak menentu ini.

Bahwa masyarakat pembaca heboh mengirimkan komentar, foto kenang-kenangan, menulis utas betapa berjasanya toko buku ini padanya, dan para wartawan segera membuat berita "duka cita" ini mungkin merupakan bentuk keprihatinan sesaat. Tutupnya sebuah toko buku, yang sebelumnya sudah terjadi pada Toko Buku Aksara Kemang, jaringan Toko Buku QB dan beberapa cabang Toko Buku Gramedia.

Bagi saya, tutupnya sebuah toko buku adalah sebuah "kematian". Tentu saja, toko buku tersebut masih beroperasi di area A atau B (dalam hal ini, Kinokuniya Grand Indonesia masih tetap ada) dan selain itu mereka juga tetap melayani pembelian online, seperti juga toko buku lainnya. Keresahan ini kami utarakan melalui chat.

Kami di sini adalah kawan-kawan sesama pecinta buku dan host podcast "Kepo Buku" yang terdiri dari Rane Hafied (Bangkok), Hertoto Eko (Singapura), Steven Sitongan (Ambon), dan saya sendiri host podcast "Coming Home with Leila Chudori" di Jakarta. Kami setuju, bagaimanapun sebuah kota (kecil atau besar) yang baik dan beradab adalah kota yang penduduknya memiliki dan akrab dengan perpustakaan, museum, dan toko buku.

Kami yang begitu mencintai buku sebagaimana halnya mencintai kehidupan lantas bersepakat membuat sebuah edisi khusus kolaborasi antara kedua podcast kami dengan tema "Mengapa Kami (atau mungkin tepatnya: Kita) Masih Membutuhkan Toko Buku." Kami sama-sama mengenang bahwa toko buku adalah sesuatu yang penting sejak masa kecil kami.

Saya sendiri di tahun 1970-an hampir setiap bulan mampir di toko buku Gunung Agung, Gunung Mulia dan sebuah toko kecil yang menyediakan komik wayang yakni Green Shop di Kawasan Roxi. Toko buku kecil di masa itu memang harus ada karena merekalah yang menyediakan buku-buku komik yang jarang tersedia di toko buku besar.

Hertoto Eko mengingat toko buku Al Amin di Kramat Jati karena "yang melayani mempunyai pendekatan personal, dia tahu apa yang dijual dan ingat setiap pembeli," kata Hertoto. Lebih menarik lagi, "Toko buku kecil semacam ini menyediakan sampul."

Maka dengan sendirinya, setelah dewasa, setelah reformasi, toko buku besar impor seperti Kinokuniya, Aksara, QB maupun toko buku lokal seperti Gramedia dan buku independen seperti Post Santa dan Transit di Pasar Santa menjadi bagian dari titik perhentian setiap kunjungan pencarian buku. Tentu saja toko buku di Jakarta, atau kota-kota lainnya, belum menyediakan atmofir yang ideal seperti katakanlah toko-toko buku di negara Barat yang menyediakan sofa atau kursi-kursi di mana kita bisa tetap duduk, memilih buku, bahkan memesan kopi dari kafe di pojok, sembari merasa aman, nyaman dan terlindungi dari keriuhan dan pragmatisme di luar tokomu.

Suasana di toko buku semacam The Elliot Bay Book Company di Seattle, yang menjadi satu toko buku independen yang memiliki sosok Rick Simonson sebagai kurator yang mengundang begitu banyak penulis terkemuka seperti Kazuo Ishiguro, Arundhati Roy dan Michael Ondaatje; atau rasa harum buku dan sejarah panjang Shakespeare & Co di Paris; atau rasa rumahan Toko Buku Wild Detectives di Dallas karena pemiliknya adalah fans novel "The Savage Detectives" karya Roberto Bolaño masih cita-cita panjang para pecinta buku Indonesia. Toko Buku Wild Detectives kurang lebih mengingatkan saya pada suasana di toko buku dan kafe Kineruku di Bandung.

Lalu apa penyebab beberapa toko buku tutup, selain ekonomi yang memang melorot di masa pandemi? Menurut Steven Sitongan yang sehari-hari mengelola toko buku Ksatria Buku di Ambon, "Salah satunya tentu saja penyewaan space yang mahal. Ditambah lagi karena pandemi yang menyebabkan pengunjung jadi khawatir untuk datang dan berkerumun."

Steven mengaku selama pandemi, dia juga banyak melayani keinginan pembaca melalui online dan buku dikirim ke alamat pembeli. "Toko Buku tetap buka, tetapi pengunjung tentu saja berkurang," katanya.

Tetapi seperti dikatakan Hertoto, kalaupun tak ada pandemi, dia merasa toko buku di Jakarta, tidak terlalu penuh sebagaimana pembeli yang antre seperti ular di Kinokuniya Singapura dan Bangkok. "Di sana kita harus sampai bersenggolan dengan calon pembeli lainnya."

Dan, tentu saja kami berempat saling berdebat masalah mengapa toko buku harus hilang satu per satu. Meski debat kami terasa seperti gurauan di warung kopi virtual karena kami melakukannya antar 4 kota, 3 negara, namun ternyata kami mempunyai cita-cita yang sama: membangun sebuah toko buku kecil.

Steven Sitongan, yang paling muda dan milenial di antara kami langsung mewujudkan cita-citanya. Adapun tiga lainnya kebanyakan "perhitungan".

Rane Hafied, misalnya, seorang kreator konten di agensi iklan Bangkok mengaku sibuk bekerja, sehingga cita-citanya mendirikan buku masih berupa impian. "Saya ingin sekali membuat toko buku yang berisi buku-buku anak-anak yang membesarkan generasi saya, macam karya Laura Ingalls Wilder, Winnetou, dan seterusnya," kata Hafied.

Hertoto Eko, seorang Konsultan IT berbasis di Singapura, memilih mendirikan toko buku yang seperti butik, "Hanya buku alternatif dan kecil saja". Saya sendiri punya cita-cita ingin membangun toko buku kecil dan stationery serta mengadakan program diskusi sastra dan pemutaran film.

Satu-satunya yang sudah menjalankan cita-cita asyik ini hanyalah Steven yang mengingatkan bahwa langkah pertama bagi kami yang mundur-maju dalam mewujudkan cita-cita ini adalah: pikirkan lima judul pertama buku-buku yang menurut kalian harus dibaca masyarakat. "Setelah itu, langsung hubungi penerbitnya. Dari sana, cita-cita akan bergulir..." katanya memberi saran. Itulah yang dilakukan Steven ketika ia pulang ke Ambon, setelah lulus sarjana dari Universitas Gadjah Mada dan sulit memperoleh buku yang diinginkan di taman bacaan.

Hal lain yang akan membedakan toko buku independen dengan toko buku besar adalah: memberikan "staff recommendation" pada buku-buku yang mereka anggap keren. "Cukup berikan sebaris dua baris alasan, agar calon pembeli tertarik," demikian kata Steven.

Kami, seperti juga Anda, berharap tidak akan ada lagi kematian demi kematian, karena buku dengan segala isi dan harum kertasnya adalah kehidupan. Karena itu, kamitetap membutuhkan buku dan toko buku. Obrolan ini bisa Anda dengarkan di podcast Coming Home with Leila Chudori di Spotify dan Kepo Buku.





Buku tetap penting, dan lebih bermanfaat dibanding bacaan di medsos maupun media berita online.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aygilagility dan 32 lainnya memberi reputasi
31
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 4
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 09:38
keduwx di trit dinosaurus
profile-picture
profile-picture
arie87 dan b4breakk memberi reputasi
1 1
0
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 09:41
Lho, semua penting, baca buku penting, baca cerita di media online penting, baca berita di sosmed juga penting. emoticon-Kiss (S)
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 09:44
Ahem, media berita online masih penting. Dan berita2 langsung yg lebih cepat dari Twitter juga penting.


... Kecuali belantara medsos, nggak ada faedahnya cari drama di Twitter selain puasin keperluan dopamine sesaat dan bikin orang jadi a**hole.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erwinsinaga dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:00
buku2 indo mah jelek2

coba aja deh ke gramed matraman trus ke bagian politik/sejarah
mostly buku2 nya dibikin gapake sumber yg jelas makanya ada buku "hitler mati di indo" lah

gw juga sempet beli buku ttg toefl/ielts
buku nya si lebih tebal dari buku import dgn tema yg sama tapi
pengorganisasian materi nya itu jelek banget
gak tambah pinter deh

mending beli buku impor tipis drpd buku indo yg tebel2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
d.caesar dan 10 lainnya memberi reputasi
10 1
9
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:14
lah kalo tutup gue kalo perlu beli buku kemana, jadi inget beberapa buku yg belum gue baca wkwkw
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:20
gw sudah pindah ke ebook sejak lama .................... emoticon-Ngacir
profile-picture
blezzernet memberi reputasi
1 0
1
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:21
Lebih dapat feelingnya kalo pake buku fisik, ga perlu battery buat bacaemoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
voicer2357 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:30
Iklan podcast...Ah elah...
Kalo tanpa disertai iklan, bahasan nya agak berbobot, tapi karena disertai iklan dan di awal jadi muales pol baca ke lanjutan nya.
Diubah oleh larapeequer
profile-picture
blezzernet memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:41
ane juga lebih suka ebook.

kualitas buku ane akan tetap bersih dan rapi selamanya, nggak akan robek, kotor, menguning, dimakan rayap, dll.

kalau mau baca pakai kertas tinggal ane print di rumah saja saja beberapa halaman, nggak berat. kertasnya bisa ane lipet-lipet dan coret-coret saat dibawa-bawa, selesai baca bisa langsung dibuang, ebook nya masih bagus di PC ane.

Diubah oleh kampret.strez
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan blezzernet memberi reputasi
2 0
2
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 10:44
ane lebih suka buku cetak daripada digital,tapi karna buku asli itu mahal (+lagi wabah,jadi pemasukan menurun-ga di budgetin beli buku fisik),jadi ane belum beli2 buku lagi deh emoticon-Angkat Beer ..ntr klo keuangan pulih,mau cari2 buku 2nd
profile-picture
profile-picture
profile-picture
caerbannogrbbt dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 11:24
gw prefer buku fisik sih
Klo terpaksa aja br cari ebook
Tp gw jarang ke toko buku apalagi stlh gramed udh gk ada zippo jd mau tutup atau gk ya bodo amat yg pnting buku fisik ttp ada
emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
fauzan.rifaza dan blezzernet memberi reputasi
2 0
2
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 11:28
iya buku tetep penting tapi ya gitu deh, buku mau ga mau ke arah lebih eksklusif karena kertas itu kan klo diproduksi massal terus menerus bakal merusak alam ya....emoticon-Thinking

kertas itu termasuk sumber daya yang walaupun terbarukan tapi tetap mesti dikontrol peredarannya.....emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
fauzan.rifaza dan blezzernet memberi reputasi
2 0
2
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 11:49
ibarat jam, ada yang namanya jam digital ada yang namanya jam analog... dua duanya dibutuhkan...
ibarat alat musik ada namanya alat musik elektronik ada namanya alat musik akustik... dua duanya dibutuhkan
ibarat ada ahok ada rijik... dua duanya di butuhkan....
ebong dan kardun dua duanya di butuhkan
yin dan yang keseimbangan duniawi bray... itulah jawabannya..
sancaisancai emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ahyau dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 11:54
Terasa seh, jujur aja, spt komik, kadang lbh nikmat baca buku fisiknya ketimbang digital, krn menurut Saya, kalaupun hrs digital, minimal layar gawean harus 7 inch.
profile-picture
fauzan.rifaza memberi reputasi
1 0
1
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 12:01
Setuju sekali ya gan sis. Mengingatnya pentingnya akan apa dari fungsi buku makan masih di anggap penting dan bermanfaat bagi para prmbaca
profile-picture
fauzan.rifaza memberi reputasi
1 0
1
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 12:15
yg perlu dicermati industri buku dan percetakan sebenarnya perilaku masyarakat yg benar2 berubah semenjak ada sosial media dan smartphone. bukan berarti generasi sekarang tidak mencintai buku tapi printed book udah hampir ga ada lagi di hidup mereka. sudah terbiasa dengan gadget. di tambah skarang juga bisa baca buku via aplikasi tanpa harus membayar semahal printed booknya.

Selain itu kebiasaan sekarang yg hampir selalu mengutamakan kepraktisan mengakibatkan printed book bisa dibilang kurang mendukung prinsip kepraktisan tadi. miris memang tapi itu adalah kenyataan yg harus dihadapi ke depannya.

ane sendiri masih mencintai buku, terasa perbedaan yg didapatkan kalo membaca lgsg melalui printed book daripada sekedar baca pdf ato via aplikasi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aluwungs dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 13:17
Mmbaca buku2 n majalah2 cetak itu msh trasa lebih nikmat drpd mmbaca via media digital, gan......


IMO....
Diubah oleh yoseful
profile-picture
profile-picture
aluwungs dan fauzan.rifaza memberi reputasi
2 0
2
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 13:17
Masih worted ya buka toko buku? emoticon-Angkat Beer
0 0
0
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 13:18
Jujur masih lbh enak baca buku imprint drpd ebook di hape/kompi/laptop
Mata kaga cepet lelah
Kecil kemungkinan buat skipping (baca sambil melompat2 halaman) emoticon-Malu (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darvans dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?
16-04-2021 13:18
tetep prefer buku fisik trutama yg desain2nya ajaib2 (buku impor tapi)
Contoh
Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?

Yg mantul tuh Toko Buku Kinokuniya. tapi dah tutup yg Plaza Senayan (pdhl lbh lengkap disana) emoticon-Frown
Ya paling berkiblat ke online kek Opentrolley ato BigBadWolf klo ada
Diubah oleh Pazonda95
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fachri15 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia