Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
49
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/603bb9e4ceb6e7487737c92b/sweetseventeen
Sweetseventeen Part 1 #Perawan_yang_tergadai 1992 ... Gadis bermata sayu itu pelan menghapus air matanya. Sudah lega rasanya setelah bisa cerita pada Widi tetangganya. "Kamu serius, Ra? Itu masa depanmu, harga diri dan kehormatanmu," kata Widi lirih. Dia paham beban yang diterima Rara sangat besar, tapi keputusan yang di ambil Rara sangatlah menganggu pikirannya. "Hanya itu jalan sa
Lapor Hansip
28-02-2021 22:42

SweetSeventeen

icon-verified-thread
SweetSeventeen

Sweetseventeen

Part 1

#Perawan_yang_tergadai

1992 ... Gadis bermata sayu itu pelan menghapus air matanya. Sudah lega rasanya setelah bisa cerita pada Widi tetangganya.

"Kamu serius, Ra? Itu masa depanmu, harga diri dan kehormatanmu," kata Widi lirih. Dia paham beban yang diterima Rara sangat besar, tapi keputusan yang di ambil Rara sangatlah menganggu pikirannya.

"Hanya itu jalan satu-satunya. Sisa uangnya bisa dipakai modal jualan Ibuk. Buat kebutuhan kami sehari-hari," jawab Rara dengan mantap. Dia pun bangkit berdiri mempersiapkan dirinya untuk nanti malam. Widi hanya bisa menghela napas, tidak ada yang bisa dia lakukan. Hanya membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam, tepat di usianya yang ke-17, Rara memutuskan menjual kegadisannya.

Widi kembali bekerja, hari ini banyak kapal masuk, otomatis banyak barang yang akan diturunkan. Walau usianya masih muda tapi Widi dipercaya mengepalai 70 pria pekerja bongkar muat barang. Dia bagian cek barang yang mau dibongkar dan toko mana yang order barang.

Jam lima sore, pekerjaan Widi selesai, dia menunggu Weno sang kasir membagikan bayaran hari ini. Lumayan masing-masing dapat 70.000, mengembuskan rokoknya pelan, Widi melirik ke arah Zeth, pria muda keturunan Sulawesi-Melayu-Sunda yang membantu Rara menjual kegadisannya.

"Ayolah, Wid. Jangan sinis, aku hanya membantu," bisik Zeth lirih. Ada sedikit rasa takut melihat tatapan Widi. Zeth paham dia salah, tapi dia juga kasihan dengan keluarga Rara. Bapaknya butuh pengacara karena kasusnya, sementara sang Ibu dan dua adiknya butuh makan dan biaya sekolah.

"Lebih baik aku maling di toko Koh Asiang daripada melihat Rara jadi pelacur!" jawab Widi dengan kasar. Ia pun segera pergi setelah Weno memberinya uang 100.000.

"Wid! Tunggu ...." Pria berumur duapuluh satu tahun itu lari mengejar Widi. Zeth, Rara dan Widi adalah pendatang di kota ini. Bedanya Rara datang dengan keluarganya, dan sudah lima tahun di sini. Sementara Widi baru enam bulan dan Zeth sudah satu tahun ikut abangnya yang dinas di sini.

"Kamu jangan minum, kamu harus waras. Jangan kacaukan semuanya," kata pria muda itu sambil membujuk Widi yang sudah membuka botol minuman.

"Baiklah, aku temani minum sepaket, habis itu temani aku main bilyar. Uangku sudah habis, malam ini banyak yang datang main," kata Zeth dengan nada memohon.

Widi hanya tertawa sinis menenggak minuman, menyalakan rokok dan mengembuskannya kuat-kuat. Yah dia sadar kalau dia bukan orang baik, di usianya yang sama dengan Rara, tujuh belas tahun, dia sudah kenal alkohol, rokok dan segala hal yang jelek. Tapi dia tidak ingin kalau Rara terjerumus dosa seperti dirinya.

"Zeth ... aku itu rusak, tapi paling tidak bisa kalau lihat orang baik-baik jual diri. Itu kehormatannya, dan dia mau tukar dengan rupiah," kata Widi tiba-tiba. Dia mulai melamun, teringat bagaimana saat kegadisannya terenggut oleh orang brengsek yang pura-pura baik tapi malah menjerumuskannya.

"Iya aku tahu aku salah, tapi itu keputusan Rara, dia yang meminta aku carikan pelanggan. Sumpah, Wid, seumur-umur aku juga tidak pernah terpikir akan jual anak orang."

Kedua anak muda itu pun tenggelam dalam pikirannya masing-masing, duduk di pelabuhan kecil memandang ke arah seberang sungai yang penuh gemerlap. Lampu-lampu yang mulai menyala tanda malam telah tiba.

Jam tujuh lewat Zeth akhirnya mengajak Widi ke tempat biliar. Di sana sudah banyak penantang. Widi asyik merokok di pojok sambil menonton sahabatnya bertanding. Sementara Zeth fokus karena taruhan kali ini besar. Kalau dia menang paling tidak bisa buat senang-senang selama dua minggu.

Jam sebelas, tanpa sadar Widi tertidur, capek kerja ditambah minuman membuatnya tertidur di keramaian. Zeth yang membangunkannya dengan wajah senang karena ia menang langsung mengajak Widi pulang di kost. Lumayan uang dua juta sudah dia pegang, bisa bersenang-senang satu bulan.

Dengan sedikit sempoyongan, antara mengantuk juga pengaruh alkohol, Widi digandeng Zeth jalan ke rumah kost yang terbuat dari papan. Di pertigaan mereka bertemu Rara yang terlihat berjalan pulang sambil menangis.

"Rara? Apa yang terjadi?" tanya Widi dan Zeth bersamaan. Rara tak menjawab hanya menangis dan memeluk Widi. Gadis itu hanya bisa diam dan menepuk pundak Rara dengan lembut.

"A-aku sudah tidak perawan, mereka membayarku limabelas juta, tapi mereka berdua, itu menyakitiku," tangis Rara pelan. Sementara Zeth makin merasa bersalah. Dalam hatinya dia mengutuk Roni yang sudah janji mau membayar sepuluh juta. Namun tak disangka jika dia membawa teman lagi.

"Trima kasih Zeth. Tolong rahasiakan ini dari Ibu. Hanya kalian berdua yang tahu." Widi tidak bicara sementara Zeth ... entah apa arti pandangannya ke Rara.

Jam duabelas ... mereka akhirnya berjalan pulang, sepuluh menit dari pertigaan menuju rumah kost. Widi dan Rara yang tinggal bersebelahan, sementara Zeth di rumah abangnya, si pemilik rumah kost.

Tak ada yang bicara, mereka semua masuk ke rumah masing-masing. Widi yang sebelumnya mandi dulu, merokok dan makan nasi goreng yang dibelikan Zeth. Sementara Rara yang pamit bantu jualan di Pujasera pun tak dicurigai oleh ibunya saat pulang tengah malam. Apalagi ada Widi bersamanya.

Sementara Zeth yang pegang kunci rumah, saat masuk tampak kakak iparnya belum tidur, sinis menatap Zeth yang terlihat kumal. Bukan rahasia lagi kalau Zeth tidak cocok dengan iparnya. Tapi dia menghormati Abang juga tidak mau membuat risau keluarga di kampung, makanya ia tak pernah mengadu apa-apa.

Dengan santai Zeth mandi dan makan nasi goreng, dia tahu abangnya tengah piket makanya istrinya sengaja menungunya pulang. Mungkin ada yang mau dia bicarakan berdua, Zeth pasrah.

"Kaka mau bicara!" kata Ibu muda beranak dua itu dengan kasar.

"Kakak mau usir aku lagi? Aku lho ga pingin tinggal di rumah ini. Kalau tidak menghargai Abang, sudah kost aku. Ada dua kaki dan dua tangan yang bisa kupakai untuk cari makan."

"Sebenarnya masalah Kakak itu apa? Toh aku tidak minta sepeser pun uang ke Abang. Mamak dan Bapak tanya pun aku tidak mengadu, masalah Kakak itu apa?" teriak Zeth. Dia lepas kendali, tidak sadar kalau ini tengah malam dan suaranya bisa membangunkan tetangga.

"Kakak malu sama aku? Emangnya aku maling? Aku juga mau kerja, tapi Abang tidak ijinkan, Abang maunya aku kuliah!" teriak Zeth makin keras. Kakak iparnya yang tidak menyangka dengan jawaban Zeth, hanya diam terpaku. Dengan kasar pria muda itu membuka pintu dan membantingnya.

"Wid! Buka pintu!" teriak Zeth. Widi yang memang sudah mendengar pertengkaran itu langsung membuka pintu. Tampak Zeth hampir menangis di depan pintu.

"Cengeng, ayo masuk!" Zeth langsung memeluk Widi, seolah melepaskan beban selama satu tahun ini. Lagi-lagi Widi hanya menghela napas, begitu berat beban anak-anak muda yang dikenalnya. Mereka yang terlihat bahagia di masa muda tapi menyimpan sejuta cerita.

Jam tiga Zeth pun tertidur di samping Widi, persahabatan yang baru seumur jagung tapi saling percaya untuk tidak melewati batasan. Jam tujuh Widi bangun untuk pergi kerja, tampak ibunya Rara sudah siap mau ke pasar untuk belanja bahan-bahan. Mau mulai jualan nasi gurih lagi katanya.

"Makasih lho, Wid, sudah carikan Rara pekerjaan yang bisa disambi sekolah," kata si Ibu dengan logat Jawa medoknya. Widi hanya tersenyum getir saat mendengar perkataan ibunya Rara, yah dia harus berbohong. Sementara Rara yang sudah siap dengan baju sekolahnya langsung pamit ke sang Ibu dan menarik tangan Widi.

"Awas kalau Ibu sampai tahu, ini uang mau aku bukain rekening, enam juta buat bayar pengacara Bapak, dua juta kasih Ibu biar tidak curiga. Sisanya kusimpan," kata Rara sambil berjalan terburu-buru.

"Ayo antar aku ke bank, hari ini aku bolos, takut bawa uang sebanyak ini," kata Rara lagi. Widi malah menatap Rara dengan perasaan yang bingung.

"Ra ... kamu tidak merasa bersalah? Merasa berdosa akan uang itu?" tanya Widi pelan takut menyinggung hati Rara.

"Semalam aku menyesal, tapi pagi ini aku sudah bertekat, mau melayani siapa saja yang sanggup membayarku mahal," jawab Rara dengan senyum yang sedikit aneh. Widi tak habis pikir semudah itu perasaan Rara berubah. Seakan tak ada penyesalan di hatinya.

Widi hanya bisa menatap gadis bermata sayu, dengan body bak bintang film panas, berkulit putih, tinggi 168cm. Pria mana yang tak tergoda melihat gadis cantik yang terlihat memelas tapi menyimpan sejuta rahasia dalam benaknya.

Empat bulan berlalu, Zeth sudah tiga hari tidak kelihatan. Rara pun sudah pindah ke rumah kontrakan, bukan kamar-kamar lagi. Sementara Widi masih kerja, hanya bedanya sekarang dia jualan tiket speedboat. Tidak lagi mengurusi bongkar muat barang.

Pagi itu di pelabuhan, selesai menaikkan penumpang jurusan Kuala Tungkal, Widi melihat ke seberang pulau. Tampak ada speedboat kecil yang datang ke arahnya, di dalamnya ada sepasang muda mudi yang kasmaran mungkin. Begitu speed berhenti, Widi hanya bisa menelan ludah tidak bisa bicara. Jadi rumor yang didengarnya memang benar.

Rara memilih pekerjaan jadi wanita panggilan kelas kakap, Zeth yang mencarikan tamu, dan mereka tinggal bersama di salah satu kamar hotel. Sementara bapaknya Rara sudah bebas dan langsung pulang ke Jawa dengan anak istrinya. Hanya Rara yang tinggal dan mencari uang katanya.

Tanpa senyum, tanpa teguran, Widi meninggalkan Zeth dan Rara. Baginya pertemanan abadi itu hanyalah omong kosong. Semua akan kalah oleh napsu dan uang. Hari itu juga Widi memutuskan pergi dari Pulau itu dan pergi ke kota lain untuk mencari apa yang membuatnya senang. Tanpa teman dan sahabat yang tak pernah menganggap dia ada.

"Wid! Tunggu ... aku bisa jelaskan!" teriak Zeth sambil mengejar Widi. Rara pun dengan enggan berusaha mengejar. Tanpa bicara Widi langsung berbalik dan memukul Zeth tepat di dagunya dengan keras beruntun, Rara yang kaget berteriak.

"Stop dengan sandiwara kalian, aku muak! Aku yang benar-benar menangis, tiap malam berdoa agar Rara bisa dapat sekolah dan kerja baik-baik. Dan kamu Zeth, aku selalu mendoakan cita-citamu untuk jadi PNS, tapi apa, bangsaat kalian. Sex dan uang telah mencuci otak kalian!" teriak Widi histeris. Rasa kecewa karena merasa dikhianati sahabat itu konon lebih sakit rasanya.

Zeth dan Rara terdiam, mereka memang bersalah, dan mereka pun paham dengan sifat Widi. Pertemanan mereka sudah berakhir. Gadis berambut pendek dan bertato di lengan itu menyalakan rokok dan pergi meninggalkan sepasang anak muda yang sering ia bawa dalam doanya.

#RR, cerita masa lalu selama perjalanan hidup yang ditemui penulis, membuatnya terinspirasi menuliskan beberapa kisah kehidupan.
Diubah oleh ribkarewang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
SweetSeventeen
28-02-2021 22:42

Indeks Link

Diubah oleh ribkarewang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
SweetSeventeen
28-02-2021 22:43
Kalau udah komplit, baru baca lagi.
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan ribkarewang memberi reputasi
2 0
2
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
SweetSeventeen
28-02-2021 22:43
Mohon maap kalau tulisannya belepotan
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
SweetSeventeen
28-02-2021 22:48
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 06:38
Mntap nih, mangats ya Sis
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 06:46
Miris nemen ya. Saiki rang orang itu pada di mana, Mam?
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 06:48
Widi dilawan ,, hish tau rasa lu
Next 🙈🙈 moga2 ngga dipenggal ,, wkwkwk
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 07:29
emoticon-Matabelo gila sih, dari kepepet lanjut jadi kerjaan

profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 07:43
Menanti sambungannya hingga tergadai
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 08:07
Jaaannn ....
Nyesek macane😥
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 10:05
Belum baca. Jejak dulu lah
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
01-03-2021 14:44
Menunggu kisah widi selanjutnya
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SweetSeventeen
02-03-2021 06:59
SweetSeventeen

Part 2

#Penyesalan

1993 ... menyusuri trotoar, gadis tomboy itu terlihat bahagia bersama teman-teman barunya. Beberapa pengamen di sepanjang jalan Soka Magelang. Hari ini Widi pertama kalinya ikut mengamen. Entah sudah berapa kali ia harus bertemu beberapa teman SMP maupun teman SMA-nya yang mau berangkat ke Yogya. Yah tahun ini teman seangkatannya sudah mulai kuliah.

"Hei, kenapa? Abaikan mereka, tempatmu bersama kami," ucap Dodo sambil merangkul Widi. Sekali lagi gadis itu hanya tertawa, berusaha melupakan wajah-wajah bahagia beberapa temannya yang antusias bercerita diterima di Universitas favorite.

Widi langsung tertawa saat Tata sahabat barunya yang berasal dari Palembang mulai menyanyikan lagu baru dari Iwan Fals yang berjudul Terminal. Entah kenapa dalam hati Widi tiap mendengar lagu itu hatinya merasa nyaman.

Sudah mulai gelap, akhirnya mereka mulai pamit satu-persatu pulang. Tinggal Widi yang bingung mau ke mana. Pulang ke rumah orang tuanya hanya berjarak dua jam dari Magelang, atau pulang ke rumah neneknya yang dekat. Tapi gadis itu malah duduk di terminal Soekarno-Hatta yang mulai sepi. Ruko-ruko mulai tutup, bus malam jurusan Jakarta dan Surabaya juga Sumatera sudah mulai berangkat satu persatu, tinggal Widi duduk di dekat penjual kopi 24 jam di terminal.

"Nunggu jemputan?" tanya seorang laki-laki muda dengan wajah klimis memakai kemeja kantoran.

"Ga, lagi males pulang," jawab Widi tanpa menoleh.

"Anak gadis malam-malam di terminal ngapain?"

"Suka-suka sayalah, kenapa, keberatan?"

"Nanti diperkosa orang baru tahu rasa!" jawab laki-laki itu dengan kesal.

Widi tidak membalas, dia langsung menyalakan rokok yang tinggal dua batang, pesan kopi dan mengangkat kaosnya agar terlihat badik yang selalu ia taruh di pinggangnya. Laki-laki itu sepertinya melihat dan dia memilih pergi.

Masih ada uang tiga puluh ribu di kantong celananya. Widi hanya menghela napas berat, andai saja tadi pagi dia tidak berbantah dengan bapaknya yang ingin anaknya nurut. Yah sepulang dari Sumatera Widi merasa tidak betah, tidak ada kebebasan, tidak bisa semaunya melakukan apa yang dia inginkan.

Semenjak pulang dari Sumatera, Widi tidak bisa lagi mengkonsumsi alkohol, merokok masih bisa asal jangan depan orang tuanya. Tapi jika ketahuan mabuk sudah pasti ada rasa takut pada bapaknya. Pertengkarannya dengan sang Bapak hanya masalah sepele, karena ekonomi keluarga sudah mulai membaik, Widi merasa dianak tirikan. Sedangkan menurut sang Bapak, Widi yang tidak mau sekolah kenapa akhirnya menyalahkan orang tua.

"Haaaaah Anjiing!" maki Widi merutuki nasibnya. Ingat kakaknya yang sekarang sudah kerja di Jakarta dan ibunya yang selalu membandingkan mereka membuat Widi makin frustasi.

"Kamu kenapa? Minum yuk?" tiba-tiba seorang pria berumur empat puluhan, seumuran bapaknya Widi, menegurnya.

"Om Ivan?" teriak Widi kaget melihat pria di depannya.

"Widi? Ngapain kamu di sini? Ka-kamu?" Ivan yang sekarang kaget melihat gadis yang tadinya hendak diincarnya adalah anak temannya.

"Biasa, berantem sama Bapak. Om belikan gepengan dong, pingin mabuk ga punya duit," kata Widi dengan wajah polosnya.

Pria berperut tambun itu hanya tertawa karena merasa terjebak, yaah siapa tidak kenal Widi, anak sahabatnya yang selalu membuat masalah. Dari SMP sudah selalu ada saja hal yang dia buat, Ivan tidak bisa menolak, dia pun penasaran ingin minum dengan Widi.

Memakai motor CB 100, keduanya pergi ke arah Magelang kota untuk makan dan membeli minuman. Jam sebelas malam, duduk dekat terminal lama, mereka minum di emperan toko.

"Wid, kamu sayang keluarga, ga?" tanya Ivan dengan mimik serius. Minuman masih banyak tapi yang dibahas masalah hati.

"Sayanglah."

"Kalau kamu mabuk-mabuk begini, merasa bersalah ga sama Bapak?"

"Om Ivan merasa bersalah ga sama Tante Uni dan Hendi juga Chika?" Gantian Widi yang balik bertanya. Hendi seumuran dengannya, katanya dia ikut pendidikan masuk Secapa di Solo.

Tiba-tiba Ivan menangis, dia menceritakan penyesalannya karena hidup di jalanan. Dia lebih mementingkan kesenangannya daripada anak dan istri. Selama ini hasil kerjanya dia pakai untuk judi dan main perempuan. Istri dan anak-anaknya sudah empat tahun tidak dia nafkahi dan memilih pulang ke orang tua Tante Uni di Sragen.

Konon sudah dua tahun Ivan tidak bertemu anak dan istri, status mereka pun masih suami istri. Saat Widi bertanya kenapa Ivan tidak pulang dan minta maap tapi malah keluyuran di jalan, pria itu menjawab dengan wajah sedih dan malu. Sebenarnya Ivan bukan orang susah, usahanya banyak dia pun pekerja keras, mobilnya pun ada, beberapa truk dan angkutan umum dia punya. Tapi dia lebih suka naik motor CB kesayangannya.

"Aku sudah merasa tidak ada harga dirinya, Wid. Malu sama anak-anak, apalagi chika bulan depan sudah 17 tahun."

"Nah kenapa tidak jadikan momen itu untuk berubah? Ingat Om, sebenci-bencinya mereka sama Om, kalau bapaknya berubah pastilah mereka memaapkan."

"Maksud kamu? Aku ke sana setelah dua tahun tidak muncul?"

"Kenapa tidak? Magelang-Sragen dekat, Om. Tidak ada kata terlambat, lebih baik membuang ego dan rasa malu, untuk masa depan yang bahagia," jawab Widi sok menasehati. Tapi Ivan sepertinya benar-benar mendengarkan saran Widi, malam itu dia hanya bercerita tentang anak-anaknya yang walau pun tidak pernah ia temui tapi ia selalu tahu kabar mereka.

Widi hanya mendengarkan sambil menghabiskan minumannya, jam empat pagi Ivan pamit mau pulang, dia menyewa satu kamar hotel untuk Widi tidur. Tidak lupa menaruh sepuluh lembar uang 20.000an untuk anak gadis yang sudah membuka hatinya itu.

Jam sepuluh Widi bangun karena rasa lapar, mandi dan bergegas turun. Membawa tas ransel yang berisi dua celana jeans dan empat kaos yang selalu dibawanya selama tiga tahun ini, sandal untuk naik gunung yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi satu tahun ini. Tak lupa topi untuk menutupi kepalanya yang panjang rambutnya hanya 5cm saja. Tak ketinggalan badik pemberian salah satu orang tua sahabatnya.

Sekilas tak akan ada yang tahu jika Widi adalah cewek, kecuali benar-benar melihatnya dari dekat atau mendengarnya bicara. Gadis berkulit gelap dengan tinggi 157cm, tapi lagaknya seperti jagoan, sangat kaget saat melihat seseorang yang ia kenal juga sama-sama keluar dari hotel.

Orang yang punya pengaruh dan terkenal orang baik di suatu kota, tapi saat ini masuk kamar hotel dengan gadis yang terlihat lugu.

"Kamu ngapain di sini?"

"Saya habis melacur, Pak. Kalau Bapak mau ngapain? Hahaha, kalau istri atau tetangga hmmm bahkan umat tahu, gimana yaa, tapi mana ada yang percaya sama omongan saya, tenang, Pak. Saya akan tutup mulut," jawab Widi dengan santai, sengaja menyalakan rokok pula.

Tanpa diduga, si Bapak memanggil Widi dan menyelipkan enam lembar uang bergambar Presiden yang baru pertama ia pegang. 1993, untuk pertama kalinya pecahan 50.000 ada dan sekarang Widi punya enam lembar, gadis itu berteriak kegirangan.

Entah rejeki atau memang Tuhan tak mau dia berbuat hal yang memalukan, uang itu ia pakai dengan hati-hati. Pertama minta tolong teman mencarikan kost dan dapat perbulan 1kamar 35.000. Dia pun segera mencuci bajunya yang kotor, langsung minta tolong Dodo dan Tata mengantarnya beli gitar yang bekas, saat itu ia beli 70.000.

Tidak terasa sudah tiga minggu Widi tidak pulang, orang tuanya yang tau tabiatnya bukan tidak peduli hanya sudah menyerah dengan watak sang anak. Bukan rahasia lagi kalau Widi ngamen akhirnya diketahui keluarga besarnya. Apalagi keluarga atau tetangga neneknya sering melihat.

Hari-hari hanya ngamen, mabuk, senang-senang, benar-benar tidak ada hal baik yang iya rasakan. Semua hanya kesenangan semu, saat di jalanan banyak hal yang Widi temui, dari pelajaran hidup sampai kekonyolan atau kebodohan karena ego. Hari ke-40 Widi merasa bosan, ia pun pulang ke rumah, semua kembali seperti biasa. Widi tetap membantu orang tuanya sampai akhirnya tiga bulan berlalu keluarga Ivan datang.

"Tumben, ada apa, sudah waras?" tanya sang Bapak sedikit sinis karena sudah hapal dengan kelakuan sahabatnya.

"Aku cuma mau bilang makasih ke Widi, karena dia aku jadi beranikan diri menemuin Uni dan anak-anak. Sekalian ajak mereka jalan-jalan mumpung Hendi dapat ijin libur."

Akhirnya mereka tertawa dan menceritakan keluarganya, Tante Uni dan ibunya Widi pun asyik bercerita. Sementara Widi jalan ke kali di ujung sawah dekat rumahnya. Melihat aliran air yang sangat deras, membuatnya berpikir, apa yang akan terjadi dengan hidupnya kelak, biarlah ia jalani seperti air mengalir. Widi pun asyik mengembuskan rokok dan tidak tahu sepasang mata tengah melihat ke arahnya dan mendoakan kelak Widi bisa hidup lebih baik dan menyadari kesalahannya.

Bersambung
Diubah oleh ribkarewang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dalledalminto dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
SweetSeventeen
02-03-2021 07:24
Mantap, meski hidupnya aneh dan gak berarah tapi bisa mengarahkan orang lain untuk menjadi lebih baik. Salut dah sama Widi
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
SweetSeventeen
02-03-2021 07:45
Widi kambeeeekkkkkk🎉🎉🎉
profile-picture
ribkarewang memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-mati-sang-kuyang
Stories from the Heart
balada-kisah-remaja-genit
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia