Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
170
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6054573b54e2da5bba478422/space-between-us-yang-tak-tersampaikan-true-story
Nama gw Leonardo Jordy Setyawan, saat ini gw masih duduk di bangku SMP, tepatnya baru aja masuk sebuah SMP swasta milik perusahaan minyak Indonesia. Hari yg gw jalani semenjak lulus SD berubah drastis setelah gw berhasil gabung dengan sebuah band ber genre punk, band kecil yg bahkan gak punya lagu sendiri. Sebagai vokalis, gw jadi orang terdepan dalam band beranggotakan 4 orang termasuk gw ini, wa
Lapor Hansip
19-03-2021 14:48

Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]



Yukk puter musiknya dulu sebelum lanjut makin kebawah




Suatu tempat di pulau terbesar di Indonesia, sekitar tahun 2003.

Gw lupa entah kapan tepatnya semua ini bermula, yg gw ingat cuman kedatangan tetangga baru pindahan dari Sumatera membawakan beberapa oleh-oleh khas dari sana. Bahkan, makanan yg dibawain lumayan enak-enak dan habis di hari yg sama.

Sebelumnya, kehidupan berjalan seperti seharusnya, gw menjalani hari sebagai seorang anak tunggal dari pasangan orang tua biasa dimana Bapak gw seorang pegawai BUMN, dan Ibu gw selalu ada dirumah 1/24 jam alias Ibu rumah tangga. Sejak kedatangan tetangga yg rumahnya disebelah kiri rumah gw itu, kehidupan sebagai anak tunggal berakhir sudah. Doi, anak tomboy yg kedua orang tua nya sama-sama bekerja sering banget dititipin dirumah gw dan seolah-olah jadi adek gw, menjelma jadi bayangan yg ngikutin kemanapun gw pergi, apapun yg gw lakuin.

Diawal cerita ini dimulai, gw happy aja ngejalanin nya, gak ada keluhan apapun karena memang selama ini gw ngerasa kesepian juga harus main sendirian dirumah, mau main bareng temen sebaya pun jarak yg harus gw tempuh buat ngumpul gak deket. Jadilah, tetangga pindahan ini temen satu-satunya yg gampang didatengin dan selalu tersedia kapanpun.

"Leo... Kamu kalo udah gede mau jadi apa sih?" Tanya nya ke gw, hari ini kita santai dirumah gw kayak biasanya cuman bedanya sekarang lagi banyak banget sisa kue tart, malem tadi perayaan ulang tahun dia soalnya.

"Enggak tau, mungkin jadi astronot"

"Ihh jangan dong," keluhnya, di tariknya rambut gw.

"Loh kenapa? Enak tau bisa ke bulan"

"Aku sendirian lagi dong kalo kamu pergi ke bulan?"

"Emang sampai gede temen lu gw doang?" Gw cubit pipinya, pernyataan gak masuk akal dari dia bikin gw agak gedeg.

"Kalo lu mau jadi apa?" Timpal gw coba membalikkan pertanyaan.

"Mmmm... A... Aku..."

"Aku mau jadi ..."

"Apa? Lama banget jawab gitu doang"

Seandainya emang kamu pergi kebulan, Leo. Pasti bakal menyisakan jarak yang jauh antara kita. Hal yang paling aku gak suka adalah saat ada jarak memisahkan. Apa yang bisa aku lakuin waktu kamu jauh dari aku? Mungkin aku gak tau, besok-besok Ayahku bakal dipindah kemana lagi. Tapi yang aku tau cuma satu hal, gak mungkin aku bisa temuin sosok seperti yang aku kenal disini sekarang.

Kalo nanti udah gede, aku mau jadi apa? Entahlah, aku pun masih bingung dengan yang namanya cita-cita. Yang aku mau cuma jadi orang baik-baik, jadi apa yang selama ini diharapkan Ibu dan Ayah aku.

"Al..."

"Aleyaaa...." Suara Ibu memanggil dari pintu depan rumah Leo.

"Yaa bu..."

"Yuukk pulang sayang," seru Ibu memanggilku, berakhir sudah hari ini seiring dengan datangnya Ibu.

"Aku pulang dulu ya"

"Eh yg tadi belum dijawab!" Leo kesel, ngelempar bantal kecil yang tadinya terbaring diatas sofa ruang tengah rumahnya.

"Hahaha... Ntar lah, aku belum punya jawaban nya"

Gimana ya? Kalo semua itu bener-bener kejadian? Leo berangkat ke bulan ninggalin aku dan keluarganya disini. Yah... Kok aku kepikiran itu lagi sih.

Space Between Us


Quote:Ilustrasi Tokoh
Aleya(Aulia)


Leo(Omen)


Tiwi


nanti bakal nambah kalo dah muncul karakter baru, stay tune...


Quote:Alur timeline intro diatas adalah saat gw dan Aleya masih SD, sedangkan timeline chapter 1 adalah masa SMP kami.


Dah ahh lah... Lanjut...
Diubah oleh exoluris
profile-picture
profile-picture
profile-picture
saannf12 dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
19-03-2021 14:52
Index Space Between Us:
Chapter 1 : The Best Day i Ever Had
Chapter 2 : New Friend
Chapter 3 : The Body Guard
Chapter 4 : Escape Pod
Chapter 5 : Truth
Chapter 6 : Too Soon
Chapter 7 : Punishment
Chapter 8 : Stonehead

Judul lainnya
Diubah oleh exoluris
profile-picture
profile-picture
gulali7053 dan alealeya memberi reputasi
2 0
2
Lihat 25 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 25 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
20-03-2021 08:49
Ninggalin jejak. Kalo udah mau tamat, mampir sini lagiemoticon-Ngacir.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
20-03-2021 14:10
Chapter : 1
The Best day i ever had





She paints her nails and she don't know
He's got her best friend on the phone
She'll wash her hair, his dirty clothes
Are all he gives to her
And he's got posters on the wall
Of all the girls he wished she was
And he means everything to her



Her boyfriend,
He don't know
Anything about her,
He's too stoned,
Nintendo
I wish that I could make her see
She's just the flavor of the weak



Nama gw Leonardo Jordy Setyawan, saat ini gw masih duduk di bangku SMP, tepatnya baru aja masuk sebuah SMP swasta milik perusahaan minyak Indonesia. Hari yg gw jalani semenjak lulus SD berubah drastis setelah gw berhasil gabung dengan sebuah band ber genre punk, band kecil yg bahkan gak punya lagu sendiri. Sebagai vokalis, gw jadi orang terdepan dalam band beranggotakan 4 orang termasuk gw ini, walau gw yg paling junior diantara yg lain, well, skill gw gak kalah kok sama mereka yg lain.



It's Friday night and she's all alone
He's a million miles away
She's dressed to kill, the TV's on
He's connected to the sound
And he's got pictures on the wall
Of all the girls he's loved before
And she knows all his favorite songs



Her boyfriend,
He don't know
Anything about her,
He's too stoned,
Nintendo
I wish that I could make her see
She's just the flavor of the weak
Yeah!
Her boyfriend, he don't know
Anything about her,



He's too stoned
He's too stoned
He's too stoned
He's too stoned
Her boyfriend,
He don't know
Anything about her,
He's too stoned,
Nintendo
I wish that I could make her see
She's just the flavor of the weak
Yeah, she's the flavor of the weak
She makes me weak



Wait… kalo lu pikir cerita ini tentang gw seorang, lu salah besar.



"Wooooo!!!! Feet Stop!!! Feet Stop!!!" Sorak seorang cewe berambut pendek yg berdiri paling depan ditengah konser dengan panggung mini meneriakkan nama band baru gw. Ini bukan gigs khusus untuk satu genre, semua genre main dalam event ini, gak rutin sih, yaa paling dalam satu tahun bisa ngerasain sekali buat manggung disini adalah hal terbesar dalam hidup gw semenjak gabung sama band bergenre Punk, Feet Stop namanya, plesetan dari Pit Stop sebenernya, entahlah apa maknanya, sejak gw gabung, band ini udah punya nama begitu.



"Thanks semuanya! Gw Leo, kami Feet Stop, see you again!" Ucap gw menutup sesi manggung dengan lagu terakhir dari American Hi-Fi tadi.



Anak-anak mulai menuruni panggung, menuju backstage sempat berpapasan sama sebuah band lain yg agak sinis mandangin gw. Bodo amat, lu mau main sekeren apapun, band gw lebih keren karna bawain genre yg jarang diusung band lain disini!



"Gw kesana dulu ya bang!" Seru gw ke temen-temen lainnya, Rudi salah satu personel yg deket sama gw dan berkat ajakan doi lah gw bisa gabung di band keren ini.



"Pasti soal cewe nih hahaha! Sok atuh, lanjut sana…" Godanya.



Berjalan dalam keramaian, menuju depan panggung, pusat kerumunan terparah karena sebentar lagi band ternama di tempat ini bakal main, iya itu, band yg tadi papasan sama gw di backstage dah lah gak usah dibahas.



"Settt…" gw tarik sebuah tangan mulus dari seorang cewe yg daritadi celingak celinguk kiri kanan, mungkin nyariin gw?



"Ikut gw…"



"Hah!? Leo! Ngagetin aja!" Dicubitnya tangan kanan gw yg genggam erat tangannya.



Gw bukakan jalan buat cewe berdandan gaya skater girl itu menuju backstage, tempat temen-temen band gw nunggu. Eh, dihalangi sama security, dengan alasan "khusus talent mas!".



"Hahahaha!!! Akhirnya malah nongkrong disini kita!" Keluhnya sembari nyeruput es jeruk yg terbungkus cup dari plastik.



"Iya bego! Gara-gara tuh orang! Halahh…."



"Yaudahlah gak papa, yg penting udah kelar konsernya, gimana rasanya?"



"Rasa apa? Asem-asem manis…"



"Konser! Monyong! Masa es jeruk!?" Dicubitnya lagi perut gw, aduh anjir! Sakit banget, emang kalo nyubit suka gak kira-kira nih bocah.



"A… a… anjiir! Sakit!"



"Makanya, simak pertanyaan aku! Ditanya apa jawabnya apa! Pikiran suka kelayapan!" Gerutunya sambil terus-terusan nyubit.



"Deg-deg an gw sumpah"



"Iya, tau, keliatan dari mukanya"



"Bacot!"



"Lahh emang! Hahaha, Yooo… Yo… mana bisa kamu nyembunyiin tampang gugup mu itu!" Tawanya puas, emang nih anak, seneng banget kalo liat gw menderita, kadang gw sampe bingung, sebenernya ini orang temen gw apa bukan sih, segitu bahagianya dia tiap kali liat gw sengsara.



Malam makin larut, gw yg bertanggung jawab atas keselamatan bocah tengil satu ini harus mengantarkannya tanpa kekurangan satu pun sebelum jam 11 malam. Padahal sebenernya lebih pun gak masalah, tapi, gw yg gak enak sama Bapaknya. Ehemm… galak. Berhubung gw gak megang alat musik apapun, gw cabut aja dari tempat keramaian yg masih dipenuhi dengan orang-orang yg pengen liat konser dari grup band pop lainnya, banyak yg pada bawain lagu peterpan nih, lagi ngehits kayaknya.



Menuju sebuah motor, gw serahkan helm berwarna putih ke tuh cewe, lalu gw pake helm warna biru cerah, dan kita mulai merayap di jalanan kota kecil penghasil minyak yg mulai sepi menjelang tengah malam.



Belasan menit berkendara, kita memasuki kompleks perumahan yg gak elit, disini adalah kumpulan rumah dinas dari para pegawai perusahaan minyak milik negara.



"Thanks yaa pangeran kodok, hati-hati balik kerumahnya…." Doi kedip-kedipin mata, genit kearah gw.



"Gak usah lebay! Tuh rumah gw juga udah keliatan!"



"Hahaha, ihhh sialan nih cowo! Gak ada romantisnya! Benci aku!"



"Ehh… eh…, romantis apaan! Kepala lu miring!"



"Dah lahh gw balik dulu, siniin helm gw, bye…" timpal gw, ngepalin tangan kearahnya.



Gw dan cewe yg barusan gw anterin itu udah temenan sejak bocah, ya walau sekarang pun kita masih sama-sama bocah. Karena tetanggaan sama-sama tinggal di rumah dinas, sejak awal kepindahannya kesini yg entah kapan tepatnya, doi langsung akrab sama gw dan keluarga gw. Tuh bocah tomboy banget! Gak sesuai sama jenis kelaminnya, bahkan waktu kecil, awalnya gw pikir dia tuh cowo. Seiring berjalannya waktu, dadanya mulai berisi, dan gw yakin kalo dia sebenernya cewe, cuman kebagian jiwa cowo aja. Mungkin jiwa cewe udah out of stock, jadinya makhluk seperti itu, Aleya namanya.



"Leo! Woiii!!! Sekolah! Buruan!" Teriak suara dari depan rumah gw. Pagi ini gw males banget rasanya mau ngapa-ngapain. Dua hari sejak konser pertama kali gw bareng band yg isinya senior semua.



"Yo… dijemput Aleya tuh," ucap Ibu memasuki kamar selagi gw merapikan dasi biru yg baru aja gw pasang di leher.



"Tumben, gak dianter Bapaknya?"



"Itu sama Bapaknya juga, naik mobil"



Buru-buru gw raih ransel, topi, sedikit lari-larian menuju ruang tengah, gigit roti isi selai kacang yg udah dibikin Ibu pagi-pagi banget. "Trakkk…" gw buka pintu depan. Lho?



"Mana Bu?" Gw keheranan menatapi jalanan yg kosong, gak ada siapapun di depan rumah gw.



"Hahahaha… udah berangkat kali, kamu sih telat, buruan sana naik motor!"



"Greennnnggg….." motor gw nyalakan dengan kick starter, langsung tancap gas menuju sekolahan yg jaraknya gak seberapa jauh. Waktu di jam tangan gw menunjukkan pukul 07.26. hampir telat, tapi masih sempat.



"Pakk… pakk!! Tunggu! Jangan di kunc…."



"Braakkk…" gw sengaja tabrakin ban depan motor gw ke pagar yg lagi didorong penjaga sekolah.



"Hah! Leo! Bikin kaget aja!" Keluh beliau, kembali membukakan pagar.



"Yeee… Bapak, dari tadi saya teriakin gak denger"



"Maaf Yo, kan kamu tau, pendengaran Bapak kurang baik, hehe, dah masuk sana buruan…"



Gw parkirkan motor dibawah pohon, tanpa masuk ke area parkiran karena gw tau, gak ada waktu lagi, dan upacara bendera senin ini bakal segera dimulai. Buru-buru lari menuju lapangan upacara di depan bangunan sekolahan yg berbentuk huruf T ini, ransel gw tinggalkan di atas motor, lari sekuat tenaga menuju halaman upacara.



"Draapp… drapp… drappp…" langkah kaki mengikuti gw dari ruang di samping kelas 3, eh bukan cuman gw yg telat ternyata.



"Siaaaaappp!!!! Graakkk!!!!" Terdengar komando dari pemimpin upacara merapikan barisan.



"Hei kamu! Yg telat! Baris disini!" Teriak salah satu guru, menunjuk lahan kosong di sisi kiri barisan guru. Anjir! Bakal malu gw dipisahin sama barisan lainnya.



"Sa… saya pak?!"



"Iya kamu! Kamu berdua, kesini sekarang! Cepat!" Teriak beliau lagi. Gw toleh lah kebelakang buat ngecek, siapa nih yg telat bareng gw. Mana berdua doang pula telatnya.



"Settt…" kepala gw tolehkan kearah kanan.



"Lahh?! Lu telat ju…"



"Huussss… bacot!" Sahutnya masang wajah kesal.



"Bukannya tad…"



"Aku nungguin kamu! Monyong!" Gerutunya.



"Haduh, sok romantis lu pake nungguin gw segala, kenapa gak langsung bar…."



"Diem gak!? Udah ditemenin biar gak sendirian baris disitu juga! Masih aja bacot!"



Kita berdua jalan menuju barisan yg dipisahkan, dipermalukan didepan publik. Sialan, awas aja lu yg bikin peraturan gini, malu gw anjir! Dihadapan anak-anak sekelas, kakak-kakak kelas, dan… ehhhemmm… cewe yg gw suka tuh, si Dea. Duhhh malah ngeliatin gw lagi, mana sambil senyum-senyum pula dari barisan depan.

"Dea ngeliatin kamu tuh," seru Aleya disamping gw.

"Iya, aduuhh salting deh gw..."

"Jangan Ge Er, paling dia bukan merhatiin kamu, tapi..."

"Tapi??"

"Hahahahaha!!!" Dia malah ketawa lepas, sampe lupa kalo kita berdua lagi dihukum disini, barisan guru serempak noleh kearah gw dan Aleya, bangke emang nih bocah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
21-03-2021 06:41
makanya lapak perang anteng bener, ternyata ada lapak baru disini emoticon-Ngakak

selamat utk lapak barunya emoticon-Big Grin
Diubah oleh alif.tiger.revo
profile-picture
exoluris memberi reputasi
1 0
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
22-03-2021 15:01
Chapter : 2
New Friend...


"Ehh dia malah nyengir sendiri! Woiii!! Leo!" Seru temen satu meja gw, mengagetkan dari lamunan.



"Anjir! Apa sih mau lu! Sialan!"



"Gw ngomong daritadi gak di dengerin!? Panjang lebar gw jelasin, ngerti gak?" Tanya nya penuh penekanan. Padahal tadi gw yg minta dijelasin tentang materi pelajaran Fisika, ehh malah gw tinggal ngelamun sambil mandangin cewe di bangku nomer dua dari depan, dengan rambut panjang terurai, kulitnya putih mulus, pake rok pendek pula. Haduhhh Dea…



"Hmmm… mulai lagi nih anak! Hei! Lu mulai jatuh cinta ya!?" Digebrak nya meja, bikin seisi kelas kaget.



"Yan! Sempak lu! Kaget gw!"



"Makanya dengerin! Kalo gw jelasin di perhatiin dong, ntar ulangan nilai lu jelek jangan salahin gw ya!" Ancamnya.



"Selamat pagi…" terdengar suara berat mendayu, seisi kelas langsung diam, hening setelah kedatangan sosok lelaki paruh baya berpakaian rapi menenteng sebuah buku tebal. Guru Fisika paling killer yg pernah gw kenal.



Proses pembelajaran seperti biasa gw lewati hari itu. Abis dibikin malu didepan murid lain dalam upacara bendera tadi pagi, dengerin ceramah tentang fisika, bikin gw menguap beberapa kali, ngantuk, susah fokus tapi terus aja gw paksain buat dengerin materi pelajaran.



"Kriiiinngggg…." Terdengar bell pertanda istirahat pertama.



"Baik, pelajaran saya cukupkan dulu, jangan lupa tugas rumahnya dikerjakan ya, terimakasih, Assalamualaikum…"



"Walaikumsalam!! Terimakasih pak…" seru seisi kelas, berhamburan keluar setelah pak Yatno meninggalkan ruangan kelas kami. Kantin, tempat tujuan terbaik saat ini buat ngisi perut yg mulai keroncongan, atau dangdutan lebih tepatnya karena bener-bener laper rasanya.



Gw berjalan bareng Rian, temen yg sejak masa orientasi masuk sekolah ini kayaknya membuka diri untuk berteman sama gw, sampe akhirnya sekarang gw sekelas sama doi dan duduk sebelahan pula. Orangnya asik, lumayan smart dan cepet tanggap kalo soal pelajaran.



"Yo… bagi jajan…" seorang cewe tiba-tiba menghampiri gw dan Rian yg lagi asik jalan bareng menuju kantin.



"Astaga! Malak gw lu?!"



"Duit aku ketinggalan Leo! Ntar juga diganti, buru, minta lima ribuuu…"



"Settt…" gw keluarkan uang pecahan 10ribuan dari saku lalu gw kasih ke doi. Gak tega liat mukanya yg memelas kelaperan.



"Thanks pangeran kodok, muaahhh…" godanya.



"Husss… minggat sana, ngerepotin aja! Dimana-mana selalu ngerepotin!"



"Kenapa sih tuh orang?" Tanya Rian.



"Gak tau, gw juga bingung, selalu aja gw, selalu jadi beban gw"



"Adek lu kan?"



"Hahaha?! Adek? Gw anak tunggal Yan, gak punya adek"



"Sepupu?" Tampang Rian udah mulai bingung.



"Bukan! Gak kenal gw, siapa tuh orang"



"Seisi sekolahan, apalagi kelas 1 dari A sampe C ngira dia tuh adek lu Yo, soalnya kayak akrab banget sih, dibilang pacar yaa tapii kelakuannya kayak kakak adek gitu," tutur Rian.



Iya emang, dari awal masuk SMP ini juga, selalu aja si Aleya deket-deket gw, minta tolong ini itu, masa orientasi sekolah pun waktu itu selalu ngandalin gw buat segala sesuatunya. Dibilang pacaran? Enggak lah! Sorry aja, bukan tipe gw cewe tomboy gitu, apalagi kita udah sama-sama kenal dari bocah.



Rian membeli mie goreng berbungkus mika transparan, sementara gw nasi goreng dari kantin, minum teh botol, duduk di pinggiran deket sama musholla. Berdua doang karena gak begitu nyaman temenan sama orang lain, masih belum. Gak nyaman ngobrol sama orang yg gak satu frekuensi sama gw, begitupun Rian.



"Sreett…" tiba-tiba duduk diantara gw dan Rian sambil nenteng mie goreng yg sama kayak Rian dan teh botol pula.



"Apasih!? Lu tuh cewe! Sana temenan sama cewe-cewe ahh!" Keluh gw.



"Hehe… males," jawabnya sambil senyum manja.



"Yaudah biarin lah Yo, lagian sepi juga daritadi berduaan doang…"



"Nahhh bener tuh, geser dikit …" ditepoknya paha gw.



"Kamu gak suka krupuk kan? Buat aku yaa," dirampasnya sebungkus krupuk bonus dari pembelian nasi goreng di kantin tadi.



Gak bisa apa-apa gw, cuma ngangguk pasrah doang. Gw bilang jangan pun tetep aja doi bakal ngambil kok, gak mungkin dengerin omongan gw tuh bocah.



Waktu istirahat pertama kita habiskan dengan senda gurau bareng bertiga, gw perkenalkan Aleya ke Rian, biar gak canggung gitu maksudnya karena mereka sama-sama temen gw. Mereka terlihat asyik ngobrol, becandain hal yg sebenernya gak lucu tapi anehnya kita sama-sama ketawa. Candaan receh khas bocah SMP, tentang guru, atau tentang murid lain yg, ah sudahlah.



Bell Pulang Sekolah…



"Kriiiiinngggg…"



"Baik, tenang dulu anak-anak semuanya, kembali duduk yaa…"



"Ibu akan berikan tugas buat dikerjakan dirumah, buka halaman 60, kerjakan soal latihan dari pojok kiri bawah sampai dengan…"



"Halaman 65… besok siang dikumpulkan di meja Ibu yaa…"



Eh alah, tugas lagi tugas lagi, males banget gw kalo ada PR gini, ngurangin waktu bermain gw dirumah sepulang sekolah kan jadinya. Rian kayaknya antusias banget nandain halaman buku dari 60-65 yg baru aja di bilang sama Bu Farida, gw, nyimak pun ogah, bukannya gw bodo, tapi gw selalu bodo amat dengan tugas toh ada backup an dari si monyet.



Setelah guru pelajaran matematika keluar dari kelas, gw gak buru-buru bangkit dari tempat duduk. Celingak celinguk dulu kiri kanan, nunggu kondisi aman.



"Woi… balik…" ajaknya menjulurkan tangan.



"Duluan sana, males gw…"



"Ehh monyong, balik sama siapa aku kalo gak sama kamu! Dah buruan"



"Ntaran lagi lah Ley, nanggung," jawab gw malah rebahin kepala diatas meja.



"Ehh ni anak, balik aja males-malesan, gimana disuruh belajar"



"Loh, masih disini lu?" Tanya sesosok yg tadinya udah keluar kelas tapi malah balik lagi.



"Ho'oh, masih betah nih si monyet…" jawab Aleya lantang, disentil-sentilnya pipi gw.



"Males balik gw Yan, dirumah yaa gitu lagi gitu lagi… gak ada hal baru yg bikin gw semangat"



"Kerumah aku aja, bantuin ngerjain PR tadi," celetuk Aleya menawarkan ide.



"Ogah, gw pengen nyontek Rian aja"



"Hahaha sialan, kapan pinternya lu Yo kalo nyontek gw mulu, mending lu pada ikut gw dah…" ajaknya.



"Kemana?" Tanya gw dan Aleya berbarengan.



"Tuh kan, kalian tuh cocok emang, hahahah, dah lah ikut aja dulu, siapa tau lu pada nyaman disitu"



Rian, gw dan Aleya jalan bareng menuju parkiran, mengenakan helm, dan si monyet seenaknya naikin motor gw lebih dulu, duduk di jok belakang dengan santainya, tanpa helm.



"Ley! Helm!" Seru gw.



"Iyaaa ntar beli lah, gampang minta Ayah…" sahutnya meringis manja.



"Loh… emang dirumah gak ada helm?" Tanya Rian keheranan.



"Gak ada lah…." Jawab gw dan Aleya lagi-lagi berbarengan dengan intonasi yg sama. Bikin Rian ketawa geli sampe geleng-geleng kepala. Kenapa mesti gini banget, berasa anak kembar gw.



Motor mulai jalan melintasi kota kecil tempat tinggal kami, mengitari taman terbuka, mesjid kebanggaan, sampai menuju pinggiran kota. Rian jalan didepan kami dengan kecepatan sedang, sementara gw dan Aleya cuman bisa ngekor dengan laju yg agak sedikit lebih pelan.



"Kemana sih ini? Kok gak nyampe-nyampe, jauh banget lho ini dari rumah…" ucap Aleya.



"Gak tau gw," jawab gw enteng.



"Loh bukannya temenmu? Kok gak tau?!"



"Eh Ley, temen sih temen cuman kita kan gak selalu sama-sama, lagian, baru kali ini gw jalan bareng Rian diluar jam sekolah, emang nya elu! Udah disekolah ketemu, dirumah ketemu lagi…"



"Eh! Gak mau dibantu ngerjain PR?! Oke!"



"Lohh… ngambek, serah lah, ngambek aja sana, turun sana lu!" Gw pelankan sedikit laju motor dan agak mendekat ke trotoar.



"Hehe… gak gitu Yo… ihhh salah aku, maaf yaa Leo ganteng… yukk jalan lagi, jalan… aku laper nihh… lapeeeer bangeeeet…" ucapnya manja sambil ngelus-ngelus perut gw.



"Bodo amat, yg laper elu, kenapa perut gw yg di elus?!"



"Uhhh… jangan marah-marah dooong… iya deh, ntar aku yg bayarin makannya…" godanya terus ngelus-ngelus perut, perut gw.



"Pake apa? Bukannya duit jajan lu ketinggalan? Tadi aja di sekolah kan gw yg jajanin?"



"Yaa pake duit kamu lahh, aku yg mbayarin doang ke kasirnya ntar hahahah!!"



Motor akhirnya berhenti disebuah kedai, dari luar sih tempatnya biasa-biasa aja malahan bagi gw gak meyakinkan. Disitu terlihat banyak anak sekolah dari SMA dan SMP sekitar, cuek aja gw dan temen-temen lainnya mendekati etalase yg menampilkan batagor-batagor hangat, baru diangkat dari penggorengannya.



"Pesen aja, kali ini gw yg bayarin," Rian senyum natap ke kita berdua.



"Seriusan Yan? Wuiiihhh lagi banyak duit nih kayaknya, yaudah gw batagornya yg banyak bumbunya ya…"



"Aku juga deh, tapi gak pake kacang ntar jerawatan…"



"Ley! Mana ada batagor gak pake kacang! Bego…"



"Ehh… hahaha yaudah batagor aja satu ya…"



Usai memesan makanan, kita duduk di salah satu meja yg dekat dengan jendela. Bisa sambil melihat kendaraan yg berlalu lalang dijalanan kota, disini agak sepi karena bukan pusat keramaian dan sedikit agak jauh dari hiruk pikuk kota kecil penghasil minyak.



Santap siang bareng, kita ngobrol asyik bertiga sambil becanda tentang hal-hal aneh dan lucu disekolah. Ngegossip tentang yg enggak-enggak, sampai akhirnya gw sadar, kita bertiga satu frekuensi. Gw suka musik, Aleya pun juga dan ternyata Rian juga suka hal yg sama. Mulai bahas tentang New Found Glory, All Time Low, dan band-band lainnya yg ternyata disukai juga oleh Rian. Buset, sekian lama gw duduk sebelahan sama doi dikelas, baru tau kalo ternyata Rian juga suka musik agak keras.



"Rumah lu dimana sih Yan?" Tanya gw ketika kita bertiga udah balik ke parkiran buat siap-siap menuju rumah masing-masing.



"Disitu tuh, kompleks yg #nganu#" jawabnya.



"Oohh, beda arah sama kita ya…"



"Iya Ley, kalian kan tetanggaan, lah gw kesana sendiri, yaudah yukk balik, ntar kesorean dicariin ama emak gw, sampe ketemu besok disekolah ya!" Rian mulai melaju dengan motor bebeknya, gw dan Aleya pun menyusul, meninggalkan kedai batagor menuju arah yg berlawanan dengan Rian.



"Asik juga orangnya si Rian ya," celetuk Aleya.



"Ho'oh, gak nyangka gw kalo ternyata dia juga suka musik kayak kita"



"Kita? Lu aja! Aku enggak, hahahaha!!"



"Bangke lu Ley! Turun Lu!"



"Ehhh… ngambek lagii… cup… cuppp… jangan ngambek dong sayang…."



"Sayang… sayang… kepala lu! Dah lah, ngebut nih…" mendadak gw naikin gas sedikit bikin motor melaju agak kencang.



"Woooo…." Aleya kaget dan langsung meluk setelah gw gas mendadak agak kenceng. Mampus lu, kenapa gak jatoh aja sekalian!.



Hari ini berakhir dengan sedikit ending yg berbeda daripada hari-hari sebelumnya. Berkat Rian yg ngajak gw dan Aleya buat mampir dulu kesebuah tempat yg belum pernah kami datengin sebelumnya. Dari situ gw dan Leya mulai makin akrab sama Rian. Batagor si bapak tadi juga lumayan enak kok, gak kalah sama yg asli dulu pernah gw makan di bandung.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 7 lainnya memberi reputasi
7 1
6
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
22-03-2021 22:01
@mavericks84
@exoluris
Mep sini buruan ada yg baru nih ramein....
0 0
0
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
23-03-2021 10:00
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]


The Space between us
separate us from the mass
time has gone so fast
will it back to get us blush...

Lirik nya duulu, lagunya kapan-kapan aja lahh di share wakakakak emoticon-Ngakak (S)
ni lagu yg di garap band gw btw, Almost Inmost judulnya sama dengan judul trit ini
belom rilis dimana-mana, ntar bakal rilis eksklusif di trit sini doang

Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]

profile Almost Inmost.
Band tapi solo, dimana isinya adalah:
Leonardo sebagai Guitar & Vocal
Jordy sebagai Bass & Synthesizer
Setyawan sebagai Drum & Backing Vocal

Salam buat mentor drummer band punk lawas abang @alif.tiger.revo yang udah banyak kasih masukan dalam lagu-lagu gw wekkeke

sejauh ini udah ada 2 lagu yang gw punya, salah satunya yaa itu yg judulnya sama kayak nih trit tapi belum rilis

Haha!
Diubah oleh exoluris
profile-picture
saannf12 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 15 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 15 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
24-03-2021 07:46
nungguin update ah...sambil download fruity loop
nasib ga punya drum set wkwkwkw emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
exoluris dan alealeya memberi reputasi
2 0
2
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
25-03-2021 00:38

Kasih musik dulu dah sambil nunggu aba-aba second commander buat ngepost emoticon-Ngakak (S)

This quicksand! it pulls me under!!
profile-picture
alealeya memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
29-03-2021 09:02
Chapter : 3
Body Guard




"Kreek…." Pintu kamar gw terbuka dengan sendirinya, gw gak denger suaranya karena lagi pakai earphone yg muterin lagu lumayan kenceng, cuman liat gagangnya doang bergerak lalu mulai terbuka perlahan. Lalu sesosok makhluk hidup mulai memasuki kamar, dan duduk diatas kasur, tepat disamping badan gw yg sedang nikmatin musik sembari rebahan.

"#@&*+?#@$&%&#+," ucapnya, gw gak denger karena dikuping masih terpasang sepasang earphone bervolume agak nyaring. Cuman liat gerakan mulutnya doang, gw ketawa, lucu aja gitu liat orang ngomong tanpa suara tapi mulutnya gerak-gerak.

"Seeettt…" dirampasnya walkman merk aiwa gw, ditekannya tombol stop, musik berhenti seketika.

"Sialan! Aku daritadi ngomong gak didengerin! Denger apa sih?" Tanya nya, merampas earphone dari kuping gw.

"Ets… lu pasti belum denger ini! Baru dateng kemaren di toko musik langganan…" gw rebut balik.

Diambilnya kotak kaset yg tergeletak disamping kasur gw.

"Less than jake?" Doi keheranan natap arah gw.

"Yoi… keren deh musiknya"

"Ini album yg ada lagu That's why they call it a union?" Tanya nya.

"Kok tau? Iya bener," sahut gw.

"Hehhh… yg nonton MTV bukan kamu sendiri doang! Sini bagi denger!" Kembali merampas earphone gw dari tangan, tapi kali ini gw biarkan doi nikmatin musik asik, album 'Anthem' dari Less than jake.

Gw bangkit dari kasur, menuju meja belajar, duduk disitu karena kasur udah disabotase dan gak enak banget rasanya ada tuh bocah disana. Bukan kali pertama dan kayaknya udah gak asing lagi kalo makhluk ini tiba-tiba nongol dan main masuk gitu aja ke dalam rumah apalagi kamar gw, udah kayak rumahnya sendiri aja gitu suka semena-mena. Ibu gw pun gak keberatan atau negor, karena doi emang udah dianggap anak sendiri oleh ibu gw. Maklum, gw anak satu-satunya dan setau gw, dari dulu ibu tuh pengen banget punya satu lagi anak cewe, tapi alhamdulillah sampe sekarang gak di kasih-kasih, jadi gw gak punya saingan.

"Jalan yuk…" ajaknya.

"Kemana? Capek gw, mau istirahat aja hari ini"

"Ah gak asik! Temenin aku lahhh…"

"Kemana sih?"

Bocah satu ini gak diajarkan orang tuanya buat mengendarai sepeda motor sendiri karena alasan keamanan, kasian, udah SMP masih belom bisa naik motor. Tapi, buat nganter kemana-mana kalo doi ada perlu, Ayahnya sendiri udah ngomong langsung ke gw, karena gw dipercaya sebagai body guardnya, emang beneran sialan, kemana-mana gw harus nanggung beban, gak dirumah, gak di sekolah selalu aja.

"Aleyaaa…!" Seru Ibu dari luar kamar.

"Yaaa buu???" Sahutnya.

"Ehhheeemmm… ini gak papa nih ibu masuk? Gak lagi ngapa-ngapain kan?" Goda Ibu gedor-gedor pintu kamar.

"Yah elah Bu, masuk aja, ngapain juga sama nih monyet, emang aku apaan bu, sesama cowo juga…" jawab gw.

"Braaakkk…" bantal melayang kemuka gw.

"Aku tuh cewe ya! Inget! Karena temenan sama kamu nih aku jadi kayak gini!" Gerutunya sambil masih usaha buat ngelempar satu lagi bantal.

Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar gw, entah ibu minta bantuan apa di dapur yg jelas sekarang keadaan jauh lebih tenang setelah gw kembali sendirian di kamar. Ahhh balik rebahan emang paling asik di hari libur gini.

"Kling…" sebuah nada notifikasi menandakan pesan baru masuk ke HP gw. Langsung buka, ternyata berisi ajakan dari anak-anak se band gw buat latihan, sore ini jam 4 di studio biasa. Ya biasa, dimana lagi emang, cuman disitu yg agak mending alat musiknya, dilain banyak yg gak diurus, gitarnya karatan lah, mic nya nyetrum. Kampret bener, pernah gw kesetrum mic pas lagi latihan di studio abal-abal.

Gw tatap jam di dinding, jarum pendek menunjukkan angka 2, jarum panjang di angka 5, ah masih lama. Kembali gw pakai earphone ke kuping, dan memejamkan mata buat lanjut nikmatin musik dari album yg baru aja gw beli beberapa waktu lalu.

Gak kerasa, mata yg sengaja gw pejamkan membawa gw terlarut dalam …

"Yahh dia tidur lagi…"

"Leo… oi…"

"Sreettt… seettt…" menggoyang-goyangkan badan gw.

"Le… O…." Seeeetttt… doi terpeleset saat coba menggoyangkan lagi badan gw dengan kedua tangannya sekuat tenaga karena gw tiba-tiba balik badan menghadap kearahnya.

Muka gw dan muka nya deket banget, hadap-hadapan cuman beberapa centimeter doang jaraknya. Hidung gw yg agak mancung, dikit lagi nyentuh hidungnya.

"Apa?" Ucap gw.

"Aa… eeeee… bang… un…" sahutnya terbata-bata.

"Jauhin muka luuu…." Gw dorong jidatnya buat menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah gw. Sialan, deket banget, hampir aja itu bibir nyentuh pipi gw.

"Jahaaaattt!!!" Keluhnya memukul-mukul tangan gw.

Setelah saling tatap dengan jarak cuman sejari tadi, kok ada perasaan deg-deg an ya?

Sempat awkward beberapa saat, karena jujur dari kecil sampe sekarang baru kali ini kejadian macam ini terjadi. Baru sekarang gw ngerasain wajah gw deket banget sama Aleya dan, kok malah muncul perasaan deg-deg an, aneh banget, ini gak boleh terjadi! Sialan, gw mikir apa sih.

"Yukkk buruan temenin aku dulu," ditariknya baju kaos yg gw pake.

"Kemana sih?"

"Ayooo, bediri dulu, ganti baju dulu sana"

Gw dipaksa buat nemenin doi pergi kesuatu tempat, gak jauh sih emang jaraknya dari rumah tapi kalo jalan kaki pasti capek. Rupanya Aleya mau ke tempat bimbel buat daftar, karena beberapa minggu terakhir nilai nya agak turun, gak kayak biasanya dan orang tuanya mulai khawatir. Enak bener, nilai turun dikit langsung disuruh ikut bimbel, lah gw…

"Udah?" Tanya gw setelah dia keluar dari tempat bimbel ternama itu.

"Udah, nih…" disodorkannya sebuah kertas kecil ke gw.

"Apaan?"

"Baca dulu," ucapnya lalu senyum sok centil.

Kertas itu tertulis informasi pendaftaran, ada data diri, kelas yg diduduki saat ini, dan info lainnya. Tapi, yg bikin gw kaget…

"Anjir! Kok gak bilang? Lu main daftarin gw sembarangan?!"

"Hahahahaha!!! Ehh Yo… kalo kamu gak ada, gimana caranya aku berangkat bimbel? Yaa sama kamu sekalian lah, dan juga tenang aja, semua udah dibayarin sama Ayah aku…"

"Bukan soal bayarannya Ley… ini… aduuuhhh, gw gak siap bimbel-bimbelan!"

"Hahahaha!!!" Dia tertawa puas, menertawakan ekspresi kaget gw saat nerima kertas pendaftaran bimbel itu. Sialan emang, gw dimanfaatin!.

Lepas urusan ditempat bimbel, gw ajak Leya buat ke tempat latihan band. Lumayan jauh jaraknya, waktu tempuh sekitar 15-20 menitan. Sampailah sudah kita di studio langganan band gw, tempat sederhana yg nyaman.

"Leya Leo… hahaha selalu bersama…" goda Bang Rudi.

"Hahaha anjir, kebetulan doang ini, gw abis nganterin dia ke tempat bimbel daripada bolak balik, gw ajaklah kesini sekalian…" jawab gw.

Brengsek, malah dapet julukan baru gw dari temen-temen band, apaan pula, "Leya-Leo" sialan. Doi nyengar-nyengir aja diledek begitu, seolah gak masalah buat dia.

Sore ini akhirnya berlalu sesuai harapan gw, ngelakuin hal yg gw seneng walau sempat sedikit ada drama sebelumnya. Haduh, tapi mulai rabu ntar, gw mulai masuk bimbel bareng nih bocah. Astaga salah apa sih gw, sampe segininya banget harus mikul beban, pagi disekolahan udah ketemu sampe siang, lah petangnya mesti ketemu lagi sampe malem, huhh…
Sebagai penutup sesi latihan kami hari ini, gw dan Feet Stop bawakan sebuah lagu Face Down dari The Red Jumpsuit Apparatus. Asik nih lagu, ntar coba ngulik lagu lainnya dari band ini ah..

Berapa hari kemudian

Mengenakan kaos polo warna biru malam, celana jeans hitam, sambil jalan keluar dari kamar menggendong tas ransel merk yg familiar buat skater, gw terobsesi banget buat jadi pemain skateboard karena sering liat asyiknya orang-orang pada main skate di video clip musik yg sering gw tonton, contoh di videonya New Found Glory, Nofx, Goldfinger. Kaki-kaki gw langsung masuk ke sepatu slip on warna merah.

"Jadi bimbel?" Tanya Ibu yg lagi nyiapin makanan diruang tengah.

"Iya, jadi Bu…"

"Wihhh anak bimbel nih…" canda Ibu gw sambil memperagakan gaya beken 'peace, respect and gaul'.

"Halahhh… apa sih Bu…"

Keluar dari rumah, maju beberapa meter dari depan rumah gw setelah mesin motor menyala. Gw klakson beberapa kali di depan rumah berwarna sama dengan yg gw tinggali, namanya juga rumah dinas.

"Tiiinnn…"

"Tiiiiinnnnn…"

"SABAR!!!" terdengar teriakan dari dalam rumah, seketika menghentikan jempol gw yg daritadi gak bisa diem.

Berapa saat kemudian akhirnya nongol juga nih bocah, bangke! Malah pake baju yg warnanya sama kayak gw, mirip lah, gak terlalu sama persis. Buset, dikira couple an entar! Masa iya hari pertama masuk bimbel, langsung nutup akses gw buat…

"Napa kamu pake baju warna ini!?" Keluhnya sesaat setelah duduk di jok belakang motor.

"Lu yg ikut-ikutan!"

"Kamu!"

"Dah bodo amat lah!, buruan berangkat ntar telat lho!" Timpalnya.

Sampai di tempat bimbel, gw parkirkan sepeda motor, Aleya masuk kedalam lebih dulu, lalu gw ngekor dibelakangnya. Wiisss! Anjir, cewe di sini bening-bening amat. Gw tertegun sejenak memandangi ciptaan tuhan, cewe-cewe cakep berkulit putih, mulus, rambut pada panjang-panjang. Buseeettt, gak salah pilih tempat nih si Aleya, tumben dia bener.

"Wuusss…" sebuah telapak tangan melengos dihadapan wajah gw.

"Bajing!!!"

"Hahahah!! Ngelamun aja! Liat apa!?" Doi celingak-celinguk, lalu balik natap gw sambil nyengir.

"Hhmmmm pantes gak kedip, pemandangan indah rupanya," sambungnya, lanjut jalan menuju ruang kelas yg akan jadi tempat gw belajar bareng dia selama beberapa jam kedepan.

Kursi yg berbentuk gak biasa menyambut gw, beda sama yg ada disekolahan gw. Hmmm gw sering liat kursi model gini, di kampus biasanya, liat di TV sih atau di film gitu. Gw senderkan badan disebuah kursi deket jendela, Aleya duduk gak jauh dari gw. Dia mulai mengeluarkan isi tasnya, sebuah buku, alat tulis yg terbungkus dalam box lucu warna kuning terang.

3 orang cewe yg tadi sempet mencuri perhatian gw di depan pintu masuk nih bimbel, memasuk ruangan kelas yg sama dengan gw. Sambil terus ngobrol bertiga, cekikikan, lalu duduk di kursi depan gw, tepat di depan gw.

"Wi… daritadi tu orang liatin lu terus tuh," ucap salah satu temennya saat gw gak berkedip memandangin salah satu cewe yg berambut panjang lurus, hitam mengkilap, kulitnya putih banget, kinclong, dan bentuk body nya proporsional banget.

"Settt…" doi natap ke arah gw, lalu senyum. Anjir, salting lah gw ditatap bentar doang sama tuh cewe padahal.

"Plakkk…." Buku menghantam bagian belakang kepala gw.

"Liatin cewe teruuus! Kita disini mau belajar lho ya! Bukan mau nyari cewe buat kamu!" Gerutunya menghampiri gw sembari ngambil buku yg tadi dilemparkannya.

"Bacot! Ga bisa liat gw seneng lu!"

"Nyahahaha!!!" Doi tertawa puas, begitu juga 3 cewe 'hot' tadi.

Pelajaran dimulai, hari ini materi bahasa inggris yg diajarkan, gw lumayan pinter kalo mata pelajaran ini, jadi sedikitnya gw bisa sedikit show off lah seberapa smartnya gw, buat sekarang, enggak tau lah kalo di pelajaran yg lain ntar. Sempet beberapa kali maju kedepan kelas buat ngerjain soal yg diberikan, biar makin nampak kalo gw pinter gitu. Gw sempet perhatiin cewe itu mandangin gw saat lagi ngerjain soal didepan, dapat pujian dari guru pengajar, haha! Gw emang pinter.

Gak kerasa, sesi belajar mengajar hari ini harus berakhir. Tapi hati gw cukup puas karena berhasil unjuk kebolehan ke orang-orang dikelas. Sekedar ngasih tau nih, kalo bahasa inggris mah bidang gw, jangan raguin gw lah gitu maksudnya. Pengajar meninggalkan kelas, begitu juga beberapa murid lainnya.

"Yukk balik Yo…" ajak Aleya setelah merapikan barang bawaannya kedalam ransel.

"Bentar bentar Al, tunggu…" segera mulai beberes.

"Seeettt…." Sesosok makhluk berdiri dihadapan gw, tepat di depan kursi yg gw dudukin.

"Hei… gw liat tadi kayaknya lu nyatat semua materi, boleh pinjem buku catatan lu gak?" Sapanya, straight to the point, seperti yg gw suka. Gw rada kurang sreg dengan orang yg kebanyakan basa-basi.

"Oh… hei… iya bo… boleh kok," sahut gw.

"Ehhheeeemmmm…" goda Aleya.

"Ehh sorry, ini cewe nya ya? Sorry yaa, gw cuman mau minjem catetan dia, boleh ya?" Ucap cewe itu nunjuk ke arah Aleya dengan jempol kanannya.

"Kenalin, nama gw Tiwi…" disodorkannya tangan kearah Aleya.

"Aleya, dan satu hal yg perlu kamu inget, aku bukan cewe nya!"

"Ohh masa?! Gw pikir lu cewenya, kayaknya akrab banget sih, apa adek kakak? Jangan-jangan kembar ya?" Godanya, diiringi gelak tawa dari 2 temennya yg lain. Cewe yg ngehampirin meja gw ini, gak lain adalah cewe yg daritadi gw perhatiin. Ternyata namanya Tiwi, penampilannya bener-bener stunning, pake blazer warna gelap, baju dalaman warna terang, rok pendek diatas lutut dan sepatu converse cerah, lu tau tampilannya Gwen Stacy dari The Amazing Spiderman? Nah begitu kurang lebih si Tiwi ini tampilannya, kece banget.
Diubah oleh exoluris
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 8 lainnya memberi reputasi
8 1
7
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
30-03-2021 09:25
Chapter : 4
Escape Pod


"hahahah! Gw pikir lu cewenya, abis kalian keliatan akrab banget sih…" Ucap Tiwi

"Atau jangan-jangan, kalian ini kembar yaa???!!" Nunjuk baju yg dipake gw, lalu nunjuk ke Aleya. Anjir! Ini semua gara-gara baju yg warnanya sama. Bangke emang si Aleya, napa mesti nyama-nyamain gw segala, malu gw.

"Hahahahah…." 2 temennya yg lain pada ketawa liat gw dan Aleya sedikit dipermalukan. Keliatan, si Tiwi gayanya sedikit agak Queen Bee gitu dan sepertinya doi yg lebih berpengaruh dalam genk nya yg beranggotakan 3 orang termasuk doi itu.

"Ehh sembarangan, mana ada anak kembar kayak gini, liat muka gw, mirip gak?" Coba menyangkal.

"Kembar kok, nih liat baik-baik!" Aleya menempelkan pipinya ke pipi gw, bikin wajah kami berdempet. Duh, kok gw langsung deg-deg serr rasanya yaa. Seumur hidup kenal nih bocah baru sekali ini wajah gw nempel langsung ke wajahnya.

"Hmmmm… agak mirip sih, tapi bodo amatlah, yg gw perlu catetan lu, boleh pinjem gak?" Ucapnya sekali lagi dengan tampang sok kecentilan.

Sebenernya gw gak perlu sama buku catetan tadi, bisa aja gw kasih pinjem tanpa syarat, lagipula lumayan kan buat jadi bahan biar gw ada alesan ngajak ngobrol si Tiwi besok. Tapi, apa Aleya udah nyatet semua materi yg diajarkan tadi? Kalo bukunya gw kasih pinjem ke Tiwi, terus doi?

"Nih, boleh lu pinjem kok," gw serahkan sebuah buku bercorak biru putih kuning kearah Tiwi. Aleya langsung natap gw seakan kaget, lha kenapa emang? Gw lagi usaha nih.

"Wow… thanks yaa Leo…" Tiwi senyum manis kearah gw.

"Anytime lah … eh, btw kok tau nama gw? Kan gw belum perkenalin diri?"

"Bukannya tadi pas maju kedepan, Pak guru manggil nama lu? Seisi kelas juga jadi tau nama lu Leo," terangnya. Gw pikir doi daritadi merhatiin gw, sampe tau nama gw tanpa bertanya, ehh ternyata gw doang yg ke GR an, bangke, malu gw anjir.

GR banget gw tadi dikelas bimbel, bangke. Sampe sekarang dijalan menuju pulang pun gw masih aja diketawain ama nih bocah di jok belakang. Sialan emang, malu tapi ada rasa seneng juga, rasanya nyampur aduk jadi satu dalam hati gw, liat senyuman si Tiwi tadi aja bisa bikin gw gak karuan begini, gimana kalo….

====================================================

Ehhh dia kumat lagi, keliatan dari spion kiri yg ngadap sedikit kearah wajahnya, dia nyengir-nyengir sendiri. Pasti masih inget-inget kejadian barusan. Astaga, segitu doang sampe bikin dia begini. Dan satu hal yg aku tau, pikirannya pasti lagi melayang entah kemana tuh, apa yg ada dalam otaknya saat ini, aku pun gak ngerti lagi. Perjalanan pulang nampaknya makan waktu agak lama gara-gara tingkah aneh Leo, kecepatan motor daritadi gak nambah-nambah, mmmhhh… ya ampun, 30 Km/jam. Eh tapi, itu spion kiri buat apa sih!? Kalo aku bisa nampak jelas liat mukanya, berarti dia juga sebaliknya dong!?.

"Eh Yoo… fokus dongg fokus!" Gerutuku dari jok belakang.

"Hmmmm…? Apa?!" Jawabnya santai, masih dengan ekspresi nyengir anehnya.

"Ihhhhh!!! Agak cepet dikit napa! Pelan banget kayak siput," ku coba cubit bagian perut kanannya. Kelemahan paling utama dari seorang Leo.

"Heii!!! Bangk…. Hahahaha!!! Bego! Geli!"

Kenapa?! Kaget? Bukan, ini cerita bukan tentang Leo seorang kok, bukannya udah dikasih tau dia diatas tadi?! Hey! Ini aku, gak ngenalin? Masih bingung? Oke aku jelasin ya sedikit, judul ini hasil collab antara aku dan Leo yg emang udah temenan sejak…. Mmmhh… entah kapan, pokoknya lebih dari setengah umurku hidup didunia ini udah sama-sama dia.

Tampangnya kembali lagi dihadapanku, muncul dengan gaya sok cool pake hoodie warna gelapnya itu. Haduh, makhluk ini lagi batinku. Setelah kejadian bersama Tiwi dan kumpulannya kemarin, tingkahnya makin sok ke gantengan.

"Ley… tau gak…!?"

"Enggak," potongku setelah nyeruput dikit es jeruk botolan.

"Tampang lu ngeselin banget!" Keluhnya.

"Bodo amat, apa sih?!"

"Lah katanya bodo amat, tapi penasaran juga!"

Leo mulai ceritain tentang kejadian malam itu, lagi. Dan ini adalah buat kesekian kali aku harus dengerin dia ngoceh tentang hal gak penting, tentang gebetannya, cewe yg diakui sebagai gebetan oleh dia lebih tepatnya. Hahhh… Tiwi… Tiwi… bikin hidup aku susah aja tuh orang, makin macem-macem si Leo kelakuannya. Segala mau kasih sesuatu lah, mau beliin coklat lah, apa gak mending buat aku tuh coklat!? Aku temenmu lho!.

"Pada ngomongin apaan?!" Seru Rian, narik kursi disampingku sambil bawa beberapa jajanan dan teh botolan.

"Hahahaha!!!!"

"Kok ketawa Ley?!"

"Aku ceritain ya Yo!?" Sambil nutup mulut, nahan ketawa.

"Gw aja yg ceritain, mana enak denger ceritamu!"

Dia mulai lagi, diceritakannya semua kejadian di bimbel, mulai dari si Tiwi yg mendadak ngelirik kearahnya pas dia lagi asyik merhatiin tuh cewe, sampai akhirnya cerita tentang buku catetan yg dipinjam. Semua cerita Leo mengarah ke satu titik dimana dia merasa kalo si Tiwi tertarik sama dia, dan menurutnya, cara klasik kayak pinjem buku catetan tuh adalah salah satu pertanda. Dengan PD nya dia nyombongin diri dihadapan Rian dan aku.

"Yooo…."

"Hmmm… apa Yan?"

"Jadi orang jangan terlalu bego lah," sambil lanjut melahap snack keripik kentang.

"Bego gimana?! Kan bener yg gw bilang! Lu gak pernah suka sama cewe sih Yan! Makanya gak ngerti…"

"Semua ciri yg ditunjukkin Tiwi tuh, artinya doi suka sama gw, masa sih gak tau? Ley! Lu kan cewe, pasti ngerti dong kalo tingkah si Tiwi tuh…"

Aku tempelkan telapak tangan diatas mulutnya yg daritadi gak berenti ngomong. Lebay banget sumpah, baru dipinjem buku catetan aja udah kemana-mana pikirannya, gimana kalo yg dipinjem itu HP nya?!.

"Yo! Ini bukan tahun 90an," ucapku sedikit kesel. Kesel karena seharian yg ku denger cuman cerita tentang itu lagi itu lagi.

Ku pikir, apa yg barusan aku lakuin bisa bikin dia sadar bahwa semua yg dipikirkan dan dikira nya bahwa cewe segampang itu bisa suka sama dia itu gak bener. Emang ada gitu orang langsung suka setelah pandangan pertama dan dia sedikit pamer kebolehan dalam berbahasa inggris?!

"Hah! Lu berdua sama aja!" Keluhnya, bangkit dari kursi kayu diseberangku. Menyisakan aku dan Rian, saling tatap, bingung dengan kelakuannya hari ini. Tingkahnya aneh banget sumpah! Gak kayak Leo yg biasa aku kenal.

"Eh! Mau kemana lu!?" Tanya Rian.

"Kelas musik"

"Ngapain?!" Teriakku, dia mulai jalan menjauh dari area kantin.

Jari tengah diacungkannya sembari terus melangkah maju, gak mempedulikan kami berdua. Lumayan, ada sisa jajanan yg ditinggalinnya diatas meja tempat kami duduk. "Udah, biarin dia sendiri dulu Ley," ucap Rian menahanku saat mau bangkit dan mengejar Leo.

"Ceritain ke gw dong, gimana sih orangnya si Tiwi itu? Lebih kece daripada Dea?" Tanya Rian, penasaran dengan sosok yg bikin Leo gak konsen hari ini.

Satu persatu aku bocorkan, memberikan gambaran tentang Tiwi yg udah mencuri hati Leo, dan dalam pertemuan pertama udah bisa bikin dia sebegini nya. Padahal ya, kalo seandainya emang suka sama suka, kenapa gak tukeran nomer HP kemaren pas di bimbel?.

Sekolah hari ini berakhir, ransel kembali tergantung dipundak sebelah kiri, sengaja gak dipake keduanya tali ransel itu biar keren. Jaket jeans warna biru terang ku ikatkan di pinggang, lagi-lagi alasannya 'biar keren'.

"Balik sekarang yukk… laper aku Yo…" aku gerak-gerakin tangannya yg masih berada diatas meja, gak bergerak dari posisi duduknya di meja kelas, tepat disebelah Rian.

Hujan gerimis diluar masih terus turun, bikin seisi kelas adem dan males gerak. Sebenernya aku juga masih betah-betah aja nikmatin hujan lewat jendela kelas tapi, perut ini udah gak ketahan.

"Yoooo…." Ku towel-towel pipi kirinya, dia malah makin asyik diem sendiri sambil merebahkan kepalanya diatas meja.

"Ayooo baliiiikkk… ihhh ngambek yaa??? Maaf yaa Yooo… jangan ngambek dooong…"

"Balik sendiri sana! Gw males balik kerumah," jawabnya, nadanya sedikit tinggi, bener-bener bukan Leo yg biasanya.

"Kamu kenapa sih? Gara-gara soal Tiwi tadi? Ya ampun aku kan cuma becanda Yo …"

"Hmmmm…."

"Ihhh masa gitu doang jawabnya, ayukk lah Yo balik, kalo males kerumah, mending kerumah aku aja, gimana?"

"Sama ajaa monyet! Rumah kita kan sebelahan, ya pasti keliatan Ibu gw lah motor gw parkir depan rumah lu!"

"Motornya taruh belakang, atau ke tempat batagor kemaren? Enak lhoo batagornya… kalo lagi gak punya duit, aku yg traktir deh," bujuk ku coba terus ngajak dia buat keluar dari sekolahan ini.

Akhirnya dia mau setelah aku mengeluarkan jurus bujuk rayu dan sedikit memelas, kami pun langsung menuju tempat batagor yg kemaren kami sempet makan bareng bertiga dengan Rian, tapi hari ini cuma kami berdua karena, aku tau Leo lagi perlu aku dan gak pengen ada orang lain. Cukup aku aja, yg jadi tempat dia bercerita.

Sampai di kedai batagor, aku langsung turun dari motor, memesan makanan, Leo pun aku pesankan satu porsi makanan yg sama dengan ku. Kami mulai duduk disatu meja yg dekat jendela, bikin pemandangan luas ke sekitar jalanan kota nan mulai padat dipenuhi kendaraan lalu lalang.

"Gini ya Yo… aku tu bukannya gak suka kamu sama Tiwi, tapi…."

"Tapi apa?! Lu tau apa sih? Emang di dunia ini yg gw pikirin tentang Tiwi doang?" Sahutnya menatapku seakan matanya berkaca-kaca.

"Lho… bukannya daritadi kamu selalu cerita tentang Tiw…."

"Ya itu, lu tuh gak tau apa-apa tentang gw! Ley! Sadar! Selama ini gw pernah segila itu ke cewe?!"

"Mmmhh… seingatku sih enggak…"

"Makanya! Ini bukan soal Tiwi doang Ley! Bukan!" Mata sebelah kanannya menitikkan air mata yg melaju turun membasahi pipinya.

"Hei! Udah ahh jangan cengeng! Kamu kenapa sih?!" Bentak ku.

"Gw gak mau cerita disini, yuk…" digenggamnya tangan kiri ku, dituntunnya menuju ke motor yg terparkir dihalaman depan kedai.

Usai menancapkan kunci, diberikannya sebuah helm kepadaku, ku pakai, lalu roda berputar membawa kami menjauh dari kedai. Entah kemana dia bakal bawa aku siang ini, sedikit agak ngebut.

"Mau kemana sih?" Tanya ku, coba memastikan keadaannya.

"Udah diem aja, ntar juga tau sendiri"

"Ya… tapi kemana?"

Gak mendapat jawaban, kisaran 20 menit berkendara akhirnya kami tiba disebuah toko. Bangunan kosong tak berpenghuni di tengah kota, dekat dengan pusat keramaian dan pasar besar. Ini toko milik Bapaknya Leo, investasi kata beliau. Dibukanya pintu belakang dengan kunci yg selalu tergantung jadi satu dengan kunci motornya. Langsung diajaknya aku ke lantai atas, menuju sebuah kamar. Kondisi toko ini bener-bener gak terawat, debu dimana-mana dan barang berserakkan, tapi beda halnya dengan sebuah kamar dilantai 2.

"Escape Pod?" Lantang kubaca tulisan dipintu kamar yg terkunci.

"Klakk…." Kunci nya terbuka, Leo masuk lebih dulu menyalakan lampu.

Wow! Didalam jauh berbeda dengan kondisi diluar dan dibawah tadi. Disitu rapi, bersih dan, lho! Ada TV dan PS juga. Hmmmm… escape pod, rupanya tempat buat bolosnya. Heran, udah sekian lama kenal dia, tapi baru kali ini aku diajak kesini dan baru tau kalo dia punya tempat gini buat menyendiri.

"Seeeeettt…" dipeluknya aku dari belakang. Terhalang ransel yg tersandar dipundakku.

"Yo… r u ok?" Tanya ku.

"No… i'm not ok…"

"Kenapa sih? Duduk dulu yukk, capek tau berdiri gini…" kucoba lepaskan pelukannya, meletakkan ransel disamping kasur busa, lalu duduk bareng didepan TV yg gak dinyalakan.

"Sebenernya…" Leo mulai bercerita tentang hal yg membebaninya selama ini.
Diubah oleh alealeya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 18 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 18 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
05-04-2021 18:33
Cerita baru lagi nih bang?
Yg kmrn blm selesai baca padahal
Yg metanoia ya klo gak salah judulnya 😁
Aku noted dl deh ini cerita
Sepertinya menarik 😁
profile-picture
alealeya memberi reputasi
1 0
1
Lihat 10 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 10 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
07-04-2021 00:37
Salut bongkar memory... Buat nulis cerita

Mungkin:
Time skip nya di tahun 2000 an
Lokasi di Balikpapan/Pekanbaru
profile-picture
profile-picture
exoluris dan alealeya memberi reputasi
2 0
2
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
11-04-2021 23:04
aaaaa aku rindu tempat inii >,<
Space Between Us (yang tak tersampaikan) &#91;True Story&#93;
profile-picture
profile-picture
EriksaRizkiM dan exoluris memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
14-04-2021 10:23
Chapter : 5
Truth




ehh… Wait, kalo Bapakmu kesini gimana Yo?!" Ada sedikit rasa takut, biarpun gak ngapa-ngapain disini tetep aja, apa pandangan orang kalo lawan jenis berduaan di tempat sepi gini.

"Gak bakalan Ley, tempat ini gak bakal didatengin Bapak, Ibu atau siapapun, ini tempat gw," jawabnya, masih dengan ekspresi sendu.

"Oh… ok, jadi kita aman disini ya?"

"Yaa aman lah, ehh… emang kita mau ngapain?" Dia nyengir jahat kearahku.

"Braaakkk…" ku lemparkan sebuah cover DVD game PS kemukanya.

"Bangke!" Keluhnya.

"Mikir jangan ngeres! Ehh tapi, aku seneng liat senyuman itu balik lagi," ku elus kepalanya yg tadi sempat dihantam cover DVD berbahan plastik lumayan keras.

"Sakit bego!" Gerutunya menepiskan tanganku.

"Yaa maaf … Namanya juga khilaf, yuk lanjut ceritanya, ada apa sih?"

"Berarti kalo gw khilaf juga, tinggal minta maaf doang nih?!" Diangkatnya sebelah alis memandang kearahku.

"Enak ajaa!!!" Ku dorong kepalanya cukup kuat sampai dia agak mundur dan hampir terjungkal dari duduknya.

"Leya sialan!"

"Hahahahahah," geli sih sebenernya denger kata-kata ditambah gaya genit dari dia, tapi aku sebel, yaa kalo genitnya ke aku doang sih gak apa, kalo sama yang lain? Hmmm…

====================================================

Gw buka sesi curhat bersama Aleya dengan kata pengantar, salam, isi dan penutup. Formal banget kan? Iyalah, tadi disekolah barusan belajar itu di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Enggak deng, becanda. Gw mulai ceritain tentang hal apa yg terjadi belakangan ini dikeluarga gw. Emang, gw dan Leya tetanggaan, tapi ada jarak lumayan jauh dari rumah ke rumah. Jadi, mau ngomong agak kenceng pun gak bakal kedengeran tetangga, ditambah lagi ini bangunan cukup berumur, temboknya tebel banget. Saat mau pasang paku buat gantungan gitar pun gw mesti sedikit usaha lebih.

Keluarga gw adalah keluarga lumayan berada, serba berkecukupan dan hidup tentram berkat Bapak gw yg kerja di BUMN perusahaan minyak. Seenggaknya itu yg orang pikirkan, yg orang lihat, tapi bukan itu yg gw rasakan. Apalagi, belakangan ini sering ada cekcok kecil sampai sedang dirumah. Tentang apalagi kalo bukan tentang wanita lain.

Saat ini, gw masih belum mengerti, kenapa Bapak gw bisa tergoda wanita lain sedangkan Ibu gw gak kalah cantik dan awet muda kok. Bahkan kalo dijejerin sama Aleya, mungkin bakal dikira kakak adek karena saking awet mudanya Ibu gw. Tapi, takdir berkata lain. Ada wanita idaman lain dihati Bapak gw. Ketahuan? Pasti! Kota tempat gw tinggal ini gak gede, dan gimanapun gerak-gerik lu pasti bakal kebaca sama orang disekitar.

Belakangan Bapak gw sering balik malem bahkan sampe larut, entah kemana gw gak ngerti, setahu gw, Bapak kerja dan cari nafkah untuk menuhin kebutuhan yg semakin banyak dari keluarga kecil gw ini. Gak mau ambil pusing, gw selalu pake earbud dirumah, lebih baik gw dengerin lagu daripada harus denger ocehan Ibu dan Ayah gw diluar kamar sana.

Ibu gw adalah seorang Ibu rumah tangga, beda dengan Ibunya Aleya yg seorang wanita karir. Kebanyakan waktu Ibu dihabiskannya dirumah, ngurusin ini itu, beda dengan Aleya yg kerjaan rumahnya dikerjain si Bibi. Ok, langsung ke intinya ye… Bapak dan Ibu gw berantem cukup hebat tadi malem, sepulang gw bimbel. Dan u know what, kayaknya Ibu udah tau semua tentang perselingkuhan Bapak. Keluarlah segala macam cemoohan, rumah gw berasa kebun binatang, but, sekali lagi thanks to tembok tebal dan jarak antar rumah dinas yg lumayan jauh bikin suara bising dirumah gak kedenger sampe tetangga.

"Jadi… Bapak kamu…?" Aleya kaget, ekspresi penuh tanda tanya ternganga dihadapan gw.

"Biasa aja dong muka lu, jangan ngeselin gitu, bisa?" Gw acak-acak rambutnya, kesel liat wajahnya.

"Ihhh!! Berantakan kan!" Gerutunya.

"Sorry yaa Yo, aku ini temen kamu tapi aku gak tau apapun soal ini," ucapnya lagi, merangkul badan gw.

"It's ok, lagian gw gak mau orang lain tau soal ini dan lu, satu-satunya orang luar rumah yg tau tentang ini, jadi, jangan bilang siapa-siapa, ok?"

"Ok…. Rahasiamu aku jaga…" diacungkannya jari kelingking kearah gw, pinky swear? Gw sih yakin sama Aleya, dia gak bakal ngomong kemanapun tentang ini, atleast kalo pun orang lain tau, harus tau dari mulut gw sendiri, Rian contohnya. Tapi, gak sekarang.

Sedikit lebih lega rasanya setelah cerita sama Aleya, fyuuuhhh… gini ya rasanya curhat sama sahabat, plong banget dan pikiran agak tenang. Apalagi setelah gw rebahan di pahanya, empuk banget nih paha untung lebar.

"Plaaakkk…" tepokan mendarat dijidat gw.

"Bilang sekali lagi!" Matanya melotot menatap gw.

"Paha lu lebar"

"Plaaaakkkk….!" Sekali lagi tepokan jidat sukses bikin gw kesakitan, bangke!

"Ampuunnn ampuuunnn… iya deh, lu paling langsing sejagat raya, yg lain mah…. Hmmmm… lewaaatt!…" Gw halangi jidat pake kedua tangan. Bukannya dapet tepokan lagi, doi malah ketawa geli, sampe kepala gw jatuh dari pangkuannya. Malah lebih sakit kejedot lantai.

Waktu berlalu cepat, gak kerasa sesi curhat ini berlangsung sampai sore menjelang. Udah berapa jam ya dari pulang sekolah jam 1 an tadi, kayaknya baru sejam disini tapi dari jendela yg ditutupi tirai gw lihat matahari agak sedikit turun, mulai rada gelap diluar ruangan.
Sambil terus ngoceh, cerita tentang ini itu kejadian dirumah yg gak semua orang tau dan seharusnya ini jadi aib bagi keluarga gw, gw nyalakan TV berikut dengan PS, masukan satu DVD game berjudul, "Naruto Ninja Storm".

"Ehh dia malah nge game," keluh Aleya yg serius dengerin curahan hati gw dengan seksama.

"Udahan dulu lah ceritanya, capek mulut gw ngoceh mulu daritadi," sahut gw sambil terus milih-milih menu di game, gw sodorkan sebuah controller PS warna item itu kearahnya.

"Nih, main bareng yuk…"

"Aku ga bis…."

"Udah jangan banyak bacot, mainin aja tinggal di teken-teken, pencet ini, goyangin batang inian nya," potong gw menerangkan.

"Plak…." Sebuah tabokan mendarat di pipi kiri gw.

"Bego!" Keluh gw nutupin pipi, pedes banget tuh tabokan.

"Ngasih tau yg bener, ambigu banget bahasanya…"

"Lah emang bener gitu cara main nya, kayak gak pernah main PS aja"

Rasa laper mulai melanda diperut gw dan Aleya, susunan mie instan kemasan cup jadi penyelamat kami. Sekedar mengobati rasa keroncongan sesaat karena jujur, gw masih enggan rasanya buat pulang dan balik lagi ketemu orang tua dirumah. Paling gak, biar gw disini dulu sampe batin dan pikiran sedikit agak tenang.

Gw denger diluar udah mulai mengumandangkan Adzan, tadinya gw pikir baru jam 4 an, eeh ternyata pas gw tengok ke arah jendela yang tertutupi tirai ditambah beberapa poster, gelap mulai menyelimuti kota, sejenak keheningan terjadi dijalanan yg tadinya ramai dilalui orang yg hilir mudik mencari penghidupan kala spektrum warna terindah muncul, perpaduan warna orange dan biru gelap.

Ledekan demi ledekan terus aja berlangsung sembari kita mainin game berantem naruto.

"Yo…"

"Apa? Nyerah? Kalah terus?" Jawab gw enteng.

"Balik yuuuk, dah gelap," pintanya sedikit merengek.

"Bentaran lagi lah, kenapa? Lu laper? Gw seduhin mie lagi ya"

"Enggak… Aku takut dicariin, sampe jam segini belum balik kerumah"

"Yaudah lah, tunggu selese adzan lah"

Matahari kian hilang dari pandangan, gw dan Aleya menyusuri ruangan toko dari lantai dua, mengunci escape pod gw, lalu jalan sambil pegangan tangan menuju keluar dari bangunan toko.

"Gelap banget sih nih toko, pasangin lampu napa Yo!" Keluhnya.

"Buat apa? Seru tau gelap-gelapan gini"

"Brakk!!" Mendadak terdengar suara barang jatuh saat kita berada ditangga, anak tangga ketiga dari bawah.

"Anj…..!" Teriak Aleya mendadak meluk gw.

"Hahahaha! Kenapa?! Kaget?"

"Sialan, hiii apa tuh Yo?!" Meluk gw makin kenceng, digenggamnya erat.

"Jangan… Jangan…"

"Apaa!! Apa!?" Dia makin panik.

"Hantuuuu!!" Teriak gw sambil berlari menuju keluar toko, Aleya narik baju seragam sekolah gw kenceng banget ngikut lari dibelakang.

"Fyuhh… Huuhhh… Haduuuhhh! Leo bego!" Gumamnya sambil ngos-ngosan sesampainya di halaman belakang toko.

"Yeee gitu aja ngos-ngosan, lemah banget lu, ehh tapi beneran lho Ley, nih toko ada penunggu nya," gw tunjuk kearah lantai 2, disitu ada satu ruangan yg lampunya menyala 24 jam, entahlah ruangan apa itu gw gak punya kuncinya.

"Anjiir!! Buruan baliiiikkk!!!" Ditariknya badan gw menaiki sepeda motor matic, buset kuat juga nih bocah. Mungkin the power of panic kali yah.

Roda motor mulai bergulir menyusuri kota, tempat yg mulai sepi diselimuti kegelapan malam. Aktifitas sejenak berhenti disini, gak kayak kota besar yg masih ramai orang lalu lalang meski udah tengah malam, disini jam 9 malam pun udah sepi banget.

"Brruuuummmm…" Motor berhenti disebuah rumah bercat warna putih, emang standar warna rumah dinas ya begini. Aleya turun dari jok belakang. Gak lama, sebuah mobil juga berhenti, masuk kehalaman rumah yg luas.

"Loh!? Baru pulang sekolah?" Tanya Ibu-Ibu yg baru turun dari mobil, menghampiri gw dan Aleya yg masih pada ngobrol di depan rumahnya.

"Hehehe… Iya bu, baru kelar ekskul," jawab gw coba kasih alasan biar Aleya gak kena marah.

"Ohh… Ekskul kok sampe jam segini? Gak pada bimbel?"

"Libur bu, hari ini gak ada jadwal, kan gak tiap hari bimbel nya," sahut Aleya. Kebohongan demi kebohongan terus berlanjut, padahal sebenernya ada jadwal hari ini, cuman emang gw dan Leya aja yg bolos.

"Yaudah Bu, aku balik dulu yaa, Assalamualaikum…" Gw nyalakan lagi motor matic, jalan beberapa meter kedepan, masuk kesebuah pekarangan yg gak kalah luas dari punya Aleya, langsung menuju ruangan belakang masukin motor gw dalem pagar.

Sembari menutup pagar yg terbuat dari kayu, gw intip kearah rumah Aleya, dia dan Ibunya jalan berdampingan sambil ngobrol hangat. Uhh enaknya kayak gitu, gw kok…

"Leo!?" Seru Ibu dari dalam rumah.

"Ah sh*t! Here we go again…" Gumam gw dalem hati.

"Iya Bu…"

"Darimana aja? Jam segini baru pulang?" Berdiri depan pintu, menghalangi jalan masuk gw dengan tatapan agak nyeremin. Padahal Ibu gw terkenal humoris, tapi malam ini tatapan matanya beda banget, gak kayak Ibu yg biasa gw kenal. Apa gw salah ya?.

"Da… Dari ekskul Bu…"

"Ekskul apaan? Masa balik jam segini?!"

"Iya, buat persiapan ulangan semester ada materi tambahan matematika," jawab gw ngasal.

"Ohh yaudah, dimana emang ekskulnya? Kok sampe jam segini sih?"

"Dirumahnya ibu Farida bu, gak di sekolahan lahh, serem kalo disekolahan mah kan Ibu tau sendiri sekolahan itu bekas…" Gw coba canda, mencairkan suasana.

"Ya ya ya… Hiii… Ngeri tauk! Yaudah masuk sana, mandi terus makan malem gih, kamu doang yg belum makan," dirangkul Ibu badan gw masuk menuju ruang tengah. Fyuuhh selamat gw kali ini.

Gw celingak celinguk sana sini sambil jalan menuju kamar, ngelepasin seragam yg bakal dipake lagi besok, jalan ke kamar mandi, mandi, sampe udah selesai langsung duduk di meja makan. Gak keliatan daritadi Bapak gw. Kemana ya?. Bukannya udah lama banget sejak jam pulang kerja, tadi mobil Ayahnya Aleya aja udah parkir rapi disamping rumahnya, lah Bapak gw?.

"Kenapa sih Yo?" Tanya Ibu mungkin merasakan kegelisahan yg lagi melanda gw. Bukan apa-apa sih, gw cuman males aja, bosen denger ribut-ribut mulu dirumah tiap kali Bapak pulangnya malem.

"Hmm… Gak papa Bu"

"Celingak celinguk sana sini daritadi, nyari Bapak?"

"Hehehe… I… Iyaa Bu…" Ketahuan deh, emang yaa susah bohongin Ibu kalo soal yg beginian.

"Dahlah Yo, gausah dicariin, ntar juga datang sendiri kalo kamu dah tidur, abisin makannya yaa…" Ibu tampak tersenyum kearah gw, meski gw tau, senyuman itu dipaksakan. Gw pun sedikitnya merasakan kepedihan yg dirasa Ibu. Tapi sebagai anak, gw bisa apa? Apa yg bisa gw lakuin buat bikin keluarga ini kembali kayak dulu lagi? Kembali kayak memori masa kecil gw dimana semuanya indah.

Selesai makan, gw langkahkan kaki menuju kamar. Tempat teraman buat gw mengekspresikan diri. Gw mau ngapain aja bebas disini, walau posisi gw sebagai anak tapi siapapun yg mau masuk ke kamar gw yg lagi tertutup harus ketok pintu dulu. Kecuali si Aleya, sialan tuh bocah suka seenaknya aja masuk gitu aja tanpa permisi.

Sayup gw denger suara mobil dinas Bapak parkir di halaman samping tepat sebelah kamar gw. Akhirnya datang juga Bapak gw yg udah telat berjam-jam sejak jadwal pulangnya. Seandainya dirumah ini gak ada foto keluarga yg terpampang di tembok, mungkin gw dah lupa sama wajah Bapak gw, saking jarangnya ketemu. Paling pas sarapan pagi dan itupun cuman beberapa menit doang duduk bareng diatas meja sebelum akhirnya pergi ketempat kegiatan masing-masing. Gini amat ya keluarga gw, gumam hati kecil gw yg seringkali meronta-ronta.

Baru juga Bapak memasuki rumah lewat pintu samping, tempat tadi gw masuk saat pulang. Entah kenapa keluarga gw lebih doyan make pintu samping daripada pintu depan, aneh ya keluarga gw? Emang. Bapak disambut dengan ocehan dari Ibu, astaga mulai lagi mereka!.

"Sreettt…" Gw tarik headphone yg bisa menutupi seluruh telinga, play aja kaset apapun yg ada didalam walkman, langsung putar agak kenceng volumenya. Gw males denger hal beginian!.

"Tik… Tik… Tik…" Gw ketikkan sebuah sms di N-Gage QD gw, langsung kirim tanpa banyak mikir panjang.

"Apaan? Gak denger apa-apa aku, emang kenapa Yo?" Sebuah pesan balasan masuk ke HP gw gak lama setelah sms terkirim. Kebetulan, mungkin Aleya juga lagi pegang HP jadi responnya cepet banget.

"Yg gw ceritain tadi sore, lagi kejadian dirumah," balas gw lagi. Kali ini sms gw gak langsung dibalas kayak tadi, mungkin doi lagi belajar? Atau ngerjain tugas?! Anjir tugas! Iya ya! Lupa gw ada tugas, ya ampuun mana kondisi lagi begini pula. Ah bodo amatlah!
Diubah oleh exoluris
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 14 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 14 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
15-04-2021 10:26
disini nanti ada perserabi lempitan ga bang leo? emoticon-Big Grin
Diubah oleh tomcarlo123
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
18-04-2021 00:46
Chapter : 6
Too Soon



Pagi akhirnya datang juga, cuitan burung bersahutan diluar jendela. Tempat ini memang masih asri, dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang bising. Disini tiap pagi aku bisa dengar suara indah dihiasi suasana pagi yg benar-benar bikin kangen, apalagi kompleks perumahan dinas ini. Ahhh setiap pagi selalu disuguhi pemandangan ini, jendela terbuka, diluar bisa dengan jelas ku lihat pohon-pohon yang daunnya basah diselimuti embun.


"Morning! Yuukk sarapan," sapa Ibu berdiri di dekat jendela kamarku. Tiap hari selalu begini, aku bangun setelah Ibu membukakan jendela kamar, karena suara yg dihasilkan jendela itu cukup nyaring saat dibuka. Maklum bangunan lama, kayaknya berumur udah puluhan tahun deh ini rumah dinas.


"Pagi Bu, duuhh ketiduran aku yaa…"


"Hu'um… Capek banget kayaknya kamu, tumben banget ga nonton MTV dulu tadi malam?" Tanya Ibu duduk diatas kasur tempatku tidur.


"Ehh… Bu…"


"Yaa Al?"


"HP aku mana Bu?" Setelah coba rogoh kebagian bawah bantal dan gak ketemu, aku mulai panik.


"Ohhh..  itu, ibu charge di atas meja kamu tuh. Lagian kamu ketiduran sambil megangin HP, emang ngapain sih?"


"Hehehe gak papa bu, sms an doang, thanks yaa Bu udah di charge in, kalo enggak pasti bakal kehabisan batere deh disekolah…" Ku peluk Ibu yg masih betah duduk diatas kasur bareng aku yg udah bangkit dari posisi tiduran.


"Yuukk… Sarapan, terus mandi siap-siap sekolah," ajak Ibu bangkit dari kasur, menjulurkan tangan kearahku.


"Oke bu…"


Aku dan Ibu jalan bareng menuju meja makan, sebelumnya aku mampir dulu ditempat pencucian piring dekat dapur buat cuci muka dan gosok gigi. Dirumah ini setiap paginya cuman aku doang yang paling telat mandinya, Ayah sama Ibu pasti udah pada siap dengan seragam kerja masing-masing saat sarapan dimeja makan.


"Mmmmmhhh… Wahhh enaknya, nasi goreng yaa?" Seru ku menebak menu sarapan pagi ini sambil berjalan menuju meja makan.


"Iya dooonng… Ibu kamu yang bikin nih," sahut Ayah dengan senyuman manisnya.


"Uuuuhhh… Ini sih pasti enak banget, lho Bibi kemana? Kok Ibu yang masak?"


"Ada, lagi kepasar… Yaa gak papa dong, apa gak kangen sama masakan Ibu?" Dikerutkan Ibu dahinya. Hehe, suasana kebersamaan keluarga seperti ini, hangat dan tak terlupa.


Kami mulai santap nasi goreng spesial buatan Ibu, dengan beragam topping mulai dari sayuran, sosis, sampai suiran ayam. Ya gini kalo Ibu udah masak, gak kalah sama nasi goreng restoran ini. 


"Tiiinnn…" Suara klakson berisik berkali-kali terdengar dari depan rumah.


"Leo?" Tanya Ayah langsung nyengir ke arahku. Yah elah ada apa nih dengan tatapan Ayah?.


"Iya kali…" Sahutku sambil terus nyuap nasi goreng yang enak banget luar biasa.


"Tumben pagi banget, baru jam berapa nih, hmmm… Jam 7 aja belum," Ayah ngangkat tangan kirinya yang terpasang jam tangan warna silver.


"Suruh masuk gih Al, ajak makan sekalian, Ibu bikin banyak kok nasi gorengnya," ucap Ibu. Yahh… Pake disuruh masuk segala ini bocah.


"Hei… Buruan, malah makan terus," seru Ibu bikin aku langsung berhenti ngunyah, bangkit dari duduk, jalan kearah pintu depan.


"Klekkk…"


"Astaga! Masih pake baju tidur!" Dia nepok jidat diatas motornya yg mesinnya masih menyala itu.


"Iyalah! Aku baru aja sarapan, sini gih masuk dulu"


"Ngapain?" Ngeluarin wajah polos atau lebih tepatnya tampang blo'on.


"Masuk aja dulu… Kamu kan dah lama gak main kesini, yukk… Yukk…" Aku hampiri dia, narik tangannya buat turun dari motor.


"Ehh.. main tarik aja, bentar-bentar…"


"Buruan, kamu dicariin Ayah tuh"


"Hah? Salah apa gw?" Ekspresinya langsung berubah panik, agak pucet wajahnya setelah denger kata-kata ku barusan.


"Tauuu deh, makanya buruan…" Sekali lagi aku tarik tangannya tapi kali ini dia pasrah, distandarkannya motor matic kesayangannya itu di halaman depan rumahku, turun, ngekor jalan dibelakangku menuju dalam rumah.


"Assalamualaikum…" Ucapnya saat memasuki pintu depan, bringasan boleh, tetep harus sopan dong, katanya.


"Wa'alaikumsalam… Masuk sini Leo," sahut Ibu dari ruang makan.


Ku tarik lagi tangannya agak kenceng, dia sedikit melawan tapi aku berhasil bawa dia masuk ke kandang macan. Mampus kau, hadapin tuh yang paling kamu takutin, haha.


"Waduduh… ini dia, orang deket tapi jarang kesini, duduk sini Leo…" Ayah menarik kursi disebelahnya, mempersilakan Leo buat duduk disitu, haha rasain!.


"Heheh.. iya Yah… Anu… Sibuk soalnya"


"Sibuk? Ngapain? Kerja? Hahaha…"


"Biasa lahh… Ngeband Yah, baru merintis," jawabnya garuk-garuk kepala.


"Wuiihhh jadi anak band sekarang? Aleya ikut juga?" Ayah coba korek informasi, walau sambil becanda tapi tampang garang Ayah emang udah nempel aja gak bisa dirubah.


"Iya ikut dia, jadi penonton tapi, hehehe…" Leo mau ikut becanda maksudnya, tapi masih gak bisa bikin Ayahku ketawa. Emang gampang naklukin macan?


"Nih… Sambil dimakan yaa Leo," Ibu menyuguhkan sepiring nasi goreng buatannya tadi kehadapan Leo.


"Ehh… Waduh jadi ngerepotin, sebenernya aku udah makan sih tadi dirumah," kilahnya belagak sok nolak. Padahal aku tau, semua itu bo'ong.


"Yaa gak papa, cicipin aja lahh dulu, siapa tau suka, yuukk makan bareng…" Ucap Ibu, kita berempat mulai makan sesuap demi sesuap nasi goreng ternikmat sedunia ini.


Sambil ngobrol santai, tentang keseharian, suapan demi suapan terus berlanjut diiringi candaan dan sedikit tertawa kecil. Kalo ada Ayah agak ribet, sambil dimeja makan gak boleh ketawa terbahak-bahak meskipun ada sesuatu yang lucu sekalipun.


"Yo… kemaren kemana sama Leya? Kok sampe malem baru pulang?" Tanya Ayah. Hmmm rupanya pertanyaan ultimate ini sengaja disimpen buat terakhir sebelum Ayah berangkat kerja.


"Hehehe… Anu Yah… Kita ikut ekskul matematika," jawabnya lancar. Emang terlatih buat bo'ong nih orang.


"Oh ya? Sampe malam? Gak bimbel gitu?"


"Mmmhhh… Sebenernya gak sampe malam juga sih, sampe sebelum magrib udah kelar kok, tapi gak sopan kalo magrib-magrib dijalan kan, makanya kita nunggu kelar magrib baru deh pulang," Leo nyengir sambil ngutarain kebohongan yg dibuatnya seakan bener terjadi. Salut aku sama Leo, setiap kata-kata bohong yang dibilangnya seakan kenyataan.


"Masa? Kok pas Ayah lewat sekolahan kalian udah kosong gitu?" Ayah ngangkat sebelah alisnya. Nah loh! Aku gak ikut ngomong deh, takut salah.


"Lah… Kan emang gak disekolahan Yah ekskulnya, di rumahnya bu Farida… Walau bayar, gak papa deh yang penting kita bisa ngerti materi nya buat persiapan ulangan semester," tuturnya, luwes banget bo'ongnya yaa ampun.


"Oh bayar yaa? Ya ampun, kemaren bayar pake duit siapa nak?" Tanya Ibu.


"Pa… pake duit jajan bu," sahutku malah jadi ikut bohong. Emang ya, bohong tuh nular dan bakal berlanjut lagi kalo udah keluar satu kebohongan.


"Hari ini ada lagi? Nih kalo ada lagi Ibu kasih, buat kalian berdua ya… Cukup kan?" Ibu dengan mudahnya ngeluarin satu lembar warna biru uang pecahan 50.000 rupiah. Leo emang hebat!.


Ayah akhirnya berangkat duluan, meninggalkan aku, Ibu dan Leo yang masih duduk bareng diatas meja. Sedikit lebih santai ngobrolnya saat ga ada Ayah, ga seformal tadi.


"Gemeteran gw Ley…" Gerutu Leo yang pindah duduk kesebelahku.


"Hahahaha… Bu, dia gemeteran," ledekku ngelus-elus kepalanya.


"Ya iyalah, siapa pun pasti gemeteran kalo ngadepin Ayahmu itu hahaha… Leo kenapa kok masih takut sama Ayah? Bukannya udah dianggap keluarga disini"


"Entahlah Bu, gak ngerti aku, mungkin gak takut sih tapi lebih ke segan hehe…"


"Eh iya, tumben kamu pagi banget Yo jemput Leya nya?" Tanya Ibu lagi.


"Hehehehe…. He… A… Anuu Bu, aku mau nyontek tugas," tuturnya sambil masang tampang blo'on lagi.


Rupanya itu yang diincernya daritadi, pantes dateng jemput sepagi ini. Oh iya, dia pasti belum kelar ngerjain tugasnya itu. Mau nyontek aku, hahaha! Untung tadi malem aku udah ngerjain.


"Bentar ya… Aku mandi dulu," kutinggalin Leo yang pindah duduk keruang tamu setelah Ibu berangkat kerja.


"Ya ampun! Baru mau mandi, buruan! Kalo lama gw mandiin lu!"


"Ehh! Enak aja!"


Kutinggalkan dia diruang tamu, mandi sekitar 15 menitan, berpakaian seragam sekolah. Dan siap biat berangkat. Make up? Buat apa? Sekolah kok lebay, cukup lah pake bedak bayi udah deh. Emang aku si Dea? Kesekolah aja pake lip gloss segala, hii…


"Yuk berangkat," ajakku sementara dia lagi asik mainin game asphalt di HP nya.


"Nanggung ah, bentar…"


"Eh ntar telat lho! Yuk buru…"


Pasrah, disakuinnya juga akhirnya HP yg bentuknya kayak controller game itu, mulai jalan menuju tempat motornya parkir, naikin motor, dan aku duduk dibelakang tanpa helm. Aduh, mesti beli helm nih aku.


Perjalanan kami tempuh sekitar 5-8 menitan sambil ngobrolin tentang tadi malam, menyusuri jalan sepi yang gak banyak orang lewat, paling yang lewat sini cuman anak SMP tempat kami atau anak SMA negeri di seberang sana yang ga jauh jaraknya dari sekolahan kami. Gak enak sih sebenernya aku ketiduran tadi malam hehe.


(tadi malam…)


Quote:Aku masuk rumah dengan kondisi hangat dan nyaman seperti biasa, sambil dirangkul Ibu kami masuki sama-sama pintu depan, mengarah menuju ruang tengah dimana terlihat Ayah sedang duduk nonton TV, eh enggak juga, lebih tepatnya duduk didepan TV sambil ketiduran, ah isengin ah, hihi…


Pelan-pelan aku jalan menuju arah Ayah, langkahku perlahan mendekatinya. Sampai tepat dibelakang Ayah.


"Baaaa!!" Seru ku mengejutkan sambil menepuk pundak Ayah yang lelap ketiduran sambil nyandar.


"Weee gak kaget!" Dilempar Ayah sebuah bantal kecil yang sebelumnya di peluknya, tepat mengenai wajahku.


"Haduuhhh… Kesel ah," keluhku. Ibu tertawa geli melihat tingkah aku dan Ayah.


"Ahh Ayah gak seru," aku pasang tampang ngambek lalu duduk disamping Ayah.


"Eeehhh anak Ayah ngambek, cup cuuup… Jangan ngambek doong," dibelai Ayah rambutku.


"Ga mau! Tetep ngambek"


"Lahh kok malah langsung duduk sih, yuuk mandi, abis itu ganti baju, baru deh kita makan bareng yaa…" Di tarik Ibu baju seragamku dari belakang. Hehe iya juga, lupa kalo belum mandi daritadi sore.


Aku selesaikan ritual mandi malam ini, dinginnya sisa air yang udah mulai kering di badan makin menjadi-jadi setelah aku masuk kamar dan kulit terkena hembusan pendingin udara. Setelahnya aku ngambil buku PR, lalu ku bawa menuju ruang tengah buat ngerjain sambil dibantu Ayah atau Ibu sekalian makan malam bareng disitu.


Emang paling enak kalo ngerjain tugas rumah dibantu gini, jadi lebih cepet selesai dan bikin suasana lebih terasa deket antara aku, Ibu dan Ayah. Tugasku udah kelar deh, lanjut makan bareng dengan hidangan luar biasa enak bikinan Bibi. Hehe, hidup seperti yang ku jalani ini sepertinya jadi impian banyak anak diluar sana.


"Jadi, anak Ayah udah gak ngambek kan?"


"Ihh… Kata siapa?! Masih tauuu…" Aku pasang lagi wajah ngambek.


"Yeee… Kok masih, emang harus gimana biar ga ngambek lagi?" Goda Ayah menyentil-nyentil pipiku.


"Mmmmhh… Beliin helm dong Yah…" Pintaku. Langsung dipandang Ibu wajahku seakan aneh.


"Mau helm yang gimana emang? Dan buat apa?"


"Yaa yang bagus, yang lagi nge tren hhee…, Buat jalan lahh… Kan aku sering motoran sama Leo, tapi sampe sekarang gak punya helm, penting tauu Yah buat ngelindungin kepala," kukedip-kedipkan mata ke Ayah, aku tau, kalo aku udah minta dengan cara ini, gak bakal ditolak kok.


"Halah… Bisa aja si Aleya ngegoda Ayahnya, yaudahlah mas beliin," ucap Ibu malah ikut masang tampang genit juga.


"Yeee dua cewe sama aja, iya iyaa beli lah besok sama Leo ya…" Sahut Ayah.


"Asyiiikk… Ehh, duitnya mana Yah?"


"Hmmm… Duitnya? Minta lah sama Leo, hahaha," Ayah ketawa lepas, ihhh Ayah apa sih!


"Tuh… Tuh… Mukanya merah kan!?, udah ngaku aja deh Al…" Makin digodain Ayah. Aduuuuhhhhh.


"Ihhh Ayah ahh!! Ngambek lagi nih," kusilangkan kedua tangan didepan dada.


"Yaa terserah, nih duitnya mau gak?" Dikipas-kipaskan ayah 3 lembar warna merah kearah wajahku. Ya kusabet langsung lah duitnya.


Selesai makan dan ngobrol santai diruang tengah bareng keluarga, aku bereskan buku tugas yang tadi sempet berserakan di atas sofa depan TV, lebih tepatnya sih Bibi yang beresin, aku tinggal mungut doang. Ga lupa, ku sabet juga HP Nokia yang punya best audio quality, bagian bawahnya bisa diputer buat jadi tombol pengontrol musik, kamera, atau keypad. Canggih banget teknologi belakangan ini, dengan HP ginian aku udah bisa selfie sambil liat tampilan wajahku dilayar bahkan sebelum adanya fitur kamera depan di HP. Eh ngomong apa sih aku, kamera depan itu apa? Kan belum zamannya. Langsung deh jalan menuju kamar tidur.


"Lho?! Mau kemana Al?" Tanya Ayah.


"Ke kamar Yah…"


"Hmmm?? Ke kamar? Tumben banget, ga nonton MTV dulu?" Tanya Ibu menyambung pertanyaan Ayah sebelumnya.


"Ntar aja Bu, kalo udah mau mulai baru keluar lagi," jawabku, lalu menutup pintu kamar. Jalan menuju meja belajar, meletakkan semua buku yang tadi aku bawa, duduk diatas kasur sambil ngutak-atik HP.


"Trinnnggg…" Sebuah SMS masuk, pas banget momennya, aku baru aja buka kunci layar.


"Lu denger gak?! Itu, yg gw ceritain tadi sore, baru aja diceritain udah kejadian aja sekarang," tulis Leo. Heh? Apanya? Kejadian apa sih maksudnya?


Tik… Tok… Tikk… Tok… Duaaarrr… Aku mikir keras, apa sih yang diomongin dia.


Setelah sekian detik ke freeze buat mikir, astaga! Baru nyambung aku, maksudnya Bapak sama Ibunya! Ya ampun.


"Apaan emang? Gak denger apa-apa tuh, emang kenapa Yo?" Balasku segera sambil fokusin pendengaranku buat mencari suara yang dimaksud Leo di sms tadi, emang gak kedengeran apa-apa lho!.


Gak kuasa lagi rasanya nahan pengen rebahan, langsung aja ke posisi paling nikmat.



"Ciiiittt….!!" Leo ngerem mendadak membuyarkan lamunanku tentang kejadian tadi malam, diikuti suara agak kenceng, "braaakkk…" Didepan kami. Segera ku toleh kearah sumber suara. Astaga!


"Astaga! Hampir aja," keluh Leo setelah berhasil lepas tabrakan didepan. Jantungku langsung deg-deg an dibuatnya.


Didepan motor yang aku dan Leo tumpangi terjadi tabrakan, gak parah sih cuman dua motor senggolan dan bikin kedua pemotor sama-sama jatuh karena salah satunya ngebut cukup kenceng. Ih itu tuh yang aku takut dari naik motor sebenernya, kalo pake mobil kan agak lumayan safety paling gak, hmmm… Gak sampe luka-luka gitu kayak anak yang didepan kami sekarang ini.


Dua anak berseragam SMA yang tadi ngebut terpental agak jauh sementara satu lagi anak berseragam sama dengan aku dan Leo, eh kalo gak salah ini temen sekelas deh.


"Temen kita kan?" Tanya ku memastikan.


"Iya kayaknya, anak yang duduk deket jendela itu bukan sih?" Jawab Leo.


"Seettt…" Dua anak SMA itu menghampiri teman satu kelas kami, digenggamnya kerah baju anak itu kenceng, kena pukulan sekali di bagian wajah kiri, lalu dilepaskan gitu aja. Aduh, aku takut kalo udah begini, mana jalanan sepi banget lagi.


"Woooiii!!!" Teriak Leo sambil nunjuk kearah dua berandalan SMA itu. Nah, ini yang aku gak suka, aku gak suka!


"Yo… Yoo…  udah!" Kucoba tarik baju seragamnya dari jok belakang saat dia mau turun dari motor yang udah distandarin nya.


"Lepasin," sahutnya masang tampang garang.


"Yooo… Enggak Yo… Jangan ikutan, aku takut…"


"Gak papa, udah lepasin dulu biar cepet kelar"


"Apa lu!? Sok jagoan lu!?" Teriak balik dua anak SMA merasa gak terima dengan apa yang baru aja dilakuin Leo.


"Mikir dong lu pada! Mentang-mentang senior mau seenaknya!? Dia gak salah! Elu yang salah gobl*k!" Leo teriak-teriak makin kenceng, bahkan sekarang udah lepas dari cengkramanku, lompat dari motor menuju ke dua anak yang tadi sempet main tangan ke teman sekelas kami. Astaga! Aku panik, apa yang harus aku lakuin sekarang!? Mana gak ada yang lewat lagi.


Quote:Ngepost ah mumpung rajin, hehe 🤭
Sambungannya tagih si Memen yaa...
Diubah oleh alealeya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Nikita41 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
23-04-2021 04:29
Oke nenda dulu disini bang leo, nanti ane baca
profile-picture
exoluris memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
23-04-2021 09:22
Chapter : 7
Punishment


"Pedes juga omongan lu ya bocah!" Teriak satu dari dua anak SMA yg ada dihadapan gw, geram gw liat mereka semaunya. Emang dikira kita yg masih seragam biru putih ini takut apa!?

"Maju sini lu!" Seru satu temannya yg lain.

"Elu yg sini!! Beraninya disitu doang!? Tantang gw balik. Gw berani begini bukan nekat, emang modal nekat bisa bikin gw bebas dari babak belur!?.

"Seeeetttt…" Sebuah tonjokan tangan kanan mengarah kemuka gw dong, wuuusss… Langsung gw menghindar dengan refleks yg cukup bagus walau agak telat dikit, gw balikkan serangan kearah gw itu jadi tenaga yg menguntungkan bagi gw.

"Braakkkk…" Seorang yg nyerang duluan tadi langsung jatuh terkapar, padahal gw sentil dikit doang. 

"Anj*ng lu ya!" Satunya ikut maju cepat melayangkan pukulan lain, bruuukkk… Tepat kena diperut gw, tersungkur lah gw diatas jalanan aspal.

"Leoooo!!!" Teriak Aleya dari arah belakang gw, dia masih tetap diatas motor, gak gerak sedikitpun.

Gw lihat kearah anak SMP temen sekelas kami itu, doi terduduk disamping motornya yg masih terbujur diatas jalanan, sementara satu orang yg nyerang dan berhasil bikin gw jatuh tadi siap buat serangan lanjutan.

"Bruuaakk…" Gw serang balik kearah kakinya yg terlihat terbuka dan defenseless. Doi jatuh disamping gw, wajahnya menghadap kearah gw langsung gw lanjutin dengan pukulan tangan kiri bertubi-tubi.

"Aaaaaa!!!"

"Baj*ngan! Lu predator! Beraninya sama anak SMP lu!" Gw kunci lehernya dengan lutut bikin doi susah bernafas. Bodo amat, mau mati sekalian gw gak peduli. Diangkatnya tangan keatas, entah apa maksudnya mungkin nyerah atau entahlah.

"Huhhh…" Gw lepaskan kuncian dileher tadi, bikin tuh orang leluasa narik nafas, emang enak dicekek gitu hah?!.

"Brengsek lu bocah! Awas aja lu!" Tunjuknya kearah gw.

"Apa lu!? Masih berani!?" Gw gerakin kaki seolah mau nendang.

Dua orang itu kabur, yg satu naikin motornya lebih dulu lalu disusul temennya. Sambil jalan meninggalkan gw yg dibelakang ngacungin jari telunjuk seakan nantang. Lah, kalo emang urusan belum kelar ngapain pada balik dah! Bego! Seragam doang SMA, otaknya SD.

"Lu gak papa?" Gw coba bantu berdiri seorang anak temen sekelas yg tadi sempet jatuh tersungkur gak berdaya di aspal gara-gara sebuah pukulan kenceng menghantam perut.

"Ga… Gak papa, makasih ya Yo…" Sahutnya.

"Hehehe… Iya sama-sama, lain kali lu jangan diem aja kalo digituin"

"Takut gw Yo…"

"Teppp.." tiba-tiba dapet tepukan dipundak, Aleya gabung dan ninggalin motor terparkir ditengah jalan yg sepi.

"Gak papa kan kamu, Miza kan?" Tanya Aleya.

"Iya Al, gak papa kok gw, makasih ya kalian udah nolongin, iya gw Miza, hehe…"

"Eh bego! Motor ditinggal disitu sama kuncinya, ambil!"

"Eeee… Mana bisa aku bawa motor Leo!"

"Ya diseret kek, diapain kek, astaga… kebangetan lu!" Gw jalan agak cepet menuju motor matic gw yg dengan entengnya ditinggalin gitu aja, kalo di bawa orang gimana? Mau ngejar pake apaan?.

"Yukk.. yuk.. buruan ke sekolahan bareng," gw hampiri lagi mereka dengan motor, Aleya terlihat sedang menunjuk-nunjuk luka ditangan Miza gegara jatuh tadi.

10 menitan sisa waktu perjalanan kami tempuh, sampe juga di gerbang tinggi warna silver. Si penjaga pagar terlihat udah siap di posisi buat ngunci tuh pagar tepat jam 8.15 nanti, berarti ini udah hampir jam segitu, hampir telat dong gw.

"Bentar paaak!! Jangan di kunci dulu…" Seru Aleya tepat disamping telinga gw, anjir untung aja kelindungan sama helm nih kuping.

"Masih belum kok neng, yuuk masuk sana…"

Gw arahin motor menuju parkiran, sebuah berlantaikan beton setinggi kurang lebih 30cm dari tanah, beratap seng. Panjang tempat parkir ini kalo di total mungkin sekitar 400m, cuman bentuknya gak lurus, hampir siku sempurna.
Dari kejauhan gw lihat si Rian baru aja nurunin motornya dan disamping tempat parkirnya itu masih kosong. Sementara anak yg tadi gw tolong ngekor dibelakang kami.

"Tiinnn…" 

"Woi! Brisik!" Gerutunya.

"Pemarah amat si kampret," ledek gw sambil nyetandarin motor tepat samping Rian.

"Hahaha bodo amat Yo, eh… Kenapa dah seragam lu?" Ditunjuknya baju putih gw yg kucel gak beraturan bahkan gak dimasukin kedalam celana seperti yg di wajibkan aturan sekolah.

"Plaakkk…" Sebuah tepokan dibagian belakang helm gw terasa lumayan kenceng sampe tertunduk sedikit gw dibuatnya.

"Sok jagoan! Bikin khawatir aja! Bilangin nih temen mu Yan, kalo mau sok jagoan sendiri aja sana!" Aleya lompat dari jok belakang sambil ngedumel gak jelas, masih panjang lagi ocehannya tapi gak gw hiraukan.

"Ngapa sih?" Rian nampak kebingungan, "eh elu juga Miz, kenapa kok luka-luka gitu? Baju kotor pula, lu berantem sama Leo!?" Sambungnya makin terheran.

"Tanya aja tuh sama orangnya langsung, males aku," Aleya berlalu menuju kelas. Tumben banget dia jalan duluan dan sendirian, biasanya juga bareng-bareng.

"Kenapa dia?" Tanya Rian sambil tertegun mandang ke arah Aleya yg udah jalan membelakangi kami.

"Entahlah," gw juga ikut bengong bareng Rian.

"Eh… Oh iya, Miz… Lu kenapa?! Belom dijawab daritari," Rian mengalihkan pembicaraan, menyambung pertanyaannya tadi.

"Yee… Gimana dia mau jawab, lu daritadi gak merhatiin," gw tepuk pundak Rian, kesel gw.

"Hehe… Gak papa kok, tadi gw jatuh disenggol orang, untung aja ada Leo yg nolongin," terang Miza menjauhkan gw dari tuduhan.

"Ohhh gitu, lah terus, kenapa elu ikut berantakan Yo? Bukannya yg jatuh si Miza?" Rian makin bingung.

Gw jelaskan lah ke Rian semua yg terjadi tadi dijalan sepi itu. Tentang gimana heroiknya aksi gw menyelamatkan Miza tadi, dan gimana hebatnya gw bisa mukul mundur dua orang yg secara body lebih gede dari gw dan juga lebih senior.
Kita bertiga jalan bareng menuju kelas kami di pojokan sebelah kiri bangunan sekolah SMP ini. Sambil cerita-cerita santai, kaki melangkah pelan.

"Thanks yaa Yo, udah nolongin gw tadi…" Miza merangkul gw dari samping.

"Yoi bro, gw sih kalo ada yg butuh bantuan yaa gw tolong lah, masa iya gw biarin, lagi pula kita kan temen sekelas"

"Mmm… Yo… Yan…"

"Oi… Apa Miz?" Sahut Rian.

"Gw boleh gak ikut sama geng kalian?" Tanya nya.

"He? Geng apaan?" Gw kebingungan, coba menelaah maksud dari omongan Miza.

"Yaa ikut aja, nongkrong aja bareng kami Miza, siapa yg ngelarang emang," jawab Rian.

Sejak saat itu gw, Rian, Miza dan Aleya selalu bersama selama disekolah, juga dalam beberapa kesempatan kita jalan bareng diluar sekolah. Miza bilang dia ngerasa aman saat deket sama gw, mungkin karena tadi dia liat cara gw ngelawan dua orang anak SMA itu deh makanya doi bisa bilang gitu.

"Seeettt…" Muncul sesosok dari pintu kelas yg tinggal berapa meter doang dari hadapan gw.

"PR lupa kan?" Ucapnya, flat banget ekspresinya.

"Astaga! Gw lupa, sini buruan buku lu mana Al!" Gw lari sekenceng yg gw bisa ngejar Aleya yg buru-buru masuk kelas masih dengan ekspresi dan tampang yg flat itu. Kayaknya nih anak beneran ngambek sama gw.

"Mana buku lu?!" Gw gebrak meja nya.

"Apa sih! Berisik aja pagi-pagi!" Keluh temen semejanya, Linda.

"Bawel lu Lin, gw ada perlu sama Leya, bukan lu!"

"Mana bukunya!? Buruan gw nyontek!" Sambung gw pasang wajah panik ke Aleya.

"Mana sempet, coba denger, 5… 4… 3… 2…"

"Tengg… Teng… Tenggg…." Bell penanda pelajaran pertama akan segera dimulai sudah berbunyi. Guru yg bakalam ngisi pelajaran pertama ini terkenal ontime, paling lama beliau masuk ke kelas tuh 5 menit setelah bell berbunyi.

Langsung lemes kaki gw, pasrah dah pasti bakal dapet hukuman ini mah, yahh hormat lagi deh di bawah tiang bendera. Rian dan Miza memasuki kelas, masih dengan candaan. Kayaknya mereka cepet cocok deh.

"Kenapa Yo?! Lari kayak kesetanan…" tanya Rian sambil memindah posisi ranselnya dari punggung.

"Kelupaan PR gw Yan…"

"Yahh elah… Masih aja lu, siap-siap lu dijemur, mana terik banget lagi tuh diluar," Rian nakutin, bangke bukannya kasih solusi.

"Gak papa lah, matahari pagi sehat katanya," sahut gw pasrah, jalan menuju meja tempat gw dan Rian duduk.

"Settt…" Sebuah tangan menangkap lengan kiri gw saat berjalan menuju meja, bikin gw berhenti sejenak, balik badan buat ngeliat, siapa sih yg berani nya berentiin gw.

"Nih ambil PR gw, sebagai ucapan terimakasih gw ke lu karena tadi udah nyelamatin gw," ucapnya diiringi senyuman, dicabutnya selembar kertas berisi PR dari bukunya.

"Terus lu?" Tanya gw keheranan.

"Gak papa, gak usah mikirin gw, toh tadi waktu nyelamatin gw juga lu gak mikirin diri  lu sendiri kan"

"Gleegg…" Gw nelen ludah, kagum gw dengan orang ini, padahal sebelumnya gak pernah akrab atau deket, selama ini kita cuman kenal sebagai temen sekelas, gak lebih.

"Thanks yaa Miz…"

"Sama-sama Yo, dah buruan duduk, bentar lagi pasti bapak dateng," jawabnya kemudian duduk di kersi tempat duduknya yg deket jendela itu.

Gw tenteng selembar kertas pemberian Miza tadi menuju meja tempat gw dan Rian, tinggal beberapa langkah doang, bertepatan dengan gw letakin pantat diatas kursi, seorang pria paruh baya masuk kedalam kelas. Seisi kelas bangkit dari duduk buat memberikan salam, lalu duduk lagi setelah selesai. Proses belajar mengajar dimulai setelah pagi ini berawal dramatis bahkan sampai di kelas pun drama ini terus berlanjut.

"Pertama, bapak mau kalian kumpulin dulu tugas yg sempat bapak berikan kemarin, dari absen paling belakang yaa satu-satu maju," ucap sang guru killer bertampang sangar. Mampus lah, dari absen belakang.

"Zaleya Agustian," panggil beliau. Aleya langsung berdiri dari posisinya, berjalan kedepan menuju meja guru, meletakkan sebuah buku disana.

Satu persatu siswa dan siswi dipanggil, ini metode ngumpulin tugas paling aneh yg pernah gw alamin dan hal ini gak gw alami di sekolahan lain lho. Emang bener-bener dah ini guru satu. Terus maju seorang demi seorang, gak ada satupun yg gak ngumpulin tugas dari si Bapak ini lho, hebat emang beliau bisa bikin seisi kelas bahkan seisi sekolah takut sama beliau.

"Miza Hendrawan," panggil beliau, Miza gak berdiri, cuman terdiam di posisi duduknya.

"Miza? Mana PR kamu?" Tanya beliau lagi.

"Mmm… Anu pak, lupa," jawabnya.

"Lupa?! Berdiri disini sekarang juga!" Bentak beliau, lalu menghampiri Miza setelah doi berdiri didepan papan tulis.

"Plaaakkkk…." Sebuah penggaris kayu menghantam bagian paha Miza. Bangke, gara-gara gw jadi doi yg kena hukuman. Seisi kelas cuman terdiam menyaksikan hukuman yg mungkin dimasa sekarang udah gak boleh lagi dilakuin, ya kalo mau nekat paling berujung polisi.

"Keluar kamu dari sini! Ke tiang bendera sampai jam pelajaran bapak selesai!" Beliau nunjuk arah pintu kelas, segera Miza meninggalkan kelas sambil dikit meringis kesakitan. Lama-lama patah juga tuh penggaris kayu kalo terus dipake buat mukulin murid.

"Sebelum bapak lanjut manggil, ada yg berani gak ngerjain PR lagi gak selain Miza!?"

Sekelas terdiam, gak ada sedikitpun suara. Emosi sih gw sebenernya liat kejadian barusan, tapi gw bisa apa? Disini gw niat pengen nyari ilmu, bukan nyari ribut sih.

"Saya pak," berdiri lalu langsung maju kedepan kelas tanpa disuruh. Aleya, Rian dan teman-teman lainnya heran mandang kearah gw.

"Oh kamu! Kenapa kamu gak ngerjain tugas yg udah bapak berikan!?"

"Karena menurut saya, tugas dari bapak itu terlalu sulit, dan materi tentang itu kayanya belum pernah diajarkan sebelumnya"

"Kurang ajar kamu!"

"Plakk!!! Plakk!!!" Gw dapet double pukulan di bagian paha. Sleeppp langsung ketulang rasa sakitnya, anjir gini bener rasanya sekolah disini, kenapa gw gak milih negeri aja sih dulu!

"Keluar! Dan kamu jangan pernah masuk kalo jam pelajaran bapak!" Teriak beliau nunjuk kemuka gw.

"Siap pak, dengan senang hati," jawab gw sedikit menantang. Gw berani gini bukannya nekat sebenernya, karena emang nih guru keterlaluan, harus dikasih pelajaran sekali-sekali.

Gw jalan menghampiri Miza yg lagi bediri depan tiang bendera sambil nyengir-nyengir. Doi kaget liat gw juga keluar dari kelas.

"Loh bukannya udah gw kasih PR nya?" Tanya Miza.

"Hahaha… Gerah dalem kelas Miz, gw pengen disini aja lah seger"

"Bego lu!"

"Emang," jawab gw lalu duduk diatas semen pembatas antara tiang bendera dan rumput lapangan upacara.

"Ehhh bego! Kita lagi dihukum kok lu malah duduk!" Miza panik, takut kalo si guru killer itu liat gw duduk dan bakal nyamperin buat kasih hukuman tambahan.

"Bodo amat, capek gw, udah lu duduk aja Miz"

"Emang gila lu Yo!"

Masa hukuman gw dan Miza akhirnya selesai saat jam istirahat pertama, Aleya dan Rian langsung nyamperin membawakan sebotol air mineral yg selalu aja ada dibagian pouch botol ranselnya Aleya. Tau aja kalo gw haus abis dijemur kurang lebih sejam disini.

"Kalian gak papa kan?" Tanya Rian memastikan kondisi kami.

"Gak papa lah, emang kenapa kita?"

"Lemes dengkul gw Yan," jawab Miza.

"Ehh ehh… Jangan pingsan lu, berat badan lu Miz," goda gw.

"Hahaha anjir, kaga lahh, yuk ke kantin, gw laper banget," Miza rangkul gw buat jalan bareng menuju kantin di pojokan ruangan lab komputer.

Sesi pelajaran hari ini akhirnya hampir kelar, setelah dari pagi sampe menjelang siang penuh drama. Mata pelajaran bahasa jepang sebagai penutup hari ini bener-bener bikin otak gw sedikit agak refresh deh. Mungkin karena gw lumayan suka dengan bahasa asing walau gak begitu menguasai, atau karena guru yg ngajar umurnya masih muda banget jadi berasa ngobrol ama temen aja gitu tiap kali guru satu ini masuk buat ngajar, pak Arif namanya. Di kelas doang dipanggil bapak, kalo udah diluar doi ogah di panggil bapak, sering sih gw panggil bang Arif.

"Kriiiinnngggg…." Bell penanda berakhirnya sesi belajar mengajar hari ini udah berbunyi nyaring, bang Arif bangkit dari kursinya, membereskan buku kamus dan barang bawaannya yg lain.

"Oke, gw tau kalian pasti pengen cepet-cepet pulang kan? Maka dari itu, kita cukupkan dulu sampai sini ya pelajaran tentang kanji, sayonara…" Bang Arif melambaikan tangan sambil senyum kearah kita semua. Gak heran doi jadi guru favorit bagi semua murid disini.

"Arigatou sensei!" Serempak seisi kelas menerikkan salam perpisahan yg biasa disebut saat kelar pelajaran bahasa jepang penuh semangat.

"Ehh… Lu pada mau kemana?" Tanya gw menghampiri Aleya, lalu mandang kearah Rian dan Miza.

"Gak ada, mungkin pulang," jawab Miza.

"Mau ke batagor Yo?" Tanya Rian.

"Enggak lah, gimana kalo ketempat gw sama Aleya aja?"

"Hah?" Aleya bingung natap kearah gw penuh tanya.

"Escape pod dodol!" Gw elus kepalanya, pengen jitak tapi kasian, lagian baru aja doi berenti ngambek, tar malah ngambek lagi.

"Ooohh… Boleh boleh, tapi jangan kesorean balik nya yaa"

"Nah cakep, kalian gimana? Ikut gak?"

"Yuk lah, tapi gw agak laper sih," ucap Miza.

"Yeee perasaan daritadi lu lapeeeer mulu Miz, yuk lah Yo berangkat deh, dimana emang?" Rian penasaran.

"Tenang Miz, ada banyak makanan di escape pod," jawab Aleya.

"Bener? Wihh oke gw ikut," Miza nampak semangat banget.

"Dahlah, ikut aja semua sama gw, yuuk keparkiran"

Kita jalan bareng menuju bagian belakang dari sekolahan SMP swasta ini, menuju sebuah tempat semi terbuka, parkiran motor yg lumayan luas. Selama perjalanan menuju parkiran, gw bisa lihat dengan jelas kearah luar pagar sekolahan gw. Eh buset, ada apaan nih? Tumben rame amat, banyak banget anak SMA nongkrong depan pagar sekolahan gw.

"Yo…." Panggil Miza.

"Hmmm?" Jawab gw.

"Lu mikir kayak yg gw pikirin kan!?" Tanya nya narik tangan gw.

"Yaa kayaknya sih iya Miz, dahlah lu tenang"

"Ini nih yg aku gak suka Yo! Kamu gak ngerti sih! Aku tu kuatir tauk!" Leya gandeng tangan kanan gw erat, seakan nahan gw buat gak kemana-mana dan tetap disini sama doi.

"Tenang, gw gak sendiri kok, ada Rian disini," jawab gw coba nenangin Aleya.

"Iya Al, gw bakal bantu Leo kalo emang terjadi apa-apa…"

"Ehhh!! Lu berempat!" Teriak seorang senior, anak kelas 3 yg paling badung disekolah ini. Rustam namanya.

"Iya bang," sahut gw jalan menghampiri doi yg lari-larian kecil dari depan pagar yg penuh anak SMA menuju parkiran motor.

"Lu Leo kan?! Oh iya bener lu orang nya, lu yg dicariin ama mereka tuh," nunjuk kearah gerombolan berseragam putih abu-abu didepan sekolah.

"Hahahha… Iye, gw sempet berantem tadi pagi ama anak SMA sana bang"

"Bego lu, lu udah bikin sekolah kita diserang, tanggung jawab lu ya!"

"Eh tunggu, emang kenapa kok lu bisa berantem sama tuh anak-anak berandalan?" Sambung Rustam.

Gw jelasin lah duduk permasalahan tadi pagi saat Miza diserempet sama dua anak SMA sana, bukannya minta maaf atau ngomong baek-baek, mereka malah mukulin Miza.

"Oh berarti bukan lu yg salah!?"

"Ya bukan lah bang, gw cuman bantu temen gw"

"Oke, kali ini gw bantu lu Yo, gw kumpulin temen-temen dulu," ucapnya. Fyuh lega gw, sejujurnya gw agak takut sih liat gerombolan 15-16 anak SMA depan pagar sekolahan gw, dari gaya dan tampang-tampang nya pada barbar semua. Ya kalo 2-3 orang gw sih masih bisa hadapin, lah ini belasan.

"Thanks ya bang, untung aja ada lu"

"Aman, lagian ni menyangkut nama baek sekolah kita dan keselamatan murid sini, dah lu jangan kemana-mana apalagi keluar pagar!" Rustam lari kearah kelas 3, tereak-tereak buat ngumpulin temen-temennya yg lain. Itu lho, para berandalan SMP yg pada suka duduk ngerokok di belakang sekolahan, bolos saat jam belajar dan lainnya.

"Apa kata doi?" Tanya Rian saat gw udah mendekat jalan kearah mereka bertiga.

"Kalian balik ke kelas gih," jawab gw pasang tampang sok cool.

Quote:Bersambung segera
profile-picture
profile-picture
saannf12 dan g3nk_24 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Space Between Us (yang tak tersampaikan) [True Story]
23-04-2021 19:54
lagi lagi cerita lu masuk ht bang @exoluris mantapp mantapp emoticon-Shakehand2 gua jadi bisa mampir kesini, btw ternyata mbak @alealeya sekampung sama aku ya mbakemoticon-Malu makin cinta dah ama kelenemoticon-Ngakak
Diubah oleh rennevarte
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
renjana---cinta-tanpa-karena
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia