Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f8c250af4d69545477489e1/on-going-resepsionis-yang-tak-tergantikan
Ini adalah saya, seorang manusia dan juga seorang pria. Yang merasa terkhianati dan dibohongi olehmu. Yang dimana timbul firasat yang datangnya entah darimana dan rasanya sangat kuat hingga membuat saya merasa terbang selama beberapa hari. Firasat yang kau datangkan dengan membuat lamunan indah dan khayalan romantis. Tapi pada akhirnya, semua itu layaknya angin yang tak sengaja lewat tanpa permisi
Lapor Hansip
18-10-2020 18:20

(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan

Past Hot Thread
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan

Mungkin setelah agan/sista baca ini, akan diketahui dimana salah dari cerita ini. Karena ibaratnya, cerita yang mau ane sampein disini adalah cerminan dari persepsi dan karakter ane pribadi. Cerita yang disampaikan pun murni berdasarkan kejadian nyata dan tanpa ingin mendramatisir. Tapi beberapa nama dan tempat disini ane sengaja samarin untuk menjaga nama baik yang bersangkutan. 
Semoga dengan ane bercerita disini, ane mendapat pencerahan sebagai sarana introspeksi buat ane. Dan ane harap, ga ada yang bata atau kasih baso merah ya...

Quote:BAGIAN 1 : SEMESTA, ANDA SANGAT KEJAM
BAGIAN 2 : PERSEPSI AWAL
BAGIAN 3 : LEMBARAN BARU
BAGIAN 4 : FIRASAT
BAGIAN 5 : FOKUS
BAGIAN 6 : SALAH SEDIKIT
(Update) BAGIAN 7 : PERLAHAN JADI HANTU
(Update) BAGIAN 8 : CURIGA

Diubah oleh 007funk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
18-10-2020 18:25
BAGIAN I
SEMESTA, ANDA SANGAT KEJAM


Quote:Dear semesta,

Ini adalah saya, seorang manusia dan juga seorang pria. Yang merasa terkhianati dan dibohongi olehmu. Yang dimana timbul firasat yang datangnya entah darimana dan rasanya sangat kuat hingga membuat saya merasa terbang selama beberapa hari. Firasat yang kau datangkan dengan membuat lamunan indah dan khayalan romantis. Tapi pada akhirnya, semua itu layaknya angin yang tak sengaja lewat tanpa permisi dan pamit. Namun bisa jadi karena gejala nyeri lambung yang timbul perlahan hingga akhirnya membuat saya sempat terkapar tak berdaya dalam suatu hari. Agar asal mula hal ini bisa terjawab jelas, maka timbullah petualangan besar yang sudah saya rencanakan untuk beberapa hari kedepan. Naas, ternyata semua ekspektasi akan rencana yang sudah saya buat, digulingkan begitu saja olehmu.

1 Oktober 2020, akhir dari semua petualangan yang sudah saya jalani selama ini. Dan sejak itu, saya tak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah dan ikhlas dengan apa yang sudah saya jalani. Meskipun memang di dalam hati kecil ini, saya merasa sedih dan kesal akan perlakuanmuterhadap saya. Tapi karena tak sanggup untuk melawan, saya hanya bisa urungkan niat itu layaknya seorang pecundang yang ingin melawan si penjahat tingkat terakhir tapi hanya berani membicarakan kejelekannya di belakangnya.

Saya juga tak tahu apa rencanamu terhadap saya selanjutnya. Apakah akan dipertemukan lagi dengan hal yang sama, atau mungkin akan lebih menarik dan mengesankan buat saya? Harapan dalam hati kecil ini memang masih ada, tapi memang hanya Tuhan dan kau sang semesta nya yang memiliki kekuasaan penuh dalam mengatur jalannya.

Adalah wanita yang menjadi inti permasalahan dari semua konflik ini. Hingga muncul sebuah firasat yang saya pikir itu mengenai wanita itu, yang menjadi dasar petualangan saya saat itu. Dan saya pikir, dialah semua jawaban dari doa saya selama ini. Saya pikir, dialah wanita yang akan jadi pasangan saya yang dapat menemani saya setiap saat, menyayangi, menerima apa adanya, memerhatikan, dan menolong hidup saya. Tapi nyatanya di akhir, wanita itu juga yang menghindari saya, tidak menyayangi saya, tidak memerhatikan saya, tidak menunjukkan apa adanya, berbohong dan menjatuhkan hidup saya begitu saja. Dan semua kenyataan itu muncul dalam jangka waktu beberapa hari saja. Saya bingung mengapa saya diberikan pengalaman seperti ini. Lalu apa maksud dari firasat yang muncul selama beberapa hari sebelum saya mencari tahu semuanya?

Semesta, apakah Anda akan diam saja dan tertawa begitu saja? Apakah ini yang dinamakan semesta adalah yang paling jago berkomedi, seperti yang dikatakan oleh Uus? Semesta, bertanggung jawablah! Tolonglah saya! Saya kini menjadi orang yang paling tak berdaya dan tak ada pegangan hidup karena seperti merasa terkhianati olehmu.

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
18-10-2020 18:29
BAGIAN 2
PERSEPSI AWAL


Quote:18 Agustus 2020, hari Selasa. Saya mendatangi jadwal wawancara perihal pekerjaan yang saya dapat lewat email. Wawancara diadakan di salah satu perusahaan forex ternama di Indonesia. Saya sudah berada disana pada jam 9 pagi. Saat saya memasuki kantor perusahaan, saya disambut oleh salah satu resepsionis cantik yang sedang bersantai di meja resepsionis. Memiliki paras wajah oriental, pipinya yang agak mengembang ke samping, hidungnya yang mancung dan tatap matanya yang sulit untuk ditangkis. Dengan sambutan yang ramah, saya pun jadi berani bertanya.

“Saya dapat wawancara disini jam 9 pagi.”

“Isi dulu aja disini.” kata si resepsionis sambil menunjuk buku kunjungan khusus yang akan wawancara.

Saya mengisi semua yang harus diisi di buku kunjungan, dari nama, alamat, bagian yang dilamar dan tanda tangan. Setelah itu, saya disuruh menunggu di kursi pojokan dekat meja resepsionis. Setengah jam menunggu, sambil membaca artikel-artikel di internet lewat handphone. Sampai dipanggil oleh resepsionis tadi untuk menuju ke ruang HRD. Resepsionis juga mengantar ke ruangan. Saya saat itu tidak sendiri, karena ada 3 orang lainnya yang ikut wawancara juga. Dimana saya dan 2 orang yang lain diberi pekerjaan sebagai business consultant, sedangkan 1 orang lainnya diberi pekerjaan sebagai IT Support.

2 orang yang tadi bersama saya dipanggil oleh salah satu HRD disana. Saya dan salah satu pelamar di bagian IT Support mengobrol, karena saya tidak sengaja memperhatikan pelamar ini membuka handphone sambil mengisi jawaban soal tes seleksi. Pelamar di bagian IT Support yang saya tidak ketahui namanya, mengeluh bahwa dia merasa tidak niat apabila harus menemui permasalahan yang sudah sering ditemuinya saat di kejuruan dulu. Saya sebagai pendengar yang baik, hanya bisa mengiyakan segala ucapannya. Pelamar tadi keluar duluan, sampai akhirnya menyisakan saya sendiri yang hendak diwawancara oleh salah satu HRD disana. Jadi, disana ada 2 pegawai HRD yang semuanya wanita berjilbab. HRD disana menjelaskan akan pekerjaan yang akan saya emban di perusahaan, perihal gaji dan semacamnya. Saya masih mengiyakan saja tanpa sepatah katapun menolak. Setelah itu, saya keluar meninggalkan ruangan, lalu tersenyum pada resepsionis yang sudah mengantarkan saya tadi.

Saat saya sudah berada di rumah, saya diberi pemberitahuan lewat email bahwa saya yang tadinya hendak dimasukkan ke bagian business consultant, dipindahkan ke bagian IT Support. Mungkin HRD melihat curriculum vitae yang saya gunakan untuk lamaran, dengan latar belakang saat saya berkuliah dan magang di bidang IT. Baiklah, saya merasa saya tidak boleh menolak lagi pekerjaan yang ditawarkan oleh orang lain pada saya. Karena saat itu, saya sudah merasa hilang harapan dan harus pasrah akan hal yang diberikan oleh semesta. Meskipun rasanya setengah hati.

Besok harinya, saya datang di waktu pagi yang sama seperti kemarin. Saya mengisi daftar kunjungan seperti kemarin. Saya juga disambut oleh wanita resepsionis yang sama seperti kemarin. Tapi saat saya hendak menuju ruangan HRD, saya diantar oleh rekan resepsionisnya yang juga saya belum ketahui namanya. Resepsionis di kantor ini hanya ada 2 wanita saja, yang tentu saja berpenampilan agak seksi. Dari segi aura atau karisma, rekan resepsionis yang saya maksud tadi terasa ada yang kurang, dan saat saya perhatikan, dia terlihat seperti masih anak-anak dibawah umur.

Di ruang HRD, saya diberi soal tes yang sama seperti pelamar IT Support di hari kemarin. Karena saat itu pelamar yang datang hanya saya sendiri dan saat saya tes pun tidak diawasi, saya leluasa membuka handphone untuk mencari jawaban atau referensi untuk tes, seperti yang dilakukan pelamar IT Support di hari kemarin. Di menit sekitar 30-an, saya sempat dihampiri oleh HRD. Untungnya, saat itu handphone saya disimpan di sekitar selangkangan.

“Udah selesai?” tanya HRD.

“Satu soal lagi.” jawab saya.

HRD pun pergi. Singkat cerita, saya menyelesaikan semua soal tadi selama 45 menit lamanya. Saya disuruh menunggu di kursi tunggu dekat meja resepsionis seperti kemarin, dengan kurun waktu selama sekitar 15 menit. Semua persyaratan lamaran milik saya dititipkan ke resepsionis. Jawaban saya diperiksa oleh bagian IT. Tak disangka, saya dipanggil oleh HRD untuk kembali ke ruang HRD. Resepsionis cantik yang saya maksud sebelumnya, mengantarkan saya ke ruang HRD sambil tersenyum. Saya disuruh menunggu oleh HRD di ruang meeting, hingga akhirnya saya dipertemukan dengan salah satu pekerja hukum di kantor. Namanya Dani. Saya diwawancara mengenai curriculum vitae, gaji, dan pekerjaan yang akan saya emban nanti. Yang diberitahukan oleh HRD kemarin, berbeda dengan apa yang dikatakan pak Dani. Mungkin karena bidang pekerjaan nya berbeda. Selama setengah jam lamanya, saya wawancara dengan pak Dani yang saya rasa seperti sedang mengobrol dengan salah satu kakak sepupu saya dari keluarga ibu saya. Setelah wawancara, saya hanya bisa tersenyum sambil kaget bahwa ternyata semua jawaban yang isi dari soal tes yang diberikan ternyata tepat semua. Saat saya melewati meja resepsionis, resepsionis cantik tadi tersenyum pada saya dengan tatapan yang sulit saya tangkis.

Setelah mengikuti tes, saya tidak langsung pulang ke rumah. Jam 12 siang, saya menemui teman dekat saya yang sebut saja namanya Indra, yang sedang bekerja di suatu toko handphone. Saya mengobrol panjang dengan Indra mengenai resepsionis cantik yang saya temui di kantor. Saya bercerita bahwa resepsionis cantik tadi mengingatkan saya akan wanita yang direkomendasikan oleh Indra yang saat itu bekerja sebagai sales promotor salah satu brand handphone yang juga Indra kenali.

Jadi, empat tahun yang lalu saat saya masih berkuliah, saya diberi kontak Whatsapp seorang wanita yang juga satu mal dengan Indra. Karena saya saat itu merasa jenuh untuk memulai percakapan perkenalan lewat sosial media, saya berniat untuk menemuinya secara gentle. Saya diberitahukan oleh Indra kalau wanita yang dipanggil Aghnia ini bekerja di hari Minggu pagi. Masih di mal yang sama, namun tokonya saja yang berbeda. Saat Minggu pagi, saya sudah berada di mal yang dimaksud. Saya dan Indra membicarakan rencana yang akan dilakukan nanti tanpa sepengetahuan Aghnia dan semuanya ternyata berjalan lancar. Saya menghampiri Aghnia yang saat itu sedang jaga toko. Saya berpura-pura bertanya-tanya soal handphone, bertanya nama sampai akhirnya meminta kontak Whatsapp nya secara langsung. Saat sedang asik mengobrol dengan Aghnia, muncullah Indra dari belakang menepuk bahu saya. Saya dan Indra berakting seperti baru bertemu teman yang sudah lama berpisah bertahun-tahun. Aghnia yang melihatnya pun merasa terkejut. Akhirnya, saya, Indra dan Aghnia jadi mengobrol bersama. Setelah itu, saya dan Indra sama-sama merasa senang karena semuanya berjalan sesuai rencana yang telah disusun. Setelah itu, saya sempat berkomunikasi di Whatsapp dengan Aghnia selama beberapa hari. Namun entah mengapa, saat itu saya merasa malas untuk berbicara dengannya baik lewat telepon ataupun sekedar chat. Sampai ujungnya, saya dan Aghnia sudah tidak pernah berinteraksi lagi.

Beberapa minggu kemudian setelah pertemuan saya dengan Indra dan Aghnia, saya kembali menemui Indra. Indra bercerita bahwa beruntungnya saya tidak meneruskan pendekatan dengan Aghnia, karena diketahui Aghnia paling tidak mau mencukur bulu ketiaknya yang lebat dan sering berkeringat hingga menodai ketiak bajunya. Saat itu, Indra sempat melihat Aghnia yang sedang dipanggil oleh temannya saat sedang pameran di acara Car Free Day, lalu Aghnia meresponnya dengan lambaian tangannya dan bulu ketiaknya yang muncul dari ketiak bajunya yang saat itu berkeringat banyak. Indra yang saat itu melihat dengan temannya yang lain, seketika ilfil. Saya yang mendengar cerita Indra saat itupun seketika ikut-ikutan ilfil juga. Saya jadi membayangkan saat kepala saya dipeluk dekat ketiaknya, lalu tetesan keringat dari ketiaknya mengenai dahi saya sampai mengalir ke dalam mulut saya. Secara realistis dan normal, tidak mungkin kan rasanya menjadi manis?

Tapi untuk saat ini, Aghnia sudah hijrah dan hendak menikah dengan cara taaruf. Begitulah rumor yang diberitahu oleh Indra pada saya. Memang pada awalnya, saya mengira bahwa resepsionis cantik di kantor tadi ialah Aghnia. Tapi seingat saya, tingginya Aghnia itu sepantaran saya, tidak seperti resepsionis cantik tadi yang tingginya dibawah saya sedikit. Aghnia juga lebih hiperaktif dan cekatan dibanding resepsionis cantik tadi. Lalu, kalau bukan Aghnia, siapakah resepsionis cantik yang saya temui tadi pagi?

Maghrib nya saat saya sudah di rumah, saya membuka Instagram dan mencari tahu siapa resepsionis cantik yang saya temui tadi lewat following akun Instagram kantor perusahaan yang saya datangi tadi. Saya cari tahu satu persatu, tapi hasilnya nihil. Mungkin memang jawabannya saat saya sudah mulai bekerja di kantor nanti.

Diubah oleh 007funk
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
18-10-2020 18:36
BAGIAN 3
LEMBARAN BARU


Quote:Hari Senin, 24 Agustus 2020. Hari pertama saya ngantor. Saya juga mulai berpindah tempat tinggal sementara di rumah nenek, agar tak terlalu jauh dalam perjalanan menuju kantor. Jam 8 pagi, saya sudah wajib sampai di kantor. Masuk kantor, saya mengobrol dengan komisaris disana dan rekan resepsionis cantik yang sedang berjaga disana. Mengenal pekerjaan di kantor, tempat tinggal dan masih banyak lagi. Saya memang disuruh duduk dahulu di kursi pojokan seperti beberapa hari yang lalu, sampai nanti disuruh menemui pak Dani. Selama saya menunggu, saya mencari kemana perginya resepsionis cantik. Baiklah, mungkin belum waktunya. Saya harus bersabar. Saya belum boleh ada perasaan dan penasaran padanya.

Setengah jam menunggu, saya diajak dahulu ke ruang IT dan menemui rekan kerja saya. Saya diajak berkeliling kantor oleh rekan kerja saya, dan dari sinilah saya akhirnya bisa berkenalan sambil berjabat tangan dengan resepsionis cantik tadi.

“Udah kenalan belum sama resepsionis disini?” ujar rekan kerja saya.

“Sama yang ini belum.” jawab saya sambil menunjuk resepsionis cantik.

“Saya Doni.” ucap saya sambil menjabat tangan resepsionis cantik.

“Tyara.” jawabnya.

Saat saya hendak pergi dengan rekan kerja saya, ada seorang pria yang akhirnya saya ketahui sebagai driver di kantor berbicara dengan Tyara. Sebelumnya, saya sempat ditanya oleh driver yang diketahui bernama Sendi.

“Pak Doni, sudah berkeluarga belum?” tanya Sendi.

“Belum, pak.”

“Tuh Tyara, udah aja sama dia. Kan kamu juga belum berkeluarga.” ujar Sendi pada Tyara.

Tyara hanya tersenyum malu saja.

Akhirnya saya tahu namanya. Misteri awal pun terpecahkan. Saat saya berjabat tangan dengan karyawan yang lain, rasanya biasa saja. Tapi saat saya berjabat tangan dengannya, aura atau karisma nya kenapa terasa kuat? Saya bersikukuh dari sejak awal, saya tidak boleh cinta lokasi dengan orang-orang di kantor karena itu dapat menganggu kinerja saya saat nanti bekerja. Saya bekerja disini supaya saya dapat teman yang banyak dari suku, ras, agama atau jenis kelamin apapun. Supaya saya dapat bekerjasama dengan mereka sewaktu-waktu saya ingin berbisnis.

Di hari yang sama pada jam istirahat, saya hendak keluar kantor mencari makan. Saat melewati meja resepsionis, hanya Tyara yang sedang berada disana. Saya pun memberanikan diri untuk mengajaknya makan.

“Mau makan gak?”

“Makan dimana?”

“Gatau, nyari aja.”

Bodohnya, belum juga dia berkata lagi, saya langsung pamit keluar sendirian. Dasar pecundang.

“Yaudah saya mau keluar ya.”

“Yaudah kalo gitu.”

Setelah makan, saya kembali melewati meja resepsionis menuju ruangan saya.

“Udah makan nya?” ujarnya dengan masih sendirian di meja resepsionis.

“Udah.”

“Oh yaudah syukur deh.”

Di hari-hari awal saya bekerja, saya belum berpikiran jauh mengenai Tyara. Yang saya pikirkan saat itu ialah mengapa beban pekerjaan saya ini terasa berat. Saya merasa bingung apakah saya harus bertahan menanggung dan menyelesaikan secara cepat pekerjaan yang saya dapatkan ini, atau lebih baik keluar lebih cepat.

Di hari ketiga saya bekerja, saya ditanya oleh rekan kerjanya Tyara dari kejauhan, dimana saat itu saya hendak menuju ke ruangan legal.

“Don, gimana betah ga kerjanya?”

Tyara membisikkan sesuatu pada rekan kerjanya.

“Heh, baru juga tiga hari. Ya belum kerasa dong.”

“Kali aja udah betah gitu.” ujar rekan kerjanya Tyara.

Saya cuma nyengir aja, terus tak merespon ucapan rekan kerjanya Tyara.

Beberapa hari kemudiannya, saya pun memberanikan diri untuk meminta kontak teleponnya Tyara. Saat itu di jam istirahat, Tyara sedang berkaca di dekat tangga menuju ruangan saya. Dia tersenyum pada saya lewat cermin. Saya yang melewatinya menuju ruangan saya terhenti, lalu menghampirinya terlebih dulu.

“Tyara, minta kontak Whatsapp dong. Takut ada kenapa-napa.”

“085*********”

“Aku save ya.”

“Coba miskol sekarang.”

“Nanti deh, biar surprise.”

“Eh sebel banget.”

“Aku ke atas dulu ya.”

“Iya sok aja.”

Di hari yang sama pada saat jam pulang kantor, saya duduk dulu di tempat tunggu pelamar kerja dekat meja resepsionis. Saya ditanya oleh Tyara yang masih harus berjaga sendirian.

“Mau pulang?”

“Iya nih, tapi bentar lah. Pusing nih.”

“Pusing kenapa?”

“Pusing aja gatau kenapa.”

“Emang rumah kamu dimana sih?”

“Di Ciledug. Cuman sekarang pulang pergi ke Ciputat, ada nenek juga disana. Biar ga jauh amat gitu.”

“Jauh dong ya.”

“Engga juga sih. Saya kalau macet atau gimana juga ga kerasa. Kan sambil dengerin lagu aja. Jadi yang kebayang enaknya aja.”

“Oh gitu ya...”

“Yaudah saya pulang sekarang aja ya. Dah...”

“Hati-hati ya...”

Saya pergi meninggalkan Tyara yang masih berjaga disana.

Sejak awal bulan September, saya tiba-tiba lebih dekat dengan dua resepsionis di kantor dibanding rekan kerja saya sendiri. Rekan kerja saya menyebalkan, jarang memberikan contoh penyelesaian akan permasalahan yang saya dapat di kantor dan seringkali menyuruh saya untuk berpikir sendiri akan apa yang harus saya lakukan, dan sulit terbuka pada saya sampai sering diem-dieman di ruangan. Saya pun selalu curiga karena rekan kerjanya Tyara yang diketahui bernama Nadir selalu menanyakan keberadaan rekan kerja saya lewat telepon, dan jarang sekali menyuruh saya untuk melakukan sesuatu untuknya. Hingga akhirnya mengakui bahwa Nadir sering melakukan blokir kontak sampai musuh-musuhan hanya karena hal sepele dengan rekan kerja saya (yang tidak perlu diketahui namanya). Mereka memang statusnya berteman karena katanya rekan kerja saya sudah memiliki kekasih, tapi mereka kenapa melakukan hal aneh yang rasanya hanya sepasang kekasih yang sedang bertengkar saja yang dapat mengalaminya. Dengan tingkah mereka yang seperti itu membuat Tyara bingung sendiri. Saya yang baru tahu permasalahan mereka pun jadi ikut bingung. Saya juga jadi bingung, kenapa harus bercerita tentang permasalahan Nadir.

“Lieur ah.” ujar Tyara dengan raut bete nya.

Tapi dibanding dengan Nadir, saya lebih sering mengobrol dengan Tyara. Tyara itu orangnya saat awal saya mengenal dia, dia orangnya dewasa, cuek, berani blak-blakan, supel, dan tidak neko-neko. Hampir setiap saya bertemu atau cuma papasan di kantor dengannya, dia selalu tersenyum pada saya atau paling tidak, berbasa-basi soal pribadi. Berbeda dengan pada Nadir, saya lebih cuek dan terkesan tidak peduli. Nadir juga orangnya kekanak-kanakan, labil, moody, agak bermuka dua, membosankan dan sering telat respon dengan ucapan saya. Apalagi di kantor, orang yang sebaik Tyara itu jarang sekali dan saat itu saya belum bisa mempercayai orang di kantor selain dia.

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
18-10-2020 18:40
BAB 4
FIRASAT


Quote:Minggu kedua September 2020. Saat itu di hari Kamis, saya merasakan firasat yang kurang nyaman. Jantung terasa hendak dicabut, pikiran saya kalang kabut. Memang saat itu, saya sempat tertekan dan stres dengan pekerjaan di kantor. Tapi, terkadang saya bisa menenangkan rasa itu sendirian. Tetapi kenapa firasat yang ini sulit rasanya untuk ditenangkan. Di kantor, saya mulai menunjukkan rasa malas-malasan. Di rumah nenek pun, saya mulai sering menunda jam tidur dan sengaja telat untuk berangkat ke kantor. Pola makan pun menjadi tidak teratur. Saya mulai sering mengalami keringat dingin. Saya mendadak menjadi ingin segera cabut mengundurkan diri dari kantor. Dan, rencana itu diketahui Tyara dan dialah orang pertama yang mengetahuinya. Lalu, saya menjadi bertanya-tanya apa asal mula firasat ini. Apakah karena pola hidup yang tidak teratur atau karena kedekatan saya dengan si resepsionis cantik?

Beberapa hari sebelum hari Kamis itu, saya sempat mengobrol dengan Tyara di meja resepsionis selama satu jam. Saat itu, Tyara masih harus berjaga sendirian. Biar dia tidak bosan, saya temani dia dengan duduk di bangku resepsionis yang kosong di sebelahnya. Lalu, saya bercerita mengenai apa yang saya rasakan selama bekerja di kantor.

“Tyara, saya harap kamu tidak menjadi seorang cepu di kantor ini. Saya mau cerita banyak soalnya.”

“Cerita apa? Lagian aku mau cerita ke siapa juga. Palingan ke si Nadir.”

“Saya kayanya bentar lagi mau resign dari kantor ini.”

“Hah? Kenapa?”

“Gatau. Saya ngerasa ga nyaman sama suasana kantor disini.”

“Wajar, mungkin masih adaptasi aja.”

“Kalau soal adaptasi sih, kalau dari awalnya udah ngerasa enak udah nyaman gitu, pasti kesananya bakal ada keinginan buat mau coba lanjut. Tapi ini dari awal kerja aja, saya udah males aja bawaannya. Satu, mungkin karena beban kerja yang menurut saya kurang saya nikmati dan saya sering keteteran menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat. Lalu yang kedua, saya tidak merasa nyaman dengan lingkungan disini. Saya merasa orang-orang elit di kantor ini bukanlah orang yang benar-benar riil diri mereka. Maksudnya, yang saya kira mereka tuh orangnya asik, tapi saat saya melihat dengan mata kepala saya sendiri dari cara mereka bersosial, mereka tuh ga kaya gitu. Mereka tuh seakan-akan ingin terlihat keren tapi nyatanya tidak. Dari cara mereka bercanda pun, cara mereka berpendapat pun, mereka ga akan bisa nyambung sama saya. Saya bukanlah mereka. Saya juga mungkin pada awalnya bisa aja menyesuaikan diri saya dengan mereka, tapi pada akhirnya kalau udah cape, pasti saya akan perlahan jauh dari mereka. Mereka juga toh belum tentu mau menyesuaikan dengan saya, jadi ya mungkin kesannya egois. Saya pun berkata seperti ini terasa seperti orang yang egois dan merasa sok, tapi ya saya setidaknya jujur dan inilah diri saya yang sebenarnya.”

“Aku juga sebenernya ga nyaman sama suasana kantor disini. Bener sih apa yang dibilang sama kamu tadi. Disini tuh orang-orangnya pada munafik. Depan gimana, belakang beda lagi. Apalagi aku sebel tuh sama Direktur Utama dan HRD disini. Si Direktur Utama tuh orangnya ribet banget banyak maunya. Terus kalau kemauannya ga buru-buru diturutin, pasti ngambek apa nanya-nanyain. Si HRD disini juga baru percobaan 2 bulan, tapi lagaknya udah kaya atasan. Suka nyuruh-nyuruh ke OB, terus kalau ngomong ke resepsionis tuh kaya males banget. Nadanya ga ada ramah-ramahnya. Bete aku tuh.”

“Masih mau bertahan lama disini?”

“Aku sebenernya ada keinginan buat fokus di usaha aku. Kamu tau kan aku buka online shop butik kecil-kecilan gitu. Aku kerja gini sebenernya buat ngisi waktu luang aja, daripada aku diem di rumah kan. Aku sih sebelumnya sempet bisnis keripik kan. Cuman karena aku orangnya bosenan, yaudah aku anggurin aja. Pemasukkan nya juga kurang memuaskan sih. Ya... semoga sama usaha aku yang sekarang bisa besar sih. Biar aku ga usah kerja disini lah males.”

“Yaudah sekarang jalanin dulu aja ya. Aku doain semoga usaha kamu bisa maju dan berkembang. Semangat ya...”

“Iya makasih ya. Amin... amin...”

“Eh kamu tau ga... kamu sebenarnya orang pertama yang tau keluh kesah aku disini. Cerita-cerita aku barusan.”

“Masa sih?”

“Serius.”

Dan dari obrolan-obrolan tadi itulah, saya merasa ada yang berbeda dari Tyara. Setiap saya melihat dia, wajah dia selalu terlihat bahagia lebih dari sebelumnya. Setiap dia melihat saya, dia selalu memanggil saya. Saya yang biasanya pura-pura cuek dan terkesan tidak peduli, menjadi selalu meresponnya dengan ramah. Dari perbedaan kebiasaannya itulah, semua beban saya di kantor teralihkan begitu saja karenanya. Saya tidak pernah merasa beban saya di kantor berat sekali, karena merasa ringan dengan semangat darinya. Saya tidak pernah merasa kesepian lagi di kantor, karena merasa hidup saya sudah banyak dipenuhi oleh kehadirannya.

Hari Jumat dimana hari kedua saya merasakan firasat yang sulit saya tenangkan. Tidak ada yang berkesan di kantor, selain teriakan Tyara yang memanggil nama saya setiap saya lewat.

“Doni!!!”

“Iya kenapa?”

“Engga papa, manggil aja. Mau ke ruangan ya?”

Selalu saja ada basa-basi seperti itu.

Dan di hari yang sama, lambung saya sempat kesakitan. Karena kalau mau izin pulang duluan dari kantor harus lewat izin resepsionis, saya Whatsapp Tyara. Tyara bilang kalau mau izin pulang, langsung aja izin ke Direktur Utama. Malas, akhirnya saya urungkan niat izin pulang tadi.

Malam hari saya pulang dari kantor setelah acara live trading, saya pulang ke rumah orang tua saya. Besoknya, saya ceritakan kedekatan saya di kantor dengan Tyara. Ibu saya merasa bangga dan bahagia karena keberanian saya yang menceritakan padanya setelah sebelumnya saya selalu menutup diri untuk berbicara soal percintaan. Tidak hanya ibu saya, saudara saya yang berada di rumah nenek juga mengetahui keluhan apapun yang saya rasakan di kantor. Meskipun terkadang saya tidak menemukan solusi, tapi setidaknya saya bisa meringankan apa yang ada di benak saya dan setidaknya kehadiran mereka bisa menjadi berarti karena mengetahui apa yang saya rasakan.

Sayangnya di hari Senin depannya, saya tidak masuk kerja. Lambung saya terasa hebat sakitnya, disertai keringat dingin dan kepala pening. Saya diberikan obat dari apotik dan air kunyit oleh nenek saya dan bantuan dari pembantunya. Tidak ada kabar dari Tyara saat itu dan saya juga tidak mengabarinya. Saat itu, saya hanya izin pada rekan kerja saya. Lalu, saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah rasa sakit ini dipicu oleh firasat yang terus bergentayangan di pikiran dan perasaan saya saat ini?

Hari Selasa, keadaan saya sudah agak mendingan. Saya bekal kue marie dan obat pereda rasa sakit ke kantor. Saya juga menjaga kondisi fisik dan stamina saya saat di kantor, agar pekerjaan tetap dapat dieksekusi sampai selesai. Tyara tidak bertanya apapun soal kondisi saya saat itu, dan lebih memilih untuk membicarakan hal lain. Saat saya hendak pulang dari kantor, saya dicegat oleh Tyara.

“Don, kamu jadi kan resign bulan ini?”

“Emang kenapa?”

“Aku juga mau resign.”

Suatu hal yang sangat ganjil.

“Loh kenapa?”

“Ah... aku juga bete. Jadi gini ya, aku tuh kan deket sama anak kantor sini.”

“Siapa?”

“Ah kamu ga perlu tau. Pokonya aku tuh... sebel sama si komisaris disini. Kan cowo yang deket sama aku ini jadi jauh sama aku. Dia sama temen satu band nya yang ikut manajemen disini tuh keluar gegara aku katanya. Pas aku nanya ke si komisaris, bilangnya malah karena abis kontrak. Padahal kan di manajemen sini tuh ga ada sistem kontrak. Ga masuk akal banget kan? Udah gitu, ada isu kalau aku tuh ga akan diperpanjang kontraknya dan bakal didepak sama HRD disini. Dasar goblok HRD teh! Udah gitu, mau ngeluarin aku tuh ga bilang-bilang. Tau-tau bilang ke aku, kontrak kerja aku abis dan ga akan diperpanjang. Padahal aku masih butuh kerjaan disini sebenernya. Ah saking keselnya, aku tutup aja keras si pintu ruangan HRD nya. Bodo amat mau rusak juga.”

“Udah ya... sabar ya... “

“Awas ya kalau kamu cepu. Aku sih bodo amat lah ini perusahaan mau jadi ancur juga.”

“Cepu ke siapa lagian juga. Kan aku disini cuma percaya sama kamu. Yaudah aku mau pulang sekarang ya.”

“Barengan dong perginya.”

“Kamu dijemput kan?”

“Iya aku dijemput orang tua aku.”

“Pake mobil?”

“Iya.”

“Pantes tiap pulang, tau-tau ilang aja.”

“Yaudah kamu hati-hati ya.”

“Iya kamu juga ya Tyara.”

Ujung-ujungnya, saya pulang duluan ninggalin dia yang masih nunggu dijemput.

Sampai di rumah nenek, perasaan makin tidak karuan, dan pikiran pun semakin fokus padanya. Yang biasanya saya selalu menonton video podcast Uus atau Gofar Hilman di Youtube atau sekedar menonton aksi Chase Owens di event New Japan langsung setelah pulang ngantor, malah jadi senang menunda-nunda dan lebih memilih untuk mendengarkan lagu galau terus menerus. Apalagi lagu-lagunya The Marias atau U2, udah paling nyambung soal firasat saya saat itu. Semoga firasat yang saya rasakan berhari-hari ini membuahkan hasil yang baik di akhirnya. Semesta mungkin tidak akan mengkhianati saya. Lihat saja nanti...

profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan gyouko memberi reputasi
1 1
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
18-10-2020 18:45
Nanti ane lanjutin lagi, ane tinggal dulu mau cabut. Tengah maleman ane terusin lagi post nya.
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
18-10-2020 20:26
Gelar tiker di mari lah. Lanjut baca dulu
emoticon-Nyepi

Wahh, masih on going. Lama tamatnya nih keknya.
emoticon-Hammer2
Diubah oleh g.gowang
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
20-10-2020 04:30
BAGIAN 5
FOKUS


Quote:Pagi. Siang. Sore. Malam. Tengah malam. Dini hari. Subuh. Maghrib. Tiap hari. Tiap jam. Tiap menit. Tiap detik. Semua yang ada di pikiran dan perasaan saya cuma Tyara seorang. Terlebih, ketika dia banyak menjanjikan sesuatu pada saya mengenai waktu yang akan datang. Dari sini saya yakin bahwa semesta tidak akan mengecewakan saya dan pada akhirnya, saya akan menemukan sesuatu yang spesial yang dapat melengkapi seluruh hidup saya. Meskipun saya sulit rasanya untuk yakin dan percaya sepenuhnya.

Mulai minggu kedua September 2020, tepat setelah hari Selasa kemarin. Setiap saya baru sampai di kantor, saya berpapasan dan berjabat tangan dengan komisaris yang menunggu di depan kantor sambil merokok, saya berjalan ke ruangan, saya numpang buang air besar di toilet kantor, saya balik lagi ke ruangan, saya melakukan pekerjaan saya sesuai rutinitas, saya menyelesaikan semuanya dengan bahagia. Tak hentinya saya tersenyum, meskipun menahannya sangat sulit. Jantung saya berdenyut kencang. Pikiran saya yang tadinya selalu memikirkan beratnya beban kerja, tiba-tiba menjadi terasa ringan. Yang awalnya saya selalu merasa kesal karena saya hampir tidak pernah berbicara dengan rekan kerja saya karena sifat dan karakternya, tiba-tiba menjadi tidak terlalu memusingkan rekan kerja saya. Semua energi yang saya miliki rasanya hanya bersumber pada satu pusat. Tyara.

Saya selalu merasa senang ketika disuruh memasangkan proyektor di suatu ruangan untuk training karyawan baru karena untuk menuju ke ruangan tersebut, saya mau tidak mau harus melewati meja resepsionis. Biasanya, saya disuruh menyelesaikan pekerjaan itu oleh atasan saya di waktu pagi, beberapa jam setelah saya baru sampai di kantor. Ketika melewati meja resepsionis, saya selalu disambut oleh ramahnya si resepsionis cantik. Bukan dari Nadir, tapi dari Tyara. Hanya Tyara.

“Doni!!!!!”

Saya yang saat itu merasa harus fokus menyelesaikan pekerjaan saya, menjadi teralihkan dalam sekejap oleh panggilan darinya. Mau tidak mau, saya harus menjawabnya.

“Halo...”

“Nyampe jam berapa tadi?”

“Jam setengah 8”

“Ih pagi banget.”

“Emang kamu tadi nyampe jam berapa?”

“Jam 9. Kan aku kebagian jaganya mulai dari jam 9. Jadi disini tuh ada 2 shift. Nah, si Nadir minggu ini kebetulan jaganya mulai dari jam 8.”

“Oh gitu.”

Saat Tyara bicara, Nadir malah asik sendiri ngoprek-ngoprek komputer. Saya saat itu pun tidak mempedulikan Nadir karena sebetulnya memang saya tidak peduli.

“Kamu itu disuruh pak Syamsudin masangin proyektor tuh disana.”

“Yaudah saya kesana dulu ya...”

“Iya gih kerjain dulu. Semangat ya!”

“Iya, kamu juga.”

Ada mungkin selama satu minggu itu, percakapan seperti ini terjadi sebanyak 3 hari lamanya.

Pada saat jam istirahat, saya jarang keluar ruangan. Makan hanya di ruangan saja. Saya tahu kalau Tyara mulai jam istirahatnya satu jam sesudah jam istirahat saya. Kalau saya mulai istirahat dari jam 12 sampai jam 1, Tyara mulainya dari jam 1 sampai jam 2. Jadi, tidak ada interaksi apapun.

Setiap jam pulang kantor, saya selalu ingin pulang lebih cepat. Saya ingin memanfaatkan waktu banyak bersama Tyara di kantor. Setiap saya hendak pulang, saya selalu terhenti di meja resepsionis. Selalu terhenti tepat saya hendak absen fingerprint di dekat meja tersebut.

“Doni!!!!”

“Iya apa Tyara?”

“Kamu mau pulang?”

Bentar. Kenapa ya tiap saya menuliskan ucapan Tyara di setiap percakapan, saya selalu teringat akan suara khasnya. Ah...

“Iya. Kamu kebagian pulangnya jam 6 kan?”

“Iya nih...”

“Yaudah aku temenin ya biar kamu ga bosen.”

“Boleh deh.”

Setelah itu, barulah saya dan Tyara mulai mengobrol. Apapun dibicarakan. Misalnya...

“Kamu waktu itu ke Janji Jiwa sendirian ya?”

“Engga ih. Aku mau nemuin Kakang sama Dede disana, tapi ga ada. Jadi... sendirian deh disana.”

“Kamu harusnya ngajakin aku kalau mau nongkrong. Kapanpun kamu ajak, aku selalu open kok.”

“Iya ah...”

Atau mungkin seperti ini...

“Heh Doni! Kamu tuh ngapain dateng pagi-pagi banget? Bodo amat sama loyalitas naon lah eta. Udah kamu telat-telatin aja. Ga perlu lah loyal sama perusahaan.”

“Ya kan baru masa percobaan, masa udah macem-macem. Gimana sih kamu...”

“Kamu emang ngapain sih pengen dateng pagi-pagi gitu? Emang kamu berangkat dari jam berapa?”

“Saya berangkat tuh dari jam setengah 7 pagi, tapi sampai disininya jam setengah 8 pagi.”

“Nanti-nanti berangkatnya dari jam 7 aja atau jam berapa kek. Pokoknya ga usah lah kepagian disini. Mau ngapain juga coba.”

“Saya disuruh ama neneknya juga harusnya pagi banget kurang dari jam setengah 7. Tapi ya daripada jadi dianggap telat terus potong gaji.”

“Euh... protes dong ke nenek kamu. Ga bisa ya?”

“Engga.”

“Terus kamu nyampe pagi banget disini, mau ngapain coba?”

“Diem.”

“Engga mungkin.”

“Donlot.”

“Donlot apa?”

“Donlot apa aja yang saya butuh.”

“Donlot yang kamu butuh tuh yang kaya gimana?” ujarnya dengan nada memaksa.

“Apa aja.” jawab gua yang gua pikir belum saatnya dia tahu mendalam soal apa yang gua minati.

“Donlot film ya?”

“Iya itu juga termasuk. Tapi ga cuma itu doang sih.”

“Terus apalagi?”

“Ya banyak lah pokonya.”

“Pasti buat simpenan di rumah ya?”

“Iya. Biar di rumah nenek ga harus donlot lagi.”

“Euh dasar...”

Oh iya, kadang percakapan seperti ini pun selalu ada di akhir...

“Kamu mau langsung pulang?” tanyanya.

“Iya. Tapi males sih, jadi pengen nenangin diri dulu disini. Abisnya masih kerasa mumet nih beban kerja.”

“Yaudah ngobrol dulu aja. Ngapain langsung pulang.”

“Kamu pasti mau maen dulu ya?”

“Iya lah. Kan aku anaknya nongkrong banget. Aku tuh ya kalo makan aja jarang di rumah. Pasti di luar terus, abisnya di rumah pada jarang masak.”

“Ah masa sih? Makan telor di rumah juga jarang dong?”

“Kadang-kadang sih.”

“Pantesan tiap liat story Instagram kamu isinya ga jauh dari kulineran.”

Iya sih bener. Tiap saya lihat story Instagram nya, pasti aja selalu posting makanan/minuman di luar rumah setiap jam-jam setelah adzan Isya. Rajin bener deh, dan tidak pernah kelihatan lagi makan sama orang lain. Saya sih selalu curiga dia selalu sendiri. Ya mungkin sih sama temennya atau sama keluarganya, tapi tidak mungkin sering dong.

Sesampainya saya di rumah, saya selalu dikasih usul oleh saudara sepupu saya di rumah nenek setiap harinya.

“Ajakin maen dong.”

“Iya nanti deh saya ajak.”

Yang ada dalam rencana saya saat itu adalah saya ingin proses ini berjalan dalam waktu jangka panjang dan pelan-pelan. Saya tidak ingin terburu-buru. Saya ingin semuanya terencana. Saya ingin hubungan saya terus terjalin dalam waktu yang sangat lama dan terus mengalir. Saya ingin setiap proses yang saya jalani dengan Tyara dirasakan dan dinikmati. Yang ada di benak saya saat itu, saya tidak ingin terburu-buru mengajaknya berkencan berdua, karena saya masih punya waktu banyak bersamanya di kantor. Bahkan untuk chatting duluan padanya juga rasanya saya sungkan. Bukan soal harga diri, tapi lebih ke rasa malu. Saya saja baru mengenal dekat dengannya sekitar satu atau dua mingguan. Saya tahu yang ada dalam benak saya ini kurang baik. Ini seperti bukan diri saya yang sedang berpikir normal atau yang sudah terencana. Saya memang saat itu ragu, takut, tidak mau gegabah, terlalu berhati-hati. Malah, saya jadi punya firasat lain dimana kedekatan saya dan Tyara ini akan menjadi neraka di hari-hari berikutnya. Tapi semoga saja itu tidak terjadi. Tetapi bilamana itu terjadi, mau tidak mau saya harus terima dan hadapi itu, seperti beratnya tanggung jawab pekerjaan yang saya hadapi di kantor atau di dunia.

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
20-10-2020 04:36
Sorry, ane ga tepatin ucapan ane yang kemaren. Ane baru sempet ngetiknya aja barusan. Gatau nih kapan ane bisa nerusin tulisan ane, tapi sebisa mungkin hari ini sih. Ini juga ane sambil nahan rasa bete, tapi tetep maksain ngetik. Setidaknya bisa meredam aja emoticon-Sorry
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
20-10-2020 16:28
BAGIAN 6
SALAH SEDIKIT


Quote:Kenapa di cerita ini, gua jadi terus-terusan manggil diri sendiri dengan kata “saya” ? Saya merasa menjadi orang yang terlalu formal, terlalu sopan dan lebih kaku. Gua tidak menjadi diri gua sendiri semenjak gua kaget keterima kerja di perusahaan forex ternama, yang notabene sudah banyak mendapat sponsor beberapa brand dan salah satu klub sepakbola ternama di Indonesia. Gua merasa ada beberapa hal yang harus gua samarin, tapi memang harus sih demi menjaga nama baik perusahaan juga karyawannya dan tentunya... supaya perusahaan tersebut tidak mendapat spotlight banyak di cerita ini. Gua pingin cerita ini lebih memfokuskan hubungan gua dan Tyara. Tapi entah kenapa, gua jadi punya banyak rencana soal masa depan gua dan dia nantinya. Gua malah jadi kepikiran nyusun strategi kaya harus pelan-pelan jalanin proses pendekatan nya, harus lebih santai, dan lain-lain. Kenapa gua harus kepikiran kaya gitu, kalau emang statusnya masih pengen temenan dulu? Ah banyak basa-basi banget gua. Seandainya aja firasat yang bikin gua ga karuan beberapa hari kemaren tuh ga dateng, mungkin gua gakan kepikiran buat fokus ke Tyara. Apa ini memang yang semesta pingin dari gua?

Hari Minggu. Hari terakhir di minggu kedua September 2020. Malam hari sekitar jam 7 di suatu kamar di rumah nenek gua. Gua memberanikan diri chat duluan Tyara.

“Tyara.”

“Iya knp, Don?”

“Besok ada yang anter jemput kamu ga? Kalo ga ada, aku yang anter ya. Gapapa kan?”

Sekarang pake kata “aku” biar enak aja. Kalo pake kata “gua”, berarti gua ngarahnya bukan ke Tyara. Gitu aja lah ya biar simpel.

“Ya... aku besok bawa motor. Kamu kenapa sih ga ngajak dari kemaren-kemaren?”

“Ya maaf. Kan aku ga tau. Tapi yaudah deh kalo kamu besok ga bisa.”

“Eh kamu jadi kan nanti resign?”

“Jadi dong. Kenapa emang?”

“Nanya aja sih. Terus kamu nanti pas udah resign, mau ngapain?”

“Gatau, aku pengen tenang dulu aja lah. Kalo kamu?”

“Aku pengen coba fokus di usaha aku sih. Kamu nanti jadi admin online shop aku aja. Mau ga?”

“Yaudah boleh deh.”

“Lumayan kan kamu dapet persenan nanti.”

“Gausah deh. Aku ikhlas kok niat bantuin kamu. Soal persenan sih ga usah dipikirin. Ga dapet juga gapapa.”

“Ih kok gitu sih?”

“Aku sebenernya ga mau jadi admin sih. Tapi doain aja semoga aku punya uang banyak biar bisa beliin toko buat usaha kamu.”

Hmm... ucapan anak-anak karena sangat kurang realistis buat kondisi gua. Udah jelas mungkin karena ucapan gua tadi, dia ga bales chat gua. Gua ga ambil pusing sih. Toh, dengan dia ga bales, gua masih tetap ngerasa seneng banget kok. Ga tau kenapa selama itu mau dikasih beban seberat apapun, gua lebih santai banget. Meskipun gua tetap merasa kesulitan menjadi diri gua yang sebenarnya karena masih merasa ada sedikit kekangan dan kekesalan gua sama kantor, terutama sama rekan kerja gua.

Besoknya di kantor, gua ditelpon sama Tyara buat benerin komputernya di meja resepsionis. Ga cuma hari itu aja sih, pokoknya hampir selama berhari-hari sampe berkali-kali setiap dia butuh bantuan dari bagian IT, selalu nelponnya ke gua. Ketika rekan kerja gua yang jawab telpon, selalu aja dioper ke gua.

“Don, ini komputer aku kenapa ya? Coba deh kamu kesini.”

“Iya.”

“Sekarang ya.”

“Iya iya bawel.”

Gua samperin ke meja resepsionis. Dikirain ada masalah apaan. Taunya kabel LAN internet nya ga dicolokkin ke CPU. Taunya mouse nya ga dicolokkin ke CPU. Taunya tiba-tiba dia mencet-mencet terus sengaja nyuruh gua exit BIOS menu. Taunya tiba-tiba monitor komputernya mati, terus jadi nyala cuma karena gua pencet tombol power. Hal-hal sepele kaya gini, kok harus minta bantuan ke bagian gua. Gua jadi curiga dia modus doang. Tapi... kenapa gua jadi berprasangka kaya gitu ya? Gua tau kok dia kan udah berpengalaman banyak jadi resepsionis, jadi ga mungkin dong hal sepele kaya gitu aja ga ngerti. Ya karena gua diminta bantuan, ya gua sih tolongin aja dengan polosnya.

Dan di hari Selasa nya saat gua mau cabut, dia kebetulan bawa motor nya Beat Pop yang udah kusam banget. Kebetulan motornya dia lebih gampang dikeluarkan saat di parkiran, sedangkan gua harus geser ini itu dulu. Kebetulan juga dia udah pake masker dan segala macem nya, sedangkan gua masih harus nyiapin dulu. Karena kebetulan keberadaan motor dia dan gua agak jauhan, jadinya gua ga terlalu merhatiin dia. Sebelum ke parkiran, dia udah pamit ke gua mau duluan cabut. Tapi ternyata pas gua baru nyalain motor, eh dia nyamperin gua dong.

“Ayo Don, kita barengan pulangnya.”

“Ngapain kamu nyamperin? Kamu nungguin aku?”

“Iya! Eh beda sih ya yang mau touring gini, segala perlengkapan dipake.”

“Jangan lupa headset dan nyetel lagu, biar bisa lebih tenang saat di perjalanan.”

“Ah ada-ada aja. Ayo pulangnya bareng.”

“Kamu mau aku jagain?”

“Iya mau.”

Singkat cerita, sepanjang jalan tuh gua ajak ngobrol dia, tapi ga jelas karena angin berseliweran dan suara klakson angkot yang selalu bikin rusuh di jalan. Dan akhirnya, gua pisah arah dan pamitanlah darisitu.
Selama di jalan, gua ngerasa seneng banget gatau kenapa. Sampe udah di rumah nenek dan mau tidurpun, yang ada di pikiran gua cuma Tyara seorang. Bukan orang tua gua, bukan sodara gua, bukan temen-temen gua, dan bukan nenek gua juga.

Lalu, suatu ketika di hari Kamis jam setengah 10 pagi, dia minta bantuan gua buat nyari tau kenapa komputernya sering mati tiba-tiba dalam hitungan menit. Gua cari tau permasalahannya selama satu jam tuh. Gua cek settingan di Windows nya, liat settingan BIOS, coba cabut colok RAM, ganti-ganti RAM, ganti kabel VGA, masih gagal juga. Mau gamau, gua harus bawa dulu CPU nya ke ruangan gua buat dicek lebih lanjut. Tyara bilang ga usah, tapi gua tau dia sebenernya pingin komputernya normal lagi. Ya daripada engga, yaudah gua bawa ke ruangan gua. Gua juga sempet janji sama dia kalo gua bisa beresin kerjaan gua nanti jam 11 siang. Tapi ternyata realita berkata lain. Di jam 11 siang itu, gua makin bingung sama masalah CPU nya karena semakin gua oprek, malah jadi makin susah masuk ke menu Windows.
Jam 11 siang, dia chat gua di Whatsapp dengan bete nya.

“Udah beres belum CPU nya? Janjinya jam 11 tadi, kok sekarang belum beres?”

“Masih dibenerin.”

Gua cuek aja bales kaya gitu. Sampe masuk jam istirahat jam 12 siang pun, gua masih belum nemu masalah utama nya dimana. Dasar gua si karyawan IT gadungan, masa nyelesain masalah gini aja lama sih.
Gua voice call Whatsapp tuh si Tyara. Gua minta maaf aja selama di telpon. Si Tyara cuma jawab ham hem ham hem doang. Padahal pas gua nelpon dia, gua lagi di ruang pantry yang dimana letaknya cuma berapa langkah dari meja resepsionis. Ah gua jadi merasa bersalah sama diri gua sendiri. Gua pingin CPU nya dia bisa normal lagi. Gua coba ganti power supply nya dengan cadangan yang berbeda-beda, masih belum normal. Gua coba ganti kipas prosesor nya dengan cadangan yang berbeda-beda, masih belum normal. Gua coba ganti prosesor nya dengan cadangan yang berbeda-beda, malah lebih parah. Ya... karena ada CPU yang masih normal, gua coba tuker aja tuh bagian harddisk sama RAM nya. Dan setelah gua lelah ngoprek, akhirnya bisa normal juga. Gua coba reset factory aja settingan Windows nya. Gua beresin tuh seharian sampe gua akhirnya bisa balik dari kantor jam setengah 7 malem dan Tyara ga ngabarin apa-apa ke gua kalo dia mau balik. Ga gua kasih tau juga kalo CPU komputernya dia udah normal. Sebelum dia balik, dia sempet minta tolong ke gua buat keluarin komputernya dari menu BIOS. Karena dia keliatannya bete banget, gua nyeletuk aja bilang.

“Bete terus ah males ah...”

Gua tinggalin dia yang lagi jaga sendirian di meja resepsionis tuh. Terus dia teriak.

“Makasih ya, Don!”

Ga gua jawab.

“Ih, kok ga dijawab sih, Doni?”

Gua jawab “Sama-sama” dalam hati gua.

Gua bela-belain benerin CPU dia seharian sampe harus bagi waktu gua buat ngerjain permasalahan komputer lain di kantor. Gua malah lebih fokus bikin Tyara seneng dibanding karyawan lain.

Di rumah nenek, gua jadi menyalahkan diri gua karena gua yang lelet. Dari sinilah gua jadi berpikir bahwa kalau gua jadi sering keteteran ngerjain pekerjaan di kantor karena sering lambat menyelesaikannya. Emang sebelumnya, gua juga udah menyadari ini meskipun belum meyakini sepenuhnya. Tapi justru dari kejadian tadilah, gua mulai yakin dan benar-benar sadar akan pernyataan tersebut. Selama di rumah nenek, yang banyak gua lakuin adalah mengingat kembali apa yang gua alamin di kantor terutama dengan Tyara. Gua berpikir sejauh mana proses yang gua jalanin bareng dia di kantor. Pokoknya yang ada di fokus gua saat itu adalah Tyara. Tetapi di sisi lain, gua juga berpikir apakah yang semesta berikan pada gua ini hanya bersifat sementara saja? Yang udah-udah pun biasanya cuma bentar-bentar aja, terus ilang gitu aja. Duh... kenapa gua jadi berpikiran kaya gitu ya? Gua kenapa jadi mikir jelek sih? Gua harusnya ga boleh pesimis, karena kalo gua pesimis, perlahan semesta pun akan mengabulkan. Tapi kan gua jadi berpikir jelek gitu juga gegara gua liat kondisi gua saat itu dan mungkin... masih teringat akan trauma dari masa lalu gua. Gua ngerasa takut juga kalo semesta benar-benar mengabulkan pemikiran buruk tadi. Ya takutlah jelas. Gua gatau apa yang terjadi kalo seandainya di kantor tuh gua ditinggal ama dia. Dia udah banyak memberikan semangat yang banyak saat gua udah merasa lelah bekerja di kantor yang kadang pulangnya ga tau waktu. Gua juga ga ngerasa yakin akan gaji di kantor bisa sepadan dengan pekerjaan gua sehari-hari.

Besok paginya di hari Jumat. Saat Tyara baru aja sampai di kantor pada jam 9 pagi, gua langsung pasangin CPU nya di meja resepsionis. Abis itu, gua cabut gitu aja karena gua ngerasa pekerjaan gua kurang dihargai. Dia cuma bilang makasih dengan wajah yang pura-pura bete. Gua cuma respon seadanya aja. Eh baru ditinggal berapa jam, dia nelpon lagi dong. Gua samperin meja resepsionis, taunya internet dia sering mati nyala yang padahal permasalahannya adalah dari kabel LAN internet nya. Selesai beresin pekerjaannya, dia malah asik ngajakin gua ngobrol agak lama deh. Dia minta gua masangin shortcut di browser komputernya dengan suara bisikan yang beda dari suara biasanya. Dia ngeliatin gua terus sambil deketin bangkunya ke bahu gua. Gua ngerasa serem sendiri karena ini cewek kayanya lagi susah dibendung. Beres kerjaan gua tuh, gua tatapin aja mata dia deket banget sambil dengerin dia ngomong. Ya ada mungkin jarak 10 cm. Serem kan? Abis itu, gua tinggal lagi. Beberapa jam kemudiannya, Tyara nelpon lagi. Gua samperin, terus minta benerin permasalahan yang sama sama minta benerin colokan keyboard komputernya. Sambil benerin, dia ngajak ngobrol kaya gini...

“Kamu nanti udah deh jadi admin online shop punya aku aja ya.”

Ya... obrolan di Whatsapp beberapa hari yang lalu terulang lagi. Dia natap gua pas ngobrolin itu tuh fokus banget ke gua dan ga liat ke objek yang lain. Ya karena dia yang ngajak, yaudah gua respon aja tatapannya dia. Belum ada lagi memang cewek yang bisa bikin gua natap lama selain cinta pertama gua dulu. Memang awalnya setiap gua ngobrol sama Tyara, gua selalu buang muka sebentar-sebentar karena gua tau dia ini punya tatapan maut yang bikin banyak cowok terpikat sama dia. Dan sekarang gua malah jadi korbannya dia. Mampus deh.

Pulang dari kantor, gua ga liat Tyara di meja resepsionis. Yang gua liat malah si Nadir yang lagi sendirian disana. Iya memang, gua telat baliknya karena harus ngerjain pekerjaan tambahan yang butuh waktu agak lama.

Setiap perjalanan gua mau pulang ke rumah nenek, gua selalu nyetel lagu dari handphone gua dengan menggunakan headset. Selama gua dengerin lagu, fokus gua selalu kebagi dua. Yang satu mengemudi sambil perhatiin kondisi jalanan, dan yang satu nya lagi buat berimajinasi menghabiskan waktu berdua dengan cewek yang akan jadi pasangan gua nanti. Yang awalnya gua dipikiran cuma mikirin alur kedekatan gua nanti sama Nadya Arina, sekarang malah objeknya jadi Tyara semua. Pokoknya fokus pikiran gua selama menjalani hidup di minggu-minggu, diblok semua sama kehadiran Tyara. Keberadaan dia emang udah kaya virus.

profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
05-12-2020 21:47
Nunggu kelanjutannya ಥ‿ಥ
Bisa jadi bacaan buat nemenin upload laporan nih.
Jangan kentang yah gan.
Mantap.
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
06-12-2020 18:03
Baru mau lanjut
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
07-12-2020 00:24
emoticon-Kemana TSnya?
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
07-12-2020 14:14
Ijin nyimak sambil ngupy gans
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fame.spa dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
08-12-2020 08:18
keknya bagus nih critanya
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
10-01-2021 06:06
BAGIAN 7
PERLAHAN JADI HANTU


Quote:
Gatau kenapa, apa yang bikin gua males banget sebenernya nulis bagian ini, sampe gua anggurin 3 bulanan dan akhirnya banyak hal yang gua jadi lupa, bukannya langsung ketik disini. Tapi yang jelas, ini adalah bagian yang mulai pahit dibanding bagian-bagian sebelumnya.

Minggu ke-3 bulan September, adalah yang paling menjemukkan. Semenjak kejadian servis CPU beberapa waktu lalu, hubungan gua dan Tyara mulai merenggang. Saat itu, gua memang udah ga betah banget kerja, jadi gua buru-buru beresin kerjaan gua, terus cabut. Dan seperti biasa, gua samperin mejanya Tyara dulu buat ngobrol bentar. Gua tuh disitu kan duduk di kursi resepsionis, eh galama darisitu disamperin deh sama direktur utama kantor.
“Kamu, jangan duduk disitu.”
“Iya, Pak.”

Terus abis itu, gua cabut gitu aja keluar kantor, sedangkan Tyara malah dipanggil sama direktur tadi. Gua keluarin motor gua, pergi ke pom bensin sebelahnya. Gua yang tadinya mau ngisi bensin dulu, tetiba keingetan Tyara yang sepertinya masih kejebak di kantor. Gua juga ga liat dia bawa motor. Kali aja dia mau nebeng gua. Gua gerak dikit tuh ke sebrang kantor, dan ternyata dia baru aja cabut dari kantor. Tapi kok dia jalan kaki sendirian ke arah pom bensin yang tadi gua datengin? Dia dijemput siapa?
Gua samperin aja dia yang baru berada di pom bensin.
“Tyara!”
Dia nengok ke gua sambil kaget gitu.
“Eh!?”
“Dijemput?”
“Iya.”
“Yaudah hati-hati ya.”
“Iya...”
Raut wajahnya dia cemas banget. Dia lalu naik ke mobil (yang terlihat seperti mobil offroad) berwarna hitam, lengkap dengan kacanya yang hitam tak tembus pandang dan plat nomornya yang masih gua inget “D 1255 YBZ”. Kenapa gua tau plat nomornya? Saat mobil itu pergi ngelewatin arah gua, gua pantengin tuh kaca mobilnya yang nutup banget, sampe gua cuma bisa bayangin isi penumpang tuh mobil. Gua pantengin aja sampe beneran cabut ga keliatan dari pandangan gua. Gua di pom bensin ngapain? Gua asli ngisi bensin dong karena saat itu, motor gua bensinnya udah kosong banget. Udah keisi bensinnya, gua ke konter hape temen gua, Indra. Dan darisinilah, gua mulai rajin setiap hari ke konter tempat temen gua kerja. Setiap gua beres kerja, gua selalu kesitu. Saking kalang kabutnya. Gua ceritain apa yang terjadi dengan gua dan Tyara setiap harinya. Ada polisi patroli buat nyuruh pake masker, ga terlalu gua takutin, yang penting di benak gua saat itu ialah hubungan gua dan Tyara yang tetep baik-baik aja. Indra dengerin curhat gua, kasih gua masukkan berupa saran tanpa kritik. Di sela-sela ngasih saran, Indra selalu berkata seperti ini : “Ya silahkan di cek hape nya! Harga bisa nego! Ya silahkan bu... barang kali ada yang bisa dibantu.” Hmm... namanya juga sales.
Gua diem di konter temen gua ini bahkan sampe tutup toko nya juga. Gua mulai sering pulang kisaran jam 9 – 10 maleman ke rumah nenek gua. Gua selalu dicurigai yang engga-engga sama nenek, tapi selalu gua jelasin baik-baik bahwa di kantor selalu ada live trading hampir setiap Senin-Jumat. Yang padahal aslinya, cuma hari Jumat doang. Maaf ya, nek. Nenek ga perlu tahu ada masalah apa sebenernya ama gua. Yang sebenernya harus gua paling waspada adalah bibi dan suaminya yang numpang di rumah nenek gua yang notabene nya adalah penjilat ulung. Ya ngerti gua juga, di depan ngomong-ngomong pekerjaan IT Support di perusahaan ternama itu adalah masa depan, tapi di belakang ngomongin kalo gua banyak ngerepotin nenek gua gini gitu. Padahal nenek gua pun ga banyak komplain di depan dan di belakang. Dan bibi gua ini justru yang banyak ngerepotin, karena dengan kehadirannya di rumah nenek, malah sering banyak masalah. Haduh... cape juga ya jadi gua. Gua tau bibi gua ngomongin gua yang engga-engga di belakang, karena bibi gua yang lain yang tidak numpang di rumah nenek gua banyak yang laporan ke nyokap gua dan itu bikin nyokap gua nangis. Padahal gua baru berapa hari juga nebeng di rumah nenek, tapi udah diomonginnya yang gitu banget ya. Duh, kenapa juga jadi ngomongin bibi gua.
Gua saat itu memang benar-benar kalang kabut. Hampir setiap jam 7 malam saat di konter temen gua, gua selalu chat Tyara dengan ajakan berangkat pulang bareng, tapi selalu dikasih alesan klasik kaya:
“Aku gakan langsung pulang.”
“Aku dijemput mamah aku, dijemput temen aku.”
Padahal pertama kali gua ajak kaya gitu, dia malah kaya nyalahin gua. Kecewa asli.

Makin kesini sampe menjelang hari terakhir gua kerja di kantor, hubungan gua dan Tyara makin berantakan. Dengan tingkahnya Tyara yang makin aneh, bikin gua makin bingung sendiri. Di kantor, gua mulai merasakan lelah yang paling lelah. Beban gua berat karena masalah hubungan gua dan Tyara.
Gua masih inget, tanggal 29 September. Saat jam istirahat. Gua yang biasanya menjauhi keramaian di kafe lantai atas, lebih memilih ruang OB. Gua kesitu, eh ada cewek sendirian lagi selonjoran buka Shopee. Celananya diselimutin sama mukena. Sangat familiar dong buat gua siapa ini.
“Tyara?”
Langsung nengok lah dia dengan wajah bingungnya. Mungkin dia mikir ngapain sih masih kenal ama gua.
“Iya?”
“Tumben di ruang OB.”
“Emang aku biasa disini.”
“Aku diem disini, kamu ga pernah ada. Itu mukena di celana, kamu sholatnya udah?”
“Belum, malah ini tuh aku mau sholat, tapi di mushola nya masih ada orang.”
“Oh... eh iya, aku mau izin dong.”
“Izin ke Nadir aja, dia lagi tugas di depan kok.”
“Nanggung, udah deh ke kamu aja. Emang kamu mau kemana?”
“Mau makan keluar. Gapapa kan?”
“Kirain mau kemana. Kan ini udah jam istirahat juga.”
“Yaudah kalo gitu.”
Cabutlah gua ke warteg. Karena gua mikir Tyara gakan lama di ruang OB, gua makan lah cepet sampe akhirnya ga abis. Udah gitu, gua ke stand Nyoklat yang biasa di pinggir jalan, buat beli Choco bla bla gua lupa nama minumannya yang harga sebenernya cuma 9 ribuan. Gua beli tuh satu doang buat dia. Sampe kantor, gua kasihlah ke Tyara.
“Tyara, ini barangkali kamu haus. Tadi aku beli 2, tapi ternyata aku udah kenyang. Enak kok. Ini aku ada 1 lagi, sayang kalo kubuang.”
“Udah buat kamu aja. Buat nanti kalo kamu di ruangan haus kan bisa minum ini.”
“Kayanya engga deh. Aku udah kenyang banget soalnya. Rejeki jangan ditolak, udah ini buat kamu aja. Aku beneran ngasih.”
“Yaudah makasih ya. Aku simpen dulu nanti di meja ya, aku mau sholat dulu.”
“Eh Tyara, kesini lagi ga? Aku ada yang mau diomongin.”
“Penting ga?”
“Penting.”
“Yaudah sekarang aja ngomong.”
“Mending kamu sholat dulu deh, biar enak ngomongnya.”
“Udah cepetan ngomong sekarang aja.”
Ngotot-ngototan satu sama lain tuh kan, sampe akhirnya ga ada yang diomongin lagi.
Dan pas gua mau balik, gua sempet ngobrol sama petugas OB disana. Sebut saja dia sang informan, Kiki. Untungnya, Kiki ini ga ember mulutnya, meskipun rajin bawa-bawa ember kalo bersihin lantai kantor.
“Pak Kiki, tadi liat Tyara minum choco gitu ga?”
“Iya liat. Barusan dia minum.”
“Beres jam istirahat tadi kan?”
“Iya barusan. Kenapa emang?”
“Itu barusan aku yang ngasih itu. Kirain dia buang.”
“Engga kok, beneran dia minum. Pas aku liat di tong sampah, abis juga dia minumnya.”
“Haus mungkin ya dia.”
Percaya deh kalo udah Kiki yang ngomong gitu. Yang bikin gua percaya sama Kiki, yaitu orangnya yang terbuka akan siapa dirinya dibanding banyaknya pekerja kantor disana, terutama yang pahit-pahitnya. Selain itu, Kiki juga buka semua kedok baik-buruknya kantor. Inilah yang bikin gua salut sama Kiki. Selain itu, gua jadi salut juga sama kekuatan ruang OB yang bikin gua nyaman banget disaat gua merasa terpuruk di kantor. Jadi kalo didefinisikan kurang lebihnya, ruang OB itu ruang kejujuran, sedangkan kafe adalah ruang kejilatan.
Beres ngobrol sama Kiki yang saat itu sedang bersihin toilet lantai ruangan gua, gua cabut dan gua lewat mejanya Tyara udah ga ada siapa-siapa. Gua seperti biasa tuh kan, ke konternya Indra.

Di konternya Indra, gua dikasih anjuran ama Indra buat ga telpon Tyara dan bertindak seolah-olah beneran gua ngilang gitu aja. Istilah kerennya mungkin ‘ghosting’ kalo sekarang kali ya. Gua ga nurut katanya Indra, lagian ngapain ngilang-ngilang gitu aja. Apalagi ama Tyara tuh ga tega, soalnya dia udah ngasih gua cerita, pengalaman dan kesan yang baik selama di kantor. Dasar emang gua nya aja yang keras kepala. Gua telpon tuh Tyara lewat Whatsapp.
“Tyara, besok bareng yuk. Kan besok terakhiran kita masuk kerja.”
“Terakhir? Emang kamu udah ngajuin surat resign nya?”
“Belum.”
“Bikin dulu. Nanti abis itu, kamu tunggu dulu sampe 15 hari baru bisa keluar.”
“Tapi kan aku masih percobaan. Ga mungkin lah kaya gitu.”
“Cobain aja dulu, paling nanti kamu disuruh nunggu juga.”
“Gimana mau ga besok berangkat barengnya?”
Duh, si maksa.
“Aku ga bisa, dianter sama pacar aku.”
Si jujur.
“Sejak kapan kamu punya pacar? Baru tau aku?”
“Dari sebelum kamu masuk.”
Dari situ, diem-dieman kan. Terus yang dia ceritain beberapa minggu lalu, yang dia dikhianatin sama temennya si calon komisaris, dan bla bla bla sampe akhirnya kita deket? Maksudnya? Ah makin bingung nih. Karena udah ga ada jawaban apa-apa dari gua dan Tyara di telepon, Tyara langsung matiin panggilan sepihak dong. Gua makin kalang kabut dah, begitupun sampe di rumah nenek. Tidur pun gua sampe keringetan.

Hari terakhir gua masuk kerja, tanggal 30 September. Gua udah diwanti-wanti sama yang kerja di ruangan yang sama ama gua, buat beresin website kepegawaian nya biar bisa langsung dipresentasikan ke direktur. Boro-boro beres, kerjaan yang lain aja numpuk banget. Ada aja panggilan, ada aja keluhan dari pegawai yang mungkin berkisar setiap 70an, dimana tiap pegawai pasti ada aja masalah dengan komputer dan semacamnya. Yang seruangan ama gua? Malah asik nyari nasabah, dapet duit deh. Udah kepalang kalang kabut dan besoknya juga gua udah bisa dapet gaji disana, gua malah merencanakan untuk izin resign ke HRD. Jam 9 pagi, gua ke ruang HRD, izin curhat, baru izin resign. Gua disuruh ke ruang legal dulu buat obrolin resign lebih lanjut. Gua kesana, jelasin perkaranya yaitu beban kerja dan kenyamanan, barulah gua dikasih izin sama legal buat resign. Gua pamitan sama pekerja legal sana, sama HRD juga akhirnya, dan tentu sama komisaris. Sama Tyara pamitan? Engga dong. Tapi sama Nadir gua pamitan juga. Sama yang satu ruangan ama gua juga gua pamitan, sungkem malah karena darinya gua bisa dapet pelajaran dan hikmah banyak. Saat waktunya pamitan, Tyara kemana tuh? Ga ada salam sapa nya ama gua. Instagram Stories nya dia hide dari gua. Bisnis bareng? Pret, janji pemerintah pas nyaleg aja gimana.

Saat gua baru resign kantor, gua merasa lega banget. Gua langsung tuh kan cukur rambut dari yang awalnya kusut, jadi botak biar kaya Uus panutan gua. Gua ke konternya Indra, cerita kalo gua mau akhirin petualangan gua yang ini. Sementara nenek gua dan semua yang ada di rumahnya (kecuali sodara gua), ga ada yang tau kalo gua udah re-sign. Jadi ketika udah pagi nih, gua bertindak biasa aja. Berangkat cabut dari rumah nenek seperti di jam gua ngantor biasanya. Padahal dari rumah nenek itu, gua malah balik ke rumah nyokap. Dan pas udah jam waktunya pulang ngantor, barulah gua balik lagi ke rumah nenek. Sambil perlahan, gua bawa balik barang-barang gua yang tertinggal di rumah nenek.

Diubah oleh 007funk
0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
10-01-2021 06:18

BAGIAN 8
CURIGA



Quote:
Hari pertama gua ga ngantor lagi, tanggal 1 Oktober 2020. Gua udah dapet gaji di bawah ekspektasi gua. Beban kerja gua, ongkos perjalanan dan uang makan, ga ada yang bisa nutupin. Serba palsu memang. Padahal di awal, gua seperti dikasih janji pemerintah oleh Pak Deni dan koleganya. Gua pas cabut dari rumah nenek di hari itu, gua ke makam almarhum bokap gua dan gua bilang bahwa ini bukanlah akhir dari semua perjuangan besar gua. Gua mungkin setelah ini, bisa merasakan keterpurukan yang luar biasa. Tapi ga akan bikin gua tinggal diam, dan sayat-sayat urat nadi tangan gua lagi. Ini bisa jadi turning point gua untuk berbenah dan lebih baik lagi.

Hubungan gua dan Tyara juga udah ga pernah biasa lagi. Gua sempet curiga bahwa cowo yang diakui pacarnya Tyara itu ialah Ary Juliar. Ary ini bekerja di kantor yang sama di posisi marketing. Jadi kerjaannya, yang suka nge-share di medsos akan testimoni enaknya maen forex dan buka jasa bantuan gitu deh. Saat beberapa hari sebelum gua resign, gua sempet ngobrol sama Ary langsung, di saat live trading sempet berlangsung. Ya ternyata, si Ary ini dulu sering maen ke tongkrongan SMA gua. Beda tongkrongan, tapi masih satu circle juga. Dia juga beda almamater ama gua, beda angkatan juga. Singkat cerita, gua ga sengaja ngintip dia lagi chat sama Tyara, dimana disitu Tyara kaya kesenengan aja. Padahal disitu posisinya, lagi guntreng nih ama gua. Gua cengin aja.
“Siapa tuh?”
“Ada lah. Bahaya kalo dikasih tau, bisa rame sekantor.”
“Gapapalah, ayo cerita aja sama gua.”
“Engga-engga.”
“Mau dipake wikwik ya?”
“Goblok sianying, malah kesitu...”
Gua curiga securiga-curiganya. Mulailah gua aktifkan akun fake gua, buat mastiin apa Ary ini bener pacarnya Tyara. Soalnya seinget gua, Ary pernah bawa mobil item yang persis gua liat di pom bensin waktu gua ngegep Tyara dijemput. Terus, si Ary juga pernah jujur naksir ama temennya si Nadir di kantor lewat postingan Instagram nya. Ya makin menjurus dong. Tapi, penelusuran ini berlangsung lama juga sih, ga sehari langsung kebuka semuanya.

Gua sempet liat juga lewat postingan Instagram Stories nya Nadir kalo Tyara dikasih banyak kado saat hari terakhir dia kerja. Gua? Boro-boro, emangnya gua siapa. Sial, gua ga bisa liat Tyara ngeposting langsung di Instagram nya. Terus pas sorenya, gua sempet nelpon Tyara lagi lewat Whatsapp. Gua tulis dulu lewat kertas folio biar gua bisa bilang semua uneg-uneg yang harusnya gua sampein kemaren hari. Pas gua ngomong, eh nyeletuk “Ini Nadir.” Yaelah, yang ngangkat yang jawab bukan Tyara. Untung baru sepenggal kata pengantar di awal. Gua nyeletuk juga “baik....”
“Emang mau ngomong apaan sih? Kak Tyara nya lagi di ruang HRD.”
“Yaudah ntar aja lah. Kalo dia udah balik di meja nya, kasih tau ya.”
Ujungnya, si Nadir ga terima. Ingin ikut campur dan merasa punya andil kontrol diantara hubungan gua dan Tyara. Si Nadir ngechat terus baik di Instagram DM ataupun di Whatsapp. Sampe akhirnya gua kesel, hape gua nge-hang, gua clear data semua medsos tadi, gua gagal buka yang Whatsapp doang, ganti nomer, barulah mulai percakapan baru. Kurang lebih kaya gini:


[17:06, 10/1/2020] Nadir: P
[17:06, 10/1/2020] Nadir: Ada apasih kalian?
[17:08, 10/1/2020] Doni: Ga ada apa-apa
[17:08, 10/1/2020] Doni: Ntar juga kamu tau sendiri
[17:11, 10/1/2020] Nadir: Apasih kamutuh?
[17:11, 10/1/2020] Nadir: Ada apa?
[17:11, 10/1/2020] Nadir: Suka sm kak Tyara?
[17:11, 10/1/2020] Nadir: Atau apa?
[17:20, 10/1/2020] Doni: Kenapa kamu bisa mikir kesitu?
[17:25, 10/1/2020] Nadir: Ya terus kenapa? Ada apa?
[17:26, 10/1/2020] Nadir: Banyak ala2 km tuh. Ngmg yg jelas
[17:28, 10/1/2020] Nadir: Sampe ganggu lg, aku block
[17:28, 10/1/2020] Nadir: Aku suruh dia block
[17:29, 10/1/2020] Doni: Napa ai kamu?
[17:29, 10/1/2020] Nadir: Ya ngmg yg jelas dulu ada apa?
[17:29, 10/1/2020] Nadir: Emg dgn cara km kek gini dia mau ngmg sm kamu gt?
[17:29, 10/1/2020] Nadir: Enggak lah
[17:30, 10/1/2020] Doni: Yaudah sok terus mau gimana?
[17:30, 10/1/2020] Nadir: Ya ngomong ada apa?
[17:30, 10/1/2020] Doni: Mau ngomong lewat kamu? Oke aku ngomong lewat kamu
[17:30, 10/1/2020] Nadir: Ya sok
[17:38, 10/1/2020] Doni: Sorry aku ga bisa bilang jelas sama kamu. Yang jelas mah aku mau nyampein uneg-uneg aku aja. Terserah mau nyampeinnya gimana.
[17:39, 10/1/2020] Doni: Aku gamau salah ngomong, terus jadi salah paham.
[17:40, 10/1/2020] Doni: Aku ga peduli mau direspon kaya gimana, yang jelas aku udah mau nyampein uneg-uneg aku selama ini, daripada aku simpen-simpen terus malah jadi masalah.
[17:41, 10/1/2020] Doni: Makasih ya din, udah mau nyampein, udah mau ngedorong aku buat bilang semuanya.
[17:42, 10/1/2020] Doni: Yang penting, sekarang juga kamu udah tau semuanya. Biar clear, biar jelas.
[18:10, 10/1/2020] Nadir: Iya okee
[18:10, 10/1/2020] Nadir: Udh disampein
[18:10, 10/1/2020] Doni: Makasih ya
[18:11, 10/1/2020] Nadir: Iyaa smsm
[18:11, 10/1/2020] Nadir: Maaf ngebentak abisnya km bertele2 wkwk
[18:11, 10/1/2020] Doni: Kalo bukan cerita dari perasaan aku sendiri mah, mungkin aku bakal bilangnya langsung cepet
[18:12, 10/1/2020] Doni: Iya gapapa dimaafin kok. Makasih ya nadiiiin
[18:12, 10/1/2020] Nadir: Hah gmn?
[18:12, 10/1/2020] Nadir: Gangerti
[18:15, 10/1/2020] Doni: Iya emang ga gampang dan ga bisa gamblang langsung bilang gitu aja, soalnya aku takutnya jadi salah paham nyampein unek unek nya.
[18:16, 10/1/2020] Nadir: Oh wkwk. Iya aneh jgsi perasaan b aja deh tp ternyataa gini
[18:17, 10/1/2020] Nadir: Keliatannya kalian tuhh biasa aja
[18:17, 10/1/2020] Nadir: Yaudalah yaa
[18:18, 10/1/2020] Doni: Iya emang harus gimana lagi atuh?
[18:18, 10/1/2020] Nadir: Makasihhh udh berani ngmg sm nadir, sangatt dihargai. Sukses ya km
[18:18, 10/1/2020] Doni: Tadi aku nyampein ini itu, kamu ngerti gaaa?
[18:18, 10/1/2020] Nadir: Ya ngerti
[18:19, 10/1/2020] Doni: Emang aku sengaja ga cerita apa-apa sama kamu dari waktu itu tuh, takutnya kamu ga ngerti
[18:19, 10/1/2020] Doni: Gitu nadir, maaf yaaa
[20:27, 10/1/2020] Doni: Din, pangkasih tau in lah. Ini kontak whatsapp aku baru ke tiara, bisi ada apa apa hehe
[20:33, 10/1/2020] Nadir: Ada apa2 gimana..
[20:33, 10/1/2020] Nadir: Ga akan knp2 kayaknya
[20:34, 10/1/2020] Doni: Naha gakan knp2?
[20:34, 10/1/2020] Doni: Maksudnya teh bisi ada perlu apa gitu
[20:34, 10/1/2020] Doni: Makasiiii
[20:34, 10/1/2020] Nadir: Gak akan adasih kayaknya..
[20:35, 10/1/2020] Doni: Kenapa kamu bilang gitu?
[20:37, 10/1/2020] Nadir: Ya soalnya udh ada pacar, ngapain ke kamu..
[20:37, 10/1/2020] Doni: Meni gitu, da aku teh ama dia temenan
[20:37, 10/1/2020] Doni: Bukan ke musuh
[20:37, 10/1/2020] Nadir: Tapi pacarnya risih ke maneh don
[20:37, 10/1/2020] Nadir: Aingmah gamau ganggu mereka
[20:38, 10/1/2020] Nadir: Yang maneh ikutin sampe spbu.
[20:38, 10/1/2020] Doni: Ikutin?
[20:38, 10/1/2020] Doni: Apaan aku mah ngisi bensin
[20:38, 10/1/2020] Doni: Kebetulan aja papasan
[20:39, 10/1/2020] Doni: Kenapa mikirnya jadi kesitu?
[20:39, 10/1/2020] Nadir: Yang maneh liat di spbu deh
[20:39, 10/1/2020] Nadir: Apasih don, aing ngmg ini itu salah. Semuanya dipermasalahin. Sensi amat
[20:39, 10/1/2020] Doni: Ga ada yang sensi, aku cuma nanya
[20:41, 10/1/2020] Doni: Yaudah atuh ai gitu mah
[20:42, 10/1/2020] Doni: Kan aku udah minta maaf, aku cuman pengen baik baik aja
[20:42, 10/1/2020] Doni: Ga haruslah kaya gini
[20:42, 10/1/2020] Doni: Da aku juga gamau
[20:42, 10/1/2020] Nadir: Ya lagian maneh ngapain minta maaf, kan gak ada salah apa2?
[20:42, 10/1/2020] Doni: Ya sukur ai gitu mah
[20:47, 10/1/2020] Nadir: Wlpn maneh gak peduli sm ‘hubungan’ mereka (sesuai yg maneh tulis di surat), tapi cowo kak Tyara mah beda don prinsipnya gak kayak maneh
[20:48, 10/1/2020] Nadir: Pasti kak Tyara jg lbh prioritasin pacarnya drpd prinsip maneh
[21:12, 10/1/2020] Doni: Dir, makasih kamu udah mau ngomong sejujur-jujurnya. Bangga aku sama kamu, harusnya aku bilang dari awal semuanya sama kamu
[21:13, 10/1/2020] Doni: Aku salah nilai kamu dari awal
[21:13, 10/1/2020] Nadir: Apa?
[21:13, 10/1/2020] Doni: Iya dari cara kamu nyampein semuanya ke aku tadi
[21:13, 10/1/2020] Nadir: Terlalu kasar? Maap
[21:13, 10/1/2020] Doni: Engga din, menurut aku dengan kamu bilang seperti itu udah paling jujur
[21:15, 10/1/2020] Nadir: Emg gimana?
[21:15, 10/1/2020] Doni: Aku kira kamu ga akan seberani dan sedewasa sesuai dengan apa yang udah kamu ucapin
[21:15, 10/1/2020] Doni: Serius aku mah dir
[21:16, 10/1/2020] Nadir: Wkwkwk
[21:16, 10/1/2020] Nadir: Dikiranya aing menye2 trs gttt?
[21:17, 10/1/2020] Doni: Hahaha iyaaa
[21:17, 10/1/2020] Doni: Maneh fix cees aing lah dir asli
[21:19, 10/1/2020] Doni: Kalo aing ga cerita sama mane, mungkin aing sampe sekarang masih menerka-nerka apa yang berubah dari temen resepsionis mane ke aing
[21:21, 10/1/2020] Doni: Makasih banget
[21:22, 10/1/2020] Nadir: Iya trs jawabannya apa?
[21:22, 10/1/2020] Doni: Ya kan itu tadi
[21:23, 10/1/2020] Doni: Disangkanya aing teh ngikutin dia di spbu, padahal mah aing teh emang mau ngisi bensin. Karena kebetulan ketemu dan papasan, ya udah aing sapa aja gitu.
[21:24, 10/1/2020] Nadir: Iyaa ntahlah itumah
[21:24, 10/1/2020] Doni: Eh darisitu malah jadi awkward ke yang lain
[21:24, 10/1/2020] Doni: Dan aing emang ga tau pacarnya yang mana. Orang kaca mobilnya aja gelap, aku liatin juga ga keliatan sama sekali.
[21:25, 10/1/2020] Nadir: Iya yaudalah skg mah saling menghargai aja
[21:25, 10/1/2020] Doni: Okey
[21:25, 10/1/2020] Doni: Ada lagi?
[21:26, 10/1/2020] Nadir: Gak laa. Udh. Kan maneh udh tau semuanya
[21:28, 10/1/2020] Doni: Yaudah kalo gitu mah, sekali lagi makasih banyak ya din
[21:29, 10/1/2020] Doni: Mane yang betah ya di kantor, semoga dapet pengganti partner mane di kantor (meskipun aing ngerti rasanya ga akan pernah senyaman yang sebelumnya)
[21:30, 10/1/2020] Nadir: Iya aamiinn semoga rezeki kita ngalir trs

(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan

Sangat real bukan percakapannya? Suratnya ala pecundang sekali bukan?


Bukan hal yang mudah buat gua ngelepasin Tyara gitu aja. Gua butuh 2-3 bulan buat lepasin Tyara dari pikiran dan hati gua. Setidaknya dengan gua resign, gua bisa benahin ini. Gua tau dia resepsionis yang perfect from all aspect, dan tak tergantikan. Saking perfect nya, yang bikin gua sulit benahin ialah nafsu diri gua. Setiap gua bayangin dia, bawaan nya pengen masturbasi terus. Yap, mungkin jeleknya disitu. Pengecutnya disitu. Pecundangnya disitu. Bukannya makin membaik, malah makin memburuk. Tapi untungnya gua masih mau berusaha dan gua lepasin aja semua hal yang ada di benak gua soal Tyara. Baik itu soal bikin nafsu nya, bikin gua bapernya, bikin gua kepikirannya, gua perlahan lepasin aja. Itupun butuh waktu sampe gua ga nyari kerja apapun dulu selain ngandelin dana prakerja. Ini ga mudah, dan ga semua orang bisa ngerti akan keadaan gua ini. Saat hari pertama gua ga ngantor itu, gua selalu mantau semua sosmed nya Tyara setiap 1 jam sekali, saking susah ngebendung nafsu dan rindu. Yang biasanya sering ketemu, udah ga pernah ketemu lagi. Apalagi kalau udah liat dia posting foto seksinya di feed Instagram, udah deh pikiran gua dibawa terbang sampe keluar akhirnya ke.... perlukah frontal?
Tapi lama kelamaan, gua juga bisa benahin stalking itu. Yang biasanya setiap 1 jam sekali, jadi 3 hari sekali. Mungkin nantinya ga mantau sama sekali. Lama kelamaan pun, dia munculin lagi Instagram Stories nya beserta highlight stories nya, tapi ga gua pantau sih. Udah keburu males juga.

Yang bikin gua pengen ngelepasin, mungkin gua self-acceptance. Gua sadar kalau apa yang lu pertahankan, lu usahakan abis-abisan memang belum tentu akan jadi milik gua nantinya. Dan tentu, kejujuran itu penting. Gua tau sepertinya Tyara ga jujur ama gua. Pertama, soal pacar. Kenapa? Karena gua ga pernah sama sekali ngeliat sosok cowoknya dia dimanapun. Belum lagi, gua tau kalo dia itu ga punya siapa-siapa selain Tuhan, keluarga dan temen deketnya. Pacar? Ga percaya gua. Orang kaya dia, pasti berani dong nunjukkin siapa cowonya. Apalagi foto seksinya dia aja bisa berani diumbar ke medsos. Apa mungkin dia.... perlu mikir aneh-aneh? Kedua, soal keseharian. Dia bilang dia jarang banget tuh makan di rumah. Selalu aja makan di luar. Ke kafe gitu biasanya. Pagi-pagi kalo sarapan, emang ada ya kafe yang buka? Kalo McDonalds sih percaya, tapi masa iya tiap hari? Kaga mungkin dong. Makan di pinggir jalan tiap pagi gimana tuh? Apa ga pernah sarapan kali ya? Masih perlu mikir aneh-aneh ya? Hal kecil aja dianggap remeh, apalagi yang gede-gede nanti. Ya yaudahlah.

Sepintar-pintarnya Tyara nutupin sesuatu pun, pada akhirnya bisa kebuka dengan sendirinya di depan mata gua kok nantinya. Gua percaya semesta selalu hebat untuk tidak menutup rahasia siapapun, tanpa pandang bulu ataupun rambut. Makanya, lebih baik terbuka aja dah daripada jadi orang so cool kaya di anime-anime. Ga bikin keren juga lagian. Tapi gua ngerti kok patokan dia bukan kaya cewe di anime seperti Hinata (meskipun tampangnya hampir mirip).

Soal Ary, pada akhirnya gua jadi tau kalo ternyata dia sudah beristri dan baru aja punya anak baru hasil gituan ama istrinya. Yaelah, masa iya sama Tyara. Hoax banget gua. Kenapa jadi ngegosip gini ya? Berarti Ary sama Tyara cuma bercanda-canda doang kan ya, kaya... em setingan? Ngomong apa sih gua. Btw, selamat ya Ary!

Kok makin ga jelas ya ini ceritanya. Maklum sih, gua udah males banget sebenernya ngetik bagian pahit-pahitnya cerita ini. Sebenernya gua udah pengen tutup buku juga, apalagi ini udah tahun baru.



0 0
0
(on going) Resepsionis Yang Tak Tergantikan
10-01-2021 06:23
Wait, masih ada 1 bagian lagi.
Nanti dilanjut lagi ya. Maaf dianggur lama, ada kerjaan lain juga soalnya jadi ga sempet ngetik.
Semoga masih dikasih waktu dan nyawa buat nyelesain bagian terakhir ini.
Jangan ekspektasi tinggi, soalnya ini bukan ending yang semua orang bisa harepin.
Tks.
Diubah oleh 007funk
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
hunter-pemburu-fantasy
Stories from the Heart
para-pemuja-iblis
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia