Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2248
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ff0ff9baf7e93596a37e7e4/wulan-dendam-kesumat-dari-masa-silam
"Ada apa gerangan sampai Eyang mendatangiku? Bukankah malam purnama masih beberapa hari lagi?" "Aku datang bukan untuk menagih janji, tapi untuk mengajukan sebuah penawaran!" "Penawaran?" "Kau ingin harta lebih banyak lagi?" "Eh, tentu saja, Eyang." "Bagus! Aku menginginkan anak istimewa itu untuk tumbalku di malam purnama kali ini!" "Anak istimewa?" "Kau pasti tau yang kumaksud!" "Eh, tap
Lapor Hansip
03-01-2021 06:19

WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]

Past Hot Thread
icon-verified-thread



warning



Part 1:
Wulan Si Gadis Bengal



Intro



Gadis kecil itu berjalan berjingkat jingkat sambil bersenandung pelan. Rambut kepang duanya bergoyang goyang, mengikuti irama langkah kakinya. Begitu juga dengan tas selempang yang tergantung di pundaknya. Wajahnya terlihat sangat ceria, meski sengatan sinar matahari musim kemarau membakar kulitnya. Keringat membanjir di sekujur tubuhnya, membasahi seragam putih merah yang dikenakannya.

"Maaakkk!!! Wulan pulaaaannnggg ...!!!" seru gadis itu saat memasuki pintu sebuah pondok kayu sederhana di tengah ladang singkong itu.

"Wulan! Kebiasaan kamu ya! Pulang sekolah bukannya mengucap salam malah teriak teriak begitu," terdengar seruan sang ibu dari arah dapur.

"Hehe, lupa Mak!" gadis itu tertawa, melemparkan tas sekolahnya ke atas kursi, lalu menyambar sepotong tempe goreng yang terhidang di atas meja dan mengunyahnya dengan rakus. "Lapar Mak!"

"Wulan! Bukannya ganti baju dulu,..." Romlah, emak dari si gadis kecil itu muncul dari arah dapur. "Dan kenapa bajumu lecek begitu? Kamu berantem lagi di sekolah?"

"Enggak Mak," jawab Wulan seenaknya, sambil duduk di kursi dan melepas sepatunya.

"Jangan bohong sama Emak!" seru Romlah lagi sambil meletakkan sepanci sayur yang dibawanya diatas meja.

"Iya iya," lagi lagi gadis itu menjawab sekenanya. "Tapi bukan Wulan yang bikin masalah Mak. Mereka duluan yang menganggu Wulan."

"Wulan, kamu ini anak perempuan lho nduk," Romlah menatap sang anak sambil menggeleng gelengkan kepalanya. "Mbok ya jangan suka berkelahi gitu. Ini sudah yang kelima kalinya lho, kamu berantem di sekolah."

"Mereka duluan yang mulai Mak," gadis kecil itu masih tetap membela diri. "Masa Wulan diam saja kalau mereka berani mendorong dan menjambak rambut Wulan."

"Ada saja alasan kamu!" Romlah ikut duduk disamping anak gadisnya itu. "Pokoknya emak nggak suka kalau kamu suka berantem gitu. Sudah empat kali lho, bapakmu dipanggil ke sekolah gara gara kamu. Apa kamu ndak kasihan? Kali ini sama siapa lagi kamu berantem?"

"Tomy Mak," sahut anak itu sambil melepas baju seragamnya dan menggantinya dengan kaos oblong dan celana pendek sebatas lutut.

"Tomy anaknya Pak Darsa?" Romlah mengernyitkan keningnya.

"Iya kali," sahut anak itu singkat. Seolah tak memperdulikan kecemasan sang emak, gadis kecil itu justru segera bangkit dan meraih piring, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang telah terhidang di atas meja.

Piring berukuran besar itu nyaris tak muat menampung semua makanan yang diambil oleh si gadis kecil itu. Sambil duduk dan mengangkat sebelah kakinya keatas kursi, gadis kecil itu makan dengan lahapnya.

"Wulan! Yang sopan kalau makan!" lagi lagi Romlah menghardik anak semata wayangnya itu.

"Hehe, iya. Maaf Mak," gadis itu terkekeh dan segera menurunkan kakinya.

Lagi lagi Romlah hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah anak semata wayangnya itu.

****

"Wulaaannn...!!! Main yuk!" sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari luar pondok. Wulan segera menjejalkan suapan terakhir kedalam mulutnya, meletakkan piring yang kini telah kosong, lalu mengelap tangannya dengan ujung kaos yang dipakainya.

"Mak! Wulan main ya," lagi lagi gadis kecil itu berteriak kepada emaknya yang masih sibuk di dapur.

"Wulan! Mau ..., Astaghfirullahhaladziiiimmmm...!" Romlah kembali hanya bisa geleng geleng kepala saat menyadari bayangan sang anak telah lenyap entah kemana.

"Jangan jauh jauh mainnya! Dan jangan bermain di dekat kali!" entah teriakan Romlah kali ini masih didengar atau tidak oleh Wulan, karena gadis kecil itu kini telah berada diluar pondok.

"Lan, main yuk," seorang anak laki laki berbadan gempal telah duduk di bangku kayu yang ada di teras pondok itu.

"Main kemana? Masih panas gini, males aku!" gadis itu ikut duduk disebelah si anak laki laki.

"Kerumahku saja. Aku punya mainan baru, baru dibelikan sama emakku kemarin," kata Lintang, si anak laki laki bertubuh gempal itu.

"Males ah, emakmu galak! Aku ndak suka main kerumahmu. Mending kita main ke kali Salahan saja. Panas panas gini kan enak mandi di kali sambil nyari ikan," kata gadis cilik itu.

"Eh, tapi kan emakmu tadi bilang ...."

"Alaaahhh, ndak usah di dengerin. Toh emak juga ga bakalan tau kalau kita main di kali. Berangkat yuk, keburu sore," gadis kecil itu melompat turun dari bangku bambu yang didudukinya, lalu dengan riangnya ia berjalan berjingkat jingkat meninggalkan Lintang. Lintang hanya geleng geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Wulan memang anak yang lincah. Lihat saja cara berjalannya, berjingkat jingkat begitu, setengah berlari setengah melompat lompat.

"Pelan pelan dong jalannya," seru Lintang sambil mengikuti langkah Wulan. Gadis itupun menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap ke arah Lintang dengan mata melebar galak.

"Hey, kamu ngapain? Kamu ndak boleh ikut! Aku ndak mau main sama kamu! Kamu jorok! Badanmu bau! Wajahmu jelek! Dan kamu telanjang gitu! Jijik aku melihatmu!" suara Wulan yang meninggi itu sukses membuat Lintang juga menghentikan langkahnya.

"Eh, kenapa ...."

"Bukan kamu Lintaanngg, tapi dia!" Wulan menunjuk kearah belakang Lintang, lalu mengambil sebongkah batu berukuran sekepalan tangan yang tergeletak di pinggir jalan. "Pergi nggak? Kulempar pakai batu nih kalau nggak mau pergi!"

Ah, pasti anak itu melihat sesuatu yang aneh lagi, batin Lintang sambil mengusap tengkuknya yang tiba tiba merinding. Bukan sekali dua kali Wulan bertingkah aneh begitu. Kalau bukan Lintang, pasti sudah berpikir kalau gadis kecil itu tak waras. Tapi Lintang sudah paham. Sahabatnya yang satu ini memang bukan anak yang biasa biasa saja. Dia istimewa.

"Yuk, kita jalan lagi. Anak aneh itu sudah pergi," Wulan membuang batu yang dipegangnya, lalu kembali melangkah dengan cara berjalannya yang unik.

Lagi lagi Lintang hanya bisa geleng geleng kepala sambil mengikuti langkah gadis kecil itu, menyusuri jalanan berbatu yang berdebu itu menuju ke arah utara.

Tak lama, keduanya sudah asyik bermain main di kali kecil itu, tanpa memperdulikan orang orang yang memperhatikan mereka. Kalau bukan Wulan, pasti orang orang itu sudah mengusir jauh jauh siapapun yang berani datang ke kali itu di siang hari bolong. Bukan karena tak suka, tapi justru karena mereka peduli. Kali kecil itu sudah sangat terkenal dengan keangkerannya. Ada waktu waktu tertentu yang dianggap pamali untuk datang ke kali itu. Salah satunya disaat tepat tengah hari seperti sekarang ini. Namun orang orang itu tahu siapa Wulan. Jadi mereka mengacuhkannya begitu saja saat Wulan asyik bermain di kali kecil yang terkenal angker itu. Wulan lebih angker daripada dedhemit penghuni kali itu, begitu sering orang orang berseloroh.

Sedang asyik asyiknya kedua anak itu bermain di kali, datang segerombolan anak laki laki yang sepertinya ingin bermain bola di areal sawah yang mengering di pinggir kali itu. Melihat Wulan yang bermain di kali, muncul sifat usil dari anak anak itu.

"Eh, lihat, ada si nenek sihir sama kacungnya lagi berendam di kali," celetuk salah seorang dari anak itu. Anak anak lainnya menyambut celetukan itu dengan tawa berderai, membuat telinga Wulan panas seketika.

"Hei, siapa yang kau sebut nenek sihir?!" gadis kecil itu bertolak pinggang.

Huuuuu ...!!! Takuuuuuttttt ...!!! Ada yang marah nih sepertinya!" seru anak itu lagi, membuat telinga Wulan semakin panas.

"Sialan!" Wulan meradang. Dengan cepat gadis itu melompat naik keatas tanggul sungai, lalu menghampiri gerombolan anak laki laki itu. "Coba kaubilang sekali lagi, siapa yang nenek sihir dan siapa yang jadi kacung?!"

"Wulan! Tunggu!" Lintang dengan susah payah mencoba melerai pertengkaran itu.

"Wah, si kacung membela tuannya nih."

"Kacung katamu?!" Wulan semakin meradang. "Nggak pernah ngaca kamu ya? Siapa yang pantas disebut kacung? Nggak sadar kalau kamu sendiri lebih mirip kacung. Sudah wajah item kayak pantat kuali. Pasti pantatmu lebih item lagi, lebih item daripada pantat wajan gosong!"

"Eh, nenek sihir! Berani kamu ...!"

"Plak!!!" ucapan anak laki itu terhenti saat dengan tiba tiba tangan Wulan terayun menampar wajahnya.

"Berani kau menamparku?!" bentak anak itu, sambil mengusap usap pipinya pipinya yang memerah.

"Kenapa enggak? Jangankan menamparmu, menghajarmu sampai babak belurpun aku berani!" sentak Wulan, sambil tetap berkacak pinggang.

"Brengsek!!!" anak laki laki itu meradang. Tangannya terjulur, mencoba meraih rambut ekor kuda milik Wulan. Namun ia kalah gesit. Tangan Wulan segera menyambar dan memelintir tangan anak itu, membuat anak itu menjerit kesakitan.

"Aawwww ...!!!"

"Mau aku patahin tanganmu hah?!"

"Wulaaannn ...!!!"

"Hei hei, ada apa ini? Kenapa pada berkelahi hah?" sebuah sepeda motor yang kebetulan melintas berhenti di dekat mereka. Pengendaranya turun dan segera melerai yang sedang berkelahi.

Wulan melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan anak itu, lalu mendorong tubuh si anak laki laki itu sampai jatuh tersungkur.

"Dia yang mulai Pak!" dengus Wulan sambil menunjuk wajah anak itu.

"Sudah sudah! Bubar! Nggak malu kalian berantem sama anak perempuan?!" bentak bapak bapak itu. Gerombolan anak laki laki itu segera bubar. Sedang Wulan masih menatap mereka dengan pandangan garang.

"Pengecut!" desis Wulan, masih sambil bertolak pinggang.

"Sudah Lan, kita pulang saja yuk," ajak Lintang. "Terima kasih ya Pak, sudah dipisahin. Kalau enggak ...."

"Iya. Lain kali jangan diulangi lagi ya. Nggak baik berantem gitu, apalagi sama teman sendiri," ujar laki laki itu. "Oh ya, kamu Wulan kan? Anaknya Pak Joko yang tinggal diatas tanjakan sana?"

"Darimana bapak tahu?" tanya Wulan heran.

"Hahaha, siapa yang tak mengenal cucunya mbah Kendhil yang tersohor itu. Sebentar, aku punya sesuatu buat kalian," laki laki itu mengambil bungkusan kantong plastik yang tergantung di stang motornya.

"Ini untuk kalian." laki laki itu menyodorkan bungkusan plastik di tangannya, yang segera disambut oleh Lintang.

"Apa ini Pak?" Lintang buru buru menerima bungkusan itu dan mengintip isinya. "Wah, ayam panggang! Terima kasih banyak ya Pak."

"Iya. Ya sudah, kalian pulang saja sana. Nanti disini malah berantem lagi sama mereka," ujar laki laki itu sambil menyalakan mesin motornya.

"Kenapa kau ambil makanan itu? Kita kan tidak kenal sama orang itu?!" tegur Wulan saat mereka berjalan pulang.

"Rejeki nggak boleh ditolak Lan. Kapan lagi bisa makan ayam panggang secara cuma cuma," jawab Lintang.

"Huuuuu ...! Dasar gembul! Kalau lihat makanan enak, matanya langsung ijo!" sungut Wulan, yang disambut dengan tawa terkekeh oleh Lintang.

*****
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wilm4hope dan 139 lainnya memberi reputasi
136
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 22
Lihat 28 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 28 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 06:20

Part 2 : Bu Ratih, Guru Muda Nan Bijaksana

Bu Ratih menghenyakkan pantatnya diatas kursi. Guru muda itu menghela nafas sejenak, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wajahnya sedikit mendongak, dengan kelopak mata terpejam. Bagian belakang kepalanya terasa sedikit berdenyut, menahan rasa pening yang tiba tiba menyerang.

Ah, kenapa harus aku? Batinnya mendesah. Baru beberapa menit yang lalu ia menghadap Pak Slamet, Kepala Sekolah di Sekolah Dasar tempat ia mengabdi itu. Bu Ratih sudah menduga, bahwa ia dipanggil sehubungan dengan keributan kecil yang baru saja terjadi di gerbang sekolah tadi. Memang, sumber keributan itu adalah salah satu murid yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi ia tak habis mengerti, kenapa Pak Slamet memberikan tugas itu padanya. Tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab Bu Anna, guru pembimbing di sekolah itu.

"Wulan anak yang istimewa Bu, jadi harus ditangani oleh orang yang istimewa juga. Lagipula ia murid Bu Ratih bukan?" demikian alasan Pak Slamet tadi.

Ia tak habis mengerti dengan alasan Kepala Sekolah itu. Apanya yang istimewa? Ia memang sedikit memiliki kelebihan. Tapi kelebihan itu tak ada sangkut pautnya dengan profesinya sebagai tenaga pendidik. Dan anak bernama Wulan itu, anak itu lebih tepat disebut mengerikan daripada istimewa.

Pelan guru muda itu menegakkan punggungnya. Sebelah tangannya membuka sebuah map yang tadi diberikan oleh Pak Slamet. Sedang tangan sebelahnya lagi meraih kacamata minus yang tergelerak diatas meja, lalu mengenakannya. Ia semakin terlihat cantk jika mengenakan kacamata, begitu kata orang orang. Bu Ratih sendiri tidak pernah menyadarinya. Ia memakai kacamata bukan semata mata karena ingin tampil cantik, melainkan karena matanya memang sedikit mengalami kelainan.

Dari balik lensa, mata guru muda itu mulai sibuk menelusuri kata demi kata yang tertulis diatas kertas itu. Wulan, Ratih Wulansari, nama depan anak itu sama persis dengan namanya. Anak berusia sebelas tahun itu memang salah satu murid di kelasnya. Lahir tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, orang tua bla bla bla, empat kali terpaksa harus pindah sekolah karena kasus yang hampir sama. Kasus yang sama juga dengan yang tadi terjadi di gerbang sekolah. Bertengkar dengan sesama siswa, hingga melukai dan bahkan diduga secara tidak langsung ia menyebabkan teman bertengkarnya itu .... meninggal!

Bu Ratih mengerutkan dahinya saat membaca kata yang terakhir itu. Rasanya terlalu berlebihan jika seorang anak perempuan berusia dibawah sepuluh tahun disebut sebagai pembunuh.

Kasus pertama, guru muda itu melanjutkan membaca. Terjadi satu setengah tahun yang lalu. Wulan terlibat percekcokan dengan teman sekelasnya, hanya karena masalah sepele. Saling meledak dan berujung dengan pertengkaran. Kenakalan khas anak seusianya. Sampai akhirnya Wulan kehilangan kendali dan meneriakkan kata kata kutukan.

Kutukan? Kembali dahi Bu Ratih berkerut. Siapa yang menulis laporan dengan kata kata ngawur seperti ini?

"Mudah mudahan perutmu robek dan habis dimakan belatung!" demikian kata kata yang diucapkan Wulan saat itu, saat ia mengetahui bahwa salah seorang teman sekelasnya menyembunyikan bekal makan siang miliknya.

Entah kebetulan atau bagaimana, dua hari kemudian ucapan Wulan itu benar benar menjadi kenyataan. Rudi, anak yang disumpahi Wulan itu mengalami kecelakaan tragis. Ia terjatuh saat sedang memanjat pohon mangga milik tetangganya. Lagi lagi kenakalan khas anak kecil, mencuri mangga milik tetangga.

Sebenarnya tidak terlalu tinggi anak itu memanjat, dan secara logika kalaupun sampai jatuh tak akan berakibat fatal. Namun sepertinya Rudi salah memilih lokasi untuk mendaratkan tubuhnya. Pohon mangga yang dipanjatnya itu tumbuh persis di sebelah pagar besi yang memiliki ujung ujung yang runcing. Saat terjatuh, bagian perutnya tersangkut diujung pagar yang runcing itu, dan ....

Bu Ratih tak berani melanjutkan membaca. Sampai di kalimat itu, ia jadi paham kenapa Wulan sampai dibilang mengucapkan kata kata kutukan. Guru muda itu mengusap tengkuknya yang tiba tiba meremang. Segera dibaliknya kertas di tangannya itu. Kasus berikutnya, hampir sama, namun terjadi di sekolah yang berbeda. Pertengkaran kecil berubah menjadi sumpah serapah, yang diakhiri dengan meninggalnya salah seorang siswa karena tercebur kedalam kolam ikan, beberapa hari setelah pertengkaran itu. Anak itu tak bisa berenang. Dan saat ditemukan mayatnya sudah membengkak, sama persis seperti sumpah serapah yang diucapkan Wulan saat mereka bertengkar beberapa hari sebelumnya. Begitu juga kasus yang ketiga dan keempat. Semuanya melibatkan pertengkaran, sumpah serapah, dan diakhiri dengan melayangnya satu nyawa anak manusia.

Ditambah dengan kejadian di gerbang sekolah tadi, total sudah lima kasus yang dikantongi anak bernama Wulan ini. Meski di kejadian kali ini, Wulan tak sempat mengucapkan kata kata 'kutukan.' Seorang anak laki laki bernama Lintang berhasil membekap mulutnya, sebelum gadis kecil itu benar benar meradang.

Lintang? Bukan anak laki laki itu yang tadi bermasalah dengan Wulan. Ia justru teman dekat Wulan, bahkan bisa dibilang kalau Lintang ini satu satunya teman yang dimiliki oleh Wulan. Lalu kenapa?

Bu Ratih berpikir keras, dan satu kesimpulanpun ia dapat. Lintang teman dekat Wulan, sudah pasti ia paham betul soal tabiat Wulan. Tapi, apakah ia juga paham dengan kata kata 'kutukan' milik Wulan, sehingga dengan sigap ia segera membekap mulut Wulan sebelum kutukan itu terlanjur diucapkan?

Kutukan. Kutulan. Kutukan. Bu Ratih menggeleng pelan. Ia berusaha membuang jauh jauh kata kata itu. Sebagai seorang tenaga pendidik, ia harus bisa berpikir logis. Ia tak boleh terpancing rumor yang tak bisa dipertanggungjawabkan itu. Namun semakin ia berusaha mengesampingkan kata kata itu, justru ia semakin yakin, bahwa kata kata itu bukan sekedat rumor belaka. Otaknya berpikir untuk menolak, tapi hati nuraninya justru semakin meyakini. Mungkin ini yang dimaksud keistimewaan oleh Pak Slamet tadi.

Kembali guru muda itu melepas kacamatanya, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Pelan dipijitnya pangkal hidungnya, sekedar untuk mengurangi rasa pening yang tiba tiba datang menyerang.

Aku seorang guru. Tugasku mengajar dan mendidik semua anak murid yang menjadi tanggung jawabku. Pun jika ada anak muridku yang terlibat masalah, aku harus menuntunnya untuk kembali ke jalan yang benar. Ini semua harus segera diakhiri. Anak bernama Wulan itu butuh bimbingan, bukan hukuman, batin guru muda itu.

"Belum pulang Bu?" sebuah suara mengejutkan guru muda itu. Suara khas yang sangat dikenalnya, membuat Bu Ratih segera memperbaiki posisi duduknya.

"Eh, sebentar lagi Pak," gugup Bu Ratih menjawab, sambil menoleh kearah pintu, tempat dimana Pak Slamet berdiri menatapnya.

"Mau saya antar?" ujar laki laki itu lagi.

"Ah, terimakasih Pak. Tapi sepertinya tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri, dan ..., masih ada sedikit tugas yang harus saya selesaikan," tolak Bu Ratih sopan.

"Ya sudah kalau begitu, saya pulang duluan ya," ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Pak Slamet saat mengucapkan kalimat itu. Bu Ratih bukannya tak tahu. Tapi ia pura pura tidak tahu. Biar bagaimanapun, ia tak ingin ada rumor tak sedap menyebar tentang dirinya. Pak Slamet masih lajang, meski usianya sudah tak lagi muda. Sedangkan dirinya, sampai saat ini juga masih sendiri. Jika orang melihat ia sering bersama laki laki itu, maka mulut mulut usil pasti akan segera sibuk memberikan komentar miring.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
axxis2sixx dan 62 lainnya memberi reputasi
62 1
61
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 06:20

Part 3 : Pak Darsa, Orang Terkaya Se-Kecamatan

Joko baru saja pulang dari ladang, saat sepeda motor itu berbelok memasuki halaman pondoknya. Pengemudinya turun, lalu bergegas menghampirinya.

"Pak Darsa?" gumam Joko lirih. Ia kenal betul dengan laki laki berpakaian necis itu. Orang terkaya sekecamatan, tengkulak yang biasa membeli hasil panen para warga.

"Dimana anakmu?" tanya laki laki berpakaian necis itu tanpa basa basi.

"Eh, ada perlu apa ya Pak mencari anak saya?" Joko meletakkan cangkulnya, lalu mempersilahkan tamunya duduk.

"Saya mau minta ganti rugi," kata laki laki itu ketus.

"Ganti rugi?" tanya Joko heran.

"Anakmu memukuli anak saya tadi di sekolah. Sampai babak belur. Kakinya lecet lecet, dahinya benjol, dan pergelangan tangannya terkilir! Saya nggak mau tau, saya minta ganti rugi untuk biaya pengobatan!" laki laki itu menyebutkan nominal angka rupiah yang lumayan besar.

"Sebanyak itu ya Pak?" Joko menelan ludah. Pahit. Lagi lagi Wulan bikin ulah. Dan dia sebagai orang tua yang harus menanggung akibatnya.

" Kau pikir biaya berobat ke dokter murah? Mahal! Tapi pantas kalau orang kampung seperti kalian tidak tahu. Biasa berobat ke dukun sih. Pokoknya saya minta ganti rugi. Kalau tidak, urusannya akan jadi panjang. Saya bisa ...."

"Baik Pak," potong Joko cepat. Ia tak mau lagi mendengar kata kata orang kaya yang sombong itu. Terlalu pedas dan menyakitkan. "Tunggu sebentar, biar saya ambilkan uangnya."

Joko segera masuk kedalam bilik, dimana Romlah istrinya, ternyata sedang menguping pembicaraannya tadi.

"Bang," bisik Romlah saat Joko membuka lemari dan mengambil beberapa lembar uang simpanan mereka. "Abang percaya dengan laki laki itu? Dia bohong Bang. Aku lihat sendiri tadi, anaknya sehat wal afiat. Jangankan luka, lecetpun ia tidak. Dan Abang akan memberikan uang kita begitu saja pasa laki laki itu?"

"Tak apa," Joko tersenyum menatap sang istri. "Uang bisa dicari lagi. Abang cuma tak mau ribut dengan orang itu."

Romlah memberengut. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Perempuan itu tahu betul sifat sang suami. Ia hanya bisa pasrah melihat punggung sang suami yang melangkah keluar dari bilik.

"Ini Pak, sesuai dengan yang bapak minta," Joko memberikan lembaran lembaran uang itu kepada tamunya. Pak Darsa segera menghitungnya, lalu memasukkan kedalam saku rompi kulit yang dikenakannya.

"Ingat, didik baik baik anakmu itu, jangan sampai mencelakai anak orang lagi. Anak perempuan kok sukanya berantem!" tanpa permisi apalagi berterimakasih, laki laki itu langsung pergi dengan langkah yang angkuh.

"Pembohong!" sungut Romlah yang tiba tiba muncul dari dalam bilik.

Joko tersenyum kecut sambil menatap sang istri. "Biarkan sajalah, capek aku kalau harus lama lama meladeni orang seperti itu."

"Tapi uang kita Bang, teganya dia menipu kita. Orang tadi aku lihat anaknya sehat sehat saja kok. Bisa bisanya dia ..."

"Sudahlah, lebih baik kita kehilangan uang daripada harus meladeni orang licik seperti dia. Kamu tahu sendiri kan orang seperti apa dia. Lebih baik sekarang cepat siapkan makan. Aku sudah lapar nih."

Meski masih cemberut, toh Romlah akhirnya beranjak juga ke dapur, menyiapkan makan siang untuk sang suami yang sudah kelaparan karena semenjak pagi bekerja di ladang.

"Maaakkk ...!!! Wulan pulaaannngggg ...!!!" suara cempreng Wulan terdengar nyaring, disusul dengan kemunculan bocah itu diambang pintu.

"Darimana Lan? Kenapa bajumu basah kuyup begitu? Main di kali ya?" hardik Joko menyambut kedatangan sang anak.

"Hehe, iya Pak. Lihat nih, Wulan dapat ikan banyak," seru anak itu sambil menunjukkan serenteng ikan yang dibawanya.

"Ya sudah, kasih ikan itu ke emakmu, setelah itu ganti baju, dan makan bareng bapak," ujar Joko sambil tersenyum melihat tingkah sang anak. "Kamu juga ya Lintang, sekalian saja ikut makan disini."

"Eh, iya Pakdhe, terimakasih," Lintang tampak malu malu duduk di kursi yang ada di ruangan itu.

"Bawa apa itu?" tanya Joko melihat Lintang menenteng bungkusan plastik di tangannya.

"Ini pakdhe, tadi dikasih ayam panggang sama orang dijalan," jawab Lintang.

"Wah, baik betul orang itu, sampai ....," Joko tak melanjutkan kata katanya, karena dari arah dapur terdengar suara istrinya yang mengomel panjang pendek. Sepertinya perempuan itu sedang mengomeli anak semata wayang mereka.

"Romlah!" serunya.

"Iya Bang, sebentar!" sahut Romlah dari arah dapur.

"Eh, pak, barusan ada tamu ya?" tanya Wulan yang tiba tiba muncul dari arah dapur.

"Iya," sahut Joko pendek.

"Siapa tamunya Pak?"

"Pak Darsa."

"Siapa itu Pak Darsa?"

"Kamu nggak kenal Pak Darsa?"

Wulan menggeleng.

"Itu lho Lan, orang yang tadi ngasih ayam bakar ke kita," sahut Lintang.

"Owh," Wulan memonyongkan bibirnya. "Kata emak dia minta duit ya sama bapak, gara gara anaknya tadi berantem sama Wulan di sekolah?"

"Jadi benar, tadi kamu berantem di sekolah?" tanya Joko menyelidik.

"Wulan hanya membela diri Pak. Tomy itu jahat, sama kayak bapaknya." kilah Wulan.

"Kamu itu anak perempuan lho Lan, mbok jangan suka berkelahi begitu."

Wulan hanya nyengir mendengar nasehat sang bapak. Gadis itu justru mengalihkan perhatiannya kepada Lintang.

"Tang, kesinikan bungkusan itu," Wulan menyambar bungkusan plastik di tangan Lintang.

"Eh, tapi ...."

"Sudah sini," Wulan segera membuka bungkusan plastik berisi ayam panggang itu, lalu menyantap isinya dengan rakus. "Ayam panggang ini buatku saja ya, kamu makan ayam goreng yang dimasak emakku saja. Enak kok, lebih enak malah kalau dibandingkan dengan ayam panggang ini."

Lintang hanya bisa melongo, sambil melihat Wulan dengan rakusnya mengunyah ayam panggang itu sampai habis tak tersisa.

bersambung
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
axxis2sixx dan 58 lainnya memberi reputasi
59 0
59
Lihat 15 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 15 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 07:08
mantull.
ijin ndeprok disini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 07:53
Wah agan buat thread baru ternyata
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 08:00
Biar tidak di copas lagi gimana trik-nya Mas @indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 08:15
Galaknya Wulan mirip Si Mbahe
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 08:34
Tegal Salahan xxx
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 08:38
Yosssst
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 09:48
.....
Diubah oleh Sadhunter
profile-picture
profile-picture
profile-picture
garren007 dan 5 lainnya memberi reputasi
3 3
0
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 09:55
Thanks gan cerita barunya.. cendol meluncur...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 09:58
Mantap gan....lanjutken 😎👍
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 10:15
Wah udah ada yg baru yah......nyimak...
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 10:22
Waahhh anyar iki...melu ndeprok pinggir kali aahhh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 11:09
Waaah... Cerita horror...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 11:46
bagus sekali ini, wajib nik HT.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 13:13
Woooaaagghhh udh buka lapak baru aje....
Gw lemparin cendol jg lu gan....
Ape lo? Ape lo?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 13:19
Ninggal jejak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 16:17
Pasang tenda dulu.....
Di tread baru..emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WULAN [Dendam Kesumat Dari Masa Silam]
03-01-2021 18:20
fresh from open ya gan ditunggu updatenya sekalian👣👣 emoticon-Jempolemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 1 dari 22
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
irasional-love
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia