Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
45
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/600834a0facb953bb41ac533/my-wife-is-my-enemy
Pernikahan sudah biasa terjadi pada pasangan yang saling mencintai. Tapi bagaimana kalau itu terjadi pada dua orang yang saling membenci? “Mati saja sana kau, dasar bodoh!! Week...!” Yang baru saja melempariku ejekan adalah Bella Aidrish, musuh abadiku. Aku sudah sering bertengkar denganya walau hanya karena masalah sepele. Hari ini kami pun melakukanya. Sekarang adalah masa orientasi siswa SM
Lapor Hansip
20-01-2021 20:48

My Wife is My Enemy

Past Hot Thread
My Wife is My Enemy
Quote:Sinopsis :

Pernikahan sudah biasa terjadi pada pasangan yang saling mencintai. Tapi bagaimana kalau itu terjadi pada dua orang yang saling membenci?

Hai Minna~san, Kali ini saya akan upload karya romance milik teman saya. Gak usah berlama-lama lagi, ini dia link dari authornya. WillyAndha.

Sebelum kita mulai ceritanya, mari kita simak biodata karakter-karakter yang berperan dalam novel romantis ini :

Quote:Bella Aidrish

Mata: Oranye.
Rambut: Panjang sepinggang warna oranye kecoklatan.
Tinggi: 153 cm
BS: B
Deskripsi: Cantik, pintar, jago olahraga tapi stamina sedikit. Idola nomor satu di sekolahnya. Tsundere.

Nia Estianty
Mata: Biru gelap.
Rambut: Hitam sebahu.
Tinggi: 158 cm.
BS: D
Deskripsi: Cantik, pintar. Idola kedua setelah Bella. Berdada besar. Bersuara lemah lembut.
 
Febri Nindya
Mata: Coklat.
Rambut: Ponytail biru gelap sebahu.
Tinggi: 170 cm.
BS: C
Deskripsi: Ketua kelas. Bersuara nyaring. Cerdas.
 
Shella Widya Putri
Mata: Biru cerah.
Rambut: Coklat kemerahan sepunggung rambut dikuncir di kiri.
Tinggi: 167 cm.
BS: C
Deskripsi: Selalu ceria dan tersenyum. Agresif.
 
Zidan Fahrezi
Mata: Hijau emerald.
Rambut: Hitam kecoklatan.
Tinggi: 178 cm.
Deskripsi: Ganteng dan mesum.


Oke, daripada kebanyakan cek cok, sebaiknya kita cekidot saja ke ceritanya ya.

Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
inginmenghilang dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
My Wife is My Enemy
20-04-2021 04:59
Yg bikin cerita hilang 😂😂😂
0 0
0
My Wife is My Enemy
18-04-2021 10:12
Lanjuuuut dunk
0 0
0
My Wife is My Enemy
12-04-2021 23:10
Keren daya khayal si ya, salut ya
.. 👍🏼👍🏼👍🏼
0 0
0
Post ini telah dihapus oleh KS06
My Wife is My Enemy
10-03-2021 11:30
Sok ngga suka padahal ngarep emoticon-Wakaka
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
My Wife is My Enemy
08-03-2021 16:56
belum ya........

emoticon-Sundul Up
0 0
0
My Wife is My Enemy
07-03-2021 03:14

Ninggalin jejak...

Biar ngg ilang...
0 0
0
My Wife is My Enemy
06-03-2021 01:58
Lanjut.......
0 0
0
My Wife is My Enemy
05-03-2021 22:53

Chapter 15 "Jadilah Kekasihku"

Suara kicauan burung yang bertengger di tiang listrik membawaku kembali ke dalam dunia nyata. Kuarahkan tanganku untuk menutup mulutku yang terbuka lebar.

Ini pertama kalinya aku bangun sepagi ini, karena biasanya aku baru bisa membuka mataku setelah jam wekerku serak suaranya karena lelah membangunkanku.

Matahari pun masih belum muncul sepenuhnya, ditambah hawa dingin yang kurasakan hingga menusuk tulang menambah niatku untuk kembali tidur.

Kujatuhkan pandangan pada gadis yang tidur di sebelahku. Wajahnya yang imut saat tertidur membuatku tanpa sadar tersenyum sendiri.

Akhirnya aku bisa menyelesaikan masalahku denganya kemarin. Jujur saja, kukira dia takkan memaafkanku begitu saja setelah emosinya meletus hebat waktu itu. Tapi siapa sangka dia mau memaafkanku tanpa permintaan yang aneh-aneh.

Sebelumnya aku berpikir jika seandainya dia memaafkanku, gadis ini pasti akan meminta syarat-syarat yang merepotkan.

Tapi aku lega bisa berbaikan lagi denganya.

Kami bertengkar hebat, Bella marah besar, lalu kami kembali berbaikan. Entah kenapa semua hal yang kami lakukan terlihat seperti pasangan sungguhan yang baru saja menikah.

Kalau seandainya saja aku menerimanya sebagai istriku, apa yang akan terjadi , ya!?

Langsung kugelengkan kepalaku beberapa kali untuk menyingkirkan pikiran itu dariku.

Sampai kapan pun aku takkan pernah menerimanya sebagai pasangan hidupku. Dia memang cantik, tapi dia sangat menyebalkan. Tak mungkin aku akan baik-baik saja kalau aku menerimanya.

Mungkin pertengkaran yang lebih besar dan hebat dari sebelumnya akan terjadi lagi kalau kami terus bersama seperti ini.

Meskipun waktu itu aku berkata akan bercerai denganya, tapi aku sama sekali tak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kuhela napas dalam-dalam dan kembali melemparkan pandanganku pada gadis oranye ini.

Aku memegangi pundak Bella yang tengah terlelap dengan pulas. Kugoyang-goyangkan tubuhnya guna membangunkanya. Ini adalah hari Senin, meskipun sekarang masih terlalu pagi, tapi tak ada salahnya jika bersiap-siap berangkat sekolah dari sekarang.

Tapi Bella tak kunjung membuka matanya. Gadis oranye itu malah merubah pose tidurnya dan memberikanku pemandangan yang menantang.

Kulit yang hampir transparan seperti putri salju serta mulus tanpa cacat tertangkap oleh mataku hingga ke pangkal pahanya. Karena ia memakai piyama dengan model one-piece, aku jadi bisa melihatnya dengan jelas melalui kainnya yang tersingkap.

Dan sepertinya aku juga bisa melihat kain putih yang membalut bagian ‘penting’nya.

“Fuah! Anjirrr...! Apa-apaan sih dia itu!?”

Karena dia sedang tertidur, dia takkan sadar dengan apa yang dilakukanya saat ini. Seandainya saja dia terbangun, aku sudah pasti dihajarnya habis-habisan.

Tapi kesampingkan hal itu. Yang lebih penting sekarang adalah menutup pemandangan itu dengan selimut agar tak lagi terumbar.

Sesaat setelah aku menarik selimut hingga ke betisnya, aku berhenti. Entah kenapa di dalam diriku terasa gejolak yang membara hingga ke dalam hatiku.

“Jika aku mengintip sedikit, apakah akan baik-baik saja?”

Kalau dipikir-pikir Bella saat ini sedang tertidur lelap, dia mungkin takkan menyadari perbuatanku sekarang. Lagipula aku ini masihlah seorang pria normal yang tertarik pada wanita.

Dan pemandangan seperti ini tak mungkin tidak menggoda imanku. Aku menelan ludah penuh keraguan.

Dengan gemetar aku memegangi kain bawahnya dan mencoba menyingkapnya. Tapi...

Kalau dia terbangun, bagaimana? Aku tak mau wajahku jadi bonyok lagi karena kelakuan bodohku ini.

Ibarat ada malaikat dan iblis di sampingku, menimbulkan pertentangan yang luar biasa dalam diriku. Aku jadi bingung tentang apa yang harus kulakukan sekarang.

Semua akan damai sentosa kalau aku menutupinya dengan menggunakan selimut.

Tapi... entah kenapa tanganku tak mau berhenti menyingkirkan kainnya. Sepertinya aku sudah dikuasai hawa iblis dan sekarang aku pun menuruti kemauannya.

Dengan hati-hati kusingkap kain bawahnya agar Bella tak terbangun dari tidurnya. Jantungku berdegup sangat kencang. Antara nafsu dan takut ketahuan, keduanya bercampur jadi satu.

Dalam sepersekian detik aku tersadar... seandainya Bella terbangun sudah pasti dia akan menghajarku seperti samsak tinju. Aku tak ingin merasakannya hanya karena aku melakukan hal bodoh seperti ini.

Aku melebarkan senyumku, lalu menghela napas dalam-dalam.

“Apa yang aku lakukan? Aku terlihat seperti orang bodoh.”

Tepat setelah aku mengurungkan niatku sesosok peri hitam yang muncul dari bayanganku melayang di depanku.

<<Kau bodoh! Jangan lewatkan kesempatan ini! Kau masih punya bola, kan?>>

[[Jangan dengarkan dia! Ini perbuatan yang tidak baik.]]

Dan kini giliran malaikat bersayap putih yang keluar dari dalam kepalaku.

“Kurasa aku mulai gila!”

[[Mengintip perempuan adalah sesat dan laknat. Tolong urungkan niatmu!]]

<<Ya ampun! Kau pasti sangat tertarik pada apa yang ada di balik rok itu, kan?>>

“T-Tentu saja. Tapi apa yang harus kulakukan?”

<<Mudah saja, kau taruh sesuatu di atas kasur. Dan kalau dia terbangun, bilang saja kau ingin mengambil benda yang tak sengaja kau jatuhkan.>>

Aku terdiam sejenak, mencoba mempertimbangkan konsekuensi yang akan kudapat jika aku menerima ide iblis itu. Kutatap bayangan malaikat yang menghela napas panjang.

[[Kurasa itu ide yang bagus. Tapi bisa minggir sedikit? Aku tak kebagian tempat.]]

“Oke.”

Dengan cepat aku mengambil sembarang benda yang berada di atas meja di samping kasur dan menaruhnya dekat dengan roknya. Dengan begini, sesuai dengan perkataan sang iblis tadi, aku bisa menjadikanya alasan kalau dia memergokiku.

Jantungku kembali berdegup dengan kencang dibuatnya. Tanganku gemetar ketakutan saat menyingkap kain one-piecenya.

Ini benar-benar bahaya kalau ia sampai menangkap basah diriku! Mungkin kali ini aku akan dikirim ke rumah sakit oleh gadis ini.

Tapi meskipun begitu... apa pun yang terjadi... seberapa besar bahayanya...

Seorang laki-laki sejati, tak boleh berhenti di tengah jalan dan harus terus maju ke depan.

Aku langsung menganga seketika berhasil menyingkap baju tidurnya. Kain putih berbentuk segitiga membalut bagian pangkal pahanya yang putih seperti susu.

Mataku terpukau. Jadi, seperti inikah isi dalam rok perempuan?

Ini pertama kalinya aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri. Tubuhku menjadi panas, meleburkan hawa dingin di pagi hari ini.

“K-K-Kamu...!! A-Apa yang kau lakukan?”

Mulanya aku tak sadar. Tapi dalam sesaat aku merasakan tatapan tajam menusuk tubuhku. Aku pun langsung memandang ke arah pandangan dengan aura hitam itu berasal.

Gadis cantik berambut oranye, wajahnya merah padam saat aku menatapnya. Dia mengarahkan tatapan penuh kebencianya padaku.

“Whoa...! I-Ini... aku...”

Sial! Seperti yang kutakutkan sebelumnya, aku tertangkap basah! Aku pun langsung menggenggam benda yang sejak tadi kuletakan guna membuat alasan.

“Aku... sedang m-mengambil benda yang ada di sini.”

“Ponsel? Jangan-jangan kau berniat untuk memotret pakaian dalamku!!?”

Aku mengikuti pandangan Bella. Sebuah ponsel layar sentuh tengah berada di dalam genggamanku. Aku mengenal baik benda ini, karena ponsel ini adalah milikku.

Sepertinya aku tak memperhatikan benda yang kuambil dari atas meja sebelumnya. Sekarang benda yang awalnya ingin kugunakan untuk membuat alasan malah menjadi bukti tak bergerak yang membuatku bersalah.

“T-Tunggu dulu...! Ini tak seperti kelihatanya...”

Tanpa menghiraukan perkataanku. Bella menarik tinjunya seperti sedang memegang busur. Ia menatapku dengan tajam.

“Dasar kau ini...!! Cowok mesuuuuum!!!”

“Huwaaaaaaa...!!!”

***

Suara bel berbunyi langsung memecah hingar bingar di dalam kelas. Memaksa semua murid duduk di tempatnya masing-masing dan bersiap mengikuti pelajaran pertama.

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Setelah kejadian di rumah tadi pagi, aku cukup beruntung karena hanya mendapat luka lebam di mata kananku. Sepertinya benar kata orang, jangan mengganggu beruang yang sedang tidur.

Tapi dengan begini aku jadi sadar dan tak ingin mengulangi perbuatan bodohku seperti tadi. Karena aku tak mau datang ke sekolah dengan luka memalukan seperti ini.

Gara-gara luka ini, aku jadi dapat perhatian banyak orang. Dan kalau mereka tahu asal dari luka ini, aku pasti akan memilih mati daripada menahan malu.

“Wajahmu kenapa lagi?”

“Aku lebih memilih tak ingin membicarakanya.”

Kuhiraukan Zidan yang duduk di kursi sebelahku, dia kembali menatapku dengan pandangan anehnya. Dan kemudian dia menutup matanya sembari menghela napas.

“Ya sudah kalau begitu.”

Beberapa saat kemudian, seorang wanita masuk dan duduk di meja paling depan. Perawakanya agak kurus, dia baru saja memasuki usia dua puluh lima di tahun ini. Dia juga termasuk salah satu guru termuda di sekolah ini.

Wajahnya yang lumayan cantik dan sifatnya yang supel membuatnya disukai banyak orang, baik itu sesama guru ataupun muridnya.

Dialah guru Bahasa Inggris kelasku, Bu Rina.

“Selamat pagi, anak-anak!”

“Selamat pagi, Bu...!”

“Duuh~! Kalian ini...! Sudah berapa kali kubilang jangan panggil dengan ‘Bu’, tapi panggil aku dengan ‘Kak Rina’, ya!?”

Dengan gaya imutnya dia mampu menghipnotis para murid agar setuju denganya. Meskipun dia adalah seorang guru SMA, sifatnya seperti pengajar yang berada di taman kanak-kanak atau tempat penitipan anak.

Tapi karena tingkahnya itu yang membuat banyak murid merasa nyaman diajari olehnya. Karena dari pandanganku, belajar denganya lebih terkesan belajar bersama teman sebaya.

“Oh iya... sekarang kita akan mengadakan ujian praktek, yaaaa~!?”

Ujian praktek? Bukankah itu biasanya diadakan seminggu setelah ujian semester berakhir? Kenapa harus dilakukan sekarang?

Tapi yang lebih membuatku penasaran adalah tentang ujian praktek yang akan dilakukan. Karena aku tak pandai berbahasa inggris, ujian praktek sudah pasti menjadi momok yang menakutkan bagiku.

“Ini untuk menutupi kekurangan nilai kalian. Jadi Kak Rina minta kalian buat kelompok 6 orang. Lalu masing-masing kelompok harus membuat percakapan pendek tentang kehidupan sehari-hari. Bisa itu tentang berbelanja, berlibur, atau yang lainya. Tapi ingat! Semuanya harus kebagian bicara yang sama rata, ya? Jangan ada yang sedikit dialognya! Hehe~!”

Seakan menjawab semua pertanyaan dalam kepalaku, Kak Rina menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang ujian praktek yang akan kami lakukan.

Dengan mengangkat tanganya ke atas seperti hendak menggenggam langit, dia lalu berkata, “baiklah! Sekarang silakan kalian cari sendiri kelompoknya!”

Dan mulai dari aba-aba itu, semua murid langsung sibuk mencari anggota kelompoknya. Ada yang pergi ke sana-sini untuk mengajak orang yang mereka kenal, ada juga yang terang-terangan berteriak di tengah kelas untuk mengajak orang masuk ke dalam kelompoknya.

Ya ampun! Semua kebisingan ini benar-benar membuat telingaku sakit.

Sementara yang lain sedang sibuk, aku dan Zidan berada di bangku sembari membaringkan kepala di atas meja. Sudah menjadi hal yang biasa bagi kami untuk pasrah di saat ada perekrutan anggota kelompok seperti ini.

Tak ada yang menginginkan duo bodoh macam kami masuk ke dalam kelompok mereka. Jadi kami tinggal menunggu dipasangkan dengan orang yang tak kebagian kelompok, meskipun mereka terkadang enggan satu kelompok dengan kami.

“Loh, Sena dan Zidan tak ikut mencari kelompok? Kok malah enak-enakan tidur?”

Kak Rina datang menghampiri kami begitu melihat kami yang tak beranjak dari bangku.

“Ah, paling-paling diusir oleh mereka lagi!”

“Ya ampun, kasihan banget~! Tunggu sebentar, yaa...!”

Kak Rina membalikan badanya dan langsung pergi meninggalkan meja kami. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Dan aku juga tak peduli, jadi aku tak menaruh sedikit pun perhatian padanya.

Hingga beberapa saat Kak Rina kembali dan membawa dua orang bersamanya.

“Kalau begitu... kalian akan sekelompok dengan mereka.”

Mataku mengikuti pandangan Kak Rina mengarah. Dua gadis yang tak asing bagiku berdiri di samping meja. Keduanya sama-sama tercengang kaget menatapku dan Zidan.

“Nia? Bella...?”

“K-Kalau begitu mohon kerja samanya Sena, Zidan!”

“Tunggu dulu, Kak Rina! Kenapa kami harus dipasangkan dengan duo bodoh ini? Kami sudah mendapat kelompok tadi.”

Berbeda dengan Nia yang langsung menerimaku dan Zidan, Bella memprotes keras keputusan
Kak Rina yang menurutnya semena-mena.

Gadis itu pun menyungut kecut.

“Tapi apa kamu tak kasihan dengan mereka? Kau mau membiarkan kedua temanmu sendirian?”

“Itu kan bukan urusanku!”

“Ya ampun, Bella! Kalau kau marah-marah begitu Sena nanti tak menyukaimu lagi, loh~!”

“Ap—“

“Guh! Apa-apaan itu!!?”

Mungkin menyela dan membentak seperti ini adalah perbuatan tidak sopan pada gurumu sendiri. Tapi aku melakukanya dengan spontan setelah Kak Rina mengatakan hal yang mengejutkan.

Baik Nia dan Zidan sama-sama menganga merespon ucapan Kak Rina. Mata mereka semua yang terbelalak menelan diriku hingga dalam.

“Hoi, kupret! Jadi kau menyukai Bella?”

“Nggak lah! Kak Rina ini cuma asal ngomong! Tak mungkin aku menyukai Bella...”

Mengalihkan pandanganku dari Zidan, aku menatap orang-orang yang berdiri di samping mejaku. Nia tampaknya masih terkejut dan menutup mulutnya. Sementara Kak Rina masih cengengesan dengan senyum mengesalkan di wajahnya.

Dan Bella... entah kenapa mukanya menjadi sangat merah sekali. Sesaat setelah mata kami bertemu, ia menunduk malu.

“Oh ya? Kupikir kalian berpacaran. Habisnya kalian terlihat sangat dekat, sih~!”

“Dekat dari mana? Yang kami lakukan cuma bertengkar.”

“Meski pun begitu, tapi aku tak melihat sedikit pun kebencian di mata kalian. Makanya aku selalu menganggap itu sebagai pertengkaran kekasih biasa.”

Aku melempar pandanganku pada Bella, berharap dia akan memprotes seperti biasa saat kami disangka sepasang kekasih. Tapi sepertinya aku salah.

Bella tak membantu sama sekali. Dia masih menundukan wajah merahnya yang kini sudah mencapai kedua telinganya.

“Kalau begitu kalian berempat yang akur, ya~!?”

“T-Tunggu dulu...”

Mengacuhkanku yang masih tak terima dengan keputusannya, Kak Rina kembali ke meja guru sambil tersenyum riang. Tindakan yang seenak jidatnya itu memang membuat kami jadi mendapatkan kelompok.

Kalau bersama Nia sih tak masalah. Tapi aku tak menyangka kalau harus sekelompok dengan Bella.

Punggungku merasa ditatap oleh sepasang mata yang memandangiku dengan tajam. Kutolehkan kepalaku ke belakang, menatap Zidan yang tersenyum-senyum sendiri.

“Jadi, Bella itu cewek yang kau suka?”

“T-Tentu saja tidak! Kan sudah kubilang, mana mungkin aku menyukainya...!”

“Hahh...!? Aku juga tak sudi kalau cowok menyedihkan sepertimu mempunyai perasaan padaku.”

Berkata sembari bertolak pinggang, Bella melemparku dengan tatapan setajam pedang. Kedua alisnya menyatu persis seperti burung elang yang mengincar mangsanya.

“Huh, lebih baik aku mencium pantat sapi daripada harus menyukai gadis sepertimu!”

“Kau ini...!!!”

“Anu...”

“Apa!!?”

Aku dan Bella sama-sama menyahut dengan lantang, membuat Nia yang semenjak tadi berdiri di dekat kami menjadi bergidik ketakutan. Wajahnya pun menciut.

“Kita masih kekurangan orang. Apa kita akan mencari anggota lagi?”

“Tapi sepertinya semua orang sudah mendapat kelompok masing-masing.”

Pandangan Zidan menyusuri seluruh penjuru kelas yang sudah agak lebih tenang dari sebelumnya.

“Hei... apa kalian masih kekurangan orang? Boleh kami bergabung?”

Di saat kami berempat kebingungan dengan jumlah kelompok kami, datang dua orang yang menghampiri kami.

Yang satu adalah gadis berambut ponytail dengan warna biru gelap seperti langit malam. Pandangan dari matanya yang kecoklatan, menandakan dia memiliki kemauan serta tekad yang kuat. Dia adalah Febri, sang ketua kelas.

Aku benar-benar tak bisa membayangkan kalau ketua kelas sepertinya tak mendapat kelompok. Padahal dia cukup populer di kelasku.

Pandanganku mengarah ke gadis lainnya. Warna matanya biru cerah seperti lautan yang memantulkan cahaya langit. Rambut coklat panjangnya yang ia kuncir di sisi kiri, membuatnya terkesan kekanak-kanakan.

Senyumnya manis dan lebar, seakan-akan ia akan terus memasangnya setiap waktu di wajahnya.

Aku mengenal gadis ini sewaktu MOS, karena dia adalah orang yang pertama kali kukenal di sekolah ini. Aku langsung tahu orangnya supel dan mudah bergaul. Karena dia yang pertama kali mengajakku berbicara saat apel pagi.

“Akh...!?”

“Wah, Sena! Akhirnya kita sekelompok juga!”

Kupandangi senyumnya yang ia tunjukan dengan jelas di wajahnya. Dia memang orang yang selalu ceria setiap saat. Tapi bukan hanya itu yang menjadi ciri khasnya...

Dalam sekejap ia langsung merangkul lenganku dan menarik ke tubuhnya, yang membuatku merasakan sesuatu yang lembut dan kenyal menyentuh tanganku.

“Hei, benarkah kau tidak berpacaran dengan Bella? Bagaimana kalau kau menjadi kekasihku saja?”

Bukan hanya aku yang terbelalak dan menganga lebar, keempat orang lainya turut menunjukan eskpresi yang sama denganku.

“Apaaaa...!?”

Dialah Shella Widya Putri, seorang gadis agresif yang sangat hobi menggodaku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
My Wife is My Enemy
05-03-2021 22:20

Chapter 14 "Maaf!"

Suara burung-burung yang beraneka ragam berbaur dengan suara angin di tengah rimbun dedaunan tengah hutan.

Lagi-lagi mimpi ini.

Mimpi di mana saat aku di masa kanak-kanak masih bersama teman bermainku. Aku ibarat terlempar ke masa lalu yang menyaksikan dua anak kecil bermain bersama.

Aku bisa dengan jelas melihat mereka, namun tampaknya mereka berdua tak menyadari keberadaanku.

“Lihat, aku membuatkan ini untukmu!”

Gadis itu menyerahkan sebuah mahkota yang dapat dibuat dengan akar tumbuhan dan beberapa dedaunan kering.

“Apa ini?”

“Ini mahkota. Kau akan terlihat keren kalau memakai ini.”

“Benarkah?”

“Ya, tentu saja.”

Anak laki-laki itu lalu menerima mahkota pemberian gadis yang bermain bersamanya. Walau awalnya dia merasa ragu-ragu, tapi karena senyum sang gadis yang selalu memerhatikanya, ia pun mengenakanya dengan perlahan-lahan.

Setelah itu dia lalu bangkit dan menunjukan penampilanya sembari sedikit berpose.

“Bagaimana?”

“Bagus. Cocok sekali!”

“Aku juga membuat sesuatu untukmu.”

Kini giliran anak laki-laki yang memberi sesuatu dari balik sakunya. Di genggamannya ada benda yang mirip dengan mahkota yang ia kenakan.

Hampir bahan yang digunakan sama, hanya saja tak ada dedaunan kering yang menghiasi. Dan juga ukurannya lebih kecil, mungkin hanya bisa dikenakan di jari.

“Selagi kau membuat mahkota untukku, aku juga membuat cincin ini untukmu.”

“Wah, indahnya!”

Sang gadis tampak terpesona dengan benda pemberianya. Meski cincin itu tak berbahan emas dan berhiaskan berlian seperti yang gadis biasa inginkan, tapi dengan perasaan yang tulus ia mau menerimanya.

“Aku akan memakaikanya untukmu!”

Bocah laki-laki itu memegang tangan sang anak perempuan, sementara tangan sebelahnya lagi ia gunakan untuk memakaikan cincin buatannya pada jari manis gadisnya.

“Terima kasih...”

“Kita terlihat seperti raja dan ratu sungguhan. Hehe...”

Anak laki-laki itu mengembangkan senyum di wajahnya, yang membuat sang gadis menunduk malu.

“Hei...! Apakah kita akan terus berteman?”

“Tentu saja!”

Jawab sang bocah laki-laki dengan cepat.

“Benarkah?”

“Ya, meski pada akhirnya aku akan pergi dari sini. Aku takkan pernah melupakanmu! Dan aku akan kembali lagi kemari saat liburan.”

“Kalau begitu akan kupegang janji ini. Kita akan terus berteman dan lalu... saat kita dewasa nanti, maukah kau menikahiku?”

Anak laki-laki itu terdiam sejenak. Entah apa yang dipikirkanya, sesaat kemudian ia tersenyum lebar sembari berkata, “ya, aku mau.”

Berkat pemandangan yang terjadi di hadapanku, aku jadi teringat masa lalu. Memang benar aku telah mengatakan itu pada gadis yang tinggal di kampung halaman nenekku.

Aku mengangguk setuju bukan hanya asal bicara. Itu karena mungkin aku memang tertarik pada gadis itu.

***

Begitu sinar mentari pagi masuk menyusup ke dalam kelopak mataku, aku terbangun. Menatap langit-langit sembari mengusap-usap mataku beberapa kali guna menyingkirkan kotoran yang berada di sana.

Kutelengkan kepalaku ke sampingku, tempat di mana Bella biasanya berada. Namun pagi ini aku tak merasakan adanya kehangatan di sana.

Kugenggam erat sprei kasurku yang dingin semalaman.

Aku benar-benar menyesal mengatakan hal yang kasar padanya. Bukan maksudku untuk menyakitinya.

Tapi entah kenapa semuanya berubah menjadi seperti ini. Perasaan menyesal menumpuk dalam diriku. Rasanya aku ingin memutar balik waktu guna kembali ke malam sebelumnya dan menghajar diriku di waktu itu.

Harusnya aku tak membentaknya.

Harusnya aku memberinya senyuman.

Harusnya aku berterima kasih padanya atas segala kebaikan yang ia berikan padaku.

Tapi kini itu cuma angan-angan yang melayang dalam kepalaku.

“Bella, di mana kau berada?”

Aku bangun dan langsung menuju ruang tamu. Suara melodi terdengar kala aku memencet tombol-tombol yang berada di telepon.

Mungkin saja saat ini Bella ada di salah satu rumah temannya. Meski aku tak tahu dengan siapa saja ia berteman, tapi kemungkinan paling besar ia berada bersama Nia, teman dekatnya sekarang.

“Halo, ini siapa?”

“Aku Sena. Nia, apa Bella ada di sana?”

Hal yang kulakukan sebenarnya beresiko membongkar rahasia kami. Kalau aku mengatakan pada Nia Bella kabur dari rumah.

Bisa saja terjadi kesalahpahaman lagi dengan Nia. Karena itulah aku harus mencoba untuk membuat alasan yang bagus.

“Memangnya ada apa?”

“Aku cuma ingin menanyakan sesuatu padanya.”

“Dia tidak ada di sini, tuh. Kenapa tidak kau telepon saja langsung padanya.”

“Dia tak menjawab panggilanku, karena itulah aku meneleponmu.”

“Tapi dia tak ada di rumahku.”

“O-Oh, begitu. Ya sudah.“

“Daah...!”

Kututup gagang telepon dan menghempaskan tubuhku ke atas sofa panjang yang menghadap ke arah televisi.

Biasanya saat libur begini, aku menghabiskan waktu dengan menonton televisi bersamanya.

Tapi kini aku sendirian. Menatap layar kaca yang menampilkan acara komedi yang tak mampu memecah gelak tawaku.

“Tunggu dulu...!”

Mendadak aku tersadar.

Mengingat seberapa dekat Bella dengan Nia yang sudah seperti saudara kandung sungguhan.

Bella kemungkinan sudah menceritakan masalahnya pada Nia, walau aku tak tahu apakah dia mengatakan tentang pernikahan kami atau tidak.

Dan mungkin Nia sedang menyembunyikan Bella dariku.

Aku menggenggam sedikit keraguan di tanganku. Tapi untuk benar-benar memastikanya, aku harus melihatnya sendiri dengan mendatangi rumah Nia.

Tapi sebelum itu, aku harus mengisi perutku terlebih dahulu. Meski aku sedang gelisah dan khawatir, tapi aku bukan orang yang berpikiran pendenk. Situasinya akan tambah berantakan kalau aku pingsan gara-gara tak sarapan.

Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Biasanya Bella sepagi ini sudah memasakkan sesuatu untuk kami.

Entah itu nasi goreng, telur dadar, atau mie instant dia selalu menyiapkan sebelum kami berangkat sekolah. Walau masakannya tak terlalu lezat sih. Tapi akhir-akhir ini masakanya semakin membaik karena pekerjaanya sebagai koki paruh waktu di restoran.

Aku sempat tersadar, kalau aku mempunyai istri yang lumayan bisa diandalkan.

Aku jadi semakin menyesal kalau terus mengingat perbuatanku semalam. Meski begitu, aku baru tersadar setelah beberapa waktu.

Setelah sepuluh menit aku menggoreng nasi di atas penggorengan, aku langsung menyajikanya ke atas piring yang berada di meja makan. Bau harum rempah-rempah yang tercium langsung membuatku meneteskan air liur.

Ini kali pertama aku memasak sendiri. Aku mengetahui bahan-bahan dan cara memasak dari Bella. Karena setiap kali dia tengah memasak, aku selalu memandanginya dari balik meja makan.

Sesaat aku hendak melahap sarapanku. Aku terdiam sejenak. Memegang dahiku perlahan sembari menundukan wajahku.

Menatap ke arah dua piring nasi goreng yang baru saja kumasak.

“Ya ampun, aku lupa kalau dia tak ada di sini!”

Aku jadi memasak untuk dua porsi orang. Aku langsung bangkit dan mencari tutup makanan. Kupikir lebih baik menyimpannya untuk nanti daripada kubuang.

Dan dalam beberapa menit, aku sudah menyelesaikan sarapanku, mandi serta berpakaian rapi. Dengan ini aku siap untuk pergi mencari Bella.

Tujuan pertamaku adalah rumah Nia.

Aku pernah mengunjungi rumahnya sekali sewaktu kerja kelompok. Saat kelas satu, aku sekelas dengan Nia.

Walau cuma pernah sekali berkunjung, tapi aku hapal jalan ke rumahnya karena alamatnya yang berada di perumahan. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumahnya dari sini dengan angkutan umum.

Kini aku berada tepat di depan pintu rumahnya.

Kalau ekspresinya terkaget dan panik saat melihat kedatanganku, artinya dia memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

Tapi tanganku berhenti sesaat sebelum aku mengetuk pintu untuk membuat tuan rumah menyadari keberadaanku di luar.

“Kalau Bella memang ada di sini, bagaimana caraku menghadapinya?”

Meminta maaf dan membujuknya untuk kembali ke rumah? Tapi kurasa itu akan sangat sulit mengingat betapa marahnya gadis itu semalam.

Aku tak pernah melihatnya semarah itu sebelumnya. Dia juga berkata membenciku. Hatiku jadi semakin kalut dibuatnya.

Sementara aku membuang-buang waktuku dengan hati yang berkecamuk, suara pintu terbuka terdengar masuk ke dalam lubang telingaku. Menampakan seorang gadis bertubuh mungil seperti Bella, namun berdada besar.

“Sena? Apa yang kau lakukan di sini?”

“N-Nia...?”

Bukan Nia yang membuat ekspresi terkaget sekaligus panik, tapi aku. Kemunculanya yang mendadak sungguh mengagetkanku.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Wajah polosnya ia telengkan sedikit sembari menatap lurus padaku.

“M-Maaf mengganggu! Aku cuma ingin memastikan keberadaan Bella di sini.”

“Dia memang tak ada di sini, kok! Kau bisa lihat sendiri kalau kau mau.”

Nia menyingkir dari pintu seolah menyilakanku masuk ke dalam rumahnya yang terlihat rapi dan bersih. Suasana di rumah ini sangat senyap, seperti semua suara hilang ditelan kabut kegelapan.

Rak kayu yang menyimpan beberapa alas kaki di samping pintu menunjukan kalau tak banyak penghuni rumah yang berada di dalam saat ini.

“Apa keluargamu sedang pergi keluar?”

Nia menggeleng pelan.

“Tidak, rumah ini memang seperti ini. Karena aku tinggal hanya bersama kakakku di sini.”

“Oh begitu...”

“Bella memang tak ada di sini. Kalau tak percaya, mau masuk dulu?”

Aku melihat matanya semerah seperti rubi. Matanya tak berbohong. Aku tahu itu, karena biasanya mata orang yang sedang berbohong akan beberapa kali dipalingkan dari orang yang sedang dibohongi.

Tapi Nia malah memandangku lurus, seakan justru dia lah yang mencurigaiku.

“Tak perlu. Aku akan mencari ke tempat lain. Maaf sudah mengganggumu!”

Saat aku berbalik dan hendak meninggalkan tempat ini, tiba-tiba lenganku tertahan.

Aku membalikan tubuhku.

Nia memegangi lenganku seakan tak ingin membiarkanku pergi. Rasa genggamanya sangat berbeda dengan tangan Bella. Aku bisa merasakan perasaan lembut mengalir dari kulit kami yang bersentuhan.

“Apa terjadi sesuatu pada Bella?”

“T-Tidak, kok.”

Nia menguatkan cengkramanya.

“Kalau ada masalah bilang saja padaku. Bella adalah teman dekatku, jadi aku pasti akan membantu.”

“Cuma masalah sepele, kok. Jangan khawatir!”

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Apa ini adalah sesuatu yang tak boleh kutahu?”

Gadis berambut hitam sebahu ini kembali menambah kekuatan genggamanya pada lenganku. Saking kuatnya aku seakan terlilit oleh ular piton yang tengah menyergap mangsanya.

Dari kulit kami yang bersentuhan, aku kembali merasakan perasaanya yang mengalir. Tapi perasaan ini berbeda dari sebelumnya.

Khawatir dan takut.

Dua kata itu sudah cukup untuk menggambarkan Nia yang sekarang. Wajahnya menjadi terlihat sangat cemas.

Kalau biasanya ia akan percaya saja walau kukatakan hal yang mustahil, tapi kalau menyangkut soal Bella, ia berubah.

Nia menjadi sangat ingin tahu dan rasa penasaranya sangat besar seolah menembus jantungku. Aku baru tersadar walau mereka terlihat seperti teman biasa di depanku, Bella dan Nia memiliki hubungan pertemanan sekuat baja.

Aku melepaskan genggamanya dariku. Lalu kuarahkan kedua tanganku pada bahunya untuk menenangkanya.

Dengan memasang senyum tipis aku berkata, “semuanya baik-baik saja. Kau terlalu khawatir.”

Nia menunduk. Lalu menghela napas guna melepaskan kelegaanya.

“Baiklah, kalau kau berkata seperti itu. Tapi ingat untuk selalu meminta bantuanku kalau kau butuh.”

“Pasti.”

Aku melambaikan tanganku ketika meninggalkan rumahnya. Membelakangi wajah cemas Nia yang berdiri di ambang pintu.

Dengan ini aku kembali dibingungkan dengan Bella. Kemana lagi aku harus mencarinya?

***

Aku terduduk sembari memandangi tembok yang memantulkan cahaya jingga. Meski ini jam pulang kantor, tapi aku tak mendengar puluhan atau ratusan suara knalpot motor.

Karena aku terduduk di sebuah bangku panjang yang jauh dari jalan raya. Tumbuh-tumbuhan dan bunga terlihat lebih indah di taman ini. Memberi ketenangan pada hatiku yang sedang kalut.

Mungkin ini sebabnya banyak orang yang kemari untuk melepas penat atau hanya untuk sekedar jalan-jalan biasa.

Hingga detik ini aku sama sekali belum bisa menemukan keberadaan Bella. Mencarinya sendirian di kota yang luasnya kebangetan ini cukup gila, tapi aku juga tak bisa menyeret orang lain untuk ikut mencari gadis oranye ini.

Karena selain aku tak ingin membuat mereka khawatir, tentu saja ini akan beresiko pada rahasiaku.

Andai saja aku tak mengatakan hal yang mengerikan padanya, mungkin dia takkan pergi dari rumah. Ditinggal olehnya seperti ini sangat membuatku kesepian. Bukan berarti aku mempunyai perasaan padanya, hanya saja saat ini Bella sangat membuatku khawatir.

Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya?

Meski aku selalu bermusuhan denganya, meski aku tak menyukainya, meski aku menolak pernikahan kami...

Tapi aku tak menginginkan itu terjadi.

Aku melangkahkan kakiku ke rumah dengan lunglai seperti seorang gembel kumuh yang berjalan tanpa arah.

Selama perjalanan pulang, pikiranku selalu dipenuhi oleh Bella. Ini berbeda dengan saat kau jatuh cinta. Ini lebih seperti seorang ibu yang mencemaskan anaknya yang pergi bermain, namun tak kunjung pulang saat menjelang petang.

Aku tak tahu kemana lagi harus mencarinya. Aku sudah pergi ke banyak tempat yang kutahu, tapi ia tak ada di mana pun.

Bahkan aku sudah mencarinya di sekolah kami yang jauh dari rumah, walau aku tahu dia tak mungkin berada di sana.

Aku terus memikirkanya hingga tak sadar kalau sudah tiba di depan rumahku. Kuhela napas panjang. Bukan karena lega, tapi lebih ke penyesalan karena tak bisa menemukan batang hidungnya.

Saat ini aku hanya bisa berdo’a dan berharap agar ia baik-baik saja.

Kini aku terduduk di meja makan, berniat untuk mengisi perut yang tak terisi sejak tadi pagi. Untunglah tadi aku membuat sarapanya terlalu banyak, jadi aku tak perlu repot-repot membuat makanan di saat kelelahan seperti ini.

Kuarahkan tanganku untuk membuka tudung makanan di meja dapur.

Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat mengetahui piring makanan yang kutaruh di dalam sini sebelumnya telah menghilang tanpa jejak.

Padahal, aku ingat kalau menyimpanya di sini tadi pagi.

Kubuka lemari es yang berada di belakangku, berharap aku lupa dan menaruhnya di dalam sini.

Tapi... tidak ada.

Bahkan beberapa kantung cemilan dan botol minuman soda pun turut lenyap. Kugaruk-garukan kepala belakangku.

Mungkinkah ada pencuri yang masuk ke rumahku?

Tapi langsung kusangkal dugaanku dengan cepat begitu menyadari yang hilang dari rumah ini hanyalah sebagian makanan dari kulkasku.

Tapi... buat apa maling mencuri makananku?

Aku tak bisa memikirkan hal lain selain satu kemungkinan...

Dengan langkah cepat aku menuju kamarku, tapi aku tak bisa menemukan apa pun. Begitu juga dengan ruangan lainya di rumah ini. Kakiku langsung kuarahkan menuju pintu belakang, di mana terdapat taman kecil beserta bangku panjang yang biasa kugunakan untuk bersantai.

Aku bisa menemukan bungkus-bungkus kosong kudapan berserakan di teras, botol-botol minuman, juga bekas piring nasi goreng tadi pagi.

Mataku terbelalak lebar begitu melihat orang yang tengah berbaring di bangku sembari membaca komik-komik koleksiku.

Sepertinya gadis itu menyadari keberadaanku, hingga ia pun membalas tatapanku.

“S-Sena...?”

“Bella?”

Gadis oranye itu juga membelalakan matanya. Ekspresinya menunjukan keterkejutanya saat melihatku. Aku langsung memperpendek jarakku denganya. Mencengkram erat kedua pundaknya dan menatap matanya dalam-dalam.

“Bodoh!!! Kemana saja kamu!!? Aku sudah mencarimu kemana-mana seharian ini!”

Bella masih tak bereaksi. Aku pun melanjutkan perkataanku.

“Sejak semalam aku tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Membayangkan hal buruk menimpamu sungguh membuatku sakit. Tapi kau malah di sini enak-enakan bersantai!!?”

Gadis cantik itu mengibaskan lengannya guna melepaskan tanganku darinya. Dia berbalik melotot padaku.

“Kau pikir itu salah siapa? Kalau saja kemarin malam ka—“

Langsung kubungkam mulutnya dengan dekapanku. Menarik tubuh mungil dan rapuhnya ke arahku. Aku sungguh tak bisa membayangkan ada gadis yang bertubuh begitu mungil sepertinya di dunia ini.

Meski aku tak tahu wajah apa yang dibuatnya saat ini. Aku bisa merasakan setiap detak jantungnya yang berdegup kencang merambat pada tubuhku.

“Maaf.”

“...!?”

“Aku sungguh minta maaf atas perkataanku kemarin. Sebenarnya aku tak membencimu saat kau bersikap baik padaku. Maafkan aku! Jadi, tolong berhentilah membuatku khawatir lagi!”

“...”

Bella tak memberikan respon. Tubuhnya bergetar. Meski awalnya dia berusaha untuk lepas dari pelukanku, tapi kini sepertinya dia merasa nyaman dalam kehangatanku.

“Apa kau mau menerima permintaan maafku?”

“...”

Gadis oranye menengadahkan kepalanya, membuat kontak mata dan tersenyum tipis untukku.

“Tentu saja. Kau bodoh!”

“Bella...”

“Aku juga minta maaf karena telah membuatmu khawatir. Maaf kalau aku sudah banyak menyusahkanmu! Sebagai gantinya aku ingin memberimu sesuatu.”

“Apa itu?”

Bella menunduk malu. Pipi kemerahanya terlihat samar walau ia berusaha menyembunyikanya dariku. Kemudian matanya kembali bertemu denganku.

“Tutup matamu...”

Ujar Bella dengan malu-malu.

A-Apa-apaan ini? Kenapa dia jadi malu-malu seperti ini?

Aku menelan ludahku. Dengan perlahan aku mulai menutup mataku walau tak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi dari sikapnya yang malu-malu barusan, juga perkataanya tadi...

Jangan-jangan...

Jangan-jangan dia mau memberiku sebuah ciu—

*DUAGH!

Aku langsung memegangi perutku yang mendadak sakit luar biasa. Ini bukan ciuman! Tapi—

“Hiyaaaat...!!!”

Teriakan Bella mengiringinya saat membanting tubuhku ke atas lantai dengan punggungku yang berada di posisi bawah. Mengakibatkan sakit di perutku turut menjalar ke bagian belakangku.

“Huwaaaaaaa...! Sakiiiiiittt...! Apa yang kau lakukan, sialan!!?”

Sembari memegangi punggungku, aku melayangkan tatapan tajam padanya.

“Hahaha... wajahmu sangat menjijikan tadi. Kau pikir aku akan menciummu? Jangan mimpii...!!”

Gelak tawa Bella pecah begitu melihatku kesakitan. Sepertinya dia sangat senang melihatku menderita.

“Kupikir kau sudah memaafkanku.”

“Memang, tapi aku tak pernah bilang tak akan membalasmu!”

Dengan masih terbahak-bahak, Bella memunggungiku dan kembali masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan kondisiku.

Aku mencengkram erat-erat tanganku sendiri, kalau aku sedang memegang botol minuman mungkin sudah pecah karena kekuatanya. Mungkin orang lain bisa melihat kepalaku yang sedang gusar dipenuhi urat-urat kekesalan.

“Dasar...! Cewek kampreeeeeeeeeeettttt...!!!”

***

Petang sudah lewat. Kini sang rembulan muncul menggantikan sang mentari yang sudah lelah bekerja seharian.

Aku duduk di depan televisi di ruang tamu, menatap layar kaca yang tengah menampilkan sebuah film horror tengah malam. Sekembalinya dari dapur, Bella langsung duduk di sampingku sembari membawa semangkuk besar popcorn.

“Filmnya sudah mulai?”

Ujarnya sembari meraup popcorn dengan tanganya.

“Begitulah.”

Sahutku yang masih memperhatikan adegan di layar kaca.

Aku langsung terhenyak begitu menyadari Bella menjadikan bahuku sebagai bantalnya. Dia tak merasa malu-malu seakan dia memang sudah biasa bersandar padaku.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

Bella membalasku dengan tatapan lemah lembutnya.

“A-Aku sedikit takut dengan film horror. Tak apa kan kalau aku mencengkram lenganmu saat aku ketakutan?”

“Ku-Kurasa tak masalah.”

“Hehe...”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
My Wife is My Enemy
05-03-2021 18:19
lanjut thor moso mentok
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
My Wife is My Enemy
17-02-2021 11:59

Chapter 13 "Tak Bisa Kumengerti"

“Kau... ingin membelikanku hadiah ulang tahun?”

Seluruh tubuhku membeku. Telingaku menolak mempercayai kata-kata yang kutangkap barusan. Benarkah dia ingin membelikanku hadiah untukku?

Hari ulang tahunku memang tinggal tiga hari lagi. Tapi dari mana dia tahu ulang tahunku? Aku yakin belum pernah memberitahunya sama sekali, walau kami mengenal sejak lama.

Karena yang biasa kami lakukan saat bertatap mata adalah bertengkar, bukan berbicara santai.

Mungkin saja dia mencari tahu lewat biodataku yang tertulis entah di mana. Tapi kenapa dia mau melakukan itu? Kami dari dulu saling membenci, tak ada untungnya bagi kami mengetahui hari ulang tahun masing-masing.

Bahkan aku tak peduli dengan ulang tahun Bella.

“Kenapa kau bisa tahu hari ulang tahunku?”

“Itu bukan masalah, kan? Yang penting ayo sekarang kita cari hadiah yang kau mau.”

Tanpa menatap mataku, Bella menarikku ke tengah kerumunan gila di lantai bawah mall. Suasana di sini benar-benar ramai dengan lautan manusia. Suara dari setiap orang bercampur menjadi satu dan terasa memaksa masuk ke telingaku.

Untukku pribadi, aku tak suka dengan tempat yang ramai seperti ini meskipun itu taman wisata atau taman bermain.

Karena bukanya menyegarkan tubuhku, tapi malah tambah membuat stress.

Tangan Bella yang lembut mencengkramku dengan kuat dan menyeretku sesuka kakinya melangkah.

Beberapa saat kemudian, kami tiba di sebuah distro baju yang cukup terkenal. Distro ini memiliki banyak cabang di berbagai kota. Tak heran mereka membuka cabang di mall ini yang merupakan sentra perbelanjaan terbesar di kota ini.

“Kau mau baju apa? Akan kubelikan untukmu. Silakan pilih yang kau suka!”

Bella menyingsingkan sebuah senyuman penuh pesona di wajahnya. Aku bahkan harus menutup mataku karena tak kuasa memandang senyumnya yang berkilau.

“Aku tak tertarik dengan baju, karena aku tak begitu peduli dengan penampilan.”

“Ya ampun! Tak bisakah kau senang hanya untuk kali ini saja? Aku sudah mau repot-repot membelikanmu hadiah. Seharusnya kau berterima kasih!!”

Kedua tanganya dilipat di depan dadanya. Matanya melirik kepadaku.

“Baiklah kalau begitu. Tapi aku tak tahu baju apa yang cocok untukku.”

“Pilih saja!”

Aku coba berjalan-jalan di antara etalase yang berisi tumpukan pakaian. Jujur, berbelanja baju sama sekali bukanlah gayaku.

Sekalipun aku membeli baju, aku cuma asal ambil baju yang desainnya menarik perhatianku saat pertama kali lihat.

Tak jarang baju-baju yang kubeli terkadang tidak cocok dengan ukuranku. Kadang terlalu besar atau terlalu kecil. Biasanya baju yang salah ukuran untukku langsung kujadikan kain pel.

“Bagaimana dengan yang ini?”

Bella mencocokan sebuah baju berwarna hijau bergaris merah cerah pada tubuhku. Dalam posisi seperti ini kedua mata kami tak bisa menghindar dari kontak langsung.

Dalam sesaat aku bisa melihat pipi kemerahan Bella. Dengan cepat langsung kubuang wajahku ke arah lain agar ia tak mengetahui kalau aku menatap wajahnya sejak tadi.

“B-Bagaimana?”

“Boleh juga, tuh!”

“Kau mau yang ini?”

“Iya.”

Aku mengangguk setuju. Sebenarnya aku bukanya menginginkan baju itu, tetapi aku cuma berharap ini semua cepat selesai agar aku bisa cepat pulang dan beristirahat.

“Kyaa...! Lihat! Mereka berbelanja bersama!”

“Romantisnya!”

“Aku ingin melakukanya bersama kekasihku.”

Suara ini... rasanya tak asing!

Dan benar saja, begitu aku menengokan kepalaku ke sekeliling. Aku menemukan tiga gadis SMP yang kutemui di kafe sebelumnya tengah bersembunyi di balik baju-baju yang tergantung pada hangar.

“Anjir...! Mereka ada di sini juga? Mau sampai kapan mereka mengikuti kita?”

“Tak usah pedulikan mereka! Kau tunggu di sini, aku akan ke kasir.”

Aku pun beristirahat di sebuah bangku panjang dekat fitting room. Tubuhku cukup lelah karena sudah bekerja di restoran sebelumnya, ditambah dengan berbelanja pakaian yang semakin menguras tenagaku.

Bella yang baru saja kembali dari kasir langsung menyerahkan bungkusan plastik yang berisi baju yang tadi kami pilih.

Akhirnya selesai juga...

“Kita pulang sekarang?”

“Belum. Aku masih ingin membelikanmu hadiah lagi.”

“Hah?”

Aku ternganga di tempatku berdiri. Apa-apaan dia itu? Padahal menurutku ini sudah cukup, tapi dia masih mau membelikanku hadiah lagi?

Itu artinya aku harus menunda niatku untuk langsung pulang ke rumah. Sial, padahal tubuhku rasanya sudah letih sekali!

Dasar Bella itu...!

Sungguh aku tak mengerti para gadis. Kenapa sih berbelanja menjadi hal yang menyenangkan bagi mereka?

Kenapa mereka mau repot-repot keliling banyak toko demi memenuhi isi lemari mereka? Apa mereka tak cukup dengan apa yang mereka punya sekarang?

Meski aku malas menurutinya, tapi aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya. Karena aku tak bisa menolak niat baik darinya.

Bella kembali menyeretku seperti binatang peliharaanya. Kami tak banyak bicara hingga kaki kami berhenti tepat di depan toko suvenir.

Sepertinya toko ini menjual berbagai barang khas dari seluruh penjuru dunia. Di sini bahkan menjual jersey asli dari klub sepakbola Inggris, Chelsea.

Kalau Zidan di sini, dia pasti akan memborong barang-barang ini ke rumahnya karena dia adalah penggemar berat klub sepakbola itu.

Kami berdua masuk ke dalam toko, melihat-lihat semua barang yang dipajang di bagian depan toko. Untunglah suasana di sini tak terlalu ramai seperti toko sebelumnya, jadi aku tak terlalu pusing dengan suara berisik orang-orang di sekelilingku.

“Kau mau jam tangan ini?”

Bella menujuk sebuah jam tangan berwarna silver yang berada di etalase khusus arloji. Jam tangan itu terlihat mewah dan berkelas, tapi tak mampu menarik perhatianku.

Aku pun menatap jam tangan itu dengan pandangan malas.

Namun aku langsung membelalakan mataku begitu melihat angka yang tertera pada label harganya.

“Rp. 400.000!!? Kau yakin mau membelikanku itu?”

“Memangnya kenapa?”

Bella menatapku dengan pandangan polosnya seakan harga barang mewah itu bukanlah masalah baginya.

“Itu hampir dari setengah dari gaji paruh waktu kita, tahu!”

“Aku akan memakai uang tabunganku, jadi santai saja!”

“Pokoknya jangan-jangan membuang uang demi hal yang tidak perlu.”

“Tapi ini kan untuk hadiahmu!”

“Aku tak menginginkanya. Ayo kita cari yang lain!”

Dengan sedikit paksaan aku mencoba menyeret Bella keluar menjauhi toko suvenir itu. Aku tahu dia orang kaya raya, tapi itu bukan berarti bisa membuang-buang uang begitu saja.

Kami memang bekerja paruh waktu, tapi kami juga mendapat uang kiriman dari orang tua kami setiap bulanya untuk kebutuhan sehari-hari.

Uang kiriman memang beberapa kali lipat lebih besar dari gaji paruh waktu kami. Tapi menghabiskan uang sebanyak itu untuk barang yang tak kubutuhkan itu rasanya mubazir.

Kalau soal waktu, aku masih bisa mengetahuinya dari layar ponselku. Atau bisa juga aku menanyakanya pada orang lain. Yang jelas jam tangan bukanlah barang kebutuhanku.

Masih banyak hal berguna lainya yang bisa dibeli dengan uang segitu. Kalau buatku sih lebih baik kuhabiskan untuk membeli mie instan.

Lumayan, bisa buat mengisi perut selama tiga bulan.

“Lalu kau maunya apa?”

Bella menghela napas lalu menahan lenganku, sehingga membuat mata kami bertatapan.

“Sebenarnya aku tak butuh apa pun, kok. Baju yang kau belikan tadi sudah cukup bagiku. Jadi aku tak perlu yang lain.”

“Tidak! Aku masih mau memberimu hadiah yang lain.”

Kulepaskan genggamanya pada lenganku, dan kutatap Bella dengan tajam.

“Aku bingung sama kamu. Kenapa sih kau mau repot membelikanku hadiah ulang tahun?”

“Karena ulang tahunmu tinggal sebentar lagi.”

“Bukan itu yang kumaksudkan. Ini aneh, tahu! Kenapa kau jadi berbaik hati padaku seperti ini?”

“Memangnya salah, ya!? Seharusnya kau berterima kasih, bukanya malah protes!!!”

Sungut Bella. Kedua ujung alisnya menyatu. Nada suaranya ia naikkan sehingga orang di sekitar kami menaruh perhatian pada kami.

“Apa alasanmu melakukan ini?”

“Aku cuma ingin memberimu hadiah saja!!”

“Apa ini semua tentang saat kau sakit...? Kau menjadi perhatian seperti untuk berterima kasih padaku yang telah merawatmu?”

Bella terdiam, lalu menjatuhkan pandanganya. Tanpa kata-kata ia terus mengigit bibir bagian bawahnya.

Aku sendiri baru sadar. Entah kenapa sejak aku merawat Bella saat demam, dia menjadi sangat perhatian padaku. Dia selalu membangunkanku di pagi hari, merapikan seragamku, dia juga bahkan sudah jarang membentakku.

Ini terasa sangat aneh bagiku. Aku sudah biasa menghadapi Bella yang kasar, tapi aku sama sekali tak pernah membayangkan Bella jadi perhatian dan lembut.

“Bisa kau lupakan apa yang terjadi saat itu? Jujur, kau jadi sangat aneh sekarang!”

“Apa itu sangat mengganggumu?”

“Hah...!?”

“Apa aku yang sekarang benar-benar mengganggumu?”

Bella mengulang perkataanya.

Kini giliranku yang tak bisa menjawab. Ini bukan berarti aku terganggu olehnya, hanya saja aku agak risih dengan sikapnya yang sekarang.

“Pokoknya berhentilah bersikap seperti ini!! Dan aku tak butuh terima kasihmu! Jujur saja, kau yang sekarang sangat menjijikan...!!”

*PLAK!!

Datang.

Itu mulai datang...

Rasa sakit perlahan-lahan mulai terasa di pipi kananku. Bekas tamparannya di wajahku meninggalkan rasa sakit yang membakar kulit.

Aku tak bisa menatap Bella. Pandanganku menatap orang-orang di sebelahku yang memandang ke arah kami.

Tanganku tanpa sadar memegangi bekas luka yang tertinggal. Lalu mencoba melirik Bella.

“Apa yang kau—“

“TAK BISAKAH KAU MENGERTIIII...!?”

“...”

“AKU MELAKUKAN INI BUKAN UNTUK BERTERIMA KASIH PADAMU!!! TAPI AKU MELAKUKANYA KARENA KEINGINANKU SENDIRI...!!!”

Suaranya yang tinggi tak melubangi telingaku seperti biasanya, tapi justru menembus relung hatiku.

Tubuhku bergetar.

Emosiku menciut sesaat setelah merasakan setetes air mata kesedihan yang jatuh dari pipinya. Dengan masih menjatuhkan pandanganya ke atas lantai, ia mengusap kedua matanya yang mulai basah.

Perlahan-lahan Bella mengangkat wajahnya. Walau ia berhasil menghapus air matanya, bola matanya masih merah dan berkaca-kaca.

“Jawab aku...! Salahkah kalau aku berbaik hati padamu?”

“...”

Aku tak bisa menjawab apa pun. Bibirku terasa membeku.

Bella yang tak kunjung mendapatkan jawaban dariku kembali menundukan kepalanya, lalu berjalan melewatiku. Namun saat aku hendak menahanya agar ia tak pergi dariku...

“JANGAN SENTUH...!!!!”

Ia menepis tanganku dengan keras. Suaranya yang melengking mengalahkan hingar bingar pusat perbelanjaan yang ada di sekitar kami.

“Bella...”

“Kau tak pernah mengerti perasaanku. Aku tak mau melihatmu lagi...!!!”

Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghentikanya. Kini aku cuma bisa menatap punggungnya yang berlari ke tengah kerumunan orang dan menghilang dari pandanganku.

Meski kucoba mengulurkan tanganku, namun aku tak mampu meraihnya...

***

Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Tubuhku terasa tertusuk ribuan duri es yang berada di atmosfer sekelilingku.

Tapi yang paling terkena dampaknya adalah dadaku. Terasa seperti ada lubang besar menganga di sana.

Kucoba menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Kasur ini menjadi lebih lega karena Bella tak ada di sini. Baik di kamar. Maupun di rumah ini.

Bahkan tak ada tanda-tanda ia datang kemari sebelumnya.

Kugenggam tanganku erat-erat seraya memandang ke atas langit-langit.

“Kalau itu maumu. Terserah kau saja, bodoh!”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
17-02-2021 11:43

Chapter 12 "Hadiah"

Dan dengan begitulah Bella akhirnya dapat juga diterima di restoranku bekerja. Dengan mengandalkan Pak Ginanjar sebagai relasiku, ia pun dapat mudahnya menjadi pegawai restoran ini.

Dia mendapat posisi sebagai juru masak. Walau ia tak terlalu handal dalam memasak, namun para pegawai senior di sana dengan ikhlas selalu membimbingnya setiap waktu.

“Kenapa kau malah tersenyum-senyum seperti itu, bodoh?”

Wajahnya yang cantik memandangku rendah seperti kecoak.

“Tak ada. Aku tak habis pikir kau mau capek-capek bekerja di sini.”

“H-Habisnya kau juga bekerja di sini, kan? Lagipula kalau aku sendirian di rumah, aku akan kese~”

Wajahnya yang malu-malu coba ia sembunyikan, namun aku dapat dengan mudah melihatnya.

“P-Pokoknya aku di sini untuk menemanimu bekerja. Harusnya kau berterima kasih, bodoh!!”

Setelah melontarkan kata-kata pedasnya, ia langsung kembali ke arah dapur tempat seharusnya ia berada saat bekerja.

Sementara aku kembali mengatarkan belasan pesanan yang menumpuk walau sudah semua pelayan bekerja untuk melayani para pelanggan.

Hingga tak terasa sang surya sudah mulai bersembunyi di ufuk timur. Ini sudah waktunya bagi kami untuk mengakhiri shift kami.

Aku duduk di ruang karyawan dengan secangkir teh hangat di atas meja. Kuteguk perlahan sambil mencoba membuat diriku senyaman mungkin di atas sofa.

Tak ada siapa pun di sini selain aku dan Bella, karena karyawan lainya sedang bekerja. Hanya kami berdua lah pekerja paruh waktu yang jam kerjanya sudah berakhir bisa santai-santai berada di sini.

“Mau pulang?”

Bella menopang dagunya. Membuat wajah sebalnya saat berbicara padaku.

“Nanti dulu! Tehnya belum habis!”

Dalam sekejap cangkir teh yang kupegang berpindah tempat ke tangan Bella. Tanpa peduli dengan suhu yang suam-suam kuku, gadis berambut oranye itu menghabiskan isi cangkir itu dalam sekali teguk.

“Seenaknya saja habisin minuman orang...!! Padahal baru nyicip sedikit!”

Gerutuku menatap sinis padanya.

“Ayo pulang!”

Hanya dua kata itu yang terdengar oleh telingaku. Tampaknya dia benar-benar mengabaikan kalimatku.

***

Hari semakin malam saat langit berubah menjadi gelap. Lampu-lampu kota menyala dengan terang seolah hendak menggantikan matahari menerangi kota ini.

Suasana kota di malam ini semakin ramai. Orang-orang berlalu lalang di trotoar, suara desing mobil menderu di atas jalanan. Di kawasan pertokoan ini bau masakan dari berbagai kedai makanan bercampur jadi satu.

Kebanyakan kedai makanan di sini hanya buka saat malam tiba.

“Sebelum pulang, mau mampir ke kafe ini dulu? Kita juga tak punya apa pun di rumah untuk dimakan.”

Aku menunjuk ke pinggir jalan di mana sebuah kafe berada. Nampaknya kafe ini baru saja dibuka, karena sebelumnya aku belum pernah melihatnya. Hal itu diperkuat dengan beberapa karangan bunga bertuliskan “Selamat” yang berada di halaman depan.

“Kelihatanya tempat ini menarik!”

Bella melebarkan senyumnya. Seakan menyetujui ideku.

Kami masuk ke dalam kafe itu. Tempatnya sangat bersih dan tertata rapi. Meja makan dan perabotan di sini tampak elegan seperti furnitur hotel mewah. Kucoba menyeka permukan meja makan dengan jariku.

Tak ada debu sedikit pun yang menempel. Bahkan ada grup musik yang membawakan alunan merdu yang mengiringi para pelanggan saat makan.

Jujur, kupikir tempat ini sepuluh kali lebih baik daripada restoran tempatku bekerja.

“Wow, tempat ini sangat hebat!”

Bella tampak takjub melihat ke sekeliling kafe. Para pelayan di sini tak hanya sebatas mengantarkan makanan ke atas meja, tapi mereka juga mengantarkan para pelanggan ke meja makan.

Salah satunya gadis pelayan dengan wajah oriental yang mengantarkan kami ke meja makan yang masih kosong.

“Apa kalian mau menu spesial dari kafe kami?”

Tanyanya dengan ramah.

“Heh!? Boleh saja!”

Aku dengan cepat langsung mengiyakan. Sebenarnya aku juga tak tahu apa menu spesial mereka. Tapi kalau harus kutebak, mungkin itu adalah menu saat masa promosi.

Kurasakan tatapan Bella menjelajahi tubuhku. Aku membalas tatapanya, tapi dalam sekejap langsung ia buang wajahnya ke arah lain.

Apa-apaan sih dia itu?

“Hei...!”

“Apa?”

Sahutku malas.

“Setelah ini temani aku ke pusat perbelanjaan di sana.”

Tunjuk Bella ke sebuah bangunan super besar berlantai empat. Walau letaknya agak jauh dari sini, tapi aku masih bisa melihat kemegahan mall yang dihiasi ratusan cahaya lampu itu.

Super City Mall, sebuah pusat perbelanjaan paling lengkap yang ada di kota ini, atau mungkin di provinsi ini. Hampir semua barang bisa didapatkan di sini.

Aku pernah kemari bersama Bella sebelumnya, saat kami sedang berbelanja bahan makanan. Di sanalah kami bertemu dengan Febri yang memergoki kami berdua. Tapi untungnya rahasia kami masih tetap terjaga sampai saat ini.

Kalau diingat-ingat kembali, rasanya aku sudah mengalami banyak kejadian semenjak aku menikah dengan Bella. Meski begitu anehnya aku sama sekali tak membenci semua itu.

“Untuk apa?”

Aku memiringkan kepalaku.

“Ada sesuatu yang ingin kubeli.”

“Kau pergi saja sendiri.”

*Brak!

Suara yang cukup keras tercipta saat kepalan tangan Bella menghantam permukaan meja. Menyebabkan perhatian pengunjung di sekeliling berpusat pada kami berdua.

“Bodoh! Jangan menyebabkan keributan! Kau mau kita diusir dari sini?”

Bella langsung menarik kerahku dengan erat.

“Kau harus ikut bersamaku!”

“I-Iya...”

Lagi-lagi aku tak berdaya menghadapinya. Entah kenapa gadis ini terlihat lebih menyeramkan dari biasanya di saat ia marah.

Dengan kedua ujung alis yang menyatu dan suara gemeratakan gigi yang saling bersentuhan, membuatnya tampak seperti harimau.

Beberapa kemudian, seorang pelayan wanita datang ke meja sambil membawa pesanan kami. Pelayan ini berbeda dengan yang mengantarkan kami ke meja makan. Tapi tak kalah ramah denganya.

Pelayan itu menyajikan sebuah piring berisi nasi yang dibungkus oleh telur dadar dengan saus berbentuk hati di atasnya, serta segelas jus ukuran besar yang kedua sedotanya saling berkaitan dan membentuk hati.

“A-A-Apa maksudnya ini?”

Baik aku dan Bella sama-sama terperangah kaget memandang makanan yang dihidangkan di atas meja kami.

“Ini adalah menu spesial untuk sepasang kekasih seperti kalian.”

“KEKASIH....!!!?”

Seruku dan Bella di saat yang bersamaan. Pelayan itu hanya tersenyum berseri-seri melihat kami berdua yang sama-sama bersemu.

Apakah bagi orang lain kami berdua terlihat seperti sepasang kekasih?”

Kalau diingat-ingat lagi, kami tadi jalan berdua berdampingan, tertawa bersama, dan saling bercanda. Tentu saja orang akan menganggap kami sebagai sepasang kekasih!

“Tapi dia bukan kekasihku. Dia tak leb—”

“Nah, pelanggan yang terhormat! Silakan nikmati makananya!”

“Tunggu, kau tak mendengarkanku?”

Mengabaikanku yang gusar, pelayan itu segera pergi dari meja kami berdua.

“Hoi, kembali!”

Tapi pelayan itu tak kunjung kembali oleh suara teriakanku.

“Sial! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku akan mengganti pesanan kita.”

Tapi niatku langsung terhenti saat aku merasakan tarikan kencang pada lengan seragamku. Tangan Bella menahanku, seakan tak menginginkan aku pergi dari meja.

Kepalanya ia tundukan ke bawah, jadi aku tak tahu ekspresi apa yang dibuat oleh wajahnya sekarang.

“A-A-Aku tak keberatan memakan ini bersamamu. Jangan salah paham dulu! Aku cuma ingin segera menyelesaikan ini dan pergi dari sini!!”

Kutatap Bella yang masih menundukan wajahnya. Lalu kuambil napas dalam-dalam.

“Dasar! Baiklah kalau begitu...”

Akhirnya dengan terpaksa kami memakan pesanan ‘sepiring berdua’ itu. Rasanya sangat memalukan sampai ingin mati rasanya. Aku tak henti-hentinya memalingkan wajahku ke arah lain agar tak kontak mata dengan Bella.

Sial, kenapa bisa jadi seperti ini?

Selalu saja ada kejadian yang membuat jantungku melunjak-lunjak. Meski aku tak menyukai Bella, tetap saja hal ini membuat jantungku berdegup kencang.

Tanganku gemetaran memegang sendok makan, hingga tanpa sengaja aku menjatuhkanya ke atas lantai.

“Ah, sial! Sepertinya aku harus meminta sendok bersih lagi.”

“Jangan...!”

Ujar Bella. Dia kembali menghentikanku di saat hendak beranjak dari meja makan.

“Aku tak mau berlama-lama lagi di sini. Karena itulah... pakai sendokku saja!”

“Lalu bagaimana kau makan?”

“Kita bisa berbagi sendok.”

“Heh?”

***

Baru kali ini aku makan seperti ini. Kalau sesama cowok sih tak masalah, tapi ini cewek. Aku tak bohong mengatakan kalau ini pertama kalinya aku disuapi oleh seorang gadis selain ibuku.

Ya ampun! Sepertinya aku tak bisa lagi menghentikan detak jantungku yang semakin cepat. Meski beberapa kali kutahan dengan telapak tanganku, tetap saja dada ini tak bisa tenang.

“Buka mulutmu...”

“A-Ah...”

Dengan malu-malu aku membuka mulutku sambil tetap memalingkan pandanganku.

Aku memperhatikan orang-orang di sekitar kami, sepertinya beberapa orang memandangi kami dengan senyum lebar di wajah mereka. Bahkan sekumpulan gadis berseragam SMP yang duduk di sebelah meja kami tampak kegirangan.

“Lihat, lihat! Mereka sangat romantis, ya!?”

“Kyaa... mereka berdua malu-malu. Lucunya...!”

“Aku ingin sekali melakukanya bersama kekasihku.”

Tak bisakah kalian urus masalah masing-masing, dasar anak SMP sialan!! Serius! Apa kami jadi bahan tontonan yang menarik selagi kalian makan?

Beberapa menit kemudian, aku dan Bella sudah menyelesaikan makan kami. Kami berdua pun pergi meninggalkan kafe dengan wajah yang masih memerah.

“Ayo kita segera pergi!”

Tangan Bella mencengkram pergelangan tanganku, walau tidak kuat tapi mampu untuk menyeretku mengikuti langkah kakinya.

Genggaman tanganya sungguh hangat.

Entah kenapa setiap kali kami melakukan kontak fisik hari ini, dadaku semakin berdebar-debar.

“Kyaaa... mereka berpegangan tangan!”

“Romantis, ya!?”

“Aku ingin sekali melakukanya bersama kekasihku.”

Ya ampun! Gadis-gadis SMP itu masih saja melihat ke arah kami. Walau kami sudah keluar dari kafe, tetap saja aku masih bisa merasakan tatapan mereka dari jauh.

Kami pun segera mempercepat langkah kami meninggalkan tempat itu.

***

Dan dalam beberapa menit, kami sudah tiba di Super City Mall. Hembusan angin yang berasal dari mesin pendingin ruangan langsung menerpa wajahku begitu pintu kaca mall terbuka dengan sendirinya.

Di lantai dasar ini kau bisa menemukan berbagai toko yang menjual aksesoris seperti jam tangan, gelang, dan yang lainya.

“Hei...”

Aku menahan lengan Bella, membuatnya menghentikan langkahnya tepat di depanku.

“Apa tujuanmu kemari?”

“Bukankah sudah kubilang ada sesuatu yang ingin kubeli?”

Mata oranyenya memandangku dingin.

“Kalau begitu seharusnya kau bisa pergi sendiri...”

“Tidak bisa...!! Aku membutuhkan bantuanmu untuk memlihkan hadiah.”

“Hadiah...!? Untuk siapa?”

Wajah Bella memerah, membuatnya tampak manis seperti boneka. Pandanganya ia jatuhkan ke atas lantai. Kemudian ia mengarahkanya padaku...

“Bukankah hari ulang tahunmu sebentar lagi...?”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
My Wife is My Enemy
06-02-2021 21:20

Chapter 11 "Alasan"

Mulai saat itu aku secara resmi menjadi karyawan restoran keluarga di pusat kota. Beruntunglah aku mengenal Pak Ginanjar, kenalan ayahku yang menjadi manajer di tempat ini.

Dengan begitu aku jadi bisa bekerja di sini tanpa kesulitan.

Sudah berhari-hari sejak aku bekerja paruh waktu. Setiap sepulang sekolah aku datang guna bekerja di sini sampai sore hari.

Alasanku bekerja bukan karena aku ingin membeli sesuatu. Tapi karena ada alasan kuat lainya yang tak bisa kuabaikan.

Bel sekolah telah berbunyi tepat pukul dua siang. Menandakan berakhirnya seluruh kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.

“Sena, kok beberapa hari ini kau pulang ke arah yang berlainan?”

Zidan bertanya dengan ekspresi bodoh di wajahnya.

“Soalnya aku ada perlu.”

“Apa itu? Jalan bareng tante-tante?”

“Iya, terserah kau saja.”

Jawabku malas. Karena aku ingin segera datang ke tempat kerja setelah ini.

“Wooiiiiii.......!!! Katanya Sena sering jalan bareng tante-tante....!!!”

Suara lantang Zidan sontak membuat seluruh perhatian siswa di kelas tertuju padaku.

Sebagian ada yang tertawa dan menganggapnya bercanda. Ada juga sebagian yang memandang jijik ke arahku, beberapa di antaranya adalah perempuan.

“Eh, setan! Kenapa malah teriak-teriak....!!!!?”

“Kau sendiri yang bilang.”

“Argh...! Aku tidak serius, tahu!”

“Haha... tenang aja. Mereka juga gak akan nganggep serius, kok.”

Mendengarku tertawa bersama Zidan, Nia lalu berjalan menghampiriku. Buah dadanya yang besar membuatnya berguncang-guncang saat berjalan. Baik aku maupun Zidan terfokus pada titik itu untuk beberapa saat.

“Apa benar kau sering jalan bareng tante-tante, Sena?”

Nia memiringkan sedikit kepalanya. Wajahnya terlihat cantik saat rambut poninya sedikit berkibar karena tertiup angin yang berhembus dari jendela.

“Nia, tolong jangan percaya semua kata-kata si kampret ini!”

“Syukurlah, kukira itu benar!”

Untuk orang yang terlalu mudah percaya sepertinya, tak mengherankan kalau ia mempercayai kata-kata Zidan.

Bahkan kalau aku berkata Monas akan dipindah ke Kalimantan, sepertinya ia akan mempercayainya tanpa ragu.

Tapi sifat polos dan lugunya inilah yang menarik perhatian banyak pria. Andai saja dia yang dipaksa menjadi istriku, aku gak bakalan protes deh. Setiap hari aku mungkin aku akan selalu diberi senyuman indahnya, atau ciuman selamat pagi, atau mungkin yang lebih erotis lagi.

Seperti......

Wah! Aku tak sanggup membayangkan lebih jauh lagi! Kalau benar seperti itu, kehidupanku akan menjadi seperti di surga.

“Sena!? Kenapa kau cengar-cengir sendiri?”

Nia menatapku dengan mata kebiruanya.

“T-Tidak kok. Ini bukan apa-apa...”

“Senyummu menjijikan sekali!”

Dengan entengnya Zidan melontarkan kalimat sarkasmenya. Dia bahkan tak menyadari seberapa menjijikanya dia saat bermain eroge.

“Berisik banget sih, tot!”

Kulihat jam digital di pergelanganku. Sial! Sudah jam segini. Kalau aku tidak cepat-cepat, aku akan terlambat masuk kerja. Aku tak mau dicap sebagai karyawan ngaret di hari-hari awal pertamaku bekerja.

“Ah, maaf ya! Nia! Zina! Aku ada perlu sehabis ini. Sampai jumpa besok!”

Aku melambaikan tanganku pada mereka. Tak seperti Zidan yang acuh, Nia membalas dengan lambaian tangan dan senyum manis padaku.

Ya ampun! Kenapa bisa ada makhluk semanis itu di dunia, sih!? Orang yang akan menjadi suaminya pastilah pria yang paling beruntung di seluruh alam semesta.

Tak sepertiku yang mendapat istri dari dunia bawah tanah. Yang bahkan tak pernah memberiku ucapan selamat pagi.

“Kau mau kemana lagi?”

Ucap seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kelas. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding dan memandangku dengan mata oranyenya.

Panjang umur si makhluk bawah tanah ini! Aku baru saja membicarakanya dalam pikiranku.

“Jangan bilang kau ingin bermain game dengan temanmu lagi.”

“Memang itu kenyataanya, kok.”

“Setiap hari?”

“Dia selalu menantangku lagi kalau kalah. Atau kau mau ikut bersamaku?”

Aku sengaja memancingnya seperti itu agar gadis itu tak lagi bertanya padaku dengan rasa penasaranya. Kalau aku terus-terusan membuat alasan, dia mungkin akan semakin curiga padaku.

Semakin aku mengelak, aku semakin terlihat berbohong.

Pokoknya rahasiaku yang menjadi karyawan paruh waktu akan kusembunyikan pada siapa pun, termasuk Bella.

“Tidak usah, aku langsung pulang saja.”

“Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan lupa masakkan sesuatu yang enak saat pulang nanti.”

“Cih!”

Bella mendecak. Kelihatanya ia sangat tak suka saat aku memintanya seperti itu. Tapi terserahlah, yang penting aku bisa lolos dari jeratan rasa ingin tahunya.

Aku segera naik bus kota untuk sampai ke restoran tempatku bekerja.

Untung saja busnya tidak sering ngetem dan berjalan lambat, jadi aku bisa sampai tepat waktu sebelum memulai shift-ku.

Aku masuk melewati pintu khusus karyawan, dan segera mengganti bajuku dengan seragam karyawan.

Di sini aku bekerja sebagai pelayan. Senyum dan keramahan adalah poin penting untuk bagian ini. Karena aku mungkin bisa ditegur atasan jika tidak memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan.

“Baru pulang sekolah, ya?”

Sapa Mbak Rena, kepala pelayan berumur 24 tahun di restoran ini sekaligus pembimbingku saat menjalani masa percobaan di sini.

Kulitnya kuning langsat. Wajahnya terbilang cukup cantik, tapi tidak semanis Nia atau Bella. Tapi itu sudah cukup untuk membuatnya dipersunting oleh anak pengusaha kaya.

Aku heran. Kenapa dia mau bekerja sebagai pelayan kalau suaminya kaya raya? Aku tidak tahu apa. Tapi yang jelas, dia punya alasan kuat sepertiku untuk bekerja di sini.

“Iya, Mbak! Make seragam sekolah kemari, masa iya abis pulang perang.”

Jawabku dengan sedikit bercanda.

“Haha... kamu lucu, ya?”

Mbak Rena menutup mulutnya agar giginya tak terlihat saat tertawa.

“Saya permisi dulu, mbak!”

Aku izin untuk keluar dari ruangan karyawan. Memulai pekerjaanku dengan membawakan pesanan dari dalam dapur ke atas meja pelanggan.

Ini sudah lewat dari jam makan siang. Tapi nampaknya kepopuleran menu yang membuat restoran ini tak pernah sepi dari banyak pelanggan.

Sudah sekitar satu jam sejak aku masuk kerja, tapi badanku sudah terasa lelah. Ini semua gara-gara pesanan pelanggan yang tak pernah berhenti.

“Sena, antarkan pesanan ini ke meja nomor 13!”

“Siap, Mbak Rena!”

Kutaruh pesanan pelanggan ke atas tanganku, dan membawanya menuju meja nomor 13 berada. Masih dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahku, kuhidangkan pesanan tadi tepat ke atas meja.

“Ini pesananya! Terima kasih!”

“Lambat! Dasar nggak becus!”

Ujar pelanggan yang mengenakan seragam SMA. Tapi aku tak bisa melihat wajahnya karena ia menutupinya dengan topi hingga ke bawah.

Tapi sepertinya aku mengenal suara ini.

Jangan-jangan...

Pelanggan itu membuka topinya. Berkibarlah rambut panjang oranye yang berkelebat dari dalam topinya.

“Apa kau memenangkan gamenya?”

“B-B-Bella...!”

Aku tak mampu menyembunyikan ekspresi keterkejutanku. Bahkan aku menyuarakannya dengan agak keras.

“K-Kenapa kau ada di sini?”

“Aku tanya, apa kau sudah menyelesaikan game-mu?”

Bella menopang dagunya di atas meja. Tatapanya dinginya yang mengintimidasi, seakan menungguku memberi jawaban.

“I-Ini semua ada alasanya...”

“Apa?”

“Maaf, aku harus kembali bekerja!”

Dengan cepat aku membalikkan badanku dan bergegas untuk kembali mengantarkan pesanan pelanggan lain.

Tapi sepertinya gerakanku kalah cepat dari tangan Bella yang dalam sekejap sudah mencengkram pergelangan tanganku. Aku sudah tak bisa mengelak lagi.

Bella lalu menarikku keluar, menuju taman yang dibangun tepat di depan restoran. Taman ini punya beberapa pohon yang cukup rindang. Jadi meskipun ini sudah siang, kau masih bisa merasakan udara segar di bawah sini.

“Apa yang kau lakukan? Aku sedang bekerja, tahu!”

“Aku sudah tahu itu. Yang ingin kutahu sekarang kenapa kau bekerja di sini?”

Aku mengerlingkan mataku. Menghindari kontak mata dengan miliknya yang sudah seperti elang saat hendak mematuk mangsanya.

“Karena aku kenal dengan pemilik restoran ini.”

“Itu bukan jawaban yang kuinginkan. Maksudku kenapa kau bekerja?”

“M-Memangnya salah ya kalau aku bekerja?”

“Tapi kalau kau merahasiakanya dariku pasti ada alasanya, kan?”

“Ck...!”

Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Seakan aku adalah raja yang sedang terpojok. Sementara ada lima menteri, delapan benteng, dan lima belas kuda yang mengepungku. Dengan kata lain, aku sudah skakmat.

Sebenarnya aku memang punya alasan kuat untuk mengambil pekerjaan paruh waktu. Tapi aku tak mau mengatakanya karena memalukan.

“Bisa kita bicarakan topik lain?”

“Tidak!”

Jawab Bella dengan cepat.

“Cepat katakan padaku, sekarang...!!”

Aku masih membungkam mulutku, walau Bella terlihat seperti singa yang akan menerkam. Karena aku yakin kalau mengatakanya, dia pasti akan menertawakanku.

“A-Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Meskipun kita saling tak mengakui, Kita tetaplah sepasang suami-istri, bukan?”

“Lalu...?”

“Bukankah sudah semestinya kalau seorang suami harus bekerja untuk menghidupi keluarganya?”

Selama ini kami bergantung dari uang yang diberikan oleh kedua orang tua kami. Memang hanya dengan itu kami bisa hidup berkecukupan. Tapi aku merasa ada yang salah.

Aku mengingat kata-kata ayahku waktu itu.

“Meski kalian tak menginginkan pernikahan ini. Tapi Bella adalah istrimu. Jadi, bahagiakanlah dia!”

Ayahku itu meski orangnya agak sableng, tapi dia adalah orang yang bijak. Kata-katanya sudah berulang kali menyelamatkanku.

“Karena itulah aku memutuskan untuk bekerja.”

Kupalingkan wajahku ke arah lain. Ini sangat memalukan sampai ingin mati rasanya.

Habis sudah! Dia pasti akan menertawakanku.

Aku menutup mata dan telingaku, bersiap untuk bertahan dari suara tawanya yang menghina. Satu detik, dua detik, hingga lima detik aku menghitung aku tak mendengar gelak tawa darinya.

Kucoba menatapnya, kukira dia akan memandang rendah diriku. Tapi kenyataanya dia malah memalingkan wajah merahnya dariku.

“B-Bodoh...! Mengatakan sesuatu yang memalukan seperti itu.... Dasar tidak tahu malu!”

Kedua mata kami lalu bertemu. Matanya dengan tegas memandangku dalam-dalam.

“Aku juga... akan bekerja di sini!”

“Hah...!? Kenapa?”

“L-Lagipula bukankah sudah kewajiban istri untuk membantu suaminya?”
Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
My Wife is My Enemy
06-02-2021 21:05

Chapter 10 "Memori"

Masih terbayang jelas dalam memoriku suara debur ombak yang memecah karang, nyanyian burung camar yang selalu terdengar merdu oleh indera pendengaranku, serta rasa asin dari air yang berasal dari bibir pantai.

Kala itu aku masih berumur lima tahun. Saat orang tuaku hendak pergi ke luar kota karena pekerjaan mereka selama dua minggu. Aku dititipkan di rumah nenekku yang berada di kampung pesisir pantai.

Aku awalnya tidak mau, karena daerahnya sangat terpencil dan keseharian di sana jauh dari kehidupanku saat tinggal di kota.

Risih. Jorok. Norak.

Itulah kata-kata yang selalu ada dalam kepalaku jika menyangkut tentang ‘kampung’

Dua hari kuhabiskan dengan mengurung diri di dalam rumah. Sesekali aku keluar rumah, namun hanya duduk santai di depan teras.

“Apa kau tidak bosan di rumah melulu?”

Itulah kata-kata yang kudengar dari gadis yang tinggal di dekat rumah nenekku.

Aku tak tahu dia lebih muda atau lebih tua dariku.

Tapi sepertinya dia tak berbeda jauh usianya denganku, karena tingginya hampir sama denganku. Potongan rambutnya pendek sebahu, mirip seperti boneka.

Walau aku berkali-kali mengabaikanya dan memalingkan wajahku, dia tetap mengajakku berbicara.

Sampai akhirnya aku membalas perkataanya.

“Aku malas main di kampung seperti ini. Lebih baik di kota tempatku tinggal, di sana banyak permainan seru daripada di sini.”

“Kampung ini tak seburuk yang kau bayangkan, kok.”

“Bohong...!”

“Aku tak bohong. Kalau kau mau bukti akan kutunjukkan semua seluk beluk tentang kampung ini. Di sini punya banyak hal yang tak bisa kau dapatkan di kota tempatmu tinggal.”

Aku tak percaya begitu saja, aku pun menolak ajakanya beberapa kali. Tapi dia tetap keras kepala dan terus membujukku.

Pada akhirnya aku pun mengangguk dan menuruti perkataanya. Dia bilang akan menunjukan hal menyenangkan di kampung ini.

Tapi aku tak tahu dia berkata benar atau tidak. Mungkin saja dia akan mendorongku jatuh dari atas tebing karena telah menghina kampung tempatnya tinggal.

Tapi entah kenapa aku masih tetap mengikutinya.

Hatiku mengatakan untuk mempercayainya saat itu. Karena sebenarnya aku juga ingin melihat hal yang akan ia tunjukkan padaku.

Sampai pada akhirnya aku dihadapkan pada hamparan pasir putih yang terbentang luas. Air lautnya terbilang cukup tenang. Jarang ada ombak besar menggulung yang berhasil sampai titik pasang pantai.

“Apakah ini yang ingin kau tunjukkan padaku?”

Gadis itu melempar senyum manisnya padaku.

“Ya. Di kota kau takkan menemukan pantai sebersih ini.”

Memang benar perkataanya.

Airnya sangat jernih seperti air kolam renang, bahkan aku bisa melihat ikan yang berenang di antara terumbu karang yang berwarna-warni.

Permukaan airnya memantulkan warna biru langit secara sempurna.

Baru kulihat pertama kalinya dengan mata kepalaku sendiri pantai seindah ini. Pantai yang biasa kukunjungi, apalagi di ibukota memiliki air keruh seperti air got. Tak jarang juga ada beberapa sampah yang berserakan di atas pasir pantai.

Tapi pantai di sini sangat terjaga kebersihanya.

Aku heran. Kenapa pantai seindah ini bisa sepi pengunjung.

“Pantai ini agak terpencil dan kurang terkenal. Jadi jarang ada yang datang kemari selain penduduk kampung.”

Gadis itu menjawab seakan dia bisa mengetahui isi kepalaku.

Memang benar katanya. Sewaktu aku datang kemari, mobil yang kutumpangi harus melewati jalanan berlumpur dan berbatu selama berjam-jam. Tak jarang ban mobil beberapa kali terselip.

Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan pengunjung enggan datang kemari.

Gadis itu lalu duduk di bawah bayangan pohon kelapa di pinggir pantai.

Lalu menepuk-nepukan pasir putih yang ada di sebelahnya seolah mengundangku untuk menemaninya.

“Bagaimana? Apa kau sudah merubah pandanganmu tentang kampung ini?”

“Sedikit...”

“Fu fu... kalau begitu aku akan menunjukanmu lebih banyak hal tentang kampung ini.”

Hari-hari berikutnya kuhabiskan untuk menjelajahi lebih jauh tentang kampung ini bersama gadis itu.

Kami mengunjungi banyak tempat seperti sungai yang permukaan airnya bening seperti kaca, hutan yang selalu teduh di cuaca apa pun, atau danau yang luasnya seperti lautan.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengakui kalau kampung ini lebih baik dari bayanganku sebelumnya.

Di sini mulai terlihat menyenangkan.

Ini semua berkatnya, aku jadi mulai merasa nyaman dengan gadis itu.

Kami selalu bermain setiap hari. Meski pada awalnya aku selalu cuek padanya, tapi aku mulai bisa menunjukan senyumku saat berbicara denganya.

Hari-hari liburanku di sana harus berakhir saat orang tuaku menjemput ke rumah nenekku.

Aku pun terpaksa harus berpisah dengan gadis itu. Dia adalah orang yang mengajariku banyak hal tentang kampung ini.

Berat rasanya meninggalkanya di sini saat aku sudah mulai menganggapnya sebagai temanku.

Pada saat hari perpisahan aku berjanji akan datang lagi untuk bertemu denganya. Dengan mengaitkan jari kelingking kami, aku pun bersumpah untuk memenuhi janji itu.

Tapi satu tahun setelahnya, nenekku meninggal. Rumahnya lalu dijual dan berpindah tangan ke orang lain.

Karena itulah aku tak bisa mengunjungi gadis itu lagi saat libur sekolah.

Bertahun-tahun terlewati tanpa sekali pun berjumpa dengan gadis itu.

Aku masih ingat jelas bagaimana caranya ia tertawa dan tersenyum, menyapaku dengan suara lemah lembutnya.

Meski begitu ada satu hal yang kusesalkan.

Aku tak dapat mengingat wajah dan namanya...

***

Kenapa aku kembali memimpikan hal itu?

Di kali berikutnya aku sadar, aku merasakan sentuhan lembut yang menekan sebelah pipiku.

Dengan perlahan kubuka kelopak mataku. Butuh waktu agak lama bagiku untuk memperjelas indera penglihatanku.

Mata oranye gadis itu dengan sinis menatap mataku. Telunjuknya menusuk-nusuk pipiku mengisyaratkan agar aku segera kembali ke dunia nyata.

“Cepatlah bangun! Mau sampai kapan kau tidur?”

Kulihat jam di atas dinding kamarku.

“Masih jam 7. Lagipula ini hari libur, tak masalah kalau bangun siang kan?!”

Bella lalu memencet hidungku dengan kencang, sehingga kedua lubang hidungku tertutup sepenuhnya dan membuatku kesulitan bernapas.

“Daripada tidur, lebih baik kau bantu aku bersih-bersih rumah.”

“U-Uwa... baik!”

Dengan setengah hati aku bangun dari tempat tidurku, menutup mulutku yang menguap dengan kedua tanganku, lalu kembali mengusap kedua mataku.

Kurasakan tatapan hangat pada punggungku, lalu kubalas dengan melemparkan senyum pada Bella.

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah sembuh?”

“Ya, aku baik-baik saja sekarang. Ini semua berkatmu...”

Bella memalingkan wajahnya ke arah lain. ini adalah reaksi wajar darinya saat ia tak ingin mengatakan sesuatu yang tak dikehendakinya.

“T-Terima kasih sudah merawatku kemarin.”

“Tak masalah.”

Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padanya.

Ini soal ciuman pipi yang ia berikan kemarin. Dia tak pernah mau menjawab berapa kali pun aku bertanya padanya.

Padahal kukira akan ada kecanggungan di antara kami. Tapi sepertinya dia bersikap tak ada apa-apa.

Mungkinkah hanya aku saja yang merasa berdebar-debar? Dan... kenapa dia menciumku?

Cuaca minggu pagi ini cukup bagus, meski aku melihat gumpalan awan mendung yang melayang di angkasa. Aku bisa mendengar suara siulan burung-burung dari arah luar rumah.

Tampaknya mereka sengaja bernyanyi dengan merdu untuk mengundangku keluar rumah.

Titik-titik embun menempel di seluruh kaca rumahku. Sepertinya hujan kembali turun dengan lebat semalam.

Hal itu menjadikan hawa di dalam sini menjadi agak sedikit dingin.

Aku berjalan menuju kompor yang berada di dapur. Kurebus sedikit air untuk menyeduh teh. Minum minuman panas di kondisi seperti ini adalah hal yang perlu dilakukan agar seluruh tubuhmu tak membeku kedinginan.

Lalu kutuangkan air yang baru saja mendidih ke dalam dua buah gelas yang sudah kuisi dengan gula dan teh di dalamnya.

Aku kembali ke ruang tamu, di mana Bella sedang membersihkan debu di atas lantai dengan vacuum cleaner.

“Kenapa kau malah santai-santai? Cepat bantu aku!”

“Santai dulu saja. Ini tehmu!”

Kusodorkan teh miliknya di atas meja. Lalu mengambil gelas punyaku dan meniupnya sebelum meminumnya pelan-pelan.

“Oh iya, hari ini aku ke mall untuk membeli sepatu baru. Bisa kau jaga rumah?”

“Hah...?”

Aku langsung merasakan hawa dingin di sekujur tubuhku kala suaranya dengan lantang menggema di ruangan ini.

Ekspresi Bella menjadi muram. Kedua alisnya menyatu seperti elang yang tengah mengintai mangsanya.

Bella menatapku dengan rendah.

“Jangan-jangan kau mau kabur dari tugasmu, ya!? Jangan harap!!!”

“T-Tentu saja aku akan membantu beres-beres rumah sebelumnya.”

Aku tergagap.

“Aku ikut!”

“J-Jangan...!”

Aku refleks menghadapkan kedua telapak tanganku padanya, mencoba menghentikan kehendaknya.

“Kenapa?”

“Coba pikir lagi, rahasia kita waktu itu hampir ketahuan saat kita berpapasan dengan teman sekelas. Siapa tahu saat di mall nanti malah akan bertemu dengan orang yang kita kenal lagi. Apalagi ini hari minggu, mungkin banyak dari mereka yang sedang berkeliaran di kota.”

Aku memaksakan senyum di wajahku. Kuharap ini bisa dijadikan alasan agar ia tak turut ikut bersamaku.

Jujur saja, aku memang selalu khawatir pergi bersamanya sejak kami pernah dipergoki oleh ketua kelas saat belanja bersama.

Bella terdiam sejenak. Kurasa dia butuh waktu untuk mencerna seluruh perkataanku.

“Kalau begitu cepatlah kau beres-beres rumah!!”

Semakin aku lebih lama bersamanya, semakin aku mengenal sifatnya. Dan jika ia memasang ekspresi berapi-api seperti sekarang, itu artinya dia akan menggila jika aku tak memenuhi keinginanya.

Aku pun mulai dengan mengepel lantai yang sudah dibersihkan oleh Bella sebelumnya.

Kalau dipikir-pikir lagi bukankah seharusnya ini tugas seorang istri? Dulu aku menganggap suami yang takut pada istrinya adalah pria yang lemah.

Tapi sepertinya kata-kata itu malah menjadi bumerang untukku melihat kondisku yang sekarang. Aku jadi terpaksa memakan kata-kataku sendiri.

Bella orangnya tidak suka melihat sesuatu yang berantakan dan kotor. Kamarku yang biasanya berantakan menjadi selalu rapi saat ia tinggal di sini.

Tentu saja ia sering menyuruh-nyuruhku untuk membersihkanya, tak jarang dengan bentakan dan paksaan. Daripada istri, dia lebih cocok jadi ibu tirinya Bawang Putih.

Setengah jam berlalu, aku sudah menyelesaikan semua hal yang ia suruh.

Mengepel lantai, mencuci piring, serta baju. Semua hal itu sudah menjadikan badanku kelelahan.

“Aku pergi dulu, ya!”

Aku melambaikan tanganku pada Bella. Dia hanya membalasku dengan tatapan dingin.

Memang menyebalkan rasanya saat orang bersikap tak acuh padamu. Tapi karena aku sudah biasa diperlakukan seperti itu olehnya, aku pun tak mencoba membalasnya dengan umpatan seperti yang akan kulakukan dulu.

***

Bunyi seperti ranting patah terdengar saat kakiku menjejak keramik trotoar yang sudah pecah.

Aku sedikit gusar. Di jalanan kota seperti ini seharusnya fasilitas umum ditingkatkan kondisinya. Entah apa yang dilakukan pemerintah kota di balik meja mereka saat ini.

Aku berada di pusat kota yang penuh keramaian. Orang-orang berlalu lalang di trotoar, mobil-mobil yang membanjiri jalanan, serta pedagang kaki lima yang mangkal seenak jidat mereka.

Ini semua adalah pemandangan yang biasa kalau kau kemari setiap hari minggu.

Sebelumnya aku mengatakan pada Bella kalau tujuanku kemari untuk membeli sepatu baru. Tapi itu hanyalah alasanku belaka.

Ada hal lain yang ingin kulakukan tanpa diketahui oleh Bella di sini.

Langkah kakiku berhenti di depan sebuah restoran keluarga dekat dengan kawasan perbelanjaan di pusat kota.

Restoran yang terkenal dengan resep ayam bakarnya ini terlihat dipenuhi oleh banyak pelanggan seperti biasanya, tak peduli mau itu hari biasa atau libur.

“Permisi, saya ingin bertemu dengan Bu Widya.”

Kataku pada satpam yang tengah duduk di dalam posnya. Dia lalu menuntunku ke dalam restoran lewat pintu samping.

Ini adalah pintu masuk khusus karyawan. Wajar kalau di balik pintu ini banyak karyawan yang memakai seragam yang sama.

Satpam itu lalu mengetuk sebuah pintu yang berada di ujung lorong.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakan seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan dengan kulit hitam.

“Oh, jadi kamu yang direkomendasikan Pak Ginanjar kemarin?”

Aku mengangguk.

“Iya, saya ingin melamar kerja di sini.”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
04-02-2021 08:02
besok balik lagi deh semoag ada update'an emoticon-Ngacir2
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
My Wife is My Enemy
29-01-2021 23:04

Chapter 9 "Dia yang Berbeda"

Kuletakkan punggung tanganku di atas dahi Bella, permukaan kulitnya terasa membakar tanganku. Rasanya sangat panas. Ini bukan suhu yang normal, bahkan untuk orang yang sedang terkena demam.

Bella terbaring dengan setengah sadar. Matanya terpejam dan napasnya terdengar berat. Dengan panik aku segera mengambil termometer yang berada di kotak P3K. Lalu kuselipkan di antara ketiaknya.

Aku tercengang begitu air raksa dalam termometer naik dengan cepat melewati batas wajar suhu manusia.

“40O C...!?”

Ya ampun, ini buruk...! Demamnya tinggi sekali!!!

Aku harus segera membawanya ke dokter sebelum keadaanya lebih parah lagi. Kutekan tombol-tombol di ponselku, mencoba menghubungi rumah sakit menginginkan mereka untuk mengirim ambulans kemari.

Tapi tak bisa. Rumah sakit itu hanya punya dua ambulans dan keduanya sedang tak ada di tempat. Aku semakin panik. Kucoba memutar otakku untuk mencari solusi.

“Ah!”

Kalau tidak salah ada seorang dokter kenalan ayahku. Dulu aku pernah diobati olehnya saat aku sedang sakit. Aku harus meneleponya untuk memintanya datang kemari.

Kucari-cari nomornya di buku catatan lama milik ayahku yang tersimpan di dalam rak buku. Ayahku sering mencatat sesuatu yang penting di bukunya, kuharap di sana ada nomor milik dokter itu.

Kubalik selembar demi selembar halaman buku itu. Tiba-tiba aku berhenti, mataku terpaku pada satu halaman yang tulisanya sudah agak buram.

Ketemu.

Halaman ini berisi informasi milik Dr. Adi, kenalan ayahku juga ada nomor telepon yang tertulis di sana. Dengan segera aku mengambil ponselku dan memencet nomor sesuai dengan yang tertera pada buku catatan itu. Memang catatan ini sudah lama. Kuharap Dr. Adi tak mengganti nomornya.

“Halo! Ini Dr. Adi?”

Meski sedang keadaan panik, tapi aku tetap mencoba tenang agar suaraku bisa sampai ke orang di seberang sana dengan jelas.

“Iya. Ini dengan siapa?”

“Saya Sena, anaknya Pak Raka.”

“Oh... yang waktu itu terkena demam berdarah, ya!? Sudah lama sekali, yah.”

“Iya. Maaf, tapi bisa Bapak kemari?”

“Memangnya siapa yang sakit?”

“Pokoknya cepatlah kemari!”

“Baik, saya akan segera ke sana sekarang.”

Kututup telepon itu. Lalu aku segera kembali ke sisi Bella di mana ia sudah dalam keadaan sadar sekarang. Namun tetap tak bisa menggerakan tubuhnya secara bebas. Matanya menelan tubuhku dalam-dalam.

Aku balas memberinya tatapan yang hangat. Awalnya aku cuma menyingkirkan poninya yang menghalangi sebagian kecantikanya. Tapi kini aku mulai membelai dahinya secara perlahan sembari menggenggam tanganya erat.

“Aku akan membawamu kembali ke kamar.”

Dia terdiam. Sepertinya dia terlalu lemah meski itu hanya untuk membalas perkataanku. Jadi kuanggap diamnya itu sebagai tanda setuju.

Kuletakkan kepala Bella pada sebelah lenganku, sementara tanganku yang lain menopang lututnya. Aku mulai membawa Bella ke kamar dengan cara menggendongngya seperti seorang putri.

Bella membenamkan kepalanya pada dadaku. Dengan jarak segitu, aku sangat yakin dia bisa mendengar degup jantung yang berdebar kencang dari dalam dadaku.

Segera setelah aku memasuki kamar, aku membaringkanya secara perlahan di atas kasur agar tak membuat tubuhnya semakin menderita. Kutarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya yang mirip dengan peri fantasi di negeri dongeng.

Aku mengambil sepotong kain dari dalam lemari, lalu kubasahi dengan air dingin guna mengkompres suhu tubuh Bella yang kelewat tinggi.

Sepertinya ini pertama kali bagiku mencemaskanya sampai seperti ini. Kalau aku yang dulu, aku takkan mau direpotkan oleh hal-hal seperti mengurus Bella. Tapi entah kenapa hatiku kini dibelokan oleh wajah Bella yang memandangku dengan lemah.

Sesaat kemudian dia membuka mulutnya, mencoba berbicara sekuatnya. Tapi aku tak mendengar apa pun. Meski sudah kudekatkan telingaku ke mulutnya, aku tetap tak bisa menangkap suaranya.

Ia mengulurkan tangan dari dalam selimutnya padaku. Aku tak mengerti apa yang ia inginkan. Tapi pada saat wajahnya bertemu denganku, barulah aku mengerti.

Yang Bella inginkan bukanlah selimut tambahan, air dingin guna mengkompres tubuhnya, atau hal lainya. Yang ia inginkan adalah agar aku berada di sisinya.

Segera kuraih tanganya dan kugenggam erat. Jari-jemari kami saling bersilangan satu sama lain. kini ia bisa melempar senyumnya padaku walau terasa samar.

Aku memegangi dadaku. Entah kenapa aku merasa seperti ada yang ingin melompat keluar dari dalam sana. Semakin aku menyentuh Bella, semakin kuat dorongan benda itu.

“Tenanglah, jantungku! Ini bukan saatnya berdebar-debar.”

Meski aku membisikan kata itu sembari menenangkan dadaku, tetap saja aku tak bisa menghentikanya meletup-letup. Dadaku semakin tak karuan saja dibuatnya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pada pintu depan rumahku. Tampaknya Dr. Adi baru saja tiba. Aku harus segera menyambutnya.

Tangan Bella menarikku dengan keras saat kucoba melepaskan genggamanku. Pandanganya memelas seakan memintaku untuk terus menemaninya. Kubelai punggung tanganya dengan lembut.

“Dr. Adi akan memeriksa keadaanmu. Tenang saja! Aku akan segera kembali.”

Bella tak menjawab apa pun. Namun dari matanya aku menganggapnya sudah mengerti. Ia pun dengan perlahan melepaskan kaitan tanganya dari jemariku.

Aku langsung pergi ke depan pintu, menyambut Dr. Adi yang datang lengkap dengan tas besar yang ia bawa di tanganya. Tampaknya itu adalah peralatan dokter yang biasa ia gunakan saat praktek di klinik.

Kubimbing Dr. Adi ke kamarku, tempat di mana Bella sedang tergolek lemas di atas tempat tidur. Dr. Adi menaruh tanganya di atas dahi Bella. Sepertinya tanpa menggunakan termometer pun dia langsung tahu kalau suhu tubuh Bella di atas batas kewajaran.

Tanganya membuka tasnya dan mencoba mengorek-ngorek sesuatu dari saja. Sebuah stetoskop kini sudah berada di tanganya. Lalu ia memeriksa Bella seperti sebagaimana dokter biasanya lakukan.

Beberapa saat kemudian Dr. Adi melepas stetoskop dari telinganya dan berbalik menatapku.

“Bagaimana keadaanya?”

“Tenang saja, Sena! Meski demamnya tinggi, ini cuma demam biasa. Tidak ada gejala-gejala penyakit serius yang menimpanya. Dalam beberapa hari dia akan sembuh.”

Kini aku tak bisa menyembunyikan ekspresi kelegaan saat mendengarnya. Aku berterima kasih pada Tuhan karena tak terjadi hal yang buruk padanya.

“Saya akan memberikan resep obatnya, harap Dik Sena menebusnya di apotek.”

Dr. Adi lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam buku catatan sakunya, dan menuliskan sesuatu di sana. Tulisan dokter biasanya tak ada ubahnya dengan grafiti yang biasa kulihat di kolong-kolong jembatan.

Tapi Dr. Adi berbeda, tulisan tanganya sangat rapih seperti mesin ketik. Jadi aku bisa membacanya tanpa harus membuat mataku rusak.

“Kalau begitu saya akan permisi dulu.”

Setelah memberesken peralatan dokternya ke dalam tasnya, ia pun segera bangkit dan melangkah keluar kamar. Namun sedetik kemudian, dia menghentikan langkahnya.

“Ngomong-ngomong, dia siapanya Dik Sena?”

“Dia...”

Kalimatku terhenti mendadak karena bingung memikirkan jawaban yang harus kuberikan. Meski aku dan Bella sudah menikah, tapi pada dasarnya kami saling membenci satu sama lain. Apakah yang seperti itu masih pantas dikatakan pasangan suami-istri?

Sebenarnya aku bisa saja berbohong dan mengatakan kalau Bella adalah saudara jauhku, tapi...

“Dia adalah istriku...”

Dr. Adi terperanjat kaget. Tapi tak hanya dia, aku pun terheran-heran sendiri karena jawaban yang kuberikan.

Aneh. Sejak awal aku tak mau mengakui Bella sebagai istriku, bahkan selalu berusaha menutupinya. Tapi kenapa kali ini aku malah mengakuinya secara terang-terangan?

Berapa kali pun aku memikirkanya. Jawaban itu tak bisa kujawab olehku sendiri.

***

Pukul 9 malam.

Aku tengah dalam perjalanan pulang dari apotek setelah menebus resep yang diberikan Dr. Adi. Kuharap obat-obatan yang ada ditanganku bisa membuat Bella sehat kembali dalam beberapa hari tepat seperti apa yang Dr. Adi katakan.

Sebelum kembali ke rumah, aku coba berjalan ke arah jalan raya. Berharap menemukan penjual bubur yang buka di pinggir jalan. Bubur ini bukan untukku, tapi untuk Bella.

Sebelum minum obat orang yang sakit biasanya diharuskan makan terlebih dahulu, bukan? Karena itulah aku mencoba mencari penjual bubur, karena aku sendiri tak bisa membuat bubur apalagi dalam waktu yang cepat.

Aku berjalan beberapa puluh meter, tapi tak kutemukan seorang penjual bubur pun di sini. Padahal biasanya mereka sering mangkal di pinggir jalan raya ini karena ramai dengan orang. Saat tidak dibutuhkan, ada. Dan di saat dibutuhkan, malah tidak ada.

Kalau aku berjalan terus mungkin aku bisa menemukanya. Tapi segera kusingkirkan pikiran itu. Aku tak boleh membuat Bella menunggu lebih lama lagi.

Aku langsung segera kembali ke rumah tanpa membawa sebungkus makanan pun. Kalau begini sih terpaksa aku harus membuatnya sendiri.

Kutengok ke dalam kamar. Bella masih terlelap dalam tidurnya. Aku berjalan perlahan ke arah dapur dengan perlahan, takut membangunkanya dari tidur. Untunglah lantai rumahku terbuat dari keramik. Kalau itu dari kayu yang sudah lapuk, tidur Bella akan terganggu dengan suara jejak langkah yang kubuat.

Dengan mengandalkan buku resep dan kemampuan yang seadanya, akhirnya aku berhasil membuat bubur buatanku sendiri. Aku sudah membuatnya sebisaku, tapi aku tak bisa menjamin rasanya.

Dengan perlahan kugunakan tanganku untuk memindahkan bubur dari dalam panci ke mangkuk. Uap panas yang mengepul langsung menerpa wajahku, membuatku mengibaskan tanganku guna menghilangkanya.

Kutaruh mangkuk itu di atas nampan. Lalu melangkahkan kakiku ke kamar. Saat tidur, Bella terlihat cukup manis juga. Bahkan aku pun bisa sedikit terpesona akan kecantikanya.

Kugoyangkan sedikit tubuhnya untuk membawa kesadaranya kembali. Lama-kelamaan kelopak matanya yang merapat mulai terbuka sedikit demi sedikit.

“Bella, bangun dulu! Makan bubur ini lalu minum obat agar kau segera sembuh.”

“Baik...”

Aku merasa kasihan padanya. Suaranya yang biasa terdengar seperti singa yang sedang mengaum, tapi kini tenggorokanya mengeluarkan suara yang hampir tak terdengar.

Dengan tanganku kuarahkan sendok yang berisi bubur ke mulutnya. Sebelum kusuapi dia, kupastikan terlebih dahulu bubur yang baru saja matang itu sudah kutiupi agar bisa ia makan. Bella mengunyah bubur itu dalam mulutnya dengan perlahan.

Lalu memalingkan pandanganya dariku, seakan tak mau melihat wajahku.

“Aku tahu kalau kau sangat membenciku. Mungkin saat ini kau tak ingin aku berada di sini. Tapi biarkanlah aku merawatmu sampai merasa baikan.”

“Sebenarnya bukan itu yang sedang kurasakan. Aku...”

Bella menoleh padaku, tapi matanya tak bertemu dengan miliku.

“Aku sangat berterima kasih...”

Suaranya memang terdengar lirih di telingaku, tapi masih bisa tertangkap jelas oleh gendang telingaku. Wajahnya bersem. Entah itu karena ia dalam kondisi demam atau tersipu. Yang jelas ia seperti sedang memakai masker berwarna merah.

Ekspresinya...

Suaranya...

Dan wajahnya...

Semua itu membuatku kembali merasakan jantungku yang ingin memberontak keluar. Detakanya kali ini lebih jelas. Dan lebih keras.

Tanpa membalas ucapanya aku kembali menyuapinya untuk membungkam mulutnya. Karena aku tahu kalau ia mengatakan sesuatu yang aneh lagi, dia akan terus membuatku berdebar-debar. Hingga pada suapan terakhir kami tak berbicara apa pun satu sama lain.

“Sena...”

“Apa?”

“Aku mau mengatakan sesuatu...”

“Katakan saja.”

Bella terlihat bimbang. Ia mengerlingkan matanya berkali-kali untuk menghindari kontak denganku. Mukanya kembali memerah. Sangat merah seakan semua darah berkumpul pada wajahnya. Kenapa dia jadi terlihat seperti ini?

Aku baru ingat, kalau ini adalah pertama kalinya aku melihatnya malu-malu.

“Aku cuma akan mengatakan ini sekali, jadi dengarkan baik-baik.”

Mulut Bella terbuka, ia berusaha mengeluarkan suaranya tapi tak sampai pada telingaku.

“Apa yang kau katakan?”

“Geez... bodoh! Dekatkan telingamu!”

Gaya bicaranya kembali seperti biasanya, walau yang kali ini agak berbeda karena terdengar lirih. Sesuai perkataanya, aku mendekatkan telingaku padanya. Dengan begini aku bisa mendengar jelas apa yang akan ia katakan.

Aku terus berpikir, sebenarnya apa yang ingin ia katakan? Kuharap bukan sesuatu yang aneh atau menyebalkan.

“Sena! T-Terima....”

“Apa-apaan ini? Jadi kau cuma ingin bilang terima ka—“

Mendadak seluruh tubuhku membeku. Hawa udara di malam ini memang dingin, tapi tak sanggup membekukan seluruh tindakan dan pikiranku.

Yang melakukan ini adalah Bella.

Tindakanya sangat tiba-tiba. Mendadak. Dan tidak bisa kuduga sebelumnya.

Ia merangkul leherku. Mendaratkan sebuah ciuman kecil di pipiku yang membuat seluruh tubuhku tak bergerak sedikit pun. Aku membuka mataku lebar-lebar. Tak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan.

Aku lalu menoleh ke arahnya. Dengan wajah yang masih tersipu ia mengerlingkan matanya ke samping, sehingga aku tak bisa menatap langsung kedua bola mata oranyenya.

“A-Apa maksudnya itu...?”
Diubah oleh umanghorror
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
My Wife is My Enemy
29-01-2021 22:47

Chapter 8 "Naungan di Bawah Hujan"

Aku memegangi kepalaku sendiri. Heran. Kenapa bisa dua kejadian yang hampir sama terjadi dalam waktu satu hari? Entah karena kebetulan atau takdir sepertinya menginginkan rahasia kami bocor.

Mengelabui Nia yang polos memang gampang, tapi menipu sang ketua kelas yang memiliki pemikiran tajam sepertinya sulit. Aku harus benar-benar memikirkan alasan yang logis dan masuk akal agar bisa diterima olehnya.

“S-Sebenarnya aku kebetulan bertemu dengan Bella di sini.”

Siaaaal.....! Kenapa malah alasan gak berbobot yang keluar dari mulutku? Kalau begini sih dia takkan percaya. Febri memicingkan matanya menjadi semakin tajam. Entah kenapa aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Benarkah? Tapi kelihatanya kalian memang sengaja kemari bersama.”

“I-Itu karena... orangtuaku ingin mengajak ayahnya untuk makan di rumahku. Jadi kami ditugaskan untuk berbelanja. Haha...”

“Ooh... orang tua kalian saling kenal rupanya.”

“Begitulah...”

Febri mengendurkan otot-otot wajahnya, kini wajahnya yang cantik kembali dihiasi senyum tipis. Sesaat kemudian ia tertawa kecil sembari memandangiku dengan Bella.

“Tapi ini benar-benar lucu melihat kalian bersama. Padahal kalau di kelas kalian selalu bertengkar. Apa jangan-jangan kalian mempunyai hubungan spesial di luar? Sepasang kekasih misalnya.”

“Nggak lah...!”

Tanpa sedetik pun jeda setelah ucapan Febri, aku dan Bella sama-sama melontarkan protes karena kami bukan sepasang kekasih. Memang kami sudah menikah, tapi kalau aku mengatakan itu jadinya pasti runyam.

“Mana mau aku berpacaran dengan pria menjijikan seperti ini!”

Ucap Bella dengan nada tinggi, bahkan karena suaranya beberapa orang jadi mengalihkan perhatian mereka pada kami.

Bella lalu memandangiku dengan tatapan merendahkan, sementara aku hanya bisa membuat raut kekesalan.

“Itu benar! Berpacaran dengan gadis sepertinya cuma akan membuatku sengsara.”

Mata Bella melebar. Lalu menyatukan kedua alisnya sementara ia mengepalkan tanganya. Dan dalam sedetik kemudian tinju itu sudah mendarat pada perutku.

“Ugh...!”

Kalau sebelumnya mungkin aku sudah berlutut meringis kesakitan. Tapi karena aku sudah terbiasa dengan rasa pukulanya, aku pun masih bisa mempertahankan keseimbanganku.

Bella lalu berbalik dan pergi meninggalkanku seraya membawa keranjang belanja yang penuh dengan bahan makanan. Aku ingin segera pergi mengejarnya, tapi ada satu hal yang harus kulakukan saat ini.

“Maaf, Febri! Bisakah kau merahasiakan ini? Anggap kita tak pernah bertemu di sini.”

Febri melempar senyum kepadaku.

“Tak masalah.”

Tanpa mengulur waktu lagi segera kulanjutkan langkah kakiku mengejar Bella yang menuju ke arah kasir.

“Bella, tunggu!”

“Mati saja kau, bodoh!!”

*****

Pukul 15.00

Aku sedang menaiki bus kota dalam perjalanan pulang selepas berbelanja di mall. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi hitam dan menurunkan uap air yang sudah menjadi titik-titik air. Kelihatanya hujan ini akan berlangsung lama jika dilihat dari intensitasnya yang nyicil.

Tapi yang menjadi perhatianku adalah gadis berambut oranye yang duduk di sebelahku. Sejak awal naik bus dia terus saja memandang ke arah luar. Dia sama sekali tak mau menatapku.

Tampaknya aku membuatnya marah lagi. Tapi kalau diingat-ingat dia marah setelah aku bilang jika bersamanya hanya akan membuat sengsara saja.

Apa dia marah hanya karena itu? Kami sudah sering saling melempar ejekan dan hinaan. Bahkan dia pernah melakukan yang lebih buruk dariku. Tapi kenapa kali ini dia marah?

Berapa kali pun aku memikirkanya tetap tak mendapatkan jawaban kecuali jika kutanya pada orangnya langsung. Tapi sepertinya Bella tak akan menjawab meski kutanyakan.

Jadi aku pun mengurungkan niatku dan mencoba mengabaikanya. Kalau dibiarkan sebentar juga dia akan kembali ke dirinya yang biasa.

Bus berjalan lambat dari perkiraanku. Mungkin karena mesinya yang sudah tua, atau jalanan yang licin, atau bisa juga karena penumpangnya kebanyakan. Yang jelas dengan kecepatan seperti ini tidak mungkin sampai ke rumah dalam waktu 30 menit. Kurasa aku akan coba memejamkan mataku sejenak.

*****

Awan yang membumbung di atas langit semakin menghitam setiap detiknya. Membawa lebih banyak air hujan untuk menyirami kota yang terlihat gersang. Bahkan suara petir terdengar menggelegar beberapa kali di angkasa.

Meski kucoba untuk tidur, tapi tak bisa. Bunyi hujan yang bergemericik serta suara deru mesin bus yang kencang membuat tidurku tak nyaman.

Sesaat kemudian aku merasakan tekanan pada bahuku. Rasanya seperti ditindih oleh sesuatu yang besar. Aku terperanjat kaget begitu menoleh. Bella tengah menyandarkan kepalanya pada bahuku. Entah kenapa dia sangat diam kali ini.

“H-Hei... apa yang kau lakukan?”

Niatnya aku ingin mendorong tubuhnya menjauhiku, tapi kuurungkan begitu melihat wajahnya yang tertidur pulas. Kupandangi Bella dari atas kepala hingga ujung kaki. Tubuhnya memang terlihat mungil, dan wajahnya... cantik bagai boneka.

Kusentuh tanganya yang ia simpan di atas pahanya. Lalu kupegangi jari telunjuknya seperti saat memegangi sedotan. Lembut. Halus. Dan juga... kecil. Saat menyentuhnya kukira aku sedang menggenggam tangan seorang bayi. Tapi itu milik Bella.

“Jarinya begitu kecil. Imut sekali!”

Jari itu bergetar saat kusentuh, lalu bergerak dan bersembunyi seakan takut padaku. Kelopak mata Bella yang semula tertutup, kini memandangku dalam-dalam.

“Apa yang kau lakukan?”

“E-Eh... tidak ada, kok.”

Aku sungguh kaget setengah mati. Kukira dia sedang tertidur pulas, tak kusangka ia akan terbangun karena kusentuh jarinya.

“Bohong! Tadi kau ingin menyentuhku, bukan? Apa jangan-jangan ucapanmu benar saat meraba-raba dadaku dalam bus?”

“Ya enggak, lah...!”

“Lalu, kenapa tadi kau menyentuh jariku?”

Aku terdiam seraya menelan ludahku sendiri. Bukan karena kehabisan kata-kata, tapi aku tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan.

“Aku bilang tidak ada, ya tidak ada!!”

Kupalingkan wajahku darinya dan mengacuhkanya. Berpikir alasan sebenarnya saat aku menyentuh jarinya. Apakah aku menyentuhnya karena murni keinginanku?

Beberapa saat kemudian kami berdua tiba di halte dekat dengan rumah kami. Karena hujan deras yang mengguyur kami tak bisa segera beranjak dari sini. Intensitas hujan yang turun sangat deras, dan sepertinya akan lama.

Bella memandang ke atas langit di mana bulu-bulu domba berwarna hitam beterbangan. Wajahnya yang terciprat air hujan terlihat sangat manis. Bahkan aku tak bisa berbohong saat jantungku mulai berdetak tak karuan.

“Sepertinya hujan akan lama. Aku akan coba membeli payung di toko kelontong itu. Jadi kau tunggu di sini!”

“Tunggu dulu, Sena!”

Tanpa menghiraukan perkataanya lagi aku segera berlari menuju toko kelontong yang ada di seberang jalan. Cuma beberapa detik saja, seluruh tubuh dan bajuku basah kuyup seperti habis berenang.

Aku masuk ke dalam toko kelontong itu. Sang penjaga toko yang melihatku kebasahan sepertinya sudah mengerti maksud tujuanku datang ke tokonya.

Ia pun segera menyerahkan sebuah payung yang sepertinya cukup hanya untuk satu orang berwarna merah jambu.

“Apa Anda tidak punya satu lagi?”

“Maaf, cuma itu satu-satunya yang tersisa.”

Sial! Sudah kebasahan begini cuma dapet satu payung, udah kecil, warnanya pink pula!

Aku segera menyerahkan uang pada sang penjaga toko itu. Kubuka payung itu, ini tak muat untuk dua orang.

Dengan cepat aku segera kembali ke halte tempat di mana Bella menunggu. Dia masih berdiri di sana dengan wajah cemas.

“Maaf, payungnya cuma ada satu!”

Kuserahkan payung yang kupegang ke dalam genggaman Bella. Dia tampak terkejut melihatnya.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Tak masalah, kau pakai saja ini! Maaf, tapi aku akan lari duluan ke rumah.”

Dengan terburu-buru aku segera berlari meninggalkan halte itu. Aku memang tidak enak meninggalkan Bella di belakang. Tapi setidaknya payung itu akan melindunginya dari hujan.

Sekarang yang harus kulakukan adalah berlari ke rumah secepat mungkin sebelum aku membeku kedinginan. Walau begitu aku tak bisa berlari dengan kecepatanku yang biasa. Jalanan sangat licin. Jika terpeleset akan sangat berbahaya.

Karena itulah aku memutuskan untuk berjalan. Dalam alunan melodi rintikan air hujan kudengar sesuatu yang lain. Terdengar berirama, tapi bukan suara dari alat musik.

“Asalnya dari belakangku!”

Kutengokan kepalaku kebelakang. Mataku terbelalak lebar tak percaya. Bella tengah berlari mengejarku. Tanpa payung yang menaunginya, seluruh tubuhnya basah kuyup sepertiku. Suara langkah kakinya lah yang menggerakan hatiku untuk berhenti.

“Kenapa kau tak memakai payung?”

Kunaikan nada bicaraku karena bunyi gemericik hujan akan meredam seluruh suaraku kalau aku bicara dengan biasa.

Rintikan air hujan menjatuhi kami berdua dengan gencarnya seolah kami hanyalah satu-satunya sasaran yang bisa diincar. Aku tak bisa melihat mata Bella karena tertutup poninya yang basah. Juga... dia menundukan kepalanya.

“Jangan meninggalkanku, dasar bodoh....!!!”

Suara Bella meningkat empat kali dari biasanya. Bahkan suaranya terdengar jelas olehku meski dikepung oleh bunyi hujan yang jatuh ke atas permukaan tanah.

“Hah...?! Padahal aku sudah memberikan payung itu untukmu agar kau tak kehujanan.”

“Tapi kau meninggalkanku!!!”

“Aku minta maaf. Tapi masalahnya—“

“Bodoh! Kau bodoh! Kau sungguh bodoh...!”

Bella tiba-tiba menengadahkan kepalanya untuk menatap mataku secara langsung. Aku tahu berdiri di bawah hujan deras ini akan membuat seluruh tubuh basah kuyup. Tapi aku merasakan yang lain di matanya.

Kukira itu hanyalah air hujan. Tapi yang mengalir dari matanya terlihat membawa kesedihan.

“Kau bilang... kau takkan pernah meninggalkanku sendiri. Apa itu bohong...!!!?”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya aku memang sudah lupa. Aku pernah mengatakan hal itu saat lari maraton. Tapi kenapa sekarang aku malah meninggalkanya?

Kuarahkan tanganku pada wajahnya, mengusap pipi yang dibasahi oleh kehangatan air mata yang mengalir.

“Maaf...! Aku benar-benar bodoh seperti katamu.”

“Lain kali jangan tinggalkan aku sendiri. Aku ketakutan...”

Kupandangi wajahnya. Matanya merah. Dan aku merasa sangat bersalah. Aku mengambil payung lipat yang digenggam oleh tanganya. Lalu membukanya hingga payung itu bisa menaungi kami berdua.

“Memang kecil, sih! Tapi setidaknya bisa melindungi kita dari hujan.”

Bella menganggukan kepalanya, lalu berjalan di sisiku. Ini pertama kalinya ia menangis di depanku.

Aku langsung tersadar. Sejak pertama kali aku dipaksa menikah dan tinggal bersamanya. Aku sudah melihat banyak sisi dirinya yang tak pernah kuketahui sebelumnya.

*****

Malam pun datang. Setelah aku membasuh badanku dengan air hangat, aku merasa segar kembali. Kupakai baju santaiku, mengeringkan rambut, dan segera pergi ke dapur. Berharap ingin segera memakan masakan Bella.

Tapi dia tak ada di sana.

Setelah kucari-cari ternyata dia tengah berbaring di atas sofa di ruang tamu. Aku pun bergegas untuk membangunkanya.

“Hoi, bangun! Cepat masakan aku sesuatu. Aku lapar, nih!”

Tak ada jawaban. Dia memejamkan matanya dengan rapat. Suara napasnya terdengar berat. Kesal karena tak meresponku. Aku pun langsung mengetuk dahinya guna membangunkanya pada kenyataan.

Tapi saat aku menyentuh kulitnya, aku tercengang. Suhu ini... bukan milik orang yang normal.

“Tidak mungkin! Kau terserang demam...!?”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
genji32 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
My Wife is My Enemy
29-01-2021 00:32
Watpad solusi terbaik
0 0
0
My Wife is My Enemy
24-01-2021 17:50
Update... Update... Biar gak kekenyangan kentang neh...
profile-picture
umanghorror memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lima-belas-menit
Stories from the Heart
curahan-hati-nonik-horror
Stories from the Heart
reborn-aku-memilih-bahagia
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
titip-rindu-buat-ayah-di-surga
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia