Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
6
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/600340f9f4d695109a6c468b/kumcer-2021-dan-ceritanya
dokpri, edit by canva Halo, assalamu'alaikum. Aku kembali lagi ke akun ini, setelah lama vakum. Kali ini, aku mau menuliskan tentang cerita di 2021. Tentang apakah itu? Silakan diikuti dan semoga enggak bikin enek kalian yang membacanya, ya *** Cerita 1: Januari dan Dukanya Halo, namaku Annisa Aqila. Terlahir dan dibesarkan dengan sejuta cinta oleh kedua orang tua, hingga membuatku tersiksa karena
Lapor Hansip
17-01-2021 02:39

Kumcer, 2021 dan Ceritanya

icon-verified-thread
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
dokpri, edit by canva

Halo, assalamu'alaikum. Aku kembali lagi ke akun ini, setelah lama vakum. Kali ini, aku mau menuliskan tentang cerita di 2021. Tentang apakah itu? Silakan diikuti dan semoga enggak bikin enek kalian yang membacanya, ya


***


Cerita 1: Januari dan Dukanya

Halo, namaku Annisa Aqila. Terlahir dan dibesarkan dengan sejuta cinta oleh kedua orang tua, hingga membuatku tersiksa karena sikap over protektif dari mereka. Aku tak bebas berteman dan bersosialisasi dengan anak seusiaku. Hal itu membuatku tidak memiliki sahabat hingga hari ini.

Terkadang, aku iri melihat orang lain bisa bermain bersama sahabat mereka, bersenda gurau bersama. Melewati hari dengan suka duka bersama. Berbeda denganku yang hanya tahu bersembunyi di dalam kamar dan berteman sepi, ponsel, dan buku. Kini, aku berusia 22 tahun dan sudah mengenal namanya jatuh cinta.

Ya, sebulan yang lalu, seorang lelaki datang hendak meminangku. Akan tetapi, Ayah dan Bunda menolaknya. Alasannya, lelaki itu belum memiliki tempat tinggal sendiri, meskipun ia telah bekerja. Orang tuaku pun belum ingin aku menikah di usia ini, mereka menginginkan aku menjadi seorang doktor terlebih dahulu, barulah boleh untuk menikah dan haruslah dengan lelaki yang juga memiliki pendidikan. Sayangnya, lelaki itu hanyalah lulusan SMA sederajat, ia tak selesai dengan kuliahnya. Ini lebih mempersulit keadaanku.

Saat itu, aku merasa kehilangan arah, sebab untuk menyelesaikan S1 saja, aku sudah merasa sangat kesulitan dengan kondisi kesehatan yang sering terganggu. Sakit kepala adalah hambatan utamanya.

Kupikir, setelah sebulan berlalu, semuanya akan kembali baik-baik saja. Namun, ternyata aku semakin kehilangan arah dan semakin tak ada gairah untuk menyelesaikan studi. Semua teman pun menjauhi. Aku semakin terpuruk.

Saat sedang jatuh sedalam ini, beberapa teman di dunia maya memberi semangat. Dan aku mulai belajar untuk bangkit lagi, memulai semuanya dari awal seorang diri. Sebab, lelaki itu pun pergi setelah mendapat penolakan dari orang tuaku. Hidupku terasa sepi.

Namun, lagi-lagi aku tak ingin terlalu larut dalam kesedihan ini. Apatah lagi saat aku melihat pemberitaan tentang pesawat yang jatuh, gempa bumi yang terjadi di provinsi tetangga dengan tempatku dibesarkan, hingga aku pun ikut merasakan guncangan tersebut, banjir dan longsor yang juga terjadi di beberapa daerah.

Hal ini seakan menamparku, bahwa bukan hanya aku yang memiliki masalah. Bahkan masalahku masih lebih kecil jika dibandingkan dengan mereka yang menjadi korban bencana. Hal itu menyadarkanku untuk menguatkan kembali tekad ini, menguatkan apa yang pernah rapuh, kembali bangkit dari rasa terpuruk, meski itu sulit.

Akan tetapi, aku percaya bahwa tak ada usaha yang sia-sia. Hari ini, aku sudah ikhlas dengan suratan takdir yang telah ditentukan untukku oleh-Nya. Bencana ini mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur dan introspeksi diri. Mungkin saja, Allah belum mempertemukanku dengan jodoh, tersebab masih banyak hal yang memang harus aku lakukan sendirian. Allah pun tahu, bahwa aku masih mampu untuk melewati ujian ini seorang diri.

Bencana tahun ini, mengingatkanku tentang bencana yang juga terjadi di negeri ini beberapa tahun lalu. Waktunya pun sama, penghujung Desember dan awal Januari. Merasa de javu dibuatnya. Namun, kali ini ujiannya berbeda.

Di tengah bencana, ada virus yang juga masih menghantui. Tetapi, kita sebagai makhluk-Nya, hanya bisa memasrahkan segalanya kepada-Nya, memohon petunjuk dan keselamatan hanya kepada-Nya.

Harapanku, semoga dengan ujian ini, kita bisa semakin mencintai diri dengan memperbanyak mengingat-Nya dan beribadah. Dunia ini semakin tua, dan kita tak tahu sampai kapan kita akan berada di dunia ini. Berhentilah merusak bumi ini, dan mulailah untuk merawatnya kembali.

***

Pikirku, Januari ini adalah awal baru untuk kehidupan baru setelah terluka di Desember. Nyatanya, semuanya tak sepenuhnya sembuh. Luka itu semakin bertambah dan tak tahu kapan ia akan pulih.

Luka fisik mungkin bisa mengering dengan cepat, tetapi luka batin tak semudah itu untuk disembuhkan. Tetapi, lagi-lagi aku harus belajar untuk mengikhlaskan. Luka ini tak seberapa dibandingkan luka mereka yang kehilangan sanak saudara dan kerabat karena terpisah maut. Perpisahan yang bahkan tak terduga, begitulah maut. Tak pernah ada yang menduganya.

Lagi-lagi, bencana yang terjadi kini, harusnya menjadi pengingat bagi kita yang sering lupa. Lupa untuk bersyukur dengan nikmat-Nya, lupa dengan hal indah yang pernah terjadi, hanya karena satu luka yang menutupinya.

Ah, jika saja Tuhan mengizinkanku untuk memiliki waktu lebih banyak lagi untuk menebus semua kesalahan yang pernah kulakukan. Aku ingin memulai kembali untuk berbenah diri, melupakan sejenak tentang luka yang pernah singgah. Menjadikannya satu cerita yang akan dikenang sebagai perjalanan hidup untuk dikisahkan pada anak-anakku kelak, jika Allah menghendaki aku memiliki jodoh dengan makhluk ciptaan-Nya di dunia ini. Semoga saja.

****


Sekian untuk kali ini. Jika ada yang bilang ini curhatan, terserah saja. Silakan berpendapat, toh tidak ada larangan untuk itu. Tetapi ingatlah untuk tetap menjaga jari agar tidak mengetikkan kata-kata 'kotor'.

Dan, tulisan ini tidak sepenuhnya fiksi, karena tentang bencana memang nyata adanya, bukan? Dan sedang terjadi sekarang. Semoga bencana yang terjadi bisa segera berakhir dan korban yang jatuh tidak semakin banyak. Aamiin.

Semoga ada yang bisa dipetik dari tulisan ini. Mohon maaf bila ada salah kata. Just remember for us, hanya untuk pengingat bagi kita semua.


Gowa, Januari 2021

Adiva Azzahra


Cerita 2: Terluka
Diubah oleh adivaazzahra
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
17-01-2021 02:40
Hanya pengingat
0 0
0
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
17-01-2021 02:41
Mari kita belajar ikhlas
0 0
0
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
17-01-2021 02:41
Dan belajar bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan.
0 0
0
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
17-01-2021 13:38
Ah, rindu dan ketidakrelaanku, membuatku hidup berjalan di masa lalu
profile-picture
adivaazzahra memberi reputasi
1 0
1
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
17-01-2021 14:45
nice banget.
profile-picture
adivaazzahra memberi reputasi
1 0
1
Kumcer, 2021 dan Ceritanya
06-02-2021 06:59

Cerita 2: Terluka

Setelah dua tahun menanti, kamu tiba-tiba datang memberi harap dan kembali hirap ditelan kegelapan. Aku tak tahu di mana letak salahku, hingga berkali-kali gagal dalam sebuah hubungan. Memang usiaku masih muda, tetapi aku juga kesepian dan butuh sosok yang mampu membimbing dan menemani hariku. Menghandirkan kehangatan dalam kesunyian.

Kamu ... setelah kegagalan hubungan kita, sebab tak ada restu dari orang tua kita. Sudikah kiranya kau tetap berjuang, memperjuangkan janji yang telah kau beri dua tahun lalu? Jika tidak, kuharap setelah kepergianmu yang kesekian kalinya ini, kau tak lagi menampakkan diri di hadapanku. Sebab, aku membenci seorang pecundang sepertimu.

Apa gunanya memberi harap, jika tujuanmu hanya untuk menambah luka. Apa bagusnya seorang lelaki, jika ucapannya tak bisa dipegang. Katamu, kamu ingin berjuang bersama, melewati rintangan yang menghadang. Nyatanya, hanya aku yang berjuang, lalu kau menghilang saat rintangan itu datang.

Bagaimana bisa aku percaya kau sanggup menghadapi ujian saat kita telah bersama, jika untuk mendapatkanku pun, kamu enggan berusaha dan berjuang. Mungkin inilah waktunya bagiku untuk menghilang, hirap dari pandanganmu. Menjauh adalah caraku menyembuhkan luka, dan kembali bangkit dari rasa sakit. Sulit? Tentu saja, tetapi aku yakin ... sebab ada Allah yang akan menjadi sandaranku, juga tempatku kembali dan berserah.

Waktu itu, kamu berkata, “Dek, aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku, dan aku tidak mau dijodohkan. Aku hanya ingin kamu yang menjadi pendamping hidupku, menemaniku berjuang hingga aku berhasil nanti.”

Saat mengatakan itu, aku mendengarmu seperti orang yang sangat putus asa dan sepertinya kamu juga menangis. Namun, saat aku memastikan, kamu berkilah dan berkata tidak.

“Kak, kok kamu kayak nangis? Apa terlalu berat mengikuti keinginan orang tuamu?” tanyaku waktu itu.

“Ya, aku tak mengenal wanita itu, aku hanya ingin kamu. Tetapi orang tuaku marah karena aku menolak perjodohan ini.”

“Sudah istikharah? Sudah minta petunjuk sama Allah?” tanyaku lagi.

“Sudah, dan aku sudah yakin untuk menolaknya. Orang tuaku marah, karena dulu aku sudah menerima perjodohan, lalu sekarang aku tidak yakin untuk menerima dan sangat yakin untuk menolaknya.”

“Enggak kenal, bukan berarti tidak bisa. Kakak bisa mengenalnya nanti.”

“Enggak, aku cuma mau kamu, siapkah kamu berjuang denganku? Jika iya, nanti aku beli keperluan untuk melamarmu.”

“Tunggu, aku akan meminta pendapat orang tuaku dulu, juga beri aku waktu untuk istikharah. Beri aku waktu 3 hari saja.”

“Baiklah, aku tunggu kabarnya. Secepatnya beri aku kabar.”

Itulah percakapan terpanjang kita waktu itu, ya meskipun hanya beberapa menit saja. Lalu kamu kembali menghilang, dan aku merasa dipermainkan olehmu.

***

Selama dua tahun ini, siklus kita hanya berada pada perkenalan, pertemuan, menghilang, berjarak, lalu kembali saling sapa, dan menghilang lagi setelahnya. Tak ada yang benar-benar istimewa dari pertemuan kita, dan mungkin akan selamanya seperti itu.

Aku dan kamu, mungkin takkan pernah menjadi kita. Jika kamu masih seperti itu, masih bersikap sebagai seorang pecundang, bukan pejuang.

Jika suatu hari nanti aku menemukan titik terlelahku, maafkan jika aku memilih untuk menyerah memperjuangkanmu, memintamu pada Dia yang memiliki kendali atas hidup kita. Jangan pula menyesal dan menyalahkan pilihanku. Sebab hatiku bukan baja yang akan selalu kuat saat merasa dipermainkan. Saat merasa kecewa atas sikapmu yang tak kunjung menemui keyakinan, dan selalu dipenuhi ragu juga takut untuk melangkah.

Aku tidak sedang membicarakan perihal kamu si pemberani atau si penakut dalam sebuah perkelahian di lapangan, sebab aku tahu bahwa pekerjaanmu pun sangat menantang dan nyawa yang akan menjadi taruhannya. Namun, hal yang kubicarakan adalah bagaimana keberanianmu untuk mempertanggungjawabkan janji dan komitmen yang selalu kauucap. Tentang bagaimana keberanianmu untuk berusaha datang dan menemui kedua orang tuaku. Sebab, yang kubutuhkan bukan janji manis, tetapi tindakan secara nyata tentang apa yang berani kauucap.

Seseorang pernah berkata kepadaku, "Seorang lelaki sejati itu, ialah dia yang bisa dipegang segala ucapannya." Lalu, adakah kau mampu membuat aku yakin dengan ucapanmu? Selama ini, aku hanya menemui janji darimu dan kau lupa setelahnya.

Aku masih mengingat berapa banyak kalimat yang terlontar dari lisanmu untukku. Berapa banyak janji yang telah kauucap untuk membuatku yakin dan tidak untuk berpaling. Namun, ucapanmu hanya sekadar lewat, tidak ada yang benar-benar kau tepati. Dan saat ini, aku sudah sangat lelah untuk menanti. Menantimu menjadikan setiap ucapanmu menjadi sesuatu yang nyata dalam hidupku, menjadi kenangan terindah yang selalu kuimpikan darimu sejak dua tahun yang lalu.

Mungkin inilah akhir dari penantianku. Aku ... memilih untuk berhenti dan tak lagi berharap untukmu. Aku akan menghilang sebagaimana kau menghilang dari jangkauanku waktu itu. Jika kau memang benar-benar mencintaiku, kau akan mencari dan menemukanku, bagaimanapun caranya. Namun, jika kelak yang menemukanku justru orang lain, maka sudah kupastikan, bahwa kamu memang hanya ingin bermain-main.

Adiva Azzahra,
Gowa, 6 Februari 2021


Diubah oleh adivaazzahra
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
aku-mencintai-bandot-tua
Heart to Heart
apakah-ini-cinta
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia