Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
13
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fc1cf040577a9709e670241/sfth-time-slip--si-tin
"Apa yang salah dengan naskahku?" Seorang perempuan berusia seikitar 20-an itu tampak kesal. Bagaimana tidak, ceritanya yang satu ini tidak diterima oleh ketua tim. "Salah? Tentu saja salah. Betapa membosankannya cerita seperti itazura dan playful kiss." Seseorang yang duduk di singgasananya itu, tampak emosi. "Apa yang salah? Itu yang diharapkan oleh pembaca. Gadis bodoh yang jatuh cinta dengan
Lapor Hansip
28-11-2020 11:16

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Past Hot Thread
icon-verified-thread
[SFTH] Time Slip : Si Tián
PROLOG


"Apa yang salah dengan naskahku?" Seorang perempuan berusia seikitar 20-an itu tampak kesal. Bagaimana tidak, ceritanya yang satu ini tidak diterima oleh ketua tim.

"Salah? Tentu saja salah. Betapa membosankannya cerita seperti itazura dan playful kiss." Seseorang yang duduk di singgasananya itu, tampak emosi.

"Apa yang salah? Itu yang diharapkan oleh pembaca. Gadis bodoh yang jatuh cinta dengan pria tampan dan dingin, kemudian, perjuangannya membuahkan hasil. Cintanya terbalas. Bagaimana?"

"Kau salah. Pria yang cerdas, pasti menyukai gadis yang cerdas pula."

"Kau tak akan mengerti!" Perempuan itu menggebrak meja dan kemudian pergi.

"Sepertinya aku terlalu memanjakannya sebagai penulis." Pria itu memijat keningnya.

"Pak, ada yang mencari di luar."

"Siapa?"

"Tián Tián ...?" Pegawai itu menggerakkan kedua tangannya seperti kucing. 

Pria itu segera berlari ke luar. Tak peduli dengan alas kaki yang masih sandal jepit. Ia turun dengan lift dan keluar gedung. Namun, nihil. Orang yang di cari tidak ada.

"Lama tak bertemu." Seorang perempuan menghampirinya. Ia sejak tadi menunggu di dalam dan melihat bagaimana pria itu mencarinya.

"Lama tak bertemu." Pria itu tampak kikuk.

"Bagaimana kalau kita cari tempat mengobrol?" 

"Tempat? Oh, ya!" Pria itu segera mengajak perempuan itu ke suatu tempat.

"Bagaimana kabarnya?"

"Heh?! Kabarnya? Bukankah seharusnya kamu tanya bagaimana kabarku?"

"Karena, kamu bisa berlari seperti tadi. Jadi tak ada masalah bukan?"

"Ada! Aku benar-benar rindu denganmu."

"Sayangnya aku tidak." Perempuan itu segera berdiri.

"Mau ke mana?" Suara berat itu membuat gadis itu terdiam. "Presdir dan direktur utama mendatangimu, tapi kamu tak menghiraukannya dan terus berlari. Jadi, kurasa ada orang yang lebih penting dari kami yang datang."

"Kapan kamu datang?" Seorang perempuan yang datang dengan pria itu menggandeng gadis yang hendak pergi tadi. "Kamu tidak boleh pergi. Kali ini, kamu harus bersama kami."

"Kata siapa dia bersama kalian!" Seorang perempuan yang tadi keluar dari kantor ketua tim dengan emosi, sekarang mendekati mereka. "Dia! Dia sahabatku! Tentu saja, dia akan bersamaku. Ayo!" 

Dua perempuan itu segera berlari. Mereka benar-benar bahagia, meski dulu ada masalah yang terjadi hingga tak bertegur sapa.

"Jadi ... kapan kamu masuk kembali ke dunia ini?"

"Kapan? Tentu saja, saat membuat sekuel tentang kalian. Buku pertamaku laris, berkat kalian."

"Tidak ... tidak. Itu karena mu sendiri. Kamu menulis tentang kami dengan susah payah. Jadi, kapan-kapan. Aku boleh melihat naskahmu?"

"Tentu saja. Karena, kamu adalah aku di sini."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
devote.labels dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
[SFTH] Time Slip : Si Tián
28-11-2020 12:08

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Datang ke Dunia baru


Setahun yang lalu. Detik-detik debut sebagai penulis. Amatlah pelik bagi Citra. Ia sudah melakukan segala cara. Namun, tak pernah terpikir baginya akan semenyedihkan ini.

Sebenarnya, bisa dibilang Citra termasuk dalam kalangan rebahan yang masih ditopang oleh orang tua di usianya yang 25 ini. Namun, meski dicaci dan dihina. Bahkan, sampai beradu mulut dengan keluarga besar. Dirinya tak mau melepaskan mimpinya itu. Bagaimana pun caranya ia ingin seperti penulis terkenal lainnya dan bertemu dengan mereka. Sebagai penggemar yang mengikuti jejak mereka dan bisa dibanggakan.

"Ceritamu terlalu membosankan." Sheila berkata dengan nada dingin. Itulah sahabatnya yang selalu berbicara jujur.

"Membosankan? Bukannya banyak kisah yang seperti ini dan laris manis?" Citra menatap sahabatnya dalam.

"Benar. Banyak dan laris. Tapi, untuk orang yang menemukan cerita seperti ini sekali-kali. Sedangkan aku sudah sering. Dan, satu lagi! Pria cerdas selalu jatuh cinta dengan perempuan cerdas.Ceritamu ini terlalu klise dan tak ada chemistry."

"Hufft! Kalau gitu aku harus gimana?"

"Pikirkan sendiri." Sheila segera berdiri dan meninggalkanku sendiri.

"Aku harus gimana?"

"Gimana apanya?" Suara berat itu membuat Citra terdiam. Seseorang yang sulit dia jangkau itu kini berdiri di hadapannya.

"Aku tidak bisa apa-apa lagi." Citra melempar naskah itu dan masuk ke tong sampah yang tak jauh dari sana.

"Kenapa dibuang?"

"Kamu tahu. Dulu sewaktu SMA aku berharap cintaku terbalas. Aku perempuan bodoh yang jatuh cinta dengan pria pintar dan tampan. Walaupun di dunia ini aku tidak mendapatkanmu. Setidaknya, dalam buku aku bisa bersamamu."

"Maaf. Aku serius. Aku membantumu belajar hingga jadi 20 besar, karena kita teman. Maaf juga, karena membuatmu salah paham."

"Tidak apa-apa. Dan, satu lagi! Bisakah kita tidak bertemu lagi hingga aku sendiri yang bisa menerima kenyataan dan bertemu denganmu?"

"Terserah apa katamu."

"Sayang!" Seorang perempuan berlari kecil. Dia adalah tokoh antagonis dalam hidup Citra.

Agnes namanya. Perempuan yang selalu membully dan merebut orang yang Citra sukai. Dan orang yang disukainya itu selalu melindunginya dari gadis barbar itu. Membuat semua orang salah paham.

"Citra?" Agnes menatap tajam gadis itu.

"Ehm ... aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu di lain waktu." Citra memilih pergi. Dia tak ingin bertarung dengan Agnes di tempat umum.

"Kamu benar-benar nggak ada rasa sama dia?"

"Menurutmu?" Pria itu segera mendekati tong tadi dan memungut naskah Citra.

"Apa itu?"

"Bukan, apa-apa." Pria itu jalan mendahului Agnes.

Di tempat lain. Citra masuk ke kamarnya dan memilih untuk tidur.

"Rina! Rina!" Suara orang berteriak dan, bahkan terasa goncangan pada tubuhnya itu, membuatnya terbangun.

"Kamu?!" Citra segera duduk, saat melihat siapa yang membangunkannya. Orang itu adalah dirinya sendiri. Bagaimana bisa.

"Rina? Kamu kenapa?" Satu orang perempuan lagi masuk dengan seragam SMA.

"Sheila? Tunggu! Kalian memanggilku apa tadi?"

"Rina." Gadis itu menyebutnya sekali lagi.

"Cermin? Cermin, mana cermin?!" Gadis itu segera memberikan cermin pada Citra. Betapa terkejutnya ia dengan wajah asing yang terpantul dalam cermin.

"Apa yang terjadi?" Citra bertanya dengan lirih.

"Kamu pingsan sewaktu upacara."

"Rina?!" Seorang pria datang dan berlari masuk. Ia segera memeluk Citra dan bertanya dengan paniknya.

"Pacarmu sudah datang. Kalau gitu, kami pergi."

"Pacar?" tanya Citra.

"Rin? Kamu tak apa 'kan? Masak kamu lupa denganku?"

"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak lupa." Citra segera memeluk pria yang di hadapannya itu.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
28-11-2020 12:58

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Bertemu dengan Pemeran Utama


Walaupun tak menerimanya. Citra mulai membiasakan diri menjadi Rina. Ia akan melakukan banyak kegiatan seperti yang dilakukan gadis itu. Mulai dari beladiri hingga hal lainnya.

"Bagaimana caranya untuk kembali?" Rina tampak frustasi.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Rina terdiam. Suara tokoh utama pria dalam ceritanya akhirnya muncul.

"Aku? Aku belajar. Memang ada yang salah?" Dia mendalami perannya. "Kudengar ada gadis bodoh yang menyatakan cintanya padamu."

"Bukan urusanmu." Pria itu mengambil tempat di hadapan Rina.

"Menurutmu, apa yang bisa kamu ambil dari penjajahan?"

"Banyak hal. Salah satunya persatuan."

"Oh ... ehm! Kamu sedang mengerjakan apa?" Rina tampak penasaran.

"Oh, ini soal matriks."

"Itu? Sini aku kasih tahu."

"Kamu tahu?"

"Tentu saja. Apa yang kamu ajarkan padaku akan langsung melekat." Rina berkata lirih, membuat siswa itu menatapnya dengan penuh tanya.

"Fik?" Rina mengetuk meja pelan, karena yang dipanggil tidak menjawab. Sedangkan, ia sendiri tak mau mengangkat wajahnya, karena canggung dengan tatapan itu.

"Kamu sudah selesai?"

"Ehm ... kalau kamu tidak butuh apa-apa, aku mau tidur." Rina pun merebahkan kepalanya di atas meja dan tertidur pulas hingga bel pulang.

"Kamu?!" Rina terkejut saat pria itu masih duduk di sana.

"Guru lagi pada rapat. Aku juga sudah minta izin, kalau kita akan belajar di sini."

"Lain kali tak perlu buat alasan." Rina segera berdiri dan pergi meninggalkan perpustakaan.

"Rina! Aku mencarimu ke mana-mana!" Seorang pria bernama Adli segera menghampiri gadis yang baru keluar dari perpustakaan.

"Kamu? Kamu belajar?"

"Kamu pikir? Tentu saja aku tidur." Rina berjalan duluan.

"Rin!" Rina segera berbalik mendengar suara itu.

"Alvico, kamu mau apa?" Adli menatap sengit.

"Dia meninggalkan tasnya di tempat penitipan."

"Makasih." Adli segera mengambil tas itu dan menarik Rina pergi.

"Jangan bilang kamu sama dia tadi? Kalau Citra tahu bagaimana?"

"Citra sahabatku dan kamu?! Kamu punyaku, bukan?!"

"Ehm ... aku punyamu."

Adli adalah pria otaku yang lemah dan berkaca mata. Nilainya selalu pas-pasan. Sangat bertolak belakang dengan RIna seorang ketua gang yang cukup terkenal di kota. Dan, cukup ditakuti.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
28-11-2020 16:10

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Menjaga Apa yang Harus Dijaga


Setelah dia terjun ke dunia novelnya sendiri. Citra ingin merubah Citra yang ada di sini. Di mana, karena sebuah dendam pribadi. Ia menggambarkan dirinya sebagai penjahat, meski hasilnya pemeran utama tetapa bersama Agnes. Agnes yang berbeda dari dunianya.

"Beraninya kamu!" Citra hendak menyiram air es-nya ke Agnes. Namun, di tahan oleh Rina.

"Jangan kotori tanganmu." Rina menyiram Agnes dengan airnya yang tak dingin sama sekali.

"Apa yang kalian lakukan?!" Vico datang dan menyelimuti Agnes dengan almamaternya. Sebagaimana di dunia nyata, ia menyelimuti Citra. Meski, akhirnya ia bersama dengan Agnes di dunia nyata.

"Vico! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Citra mencoba menjelaskan, tapi Vico tak menggubris. Ia menggendong Agnes dan membawa gadis itu menjauh.

Vico membawa Agnes ke uks. Dia bantu ambilkan handuk kecil yang disediakan di sana.

"Terima kasih."

"Seharusnya jangan berterima kasih padaku. Tadi, saat berpapasan dengan Rina. Ia mengatakan kalau ingin menghajarmu."

"Dia?"

"Ehm. Karena itu, aku mencarimu."

"Rina?!" Agnes kaget dengan kehadiran Rina yang tiba-tiba. Begitu pula Vico.

"Kenapa? Kamu tidak suka?" Rina mengambil tempat tidur di sisi Agnes dan menutup gorden pembatas.

"Terima kasih." Agnes tampak ragu untuk berbicara. "Air yang dipegang Citra tadi air es. Karena itu, kamu menghentikannya bukan?"

"Jangan salah paham. Aku menyelamatkan temanku. Bukan, kamu." Rina berkata dengan nada dingin.

"Tapi ...."

"Kamu bisa diam nggak?! Aku mau tidur!"

Agnes pun segera bungkam. Ia tak berani buka pembicaraan lagi.

"Nes, aku ke kelas dulu."

"Tunggu! Ada yang mau aku bilang."

Suara mereka pun lenyap dari pendengara Rina. Karena, mereka berdua berbisik sangat pelan.

"Terima kasih sudah mengantarku."

"Sama-sama." Vico segera pergi meninggalkan ruangan.

Tak lama setelah Vico pergi. Agnes mengalami demam. Karena, sore marin ia harus mandi hujan untuk menemui Faisal. Sahabatnya yang tersiram minyak panas saat memasak.

Faisal sendiri adalah penggambaran sahabat Citra sendiri di dunia nyata. Seseorang yang ia tolak ribuan kali, tapi masih terus mengikuti dirinya ke mana pun.

"Rin?!" Agnes membuka matanya dan kaget siapa yang dilihatnya itu. Rina tengah tertidur di kursi di sisinya. Ia pegang keningnya, ada kompres tempel di sana. Selain itu, ada bungkus obat yang terbuka.

"Oh ... kamu sudah bangun. Kalau begitu aku ...." Faisal tiba-tiba langsung berlari dan masuk. Membuat air matanya jatuh. Ia terkenang dengan kebaikan pria itu.

"Nes, kamu nggak apa-apa 'kan?"

"Aku nggak apa-apa. Bagaimana kamu bisa ke sini?"

"Aku dengar kamu masuk uks dan Vico menggendongmu dengan buru-buru ke uks."

"Aku tidak apa. Tapi, gimana lukamu?"

"Luka? Kapan kamu terluka?!" Rina tampak panik dan segera menatap Faisal.

"Kamu? Ngapain kamu ke mari? Kamu mau nyakitin Agnes lagi?!"

"Sal! Dia yang menolongku." Agnes mencoba menenangkan.

"Huff ... kenapa pula, aku menggambarkan kamu sama persis sama dia." Rina berkata lirih dan pergi begitu saja.

"Kamu mau ke mana?" tanya Agnes, tapi diabaikan begitu saja. "Dia yang merawat dan menjagaku. Bahkan, sampai bolos pelajaran."

"Dia?"

"Benar. Dia. Nanti, aku ceritakan semuanya. Sekarang bantu aku pulang dulu."

"Baiklah."

"Tapi ... kakimu benar-benar nggak apa?"

"Nggak apa. Toh cuma jempol kaki aja yang kena."

"Cuma?! Itu luka bakar loh! Jangan dianggap remeh."

"Iya, iya."
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
28-11-2020 17:07

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Rina kembali masuk ke kelas. Dan, apesnya selama dua minggu ia akan duduk bersebelahan dengan Vico. Tak lama dia duduk. Sheila dan Citra menghampiri.

"Kamu membantunya 'kan?" Citra bertanya pelan, "kenapa?"

"Aku akan bicara jujur padamu. Selain itu, Sheila pasti akan mengambil jalan yang sama untuk menyelamatkanmu."

"Aku?"

"Dia sudah terkena demam. Wajahnya sudah pecat sejak di gerbang. Jadi, kalau kamu menyiramnya dengan air es, akan memperburuk keadaan. Jadi, sebelum bertindak, gunakan otakmu."

"Kenapa kalian di sini?" Vico bertanya dingin.

"Bukan, apa-apa. Vico! Aku mau memberimu hadiah." Citra bertingkah centil. Layaknya, Agnes di dunia nyata.

"Gadis bodoh." Rina berucap pelan, tapi mereka semua mendengarnya.

"Rina! Apa maksudmu?!"

"Tanya Sheila." Rina mengode Sheila. Kemudian, ia berdiri.

"Mau ke mana?" Vico bertanya.

"Maaf, ketua kelas. Aku mau cari tempat untuk tidur." Rina memilih tempat di paling belakang.

"Bangun!" Vico menendang meja di belakang. "Pindah ke depan!"

"Ck! Nyebelin!" Rina kembali ke tempat asalnya. Sedangkan, dua sahabatnya sudah pergi sejak tadi, "kenapa pula aku pernah suka kamu dulu. Setelah diperhatikan, kau orang yang nyebelin." Rina merebahkan kepalanya di atas meja.

"Apa katamu?" Vico bertanya, tapi gadis itu sudah ke alam mimpi.

Saat itu juga, Aldi datang dan duduk di depan Rina. Ia hendak membangunkan gadis itu.

"Jangan ganggu dia." Vico berkata dingin.

"Kenapa? Aku pacarnya. Bukan, kamu." Aldi mengusili Rina.

"Aldi?" Rina meraih tangan Aldi dan menggenggamnya. Setelah itu, ia kembali tidur. "Bangunkan aku, kalau guru masuk."

"Oke." Aldi mengeluarkan komik dari tasnya dan membaca dengan satu tangan yang bebas.

Lima menit kemudian, guru memasuki kelas. Aldi mengguncang tangannya yang berada dalam genggaman Rina. Gadis itu bangun dan izin membasuh muka sebentar di keran yang ada di depan kelas.

"Handuk." Aldi memberikan handuk kecil pada Rina yang berjalan melewati bangkunya.

"Terima kasih." Rina mengembalikan handuk yang sudah dipakainya itu pada Aldi.

"Tidak apa." Aldi menyimpan kembali handuk itu kembali ke tas.

Rina sendiri tak tahu kenapa. Sosok Aldi begitu mengena di hatinya. Kedekatan itu, membuatnya nyaman. Sungguh berbeda saat dia dekat dengan Faisal di dunianya atau saat jatuh cinta dengan Vico.

Aldi seperti rumah baginya. Tempat ia melepaskan topengnya dan merasa nyaman. Meski, topeng dia dari dunia lain belum bisa dibukanya. Namun ... ada satu hal yang membuatnya merasa takut. Saat kelas tiga, Aldi akan meninggal karena, kanker stadium akhir.

"Rina? Kamu tidak apa-apa?" Ibu Eri yang mengajar matematika saat itu mendekati Rina. Karena, gadis itu tak mendengar namanya yang dipanggil dan saat didekati, air mata muridnya tiba-tiba mengalir.

"Maaf, bu. Ada apa?" Rina mengelap air matanya dengan cepat. Semua yang ada di kelas, melihat ke arah gadis itu.

"Kamu kenapa? Ada apa?"

"Tidak apa-apa, Bu. Ibu, kenapa memanggil saya?" Rina melihat ke arah papan tulis. Di sana sudah ada soal.

Rina segera berdiri dan mengerjakan soal itu, tanpa bertanya. Kemudian dia duduk. Membuat semua orang memandang ke arahnya.

"Oh, benar! Jawaban Rina benar." Ibu Eri mencoba mengalihkan perhatian.

Ibu Eri kembali menjelaskan materi hingga bel pulang berbunyi. Semua anak, segera mengerumuni Rina. Mereka benar-benar khawatir dengan apa yang terjadi. Bahkan, Vico yang biasanya pulang duluan kini memilih diam.

"Apa penyakit mama parah?" Aldi bertanya pada Rina.

"Mamamu sakit?!" Sheila dan Citra bertanya dengan panik.

"Kenapa kamu nggak cerita?!" Agnes tampak marah, "eh ... tapi, nggak mungkin deh. Tadi pagi, aku bertemu dengan mamamu saat berangkat sekolah."

"Kamu sudah berani rahasia-rahasiaan sama kami?!" Sheila bertanya dengan nada mengancam.

"Ehm ... beda memang orang yang punya pacar. Cuma pacarnya aja yang dikasih tahu." Citra menimpali.

"Kamu tak kenal mama?" tanya Rina pada Sheila.

"Mama, kucingmu itu?!" Sheila langsung nyaut.

"Oh! Memang ada apa dengan kucingmu itu?" Tiba-tiba semua yang ada di sana langsung bubar. Kecuali Vico. Ia tak yakin dengan jawaban gadis itu.

"Hidupnya pendek. Mungkin, ada saatnya untuk berpisah dan tidak bisa melihatnya lagi." Rina menatap Aldi dalam.

"Tenang saja. Ada aku di sini. Aku akan menemanimu."

"Ehm ...." Rina tersenyum sambil menahan air mata.

"Aish!! Kalian berdua ini!" Sheila menarik Citra untuk pergi, "biarkan mereka berdua."

"Aku temani kamu ke rumah sakit untuk menjenguk beliau." Aldi menarik tangan Rina. Mereka berdua melupakan Vico yang masih ada di sana.

"Terima kasih." Mereka berdua pun pergi, tanpa sadar ada orang-orang yang mengikuti mereka di belakang.
Diubah oleh djrahayu
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
28-11-2020 19:50

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Masa Terindah Bagi Rina



Rina dan Aldi pergi ke rumah sakit. Di sana mereka menjenguk mama angkat mereka.

Ada cerita menarik di antara pertemuan mereka. Kala itu, Aldi melihat seorang gadis kecil berusia 6 tahun dan seumuran dengannya telah diculik dan mencoba menolongnya. Pada akhirnya, mereka sama-sama dibawa lari oleh penculik.

Aldi dan Rina mencoba kabur. Kala itu, para penculik tengah tertiidur pulas setelah minum dan bermain kartu. Namun, mereka ketahuan dan pada saat itu mereka bertemu dengan mama angkat itu.

Waktu itu, melihat dua anak kecil tengah berlari ketakutan, membuatnya segera menghentikan kendaraan. Dan menyuruh mereka masuk.

"Masuk!" Dua anak itu segera masuk dan mobil pun dipacu cepat. Setelah itu, mereka yang tak tahu jalan pulang dan salah satu anak itu ada yang hilang ingatan. Akhirnya diangkat menjadi anak dan dirawat hingga berumur 12 tahun.

"Mama!" Rina segera menghambur ke pelukan perempuan yang tengah termenung menatap keluar jendela. Perempuan yang menjaganya dan Aldi selama, hampir 6 tahun itu menderita Alzheimer. Dan, ia baru mengingatnya.

Mama yang digambarkan Rina adalah mama kandungnya sendiri yang meninggal karena penyakit yang sama. Namun, mama yang di dunia nyata membencinya hingga akhir hayat. Karena, demi menyelamatkan anak itu yang menyebrang jalan secara sembrono. Suaminya meninggal ditabrak oleh mobil, kemudian terpelanting jauh dan terlindas oleh truk yang lewat.

Sepasang suami istri yang menabrak papa Citra pun bertanggung jawab. Mereka mengangkat Citra sebagai anaknya. Apalagi setelah mendengar, betapa ibunya sangat membenci Citra. Kemudian, setelah orang tuanya wafat di usianya yang masih menginjak SMA. Gadis itu dibawa pulang oleh sahabat orang tuanya. Yaitu, orang tua dari Vico di dunia nyata.

"Kalian?" Perempuan itu menyambut mereka dengan penuh bahagia.

"Kamu kenapa menangis?" Perempuan itu merasakan tubuhnya yang basah.

"Akhirnya aku bisa mencium baun mama lagi." Gadis itu menangis. Sudah berapa tahun ia tidak memeluk mamanya semenjak kecelakaan itu.

"Rina! Mama cemburu, nih." Rina terdiam. Ia juga menggambarkan kedua orang tua angkat pertamanya dalam novel ini.

"Mama!" Rina lekas berlari. Dipeluk dan diciumnya orang tua angkat yang menjadi orang tua kandungnya itu.

"Rina rindu." Gadis itu menangis sesenggukan. Dipeluknya erat mamanya itu.

"Ya ampun, anak ini. Baru saja ditinggal dinas." Papanya mengusap kepala gadis itu.

Ia tak menyangka. Masuk ke dunia ini adalah berkah untuknya. Dirinya sengaja, meski dalam sebuah novel ia tak boleh begitu jahat pada tiga tokoh utama tersebut. Termasuk pada Agnes.

"Papa?" bisiknya lirih. Ia teringat, kalau menjadikan papa kandungnya sebagai papa dari Agnes. Jadi, kalau benar-benar berlanjut, kisah ini akan sama persis dengan Irie dan Kotoko, Baek Seung Ho dan Oh Ha Ni, Tenten dan Taliw.

"Papa di sini." Pria itu membuka tangannya lebar. Berharap putrinya beralih padanya.

Tiba-tiba pintu terdorong dan semua yang mengintip pun terjatuh. Di belakang mereka ada Vico yang tengah berdiri tegap.

"Kalian?!" teriak Aldi.

"Kalian ngapain di sini? Dan kamu, Vic." Rina yang melihat mereka segera bertanya.

"Vic?" Sheila dan Agnes segera melihat ke arah yang mata Rina.

"Vico?!" Keduanya tampak kaget dan tak percaya.

"Bukan, cuma aku." Vico berjalan masuk dan di susul oleh Citra dan Faisal.

"Kami bawa makanan!" Seru Faisal sambil mengangkat rantang yang dibawanya.

profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
29-11-2020 10:12

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Kebersamaan itu Indah


Anak-anak memilih pergi ke taman. Setelah, diusir oleh perawat yang bertugas di sana. Karena, mereka terlalu berisik.

"Citra." Agnes duduk di samping gadis itu.

"Apa?!"

"Cit!" Rina menggeleng melihat tingkah laku anak itu.

"Aku mau kita bertanding secara adil." Citra mengulurkan tangannya, "walaupun kita tak akan terpilih."

"Apa maksudmu?"

"Lihat!" Rina dan Citra melihat ke arah yang ditunjuk Agnes. Saat itu, Vico sedang memandang ke arah Rina.

"Aku nggak tahu apa-apa." Rina segera berdiri dan pergi dari mereka. Vico yang melihat itu segera berdiri dan mengikuti gadis itu.

"Benar bukan, tebakanku?"

"Benar. Sepertinya memang nggak ada kesempatan untukku."

"Kalau gitu. Gimana kalau kita berubah jadi fans biasa yang mendukung idolanya mengejar cinta. 'Kan jarang ngeliat pria cerdas, dingin dan tampan yang cintanya tak terbalas." Agnes menarik turunkan alisnya.

"Benar juga." Citra segera menggenggam tangan Agnes. "Ayo, kita intip mereka?"

000

Di tempat yang tak jauh. Rina sedang duduk di kursi taman. Ia menundukkan kepala dalam.

"Kamu mau apa, Vico?" Rina mencium aroma parfum khas pria itu.

"Apa parfum ku terlalu mencolok?" Vico yang cerdas, bisa menebak langsung. Kenapa gadis itu bisa mengenalnya begitu cepat.

"Kamu kenapa?"

"Apa kamu menyukai ku?" Rina bertanya.

"Aku tidak tahu. Ini baru pertama kali untuk ku."

"Aku rasa itu bukan."

"Maksud mu?"

"Kamu lebih tahu dariku." Rina pun berdiri dan hendak pergi.

"Kamu mau ke mana?"

"Menemui pacarku." Rina bergegas pergi.

Tak jauh dari sana. Ada empat orang yang tengah mengintip dan menguping.

"Dia ditolak." Agnes tersenyum bahagia.

"Kamu kok bahagia banget?" tanya Faisal.

"Gimana nggak bahagia. Ketika orang yang menolak cintamu itu ditolak oleh orang yang ia cintai itu ... seperti orang yang lapar, tiba-tiba bertemu makanan." Citra segera menarik Agnes dan menemui Vico.

"Jangan galau. Aku akan bantu kamu." Agnes mencoba menghibur Vico.

"Bantu? Maksud mu kamu mau misahin Aldi sama Rina gitu?" Sheila menjewer kuping gadis itu.

"Karena, itu yang Aldi pinta."

"Apa maksudmu?"

"Aldi sakit. Ia tak mau membuat Rina bersedih dan meminta ku untuk menjauhkan Rinda darinya." Citra duduk di samping Vico.

Tiba-tiba, sebuah pesan dari Rina di grub yang baru mereka bentuk itu, membuat semuanya terperangah.

"Jangan coba-coba! Jangan berpikir yang aneh-aneh!"

"Apa maksudnya?" Citra bertanya, tapi Taka ada yang menjawab.

"Apa maksudmu?" Citra membalas pesan di grub itu. Dan, Rina langsung menelepon.

"Aku tahu apa yang kamu dan Aldi rencanakan. Tidak ada yang bisa menggantikan nya. Satu lagi! Sampai akhir hidupnya aku akan terus bersamanya. Dan, ini rahasia!"

Sebenarnya, karena tasnya yang tertinggal di taman. Ia kembali ke sana dan mendengar obrolan mereka. Meski hendak muncul dan memukul kepala mereka. Namun, ia tahan dan memilih pergi.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
30-11-2020 12:25

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Membujuk Aldi


"Aku jatuh cinta
Padamu yang bermata indah
Padamu yang rupawan
Padamu yang berhati baik

Aku jatuh cinta
Padamu yang bermata indah
Padamu yang rupawan
Padamu yang berhati baik

Tak mungkin kulupa
Tak mungkin kutinggal
Baby
Love is you"

Rina bernyanyi sambil memainkan gitar. Semua orang bertepuk tangan. Hanya Aldi yang berwajah dingin.

"Kau hanya kasihan padaku bukan?"

"Kasihan? Kalau itu mau mu, aku akan kasihan padamu sebanyak yang kamu mau." Rina duduk di depan Aldi. "Ayolah!?"

"Aldi." Agnes menepuk pundak Aldi.

"Ayolah! Kamu jangan begini! Kamu belum tahu gimana hasilnya 'kan? Aku akan temani kamu berjuang di rumah sakit. Bagaimana?"

"Rin!"

"Apppa?" Rina bertingkah manja. "Kau mendorongku selangkah, aku akan terus maju."

"Aneh!" Aldi segera pergi.

"Kamu juga!" teriak Rina senang.

"Rin! Handphone-mu bunyi." Sheila menyadarkan Rina yang melamun.

"Oh ...." Rina segera mengangkat teleponnya.

"Sudah tiga bulan kamu di sana. Apa menyenangkan?"

"Kamu siapa?!" Rina berdiri dengan mata terkejut. Semua siswa yang ada di sana juga terkejut.

"Siapa?" tanya Agnes. Vico juga melihat ke arah gadis itu.

"Waktumu sampai kelulusan. Selama itu, buatlah sesuatu yang tak pernah kau lakukan." Panggilan pun terputus.

"Halo! Halo!"

Rina menggigit bibirnya dan menelpon berkali-kali hingga seorang guru masuk ke kelas. Ia segera menyimpan Handpgone-nya dan kembali fo ... dia baru sadar tak melihat Aldi.

"Ibu! Saya permisi!" Rina bergegas berlari.

"Rina! RIna! Mau kemana kamu?!"

Rina tak menggubris. Ia segera menyari Aldi di seluruh tempat dan menemukan pria itu pingsan di toilet pria.

"Agnes!" Rina menelpon Agnes.

"Apa?" Agnes berbicara sambil berbisik.

"Aldi pingsan."

"Apa?! Aldi pingsan?!"

"Agnes!!" Suara ibu guru menggelegar dan segera merebut telpon Agnes dan panggilan terputus.

Rina tak banyak pikir lagi dan segera membawa Aldi pergi. Saat mencapai UKS, teman-temannya dan guru tadi berlari dengan wajah panik.

"Apa yang terjadi?" Ibu Rossa - tertulis di name tagnya itu bertanya. Teman-teman laki-laki segera mengambil alih Aldi.

"Aku nggak tahu. Sejak tadi, wajahnya sudah pucat. Jadi, karena takut ada apa-apa Rina mencarinya dan dia sudah pingsan." Rina terduduk lemas di lantai.

"Kamu tenang dulu. Ibu akan telepon ke dua orang tuanya dan ambulan." Ibu Rossa mengarahkan teman-teman untuk membantu Rina pindah ke sofa yang ada di uks.

"Kami sudah membereskan tasmu dan Aldi." Agnes dan Citra menghampiri dengan terengah-engah. Mereka baru saja tiba dengan dua tas.

"Terima kasih."

"Apa sekolah nggak ada mobil?" tanya Rina.

"Mobil dipakai untuk mengantar anak-anak ke kompetisi olahraga. Dan, kebanyakan guru di sini memakai kendaraan umum pada hari ini." Ibu Rossa menjelaskan pada Rina.

"Hari ini, hari polusi." Agnes menambahi.

Rina menunduk dalam. Ia membuat sekola ini mengadakan hari polusi sebulan sekali. Sehingga banyak dari mereka memakai kendaraan umum dan sepeda.

"Ambulan datang!" Seru Citra.

Para petugas segera turun dan membawa Aldi pergi. Rina dan ibu Rossa ikut masuk ke dalam dan menjelaskan semua perkara.

"Kenapa nggak di kasih alat bantu pernapasan?"tanya Rina.

"Napasnya tak ada masalah. Hanya kepalanya yang terbentur lantai. Tapi, sepertiinya tak terlalu serius. Agar lebih meyakinkan akan diadakan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit." Ibu Rossa yang mendengar cara penuturan dari petugas itu tampak maarah. Bukan, pada mereka. Tapi, Aldi.

"Bangunlah." Ibu Rossa mulai bicara.

Aldi segera membuka matanya dan pelahan duduk.

"Kamu menipu kami! Berani-beraninya!! Maaf, Pak. Kami akan turun di sini." Rossa menjewer anak itu. Namun, dicegat oleh Rina.

"Walau pasien sadar. Bukan berarti tak ada masalah. Lanjutkan perjalanan! Kalau tidak, aku akan menuntut kalian semua." Rina berbica dengan nada dingin.

"Dan, jika terjadi apa-apa pada Aldi. Setelah kalian turunkan di pinggir jalan. Jangan salahkan aku berbuat semena-mena."

"Kamu!" Ibu Rossa tampak marah.

"Kenapa masih berhenti?!" Rina tak menggubris dan malah melotot pada petugas.

"Kita sudah sampai." Tak lama, ada orang yang membuka pintu. Mereka pun segera turun dan disambut oleh seorang perawat dan dokter yang tak lain mama Aldi sendiri.

"Tenang saja. Kami sudah lama mengenal dokter itu. Kami juga anaknya sakit." Petugas itu tersenyum dan menepuk pundak RIna. Baru kemudian pergi.

"Terima kasih, Pak." Rina benar-benar berterima kasih.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
30-11-2020 21:24

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Menghibur dengan Cara Mengasihani


Rina duduk terdiam di sebuah kamar rumah sakit. Begitu pula Aldi. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

"Kenapa bisa secepat ini?" Rina bertanya lirih, tapi masih terdengar oleh Aldi..

Menurut dari tulisannya, penyakit Aldi yang parah akan ditandai dengan hilangnya keseimbangan. Stroke dan serangan jantung. Iya, sejak kecil jantung Aldi sudah bermasalah. Tapi, ini terlalu cepat.

"Mau jadi sok kuat dan jagoan?" Rina bertanya dengan nada sinis. Melihat pria itu mencoba beranjak dari kasur.

"Aku memang kuat." Aldi memasakkan tubuhnya berdiri, tapi saat hendak limbung, Rina tiba-tiba sudah ada di belakangnya.

"Dasar!" Rina meraih tangan Aldi dan membuat tangan itu merangkul pundaknya.

"Aku bisa sendiri."

"Aku tahu. Tapi, aku kasihan melihatmu."

"Kasihan?" Aldi tertawa.

"Sesuai permintaanmu. Aku akan mengasihanimu sebanyak yang kamu mau, tapi kamu harus izikan aku menemanimu."

"Syarat macam apa itu? Dasar aneh!" Aldi tersenyum. Setidaknya ia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi di toilet pria tadi.

"Aku akan minta sekolah untuk memberi izin home schooling."

"Apa?!" Aldi melepas rangkulannya. Diputarnya tubuh gadis itu, meski hampir oleng lagi.

"Apa-apaan kekuatanmu itu?" Rina tersenyum sinis. Tatapannya meremehkan.

"Kamu?! Kamu berani, ngatain aku?!" Aldi menggerakkan jarinya mencoba menggelitik. Namun, di tahan oleh Rina.

"Dasar lemah!" Rina berbisik sambil tertawa dan memengaruhi Aldi. Anak laki-laki itu kembali hidup.

"Ekhm! Apa kami ganggu?" Agnes dan yang lainnya sudah berada dalam ambang pintu.

"Sejak kapan kalian di sana?" Rina memberi kode pada Vico dan Faisal untuk membantu Aldi. Mereka segera mendekat dan menopang tubuh sahabat mereka itu.

"Sejak kamu menangkap Aldi. Seperti pangeran yang menangkap putri yang hampir terjatuh." Citra bercerita dengan penuh semangat.

"Siapa putri?!" Aldi tampak tak suka.

"Putri kecil yang aku kasihani, sebaiknya kamu diam saja." Rina mengacak rambut Aldi, kemudian pergi.

"Pangeran sejati." Agnes, Citra dan Sheila mengangkat jempol mereka.

Rina membuka tangannya lebar, "kemarilah, wahai putri-putri yang jelita!" Mendengar itu, ketiga orang tadi langsung menghamblur dan membuat mereka sama-sama jatuh.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
30-11-2020 22:02

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Di sebuah Cafe. Enam orang anak berakhir dengan wajah tertekuk. Bagaimana tidak. Mereka diusir oleh pihak rumah sakit. Karena, mengganngu ketenagan pasien.

"Tián akhirnya muncul lagi!" Agnes begitu semangat. "Katanya ia akan muncul serentak dengan launching-nya buku baru!"

"Serius?!" Sheila dan Citra tampak semangat.

"Serius!" Agnes tampak begitu senang.

"Siapa Tian?" tanya Faisal.

"Bukan Tian, tapi Tián!" protes mereka serentak. Termasuk Rina ikut protes.

"Apa bedanya toh?" tanya Faisal yang tak suka.

"Beda, dong!" Rina paling emosi dengan pertanyaan Faisal.

"Rin ... kamu juga suka Tián?" tanya Agnes dengan penuh rasa penasaran.

"Suka. Kenapa?"

"Nggak, soalnya kamu jarang nimbrung kalau bicara novel Tián." Sheila ikut penasaran.

"Jangan-jangan kamu Tián?" Citra asal tanya.

"Iya, aku Tián." Rina dengan pongahnya mengaku. Membuat semua orang tertawa di sana.

"Ini." Rina mengeluarkan enam buku Tián yang mau launching nanti.

"Ini?" Agnes tampak gemetar memegang buku itu. Masalahnya, buku itu asli. Ia sudah pernah melihat bocoran sampul buku dan sinopsis cerita.

"Jangan ada yang berteriak." Rina mencoba menenangkan ketiga temannya yang segera mengangguk. Mereka juga seperti bermimpi.

"Lalu ... Yǒnggǎn?" Sheila bertanya pelan.

"Iya, dia." Rina mengangguk.

"Kalian!!" Ketiga perempuan itu memeluk erat sahabatnya.

"Ngomong-ngomong, apa arti nama samaran kalian?"

"Si manis dan si pemberani."

"Si manis dan si pemberani? Bukannya itu judul buku kolaborasi kalian."

"Iya. Kenapa?"

"Tidak. Tidak apa. Aku merasa ini mimpi." Citra mencubit dirinya sendiri, "sakit ternyata."

"Iyalah sakit! Dasar bodoh!" Sheila tertawa.

"Cit, kamu kok semenjak bareng Agnes jadi ketularan bodoh, ya?" Rina mengatakannya dengan tanpa rasa bersalah.

"Iya dong. Karena, kami sudah sehati." Citra memeluk Agnes.

"Aku bodoh." Agnes menunduk dalam. Faisal yang melihat itu segera menjewer Rina.

"Berani-beraninya kamu bilang Agnes bodoh!"

"Du .. du ... sakit! Sakit!" Rina memukul-mukul tangan Faisal.

"Tunggu!" Faisal tampak kaget sendiri dan melepaskan tangannya. Ia merasa dejavu, "kenapa semakin hari sikapmu sama dengan Agnes. Tanganku?" Ia menatap tangannya.

"He-ehm." Citra dan Sheila menatap Rina dalam.

"Katakan yang sebenarnya!" Sheila menunjuk Rina.

"Katakan apa?" Rina menaikkan dagunya sambil mata menatap buku yang tergeletak di meja.

"Bukan apa-apa, Nyonya. Kami dengan senang hati akan melayani, Nyonya." Sheila menarik Rina untuk duduk. Mereka bertiga memijat idola mereka dan menyuapi banyak makanan pada
Tián.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
01-12-2020 08:34

[SFTH] Time Slip : Si Tián

Si Manis dan Si Pemberani


Rina dan Aldi duduk lama di taman. Mereka tak mengucapkan sepatah kata pun sejak obrolan panjang tadi. Apalagi yang dijelaskan oleh gadis itu benar-benar tak masuk akal.

"Heh! Awalnya aku kira, Rina yang berubah. Dia lebih hangat ke mama papanya. Dia lebih hangat pada teman-teman yang lain. Jadi, sebenarnya kau siapa?" Aldi bertanya.

Tak jauh dari sana. Dibalik tanaman yang tinggi. Citra, Agnes, Sheila, Vico dan Faisal bersembunyi. Mereka tadinya hendak memberi kejutan. Namun, sejak pengungkapan Rina kalau dia bukan Rina yang sebenarnya. Semua langsung terdiam.

"Agnes, Sheila, Citra, Vico dan Faisal adalah orang-orang nyata di duniaku. Begitu pula mama, papa dan mama angkat. Aku di sana adalah Citra versi Agnes. Dan, akhir kisahku adalah hidup dengan penyesalan. Aku kehilangan Faisal. Teman terbaikku saat mengejar Vico yang selama itu memang sudah menyukai Agnes. Vico selalu baik dan menjagaku, karena rasa bersalah akan perbuatan kekasih hati nya padaku. Maka dari itu, aku menuliskan tentang diriku yang 180 derajat berbeda. Selain itu ... Papa Agnes adalah papaku yang meninggal sewaktu aku kecil. Mama angkat adalah mamaku yang selalu membenciku. Karena, papa meninggal saat menyelamatkan ku dari mobil yang melaju kencang di jalanan. Lalu, papa dan mama kandungku di sini adalah mereka yang mengangkatku menjadi anak, karena rasa bersalah. Karena, telah menabrak papaku. Tapi, saat usiaku SMA, mereka meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Dan, aku diangkat oleh orang tua Vico yang merupakan sahabat mama dan papa kandung."

"Dan, Sheila adalah sahabatku sejak kecil. Memang terkadang apa yang dikatakannya bikin sakit hati. Namun, itulah kenyataannya. Dan, kita. Kita tak ada di sana."

"Aldi ...." Rina menggenggam erat tangan itu.

"Maaf, Rin. Aku masih sedikit terkejut."

"Jujur, awal melihatmu. Aku merasa kasihan dan bersalah. Aku menggambarkan mu sosok yang lemah. Selain itu, kamu ingat sewaktu aku nangis dan bikin heboh?" Aldi mengangguk, "Itu karena aku ingat akan kehilangan saat kelas tiga nanti dan itu ... tidak sampai satu tahun lagi. Bahkan, yang lebih parahnya, aku menggambarkan diriku yang frustasi hingga bunuh diri karena kehilanganmu."

"Lalu, apa kamu benar-benar akan melakukanya?" tanya Aldi.

"Tidak. Karena, cerita sudah berbeda. Agnes dan Citra sudah seperti prangko dan surat. Saling menempel dan melengkapi. Penyakitmu bahkan, lebih cepat dari dugaanku. Selain itu, setelah kelulusan nanti. Aku berencana pulang."

"Pulang?"

"Yap. Aku akan pulang ke tempat asalku. Misiku di sini adalah melakukan apapun yang ku mau selama SMA, tanpa menghasilkan penyesalan. Dan, ngomong-ngomong, aku di duniaku berumu 20-an." Rina tampak pongah.

"Pantas sifatmu itu seperti orang yang sudah tua!" ejek Aldi yang kemudian mendapat cubitan dari Rina.

"Ngomong-ngomong kamu di dunia nyata, menyukai Vico. Kenapa tidak mengejarnya?"

"Setelah di sini dan melihat Agnes. Aku baru sadar. Kalau sebenarnya, aku menganggap Vico adalah idola tampan dan cowok idaman. Dan itu, bukan cinta."

"Jadi ...." Aldi mencari kepastian.

"Jadi ... aku benar-benar kasihan padamu." Rina menjawab dengan nada mengejek, "sudah banyak nyamuk dan matahari sebentar lagi terbenam. Sebaiknya kita segera masuk ke kamar."

Rina mendorong kursi roda Aldi. Sedangkan, teman-teman mereka masih duduk termenung. Dan, tampak bingung untuk mengambil sikap ya g bagaimana.
profile-picture
mukamukaos memberi reputasi
1 0
1
[SFTH] Time Slip : Si Tián
06-01-2021 04:41
bagus, lanjut terus.
0 0
0
[SFTH] Time Slip : Si Tián
06-01-2021 07:36
Ijin titip sendal dulu, keep update ntar kalo udah banyak balik lagi emoticon-Cendol Gan
0 0
0
[SFTH] Time Slip : Si Tián
06-01-2021 21:22
Ntar dibikinin daftar isi ye gan/sis. Siapa tau abis ini makin banyak yg komen.

Keep update!
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
darah-haid-makanan-makhluk-gaib
Stories from the Heart
separuh-luka-yang-tertinggal
Stories from the Heart
yang-terdalam
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia