Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
1662
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f83e52610d2957b3744d9f2/son-of-the-rich-reborn
Lembaran pertama - Kota Malang Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk m
Lapor Hansip
12-10-2020 12:09

Son of the Rich (Reborn)

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Son of the Rich (Reborn)


Quote:Lembaran pertama - Kota Malang

Bokap gua kerja di salah satu perusahaan asing penambang emas di pulau sumbawa sedangkan nyokap mempunyai beberapa butik dan bisnis makanan yang cukup besar di kota kelahiran gua. dan Perkenalkan nama Gua adrian, anak semata wayang dua sejoli yang bertemu saat bermitra bisnis 25 tahun yang lalu. Gua lahir ke dunia dengan sebuah pengharapan yang besar. Karena untuk mendapatkan Gua, orang tua gua harus menunggu lebih dari 5 tahun.

Hidup serba ada bahkan terlalu berlebihan, pakaian serba bermerk gadget yang selalu menemani gua setiap saat dan mobil yang selalu menemani gw kemana aja, semua itu cukup membutakan gua seperti apa arti dari sebuah perjuangan hidup. Jujur, gua
ga pernah merasakan rasanya mengumpulkan uang sendiri bahkan hanya untuk membeli sepeda yang gua pengen. ketika mata ini melihat sebuah benda menarik, maka nyokap gua akan bilang, "Adrian Mau?" dan sorenya barang itu sudah ada di rumah. Gua paham nyokap ingin sekali membuat gua bahagia tapi kadang gua merasa ga bisa menikmati hidup ini dengan baik. Dengan Uang mungkin kita bisa bahagia, tapi kita tidak bisa membeli kebahagiaan dengan uang.

Super Duper Over Protektif
itulah hal yang bisa gua simpulkan tentang keluarga gua. Walau Gua hanya bertemu mereka saat weekend saja tapi kalau sudah menyangkut tentang masa depan gua, mereka akan melupakan semuanya dan menitik beratkan fokusnya ke gua.

Gua bukan orang yang bodoh, gua selalu mendapat peringkat 1 dari Sekolah dasar hingga sekarang, tentu kecerdasan gua turun dari bokap dan nyokap. Mereka adalah dua sejoli yang sangat ideal, mereka sama sama pintar dan mereka adalah 2 manusia yang diberikan paras yang cantik dan tampan oleh tuhan , alhasil semua kelebihan itu menurun ke gua.

Untuk urusan masuk sekolah, Orang tua gua selalu sangat hati hati. Saking hati hatinya, Gua bahkan sudah diterima di sekolah menengah atas sebelum gua menjalankan tes masuk. Apalagi lagi kalo bukan karena bokap gua menghubungi kepala sekolah yang merupakan teman lamanya, padahal gua sangat yakin, gua tetep bisa masuk tanpa bantuan mereka. Waktu itu gua marah besar tapi orang tua tetaplah orang tua, mereka selalu ingin anaknya bahagia apapun caranya.

Ketika para siswa sibuk mencari PTN dengan mengikuti berbagai macam Bimbingan Belajar, gua dengan begitu Mudah mendapat tiket masuk disalah satu PTN terbaik di indonesia, tentu sudah bisa ditebak , semua ini karena bokap gua. Untuk kali ini gua memutuskan untuk berontak, tak ingin lagi rasanya gua mengunakan kekuatan orang tua gua buat ngelakuain semuanya.

Hanya berbekal baju yang gua masukin ke Tas Ransel, serta Dompet yang berisi hanya beberapa uang lima puluh ribuan dan ATM yang entah berapa isinya dan ijazah SMA. Gua menuju terminal Bus, mencari loket tiket yang berangkat hari itu juga, Gua memutuskan naik Bus karena Beberapa orang di bandara mengenal Gua. Satu persatu Loket tiket gua datangi, mancari bus-bus yang bisa segera berangkat, menuju Jogja, solo surabaya, bandung, atau entahlah, yang penting gua harus segera pergi dari pulau yang gua diami 17 tahun terakhir, Lombok.
Hanya Tiket Mataram~malang yang ada untuk keberangkatan 1 jam lagi, yang akhirnya diputuskan mungkin gua harus pergi ke malang, 1 jam lagi bus tiba, dan ini pertama kalinya gua harus jauh dari kedua orang tua gua.

NEXT

Sekitar Pukul 4 pagi, bus sudah tiba di sebuah terminal kota malang, ada nuansa berbeda yang gua rasakan di sini. Hawa yang lebih dingin dan tentu perasaan gua yang ga menentu akibat ulah gua ini. Mungkin bokap nyokap gua lagi panik di rumah, ada sedikit rasa bersalah dalem diri gua tapi semoga surat yang gua tulis bisa membuat nyokap gua agak lega.
Ponsel gw sempat berbunyi saat gua menyebrang dari bali ke banyuwangi. Mungkin 10 kali atau 20 kali atau mungkin lebih, dan semua adalah misscall dari nyokap gua. Tanpa pikir panjang ponesl itu gua buang ke laut, beberapa saat kemudian gua sedikit menyesal, kenapa harus gua buang, kenapa ga gua kasih ke orang agar lebih bermanfaat, mungkin ini hasil dari didikan manja orang tua gua, semua jadi serba mudah.

Uang di dompet gua udah kosong melompong untuk membeli tiket dan beli makanan di jalan. Gua mencoba mengelilingi Terminal arjosari untuk mencari ATM di deket sana. Hampir 10 menit gua lalu lalang lalu akhirnya gua bisa bernafas lega, ternyata ATM tidak terlalu jauh dari tempat gua turun tadi. Setelah mengambil beberapa juta dari mesin ATM setelah menarik uang sebanyak 2 kali,
Gua mengambil kertas struk yang sudah gua buang ke tempat sampah tadi. Saat gua mengecek nominalnya sebuah angka 1 dan ada 8 digit angka mengikutinya dibelakang, waw... sebanyak inikah uang yang dikirimkan bokap Gua selama ini, setahuku ATM ini diberikan saat ujian nasional kemarin, gua meminta uang hanya buat perpisahan dengan teman teman kelas gw. "Pa ini terlalu banyak".....

Gua masih berdiri di depan ATM. Gua sedang berfikir untuk segera mencari kendaraan untuk menuju kampus-kampus yang ada di kota ini, yang pertama terfikirkan adalah taxi tapi beberapa saat kemudian gua menghapus jauh jauh fikiran itu, gua harus hidup sederhana dan pilihan gua jatuh ke angkot. Mungkin karena gua terlalu fokus menyusun rencana , gua ga sadar bahwa ada seseorang di dekat gua, dari perawakannya dia masih seusia gua, dan dia seorang cewek.

"Mahasiswa baru juga?"

Gua celingak celingkuk mencari siapa yang diajak ngobrol cewek ini.

"Gua bukan indigo yang ngomong sendiri, gua ngomong sama elo" tanya cewek itu sedikit tersenyum melihat kebingungan gua.

"Oh Maaf, maaf. gak kok, eh ya."

Gadis itu lalu tertawa kecil melihat kebingungan gua. Ia sepertinya sudah berdiri di depan ATM sejak gua datang tadi. mungkin dia sedang bosan menunggu.
"Ya atau ga?" pancingnya.

"Gak, gua baru mau tes" jawab gua jujur, walau gak tahu harus tes dimana.

"Oalah, mau ikut tes mandiri toh"

"Mungkin begitu"

"Mungkin?" cewek itu mengerutkan dahu lalu dia tersenyum lebar melihat gua.

"Elu lucu ya, kok kayak linglung gitu" sambungnya.

"Makasih" jawab gua ragu.

"Itu bukan pujian loh"

"Oh maaf" jawabku ragu.

"Hahaha, Bercanda kok,emang elo mau kemana?"

"Kampus" jawabku ragu.

"Kampus apa? kan di sini ada puluhan kampus"

"Yang ada di malang"

"kan memang kita kan lagi dimalang"

"Yang deket deket aja mungkin" jawabku ragu. bodohnya aku gak cari referensi sebelum datang ke sini"

"hahaha... deket dari mana, kamu lucu ya"

"Gua harus bilang makasih atau maaf nih?" takut itu malah hinaan.

"Apa aja deh, kenalin nama gua Friska. Gua mahasiswa baru di Universitas Wijaya" dia mengulurkan tangannya untuk menjabat.

"Gua Adrian.. mmm mantan anak SMA " Jawab gua seraya menjabat tangannya.

"hahaha... ada ada sih aja elo"
"elo ngambil apa di Wijaya?"

"Gua?, Biologi"

"Biologi? mmm belajar biologi seru?" tanyaku penasaran.

"Kalo Gua sih suka, emang elo minatnya apa?"

"Yang bisa ngebuat hidup ini lebih seru dan asik" jawabku jujur. Selama ini hal yang gua idam idamkan.

"hahaha diplomatis bin ngawur jawaban elo" jawab friska.

"Bukan diplomatis, lebih tepatnya Gua bingung aja"

"Bingung? Bingung kenapa?"

TIIIINNN TIIINNNN
Suara klakson motor membuyarkan obrolan kami, seorang cewek berhenti di depan kami berdua.

"Frish udah lama?" tanya cewek yang baru datang itu.

"Udah kering neh gigi gua nunggu elo" jawab friska.

"Maaf maaf, tadi agak macet maklum weekend"

"Gua maafin asal lo traktir gua es cream" goda Friska.
"Ih maruk sekali, udah minta di jemput, sekarang minta di traktir. Nunggunya sama cowok ganteng lagi"

"Eh dasar mulut elo nyablak bener seh, oh iya adrian gw duluan ya, sukses buat Tesnya, ayok bela, tarik"

"Tarik tarik, emang gw angkot"..

"Becanda bela"

"Bener neh gua ga dikenalain nih?"

"Eh elo apa apan sih, malu maluin aja, ayo berangkat"

"Duluan ya ganteng" kata cewek yang dipanggil bela oleh Friska tadi.

Mareka akhirnya melaju memecah kota malang.
Friska, orang pertama yang gua kenal di kota ini.
Oke, Gua udah mutusin buat ikut tes mandiri Universitas Wijaya, jurusan Biologi.

Polling
131 Suara
Terlepas dari plot kisah ini, ada di team manakah kalian? 
Diubah oleh kawan.betina
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piaupiaupiau dan 128 lainnya memberi reputasi
115
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Son of the Rich (Reborn)
09-12-2020 00:17

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 11] ~ Orang baik

Quote:
Gua akhirnya kembali ke kantor desa. Di kantor desa sudah sepi, pegawai lain tampak sudah pergi dan menyisakan bu retno dan operator yang izin untuk membeli makan siang di warung depan. Gua akhirnya duduk di salah satu meja staf disana. Bu Retno tampak sedang sibuk melihat komputer.

“Gimana sudah dilihat,” tanya Bu Retno.

“sampun bu,” Jawab gua.

“cocok sama acara kalian?” tanya Beliau kembali.

“Cocok kok bu, untuk masalah biaya sewa dan pemasangannya gimana bu?” tanya gua to the point, gua malas ngalor ngidul kesana kemari.

“Aduh kamu ini bahas sewa sewa segala, selama ini untuk kepentingan acara acara di desa, ibu gak minta bayaran apapun, Kalian kasih buat anak anak yang nanti masangin kalian aja,” kata Bu Retno.

“Aduh bu jangan...” kata gua namun ucapan gua langsung di potong bu Retno dengan tegas.

“Jangan protes protes loh ya!” Potong bu Retno.

“Baik bu, makasih sebelumnya,” kata gua tak bisa bicara apapun lagi.

“Kalau kamu gak enakan, nih bantu ibu periksa proposal dari pak kades ini aja bisa sebagai gantinya” kata Bu Retno memberikan hardcopy dan flashdisk proposal yang nanti akan diajukan ke Pemda untuk acara di kantor desa nanti.

“Aduh ini mah gampang bu,”balas gua.

“Cek kata kata, sama rincian dananya sudah pas atau enggak, ok?” kata Bu Retno.

“Baik bu tapi bantuan ini ga setara sama sewa terop bu, saya masih hutang sama ibuk” jawab gua.

“kamu ini cerewet banget ya,” kata Bu retno. “Pantesan ibu dengar kalian ada kerjasama dengan bisnis pengerajinnya Pak ali ya?” tanya Bu retno,

“Enggih bu, kebetulan ian sendiri bu, bukan atas nama team KKN,” jawab gua.

“Oh pantes kok gak ada koordinasinya dengan kantor desa,” kata bu retno.

“Aduh maaf bu, apa ian ada yang salah kah bu dengan kerjasama dengan pak ali?” tanya Gua khawatir.

“Oh gak ada kok nak ian, ibu kaget aja kemarin saat pak Ali ngobrol sama ibu. itu program yang bagus padahal kenapa gak masuk ke proker KKN kalian?” kata Bu retno.

“Agak riskan bu karena ini kerjasama berkepanjangan dan melibatkan uang juga, jadi lebih baik ini jadi urusan pribadi ian aja bu, kalau untuk team KKN terlalu ribet urusannya bu” kata gua.

“Jadi ian punya usaha sendiri?” tanya Bu Retno semakin menggali hidup gua. Zaza tampak duduk tenang mendengarkan obrolan gua dengan ibunya.

“Gak bisa dibilang sendiri sih bu, ada yang bisnis orang tua yang ian lanjutkan ada juga yang baru ian rintis bu, usaha atas nama keluarga aja bu,” jawab gua.

“Tetap aja itu adrian sendiri yang kerjakan, katanya ian dari mataram lombok kan? bukan orang jawa,” kata Bu Retno.

“Ya bu,”

“Kamu hebat ya,” Puji Bu Retno.

“ian masih banyak belajar,” sanggah gua.

“Orang tua kerja apa ian? pengusaha juga?” tanya Bu retno lagi.

“Papa kerja di tambang bu, walaupun Papa juga ada beberpa usaha juga. kalau mama Full ngurus usaha aja.” jawab gua.

“Berarti orang tua ian sibuk ya?” tanya Bu Retno.

“Ya begitulah bu,” jawab gua.

“ian punya saudara?”

“ian anak satu satunya bu,” jawab gua.

“Anak tunggal toh? Sama kayak Zaza. Pasti kamu disayang banget ya sama orang tuamu. Ibu aja awalnya gak mau lihat zaza kuliah di luar kota, apalagi sampai harus pisah sama ibu. Ibu gak sanggup dulunya” kata Bu Retno. “Tapi dia punya cita cita dan ibu harus fasilitasi itu demi kebahagiaan dia juga,” Lanjut Bu Retno.

“Enggih bu, kadang kasih sayang orang tua bikin sesak tapi ian juga harus maklumi bahwa usaha mereka untuk mengontrol ian tentu untuk kebaikan ian sendiri.” jawab gua.

“Acara kalian sampai sore kan ya? Gak sampai malam?” tanya Bu Retno.

“Ya bu?” jawab gua.

“Ibu bisa minta tolong?” tanya Bu Retno.

“Bisa bu, kalau ian bisa bantu, sekalian bayar biaya terop pakai jasa bu” jawab gua.

“kamu ini masih aja diungkit ungkit.” Protes bu Retno.

“hehehe Maaf bu,” jawab gua.

“Mau gak temenin zaza jadi pagar ayu, kamu jadi pagar bagusnya?” kata Bu retno.

“Ibuk?” Zaza sepertinya kaget dengan ide bu retno yang terlontar tiba tiba.

“Kenapa sayang?” tanya Bu Retno kepada anaknya.

“Sudah jangan,” kata Zaza setengah berbisik.

“Pamanmu kan berharap kamu ikut sayang, jarang jarang kan pamanmu minta seperti itu,” kata Bu Retno.

“Tapi?” Zaza tampak sangat Ragu karena melibatkan gua.

“Gak apa apa kok za,” jawab gua. “Gua seneng seneng aja kok, malah seru bisa jadi pagar bagus.” jawab gua.

“Tuh adrian aja mau sayang,” kata Bu Retno. Zaza tampak bingung akan protes seperti apa. “Begini loh nak Adrian. Konsep pagar ayu dan pagar bagusnya berpasangan gitu. Sepupu Zaza yang lain ngajak pacarnya untuk sebagai pendaping mereka. Zaza ini cewek sendiri sedangkan sepupu zaza yang lain cowok semua dan bawa pacar mereka untuk pagar ayu” Jelas bu retno.

“Ibu kok malah dijelasin,” Protes Zaza.

“Katanya kamu malu kalau sendiri sedangkan konsepnya pasang pasangan, ini ibu ajak ian buat temenin kamu” kata Bu Retno.

“tapi buk, jangansampai ngerepotin orang dong,”

“Gak apa apa kok za,”

“Tuh adrian aja gak apa apa za, mau ya?”

“ibuu,”

“Memang kamu mau sendiri?” tanya Bu retno lagi.

“Tapi bu?” protes Zaza

“Gak apa apa kok Za,” jawab gua.

“tapi?” zaza masih sangat ragu.

***********************************************************

Gua kembali ke sekolah untuk membantu divisi gua menyiapkan panggung. Urusan per-terop-an sudah selesai dan tinggal menunggu pemasangan besok pagi. Ghea masih tampak sibuk dengan segala macam hiasan yang menurut gua sangat sangat berlebihan walau gua gak bisa memprotes semangat mereka untuk membuat acara ini menjadi sangat meriah.

“Eh Ian? Gimana teropnya?” tanya Ghea yang baru sadar dengan kedatangan gua.

“Aman beres kok, besok tinggal dipasang aja,” jawab gua.

“Oke oke,” jawab Ghea kembali sibuk dengan segara urusannya.

“Kayaknya Bu Retno gak suka deh sama gua,” kata Vania. Gua baru sadar vania ada disana dengan gilang padahal tadi izinnya pergi bantu divisinya untuk persiapan bazar.

“Masak sih?” balas Gilang.

“Dia cuma nyapa ian aja, dia sama sekali gak pernah nyapa gua. kalau gua ke kantor desa dia juga gak pernah tuh negur gua sama sekali. Memang dia benci dan gak suka gua” kata Vania.

“Gak usah suuzon,” jawab Gilang mencoba menangkis ucapan Vania.

“Emang begitu kenyataannya, gua bukan suuzon lang” kata Vania kekeh.

“Lo ada salah mungkin sama bu Retno makanya dia gak pernah nyapa elo” kata Gilang memberikan kemungkinan lain

“Salah? Kapan gua pernah buat salah sama dia. Mungkin dia enggak suka kalau ada cewek lain yang deket deket sama ian,” kata vania jujur.

“Hah?” kata Gua kaget mendengar teori Vania.

“Emang lo deket sama ian?” kata Gilang Skak Vania untuk menguji teorinya tentang perasaan vania kepada gua.

“Maksud gua, gua kan sering pergi ke kantor desa itu sama Ian. Gak pernah sendiri jadi kayaknya dia kesal sama gua gara gara itu. Dia jodohin anaknya kan sama elo ian?” tanya Vania.

“Gua gak mau berspekulasi Van, intinya bagaimanapun sikap orang ke kita yang penting kita tetap baik sama mereka,” jawab gua sok bijak.

“Gua tetap kok sopan sama beliau, tenang gua gak akan buat masalah kok walaupun dia gak suka sama gua,” kata vania membela diri.

“Berapa biayanya ian?” tanya Ghea yang tiba tiba nimbrung.

“Gratis bu bos, dipinjamkan cuma cuma sama Bu retno?” jawab gua.

“Dipinjamkan? serius nih gak pakai nyewa? Gratis?” tanya Ghea kaget.

“Ya gratis untuk sewa teropnya tapi bayar jasa yang masang aja, buat ongkos lelah,” kata gua.

“beneran nih gak pakai sewa? wah anggaran kita bisa disave banyak ini untuk dialihkan ke hadiah” kata Ghea langsung menemukan ide.

“Yakin itu gratis?” tanya Vania ragu.

“Ada sih sewanya,” jawab gua.

“Loh gimana sih? padahal gua udah seneng ada banyak sisa anggaran” Ghea malah bingung.

“Bukan uang tapi jasa aja kok” jawab gua.

“jasa apa?” tanya Vania penasaran

“Gua disuruh periksa proposal dan sudah kelar semua, lalu satu lagi gua disuruh jadi pagar bagus di acara nikahan adiknya Bu retno buat nemenin Zaza” jawab gua jujur.

“Serius? acaranya gak ganggu acara kita kan” tanya Ghea.

“Aman, acaranya malam kok,” jawab gua.

“Terus elo setuju begitu aja?” Vania tampak tidak senang.

“Ya apa salahnya?” jawab gua bingung.

“Lo itu dimanfaatin ian? masak lo mau gitu disuruh begitu hanya agar gak bayar terop aja, jelas lo dimanfaatin oleh bu retno” kata Vania yang menurut gua tampak lebay aja.

“Perasaan biasa aja deh van,” jawab Ghea.

“Ya, gua juga kalai diminta tolong juga gak apa apa kok, Bu retno kan udah banyak bantu kita selama KKN,”Gilang ikut menimpali.

“Jadi gua gak salah dong,” jawab gua menyimpulkan dari ucapan mereka.

“Harusnya lo jangan mau dimanfaatkan kayak gitu, di sini kita bukan pesuruh yang mau aja di atur ini itu, apalagi ikut urusan pribadi mereka seperti nikahan” kata Vania.

“Kenapa dah Van? Biasa aja menurut gua” kata Ghea bingung.”Gua Lanjut kerja aja dah,” kata Ghea kembali menuju panggung. Vania juga tampak kesal dan memilih pergi meninggalkan sekolah tanpa bicara satu patah katapun.

“Bener kan gua bilang ian, dia tuh suka sama elo,” kata Gilang menyimpulkan apa yang terjadi dengan Vania.

“Hah Vania? suka sama ian?” Ghea tiba tiba nongol lagi diantara gua dan gilang.

“Spekulasi gilang emang ngawur ghe, jangan didengerin.” sanggah gua.

“Kurang bukti apalagi sih ian? Nunggu dia nembak elo duluan? Gak gitu dong cara kerjanya. Yang bahya itu adalah rasa yang terucap kata. Biasa ini yang banyak merusak banyak hal,” kata Gilang sok mengerti cinta.
“Tapi menurut gua...” Ghea tampak berfikir.

“Masak elo gak ngerasa Ghe?” kata Gilang.

“Hmmm ah bingung ah gua, males ah gua ngurus perasaan orang, mending gua urus proker ini aja,” kata Ghea yang kembali menuju panggung untuk membantu anak pendidikan yang lain.

“Masih ragu sama ucapan gua?” tanya gilang kepada gua.

“Omongan elo gak berdasar kali lang,” jawab gua.

“Intinya jangan buat ribut aja ya, lo jangan terlalu baikin anak orang tapi jangan lo hindari juga. Lihat situasi, lihat fattah, jangan sampai terendus oleh orang lain,” kata Gilang.

“Kenapa gua harus punya tanggung jawab seperti itu juga, tanggung jawab terhadap perasaan orang lain. Gua pengen juga dong beraktivitas tanpa beban apapun.” jawab gua.

“Lo jadi orang baik aja di sini ian,” kata Gilang.

Ucapan gilang itu tiba tiba membuat gua berfikir bahwa apakah selama ini gua sudah menjadi diri gua sendiri. Apakah sikap gua, keputusan yang gua buat, dan tindakan gua yang cari aman ini adalah yang gua inginkan selama ini. Dengan menaruh beban dipundak gua adalah cara yang tepat? mungkin gua hanya mendengar nurani gua saja tanpa pernah mendengar hati kecil ini inginnya apa? Mungkin dia ingin bebas menyukai siapapun, bebas melakukan apapun tanpa beban beban semu yang selama ini merasa gua pikul.

“lalu pada pengertian menjadi orang baik? baik untuk perasaan orang lain? atau baik untuk diri sendiri”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 53 lainnya memberi reputasi
54 0
54
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Son of the Rich (Reborn)
26-11-2020 17:18

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 4] ~ Masalah Pertama

Quote:
“Vania itu cakep ya? padahal udah dua setengah tahun gua di MIPA baru tahu gua ada anak Fisika kayak Vania.” Kata Heri. Kami para cowok duduk bersama di teras depan penginapan untuk sarapan pagi dan sekedar minum Kopi. “Yang gua tahu tuh ada dulu anak biologi cakep banget tapi pindah kayaknya, karena gua gak pernah lihat lagi,” Lanjut Heri.

“Friska maksud lo?” tanya Gilang.

“Eh ya bener bener, Friska namanya. Lo kenal lang?” tanya Heri penasaran.

“Kenal gua, tuh mantannya,” Gilang menunjuk Gua.

“Ian? Bahaya kawan kita satu ini, lo mantannya si Friska itu?” tanya Heri.

“Ngawur lang. Friska cuman temen doang. Gua gak pernah pacaran sama dia,” Sanggah gua.

“Terserah anggapan elo ian tapi kalau dibawain makan, disamperin tiap hari, dijemput kuliah, ditemenin pas lagi sakit. Menurut lo her? udah lebih dari cukup kalau disebut pacaran kan?” Debat Gilang.

“Bener tuh, mantan gua aja gak seperhatian gitu.” jawab Heri. Gua memilih buat gak menanggapi mereka.

“ini gak ada yang demen sama Vania kan? Kalau ada, bilang dari sekarang nih biar gua mundur teratur?” tanya Heri.

Semua diam. Gua melirik Fattah, dia tampak cuek aja seraya meminum kopinya. Setahu gua mereka punya hubungan khusus, gua pernah gak sengaja memergoki mereka sedang duduk berpegangan tangan di gazebo kampus selepas rapat persiapan KKN. Waktu itu kunci kosan gua jatuh dan gua balik mencarinya di tempat gua rapat. Lalu gua gak sengaja memergoki mereka sedang bermesraan.

“Kalau gak ada, tolong yang lain yang mundur teratur ya?” Ancam Heri.

“Pede banget lo Her, Belum tentu Vania mau sama elo,” Sirik Thomas.

“Namanya juga usaha Thom, harus pede dong,” Kata Heri meyakinkan dirinya sendiri.

Gua sejak tadi tak berhenti memperhatikan ponsel gua. Sinyal di ponsel gua sama sekali tidak ada, kesal juga rasanya gak bisa menghubungi kawan kawan yang lain. Apalagi gua ingin tahu kabar dari Ipeh.

“Kok kalian belum pada siap siap sih!” Omel Kasih yang tiba tiba datang dengan suara menggelegar. “Kan udah dibilang jam 7.30 semua udah siap buat kegiatan, gak pakai briefing-briefing lagi.” Lanjut kasih. Teman teman cewek lain juga sudah datang berkumpul di teras depan.

“Kaget gua kasih!” kata Gilang. “kami udah siap kok, tinggal pakai almamater doang,” Sanggah gilang.

“Tuh kalian masih pada belum selesai makan! jadwal sarapan kan jam 6.30 sampai sekarang kalian masih makan! Dasar lelet!” kata kasih. Fattah dengan cepat mengalihkan pembicaraan.

“Kasih temenin gua ke rumah pak Kades, Vania dan Adrian juga biar agak ramai. Yang lain langsung kerjakan sesuai hasil rapat tadi malam ok?” kata Fattah.

“Kok mendadak?” tanya Kasih. Fattah tidak bicara apa apa dia hanya berjalan keluar halaman. Vania, Kasih dan Gua langsung mengikuti Fattah dari belakang. Kami Jalan kaki menuju rumah pak kades karena jaraknya tidak terlalu jauh. Di tengah jalan di depan lapangan kosong Fattah tiba tiba berhenti.

“Lo bisa gak jangan asal nyerocos kayak tadi!” kata Fattah kepada kasih. Kasih tampak kaget dan kebingungan.

“Lo tahu gak tadi ibu yang punya rumah denger omongan lo! Kami itu baru makan karena makananannya baru Jadi. Lo asal teriak gak lihat situasi! kalau pemilik rumah tersinggung gimana” kata Fattah dengan suara yang cukup keras dan penuh amarah.

“Ya, maaf kan gua gak tahu. kalian sih...” kata kasih.

“Kalian apa? lo itu gak bisa jaga congormu itu,” kata Fattah.

“Fattah!” Tegur Vania.

“Lo juga diem,” kata Fattah emosi.

“Diam? lo yang diem? Lo ini koordinator Desa harus lo bisa tenang. masak masalah begini aja pakai emosi!” Kata Vania.

“Biar kalian gak seenaknya, mulut dijaga!” kata Fattah. Gua mendekati fattah lalu mendorongnya dengan pelan menjauh dari kedua gadis itu.

“Lo kenapa pak kordes? Kalem tolong kalem. tenang,” kata gua.

“Mereka itu gak bisa jaga sikon, mereka kira ini masih di rumah mereka, masih di malang,” gerutu Fattah.

“Sikap lo tadi juga gak dewasa Pak, Gak harusnya lo tegur kasih sekeras tadi. Ini saran gua pak kordes. Pisahkan urusan pribadi sama urusan KKN ini,” kata gua. Fattah terdiam sejenak.

“Kalau lo khawatir dengan Vania, Vania gak akan mau sama cowok kayak Heri, tenang Pak Kordes,” kata gua. Kasih tampak berlinang air mata, Vania mencoba menenangkannya.

“Gimana? kita jadi ke Pak kades dengan kondisi begini?” tanya Vania. “Gimana Pak Kordes?” lanjut Vania. Fattah masih berfikir.

“Lo aja yang pergi Van sama Kordes, gua sama Kasih balik aja. Pak Kordes butuh sekertaris buat catat hasil rapat sama Pak kades nanti,” kata Gua.

Walau terlihat agak berat Vania akhirnya menyetujui Usul gua. Fattah pergi menuju Rumah pak kepala desa sedangkan Gua kembali dengan kasih menuju penginapan. Kasih tampak masih shock dengan ucapan kemarahan Fattah tadi. Sampai di penginapan cowok gua langsung ke dapur mengambilkan kasih minuman.

“Loh kok ada anak gadis nangis? ada apa?” kata Ibu pemilik penginapan. Ibu itu sudah cukup tua dan tinggal berdua dengan suaminya. Anak-anaknya sudah menikah dan punya anak di luar kota. Bu Dewi namanya.

“Aduh maaf b, tadi ada masalah sedikit, biasa bu cekcok anak muda” jawab gua karena Kasih masih tidak bisa menjawab.

“Baru hari pertama lo,” kata Bu dewi.

“Kasih habis dimarahi pak ketua Bu gara gara omongan kasih tentang sarapan yang terlambat, Pak ketua gak enak karena katanya ibu dengan ucapan Kasih,” kata Gua jujur. kasih tambah shock mendengar kejujuran itu. Dia menatap Bu dewi dengan rasa bersalah.

“Astaga anak anakku sayang, kalian sampai segitunya. Ibu lo gak apa apa, ibu gak marah dan tersinggung.” kata Bu dewi.

“Maafin ucapan kasih bu,” kata kasih dengan terbata bata.

“Gak perlu maaf maaf, wong ibuk lo gak marah. Aduh kok ibu malah seneng sekali ya,” kata Bu Dewi.

“Kok seneng bu?” tanya Kasih heran.

“karena ini menunjukan kalau kalian ini anak yang baik hatinya, lembut sifatnya, rasa sungkan menyakiti orang itu penting sekali untuk hidup kalian kedepannya,” nasihat bu Dewi. Bu Dewi lalu duduk di dekat Kasih dan memeluk gadis itu dengan erat.

“Sudah jangan nangis ya, kok ibu jadi ingat anak ibu yang sulung. Kayak kasih ini sifatnya. Keras vocalnya tapi lembut hatinya,” kata Bu dewi.


*************************************

Hari pertama KKN gua selanjutnya berjalan cukup baik, gua pergi ke sekolah sekolah untuk memulai program program di Divisi gua. Dari program bimbingan belajar sore, Les tambahan bahasa asing, kegiatan seni seperti bernyayi dan bermain drama serta ada juga sosialisasi cerdas cermat yang akan dilaksanakan di pertengahan KKN nanti.

Tak ada masalah yang berarti, semua berjalan sesuai Plan. Bahkan Plan Heri untuk mendekati Vania sudah terlihat walau seperti dugaan gua, Vania tampak mencoba menghindari Heri. Fattah juga tampak memberi heri banyak tugas sehingga cowok itu mulai sibuk dengan tugas tugasnya. Malam itu evalusi team berjalan cepat. kami dari Divisi pendidikan berkumpul seusai evaluasi.

“Kita kayaknya harus hilangkan salah satu proker deh, antara bernyanyi atau drama. Karena kita gak akan sanggup handel semuanya. Apalagi Pak kordes ada proker tari untuk team inti. Kita bisa kelabakan ngatur bocah bocah SD ini,” kata Ghea selalu ketua divisi.

“Kita pilih Nyanyi aja,” kata Chua. “ Ngajar nyanyi lebih gampang,” kata Chua kembali.

“Alat musiknya gak ada loh, nih sih gilang pas survey katanya ada piano” kata Thomas.

“maaf sih, kan memang ada piano di gudang sekolah. Gua gak tahu aja kalau pianonya sudah rusak bertahun tahun yang lalu” Balas gilang.

“Bisa diperbaiki?” tanya CHua.

“Bisa tapi semua Dana KKN kita habis buat itu, mau?” kata Gilang.

“Ogah!” balas Chua.

“Kita pertahankan Drama aja tapi pakai sistem kabaret aja. Konsepnya drama tapi dialog, vocal dan musiknya itu dari rekaman. jadi secara gak langsung seni nyanyi juga masuk kan? tinggal cari musik lalu kita rekam suara anak anak itu.” kata Gua.

Teman taman gua tampak setuju, kami mulai membahasnya lebih dalam lagi. Mengambangkan cerita dan mencoba memprediksi hal apa saja yang akan kami perlukan untuk mengeksekusi program kerja kami. Disaat itu tiba tiba Ponsel CHua berbunyi.

“Lo ada sinyal Chua?” tanya gua kaget.

“Ya kadang ada, ini sekarang ada walau sedikit,” jawab Chua.

“Gua boleh pinjem hape lo gak buat nelfon?” kata gua cepat.

“Boleh aja tapi pulsanya gak banyak,” kata Chua.

“nanti gua isiin yam boleh ya,”

“Boleh, ini.” kata chua memberikan ponselnya.

“Gua izin bentar ya,” kata gua semangat mencoba sedikit menjauh dari mereka namun tidak jauh jauh amat karena takut sinyalnya hilang.

“Hallo ehem! hem,” Suara itu terdengar agak serak. “hallo ini siapa? Bisa telfon nanti gak? karena masih evaluasi,”

“Peh? ini ian?”

“ian?” kata suara di balik telfon agak berbisik. “Eh izin bentar ya nyokap gua nelfon.” kata Ipeh keras. “Oke” kata suara di sebelah Ipeh.

“Mbel? di sana ada sinyal?” kata Ipeh semangat.

“Di ponsel gua gak ada, tapi di ponsel temen gua kebetulan ada,”

“Lo apa kabar? lo sehat kan?”

“Peh gua yang harus nanya? lo apa kabar? suara elo serak gini loh” kata gua.

“Gua sehat kok Mbel, kebanyakan ngomong aja kok makanya serak,” jawab Ipeh.

“Badan lo anget” kata gua.

“gak hanget kok,”

“maksud gua badan lo anget pas kemarin lo meluk gua. Yakin lo gak apa apa?”

“Mbel gua gak apa apa, kan emang gua ini menghangatkan mbel, masak sih lo baru tahu hehehe.” kata Ipeh bercanda.

“Lo itu masih sempatnya bercanda, gua serius lo,”

“Ya Mbel, gua sehat walafiat,”

“Syukurlah kalau gitu. Doni sama bobi pernah main kesana?” tanya gua.

“Besok mereka mau ke sini, di desa gua ada indomaret sama resto friedchiken gitu. “ kata Ipeh.

“lah kok enak banget sih, itu mah bukan KKN namanya,” kata gua.

“hehehe iya sih, tapi bagian rumah warganya agak dalam kok. kalau di jalan raya memang cukup modern sih. “ jawab ipeh. “hari ini kelompok lo aman kan?” tanya Ipeh.

“Sampai sekarang sih aman aman aja,” jawab gua.

“Seneng dengernya, lo juga terdengar bahagia Mbel,” kata Ipeh.

“Bahagia gua bisa nelfon elo,”

“Hahah lo mah, bisa gak lo terus kayak gini?” kata Ipeh.

“maksud lo peh?”

“Terus bahagia, gua seneng adrian yang semangat, ceria, berambisi dan selalu senyum dan optimis, walau gua sekarang gua gak bisa lihat lo ya tapi gua yakin lo lagi senyum,” kata Ipeh.

“Ya gua lagi senyum kok, kok tiba tiba lo ngomong begitu sih peh,”

“Gak ada sih cuman gua bahagia aja lo bisa lebih ceria. Gimana kalau lo janji lo gak boleh sedih di depan gua. Bosen gua hibur lo terus, putus sama ini, ditinggalin sama cewek itu. dasar gembel plaboy,” kata Ipeh.

“heheh, lo gak ikhlas ngehibur gua,”

“Ihlas sih tapi capek aja. janji ya lo jangan sampai sedih, nangis, di depan gua lagi. Jangan sampai lo di KKN ini deket sama cewek terus malah lo sedih karena cewek itu udah punya pacar terus lo patah hati dan nangis nangis lagi di depan gua.” kata ipeh. “ males gua bayanginnnya.” Lanjut Ipeh.

“Gak akan gitu kali peh, gua di sini niatnya KKN doang kok. janji deh gua gak akan pernah sedih di depan lo lagi seumur hidup gua. Kalau gua melanggar gua siap di ketekin,” kata Gua.

“hahaha berani juga, ya. Tapi Kalo diketekin doang mah elo udah kebal. Intinya lo gak boleh sedih di depan gua oke?”

“Siap Pak bos,” kata gua.

“Peh...?”

“Peh..?”

“Ah sial sinyalnya ilang,”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomoredualcore dan 48 lainnya memberi reputasi
49 0
49
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Son of the Rich (Reborn)
08-12-2020 17:47

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 9] ~ Kesempatan kedua

Quote:
Sepulang dari rumah pak kepala Desa gua langsung menemui Marta yang sedang duduk berdiskusi dengan Zai. Misi gua kali ini sederharna, gua hanya ingin membuat sisa hari KKN gua berjalan damai tanpa ada konflik kepercayaan seperti ini lagi. Terlepas dari siapapun yang salah tetap saja peristiwa seperti tadi pagi membuat hati gua gak tenang. Saat gua akan menyapa Marta dan Zai, Rani salah satu angota divisi kesehatan menyapa gua terlebih dahulu.

“Adrian?” panggil Rani.

“Hai Ran,” jawab gua. Rani tampak murung dan merasa bersalah.

“Gua minta maaf,” kata Rani.

“Buat?” tanya gua.

“Gua harusnya menjelaskan ke divisi gua kalau elo gak salah tapi gualah yang salah. Gua harusnya lebih tanggung jawab dengan tugas gua masalah LCD proyektor itu. Maaf banget ian,” kata Rani.

“Udah Ran, kita saling memaafkan ya?” balas gua.

“Lo gak salah ian, gua yang salah,” kata Rani kekeh.

“Oke oke, intinya kedepannya kita harus saling supoort dan saling mendengarkan satu sama lain,” kata Gua.

“Ya Adrian, harusnya gua banyak berterima kasih sama elo karena lo banyak bantu gua,” jawab Rani.

“Ya sama sama Ran, oh ya Senam Lansia itu dulu ide elo kan?” tanya gua.

“Ya benar tapi gak masuk program kerja,” jawab Rani.

“Elo paham gerakannya atau teknisnya gimana?” tanya gua.

“Sangat paham, kebetulan gua sering nemenin nenek gua senam. Jadi gua akhirnya ikut komunitas itu dan belajar langsung dari instrukturnya. Bisa dibilang gua ada sertifikatnyalah” jawab rani.

“Wah untung banget, gua habis ketemu Pak kades. Beliau ingin ada program kerja jangka panjang yang bisa diterapkan di desa ini. Gua tawarkan senam lansia ini. beliau tertarik banget bahkan sampai berniat mengajak desa sebelah untuk bergabung. Kebetulan di desa ini banyak Lansia. Tahu sendiri anak mudanya lebih banyak kerja dan belajar di luar kota. Program ini bisa jadi pengganti proker kalian yang rusak kemarin. Gimana?” tanya gua.

Rani tak bicara apapun dan langsung menarik tangan gua menuju ketua Divisinya marta dan juga Zai yang sedang mengobrol.

“Jelaskan lagi ian kepada mereka,” kata Rani saat kami sudah berada di depan zai dan martha. Gua lalu menjelaskan kembali ide yang gua lontarkan kepada Pak kades tadi. Zai dan martha tampak sangat antusias. Kami akhirnya berdiskusi panjang mencoba membahas konsep dan teknisnya. Kecanggungan yang terjadi siang tadi seolah lenyap seketika diganti oleh semangat diskusi yang membara. Cukup lama kami duduk berempat sampai lama lama diskusi itu ramai oleh anggota divisi kesehatan yang lain.

“Oke jadi konsepnya fiks begini ya?” kata Martha.

“Fiks bu bos.” kata Zai.

“Wah gua jadi semangat lagi,” kata rani.

“Gua udah bisa pergi dong ya?” Izin gua kepada divisi kesehatan.

“Bisa ian,” jawab marta ramah. “hmmm Maaf, gua mewakili divisi kesehatan minta maaf atas kejadian tadi ian,” lanjut marta.

“Oke, gak apa apa kok. intinya kita damai ya?” kata Gua.

“Ya kita damai,” jawab Martha.

“Nah gitu dong, gua gak pengen cari musuh di sini, kan lebih enak kalau gua dapat pacar aja,” Canda gua.

“Lo bisa aja, tuh kan ada vania?” sindir martha.

“hah vania?”

“Ya kan dia selalu aja di sisi elo kalau debat di forum kalau debat sama fattah” kata Martha.

“Vania mah punya pak kordes,” kata Gua.

“hah?” semua orang kaget mendengar ucapan gua.

“Fattah?” tanya Zai.

“Ya? kalian gak tahu?” tanya Gua.

“masak sih?” Rani terlihat kaget banget.

“Bukannya mereka bersitegang mulu ya?” lanjut Zai.

“Orang yang pacaran juga sering kelahi kali.” jawab gua,

“Pantas aja gua pernah liat Vania bicara berdua sama Fattah, mereka serius banget. Gua kira mereka lagi kelahi masalah program kerja tapi kalau gua ingat-ingat kembali perkelahian mereka kayak orang pacaran sih,” kata salah satu anak kesehatan. Tiba-tiba mereka saling menimpali omongan satu sama lain, saling membenarkan bahwa mereka pernah memergoki keromantisan antara Vania dan Fattah yang awalnya mereka kira sebuah pertikaian.

“Aduh gimana dong?” kata Zai.

“Gimana apanya? Kita harus ikut bahagia dong. Teman kita pacaran mah kita dukung aja. Gak ada yang dirugikan kan? kalau kalian pacaran juga gak mau dong malah dibuat jadi masalah,” jawab gua.

“Ya juga sih.” Balas Rani.

“Ya kita dukung aja, Vania juga baik, fattah juga baik,” kata Zai.

Gosip itu menyebar dengan sangat cepat dan sampai di telinga Vania dan Fattah. Mereka berdua akhirnya menyeret gua ke kamar Vania yang terletak di penginapan putri. Anak anak yang lain sedang ada di teras penginapan putra menunggu Rapat evaluasi malam di mulai.

“Maksud lo apa sih ian nyebarin hubungan kami berdua?” Bentak Vania kepada gua.

“kalau lo gak suka sama gua, Gak gini caranya ian,” Sahut Fattah.

“Kelompok ini terlalu tegang, Van, Fattah.” kata gua.

“Terus apa hubungannya dengan hubungan kami ini,” Sanggah vania.

“Emang ada apa dengan hubungan kalian sehingga harus disembunyikan?” tanya gua.

“Karena? Karena,” Vania tidak mampu menjawab.

“Karena kami nanti dikira tidak profesional,” Lanjut Fattah.

“Stop kita gunakan kata Profesional untuk kegiatan ini, kita selama ini terlalu tegang. Kita harusnya lebih santai, lebih slow. Dengan menyebarnya hubungan kalian gua kira suasana kelompok kita bisa lebih cair. teman teman gak ada yang protes kok, mereka malah senang.” kata gua.

“Kalau kepercayaan teman taman malah menurun kepada gua gimana?” tanya Fattah.

“Jangan berfikir sejauh itu, selama ini juga hubungan lo sama anak anak juga gak baik baik amat juga kok Fattah. Lo terlalu susah didekati sehingga ada jarak yang lumayan. Dengan begini gua rasa kelompok kita akan lebih baik kedepannya.”Jawab gua.

“Lo terlalu optimis dan gak punya jaminan akan berjalan seperti yang lo rencanakan bukan?”

“Terus kita harus gimana lagi buat mengatasi masalah ini? Masak kalian berdua gak mau berkorban? demi kelompok ini, mungkin akan canggung karena kalian akan di cie ciekan kayak bocah tapi gua rasa kelompok ini akan lebih cair.” jawab gua.

“Gua gak paham pola fikir elo ian,” jawab Fattah.

“Pak kordes, gua gak ingin ada masalah apa apa lagi. lo mungkin udah dengar dari team kesehatan tentang proker baru mereka. Itu adalah niat baik gua untuk mengakhiri perang dingin ini. Gua pengen kita damai aja. Fattah? Vania?” kata gua.

“Lo berhutang banyak maaf dan terima kasih sama gua pak kordes tapi gua gak butuh itu namun yang gua butuhkan adalah KKN yang tenang dan berkesan,” Lanjut gua. “Bisa kita lebih santai dan terbuka lagi?” tanya gua.

Vania menatap fattah lalu mengangguk kearah pacarnya itu.

“Gua minta maaf, Ian,” kata Fattah. Vania tampak tersenyum.

“Melihat kalian saling support begini secara langsung gua rasa akan berdampak positif sama kelompok kita daripada harus melihat adegan berentem kalian di forum, jengkel gua lihatnya” lanjut gua.

“Lo yakin ini akan berjalan lancar ian?” tanya Vania.

“Gua yakin 1000%, setidaknya Heri gak akan lagi deketin elo lagi dan Fattah gak akan kasih dia tugas tambahan ke heri seperti biasanya” sindir gua kepad mereka berdua.

“Gua gak bermaksud jahat sama heri,” kata Fattah.

“Ya gua paham kok, Heri emang agak annoying kalau deketin Vania, kalau Vania pacar gua, gua mungkin akan lakukan hal yang sama,” kata gua.

“Begitu?” kata Fattah mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Ya, mungkin gua lebih parah.” jawba gua.

“Kok gua masih belum yakin ian,” kata Vania ragu.

“Biarkan waktu yang menjawab van, kita lihat nanti di rapat evaluasi, teman teman akan marah atau mereka akan heboh cie ciein kalian,” kata gua.

Dan ternyata dugaan gua 120% benar bahkan melebihi apa yang gua bayangkan. Evaluasi kali ini berjalan dengan penuh tawa dan cie cie untuk Vania dan Fattah. Bahkan Heri yang menjadi korban fattah tidak marah sama sekali malah menceritakan bagaimana fattah mengerjainya untuk melindungi agar vania menjauh dari dirinya. Peristiwa itu ternyata dianggap romantis oleh teman teman yang lain. Mungkin juga karena Heri berharap kepada Zaza sehingga ingin lepas dari bayang bayang Vania jadi dia langsung bisa berdamai dengan kenyataan.

Evaluasi kali ini berjalan penuh canda namun sangat efektif, persiapan senam lansia yang gua usulakn direspon dengan sangat baik oleh team kesehatan sehingga ide itu menjadi jauh lebih baik dan variatif. Semangat dari team kesehatan juga menambah semangat team lain termasuk ketua divisi gua, Ghea. Ghea tampak tak mau kalah menjabarkan tentang proker cerdas cermat yang akan kami lakukan dua hari lagi. Bahkan ada yang membahas persiapan pensi yang akan dilakukan pada akhir dari acara KKN kami nanti. Malam itu terasa sangat menyenangkan.

“Happy ending?” kata gilang.

“Semoga saja semangatnya bisa bertahan seperti ini,” jawab gua.

“Kalau gua jadi lo mungkin gua udah ngamuk ngamuk ian, lo malah mencoba cari solusi dari semua ini,” kata Gilang.

“Gua gak mau ribet aja lang, gua gak ingin ada musuh gak ingin punya dendam. Lebih enak hidup damai aja dan fokus sama visi pribadi yang kita miliki,” jawab gua.

“emang visi dan tujuan elo apa?”

“Sederhana aja, dapat koneksi baru dan cepat pergi dari tempat ini dan kembali ke dunia nyata,” jawab gua.

“Emang menurut elo sekarang bukan dunia nyata?” tanya Gilang.

“Menurut gua KKN ini tidak benar benar nyata, status kita sebagai mahasiswa sudah menjadi privilege yang lebih di mata warga desa. Kita cukup dihormati dan dianggap orang yang berpendidikan. Bayangkan kalau hal ini bukan dalam rangka KKN, apa lo yakin semua program kita bisa berjalan lancar seperti ini? Kalau gua mah gak yakin, makanya gua memanfaatkan kesempatan ini untuk diri gua jangan sampai hal ini jadi sia-sia,” jawab gua.

“Lo bisa-bisanya kepikiran sampai sana ya?”

“Dan elo KKN ini dapat apa?” tanya Gua.

“Dapet hatinya chua,” jawab Gilang.

“Chua? elo deket sama chua?”

“Mungkin sedikit lagi lah tapi gua rasa kami banyak kecocokan,”

“KKN kisah kasih nyata ya, hebat sekali anda” sindir gua.

“Elo kan juga sama, tuh anaknya bu retno kayaknya mau elo embat juga kan? Zaza ya namanya.” kata Gilang.

“Ye, baru juga ketemu sekali Lang. eh dua sih,” jawab gua. “Kemarin ketemu gua sama dia di rumah pak kades tapi kan Heri udah ngincer tuh,” kata Gua.

“yah heri elo andalin, dapatein Vania aja gagal apalagi zaza. terlalu baik untuk jadi kenyataan,” kata Gilang.

“hahaha elo mah jahat sama temen sendiri,” kata Gua.

“Gua kan cuman realistis bro,” kata gilang. “Hmmm.. lo harus hati hati sama Vania ian,” kata Gilang.

“vania kenapa? kenapa gua harus hati hati,” jawab gua.

“kayaknya dia ada rasa deh sama elo,” kata Gilang.

“eh ngawur aja sih elo, kan udah gua sebarin tuh kalau dia udah jadian sama Fattah sejak sebelum KKN,” jawab Gua.

“Makanya hati-hati aja, gua bilang hati hati karena gua udah tau dia punya pacar.” kata Gilang.

“Ngapain gua hati hati kalau dia udah punya pacar? kan harusnya aman” jawab gua.

“Karena bisa aja Vania nekat nyari perhatian elo dan malah membuat masalah baru antara elo dan fattah,” kata Gilang.

“Eh jangan ngasal lah, aduh elo lang kebanyakan ngayal.”

“Ini peringatan aja Ian, agar lo waspada. Kadang cewek tuh punya tipu muslihat melebihi cowok. apalagi untuk orang seperti Vania,” kata Gilang.

“Semoga aja enggak lah,” jawab gua.

“Semoga saja,” jawab Gilang.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 47 lainnya memberi reputasi
48 0
48
Son of the Rich (Reborn)
29-11-2020 21:20

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 7] ~ Peradilan tersangka

Quote:
Hanya dengan berkomunikasi lewat ponsel sudah cukup membuat hari ini menjadi hari yang cukup bahagia buat gua. Benar kata orang, semakin kita jarang bertemu maka kita akan semakin menghargai sebuah pertemuan walau ini hanya melewati alat bantu handphone. Perasaan lega dan bahagia ini ingin gua jaga lama lama untuk membangun mood gua selama KKN ini berlangsung. Sepanjang perjalanan pulang menuju Desa, gua bersenandung riang mencurahkan hati gua yang rasanya berbinar binar. Gilang pun sama, dia tampak cukup bahagia walau gua gak tahu apa alasan gilang semangat seperti ini.

Namun senandung gua terhenti saat gua sampai di basecamp, tepatnya di teras depan penginapan cewek. Seingat gua, kami gak ada jadwal rapat besar hari ini kecuali nanti saat evaluasi di malam hari. Namun Siang menjelang Sore itu semua anggota kelompok berkumpul di teras depan, bahkan tampak masih ada Naya yang masih berbicara dengan kordesnya.

Saat gua tiba, Chua memberikan isyarat agar gua pergi dari sana. Tapi di lain sisi Ghea tampak menyuruh gua untuk masuk ke dalam Forum. Gua mencoba menganalisa apa yang terjadi. Dari wajah mereka sepertinya ada hal yang buruk telah terjadi selama gua tidak ada di sana. Di pojok teras tampak ketua Divisi kesehatan, Marta berlinang Air mata di sampingnya ada Zai anggotanya yang tampak kesal dengan apa yang terlah terjadi.

“Seminar ini Program Kerja Utama kami! Harusnya hal ini jadi prioritas kita bersama, tapi kenapa jadi berantakan seperti ini! Kalian bilang kita harus sinergi! kalian bilang kita harus kompak, tapi giliran kami bekerja kenapa yang lain hanya menjadi penonton bahkan gak ada yang ikut membantu!” Teriak Zai marah.

“Kalian semua egois! kalian hanya memikirkan program kerja kalian saja!” kata Zai.

“Kenapa kalian gak bisa profesional!” Kini Fattah ikut bicara. “Ghea! tadi malam gua sudah tegur divisi kalian agar lebih fokus lagi bukan hanya ongkang ongkang kaki saja!” Marah Fattah.

“Gua gak ongkang-ongkang kaki Pak Kordes, tamu rapat gua aja masih di sini. Gua ada agenda juga hari ini.” Kata Ghea membela diri. Naya tampaknya sudah merasa tidak nyaman. Entah kenapa dia masih di sana dan tidak pergi.

“Anggota pendidikan ada banyak tapi kemana semuanya hari ini? sekarang bahkan ada yang baru nongol celingak celinguk gak paham apa apa,” Sindiri Fattah.

“Ada apa sih thom,” tanya Gilang ke Thomas berbisik.

“Nanti aja gua jelasin, kalian kemana aja sih?” kata Thomas.

“Pak kordes, kami sudah menawarkan bantuan tadi malam tapi divisi lain bilang bisa handel sendiri. Kami juga pagi ini ikut briefing pagi tapi divisi kalian sibuk sendiri. kami bukan mentalis yang bisa baca fikiran orang.” Balas Ghea karena dia merasa anggotanya dipojokkan.

“Walau tidak ada ucapan secara lisan harusnya kalian juga ada di sana,” kata fattah.

“Lalu kenapa saat program kerja kami kalian selalu tak pernah ada, bahkan hanya sekedar jadi guru les tambahan untuk anak SD. Satupun gak ada yang bantu kami, padahal kami minta. Apa kami pernah protes? enggak. Apa kami pernah marah marah? enggak. Sekarang kami seolah jadi tersangkat utama.” balas Ghea.

“Ini bukan kompetisi ghea, bukan siapa divisi paling baik, mana yang paling hebat. tapi ini kerja team. Gua ada di sini agar semua kordinasi berpusat kepada gua.” kata Fattah.

“Gua jelaskan lagi apa yang terjadi biar kalian tahu bahwa ini bukan masalah main main. Acara seminar ini adalah satu dari tiga proker utama kita. Proker ini akan kita presentasikan nanti di ujian KKN di kampus. Syaratnya harus dihadiri oleh kepala Desa, lalu hari ini kepala Desa gak ada. Adrian elo hari ini kemana?” tanya Fattah.

“Adrian habis kedesa sebelah sama gua, pak,” jawab Gilang.

“Emang kalian ini senang banget melanggar aturan yang dibuat, gua sudah bilang bahwa elo tugasnya di dalam desa. Lo yang bertugas menyambung komunikasi dengan desa. Hari ini pak kepala desa gak ada, gak datang. Acara jadi berantakan, gak ada yang tahu kepala desa dimana. Semua jadi molor bahkan acara ini menjadi tidak sah karena syarat dari laporan kita nanti harus ada dokumentasi dari kepala desa.” kata Fattah.

Semua terdiam tak ada yang berani berbicara, gua hanya mencoba menganalisa semua yang terjadi.

“Lalu LCD projektor punya kantor desa yang dipakai anak pendidikan kemarin tidak langsung diserahkan ke anak kesehatan, alhasil tadi kami harus mencari lama dan ternyata rusak. Kami hanya menggunakan LCD Projektor yang kita bawa dari kampus yang kalian tahu sendiri kalau projektor itu bermasalah dan agak buram. Jelas ini menganggu dan bikin malu kita dihadapan dinas kesehatan.” kata Fattah.

“Kalian anak pendidikan hilang gak ada yang nampak satupun kecuali Thomas yang bantu bantu divisi ekonomi produksi. Harusnya kami bisa fokus dengan rundown acara malah kami harus sibuk dengan teknis teknis tidak penting seperti itu, Hancur sudah semua!” Marta si ketua Divisi akhirnya angkat bicara dibarengi dengan suara tangis.

“Gua sudah kasih tugas buat elo Adrian dan Vania untuk ada di dalam Desa. Untuk atur komunikasi dengan pihak desa. Hanya Vania yang ada di sini dan sedang sibuk dengan prokernya. sedangkan elo ian malah jalan jalan senang senang keluar,” kata Fattah.

“Gara gara ulah orang lain divisi kami jadi berantakan.” kata Zai.

“Kenapa kegagalan kalian malah dilimpahkan ke kami semua,” Protes Ghea.

“Karena memang semua itu karena kesalahan divisi pendidikan gak tidak bertanggung jawab dengan alat dan melanggar aturan yang dibuat kita bersama,”kata Zai.

“Gak bisa gitu juga memyalahkan kami,” kata Ghea.

“Sebelumnya gua minta maaf karena keluar dari desa gak pakai izin. ini pertama kalinya gua pakai handphone gua setelah 10 hari lebih. Gua cuman mau merasakan kenikmatan yang kalian rasakan yang kalau gilang bilang, kalian mungkin sudah 4 atau 5 kali minta diantarkan untuk mencari sinyal di perbatasan desa.” kata Gua.

“harusnya gua gak cari alasan tapi intinya gua minta maaf,” kata gua. Tidak ada yang menimpali, semua hanya diam.

“Gua akan menjawab masalah LCD projektor dulu, atau ada yang mau bicara sebelum gua menjelaskan?” kata gua. “Dari divisi kesehatan mungkin yang kemarin bicara sama gua?” tanya gua.

“Kemarin sih adrian bilangnya LCD punya desa gak boleh dibawa kepenginapan jadi setelah dipakai harus ditaruh di kantor desa lagi,” kata Rani salah satu anggota divisi kesehatan yang gua ajak ngomong kemarin masalah LCD Projektor.

“jadi jelas kan alasannya kenapa gua gak kasih divisi kesehatan?” jawab gua.

“Terus kamu balikin dengan kondisi rusak? dan sekarang jadi tanggung jawab kami? Bukan berarti kamu dekat dengan pengurus Desa terus kamu melempar kesalahan kepada kami,” kata Marta.

“Gua belum selesai bicara sama Rani, bu ketua divisi,” jawab gua. “Lo masih inget gua bilang apa lagi?” tanya gua kepada Rani. Rani diam.

“Jelas kamu lupa karena kemarin kamu bilang, beres kok ian. Besok dah semua gua atur. Lalu Kamu buru buru pulang karena mau kerjakan jurnal harian KKN kamu kan? ingat gak gua kasih tahu elo apa?” tanya gua kembali. Rani menggeleng ragu.

“Gua ajak elo ke kantor desa, gua mau jelaskan gimana prosedur peminjamannya, dimana letak LCD projektornya disimpan, terus sekalian gua mau kenalkan dengan operator kantor desa. Lo malah bilang beres kok besok. Gua ajak lo juga kan, ingat?” Tunjuk gua kepada teman Rani yang juga divisi pendidikan.

“Seharusnya lo punya tanggung jawab hari ini untuk memberi tahu divisi kesehatan, karena kemarin info yang lo berikan tidak lengkap.” kata Fattah memojokkan gua.

“Sekarang gua punya tanggung jawab untuk mengingatkan tanggung jawab orang lain? banyak sekali tugas gua?” tanya gua.

“Di sini bukan menbandingkan siapa yang paling hebat tapi saling membantu. saling sinergi.” kata Fattah. “kalau dirasa ada yang kurang lo ingatkan bukan membiarkan sampai ada kesalahan,” kata fattah.

“Tadi pagi sudah gua tawarkan juga tapi lagi lagi di jawab bentar ian, masih sibuk sama dekor-dekor tempat seminar. dan untuk LCD rusak? ya memang LCD itu Rusak,” jawab gua.

“Lo memang mau jebak kami kan? karena kami banyak pro sama Fattah dan elo banyak kontra bersama Vania dan yang lain,” kata Marta.

“LCD itu rusak karena memang rusak, ingat gak bu ketua divisi kalau tadi pagi gua udah bilang ke anda kalau jangan salah ambil LCD, karena Desa ada LCD baru ada LCD projektor yang sudah rusak. Mungkin anda lupa karena entah apa yang anda fikirian pagi tadi. Karena anda jawabnya oke ian nanti dulu masalah itu, gua lagi ribet masalah ini, jangan tambah bikin ribet” jawab gua.

Semua terdiam, mereka mulai mengingat kejadian tadi pagi saat beriefing pagi. Gua cukup banyak ngomong secara personal kepada divisi kesehatan untuk program kerja mereka tapi seolah mereka lupa dengan apa yang sudah gua lakukan.

“Kepala Desa bukan tanggung jawab gua. Kepala desa adalah tanggung jawab elo, elo dan elo. Elo. Elo dan Elo,” kata gua menunjuk berurutan dari koordinator desa, Fattah, sekertaris, bendahara dan ketiga kepala divisi termasuk Ghea. “Gua ini anggota KKN divisi pendidikan. Gua datang kesini sekitar 10 atau 11 hari yang lalu. Kalian pengurus inti survey kesini lebih dulu, bicara dengan kepada desa lebih dulu, akrab dengan beliau dari dulu, bahkan di jobdes kalian lah yang punya tanggung jawab.” kata gua bela diri.

“Tapi gua kan sudah bilang, Elo dan Vania bertanggung jawab untuk masalah kordinasi dengan desa. Gua di proker ini juga ada tugas sepeti yang gua jelaskan dulu. Lalu lo dan Vania yang ada diluar divisi ini yang gua mandatakan untuk menjalin komunukasi dengan pihak desa,” kata Fattah.

“Apa gua yang anter undangan?” tanya gua. “Marta jawab! Gua yang antar undangan.”

“Bukan, anggota gua.” jawab martha.

“Lalu dia ngasih siapa? pernah dia kordinasi ke gua agar gua mastiin kepala desa harus datang?”

“Kepala desa bilang dia mau datang tapi tadi pagi kepala desa gak ada di tempat, beliau tidak ada di rumah dan di kantor juga gak ada.” kata orang yang ditugaskan mengirim undangan.

“Kenapa gak minta diganti sama bu retno pengurus di desa, gak harus kepala desa kan? pernah dulu ditanyakan saat pembekalan kalau syarat sahnya kegiatan inti ya boleh perwakilan desa kalau kepada desa gak bisa,” jawab gua.

“Emang bisa gitu?” tanya si pengirim surat.

“Bisa! Laporan KKN angakatan sebelumnya juga ada yang gak pakai kepala desa tapi perangkat desa yang ada bisa mewakili,” jawab gua.

“Oke, gua gak mau perpanjang masalah ini. kalau kalian mau salahkan gua silahkan. laporakan gua ke dosen pembina boleh, ke ketua KKN boleh. Laporkan dah fakta-fakta kalian ini. Gua siap tanggung konsekuansi kalau memang ini salah gua. Bahkan kalau kalian mau pakai aturan KKN mengenati rapat istimewa yaitu mengeluarkan anggota KKN dengan syarat 80% vote setuju, pakai saja. Gua gak akan melawan atau gak akan membela diri. Gua akan diam dan menerima.” kata gua.

Terjadi keheningan yang panjang hampir 5 menit. gak ada yang tampak ingin bicara sampai akhirnya.

“Anu...e gua boleh izin masuk gak mau ambil kunci motor” Kata Naya yang tampaknya sudah ingin pergi dari forum yang bukan menjadi kewajibannya.

“Oke,” jawab fattah.

“Hendra si kordes akhirnya masuk mengambil kunci motor, Naya lalu berjalan menuju jalan. Motor yang gua pakai tadi menghalangi motor Naya sehingga gua berinsitaif memindahkannya.

“Lang kunci motor, ngalangin tuh,” kata gua. Gilang lalu melempar kunci motor kepada gua. Gua lalu memindahkan motor yang dipakai kami tadi ke tempat lain.

“Sabar,” kata naya.

“ya?” kata gua gak fokus.

“Sabar,” kata Naya lagi. “Sabar ini ada dua arti, pernyataan dan harapan. Pernyataan kalau elo sudah menghadapi masalah ini dengan sabar dan harapan agar lo tetap sabar dan jangan sampai terpancing emosi,” kata Naya.

“Thanks.” jawab gua.

“Gua tahu fattah dan cara elo ini sudah sangat tepat buat hadapin dia,” Bisik Naya.

“Thanks, gua dapat pujian dari kepala divisi yang kelompoknya berharap ketuanya pacaran sama kordes, itu gosip di kelompok lo ya, damai banget” kata gua.

“hahaha bisa bisanya lo bencanda di saat begini,” kata Naya.

Sesaat kemudian Naya pergi meninggalkan desa. Sementara kelompok KKN gua bubar satu persatu setelah fattah mengumumkan untuk rapat dilanjutkan nanti malam pukul delapan seperti biasa. Tidak ada penyelesaian, tidak ada tanggapan dari ide gua tadi.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 47 lainnya memberi reputasi
48 0
48
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Son of the Rich (Reborn)
22-11-2020 15:36

[BOOK EXTRA][Lembaran Tambahan] ~ My Holiday 5 (TAMAT)

Quote:
Setelah dilombok tengah, kami liburan ke banyak tempat, benang kelambu, sebuah air terjun di kaki gunung rinjani, setelah kegunung kamipun berbailik arah ke pantai selatan pulau lombok, dari pantai kute sampai pantai gerupuk, dan terakhir, kami ke pantai di kawasan mataram dan lombok utara, dari pantai ampenan sampai ke gili trawangan. sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan bagi kami, walaupun bagi gua ini perjalanan yang kesekian kalinya ke objek wisata tesebut, tapi bersama mereka jadi jauh lebih indah. hari terakhir dilombok, akhirnya papa gua ada dirumah, ipeh cs akhirnya berkenalan dengan keluarga kecil gua.

Sebelum pulang, setelah berlibur hampir seminggu lebih, non stop , gua memutuskan agar ipeh cs menginap di rumah gua dua harii sebelum pulang, setidaknya agar mereka bisa istirahat, dan juga memberi waktu mama dan papa gua lebih akrab dengan sahabat gua, dan juga memberi waktu mama untuk berkeksperimen dengan ipeh, hahahaha.... dan ini malam terkahir kami dilombok, besok jam 7 pagi kamu sudah harus dibandara , untuk penerbangan ke surabaya.

"Makasih banget mbel, buat semuanya. ini jauh dari perkiraan gua, gua ga bisa bayar ini semua pake materi mbel, karena pasti elo ngabisin banyak buat gua , doni dan bobi, " kata ipeh

"sama sama peh, adanya kalian di deket gua, ga sebanding dengan yang gua habiskan untuk kalian di sini,kalian jauh lebih berharga" jawab gua

"elo emang baik mbel. jujur gua jadi sungkan manggil elo gembel, elo udah kayak big boss disini hehehe, " kata ipeh

"hahaha biasa aja lagi peh, gua masih tetap gembel kok,karena ini semua punya bonyok gua, oya elo dah beli oleh-oleh ga ?" kata gua

"aduh ian, elo beneran nanya ato lagi becanda seh?" kata ipeh

" emang kenapa, gua beneran nanya kok" jawab gua

"elo ga lihat di bawah, udah kayak kantor JNE kotak- kotak besar di mana-mana, nyokap elo malah udah nyiapan oleh-oleh segambreng buat kami, bingung deh besok bawanya," kata ipeh

"ohhh hhahaha iyya gua lupa hahaha, " kata gua

Hari-hari dilombok ditutup dengan indah, kedua orang tua gua mengantarkan kami ke bandara, sempat ada adegan tangis tangisan antara mmama gua dan ipeh, dan juga tangis licik bobi karena berhasil membajak game game gua dari kamar gua, dan juga tangis sedih doni yang akhirnya putus sama pacaranya di penghujung liburan, dan tentu tangis bahagia gua bisa memiliki orang orang baik disekitar gua.

"Ian next holiday pokoknya harus bawa dinda, kalo enggak mmama yang kesana" kata mama gua

"siap mom, tapi mereka jangan dibawa lagi ya mom, nyusahin " kata gua becanda

" iya deh ngabisin beras tapi shifa tetap di bawa ya" kaya mama ikut becandain doni dan bobi.

" yah tante, janji deh, bobi puasa senin kamis, biar ga banyak makan" kata bobi.

"haha, becanda doni , bobi, kapanpun kalian mau, kalian bisa main-main kerumah ian," kata mama gua dua jam lagi, kami sudah akan menginjakkan kaki lagi di tanah jawa, karena masih ada 4 semester lagi, perjuangan kami.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piaupiaupiau dan 44 lainnya memberi reputasi
45 0
45
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Son of the Rich (Reborn)
23-11-2020 15:07

[BOOK IV] Lembaran ke tujuh dua - masih prolog

Quote:
Kantin fakultas gua masih agak sepi, mungkin ini terlalu pagi untuk kami nongkrong di sini, cuman ada satu outlet makan yang buka, kami memesan berapa roti bakar dan teh manis sebagai pengganjal perut, entah kenapa kami datang sepagi ini, tidak ada alasan yang jelas tapi ini hampir jadi kebiasan kami selama semester 4 ini dimulai dan untuk kesekian kalinya, pagi ini dimulai dengan kegalauan Doni dan Ipeh, serta tingkah playboy newbie yang mulai punya ratusan alasan untuk membenarkan kelakuannya.

"Semua cowok sama aja! Bajingan semuanya, baru ditinggal sebentar kelombok, udah jelalatan kemana mana." ipeh marah sambil meremas remas botol air mineral yang dari tadi sudah kosong.

"Berarti cewek juga sama aja dong, ga masuk akal banget mutusin gua gara-gara ga diajak kelombok, mustahil lah gua ajak dia karena kita dibayarin ian, ga ngerti banget seh" Doni ikut nimbrung dengan kegalauan ipeh

"jangan sama ratakan semua dong ipeh, doni, ga semua kayak gitu, yah itu hanya oknum-oknum aja" kata bobi sok bijak

"Gua ga mau denger nasihat dari playboy ga sadar tampang kayak elo bob, orang macam elo neh yang buat hubungan percintaan jadi runyam" kata ipeh marah...

"Gua ada alasan peh, gua memang menduakan cewek gua tapi gua adil, gua memberi mereka kasih sayang yang sama, mereka sama sama bahagia dan tentu ga ada yang merasa kecewa, " kata bobi membela diri

"Itu karena mereka ga tahu aja kan, coba mereka tahu kalo elo punya cewek di setiap gang, emang mereka masih mau sama elo? gua yakin, elo langsung ditabok cewek cewek elo" kata ipeh marah

"Ga semua orang harus tau dong peh, kadang yang misterius itu adalah yang lebih baik, berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan" kata bobi membela diri.

"Sudah-sudah dong, bukannya semua ini sudah wajar ya, Ipeh, doni, bobi, kalo kalian sudah berani untuk mengambil keputusan untuk membuat sebuah hubungan dengan orang lain berarti kalian juga harus terima baik dan buruknya, walaupun gua tetap tidak setuju dengan sikap bobi yang menduakan ceweknya atapun sikap cowok ato cewek kalian tapi gua rasa ini konsekuensi dari sebuah hubungan" kata gua menenangkan mereka

"Walaupun begitu tapi tetep sakit mbel, gua sayang sama dia tapi kenapa dia tega kayak gitu ke gua?" suara Ipeh berubah menjadi serak, dia sudah ga kuat menahan perasaannyanya lagi sehingga air matanya menetes.

"Memang gampang ian kalo cuma lewat kata kata tapi jalaninnya ga segampang itu, elo enak, elo tampang di atas rata rata, elo gampang nyari cewek, dan kayaknya elo ga akan pernah ditinggalin cewek, elo beruntung ian, apalagi elo sekarang pacaran sama dinda, cewek yang notabenenya maba yang paling cantik di angkatannya" Doni mulai serius..

"Bagi elo punya cewek dua kayak gua pasti gampang ian, bagi gua ini jarang terjadi, yah gua tahu mungkin gua salah, tapi gua merasa ini keputusan yang paling baik sekarang, gua senang, mereka senang, dan mungkin elo ga akan bisa rasain apa yang kami rasain karena elo terlalu beruntung ian" kata bobi menambahkan.

"Oke oke walau gua ngerti dengan cara kalian membanding bandingkan perasaan dengan keberuntungan, Gua tahu kalian memang ga seberuntung gua, baiklah kalo kalian berpendapat begitu, gua hanya bisa terima saja jadi gua ga mau ikutan ngomong lagi, lanjutin aja kegalauan kalian seolah kalian orang paling menderita sedunia" kata gua mulai marah..

"Maksud gua bukan begitu mbel, tapii..." kata ipeh meluruskan

"Sudah, anggap aja gua ga ngerti apa apa tentang masalah kalian, " kata gua makin marah..

"mbell,, jangan marah" kata ipeh mulai berkaca kaca lagi...

"Kalian masih untung, kalian tahu bahwa pasangan kalian sekarang ga cukup baik buat kalian, kalian diberi kesempatan untuk mencari yang lebih baik, kalian hanya ga bersukur, gua tahu apa yang terjadi sekarang ini membuat perasaan kalian sakit tapi bukan berarti harus berlarut larut seperti ini, " kata gua marah

"Kalau kalian merasa hidup gua lebih baik, apakah kalian pernah ditinggalkan oleh orang yang sangat mengerti elo, sangat tahu tentang elo, dan elo merasa dia cukup baik untuk elo tapi ternyata pada akhirnya dia bukan ditakdirkan buat elo, dan gua rasa, rasa sakit itu jauh lebih sakit dari apa yang kalian rasakan sekarang, elo tahu semua itu terjadi dengan siapa " kata gua lagi.

keadaan sekarang sangat hening mungkin suara gua terlalu tinggi sehingga membuat kami semua merasa aneh dan saling canggung, walau di sini hanya ada kami berempat dan penjaga kantin tapi suara gua cukup keras sehingga membuat kami menengok melihat sekeliling.

"Maaf kalo suara gua terlalu keras tapi gua ga seneng kalo orang menganggap hidup gua mudah dan selalu berjalan seperti apa yang gua mau" kata gua, sembari berdiri dan meinggalkan mereka..

Gua hanya duduk di gazebo sendiri, 30 menit lalu gua harusnya masuk kelas tapi jujur gua sekarang sedang tidak ada gairah buat kuliah...

"kak, ga masuk kuliah ? " kata dinda yang tiba tiba ada disamping gua

"Lagi bete " kata gua kecut..

"Sayang kenapa ? marah sama siapa ? cerita sama dinda" kata dinda

"Ipeh, doni ma bobi" kata gua

"Mereka kenapa? Mereka masih galau ?" tanya dinda..

"Kakak ga seneng aja mereka selalu membandingkan dirinya dengan kakak, dan menganggap apa yang kakak jalani selama ini sangat mudh, mereka ga tahu untuk sampe disini butuh perjuangan dan sangat ga mudah buat kakak" kata gua.

Semenjak gua pacaran sama dinda, gua menjadi lebih terbuka dan mulai bercerita tentang apa yang gua alami, di balik sosoknya dinda yang terlihat seperti cewek yang ceria dan kekanakan tapi dinda selalu tahu caranya membuat gua merasa tanang dan dia cukup dewasa bila diajak curhat tentang masalah gua.

"Sudah ya kak, jangan marah ya, Dinda kangen melihat kekompakan kakak sama kak ipeh , sama kak Doni, sama kak bobi, semoga kakak cepet baikan sama mereka" kata Dinda, dia tidak menceramahi gua, tidak sok tahu atau sok dewasa, karena dia tahu disaat seperti ini, gua , ipeh, doni dan bobi hanya butuh waktu untuk saling berfikir dan menenangkan diri karena nanti pasti kami akan kembali seperti sedia kala...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
piaupiaupiau dan 41 lainnya memberi reputasi
42 0
42
Son of the Rich (Reborn)
01-12-2020 06:10

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 8] ~ mendingin

Quote:
“Apa sih maunya si Fattah itu sama kita?” kata Ghea dengan suara bergetar, dia tampak mencoba menahan tangis. Kami dari divisi pendidikan berkumpul di sebuah warung yang tutup di dekat kantor kepala desa. Ghea mengajak kami kesana untuk berkumpul menghindar dari orang orang yang memojokkan kami.

“Mungkin lo pernah nolak dia Ghe, makanya dia sakit hati” kata Heri.

“Gua gak lagi becanda Her,” kata Ghea.

“Eh lo ngapain ikut kesini sih, padahal lo bukan anak pendidikan,” kata Gilang kepada Heri yang merupakan anggota Divisi ekonomi dan produksi.

“Hehehe Maaf maaf, soalnya di basecamp ada Fattah, gua heran dia sering banget nyuruh gua ini itu jadi gua ikut kalian aja,” kata Heri. “Kalian juga kan sohib gua yang paling baik.” kata Heri. Walaupun gua tahu Fattah melakukan itu sengaja kepada Heri karena faktor Vania.

“Kita sekarang harus ngapain?” tanya Chua Bingung.

“Gua takut mereka buat acara kita ikut berantakan juga,” kata Thomas.

“Mereka gak punya nyali kok buat melakukan itu,” kata gua.

“Ini fattah loh Ian, bisa aja dia berbuat kayak gitu,” kata Gilang.

“Bisa aja kalau dia mau berkorban nilai KKN dia dapat B+ atau B. Jelas dia mau nilai A kan? Sebenarnya dia gak jahat tapi dia gak bisa ngukur sejauh apa wewenang yang dia punya aja. Setelah ini gak akan ada yang aneh aneh ko, gua yakin 99%,” jawab gua.

“kalau ternyata ada?” tanya Thomas.

“Ya berarti peluang 1% itu yang terjadi,” jawab gua.

“Yailah, gua juga tahu kali ian,” jawab Thomas.

“Gua gak salah ngomong dong.” jawab gua.

“Ya gak salah sih tapi informasi gak penting aja,” balas Thomas.

“Gua akan coba buat selesaikan masalah ini, berdebat begini terus gak ada membuat KKN ini jadi berguna buat kita. Gua harap kalian gak ada dendam,” kata Gua.

“Yakin lo mau damai dama aja?” kata Ghea yang merasa sudah sangat kesal.

“Gua gak mau berada di situasi kayak tadi, menyebalkan. Kalau damai jelas lebih baik,” kata gua.

“Heran gua sama elo ian,” kata Ghea tampak kecewa.

Ditengah obrolan Kami tiba tiba Heri heboh dengan sendirinya.

“Eh itu tuh maksud gua yang gua bicarin tadi pagi,” kata Heri semangat.

“Apa sih her, heboh bener,” kata Gilang.

“Friska! Yang gua bilang Friska,” kata Heri menunjuk ke depan kantor Desa.

“Mana sih?” tanya Gilang penasaran,

“Itu yang pakai motor matik itu,” Tunjuk Heri.

Gua sempat termangu, Gua memicingkan mata untuk melihat sosok yang ditunjuk oleh heri. Walau gua gak bisa melihat keseluruhan wajah dari gadis itu tapi apa yang dikatakan Heri benar. Sosok yang ada di depan kantor kepala Desa itu jelas mirip sekali dengan Friska walau gadis ini mungkin menggunakan baju yang tak se kekinian seperti Friska yang fashionable.

“Bener kan kata gua? Itu Friska kan?” Kata Heri.

“Eh ian bener loh, itu Friska,” Sambut Gilang.

“Friska siapa sih?” tanya Chua bingung. “Perasaan pernah dengar,” Lanjut Chua.

“Mantan ian, anak biologi yang seangakatan sama Kita.” jawab Gilang.

Tiba tiba dari gedung kantor Desa keluar Bu retno yang tidak menggunakan seragam kerja, karena memang jam oprasional kantor desa sudah berakhir dua jam yang lalu.

“Eh anaknya Bu Retno mungkin tuh,” kata Thomas, “Yang mau dijodohon sama elo itu ian, ingat gak pas kita kesana sama Vania itu.” kata Thomas lagi. Ternyata suara ribut kami terdengar oleh bu Retno sehingga beliau mendapati kami sedang duduk berkumpul di depan warung yang tutup itu. Tiba tiba Bu Retno melambaikan tangan dengan memanggil gua.

“Adrian! sini bentar.” teriak Bu Retno.

“Eh ian, lo dipanggil tuh,” Dorong Gilang.

“Eh gua ikut ya gua ikut,” kata Heri panik.

“Eh diam di sini aja, Her. jangan ngerusak suasana. Lo kan udah ngejer Vania. Itu aja cukup kok.” kata Thomas.

“Yailah Vania mah nolak terus kalau gua ajak kemana-mana,” kata Heri.

“Sudah diam di sini aja,” kata Thomas memegang badan Heri biar gak ikut.

“Lepas Thom,” kata Heri.

“Diam di sini, lang bantu pegang playboy gak laku ini,” kata Thomas kepada Gilang.

Gua lalu berjalan menuju depan kantor desa tempat Bu Retno dan gadis mirip Friska itu berada.

“Selamat sore bu, tumben bu ke kantor desa sore sore begini,” tanya gua.

“Ya Mas adrian, ibu mau ambil surat buat pak Kades tadi kelupaan dibawa. nanti malam rencana mau kasih pak kades di rumahnya.” kata Bu Retno.

“Oalah bu, kenapa gak suruh Mas Yahya aja bu biar ibu gak repot repot,” kata gua.

“Gak usah, kasian yahya rumahnya jauh. Ibu juga gak ada kerjaan apalagi sekarang ibu udah ada ojek gratis di rumah,” kata Bu retno.

“Berarti ini putri ibu Zaza, yang ibu ceritakan kemarin,” tanya gua.

“Loh Adrian masih inget ternyata,” kata Bu Retno. “Ayo kenalan dulu Za,” lanjut Bu retno. gadis itu tampak malu malu dan memberi isyarat kepada ibunya seolah dia mengatakan ibu jangan gitu dong, gua malu.

“Dia lebih muda loh Za dari pada kamu,” Lanjut Bu retno.

“Saya aja yang kenalin diri bu, He. Saya adrian matematika Universitas wijaya semester 6 sekarang,” kata Gua.

“Eh Anu, saya zahra pendidikan biologi di universitas negeri di malang” kata Zaza pelan dan ragu.

“Anak ibu emang pemalu Mas Adrian hehe, padahal udah hampir lulus masih aja pemalu loh. Ibu aja heran,” kata Bu Retno.

“ya Bu, gak apa apa.” kata gua.

“Oh ya naik ian, nanti malam disuruh Pak Kades ke rumahnya, tadi telfon ibu lewat telfon rumah. Pak kades hari ini habis ke kantor bupati ada rapat mendadak masalah program kesehatan desa. Mungkin pak kades mau diskusi,” kata Bu Retno.

“Perlu saya ajak teman yang lain bu?” tanya gua.

“Kamu aja deh ian, ibu juga gak tahu tapi tadi pak kades bilang, suruh ian ke rumah aja,” kata Bu retno.

“Enggih bu kalau gitu, nanti malam saya kesana,” jawab Gua.

“Biak deh mas ian, Ibu pulang dulu ya. Kamu belum pernah main ke rumah kan? kamu wajib main kerumah loh, awas aja kalau selama KKN ini kamu gak pernah ke rumah ibu,” kata Bu Retno.

“Baik bu, insyaallah nanti saya berkunjung.” jawab gua.

“Ibu pulang dulu ya,” kata Bu Retno. “Ayo Za,” lanjut Bu Retno.

“hati hati bu,” kata Gua.

Gua kembali lagi ke tempat nongkrong gua tadi dengan perasaan yang aneh, wajah Heri tampak penasaran dengan apa yang dibicarkan gua dengan bu Retno.

“Bener itu anaknya bu Retno, Ian?” tanya Heri.

“Ya, namanya Zahra, mungkin dipanggil Zaza.” jawab gua.

“Mirip sama Friska kah ian dari dekat?” Gilang juga gak kalah penasaran.

Gua mencoba mengingat lagi, memang mereka memiliki air muka yang sama. Senyum yang mirip, namun zaza tampak lebih tinggi, dan lebih berisi dari Friska. Gua gak bisa mendeskripsikan mereka hanya mirip saja namun mudah dibedakan. Namun sekilas mereka memang tampak sangat mirip.

“Dari dekat keliatan beda kok,” kata Gua.

“tapi sama sama cakep sih ian, cewek ini kayaknya lebih berisi ya.” kata Gilang.

“Lo salah pakai kata Lang, ini mah bukan berisi. Kalo berisi mah kesannya gendut wong orangnya kurus begitu. Lebih tepatnya bohai, seksi,” kata Heri. “Jatuh cinta gua,” Lanjut heri.

“Mulai mulai si palyboy gak laku!” kesal thomas.

“Gimana? Lalau lo suka gak, ian?” tanya Chua.

“Loh kenapa ltanya gua begitu chua? lo penasaran ya sama perasaan gua.” goda gua kepada Chua.

“Ih kan gua nanya aja kalee,” kata Chua.

“Gua kan hatinya sama sama elo kali,” Goda gua kepada Chua.

“Ih mulai dah gombal, sorry ya. Lo itu bukan tipe gua,” kata Chua.

“Masak sih? tapi kenapa lo itu tipe gua banget,” goda gua lagi.

Wajah Chua memerah. Ghea langsung ikut nimbrung.

“Lo tuh jangan main main sama playboy ian, baper beneran tahu rasa.” kata Ghea.

“Eh iya lupa,”

“Kalau sama Heri mah bisa aja lo kayak gitu,” Lanjut Ghea.

“Emang gua kenapa? gua kan punya hak untuk mencintai,” kata Heri,

“Ya memang tapi orang lain punya kewajiban buat menolak elo!” sindir Ghea. “Elo pakai ngide aja deketin Vania, Vania itu gua rasa punya hubungan sama kordes kali,” Lanjut Ghea.

Gua kaget, apakah ghea tahu fakta itu?

“Ah masak?” Chua ikut penasaran.

“Vania sama fattah ada hubungan, serius loh Ghe?” tanya Heri bingung.

“Memang sekilas gak kelihatan tapi gua pernah ngegep mereka kelahi di belakang penginapan.” kata Ghea.

“Kelahi? bukannya malah musuh kalau kelahi.” Samber Thomas.

“Hei, Gua tahu kali mana kelahi yang kesal sama kelahi sepasang kekasih, yakin gua mereka punya hubungan. Makanya dia suruh Vania gak keluar desa, itu mungkin alasan Fattah nyuruh elo terus biar gak gangguin vania lagi. Sesering Fattah debat di forum sama Vania, mereka gak pernah sampai yang bikin Vania ngomongin fattah berlebihan kan? Malah dia kayak mencoba bikin fattah kesal aja. kayak orang pacaran.” analisis Ghea.

“Ih kurang ajar banget kalau gitu si Fattah,” kata Heri.

“Sudahlah, katanya lo mau deketin Zaza. kok masih mikir vania.” sela gua.

“Eh tapi ini gak bisa dibiarin dong, gua jadi korbang pembohongan publik,” kata Heri kesal.

“Lebih baik energi lo dipakai buat deketin zaza kali, daripada lo gedek sama fattah dan gua ambil kesempatan ini buat deketin zaza, gimana?” ancam gua kepada Heri.

“Eh jangan gitu dong ian, jangan bikin gua patah hati lagi,” kata Heri.

“makanya dibawa santai aja, gua dua hari lagi mau kerumah bu retno, elo mau ikut,”

“Ohh pasti dong, mantap emang elo ian, teman gua paling baik sejagat raya,” kata Heri.

Gua gak ingin ada masalah lagi di kelompok ini apalagi melibatkan fattah dan vania. Malam sebelum Evaluasi malam, gua pergi ke rumah Pak Kades sesuai instruksi bu Retno. Sesampainya di sana gua banyak mengobrol dengan Pak Kepala desa tentang hasil dari Rapat beliau di kantor bupati. Beliau juga bercerita tentang rapat mendadak tadi pagi yang membuatnya pergi mendadak. Samapai akhirnya gua memberikan usul tentang program sederhana yang bisa menjadi kegiatan Rutin di Kantor desa nantinya. Pak Kades sangat bersemangat mendengar usul gua, yang sebenarnya adalah ide dari team kesehatan yang dulunya tidak masuk list Proker kami di KKN ini.

“Eh Mas Adrian,” kata bu Retno saat gua keluar dari halaman rumah pak kades. Diskusi kami berlangsung tidak terlalu lama karena Pak kades tampak capek.

“Malam bu,” Sapa Gua sopan. Bu Retno datang dengena Zaza yang menggunakan jaket merah muda yang tampak cocok dengannya.

“Sudah selesai urusannya sama Pak kades,” tanya Bu Retno.

“Sudah bu, saya pamit lebih cepat karena Pak kades keliatan capek,” jawab Gua.

“Ya Mas adrian, ini aja ibu cuma mau kasih surat ini lalu pulang. kalau gitu Zaza tunggu di sini aja ya, Biar ada alasan ibu langsung pamit pulang. Titip bentar zaza ya Mas adrian,” kata Bu Retno yang langsung masuk halaman rumah Pak kades tanpa menunggu persetujuan dari Zaza.

“Berarti semester ini cuman skripsi aja?” tanya Gua mencoba basa basi untuk memecah kecanggungan gua dan Zaza.

“Ya sisa skripsi aja,” jawab Zaza pelan.

“Skripsinya tentang metode ajar atau?” tanya gua lagi.

“Gak kok, lebih ke modul dan media pembelajaran,” Jawab Zaza.

“Bagus dong jadi gak terlalu ribet, kalau metode pembelajaran kan biasanya harus penelitian agak panjang dan butuh ngolah data dari hasil siswa,” kata Gua. “Udah dapat sekolah buat bahan uji modulnya?” tanya Gua.

“Belum sih, Lo tahu banyak ya. padahal di Universitas wijaya kan matematikanya sains bukan pendidikan” kata Zaza.

“Kebetulan gua sering ngasih bimbel kesekolah sekolah dan ketemu mahasiswa PKL dan penelitian skripsi. Kalau lo mau, gua bisa kenalain sama wakasek tempat gua biasa ngasih bimbel, beliau biasanya open kalau ada mahasiswa penelitian,” saran gua.

“Serius? kebetulan tempat gua PKL kemarin lagi banyak mahasiswa jadi menolak dipakai buat penelitian mahasiswa.” kata Zaza.

“Maaf mas adrian saya suruh nunggu,” Bu Retno sudah kembali dari rumah pak kades.

“Ya gak apa apa bu,” jawab gua.

“Kalau gitu gua boleh minta nomor ponselmu,” kata Zaza.

“Loh Loh anak ibuk kenapa ini? tadi malu malu sekarang kok minta nomor ponsel cowok,” kata Bu Retno kaget.

“Ih ibu ini,” kata Zaza malu. “Adrian mau kenalain zaza sama sekolah di malang Bu, bukan minta nomor buat apa apa,” lanjut zaza membela diri.

“kalau buat apa apa juga gak apa apa kok za,” Lanjut Bu retno menggoda anaknya.

“Ibu mah gitu,” kata zaza merengek.

“Hmmm bu, Adrian balik dulu ya, masih ada rapat evaluasi.” Kata gua. “Ini kartu nama gua Mbak Zaza, kalau gua susah dihubungi bisa langsung ke alamat itu, tapi jangan lupa ajak temannya,” kata Gua memberi kartu nama usaha tempat makan gua di malang.

“Gua sering makan di sini,”

“Berarti gak susah nyari gua,”

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 37 lainnya memberi reputasi
38 0
38
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Son of the Rich (Reborn)
27-11-2020 07:34

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 5] ~ Aturan Kordes

Quote:
Secara garis besar KKN kami berjalan dengan lancar, masalah masalah kecil memang ada namun tak banyak yang mengganggu kekompakan kami. Fattah masih menjadi ketua yang mulai digosipkan karena ketegasannya. Teman teman banyak yang jengkel karena selain disibukkan oleh program kerja KKN mereka sesekali ingin menikmati waktu waktu di Desa ini, tidak sekedar menjalankan Proker saja.

“Nanti sore kita ke Sungai yuk, kata penduduk desa di utara sana ada sungai besar yang bisa dipakai buat mandi.” kata Aulia.

“Gua ikut dong, pasti seru tuh bisa mandi di sungai,” kata Thomas.

“Gua juga ikut,” kata Heri. “Lo juga ikut gak Van?” tanya Heri.

“Gua mah ayo aja,” jawab Vania.

“Sungai itu terletak diluar desa kita, bahkan masuk ke kecamatan sebelah. Jadi tidak boleh ada yang kesana,” kata Fattah. Semua terdiam, susana teras yang tadinya ceria kini malah menjadi tidak bersahabat.

“Kalau ngerjain proker doang? kita dapat apa sih?” kata Vania. “Nilai? terus apa gunanya KKN?” lanjut Vania.

“Vania? kita disini bukan pergi main main,” balas Fattah.

“Tapi ini bukan kepanitian kampus juga, ini masyarakat asli!” Protes Vania.

“Kalau kalian ada apa apa, gua yang akan disalahkan! bukan kalian!” Tegas Fattah.

“Kalau kami hanya dapat nilai saja gak dapat ilmu berarti elo juga yang salah Pak kordes! coba gua tanya pak kordes, bu kasih dan bu kristina. Kalian tahu gak nama bapak yang kasih kita rambutan kemarin?” tanya Vania. Mereka bertiga terdiam. “Kalian tau gak nama yang punya warung pecel di samping kantor desa?” tanya Vania lagi.

“Gilang lo tahu?” tanya Vania.

“Tahu gua, bu maesaroh,” jawab gilang.

“Ian lo tahu?” tanya Vania.

“Pak Ali, dia itu mantan kepala desa sebelum kepala desa sekarang,” jawab gua.

“Lo tahu gak anak KKN diomongin penduduk desa karena dibilang banyak yang sombong?” kata Vania lagi. “Jelas kalian gak tahu kan? Yang gua lihat banyak berbaur cuman Aulia, Gilang, chua, Adrian, yang lain ngikut pak kordes yang setelah tugas selesai masuk ke dalam penginapan.” Ceramah Vania.

Gua pelan pelan keluar dari forum yang membuat gua tidak nyaman itu. Gua pergi ke dapur untuk membuat kopi pahit yang menurut gua enak banget.

“Ada apa le?” tanya Bu dewi pemilik penginapan. “Lagi ada ribut ribut kayaknya di depan?” lanjut bu dewi.

“Biasa bu masalah masalah sedikit,” jawab gua.

“Bantu konco koncomu ya, jangan dilepas terus apalagi ditinggalkan.” kata Bu dewi.

“Kenapa bu?”

“Ibu lihat kamu yang paling bisa berbaur ke orang orang desa, ibu kaget juga banyak yang kenal nak Adrian.”

“Kebetulan aja bu saya disuruh ngajar di sekolah sama Pak kepsek, jadi kadang saya berkunjung kerumah murid murid saya. Mereka kadang nunjukin anyaman anyaman yang bagus bu, jadi saya penasaran aja mungkin saya bisa pasarkan di malang,” kata gua.

“Hal itu mungkin yang belum ada di beberapa teman temanmu, keluwesan untuk mencoba hal baru, jangan dilepas ya. Biar datangnya kalian ke sini bisa jadi hal positif buat warga desa,” kata Bu dewi.

Rasa penasaran gua selama KKN ini kini berubah menjadi beban. Selama ini Gua ditugaskan di dalam desa oleh pak kordes, membuat gua banyak mengeksplore desa, gua banyak berinteraksi dengan warga desa. Karena gua bukan dari jawa membuat warga desa sangat ramah menyambut gua. Rasa ketertarikan gua seolah direspon dengan sangat luar biasa oleh mereka semua. Gilang, chua, aulia sering gua ajak karena mereka juga tampak tertarik seperti gua.

Kini setelah Bu dewi mengatakan semua itu, gua jadi merasa bertanggung jawab.

“Ian dicari tuh sama Pak Ali!” panggil Thomas.

“Oke,” Sebelum thomas kembali ke forum gua menarik bajunya. “Ributnya udah selesai?”

“Selesai dari mana? mereka malah berdepat siapa yang paling benar. Fattah gak mau kalah karena pesan dari Bu ketua KKN kan kita gak boleh terlalu terikat mengingat kasus kasus dulu,” kata Thomas.

“Oke oke,”

“Bu kopinya saya titip dulu,” kata gua ke Bu dewi karena kopi gua baru saja di seduh.

“Ya le,” kata bu Dewi.

Gua lalu berjalan ke depan menemui Pak Ali. Semua mata tertuju kepada gua karena Pak Ali membawa setumpuk keranjang dari anyaman rotan. Beberapa hari yang lalu gua mencoba menantang pak Ali membuat keranjang dari anyaman rotan dengan model yang gua inginkan. Rencananya gua akan coba pasarkan ke hotel hotel yang punya link sama usaha gua di malang.

“Udah selesai keranjangnya Mas Adrian, ini ada beberapa versi,” kata Pak Ali.

“Cepet sekali pak jadinya, saya lihat dulu ya pak,” kata gua.

“Ibuk ibuk itu memang kerjanya cepat mas,” kata Pak Ali.

Teman teman memandang gua heran, disaat orang sedang berdebat tentang sejauh apa kami bisa berbaur dengan warga desa, gua malah mencoba menjalin kerjasama bisnis dengan Pak Ali. Gua tidak peduli pandangan mereka, karena gua rasa ini gunanya gua datang jauh jauh ke desa ini.

“Rapi banget ini pak, bahannya juga bagus. Apalagi yang versi ini pak. Motifnya keliatan rumit tapi katanya ibu pengerajinnya malah ini yang lebih gampang dibuat ya?” kata Gua.

“Ya benar mas, dulu pernah ada yang mesan model kayak gini jadi ibu-ibu udah hafal aja cara menganyamnya tapi udah lama dan semenjak bapak gak jadi kepala desa lagi, bapak kehilangan kontak orangnya” Cerita Pak Ali.

“Ini oke banget sih pak, saya ambil semua contohnya. Seperti yang kita bahas kemarin saya bawa dulu ke malang sebagai sampel. Sebenarnya saya sudah ada deal dealan dengan vendor lain tapi mereka sering miss deadline. Jadi saya perlu backup pak,” Jelas gua.

“Atur dah mas, intinya Pak Ali hanya ingin produksi anyaman desa bisa bangkit lagi,” kata Pak Ali.

“Beres pak,” kata Gua.

Setelah gua mengobrol ngalur ngidul bersama Pak Ali beberapa menit, Pak Ali akhirnya pamit pergi. Gua lalu mengambil kopi hitam gua yang sudah dingin dan kembali menuju Forum.

“Tadi itu masuk program kerja gak ian?” tanya Fattah.

“Yang mana? Pak ali tadi?” kata gua.

“Ya,”

“Enggak, antara gua sama Pak Ali aja,” jawab gua.

“Kalau ada masalah gimana?”

“Masalah gimana?”

“Kalau Kerajinannya gak laku lalu mereka nuntut anak KKN yang menipu” Kata Fattah. Semua anak KKN tampak tegang.

“Kalau lo berfikir gua beli anyaman itu karena gua mau bangkitkan potensi desa, lo salah besar. Gua beli anyaman itu karena gua tahu hal ini mengentungkan. Harganya 50% lebih rendah daripada harga pasaran. Kualitasnya jauh lebih bagus. Produksinya juga cepat. Gak ada barang gak laku, adanya penjual yang gak punya strategi untuk memasarkannya.” kata Gua.

“Sederhananya gini, Semua program kerja yang menjadi tanggung jawab gua, akan gua jalani dengan baik sesuai aturan, tapi jangan halangi gua untuk mengexplore desa ini lebih dalam lagi. Sepakat ya?” kata gua lalu melanjutkan menyeruput kopi. Fattah tampak masih ingin membantah namun alokasi waktu untuk rapat siang ini sudah terlalu lama. Forum itu akhirnya selesai dengan banyak permasalahan yang muncul. Ada yang kembali ke penginapan ada yang diam diam ingin pergi ke sungai tanpa sepengetahuan fattah.

********************************************

KKN sudah berjalan lebih dari satu minggu. Setelah hari pertama gua bisa menelfon Ipeh, hari berikutnya susah sekali mencari sinyal. Ponsel Chua juga setelah hari itu mendadak tidak bisa lagi menelfon keluar. Walau rasa khawatir gua telah berkurang namun aneh aja rasanya tidak tahu kabar Ipeh dan teman teman lebih dari satu minggu. Gua kadang meminjam telfon di kantor kepada desa untuk menghubungi karyawan gua di malang namun sungkan rasanya kalau gua gunakan untuk menelfon pribadi apalagi harus menelfon di depan bapak bapak ibu pegawai kantor desa.

“Mas Adrian sudah punya pacar?” tanya Bu Retno , bagian administrasi di Kantor Desa.

“Masih Jomblo dia bu,” Samber pak Kades. “Kenapa gak dikenalin sama Zaza aja bu,” Kata Pak Kades tiba tiba. Gua hanya bisa tersenyum. “Zaza belum pulang bu?” tanya pak kades.

“Belum pak, minggu ini katanya dia sudah libur.” kata Bu retno.

Gua hanya celingak celinguk aja mendengar Pak kades ngobrol dengan Bu Retno.

“Adrian bingung itu bu,” Canda Pak kades.

“Bukannya Zaza buat saya ya bu Retno,” kata Mas Yahya, operator komputer di kantor desa. “Kok sekarang malah dikenalin ke Adrian” Canda mas Yahya.

“Saingan dong Yahya sama Adrian,” kata Pak kades.

“Oke pak siapa takut pak,” kata Mas Yahya. “Bu retno ada laporan yang mau dibantu, saya bisa ketikkan,” kata Mas yahya kepada Bu retno.

“Hahahaha Bagus bagus Yahya, strateginya deketein ibunya dulu ya,” Canda Pak Kades.

“Ya dong pak,” Balas Mas Yahya. Gua hanya celingak celinguk mendengar obrolan mereka. Di kantor Desa itu gua gak sendiri ada Vania yang sibuk mengeprint dan ada juga Thomas yang sibuk dengan laporan di Laptopnya. Gua? Gua hanya datang menemani mereka berdua yang sungkan meminta izin untuk menggunakan Printer di desa. Kebetulan gua sering meminjam telfon desa jadi gua lumayan akrab dengan pengurus kantor Desa.

“Zaza memang kuliah di mana bu?” Vania memberanikan Diri berbaur.

“Di malang juga sama kayak kalian, Sebentar lagi lulus. Dia ambil pendidikan Biologi.” kata Bu retno.

“lebih tua dari kita setahun kayaknya ya, Ian siap jadi brondong gak?” Canda Vania.

“kalau beda satu dua tahun mah gak masalah atuh,” Sambar Bu Retno.

“Nah calon mertua udah setuju tuh Ian,” Kata Vania lagi.

“Vania ini gak pak peka bu Retno, padahal jelas jelas Adrian suka sama dia tapi dia malah jodoh jodohin saya, Lo kenapa sih?” kata Gua kepada Vania. Vania langsung terbatuk batuk.

“Uhuk uhuk,”

Thomas langsung kaget dan melihat kearah gua.

“Hahahaha Bercanda Van, elo baru dibecandain gitu langsung batuk batuk, Ini minum dulu,” kata Gua mengambil Air dari galon di dalam kantor desa. Sontak semua pegawai desa tertawa.

“Hati hati Mbak Vania sama Adrian,” kata Mas Yahya. “Banyak akalnya,”

“Jangan Fitnah dong mas yahya,” jawab gua.

“Adrian proposal kemarin sudah dibantu di cek?” tanya Pak kades.

“Sudah pak, sudah saya revisi dan saya tandai kuning pak. Nanti mungkin bisa di cek kembali.” kata gua sambil memberi Flashdisk ke Pak kades.

“Terima kasih Adrian, ini Flashdisknya dipakai sekarang?” tanya Pak kades.

“enggak kok pak, bawa aja dulu,” jawab Gua.

“Itu proposal kebun rambutan itu pak?” tanya Bu Retno.

“Ya bu, kemarin saran Dari Adrian agar dibuatkan penjualan yang central aja biar harganya bisa dikendalikan, kalau setiap orang jual sendiri sendiri jadinya kayak tahun kemarin Bu. Ada yang untungnya besar ada yang kecil, kasian.” kata Pak kades.

“Bagus itu,” kata Bu Retno.

Setelah bebera jam di kantor Desa akhirnya kami izin untuk melanjutkan Program kerja kami yang lain. Pegawai di kantor desa tampak senang kami di sana karena suasana kantor jadi ramai dan kadang kami bisa membantu beberapa hal yang agak membingungkan bagi mereka.

“Mbak Vania sering sering main ke kantor ya?” kata Mas yahya. “kalau gak Adrian eh gilang yang kesini, saya kan bosen lihatnya,” kata mas Yahya.

“Enggih mas,” kata Vania sambil tersenyum. Kami akhirnya pergi meninggalkan kantor Desa.

“Lo gak beneran suka sama gua kan?” tanya Vania saat Thomas melipir ke warung pecel. Gua dan Vania memutuskan untuk pulang.

“Kenapa? Lo gak suka sama gua?” tanya gua menggoda Vania.

“Oke oke gua paham sekarang,” kata Vania setelag mengamati wajah gua. “Lo emang seram ya, wajah elo gak bisa gua baca serius atau enggaknya. Tapi elo jelas becandain gua. Semoga gua gak berurusan perasaan sama orang kayak elo ian,” kata Vania.

“hahaha, kenapa?”

“Elo pasti akan sangat menyebalkan,” kata vania.

“Jadi lebih baik berurusan dengan Fattah,” kata Gua.

“Fattah itu baik banget tapi gua gak mau berurusan dalam kerjaan atau kegiatan sama dia. Kami pasti beda pendapat. Seperti sekarang ini, secara personal dia itu cocok banget sama gua,” kata Vania.

“Kalau gua?”

“Elo itu seram, unpredictable. Gak mau gua bayangin,” jawab Vania.

*****************************************

Evaluasi berikutnya, terjadi perang dingin antara Vania dan Fattah. Vania ternyata diam diam pergi dengan beberapa teman ke sungai untuk mandi. Setelah dua hari berkahir disembunyikan akhirnya Fattah tahu kejadian itu. Fattah memimpin evaluasi dengan wajah tak santai, beberapa kali laporan kegiatan kami diserang habis habisan dan dituduh tidak maksimal. Laporan gua juga gak lepas dari kritikan Fattah, karena gua terlalu menurut sama pak Kepsek dan terlalu banyak terjun di kegiatan belajar mengajar di sekolah. Gua sadari memang hal itu tidak diperbolehkan walau pada dasarnya tugas gua memang semua beres.

Gua gak mau terlalu mempermasalahkan kritik kritik itu karena memang gua salah. jadi gua mah bodo amat.

“Fattah ngincer elo tuh,” bisik Gilang.

“Biarin aja, emang gua salah hihi,” jawab gua.

“Tapi kan proker elo beres semua, harusnya dia apresiasi dong,” kata Gilang.

“Biarin ajalah, gak ngaruh juga kan,”jawab gua.

“Elo ye, kadang sabar kadang gahar,” sindir gilang.

“Selama gak menggangu mah gua santai aja,” jawab gua.

“Besok ikut yuk ke desa sebelah, proker divisi pendidikan kan kosong dua hari kedepan,” kata Gilang.

“Boleh tuh,”

“Deal ya, jangan sampai ketahuan Fattah lo, tau sendiri lo lo gak boleh keluar desa sama dia,” kata gilang.

“Tenang aja,” jawab gua.

************************************************

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 37 lainnya memberi reputasi
38 0
38
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Son of the Rich (Reborn)
26-11-2020 02:11

[BOOK SPESIAL ][NEW EPISODE 3] ~ HARI PERTAMA

Quote:

Jum’at Sore. Kami bersiap pergi menuju tempat KKN. Kami semua berkumpul di depan GOR Pertamina Universitas Wijaya. Ada Belasan Truk yang akan mengantarkan kami ke salah satu kecamatan di kaki Gunung Kelud. Kami sibuk mengangkat barang ke atas truk dan memastikan semua barang sudah lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Ipeh sibuk karena dia menjadi sekertaris di kelompoknya. Doni sibuk oleh ulah ketua kelompoknya yang displin bin menyebalkan bukan main. Bobi sibuk godain cewek cewek di kelompoknya. Sehingga kami hanya saling menyapa dari jauh.

“Ian barang barang divisi lo udah naik semua?” tanya Fattah, ketua kelompok. Kami sering menyebutnya sebagai Kordes yaitu koordinator Desa.

“Sudah Pak Kordes,” jawab gua. Fattah sangat bagus mengkordinir kelompok kami. Dia memang sangat aktif di jurusan kimia ataupun di organisasi Fakultas sehingga mungkin sudah terbiasa dengan hal-hal semacam ini. KKN kami ini dilaksanakan oleh Faklutas yang terbuka untuk semua jurusan dinaungan FMIPA kecuali jurusan Biologi yang mempunyai KKN sendiri yang bersifat khusus.

“Ghea kemana ya?” tanya Fattah.

“Pergi ke warung mahasiswa Pak sama chua, katanya beli antimo takut mabok di jalan,” jawab gua.

“Oh oke oke, anggota divisi lo yang lain dimana?”

“Cungkirng, eh gilang sama Thomas beli tinta spidol pak,” jawab gua,

“Oke oke, agak tenang gua kalau sama divisi pendidikan. Divisi Ekonomi produksi sama kesehatan masih belum jelas ini. Lo bantuin gua ya ian?” kata Fattah tiba tiba.

“Bantu apa?” tanya gua.

“Bantu jaga anak anak, kadang gua agak otoriter orangnya, takut anak anak malah kesal sama gua jadi lo bantu buat kondusifin masalah dari bawah. Lo memang jarang ngumpul sama kita tapi gua lihat anak anak cukup gampang ngomomg sama elo,” kata Fattah.

“Oke pak tapi gua gak janji bisa seperti yang pak kordes mau, tapi gua akan usahakan,” jawab gua.

“Fattah?” panggil kasih, sekretaris kelompok gua.

“Yah kasih,” jawab Fattah. Kasih tampak mengomel ini itu dengan fattah. Kasih ini juga aktivis yang sangat aktif di fakultas kami. Dia bahkan pernah jadi dewan mahasiswa gitu. Dia cukup perfectionis dan religius. dengan hijab besar dan kaca mata besarnya.

Di belakang kasih ada kristina, bendahara kelompok gua. Mahasiswi fisika ini mempunyai pribadi yang mengagetkan. Dibalik fisiknya yang manis dan tampak lemah lembut. Namun ucapannya kadang nyelekit sekali sampai yang diajak ngomong bisa sesak nafas.

Kami akhirnya bersiap untuk berangkat, 4 anak cowok lainnya menggunakan 3 motor yang akan kami gunakan nanti di tempat KKN sedangkan gua dan Thomas ikut bersama rombongan cewek dan barang guna menjaga keadaan barang bila nanti ada yang tumpah atau jatuh saat diperjalanan menuju tempat KKN.

“Ayo yang cewek naik duluan ya,” kata Fattah. “Rombongan motor jalan duluan aja biar nanti izin ke pemilik rumah kalau kita mau datang sebentar lagi, ok,” kata Fattah.

Kami pun bersiap, gua dan Thomas naik duluan untuk membantu teman teman cewek untuk naik Truk. Rombongan lain juga tampak sudah bersiap siap. Rombongan gua adalah rombongan paling belakang dan paling jauh. Saat semua orang sudah naik, tiba tiba ada seseorang cewek tampak berlari menuju truk gua.

“Ipeh?” kata gua pelan. Rombongan gua dan rombongan kelompok tujuh langsung menatap kearah Ipeh yang kini berdiri di belakang truk gua.

“Itu Shifa kan? sekertaris kelompok satu?” kata Kasih. Truk sudah menyala namun gua memutuskun untuk turun.

“Peh? ada apa?” tanya gua. “Kelompok elo belum berangkat?” tanya gua khawatir.

“Belum Mbel habis ini berangkay,” jawab Ipeh. “Gua cuman pengen liat elo bentar,” kata Ipeh. Jujur gua langsung salah tingkah, kenapa Ipeh bisa semanis ini.

“Ini apel buat elo, gua tahu elo belum makan kan?” tanya Ipeh. Gua mengangguk. “Sampai jumpa 21 hari lagi Mbel,” kata Ipeh.

“Ya lo juga jaga diri ya?” kata gua tiba tiba Ipeh meluk gua erat. Gua kaget. Pelukan itu hanya berlangsung kurang dari 5 detik lalu dia langsung melepas dan pergi.

“Jaga diri baik baik mbel,” kata Ipeh lalu melangkah meninggalkan gua. Pelukan itu sontak membuat semua mata tertuju kepada gua yang berdiri sendiri. Gua terdiam mematung bingung harus berbuat apa.

“Ian ayo berangkat!” kata Fattah yang duduk di samping sopir yang mungkin melihat kejadian itu melalui spion.

“Oke bos,” kata gua kaget lalu naik menuju truk kami. Ada yang mengganjal hati gua. Badan ipeh terasa hangat, entah hangat gara gara memang karena habis berlari atau dia sedang tidak enak badan. Semoga dia baik baik saja.

************************************

“Lo pacaran sama Shifa. ian?” tanya Aulia. Mahasiswi statistika ditengah perjalanan kamu menuju tempat KKN.

“Ah gua? enggak,” jawab gua jujur.

“Masa sih? bohong banget,” Timpal ghea, ketua divisi kelompok gua.

“Memang enggak, Lo pasti sering lihat gua, Doni, Bobi sama Ipeh kan Aulia? kami sahabatan aja” jawab gua jujur. Aulia satu jurusan sama gua tapi beda pogram studi aja. Jadi kemungkinan dia pernah melihat gua karena gedung kuliah kami sama.

“Tapi tatapan shifa tadi enggak kayak orang sahabatan sih” Kristina ikut masuk dalam obrolan. Gua hanya diam gak ingin memperpanjang obrolan itu.

“Aduh pusing gua, padahal udah minum antimo” kata Ghea yang akhirnya mengakhiri obrolan tentang gua dan Ipeh.

Sesampainya di tempat KKN suasananya sangat Asri. hanya ada satu jalan lurus beraspal di desa itu sepanjang lebih dari 2KM, selain jalan itu ada banyak jalan jalan kecil yang menuju jalan masuk ke dalam desa yang masih beralaskan bebatuan, jalan masuk ke sawah dan peternakan warga. Di pinggir jalan utama tak banyak rumah, hanya ada kantor kepala desa, sekolah sekolah dan juga rumah kepala desa dan beberapa kebun rambutan. Rumah warga terletak agak di dalam.

Kami tinggal di tiga rumah warga yang berdekatan, cewek dibagi di dua rumah sedangkan cowok dijadikan satu. Para cowok tidur di sebuah ruangan besar mirip gudang yang ditambahkan kasur kasur kapuk yang berjejer. Setelah kami sowan ke rumah pak Kades kami akhirnya kembali menuju penginapan masing masing untuk mempersiapkan hari esok. Sebelum tidur kami rapat di teras penginapan cowok. Teras itu sangat besar dan bisa menampung semua orang di kelompok kami.

“Setelah tadi gua survei ternyata di sini memang agak susah sinyal,” kata Fattah. “Kata pak Kades di desa sebelah, tempat kelompok 7 lumayan bagus sinyalnya jadi kalau ada yang penting nanti Thomas dan Gilang sebagai penanggung jawab tranportasi koordinir untuk ke desa sebelah, Satu motor harus tetap di desa.” kata Fattah.

“Kasih, Adrian, Vania. Tiga orang ini gua haramkan keluar dari desa.” kata Fattah tiba-tiba.

“Loh kok gitu, gua kan bukan kordinator kelompok dan pengurus inti” Protes Vania.

“Di KKN ini tugas kita rangkap, walau gua Kordes tetap aja gua punya tugas juga di divisi kesehatan. Jadi si kasih bertanggung jawab sebagai pengambil keputusan bila gak ada gua. Vania sama Adrian kalian gua kasih tanggung jawab untuk urusan teknis masalah komunikasi ke pihak desa, kantor puskemas dan sekolah sekolah. jadi bila saya atau pengurus inti tidak ada tidak terjadi kevakuman kordinator. Paham ya?” kata Fattah panjang lebar.

Vania menatap gua untuk ikut protes namun gua males untuk berdepat sehingga membuat wajah Vania kesal sekali. Rapat itu selesai dengan hati teman teman yang kurang baik. Banyak Keputusan fattah yang mendadak membuat teman teman jengkel. Fattah dan pengurus inti dan kordinator divisi berpindah ke teras penginapan cewek untuk rapat lagi. Kami dan teman lain masih duduk di teras tempat kamu rapat tadi.

“Kok tugas gua tambah ribet sih?” Protes Gilang.

“Ya gua juga,” kata Heri, anak Kimia yang satu jurusan dengan fattah, “Kordes kita mulai sok ngatur-ngatur tuh,” lanjut Heri.

“Lo harusnya ikut protes ian,” Kata Vania. Vania ini adalah mahasiswa jurusan Fisika.

“Buat apa?” jawab gua singkat.

“Karena keputusan sepihak Fattah dong, jangan bilang lo malah kepikiran sama pacar elo itu ipeh, gak fokus sama rapat tadi” Sindir Vania. Gua mengerutkan Dahi.

“Van, jangan gitu.” Tahan Chua.

“Bukannya kita semua sepakat milih fattah tanpa ada voting ya? Fattah adalah respresentasi kita semua. Tadi sudah ada forumnya untuk protes,jikalau kalian ada sanggahan bisa kalian debat Fattah seenak kalian tapi saat itu kalian diam aja. Kita bahkan belum manjalankan satupun program kerja. Apakah akan serumit itu? belum tentu kan? kita di sini tinggal satu rumah, kita gak bisa kabur kemana-mana. Walaupun beban kalian berat apa mungkin yang lain akan diam saja dan hanya melihat kalian? gua rasa kalian orang baik semua yang akan turun tangan saat salah satu dari kita kesusahan. Satu proker hancur kita semua akan kena getahnya. Warga hanya tahu kita dari kampus di malang bukan bersekat-sekat menurut tanggung jawab yang di kasih Fattah. Paham ya?” jawab gua panjang lebar.

“ya gua mikirin Ipeh karena dia tadi tampak tidak sedang dalam kondisi baik, Tapi gua juga akan mikirin kalian kalau ada salah satu dari kalian dalam kesusahan atau tidak dalam kondisi baik, gua rasa kalian juga akan melakukan hal yang sama,” kata gua.

Mereka terdiam dan beberapa mulai mengangguk-angguk.

“Tolong nanti bantuin Chua? kalau chua panik atau kesusahan” kata chua dengan suaranya yang agak seperti anak anak.

“Kami pasti bantu kok chua,” kata Halimah.

“Lang, besok bantu gua angkut kotoran kerbau ya? divisi gua ada proker pupuk kandang,” kata Heri.

“Ogah ah, ian aja tuh,” jawab Gilang.

“Awas aja lo! Gua gak jadi kenalin lo sama anak Bidan desa yang gua ceritain kemarin,” kata Heri.

“Lah, jangan dong. Oke oke, Gua bantuin. Mau pupuk kandang, pupuk markas, atau pupuk kerajaan. Gua jabanin deh,” kata Gilang.

“Giliran cewek langsung gencar si gilang,” Sindir Thomas.

“KKN cuy, kisah kasih nyata,” balas gilang.

Suasana kembali kondusif dengan ceramah panjang lebar Gua, vania tampak masih belum menerima ucapan gua. Disaat semua sudah kembali ke penginapan masing-masing Vania tetap di teras seorang diri sampai gua akan masuk penginapan.

“Lo gak balik sama anak anak?” tanya gua.

“Bentar lagi, gua mau ngomong sama elo,”

“Ya mau ngomong apa?” tanya gua.

“Sebelumnya gua minta maaf kalau ngungkit masalah shifa, gua cuman emosi aja,” kata Vania.

“Oke, gua paham kok,” jawab gua.

“lalu masalah fattah, gua rasa elo gak objektif,” kata vania.

“Apa gua perlu objektif? No? gua hanya perlu lakukan yang akan mempermudah gua kedepannya,” jawab gua.

“Mempermudah? Lo tahu kan gua deket sama Fattah? bahkan cuman lo aja yang tahu. Dia gak izinin gua keluar desa karena dia khawatir sama gua secara personal bukan karena tanggung jawab. Gua yakin elo tahu itu,” kata vania. “Dia menggunakan jababatannya untuk hubungan pribadi kami,” kata Vania.

“Lalu masalahnya apa?”

“Jelas masalah dong Ian, dia gak profesional! Gimana kalau teman teman yang lain tahu,” kata vania.

“Van, gua butuh ketua yang dipercaya oleh semua anggotanya. Mendebat dia di forum hanya akan merusak kepercayaan itu dan pasti akan menyulitkan gua kedepannya karena kordinasinya akan berantakan. Masalah lo sama fattah silahkan lo urus berdua gua gak peduli, intinya gua gak mau ada perpecahan di awal KKN ini. “

“Lo emang egois ian,”

“Gua realistis,”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 37 lainnya memberi reputasi
38 0
38
Son of the Rich (Reborn)
06-11-2020 07:50

[BOOK II] Lembaran ke empat delapan (21) - mudik - TAMAT

Quote:Pagi itu menjadi hari yang aneh bagi gua. Pertamanya dalam hidup gua. 1 Syawal berada jauh dari keluarga, bahkan jauh dari siapa-siapa. Suara takbir yang bersahutan menjadi backsound indah di balik rasa sepi di hari kemenangan.

Telfon Linda

“elo udah bangun kan”

“Sudah, malah belum tidur”

“Lo sholat ied di masjid deket rumah gua aja ya, biar elo ada temennya”

“Jauh banget lin,”

“Gua jemput ya”

“Jangan deh, gua sholat di sini aja , deket warnet ada lapangan buat solat kok,”

“Kesini aja loh, biar lo ada temennya ian, hmmm, elo udah nelfon bokap ato nyokap elo?”

“Belum, mereka juga ga nelfon gua”

“Ian yang sabar ya, kalo elo mau ke rumah datang aja, gua sekeluarga lebaran di sini kok, gua tunggu”

“Makasih lin, makasih banget”


Pagi itu gua langsung ke masjid, mengunakan sepeda butut gua, mengambil posisi didepan, gua duduk termenung sambil melafaskan takbir menunggu sholat dimulai, gua datang cukup pagi. Lenih dari 1 jam gua menunggu sampai sholat dimulai, namun 1 jam itu terasa sangat lama karena bayangan keluarga terus melayang dalam angan angan gua. Selesai solat khutbah pun dimulai, dan air mata ini menetes ketika khotib mengatakan bahwa idul fitri adalah moment yang baik dalam menyambung silaturahmi dan sarana saling memaafkan, penyesalan kembali tumbuh dalam angan, haruskah gua menelfon orang tua gua....
selesai solat gua langsung mengayuh sepeda ini ke kampus, dan kampus gua bagaikan kota mati, tak ada orang satupun, gua duduk di taman sambil termenung dan menghayal tentang apa yang harus gua lakukan setelah ini.

Telfon Kak desi.

“Ian, kenapa elo ga bilang kalo elo ga pulang?”

“Lupa kak,”

“Gua lagi di rumah lo sekarang sama bokap gua. Mama lo lagi nangis, setidaknya elo telfonlah mama elo”

“Kenapa mereka ga nelfon atau nyuruh gua pulang”


“lo tahu sendiri papa elo kayak gimana. Tapi ian juga tahu kan, kalau papa ian pasti maafin ian kalau ian minta maaf. turunin ego elo ian, minta maaflah”

“tapi kak”

“Ga ada tapi-tapian, elo tuh” Suara kak desi berubah. Dia menangis.“Lo tuh selalu aja kayak gini, kenapa elo maksain diri ga pulang, gua tahu elo pengen pulang kan, gua tahu elo sedih di sana, ian, gua sedih ngelihat elo kayak gini”

“maaf kak”

“tefon nyokap elo sekarang”

“ga kak , ian ga mau sebelum mereka nelfon duluan”

“ian, jangan boongin diri elo sendiri kalo elo memang ingin bertemu mereka kan”

“ga kak, gua ga pengen ketemu mereka”

Tutt tutuuu tutt


*******************************************

Setelah di telfon kak desi pagi itu. Gua duduk termenung melihat pohon-pohon yang diterpa angin di taman kampus. Kadang air mata menyambut hati gua yang terasa kosong, memupuk ego untuk berbohong pada hati yang tak sanggup lagi menahan rindi pada mereka yang membesarkan gua dari kecil. Lalu haripun mulai gelap. Gua pulang saat azan magrib berkumandang. Gua kayuh sepeda menuju warnet yang tutup salama satu minggu kedepan karena lebaran. Namun saat gua sampai di sana gua kaget.

“Kenapa kamu keras kepala sekali sih?” Tanya kak desi yang berdiri di depan pintu warnet yang tertutup.

“Kok kakak bisa di sini?”

“Buat nyariin elo, buat nemenin lo.”

“Kenapa kakak harus repot repot nemenin ian, ian bisa sendri kok”

“kakak tahu ian, kakak tahu kamu, kakak tahu kamu sedang sedih sekarang”

“enggak, ian baik baik aja,”

“jangan bohong sama kakak,”

Lalu kak desi mendekati gua dan memeluk gua. Gua terdiam dan hanya bisa mematung, hangat, pelukan yang sangat hangat, kehangatan itu membuat hati yang tadi mendingin menjadi lebih hangat, gua membalas pelukan itu, pelukan yang membuat air mata ini tumpah, hati ini tiba-tiba melemah, rasa ego yang mengereas perlahan meleleh dan rasa rindu kembali meledak di dada ini, gua rindu mama, rindu papa,

“Nangislah ian, bila itu bisa membuat kamu lebih tenang” tanpa diberi tahu pun air mata gua sudah menetes deras, gua merasa sepi.

“Kak, ian kangen mama, ian pengen pulang” kata Gua jujur. Sehebat hebatnya gua bertahan, gua tetap adalah anak yang dibesarkan dengan kasih sayang yang terlalu besar, dan hanya dalam waktu satu tahun tak mungkin gua bisa berubah menjadi 100% mandiri dan tak lagi bergantung pada mereka, setidaknya hati ini masih merasa manja ingin medapat belaian lembut dari mereka.

“Kita balik ke lombok besok pagi, kita ambil penerbangan paling pagi, ok?”

“ya kak, temenin ian disini,”

“Ya, adikku sayang. Jangan lagi memaksakan diri , tak ada yang bisa hidup sendiri, semua butuh orang lain” Sifat manja gua keluar, anak mami memang tetaplah anak mami, sehebat apapun dia mau berubah , gua tetaplah anak manja yang dulu.

Malam itu akhirnya gua pergi ke surabaya rumah dari kak desi. kami di sana untuk menunggu keberangkatan pesawat pagi dari surabaya ke lombok, kak desi memaksa gua untuk pulang dan meminta maaf kepada papa, dan gua tak ada pilihan lain, lebaran tanpa memaafkan tak akan pernah diterima oleh tuhan, apalagi dengan orang tua sendiri.

Tangis yang begitu mendalam menyambut gua di rumah, mama memeluk gua dengan erat dan gua tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang ikut menetes di pipi ini, gua mendekati papa dan mencium tangannya lalu meminta ampun, tak ada amarah tak ada emosi, papa memeluk gua dan dari sosok tegas sang papa, keluarlah air mata yang tak pernah gua lihat sebelumnya, papa berulang kali mengatakan kepada gua dengan lirih "maafin papa" dan gua dengan suara yang tak kalah lirih menjawab "Bukan papa yang salah, ini salah ian pa", lebaran ini membuka kembali hubungan gua yang hampir hancur dengan papa, tak ada orang tua yang membenci anakanya begitu juga sebaliknya

*************************************

Pak Sadik, papa kak Desi datang lagi bersilaturahmi ke rumah karena mendengar gua baru pulang dari malang. Kedatangan Pak Sadik menciptakan sebuah obrolan serius antara papa gua dan papa Kak desi.

“Bang” panggil papa gua ke papa kak desi. ”Desi udah mau lulus ya?”

“Ya dik, kayaknya semester depan udah selesai. Tinggal nunggu wisuda habis itu. Gitu kan sayang?” kata Pak Sadik.

“Ya pa, kalo lancar tahun depan udah wisuda” Jawab kak desi.

“Bagus kalo gitu. Gimana bang, apa abang masih mau besanan sama saya?” tanya papa gua.

“Kalo saya sih mau mau aja dik, terserah desi aja. saya mah balikin ke anak anak aja,” jawab Pak sadik.

“Gimana Nak desi?” tanya papa gua.


“Desi boleh fikir-fikir dulu kan om?”

“Desi bijak sih menurut mama,” kata mama gua nyamber. “Masalah hati ga bisa dipaksakan, jadi harus dipertimbangkan, kita juga harus tanya Adrian,” Lanjut Mama.

“Gimana ian?” tanya papa.

“Asal buat papa dan mama senang , ian ikut aja” jawab Gua asal.

“Desi sama adrian juga satu kampus, nanti bisa bicara banyak di sana, mungkin sekarang masih malu-malu, jangan jangan kalo udah diskusi ,malah nanti minta ngebet dinikahin kan.” kata pak sadik.

“biarkan mereka saja yang menentukan, orang tua kan tugasnya ngikut saja, karena mereka yang akan menjalin hubungan,” kata mama Bijak, walau gua bisa tebak mama masih condong ke Anis.

“Nak desi makasih, udah jemput ian jauh jauh kemalang, makasih banget nak. harusnya mama bisa dukung ian sama Desi karena lihat bagaimana perhatian desi sama anak kita,” kata Papa.

Mama terdiam. Mungkin mama baru sadar bahwa kak desi banyak membantu gua selama ini.

Papa kak desi memang selalu mengunjugi kami setiap lebaran, walau sekarang mereka sudah tidak tinggal di dekat rumah kami lagi, obrolan masalah perjodohan ini membuat gua bingung sendiri, dan kak desi juga seperti kebingungan juga, padahal kak desi sedang kembali dekat dengan pacarnya yang dulu tapi di sisi lain kejadian saat liburan itu tentu masih membayangi kami berdua, apalagi papa sepertinya sangat mengebu gebu untuk menjodohkan kami. Papa gua sepertinya ingin gua bertangguung jawab atas apa yang gua perbuat dulu, kepada anak dari sahabatnya. Tapi mama sepertinya masih jatuh hati dengan anis, walau mama tak pernah sedikitpun membenci kak desi.

Setelah bincang bincang cukup lama, masalah kuliah dan cerita cerita yang lain akhirnya gua bisa mendapat waktu berdua dengan kak desi di samping kolam renang belakang rumah gua.

“Menurut elo gimana?” Tanya kak desi.

“Apa kak yang gimana?”

“Perjodohan tadi?”

“Jujur ka, gua bingung”,

“Gua juga, elo udah kayak adik gua”,

“Kak desi udah kakak ian”

“Tapi papamu sepertinya ingin sekali kita bersama, papamu kayaknya masih merasa terbebani oleh peristiwa itu”

“ya kak, terus kita harus gimana?”

“Saat kejadian itu, kita sebenarnya sudah bisa melepas perasaan adik kakak kita berdua tapi setelah itu rasa saudara kita terasa semakin kuat. Kalau kamu mau, kita coba untuk melepas, status adik kakak ini, anggap kakak sebagai wanita yang mungkin bisa kamu sayang, kita coba apa yang diinginkan papa ian, kalo nanti kita tak cocok, kita bilang pada meraka” kata Kak desi,

“Trus awalnya seperti apa kak?”

“Jangan panggi gua kakak lagi, panggil desi saja”

”kak, eh mm desi”

“Bagus,”

“Bagaimana pacar kakak.”

“entahlah, gua sayang dia. tapi” Kak desi melihat gua lalu kak Desi mencium bibir gua dengan lembut, gua tidak tahu motivasi yang dimilikinya sehingga mencium gua tapi ciuman ini membuat gua terasa sangat nyaman, seperti memberi gua rasa ketenangan, dan tak ingin berhenti

“itu sebuah ciuman antara laki laki dan perempuan, bukan lagi adik kakak” lalu kak desi mencium kening gua

“ya des, jangan perlakuin gua kayak adik lagi”

Akhirnya gua menghabiskan waktu selama libur lebaran di rumah bersama di lombok.


Telfon :

Linda : ian, elo lagi dimana ? gua pengen ngomong ma elo ...

gua : gua dilombok lin, ada apa lin,

Linda : gua butuh elo ian,, gua butuh tempat curhat please, sekali ini saja, please..... gua butuh elo...

tumben linda seperti ini dan gua mendengar suara tangis dari balik telfon ini, kenapa linda seperti ini.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
piaupiaupiau dan 37 lainnya memberi reputasi
38 0
38
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
its-my-our-life
Stories from the Heart
seumur-hidup-dibalik-penjara
Stories from the Heart
just-a-little-kitten-tamat
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Personal
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia