Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
472
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f9d61a3af7e93726f580cbd/jalan-sunyi-di-balik-tembok-jakarta
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.
Lapor Hansip
31-10-2020 20:07

Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Gue memejamkan mata dan meresapi suara angin yang beradu dengan rimbunnya dedaunan sebuah pohon besar di samping gerbong kereta yang sudah terbengkalai. Seperti alunan musik pengantar tidur; desiran angin membuat perlahan demi perlahan kesadaran gue melayang, menembus ruang tanpa batas, ke sebuah dimensi yang tidak beruntas.

"Woy mao magrib! PULANG!" Suara anak perempuan kecil membuyarkan semua mimpi yang rasanya baru saja dimulai.

"Ah, resek lo Ai! Gue baru mau tidur!" Gerutu gue.

"Baru mau tidur dari hongkong! Lo tidur dari siang, Tole!!!"

"Haaah!?"

Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta


Quote:FAQ:

- Om ini kisah nyata apa fiksi?
* Oke... sebelumnya, please. Jangan panggil Ogut Om. Soalnya kalo dipanggil Om, Ogut bawaanya mau ngasih duit ajah.

- Yaudah, Mas. Ini kisah nyata apa fiksi.
* Mas mas ae lo! Belom pernah digebukin orang sekampung, ya?

- Emang Mas udah pernah?
* Belom sih, tapi kayanya abis ini Ogut bakal digebukin orang sekampung gergara nabokin elu!

- hmmm
* oke, ga lucu! Skip. Dan gue jawab pertanyaan lu tadi. Cerita ini adalah cerita nyata.

-Oh, ada hubungannya sama cerita lo sebelumnya?
*mungkin -- masih kesel dipanggil mas!

-Yaelah gitu ae ngambek! iyeh Gan, iyeh. Terus ini ceritanya tentang apa?
*Ceritanya tentang kaskuser yang harus dirawat di rumah sakit selama 14 hari karena manggil kaskuser lain dengan panggilan 'mas'.

-Yaelah galak bat nih, si Agannya. Yaudah deh gue cabut, engga jadi baca.
*Gih! Gua bersyukur, karena cerita ini bukan untuk orang-orang baperan kek elu! Cerita ini khusus orang yang 'waras', 'terbuka', dan engga menjudge orang galak, jahat, atau buruk semudah itu.

Hidup tidak sehitam putih logika yang ada di kepala


Selalu patuhi segala peraturan yang berlaku di H2H, SFTH, dan tentunya Kaskus. Seluruh karakter yang ada di dalam cerita ini menggunakan pseudonim -- alias -- bukan nama asli. Dan untuk latar tempat, sebisa mungkin akan gue samarkan. Oleh karena kemungkinan ada beberapa tempat yang mungkin dengan mudah ditebak, walaupun sudah gue samarkan, gue memohon dengan sangat untuk kedepan nya; jika kalian mengetahui segala tempat, atau bahkan karakter yang ada dalam cerita ini, gue mohon kebijaksanaan kalian semua untuk tetap menjaga privasi dari tempat atau orang-orang (yang mungkin kalian kenal) dalam cerita ini.

Gue akui, nantinya gue akan menceritakan hal-hal yang sensitif, bahkan cenderung berbahaya. Jadi gue mohon (sekali lagi) kebijaksanaanya dari para kaskuser sekaligus dalam menanggapi cerita ini -- kedepannya.

Gue terlebih dahulu menyatakan tidak akan pernah bertanggung jawab; jika nanti, di saat, atau setelah membaca cerita ini terjadi penyimpangan perilaku dari agan/sista; jilatin upil, cipokan sama uler, ngecor lobang wc atau apapun itu, gue tidak akan pernah mau bertanggung jawab. Karena gue hanya menceritakan sebuah pengalaman yang pastinya tidak patut untuk ditiru.

So, gue tidak akan pernah bosan untuk mengatakan, sebuah contoh itu ada dua, yang layak untuk ditiru dan yang tidak pantas untuk ditiru. Pembakaran halte saat demo, sudah pasti itu adalah sebuah 'pertunjukan' yang menjadi contoh agar kita tidak melakukan hal yang seperti itu.

- Oh jadi pembakaran halte itu cuma 'pertunjukan', yah?
* yah dia nongol lagi!

Warning before you reading:


gue bisa saja menghentikan cerita ini kapan saja, jika nantinya sudah terjadi hal-hal yang tidak kita semua inginkan pada gue di dunia nyata.

Bijaksanalah dalam bermedia sosial jika tidak ingin hidupmu sial!


Siapin beer sama cemilan

selamat membaca agan/sista sekalian

emoticon-Angkat Beer




Itu salah satu pengalaman gue hampir dua dekade lalu. Di saat gue masih sering tidur siang di atap 'bangkai' kereta, di sebuah balai yasa (Bengkel Kereta) milik perusahaan plat merah yang saat itu masih bernama PT. KA. Untuk menghindari amukan 'Babeh' yang disebabkan karena gue membolos ngaji. Sebuah pengalaman, karena sebab dan lain hal, yang sudah pasti tidak akan pernah bisa terulang lagi.

Oh iya, Nama gue Widi, jika itu terlalu keren; karena gue yakin kata pertama yang keluar dari lidah lo saat menemukan sesuatu yang keren itu adalah Anjay atau Widiiiiii... (krik). Maka you can call me, Anjay. Wait, lo bakal gue gebuk kalo manggil gue Anjay atau Anjayani. So, cukup panggil gue Tole.

"Iya, Anjay... Eh, Tolee."

emoticon-Blue Guy Bata (L)
Gue seorang laki-laki tulen, yang masih masuk dalam golongan Generasi Milenial. Seorang laki-laki keturunan (Sebenernya) Jawa, tapi karena dari gue nongol dari rahim Ibu gue sampe sekarang rasanya gue udah nyatu sama aspal jalanan Ibu Kota maka secara de jure gue menyatakan gue ini anak Betawi. Yang protes gue sarankan segera pamit baik-baik dan siapin surat wasiat!

Sekali lagi gue tegaskan, kalau gue lahir dan besar di Jakarta. Konon Bapak gue menghilang saat gue dilahirkan, sampai usia gue menginjak satu tahun bokap gue di temukan meregang nyawa dengan penuh luka di kali dekat rumah gue sebelum akhirnya meninggal dunia saat hendak di larikan ke rumah sakit. Semenjak saat itu gue hanya tinggal berdua dengan Ibu. Tunggu, lebih tepatnya gue memang sudah sejak lahir tinggal hanya bersama Ibu gue.

Hanya sedikit kenangan tentang Ibu di kepala gue. Sejauh-jauhnya gue mencoba mengingat, hanya Ibu gue yang selalu mengantar gue hingga depan sekolah sebelum akhirnya menjajakan 'permen sagu' dan mainan balon yang sebenarnya mempraktekan bagaimana hukum kapilaritas bekerja. Hanya sebatas itu ingatan gue pada Ibu, karena Ibu harus 'berpulang' pada Semesta sebelum gue mempunyai kemampuan mengingat suatu kejadian secara mumpuni di dalam otak gue. Ya, Ibu gue meninggal di saat gue masih 7 tahun setengah atau di pertengahan kelas 1 yang mana harus membuat gue hidup sebatang kara di tengah "kerasnya" kota Jakarta.

Gue tidak mempunyai keluarga dari Bapak. Konon Bapak gue adalah anak semata wayang dan Konon (lagi) Kakek dari Bapak gue meninggal akibat PETRUS, sedangkan Nenek dari Bapak gue meninggal beberapa bulan setelah Kakek gue.

Satu-satunya keluarga gue hanya Kakak dari Ibu gue, sebut saja Bude Ika. Beliau tinggal di Kota Kebumen Jawa tengah bersama (sebut saja) Pakde Nyoto, suami beliau. Dan mereka mempunyai 3 orang anak yang terdiri dari 2 perempuan dan satu laki-laki. Yang dalam artian sebenarnya gue masih memiliki keluarga, tapi...

Saat Ibu meninggal gue belum mempunyai kemampuan otak yang mumpuni untuk menggambarkan bagaimana isi hati gue saat itu. Namun yang bisa dipastikan saat itu gue menangis dalam waktu yang sangat lama, lama sekali!

Dan konon... (Ahh, semoga lo engga bosen denger kata konon, karena memang gue belum punya kemampuan yang untuk merekam dengan sempurna suatu kejadian di dalam otak gue saat itu. Yang gue tuliskan saat ini hanya berdasarkan cerita sepuh sekitar tentang saat itu.) ... Setelah Ibu meninggal gue diboyong ke Kebumen oleh Bude dan Pakde, tapi saat itu gue hanya bertahan semalam dan "membandel" kembali lagi ke Jakarta seorang diri.

Lo mau tau alasan gue membandel balik lagi ke Jakarta? Cuma karena takut! Ya, Takut! Untuk hal ini gue bisa mengingat hal itu. Gue takut buat tinggal di rumah Bude di kebumen. Jangan lo pikir gue takut menyusahkan atau takut merepotkan. Come on! Gue masih 7 setengah tahun saat itu mana mungkin gue berpikir seperti itu. Yang gue takutin cuma satu hal, SETAN! Ya karena tempat tinggal Bude di Kebumen (saat itu) masih banyak perkebunan dengan pohon-pohon yang besar. Ditambah kamar mandi untuk keperluan mandi dan buang air di rumah Bude berada terpisah dari bangunan utama rumah; Gue harus melewati deretan pepohonan besar terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar mandi. Hal itu membuat gue takut untuk tinggal di sana, di rumah Bude.

Apa lo mau sekalian nanya gimana cara gue balik ke Jakarta seorang diri? Oke, jangan teriak, yah. Gue jalan kaki menyusuri rel dari Kebumen sampai Jakarta!

Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yah saat itu gue engga naik kereta. Toh saat itu kereta belum seperti sekarang. Dulu pengamen sama pedagang asongan masih boleh berkeliaran di dalam kereta. Tapi kenapa gue malah jalan kaki, yah? Kan justru kesempatan buat ketemu setan-nya makin gede.

Yah, anak 7 tahun, Boss. 7 TAHUN! Mana ada kepikiran isi botol yakult pake beras terus ngamen. Itu baru kepikiran setelah akhirnya Bude dan Pakde nyerah karena kelakuan gue; tiap kali dijemput tiap itu juga gue bandel balik ke Jakarta. Sampai akhirnya gue dititipin sama Babeh, seorang sesepuh di daerah rumah gue tinggal yang juga akrab sama Almarhum Bapak semasa hidupnya.

Babeh ini sebenarnya seorang guru ngaji, tapi paling ogah dipanggil ustadz. Maunya dipanggil Babeh. "Babeh bukan ustadz cuma ngenalin anak-anak baca tulis Al-Qur'an doang. Ga pantes dipanggil ustadz apalagi kiyai" Salah satu omongan Babeh yang selalu gue inget. Tapi memang benar, setiap sore Babeh ngajar anak-anak kecil usia-usia sekolah SD baca tulis Al-Qur'an, mentok-mentok belajar ilmu fiqih yang awam ajah. Itu pun engga semua, cuma beberapa anak yang sekiranya Babeh sudah bisa dan siap diajari tentang itu. Jadi selama lo belom bisa baca Juz Terakhir Al-Qur'an dengan Makhroj yang benar jangan harap lo bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka daripada itu, kebanyakan anak-anak ngaji di Babeh engga kuat, paling beberapa bulan sudah cabut.

Dan gue salah satu anak yang beruntung (Gue bilang beruntung karena gue dititipin kepada Beliau jadi mungkin dulu karena keterpaksaan yang mau engga mau gue harus bisa, jadi bukan faktor kecerdasan) yang bisa diajarin beberapa kitab Fiqih sama Babeh.

Selain ngenalin baca tulis Al-Qur'an kepada anak-anak sekitaran rumah. Babeh ini sebenarnya mantan guru silat tapi karena usianya sudah tua, (saat itu usia Babeh 63 tahun) Beliau sudah tidak lagi mengajar silat. Dan konon Bapak gue adalah salah satu murid silatnya Babeh.

Babeh memiliki banyak anak, kalau gue tidak salah hitung (maaf jika gue salah hitung) ada sekitar 12. Namun karena beberapa anaknya sudah meninggal, tersisa 8 anak dan dari 8 anak; yang hampir semua sudah menikah. Hanya dua anak dan satu menantu yang tinggal bersama Babeh. Mereka adalah Bang Zaki, anak nomor 7 Babeh. Mbak Wati, Istrinya Bang Zaki dan Mpo Juleha anak bontot-nya Babeh, satu-satunya anak Babeh yang belum menikah. Usia Bang Zaki beberapa tahun lebih muda dari Mendiang Bapak gue. Sedangkan Mpok Leha saat itu usia-nya masih 18 tahun dan saat itu baru saja masuk sebuah Universitas Negeri di Depok.

Rumah Babeh berjarak sekitar 100 meter dari rumah yang pernah gue tinggali bersama Ibu sebelum Ibu meninggal (Saat itu gue belum mengerti status kepemilikan rumah itu). Di sebuah kawasan yang pernah menjadi kunci kesuksesan Pemerintahan Hindia Belanda mengurangi titik banjir yang ada di Batavia pada masanya.

Rumah Babeh tidaklah besar, hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi. Kamar pertama sudahlah pasti ditempati Babeh dan satu kamar lainnya di tempati Bang Zaki dan istrinya. Sementara Mpok Leha (sebelumnya) biasa tidur "ngaprak" di ruang tengah yang jika waktu sudah masuk waktu Ashar akan disulap menjadi ruang kelas Babeh. Itu kondisi sebelum gue dititipkan pada Babeh. Setelah gue dititipkan pada Babeh susunan itu berubah. Bang Zaki tidur di bale kayu yang ada di depan rumah, sementara Mpok Leha tidur bersama Mba Wati dan gue tidur "ngaprak" di ruang tengah.

Mungkin gue terlihat "menyusahkan" untuk keluarga Babeh. Tapi percayalah mereka sekeluarga adalah tipe "orang betawi" asli yang menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka. Walaupun suara mereka tinggi, bahasa mereka terkadang "nyeleneh" tapi perlakuan mereka benar-benar menunjukan bagaimana Indonesia bisa dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sekeluarga benar-benar berhati malaikat.

Anyway... Bicara menyusahkan, kesadaran apa yang bisa ditimbulkan anak berusia kurang dari 8 tahun? Bahkan saat itu gue sama sekali tidak merasa kalau gue ini menyusahkan. Namun seiring waktu, rasa sungkun perlahan timbul. Perasaan "kalau gue sudah banyak menyusahkan dan menjadi beban tambahan untuk keluarga Babeh" perlahan timbul seiring bertambahnya usia gue.

Mulai detik ini, gue berani menjamin kalau apa yang gue tuliskan berdasarkan apa yang sudah otak gue rekam dan berdasarkan apa yang telah tangan gue catatkan semenjak gue belajar bagaimana menulis sebuah buku harian saat duduk di sekolah dasar. So here we go!

They don’t give you a right



Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 47 lainnya memberi reputasi
42
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 16
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 20:08
Jika berhasil tidak dipuji
Jika gagal dicaci
Jika hilang tidak dicari
Jika mati tidak ada yang mengakui
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alverno.10 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 20:13
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alverno.10 dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 20:34

Part 1

Selain terkenal dengan pintu air dan stasiun kereta yang konon angker. Di kawasan gue tinggal juga terkenal sebagai kawasan dengan tingkat premanisme yang cukup tinggi; pemalakan, begal, tawuran masih sering terjadi di kawasan ini. Tidak hanya itu, bahkan di kawasan gue rasanya Narkoba dijual bebas, terang-terangan. Dari itu sedari kecil gue sudah terbiasa melihat orang ‘giting,’ ‘mabuk,’ atau bahkan mayat tergeletak karena overdosis bukan sesuatu yang aneh di tempat ini.

Tidak mengherankan jika anak-anak seusia gue saat itu terkesan berandalan, karena anak-anak seusia gue saat itu seolah terdidik menjadi seperti itu. Bagaimana tidak, para orang dewasa di kawasan ini tidak ragu untuk menyuruh anak-anak seusia gue membeli miras, ganja, putau, dan Obat-obat terlarang semacam Alprazolam atau Tramadol (Saat itu putaw masih jadi primadona). Dan bodohnya, para bandar tetap melayani walaupun pembelinya anak usia dini.

Gue mengingat, beberapa kali gue pernah di suruh membeli ganja. Hingga hal itu diketahui oleh Babeh, orang yang kerap menyuruh gue langsung diberi pelajaran oleh Babeh.

"Lo engga ngehargain gue sama bapaknya nih anak!" Gue mengingat ucapan Babeh sebelum Babeh menghajar habis orang itu.

Masa kecil gue tidak jauh berbeda dengan anak-anal kecil lainnya, Dunia ini adalah taman bermain. Hanya saja mungkin cara gue dan teman-teman gue bermain sedikit berbeda. Gue biasa bermain di bengkel kereta milik PJKA (PT.KAI) yang konon katanya angker. Gue biasa bermain bersama teman-teman sebaya; Bermain sepak bola, mencari bunglon, ular, atau bermain petak umpet yang menyiksa. Iya, gue katakan menyiksa karena biasanya bermain petak umpet hanya untuk "membully" teman gue (sebut saja) Mail. Setiap kali kamu main petak umpet, selalu Mail yang bertugas "jaga," mencari kami yang ngumpet. Dan gue pastikan Mail tidak akan bisa menemukan kami jika Adzan Magrib belum berkumandang. Karena lo harus tau, kalau gue dan teman-teman lainnya selalu ngumpet di daerah berbeda. Maksud gue, kadang kami ngumpet di Stasiun Jakarta Kota (beos), kadang kami ngumpet di Stasiun Pasar Minggu, atau kadang kami ngumpet hingga ke Bogor.

KRL adalah mainan kami! Bahkan saat gue masih kelas 3 SD gue sudah bisa merambat naik dari pintu kereta ke atap kereta saat kereta sedang melaju kencang. "Yeaa I'm spider man!" And please don't try it anywhere! Jika kalian sayang dengan nyawa kalian.

Selain permainan-permainan tradisional, gue juga sama seperti anak-anak kecil lainnya yang suka bermain di rental PS. Satu-satunya rental PS di dekat rumah gue yaitu milik Pak Haji Yakub. Gue sering berada di sana, bukan untuk bermain konsol PS One, melainkan hanya menjadi tim hore teman-teman gue yang asik bermain Game Bisi-Basi.

Ya, gue jarang sekali menyewa PS saat itu, karena gue tidak punya uang. As you know, gue tidak pernah dibekali uang oleh Babeh saat sekolah. Jika dipikir saat ini seharusnya gue masih harus bersyukur. Tapi itu jika gue pikir saat ini, namun saat itu gue tidak berpikir seperti itu, gue berpikir Babeh pelit!

Karena hal itu yang pada akhirnya gue mulai mengisi Botol Yakult dengan segenggam beras dan ya! Gue mengamen; terkadang di KRL dan terkadang di bus kota yang melewati terminal di dekat rumah gue.

Gue mengingat, saat itu gue masih kelas 4 saat gue dipergoki Bang Zaki sedang mengamen di Patas 976 jurusan Manggarai - Grogol. Bang Zaki langsung menarik gue turun kemudian menggiring gue ke Babeh, Bang Zaki melaporkan apa yang dilihatnya.

"Tole pengen punya duid, Beh. Tole mau main PS, Tole mau beli eskrim MCD, Tole mau jajan juga kaya temen-temen yang lain."

Babeh dan Bang Zaki lalu terdiam saat mendengar alasan gue mengamen. Entah apa yang mereka pikirkan, sekali lagi saat itu gue hanya anak SD yang pasti belum bisa merasakan perasaan orang lain. Yang gue pikir hanya bagaimana gue bisa bersenang-senang.

"Yaudah ngamennya jangan jauh-jauh." Ucapan Babeh dengan ekspresi wajah yang tidak biasanya, yang sampai saat ini masih teringat jelas dalam benak gue bangai mana ekspresi Beliau. Sebuah ekspresi penuh sesal dan ketidakberdayaan yang dalam ekspresinya juga terselip doa agar gue baik-baik saja.

Quote:Dear Diari...
Eh elu sape diari? Gue harus laporan kegiatan gue Elu polisi? Yeee Babeh ajah enggak pernah nanyain gue ngapain
elo malah nanya
fudul lo
udah ah diari gue capek


That is my first "Diari." Sebuah tugas rumah mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan Ibu Dewi, wali kelas gue saat kelas 5 SD yang pada akhirnya membuat harus mendapat bimbingan lebih di keesokan harinya saat pekerjaan rumah itu dikumpulkan.

"Bukan begitu Widi cara menulis diary. Kamu harus menuliskan kejadian atau aktifitas apa saja yang kamu lalui seharian ini. Apa kamu main bola, apa kamu ngaji. Kamu juga harus tulis bagaimana perasaan dan harapan kamu. Misalnya, hari ini aku senang sekali karena saat aku bersamaan sepak bola bersama teman-temanku sore ini, aku berhasil mencetak gol dengan tendangan yang sangat keras. Semoga, besok aku bisa kembali mencetak gol lebih banyak lagi." Lembut Bu Dewi menjelaskan.

Bu Dewi adalah wali kelas gue saat kelas 5, beliau mengajar semua mata pelajaran kecuali Agama dan Olahraga. Karena memang dahulu seperti itu. Bu Dewi seorang yang sangat baik. Sosok guru yang tidak pernah sedikitpun kasar; membentak, memukul, atau berbicara dengan keras. Beliau selalu berbicara dengan tersenyum serta dengan nada yang lembut. Beliau bahkan tidak pernah marah setiap kali gue menjahili anaknya, (Sebut saja) Aini yang juga teman sekelas gue.

Semenjak itu, gue selalu diwajibkan Bu Dewi menulis buku harian yang selalu akan diperiksa beliau setiap hari. Tentu saja hal itu membuat gue kesal. Gue merasa mendapat perlakuan tidak adil. Dan menyebalkannya, gue tidak berani protes akan itu, gue hanya bisa pasrah dan melampiaskan kekesalan gue pada Aini dengan selalu menjahilinya hampir setiap hari. Hampir, jika saja hari minggu tidak libur mungkin gue akan merubah kalimat gue menjadi, setiap hari gue menjahili Aini.

Dan hal itu, PR buku harian terus berlanjut hingga penghujung gue berada bersekolah di tingkat dasar bahkan saat Bu Dewi tidak lagi menjadi wali kelas gue, Menyebalkan!

Di penghujung kelas 6, setelah mengikuti general tes; sebuah tes yang dilakukan untuk menentukan apakah gue bisa melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri yang gue inginkan atau tidak. Babeh mengajak gue ke sebuah rumah besar yang berada di daerah Tebet.

Rumah seorang keluarga keturunan Arab, dengan nasab yang jelas dan terjaga, biasa di sebut Habib. Babeh mengajak gue bertemu sang empunya rumah lalu mengenalkanku pada beliau sebelum akhirnya menyatakan maksud dan tujuan Babeh, jika Babeh meminta sang empunya rumah agar gue diizinkan memperdalam ilmu agama bersama Beliau.

Awalnya beliau menolak. Beliau mengatakan jika Beliau bukanlah seorang "Mubalig," Beliau hanya seorang penganut Agama. Namun Babeh terus memaksa. Namun juga beliau dengan sopannya terus menolak. Hingga keduanya berbicara dengan bahasa arab yang saat itu gue belum mengerti, Beliau akhirnya menyetujui.

"Kheir, mulai besok Ba'da magrib Antum Ane tunggu di sini."

Dan itulah kalimat pertama dari seseorang yang kelak gue panggil Baba.

Selepas itu, Babeh mengajak gue pulang. Di perjalanan pulang, saat melintasi jalan Dr. Sahardjo terlihat dua kelompok warga yang tengah terlibat tawuran. Jujur saja gue sama sekali tidak takut melihatnya. Pemandangan seperti ini sudah biasa gue temui, terlebih di jalan ini memang sering digunakan sebagai medan tawuran; kadang tawuran antar pelajar, kadang tawuran warga rasanya sudah menjadi rutinitas di daerah ini.

Namun yang membuat gue sedikit bergidik adalah sikap Babeh. Babeh tidak mengambil jalan lain, Babeh terus menggandeng gue dan terus berjalan menerobos kerumunan warga yang sedang bertikai dengan santainya tanpa sedikitpun terlihat takut. Dan anehnya, warga yang sedang saling mengadukan senjata mereka terlihat acuh pada gue dan Babeh. Mereka seperti tidak melihat gue dan Babeh yang berjalan melintasi tengah-tengah mereka.

Setelah melewati arena tawuran itu, gue dan Babeh tiba di Jl. Minangkabau. Babeh mengajak gue ke salah satu kios gitar. Babeh lalu melihat-lihat gitar kemudian beberapa kali mencobanya. Hal yang baru gue ketahui saat itu, jika Babeh adalah seorang yang mahir bermain gitar.

Babeh lalu membelinya satu, sebuah gitar fender (sudah pasti barang imitasi) lalu Babeh memberikannya pada gue.

"Babeh engga bisa ngasih apa-apa. Nih, buat lo pake ngamen, nyari duit yang bener, yang halal. Babeh dari dulu diemin lo ngamen karena Babeh sadar lo pingin jajan dan Babeh engga bisa ngasih itu, mangkanye Babeh diem. Pesen Babeh cuma biar lo engga lupa sama Agama, tapi juga jangan cuek sama dunia. Biar pegimane Le sebelum lo nyampe ke Akherat sebelomnye kudu berkutat di dunia."

Andai aku tahu jika semua itu pertanda

Beberapa hari setelah itu gue bersama teman-teman gue sedang merayakan kekecewaan gue pada hasil general test yang gue ikuti sebelumnya. Sebenarnya hasilnya tidak mengecewakan, dari segi nilai gue mendapatkan nilai yang tinggi. Namun jujur saja, bukan seperti itu yang gue harapkan. Gue berkeinginan masuk ke smp yang terkenal dengan reputasi tawurannya. Bukan sebuah SMP favorit yang konon diisi anak-anak "gedongan."

Awalnya memang gue mencantumkan SMP pilihan gue di posisi pertama diantara dua pilihan lainnya. Namun karena anjuran Bu Dewi yang menganjurkan sebaiknya gue menempatkan SMP yang menjadi favorit itu pada urutan pertama gue pun mengubahnya.

Alasannya logis, jika pada pilihan pertama gue mencantumkan SMP yang syarat nilai masuknya tidak begitu tinggi dan hasil general test gue ternyata tidak mencukupi, maka sudah bisa dipastikan gue tidak akan bisa masuk ke dalam pilihan SMP selanjutnya, karena nilai gue sudah pasti tidak mencukupi. Namun jika gue meletakan SMP yang syarat masuknya harus memiliki nilai yang tinggi, jika nilai general test gue tidak mencukupi maka gue masih bisa berkemungkinan masuk di pilihan kedua atau ketiga sekali pun.

Maka dari itu Bu Dewi menyuruh gue menempatkan SMP favorit terlebih dahulu di atas SMP yang sebenarnya ingin gue masuki.

Dan siapa sangka jika nama gue, dengan nilai general test yang gue dapatkan, gue duduk nyaman di posisi 10 besar di SMP favorit yang dimaksud. Bahkan Aini yang notabene-nya selalu mendapat rangking pertama dari kelas 3 hingga kelas 6 nilai general tesnya masih jauh lebih rendah dari gue. It's so unpredictable!

Dan malam itu, gue merayakannya dengan menikmati ice cream cone mc donalds (yang saat itu) seharga 900 Rupiah, bersama teman-teman sekelas gue. Termasuk Mail dan Aini di dalamnya.

Hingga lampu-lampu pusat perbelanjaan yang berada di samping Terminal ini padam, dan seorang security sudah menyuruh kami pulang. Kami semua bergegas pulang.

Dalam perjalanan pulang kami bertemu Bu Dewi, awalnya gue pikir Bu Dewi hendak mencari Aini. Biar bagaimanapun ini sudah cukup larut untuk anak-anak seusia kami masih berkeliaran. Namun Bu Dewi langsung menghampiri gue kemudian mengatakan sesuatu yang pada akhirnya membuat gue untuk pertama kalinya merasakan sebuah kehilangan.

Gue menyaksikan bagaimana nafas Babeh terengah-engah. Di tengah-tengah riuh suara rekan sejawat beliau yang terus melantunkan Surah Yasin dengan berlinangan air mata. Sementara gue melihat anak-anak Babeh satu persatu berdatangan. Gue hanya bergeming di dalam dekapan hangat Bu Dewi yang juga sudah berlinangan air mata.

Babeh mengangkat telapak tangannya, seperti memberikan isyarat untuk seseorang menghampiri beliau. Kiai Husni, dengan sigap menangkap kode tersebut, menghampiri Beliau.

"Tuntun gue, Ni!" Ucap Babeh terlihat bersusah payah untuk bicara.
Pak Kiai yang hendak berucap seketika terdiam saat Babeh kembali mengangkat telapak tangannya. "Bentar, Ni." Babeh berbicara dengan sedikit gemetar. "Tole di mana, Le! Lo di mane Le! Sini bentar le!" Suara Babeh seketika kembali lantang.

Para kerabat yang duduk di sebelah kasur yang ditiduri Babeh pun sedikit bergeser, seperti memberi ruang untuk gue masuk ke dalamnya. Gue hanya bergeming, jujur saja saat itu gue sedikit takut.

"Tole disini Beh." Ucap Bu Dewi yang kemudian menuntut gue ke sisi Babeh.

"Mane!"

"Ini Beh" Ucap Bu Dewi.

Babeh lalu mengarahkan tangannya, seperti mencari. Sedangkan wajah dan matanya tegak menatap langit-langit. Pak Kiai yang duduk di tepian kasur Babeh pun menggiring tangan Babeh ke wajah gue. Gue langsung mendekap telapak tangannya dengan kedua tangan gue, dan seketika air mata gue mengalir begitu derasnya.

"Le, Babeh pamit ye. Maapin Babeh kalo selama ini Babeh kasar sama Tole..."

"Babeh jangan pergi!" Selak gue sambil menangis.

"Waktu Babeh udeh abis, Le. Babeh udeh ditungguin. Babeh ga boleh lama-lama lagi. Babeh cuma mau pesen sama lo Le! Jangan tinggalin ngaji, solat lo juga jangan ditinggalin. Lo juga jangan benci sama Bapak lo, bapak lo orang bae' Le. Lo kudu bisa kaya bapak lo, kalo perlu lo harus bisa lebih dari bapak lo. Jangan kaya Babeh, penakut! Yee, Le! Lo denger gue kaga! Jangan nangis aje!"

"..." Gue tetap menangis.

"Pinter-pinter idup, kudu banyak akal! Lo harus bisa ngakalin dunia. Tapi lo jangan pernah ngakalin Agama kalo lo mao selamet dari Neraka."

"..." Tangis gue makin menjadi-jadi.

"Ah lo sih cengeng! NI! Buru tuntun gue NI! Gue udeh diomelin nih." Lalu Pak Kiai dengan sigap me-talqin-kan Babeh.

“La ilaha illallah” Kalimat terakhir yang berkumandang dari lidah Babeh sebelum Babeh menghembuskan nafas terakhirnya, dengan tersenyum.

Deru tangis menggema memenuhi seisi ruangan. Seorang Guru, Ayah, serta orang tua telah pergi menemui Ilahi. Seorang contoh nyata dari sebuah kalimat manusia bijaksana telah berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa. Kebaikan yang penuh welas asih, keta'atan yang tidak pernah berpamrih, keluhuran yang gigih, serta budi yang tidak pernah berdalih, selalu diajarkan oleh Babeh melalui sikap tanpa mengkiasnya dalam ucap. Sejatinya sosok, Babeh, yang pantas untuk diguguh dan ditiru.

Perasaan ini dipenuhi haru, kenyataan ini begitu menyesak. Dalam tangis terus menderu, dari hati yang begitu terkoyak
.

Gue pernah kehilangan Ibu, sebelumnya gue sudah terlebih dahulu kehilangan Bapak. Namun tanpa mengurangi rasa cinta gue kepada keduanya, kehilangan Babeh terasa lebih pilu. Semua kenangan tentang Babeh seketika membuncah di dalam angan, bagaimana Babeh merawat gue dengan penuh kasih sayang.

Saat itu gue tidak tahu gue seharusnya mengikhlaskan. Namun bagaimana, ikhlas adalah suatu hal yang sulit dilakukan, bahkan untuk manusia yang sudah mencapai titik kedewasaan, ikhlas tidak serta merta seperti membalik telapak tangan.

Terlebih untuk gue yang saat itu baru saja akan memasuki fase remaja, bagaimana kelanjutan hidup gue setelah Babeh tiada?

Babeh dikebumikan keesokan harinya selepas sholat jum'at, prosesi pemakaman benar-benar membuat hati gue tersayat. Gue tidak henti-hentinya menangis. Banyak orang coba menguatkan, namun kenyataan tidak bisa ditepis. Kehilangan ini begitu memilukan.

Pada waktu yang tidak bisa kembali
Diriku menukil saksi
Sebagaimana manusia berbudi
sebagaimana manusia membentuk diri


Gue terus menangis sambil memeluk Nisan kayu yang tertancap kuat di atas gundukan tanah merah yang bertabur bunga. Gue masih berharap jika ini semua hanya mimpi, tapi harum-harum bunga yang begitu kentara seperti menegaskan jika ini semua kenyataan.

"Sudah Nak, ikhlaskan. Babeh engga bener-bener pergi. Dia selalu ada di sini, di hati kamu. Menangis seperti ini justru akan membuat Babeh sedih..." Ucap Bu Dewi sambil merangkul gue erat. Kamu sayang, kan. Sama Babeh? Kalau kamu sayang sama Babeh, kamu doakan dan ikhlaskan. Cup, kamu anak laki, Ibu yakin kamu pasti kuat." Lanjut Bu Dewi kemudian mengajak gue berdiri untuk meninggalkan area pemakaman ini.

Pilu ini selamanya akan tersimpan seiring waktu yang terus berjalan
Selamanya Babeh akan selalu terkenang
Sebagai orang tua yang mengajarkan dasar kehidupan

Sang waktu merubah pilu menjadi rindu dan doa sepanjang waktu.
Terimakasih selalu
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 27 lainnya memberi reputasi
28 0
28
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 21:21
Numpang bikin bivak disini gan... Hehehe, btw ane kayanya kenal persis daerah2 yg agan sebutin.. kurang lebih sama kaya daerah ane tinggal di area flyover yg dijadiin lagu sama band indie 2000an..
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 21:42

Part 2

Selepas pemakaman gue kembali ke rumah Babeh, suasana duka masih sangat terasa. Beberapa warga dan keluarga masih banyak berkumpul di dalam dan di depan rumah Babeh. Di sana gue juga melihat Bude Ika dan Pakde Min. Mereka berdua di dalam rumah, sedang berbicara dengan beberapa anaknya Babeh, entah apa yang mereka bicarakan. Gue masih di dalam dekapan Bu Dewi, saat tiba di rumah Babeh. Lalu Bu Dewi melepas pelukannya kemudian bergabung, duduk bersama Bude dan Anak-anaknya Babeh.

Gue masih berinisiasi menguping pembicaraan mereka, yang ternyata sedang membicarakan gue. Anak-anaknya Babeh merasa jika sudah tidak mampu lagi untuk menampung gue. Sementara Bude juga menyatakan ketidak sanggupannya jika harus memboyong gue ke Kebumen. Mendengar itu semua gue merasa marah; gue merasa tidak diinginkan, gue merasa jika gue tidak dipedulikan. Gue langsung merangsek masuk ke dalam rumah Babeh, mengemas semua pakaian gue ke dalam tas yang biasa gue gunakan sekolah. "Tole bisa hidup sendiri!" Ujar gue pada semuanya yang ada, lalu bergegas pergi.

Bang Zaki dan Mpok Leha sempat menahan, namun gue memberontak dengan begitu keras, bahkan sampai memukul Bang Zaki yang pada akhirnya berhasil membuat gue lolos walaupun tas yang berisi pakaian gue berhasil diambil oleh Mpok Leha. Tapi gue tidak peduli, gue terus berlari menuju ke Stasiun dan langsung menaiki krl yang sedang melaju pelan hendak meninggalkan stasiun ini.

Setelah KRL meninggalkan stasiun gue langsung merambat naik ke atapnya. Di atap KRL gue merebahkan diri sambil menutupi wajah gue agar tidak terlihat jika gue sedang menangis. Di atap KRL gue melihat abang-abangan gue yang tengah duduk asik merokok di atap gerbong kereta di belakang gerbong gue. Dia juga melihat gue kemudian menghampiri gue. "Ngape lo Le?" Tanya dia duduk di sebelah gue.

"Gapape, Bang." Sahut gue kembali menutup wajah gue dengan lengan gue.

"Sedih ye Babeh meninggal, gue juga ngerasain keilangan, Le..." Ujarnya.

"..." Gue hanya bergeming.

"Dulu gue pernah juga ngaji sama Babeh, tapi gak lama. Gak kuat disabet mulu, hehehe." Lanjutnya.

"Iya bang." Sahut gue.

"Iya apaan?"

"Au." Sahut gue lagi sekenanya.

"Tadi gue liat ada Bude lo, Le."

"Iye mangkanye gue cabut." Sahut gue.

"Lah ngape?" Tanya dia.

"Gapape, Bang. Males aje."

"Emang kebangetan sih Bude lo. Bukanya ngerawat lo, malah nitipin lo sama orang. Udah gitu denger-denger duid kontrakan rumah lo digares sendiri, bukannya dikasiin Babeh."

"Haah." Mendengar itu entah kenapa kekesalan gue semakin bertambah, gue merasa sudah benar-benar dicurangi oleh Bude gue dan seketika rasa marah gue menjelma menjadi benci kemudian mengutuk Bude dalam hati.

KRL berhenti di stasiun Jakarta Kota. Abang-abangan gue lalu pergi hendak melaksanakan aksinya, nyopet. Sementara gue masih merebahkan badan gue di atap kereta. Sampai akhirnya suara bentakan yang begitu keras dari petugas pengamanan stasiun atau yang dulu biasa gue sebut "Lango" terdengar di telinga gue. "Woi turun lo Mbel!" Teriaknya, gue segera bangun tapi tidak langsung turun.

Gue sadar jika gue turun gue akan langsung disergap olehnya. Gue kemudian berlari, melompati gerbong-gerbong hingga gerbong terakhir kereta ini. Lango yang meneriaki gue ikut mengejar namun langkahnya kalah cepat oleh gue yang sudah berhasil melompat dari gerbong paling belakang ke peron. Sehabis mendarat di peron, dengan kaki yang sedikit nyeri. Gue terus berlari dari kejaran Lango. Hingga gue sampai di atas kali yang berada di ujung stasiun, gue melihat Lango sudah tidak lagi mengejar. Gue pun memperlambat langkah.

Kemudian gue berjalan ke arah Glodok, disana gue berkeliling tanpa tujuan. Gue lalu duduk di sebuah rumah bergaya etnis Tionghoa yang terpampang tulisan dengan huruf mandarin di depannya, kemudian bersandar di pagarnya. Gue tidak tahu lagi harus kemana, gue juga tidak tahu lagi harus berbuat apa. Namun saat itu gue merasa sangat lapar serta dahaga, gue kemudian merogoh saku celana berharap ada uang terselip atau tersisa.

Namun nahas, uang yang ada tak lebih dari 500 rupiah. Saat gue tengah bersandar sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan gue kemudian membuka jendela kacanya. Gue melihat seorang Bapak-bapak dengan rambut tersisir rapi kebelakang serta kumis tipis duduk di belakang kemudi, sedangkan di sebelahnya gue melihat seorang anak laki-laki borju yang sepertinya seusia gue. Bapak-bapak itu kemudian memanggil gue,"sini Dek!" Panggilnya lalu gue menghampiri.

Saat gue menghampiri, gue melihat seorang perempuan cantik yang sepertinya seusia Mpok Leha duduk di kursi belakang. "Kenapa, Pak?" Tanya gue.

"Sebentar." Bapak-bapak itu terlihat mengambil sesuatu dari saku celananya. "Nih buat kamu, saya perhatiin dari tadi kamu muter-muter kaya kelaparan." Lanjut Bapak-bapak itu sambil tersenyum ramah, begitu juga perempuan yang duduk di belakang.

Lain halnya dengan anak laki-lakinya. Dia terlihat acuh tak peduli. "Anak orang kaya emang songong!" Belum sempat gue mengucapkan terimakasih, mobil itu sudah melaju pergi.

Gue langsung mengantongi uang pecahan 100 ribu yang diberikan bapak-bapak tadi ke dalam saku celana gue. Kemudian gue langsung kembali ke Stasiun Jakarta Kota. Di Stasiun, gue membeli kwetiau yang ditaburi bumbu kacang, Gue memakannya dengan lahap dan sebotol es teh manis sebagai pelengkap untuk mengatasi lapar serta dahaga yang sedari tadi mendekap.

Sehabis makan gue duduk di pinggiran peron. Melihat orang-orang berlalu lalang, sepanjang siang menuju petang. Gue sedikit tertarik saat melihat seseorang merokok, dalam benak gue mungkin itu akan mengasyikan. Memainkan asap keluar masuk mulut dan hidung seperti saat gue memainkan cerutu yang berisi biang es saat masih sekolah.

Anyway bicara soal sekolah, gue lupa jika hari itu seharusnya gue bersama wali murid melaporkan diri di mana nama gue tercantum. Namun mengingat apa yang terjadi saat itu rasanya harapan untuk melanjutkan sekolah sudah terbenam. Dan siap tidak siap gue harus bertahan sebagai seorang gelandangan. Tanpa terasa hari sudah memasuki petang dan kepala gue rasanya sudah ‘mengkal’, akibat penasaran akan asiknya memainkan asap rokok yang pada akhirnya membuat gue membeli beberapa batang rokok gudang garam merah kretek.

Gue lalu pengumuman dari pengeras suara, jika kereta yang berada di peron 11 akan berangkat. Gue melihat kereta sudah penuh sesak, bahkan di atap sudah banyak gerombolan orang duduk di sana. Bergegas lalu gue menuju kereta itu dan menaiki atapnya sesaat sebelum kereta berangkat. Gue tidak tahu kemana tujuan gue saat itu, walau gue tahu kereta itu akan menuju ke Bogor namun gue masih belum memutuskan saat itu kemana gue akan singgah melewati malam.

Hingga kereta tiba di stasiun Cawang gue melihat langit sudah menghitam, sore sudah berganti malam. Gue lalu turun di stasiun itu, kemudian berjalan ke luar melalui belakang stasiun hingga gue menemui sebuah taman yang sepi dan gue duduk kursi yang terbuat dari pipa besi. Gue pun memutuskan untuk bermalam di sini. Gue terbangun saat seseorang membangunkan gue, seorang petugas kebersihan yang hendak membersihkan area taman ini. "Dek, bangun dek. Kamu pindah tidurnya jangan di sini, biasanya nanti pagi suka ada pol pp lewat sini nanti kamu di bawa malahan." Ujarnya.

Lalu gue menanyakan jam kepada bapak itu yang hanya dijawab dengan melebarkan telapak tangannya, yang berarti sudah pukul 6. Oke gue masih mabok nikotin! Lalu gue berjalan kembali ke arah stasiun. Gue berhenti sejenak di palang pintu kereta yang hanya digunakan untuk menyebrang orang dan motor. Gue berhenti sejenak sambil melihat warung yang ada di seberang rel sebelum akhirnya menghampiri warung itu untuk membeli sebotol yakult dan berharap sang empunya warung mau memberikan sedikit beras serta plastiknya untuk membuat peralatan ngamen gue. "Buat ngamen kamu yah!?" Tanya Ibu-ibu pemilik warung.

"Iya Bu, heheh."

"Yaudah ambil, nih plastik sama karetnya. Udah yakult-nya ga usah bayar. Itung-itung sarapan buat kamu."

Gue mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada Ibu pemilik warung itu. Dalam hati membatin jika masih ada orang baik di sini. Setelah alat musik dadakan gue jadi, gue kembali berjalan ke arah stasiun. Namun, gue melihat ke atas jalan raya yang berada di atas stasiun gue mengurungkan Niat untuk mengamen di kereta. Gue kemudian naik ke atas Jl. MT. Haryono lalu mengamen dari bus ke bus yang melintasi jalan itu.

Entah sudah berapa kali gue berpindah-pindah bus. Hingga gue sampai di sebuah perempatan, saat itu gue belum mengetahui jika daerah itu adalah perempatan Cilitan. Kemudian gue menaiki Kopaja bernomor 57 yang dari tulisan serta teriakan kernetnya, kopaja itu mengarah ke Blok-M. Setelah mengamen di kopaja yang sedikit penuh sesak, gue pun turun tepat di depan Makam Pahlawan.

Dari depan Makam Pahlawan gue berjalan ke arah markas anak-anak Slankers, berniat untuk sarapan di sana. Namun siapa sangka saat itu gue bertemu Bu Dewi dan Beliau langsung mencengkram erat tangan gue supaya gue tidak melarikan diri. Dan herannya saat itu gue tidak melawan. "Ikut Ibu sebentar!" Ucap Bu Dewi Tegas lalu menggandeng gue erat mengikuti langkahnya.

Bu Dewi terus menuntun gue seperti Ibu yang sedang menuntun anaknya, gue hanya bisa mengikutinya. Lalu Bu Dewi masuk ke dalam Gedung Kampus STEKPI. Sesaat sebelum Bu Dewi masuk, beliau menitipkan gue pada security yang ada. "Pak saya minta tolong titip anak saya sebentar, jangan sampe lari yah, Pak. Bandel nih anak suka kabur." Ujar Bu Dewi pada security tersebut.

"Siap Bu Dewi, aman terkendali." Sahut security tersebut seperti sudah sangat mengenal Bu Dewi.

Di dalam pos security gue menghitung uang hasil gue mengamen. Kalau tidak salah...( Berarti benar) jumlahnya sekitar 79.300 Rupiah, ditambah uang yang gue punya sebelumnya, uang gue menjadi 150.100 Rupiah. Jumlah yang cukup banyak untuk saat itu.

Sekitar hampir sejam gue berada di pos security, Bu Dewi kembali. Dengan gelagat yang masih sama, Bu Dewi memegang erat tangan gue karena takut gue lari lagi kemudian kami menaiki sebuah taxi berwarna putih. Gue bersumpah, saat itu pertama kalinya gue naik taxi. Awalnya gue mengira jika gue akan dibawa kembali ke rumah Babeh.

Ternyata Bu Dewi membawa gue ke rumah yang dulu gue tempati bersama Ibu, sebelum Ibu meninggal. Rumah itu sudah dalam keadaan kosong, tanpa satu pun barang di dalamnya. "Kamu bantuin Ibu nyapu, yah." Ucap Bu Dewi saat tiba di rumah gue.

Entah kenapa gue selalu menurut apa perkataan Bu Dewi. Padahal kalau dipikir gue bisa saja lari, gue bisa saja memberontak dari awal Bu Dewi menarik gue di depan Potlot. Lalu gue menuruti perintah Bu Dewi untuk menyapu rumah ini, sementara Bu Dewi terlihat mencari-cari sesuatu di depan rumah gue. Rumah gue juga bukanlah rumah yang besar, hanya ada dua kamar, dapur, dan satu kamar mandi.

Besarnya juga kurang lebih sama dengan rumah Babeh, hanya saja rumah gue memiliki sedikit halaman berukuran 2x2 meter yang dulu biasa digunakan Ibu untuk menjemur pakaian. Tidak seperti rumah Babeh yang menggunakan bambu yang dibentangkan di atas kali untuk menjemur pakaian yang terkadang jika angin kencang gue harus merelakan pakaian gue hanyut ke kali yang menyambung ke kali besar ciliwung itu. Setelah terlihat celingukan, Bu Dewi lalu terlihat memanggil seseorang. Abang-abangan gue yang bernama (sebut saja) Bento. Bu Dewi kemudian menyuruh Bento untuk memanggil Mpok Leha kemari.

Tidak lama Mpo Leha datang setengah berlari sambil menenteng Tas gue. Dia langsung masuk dan langsung memeluk gue sambil menangis. "Lo jangan begitu dong, Le. Lo kan udah gue anggep kek adek gue sendiri. Gue khawatir tau Le." Ucapan Mpo Leha yang sedikit membuat gue terenyuh, yang pada akhirnya membuat gue menitikan air mata.

Suasana sedikit haru tercipta. Mpo Juleha lalu memberitahu jika sebenarnya Abang dan Empok-empok nya yang lain bukannya tidak ingin jika gue tinggal bersama mereka. Sebenarnya itu hanya sedikit menyindir pada Bude gue yang selama ini hanya menitipkan gue pada Babeh tapi tidak pernah sedikitpun memberi uang untuk sekedar membantu.

Padahal, menurut penuturan Mpok Leha. Bude gue bukan hanya menyewakan rumah gue, Bude Ika juga mengelola pabrik genteng tanah liat yang sebenarnya milik Bapak gue. Mendengar itu kebencian di hati gue semakin mengental. Gue merasa Bude gue benar-benar orang yang licik karena sudah tega mendzolimi gue sebagai anak yatim piatu.

Walau gue benci diperlakukan sebagai anak yatim piatu, tapi setidaknya seharusnya Bude gue memberikan hak yang seharusnya menjadi milik gue. "Sudah-sudah, tidak baik membicarakan orang lain seperti ini. Sudah mulai sekarang Widi, kamu tinggal di sini lagi sama Leha. Ibu kemarin sudah bicara sama Bude kamu. Nanti tiap bulan Bude kamu kirim uang melalui Leha buat kamu." Ujar Bu Dewi mencoba menetralisir keadaan.

"Bu Yee, ngobrol terus ini di taro di mane!?" Celetuk Bento yang sedari tadi berdiri mematung membawa sebuah kasur kapuk.

Sedikit tentang Bento. Dia ini abang-abangan gue yang paling waras di antara yang lain. Yah walaupun dia juga pengguna narkoba. Tapi dia ini engga ribet. Kalo mabok paling kalem, tapi kalo engga mabok paling berisik. Berisik dalam artian tukang banyol, mirip-mirip komeng. Rambutnya juga belah tengah mirip komeng, bahkan belah tengahnya konsisten sampe gue sekarang saat gue nulis cerita ini.

Bento juga disegani sama yang lain, karena memang nyalinya ada dan engga segan buat nusuk orang kalo dia udah kesel. Tapi keselnya dia jarang banget, susah bikin dia kesel sampe nusuk orang. Soalnya dia emang dasarnya orang baik dan terpelajar. Jadi selalu mikir-mikir kalo mau ngelakuin sesuatu.

"Hahaha, kamunya ajah pinter Ben, tinggal ditaro disitu ajah." Sahut Bu Dewi.

"Ya kan takut salah Bu nanti ponten kite jelek."

Setelahnya kami semua berbenah, ternyata bukan hanya kasurnya Mpok Leha yang diboyong dari rumah Babeh ke rumah gue. Tapi semua barang-barang Mpok Leha dipindahkan semua ke rumah gue. Kami; gue, Bu Dewi, Mpok Leha, Bento, Mba Wati, Aini dan beberapa Pemuda seusia Bento selesai beberes di rumah gue sekitar Ba'da Dzuhur.

Setelah selesai berbenah kami semua makan bakso hasil traktiran Bu Dewi sambil berbincang-bincang. Lebih tepatnya mereka para orang dewasa yang berbincang. Sementara gue dan Aini hanya fokus mendengarkan. Setelah selesai makan, satu persatu orang yang ada bergegas pamit. Menyisakan gue, Bu Dewi, Mpo Leha dan Aini. Bu Dewi lalu menyuruh Aini mengambilkan sebuah map yang ada di rumahnya.

Oh iya, rumah gue dan rumah Bu Dewi hanya berselang lima rumah dalam RT dan RW yang sama. Hanya beberapa menit Aini lalu kembali membawa sebuah Map berwarna biru. Bu Dewi lalu membukanya dan membaca satu persatu kertas yang ada, lalu memberikan gue secarik kertas yang berisi pengumuman tanggal masuk sekolah.

"Nih, Le. Kamu masuk sekolah hari sabtu minggu depan. Pake seragam, buat pengarahan MOS nanti." Ucap Bu Dewi yang membuat gue sedikit terkejut. "Ibu mau kamu tetep sekolah, jadi kemarin Ibu ke sekolah SMP kamu buat lapor diri. Kamu ini pintar Le, Cerdas. Ibu engga mau kamu putus sekolah. Lagian sayang, kan. Kamu sudah berhasil masuk SMP favorit. Aini ajah yang Ibu harapkan bisa masuk ke sana malah engga masuk."

"Tatatapiii... BU..."

"Udah jangan banyak tapi. Kamu harus sekolah! Mau jadi apa kamu lagian kalo engga sekolah. Ngamen gitu ajah? Ibu mau kamu, Aini, semua anak-anak Ibu punya masa depan yang bagus. Jadi orang! Kamu sudah beranjak remaja, kamu harus mulai pikirkan masa depan kamu. Aini juga! Kalian ini bukan anak-anak lagi, mengerti!?"

"..." Gue dan Aini hanya bisa terdiam.

"Udah pokoknya kalian sekolahnya harus pinter berdua!" Lanjut Bu Dewi.

Gue bukan anak kecil lagi. Harus pikirin masa depan! Tapi masa depan yang seperti apa? Bahkan saat itu gue tidak punya gambaran mau seperti apa di masa depan!

Quote:Dear Diari:
Ternyata masih ada orang yang sayang sama gue. Ih gue seneng tapi sedih. Lo ngerti kan, Diari? Oh iya, gue boleh tanya? Di masa depan enaknya jadi apa, yah?


###
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jojo8228 dan 26 lainnya memberi reputasi
27 0
27
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 22:10
TS-nya nge fans sama Cak Nun nih kayanya.
by the way, numpang pasang tenda bolehkan?
0 0
0
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
31-10-2020 23:47
Realita kehidupan yang lumayan terjal ya gans...



Bikin gue jadi lemper bacanya he he..


Maturnuwun sajiannya yak
0 0
0
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 00:04
Keren
0 0
0
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 00:41
Gila, baru 2 part aja lngsng bikin insekyur "ajg bahkan di umur gw skrg aja blm tentu isa 'idup' seperti di waktu elu bocah gitu".
Nice story, pasti bisa banyak ni yg di petik emoticon-Malu
profile-picture
genji32 memberi reputasi
1 0
1
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 01:32
Baru selesai nacepin pasak nih, tinggal tarik flysheetnya yg kuat biar ujan gk nampuhg aer. Lanjut gan, ceritanya bikin flashback jaman sekolah dlu..
0 0
0
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 02:04

Part 3

Setiap manusia mempunyai kemampuan beradaptasi Namun tidak setiap manusia bisa cepat berimprovisasi


Seperti apa SMP favorit, seperti apa murid-murid yang bersekolah di sana? Pertanyaan itu terus timbul dalam kepala gue saat gue sedang menunggu metromini yang akan gue tumpangi untuk berangkat ke sekolah yang nantinya akan menjadi tempat gue menimba ilmu, gue hampir buta akan informasi tentang itu. Informasi yang valid yang gue terima tentang sekolah itu hanya tentang reputasinya sebagai SMP favorit se-antero DKI. Sisanya gue hanya mendengar desas-desus yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sebagai anak laki-laki tentu gosip pertama yang teringat di kepala gue jika siswi smp itu cantik-cantik. Dan gue tidak peduli, koreksi! sebenarnya belum peduli. Ada lagi gue mendengar gosip jika sekolah itu berisikan anak-anak orang kaya. Dan ya, oke, gue catat itu. Ada juga yang mengatakan jika anak miskin pasti akan dikucilkan. Emmp, ya, selama engga nyolek gue, biarkan. Dan ada juga yang mendengar desas-desus beredar jika di sana, menerapkan sistem eliminasi. Jadi siapapun dia yang berada di ranking tiga terbawah harus angkat kaki dari sekolah, alias DROP OUT. Oh, gitu. Wait! Bisa diulang?

Semua desas-desus itu sedikit banyak membuat gue sedikit gugup. Tapi jujur saja saat itu gue lebih takut pada proses adaptasi-nya. Karena gue menyadari kalau gue ini orang yang sulit bersosialisasi dengan orang-orang baru. Saat itu gue belum pernah membangun pertemanan dari sebuah perkenalan secara resmi dan benar. Ya, bayangkan dan ingat saja apa lo pernah kenalan dengan teman SD lo saat lo baru beranjak dari TK ke tingkat Sekolah Dasar. Gue yakin saat itu pasti lo semua kenal berawal dari "Eh."

"Eh, nama lo siapa?"

"Tarsem!"

"Oh, gue Maemunah!"

Bayangkan jika cara itu gue terapkan di mara peralihan ke tingkat menengah pertama ini. "Eh eh, nama lo siapa?" "Anjrit (bukan anjay) songong banget lo ah eh ah eh!!" oke lupakan!

Setelah Metromini yang akan gue tumpangi keluar dari terminal, gue langsung menaikinya. Hanya beberapa kursi yang terisi karena memang saat itu hari sabtu. Gue duduk di kursi pojok kanan belakang. Bersandar sambil berpegangan tiang yang membentang sepanjang jendela metromini ini, gue mencoba menikmati perjalanan. Percayalah, kecepatan angkutan umum di tahun itu bukan tergantung seberapa besarnya torsi mesin yang melekat pada kendaraannya. Tapi seberapa banyak penumpang di dalamnya dan seberapa jauh jarak angkutan dengan trayek yang sama di depan atau belakangnya.

Alhasil saat itu perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari setengah jam, menjadi melar hampir melewati satu jam. Saat turun di tempat yang sesuai instruksi Bu Dewi sebelumnya, gue bertanya pada abang-abang yang sedang asik duduk merokok di depan warung lokasi sekolahan gue berada, karena saat itu gue belum mengetahui persis lokasinya. Abang-abang itu lalu memberitahu gue dengan simpelnya "Masuk gang sini terus lurus ajah, Dek." Tunjuknya.

Setelah mengucapkan terimakasih dan sedikit mengintip jam yang ada di warung gue pun berjalan mengikuti petunjuk abang-abang itu dan gue bersumpah menyesali sudah berterima kasih padanya. Karena jalan yang benar bukan "lurus ajah." tapi berbelok ke kanan sedikit.

"Lurus ajah gue nabrak tembok!"

Saat gue tiba di ujung gang, gue terdiam melihat antrian mobil yang sudah mengular, segala tipe dan merek mobil bergantian menurunkan penumpangnya. Gue menghentikan langkah sambil melihat ke kiri dan kenan, berharap ada satu dua anak yang berjalan kaki seperti gue. Tapi sekitar satu menit gue mematung, gue tidak melihat satupun anak yang berjalan kaki. Dalam hati gue saat itu bertanya "Apa cuma gue yang miskin di sini?" Dan pertanyaan itu seketika membuat gue menelan ludah dan nyali gue sebelumnya.

Sampai gue mendengar suara satpam yang berdiri di depan gerbang memanggil gue "Hei kamu, cepat sini sudah dimulai ini." Ucapnya lalu gue setengah berlari mendekat kemudian melangkah perlahan melewati pintu gerbang.

"Masuk gak usah buka sepatu kan yah?"

Setelah melewati pintu gerbang seorang Kakak kelas, gue mengetahui kalau dia kakak kelas karena memakai seragam putih dengan rok biru, menyambut gue dengan ramah sambil menggiring gue langsung masuk ke dalam barisan.

Ternyata gue telat!

Saat berbaris gue menyadari jika masih ada yang lebih telat dari gue. Semua diperlakukan sama; disambut dan langsung disuruh masuk ke dalam barisan. Dan saat berbaris juga gue tidak hentinya melihat ke kiri dan kenan berharap menemukan wajah-wajah yang gue kenal. Walaupun kenyataannya itu sia-sia, karena dari SD gue, hanya gue seorang yang masuk ke smp ini.

Ya, biarlah terkadang memang manusia hobi melakukan hal yang sia-sia untuk menutupi ketidakberdayaan dengan kalimat "Setidaknya berusaha."

Lama gue berdiri berbaris, hanya diam mengamati sekeliling, di bawah teriknya matahari pada waktu dhuha. Sampai sekitar 15 menit gue berdiri dalam barisan, seorang pria paruh baya bertubuh pendek, agak buncit, naik atas coran semen yang dilapisi keramik; semacam podium dan berukuran setengah meter.

Beliau mengetes microphone yang ada di hadapannya, sedikit lebih tinggi dari ujung mulutnya, Pria itu lalu menurunkan sedikit agar microphone sejajar dengan mulutnya. Saat pria itu sedang menurunkan sedikit posisi mic-nya, gue melihat beberapa kakak kelas terlihat tertawa. Gue menduga mereka sengaja melakukan itu semua.

You get the point?

Yeah coba lihat betapa cerdasnya kakak kelas gue membuat lelucon. This is the true highest rating junior high school!

Setelah itu pria yang berdiri di atas podium memperkenalkan diri sebagai kepala sekolah di sini. Menurut gue dia cukup lucu, walau gaya bicaranya agak menyebalkan. Tapi beberapa kali Pak Kepala sekolah ini mengeluarkan jokesnya yang... Yaa, not bad! But very bad!

Entah berapa lama gue, atau lebih tepatnya, kami mendengarkan sambutan kepala sekolah yang luar biasa membosankan. Kepala sekolah yang mari kita beri nama dia Pak Bagong, karena memang menurut gue perawakannya seperti itu. Pak Bagong lalu menyerahkan acara selanjutnya pada kakak-kakak osis yang ganteng dan cantik-cantik yang sedari tadi berbaris mengitari kami.

Pak Bagong lalu undur diri dan masuk ke sebuah pintu yang di atasnya dapat gue baca dengan baik sebuah papan bertuliskan RUANG KEPALA SEKOLAH. Lalu seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu naik ke atas podium. Dia memperkenalkan diri sebagai ketua osis, dia (sekali lagi sebut saja) Amanda. Kak Amanda lalu menjelaskan tentang aturan-aturan yang harus kami taati selama masa orientasi siswa; tidak boleh turun dari kendaraan yang mengantar ke sekolah dalam radius 500 meter, tidak boleh memakai sepatu berwarna selain hitam, dilarang ke kantin selama masa orientasi siswa, harus selalu mengenakan tanda pengenal yang terbuat dari kertas karton ukuran A4 yang berwarna hijau tosca untuk laki-laki dan biru sapphire untuk perempuan, juga harus selalu mengenakan topi berbentuk kerucut dengan warna senada lawan jenis.

Oke gue mencium sebuah jebakan dalam perintah terakhir. "Sudah jelas semua adik-adik?" Seru Kak Manda dengan irama suara yang begitu riang gembira. "SUDAH KAK!" Sahut adik-adik.

"Oke, kalau begitu sebelum pembagian kelas, kalian boleh duduk-duduk dulu di tempat. KECUALI DUA BARISAN TERBELAKANG!" Mendengar ucapan Kak Amanda, gue langsung menengok ke belakang.

Dan sialnya gue berdiri di barisan paling belakang. Ada sekitar 20 sampai 25-an anak yang berdiri di dua baris terbelakang, termasuk gue. Lalu kami semua diperintahkan untuk membuat 4 barisan. Dengan sigap dan kerja sama dadakan, 4 baris pun terbentuk hanya dalam hitungan detik. Setelah terbentuk 4 barisan, Kak Amanda lalu turun dari podium dan menghampiri kami, diikuti beberapa Kakak-kakak osis yang lain.

Kak Amanda lalu berdiri di hadapan kami semua, sementara ada 6 orang berdiri di sekitaran kami. Semuanya memasang ekspresi seperti ingin memangsa. "Kalian tau ga kenapa kalian dibarisin begini?" Tanya Kak Manda lembut.

"..." Gue hanya diam, tidak. Bukan hanya gue yang diam. Tapi semua anak dalam barisan ini diam.

"JAWAB!" Bentak Kak Manda.

"ENGGA KAK!" Sahut salah satu anak laki-laki yang berdiri di barisan paling depan. Gue dengan seksama memperhatikan anak itu, entah kenapa rasanya gue pernah melihat dia.

"LO NYOLOT SAMA GUE?" Tanya Kak Manda sedikit membentak.

"TADI KATANYA SURUH JAWAB!" Sahut anak laki-laki itu, suaranya tidak kalah keras dari Kak Amanda.

"Gila!" Gue membantin dalam entah memuji atau menyesalkan keberaniannya melawan ketua osis. "Nyari penyakit." Lanjut gue membatin.

"LO BERANI NGELAWAN..."

"Tadi disuruh jawab, giliran dijawab dibilang ngelawan, aneh!" Celetuk Anak itu dan gue baru menyadari jika saat itu suasana begitu hening dan sedikit mencekam.

Semua mata tertuju pada anak laki-laki ini. "Siapa nama lo?" Tiba-tiba seorang kakak kelas lain setengah berlari ke hadapan anak itu.

"Nata, nama gue Natttaaaa." Jawab anak itu, Nata, dengan santainya.

Kak Amanda, kakak kelas yang menghampiri Nata dan Kakak-kakak kelas osis yang lain tiba-tiba terdiam dan beberapa ada yang terlihat saling berbisik, hingga bisikan itu sampai pada telinga Kak Amanda. "Oh jadi elo yang namanya Nata, jangan mentang-mentang Kakak lo alumni di sini terus..."

"Apa hubungannya kakak gue alumni? engga ada hubungannya kak, lo kalo mau peringatin gue ya peringatin ajah kenapa lo harus bawa-bawa kakak gue!" Sahut Nata, Kak Amanda terlihat geram.

Lalu seorang kakak kelas laki-laki langsung menarik kerah seragam Nata, "Eh lo anak kecil jangan belagu lo di sini. Sama gue engga ngaruh lo adeknya siapa anaknya siapa..."

Nata terlihat mencengkram lengan kakak kelas itu dan menurunkan tangannya dari kerah seragamnya. "Anak gede, biasa ajah gak usah begini, kalo mau berantem di luar jangan di sini, mau pamer sama cewek-cewek lo berantem di sini." Ucap Nata.

Lalu Kakak kelas itu terlihat ingin memukul Nata namun begitu saja di urungkan, entah kenapa. Nata hanya sedikit tertawa. Saat itu gue benar-benar tidak habis pikir pada dia (Nata). Berani sekali dia melawan osis seperti itu. Ya, walaupun saat itu gue belum mengetahui background-nya. Tetap saja, untuk ukuran anak kecil yang baru akan memasuki tahap remaja. Apa yang Nata lakukan adalah suatu yang bisa dibilang "bernyali."

Bahkan saat itu gue sama sekali tidak berani untuk melakukan apa yang Nata lakukan. Kak Amanda lalu menenangkan Kakak Kelas yang hampir memukul Nata, kita sebut saja namanya Pesek. Kak Amanda lalu memberi tahu kami, jika kesalahan kami adalah terlambat masuk. "Oke sekarang kalian kami maafkan, tapi kalau besok kalian terlambat lagi. Kakak pastikan ga ada ampun lagi untuk kalian, mengerti!?"

"Mengerti, Kak." Sahut Kami kecuali Nata.

"Yasudah kalian balik keposisi, abis ini kita pembagian kelas."

Kami semua kembali ke posisi semula dan duduk seperti yang lainnya. Lalu Kak Amanda kembali naik ke atas podium setelah sebelumnya mengambil beberapa kertas yang dipegang Kakak kelas lainnya. "Oke, sekarang kita mulai pembagian kelasnya. Buat yang namanya Kakak sebut langsung berdiri dan maju kedepan, yah. Di mulai dari kelas 7-a!" Kak Amanda lalu menyebutkan nama-nama yang masuk dalam kelas 7-a.

Setelah selesai menyebutkan Nama anak-anak yang masuk dalam kelas 7-a, didampingi kakak osis pendamping mereka masuk ke dalam kelasnya. Lalu berlanjut ke kelas 7-b, 7-C, 7-D, 7-E, 7-F, 7-G "Dan terakhir sisanya berarti ada di kelas 7-H dengan kakak pembimbing Kak Ayu dan Kak Citra." Ucap Kak Amanda.

Gue melihat ke kiri dan Kenan dan melihat Nata sedang melakukan Tos bersama Anak laki-laki yang berwajah "Arab." Yang gue duga itu adalah teman dari satu SD Nata. Dan ya, gue sekelas dengan mereka. Lalu kami anak-anak kelas 7-H diarahkan masuk ke dalam ruang kelas kami.

Quote:Sedikit tentang bangunan sekolahan ini. Terdiri dari dua lantai berbentuk Leter U dengan lapangan berada di tengah-tengahnya. Di Sisi kanan lapangan atau kanan dari arah masuk pintu gerbang, secara berurutan, ada ruang kepala sekolah, perpustakaan, dan ruang uks. Lalu di samping uks terdapat lorong yang menuju ke kantin yang berada tepat di belakang ketiga ruangan ini. Sedangkan di sisi depan lapangan, atau jika berjalan lurus dari pintu gerbang terdapat tangga utama yang memisahkan bangunan menjadi dua sisi.

Di sebelah kanan tangga, secara berurutan terdapat satu kelas, ruang guru, ruang tata usaha, dan koperasi yang menyatu dengan kantin. Kemudian di sisi kiri tangga secara berurutan, terdapat ruang osis, dua ruang kelas serta toilet. Di samping toilet terdapat gudang lalu dan di sebelah gudang terdapat ruang yang menjadi tempat tinggal orang yang bertugas menjaga sekolah ini. Lalu di sisi kiri lapangan, atau sebelah kiri saat melintasi pintu gerbang terdapat Aula yang cukup besar dan laboratorium IPA di sebelah Aula.

Di samping kanan laboratorium terdapat sebuah lorong yang menuju ke tempat tinggal penjaga sekolah, dan di belakang laboratorium atau di depan tempat tinggal penjaga sekolah terdapat sebuah taman kecil. Sedangkan di lantai dua hampir semua ruangan digunakan untuk kelas, hanya di bagian atas sisi kiri lapangan, atau di atas laboratorium saja yang digunakan sebagai ruang bahasa, dan ruang komputer. Lalu tepat di atas Aula, terdapat sebuah masjid yang besarnya seluas Aula sekolahan ini. Cukup besar! Dan ada satu yang menarik dari bangunan gedung sekolah ini, yaitu terdapat lantai 1 1/2.

Tadi gue menyebutkan ada taman kecil di belakang laboratorium. Di ujung taman itu terdapat pintu belakang Aula, di samping pintu Aula terdapat sebuah tangga berbentuk ‘v’ yang menjadi akses untuk ke masjid, dan disanalah, tepat sebelum masjid, terdapat ruangan kelas yang posisinya tidak sejajar dengan pintu masjid melainkan berada di tengah-tengah antara lantai dasar dan lantai 2 gedung ini.

Maka dari itu kelak anak-anak yang bersekolah di sini menyebutnya lantai 1 1/2. Dan saat itu kebetulan kelas 7-H bertempat di kelas posisinya eksklusif itu. Apa kalian pusing dengan penjelasan mengenai bangunan sekolahan SMP gue? Jika tidak kalian luar biasa. Karena sehabis mengetik penjelasan itu sesungguhnya gue membutuhkan tramadol, eh panadol maksudnya, untuk meredakan pusing di kepala.


Kami diarahkan masuk ke dalam kelas yang letaknya sedikit terpisah dan sedikit nyempil dari bangunan utama. Sesampainya di dalam kelas kami semua sedikit berebut saat memilih tempat duduk. Namun sesungguhnya berebut ini dalam makna sebenarnya kalimat "Posisi menentukan prestasi." Ya, anak-anak lain berebut duduk di barisan terdepan.

Hanya tiga anak saja yang sepertinya mau dengan senang hati mengalah untuk duduk di barisan paling belakang. Ya, kalian pasti sudah bisa menebak. Ketiga anak yang berjiwa besar itu adalah Gue, Nata dan satu anak yang berwajah arab. Kami bertiga duduk sejajar di barisan paling belakang. Kebetulan sekolah ini tidak menggunakan double seat, tapi menggunakan single seat yang bisa dilipat macam bangku kondangan, eh maksud gue bangku anak kuliahan.

Gue duduk di samping kanan Nata, sedangkan anak berwajah arabic, duduk di samping kiri Nata. "Hallo!" Nata menyapa gue dengan ramah namun entah mengapa itu justru membuat gue speechless untuk membalas sapanya.

"Anjing, halo kaya lagi nelpon." Celetuk Anak yang berwajah Arabic itu.

"Yee si dongo, gue lagi mulai introducing yang bener, lo malah protes begok!" Celetuk Nata sambil menjitak anak itu.

"Jangan dengerin die brai, kebanyakan nelen korma, nama lo siapa brai?" Tanya Nata menyodorkan tangannya.

"Widi." Jawab gue singkat sambil menjabat tangan Nata.

"Widiiiiiii..." Sahut Nata dengan Nada yang pasti kalian tahu bagaimana Nada bicaranya.

"Wid kenalin nih, temen gue Abdul."

"Hallo, Abdul." Ucap Abdul melambaikan tangannya ke arah gue. Yang disusul sebuah jitakan yang cukup keras pada kepala Abdul oleh Nata.

"Nah kan lo pake halo juga, kambing emang lo!"

"Hahaha." Abdul tertawa dan gue mencoba mengikuti tawanya. Lalu kami bertiga pun saling melempar pertanyaan; dari SD mana kami sebelumnya, di mana tempat tinggal kami, siapa saja teman satu SD kami yang masuk ke smp ini.

Dari itu semua gue mengetahui kalau Abdul dan Nata ini satu SD dan hanya mereka berdua, dari SD-nya yang masuk SMP ini, dan dari itu juga gue mengetahui kalau Nata dan Abdul tinggal bersebelahan. Pantas saja mereka terlihat begitu akrab. Namun ada yang sedikit mengganjal dalam pikiran gue saat itu.

Perubahan ekspresi Nata saat mengetahui jika gue tinggal di sebuah daerah kumuh. "Bentar, kayanya gue pernah ketemu lo, deh." Ucap Nata ekspresinya datar.

"Sama gue juga kayanya pernah ngeliat lo." Sahut gue.

"Tunggu-tunggu, sorry nih. Lo pernah ga ke glodok terus di kasih cepek sama bapak-bapak!?" Tanya Nata dengan suaranya yang pelan.

"Iya!"

"Hmmmmmm..." Nata bergumam entah apa maksudnya dan jujur saja saat itu sepertinya gue menangkap ekspresi penyesalan Nata sudah berkenalan dengan gue.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 26 lainnya memberi reputasi
27 0
27
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 02:15
Adehh nyangsang d mariiii ... Ikutan nimbrung sekalian deh yee
0 0
0
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 02:49

Part 4

Hanya sebentar kami berbincang sebelum Kak Ayu dan Kak Citra, Kakak Osis pendamping untuk kelas gue, masuk dan menciptakan keheningan. Kakak Ayu dan Kak Citra lalu memberikan arahan nya, sekitar 15 menit lalu kami diperbolehkan pulang, karena sesungguh masa orientasi siswa baru akan dimulai pada hari senin-nya.

Tanpa banyak basa-basi gue langsung mengaitkan tas gue di pundak,"Gue duluan, ye." Ucap gue pada Nata dan Abdul lalu beranjak pergi.

Gue langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah gue langsung merebahkan badan. Entah kenapa saat itu gue memikirkan kembali apa yang sudah gue lalui di sekolah tadi. Gue sedikit mengulasnya kembali dalam kepala; bagaimana cara anak-anak di sekolah gue berpakaian, cara mereka berkomunikasi, bersosialisasi, cara mereka memulai konversasi, yang semuanya patut gue puji.

At least mereka sopan dan menurut gue menyenangkan. Walaupun tidak pada bagian ekspresi Nata yang saat itu mengetahui kalau gue adalah gelandangan. So far mereka yang tidak mengetahui itu, jika gue seorang gelandangan, bersikap baik-baik saja dan sekali lagi, menurut gue menyenangkan. Saat itu gue berpikir "Haruskah jati diri gue tidak diumbar?"

Gue anak kecil yang sebenarnya hobi berkelahi untuk mendapatkan dominasi. Saat SD gue sering berkelahi untuk menunjukan jika gue berada dipuncak hierarki, saking seringnya hingga, tidak ada satu pun teman sekelas gue yang berani melawan gue. Bahkan, mereka tunduk pada apa saja ucapan gue. Tapi gue juga bukan anak yang nekat atau sok kuat. Gue tahu batas kapan gue harus berani kapan gue harus bernegosiasi. Jika masih satu dua orang pasti akan gue hadapi, tapi jika satu sekolah. Haah, NYARI MATI!

Dan gue mengingat lagi bagaimana ekspresi Nata saat itu, setidaknya jika hanya Nata atau Abdul gue pasti berani menghadapinya untuk sebuah dominasi. Tapi bagaimana jika satu sekolah nanti memang mengucilkan gue karena gue gelandangan? Menebar takut rasanya bukan hal yang tepat dan sudah pasti bukan suatu keputusan cermat!

If You Can’t Convince Them, Confuse Them

Senin harinya gue berangkat pukul 11 siang. Memang di SMP jam pelajaran terbagi dua, pagi dan siang hari. Pagi diisi anak-anak kelas 9 dan kelas 8-a sampai 8D sedangkan siang diisi oleh kelas 8-E sampai 8-H dan semua kelas 7. Dan gue sengaja berangkat dua jam setengah lebih awal dari jam masuk untuk menghindari kejadian gue telat seperti sebelumnya.

Namun metro mini adalah salah satu hal yang sulit diprediksi. Jika sebelumnya gue membutuhkan waktu hampir satu jam untuk tiba ke tujuan, kali itu gue tiba kurang dari setengah jam. Walaupun harus gue bayar dengan jantung yang berdetak sangat kencang, seperti naik wahana ekstrem di pusat hiburan. Sesaat sebelum gue tiba di sekolah, gue memasang atribut-atribut yang yang diwajibkan. Rasanya sungguh menyebalkan!

Saat gue melintasi pintu gerbang, gue belum banyak melihat anak-anak yang mengenakan seragam putih merah. Namun di sisi kanan pintu gerbang, gue melihat Nata duduk seorang diri di sana. "Oi Wid!" Nata melihat, melambaikan tangan dan memanggil gue.

Ekspresinya ramah, berbeda sekali dengan sebelumnya. Dan karena itu gue pun langsung menghampirinya. "Oi, Nat. Sendirian lo? Abdul mana?" Tanya gue saat menghampirinya.

"Au..." Jawab Nata.

"Kantin, yuk Wid gue laper." Ajak Nata.

"Gila lo, kan kite ga boleh ke kantin."

"Yaelah takut bat." Sahut Nata dengan santainya.

"Tapi, Nat..." "Udeh ayo, santai gue tanggung jawab." Nata sedikit mendorong-dorong gue agar melangkah.

Sejujurnya selain sedikit takut gue memikirkan hal lain jika harus ke kantin. Gue hanya diberikan 3000 Rupiah oleh Mpok Leha untuk bekal gue sekolah. Jumlah yang sungguh tidak akan cukup, karena untuk ongkos satu kali naik metromini gue harus mengeluarkan kocek 500 Rupiah dalam artian satu hari ongkos pergi pulang sebesar 1000 Rupiah, hanya tersisa dua ribu untuk gue jajan. Dan itu gue pastikan tidak akan cukup untuk makan. Makanan termurah di kantin SMP itu semangkuk mie instan yang seharga Rp, 3.000. Sedangkan uang gue yang tersisa masih minus 1000 rupiah untuk membeli satu makanan termurah di sana. Karena dari itu, saat gue dan Nata tiba di kantin gue hanya bisa melihat deretan lapak pedagang yang tersusun rapi sepanjang kantin itu sambil menelan ludah.

"Udah lo mau makan apa, pesen ajah Wid. Nanti gue bayar." Ucap Nata sambil berdiri di depan penjual soto betawi.

"Gak usah, Makasih. Gue engga laper." Jawab gue agak ketus karena gue merasa tidak suka dikasihani.

Nata lalu menghampiri gue dan berbisik, "Gue bayarin bukan karena gue kasian sama lo, kita ini temen."

Bisik Nata sambil menepuk bahu gue. Gue tidak bisa menolaknya, saat itu gue tidak bisa memikirkan alasan untuk menolak. Walaupun hati gue menolak untuk dikasihani, namun seluruh indra gue tidak bisa dibohongi dan lambung juga rasanya perlu diisi.

Kemudian gue dan Nata makan di pada standing table yang dipasang memanjang sepanjang dinding kantin, gue duduk di depan penjual soto betawi yang sedang gue dan Nata nikmati. Namun di tengah nikmatinya kami menyantap makanan dan sedikit berbincang ringan. Kak Pesek datang dan langsung menggebrak meja dengan kencang.

"SIAPA YANG NYURUH KALIAN KE KANTIN...!!!" Bentak Pesek.

Saat itu gue sedikit gemetar dan langsung menghentikan suapan. Lain hal dengan Nata, dia terlihat santai melihat arloji yang dia gunakan di pergelangan tangan kiri sambil menyeruput satu sendok penuh kuah soto betawi. "WOI LO BERDUA DENGER GUE GA...!!!" Bentak pesek lagi.

"Apaan si lo berisik, lo teriak mana mungkin gue engga denger." Sahut Nata dengan santainya tanpa menoleh ke arah pesek.

"Wah anjing nyolot emang lo dari kemaren." Pesek lalu menarik seragam Nata dan Nata langsung berbalik badan menepak tangan pesek.

Gue tidak tahu lagi bagaimana perasaan gue saat itu, kesal sudah pasti, takut juga tidak bisa dipungkiri, malu karena menjadi pusat perhatian sudahlah jangan ditanya lagi. Namun saat itu gue tidak berani berbuat apa-apa, gue hanya bisa menundukan kepala. Berharap jika itu tidak akan menjadi penyebab bencana.

Pesek sudah terlihat bersiap memukul Nata dan Nata yang sudah berdiri juga sudah terlihat memegang kursi plastik di tangan kirinya serta menggenggam erat garpu di tangan kanannya. Saat keduanya sudah terlihat siap untuk baku hantam, suara seorang Kakak kelas perempuan membuat posisi jarak mereka berdiri meregang. Kakak kelas itu bernama (sebut saja) Indah.

Gue mengetahui namanya saat melihat name tag yang mengalung di badannya. "Sek, kamu apaan sih!" Seru Kak Indah seraya menghampiri Pesek dan Nata.

"Ni anak songong, Ndah! Kudu aku kasih pelajaran biar engga songong sama senior!" Sahut Pesek.

"Engga gitu caranya!" Ujar Kak Indah merangsek ke tengah-tengah Pesek dan Nata kemudian sedikit mendorong pesek menjauh dari mereka.

"Hay Nat, How are you?" Sapa Kak Indah pada Nata.

"I'm good. Still in good, maybe." Jawab Nata sambil tersenyum.

"Bentar yah." Ucap Kak Indah lalu menarik pesek menjauh.

Sementara gue melihat para pedagang yang sebelumnya berdiam mengamati kami, beberapa ada yang terlihat hendak menghampiri. Kembali melakukan aktivitasnya. Dan gue masih tertunduk diam, sementata Nata dengan santainya melanjutkan makannya seolah tidak habis terjadi apa-apa.

"Udah lanjut makan, santai ajah. Slow sama gue, mah. Hahaha." Ucap Nata.

"Gila lo!" Hanya itu yang bisa gue ucapkan. Sementata Nata hanya tertawa menanggapinya.

Saat itu gue bertanya-tanya kenapa Nata begitu berani menghadapi Kakak Kelas seperti itu; apa yang dia pikirkan? mengapa dia santai dan yakin sekali kalau apa yang dia lakukan tidak akan membuatnya bermasalah? Mengapa banyak kakak kelas yang seperti sudah mengenalnya? Siapa dia sebenarnya? Sesaat setelah gue dan Nata menghabiskan semangkuk soto betawi plus sepiring nasi, Kak Indah kembali datang menghampiri gue dan Nata berdua.

"Hay Kak." Sapa Nata ramah, sementara gue hanya menganggukan kepala.

"Nata, kamu tau peraturannya kan?" Tanya Kak Indah ramah.

"Yes."

"Terus kenapa kamu di sini?”

"Laper, kak." Jawab Nata cengengesan.

"Nata! I know you, tapi please, seenggaknya tiga hari ini aja. Jangan buat kakak berurusan sama Kak Bella."

"Kak aku engga mau bikin masalah, aku juga tau peraturannya. Tapi..." Nata menunjuk arlojinya. "Ini baru jam 12 lewat 12, MOS-nya baru resmi mulai 18 menit lagi. Peraturan mana yang aku langgar?" Kak Indah lalu tersenyum dan mengusap kepala Nata,

"So, kalau begitu... Segera keluar sebelum kami paksa keluar!" Ujar Kak Indah lalu meninggalkan Gue dan Nata.

Tidak lama Kak Indah pergi, Nata mengajak gue juga pergi meninggalkan kantin namun melewati jalan berbeda. Jalan yang sebenarnya digunakan untuk membuang sampah karena jalan kecil itu menuju ke tempat penampungan sampah, namun jalan kecil itu juga mengarah ke arah parkiran motor guru dan karyawan yang berada di sisi sebelah kanan dari pintu gerbang.

Saat keluar dari jalan kecil itu, gue melihat Abdul yang tengah duduk di tempat duduk yang terbuat dari coran semen yang dilapisi keramik. Tempat duduk itu ada di setiap sisi lapangan dan Abdul tengah duduk di depan ruang kepala sekolah. Ketika melihat gue dan Nata entah kenapa Abdul langsung tertawa terbahak-bahak sementara Nata terlihat mengancam Abdul untuk terus diam. "Wid lo dateng jam berape?" Tanya Abdul.

"Jam..." Belum sempat gue menjawab Nata kembali mengancam Abdul.

"Diem ga lo Dul!" Ancam Nata sambil mengunci tubuh Abdul dengan lengannya.

"Hahaha..." Abdul tertawa.

"Gue dateng jam setengah 12-an, Dul. Mangape?"

"Dul diem elah!" Ucap Nata.

"Hahaha, lo tau ga nih lutung dateng jam berape?"

"Dul ah males gue sama lo, comel tai!"

"..." Gue masih diam tidak mengerti.

"Nih anak dateng jam setengah 7 njr! Buahahah!" "Buahahahhahah!" Gue tertawa, pantas saja tadi saat gue datang Nata terlihat lesu.

Gue dan Abdul tidak henti-hentinya menertawakan Nata yang ternyata salah mengira jam masuk sekolah. Sebenarnya bukan salah Nata juga, karena saat itu Nata menuturkan jika sebelumnya; sebelum dia berangkat sekolah pada pukul 06.15 pagi, dia terlebih dahulu ke rumah Abdul untuk mengajak Abdul berangkat bersama. Namun bukannya diberitahu Abdul kalau kami para murid kelas 7 masuk pada siang hari, Abdul malah menyuruh Nata berangkat terlebih dahulu dengan Abdul yang beralaskan ingin buang air besar terlebih dahulu.

"Anjing! Ga elu engga Bella, bukannya ngasih tau gue, malah nyuruh gue berangkat." Kesal Nata kala itu. Tak lama, suara bel yang merambat kencang pada udara terdengar nyaring di telinga gue. Seiring itu, suara terdengar suara pengumuman dari pengeras suara yang memberitahukan agar para peserta MOS berbaris di lapangan.

Seperti domba-domba gembala kami semua digiring untuk berbaris sesuai kelas kami masing-masing. Di seberang lapangan, pada selasar kelas yang berada di sebelah kanan tangga, tepat di hadapan kami. Berbaris rapi para guru dengan seragam biru pekat dan Pak Bagong sudah siap di atas podiumnya dengan tegak; memberi sambutan (lagi) serta menyatakan secara resmi Masa Orientasi Siswa-siswi baru dimulai.

Upacara pembukaan MOS itu berlangsung lebih dari satu jam, di bawah terik matahari yang menghujam. Setelah upacara selesai, kami semua diinstruksikan untuk masuk ke dalam kandang. Eh, kelas maksudnya. Dan sungguhlah penyiksaan itu baru datang.

Pertama, Osis selalu benar! Kedua, Osis tidak pernah salah! Ketiga, jika osis salah kembali ke poin pertama jika osis selalu benar!

Pernyataan macam apa itu? Pernyataan yang jelas mendistorsi makna orientasi ke arah seniorisasi. Seharusnya pada masa orientasi diisi dengan pengedukasikan bukan malah perpelocoan. Karena tentunya para peserta didik baru diorientasikan untuk menjadi siswa/siswi yang membanggakan sekolah setempat, bukannya hamba-hamba senior yang gila hormat. Sungguh itu semua itu salah alamat. Celakanya, kita seolah sudah terbiasa dan membenarkan sesuatu yang sejatinya tidak tepat. Termaksud gue juga ding, hihihi!

Di dalam kelas gue hanya mendengarkan maklumat-maklumat sesat yang dilontarkan Kak Ayu, Kak Citra dan beberapa Kakak-kakak osis lainnya. Hingga setengah jam sesudahnya, seorang wanita memakai seragam biru pekat dengan kerudung berwarna senada serta kacamata berbingkai coklat masuk dan memaksa kami mengalihkan perhatian kami semua padanya.

Bukan! Perhatian kami pada seorang anak perempuan yang masuk bersama wanita itu. Seorang anak perempuan berambut panjang, berseragam putih biru, bukan hanya rok panjangnya yang biru. Namun matanya, "Matanya biru!" seru gue dalam hati.
Gue pernah menyukai lawan jenis sebelumnya, saat duduk di sekolah dasar. Sebut saja dia Kirana. Gue pernah menyukai teman sekelas gue bernama Kirana. Dan terinspirasi dari telenovela Amigos, gue pernah (bahkan sering) menelpon Kirana dari telepon umum, menggunakan koin yang sudah gue ikat dengan benang kenur. Hanya untuk mendengar suara Kirana dan setelah itu langsung gue akhiri panggilan teleponnya. Tentu menarik kembali koinnya.

Atau Aini, Sejujurnya gue sering mengganggunya karena gue memang menyukainya -- mencari perhatian. Dan itu semua terinspirasi dari sebuah film yang gue tonton di rumah Aini, karena memang dia yang memiliki pemutar cd di daerah rumah gue saat itu. Yap, Petualangan Sherina yang kala itu gue tonton dari compact disk, setelah meminjamnya di rental CD dengan uang hasil patungan, SEKELAS!

Dan jujur, saat menginjakan kaki di sekolah ini, gue menyukai beberapa anak perempuan di sekolah ini. Kak Amanda, Kak Indah, Kak Citra, Kak Ayu, gue menyukai mereka. Gue juga heran kenapa rasanya perempuan-perempuan di sekolah smp gue cantik-cantik. Apakah orang kaya semuanya cantik? Tapi gue bersumpah, saat itu rasanya berbeda.

Saat gue melihat matanya yang biru, entah mengapa rasanya perasaan gue berbunga-bunga. Entah kenapa gue ingin menyentuh tangannya, gue ingin mengusap rambutnya, gue ingin membelai wajahnya dan... Gue ingin memilikinya. Dan anak perempuan bermata biru itu memperkenalkan dirinya, dia bernama KARINA.

Gue sempat melirik ke arah Abdul dan Nata. Mereka berdua nampak terdiam, seperti terkenal skill Abyssal Arrow-nya Selena. Sehingga mereka hanya bisa melihat ke arah Karina. Walaupun sebenarnya gue juga tidak lebih baik. Gue seperti terkena skill Blue Nova nya Odette.

Ya tidak lebih baik, karena sesungguhnya saat itu sebelum Karina memperkenalkan dirinya. Seorang guru yang bersamanya memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum menyuruh Karina memperkenalkan dirinya dan gue sama sekali tidak memperhatikan itu. "Eh, Nat tadi siapa namanya!?" Tanya gue berbisik pada Nata.

"BU WIDI NANYA TADI SIAPA NAMA YANG DISEBELAHNYA!" Teriak Nata, yang membuat seketika suasana menjadi gaduh dengan kata "CIE!!!!!"

"Anjrit! Maksud gue nama gurunya." Bisik gue lagi sedikit menendang kaki Nata. Dengan perasaan yang sangat malu, gue yakin saat itu muka gue sudah memerah.

"Oh, Hahahaha. Sorry-sorry gue pikir siapa." Bisik Nata sambil tertawa.

"Terus siapa?" Tanya gue lagi.

"Bu Tuti." Jawab Nata. Dan akhirnya gue mengetahui kalau guru tersebut bernama Bu Tuti dan beliau juga yang akan menjadi wali kelas kami.

Bu Tuti lalu menyuruh siapa saja untuk membawakan kursi yang masih terlipat di depan kelas supaya dipindahkan satu untuk Karina duduk. Dan hampir semua anak laki-laki saat itu berdiri. Hampir, karena hanya dua orang yang tidak berdiri; gue dan Nata.

"Wet wet wet, jangan berteman. Udah kalian pada duduk, biar saya yang ambilin kursi buat tuan putri." Ujar Abdul terlihat menggoda.

"Huuuuuhhhh!" Seisi kelas menyoraki Abdul, begitu juga Bu Tuti dan pandangan gue hanya fokus pada Karina yang tersenyum. Abdul lalu mengambil satu dari empat kursi lipat yang tersisa di depan kelas.

Abdul kemudian membawanya ke belakang, karena hanya di belakang space yang tersisa. "Oi, lo padaan geseran dong. Masa cewek udah duduk di belakang mojok juga." Ucap Abdul, lalu gue bergeser.

Sementara Nata hanya bergeming. Gue tahu saat itu maksud Abdul menyuruh gue dan Nata bergeser, agar Karina dapat duduk diantara Abdul dan Nata. Namun karena hanya gue yang bergeser. Sambil menggelengkan kepala, Abdul meletakan kursi yang akan diduduki Karina di antara gue dan Nata.

Karina lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan Abdul. Setelah Karina duduk Bu Tuti lalu berbicara, beberapa maklumat dari beliau kemudian dilanjutkan perkenalan diri masing-masing. Dimulai dari kursi paling kiri di depan. Yang dalam artian, gue mendapat kesempatan terakhir.

Gue mendengarkan dengan seksama satu persatu dari mereka, teman sekelas gue. Memperkenalkan diri. Gue sedikit gugup, mungkin tidak sedikit. Tapi gue benar-benar gugup, hingga membuat gue sedikit berkeringat padahal kelas ini menggunakan dua buah pendingin udara.

"Nama saya Abdul, rumah saya di tebet blablabla... Saya berasal dari SD blablabala." Abdul memperkenalkan diri.

"Pekerjaan orang tuamu, Abdul?" Tanya Bu Tuti karena dari awal anak pertama yang memperkenalkan diri mereka dengan bangga menyebutkan pekerjaan orang tua mereka yang padahal Bu Tuti pun tidak memintanya.

"Ga tau Bu, hahaha." Jawab Abdul santai.

"Yasudah selanjutnya." Sahut Bu Tuti sambil tersenyum.

Nata lalu berdiri, "nama saya Nata, saya tinggal di samping rumahnya Abdul, saya juga dari SD yang sama kaya Abdul."

"Sudah?" Tanya Bu Tuti makin tersenyum.

"Sudah, Bu." Jawab Nata kemudian kembali duduk, dan seraya Bu Tuti memberi kode pada Karina, ia pun berdiri. "Nama saya Karina, saya dari SD blablabla dan saya tinggal di Bintaro." Ucap Karina.

"Sudah?" Bu Tuti makin-makin tersenyum penuh arti dan saat itu gue belum mengetahui makna senyuman itu. "Sudah, Bu." Jawab Karina kemudian kembali duduk.

"Kamu lanjut yang terakhir." Ucap Bu Tuti lembut dan tetiba saja jantung gue berdetak lebih kencang. Gue lalu berdiri, "Nanaaa nama Saya Widi. Saya tinggal di..."

"Kamu yang saudaranya Bu Dewi yang mengajar di SD blablabal, yah?" Sambar Bu Tuti menyelak. Awalnya gue sedikit heran. Karena gue dan Bu Dewi tidak memiliki silsilah persaudaraan, namun setelah gue ingat-ingat kembali. Gue bisa sekolah di sini juga karena Bu Dewi yang saat itu maju menjadi wali gue.

"Iiiyaaa Bu."

"Belajar yang rajin, yah. Jangan nakal, jangan macem-macem. Kalau kamu macem-macem Ibu bisa langsung kasih tau Bu Dewi biar kamu diomelinnya double." Ucap Bu Tuti.

"Baik, Bu." Sahut gue kemudian kembali duduk.

Setelah perkenalan itu, Bu Tuti lanjut memilih ketua kelas. Karena kami belum saling mengenal, hanya beberapa anak saja yang sudah saling mengenal satu sama lain. Seperti Abdul dan Nata contohnya. Bu Tuti yang menunjuk calon ketua kelas yang akan kami pilih. Setelah pemilu selesai dan pemenangnya adalah seorang anak bernama (sebut saja) Renal.

Bu Tuti lalu kembali menyerahkan acara pada Kakak-kakak Osis. Bu Tuti pun beranjak pergi dari kelas dan para Kakak kelas pun ekspresinya berubah seperti setan alas. Kami lalu diperlakukan macam badut; kami diperintahkan bernyanyi, bergoyang. Oleh para kakak kelas. Dan seperti tidak cukup, kadang kala kami dibentak, disuruh berjalan melompat seperti katak. Hingga bel pertanda istirahat berbunyi, penyiksaan itu pun sejenak terhenti. "Udah istirahat, kalian ingetkan peraturannya. Jadi kalo gue jadi kalian sih, gue mending di kelas ajah atau ngumpulin tanda tangan osis di buku panduan yang ada." Ucap Kak Ayu sebelum dia beranjak pergi meninggalkan kelas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jojo8228 dan 24 lainnya memberi reputasi
25 0
25
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 03:12
Eaaaa sepertinya si TS lagi bingung mau nutupnya dimana.
Gas teroos, Gan! selama mata masih kenceng. Apa kekencengan?
ehhhemoticon-Ngacir
0 0
0
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 03:22

Part 5

Setelah Kak Ayu dan kakak kelas yang lainnya pergi, hampir semua isi kelas gue juga meninggalkan kelas untuk berburu tanda tangan para osis yang konon wajib semuanya terisi. Hampir semua, karena ada 5 anak yang masih duduk nyaman di dalam kelas. Ke 5 anak itu adalah Gue, Karina, Nata, Abdul dan Renal. Kami berlima yang duduk di barisan terbelakang. "Oi lo padaan engga nyari tanda tangan?" Tanya Renal.

"Ngapain, ketua kelas ajah duduk manis." Sahut Abdul.

"Yoi, jadi kalo ditanya bilang ajah ngikutin ketua kelas, hahaha." Timpal Nata.

"Anjrit! Hahaha boleh boleh." Sahut Renal.

"Karina, lo engga nyari tanda tangan?" Lanjut Renal bertanya pada Karina.

"Emmm, lo berempat ajah engga, berarti kalo gue engga juga berarti masih gapapalah yah." Karina menjawab dengan santainya sambil meletakan kepalanya pada tatakan tulis yang ada di kursi. "Mending tidur ya ga sih? Hahaha." Lanjut Karina.

Kemudian kami berlima pun saling mendekatkan kursi kami, membentuk lingkaran kemudian berbincang dan saling bertanya tentang masing-masing. Mungkin lebih tepatnya mereka berempat yang berbincang, sementara gue hanya memperhatikan.

"Wid, diem ajah dari tadi." Ucap Karina.

"Haah, oh. Abis gue bingung mau ngobrolin apaan. Gue bingung lo semua ngobrol pada nyambung, gue kadang engga ngerti apaan yang lo omongin makanya gue asik ajah dengerin, hahaha."

Saat itu gue benar-benar tidak mengerti pada 4 orang yang ada di hadapan gue. Di luar Abdul dan Nata, mereka seperti mudah sekali menyambungkan tema perbincangan. Mereka juga mengerti maksud ucapan masing-masing. Saat itu gue merasa seperti orang bodoh yang berada di tengah-tengah pembicaraan para profesor. Bahkan saat itu dalam hati gue timbul pertanyaan, apakah pelajaran yang ada di SD mereka berbeda dengan yang ada di SD gue? Karena saat itu mereka asik sekali membicarakan Romulus. Sedangkan gue sama sekali tidak tahu ada hubungan terselubung apa Romulus dengan Roburik.

Namun saat itu gue benar-benar menikmati pembicaraan mereka. Dan gue juga menikmati pemandangan Indah yang nyata, Karina. "Yaudah ganti topik yuk, yang Widi juga bisa ikutan ngobrol." Ucap Renal.

"Lo sukanya apa, Wid?" Tanya Karina.

"Elu." Jawab gue dalam hati. "Apaan ye, Au dah. Hahaha." Jawab gue di bibir.

"Ya sableng nih anak!" Celetuk Abdul.

"Nah wiro sableng gue tau tuh." Sahut gue.

"Yang lo tau apanya nih? Kapak Naga Geni nya? Apa jurus kunyuk melempar buahnya? Hahaha." Tanya Karina yang membuat kami semua tercengang tak menyangka. Di balik parasnya yang "Bule”, ternyata Karina mengetahui hal semacam itu pula. Pada akhirnya kami benar-benar membahas Wiro Sableng dari awal dia berguru pada Sinto gendeng, hingga bagaimana Wiro Sableng bisa menguasai jurus Pukulan Matahari. And do you know? Bahkan Karina bisa memperagakan jurus pukulan Matahari-nya Wiro Sableng. She's perfect and sableng!

Tanpa sadar bel kembali berbunyi, tanda waktu istirahat sudah berakhir. Satu persatu teman-teman gue yang lain masuk ke dalam kelas. Dan tidak lama, beberapa kakak kelas yang jumlahnya lebih banyak dari sebelum istirahat, juga masuk ke dalam kelas. "Yah ribet deh nih." Ucap Karina seperti menggerutu sendiri.

Awalnya gue tidak mengerti apa maksud gerutuan itu. Namun lama kelamaan gue mengerti, bertambahnya jumlah Kakak kelas yang ada di kelas gue pasti karena saat istirahat mereka membicarakan tentang "sosok bule" yang ada di kelas gue. Gue yakin sekali Karina juga pasti menyadari itu. Gerutu-nya juga gue rasa karena itu. Dan memang pasti itu adalah hal yang menyebalkan untuk Karina.

Karena saat itu, Karina menjadi objek bahan, entah apa namanya; Bully, caper, dengki, atau apapun itu yang jelas semua perintah aneh-aneh Kakak Kelas saat itu hanya tertuju pada Karina. Jelas sekali terlihat saat itu kalau Karina tidak menyukai keadaan itu. Gue juga melihat ekspresi yang lainnya saat itu; gue melihat ekspresi kekesalan di wajah Nata, gue melihat ekspresi kekhawatiran di wajah Abdul yang fokusnya terus pada Nata, gue juga melihat ekspresi geram di wajah Renal.

Semua itu sangat kentara bahkan untuk gue yang baru mengenal mereka. "Heeh lo kenapa muka lo, ga terima lo diginiin!?" Ucap Kak Citra pada Karina yang sudah berbalut pernak-pernik aneh di luar atribut aneh yang diwajibkan.

"Biasa ajah, Kak."

Gue melihat sedikit ekspresi ketidaksukaan, atau justru kebencian, pada ekspresi wajah Kak Citra saat Karina menjawab itu. Kak Citra langsung menyudutkan Karina ke tembok, "JANGAN SOK CANTIK, LO!" Bentak Kak Citra sambil menunjuk wajah Karina.

Karina hanya tersenyum kecut.

Hal itu justru memantik amarah Kak Citra hingga Kak Citra sedikit menjambak rambut Karina dan hendak menampar pipi Karina kalau saja Kakak kelas yang lain tidak dengan cepat memisahkan Kak Citra dari hadapan Karina.

Suasana semakin memanas, saat kakak kelas yang Pro pada Kak Citra ikut berteriak-teriak. Dan lagi-lagi Kak Indah tiba-tiba muncul sebagai penyelamat. Kehadirannya langsung meredam semua suara yang ada. "Kenapa, Nih?" Tanya Kak Indah. Kak Citra hanya dan kakak kelas yang pro padanya hanya menundukan kepala. "Kenapa Cit? JAWAB!"

"Iii iiitu, Kak. Didi diaa..."

"Kenapa dia? Sok cantik?"

"Iya." Jawab salah satu yang bersama Kak Citra namun sedikit ketus.

"Loh, dia bukan sok cantik. Tapi memang cantik. Kalian iri?" Kak Citra dan kawan-kawan kembali terdiam.

Kak Indah menghampiri Karina. "Kamu gapapa, Dek? Diapain tadi sama Kakak yang ini?" Tanya Kak Indah.

"Gak apa-apa, Kak. Aku engga diapa-apain, kok." Kak Indah lalu memerintahkan Karina untuk kembali duduk. "Perhatian semuanya, kalo ada siapapun yang main fisik sama kalian. Laporin ke Kakak, Yah." Ucap Kak Indah di depan kelas kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas dan sedikit -- dengan sengaja -- menabrakan bahunya pada Kak Citra.

Dan kegiatan di sekolah hari itu berakhir pada pukul 5 sore. Kami berlima meninggalkan kelas bersamaan. Kemudian kami berlima duduk di tempat duduk yang ada di sepanjang sisi lapangan. Gue tidak mengerti kenapa saat itu gue ikut duduk, padahal gue tahu kalau mereka duduk karena menunggu jemputan mereka. Sedangkan gue?

"Lo balik kemana, Wid?" Tanya Nata.

"Ke rumahlah..."

"Rumah lo di mana maksud gue?"

"Di rumah, gue tinggal, engga gue bawa."

"Au ah." Nata sedikit menyenggol telapak kaki gue dengan telapak kakinya. Lalu mereka berempat terlihat mengeluarkan ponsel dari tas mereka.

"Ehh, bagi nomer kalian dong." Ucap Karina, lalu mereka saling bertukar nomer ponsel. "Wid?" Karina menyodorkan ponselnya agar mencatat nomor ponsel gue dalam ponselnya.

"Gue engga punya hape, hehehe."

"Nomer rumah, Wid?" Tanya Renal.

"Nomer 19."

"Yee maksud gue nomer telpon rumah."

"Hahaha, ga punya Nal."

"Wah susah juga, ya. Kalo mau ngubungin lo gimana nanti." Renal terlihat seperti memikirkan sesuatu. "Eh gue duluan, yah. Udah dijemput tuh gue." Lanjut Renal pamit kemudian berjalan agak cepat ke luar gerbang.

"Karina, lo belom dijemput?" Tanya Abdul.

"Belom kayanya, Bokap gue belom nelpon nih." Jawab Karina, "Lo kok juga belom di jemput?" Tanya balik Karina.

"Iya, nih, supirnya Nata belom jemput." Jawab Abdul.

"Oh iya kalian rumahnya sebelahan yah? Enak yah deket begitu."

"Kata siapa enak? Engga enak tau. Kalo si Abdul diomelin pasti gue juga ikutan diomelin." Sahut Nata. Lalu dia menceritakan bagaimana seringnya Nata yang dipersalahkan oleh orang tuanya Abdul jika Abdul melakukan hal yang aneh-aneh. Begitu juga sebaliknya.

Ditengah Nata dan Abdul yang sedang asyiknya bercerita. Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna silver masuk ke dalam sekolah kemudian dengan seenaknya parkir di tengah lapangan. Hal itu tentu menyita semua perhatian murid-murid yang masih ada di dalam sekolah. "Yaelah." Ucap Nata --menggerutu-- entah apa maksudnya.

Seraya dengan itu seorang wanita cantik yang gue kira saat itu seusia anak Kuliahankeluar dari mobil itu. "HALO BANG NDAN!" Sapa wanita itu pada Pak Bondan, Security sekolah ini yang tengah berdiri tegak sambil bertolak pinggang mengamati wanita itu. Pak Ndan pun menggelengkan kepalanya. Lalu kembali duduk di kursi yang ada di posnya.

Kak Indah yang sedari tadi duduk di meja guru piket, di depan ruang osis, terlihat menghampiri wanita itu. Sementara Nata hanya menunduk sambil menggerutu dan Abdul tidak henti-hentinya tertawa. "Kenapa sih? Itu siapa?" Tanya Karina.

Namun diantara Abdul dan Nata tidak ada yang menjawab, hingga wanita itu dan Kak Indah terlihat berjalan ke arah kami, menghampiri. "Cil, gile baru sehari udeh dapet gandengan ajah." Ucap Wanita itu saat tiba di hadapan kami, sambil melirik ke arah Karina.

"Apaan sih lo, ngapain sih lo kesini?" Nata terlihat kesal.

"Jemput lo lah." Ucap Wanita itu kemudian matanya mengarah ke arah gue. "Eh, kayanya gue pernah ngeliat lo deh?" Tanya Wanita itu.

"Udehh ah berisik ayo!" Nata langsung bangkit kemudian mendorong-dorong Wanita itu, sementara Abdul mengekor di belakang mereka berdua.

"Ndah, mau sekalian ga?" Wanita itu menghindar dari Nata kemudian berbalik badan menghadap Kak Indah.

"Makasih, Kak. Aku nanti pulang sama Pesek." Jawab Kak Indah.

"Heeeh, mau-maunya lo sama dia. Yaudah GWS-ndah." Ujar Wanita itu lalu berjalan kembali ke mobilnya, tidak lama mobilnya melaju ke luar sekolah. Sementara gue, Karina, dan Kak Indah masih di posisi yang sama. "Itu tadi siapa, kak?" Tanya Karina.

"Oh itu tadi Kak Bella, Kakaknya Nata. Yang bikin sekolah kita sampe kaya begini yah dia itu, mangkanya walau pun udah lulus bertahun-tahun namanya masih harum."

"Begini maksudnya?" Tanya Karina.

"Nanti juga kamu tau siapa dan kenapa dia." Jawab Kak Indah melangkah pergi. Lalu gue dan Karina lanjut berbincang-bincang.

Karina seorang anak perempuan yang menyenangkan, dia pintar, friendly, (bukan bermaksud gender) tapi menurut gue, untuk seorang anak perempuan yang "dari kecil udah kaya," Karina dan untuk seorang perempuan selera humornya sangat bagus. Bagus dalam artian sebenarnya, dia bukan hanya mampu membuat humor-humor cerdas, tapi juga mampu menangkap humor receh nan kacangan yang gue punya. Berbincang dengan Karina sungguh membuat gue tidak menyadari jika langit sudah sedikit pekat.

"Lo belom dijemput juga?" Tanya gue.

"Tau nih bokap gue, Wid. Bentar yah gue telpon dulu." Lalu Karina menelpon Bapaknya. Dan percakapan Karina dengan Bokapnya menggunakan Bahasa Inggris yang membuat gue hanya bisa terdiam, dalam hati semakin mengagumi Karina.

"Lo engga dijemput Wid?" Tanya Karina tiba-tiba.

"Haah? Oh, engga. Gue naik angkot." Jawab gue.

"Loh emang bokap lo?"

"Bokap nyokap gue udah ga ada. Dari gue lahir bokap gue udeh ga ada. Terus nyokap gue meninggal pas gue masih kelas 1."

"Sorry, Wid..." Karina merasa bersalah.

"Santai, lah."

"Terus lo selama ini tinggal sama siapa, Wid. Sorry yah kalo gue nanya begini."

"Gapapa, Karina. Santai ajah Elah. Selama ini sih gue tinggal sama Babeh. Guru ngaji gue, gurunya Bokap gue juga katanya dulu. Tapi Babeh baru ajah meninggal dua minggu lalu, lah. Sekarang gue tinggal berdua ajah sama anaknya Babeh. Udah gue anggep kaya kakak gue sendiri, sih."

"Berat banget sih hidup lo, Wid." Karina terlihat haru.

"Engga ah, biasa ajah. Udah kebiasa juga. Gue kehilangan semua pas gue masih belom bisa ngerasa, jadi yah engga terasalah."

"Jadi pas lo udah mulai bisa ngerasa, lo udah adaptif yah?"

"Iya gitu deh. Adaptif apaan emang? Hahaha."

"Ga tau, heheehe. Tadi biar gue keliatan keren ajah ngomongnya. Tapi lo pernah ngerasa kesepian gitu gak?"

"Kadang iya. Eh engga sih, eh ga tau deh. Tapi yang jelas semenjak Babeh meninggal gue sering ngerasa tiba-tiba sedih kalo inget-inget Babeh." Gue memandangi sekeliling lapangan, hanya ada beberapa anak berseragam putih merah yang duduk di dalam beberapa kelompok. Sedangkan personil Osis sepertinya masih lengkap di depan ruang osis di sebelah kiri gue memandang.

"Speechless deh gue, engga bisa ngomong apa-apa lagi. Gue engga pernah ketemu orang yang kuat kaya lo, Wid. Kalo lo engga cerita gue yakin orang lain ga bakal tau kalau ternyata lo..."

"Gue kenapa? Gue anak yatim piatu?" Selak gue.

"Bukan gitu, Wid. Maksud gue. Lo sama ajah kaya yang lainnya, lo tetep ceria, lo tetep fun, engga ada kesedihan di muka lo... Maksud gue, kalo gue yang ada di posisi lo. Ga tau deh gue gimana, mungkin gue bakalan engga begini. Mungkin gue bakal kaya orang gila. Ya begitulah, gimana yah, maksud gue bukannya bilang lo anak yatim piatu."

"Tapi emang kenyataannya."

"Iyah tapi lo engga kaya gitu."

"Lah emang anak yatim piatu itu harusnya gimana? Harus kasian, harus dikasianin gitu?"

"Tapi kan di agama, itu kalo anak Yatim..."

"Lo Islam?" Tanya gue. Karina menganggukan kepala. "Emang di agama, anak yatim piatu itu harus diperhatikan. Tapi bukan berarti dibedain."

"..." Karina terdiam.

"Gue engga mau mentang-mentang gue anak yatim orang lain jadi ogah bercanda sama gue. Mau ngata-ngatain gue takut dosa padahal bercanda. Gue engga mau, gue kan juga pengen cengcengan. Ya, gue ga mau ajah dibedain."

"Iyah, gue ngerti Wid. Engga enak emang dibedain." Ucap Karina sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri. Bersamaan itu ponsel Karina berdering, ia pun menjawab panggilan itu kemudian kembali berbicara dengan seseorang dengan Bahasa Inggris. "Wid, sorry. Bokap gue udah di depan. Gue duluan yah. Kita lanjut besok ngobrolnya. Makasih loh udah nemenin gue sampe bokap gue dateng."

"Iyah, Karina."

Lalu gue memandangi langkahnya yang anggun yang beberapa kali rambutnya oleh angin yang seraya menghilangkan jejak. "Deng..." Entah apa, gue merasakan sebuah perasaan yang membuat tetiba menghela nafas panjang.

Perasaan macam apa ini? Seperti ingin aku rasakan lagi dan lagi Apa yang baru saja gue bicarakan? Benarkah gue sudah bukan lagi anak kecil yang bebas bermain seharian? Ah, Tuhan...

Setelah Karina tak lagi terlihat, gue langsung berjalan dengan cepat ke tempat gue menunggu Metromini seraya Adzan magrib yang berkumandang. 10 menit, 15 menit, 30 menit, satu jam, hingga jam dinding yang ada di warung menunjukan pukul delapan malam. Bus yang gue tunggu tidak kunjung datang. "Dek, nunggu metro mini **, Yah?" Tanya Ibu-ibu yang menjaga warung.

"Iya Bu."

"Yah jam segini biasanya udah pada setoran mereka, Dek. Udah pada pulang. Biasanya terakhir magrib deh."

"Ya kenapa ga bilang dari tadi, Bu."

"Kirain adek nunggu jemputan."

"Lah itu dia bu metro mini yang jemput saya."

"Heleh." Mengetahui hal itu, gue berpikir sejenak. Dengan sisa uang yang ada, 500 Rupiah. Tidak ada jalan lain untuk pulang selain berjalan kaki sampai jalan raya yang terdapat banyak Bus yang mengarah ke Terminal. Atau berjalan kaki saja hingga ke rumah. Dan saat itu gue memutuskan opsi kedua, gue berjalan kaki sampai ke rumah.

###
Diubah oleh nyunwie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 24 lainnya memberi reputasi
25 0
25
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 03:29
Quote:Original Posted By Qthi
Realita kehidupan yang lumayan terjal ya gans...

Bikin gue jadi lemper bacanya he he..

Maturnuwun sajiannya yak


Iya, namanya hidup pasti ga ada yang datar, huehuehue.
Makasih, yah. Semoga betah. hehehe

Quote:Original Posted By aggrolads
Keren


Quote:Original Posted By ezz4592
Gila, baru 2 part aja lngsng bikin insekyur "ajg bahkan di umur gw skrg aja blm tentu isa 'idup' seperti di waktu elu bocah gitu".
Nice story, pasti bisa banyak ni yg di petik emoticon-Malu


Semoga bisa ada yang dipetik, sekalipun engga. Setidaknya jangan dicontoh, hahahah.

Quote:Original Posted By soe hok chonk
Baru selesai nacepin pasak nih, tinggal tarik flysheetnya yg kuat biar ujan gk nampuhg aer. Lanjut gan, ceritanya bikin flashback jaman sekolah dlu..


Ogut ajah nyengar-nyengir nulisnya. Emang paling demen dah kalo flash back zaman sekolah.

Quote:Original Posted By brigadexiii
Adehh nyangsang d mariiii ... Ikutan nimbrung sekalian deh yee


Siap gan emoticon-Jempol

Quote:Original Posted By sekelumitkecil
Eaaaa sepertinya si TS lagi bingung mau nutupnya dimana.
Gas teroos, Gan! selama mata masih kenceng. Apa kekencengan?
ehhhemoticon-Ngacir


Lo aduhhh...
bener-bener ngajak gelut bat nih orang
profile-picture
profile-picture
alverno.10 dan Qthi memberi reputasi
2 0
2
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 04:05

Part 6

Setiap manusia pasti akan berubah, setiap perubahan pasti akan menyentuh manusia. Perubahan selayaknya sebuah bayangan, dan waktu adalah cahaya yang menyorot dari depan -- Kamu tidak akan pernah melihat sebuah perubahan jika kamu tidak berani untuk melihat ke belakang. Dan tidak akan pernah ada cara lain untuk menghentikan itu, perubahan, selain meredupkan cahaya yang menyorot dari depan.

Anggaplah saat ini, tulisan ini. Adalah kepasrahan diri yang tidak bisa menghentikan waktu. Secara kasar, tidak menerima segala perubahan -- berjalan dengan menghadap ke belakang -- merangkai lagi semua yang sudah dan pernah ditinggalkan dalam sebuah kata yang terangkum dalam sebuah tulisan. Karena menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan sebuah kehidupan.

Karena aku hanya bisa melihatmu di belakang
Dalam kenangan.


Keesokan harinya, gue berangkat di jam yang sama seperti kemarin. Tentu dengan alasan yang sama, karena memperkirakan waktu tempuh metro mini sama halnya dengan bermain judi. Jadi daripada harus bertaruh untuk hal yang tidak pasti, lebih baik diantisipasi.

Di hari kedua MOS, gue tiba di sekolah lebih siang dari hari sebelumnya. Gue tiba saat matahari sedang berada di titik tertingginya. Tidak seperti kemarin, hanya Nata yang gue dapati saat tiba di sekolah. Hari itu gue melihat Renal, Karina, Abdul dan Nata tengah duduk bersama. Gue langsung bergabung ke dalamnya.

"Nah ni dia nih baru dateng." Ucap Nata saat gue duduk di sebelahnya.

"Lo dateng pagi lagi, Nat?" Tanya gue.

"Yee sianjing! Sama embernye nih anak kek burung celepuk yang atu!"

"Haah, emang lo kemaren dateng pagi, Nat?" Tanya Renal.


"Kan lo sih, ahhh!!!!" Nata terlihat malu, namun karena itu suasana menjadi penuh canda tawa. Dan saat itu juga gue merasa sudah bertemankan mereka.

Tidak banyak yang berbeda pada hari kedua mos; perpeloncoan, berkenalan dengan guru, games-games yang garing yang sebenarnya tetap tersirat perpeloncoan di dalamnya, kalaupun ada yang berbeda mungkin sesekali ada beberapa perkenalan dengan ekstrakulikuler yang ada dan satu lagi yang berbeda di hari kedua MOS yaitu kami berlima sama sekali tak tersentuh. Bahkan saat itu kami merasa kalau kami berlima tidak dianggap ada.

Saat itu sebenarnya gue bersyukur saja kalau gue tidak mendapat perlakuan aneh-aneh. Tapi entah apa yang ada di dalam pikiran alien yang satu itu, Nata. Saat itu sudah mendekati waktu pulang, saat Kak Ayu menyuruh salah beberapa teman sekelas kami untuk bernyanyi sambil bergoyang untuk syarat agar kami semua bisa pulang. "Pokoknya kalo lagunya belom selesai sekelas engga boleh ada yang pulang." Ucap Kak Ayu.

"Oi, Kak gue dong yang disuruh, masa dia-dia melulu. Ayo dong gue, takut ape?" Ujar Nata menantang.

Kak Ayu hanya diam, namun kakak kelas lain, laki-laki, dia seolah tertantang. (Sebut saja) namanya Ridho. "Lo jangan songon mentang-mentang adeknya Bella. Entar gue gituin ngadu sama Bella."

"Kalo gue mau ngadu dari kemaren ae."

"Yaudah sini, awas lo ngadu sama Bella, kena lo sama gue."

"Selo, yaudah gue mau nyanyi sendiri. Lo semua duduk." Nata menyuruh yang lain duduk.

Nata lalu bernyanyi, tidak jelas apa yang dia nyanyikan. Dia juga terlihat melompat dan menendang-nendang, bahkan terlihat sekali dia sengaja ingin menendang para Kakak Kelas. Yang pada akhirnya membuat Ridho geram, "Lo apa-apaan?" Kesal Ridho.

"Dead Metal Bang, mosing-mosing. Lo kan nyuruh nyanyi sama goyang yah. Ya ini gue nyanyi dead metal ya gini goyangannya. Lo ga tau emang? Ahh cupu lo bang!"

"Bugghh!" Ridho memukul perut Nata dan hal itu langsung memicu Abdul untuk langsung berlari ke hadapan Ridho kemudian memukul balik Ridho.

Dan sialnya, apa yang dilakukan Abdul juga menjadi pemantik untuk gue melakukan hal yang sama, gue ikut memukul Rido. Perkelahian pun, mungkin tepatnya pengeroyokan pun tak terhindarkan. Karena kondisi saat itu hanya Ridho dan Kak Ayu, kakak kelas yang ada di dalam kelas gue, Renal, serta yang lainnya tidak mampu menghentikan kami bertiga memukuli Ridho.

Rasanya cukup lama gue, Nata dan Abdul bisa memukuli Ridho. Hingga suasana makin gaduh, entah mengetahuinya dari mana, kakak kelas yang lainnya pun datang dan sebagian datang untuk membantu Ridho.

Suasana makin mencekam, pengeroyokan berubah menjadi baku hantam. Sampai Kak Amanda dan Kak Indah datang bersama seorang guru. Kondisi seketika terkendali dan semua yang berkelahi dipaksa masuk ke ruang rekreasi. Eh, ruang konseling maksudnya.

Objektif adalah sesuatu yang sulit, apalagi jika kita sudah dihadapkan dengan sesuatu yang rumit.


Segala yang terjadi memiliki nilai yang berbeda, tergantung dari sudut mana gue dan kalian semua melihatnya. Mungkin jika gue menarik lagi pikiran gue di masa kini (gue menuliskan ini) ke masa itu, apa yang gue lakukan jelaslah suatu kesalahan.

Sekali lagi karena pikiran dan hati gue saat ini tentu memiliki objektivitas yang berbeda dengan pikiran dan hati gue saat itu terjadi pada masanya. Saat itu; Nata, Abdul, dan tentu saja gue merasa kalau kami tidaklah salah. Dan kami juga tidak merasa kalau kami yang memulai semua ini.

Sebentar... Faktanya, memang bukan gue yang memulai itu semua. Nata yang mencari-cari sendiri masalahnya. Gue hanya terpancing untuk "membela." Sudah gue bilang objektif itu sangat sulit! Sikap netral sungguh hampir mustahil dimiliki manusia jika sudah berurusan dengan simpul-simpul perasaan; pertemanan, percintaan, persaudaraan, dan warisan!

Kala itu kami terus membela diri kami di depan Bu Alice, guru bimbingan konseling, yang sedang memarahi kami. Namun itu semua sia-sia yang pada akhirnya lima puluh poin dikurangi dari 100 kredit poin kami masing-masing. Serta kami juga harus menghadirkan orang tua kami untuk berbicara dengan Bu Alice perihal masalah ini pada keesokan hari.

Saat itu di SMP gue menerapkan sistem poin. Setiap murid masing-masing memiliki 100. Poin akan dikurangi jika seorang murid melakukan pelanggaran -- jumlah yang dikurangi berbeda setiap pelanggarannya -- mulai dari minus 5 poin untuk pelanggaran semacam tidak memakai atribut sekolah; dasi, ikat pinggang, topi (saat upacara), atau sepatu yang tidak sesuai dengan warnanya. Hingga minus 100 poin untuk pelanggaran berat seperti menggunakan narkoba dilingkungan sekolah, tindakan asusila dan lain sebagainya --tindakan-tindakan yang juga tergolong dalam sebuah tindakan kriminalitas.

Poin juga akan bertambah jika seorang peserta didik mendapatkan prestasi, apapun dan dalam bidang apapun, di dalam atau di luar sekolah. Tentunya jika poin seorang siswa sudah mencapai poin tertentu pihak sekolah akan memberikan siswa tersebut sebuah reward. Sebaliknya jika poin terus berkurang bahkan hingga tidak tersisa, pihak sekolah tidak akan segan untuk memberikan hukuman berupa banned dari antrian rank. Eh, bukan! Maksud gue hukuman berupa peringatan keras hingga drop out dari sekolah.

Dan saat itu masing-masing dari kami dikurangi 50 poin, yang dalam artian saat itu peringatan keras terpaksa harus diberikan kepada kami melalui orang tua/ wali kami karena poin yang tersisa untuk kami hanya tersisa separuh dari poin yang ada. Hal itu sungguh membuat gue sedikit tertekan. Namun bukan pada pengurangan poinnya, tapi siapa yang harus menghadap Bu Alice di sekolah.Karena seperti yang kalian tahu, jika gue sudah tidak memiliki orang tua.

"Baru dua hari kalian di sini tapi sudah berani seperti ini, Ibu terpaksa memberikan peringatan keras. Karena Ibu tidak ingin hal ini terulang lagi, mengerti!?"

"Mengerti Bu." Sahut Kami bertiga sambil tertunduk.

"Ya Sudah, kalian pulang dan ingat! sampaikan pada orang tua kalian kalau Ibu menunggunya disini besok setelah jam makan siang."

Setelah itu gue, Nata dan Abdul berjalan bersisian untuk kembali ke kelas kami terlebih dahulu sebelum pulang. Entah apa yang dibicarakan murid-murid lainnya, namun saat itu gue sadar betul jika kami bertiga menjadi pusat perhatian. Saat kembali ke kelas, masih ada beberapa anak yang sepertinya memang menunggu kami. Renal dan Karina juga masih duduk di atas kursinya. Dan benar saja, saat kami masuk ke dalam kelas. Kami langsung dihujani pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana kondisi di dalam "Ruang Sidang."

Gue tidak banyak bicara, karena Nata dengan antusias bercerita. Dia terlihat santai dan tidak sedikitpun tersirat kekhawatiran. Gue juga tidak mengerti kenapa dia bisa terlihat sesantai itu. Namun siapa peduli!? Jika mengambil ungkapan saat ini, mungkin kalimat ini cocok untuk menggambarkan ketidak pedulian gue pada sikapnya Nata dan lebih memikirkan nasib gue sendiri: "Lo sih enak sultan, lah gue cuma rakyat emperan!"

Namun setelah satu persatu pergi dan hanya menyisakan kami berlima di kelas. Suasana mendadak hening. Dan di dalam keheningan tiba-tiba Nata meminta maaf pada gue. "Wid, sorry gara-gara gue. Lo jadi ikutan kena." Ucap Nata penuh sesal.

"Yaelah santailah, kita kan temen!" Nata hanya mengangguk kemudian kami semua beranjak pergi meninggalkan kelas.

Walaupun gue tidak melihat Kak Bella, Nata dan Abdul langsung pamit saat kami tiba di lapangan. Begitu juga Renal, jemputannya sudah terlihat di depan. Dan kembali, hanya menyisakan gue dan Karina yang kemudian duduk di pinggir lapangan.

"Wid, lo gimana?" Tanya Karina tiba-tiba.

"Gimana apanya?"

"Kan orang tua lo dipanggil besok?"

"Oh, ga tau nih gimana, hahaha." Gue mencoba santai yang padahal dalam hati gue juga merasakan sangat bingung dan khawatir akan esok hari. "Paling kakak gue." Lanjut gue.

"Wid, gue tau lo ga mau dikasianin, lo engga mau dibedain. Tapi please lo pikirin kondisi lo, jangan bikin yang aneh-aneh, Wid. Lo engga mau kan jadi susah sendiri?"

"..." Gue hanya bergeming.

"Gue kan mau temenan sama lo yang lama, Wid." Ucap Karina sambil menyandarkan tangannya di pundak gue.

Sementara gue hanya bisa terdiam; gue gugup, deg-degan, sport jantung, speechless, gue nervous, iya! GUE SALTING!! Gue engga pernah sedekat ini sama lawan jenis. Engga, gue pernah! Lebih tepatnya gue engga pernah diginiin perempuan diperhatiin, "digelendotin," especially gue diginiin cewek cakep, bule, dan gue suka sama dia. Halaaah Mak, Tolong!!!! Anak lu puber!

Setelah itu Karina pamit, tidak seperti kemarin Karina menunggu dijemput hingga menjelang Magrib. Gue langsung bergegas untuk menuju tempat gue menunggu metro mini untuk pulang agar tidak tertinggal seperti kemarin. Gue tiba di rumah selepas magrib menjelang isya'. Saat gue tiba, di dalam rumah sudah ada Bu Dewi dan Mpok Leha. Bu Dewi langsung menyuruh gue mandi, mengganti pakaian dan bergegas sholat magrib.

Namun sayangnya saat gue selesai mandi Adzan Isya telah berkumandang. Saat itu gue tidak terpikirkan apapun tentang Bu Dewi, tidak memikirkan korelasi kehadiran Bu Dewi di rumah dengan apa yang terjadi di sekolah.

Sampai Bu Dewi menyuruh gue duduk di sebelahnya dan berkata jika Beliau ingin berbicara. "Wid, sini duduk. Ibu ingin bicara."

Gue lalu duduk disebelah beliau.

"Ibu mau tanya, tadi di sekolah kamu berkelahi?" Mendapat pertanyaan itu, gue langsung panik. Jujur saja saat itu terbesit pikiran untuk berbohong. Namun sekali lagi, entah mengapa di hadapan Bu Dewi gue selalu merasa tidak berdaya.

Mungkin saat itu, tanpa diri gue sadari, gue sudah menganggap Bu Dewi seperti Ibu gue sendiri. Maka dari itu gue tidak sanggup untuk melakukan hal-hal; seperti melawan, membangkang, atau bersikap arogan. Karena mungkin saat itu gue tidak ingin mengecewakan.

Marah seorang Ibu bukanlah marah dalam artian benci apalagi dengki. Marah seorang Ibu adalah bentuk lain dari sebuah rambu agar anak tidak terjerumus ke dalam lubang hitam yang membelenggu.

Bu Dewi lalu menanyakan bagaimana itu semua bisa terjadi. Gue menceritakan kejadian itu tanpa ada satupun yang gue tutupi. Lalu Bu Dewi mengingatkan gue seraya menasehati: "Kamu boleh berteman, dengan siapapun, dan dalam berteman kamu memang harus saling membantu. Tapi bukan berarti temanmu salah kamu juga ikut membantu. Seharusnya kamu ingatkan temanmu, bukan malah membantunya."

Secara teori apa yang dikatakan Bu Dewi memanglah benar, tapi sekali lagi simpul-simpul perasaan terkadang menutup nalar. Dan saat itu gue hanyalah anak-anak yang bahkan belum beranjak ke masa remaja. Menggolongkan diri gue pada golongan ABG, Anak Baru Gede juga rasanya belum pantas. Dan wajar saja jika saat itu gue hanya mendengarkan namun tidak sedikitpun gue renungkan.

"Besok biar Ibu yang ke sekolahan kamu untuk menghadap bagian kesiswaan. Tapi Ibu harap kejadian ini tidak terulang. Kamu ini bukan anak-anak lagi, seharusnya kamu sudah bisa bersikap lebih hati-hati, mengerti!?"

"Iiiii... Iya, Bu."

"Yasudah kamu makan sekarang, ajak si Leha. Tadi Ibu sudah bawakan makanan untuk kalian." Setelah itu gue makan malam bersama Mpok Leha, sementara Bu Dewi kembali ke rumahnya. Dan makan malam itu sungguh terasa pedas, bukan karena masakan Bu Dewi. Tapi oleh ocehan-ocehan Mpok Leha yang memarahi gue sama seperti apa yang dilakukan Bu Dewi.

"Alhamdu’lillah gue kenyang, makan omelan."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
simounlebon dan 30 lainnya memberi reputasi
31 0
31
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 04:12
6 part dulu kali, yak.
Lanjut besok, mata udeh sepet bat emoticon-Moon
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alverno.10 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 07:17
Akhirnya ada cerita lagi dari Nata emoticon-Selamat

apakah orang ini yg di bilang Nata jadi saingan terberat masalah "Karina" emoticon-Bingung

Tapi kok gaya penulisannya kayak bukan Nata yak, Apa ini Widinya langsung yg nulis?
Diubah oleh mirzazmee
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Jalan Sunyi Di Balik Tembok Jakarta
01-11-2020 09:35
Indahnya menyajikan sebuah tulisan ya gans... Yang nulis mah bisa sambil klesetan rebahan ngopi plus ngudut, pas kebeneran alurnya ada yang bikin pembaca baper, ya jadinya mewek. Pas alurnya bikin esmosi yang baca juga ikutan esmosi.


Padahal balik lagi, yang nulis mah santai aja he he

profile-picture
Ribao memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 16
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cerita-horor--imah-leuweung
Stories from the Heart
ayahku-membunuhku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia