Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
16
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f6baf9ec0cad736740205d6/hidup-memang-perjuangan-tanpa-akhir-seleksi-tempa-asah-asih-dan-mati
“Makanya, nambang pagi sampai siang aja. Malam hari istirahat !” Aku hanya diam tak berkata, tak mampu mengutarakan isi hatiku yg terdalam “Kopi sakarek bg Gul” mintaku kepada pedagang kaki lima langgananku ini, sambil mengambil kuaci biji bunga matahari murahan, cemilanku untuk ngalong malam ini. Seperti biasa. Sambil kuseruput kopi hitam, pikiranku menewarang ... Tak terasa sudah 20 tahu
Lapor Hansip
24-09-2020 03:27

Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)

“Makanya, nambang pagi sampai siang aja. Malam hari istirahat !”
Aku hanya diam tak berkata, tak mampu mengutarakan isi hatiku yg terdalam

“Kopi sakarek bg Gul” mintaku kepada pedagang kaki lima langgananku ini, sambil mengambil kuaci biji bunga matahari murahan, cemilanku untuk ngalong malam ini. Seperti biasa.
Sambil kuseruput kopi hitam, pikiranku menewarang ... Tak terasa sudah 20 tahun kuhabiskan umurku ditanah orang (yah walaupun sebenarnya aku masih keturunan daerah ini, tapi berdasarkan garis silsilah yang dianut masyarakat daerah ini, aku tak “dianggap). Sudah lebih dari separuh pula usiaku dari pertama kali meninggalkan rumah tercinta, walaupun gubuk tapi disanalah tempatku dibesarkan dan diasah untuk menjalani hidup agar dapat bertahan dari kerasnya kehidupan yang kujalani sekarang. Disanalah kawah Candradimuka ku.

Pandemi ini memang begitu mengguncang, jangankan kami yang biasa, bahkan sekelas pengusaha pun berasa dampaknya.
“Bukan ku tak berusaha, bukankah nampak oleh mata dan kepalamu sendiri!” Terkasar ucapanku meluncur kepadanya.
“Iya, tapi mana hasilnya !!!”
“Zonk !!! Jangankan untuk membiayai yang lain, bahkan untuk membeli BBM pun masih kurang, setiap hari !”
“Alasanmu selalu gagu atau sewa yang tak ada !!!” Berondongan kalimat keluar dari mulut manisnya, ya manis ... jika hatinya sedang tidak galau, manis untuk dikecup jika gulana tidak sedang menghinggapi, dan bagaimana pula tidak manis jika itu adalah hasil pilihanku sendiri.

Jarum jam tepat diangka empat, “Sudah jam 16, tapi belum juga pulang” batinku.
Sungguh diriku sedang berdilema, terngiang lagu legendaris Pance F. Pondaag - Demi Kau dan si Buah Hati serasa selaras dengan perasaan diri ini.
Pukul 17.30 kudengar gerbang kontrakanku berbunyi tanda seseorang membukanya, kulongok kan kepala dari tempat ku berbaring sambil berharap yang datang adalah yang kutunggu-tunggu. Dan ya, syukurlah demikian adanya. Tampak bidadari melenggok kembali ke kendaraan kami setelah membuka gerbang tadi.
Bidadari ... ??? Ya benar sekali, karena cuma dia wanita dikeluarga kecil kami. Kedua orang buah hati adalah laki-laki, bagaimanapun memang dia yang tercantik diantara kami.
Dengan menenteng tas kain sebuah waralaba ditempat kami yang isinya penuh dengan buku dan dokumen yang aku tak mengerti, dia masuk ke dalam rumah melewati pintu yang hampir selalu terbuka karena pengapnya udara dan karena kipas angin kami cuma satu, itupun dibeli bekas pakai.

“Sudah berapa perolehanmu” tegur temanku yang baru tiba, yang hampir tak kusadari kedatangannya ke lapau ini.
“Kopi Bu, setengah seperti biasa” lanjutnya, kali ini ditujukan kepemilik warung perkataannya.
“Masih satu, hasil ngalong malam tadi” jawabku tak berselera, sambil kuhembuskan asap kematian dari benda yang kusadari celaka tapi terkadang hanya ini teman setia saat galau melanda.
“Kau bagaimana” tanyaku, “Ini baru selesai mengantarkan orderan yang ketiga” jawabnya sambil menghempaskan badan kurusnya dibangku panjang yang sedang kukuasai, duduk.
“Mulai dari habis subuh, bensin habis untuk berputar-putar, akhirnya dapatnya didekat sini juga” lanjutnya.

Teeeetttttttt ... teeetttt ... teettttttt
Jerit smartphone jadulku, pertanda ada orderan meminta untuk diselesaikan.
“Halo, jemput sesuai lokasi Kak?” Tanya ku, karena kulihat nama pemesan adalah seorang wanita.
“Iya, cepat ya !” Jawab sang wanita singkat, “Oke Kak, siap. Mohon ditunggu” balas chatku.
Kuputar kunci kontak kendaraan baru kami, yang baru setahun kuambil dengan cara mencicil. Itupun karena tergiur dengan pekerjaan ini yang tadinya menjanjikan, walaupun untuk down paymentnya terpaksa kami harus berhutang ‘kembali’.
“Ambil aja kembaliannya Bang” konsumenku berkata sambil memberikan ongkos jasa dan bergerak turun dari kendaraanku.
“Oke Kak, terimakasih banyak” jawabku cepat, lalu kulihat harga yang tertera diaplikasi ... Rp. 19.000,-, tak lupa kutatap lembaran Rupiah yang diberikan penumpangku tadi, Rp. 20.000,-. Puji syukur dan do’a kuucapkan kepada Yang Maha Esa teruntuk penumpang tersebut, yang walaupun nilainya tak seberapa tapi ini sangat berarti untukku dan kuanggap sebagai tipsnya.

-bersambung

#Pindah posisi, disini sepi dan anyep.
Terlalu besar resiko ngalong kalo berada ditempat sepi dan sendirian
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bleedingscream dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 07:10

Update

Jam 5.30 pagi hari ini
Ku awali pagi ini dengan kantuk dan kekesalan yang sangat. Bagaimana tidak, kujemput orderanku sekitar pukul 4 dini hari, diluar hujan mengguyur dengan sangat deras, banjir sudah menggenang hampir disemua tempat landai yang ada dikota kecil ini.
Petir menggelegar, dingin menusuk jauh sampai ketulang. Musik sendu entah mengapa tiba gilirannya untuk mendayu dipembuka hari yang sayu.
“Wah banjir Kak” kataku kepada pelangganku, “Sepertinya kita harus putar arah, agak jauhan dikit ya Kak?” Sambungku.
“Terserahlah bang” jawabnya singkat. Terbiasa sudah aku mendapat jawaban ketus dan cuek seperti itu, bisa kumaklumi. Mungkin para pelanggan malamku (yang sebagian besar adalah LC dan WP) sedang “sepi” istilahnya, dan kemungkinan besar memang tingkat edukasi mereka yang kurang pula dan atau lingkungan kehidupan mereka yang memang seperti ini. Mungkin pula pola pikir mereka yang otomatis terbentuk karena terlalu lama berkubang dilumpur hitam ini, yang kemudian membentuk opini “ah semua lelaki sama saja, hanya manis dimulut sampai nektarku kurelakan untuk mereka”.
Aku hanya dapat berbesar hati dan berlapang dada menghadapi mereka, “Oke Kak” jawabku kemudian seraya menggerakkan jari sedikit membesarkan volume musik yang sedang diputar.

“Masuk ke jalur dua ini Kak?” Tanyaku mencoba memecah kegaguan dan keraguanku sendiri, karena terkadang para customer dikota ini sering menentukan baik titik penjemputan maupun pengantaran berbeda dari yang sebenarnya, terlepas dari maksud aslinya, aku hanya dapat berbaik sangka mungkin mereka terburu-buru atau bahkan mungkin mereka tidak tahu tempat yang dituju.
“Iyaaa Baanggggg, ikutin aja Mapsnya” jawabnya kembali ketus seolah pertanyaanku sangat mengganggunya.

Dengan kondisi alam yang sedang kurang bersahabat dan penerangan yang minim, susah payah ku menelusuri jalan didepanku. Banjir membuatku sulit untuk melihat batas kedua sisi jalan, hanya dengan perasaan dan pengalamanku yang sudah bertahun menekuni profesi ini, sehingga sudah hampir hafal setiap lekuk jalan dipelosok kota ini.
Ku injak rem kendaraanku dan berkata “Banjir lagi Kak, bahkan airnya lumayan dalam kali ini”, “Tidak mungkin untuk terus Kak, kalau dipaksakan bisa masuk air nanti kendaraan saya” sambungku.
“Jadi gimana dong Bang? Abang harusnya tanggungjawab karena sudah menerima orderan saya” sahut pelangganku sambil cemberut dan sedikit berdecak.
“Tidak mungkin dipaksakan Kak, cuma sampai batas ini saya berani untuk mengantarkan Kakak. Didepan, jalan sudah benar-benar tidak bisa ditebak, karena hanya ujung rumput yang masih dapat terlihat” kataku kemudian.
“Jadi gimana dong, saya gak mau tau! Pokoknya Abang harus mengantarkan saya sampai kedepan gerbang kontrakan saya!” Perintahnya tegas berkeras.
“Waduh, tidak mungkin Kak” jawabku, “Sekarang saja air sudah sampai setengah dari diameter roda, dan kalau maju lagi air pasti masuk kekendaraan saya” sambungku sambil melongok kebawah melihat ketinggian air dan situasi sekeliling, basah ... dingin.
Pelangganku hanya diam membisu, sekilas kulihat kerut kening dan kerucut mulutnya dari spion tengahku.
“Kalau saya antar ketempat kawan Kakak dulu bagaimana? Sambil menunggu hujan reda dan banjir disini surut” saranku memberi solusi.
Tak lama kudengar pelangganku berbicara ditelepon pintar mahalnya. Meminta izin untuk mengungsi sementara kekontrakan salah satu temannya.
“Sudah sampai Kak, maaf ya tidak bisa mengantarkan sampai kerumahnya tadi” kataku sesampainya ditempatnya akan mengungsi.
Pelanggan ku pun turun, memberikan biaya jasa dengan tangan kiri (hal yang tak lazim didaerah ini). Tanpa pamit, basa-basi atau ucapan terimakasih. Kuterima, mungkin karena ketidakmampuanku untuk mengantarkannya ketempat tujuan awalnya.

Terhitung dua hari dari waktu kejadian tersebut, sebuah notifikasi kuterima dismartphone jadulku, pesan dari aplikator tempatku mengais rezeki.
“Driver tidak bertanggungjawab, kalau tidak becus jadi driver dan malas kerja, mending gak usah jadi driver” sebuah kalimat yang mengiringi gambar bintang satu diaplikasi driverku.
Dan kini, kembali kunikmati asap kematian ini, karena semenjak pesan tersebut masuk, akun driverku pun otomatis sangat susah untuk mendaptkan orderan. Dalam sehari mendapatkan satu orderan adalah sebuah mujizat.
Dan kembali kuhirup kopi hitam Ibu kadai, sekedar mengisi perut yang keroncongan dan menghangatkan badan dimusim hujan yang sedang berlangsung dikota ini.
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 07:18
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 08:40

Update

Terjaga ku dari buai mimpi biasa, diperaduan kapuk nan tak berkerangka, dangak kepala langsung terasa, mungkin karena kurang lena tapi lebih mungkin karena beban jiwa. 07.37:240920

Perlahan kuputar anak kunci untuk membuka pintu rumah ini, sayup masih terdengar adzan subuh dikumandangkan, pertanda qamat sebentar lagi kan dilantunkan.
Kubuka pintu hampir tanpa suara, ragu ... semoga kedatanganku tak sampai membuat mereka terjaga, syukur ... melihat mereka masih lelap dibuai mimpi berenda-renda.

Lesu, ku terpekur disudut kasur. Memijak lantai lalu kemudian kakiku pun terjulur, kaku.
“Cuma satu” batinku, inginku mengadu tapi teringat bukankah hati telah membatu atau bahkan mungkin sudah berubah menjadi abu.
Kembali aku hanya menyaksikan bagaimana OT, QS, OF bahkan sampai Naktek silih berganti berlalu lalang didepanku.
Demikian juga Kanit dan Kasat sang prio kuning yang performanya sedang meningkat, kian berkelebat ditengah hujan lebat, tadi.
Kini ku telah terjaga, nanar terpana karena tidurku tak lena, padahal baru satu jam terlewat kupejamkan mata, rangkik badan pun kini baru terasa.

23.46
“Ping”, “Ngalong om?” Cecar OT via DM di WA ku. “Iya om” jawabku singkat sembari memposting foto tempatku berada dan tak lupa juga shareloc tanda ku memang tak bercanda.
“Oke om, ane bentar lagi twtw” balasnya, twtw merupakan plesetan dari kata OTW. Berawal dari salah seorang teman kami yang kurang fasih mengucapkan kata tersebut melalui VN, sehingga dia berinisiatif menyingkatnya sendiri menjadi “tw”, lalu oleh salah seorang teman kami yang lain malah dijargonkan menjadi “twtw”.

Tempat tinggalku berjarak sekitar sepuluh kilometer jauhnya dari lokasiku saat ini, bisa disebut posko tempat kami berkumpul sehari-hari, atau mungkin semalam-malam sampai dinihari atau adakah istilah lain? Tapi ah sudahlah, pun itu hanya istilah. Parami ota, paubek tanyo.

Memang kehidupan malam dikota ini hanya terpusat disatu titik, pecinannya negeri ini. Dan itu disekitaran posko ini, lumayan jauh jika diukur dari tempat tinggalku.

00.00
“Kosong kosong” kataku mengingatkan mereka, bahwa hari baru telah dimulai. Hampir serentak tangan kami memegang “gear” masing-masing, berdoa semoga menjadi yang perdana dan kemudian tetap membahana, mengudara dan menjadi akun paling “berkuasa”.
Suara exhaust tak berfiltrasi, melolong memecah kesunyian malam ini, milik anak gaul yang mencoba menunjukkan jatidiri, menaikan harga diri bahkan mungkin sedang mencoba menjadi diri sendiri.
“Berapa poin tadi Bang?” Naktek membuka obrolan, pertanyaan yang ditujukan kepadaku. “Cuma dapat dua Ben” jawabku kepada Benny, nama aslinya.
“Sudah hampir habis kesabaran, daya dan upaya mengusahakan akun ini agar kembali keperforma normalnya” sambungku.

00.17
Salah satu robot ijo kami bercahaya, disusul kemudian dengan suara yang hampir Cumiakkan telinga, tapi itu adalah suatu pertanda bahwa nan dinanti alah tiba, rezeki baru sudah terbuka, dan siapakah sang pemiliknya.
“Yes!” Teriak SEC, seraya tangannya ligat mengambilnya, lincah jemari menari diatasnya, memulai chat atau bahkan langsung menekan tombol dialnya.

Sementara kawan-kawanku asyik bercengkerama, segala hal dibahasnya, seperti biasa.
Seperti biasa pula aku hanya duduk, diam mendengarkan dan sesekali ikut berkata dan terkadang tertawa terbawa suasana.
Teeeeettttt ... teeetttt ... teeetttt ... sekali ini OT berjumawa, karena yang berbunyi adalah kepunyaannya. Bergegas, setengah berlari menuju kendaraannya, sambil tak lupa melakukan kontak kepelanggan yang tertera diaplikasinya.
Tinggal kami bertiga yang belum juga diberi jatah oleh aplikator sang empunya, aku, OF dan Mumun.

03.30
Kembali punyaku kali ini yang bersuara, tapi yang ini milik aplikator sebelah, kuning warnanya.
Tak apalah pikirku, walau argo salep tapi toh ini rezekiku.
Ku kontak pelanggan, jemput lalu mengantarkannya, selesai.
Kulihat saldo driverku, ternyata sudah minta pula. Tapi nampaknya harus tertunda karena dana memang sedang tak ada.

05.00
Waktu berjalan tak terasa, matahari sebentar lagi kan terjaga.
Kulihat sekeling hanya sepi, mereka sudah terbuai dialam mimpi, tapi aku tak bisa. Aku harus pulang, jika tidak dengan apakah nanti istriku berkendara.
Kunyalakan kendaraanku, menghidupkan lampunya, kemudian lambat menjelajahi jalan kerumah, kembali, pulang, lagi.
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 14:30

Prosa Gelombang Jiwa

Tak bosankah dikau wahai manusia, hidupmu penuh dengan gejolak. Keseharianmu monoton bagaikan robot, tapi nuranimu berontak inginkan hasrat. Berkacalah, berbenahlah dan longoklah sekelilingmu, jangan hanya keatas pandanganmu terpana sementara nan dibawah selalu kau anggap hina. Bukankah fitrahnya engkau adalah setara, jurang pemisah hanya jariahmu saja.
Tenangkan jiwa ketika badai badai dibatin melanda daripada titian yang kau bina jadi porak poranda, memang semua ini fana adanya tapi mengapakah nafsu dilekatkan juga, karena ... jika tak begitu hidupmu takkan berguna, hanya makan minum lalu tidur berulang setiap harinya.
Tapi ah sudahlah, toh ini hanya kegalauan hati insan seorang dua saja. Banyak manusia tak sadar akan dirinya, terbawa suasana megahnya dunia.

0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 15:19
TS nya driver M@x!m yah emoticon-Ngacir
Diubah oleh gridseeker
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 15:29

Tidak Satu Jalan ke Roma

Entah mengapa malam ini nafsuku memuncak, bukan karena tadi kumendapatkan sewa yang rancak-rancak tapi lebih karena hasratku yang tiba waktunya tuk bergejolak.
Malam ini sungguh sudah tak kuasa kumenahan syahwat di diri, ingin rasanya kujagakan sang bidadari. Tapi ragu langsung menghampiri, ah biarlah jemariku saja yang menari lagi. Tuntas sudah, dapatlah kutekan barang seminggu dua mingguan, daripada kembali kulihat roman Hera di Nirwana, biar ... biarlah daku yang mengalah saja.


Pukul 11.46 WIB
Derit besi gerbang seperti biasa kudengar kembali, memang sekitaran jam ini sang bidadari akan kembali. Bukan untuk pulang, tapi sekedar lunch kalau kata orang dibelahan barat sana, sekaligus membawakan sambal untuk makan kami sekeluarga karena memang dia jarang memasak dirumah, keras berusaha ku tuk memakluminya.

Derap langkah kaki kian mendekat, ku telah terjaga tapi hanya karena berat rasa kepala ini yang menghalangiku untuk menyambutnya, ku terlena di jam sembilan pagi tadi.
Dentang sendok kudengar beradu dengan piring, lalu kudengar dispenser kami menggelegak tanda air turun dari penampungan sementaranya.

Para kurcaci kecilku tak bergeming ketika ditawarkan sang ibunda untuk makan, mungkin masih kenyang karena sepulangku tadi langsung kumasakkan menu pahe pagi hari, telur dadar spesialku, karena yah hanya itu yang bisa kubuat setelah mataku jelalatan memperhatikan deretan bahan yang ada didapur kami.

Bunyi panggilan telepon terdengar berasal dari hape sang bidadari, entah siapa yang berani mengganggu kenikmatan dia disiang ini. Sayup kudengar suara kemenakan sang bidadari, tapi tak jelas apa yang maksudkan.
“Kenapa tidak daritadi! Sekarang Bunda sedang makan, kapan perlunya?” Berkata bidadari disela kunyahan lahapnya. “Ya sudah, tunggu sebentar kalau begitu” sambungnya tak berapa lama kemudian.

Kini ku telah terjaga sepenuhnya, hanya karena mendengar intonasi suaranya, bukan sehari dua hari tidak pula setahun dua tahun ku bersamanya, bukanlah suaminya jika aku tak tahu akan maksud perkataannya.
“Apa tidak ampas saja yang akan kami dapatkan sekembalinya engkau nanti?” Tuduhku langsung menghujam kehulu hati. “Bukankah dia sudah besar dan dewasa untuk berjalan sendiri?” Cecarku lagi.
“Memangnya ada apa, akan kemanakah memang engkau tahu” gerutunya, “Jangan bernegative thinking selalu kepadaku” lanjutnya sembari berdiri mencuci tangan dan berangkat menuju ketempat bajingan kecil itu menanti. Bahkan makan siangnya pun tak sempat dihabiskannya, piring lauk masih berada dilantai rumah. Sedihku, terhiba tapi mulutku kaku.

“Kenapa engkau selalu mementingkan keluarga besarmu?Selalu berkorban untuk mereka, bahkan kami keluarga kecilmu yang seringkali dibuat merana jadinya” tanyaku kepadanya, suatu waktu ketika kami berbeda pendapat lagi untuk yang menurut penilaianku adalah masalah sepele, karena aku hanya berniat menggodanya sebelum dia tidur.
“Cukuplah hari-harimu habis dengan rutinitas pekerjaanmu, tolong sisakanlah akhir hari untuk kami keluarga kecilmu. Pergi pagi lalu pulang senja hari, ketika kelam melingkup dunia maka gelap dan sayu pula pandanganmu, hanya peraduanlah tujuanmu. Kami ini apa? Tidak ada bercengkrama, berkumpul bersenda gurau bersama” curhatku kepadanya, masih cuek.
“Tapi ketika keluarga besarmu, adikmu atau kakakmu atau bahkan orangtua dan juga keponakanmu berkata, walaupun tanpa kata tolong sebelumnya. Bergegas engkau terjaga, matamu bersinar bergelora dan semangatmu yang sebelumnya luntur pun kembali membara” protesku kembali, yang sekali ini langsung disambut dengan gerak bangkit tubuhnya, duduk bersila dengan mata menatap membara kepadaku, suaminya.
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 16:11

Pledoi Untuk Diriku Sendiri

Jika ada diantara kalian yang tersirat dihati, kepo iya tapi untuk bertanya sungkan rasanya, inilah pledoiku untuk berkeras bekerja dimalam hari (ngalong). Kebaikan dan juga keburukannya yang tentu saja versiku, setelah melalui pertimbangan pastinya.
Oh iya jam kerjaku biasanya dimulai dari pukul 00.00 s/d 06.00, lalu lanjut sekembalinya sang bidadari sekitar pukul 16.00 s/d 00.00 (atau 16.00 hari ini sampai dengan pukul 06.00 keesokan harinya).

Plus:
- Persaingan tak begitu ketat
- Lebih hemat (bbm dan jajanan dijalan pastinya)
- Jalanan lebih sepi, karena rata-rata customer dikota ini selalu terburu-buru
- Kendaraan bisa dipakai sang bidadari pada siang hari, karena dia pun memiliki mobilitas tinggi, sedangkan transportasi kami yang layak pakai hanya ini.
- Dapat bergantian bersama dan menjaga para kurcaci di rumah, terlebih dimasa pandemi ini dimana kejahatan merajalela dan tak pandang bulu.
- Aku memang mengalami insomnia akut, sudah berungkali berusaha ku obati. Biasanya hanya bertahan paling lama selama seminggu kehidupan normal (bangun pagi dan istirahat malam hari)
- Tempat menunggu yang pasti, titik orderan dapat diprediksi lebih akurat. Kembali ke poin dua, hemat.

Minus:
- Kesehatan diri, jangka panjang dan pendek
- Keselamatan diri, mudah-mudahan tidak terjadi yang tidak diinginkan dihati
- Harmonisasi, terlebih jika keluarga kurang mengerti
- Godaan dihati, you know lah bagaimana LC, ST, LT dan yang “Mandiri”
- Biasanya kawan-kawanku untuk mengusir dinginnya malam dan mungkin juga galau dihati, mereka mengkonsumsi miras sebagai penghangat. Kembali ke poin nomor satu
- Dan ini yang lebih parah jika tinggal dikompleks atau tempat padat penduduk, bisik tetangga disana dan disini. Mulai dari malas bangun pagi, malas bekerja, bahkan sampai menjual diri
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 20:45

Update

Kamis malam ini, sengaja ku menyendiri diseputaran komplek Gedung Olah Raga ini. Dari senja tadi sepulang sang bidadari, aku pun langsung estafet membawa kendaraan kami, standby.
Sengaja ku pergi walau belum ada orderan yang memanggil, karena kusadari berdasarkan pengalaman selama ini, jika ku masih dirumah, niscaya bukan damai yang tercipta, tapi prahara. Kasihan untuk kedua kurcaci kami.

Kurang lebih 4 jam sudah ku menanti diposko kami, tapi tak satu pun yang terjaring oleh akun ini. Kantuk mulai terasa karena badan menganggap istirahatku belumlah cukup, tapi apa mau dikata, jikapun tidur adalah suatu keharusannya, biarlah dibawah pohon rindang ini ku peradukan diri.

.....

“Pa, kapan kita belajar berenang lagi” tergiang kembali tanya sibungsu siang tadi. Aku pun menjawab, “Untuk apa belajar lagi, kan kalian sudah bisa berenang”. “Terakhir kita berenang dipemandian umum kemarin ini, bukankah kalian sudah tidak dibimbing lagi? Bahkan begitu tiba, kalian langsung meloncat menghamburkan diri ketempat terdalam yang ada disana” lanjutku.
“Iya sih, tapi kan belum lancar betul” sergah sibungsu kembali, sambil asik memainkan EfEf dismartphone yang seharusnya menjadi alat belajar daring semenjak pandemi ini.
“Kalau begitu nanti lah kapan-kapan kita kesana lagi, kita kumpulkan uang untuk tiket masuknya” kataku meng iya kan dan menutup konversasi.

Kedua anak kami betul-betul berbeda watak dan perangainya, tapi untuk urusan keras kepalanya rasanya memang itu turunan dari kami, kedua orangtuanya yang terkenal kepala batu dan kritis. Kecuali jika alasan yang dikemukakan tepat adanya, maka bantahan tiada akan terlontarkan.

Jika sisulung lebih bersifat cuek bebek, tak peduli dengan lingkungan sekitar bahkan menjurus kearah introvert, seperti diriku sewaktu kecil dulu. Maka yang bungsu adalah kebalikannya, dia lebih cepat bergaul dan selalu ingin mencoba tantangan yang baru.
Jika diandaikan, maka sisulung cocok untuk menjadi seorang Ahli IT atau dokter. Dan sibungsu justru sangat cocok untuk jadi traveler, atletmungkin, atau bahkan seorang traveler yang berprofesi sebagai atlet wild sport. Haha... sepertinya pengandaianku terlalu tinggi ya? Tapi bukankah belum ada larangan untuk itu? Dan juga seandainya tidak berandai-andai, lalu apa yang akan memotivasi kami sebagai orangtuanya.

Sepintas teringat sepenggal lirik lagu jadul by Annie Carera ... Malam semakin larut ...
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
24-09-2020 20:53

Sepi Menepi Sendiri

Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
25-09-2020 18:10
nice share, lanjut terus.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
25-09-2020 20:34

Update

Terdengar nada sambung dari nomor telepon yang aku panggil diseberang sana, sebenarnya berat hatiku untuk membuatnya sadar ketika sedang lelap terlena dibuai mimpi, apapun mimpi itu. Terlebih lagi ini adalah jam istirahatnya, yang selalu diributkannya ketika mood sedang beranjak pergi dari kalbunya.

“Hmmm... ada apa Aa?” sayup terdengar suara yang sangat kukenal, yang telah bertahun-tahun menemaniku dalam suka tapi lebih banyak duka.
“Ada lauk untuk makan di rumah tidak?” Tanyaku, “Tidak ada, tadi habis membersihkan rumah terus disambung dengan mencuci piring dan pakaian kotor” jawabnya kembali. Sekilas kuberpikir, adakah korelasi antara pertanyaanku dengan jawabannya tentang kebersihan tersebut, mungkin dia bermaksud menyampaikan bahwa tidak sempat untuk memasak karena sudah terlalu letih setelah bebersih rumah, mungkin.

“Ya sudah kalau begitu biar kubeli lauk dari ampera pinggir jalan saja. Nasi masih ada?” Tanyaku kembali. “Kalau nasi masih, tapi tidak tahu seberapa banyak yang tersisa” jawabnya lesu setengah mengantuk, membuatku merasa bersalah membangunkannya ditengah malam ini, tapi mau bagaimana lagi, daripada aku bekerja dua kali nantinya jika kupaksakan pulang tanpa tahu kondisi dirumah.
Dini hari ini entah mengapa aku merasa sangat tak bersemangat, selain perolehan yang sama sekali tak kudapat, juga perut terasa lapar sangat. Untuk belanja dan jajan diluaran, selain aku tidak terbiasa kecuali sangat terpaksa, juga demi berhemat, aku harus tahu diri.
Sementara untuk menahan sampai sang fajar bersinar dan menyingkap kegelapan sekitar ini, aku yakin masih sangat sanggup, tapi asam lambung akut ku lah yang kukhawatirkan. Daripada nanti aku berguling menahan sakit dan sebah yang tak karuan rasanya, membuatku serba salah, biarlah ego yang kuhempaskan.

Kalau asam lambungku sudah kumat, sungguh memang tersiksa. Menahan, berguling-guling, mengaduh bahkan meratap pun percuma. Meminta tolong pengobatan cara tradisional kepadanya pun enggan jadinya, kerokan.
Hanya dumelan, omelan dan kekusutan yang akan kudengar dan kulihat diroman cantiknya, ah sungguh memberatkan diri hina ini.

.....

Kupesan dua potong lauk di ampera tadi, berikut sambal dan sayurnya. Kubayar menggunakan duit yang kubawa dari rumah siang tadi, mau bagaimana lagi, tak seperak pun kudapatkan selama hampir dua belas jam ini.
Barusaja kendaraan kuhidupkan, kembali teleponku berbunyi, ternyata panggilan dari sang bidadari. Kuangkat dan menjawabnya “Ya, ada apa?” Tanyaku.
“Cukup satu saja beli lauknya” titahnya, tapi terlambat. “Tapi sudah kubeli dua potong” kataku, “Hufffttt, ya sudah kalau begitu. Berapa tinggal duitnya lagi?” Tanyanya kemudian, seolah tahu bahwa keluarku tak membawa rezeki, sedih.
“Kurang tahu, belum dihitung, kenapa memangnya?” Jawabku ingin tahu. “Untuk modal dijalan besok, ya sudahlah” jawabnya cepat, padat dan singkat sambil menutup telepon.

Jam dua pagi.
Duduk ku sendiri dilantai beranda kontrakan ini, menikmati batang putih kecil, sehabis makan sebentar ini. Nikmat sungguh, tapi bukankah memang begitu, dikefanaan segala yang nikmat adalah racun.
Kenyang memang kini, tapi sunyi dan juga sepi sendiri. Untuk menjelajah kembali rasanya berat hati ini, sementara sesiang sampai tadi saja tak sekalipun benda petak ini berbunyi khas bawaan aplikasi.
Berapa pula cairan kuning dari fosil dan berbau yang sekarang terendap dikendaraanku akan terbuang pecuma, aku harus berhemat!.
Biarlah kumenunggu disini saja, siapa tahu ada rezeki datang tak terduga menjelang subuh buta ini. Ku ambil nafas dalam-dalam sampai terdengar bunyi kretek dipunggungku, entah tulang atau ototku yang bersuara, barulah lapang dada kurasa.
Semenjak kejadian kemarin ini, karena kelalaianku juga yang menyebabkan aku terjatuh dan terkilir, akibat memaksakan diri untuk mencuci kendaraan kami sepulangku dari mengais rezeki. Kuangkut air dari kamar mandi menggunakan bak plastik yang terisi hampir penuh, sementara langit sedang turun rinai. Tiba dijalan disamping rumah yang terbuat dari semen halus, berkurang konsentrasiku sehingga bermain ski lah aku disitu. Meluncur, terpeleset dan terduduk.
Meringis menahan sakit, kubatalkan mencuci kendaraan kami, lalu memilih berjalan masuk kerumah kembali, tidur. Dijagakan dengan pertanyaan dari sang bidadari, “kenapa kotor sekali kendaraannya? Kenapa juga bak mandi plastik kita bisa berada disamping luar rumah?”. Meringis ku tersentak, duduk nanar menjelaskan, tak lama kau pun berlalu membatu.
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
27-09-2020 18:57

Update

Deras hujan turun diluar, sederas itu pula keringatku bercucuran. Padahal suhu diluar sangatlah dingin malam hari ini, tapi disini didalam kamar ini panas dan letih kurasakan. Bertempur jiwa dan raga, berjuang menggapai swarna. Dan ketika puncak itu tercapailah sudah, serasa hilang semua beban dijiwa, luruh dan menguap tanpa berjejaknya.

Sang bidadari akhirnya dahaga, taragak akan sanjungan dari syair sang pujangga. Merapat, berharap dan terlena, tapi itukan hanya ulntuk sementara sampai badai taufan kembali melanda. Tapi biarlah, memang begitulah aturan didunia, takkan sempurna terasa jika hanya berisi kenikmatan saja.

.....

“Aa bangun, sudah jam empat sore” katanya, “Oh sh*t” maki ku dalam hati, padahal aku berencana untuk memulihkan staminaku hari ini dengan cara istirahat total seharian.
“Iya, memang kenapa?” Tanyaku kemudian, menjawab panggilannya. “Tidak akan keluarkah dikau?” Tanyanya kemudian. “Baiklah” kataku, mempersingkat komunikasi, karena aku tahu kemana arahnya pembicaraan ini seandainya kusampaikan kehendak dihati.
Terhuyungku berdiri akibat baru tidur sekitar jam dua belas siang tadi, segera kuambil handuk dan kusampirkan dipundakku. Tak lupa kuselipkan batang kecil celaka yang entah mengapa bisa sangat nikmat ketika dihisap sambil nongkrong ditempat yang sangat pas untuk berimajinasi ria, toilet.

Tengah ku bersalin, mengganti lilitan handukku dengan pakaian fullset yang sudah terlampir diatas lemari kami, bunyi deringan smartphone sang bidadari memecah keheningan suasana didalam rumah ini.
“Halo ... ya, Ibu dirumah, langsung saja masuk” berkata sang bidadari kepada lawan bicaranya. “Siapa lagi ini” batinku, seolah tak pernah diberi kesempatan bidadariku ini untuk mengasihani diri, selalu saja ada urusan disana sini.
Bukan, bukanku ku menagahi, tetapi lebih kepada peduli. Karena, jika terus seperti ini, kami juga yang akan kena getahnya ketika sang bidadari merasa penat, jenuh atau bahkan frustasi.

Ucapan salam kudengar didepan pintu masuk rumah, disusul kemudian dengan jawaban dan ajakan masuk ke dalam.
Sekerling kumelihat sepasang muda mudi, malu-malu dan segan mereka masuk lalu kemudian duduk, dilantai beralas permadani murahan karena memang itulah yang tersedia diruangan tamu kami, bahkan seluruh ruangan. Ya kami memang belum memiliki kursi, apalagi sofa empuk untuk memanjakan para tamu kami.
Fokusku pun terbagi, antara televisi yang aku tonton besama para kurcaci dengan pembicaraan mereka. Sepintas pikiranku sudah bisa memperkirakan, dari hasil pembicaraan mereka yang secara tak sengaja tercuri. “Ah ini sepertinya akan lama” batinku kembali. Segera kuberinisiatif untuk pergi saja daripada kutunggu orderan disini, lebih baik ku mengasingkan diri, agar mereka lebih fokus membahas urusannya antara sang mentor dan pelaku KKN.

Jalanan sepi, tongkrongan sepi dan bahkan sekelumit hatiku pun sepi. Tapi biarlah, bukankah lebih baik mencoba, masalah rezeki biarlah yang diatas membagi.
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
27-09-2020 19:20

Posko Penantian Yang Tak Pasti

Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
0 0
0
Hidup Memang Perjuangan Tanpa Akhir (Seleksi, Tempa, Asah, Asih dan Mati)
15-10-2020 13:02
Lanjut lagi dong gan
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
completed-hey-fanny
Stories from the Heart
pernah-berjuang-namun-dibuang
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
aku-dan-dunia-lain
B-Log Collections
Stories from the Heart
hitam-season-2
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia