Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
45
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/600834a0facb953bb41ac533/my-wife-is-my-enemy
Pernikahan sudah biasa terjadi pada pasangan yang saling mencintai. Tapi bagaimana kalau itu terjadi pada dua orang yang saling membenci? “Mati saja sana kau, dasar bodoh!! Week...!” Yang baru saja melempariku ejekan adalah Bella Aidrish, musuh abadiku. Aku sudah sering bertengkar denganya walau hanya karena masalah sepele. Hari ini kami pun melakukanya. Sekarang adalah masa orientasi siswa SM
Lapor Hansip
20-01-2021 20:48

My Wife is My Enemy

Past Hot Thread
My Wife is My Enemy
Quote:Sinopsis :

Pernikahan sudah biasa terjadi pada pasangan yang saling mencintai. Tapi bagaimana kalau itu terjadi pada dua orang yang saling membenci?

Hai Minna~san, Kali ini saya akan upload karya romance milik teman saya. Gak usah berlama-lama lagi, ini dia link dari authornya. WillyAndha.

Sebelum kita mulai ceritanya, mari kita simak biodata karakter-karakter yang berperan dalam novel romantis ini :

Quote:Bella Aidrish

Mata: Oranye.
Rambut: Panjang sepinggang warna oranye kecoklatan.
Tinggi: 153 cm
BS: B
Deskripsi: Cantik, pintar, jago olahraga tapi stamina sedikit. Idola nomor satu di sekolahnya. Tsundere.

Nia Estianty
Mata: Biru gelap.
Rambut: Hitam sebahu.
Tinggi: 158 cm.
BS: D
Deskripsi: Cantik, pintar. Idola kedua setelah Bella. Berdada besar. Bersuara lemah lembut.
 
Febri Nindya
Mata: Coklat.
Rambut: Ponytail biru gelap sebahu.
Tinggi: 170 cm.
BS: C
Deskripsi: Ketua kelas. Bersuara nyaring. Cerdas.
 
Shella Widya Putri
Mata: Biru cerah.
Rambut: Coklat kemerahan sepunggung rambut dikuncir di kiri.
Tinggi: 167 cm.
BS: C
Deskripsi: Selalu ceria dan tersenyum. Agresif.
 
Zidan Fahrezi
Mata: Hijau emerald.
Rambut: Hitam kecoklatan.
Tinggi: 178 cm.
Deskripsi: Ganteng dan mesum.


Oke, daripada kebanyakan cek cok, sebaiknya kita cekidot saja ke ceritanya ya.

Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
inginmenghilang dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
My Wife is My Enemy
06-02-2021 21:20

Chapter 11 "Alasan"

Mulai saat itu aku secara resmi menjadi karyawan restoran keluarga di pusat kota. Beruntunglah aku mengenal Pak Ginanjar, kenalan ayahku yang menjadi manajer di tempat ini.

Dengan begitu aku jadi bisa bekerja di sini tanpa kesulitan.

Sudah berhari-hari sejak aku bekerja paruh waktu. Setiap sepulang sekolah aku datang guna bekerja di sini sampai sore hari.

Alasanku bekerja bukan karena aku ingin membeli sesuatu. Tapi karena ada alasan kuat lainya yang tak bisa kuabaikan.

Bel sekolah telah berbunyi tepat pukul dua siang. Menandakan berakhirnya seluruh kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.

“Sena, kok beberapa hari ini kau pulang ke arah yang berlainan?”

Zidan bertanya dengan ekspresi bodoh di wajahnya.

“Soalnya aku ada perlu.”

“Apa itu? Jalan bareng tante-tante?”

“Iya, terserah kau saja.”

Jawabku malas. Karena aku ingin segera datang ke tempat kerja setelah ini.

“Wooiiiiii.......!!! Katanya Sena sering jalan bareng tante-tante....!!!”

Suara lantang Zidan sontak membuat seluruh perhatian siswa di kelas tertuju padaku.

Sebagian ada yang tertawa dan menganggapnya bercanda. Ada juga sebagian yang memandang jijik ke arahku, beberapa di antaranya adalah perempuan.

“Eh, setan! Kenapa malah teriak-teriak....!!!!?”

“Kau sendiri yang bilang.”

“Argh...! Aku tidak serius, tahu!”

“Haha... tenang aja. Mereka juga gak akan nganggep serius, kok.”

Mendengarku tertawa bersama Zidan, Nia lalu berjalan menghampiriku. Buah dadanya yang besar membuatnya berguncang-guncang saat berjalan. Baik aku maupun Zidan terfokus pada titik itu untuk beberapa saat.

“Apa benar kau sering jalan bareng tante-tante, Sena?”

Nia memiringkan sedikit kepalanya. Wajahnya terlihat cantik saat rambut poninya sedikit berkibar karena tertiup angin yang berhembus dari jendela.

“Nia, tolong jangan percaya semua kata-kata si kampret ini!”

“Syukurlah, kukira itu benar!”

Untuk orang yang terlalu mudah percaya sepertinya, tak mengherankan kalau ia mempercayai kata-kata Zidan.

Bahkan kalau aku berkata Monas akan dipindah ke Kalimantan, sepertinya ia akan mempercayainya tanpa ragu.

Tapi sifat polos dan lugunya inilah yang menarik perhatian banyak pria. Andai saja dia yang dipaksa menjadi istriku, aku gak bakalan protes deh. Setiap hari aku mungkin aku akan selalu diberi senyuman indahnya, atau ciuman selamat pagi, atau mungkin yang lebih erotis lagi.

Seperti......

Wah! Aku tak sanggup membayangkan lebih jauh lagi! Kalau benar seperti itu, kehidupanku akan menjadi seperti di surga.

“Sena!? Kenapa kau cengar-cengir sendiri?”

Nia menatapku dengan mata kebiruanya.

“T-Tidak kok. Ini bukan apa-apa...”

“Senyummu menjijikan sekali!”

Dengan entengnya Zidan melontarkan kalimat sarkasmenya. Dia bahkan tak menyadari seberapa menjijikanya dia saat bermain eroge.

“Berisik banget sih, tot!”

Kulihat jam digital di pergelanganku. Sial! Sudah jam segini. Kalau aku tidak cepat-cepat, aku akan terlambat masuk kerja. Aku tak mau dicap sebagai karyawan ngaret di hari-hari awal pertamaku bekerja.

“Ah, maaf ya! Nia! Zina! Aku ada perlu sehabis ini. Sampai jumpa besok!”

Aku melambaikan tanganku pada mereka. Tak seperti Zidan yang acuh, Nia membalas dengan lambaian tangan dan senyum manis padaku.

Ya ampun! Kenapa bisa ada makhluk semanis itu di dunia, sih!? Orang yang akan menjadi suaminya pastilah pria yang paling beruntung di seluruh alam semesta.

Tak sepertiku yang mendapat istri dari dunia bawah tanah. Yang bahkan tak pernah memberiku ucapan selamat pagi.

“Kau mau kemana lagi?”

Ucap seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kelas. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan memandangku dengan mata oranyenya.

Panjang umur si makhluk bawah tanah ini! Aku baru saja membicarakanya dalam pikiranku.

“Jangan bilang kau ingin bermain game dengan temanmu lagi.”

“Memang itu kenyataanya, kok.”

“Setiap hari?”

“Dia selalu menantangku lagi kalau kalah. Atau kau mau ikut bersamaku?”

Aku sengaja memancingnya seperti itu agar gadis itu tak lagi bertanya padaku dengan rasa penasaranya. Kalau aku terus-terusan membuat alasan, dia mungkin akan semakin curiga padaku.

Semakin aku mengelak, aku semakin terlihat berbohong.

Pokoknya rahasiaku yang menjadi karyawan paruh waktu akan kusembunyikan pada siapa pun, termasuk Bella.

“Tidak usah, aku langsung pulang saja.”

“Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan lupa masakkan sesuatu yang enak saat pulang nanti.”

“Cih!”

Bella mendecak. Kelihatanya ia sangat tak suka saat aku memintanya seperti itu. Tapi terserahlah, yang penting aku bisa lolos dari jeratan rasa ingin tahunya.

Aku segera naik bus kota untuk sampai ke restoran tempatku bekerja.

Untung saja busnya tidak sering ngetem dan berjalan lambat, jadi aku bisa sampai tepat waktu sebelum memulai shift-ku.

Aku masuk melewati pintu khusus karyawan, dan segera mengganti bajuku dengan seragam karyawan.

Di sini aku bekerja sebagai pelayan. Senyum dan keramahan adalah poin penting untuk bagian ini. Karena aku mungkin bisa ditegur atasan jika tidak memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan.

“Baru pulang sekolah, ya?”

Sapa Mbak Rena, kepala pelayan berumur 24 tahun di restoran ini sekaligus pembimbingku saat menjalani masa percobaan di sini.

Kulitnya kuning langsat. Wajahnya terbilang cukup cantik, tapi tidak semanis Nia atau Bella. Tapi itu sudah cukup untuk membuatnya dipersunting oleh anak pengusaha kaya.

Aku heran. Kenapa dia mau bekerja sebagai pelayan kalau suaminya kaya raya? Aku tidak tahu apa. Tapi yang jelas, dia punya alasan kuat sepertiku untuk bekerja di sini.

“Iya, Mbak! Make seragam sekolah kemari, masa iya abis pulang perang.”

Jawabku dengan sedikit bercanda.

“Haha... kamu lucu, ya?”

Mbak Rena menutup mulutnya agar giginya tak terlihat saat tertawa.

“Saya permisi dulu, mbak!”

Aku izin untuk keluar dari ruangan karyawan. Memulai pekerjaanku dengan membawakan pesanan dari dalam dapur ke atas meja pelanggan.

Ini sudah lewat dari jam makan siang. Tapi nampaknya kepopuleran menu yang membuat restoran ini tak pernah sepi dari banyak pelanggan.

Sudah sekitar satu jam sejak aku masuk kerja, tapi badanku sudah terasa lelah. Ini semua gara-gara pesanan pelanggan yang tak pernah berhenti.

“Sena, antarkan pesanan ini ke meja nomor 13!”

“Siap, Mbak Rena!”

Kutaruh pesanan pelanggan ke atas tanganku, dan membawanya menuju meja nomor 13 berada. Masih dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahku, kuhidangkan pesanan tadi tepat ke atas meja.

“Ini pesananya! Terima kasih!”

“Lambat! Dasar nggak becus!”

Ujar pelanggan yang mengenakan seragam SMA. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya karena ia menutupinya dengan topi hingga ke bawah.

Tapi sepertinya aku mengenal suara ini.

Jangan-jangan...

Pelanggan itu membuka topinya. Berkibarlah rambut panjang oranye yang berkelebat dari dalam topinya.

“Apa kau memenangkan gamenya?”

“B-B-Bella...!”

Aku tak mampu menyembunyikan ekspresi keterkejutanku. Bahkan aku menyuarakannya dengan agak keras.

“K-Kenapa kau ada di sini?”

“Aku tanya, apa kau sudah menyelesaikan game-mu?”

Bella menopang dagunya di atas meja. Tatapanya dinginya yang mengintimidasi, seakan menungguku memberi jawaban.

“I-Ini semua ada alasanya...”

“Apa?”

“Maaf, aku harus kembali bekerja!”

Dengan cepat aku membalikkan badanku dan bergegas untuk kembali mengantarkan pesanan pelanggan lain.

Tapi sepertinya gerakanku kalah cepat dari tangan Bella yang dalam sekejap sudah mencengkram pergelangan tanganku. Aku sudah tak bisa mengelak lagi.

Bella lalu menarikku keluar, menuju taman yang dibangun tepat di depan restoran. Taman ini punya beberapa pohon yang cukup rindang. Jadi meskipun ini sudah siang, kau masih bisa merasakan udara segar di bawah sini.

“Apa yang kau lakukan? Aku sedang bekerja, tahu!”

“Aku sudah tahu itu. Yang ingin kutahu sekarang kenapa kau bekerja di sini?”

Aku mengerlingkan mataku. Menghindari kontak mata dengan miliknya yang sudah seperti elang saat hendak mematuk mangsanya.

“Karena aku kenal dengan pemilik restoran ini.”

“Itu bukan jawaban yang kuinginkan. Maksudku kenapa kau bekerja?”

“M-Memangnya salah ya kalau aku bekerja?”

“Tapi kalau kau merahasiakanya dariku pasti ada alasanya, kan?”

“Ck...!”

Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Seakan aku adalah raja yang sedang terpojok. Sementara ada lima menteri, delapan benteng, dan lima belas kuda yang mengepungku. Dengan kata lain, aku sudah skakmat.

Sebenarnya aku memang punya alasan kuat untuk mengambil pekerjaan paruh waktu. Tapi aku tak mau mengatakanya karena memalukan.

“Bisa kita bicarakan topik lain?”

“Tidak!”

Jawab Bella dengan cepat.

“Cepat katakan padaku, sekarang...!!”

Aku masih membungkam mulutku, walau Bella terlihat seperti singa yang akan menerkam. Karena aku yakin kalau mengatakanya, dia pasti akan menertawakanku.

“A-Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Meskipun kita saling tak mengakui, Kita tetaplah sepasang suami-istri, bukan?”

“Lalu...?”

“Bukankah sudah semestinya kalau seorang suami harus bekerja untuk menghidupi keluarganya?”

Selama ini kami bergantung dari uang yang diberikan oleh kedua orang tua kami. Memang hanya dengan itu kami bisa hidup berkecukupan. Tapi aku merasa ada yang salah.

Aku mengingat kata-kata ayahku waktu itu.

“Meski kalian tak menginginkan pernikahan ini. Tapi Bella adalah istrimu. Jadi, bahagiakanlah dia!”

Ayahku itu meski orangnya agak sableng, tapi dia adalah orang yang bijak. Kata-katanya sudah berulang kali menyelamatkanku.

“Karena itulah aku memutuskan untuk bekerja.”

Kupalingkan wajahku ke arah lain. Ini sangat memalukan sampai ingin mati rasanya.

Habis sudah! Dia pasti akan menertawakanku.

Aku menutup mata dan telingaku, bersiap untuk bertahan dari suara tawanya yang menghina. Satu detik, dua detik, hingga lima detik aku menghitung aku tak mendengar gelak tawa darinya.

Kucoba menatapnya, kukira dia akan memandang rendah diriku. Tapi kenyataanya dia malah memalingkan wajah merahnya dariku.

“B-Bodoh...! Mengatakan sesuatu yang memalukan seperti itu.... Dasar tidak tahu malu!”

Kedua mata kami lalu bertemu. Matanya dengan tegas memandangku dalam-dalam.

“Aku juga... akan bekerja di sini!”

“Hah...!? Kenapa?”

“L-Lagipula bukankah sudah kewajiban istri untuk membantu suaminya?”
Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
My Wife is My Enemy
17-02-2021 11:43

Chapter 12 "Hadiah"

Dan dengan begitulah Bella akhirnya dapat juga diterima di restoranku bekerja. Dengan mengandalkan Pak Ginanjar sebagai relasiku, ia pun dapat mudahnya menjadi pegawai restoran ini.

Dia mendapat posisi sebagai juru masak. Walau ia tak terlalu handal dalam memasak, namun para pegawai senior di sana dengan ikhlas selalu membimbingnya setiap waktu.

“Kenapa kau malah tersenyum-senyum seperti itu, bodoh?”

Wajahnya yang cantik memandangku rendah seperti kecoak.

“Tak ada. Aku tak habis pikir kau mau capek-capek bekerja di sini.”

“H-Habisnya kau juga bekerja di sini, kan? Lagipula kalau aku sendirian di rumah, aku akan kese~”

Wajahnya yang malu-malu coba ia sembunyikan, namun aku dapat dengan mudah melihatnya.

“P-Pokoknya aku di sini untuk menemanimu bekerja. Harusnya kau berterima kasih, bodoh!!”

Setelah melontarkan kata-kata pedasnya, ia langsung kembali ke arah dapur tempat seharusnya ia berada saat bekerja.

Sementara aku kembali mengatarkan belasan pesanan yang menumpuk walau sudah semua pelayan bekerja untuk melayani para pelanggan.

Hingga tak terasa sang surya sudah mulai bersembunyi di ufuk timur. Ini sudah waktunya bagi kami untuk mengakhiri shift kami.

Aku duduk di ruang karyawan dengan secangkir teh hangat di atas meja. Kuteguk perlahan sambil mencoba membuat diriku senyaman mungkin di atas sofa.

Tak ada siapa pun di sini selain aku dan Bella, karena karyawan lainya sedang bekerja. Hanya kami berdua lah pekerja paruh waktu yang jam kerjanya sudah berakhir bisa santai-santai berada di sini.

“Mau pulang?”

Bella menopang dagunya. Membuat wajah sebalnya saat berbicara padaku.

“Nanti dulu! Tehnya belum habis!”

Dalam sekejap cangkir teh yang kupegang berpindah tempat ke tangan Bella. Tanpa peduli dengan suhu yang suam-suam kuku, gadis berambut oranye itu menghabiskan isi cangkir itu dalam sekali teguk.

“Seenaknya saja habisin minuman orang...!! Padahal baru nyicip sedikit!”

Gerutuku menatap sinis padanya.

“Ayo pulang!”

Hanya dua kata itu yang terdengar oleh telingaku. Tampaknya dia benar-benar mengabaikan kalimatku.

***

Hari semakin malam saat langit berubah menjadi gelap. Lampu-lampu kota menyala dengan terang seolah hendak menggantikan matahari menerangi kota ini.

Suasana kota di malam ini semakin ramai. Orang-orang berlalu lalang di trotoar, suara desing mobil menderu di atas jalanan. Di kawasan pertokoan ini bau masakan dari berbagai kedai makanan bercampur jadi satu.

Kebanyakan kedai makanan di sini hanya buka saat malam tiba.

“Sebelum pulang, mau mampir ke kafe ini dulu? Kita juga tak punya apa pun di rumah untuk dimakan.”

Aku menunjuk ke pinggir jalan di mana sebuah kafe berada. Nampaknya kafe ini baru saja dibuka, karena sebelumnya aku belum pernah melihatnya. Hal itu diperkuat dengan beberapa karangan bunga bertuliskan “Selamat” yang berada di halaman depan.

“Kelihatanya tempat ini menarik!”

Bella melebarkan senyumnya. Seakan menyetujui ideku.

Kami masuk ke dalam kafe itu. Tempatnya sangat bersih dan tertata rapi. Meja makan dan perabotan di sini tampak elegan seperti furnitur hotel mewah. Kucoba menyeka permukan meja makan dengan jariku.

Tak ada debu sedikit pun yang menempel. Bahkan ada grup musik yang membawakan alunan merdu yang mengiringi para pelanggan saat makan.

Jujur, kupikir tempat ini sepuluh kali lebih baik daripada restoran tempatku bekerja.

“Wow, tempat ini sangat hebat!”

Bella tampak takjub melihat ke sekeliling kafe. Para pelayan di sini tak hanya sebatas mengantarkan makanan ke atas meja, tapi mereka juga mengantarkan para pelanggan ke meja makan.

Salah satunya gadis pelayan dengan wajah oriental yang mengantarkan kami ke meja makan yang masih kosong.

“Apa kalian mau menu spesial dari kafe kami?”

Tanyanya dengan ramah.

“Heh!? Boleh saja!”

Aku dengan cepat langsung mengiyakan. Sebenarnya aku juga tak tahu apa menu spesial mereka. Tapi kalau harus kutebak, mungkin itu adalah menu saat masa promosi.

Kurasakan tatapan Bella menjelajahi tubuhku. Aku membalas tatapanya, tapi dalam sekejap langsung ia buang wajahnya ke arah lain.

Apa-apaan sih dia itu?

“Hei...!”

“Apa?”

Sahutku malas.

“Setelah ini temani aku ke pusat perbelanjaan di sana.”

Tunjuk Bella ke sebuah bangunan super besar berlantai empat. Walau letaknya agak jauh dari sini, tapi aku masih bisa melihat kemegahan mall yang dihiasi ratusan cahaya lampu itu.

Super City Mall, sebuah pusat perbelanjaan paling lengkap yang ada di kota ini, atau mungkin di provinsi ini. Hampir semua barang bisa didapatkan di sini.

Aku pernah kemari bersama Bella sebelumnya, saat kami sedang berbelanja bahan makanan. Di sanalah kami bertemu dengan Febri yang memergoki kami berdua. Tapi untungnya rahasia kami masih tetap terjaga sampai saat ini.

Kalau diingat-ingat kembali, rasanya aku sudah mengalami banyak kejadian semenjak aku menikah dengan Bella. Meski begitu anehnya aku sama sekali tak membenci semua itu.

“Untuk apa?”

Aku memiringkan kepalaku.

“Ada sesuatu yang ingin kubeli.”

“Kau pergi saja sendiri.”

*Brak!

Suara yang cukup keras tercipta saat kepalan tangan Bella menghantam permukaan meja. Menyebabkan perhatian pengunjung di sekeliling berpusat pada kami berdua.

“Bodoh! Jangan menyebabkan keributan! Kau mau kita diusir dari sini?”

Bella langsung menarik kerahku dengan erat.

“Kau harus ikut bersamaku!”

“I-Iya...”

Lagi-lagi aku tak berdaya menghadapinya. Entah kenapa gadis ini terlihat lebih menyeramkan dari biasanya di saat ia marah.

Dengan kedua ujung alis yang menyatu dan suara gemeratakan gigi yang saling bersentuhan, membuatnya tampak seperti harimau.

Beberapa kemudian, seorang pelayan wanita datang ke meja sambil membawa pesanan kami. Pelayan ini berbeda dengan yang mengantarkan kami ke meja makan. Tapi tak kalah ramah denganya.

Pelayan itu menyajikan sebuah piring berisi nasi yang dibungkus oleh telur dadar dengan saus berbentuk hati di atasnya, serta segelas jus ukuran besar yang kedua sedotanya saling berkaitan dan membentuk hati.

“A-A-Apa maksudnya ini?”

Baik aku dan Bella sama-sama terperangah kaget memandang makanan yang dihidangkan di atas meja kami.

“Ini adalah menu spesial untuk sepasang kekasih seperti kalian.”

“KEKASIH....!!!?”

Seruku dan Bella di saat yang bersamaan. Pelayan itu hanya tersenyum berseri-seri melihat kami berdua yang sama-sama bersemu.

Apakah bagi orang lain kami berdua terlihat seperti sepasang kekasih?”

Kalau diingat-ingat lagi, kami tadi jalan berdua berdampingan, tertawa bersama, dan saling bercanda. Tentu saja orang akan menganggap kami sebagai sepasang kekasih!

“Tapi dia bukan kekasihku. Dia tak leb—”

“Nah, pelanggan yang terhormat! Silakan nikmati makananya!”

“Tunggu, kau tak mendengarkanku?”

Mengabaikanku yang gusar, pelayan itu segera pergi dari meja kami berdua.

“Hoi, kembali!”

Tapi pelayan itu tak kunjung kembali oleh suara teriakanku.

“Sial! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku akan mengganti pesanan kita.”

Tapi niatku langsung terhenti saat aku merasakan tarikan kencang pada lengan seragamku. Tangan Bella menahanku, seakan tak menginginkan aku pergi dari meja.

Kepalanya ia tundukan ke bawah, jadi aku tak tahu ekspresi apa yang dibuat oleh wajahnya sekarang.

“A-A-Aku tak keberatan memakan ini bersamamu. Jangan salah paham dulu! Aku cuma ingin segera menyelesaikan ini dan pergi dari sini!!”

Kutatap Bella yang masih menundukan wajahnya. Lalu kuambil napas dalam-dalam.

“Dasar! Baiklah kalau begitu...”

Akhirnya dengan terpaksa kami memakan pesanan ‘sepiring berdua’ itu. Rasanya sangat memalukan sampai ingin mati rasanya. Aku tak henti-hentinya memalingkan wajahku ke arah lain agar tak kontak mata dengan Bella.

Sial, kenapa bisa jadi seperti ini?

Selalu saja ada kejadian yang membuat jantungku melunjak-lunjak. Meski aku tak menyukai Bella, tetap saja hal ini membuat jantungku berdegup kencang.

Tanganku gemetaran memegang sendok makan, hingga tanpa sengaja aku menjatuhkanya ke atas lantai.

“Ah, sial! Sepertinya aku harus meminta sendok bersih lagi.”

“Jangan...!”

Ujar Bella. Dia kembali menghentikanku di saat hendak beranjak dari meja makan.

“Aku tak mau berlama-lama lagi di sini. Karena itulah... pakai sendokku saja!”

“Lalu bagaimana kau makan?”

“Kita bisa berbagi sendok.”

“Heh?”

***

Baru kali ini aku makan seperti ini. Kalau sesama cowok sih tak masalah, tapi ini cewek. Aku tak bohong mengatakan kalau ini pertama kalinya aku disuapi oleh seorang gadis selain ibuku.

Ya ampun! Sepertinya aku tak bisa lagi menghentikan detak jantungku yang semakin cepat. Meski beberapa kali kutahan dengan telapak tanganku, tetap saja dada ini tak bisa tenang.

“Buka mulutmu...”

“A-Ah...”

Dengan malu-malu aku membuka mulutku sambil tetap memalingkan pandanganku.

Aku memperhatikan orang-orang di sekitar kami, sepertinya beberapa orang memandangi kami dengan senyum lebar di wajah mereka. Bahkan sekumpulan gadis berseragam SMP yang duduk di sebelah meja kami tampak kegirangan.

“Lihat, lihat! Mereka sangat romantis, ya!?”

“Kyaa... mereka berdua malu-malu. Lucunya...!”

“Aku ingin sekali melakukanya bersama kekasihku.”

Tak bisakah kalian urus masalah masing-masing, dasar anak SMP sialan!! Serius! Apa kami jadi bahan tontonan yang menarik selagi kalian makan?

Beberapa menit kemudian, aku dan Bella sudah menyelesaikan makan kami. Kami berdua pun pergi meninggalkan kafe dengan wajah yang masih memerah.

“Ayo kita segera pergi!”

Tangan Bella mencengkram pergelangan tanganku, walau tidak kuat tapi mampu untuk menyeretku mengikuti langkah kakinya.

Genggaman tanganya sungguh hangat.

Entah kenapa setiap kali kami melakukan kontak fisik hari ini, dadaku semakin berdebar-debar.

“Kyaaa... mereka berpegangan tangan!”

“Romantis, ya!?”

“Aku ingin sekali melakukanya bersama kekasihku.”

Ya ampun! Gadis-gadis SMP itu masih saja melihat ke arah kami. Walau kami sudah keluar dari kafe, tetap saja aku masih bisa merasakan tatapan mereka dari jauh.

Kami pun segera mempercepat langkah kami meninggalkan tempat itu.

***

Dan dalam beberapa menit, kami sudah tiba di Super City Mall. Hembusan angin yang berasal dari mesin pendingin ruangan langsung menerpa wajahku begitu pintu kaca mall terbuka dengan sendirinya.

Di lantai dasar ini kau bisa menemukan berbagai toko yang menjual aksesoris seperti jam tangan, gelang, dan yang lainya.

“Hei...”

Aku menahan lengan Bella, membuatnya menghentikan langkahnya tepat di depanku.

“Apa tujuanmu kemari?”

“Bukankah sudah kubilang ada sesuatu yang ingin kubeli?”

Mata oranyenya memandangku dingin.

“Kalau begitu seharusnya kau bisa pergi sendiri...”

“Tidak bisa...!! Aku membutuhkan bantuanmu untuk memlihkan hadiah.”

“Hadiah...!? Untuk siapa?”

Wajah Bella memerah, membuatnya tampak manis seperti boneka. Pandanganya ia jatuhkan ke atas lantai. Kemudian ia mengarahkanya padaku...

“Bukankah hari ulang tahunmu sebentar lagi...?”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
My Wife is My Enemy
29-01-2021 23:04

Chapter 9 "Dia yang Berbeda"

Kuletakkan punggung tanganku di atas dahi Bella, permukaan kulitnya terasa membakar tanganku. Rasanya sangat panas. Ini bukan suhu yang normal, bahkan untuk orang yang sedang terkena demam.

Bella terbaring dengan setengah sadar. Matanya terpejam dan napasnya terdengar berat. Dengan panik aku segera mengambil termometer yang berada di kotak P3K. Lalu kuselipkan di antara ketiaknya.

Aku tercengang begitu air raksa dalam termometer naik dengan cepat melewati batas wajar suhu manusia.

“40O C...!?”

Ya ampun, ini buruk...! Demamnya tinggi sekali!!!

Aku harus segera membawanya ke dokter sebelum keadaanya lebih parah lagi. Kutekan tombol-tombol di ponselku, mencoba menghubungi rumah sakit menginginkan mereka untuk mengirim ambulans kemari.

Tapi tak bisa. Rumah sakit itu hanya punya dua ambulans dan keduanya sedang tak ada di tempat. Aku semakin panik. Kucoba memutar otakku untuk mencari solusi.

“Ah!”

Kalau tidak salah ada seorang dokter kenalan ayahku. Dulu aku pernah diobati olehnya saat aku sedang sakit. Aku harus meneleponya untuk memintanya datang kemari.

Kucari-cari nomornya di buku catatan lama milik ayahku yang tersimpan di dalam rak buku. Ayahku sering mencatat sesuatu yang penting di bukunya, kuharap di sana ada nomor milik dokter itu.

Kubalik selembar demi selembar halaman buku itu. Tiba-tiba aku berhenti, mataku terpaku pada satu halaman yang tulisanya sudah agak buram.

Ketemu.

Halaman ini berisi informasi milik Dr. Adi, kenalan ayahku juga ada nomor telepon yang tertulis di sana. Dengan segera aku mengambil ponselku dan memencet nomor sesuai dengan yang tertera pada buku catatan itu. Memang catatan ini sudah lama. Kuharap Dr. Adi tak mengganti nomornya.

“Halo! Ini Dr. Adi?”

Meski sedang keadaan panik, tapi aku tetap mencoba tenang agar suaraku bisa sampai ke orang di seberang sana dengan jelas.

“Iya. Ini dengan siapa?”

“Saya Sena, anaknya Pak Raka.”

“Oh... yang waktu itu terkena demam berdarah, ya!? Sudah lama sekali, yah.”

“Iya. Maaf, tapi bisa Bapak kemari?”

“Memangnya siapa yang sakit?”

“Pokoknya cepatlah kemari!”

“Baik, saya akan segera ke sana sekarang.”

Kututup telepon itu. Lalu aku segera kembali ke sisi Bella di mana ia sudah dalam keadaan sadar sekarang. Namun tetap tak bisa menggerakan tubuhnya secara bebas. Matanya menelan tubuhku dalam-dalam.

Aku balas memberinya tatapan yang hangat. Awalnya aku cuma menyingkirkan poninya yang menghalangi sebagian kecantikanya. Tapi kini aku mulai membelai dahinya secara perlahan sembari menggenggam tanganya erat.

“Aku akan membawamu kembali ke kamar.”

Dia terdiam. Sepertinya dia terlalu lemah meski itu hanya untuk membalas perkataanku. Jadi kuanggap diamnya itu sebagai tanda setuju.

Kuletakkan kepala Bella pada sebelah lenganku, sementara tanganku yang lain menopang lututnya. Aku mulai membawa Bella ke kamar dengan cara menggendongngya seperti seorang putri.

Bella membenamkan kepalanya pada dadaku. Dengan jarak segitu, aku sangat yakin dia bisa mendengar degup jantung yang berdebar kencang dari dalam dadaku.

Segera setelah aku memasuki kamar, aku membaringkanya secara perlahan di atas kasur agar tak membuat tubuhnya semakin menderita. Kutarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya yang mirip dengan peri fantasi di negeri dongeng.

Aku mengambil sepotong kain dari dalam lemari, lalu kubasahi dengan air dingin guna mengkompres suhu tubuh Bella yang kelewat tinggi.

Sepertinya ini pertama kali bagiku mencemaskanya sampai seperti ini. Kalau aku yang dulu, aku takkan mau direpotkan oleh hal-hal seperti mengurus Bella. Tapi entah kenapa hatiku kini dibelokan oleh wajah Bella yang memandangku dengan lemah.

Sesaat kemudian dia membuka mulutnya, mencoba berbicara sekuatnya. Tapi aku tak mendengar apa pun. Meski sudah kudekatkan telingaku ke mulutnya, aku tetap tak bisa menangkap suaranya.

Ia mengulurkan tangan dari dalam selimutnya padaku. Aku tak mengerti apa yang ia inginkan. Tapi pada saat wajahnya bertemu denganku, barulah aku mengerti.

Yang Bella inginkan bukanlah selimut tambahan, air dingin guna mengkompres tubuhnya, atau hal lainya. Yang ia inginkan adalah agar aku berada di sisinya.

Segera kuraih tanganya dan kugenggam erat. Jari-jemari kami saling bersilangan satu sama lain. kini ia bisa melempar senyumnya padaku walau terasa samar.

Aku memegangi dadaku. Entah kenapa aku merasa seperti ada yang ingin melompat keluar dari dalam sana. Semakin aku menyentuh Bella, semakin kuat dorongan benda itu.

“Tenanglah, jantungku! Ini bukan saatnya berdebar-debar.”

Meski aku membisikan kata itu sembari menenangkan dadaku, tetap saja aku tak bisa menghentikanya meletup-letup. Dadaku semakin tak karuan saja dibuatnya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pada pintu depan rumahku. Tampaknya Dr. Adi baru saja tiba. Aku harus segera menyambutnya.

Tangan Bella menarikku dengan keras saat kucoba melepaskan genggamanku. Pandanganya memelas seakan memintaku untuk terus menemaninya. Kubelai punggung tanganya dengan lembut.

“Dr. Adi akan memeriksa keadaanmu. Tenang saja! Aku akan segera kembali.”

Bella tak menjawab apa pun. Namun dari matanya aku menganggapnya sudah mengerti. Ia pun dengan perlahan melepaskan kaitan tanganya dari jemariku.

Aku langsung pergi ke depan pintu, menyambut Dr. Adi yang datang lengkap dengan tas besar yang ia bawa di tanganya. Tampaknya itu adalah peralatan dokter yang biasa ia gunakan saat praktek di klinik.

Kubimbing Dr. Adi ke kamarku, tempat di mana Bella sedang tergolek lemas di atas tempat tidur. Dr. Adi menaruh tanganya di atas dahi Bella. Sepertinya tanpa menggunakan termometer pun dia langsung tahu kalau suhu tubuh Bella di atas batas kewajaran.

Tanganya membuka tasnya dan mencoba mengorek-ngorek sesuatu dari saja. Sebuah stetoskop kini sudah berada di tanganya. Lalu ia memeriksa Bella seperti sebagaimana dokter biasanya lakukan.

Beberapa saat kemudian Dr. Adi melepas stetoskop dari telinganya dan berbalik menatapku.

“Bagaimana keadaanya?”

“Tenang saja, Sena! Meski demamnya tinggi, ini cuma demam biasa. Tidak ada gejala-gejala penyakit serius yang menimpanya. Dalam beberapa hari dia akan sembuh.”

Kini aku tak bisa menyembunyikan ekspresi kelegaan saat mendengarnya. Aku berterima kasih pada Tuhan karena tak terjadi hal yang buruk padanya.

“Saya akan memberikan resep obatnya, harap Dik Sena menebusnya di apotek.”

Dr. Adi lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam buku catatan sakunya, dan menuliskan sesuatu di sana. Tulisan dokter biasanya tak ada ubahnya dengan grafiti yang biasa kulihat di kolong-kolong jembatan.

Tapi Dr. Adi berbeda, tulisan tanganya sangat rapih seperti mesin ketik. Jadi aku bisa membacanya tanpa harus membuat mataku rusak.

“Kalau begitu saya akan permisi dulu.”

Setelah memberesken peralatan dokternya ke dalam tasnya, ia pun segera bangkit dan melangkah keluar kamar. Namun sedetik kemudian, dia menghentikan langkahnya.

“Ngomong-ngomong, dia siapanya Dik Sena?”

“Dia...”

Kalimatku terhenti mendadak karena bingung memikirkan jawaban yang harus kuberikan. Meski aku dan Bella sudah menikah, tapi pada dasarnya kami saling membenci satu sama lain. Apakah yang seperti itu masih pantas dikatakan pasangan suami-istri?

Sebenarnya aku bisa saja berbohong dan mengatakan kalau Bella adalah saudara jauhku, tapi...

“Dia adalah istriku...”

Dr. Adi terperanjat kaget. Tapi tak hanya dia, aku pun terheran-heran sendiri karena jawaban yang kuberikan.

Aneh. Sejak awal aku tak mau mengakui Bella sebagai istriku, bahkan selalu berusaha menutupinya. Tapi kenapa kali ini aku malah mengakuinya secara terang-terangan?

Berapa kali pun aku memikirkanya. Jawaban itu tak bisa kujawab olehku sendiri.

***

Pukul 9 malam.

Aku tengah dalam perjalanan pulang dari apotek setelah menebus resep yang diberikan Dr. Adi. Kuharap obat-obatan yang ada ditanganku bisa membuat Bella sehat kembali dalam beberapa hari tepat seperti apa yang Dr. Adi katakan.

Sebelum kembali ke rumah, aku coba berjalan ke arah jalan raya. Berharap menemukan penjual bubur yang buka di pinggir jalan. Bubur ini bukan untukku, tapi untuk Bella.

Sebelum minum obat orang yang sakit biasanya diharuskan makan terlebih dahulu, bukan? Karena itulah aku mencoba mencari penjual bubur, karena aku sendiri tak bisa membuat bubur apalagi dalam waktu yang cepat.

Aku berjalan beberapa puluh meter, tapi tak kutemukan seorang penjual bubur pun di sini. Padahal biasanya mereka sering mangkal di pinggir jalan raya ini karena ramai dengan orang. Saat tidak dibutuhkan, ada. Dan di saat dibutuhkan, malah tidak ada.

Kalau aku berjalan terus mungkin aku bisa menemukanya. Tapi segera kusingkirkan pikiran itu. Aku tak boleh membuat Bella menunggu lebih lama lagi.

Aku langsung segera kembali ke rumah tanpa membawa sebungkus makanan pun. Kalau begini sih terpaksa aku harus membuatnya sendiri.

Kutengok ke dalam kamar. Bella masih terlelap dalam tidurnya. Aku berjalan perlahan ke arah dapur dengan perlahan, takut membangunkanya dari tidur. Untunglah lantai rumahku terbuat dari keramik. Kalau itu dari kayu yang sudah lapuk, tidur Bella akan terganggu dengan suara jejak langkah yang kubuat.

Dengan mengandalkan buku resep dan kemampuan yang seadanya, akhirnya aku berhasil membuat bubur buatanku sendiri. Aku sudah membuatnya sebisaku, tapi aku tak bisa menjamin rasanya.

Dengan perlahan kugunakan tanganku untuk memindahkan bubur dari dalam panci ke mangkuk. Uap panas yang mengepul langsung menerpa wajahku, membuatku mengibaskan tanganku guna menghilangkanya.

Kutaruh mangkuk itu di atas nampan. Lalu melangkahkan kakiku ke kamar. Saat tidur, Bella terlihat cukup manis juga. Bahkan aku pun bisa sedikit terpesona akan kecantikanya.

Kugoyangkan sedikit tubuhnya untuk membawa kesadaranya kembali. Lama-kelamaan kelopak matanya yang merapat mulai terbuka sedikit demi sedikit.

“Bella, bangun dulu! Makan bubur ini lalu minum obat agar kau segera sembuh.”

“Baik...”

Aku merasa kasihan padanya. Suaranya yang biasa terdengar seperti singa yang sedang mengaum, tapi kini tenggorokanya mengeluarkan suara yang hampir tak terdengar.

Dengan tanganku kuarahkan sendok yang berisi bubur ke mulutnya. Sebelum kusuapi dia, kupastikan terlebih dahulu bubur yang baru saja matang itu sudah kutiupi agar bisa ia makan. Bella mengunyah bubur itu dalam mulutnya dengan perlahan.

Lalu memalingkan pandanganya dariku, seakan tak mau melihat wajahku.

“Aku tahu kalau kau sangat membenciku. Mungkin saat ini kau tak ingin aku berada di sini. Tapi biarkanlah aku merawatmu sampai merasa baikan.”

“Sebenarnya bukan itu yang sedang kurasakan. Aku...”

Bella menoleh padaku, tapi matanya tak bertemu dengan miliku.

“Aku sangat berterima kasih...”

Suaranya memang terdengar lirih di telingaku, tapi masih bisa tertangkap jelas oleh gendang telingaku. Wajahnya bersem. Entah itu karena ia dalam kondisi demam atau tersipu. Yang jelas ia seperti sedang memakai masker berwarna merah.

Ekspresinya...

Suaranya...

Dan wajahnya...

Semua itu membuatku kembali merasakan jantungku yang ingin memberontak keluar. Detakanya kali ini lebih jelas. Dan lebih keras.

Tanpa membalas ucapanya aku kembali menyuapinya untuk membungkam mulutnya. Karena aku tahu kalau ia mengatakan sesuatu yang aneh lagi, dia akan terus membuatku berdebar-debar. Hingga pada suapan terakhir kami tak berbicara apa pun satu sama lain.

“Sena...”

“Apa?”

“Aku mau mengatakan sesuatu...”

“Katakan saja.”

Bella terlihat bimbang. Ia mengerlingkan matanya berkali-kali untuk menghindari kontak denganku. Mukanya kembali memerah. Sangat merah seakan semua darah berkumpul pada wajahnya. Kenapa dia jadi terlihat seperti ini?

Aku baru ingat, kalau ini adalah pertama kalinya aku melihatnya malu-malu.

“Aku cuma akan mengatakan ini sekali, jadi dengarkan baik-baik.”

Mulut Bella terbuka, ia berusaha mengeluarkan suaranya tapi tak sampai pada telingaku.

“Apa yang kau katakan?”

“Geez... bodoh! Dekatkan telingamu!”

Gaya bicaranya kembali seperti biasanya, walau yang kali ini agak berbeda karena terdengar lirih. Sesuai perkataanya, aku mendekatkan telingaku padanya. Dengan begini aku bisa mendengar jelas apa yang akan ia katakan.

Aku terus berpikir, sebenarnya apa yang ingin ia katakan? Kuharap bukan sesuatu yang aneh atau menyebalkan.

“Sena! T-Terima....”

“Apa-apaan ini? Jadi kau cuma ingin bilang terima ka—“

Mendadak seluruh tubuhku membeku. Hawa udara di malam ini memang dingin, tapi tak sanggup membekukan seluruh tindakan dan pikiranku.

Yang melakukan ini adalah Bella.

Tindakanya sangat tiba-tiba. Mendadak. Dan tidak bisa kuduga sebelumnya.

Ia merangkul leherku. Mendaratkan sebuah ciuman kecil di pipiku yang membuat seluruh tubuhku tak bergerak sedikit pun. Aku membuka mataku lebar-lebar. Tak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan.

Aku lalu menoleh ke arahnya. Dengan wajah yang masih tersipu ia mengerlingkan matanya ke samping, sehingga aku tak bisa menatap langsung kedua bola mata oranyenya.

“A-Apa maksudnya itu...?”
Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
My Wife is My Enemy
17-02-2021 11:59

Chapter 13 "Tak Bisa Kumengerti"

“Kau... ingin membelikanku hadiah ulang tahun?”

Seluruh tubuhku membeku. Telingaku menolak mempercayai kata-kata yang kutangkap barusan. Benarkah dia ingin membelikanku hadiah untukku?

Hari ulang tahunku memang tinggal tiga hari lagi. Tapi dari mana dia tahu ulang tahunku? Aku yakin belum pernah memberitahunya sama sekali, walau kami mengenal sejak lama.

Karena yang biasa kami lakukan saat bertatap mata adalah bertengkar, bukan berbicara santai.

Mungkin saja dia mencari tahu lewat biodataku yang tertulis entah di mana. Tapi kenapa dia mau melakukan itu? Kami dari dulu saling membenci, tak ada untungnya bagi kami mengetahui hari ulang tahun masing-masing.

Bahkan aku tak peduli dengan ulang tahun Bella.

“Kenapa kau bisa tahu hari ulang tahunku?”

“Itu bukan masalah, kan? Yang penting ayo sekarang kita cari hadiah yang kau mau.”

Tanpa menatap mataku, Bella menarikku ke tengah kerumunan gila di lantai bawah mall. Suasana di sini benar-benar ramai dengan lautan manusia. Suara dari setiap orang bercampur menjadi satu dan terasa memaksa masuk ke telingaku.

Untukku pribadi, aku tak suka dengan tempat yang ramai seperti ini meskipun itu taman wisata atau taman bermain.

Karena bukanya menyegarkan tubuhku, tapi malah tambah membuat stress.

Tangan Bella yang lembut mencengkramku dengan kuat dan menyeretku sesuka kakinya melangkah.

Beberapa saat kemudian, kami tiba di sebuah distro baju yang cukup terkenal. Distro ini memiliki banyak cabang di berbagai kota. Tak heran mereka membuka cabang di mall ini yang merupakan sentra perbelanjaan terbesar di kota ini.

“Kau mau baju apa? Akan kubelikan untukmu. Silakan pilih yang kau suka!”

Bella menyingsingkan sebuah senyuman penuh pesona di wajahnya. Aku bahkan harus menutup mataku karena tak kuasa memandang senyumnya yang berkilau.

“Aku tak tertarik dengan baju, karena aku tak begitu peduli dengan penampilan.”

“Ya ampun! Tak bisakah kau senang hanya untuk kali ini saja? Aku sudah mau repot-repot membelikanmu hadiah. Seharusnya kau berterima kasih!!”

Kedua tanganya dilipat di depan dadanya. Matanya melirik kepadaku.

“Baiklah kalau begitu. Tapi aku tak tahu baju apa yang cocok untukku.”

“Pilih saja!”

Aku coba berjalan-jalan di antara etalase yang berisi tumpukan pakaian. Jujur, berbelanja baju sama sekali bukanlah gayaku.

Sekalipun aku membeli baju, aku cuma asal ambil baju yang desainnya menarik perhatianku saat pertama kali lihat.

Tak jarang baju-baju yang kubeli terkadang tidak cocok dengan ukuranku. Kadang terlalu besar atau terlalu kecil. Biasanya baju yang salah ukuran untukku langsung kujadikan kain pel.

“Bagaimana dengan yang ini?”

Bella mencocokan sebuah baju berwarna hijau bergaris merah cerah pada tubuhku. Dalam posisi seperti ini kedua mata kami tak bisa menghindar dari kontak langsung.

Dalam sesaat aku bisa melihat pipi kemerahan Bella. Dengan cepat langsung kubuang wajahku ke arah lain agar ia tak mengetahui kalau aku menatap wajahnya sejak tadi.

“B-Bagaimana?”

“Boleh juga, tuh!”

“Kau mau yang ini?”

“Iya.”

Aku mengangguk setuju. Sebenarnya aku bukanya menginginkan baju itu, tetapi aku cuma berharap ini semua cepat selesai agar aku bisa cepat pulang dan beristirahat.

“Kyaa...! Lihat! Mereka berbelanja bersama!”

“Romantisnya!”

“Aku ingin melakukanya bersama kekasihku.”

Suara ini... rasanya tak asing!

Dan benar saja, begitu aku menengokan kepalaku ke sekeliling. Aku menemukan tiga gadis SMP yang kutemui di kafe sebelumnya tengah bersembunyi di balik baju-baju yang tergantung pada hangar.

“Anjir...! Mereka ada di sini juga? Mau sampai kapan mereka mengikuti kita?”

“Tak usah pedulikan mereka! Kau tunggu di sini, aku akan ke kasir.”

Aku pun beristirahat di sebuah bangku panjang dekat fitting room. Tubuhku cukup lelah karena sudah bekerja di restoran sebelumnya, ditambah dengan berbelanja pakaian yang semakin menguras tenagaku.

Bella yang baru saja kembali dari kasir langsung menyerahkan bungkusan plastik yang berisi baju yang tadi kami pilih.

Akhirnya selesai juga...

“Kita pulang sekarang?”

“Belum. Aku masih ingin membelikanmu hadiah lagi.”

“Hah?”

Aku ternganga di tempatku berdiri. Apa-apaan dia itu? Padahal menurutku ini sudah cukup, tapi dia masih mau membelikanku hadiah lagi?

Itu artinya aku harus menunda niatku untuk langsung pulang ke rumah. Sial, padahal tubuhku rasanya sudah letih sekali!

Dasar Bella itu...!

Sungguh aku tak mengerti para gadis. Kenapa sih berbelanja menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka?

Kenapa mereka mau repot-repot keliling banyak toko demi memenuhi isi lemari mereka? Apa mereka tak cukup dengan apa yang mereka punya sekarang?

Meski aku malas menurutinya, tapi aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya. Karena aku tak bisa menolak niat baik darinya.

Bella kembali menyeretku seperti binatang peliharaanya. Kami tak banyak bicara hingga kaki kami berhenti tepat di depan toko suvenir.

Sepertinya toko ini menjual berbagai barang khas dari seluruh penjuru dunia. Di sini bahkan menjual jersey asli dari klub sepakbola Inggris, Chelsea.

Kalau Zidan di sini, dia pasti akan memborong barang-barang ini ke rumahnya karena dia adalah penggemar berat klub sepakbola itu.

Kami berdua masuk ke dalam toko, melihat-lihat semua barang yang dipajang di bagian depan toko. Untunglah suasana di sini tak terlalu ramai seperti toko sebelumnya, jadi aku tak terlalu pusing dengan suara berisik orang-orang di sekelilingku.

“Kau mau jam tangan ini?”

Bella menujuk sebuah jam tangan berwarna silver yang berada di etalase khusus arloji. Jam tangan itu terlihat mewah dan berkelas, tapi tak mampu menarik perhatianku.

Aku pun menatap jam tangan itu dengan pandangan malas.

Namun aku langsung membelalakan mataku begitu melihat angka yang tertera pada label harganya.

“Rp. 400.000!!? Kau yakin mau membelikanku itu?”

“Memangnya kenapa?”

Bella menatapku dengan pandangan polosnya seakan harga barang mewah itu bukanlah masalah baginya.

“Itu hampir dari setengah dari gaji paruh waktu kita, tahu!”

“Aku akan memakai uang tabunganku, jadi santai saja!”

“Pokoknya jangan-jangan membuang uang demi hal yang tidak perlu.”

“Tapi ini kan untuk hadiahmu!”

“Aku tak menginginkanya. Ayo kita cari yang lain!”

Dengan sedikit paksaan aku mencoba menyeret Bella keluar menjauhi toko suvenir itu. Aku tahu dia orang kaya raya, tapi itu bukan berarti bisa membuang-buang uang begitu saja.

Kami memang bekerja paruh waktu, tapi kami juga mendapat uang kiriman dari orang tua kami setiap bulanya untuk kebutuhan sehari-hari.

Uang kiriman memang beberapa kali lipat lebih besar dari gaji paruh waktu kami. Tapi menghabiskan uang sebanyak itu untuk barang yang tak kubutuhkan itu rasanya mubazir.

Kalau soal waktu, aku masih bisa mengetahuinya dari layar ponselku. Atau bisa juga aku menanyakanya pada orang lain. Yang jelas jam tangan bukanlah barang kebutuhanku.

Masih banyak hal berguna lainya yang bisa dibeli dengan uang segitu. Kalau buatku sih lebih baik kuhabiskan untuk membeli mie instan.

Lumayan, bisa buat mengisi perut selama tiga bulan.

“Lalu kau maunya apa?”

Bella menghela napas lalu menahan lenganku, sehingga membuat mata kami bertatapan.

“Sebenarnya aku tak butuh apa pun, kok. Baju yang kau belikan tadi sudah cukup bagiku. Jadi aku tak perlu yang lain.”

“Tidak! Aku masih mau memberimu hadiah yang lain.”

Kulepaskan genggamanya pada lenganku, dan kutatap Bella dengan tajam.

“Aku bingung sama kamu. Kenapa sih kau mau repot membelikanku hadiah ulang tahun?”

“Karena ulang tahunmu tinggal sebentar lagi.”

“Bukan itu yang kumaksudkan. Ini aneh, tahu! Kenapa kau jadi berbaik hati padaku seperti ini?”

“Memangnya salah, ya!? Seharusnya kau berterima kasih, bukanya malah protes!!!”

Sungut Bella. Kedua ujung alisnya menyatu. Nada suaranya ia naikkan sehingga orang di sekitar kami menaruh perhatian pada kami.

“Apa alasanmu melakukan ini?”

“Aku cuma ingin memberimu hadiah saja!!”

“Apa ini semua tentang saat kau sakit...? Kau menjadi perhatian seperti untuk berterima kasih padaku yang telah merawatmu?”

Bella terdiam, lalu menjatuhkan pandanganya. Tanpa kata-kata ia terus mengigit bibir bagian bawahnya.

Aku sendiri baru sadar. Entah kenapa sejak aku merawat Bella saat demam, dia menjadi sangat perhatian padaku. Dia selalu membangunkanku di pagi hari, merapikan seragamku, dia juga bahkan sudah jarang membentakku.

Ini terasa sangat aneh bagiku. Aku sudah biasa menghadapi Bella yang kasar, tapi aku sama sekali tak pernah membayangkan Bella jadi perhatian dan lembut.

“Bisa kau lupakan apa yang terjadi saat itu? Jujur, kau jadi sangat aneh sekarang!”

“Apa itu sangat mengganggumu?”

“Hah...!?”

“Apa aku yang sekarang benar-benar mengganggumu?”

Bella mengulang perkataanya.

Kini giliranku yang tak bisa menjawab. Ini bukan berarti aku terganggu olehnya, hanya saja aku agak risih dengan sikapnya yang sekarang.

“Pokoknya berhentilah bersikap seperti ini!! Dan aku tak butuh terima kasihmu! Jujur saja, kau yang sekarang sangat menjijikan...!!”

*PLAK!!

Datang.

Itu mulai datang...

Rasa sakit perlahan-lahan mulai terasa di pipi kananku. Bekas tamparannya di wajahku meninggalkan rasa sakit yang membakar kulit.

Aku tak bisa menatap Bella. Pandanganku menatap orang-orang di sebelahku yang memandang ke arah kami.

Tanganku tanpa sadar memegangi bekas luka yang tertinggal. Lalu mencoba melirik Bella.

“Apa yang kau—“

“TAK BISAKAH KAU MENGERTIIII...!?”

“...”

“AKU MELAKUKAN INI BUKAN UNTUK BERTERIMA KASIH PADAMU!!! TAPI AKU MELAKUKANYA KARENA KEINGINANKU SENDIRI...!!!”

Suaranya yang tinggi tak melubangi telingaku seperti biasanya, tapi justru menembus relung hatiku.

Tubuhku bergetar.

Emosiku menciut sesaat setelah merasakan setetes air mata kesedihan yang jatuh dari pipinya. Dengan masih menjatuhkan pandanganya ke atas lantai, ia mengusap kedua matanya yang mulai basah.

Perlahan-lahan Bella mengangkat wajahnya. Walau ia berhasil menghapus air matanya, bola matanya masih merah dan berkaca-kaca.

“Jawab aku...! Salahkah kalau aku berbaik hati padamu?”

“...”

Aku tak bisa menjawab apa pun. Bibirku terasa membeku.

Bella yang tak kunjung mendapatkan jawaban dariku kembali menundukan kepalanya, lalu berjalan melewatiku. Namun saat aku hendak menahanya agar ia tak pergi dariku...

“JANGAN SENTUH...!!!!”

Ia menepis tanganku dengan keras. Suaranya yang melengking mengalahkan hingar bingar pusat perbelanjaan yang ada di sekitar kami.

“Bella...”

“Kau tak pernah mengerti perasaanku. Aku tak mau melihatmu lagi...!!!”

Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghentikanya. Kini aku cuma bisa menatap punggungnya yang berlari ke tengah kerumunan orang dan menghilang dari pandanganku.

Meski kucoba mengulurkan tanganku, namun aku tak mampu meraihnya...

***

Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Tubuhku terasa tertusuk ribuan duri es yang berada di atmosfer sekelilingku.

Tapi yang paling terkena dampaknya adalah dadaku. Terasa seperti ada lubang besar menganga di sana.

Kucoba menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Kasur ini menjadi lebih lega karena Bella tak ada di sini. Baik di kamar. Maupun di rumah ini.

Bahkan tak ada tanda-tanda ia datang kemari sebelumnya.

Kugenggam tanganku erat-erat seraya memandang ke atas langit-langit.

“Kalau itu maumu. Terserah kau saja, bodoh!”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
06-02-2021 21:05

Chapter 10 "Memori"

Masih terbayang jelas dalam memoriku suara debur ombak yang memecah karang, nyanyian burung camar yang selalu terdengar merdu oleh indera pendengaranku, serta rasa asin dari air yang berasal dari bibir pantai.

Kala itu aku masih berumur lima tahun. Saat orang tuaku hendak pergi ke luar kota karena pekerjaan mereka selama dua minggu. Aku dititipkan di rumah nenekku yang berada di kampung pesisir pantai.

Aku awalnya tidak mau, karena daerahnya sangat terpencil dan keseharian di sana jauh dari kehidupanku saat tinggal di kota.

Risih. Jorok. Norak.

Itulah kata-kata yang selalu ada dalam kepalaku jika menyangkut tentang ‘kampung’

Dua hari kuhabiskan dengan mengurung diri di dalam rumah. Sesekali aku keluar rumah, namun hanya duduk santai di depan teras.

“Apa kau tidak bosan di rumah melulu?”

Itulah kata-kata yang kudengar dari gadis yang tinggal di dekat rumah nenekku.

Aku tak tahu dia lebih muda atau lebih tua dariku.

Tapi sepertinya dia tak berbeda jauh usianya denganku, karena tingginya hampir sama denganku. Potongan rambutnya pendek sebahu, mirip seperti boneka.

Walau aku berkali-kali mengabaikanya dan memalingkan wajahku, dia tetap mengajakku berbicara.

Sampai akhirnya aku membalas perkataanya.

“Aku malas main di kampung seperti ini. Lebih baik di kota tempatku tinggal, di sana banyak permainan seru daripada di sini.”

“Kampung ini tak seburuk yang kau bayangkan, kok.”

“Bohong...!”

“Aku tak bohong. Kalau kau mau bukti akan kutunjukkan semua seluk beluk tentang kampung ini. Di sini punya banyak hal yang tak bisa kau dapatkan di kota tempatmu tinggal.”

Aku tak percaya begitu saja, aku pun menolak ajakanya beberapa kali. Tapi dia tetap keras kepala dan terus membujukku.

Pada akhirnya aku pun mengangguk dan menuruti perkataanya. Dia bilang akan menunjukan hal menyenangkan di kampung ini.

Tapi aku tak tahu dia berkata benar atau tidak. Mungkin saja dia akan mendorongku jatuh dari atas tebing karena telah menghina kampung tempatnya tinggal.

Tapi entah kenapa aku masih tetap mengikutinya.

Hatiku mengatakan untuk mempercayainya saat itu. Karena sebenarnya aku juga ingin melihat hal yang akan ia tunjukkan padaku.

Sampai pada akhirnya aku dihadapkan pada hamparan pasir putih yang terbentang luas. Air lautnya terbilang cukup tenang. Jarang ada ombak besar menggulung yang berhasil sampai titik pasang pantai.

“Apakah ini yang ingin kau tunjukkan padaku?”

Gadis itu melempar senyum manisnya padaku.

“Ya. Di kota kau takkan menemukan pantai sebersih ini.”

Memang benar perkataanya.

Airnya sangat jernih seperti air kolam renang, bahkan aku bisa melihat ikan yang berenang di antara terumbu karang yang berwarna-warni.

Permukaan airnya memantulkan warna biru langit secara sempurna.

Baru kulihat pertama kalinya dengan mata kepalaku sendiri pantai seindah ini. Pantai yang biasa kukunjungi, apalagi di ibukota memiliki air keruh seperti air got. Tak jarang juga ada beberapa sampah yang berserakan di atas pasir pantai.

Tapi pantai di sini sangat terjaga kebersihanya.

Aku heran. Kenapa pantai seindah ini bisa sepi pengunjung.

“Pantai ini agak terpencil dan kurang terkenal. Jadi jarang ada yang datang kemari selain penduduk kampung.”

Gadis itu menjawab seakan dia bisa mengetahui isi kepalaku.

Memang benar katanya. Sewaktu aku datang kemari, mobil yang kutumpangi harus melewati jalanan berlumpur dan berbatu selama berjam-jam. Tak jarang ban mobil beberapa kali terselip.

Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan pengunjung enggan datang kemari.

Gadis itu lalu duduk di bawah bayangan pohon kelapa di pinggir pantai.

Lalu menepuk-nepukan pasir putih yang ada di sebelahnya seolah mengundangku untuk menemaninya.

“Bagaimana? Apa kau sudah merubah pandanganmu tentang kampung ini?”

“Sedikit...”

“Fu fu... kalau begitu aku akan menunjukanmu lebih banyak hal tentang kampung ini.”

Hari-hari berikutnya kuhabiskan untuk menjelajahi lebih jauh tentang kampung ini bersama gadis itu.

Kami mengunjungi banyak tempat seperti sungai yang permukaan airnya bening seperti kaca, hutan yang selalu teduh di cuaca apa pun, atau danau yang luasnya seperti lautan.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengakui kalau kampung ini lebih baik dari bayanganku sebelumnya.

Di sini mulai terlihat menyenangkan.

Ini semua berkatnya, aku jadi mulai merasa nyaman dengan gadis itu.

Kami selalu bermain setiap hari. Meski pada awalnya aku selalu cuek padanya, tapi aku mulai bisa menunjukan senyumku saat berbicara denganya.

Hari-hari liburanku di sana harus berakhir saat orang tuaku menjemput ke rumah nenekku.

Aku pun terpaksa harus berpisah dengan gadis itu. Dia adalah orang yang mengajariku banyak hal tentang kampung ini.

Berat rasanya meninggalkanya di sini saat aku sudah mulai menganggapnya sebagai temanku.

Pada saat hari perpisahan aku berjanji akan datang lagi untuk bertemu denganya. Dengan mengaitkan jari kelingking kami, aku pun bersumpah untuk memenuhi janji itu.

Tapi satu tahun setelahnya, nenekku meninggal. Rumahnya lalu dijual dan berpindah tangan ke orang lain.

Karena itulah aku tak bisa mengunjungi gadis itu lagi saat libur sekolah.

Bertahun-tahun terlewati tanpa sekali pun berjumpa dengan gadis itu.

Aku masih ingat jelas bagaimana caranya ia tertawa dan tersenyum, menyapaku dengan suara lemah lembutnya.

Meski begitu ada satu hal yang kusesalkan.

Aku tak dapat mengingat wajah dan namanya...

***

Kenapa aku kembali memimpikan hal itu?

Di kali berikutnya aku sadar, aku merasakan sentuhan lembut yang menekan sebelah pipiku.

Dengan perlahan kubuka kelopak mataku. Butuh waktu agak lama bagiku untuk memperjelas indera penglihatanku.

Mata oranye gadis itu dengan sinis menatap mataku. Telunjuknya menusuk-nusuk pipiku mengisyaratkan agar aku segera kembali ke dunia nyata.

“Cepatlah bangun! Mau sampai kapan kau tidur?”

Kulihat jam di atas dinding kamarku.

“Masih jam 7. Lagipula ini hari libur, tak masalah kalau bangun siang kan?!”

Bella lalu memencet hidungku dengan kencang, sehingga kedua lubang hidungku tertutup sepenuhnya dan membuatku kesulitan bernapas.

“Daripada tidur, lebih baik kau bantu aku bersih-bersih rumah.”

“U-Uwa... baik!”

Dengan setengah hati aku bangun dari tempat tidurku, menutup mulutku yang menguap dengan kedua tanganku, lalu kembali mengusap kedua mataku.

Kurasakan tatapan hangat pada punggungku, lalu kubalas dengan melemparkan senyum pada Bella.

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah sembuh?”

“Ya, aku baik-baik saja sekarang. Ini semua berkatmu...”

Bella memalingkan wajahnya ke arah lain. ini adalah reaksi wajar darinya saat ia tak ingin mengatakan sesuatu yang tak dikehendakinya.

“T-Terima kasih sudah merawatku kemarin.”

“Tak masalah.”

Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padanya.

Ini soal ciuman pipi yang ia berikan kemarin. Dia tak pernah mau menjawab berapa kali pun aku bertanya padanya.

Padahal kukira akan ada kecanggungan di antara kami. Tapi sepertinya dia bersikap tak ada apa-apa.

Mungkinkah hanya aku saja yang merasa berdebar-debar? Dan... kenapa dia menciumku?

Cuaca minggu pagi ini cukup bagus, meski aku melihat gumpalan awan mendung yang melayang di angkasa. Aku bisa mendengar suara siulan burung-burung dari arah luar rumah.

Tampaknya mereka sengaja bernyanyi dengan merdu untuk mengundangku keluar rumah.

Titik-titik embun menempel di seluruh kaca rumahku. Sepertinya hujan kembali turun dengan lebat semalam.

Hal itu menjadikan hawa di dalam sini menjadi agak sedikit dingin.

Aku berjalan menuju kompor yang berada di dapur. Kurebus sedikit air untuk menyeduh teh. Minum minuman panas di kondisi seperti ini adalah hal yang perlu dilakukan agar seluruh tubuhmu tak membeku kedinginan.

Lalu kutuangkan air yang baru saja mendidih ke dalam dua buah gelas yang sudah kuisi dengan gula dan teh di dalamnya.

Aku kembali ke ruang tamu, di mana Bella sedang membersihkan debu di atas lantai dengan vacuum cleaner.

“Kenapa kau malah santai-santai? Cepat bantu aku!”

“Santai dulu saja. Ini tehmu!”

Kusodorkan teh miliknya di atas meja. Lalu mengambil gelas punyaku dan meniupnya sebelum meminumnya pelan-pelan.

“Oh iya, hari ini aku ke mall untuk membeli sepatu baru. Bisa kau jaga rumah?”

“Hah...?”

Aku langsung merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku kala suaranya dengan lantang menggema di ruangan ini.

Ekspresi Bella menjadi muram. Kedua alisnya menyatu seperti elang yang tengah mengintai mangsanya.

Bella menatapku dengan rendah.

“Jangan-jangan kau mau kabur dari tugasmu, ya!? Jangan harap!!!”

“T-Tentu saja aku akan membantu beres-beres rumah sebelumnya.”

Aku tergagap.

“Aku ikut!”

“J-Jangan...!”

Aku refleks menghadapkan kedua telapak tanganku padanya, mencoba menghentikan kehendaknya.

“Kenapa?”

“Coba pikir lagi, rahasia kita waktu itu hampir ketahuan saat kita berpapasan dengan teman sekelas. Siapa tahu saat di mall nanti malah akan bertemu dengan orang yang kita kenal lagi. Apalagi ini hari minggu, mungkin banyak dari mereka yang sedang berkeliaran di kota.”

Aku memaksakan senyum di wajahku. Kuharap ini bisa dijadikan alasan agar ia tak turut ikut bersamaku.

Jujur saja, aku memang selalu khawatir pergi bersamanya sejak kami pernah dipergoki oleh ketua kelas saat belanja bersama.

Bella terdiam sejenak. Kurasa dia butuh waktu untuk mencerna seluruh perkataanku.

“Kalau begitu cepatlah kau beres-beres rumah!!”

Semakin aku lebih lama bersamanya, semakin aku mengenal sifatnya. Dan jika ia memasang ekspresi berapi-api seperti sekarang, itu artinya dia akan menggila jika aku tak memenuhi keinginanya.

Aku pun mulai dengan mengepel lantai yang sudah dibersihkan oleh Bella sebelumnya.

Kalau dipikir-pikir lagi bukankah seharusnya ini tugas seorang istri? Dulu aku menganggap suami yang takut pada istrinya adalah pria yang lemah.

Tapi sepertinya kata-kata itu malah menjadi bumerang untukku melihat kondisku yang sekarang. Aku jadi terpaksa memakan kata-kataku sendiri.

Bella orangnya tidak suka melihat sesuatu yang berantakan dan kotor. Kamarku yang biasanya berantakan menjadi selalu rapi saat ia tinggal di sini.

Tentu saja ia sering menyuruh-nyuruhku untuk membersihkanya, tak jarang dengan bentakan dan paksaan. Daripada istri, dia lebih cocok jadi ibu tirinya Bawang Putih.

Setengah jam berlalu, aku sudah menyelesaikan semua hal yang ia suruh.

Mengepel lantai, mencuci piring, serta baju. Semua hal itu sudah menjadikan badanku kelelahan.

“Aku pergi dulu, ya!”

Aku melambaikan tanganku pada Bella. Dia hanya membalasku dengan tatapan dingin.

Memang menyebalkan rasanya saat orang bersikap tak acuh padamu. Tapi karena aku sudah biasa diperlakukan seperti itu olehnya, aku pun tak mencoba membalasnya dengan umpatan seperti yang akan kulakukan dulu.

***

Bunyi seperti ranting patah terdengar saat kakiku menjejak keramik trotoar yang sudah pecah.

Aku sedikit gusar. Di jalanan kota seperti ini seharusnya fasilitas umum ditingkatkan kondisinya. Entah apa yang dilakukan pemerintah kota di balik meja mereka saat ini.

Aku berada di pusat kota yang penuh keramaian. Orang-orang berlalu lalang di trotoar, mobil-mobil yang membanjiri jalanan, serta pedagang kaki lima yang mangkal seenak jidat mereka.

Ini semua adalah pemandangan yang biasa kalau kau kemari setiap hari minggu.

Sebelumnya aku mengatakan pada Bella kalau tujuanku kemari untuk membeli sepatu baru. Tapi itu hanyalah alasanku belaka.

Ada hal lain yang ingin kulakukan tanpa diketahui oleh Bella di sini.

Langkah kakiku berhenti di depan sebuah restoran keluarga dekat dengan kawasan perbelanjaan di pusat kota.

Restoran yang terkenal dengan resep ayam bakarnya ini terlihat dipenuhi oleh banyak pelanggan seperti biasanya, tak peduli mau itu hari biasa atau libur.

“Permisi, saya ingin bertemu dengan Bu Widya.”

Kataku pada satpam yang tengah duduk di dalam posnya. Dia lalu menuntunku ke dalam restoran lewat pintu samping.

Ini adalah pintu masuk khusus karyawan. Wajar kalau di balik pintu ini banyak karyawan yang memakai seragam yang sama.

Satpam itu lalu mengetuk sebuah pintu yang berada di ujung lorong.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakan seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan dengan kulit hitam.

“Oh, jadi kamu yang direkomendasikan Pak Ginanjar kemarin?”

Aku mengangguk.

“Iya, saya ingin melamar kerja di sini.”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
29-01-2021 22:47

Chapter 8 "Naungan di Bawah Hujan"

Aku memegangi kepalaku sendiri. Heran. Kenapa bisa dua kejadian yang hampir sama terjadi dalam waktu satu hari? Entah karena kebetulan atau takdir sepertinya menginginkan rahasia kami bocor.

Mengelabui Nia yang polos memang gampang, tapi menipu sang ketua kelas yang memiliki pemikiran tajam sepertinya sulit. Aku harus benar-benar memikirkan alasan yang logis dan masuk akal agar bisa diterima olehnya.

“S-Sebenarnya aku kebetulan bertemu dengan Bella di sini.”

Siaaaal.....! Kenapa malah alasan gak berbobot yang keluar dari mulutku? Kalau begini sih dia takkan percaya. Febri memicingkan matanya menjadi semakin tajam. Entah kenapa aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Benarkah? Tapi kelihatanya kalian memang sengaja kemari bersama.”

“I-Itu karena... orangtuaku ingin mengajak ayahnya untuk makan di rumahku. Jadi kami ditugaskan untuk berbelanja. Haha...”

“Ooh... orang tua kalian saling kenal rupanya.”

“Begitulah...”

Febri mengendurkan otot-otot wajahnya, kini wajahnya yang cantik kembali dihiasi senyum tipis. Sesaat kemudian ia tertawa kecil sembari memandangiku dengan Bella.

“Tapi ini benar-benar lucu melihat kalian bersama. Padahal kalau di kelas kalian selalu bertengkar. Apa jangan-jangan kalian mempunyai hubungan spesial di luar? Sepasang kekasih misalnya.”

“Nggak lah...!”

Tanpa sedetik pun jeda setelah ucapan Febri, aku dan Bella sama-sama melontarkan protes karena kami bukan sepasang kekasih. Memang kami sudah menikah, tapi kalau aku mengatakan itu jadinya pasti runyam.

“Mana mau aku berpacaran dengan pria menjijikan seperti ini!”

Ucap Bella dengan nada tinggi, bahkan karena suaranya beberapa orang jadi mengalihkan perhatian mereka pada kami.

Bella lalu memandangiku dengan tatapan merendahkan, sementara aku hanya bisa membuat raut kekesalan.

“Itu benar! Berpacaran dengan gadis sepertinya cuma akan membuatku sengsara.”

Mata Bella melebar. Lalu menyatukan kedua alisnya sementara ia mengepalkan tanganya. Dan dalam sedetik kemudian tinju itu sudah mendarat pada perutku.

“Ugh...!”

Kalau sebelumnya mungkin aku sudah berlutut meringis kesakitan. Tapi karena aku sudah terbiasa dengan rasa pukulanya, aku pun masih bisa mempertahankan keseimbanganku.

Bella lalu berbalik dan pergi meninggalkanku seraya membawa keranjang belanja yang penuh dengan bahan makanan. Aku ingin segera pergi mengejarnya, tapi ada satu hal yang harus kulakukan saat ini.

“Maaf, Febri! Bisakah kau merahasiakan ini? Anggap kita tak pernah bertemu di sini.”

Febri melempar senyum kepadaku.

“Tak masalah.”

Tanpa mengulur waktu lagi segera kulanjutkan langkah kakiku mengejar Bella yang menuju ke arah kasir.

“Bella, tunggu!”

“Mati saja kau, bodoh!!”

*****

Pukul 15.00

Aku sedang menaiki bus kota dalam perjalanan pulang selepas berbelanja di mall. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi hitam dan menurunkan uap air yang sudah menjadi titik-titik air. Kelihatanya hujan ini akan berlangsung lama jika dilihat dari intensitasnya yang nyicil.

Tapi yang menjadi perhatianku adalah gadis berambut oranye yang duduk di sebelahku. Sejak awal naik bus dia terus saja memandang ke arah luar. Dia sama sekali tak mau menatapku.

Tampaknya aku membuatnya marah lagi. Tapi kalau diingat-ingat dia marah setelah aku bilang jika bersamanya hanya akan membuat sengsara saja.

Apa dia marah hanya karena itu? Kami sudah sering saling melempar ejekan dan hinaan. Bahkan dia pernah melakukan yang lebih buruk dariku. Tapi kenapa kali ini dia marah?

Berapa kali pun aku memikirkanya tetap tak mendapatkan jawaban kecuali jika kutanya pada orangnya langsung. Tapi sepertinya Bella tak akan menjawab meski kutanyakan.

Jadi aku pun mengurungkan niatku dan mencoba mengabaikanya. Kalau dibiarkan sebentar juga dia akan kembali ke dirinya yang biasa.

Bus berjalan lambat dari perkiraanku. Mungkin karena mesinya yang sudah tua, atau jalanan yang licin, atau bisa juga karena penumpangnya kebanyakan. Yang jelas dengan kecepatan seperti ini tidak mungkin sampai ke rumah dalam waktu 30 menit. Kurasa aku akan coba memejamkan mataku sejenak.

*****

Awan yang membumbung di atas langit semakin menghitam setiap detiknya. Membawa lebih banyak air hujan untuk menyirami kota yang terlihat gersang. Bahkan suara petir terdengar menggelegar beberapa kali di angkasa.

Meski kucoba untuk tidur, tapi tak bisa. Bunyi hujan yang bergemericik serta suara deru mesin bus yang kencang membuat tidurku tak nyaman.

Sesaat kemudian aku merasakan tekanan pada bahuku. Rasanya seperti ditindih oleh sesuatu yang besar. Aku terperanjat kaget begitu menoleh. Bella tengah menyandarkan kepalanya pada bahuku. Entah kenapa dia sangat diam kali ini.

“H-Hei... apa yang kau lakukan?”

Niatnya aku ingin mendorong tubuhnya menjauhiku, tapi kuurungkan begitu melihat wajahnya yang tertidur pulas. Kupandangi Bella dari atas kepala hingga ujung kaki. Tubuhnya memang terlihat mungil, dan wajahnya... cantik bagai boneka.

Kusentuh tanganya yang ia simpan di atas pahanya. Lalu kupegangi jari telunjuknya seperti saat memegangi sedotan. Lembut. Halus. Dan juga... kecil. Saat menyentuhnya kukira aku sedang menggenggam tangan seorang bayi. Tapi itu milik Bella.

“Jarinya begitu kecil. Imut sekali!”

Jari itu bergetar saat kusentuh, lalu bergerak dan bersembunyi seakan takut padaku. Kelopak mata Bella yang semula tertutup, kini memandangku dalam-dalam.

“Apa yang kau lakukan?”

“E-Eh... tidak ada, kok.”

Aku sungguh kaget setengah mati. Kukira dia sedang tertidur pulas, tak kusangka ia akan terbangun karena kusentuh jarinya.

“Bohong! Tadi kau ingin menyentuhku, bukan? Apa jangan-jangan ucapanmu benar saat meraba-raba dadaku dalam bus?”

“Ya enggak, lah...!”

“Lalu, kenapa tadi kau menyentuh jariku?”

Aku terdiam seraya menelan ludahku sendiri. Bukan karena kehabisan kata-kata, tapi aku tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan.

“Aku bilang tidak ada, ya tidak ada!!”

Kupalingkan wajahku darinya dan mengacuhkanya. Berpikir alasan sebenarnya saat aku menyentuh jarinya. Apakah aku menyentuhnya karena murni keinginanku?

Beberapa saat kemudian kami berdua tiba di halte dekat dengan rumah kami. Karena hujan deras yang mengguyur kami tak bisa segera beranjak dari sini. Intensitas hujan yang turun sangat deras, dan sepertinya akan lama.

Bella memandang ke atas langit di mana bulu-bulu domba berwarna hitam beterbangan. Wajahnya yang terciprat air hujan terlihat sangat manis. Bahkan aku tak bisa berbohong saat jantungku mulai berdetak tak karuan.

“Sepertinya hujan akan lama. Aku akan coba membeli payung di toko kelontong itu. Jadi kau tunggu di sini!”

“Tunggu dulu, Sena!”

Tanpa menghiraukan perkataanya lagi aku segera berlari menuju toko kelontong yang ada di seberang jalan. Cuma beberapa detik saja, seluruh tubuh dan bajuku basah kuyup seperti habis berenang.

Aku masuk ke dalam toko kelontong itu. Sang penjaga toko yang melihatku kebasahan sepertinya sudah mengerti maksud tujuanku datang ke tokonya.

Ia pun segera menyerahkan sebuah payung yang sepertinya cukup hanya untuk satu orang berwarna merah jambu.

“Apa Anda tidak punya satu lagi?”

“Maaf, cuma itu satu-satunya yang tersisa.”

Sial! Sudah kebasahan begini cuma dapet satu payung, udah kecil, warnanya pink pula!

Aku segera menyerahkan uang pada sang penjaga toko itu. Kubuka payung itu, ini tak muat untuk dua orang.

Dengan cepat aku segera kembali ke halte tempat di mana Bella menunggu. Dia masih berdiri di sana dengan wajah cemas.

“Maaf, payungnya cuma ada satu!”

Kuserahkan payung yang kupegang ke dalam genggaman Bella. Dia tampak terkejut melihatnya.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Tak masalah, kau pakai saja ini! Maaf, tapi aku akan lari duluan ke rumah.”

Dengan terburu-buru aku segera berlari meninggalkan halte itu. Aku memang tidak enak meninggalkan Bella di belakang. Tapi setidaknya payung itu akan melindunginya dari hujan.

Sekarang yang harus kulakukan adalah berlari ke rumah secepat mungkin sebelum aku membeku kedinginan. Walau begitu aku tak bisa berlari dengan kecepatanku yang biasa. Jalanan sangat licin. Jika terpeleset akan sangat berbahaya.

Karena itulah aku memutuskan untuk berjalan. Dalam alunan melodi rintikan air hujan kudengar sesuatu yang lain. Terdengar berirama, tapi bukan suara dari alat musik.

“Asalnya dari belakangku!”

Kutengokan kepalaku kebelakang. Mataku terbelalak lebar tak percaya. Bella tengah berlari mengejarku. Tanpa payung yang menaunginya, seluruh tubuhnya basah kuyup sepertiku. Suara langkah kakinya lah yang menggerakan hatiku untuk berhenti.

“Kenapa kau tak memakai payung?”

Kunaikan nada bicaraku karena bunyi gemericik hujan akan meredam seluruh suaraku kalau aku bicara dengan biasa.

Rintikan air hujan menjatuhi kami berdua dengan gencarnya seolah kami hanyalah satu-satunya sasaran yang bisa diincar. Aku tak bisa melihat mata Bella karena tertutup poninya yang basah. Juga... dia menundukan kepalanya.

“Jangan meninggalkanku, dasar bodoh....!!!”

Suara Bella meningkat empat kali dari biasanya. Bahkan suaranya terdengar jelas olehku meski dikepung oleh bunyi hujan yang jatuh ke atas permukaan tanah.

“Hah...?! Padahal aku sudah memberikan payung itu untukmu agar kau tak kehujanan.”

“Tapi kau meninggalkanku!!!”

“Aku minta maaf. Tapi masalahnya—“

“Bodoh! Kau bodoh! Kau sungguh bodoh...!”

Bella tiba-tiba menengadahkan kepalanya untuk menatap mataku secara langsung. Aku tahu berdiri di bawah hujan deras ini akan membuat seluruh tubuh basah kuyup. Tapi aku merasakan yang lain di matanya.

Kukira itu hanyalah air hujan. Tapi yang mengalir dari matanya terlihat membawa kesedihan.

“Kau bilang... kau takkan pernah meninggalkanku sendiri. Apa itu bohong...!!!?”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya aku memang sudah lupa. Aku pernah mengatakan hal itu saat lari maraton. Tapi kenapa sekarang aku malah meninggalkanya?

Kuarahkan tanganku pada wajahnya, mengusap pipi yang dibasahi oleh kehangatan air mata yang mengalir.

“Maaf...! Aku benar-benar bodoh seperti katamu.”

“Lain kali jangan tinggalkan aku sendiri. Aku ketakutan...”

Kupandangi wajahnya. Matanya merah. Dan aku merasa sangat bersalah. Aku mengambil payung lipat yang digenggam oleh tanganya. Lalu membukanya hingga payung itu bisa menaungi kami berdua.

“Memang kecil, sih! Tapi setidaknya bisa melindungi kita dari hujan.”

Bella menganggukan kepalanya, lalu berjalan di sisiku. Ini pertama kalinya ia menangis di depanku.

Aku langsung tersadar. Sejak pertama kali aku dipaksa menikah dan tinggal bersamanya. Aku sudah melihat banyak sisi dirinya yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

*****

Malam pun datang. Setelah aku membasuh badanku dengan air hangat, aku merasa segar kembali. Kupakai baju santaiku, mengeringkan rambut, dan segera pergi ke dapur. Berharap ingin segera memakan masakan Bella.

Tapi dia tak ada di sana.

Setelah kucari-cari ternyata dia tengah berbaring di atas sofa di ruang tamu. Aku pun bergegas untuk membangunkanya.

“Hoi, bangun! Cepat masakan aku sesuatu. Aku lapar, nih!”

Tak ada jawaban. Dia memejamkan matanya dengan rapat. Suara napasnya terdengar berat. Kesal karena tak meresponku. Aku pun langsung mengetuk dahinya guna membangunkanya pada kenyataan.

Tapi saat aku menyentuh kulitnya, aku tercengang. Suhu ini... bukan milik orang yang normal.

“Tidak mungkin! Kau terserang demam...!?”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
24-01-2021 00:31

Chapter 7 "Kubuatkan Untukmu"

Suasana di dalam perpustakaan seketika bertambah hening, bahkan suara detik jam sampai terdengar kencang di telingaku. Tak adanya pengunjung lain selain kami bertiga bukan satu-satunya alasan.

Yang paling membuatku dan Bella terhenyak adalah apa yang baru saja Nia katakan.

“Aku cuma penasaran. Dari percakapan kalian tadi, apakah benar kalau kalian tinggal bersama?”

Nia kembali mengulangi pertanyaanya. Aku dan Bella masih diam seribu bahasa. Wajah kami kaku dengan mulut terbuka dan mata melebar. Aku menoleh pada Bella. Sepertinya dia tak tahu apa yang harus ia jawab, bahkan wajahnya saat ini seakan hendak mengatakan “Tolong aku!”

“Jangan minta tolong padaku, bodoh! Ini semua salahmu yang terlalu banyak bicara.”

Aku terus mengumpat dalam hati, walau kutahu kata-kataku ini tak akan didengarnya kalau tak langsung kusampaikan. Kulirik ke arah Nia, dia memasang wajah polosnya dan terdiam seolah menunggu kami angkat bicara.

Tanganku gemetaran. Peluh keringat mengucur dari sekujur badanku. Mataku berkali-kali kuarahkan ke samping agar tak bertemu dengan mata kebiruan milik Nia.

“I-Itu tidak mungkin, Nia! Mana mungkin kami berdua tinggal bersama! Kami berdua kan masih anak SMA.”

Aku menjawab dengan sedikit tertawa yang dibuat-buat. Untuk meyakinkanya aku harus bertingkah sealami mungkin. Tapi sepertinya sikapku terlalu jelas untuk orang yang sedang mencoba berbohong.

“Ohh... begitu, ya? Maaf, aku sudah salah paham.”

Dia percaya....!!!? Dengan polosnya dia percaya begitu saja tanpa berpikir dua kali. Seharusnya aku senang dia mempercayai bualanku. Tapi entah mengapa aku malah menepuk jidatku sendiri.

Tapi terserahlah.... Yang penting dia percaya.

“Lalu apa maksud dari ucapan Bella tadi?”

“Yang mana?”

Aku balik bertanya pada Nia. Karena dia kurang spesifik menyebutkanya.

“Bella bilang kau sering menyentuh dadanya waktu tidur.”

Mampus...!!! Harus bilang apa aku sekarang? Bella masih terdiam dalam kesunyianya. Sepertinya dia tak berkutik dan ingin menyerahkan semua ini padaku.

Lupakan soal menyentuh atau tidaknya. Yang harus kujelaskan adalah bagaimana aku dan Bella bisa tidur bersama. Tak mungkin aku bilang kalau kami sudah menikah, karena itu sama saja membongkar rahasiaku dengan Bella. Karena itulah aku harus memikirkan alasan lain yang lebih logis.

“Sebenarnya waktu itu aku pernah berpapasan denganya di bus kota dalam perjalanan pulang. Lalu saat dia tertidur di sampingku.... a-aku... aku... meraba dadanya sampai aku puas...!!! Hahaha....”

“KAU MELAKUKANYA....!!!???”

Bella yang sejak tadi terdiam kini mengganas. Dengan tatapan berapi-api yang ia arahkan padaku. Ia juga mengepalkan tinjunya dengan kuat seakan hendak memukul samsak. Tinju itu... aku sudah tahu rasanya beberapa kali saat berada di rumah.

Segera kudekatkan mulutku ke telinganya dan berbisik pelan agar Nia tak mendengar apa yang akan kukatakan. Karena tinggi badanya, aku jadi harus sedikit membungkukan badanku.

“Bisakah kau tetap diam? Aku melakukanya demi menutupi kesalahanmu, bodoh!”

Bella terdiam sejenak. Mungkin dia sedang berpikir sejenak dengan kepala dingin. Aku kembali melemparkan pandanganku pada Nia yang terlihat kebingungan.

“Jadi begitulah, Nia...! Itulah yang terjadi.”

“A-Aku tidak tahu kalau kau orang yang seperti itu.”

Nia kelihatanya percaya saja dengan omong kosongku. Aku merasa tak enak membohonginya. Dan bukan hanya itu, aku juga terpaksa menjadi orang bejat di mata Nia untuk menutupi kesalahan istriku yang bodoh itu.

Kalau saja rahasia ini tak menyangkut diriku, aku takkan mau melakukan hal ini. Pasti Nia akan merasa jijik padaku.

“M-Maaf... aku pergi dulu, ya!”

Nia langsung pergi dengan terburu-buru dengan buku besar yang tadi kuambilkan untuknya. Ia tak menatap mataku saat pamit tadi. Kelihatanya dia jadi ketakutan padaku. Yah, aku memang sudah menduganya sih. Jadi aku tak terlalu terkejut.

“Hei...!”

Aku menengokan kepala pada suara yang berasal dari sampingku.

“Apa!?”

“T-Terima kasih... berkatmu rahasia kita tetap terjaga.”

Bella menurunkan pandanganya, tak berani menatap mataku secara langsung. Kelihatanya dia sangat merasa bersalah. Melihat wajahnya seperti itu, aku tidak jadi meluapkan emosiku. Aku hanya menggaruk-garukan kepalaku.

“Memangnya ini salah siapa, bodoh!?”

“M-Maaf...”

“Tidak perlu. Ayo ajari aku mengerjakan soal lagi. Masih banyak yang belum kuselesaikan.”

“Iya.”

**************

Bel sekolah telah berbunyi tepat pukul 2 siang, menandakan telah berakhirnya seluruh kegiatan belajar-mengajar di SMA Harapan Muda. Meski masih berada di dalam kelas, aku bisa merasakan panas yang menyengat dari sang surya. Membayangkanya saja sudah membuatku malas pulang.

“Hei, kau tidak pulang?”

Tanya Zidan padaku. Dia sangat bertolak belakang denganku. Kalau saat bel pulang sekolah, dia berubah menjadi orang yang penuh semangat juang seperti pahlawan kemerdekaan.

Wajah menjijikanya pun dihiasi senyum lebar yang menyebalkan.

“Ngga dulu, ah. Lagi mager.”

“Heh... kebiasaan. Kalau begitu aku pulang dulu, ya!”

“Pergi sana!”

Zidan pun segera beranjak dari bangkunya dan bergegas keluar kelas. Tapi tepat setelah ia mengambil langkah pertamanya, ia berhenti dan mengarahkan tatapanya padaku.

“Eh, Sena! Ngomong-ngomong kau tahu flashdisk milikku, tidak?”

“Yang kayak gimana?”

“Warnanya putih dengan garis hitam. Kayak gini.”

Zidan lalu merogoh saku celananya. Aku tak tahu apa yang ia coba ambil dari dalam sana. Beberapa saat kemudian tanganya mengeluarkan sebuah flashdisk dengan ciri-ciri yang sama dengan apa yang baru saja ia katakan.

“Eh, sempak naga! Yang kau pegang itu apa?”

Zidan melihat ke arah tanganya yang memegang flasdisk. Perlahan ia menyunggingkan senyum lebar.

“Wah, ketemu! Makasih udah mau bantu cari, ya?”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Zidan orangnya kadang begini. Antara kepinteran, jenius, atau bego pangkat tujuh. Semuanya bercampur jadi satu.

Setelahnya ia segera melanjutkan langkah kakinya keluar kelas yang sebelumnya sempat terhenti. Aku kembali menaruh kepalaku di atas bangku, menatap ke arah dinding sehingga aku hanya bisa mendengar obrolan para siswa yang masih berada di kelas.

Ada yang membicarakan tentang kejelekan keluarganya, hubungan dengan pacarnya, ataupun tentang pertandingan sepak bola dini hari. Aku bukan termasuk orang yang susah bergaul, terkadang aku juga berbincang dengan mereka. Tapi untuk hari ini aku merasa ingin sendiri.

Kututup mataku perlahan. Rasanya sangat nyaman. Meyakinkan diriku bahwa kelas ternyata tempat yang lebih nyaman untuk tidur daripada di kamar sendiri.

Setelah aku berbagi kamar dengan Bella, aku jadi susah tidur. Terkadang dia merebut selimutku dan tak jarang juga ia menendangku dari atas kasur tidur. Saat pertama kali tidur bersamanya, aku tak percaya idola sekolah yang dikagumi banyak orang punya gaya tidur yang menjengkelkan.

Sepertinya aku akan coba tidur sejenak di dalam kelas sebelum pulang.

Beberapa saat telah berlalu. Meski hanya sejenak, rasa kantukku sepertinya berkurang sedikit. Walau aku masih menghadapkan kepalaku ke arah tembok, aku tahu kelas sudah kosong karena tak ada lagi suara obrolan yang terdengar.

Suasana di kelas ini jadi tambah nyaman karenanya meski agak panas sih.

Kemudian aku merasakan hawa keberadaan sesuatu muncul di sampingku. Aku pun dengan malas menengokan kepalaku ke sebelahku.

“Huh, ternyata kau! Belum pulang?”

Mataku bertemu dengan mata oranye gadis itu, warna yang sama dengan warna rambutnya. Ia hanya memandangiku dengan tanpa ekspresi di wajahnya.

“Bagaimana aku bisa pulang kalau kunci rumahnya ada padamu?”

“Jadi kau berada di sini terus sejak tadi?”

“Begitulah.”

Aku menghela napasku. Tanpa mengubah posisiku, kulemparkan senyum tipis padanya.

“Kalau begitu kau harusnya membangunkanku.”

“Habisnya... kau terlihat terlelap tadi. Aku jadi tidak enak melakukanya.”

Aku langsung tersentak begitu mendengar perkataan Bella. Kupikir telingaku sudah rusak. Benarkah dia mengatakan itu?

“Biasanya kau selalu memaksakan kehendakmu tanpa mempedulikan perasaan orang lain. Ada apa denganmu? Kau masih sehat, kan?”

“Memangnya salah, ya? Terserahlah! Pokoknya ayo kita cepat pulang!”

Bella membuang wajahnya, menjawab dengan nada setinggi-tingginya. Kupikir aku sudah membuatnya marah lagi.

“Hmm... iya!”

Suasana di sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa siswa dan staf sekolah yang masih berkeliaran di sini. Sepertinya hampir seluruh siswa sudah meninggalkan area sekolah ini.

Aku berjalan berdampingan dengan Bella, menuju gerbang sekolah untuk segera pulang ke rumah kami. Cahaya matahari yang tadi menyengat kulit kini tertutupi oleh awan mendung yang mulai menyelimuti seluruh kota. Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi, itu artinya kami harus cepat-cepat sampai rumah.

“Hei Sena, ayo kita belanja di supermarket dulu!”

“Hah....!? Kau bodoh, ya? Kau tidak lihat awan mendungnya? Kita tidak bawa payung, kalau tidak cepat-cepat pulang kita bisa kehujanan di jalan.”

“Siapa yang sebenarnya bodoh? Kalau tidak belanja, kita tidak akan makan malam hari ini. Aku tak mau kalau harus makan mie instant lagi.”

“Bersyukurlah! Yang penting kan masih bisa makan.”

“Nggak mau! Udah kayak anak kos-kosan di akhir bulan aja!”

Ini dia salah satu sifatnya yang tak kusukai. Sifat keras kepalanya benar-benar tak bisa digoyahkan sedikit pun. Aku sudah sering berhadapan dengan sifatnya yang satu ini, dan tak pernah sekali pun aku menang melawanya.

Kuhela napas panjang dan dalam-dalam, sepertinya aku harus mengalah lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku sih tak masalah melewati sarapan, makan siang, dan makan malamku dengan mie instant. Tapi sepertinya Bella tak sependapat denganku.

Terserahlah! Tapi kuharap level masakanya meningkat kali ini. Karena aku sudah bosan makan sayur bayam tanpa rasa atau daging ayam panggang yang terlalu matang sehingga rasanya jadi pahit.

“Baiklah, ayo kita pergi!”

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku dan Bella segera pergi ke salah satu supermarket terbesar di pusat kota yang memakan sekitar setengah jam perjalanan.

Di sini bisa dibilang supermarket dengan barang-barang yang lengkap. Mulai dari bahan makanan, baju, alat musik, sampai barang elektronik bisa ditemukan di sini. Wajar kalau tempat ini selalu dibanjiri pengunjung setiap harinya yang datang untuk berbelanja.

Aku mengambil sebuah keranjang belanja yang disediakan di dekat tempat penitipan barang. Sebenarnya aku tak tahu apa yang harus dibeli, aku hanya mengikuti Bella saja. Dia menuntunku seperti peliharaanya yang akan mengikutinya kemana pun ia pergi.

“Ngomong-ngomong, kau akan masak apa?”

Bella terdiam. Sepertinya ia belum memikirkan hal itu. Aku merasakan pandanganya pada mataku, namun dalam sekejap ia alihkan ke arah lain.

“T-Terserah kau...! Aku... akan memasakanya untukmu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kau menolongku tadi.”

Wajahnya memerah. Meski ia coba sembunyikan, aku masih tetap bisa melihatnya. Dan entah kenapa hatiku jadi cenat-cenut melihat sisinya yang imut seperti ini. Aku pun mengalihkan perhatianku darinya.

Degup jantungku tak mau berdetak secara normal. Sial! Kok bisa-bisanya aku berpikir kalau dia itu imut.

“Hei... kau mau kumasakan apa? Cepat bilang!! Jangan cuma diam saja...!”

Guh, mendadak dia kembali ke dirinya yang biasa. Nadanya tinggi, kedua alisnya bertemu, dan sorotan matanya tajam memandangku seperti burung elang.

“Aku sih terserah kau saja. Apa pun yang kau masak, aku pasti akan memakanya.”

“Tidak bisa begitu, dong!”

Kutopang daguku, aku mengerlingkan mataku dan berpikir sejenak. Kalau dia memaksa seperti itu, artinya dia takkan keberatan dengan apa pun yang kuminta.

“K-Kurasa opor ayam dan kentang bumbu merah. Apa tidak apa-apa?”

“Baiklah... akan kubuatkan. Aku memang belum pernah memasaknya, tapi aku akan coba dari buku resep. Tapi... mungkin rasanya tidak akan sesuai dengan keinginanmu.”

“Tak masalah. Bukankah sudah kubilang aku akan memakan apa pun yang kau masak?”

Mata Bella melebar. Wajahnya kembali memerah padam. Kali ini ia menyembunyikanya bukan dengan membuang wajahnya, tapi ia menundukan kepalanya sehingga poninya menutupi hampir seluruh wajahnya.

Tanpa mengatakan apa pun ia langsung membalikan badanya dan melangkahkan kakinya. Aku tak tahu kemana ia mengarah. Tapi sepertinya ia pergi menuju ke tempat di mana bahan-bahan makanan berada. Aku mengikuti dengan berjalan sampingnya.

Untuk sepersekian detik aku berpikir, kalau saja kami tak memakai seragam sekolah mungkin kami akan benar-benar terlihat seperti pasangan yang baru menikah di mata orang lain.

“Kau tunggu di sini sebentar! Biar aku yang mengambil bahan-bahan makananya.”

Bella langsung merebut keranjang belanja dari tanganku dan pergi meninggalkanku yang sedikit terkejut. Apa maksudnya sih tuh orang? Terkadang dia menjadi orang yang sulit untuk dimengerti.

Terkadang masih sulit bagiku untuk mempercayai pernikahan mendadakku denganya, bahkan sampai sekarang. Dalam dua minggu ini kami terus menjaga rahasia ini dari teman-teman dan juga guru kami di sekolah. Kalau saja hal ini sampai bocor, sudah dapat dipastikan akan membuat suasana di sekolah menjadi gempar. Aku tak mau itu sampai terjadi.

Ya ampun! Harus berapa lama aku bertahan dengan Bella?

“Sena!”

Mendadak sebuah suara mengagetkanku yang sedang melamun. Ini suara seorang gadis, tapi bukan Bella. Walau suaranya sama-sama terdengar nyaring, tapi yang ini berbeda. Aku pun menoleh ke sumber suara itu.

Gadis itu memiliki rambut ponytail dengan warna biru gelap seperti pantulan langit di permukaan danau malam hari. Tingginya hampir sama denganku. Karena itulah aku bisa merasakan mata coklatnya memandangku dalam-dalam seperti sedang melahapku. Gadis ini adalah ketua kelasku, Febriani Nindya.

“F-Febri...!? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku berhak bertanya yang sama padamu. Kalau aku memang sudah jadwalku berbelanja setiap minggu di sini.”

“Oh... begitu. Sebenarnya aku juga sama.”

“Tapi kau tak membawa keranjang belanja atau pun troli.”

“A-Ah ini... sepertinya aku lupa. Haha...”

Febriani tertawa kecil. Senyumnya yang indah terkadang membuat para pria lupa diri dan terus memandanginya. Dia termasuk salah satu dalam daftar cewek yang diincar untuk dijadikan pacar oleh para cowok jomblo seantero sekolahan.

Tentu saja di dalamnya terdapat nama Bella dan Nia, sebagai trio anak kelas satu yang menawan. Jujur saja, menurutku orang yang membuat daftar itu benar-benar menyedihkan. Kalau saja aku bertemu dengan pembuatnya secara langsung, aku akan mengatakan padanya untuk cepat mati.

“Sena! Aku sudah mendapatkan semua belanjaanya, nih! Ayo kita pulang!”

Dengan membawa keranjang belanjaan yang kini dipenuhi bahan-bahan makanan, Bella tiba-tiba muncul di saat aku berbincang dengan Febriani.

“F-Febri...?”

“Bella...!? Kau bersama Sena?”

Gawat, gawat, gawat! Situasinya jadi sangat gawat di sini. Keduanya saling bertukar pandang sementara aku menepuk jidatku sendiri dan berkata, “lagi...?”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
24-01-2021 00:11

Chapter 6 "Tolong Ajari Aku"

Panas terasa membakar punggungku, karena itulah aku berteduh di bawah dedaunan pohon beringin yang ada di halaman belakang sekolahku. Banyak orang yang bilang kalau pohon ini angker.

Tapi aku tak peduli. Aku dan Zidan sering memakai tempat ini untuk melepas lelah seusai olahraga atau untuk istirahat tidur siang, kalau guru sedang tidak ada.

Kusandarkan bahuku pada batang pohon yang diameternya mencapai 4-5 meter. Di sini sangat sejuk. Cahaya matahari pun hampir tak bisa menyentuh permukaan tanah karena terhalang rimbunya dedaunan.

“Hei, ngomong-ngomong kenapa bisa kau tiba hampir bersamaan dengan Bella?”

Tanya Zidan yang sedang berbaring di sebelahku.

“Benarkah?”

Sebenarnya aku dan Bella berlari bersama sampai akhir. Tapi tepat sebelum mencapai kawasan sekolah dia memintaku untuk berlari setelah menunggu selama lima menit, karena ia tak mau tiba bersamaan denganku.

Dan entah kenapa aku lagi-lagi menuruti kemauan egoisnya.

“Di mataku, kalian terlihat seperti pasangan yang serasi.”

“Nggak mungkin...!”

Tanpa sadar aku memprotes ucapan Zidan.

Memang benar kalau kami ini sepasang suami-istri. Tapi kami tidak ada cocoknya sama sekali. Apa kau pernah melihat seorang istri yang selalu meninju suaminya sendiri?

Bella ini bagaikan iblis yang masuk ke dalam kehidupanku. Jujur, aku sangat tak ingin terjebak ke dalam kondisi seperti ini. Dari semua wanita yang ada di dunia, kenapa harus dia yang harus menjadi pasanganku? Tak adakah wanita baik-baik lainya?

Takdir memang bisa menjadi sangat kejam.

Sudah beberapa menit sejak kami beristirahat di sini, dan sekarang pelajaran selanjutnya sudah hampir dimulai.

Kami pun segera beranjak dan bergegas menuju ruang kelas. Tampaknya semua siswa sudah hadir di kelas. Mereka tak mau terlambat masuk karena ini adalah jadwalnya pelajaran Matematika sang guru killer di sekolah, Pak Edi.

Padahal dia hanyalah seorang pria tua yang sudah uzur dan bau tanah, tapi dia bisa menjadi sang raja rimba jika sedang mengajar. Ia mewajibkan semua muridnya untuk mengikuti apa yang ia ajarkan. Kalau itu ya itu, ini ya ini. Tidak boleh ada sedikit perbedaan pun.

Beberapa saat kemudian suara seluruh kelas menjadi sangat hening, bahkan kuburan terasa lebih ramai daripada di sini. Mereka menjadi diam bukan tanpa alasan. Suara langkah kaki yang berat terdengar saat menghentak lantai. Dari suara langkahnya saja semua murid sudah tahu kalau yang datang adalah Pak Edi.

Kini ia sudah berada di ambang pintu. Langkah kakinya berhenti sejenak, memandangi semua siswa yang ketakutan dengan tatapan tajamnya.

Sesaat kemudian ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju meja guru dan meletakan buku absen serta materi.

“Baiklah, tolong kumpulkan PR yang bapak berikan sebelumnya.”

Eh...!? Tunggu dulu...

PR!!? Benarkah ada PR? Kayaknya Pak Edi tidak memberi PR di pertemuan sebelumnya deh.

Niatku sih ingin mengonfirmasinya langsung pada Pak Edi, tapi aku mengurungkanya. Kulihat seluruh siswa di kelas tengah mengeluarkan buku tulisnya dan mengumpulkanya ke meja guru.

Gawat! Gawat! Gawat! Ini artinya aku yang lupa kalau ada PR. Sial, aku belum mengerjakan sama sekali. Bagaimana ini? Sudah sangat terlambat kalau menyalinya sekarang. Dan aku pasti akan habis kalau Pak Edi tahu aku tak mengerjakan tugasnya.

Di saat aku tengah kalut Zidan menatapku dengan senyum tipisnya. Sepertinya dia tahu aku tak membuat PR. Entah kenapa di saat seperti ini aku merasa kalau ia akan menolongku. Aku malas mengakuinya, tapi dia memang sahabat terbaikku.

“Sena, kau tidak mengerjakan PR!?”

Suara yang keluar dari dalam tenggorokanya memecah keheningan kelas. Walau tidak terlalu kencang, itu mampu membuat seluruh perhatian mengarah padaku.

Mata tajam Pak Edi kini menyorotku.

Setan! Bukanya menolong temanmu, kau malah memilih menggali kuburan untuk sahabatmu sendiri?

Hawa dingin nan mengigil langsung menyerang tubuhku sampai lemas rasanya. Badanku gemetaran. Tatapan Pak Edi seperti seekor singa yang sedang mengintai mangsanya.

“Sena...!! Kau tidak mengerjakan PR lagi?”

Bagai petir menggelegar di siang bolong, suara Pak Edi langsung membuat kakiku kehilangan seluruh tenaga untuk berdiri. Tak perlu dikatakan lebih jelas lagi, dia sangat marah padaku sekarang.

Karena bukan kali ini saja aku tak mengerjakan tugasnya. Kalau dihitung dengan angka mungkin sudah mencapai sekutu, seratus kurang satu.

Aku memang sudah sering dimarahi olehnya. Tapi mau beberapa kali pun ia memarahiku, amukanya selalu membuatku merinding ketakutan.

“M-Maaf pak, saya lupa...”

“Lupa itu cukup sekali atau tiga kali, kalau udah berkali-kali itu namanya goblok!!”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak hanya ketakutan, aku juga tak punya sepatah kata pun untuk pembelaan. Karena semua yang dikatakanya memang benar.

Aku hanya bisa menundukan kepalaku, menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Apa ada yang tidak mengerjakan PR lagi?”

Pak Edi melemparkan pandanganya pada seluruh kelas yang terdiam seperti patung. Mulanya tak ada yang mau mengaku. Tapi lama-kelamaan ada seorang siswi yang mengangkat tanganya perlahan.

Mataku langsung melebar. Aku sedikit tak percaya dengan ini. Karena yang mengangkat tangan adalah Bella.

“Tak biasanya kau tak membuat tugas. Apa ada masalah denganmu?”

“Maaf, pak! Saya benar-benar lupa kali ini.”

Pak Edi memejamkan matanya lalu berdehem. Ia kembali melanjutkan kata-katanya.

“Kalau begitu kalian kerjakan semua soal di buku materi di perpustakaaan. Untuk Bella, kerjakan bab 3. Sedangkan Sena kerjakan mulai dari bab 3, 4, dan Bab 5 sekalian deh.”

“T-Tunggu dulu. Kenapa saya harus mengerjakan soal sebanyak itu?”

Tanpa sadar aku langsung melayangkan protes keras pada guruku. Jujur saja aku tak terima dengan perlakuan yang diskriminatif ini. Kenapa Bella cuma mengerjakan satu bab, sedangkan aku berlipat-lipat?

Apakah karena Bella murid kesayanganya jadi dia bisa mendapat keringanan hukuman sedangkan aku tidak?

“Kamu itu siswa yang gak tahu diri, ya? Kau pikir sudah berapa kali tak mengerjakan tugas yang saya beri. Dan kamu masih berani berkata seperti itu?”

Aku kembali terdiam. Walau masih ada rasa tidak terima dalam hatiku, namun aku tak bisa berbuat apa-apa karenanya. Aku pun menyerah dan segera membawa buku pelajaranku ke perpustakaan.

“Kampret, lah!”

Saking kesalnya aku tak menyadari kalau ucapan dalam hatiku terdengar keluar samar-samar.

“Kamu bilang apa tadi?”

“Nggak ada. Cuma bingung kenapa gembel di stasiun kurang satu.”

******************

Sudah lebih dari setengah jam sejak aku terpaku pada puluhan soal yang tertera dalam buku pelajaran. Otakku sudah ngebul. Kugulirkan mataku pada gadis yang duduk di depanku.

“Hmm... enaknya hukuman ringan buat murid kesayangan!”

“Jangan bicara padaku!”

Bella membalas ucapanku dengan ketusnya. Matanya bahkan sama sekali tak mau memandang ke arahku. Mungkin aku lebih mirip dengan tempat sampah baginya, jadi dia tak mau repot-repot berbicara padaku.

“Aku cuma bingung kenapa bisa kau tidak mengerjakan tugas.”

“Kau lupa apa yang terjadi kemarin?”

Aku memegangi daguku. Mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi sebelumnya.

Semalam aku tak sengaja menumpahkan sirup ke bajunya, dan Bella menjadi sangat marah padaku. Setelahnya aku dihajar habis-habisan dan dia pun langsung pergi tidur karena kesal.

Kalau diingat-ingat ini semua salahku, sih. Apa dia masih marah padaku? Raut wajahnya sih mengatakan iya.

“Maaf soal itu...”

Aku menundukan wajahku dengan penyesalan.

“Huh, aku sudah selesai mengerjakan semuanya. Aku mau kembali ke kelas.”

“Cepat sekali..! Aku bahkan belum selesai satu bab pun.”

Bella tak menghiraukanku sama sekali. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berlalu ke arahku. Dan entah apa penyebabnya, Bella tiba-tiba melayangkan sebuah tendangan tepat ke punggungku.

“Aduh! Apa-apaan sih?”

“Week....!”

Jangankan sebuah kata, ia malah memberiku ejekan. Kalau dulu mungkin aku akan marah, tapi karena di rumah dia sering memperlakukanku begitu sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan sifatnya.

Aku pun mengabaikanya dan kembali fokus pada soal yang terpampang di hadapanku.

Suara detik jam dinding terus berbunyi menemaniku yang tengah sendirian di perpustakaan. Entah sudah berapa lama aku menghitung jawaban dari soal ini, tapi aku tetap tak menemukan jawabanya.

Payah, nih! Belum juga ada satu bab, tapi sudah makan waktu lama. Bisa-bisa aku tak bisa menyelesaikan semuanya sebelum jam istirahat.

Kucoba untuk membalik halaman, mencari rumus-rumus yang tepat untuk menyelesaikan soal. Tapi percuma. Setiap kali kuhitung, jawaban yang didapat pasti berbeda. Entah kenapa aku jadi ingin menangis.

“Bodoh, begitu saja tidak bisa?”

Aku terperangah. Sebuah suara yang tak asing bagiku terdengar dari balik punggungku. Aku pun membalikan badanku.

Bella ada di sana. Rambut oranye kecoklatanya yang panjang sedikit berkibar. Sungguh penampilan yang indah. Aku bahkan sempat terpesona denganya walau hanya sesaat.

“Kau hanya tinggal mengakarkan ruas kanan, lalu faktorkan, dan kau akan menemukan jawabanya.”

Bella terpaku pada soal di buku pelajaranku. Aku pun tak menyia-nyiakan ini dan segera mengikuti apa perintahnya. Tapi benarkah hanya begini saja? Perasaan aku tadi memakai cara yang mirip seperti ini, tapi tidak ketemu.

Sesaat kemudian...

“O-Oh.... ketemu!! Akhirnya ada juga jawabanya di pilihan ganda.”

Aku memalingkan wajahku pada Bella. Entah kenapa aku menjadi sangat kegirangan. Jawaban yang sejak tadi aku muter-muter mencarinya, kini bisa ditemukan dengan waktu singkat.

“Kau hebat, Bella! Sungguh, kau memang sangat pintar! Pokoknya T.O.P banget, lah!”

Kuangkat kedua ibu jariku. Bella tersipu dan berpaling. Matanya sama sekali tak mau bertemu denganku.

“K-Kau saja yang terlalu bodoh!”

“Ngomong-ngomong, kenapa kau kembali lagi kemari?”

“J-Jangan salah sangka, ya!? Aku kembali bukan karena khawatir padamu. Aku cuma tak ingin kau terus-terusan terpaku mengerjakan soal. Bisa-bisa di rumah nanti kau akan menggerutu seharian. Karena itulah aku... i-ingin membantumu belajar.”

Mataku melebar. Aku benar-benar tersentuh dengan perkataanya. Kukira dia kembali kemari hanya untuk mengejekku saja. Tapi siapa sangka dia akan datang untuk mengajariku.

Aku tak bisa berkata buruk lagi. Kulayangkan sebuah senyuman tipis padanya.

“Terima kasih. Aku sungguh berterima kasih.”

“Kenapa kau malah berkata seperti itu? J-Jadinya memalukan, tahu!”

“Baiklah! Aku mengandalkanmu saat ini, Bella...!”

Wajahnya langsung merah padam. Tak biasanya ia cepat tersipu seperti ini.

Bella kini mengajariku untuk menyelesaikan soal-soal yang harus kukerjakan. Dia benar-benar bantuan besar. Berkat bantuanya, aku bisa mengerjakan banyak soal dalam sekejap.

“Bella, kau di sini?”

Mendadak suara imut terdengar dari arah pintu perpustakaan. Seorang gadis berambut hitam sebahu tampak mencoba melongok ke dalam.

Dia adalah salah satu siswi di kelasku, namanya Nia Estianty. Dia teman sebangkunya Bella. Wajahnya lumayan cantik, wajar kalau tak sedikit cowok yang mencoba memikat hatinya. Nilai-nilainya juga di atas rata-rata. Kalau saja Bella tidak ada, Nia lah yang menjadi primadona di sekolah ini.

Dan sepertinya aku juga sedikit tertarik padanya. Aku bahkan sering mencuri pandang saat berada di kelas. Sifatnya yang lemah lembut sangat berlawanan dengan Bella. Dan satu lagi hal yang menjadi nilai plus, ukuran dadanya... besar.

Bisa dibilang kalau Nia adalah tipe cewek idamanku.

Saat mendengar kalau ia belum punya kekasih, entah kenapa itu membuatku senang. Aku pun tak bisa berhenti tersenyum.

Tapi aku sama sekali belum pernah berbicara panjang lebar denganya. Percakapan pendek seperti salam atau menanyakan sesuatu yang cuma bisa kulakukan sejauh ini.

“Oh Nia, sedang apa kau di sini?”

Tanya Bella sembari membalas tatapanya.

“Aku cuma ingin meminjam buku. Kau belum selesai?”

“B-Begitulah. Hehe...”

Nia lalu menuju rak buku. Dia mengulurkan tanganya untuk mencapai sebuah buku yang berada di paling atas. Dengan tubuhnya yang sama mungilnya dengan Bella, akan sangat tak mungkin baginya untuk meraihnya.

Aku pun beranjak dan berinisiatif untuk membantunya.

“Mau kuambilkan?”

Mata lemah lembut Nia berpapasan dengan tatapanku.

“B-Boleh. Tolong, ya!”

Kuulurkan tanganku ke atas rak, dengan tinggiku aku bisa dengan mudah menggapainya. Aku pun berhasil mengambilnya tanpa kesulitan yang berarti.

“Sena sangat bisa diandalkan, ya?!”

Mendengar suara lemah lembutnya, aku jadi kehilangan fokus. Buku tebal yang baru saja kuambil terlepas dari genggamanku.

Sial, kalau begini buku itu akan jatuh mengenainya!

“Awas...!”

Aku mendorong tubuh Nia guna membuatnya terhindar dari buku yang jatuh. Kalau dihantam buku setebal dan seberat itu, pasti lah akan sakit. Tapi siapa sangka dia malah menarik tanganku. Dan akhirnya kami pun jatuh bersamaan.

Kini mataku bisa dengan jelas melihat ke dalam bola matanya. Napasnya juga bisa kurasakan dengan mukaku. Wajah kami sangat dekat hingga hampir bersentuhan. Aku tanpa sengaja jatuh dan menindih tubuhnya di atas lantai.

Rasanya seperti de ja vu. Tanganku kembali merasakan sensasi kenyal seperti sedang menggengggam bola karet. Aku tahu ini apa. Aku sungguh tahu ini apa...

Yang sedang kupegang dengan sebelah tanganku saat ini pasti buah dadanya. Kekenyalanya mirip dengan milik Bella, hanya saja ukuranya lebih besar.

Entah setan apa yang merasukiku, bukanya melepaskan tapi tanganku malah dengan sengaja meremas buah dadanya. Tanganku entah mengapa bergerak sendiri memijat-mijat gundukan daging yang besarnya lebih dari telapak tanganku.

“Ukh~!”

Nia mengeluarkan suara lenguhan kecil. Sial, suaranya benar-benar menggoda hingga membuatku kehilangan akal! Sepertinya aku harus menjelajahi buah dadanya lebih lama lagi.

Itu yang kupikirkan. Tapi mendadak sebuah kaki menendangku dengan keras dan membuat tubuhku terpelanting.

“Aww...!”

Aku menjerit kesakitan. Tapi Bella yang baru saja menendangku sepertinya tak peduli dengan hal itu. Kini dia mengarahkan aura membunuhnya padaku.

“Dasar bejat! Tak hanya aku, kau juga melakukan itu pada Nia!?”

“T-Tunggu dulu... ini kan kecelakaan.”

“Tapi wajahmu malah tersenyum kegirangan!! Kau juga pasti sering menyentuhku saat sedang tidur, kan!?”

“NGGAK, LAH...!!! Aku juga tidak tahu bakal seperti ini jadinya...!”

“Nia! Cepat katakan kalau dia memang menyentuh dadamu, dan aku akan menendangnya.”

“Kau sudah mendendangku tadi!!!”

Sial! Karena perkataan Bella, mungkin Nia akan menurunkan pandanganya padaku. Kalau begini sih, jangankan mendapatkan perhatianya dia malah akan membenciku nantinya.

Nia hanya mengatupkan kedua bibirnya.

“Tidak masalah kok, Bella. I-Ini kan cuma kecelakaan.”

Apa yang Nia katakan di luar dugaanku. Kukira dia akan marah, tapi kenyataanya gadis itu malah memaafkanku walau mukanya tersipu malu.

“Tidak bisa gitu dong! Orang biadab ini harus dikasih hukuman mematikan!”

“Daripada itu aku ingin bertanya. Dari perkataanmu tadi...”

Nia kembali menutup kedua bibirnya. Tanganya ia genggam erat-erat di dadanya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan di tenggorokanya.

“A-Apa kalian tinggal bersama?”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
21-01-2021 22:52

Chapter 5 "Tak Bisa Meninggalkanmu Sendiri"

Angin berhembus semilir menyapu wajahku kala aku membuka pintu rumah. Memberi kesegaran di hari yang cerah ini. Ini adalah pagi yang normal sama seperti saat aku berangkat sekolah biasanya.

Tapi mulai hari ini, semuanya berubah. Apalagi kalau bukan kehadiran iblis loli yang tinggal di rumahku sebagai istriku. Kini ia menunggu di depan pagar sambil menggerutu.

“Dasar lelet! Bisa cepat sedikit tidak, sih!? Kita sudah mau terlambat, tahu!”

“Aku sedang mengunci pintunya, bodoh! Bersabarlah sedikit!”

Dasar! Pagi-pagi begini sudah bikin sumpek suasana saja! Aku tak tahu bisa tahan tinggal bersamanya atau tidak. Karena yang sering ia lakukan adalah memaki-maki padaku saja.

“Dengar ya, Sena! Pernikahan kita harus tetap rahasia kita berdua! Jangan sampai kau bocorkan pada orang lain!”

“Memangnya aku mulut ember...? Aku juga tak mau kalau hal ini sampai tersebar di sekolah. Kalau itu terjadi aku lebih baik loncat dari atas monas, lalu naik ke atas menara kembar, loncat lagi dan begitu seterusnya sampai kau benar-benar menghilang dari dunia ini!!!”

*DUAGH!

Entah kenapa kini aku jadi memandang lurus ke atas langit. Burung-burung beterbangan di atasku seperti hendak memakan bangkai yang terkapar di atas jalan. Kupegangi pipi kananku.

Rasanya sakit sekali.

Dasar cewek itu...! Memukulku seenak jidatnya sendiri. Sialaaaannnn.....!

***

Bel sekolah berbunyi tepat pada saat aku tiba di depan gerbang. Terlambat lima menit lagi saja aku akan berdiri di lapangan hingga istirahat. Untungnya dewi fortuna masih ada di sisiku, tidak seperti Bella. Sudah menghajarku, meninggalkanku pula.

Kutaruh tasku di atas meja begitu sampai ke kelas.

“Yo... bangun pagi seperti biasanya, ya!?”

Yang menyindirku adalah Zidan, teman sebangkuku. Namanya memang mirip seperti pesepakbola dari Perancis, tapi aku lebih suka memanggilnya dengan nama lain.

“Jangan mengejekku, Zina!”

“Berhentilah menyebutku begitu, njing! Gara-gara kau, timbul desas-desus di kalangan cewek kalau aku suka main perempuan.”

“Bukankah memang benar? Di ponselmu kau sering mencabuli cewek-cewek, kan!?”

“Itu eroge! Jangan samakan dunia 2D dengan 3D!”

Zidan ini sebenarnya lumayan tampan. Dengan postur tubuh dan tampang seperti model, dia bisa saja mendapatkan gadis yang diinginkanya. Tapi karena dia kecanduan dunia 2D dan otaknya juga... mesum, menjadikan para cewek enggan untuk mendekatinya.

Suatu ketika pernah ada kejadian saat seorang cewek di kelasku hendak meminjam buku tugas dari tasnya. Cewek itu malah menemukan selusin DVD film dewasa. Sejak saat itulah dia mulai dicap sebagai bandar bokep di kelas.

Tapi dibalik semua itu, dia orang yang sangat baik dan perhatian pada orang lain. Meski kami belum lama bertemu, dia sangat mengetahui tentangku seperti sudah mengenal sejak lama. Hal itulah yang membuatku ingin berteman denganya.

“Ngomong-ngomong, kenapa pipimu lebam begitu?”

Zidan melihat ke arah wajahku. Mungkin bekas pukulan Bella sangat terlihat jelas baginya.

“Ah, ini... aku tak sengaja menabrak tembok.”

“Kok bisa...!? Tapi dilihat dari sisi mana pun, itu terlihat seperti bekas pukulan!”

“I-Ini sudah hampir jam pelajaran. Sebaiknya kita segera berganti baju olahraga dan bergegas ke lapangan!”

Aku berusaha mengubah topik pembicaraan, karena aku tak mau dia tahu yang sebenarnya terjadi. Harga diriku sebagai laki-laki cukup tinggi. Jadi kalau dia tahu aku dihajar habis-habisan oleh cewek, aku pasti akan malu.

Beberapa saat kemudian, kami pun keluar dari ruang ganti pria dengan mengenakan baju olahraga kami. Dengan segera aku dan Zidan langsung menuju ke lapangan di mana siswa lain sudah berbaris mendengarkan arahan Pak Halim, guru olahraga kelas satu dan dua di sekolah.

Sepertinya kami sudah ketinggalan lebih dari setengah penjelasan Pak Halim. Ini semua gara-gara si brengsek itu yang memintaku menunggunya saat ia buang air besar.

Tapi kurang lebih aku mengerti garis besarnya. Pertemuan kali ini adalah lari maraton mengelilingi kelurahan sekolahku berada lalu kembali ke lapangan. Untungnya saja jadwal pelajaran olahraga di kelasku kebagian pagi hari.

Nggak kebayang deh kalau harus lari 5 km siang-siang...

Meski begitu tak sedikit murid yang mengeluh, sebagian besar dari mereka adalah anak manja yang setiap hari selalu menaiki kendaraan bermotor walaupun cuma pergi ke warung. Wajah mereka pun lesu sebelum lari.

Yang namanya lari maraton, hal yang paling penting adalah menjaga stamina untuk berlari jarak jauh. Jadi yang harus kulakukan adalah berlari kecil dan menghemat tenagaku sebisa mungkin.

Tapi saat aku hendak memulai langkah pertamaku, Pak Halim tiba-tiba memanggilku. Usianya masih terbilang muda, dia juga orang yang sangat suka bercanda. Wajar kalau dia jadi guru favorit di sekolah.

“Sena, bapak mau minta tolong!”

“Apa? Kalau disuruh yang aneh-aneh saya nggak mau!”

“Nggak lah. Bapak minta tolong ambilkan buku absen di ruang guru.”

“Cuma itu...?”

Aku memiringkan kepalaku. Kalau cuma itu kenapa tidak dia ambil saja sendiri?

“Setelah itu tolong fotokopikan kartu keluarga saya yang ada di map biru di atas meja, cetak juga foto yang ada dalam CD, serta rapikan meja bapak, sapu dan pel lantainya, setrikakan jas saya, dan masakan mie rebus indonie untuk sarapan saya!”

“Gimana kalau saya sekalian membajak halaman bapak, terus nanem padi buat makan sekeluarga?”

“Eh, kamu mau?”

“Nggak lah...! Sumpah, banyak banget!!! Memangnya saya ini pembantu...!?”

“Haha... ini ada imbalanya, loh! Kamu mau uang yang ada di dompet saya?”

“Berapa?”

“Rp. 2000”

“HAH?! NGGAK...!!!! Lagian kere banget jadi guru!”

Aku menaikan alisku, sekaligus memasang wajah terperangah kaget. Setelah disuruh melakukan hal ini-itu, dia hanya membayarku segitu? Makan di warteg aja cuma dapet kertas nasinya!

“Ayolah...! Bapak akan memberi nilai plus untuk UTS-mu, deh!”

Sejenak aku terdiam memikirkan kata-kata Pak Halim. Kalau aku dapat nilai plus, artinya aku tak perlu bersusah payah saat pengambilan nilai praktek UAS nanti. Sedetik kemudian, aku pun langsung mengiyakan begitu saja.

***

Hampir lima belas menit berlalu sejak aku mulai mengerjakan semua hal yang disuruh oleh Pak Halim. Tenagaku hampir terkuras setengahnya. Padahal, aku masih harus berlari sepanjang 5 km. Dan aku juga dalam posisi tertinggal dari siswa yang lain.

Kalau begini sih, aku sudah dapat dipastikan akan berada di urutan terakhir.

Aku segera berlari kecil keluar gerbang sekolah menapaki trotoar di pinggir jalan. Aku harus pintar-pintar menggunakan tenagaku, kalau tidak staminaku akan habis sebelum sebelum mencapai garis finish.

Tapi kurasa ini cukup menyenangkan juga. Sekolahku dekat dengan sawah yang berhektar-hektar luasnya. Maklum, biar sekolahku cukup terkenal tapi tempatnya berada di perbatasan kota dan desa.

Di sampingku terhampar luas sawah yang hijau, warna yang menandakan kelembutan. Cahaya matahari juga memancar dari balik pegunungan yang mengellingi kota ini. Entah kenapa emosiku langsung menghilang sepenuhnya saat melihat pemandangan ini.

Itu yang kupikirkan. Tapi sekarang tidak lagi.

Seorang gadis yang memakai baju olahraga sama sepertiku tengah berlari di depanku. Rambutnya yang panjang kini ia kuncir agar tak menghalangi pandanganya, meski begitu aku langsung dapat mengenalinya. Larinya tidak cepat, aku pun bisa dengan segera menyusulnya walau aku berlari kecil.

“Oi, Kuya! Kau ini sedang berlari atau ngesot? Apa kau tertinggal dari yang lain karena terlalu lamban?”

Ejekku pada Bella yang kini menatap tajam ke arahku.

“Berisik...! Kalau kau merasa terganggu duluan saja sana!”

Dia menyebalkan seperti biasanya. Kalau saja aku yang dulu, pasti sudah kulakukan tanpa disuruh. Tapi karena dia sekarang sudah menjadi istriku. Entah kenapa aku merasa tak bisa meninggalkanya.

“Aku butuh teman bicara.”

Aku memalingkan wajahku ke arah sinar matahari datang. Berharap wajahku yang memerah tersamarkan oleh cahaya mentari.

“Aku tidak mau.”

“Eh...!?”

“Aku tidak mau melihatmu! Cepat duluan sana!”

Bella menaikan nada suaranya padaku. Kakinya juga menendang pinggulku seakan menyuruhku untuk pergi dari sampingnya.

“Malas, ah! Kalau kau mau, kau saja yang duluan!”

“Oke, selamat tinggal!”

Bella membungkukan badanya untuk menaikan kecepatan larinya. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. Tapi dari sudut pandangku, kecepatanya tak berbeda dari sebelumnya. Dan dia masih tetap berlari di sampingku.

“Tak perlu memaksakan diri, Bella! Aku sudah tahu kau tak bisa berlari lebih cepat dari seekor siput.”

“Bisakah kau diam? Mendengar suaramu membuatku ingin muntah.”

Entah kenapa aku secara refleks langsung membungkam mulutku. Kelihatanya dia sedang berjuang keras untuk berlari. Peluh keringatnya menetes membasahi kaos olahraganya. Melihatnya seperti itu, aku tidak seharusnya mengejeknya begitu.

Walau dia punya kemampuan bagus di bidang olahraga, tapi dia tak punya banyak stamina. Sudah jelas berlari jarak jauh seperti maraton akan membuatnya cepat lelah. Meski begitu, dia terus maju.

Aku menghela napasku dalam-dalam.

“Kalau kau ingin staminamu tidak cepat habis, seharusnya kau lebih sering bernapas lewat perut.”

“Eh!?”

“Aku cuma mau kasih saran saja. Kalau kau bernapas lewat hidung otot wajahmu akan cenderung mengeras dibandingkan lewat perut yang akan membuat otot rileks.”

Dia hanya bengong memandangiku. Wajahnya yang dipenuhi tetes keringat tetap terlihat cantik dan menawan. Kupalingkan pandanganku lagi ke arah lain.

“Dan lagi... kau sangat berusaha keras!”

Dia tak membalas perkataanku. Bella hanya sedikit menundukan kepalanya ke tanah lalu berlari sedikit di depanku. Kelihatanya ia tak ingin aku berlari tepat di sampingnya.

Kami berdua pun berlari tanpa mengucapkan sepatah kata lagi sepanjang jalan yang diapit oleh hamparan sawah dan ladang jagung.

Sampai sekitar beberapa menit kemudian, aku merasakan Bella sudah mulai menunjukan tanda-tanda kelelahan. Kecepatan larinya kini menurun, napasnya juga terdengar tersengal-sengal.

“Bella, kau terlihat kelelahan. Mau istirahat dulu?”

Tapi dia tidak merespon. Aku pun sudah berkali-kali memanggilnya, dan tetap tak ada jawaban. Dengan menaikan kecepatanku aku kini sudah kembali berlari tepat di sampingnya. Dia terlihat sangat memaksakan dirinya.

“Aku tidak bisa. Kalau aku berhenti sekarang, seluruh ototku akan melemas dan tidak bisa berlari lagi. Daripada mengkhawatirkanku lebih baik kau duluan saja!”

“Tapi kau sangat pucat, loh! Kau yakin tidak apa-apa?”

“Memangnya apa pedulimu? Bukankah kau membenciku dari dulu? Kenapa sekarang kau jadi sangat perhatian!!?”

Aku membisu seribu bahasa.

Dia benar. Kenapa aku jadi mengkhawatirkanya? Padahal dulu aku tak pernah peduli apa pun yang terjadi padanya. Malah aku akan tersenyum lebar kalau dia sedang kesulitan.

Apa aku begini karena peranku sebagai suaminya? Tapi berapa kali pun aku memikirkan jawabanya, aku merasa bukan itu alasanya aku mengkhawatrkanya.

“Aku tidak tahu... tapi aku merasa kalau aku tak bisa meninggalkanmu sendirian.”

Mata Bella melebar setelah perkataanku masuk ke dalam telinganya. Kupikir dia akan menghajarku lagi kalau aku mengucapkan kalimat itu. Tapi dia tak melakukanya.

Bella kembali menundukan wajahnya sembari mengigit bibir bagian bawahnya. Aku tak tahu apa yang dipikirkan olehnya. Tapi sejenak aku merasa kalau dia tak marah kepadaku.

Kuulurkan tanganku padanya. Dia memasang wajah kebingungan.

“Raih tanganku! Dengan begitu aku bisa menjagamu sampai garis finish.”

Matanya kembali melebar. Wajahnya juga berubah kemerahan, bukan karena cahaya matahari melainkan karena pipinya yang bersemu.

Bella menganggukan kepalanya.

Tanganya lalu menggenggam erat tanganku. Tanganya terasa begitu lembut. Kulitnya sangat halus seperti putri kerajaan. Walau aku sudah pernah menyentuhnya, tapi baru kali ini dalam waktu yang lama.

Jantungku jadi deg-degan karenanya. Kami berdua berlari sembari berpegangan tangan satu sama lain. Meski matahari mampu memberi kehangatan pada setiap makhluk hidup yang di bumi.

Tapi hanya genggaman inilah yang menghangatkan hatiku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
My Wife is My Enemy
21-01-2021 22:35

Chapter 4 "Pagi Pertama Pasangan Baru"

“Bercerai...!?”

Bella membeo.

Matanya terbuka lebar. Wajahnya membeku saat ini. Kelihatan jelas sekali kalau dia tak kepikiran tentang hal ini. Yah, yang bisa dia lakukan cuma marah-marah tak jelas dan melampiaskan emosinya kepada orang lain.

Sesaat kemudian dia terlihat antusias.

“B-Benar juga, ya. Kenapa aku tak berpikiran ke sana? Haha...”

Cara tertawa yang buruk. Suaranya lebih mirip dengan penyihir tua saat sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada orang lain.

“Kalau begitu, Sena! Ceraikan aku sekarang!”

“Tidak semudah itu, bodoh!”

“Heh...!!? Kenapa?”

Bella memiringkan kepalanya, bukti bahwa ia sama sekali tak mengerti situasi yang terjadi sekarang.

“Kalau kita bercerai, pasti orang tua kita akan berpikir kalau ini disengaja.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Aku punya rencana untuk membuat keluarga kita bertengkar, dengan begitu orang tuaku dan ayahmu akan menentang hubungan kita. Bukankah itu saat yang tepat untuk bercerai?”

Ia menganggukan kepalanya sembari bertopang dagu.

“Kau benar, lalu kau sudah punya rencana untuk selanjutnya?”

“Belum.”

“Belum...!!? Kupikir kau sudah merencanakan semuanya!”

“Apa boleh buat, bodoh!!? Aku ini tidak terlalu cerdas. Kenapa tidak kau saja yang membuat rencananya sendiri?”

“Huh...”

Bella menghela napas panjang. Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang empuk. Beberapa saat kemudian, suara bel berbunyi menandakan ada seseorang yang tengah berdiri di depan pintu rumahku.

“Hei, cepat buka pintunya! Suara belnya membuat telingaku sakit.”

“Kenapa harus aku? Kau ‘kan istriku, seharusnya kau tak boleh menyuruh suamimu seperti itu.”

“Berisik!!! Memangnya aku sudi menjadi istrimu...!!!?”

Karena suara melengking dan nyaringnya lah yang membuatku refleks menutup telingaku. Bahkan punggung telapak tangan yang kugunakan sebagai perisai tak mampu menahan suara yang hampir merobek gendang telingaku.

Sial, punya istri macam dia rasanya seperti di neraka saja!

Aku pun segera melangkahkan kakiku menuju pintu dan membukanya. Seseorang pria berkemeja biru bergaris kuning berdiri di baliknya. Kelihatanya dia adalah pegawai kurir. Hal itu diperkuat dengan sebuah koper yang ia bawa bersamanya.

Tanpa basa-basi lagi setelah serah-terima, aku langsung membawa barang itu ke dalam. Melihatku membawa koper, mata Bella terbelalak. Lalu segera berlari ke arahku dan mendorong tubuhku sampai tersungkur ke atas lantai.

“Aduh, apa-apaan sih kau ini!?”

“Ini ‘kan koperku! Kenapa bisa ada padamu?”

“Itu diantar kemari bersama kurir tadi. Apa itu semua pakaianmu?”

Bella mengangguk pelan.

“Cepat bawa itu ke kamar! Kau boleh memakai lemariku. Setelah itu datanglah ke dapur.”

“Eh...!?”

“Kau belum sarapan, kan? Akan kubuatkan sesuatu.”

“Mm... baiklah...”

Entah kenapa dia terlihat seperti gadis biasa saat ini. Tanpa membuang waktu lagi, aku segera ke dapur.

Meskipun aku bilang begitu, aku belum pernah memasak sebelumnya. Saat ditinggal orang tuaku sendirian, aku selalu membeli makanan dari luar. Wajar kalau kulkas di rumahku tak menyimpan banyak bahan makanan.

Aku masih bingung kenapa aku jadi ingin memasak untuknya. Mungkinkah aku merasa harus menjaganya karena dia adalah istriku?

Tak masalah apa alasanya, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya membuat sesuatu yang bisa dimakan. Aku mengeluarkan semua bahan makanan dari dalam kulkas. Selain bumbu dapur ada telur, daun singkong, dan daging ayam.

Selagi aku bingung memikirkan apa yang bisa kubuat, Bella muncul dari ruang tamu. Dia kini mengenakan sebuah kaos oblong putih dan celana pendek. Entah kenapa aku jadi terpesona padanya walau hanya sesaat.

“Kau masih belum mulai?”

Tanya Bella padaku yang masih menyiapkan bahan makanan.

“Begitulah. Aku baru ingat kalau aku tak pernah memasak sebelumnya.”

“Bodoh! Makanya jangan sok jadi orang. Sini biar kumasakan!”

Bella merebut sebilah pisau dari tanganku dan mulai memotong-motong bawang serta cabai merah di atas talenan.

“Kau bisa memasak?”

“Tidak terlalu. Jadi jangan berharap banyak padaku. Lebih baik kau tunggu saja di meja makan!”

Aku pun menunggu di meja makan sesuai perintahnya. Tanganya dengan cepat memotong semua bumbu dan menumbuknya sampai halus. Dia terlihat seperti seorang koki sungguhan walau sesekali melakukan kesalahan.

Meskipun aku tidak menyukainya. Entah kenapa aku sangat menantikan masakanya.

Setelah setengah jam menunggu, Bella pun selesai memasak dan langsung menghidangkanya di meja makan. Semangkuk opor ayam dan sayur singkong telah tersedia di atas meja. Kelihatanya ini sangat lezat.

“Silakan dicoba!”

Aku langsung memakanya segera setelah Bella menyiapkanya.

“Ugh...!”

Aku refleks mengernyitkan keningku saat kuah opor ayam menyentuh ujung lidahku. Ternyata rasanya tak selezat kelihatanya.

“Ini sangat asin...! Berapa banyak garam yang kau masukan? Satu kilo...!!?”

“B-Benarkah...!? Sepertinya aku terlalu berlebihan.”

“Ini hampir saja membunuhku!”

“Kalau tidak suka ya jangan makan! Biar kubuang saja.”

Tak membalas perkataanya, aku kembali memakan opor ayam yang baru saja kuhina. Bella pun memasang ekspresi terkejut.

“Kenapa kau malah memakanya? Bukanya kau bilang tidak enak?”

“Sangat tidak baik membuang-buang makanan. Lagipula, aku tak mau menyia-nyiakan makanan yang sudah dimasak istriku.”

Mendengar perkataanku, muka Bella langsung tersipu. Wajahnya merah sampai ke telinganya. Ia pun segera menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat olehku.

“Bodoh! Kalau kau berkata seperti itu, aku akan...”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ayahku-membunuhku
Stories from the Heart
cerita-kepala-kedua
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Collections
B-Log Personal
aldebaran
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia