Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
41
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f93e564b84088253633d12e/who-cares-if-you-exists-21
15% curhat soal kerjaan, sisanya fiksi.
Lapor Hansip
24-10-2020 15:27

WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]

Quote:15% curhat soal kerjaan, sisanya fiksi.


WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
Diubah oleh byefelicia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
d0dittt dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
24-10-2020 15:28
Diubah oleh byefelicia
profile-picture
profile-picture
Phoenix24 dan mmuji1575 memberi reputasi
2 0
2
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
24-10-2020 15:35

1

Gue selalu sadar bahwa dia memegang tangan gue cuma sekerjap mata. Meskipun setiap janji yang dilemparkan dari arahnya kedengeran mengyakinkan, gue tahu, bahwa dia akan pergi begitu saja tanpa mengatakan perpisahan apapun itu. Dan benar saja, seakan setengah dekade tidak ada artinya sama sekali. Dia memutuskan untuk berhenti mengangkat telepon. Sehingga gue pun, sendiri di Kota yang berseberangan seratus delapan puluh kilometernya darinya. Memutuskan untuk melupakan dia juga. Dan setiap air mata yang jatuh. Setiap tetesnya dia tidak akan perduli, tapi entah perasaan kebas darimana, gue tahu. Gue selalu tahu, bahwa apa yang dia janjikan selamanya, tidak akan terwujud dikehidupan yang ini. Atau bukan dia yang menepatinya.

*


“ Jadi aku tuh terapis baru, aku tuh impor lho dari Jakarta makanya belum bisa bahasa Sunda. “ Kata gue riang, dengan mata yang langsung menatap ke matanya. “ Dan gue baru belajar mijit disini, jadi yang sabar ya sama gue. “

Tamu gue tersenyum mendengar ucapan gue. Manis banget. Sementara dia membuka artikel pakaiannya satu-persatu, gue menambahkan. “ Abis ‘mandose Cantik? “

Kali ini dia tersedak mendengar pertanyaan gue, tapi tetap saja dia menjawab setelah lama berpikir, berusaha menerjemahkan pertanyaan gue secepat yang dia bisa. “ Abis dari kantor sih, kayak biasa. “ Kepala gue mengangguk-angguk, jawaban klise dan memang sesuai dengan jam nya. Sekarang masih jam setengah satu siang, weekdays. Tipikal.

“ Oh ya? Kantornya dari mana tuh kalau boleh tahu? “ Tanya gue, basa-basi sementara sudah mulai melakukan pergerakan pemanasan diatas punggungnya yang lengket dan lebar. Mata gue mempelajari bekas luka di punggung dan warna kuning langsat serta garis-demi garis stretchmark di area ketiak. Pori-pori yang membesar, yang menandakan orang ini berarti sering di “kerokin” yang sebenarnya menurut gue, cuman ngerusak permukaan kulit, nggak menyelesaikan masalah. Dia memakai parfum yang sudah mulai pudar tercium, tapi gue tahu betul dia adalah satu dari sekian banyaknya pemakai parfum Baccarat KW.

“ Daerah Setiabudi sih, “ jawabnya agak rendah karena tekanan yang disebabkan tangan gue sendiri di belakang punggungnya. “ Emangnya Dasha udah tahu daerah bandung? Katanya baru Sebulan di Bandung? “

“ Ini gue basa-basi aja kok. Ya kali, gue tahu daerah Bandung? Orang gue aja belum sama sekali keluar ngecek Bandung selama kerja disini ataupun seumur hidup di dunia ini! “ Kata gue sambil tertawa. Dan dia pasti balas tertawa. Tipikal.

“ Kalau gitu, Kapan Dasha liburnya biar aku yang jadi tour guide Kota Bandung? “

“ Emang dirimu asli orang Bandung banget? “ Balas gue cepet sementara gue menumpu badan gue di kaki kirinya dengan kedua kepalan tangan gue yang jadi satu. “ Dan gue masih tinggal di Mess, jadi belum bisa jalan-jalan seenak jidat, sorry! “ Kata gue, menolak halus.

“ Ah Yaudah, nanti kapan-kapan kalau udah bisa jalan, kasih tahu ya. “ Katanya cepat, sepertinya basa-basi juga.

“ Emang mau dibawa kemana gue? “ tanya gue cepat.

“ Maunya dibawa kemana? “ Dia menoleh ke belakang untuk menatap muka gue yang sedang memasang ekspresi, meremehkan dia.

“ Bandung ada tempat makan Bakso yang enak nggak? “ Balas gue menantang.

“ Yah kalau cuman Bakso, ya pasti banyak. Ada Bakso Semar, ada bakso Samanhudi, ada―”

“ Aku mulai dari telapak kaki kiri ya? “ Potong gue pelan dan ramah. Dia langsung mengangguk lalu melanjutkan. “―ya pokoknya kamu kapan off nanti aku jemput kamu disini, kita jalan-jalan? “

Gue kali ini menghadapi telapak kakinya dan mengurut setiap jari kakinya dengan ujung ibu jari satu persatu tiga kali. Pikiran gue udah melayang kesana-kemari. Masih setengah nggak percaya, gue ada di Bandung. Sendirian. Tanpa teman, Kerjaan baru dengan keahlian yang benar-benar baru dipelajari intensif selama lima hari penuh. Who would have thunked it kalau gue, Matchie, bakalan jadi mamang pijit premium? Meskipun memang berujung plus-plus, dimana disetiap ujung sesi gue harus bertanya apa yang mereka mau―mau handjob kah? Mau melihat dada 32D kah? Atau mau melihat paha lalu getting off pake paha gue kah?―dan dipenghujung malam pukul sembilan, setiap penghasilan dipotong komisi untuk tempat Panti Pijatnya, gue dibayar secara hard cash. Setiap kali telapak tangan gue melihat kertas merah dan biru itu, mata gue menatap mereka masih dengan rasa keheranan yang luar biasa.

Kenapa gue ada di Bandung?

Gue nggak ada siapa-siapa disini selain, gue dan tangan gue yang memegang uang hasil mijit tiap tamu yang datang memilih foto gue.

Matchie, gue tahu lo ninja hatori. Tukang kabur. Tapi kenapa harus Bandung?

“ Dasha, Tapi kamu udah jalan kemana aja selama di Bandung? “ Tanya Tamu gue dari belakang kepala gue, yang menjentikan gue kembali ke kenyataan dan membuat gue mengerjapkan mata berkali-kali. Bulu mata palsu yang berat dengan ujung yang agak sedikit menusuk―god, gue terlalu kedeketan masangnya ke ujung mata jadinya sakit―tapi gue secara autopilot sudah selesai mengurut telapak kaki kirinya sehingga ganti mengurut pinggir kakinya dengan kencang.

“ Hmmm, aku bener-bener belum pernah kemana-mana. Would ya take me away sometime later? “

“ Sure “ dia tersedak, tipikal. Dipikir terapis yang kerja di daerah Ciateul, nggak bisa ngomong bahasa inggris yang whacky sekalipun?

Dia melihat kebalik bahu lagi. “ Who are you? “

Gue sudah selesai memijit area telapak kaki dan mau ganti naik ke area betis, Mata gue bertemu dengan matanya yang sayu dan berkerut dan banyak efek melanoma karena membenci sunblock. “ Hmm? Dasha ‘kan? “ Gue berpikir sejenak, mempertanyakan alias yang mana yang gue pake di tempat pijat ini. I mean, gue technically punya banyak.

Dia menggeleng, “ Nggak, I mean. What are you really doing here? Kamu bisa ngomong bahasa inggris, dan kamu cantik. Ada banyak yang bisa kamu lakukan selain berada―” Dia terdiam sebentar sambil menunjuk melihat kesekelilingnya. Gue juga jadi melihat bilik yang dipilihnya. Room 3. Cuman dibatasin papan gypsum pipis, dengan lantai yang di tempel vinyl kayu 3mm warna dark ebony, lalu disediakan satu meja dimana cuman ada satu kipas kecil merek Sekai warna Ungu yang tidak pernah dibersihkan jaringnya, tapi kencang benderang meski cuman mendinginkan ke satu spot yaitu dinding gypsum tadi, dan asbak kosong. Larangan kertas tidak boleh berbuatan asusila yang di laminating, di tempel di dekat meja mencemooh gue setiap kali gue mempertanyakan ‘finishing touch’ ke setiap tamu yang sudah selesai di pijit. Dia memilih untuk meminum botol Aqua dingin yang sudah mencair saking panasnya ruangan ini. Lalu ketika dia sudah berhenti mengamati ruangan ini, matanya menatap mata gue dengan tatapan bertanya-tanya. “ Dan kenapa pula namanya harus ‘Dasha’? “

“ Mami yang pilihin sih. “ Gue ketawa, sementara badan gue menumpu sambil mengurut betisnya dari mata kaki bawah dan berhenti persis di bawah belakang tempurung lutut. " Kayak orang Russia gitu ya? Padahal sih dari Manado pisan "

Dia ketawa, renyah. Sedikit ada nada ngeledek tersirat kalau diperhatikan secara baik-baik, tapi sayangnya gue budek. “ By the way, karena gue mijitnya masih baru banget, bilang ya kalau ada yang kurang. " Gue menghela napas, lalu gue dengan riang menambahkan.
" Jadi kalau gue boleh tahu, hobi lo apa? “

“ Musik sih. “ Jawabnya cepat. “ Kalau Dasha? “

“ Hmm, Welll, gue bisa nyanyi lhoo. Gimana kalau gue nyanyiin buat ngebantu pijitan yang serba kekurangan ini? “ tawar gue sambil tertawa-tawa.

“ Sure, why not? “ jawabnya cepat, “ Pengalaman baru sih, dinyanyiin sama terapis pijit. Tapi ya, sure! “

“ Okaaay, “ Gue menarik napas dalam. “ What’s your go to go karaoke song? “

“ Tears of heaven? “ Jawabnya asal, sedikit meledek karena dia melihat gue lagi dari balik bahu untuk memastikan umur gue dari muka gue. Tapi ketika gue menyanyikan setiap liriknya dengan flawless. Matanya terbelalak.

“ Serius nih, what are you doing here? “

“ I too, am asking the same question here. “ jawab gue sambil menghendikan bahu. “ Betisnya sudah mendingan belum? Boleh aku naik ke atas paha? “

*
Diubah oleh byefelicia
profile-picture
profile-picture
Phoenix24 dan mmuji1575 memberi reputasi
2 0
2
Post ini telah dihapus oleh KS06
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
24-10-2020 18:00

1.5

Dan gue nggak pernah terlalu serius mempelajari nama mereka yang datang ‘memilih’ gue, karena berapa banyak yang jujur memberitahukan nama aslinya kepada seorang terapis? Nada. Zero pisan. Tapi dengan santainya, mereka akan bertanya nama gue aslinya siapa setelah gue menyebutkan nama Dasha dengan tidak natural. Tapi the audacity untuk menanyakan kehidupan pribadi terapis ketika pertanyaan yang sama tidak ingin ditanyakan kembali itu sudah terlalu lagu lama.

Jadi setelah gue menyanyikan lagu Tears on heaven, tamu gue tepuk tangan sebentar dan dengan santainya berkicau. “ Kamu kenapa milih kerja jadi tukang pijat? Serius deh, ternyata pas tahu suara kamu kayak begini, kamu kan bisa aja jadi penyanyi? “

“ Dan sebenarnya pelawak juga. “ Tambah gue ngasal. Nggak terlalu menanggapi serius pertanyaan dia. Sementara gue menekan paha belakangnya dengan telapak tangan. “ Karena sebenar-benarnya ya pak, aku tuh orangnya lucu. Ini aja belum ketahuan lucunya dimana. “

“ Tapi daritadi aku udah ketawa kok? “ kata dia, memberikan gue sedikit validasi. “ Tapi serius, kenapa kamu ada disini? Dari tadi pertanyaan aku belum kamu jawab-jawab lho. “ katanya, mengingatkan.

Gue mengerjapkan bulu mata palsu gue yang menyakitkan. Haruskah gue mengutarakan versi yang jujur atau versi yang asal bunyi bercanda? Versi mana yang bakalan mendatangkan tip dari tamu intrusif model-model seperti ini? Gue menatap bagian belakang kepalanya dengan tatapan menilai lalu menghela napas dalam.

Kenapa harus bohong kali ini? “ Jadi aku tuh kabur dari Jakarta, kabur dari Corona, kabur dari segalanya. Ke Kota yang mana aku nggak punya apa-apa, nggak kenal siapa-siapa, nggak tahu apa-apa.” Gue terdiam sebentar, mengerjapkan mata. “ Tapi untungnya tempat ini terapis-terapisnya baik banget ke aku, nggak galak. Maminya baik. Pas tahu aku punya maag, dia bikinin aku bubur. Jadi so far, Bandung memperlakukan aku dengan teramat-sangat baik. “ kata gue mengakhiri pidato yang singkat itu.

“ Kamu kabur dari apa? “ tanyanya, lebih detail.

Gue menggeleng-gelengkan kepala. Meski gue tahu dia nggak melihat gue, suara gue pelan mengoreksinya. “ Lebih tepatnya dari ‘siapa’”.

“ Oh. “ Katanya langsung mengerti. “ Kredivo ya? “

“ b-a-n-g-s-a-t! “ Kata gue langsung marah, tapi tertawa. “ Cowok! Gue kesini gara-gara diputusin cowok! “

“ Hah! Ada cowok yang mau mutusin seorang Dasha? “ Katanya ngeledek, tapi disela-sela tawa yang tidak terkendalikan. Dia menambahkan, “ Sinting tuh anak! “.

“ Emang! Kurang apa gue? “ Bibir gue tersenyum, tapi hati ini menanyakan hal yang sama. “ Gila, beneran lho. Coba, lo rekor berapa lama pacaran sama orang? “

“ Aku? “ Tanya dia sambil berpikir sebentar. “ Empat setengah tahun? “

“ Gue lima tahun dan itupun juga tinggal bareng, pak! “ Kata gue langsung semangat. “ Gila rasanya kayak mau ngaku Janda nggak bisa, mau ngaku gadis tapi ingin menangis. “

Dia ketawa kenceng banget sampai badannya bergetar semua. Disaat gue ganti memijit kaki sebelahnya, dia menatap gue dari balik bahu lagi ke arah gue lagi sambil bertanya. “ Emang nggak ada yang langsung gantiin spot kosong itu cowoknya? “

“ So far belum. “ Gue tersenyum cengengesan. “ Masih masa Idah, emang kenapa? “

“ Gimana kalau aku? “ Dia menunjuk ke arahnya sendiri. “ Aku juga baru putus, dan sebenar-benarnya ya, aku punya banyak kualitas bagus. Aku sering karaoke, berarti penghasilan aku gede kan? Terus aku sering ke tempat pijit, berarti aku bisa sering ketemu kamu―point plus buat kamu ‘kan? “

Gue mendengus, tapi ketawa. “ Maaf pak, udah hukum alam dari sananya bahwasanya terapis itu milik bersama. “ lalu gue menunjuk ke arahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “ Dan disitulah letak kesalahan anda, menaruh perasaan sama terapis. Kecuali ente siap berbagi, ente harus siap makan hati tiap pagi. “

“ Tapi ada dong kasus terapisnya yang suka sama tamunya? “ Tanyanya balik, menantang.

Gue ketawa. “ Ya, tapi untungnya juga gue kerja disini. Karena gue pun nggak akan macarin cowok yang muncul dari balik bilik room sini. “

“ Kenapa? Bukannya fair, jadi busuk ketemu busuk? “ Balasnya, lumayan sengit.

“ What makes you think, hanya kerja jadi mamang pijit plus-plus, makes me rotten inside? “ balas gue, sambil mengerlingkan mata sementara lumayan kesel denger statement dia barusan.

“ Come on, “ dia berusaha memutar balik kata-katanya. “ Kamu tahu apa yang aku maksud. Ketika kita sama-sama tahu apa yang kita lakukan di room, bukannya nggak ada lagi yang ditutup-tutupi?”

“ Dan kenapa harus ditempat seperti ini baru seperti itu? Emang di coffee shop nggak bisa saling terbuka? “ Balas gue, cepat. “ I don’t know about you, tapi kalau gue di setiap awal hubungan. Cards on the deck. Gue buka aib gue, gue kasih tahu aspirasi gue. Gue kasih tahu aib, kelemahan, ketakutan, harapan, fetish, semua-muanya soal gue. Gue kasih tahu. “

Dia terdiam. Mendengarkan, sehingga gue melanjutkan. “ Kalau dia mau gue yang seperti ini, ada nya seperti ini. Ya bagus, kalau nggak yaa no hard feelings. “

“ Oke fair. Good point. “ katanya, sambil menarik napas yang dalam. “ By the way, bisa langsung ke punggung aja? Soalnya bagian pantat nggak terlalu pegel. “

Dalam hati gue, menari-nari. Less work for me! Sehingga ketika gue mengerjakan punggungnya, dan menghirup parfum Baccaratnya itu yang sudah mulai tersapu waktu. Kepala gue kembali jalan-jalan kesana-kemari. Cards on the deck. Gue udah bilang bahwa adanya gue begini, jadi tolong cintai gue yang adanya seperti ini. Kalau mau, ya bagus. Kalau nggak, no hard feelings.

Tapi ketika ada yang mau, lalu ternyata ujung-ujungnya malah meninggalkan. Oh, mama, Oh papa. Harus dikemanakan perasaan menyakitkan seperti ini? Ketika ‘Dia’ tahu semua trauma kecil gue dan memberikan perpisahan terakhir, membentuk semua trauma kecil gue menjadi bongkahan batu es yang memecah belah Titanic dan gue tahu, gue tahu hubungan kita adalah hubungan yang tinggal menunggu Defcon 5, menunggu perpisahan itu terjadi. Lalu meledak didepan mata kepala gue sendiri.

“ Dasha kamu mijitnya pake tenaga banget ampe keringetnya jatuh di punggung aku. “

Gue nggak bisa lagi membedakan, mana punggung tangan gue yang sedang mengurut punggung orang, dan kasur inoac setinggi sepuluh sentimeter. Semuanya kelihatan sama. Semuanya kelihatan menyakitkan. Dari sini bahkan gue udah nggak ingat harus kemana gue mijitin punggung orang ini. Tapi gue meluruskan punggung gue sebentar, menarik napas yang dalam, menyeka air mata gue yang nyaris jatuh lagi dengan tisu dari tas yang berisi perlengkapan perang, lalu mulai mengurut punggungnya dari ulang lagi karena gue udah nggak ingat lagi urutannya sudah sampai mana tadi.

*



Diubah oleh byefelicia
profile-picture
profile-picture
Indjay dan hans461 memberi reputasi
2 0
2
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
26-10-2020 03:08
I'll be waiting for next chapter...
profile-picture
byefelicia memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
27-10-2020 07:31

1.75



Touched by an angel. Literally. Sekarang gue berada di samping tubuhnya yang telanjang terlentang dengan burung tegak. Dia cuma memutuskan untuk memilih paket touchy-touchy boobies, dan ketika gue melepaskan baju serta bra gue. Tamu gue menatap gue tepat di mata.

“ Dasha, beneran kasih tahu ya kapan kalau kamu off? “ katanya, bersungguh-sungguh.

“ Mau diculik kemana? “ jawab gue sekenanya. Gue sudah memutuskan untuk nggak akan pernah pergi keluar bersama tamu, meski kelak peraturan itu sendiri akan gue langgar juga untuk tamu yang tepat. Tapi ketika gue mendekapkan badan gue kea rah dia dan menekan dada gue ke samping badannya, sementara tangan gue mengambil alih johnny-nya. Gue memperhatikan dia secara seksama dan diafragma dada napasnya yang naik-turun.

Sambil memasukan lidah gue ke dalam mulutnya. Gue memperhatikan tulang hidungnya yang tidak seperti milik lo, gue memperhatikan rambutnya yang lurus dan halus, tidak seperti elo. Gue memperhatikan apapun yang tidak seperti elo dan sedikit bersyukur karenanya. Sampai saat ini, tak satupun dari mereka ada yang mirip dengan elo. Belum ada yang menggantikan elo. Karena emang, secara teknisnya, kemungkinan kecil untuk bisa ada orang lain yang bisa mirip 78.99% dengan elo. Elo, terlalu…rare item.

Playlist spotify premium gue sudah mulai di penghujung sesi, dan tangan gue mengikuti ritme napasnya yang semakin cepat. Dia melenguh keenakan, sementara tangannya yang lain meremas dada gue. Lidah gue menekan putingnya yang berwarna cokelat dan kecil, membuat pahanya sedikit mengejang. Kepala gue naik mendekati dagu dan menciumi ujung bibirnya sampai mengecup bibir, dan melanjutkan memasukan lidah gue lagi ke dalam mulutnya. Dia balas mencium gue. Tapi gue nggak berasa apa-apa. Yang gue pikirkan secara seksama adalah, ritme tangan gue, dan elo yang jauh disana.

Gue memperhatikan segala-sesuatunya dengan seksama. Tekstur kulit wajahnya, bekas jahitan yang menimbul didekat alis kirinya, meskipun sebentar gue ingin mematri tamu random ini ke dalam ingatan gue. Bagi dia, gue adalah kesekian puluh terapis yang pernah menyentuh dia di tempat yang paling privat, membantu dia mencapai nirvana tingkat tujuh. Tapi bagi gue, dia adalah laki-laki yang gue habiskan beberapa porsi nyawa gue, meskipun hanya sekedar tujuh puluh lima menit. Sok romantis. Sok dalem. Terserah. Tapi gue entah kenapa, pernah membuang nyawa gue selama setengah dekade secara percuma. Dan sekarang tujuh puluh lima menit, tapi terbayar. Yang mana yang paling parah? Gue balas mencium, cium, sampai tamu gue kewalahan. Jawab gue sekarang, mana yang jahat? Dia yang bayar gue, atau dia yang menjanjikan selamanya tapi nggak menepatinya sama sekali?

Sekarang tangan gue bersimbah cairan calon kaskuser, calon ibu rumah tangga, calon terapis di Kota yang paling laris, calon artis Ibukota. Dia mengecup kening gue dan diselaan napas, dia bilang, “ makasih Dasha. “

Gue bangun meluruskan punggung, mengambil tisu dan membersihkan cairan putih bau kaporit kolam renang itu dari sela-sela jari gue.

Gue mengerjapkan mata. Lalu balik menatap tamu gue dari balik bahu gue sambil menyerahkan tisu untuk membersihkan dirinya sendiri sambil berkata, “ Gue pake baju dulu, gue cekin kamar mandi kosong atau nggak. Terus abis itu pake sabun dulu ya, soalnya kan mijitnya pake minyak. Jangan pake air dulu, takutnya tetep nggak bersih. “ Cerocos gue memberikannya intruksi detil.

Dia mengangguk. Lalu dengan kaki yang mengangkang dan sambil mengatur napas, dia menggelengkan kepala. “ Nama aku―kamu kok nggak nanya sekalipun nama aku siapa? “

“ Percuma juga. Gue nggak akan tahu bagian lo yang itu, jadi buat apa? “ Kata gue, dengan nada yang riang.

“ Ah jangan gitu, Dasha. Nama aku Yogas. “ Katanya sambil tersenyum cengengesan. “ Besok-besok aku datengnya ke kamu lagi aja. Kamu jangan pindah-pindah tempat ya? “

Gue tersenyum manis sambil sibuk mengaitkan kaitan bra paling ujung. “ Siap, tapi jangan gitu juga. Sejahterahkan terapis yang lain juga, mereka semua butuh uang juga. “ Kata gue sambil ketawa.

“ Ah itu mereka juga pasti udah dibantu sama akang-akang yang lain. “

“ Harusnya. “ Gue menarik baju gue dan mencari-cari mana yang lapisan depan dan bagian belakang. “ Tapi kan kalau dapet tambahan dari elo, lumayan juga ‘kan? “

Yogas merangkak dengan tangan meraih handuk yang gue letakan di ujung tempat tidur dan lalu mulai melingkarkan handuk itu di pinggangnya. Gue pun langsung bangkit berdiri, membenarkan baju biar rapi lalu keluar dari bilik. Pintu kamar mandi terlihat kosong, sehingga dengan cepat-cepat gue melapor ke tamu gue. “ Komandan, kamar mandi kosong, komandan. “

Dia mendongak langsung melengos pergi melewati badan gue didekat sekat gypsum. “ Yaudah Sabun dulu ‘kan, baru abis itu dibilas air? “

“ Betul sekali. “ Gue mengerlingkan mata sebelah. “ Anak mama sudah pintar, pasti minumnya susu SGM “

“ Sialan. “ Tangannya mengacak-acak puncak kepala gue, sok akrab sialan. Lalu dia berjalan menghampiri kamar mandi, sementara gue juga berjalan mencari sprei baru untuk mengganti sprei yang sudah bersimbah banyak sekali bukti, bahwa kedua tangan disamping badan gue ini mutakhir dan nyata efeknya.

*

profile-picture
mmuji1575 memberi reputasi
1 0
1
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
27-10-2020 08:19

2



Yogas mengecup kedua pipi gue, sambil menambahkan tips ke dalam tangan gue. “ Gue akan datang lagi dan lagi, awas lo pindah kemana-mana. “ Katanya, sengit.

“ Elu yang awas gonta-ganti terapis. “ balas gue nggak kalah sengit.

Saat memberitahukan Mama-san bahwa Yogas bayar di room, Yogas duduk di ruang tunggu untuk mengganti sandal dalam ke sepatu Converse high topnya yang sudah belel. Dia kayak orang miskin, tapi dompetnya tidak. Bagus juga kamuflasenya. Puji gue dalam hati.

Sebenarnya kalau udah terbiasa mijitin dan mengeluarkan Cakra Kyubi Narto, mijit itu adalah kerjaan yang sangat easy peasy. Setiap gerakannya kayak menari, yang agak rumit harus memecah konsentrasi untuk membelah dua bagian otak untuk tak lupa harus gacor ngomong juga dan dalam kasus gue―kadang gue harus menyanyi lagu kesukaan mereka. Kalau ketemu tamu yang seru, enam puluh lima menit nggak akan terasa memberatkan karena tahu-tahu tangan gue sudah bersimbah cairan penuh dengan DNA genetic ratusan tahun. Disisi lain, perkerjaan seperti ini adalah perkerjaan mood juga. Tapi, sebagai mamang pijit premium yang baru menjalani profesi ini dua bulan, gue lumayan cukup dibilang professional. Gue sama sekali nggak boleh bawa masalah gue dari Jakarta, ke dalam room manapun, terlepas sepanas apapun room nya itu dan Sekai Ungu cuman menjadi dekorasi ruangan.

Dan sebagai seseorang yang memiliki kepribadian setengah Sloth, yang selalu menganggap setiap jam adalah Waktu Indonesia Memasuki Jam tidur―handphone gue kelewat berisik. Sedikit-sedikit bergetar, kebanyakan dari website tercinta ini dari forum 275, tapi sisanya dari aplikasi Michat karena selain mamang pijit premium, saya juga harus marketing diri saya sendiri supaya tetap jadi sobat soeltan.

Dari True caller, Dia ‘Ciplik’ tapi sebenarnya namanya Galang. Galang somehow udah ke-empat kalinya ketemu gue, dan setiap kalinya dia ketemu gue. Semakin lucu juga bercandaan kita. Kalau bukan karena scenario anak yang tertukar, gue mempertimbangkan macarin Galang ditempat. Tapi Galang kerja di Jakarta sekalipun dia tulen anak Bandung, dan gue sebaliknya. Long distance relationship is a bitch, dan gue baru aja melepaskan diri dari hubungan codependency tingkat Godly. I think, gue bener-bener harus melewati masa idah ini dengan seorang diri.

“ Acha, “ Suara nya riang dari seberang telepon. “ Yuk gue bayarin room, tapi kita ke Beercode Cisangkuy? “

“ Katanya udah berhenti minum? “ Tanya gue bingung. Gue mengangkat tangan kiri gue, Jam vintage Cristophe Arden pemberian birth Daddy dan melihat pukul lima sore. “ Asli, masih terlalu pagi buat jadi alkoholik, Ciplik “.

“ Disitu, nggak Cuma beer ya. “ Bela Galang, sambil tertawa. “ Tanya Mama, gue harus bayar room berapa, gue pengen ngajak lo jalan sebelum gue balik ke Jakarta lagi. Gue bosen ketemu lo lagi di Ciateul mulu. “

“ Oke. “ Gue mengangkat bahu. Gue udah kerja dua tamu, dan mengeruk keuntungan yang lumayan. Ketemu Galang diluar meskipun berarti nggak menggendutkan dompet gue kalau gue memutuskan untuk tinggal disini, couldn’t hurt.

Jujur aja, birokrasi di Prima nggak seribet di tempat massage parlor yang lain dan gue sama sekali tidak pernah berhenti bersyukur karenanya. Sehingga dengan cepat gue ke meja depan, menghadap Mama yang lagi sibuk main Candy Crush di handphonenya. “ Ma, Ada
tamu yang mau ngajak aku jalan. Mau disuruh bayar berapa dia? “

Mama langsung ganti menatap gue dan melirik ke jam dinding yang diatas tembok dan menatapnya lumayan lama. “ Ah anggap aja kayak kerja dua aja. 160. “

“ Siap. “ Lalu gue cepat-cepat menekan tombol icon whatsapp warna hijau dan melapor balik informasi berharga ke Ciplik. “ 160, boss. “

“ Oke, transfer? “ Tanya Galang, singkat.

“ 86. “ Gue menghela napas. “ Terus lo jemput gue apa gimana? Baju gue ketipisan sih untuk Bandung yang lagi winter season begini. “ kata gue sambil merasakan gigi yang ngilu.

“ Lagian lu ngapa pake baju tipis-tipis begitu? “ Tanya Galang heran.

“ Elu kayak nggak tahu iklim Prima sama Iklim Bandung bedanya sedrastis apa? “ Tanya gue balik, heran juga.

“ Oh, oke. Makes senses. “ Jawabnya cepat. “ Yaudah, gue jemput elu abis itu gue temenin lu ke kosan abis itu kita ke Cisangkuy. Santuy nggak ampe malem? “

“ Jangan ampe DUI tapi. “ Kata gue mengingatkan.

“ Nggak akan, " Potongnya cepat. " gue Grab kalau sampe iya. “

“ Asik. “ gue mendengus napas cepat. “ Nggak level selain Blackbird ya, “

“ Tai. “ jawabnya cepat, lalu cepat-cepat mematikan telepon whatsapp gue.

Gue langsung buru-buru mengecek muka gue di kaca dan terkejut ternyata make up gue masih stay, bahkan setelah dua sesi dalam ruangan sauna diy. Galang bakalan lama jemput, suhu Bandung semakin menyusut dingin dan gue langsung mengcover uang 160 ribu dari dompet langsung supaya nggak ribet.

Setiap terapis yang tergeletak tidur diatas tempat tidur, meringkuk kedinginan, satu-persatu nanyain gue mau kemana. “ Ngebir diajak tamu. “

“ Ih enak banget, plastikin bawa pulang. “ Kata salah satu terapis yang bertanggung jawab membuat gue betah di tempat ini, Zendaya.

“ Iya nanti aku bawain pake Koran bekas gorengan, atau bekas kertas UN SD. “ Jawab gue cepat nggak pake mikir. Dasha ‘persona’nya memang mulutnya yang tidak melakukan penyaringan, tidak seperti minyak goreng pada umumnya. I just want to keep it real 100%. Atau lucu, supaya orang suka sama gue sehingga gue bisa memanipulasi mereka menjadi apapun yang gue inginkan. Oke, yang terakhir terlalu mengarang, tapi terkadang gue self-aware enough untuk menangkap diri gue membuat orang 'nurut' sama gue. Meskipun, untuk hal-hal tolol. Seperti mereka dengerin nasihat gue dalam soal Skincare shit.

Saat gue memakai Jaket gue yang tebal, sangat appropiate untuk Kota Bandung dan ganti celana gue yang pendek ke celana panjang. Galang mulai mengklakson pintu gerbang hitam Prima dengan motor Scoopienya, lengkap dengan bawa helm untuk gue.

Gue salimin semua tangan yang melintas didepan gue, terlepas himbauan poster Corona mencegah gue untuk melakukan kegiatan tersebut, dan lalu mengeluarkan hand sanitizer dan mengeluarkan beberapa kali tekanan untuk sanitasi tangan sebelum keluar menghampiri Galang. Mama bilang dengan keras, “ Semoga sukses diluar sana, Dasha! “ disaaat ada dua atau tiga tamu yang menunggu salah satu legenda pabrik cakra naruto disana, Layla.

Ketemu Galang selalu hari menjadikan hari yang biasa aja menjadi ekstra 150% menjadi lebih baik. Tadi gue menangis di room. Nggak masalah, karena sekarang mata gue melihat muka Galang, berarti hari ini menegaskan ke gue bahwa semua akan baik-baik saja.
*


profile-picture
mmuji1575 memberi reputasi
1 0
1
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
27-10-2020 16:22
update pleaseeee
profile-picture
byefelicia memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
28-10-2020 09:00

2.2

Galang menarik tangan kiri gue dan bilang, “ Peluk gue dong, biar kerasa Girlfriend experience-nya, “ lalu dia ngakak sendiri.

“ Lau kapan sih gak dapet experience itu dari gue? “ Balas gue sambil mengalungkan tangan kiri gue di beer gut nya Galang. Gue nggak pernah memperhatikan jalan Bandung tapi yang jelas gue sudah lewat daerah Pungkur aja. Jajahan gue sih, jangan heran gue hapal mati. Gue mendengarkan The Strokes dengan earphone yang sengaja gue pasang di sebelah telinga kanan, just in case Galang mau ngoceh soal apapun itu, dimanapun itu. Karena Galang adalah Galang. Dia punya banyak cerita yang mau dia ceritakan ke gue. Entah kenapa, dia selalu menyimpannya buat gue, dibawanya dalam hati baik-baik dari Jakarta ke Bandung khusus untuk telinga Dasha.

Tapi kali ini bibir cokelat karena kecanduan tembakau, tar, nikotin itu tertutup rapat dan cuman menikmati suasana bawa motor dingin-dingin begini.

Gue memakai kacamata yang sekaligus melindungi dua bulu mata palsu yang gue layer, dari angin kencang dan dingin. Jaket tebal yang
bahkan sudah ada lining wool hangatnya aja masih diterabas udara dingin kota Bandung, gimana kalau gue maksa ngehajar Lembang jam enam sore begini? Jiwa dan raga yang ringkih ini can’t compute.

Gue menggigil dan mengencangkan pelukan gue ke Galang yang kebetulan berbentuk mirip-mirip seperti beruang madu.

Untuk kali ini, gue mensyukuri setiap layer lemak yang ditimbun dari setiap beer yang ditenggaknya.

Sesampainya di Beercode Cisangkuy, gue mual. Banyak banget anak muda seumuran gue, tapi cuman gue doang yang eye candy disitu―HAH, gue mendengus napas kencang sekali. Tapi gue beneran cewek sendirian disitu, dan sela-sela jari tangan gue digenggam tangan Galang yang dingin seperti es dan menguatkan gue yang seasli-aslinya introvert kacrut. “ Dasha, it’s okay. You’re in a good hands. “

And I think so too. Jadi gue nggak terlalu timid. Galang mempelajari menu yang seharusnya, menurut gue, melihat dari perutnya yang lebih maju dari semua-mua atribut badannya, sudah hapal di luar kepala. Langsung ngomong, “ Pitcher Heineken, sama strawberry vodka”. “ aww, sialan. You got me there, right at the ‘strawberry vodka’ ”.

Galang tak pernah melepaskan tangan gue sekalipun. Lalu dia menatap gue dari samping lalu bertanya, “ Gimana? Makin rame di Prima, miss Girlfriend Experience? “

“ Makin rame you say? “ Gue menghela napas. “ Maybe 3 tamu paling banyak, but everyone has been fun. Gue berharap mereka balik lagi ke gue. “

“ Harusnya, “ Jawab Galang menenangkan. “ Gue aja balik lagi. “

“ Elo anomali. “ seru gue memutar kedua bola mata sambil menurunkan masker yang mulai membuat kacamata gue berembun.

Galang tertawa, lalu dia menggeleng-gelengkan kepala. “ Enggak, justru elo terapis yang anomali. How come elo di bandung? “

Ya.

Pikiran gue kembali ke Indomaret yang seharusnya, pada saat itu buka 24 jam pre-Corona worldwide tour. Lo memegang tangan gue dan
merangkul bahu gue, “ Matchie, Turunin cadburrynya, duit kita nggak cukup. “

Now I got the money. I can buy all the cadburry I want. But I got none of you.

Where are you? Why the fuck I am here?

Dan siapa pula tangan yang gue pegang?
profile-picture
mmuji1575 memberi reputasi
1 0
1
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
30-10-2020 10:41

2.5



Strawberry Vodka itu diturunkan dari atas nampan ke atas meja, sementara gue sedang dissociating. Nggak lama sih, sebentar aja. Cuman cukup lama, untuk membuat Galang sampai sadar yang membuat dia merangkul leher gue, mendekatkan badan gue ke badannya sambil mengusap-usap puncak kepala gue. Dia bilang, “ Tarik napas, semua udah kelar. Elo udah disini. “

“ Nggak kok, gue nggak kenapa-napa. “ Gue tersenyum gede, memperlihatkan gusi. Tapi mata gue tidak. “ By the way, siapa yang bayar itu Vodka? “

“ Halah, basa-basi lo emang tegangan tingkat tinggi. “ Galang kini malah mengacak-acak rambut gue, sok akrab sialan.

Gue ketawa, tapi perlahan-lahan mood gue kembali. Gue memperhatikan interior Beercode yang remang-remang itu secara seksama, nggak terlalu detail, tapi yah, gue harus mengakui siapapun yang menaruh playlist lagunya harus dinaikin gajinya. Lagunya yang semi-depressif membuat Dasha menjadi mellowed out.

Galang mulai cerita beberapa bagian dari perkerjaannya, tapi kepala gue cuma mengangguk kayak kepala mascot Hokben. Gue setengah mendengarkan, dan tidak terlalu focus ke arahnya. Perasaan homesick menggeregoti tenggorokan gue, rasanya mual ingin muntah di lantai kayu. Bukan Jakarta yang bikin gue kangen. Bukan Ibukota, yang semakin kesini, semakin harus gue akui memanjakan gue dengan pilihan Supermallnya yang sangat lengkap ketimbang Mall-mall pilihan di Bandung. Seseorang yang gue pikir, masih ada disana, dia mengusik gue. Gue menahan setiap air mata dengan perjuangan ’45. Paling anti menangis didepan tamu, apalagi tamu yang seperti Galang.

Lalu lagu Ivy-‘nya Frank Ocean diputar. Mak, critical damage. I had no chance to prepare, I couldn't see you coming.

Galang kemudian berhenti mencerocos, dan cuman menatap raut muka gue yang pucat. Gue menyadari itu dan balas menatap matanya dan berkata, “ Shit, sorry. Gue nggak dengerin, tadi. Boleh diulang ceritanya?”

“ Matchie. “ Dia memanggil nama asli gue. “ Elo tahu ‘kan, Di sini elo nggak benar-benar sendiri? Sekarang elo udah mulai ngumpulin group support buat elo, yang siap nolongin elo―apapun yang elo minta? “

Sial. Gue langsung menangis di tempat. Sial, sial, sial, sial. Jangan ngomong begitu. Gue beneran sendirian. Nggak ada selain gue yang bisa gue andelin. Semua orang yang menjanjikan apapun ke gue, mengingkarinya di penghujung malam.



*

0 0
0
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
31-10-2020 19:53
menarik juga ceritanya
numpang titip sendal emoticon-Traveller
profile-picture
byefelicia memberi reputasi
1 0
1
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
02-11-2020 17:18
Author's note :

Maaf ya belum di-update, beneran sibuk di real life ea. Akan ku lanjutkan bila menemukan spot enak gengzz
0 0
0
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
04-11-2020 04:01

2.7

Dan ketika Galang mencium tengkuk leher gue sementara napasnya terhembus bau bir hitam. Gue menarik napas dalam. Elo nggak minum alcohol didepan gue. Setidaknya elo berhenti buat gue. Demi gue.

Galang menempelkan bibirnya ke cuping telinga kiri gue dan berkata, “ Seandainya elo bisa gue kantongin ke Jakarta, I would, Dasha. I really would. “

Elo nggak perlu mengantongi gue, gue sudah berada disisi elo, hampir selamanya. Setidaknya ‘kan? Hei, bilang ke gue bahwa gue hampir selamanya pernah disamping elo tanpa elo bersusah payah untuk meminta gue disamping elo. Sekarang juga.


“ Dan nggak akan pernah sekalipun gue berani bikin lo ngerasain apa itu yang namanya susah, kelaparan, kepanasan. “

Elo menaruh gue disituasi itu, dan gue nggak pernah sekalipun melepaskan mata gue dari kepala lo. Tapi apa balasannya buat gue?

“ Elo tahu itu, Elo mau tinggalin semuanya demi gue, Dasha? “ Galang menyembunyikan sejumput rambut hitam gue ke balik telinga dan menatap raut muka gue yang sekarang sudah berlumuran air mata, lalu menarik kepala gue ke pundaknya. “ Matchie, balik lagi ke Jakarta. Balik lagi sama gue. “

Tapi.

Kesepian itu mutlak dan menjalar sampai ke tengkuk leher di belakang kepala. Apa kabar? Kenapa tidak mau angkat telepon? How come? Gue melihat jam vintage dengan setengah tidak sadar. Kata-kata I love you terlalu cepat keluar dari tenggorokan, apakah pernah sedalam artinya yang sebenar-benarnya? Fuck you for telling me that so easily. And fuck me for falling for that.


Hubungan toxic awalnya nggak akan dimulai seperti itu, iya ‘kan? Gue nggak akan jatuh cinta karena elo menatap gue dengan tatapan penuh benci, dan tangan yang berada di udara siap mendarat di kepala ‘kan? Tapi kenapa gue masih mendengar suara nada menunggu. Gue menunggu elo untuk mengangkat telepon. Tapi tentu saja, elo berhenti mengangkat telepon gue.

Ugh. Have some self-respect.

Ah. So many things to tell you though.

Still.

No dice. Lo nggak ngangkat telepon gue.

Haruskah gue ternak simcard just to hear that fucking ‘Hello’?

Can we still be friends?

“ No. “ gue berlumuran air mata. Menjauhkan handphone dari tangan gue supaya berhenti menekan tombol telepon di Whatsapp. Berhenti menatap profile picture whatsapp lo yang gue fotoin, dibawah jembatan penyebrangan pejalan kaki kereta Tanjung barat. Be grateful for that. That’s your one and only good taken picture.

Be grateful for me.

For once.

Remember me.

I remember you. Every second of it. I’ll remember you. Wouldn’t you do the same for me?

We fucked each other for a half decade.

I’ll remember you.

For once. Remember me.

Wouldn’t ya?

Dan tidak, air mata ini tidak disponsori oleh Strawberry vodka buatan pabrik manapun. Air mata ini purely dibuat dari rasa patah hati yang baru muncul belakang, telat, karena yang fase sudah dilewati adalah fase denial tingkat tegangan tinggi. Sehingga fase kedua, fase grieving, baru dijalani lagi hot-hotnya. Gue pikir resentment gue ke arahnya itu kuat. Ternyata tidak juga. Ternyata gue beneran cinta disetiap detik dan menitnya.

I love you.

Dan semuanya nggak ada artinya lagi kalau orang yang gue mau dengar, nggak ada di kota yang sama.


*

Diubah oleh byefelicia
profile-picture
610v4n13 memberi reputasi
1 0
1
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
04-11-2020 08:24
Thank you. I really need this, I'm having a really long hard time understanding someone - now I'm getting a much clearer picture. Thank you.


P.S
Don't mind the 'long hard' part. It really isn't.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
04-11-2020 11:35
Hmm menarik ni ada anak NL nyebrang kesini.. sabi kali gue ikutan baca curhat curhatnya.
0 0
0
Lihat 11 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 11 balasan
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
05-11-2020 22:48
Nyasar kesini gara2 kepo sama profil ts di forum NL...
.
Anjirr2 ga percaya gw, lo terlalu smart buat jd seorang tera sis... Bisa bakat nulis panjang begini, yg mn biasanya (i'm sorry) kebanyakan mereka itu putus sekolah atau malas sekolah.
.
Akan ada sebuah obrolan seru kalo suatu saat gw dipijit sama lu sis haha, soalnya gw suka tera yg pengetahuannya juga luas.
Diubah oleh kangsotoy
0 0
0
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
08-11-2020 21:09
Author's note:

Wait for me. Kehidupan nyata smothering gue. Will update tapi I'll catch one or two a breath.
profile-picture
profile-picture
610v4n13 dan rizkidar memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
09-11-2020 11:33

2.9


Galang pakem untuk tidak meniduri siapapun, apapun, setelah pernah terkena penyakit menular seksual. Sehingga dia Cuma berani menciumi badan gue, tengkuk leher, tulang selangka, puting payudara, dan sesekali menekan tulang panggulnya ke tulang panggul gue―dengan pakaian yang masih dipakai.

Dia pundung ketika gue menolak pulang kampung ke Jakarta bersamanya. Tapi gue mengyakinkan dia, bahwa gue yang akan menunggu dia disini. Di bandung. Gue nggak kemana-mana. “ Elo nggak perlu takut dateng ke Bandung dan nggak ada yang nyambut, Ciplik. Selalu ada gue dan basecamp kita, bakso semar. Sekembalinya elo dari Jakarta dengan gaji UMR elo itu.“

“ Tapi elo sedih banget sendirian disini, “ Balasnya disela-sela ratusan ciuman yang diberikan Galang di kepala gue. “ Kalau elo sama gue, seenggaknya elo nggak bakal sendirian. Gue bakal nemenin elo. Elo nggak bakal kesepian. “

Gue nggak langsung membalas omongannya, dan cuman menekan belakang kepalanya ke sisi leher kiri gue. Menyuruh Galang untuk bersandar disitu sejenak. Shut the fuck up. Biarkan gue menatap plafon gypsum hotel bintang tiga yang entah kenapa terlalu fancy, dibooking untuk semalam bersama mamang pijit premium dari Ciateul Wetan.

Spotify premium gue berkerja keras untuk membuat mood gue semakin mengayun ke arah kesedihan yang semakin dalam. Nggak kok, gue mendenguskan napas dari hidung. Gue nggak lagi-lagi membandingkan Galang dan Elo. Elo jauh―jauh lebih kaya, pernah memberikan setengah bumi ini kepada gue secara Cuma-Cuma hingga akhirnya elo memutuskan untuk tidak lagi. Apakah lantas gue meninggalkan elo disaat elo tidak lagi memiliki segalanya?

Nggak juga.

Tapi disinilah juga gue. Memeluk Galang, membiarkan dia menghirup aroma Coco channel Mademoiselle di tengkuk leher sampai dia mabuk cinta. Oh rasanya ingin gue menggerak-gerakan bahu Galang, untuk menyadarkan dia bahwa jangan pernah jatuh cinta terhadap perempuan yang berkerja untuk membantu laki-laki ejakulasi. Mereka professional, mereka hanya akan melihat lo sebagai pundi uang dengan gaji UMR, mereka tidak melihat elo sebagai manusia, mereka hanya―

“ Dasha, pernah kepikiran nggak kalau gue ternyata nggak bisa langsung nyaman sama orang?” cerocosnya cepat. Menghentikan gue dari lamunan gue.

“ Terus ngapain elo nibanin badan elo diatas gue kayak sekarang? “ Tanya gue, bercanda tapi gue memeluk punggungnya erat.

“ It was you, the one who making me like this. So it’s nice. It feels nice. Udah lama banget nggak vurnerable sama orang sampe kayak begini. “

―mereka hanya akan melihat lo sebagai tamu. Nggak lebih dan nggak kurang. Elo adalah tamu. Bukan Galang. Bukan ciplik. Cuman laki-laki yang datang setelah laki-laki sebelumnya pergi membayar servis mereka di kasir.

“ Ciplik. “ Gue menghela napas. “ Elo tahu kerjaan gue apaan, ‘kan? “

“ Iya. “ jawabnya diselaan napas panjang. “ Gue nggak masalah dengan itu. “

“ Jangan nyaman sama gue. “ Kata gue pelan.

“ Terlambat. “

Dan mata gue kembali terpaku pada plafon gypsum. Memikirkan, terus memikirkan hal yang tidak menginginkan gue. Disaat secara teknisnya, ada laki-laki berusia 28 tahun, tengah menindih gue dengan baju dan ketakutan untuk membuka dirinya, tapi mulai tertidur pulas di sebelah telinga gue sementara mulutnya menguarkan aroma bir yang kuat.

Baru saja melamar untuk menikahi gue tapi gue tolak secara halus. Karena siapa yang sanggup mendengar kata ‘pernikahan’ setelah 5 tahun gue lewati bersama lo? Dan keluar sebagai janda yang tidak diverifikasi disdukcapil di umur 24?
profile-picture
610v4n13 memberi reputasi
1 0
1
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
09-11-2020 12:26
Spesial pake telor. Don't stop when foreplay begins. Rasanya ajim banget dah
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
WHO CARES IF YOU EXISTS [21+]
09-11-2020 12:35

3

3

“ Can I rental you for 24 hours? I need to see my parents and they’re nagging me about girlfriend and stuff. An hour ago. “

Gue masih di Hotel bersama Galang, nyawa bahkan belum terkumpul seratus persen tapi belum apa-apa harus on the job? Lagi? Ini sabtu pagi. Ini harusnya hari day off gue. Fuck that. “ Fuck you, elo tahu ini hari sabtu. “

“ Out with it. “ katanya cepat. “ Kasih tahu harga ‘sabtu’ lo. Semua ada harganya. Elo yang bilang itu ke gue waktu pertama kali ketemu. “

Gue ingat, pertemuan pertama Esa dengan gue. Dia adalah tamu entitledyang bahkan, sampai saat ini masih pemegang rekor tipping paling tertinggi dijajaran list tamu gue. 1.2 juta. Entah apa maksudnya. Dia cuma masuk ke dalam room, pas tahu gue bisa ngomong bahasa inggris dan agak edgy, terus mendengarkan lagu alternative di Spotify premium yang mana dia juga suka. Berikut-berikutnya, dia datang dan datang lagi. Kadang cuma minta dipeluk, sambil ngata-ngatain gue disepanjang sesi lalu terus meninggalkan tip yang lumayan. Dia pernah nanya, berapa harganya untuk melihat gue telanjang di room kecil panas. Gue terdiam sebentar dan membisikan harganya. Lalu dia mengeluarkan dompet dan menyerahkan uang yang gue sebutkan, didepan gue. " and now strip for me ".

Fucker kaya sekali, dan memperlakukan orang seperti sampah. But I need them money. So motherfucker, I'll dance for you. Dan setelah dia melihat gue tanpa sehelai benangpun. Dia mengerenyitkan dahi, menatap gue dengan tatapan detil dan tidak meninggalkan satu inci kulit dan lekukan. dia bahkan menyuruh gue untuk berputar dua sampai tiga kali. Seakan-akan matanya adalah 3D printer. Gue menatap mata Esa dan bertanya, " Why don't you strip for me too? "

Dan ketika kita berdua sama-sama tidak memiliki satu helai benang di atas kulit, stretchmark, bekas jahitan luka, bekas trauma. Apapun itu. Gue melihat Esa seutuh-utuhnya dia, dan begitupula sebaliknya. To be fair, pengalaman itu nice. In fact, memanusiakan gue? Gue nggak akan pernah mengerti Esa, tapi gue nggak akan melupakan momen tolol di kamar itu. disaat kita berdua cuman menatap satu sama lain. Telanjang.

Gue ingin menyumpahi kuburan dia dilemparin kardus kotak bekas Pizza hut, tapi lalu terlintas di otak gue bahwa yang nelpon ini adalah the numero uno of my richest client. Esa. Sebagai perempuan ‘karir’―gue mendenguskan napas dari hidung dan memutar kedua bola mata gue ke belakang―gue tidak boleh menyia-nyiakan golden ticket ini menuju pabrik cokelat Willy Wonka tersebut. Berpikir keras sebagai cewek matre, hal apa yang paling gue inginkan sekarang ini tapi males banget berkerja untuk mewujudkannya? “ Shopping spree di Ace hardware? Buat kost-kostan? “ sebut gue tanpa pikir panjang.

“ Deal. “

Dan begitulah. Hilang sudah dalam sekejap Sabtu tenang tanpa melihat batang lonceng. “ Untuk kapan harinya? “ gue bertanya lebih detail kali ini.

“ Ya sekarang, “ katanya, “ Kapan lagi? Tahun depan? “ dia meledek gue, membuat gue semakin mengutuk bagian diri gue yang menganggap Ace hardware adalah tempat meditasi, tempat menenangkan jiwa yang mati penasaran. “ Tapi sebelumnya elo ada baju dress semi formal tapi semi slutty, tapi still looks good on you? “

“ Akhtually. “
gue memutar kedua bola mata berusaha mengingat-ingat. “ Dress yang elo maksud ada di lemari gue di Jakarta. Gue bawa baju ke bandung sedikit banget, in fact gue Cuma beli baju tipis yang cocok buat kerja jadi mamang pijit.”

“ Ugh, your inside joke. “ Dia merinding dan rasa jijiknya terdengar masuk sampai ke hati gue. “ Stop calling yourself mamang pijit premium dari ciateul! Itu cuman lucu sekali, abis itu udah nggak lagi! “

“ I won’t, gue akan terus mengucapkannya sampai nanti gue berhenti berkerja jadi mamang pijat premium dari Ciateul wetan. “ gue menghela napas ketawa. “ Ketika gue sudah unqualified untuk jadi mamang pijat premium dari Ciateul wetan. “

“ oh for fuck sake. “ lalu Esa menutup telepon. Tapi beberapa menit kemudian dia menelpon lagi.

“ Ada apa? “ Tanya gue polos.

“ Elo dimana? “ kali ini dia menanyakan hal yang tepat.

“ Pertanyaan yang bagus, gue di hotel―” kata gue sambil menjelaskan patokan landmark didepan Hotel tersebut. “ Jemput? “

“ Oke, gue jemput. “ katanya cepat, tanpa basa-basi lalu telepon gue ditutup. Dasar anak sialan. Nggak ada bilang halo, tolong, makasih. Dia tarzan kali yang kebetulan ngegali lubang minyak.

Dan gue nggak ngeh ketika Esa bilang ‘Jemput’, benar-benar lima detik setelah gue sikat gigi dan meludahi sisa pasta gigi ke wastafel lalu gargling pake Listerine kecil yang selalu gue bawa kemanapun gue pergi. Ada suara ketukan pintu kencang di pintu hotel. Gue mengangkat kepala, melihat Galang yang masih ketiduran pulas dan kini meringkuk menarik semua selimut, nggak tersadar sama sekali dengan suara ketukan pintu yang kencang. Di otak gue pada saat ini adalah, mampus, gue diciduk polisi. Gue mengecek pintu dari eye pinhole dengan dada yang berdebar-debar, Arrhythmia tingkat tinggi, dan benar saja, si sialan itu ‘jemput’ gue.

Gue membuka pintu hotel dan langsung ingin memuntahkan ratusan, bahkan mungkin pertanyaan serta makian tanpa batas ke arah Esa detik ini juga. Tapi Esa bilang, “ Cepet packing barang-barang elo, kita nggak boleh ketahuan. “

“ Ketahuan dari siapa? “ Tanya gue bingung.

“ Dari karyawan keluarga gue. “

Dan bahkan Esa tanpa basa-basi, dia ikut masuk ke dalam kamar hotel. Memperhatikan Galang dari belakang dengan detail dan seksama dan lalu dia menatap gue langsung di tatapan mata. “ Kalian nggak ngentot kan? “

“ Nggak, dia cuman cuddling gue. “ Gue terdiam sebentar. “ Dan ngelamar gue. “

“ Elo terima gak lamaran dia? “ Tanya Esa lagi.

“ Nggak. “

“ Wow. “ Esa bertepuk tangan pelan. “ 2 bulan kurang di bandung, dan udah yang mau ngawinin elo? Bravo. Fucking bravo. “

Jika saja Ace hardware Bandung tidak selengkap itu, sekarang juga gue hajar Esa ala-ala sabung ayam di lantai kayu warna honey oak ini tanpa tedeng alih-alih.

*

Diubah oleh byefelicia
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
gara-gara-pap
Stories from the Heart
gadis-kecil
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
Ask da Girls
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia