Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
15
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f63f19d88b3cb24542a28e5/the-haunted-house
Deskripsi Kepindahanku dan kedua orang tua ku ke sebuah rumah baru di kota ini, membuatku makin dekat dengan sahabatku, Reynita. Namun ada yang aneh dengan rumah ini, aku selalu merasa seperti di awasi. Part 1 RUMAH BARU Kalimantan ... . Yah, ini lah tempat tujuan kami sekarang. Setelah sampai di Bandara Syamsudin Noor di landasan Ulin Banjarbaru, kami segera menuju salah satu daerah di Kalimantan
Lapor Hansip
18-09-2020 06:30

THE HAUNTED HOUSE

THE HAUNTED HOUSE

Deskripsi
Kepindahanku dan kedua orang tua ku ke sebuah rumah baru di kota ini, membuatku makin dekat dengan sahabatku, Reynita. Namun ada yang aneh dengan rumah ini, aku selalu merasa seperti di awasi.

Part 1 RUMAH BARU


Kalimantan ...
.
Yah, ini lah tempat tujuan kami sekarang. Setelah sampai di Bandara Syamsudin Noor di landasan Ulin Banjarbaru, kami segera menuju salah satu daerah di Kalimantan selatan ini. Papaku dipindah tugaskan di Kalimantan, karena pekerjaan barunya. Dan otomatis, kami sekeluarga juga harus pindah.
.
"Sampai ...." seru Papa setelah mematikan mesin mobil di depan sebuah rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas.
Aku dan Mama saling pandang satu sama lain lalu menatap rumah dihadapan kami sekarang. "Yuk turun." ajak Papa.
.
"Pa? Serius nih, kita tinggal disini?" tanyaku agak ragu.
.
"Iya. Kenapa? Kalian gak suka?" tanya Papa agak kecewa.
.
Mama tiba -tiba menyenggol ku dan sedikit berdehem. "Suka kok, Pah. Yasmin cuma terkesan aja mungkin, rumahnya lebih besar dari rumah kita di Jawa." kata Mama sambil menatapku lalu berkedip kedip.
.
Aku melotot tak sependapat. Namun Mama malah menginjak kakiku dan makin membelakakan matanya. Baiklah, isyaratnya sudah sangat jelas. Dan aku tidak boleh melawan Mamaku ini. Bakal habis nanti uang jajanku kalau tidak menurut.

"Hehe. Iya Pah. Besar banget rumahnya. "Sahutku menyetujui penjelasan Mama tadi. "Tapi serem juga, hehe." gumamku pelan.
.
Bug!
.
Mama kembali menyikutku agar aku diam.
"Eh yuk masuk. Kita liat dalemnya, Pah." ajak Mama sambil menggandeng Papa masuk ke dalam.
.
Aku hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Lalu mengikuti mereka masuk. Papa memang baru saja mendapat pekerjaan baru , setelah menganggur selama 3 bulan. Perusahaan Papa gulung tikar karena bangkrut akibat persaingan bisnis.
.
Setelah pintu dibuka, kami diam sejenak dan mengamati keadaan sekitar, rumah ini terlihat rapi dan bersih. Dan sepertinya terawat sekali. Sampai-sampai tidak ada secuil pun debu yang menempel pada perabot di dalam. Ada sebuah jam sudut sebesar lemari pakaian. Yang akan berdentang setiap 1jam 1kali. Lantai nya terbuat dari marmer. Jadi terasa dingin, Jendelanya agak banyak hingga memenuhi ruangan ini. Ada kursi kayu dengan ukiran bergambar ular ada di sisi kanan ruang tamu ini.
Sebuah patung harimau juga ada disudut ruangan. Aku mendekat dan menyentuh nya karena penasaran.
.
Tap.
Tap.
Tap.
.
Suara langkah kaki dari dalam ruangan terdengar makin lama makin jelas. Aku masih diam dan mengelus harimau ini seolah dia hidup. Bulu bulunya halus. Sorot matanya tajam, dan membuatku berfikir, ini harimau sungguhan yang diawetkan. Papa berjalan ke dalam untuk melihat langkah kaki siapa itu. "Oooo ... Bu Lastri," Seru Papa lalu sambil tersenyum senang, "Ini Bu Lastri. Beliau ini yang bersih- bersih di rumah ini." kata Papa memperkenalkan wanita paruh baya itu pada kami.
.
Penampilannya agak serawutan. Wajahnya yang datar, terkesan seram buatku. Mama mendekat padanya lalu mengobrol ringan. Aku kembali berjalan mengamati hiasan rumah yang lain. Di sini rupanya didominasi hewan hewan buas. Di bufet juga ada patung ular yang tidak terlalu besar. Lalu di dinding bagian tengah, kepala banteng terpajang berdampingan dengan hiasan dinding lain.
.
"Semua kamar letaknya diatas, dan itu, yang diujung ...." tunjuk Bu Lastri ke kamar paling atas yang menghadap ke halaman depan. "Itu kamar Mba Yasmin. Mari saya bawakan barang- barangnya," kata Bu Lastri sambil meraih beberapa tas milikku. Aku diam beberapa detik lalu menarik tangan Mama agar ikut bersamaku sambil menggeleng cepat.
.
'Mama ... Tolong. Takut loh, serem gitu Bu Lastrinya.' batinku dengan ekspresi melotot dan gerakan kepala beserta ekspresi wajah yang cukup meyakinkan dan berharap Mama bisa membaca pikiranku. Tapi, aku hanya mendapat senyuman dari Mama beserta suruhan agar aku segera ke atas menyusul Bu Lastri. 😑
.
Bu Lastri jalan dengan pincang. Membuatku sedikit tergelitik untuk bertanya apa yang telah menimpanya, hingga dia berjalan dengan kepayahan sekarang.
"Maaf, Bu ... Kakinya kenapa?" tunjukku ke kaki kanannya. Dia menoleh lalu kembali menatapku.
.
"Kecelakaan." jawabnya datar.
.
"Ibu nggak apa-apa naik tangga gini? " kembali pertanyaan spontan terlontar dari mulutku.
.
Bu Lastri menghentikan langkahnya lalu kembali menatapku.
Satu.
Dua.
Tiga.
Hening.
.
Beliau menggeleng pelan lalu melanjutkan berjalan ke lantai atas dengan menyeret koper milikku. Aku pun mengikutinya dengan langkah ragu.
.
Sampai kamarku, rasa ragu dan takut mendadak sirna berganti rasa kagum. Kamar ini cukup besar, didominasi warna pastel dan pink muda, dengan ranjang besar yang dihiasi kelambu putih tergerai di tiap sisi ranjang, dan... Lemari besar yang sebagian besar dilapisi kaca tebal di tiap sisinya. Namun bagian atasnya berukir sama seperti yang kutemui di kursi kayu ruang tamu.
.
Tok
Tok
.
Ku ketuk salah satu sisi kaca lemari itu. Bunyi nya menggema didalam.
"Itu lemari pakaian Mba Yasmin." jelas Bu Lastri yang berdiri didekat ranjang sambil terus menatapku. Aku hanya meliriknya sekilas lewat cermin didepanku.
.
Kriiieeeet.
.
Kubuka pelan lemari besar ini. Dalam lemari ini luas. Dan baru kutau, kalau ini lebih tepat disebut ruang baju, seperti yang sering ku lihat di film- film. Ada beberapa rak untuk menyimpan baju dan gantungan di sisi kanan dan kirinya. Lemari ini tidak lebar, karena lebarnya sama seperti lemari pakaian pada umumnya, hanya saja bagian dalamnya luas dan masuk kedalam. Mungkin ada sekitar 2 meter jarak dari pintu ke bagian belakang lemari ini.
.
"Biar saya bereskan baju - baju Mba Yasmin. " kata Bu Lastri yang tiba- tiba sudah berdiri di belakangku.
.
"Astaga!" pekikku kaget sambil menekan dada dan menarik nafas dalam-dalam. "Ya ampun, Bu. Ngagetin aja!" kataku lagi.
.
"Maaf," jawabnya datar lalu segera menata pakaianku kedalam lemari besar ini.
.
Kriiiiing!
.
Perhatianku teralih pada ponsel di saku bajuku.
.
Aku : 'halo ... '
.
Reynita : 'Emaaaaaaaak!!!' teriaknya kencang hingga aku harus menjauhkan telepon genggamku beberapa centi dari telinga.
.
Aku : 'Brisik ih! '
.
Reynita : 'Bodo! Hehe. Elu udah sampe Mak? '
.
Aku : 'Udah pea!' jawabku sambil berjalan ke balkon kamarku.
.
Seseorang melambaikan tangannya disamping mobil sedan merah sambil tertawa cekikikan. Tawanya sama persis seperti tawa wanita di seberang telepon ku.
.
"KAMPRET!! " Umpatku lalu mematikan telepon dan berjalan turun ke halaman.
.
DEG!
.
"Ya ampun Bu Lastri ...!! Bisa nggak sih, nggak ngagetin aku terus?! " kataku sedikit kesal karena Bu Lastri tiba tiba saja sudah ada di hadapanku. Kulirik ke lemari pakaianku dan sepertinya beliau telah selesai berbenah.
.
"Maaf Mba. Sudah selesai bajunya. Saya mau bantu Ibu di bawah. " katanya lalu berlalu.
.
"Itu orang ... Serem amat sih? " gumamku berbicara sendiri.
.
Namun, lamunanku segera hilang karena suara klakson mobil dibawah. Yah, dia adalah Reynita, sahabatku yang memang tinggal di kota ini. Kami bersahabat lama, namun dia harus pindah ke sini karena orang tuanya juga dipindah- tugaskan dikota ini. Dan kini, kami berkumpul kembali.
.
"EMAAAAAAAAK!! " teriakku kencang lalu berlari ke arahnya.
.
"ONEEEEEENG!! " balasnya sambil melebarkan tangannya kesamping seakan ingin menangkapku dalam pelukannya.
.
Setelah sampai didekatnya ku jitak kepala nya kencang.
"ADUH!! SAKIT BEGO! " umpatnya sambil meraba kepalanya.
.
Aku tertawa puas lalu memeluknya erat. "Kangen, Gue ...." gumamku.
Nita membalas pelukanku, "Elo pikir Gue kagak?" katanya juga.
.
"Cepet banget Elu udah disini, Mak?" tanyaku sambil melepas pelukan kami.
.
"Elu kagak tau, udah gue satronin ni rumah sejak tau elu mau pindah sini. " katanya asal.
.
"Halah ... Lebay! " kataku sinis.
.
"Eh, siapa tuh, Beb? " tanya Nita sambil menunjuk ke balkon kamarku.
.
"Bu Lastri paling. Yang bantuin disini," sahutku cuek dan tak menoleh sedikitpun ke arah yang dia tunjuk.
.
"Bu Lastri? Anak kecil kok, Beb. Sodara elu?" tanya Nita penasaran.
.
'Anak Kecil? '
.
Aku pun menoleh cepat ke balkon kamarku. Kupincingkan mataku dan akhirnya apa yang dikatakan Nita tertangkap oleh indra penglihatanku.
Seorang anak kecil berdiri di balik korden kamarku sambil memeluk boneka di tangannya. "Siapa ya?" gumamku.

"Beb... Kok aneh ya. " kata Nita sambil menarik tanganku dan berbisik.

"Apanya?" tanyaku balik tanpa melepaskan pandangan dari anak itu.

"Kakinya, Beb! NGGAK ADA ! " kata Nita dengan kalimat bergetar.
.
Dan memang saat ku lihat kakinya, tidak ada apapun disana. "Ah, nggak keliatan kali, Mak. Yuk kita liat! " ajakku lalu berjalan cepat masuk ke dalam. "Eh!! BEB!! TUNGGU IH! " Teriak Nita lalu berlari menyusulku.
.
Papa dan Mama yang ada di ruang tengah dengan Bu Lastri dan Pak Jaka bingung melihatku berlari ke atas. "Loh, kenapa Nduk?" tanya Papa heran. Aku diam tak menggubrisnya. Aku sangat penasaran, anak siapa itu.
"Eh, Om ... Tante ...." sapa Nita dan mereka sepertinya mengobrol sebentar. Namun aku tak lagi mendengar mereka karen sudah sampai di depan kamarku. Ku buka pintu kamarku lebar-lebar dan ... Hening.
.
Di balik Korden tidak ada siapapun hanya korden yang berayun tertiup angin. "Beb ...." Nita menyentuh bahuku pelan. Aku menoleh sebentar dan menarik tangannya masuk.
.
"Nggak ada, Beb! Mana tu anak tadi coba! " tunjukku ke sudut ruangan tempat kami melihat anak tadi.
.
"Anak apa? " suara Mama tiba tiba sudah ada di belakang kami. Nita melotot lalu menggeleng pelan. "Oh... Itu, Ma. Anak kucing tadi ada disini. Tapi kok nggak ada. Hehe. " jawabku gugup. "Eh, Pak Jaka udah sampai? " tanyaku basa basi, padahal tadi aku sudah tau Pak Jaka sudah datang tak lama setelah kami sampai. Pak Jaka adalah supir pribadi Papa.

Pak Jaka hanya tersenyum lalu tengak tengok ke sekitar kamarku. Keringatnya bercucuran, beliau seperti kepanasan. "Saya permisi keluar, Bu. Bapak sepertinya butuh bantuan saya dibawah. " kata Pak Jaka gugup. Lalu berjalan cepat keluar kamarku. Aku dan Nita saling pandang dan sama sama mengerutkan kening. Pak Jaka aneh.
.
"Ya udah, Mama lanjutin beres- beres ya. Ayok Bu Lastri. " ajak Mama sambil lalu.
.
Kini tinggal aku dan Nita berdua. Ku rapatkan tubuhku dan memeluk lengannya sambil menatap sekitar kami. "Gue temenin malam ini deh. " katanya.
.


INDEKS

PART 2 SEKOLAH BARU
PART 3 TEMAN BARU
PART 4 MAKHLUK ITU
PART 5 TEROR
Diubah oleh ny.sukrisna
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tatiin77 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
THE HAUNTED HOUSE
18-09-2020 06:35
Noh....cendol lagi...
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
18-09-2020 15:21
Lanjutkan
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
19-09-2020 00:08
Izin nenda yesss... Seruu neyh Roman2nya 😆
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
19-09-2020 08:37
PART 2 SEKOLAH BARU

"Beb ... Elu sekolah bareng gue pan?" tanya Nita sambil menyisir rambutnya dan duduk di depan meja rias kamarku.

Yah, malam ini dia akan tidur disini, menemaniku tentunya. Reynita atau kalau disingkat namanya menjadi Nita ini adalah asli dari Jakarta. Jadi bahasanya kadang bercampur dengan logat betawi. Orang nya slengean, cerewet, bawel, dan suka seenaknya. Kami berdua bagai tom and jerry. Sering bersama tapi juga tak jarang saling mengumpat satu sama lain. Jadi jangan heran dengan tingkah kami nanti.
.
"Ya iyalah, Beb. Kangen berantem sama elu,"jawabku asal sambil asik makan cemilan dengan novel ditanganku, lalu berbaring diatas ranjangku yang Empuk.
.
"Elu pasti bakal betah, Mak, di sono ... Banyak cowok cakep." katanya sambil cekikikan.
.
"Halah ... Cowok mulu yang ada diotak elu," hardikku.
.
"Yaelah, Mak. Kek gue kagak tau yang ada diotak elu aje deh. Lu pan sama kek gue. Kalo liat cowok ganteng jelalatan kemana mana. Kek liat duit!"
.
BUG!!
.
Bantal kulempar ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya.
.
"Kampret!" dia menoleh lalu berjalan kearahku sambil meraih bantal lain lalu dilemparkannya padaku dengan kasar. Aku berlari menghindari amukan Nita. Jadilah kami perang bantal. Kami cekikikan dan berteriak lepas. Seolah tidak peduli kebisingan yang kami ciptakan.
.
'BRISIK!!'
.
Seketika kami diam dan saling pandang satu sama lain. Nita menaikan alisnya beberapa kali, seolah bertanya. 'Siapa tuh?'
Dan kubalas dengan mengerdikan kedua bahuku ke atas.
.
BUG!
Kali ini wajahku menjadi sasaran empuk lemparan Nita karena dia lengah.
"Awas ya elu, Mak! " ancamku lalu mengambil guling dan berlari ke arahnya.
.
DuG!!
DuG!!
DuG!!
.
Pintu seperti digedor- gedor seseorang dari luar.
.
'BRISIIIIK!'
DIAAAAM!!'
.
Kembali teriakan terdengar nyaring.
Lalu ...
Braaaak!
.
Pintu kamar tiba- tiba terbuka dengan kasar. Otomatis kami berdua spontan diam dengan memegang bantal masing masing yang sebenarnya bersiap akan saling serang. Aku menoleh ke Nita, dia pun demikian. Tanpa pikir panjang segera kututup pintu itu dan ku kunci. Lalu berlari ke ranjang, langsung menenggelamkan tubuhku dibalik selimut.
.
"Beeeeeeb! Ikuuuut!" rengek Nita lalu ikut berbaring disampingku.
.
"Siapa tadi yah?" tanyaku sedikit gemetar.
.
"Setan udah pasti mah!" katanya sambil bersembunyi di sampingku.
.
"Setan apaan ye, Mak?" tanyaku yang sependapat dengannya.
.
"Mana gue tau. Elu aje sono kenalan. Gue mah ogah." timpal Nita sambil bergidik ngeri.
.
Kriiiiiiiittttt.
.
Kali ini terdengar suara cakaran benda tajam yang mengenai kaca. Suaranya sungguh Cumiakan telinga. Kami berdua makin ketakutan.
.
"Ya ampun, Beb. Demit dirumah elu reseh banget ...." rengek Nita.
.
"Heh! Jangan asal ngomong elu, Beb. Makin ngamuk tar mereka, Bego!" umpatku kesal. Dan, tak lama ...
.
Hening.
.
"Eh-- sepi," celetuk Nita yang pertama kali menyadarinya.
Aku pun ikut diam sambil memutar bola mataku di dalam selimut. Seakan akan, waspada pada tiap gerakan atau bayangan di luar selimut.
.
"Liat yuk," ajak Nita lagi.
.
Aku menggeleng kencang.
.
"Udah ayuk ah." selimut dibuka paksa olehnya. Dan kosong.
.
Tidak ada apapun di kamarku, selain kami berdua. Namun pintu balkon terbuka lebar, hingga korden melambai lambai tertiup angin.
.
"Tutup gih, Mak." suruh ku.
.
"Idih, ogah. Yang punya rumah siapa Bu. Elu sono ...." Suruh Nita sambil mendorongku.
.
"Bareng kalo gitu!" kutarik tangannya agar dia ikut berjalan bersamaku.
.
"Eh, ogah Beb ah. " tolak Nita sambil berusaha melepaskan tanganku.
.
"Bodo mamat. Kudu ngikut!" perlahan kututup pintu balkon pelan. Setelah tertutup rapat, segera ku-kunci. Memang sisi kamarku di bagian balkon ini semua terbuat dari kaca. Jadi kami bisa melihat pemandangan di luar saat siang, dan mereka yang di luar, bisa melihat kami jika malam. Korden segera kami tutup rapat semua.
.
"Mending tidur aja yuk," ajakku ke Nita.
.
Kami pun tertidur.
.
==========
.
Pagi ini kami sudah menapakkan kaki di sebuah halaman sekolah yang cukup luas dengan taman yang cukup bagus dan rindang. Ada sebuah tulisan terpampang di tengah taman bertulisan 'TAMAN WIYATA MANDALA"
.
'Sekolahnya bagus' batinku sedikit tertegun.
.
"Yuk ...." ajak Nita lalu segera menyeretku agar mengikutinya. Beberapa kali orang-orang berlalu lalang melewati kami dengan tatapan kagum. Nita memang cantik. Jadi tak heran banyak mata memandanginya tanpa kedip. #pengen muntah sebenernya, Mak. Ngetik ini. Kagak rela. 🤢
.
"Ke ruang guru dulu nyok, Beb." ajaknya. Sebenarnya bukan sebuah ajakan tapi pemaksaan. Dia seenaknya saja menarik tanganku kesana kemari. Tapi, kali ini aku menurut saja, karena aku memang tidak tau harus apa dan bagaimana sebagai siswi baru.
Kami sampai di depan sebuah ruangan yang cukup besar, ada papan berbentuk persegi panjang kecil diatas pintu, 'KANTOR GURU'
.
"Eh ... Mih. Aku cariin juga. Kemana sih?" tanya seorang siswa ke Nita.
Wajahnya lumayan sih, tapi kok songong banget ya rasanya ni cowok.
.
"Ini aku nganterin temen yang kemaren aku ceritain loh, Pih." jawab Nita santai.
.
Wait! Pih? Mih?
Bujug buset, masih SMA manggilnya udah begitu. Ah, sepertinya ini pacar Nita, yang sering dia ceritakan padaku.
.
Laki-laki itu menoleh padaku.
"Oh elu ya, yang anak baru itu? Kenalin gue Irfan, pacar sahabat elu." jelasnya sambil merangkul Nita.
.
"Gue, Yasmin."
.
Lalu ...
.
Bug!
.
Rangkulan Irfan terlepas karena seseorang menabrak mereka berdua dengan kasar.
"KALAU MAU PACARAN, JANGAN DISINI!!" bentaknya kasar.
.
"ELU RESE YAH! " sahut Irfan tak kalah emosi.
.
"Arka, udah Ka ... Udah. Yuk," kata seorang pria berkaca mata di sampingnya sambil mencoba melerai mereka. Namun, sekilas kulihat dia melirik ke Nita.
.
"APA LOE?!" teriak Arka ke Irfan.
.
Aku tidak tau, ada masalah apa diantara mereka berdua. Pria berkaca mata itu terus menarik Arka menjauh.
.
"Elu sirik aja kan sama gue. Halah ... Ngaku aja!" ujar Irfan saat Arka sudah agak jauh. Rupanya, Arka mendengar perkataan Irfan lalu dia menoleh ke Irfan dan segera menghampirinya.
.
"ARKA!! WOI!! WADUH!" ucap pria berkaca mata tadi sambil mengacak acak rambutnya karena Arka terlepas dari genggamannya, dan sekarang berjalan mendekati Irfan.
.
Bug!
.
Satu pukulan telak mengenai rahang Irfan. Nita berteriak histeris. Irfan yang mencoba membalas malah kembali terkena pukulan bertubi- tubi dari Arka.
"Joe!! Tolongin dong!!" mohon Nita ke pria berkaca mata itu.
.
'Oh jadi namanya Joe' batinku.
.
Joe berlari mendekat dan berusaha melerai mereka. Dan, alhasil guru- guru yang berada di dalam ruangan berbondong - bondong keluar karena keributan ini.
.
========
.
Kini, kami berlima ada di ruang kepala sekolah. Aku duduk di samping Nita, di sebelah kananku ada Arka dan Joe, di sebelah kiri Nita ada Irfan. Arka dan Irfan sama sama memegangi wajah mereka yang lebam karena perkelahian tadi.
.
"Kalian itu maunya apa? Berantem terus! Nggak bosen? Mau jadi apa kalian ... Bla bla bla." nasihat pria berambut putih berpenampilan rapi dan terlihat berwibawa.
.
"Dan, KAMU ARKA! MAU JADI APA KAMU? BIKIN MALU AJA!" Bentak nya ke Arka. Arka hanya diam dan melihat ke luar jendela seolah tidak menggubris perkataan Bapak Kepala sekolah tadi.
.
"Kamu!" tunjuk Pak Heri padaku.
.
"Eh, iya Pak." jawabku agak terkejut.
.
"Anak baru ya?" kata Pak Heri lagi.
.
"Hooh, Pak." jawabku agak bingung.
.
"Nama kamu siapa?" tanya Pak Heri sambil mengambil sebuah map biru dari mejanya.
.
"Yasmin, Pak."
.
Arka berdiri dan akan bersiap keluar ruangan.
"Eh ... Tunggu Arka! Siapa yang suruh kamu pergi! Duduk lagi!" kata Pak Heri tegas.
.
Dengan malas-malasan Arka kembali duduk sambil mendengus sebal.
.
"Ya sudah, kalian balik ke kelas sana ... Itu, Irfan beresin dulu mukanya ya, Nit. Obatin." suruh Pak Heri.
.
Nita lalu keluar bersama Irfan. Joe menatap nanar mereka berdua. Lalu pamit ke Pak Heri untuk kembali ke kelasnya. Pak Heri beralih ke Arka yang bersikap malas malasan.
.
"Yasmin, kamu satu kelas sama Arka. Nanti bareng dia aja ya, biar dia tunjukin kelas nya."
.
"Ck ... Ya udah yuk ah, balik kelas!" ajak Arka lalu menarik tanganku keluar tanpa memperdulikan Pak Heri yang geleng geleng kepala.
Arka terus menggandengku keluar melewati koridor sekolah. Suasana sekolah sudah sepi. Sepertinya mata pelajaran pertama sudah dimulai.
"Pindahan dari mana?" tanya Arka datar.
.
"Jawa."
.
"Oh. " jawabnya sambil memegangi pipinya yang lebam.
.
"Tunggu!" kataku sambil menahan tangan nya yang sedari tadi menggandengku.
Arka berhenti lalu menoleh dengan malas malasan. "Apa?"
.
"Bentar!" kukeluarkan tissue basah dari dalam tasku. Lalu kutarik tangannya agar duduk di kursi panjang yang ada di koridor.
.
"Ngapain sih?" tanyanya ketus.
.
"Bersihin dulu tuh muka. Kotor, kena debu, kena darah. Nanti infeksi!" kata ku sambil mengelap wajahnya perlahan.
.
Dia diam dan pasrah saja. Saat aku membersihkan wajahnya, aku merasa Arka sedang terus menatapku. Aku meliriknya, reaksinya lucu menurutku.
"Hah? Apa?" tanyanya sambil menaikan alisnya keatas.
.
"Lah kamu, ngeliatin mulu. Kenapa?"
.
"Pede amat sih? Ayuk ah!" dia lalu beranjak dan berjalan agak cepat.
.
"Arkaaaaaa! Tungguiiiin." rengekku sambil kepayahan mengejarnya.
.
Arka terus berjalan cepat menuju kelas dan aku pun mengikutinya. Tapi Arka mendadak hilang di ujung koridor.
.
"Haduh, mana yah kelasnya. Arka cepet banget sih jalannya. "Gumamku.
.
Disamping kananku ada seorang siswi yang sedang duduk sendirian dengan buku pelajaran dipangkuannya.
"Maaf mba, kelas 2-5 dimana yah? " tanyaku berusaha sopan.
.
Di menunjuk ke arah samping kanannya dengan wajah tetap tertunduk.
"Oh di sana? Makasih ... " ucapku lalu berjalan ke arah yang dia tuju.
.
Hingga sampai di ujung koridor, aku hanya menemui gudang kotor. Aku pun celingukan kesana kemari.
"Loh, Mba ...." ku toleh ke tempat perempuan tadi duduk, karena letak gudang searah dengan dia tadi. Namun, tidak ada siapapun disana. Mungkin sudah masuk kelas, pikirku.
Sepertinya aku dikerjai olehnya. Hingga aku tersesat begini.
.
Dug
Dug
Dug
.
"Tolong ...." rinting seseorang dari dalam gudang.
.
Karena penasaran aku mendekati gudang dan melongok ke jendela. Tapi karena sulit terjangkau, aku tidak bisa memeriksa ke dalam. Ku putar handle pintu untuk membukanya.
.
Klek!
.
Aneh. Kenapa mudah sekali terbuka. Lalu kenapa orang tadi minta tolong.
"Permisi ...." sapaku masih di depan pintu.
.
"Tolong ...." suara ini lagi.
.
"Siapa ya? Kamu dimana?" tanyaku lalu mulai melangkahkan kakiku masuk kedalam.
.
Lalu seseorang menepuk bahuku.
"Elu ngapain disini sih? Gue cariin juga! Ayok ke kelas!" kata Arka mengagetkanku.
.
"Eh itu, Ka." kataku sambil menunjuk ke dalam gudang.
.
"Apaan?"
.
"Ada orang didalem."
.
"Hah? Orang? Yakin? Ngigo ah. Yuk balik kelas." ajak Arka sambil menarik tanganku.
.
"Eh, tunggu! Ada orang minta tolong! Liat dulu dong Arka. Kasian." pintaku.
.
Arka menarik nafas panjang lalu menoleh ke dalam gudang.
"Siapa sih di dalem? Jangan ngerjain ya! Keluar ga Lo!" kata Arka.
.
Bug!
.
"Aduh ... Sakit! Apaan sih elu!" omel Arka karena kusikut perutnya.
.
"Jangan kasar kasar napa sih jadi orang!" omelku balik.
.
"Bawel lu! Lagian mana ada orang di sini. Ngaco deh. Setan kali!" katanya ngasal.
.
Braaak!
.
Kursi yang ada di dalam mendadak jatuh. Kami saling pandang. Arka langsung menarik tanganku pergi.
"Gila! Setan! " makinya lalu sedikit berlari kecil.
.
"Setan?" tanyaku.
.
Dia diam saja sambil terus menggandengku sampai ke kelas.
.
Diubah oleh ny.sukrisna
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
1 0
1
THE HAUNTED HOUSE
19-09-2020 11:42
nice story, lanjut.
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
19-09-2020 12:41
Nitip sendal dl gan smbl nunggu apdetanemoticon-2 Jempol
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
21-09-2020 17:21
PART 3

"Buruan masuk. Yaelah, malah bengong." Kata Arka lalu menarikku masuk ke kelas.
.
"Bu, ada murid baru nih," tunjuk Arka padaku. Dia malah ngeloyor begitu saja duduk di bangku paling belakang.
.
"Oh, kamu Yasmin?"
.
"Iya, Bu."
.
Akhirnya aku pun memperkenalkan diri seperti murid baru pada umumnya. Lalu duduk di bangku paling depan dengan Sofi.
Selama seharian di kelas, aku sudah bisa menebak kalau Arka ini anaknya bandel. Dia suka menyeletuk sembarangan dan menimbulkan kegaduhan di kelas. Aku juga satu kelas dengan Joe. Dia sebangku dengan Arka.
.
Bel istirahat pun baru saja berbunyi. Aku segera melangkah ke luar kelas guna mencari keberadaan kantin. Perutku sudah rock n'roll di dalam. Sampai di depan pintu kelas, aku celingukan mencari di mana letak kantin. Atau setidaknya arah atau petunjuk di mana Kantin berada.
"Mau ke kantin?" tanya Joe yang ternyata sudah ada di sampingku dengan Arka.  Aku mengangguk dan hanya melirik mereka sekilas.
.
"Ya udah, bareng aja. Kita juga mau ke kantin." ajak Joe.
.
"Hmm?" kunaikan sebelah alisku sambil menatapnya dingin.
.
"Nita juga pasti udah di kantin kok. " jelas Joe lagi.
.
"Uhuuuuk ...." Arka batuk batuk sambil tersenyum kecil.
.
Aneh.
.
"Ya udah deh. Yuk," kataku yang akhirnya pasrah. "Eh, kemana nih?" tanyaku ke Joe. Saat berada di persimpangan koridor.
.
"Silahkan Nona. ..." ujar Joe sopan sambil memberiku jalan ke arah yang seharusnya. Aku berjalan lebih dulu lalu diikuti mereka berdua.
.
"Pindahan dari mana?" tanya Joe sambil berjalan di sampingku.
.
"JAWA!" sahut Arka sedikit berteriak.
.
Joe menoleh ke Arka sambil tersenyum.
"Rumahnya di mana?" tanya Joe lagi.
.
"Kepo deh," jawab Arka lagi.
.
Joe berbalik badan lalu mengapit kepala Arka gemas. Mereka saling serang lalu tertawa bersama.
Aku hanya menaikan sebelah bibirku, sambil geleng- geleng kepala melihat tingkah mereka.
"Kalian udah lama temenan?" tanyaku.
.
"Tetanggan kita mah," sahut Joe lalu kembali berjalan di sampingku. Arka pun ikut berjalan bersama kami, dia ada di samping kananku.
.
"Elu temennya, Nita?" tanya Joe.
.
"Eheeee ...." Arka batuk batuk. Lagi.
.
Kulirik Arka yang senyum- senyum aneh lalu beralih ke Joe.
"Dia kenapa?" tanyaku sambil menunjuk Arka di sampingku.
.
"Biasa, kumat. Gila. Nggak usah diurusin." Sahut Joe santai.

"Eh, Nita ya? Iya ... Aku temen Nita. Temen kecil sih dulu." jawabku.
.
Joe manggut-manggut.
Dan tak lama kami sampai di Kantin.
"Tu temen loe ...." tunjuk Arka ke ujung Kantin.
.
Disana ada Nita yang sedang duduk bersama Irfan.
"Mereka pacaran udah lama?" tanyaku sambil melirik ke Joe.
.
"Hmm ... Lumayan," jawab Joe malas malasan lalu menarik kursi dan duduk di tempat yang masih kosong.
.
"Makan apa nih?" tanya Arka sambil celingukan. Mencoba mendinginkan keadaan.
.
"Bakso sama es teh. " jawab Joe datar lalu menatap kosong ke arah samping kanannya.
.
"Elo?" tanya Arka padaku.
.
"Samain aja,"
.
"Oke. " Arka pergi memesan makanan sementara aku menarik kursi dan duduk di depan Joe. Pandangannya kosong. Tak lama dahinya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
.
"Kamu tadi dari mana?" tanya Joe tiba tiba.
.
"Tadi? Dari mana?" tanya ku balik.
.
"Sebelum ke kelas!" tanya Joe memperjelas.
.
"Oh ... Itu. Aku nyasar ke ujung sana tuh. Ada yang ngerjain deh. Masa tadi kan aku tanya kelas kita di mana... Eh ada murid cewek nunjuk ke arah situ tuh." jelasku dengan semangat berkobar kobar.
.
"Murid cewek?" tanya Joe heran.
.
"Hooh. Duduk di kursi itu tuh. Terus lagi baca buku." tambahku lagi.
.
"Hmm ...." gumamnya sambil menarik nafas panjang lalu menyilangkan kedua tangannya didada.
.
"Kenapa, Joe?"
.
"Hmm ... Nggak apa- apa," sahutnya sambil melebarkan senyum yang kurasa dipaksakan.
.
"Eh terus ya, Joe. Pas aku di depan gudang. Ada yang minta tolong. Eh, kata si Arka kampret, itu setan, terus dia narik aku cepet banget balik ke kelas."
.
Joe terkekeh sambil garuk - garuk kepala.
"Udah, nggak usah dipikirin. Lain kali, nggak usah dateng ke sana lagi." saran Joe.
.
"Hah? Kenapa? Beneran ada setan tah?" tanyaku semangat.
.
"Hahaha ... Ya ngapain kamu ke gudang. Orang kotor gitu. Nggak ada kerjaan banget." tutur Joe.
.
Tak lama Arka datang membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan kami.
"Makan tuh. Gila!! hampir aja gue berantem lagi sama tu kampret!" umpat Arka sambil menunjuk ke Irfan yang sedang menatap kami di sana.
.
Joe hanya tersenyum lalu menyeruput
Es teh dan segera melahap bakso yang masih panas itu.
.
"Kalian ada masalah apa sih?" tanyaku ke Arka.
.
"Masalah cowok"
.
"Apaan?" tanyaku penasaran sambil sedikit mendekat.
.
"Kepo! " katanya sambil menoyor kepalaku lalu ikut meminum es teh nya. Seperti Joe.
Ku kerucutkan bibirku karena kesal.
.
Saat makan, tak lama Irfan dan Nita berjalan mendekati kami.
"Ya udah, kamu duluan aja, Pih. Aku ada perlu sama Yasmin bentar." kata Nita sambil masih menggandeng tangan Irfan.
.
Irfan menatap Joe dan Arka bergantian.
"Ya udah. Jangan lama- lama." Irfan berlalu.
.
Sementara Joe dan Arka makan dengan cueknya, seolah Irfan dan Nita tidak ada disekitar kami.
Nita duduk di sampingku sambil meraih gelas teh manis milikku.
.
"Joe ...." panggil Nita.
.
Arka menyenggol lengan Joe masih sambil fokus makan. Joe pun menatap Nita. "Hm, kenapa?"
.
"Loe tau nggak, Yasmin tinggal di mana?" tanya Nita sambil bisik- bisik.
.
Spontan aku menoleh ke Nita.
"Emang kenapa sama rumah gue?"
.
Joe menatapku serius.
"Rumah kamu di mana?"
.
"Jalan Saripul no 13" ucapku dengan wajah polos.
.
Joe langsung melotot dan mengunyah pelan bakso dimulutnya. "Serius? "
.
"Iyalah. Masa boong. Dan semalem ... Kami dikerjain." tambah Nita.
.
"Kerjain gimana?" tanya Arka ikut penasaran.
.
Nita menceritakan kejadian semalam, dari awal dia datang, tentang anak kecil di balkon kamarku dan gangguan- gangguan di kamarku.
.
"Waw ... Kerjaan lu tuh, Joe." senggol Arka.
.
"Terus maksud kamu gimana? Aku harus ngapain?" tanya Joe ke Nita.
.
"Kamu usir lah. Kasian Yasmin." bujuk Nita.
.
Joe mendengus. Tak lama menggeleng.
"Aku nggak bisa. " dia pun berlalu meninggalkan kami.
.
"Lho woi! Joe! Bayar woi!" teriak Arka.
.
Sementara itu Nita menarikku mengejar Joe. Arka ngomel- ngomel sambil membayar makanan ke Bu kantin.
.
Saat hampir sampai kelasku, terdengar teriakan di ujung koridor, sepertinya dari toilet. Joe yang sudah di dalam kelas lalu ditarik oleh teman dari kelas lain.
"Apaan sih?!" kata Joe sedikit malas malasan.
.
"Tolongin Joe! Ayoooook ...." paksa siswa itu.
.
"Liat yuk!" ajak Nita antusias.
.
Sesampai di toilet ujung koridor, ada seorang siswi perempuan sedang meraung. Beberapa orang di sekitarnya ketakutan bahkan ada yang terluka terkena cakarannya.
.
KESURUPAN!
.
Joe mendekat lalu membacakan doa doa di dekat telinga siswi tadi.
.
Bug!
.
Joe terpental lalu meringis kesakitan.
Ditekannya jempol kaki siswi itu, dia makin kesakitan. Joe mendapatkan kembali tendangan darinya. 2-0.
"Wooi ... Pegangin dong!" teriak Joe ke sekitarnya.
.
Teman teman yang lain malah satu persatu melipir ke luar dari toilet sambil bergidik ngeri.
Entah mendapat keberanian dari mana, aku malah mendekat dan membantu Joe memegangi anak itu.
"Yas?" ucap Joe kaget.
.
"Udah buruan, keluarin setannya!" paksaku sambil memegangi tangannya.
.
Joe mengangguk lalu melanjutkan lantunan doa doa. Siwi, dia adalah siswi yang kesurupan, Ia malah makin brutal. Menggigit tanganku.
.
"Aaaaarrrhhh ...." erangku lalu berusaha melepaskan diri dari Siwi.
Nita ikut mendekat lalu mencoba membantuku.
.
Tak lama Arka datang.
"Astaga!" pekiknya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Arka ikut masuk dan membantuku agar bisa terlepas dari Siwi.
Akhirnya dengan bantuan mereka, tanganku berhasil terlepas dari gigitan Siwi. Namun lukanya cukup dalam. Siwi pun berhasil ditenangkan oleh Joe, dan kini tak sadarkan diri.
Darah mulai mengalir dari punggung tanganku.
"Berdarah, Beb!" pekik Nita panik.
.
"Dikit doang ah" sahut Arka cuek.
.
Aku segera menuju wastafel untuk membersihkan darah yang terus mengalir. Saat membersihkan, entah kenapa pikiranku kosong. Aku menerawang jauh entah kemana. Lalu saat selesai, aku bercermin. Anehnya, suasana sekitarku berwarna abu-abu.
Kutoleh ke belakang dan semua terlihat sama. Bahkan tembok sekelilingku terlihat kotor.
.
"Beb! " panggilku.
.
"Joe? "
.
"Arka?"
.
Namun tidak ada yang menyahut. Kubuka satu persatu bilik toilet. Dan saat kubuka bilik toilet yang terakhir, aku melihat siswi yang sama, yang saat itu ku temui sebelum aku ke gudang.
.
"Eh, maaf ... " seru ku tak enak,  karena menyelonong masuk begitu saja.
.
Dia hanya diam dan terus menunduk dikloset duduk. Melihat keadaan agak aneh. Kulanjutkan bertanya padanya.
"Maaf kamu siapa?"
.
"Sri" ucapnya datar.
.
"Oh Sri. Eh, Sri ... Kok sepi yah? Pada kemana? Perasaan tadi masih rame. Kamu liat Nita, Joe sama Arka nggak?"
.
Sri menggeleng.
.
"Oh, enggak. Jadi dari tadi kamu disini?"
.
Dia mengangguk pelan.
.
"Kamu tadi tau, Siwi kesurupan?kamu tau kenapa? Kan kamu di sini dari tadi." tanyaku sambil celingukan.
.
"Karena ... AKU!" Teriaknya keras lalu tiba tiba saja dia menghampiriku dengan gerakan cepat. Tangannya mencekikku hingga aku tidak bisa bernafas. Dia mengangkatku tinggi- tinggi hingga kakiku meronta ronta mencari pijakan.
.
Tiba tiba seluruh ruangan dipenuhi asap putih dan tak lama, gelap.
.
=====
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
1 0
1
THE HAUNTED HOUSE
22-09-2020 21:01
PART 4 MAKHLUK ITU

"Beb ... Beb ...." panggil Nita yang suaranya ada di dekat daun telingaku, sambil menepuk kedua pipiku pelan.
Kukerjap- kerjapkan mataku dan perlahan membukanya.
.
"Ssshhh ...." gumamku sambil menekan pelipis. Kepalaku terasa berat, badanku lemas, mataku selalu ingin terpejam.
.
"Alhamdulillah ...." kudengar suara beberapa orang di sekitarku.
Namun, sebelum mataku terbuka sepenuhnya, aku merasa sesak nafas. Sampai sampai aku menekan dadaku karena sesak.
.
"Eh kenapa beb?" tanya Nita sambil memegang tanganku.
.
"Kok banyak banget orang sih? Aku nggak bisa nafas ...."
.
"Oh ... Bentar ... Bentar ...." serunya lalu dia menyuruh beberapa orang keluar. "Udah, Beb," katanya lalu kembali mendekat padaku.
.
Kubuka mataku sepenuhnya, aku berada di sebuah ruangan, dengan kotak P3K ada di sisi tembok sampingku. Sepertinya ini UKS.
Ada Nita, Arka dan Joe di dekatku. Nita menatap nanar padaku, sementara Joe menatap tajam padaku sambil menyilangkan kedua tangan nya di depan.
.
"Aku kenapa?" tanyaku dengan terus menatap mereka bertiga satu satu.
.
"Kamu tuh tadi kenapa sih, Beb?" tanya Nita.
.
"Emang kenapa?" tanyaku balik dengan muka kebingungan.
.
"Nih ...." tunjuk Arka ke lengan kanan nya yang telah diperban.
.
"Kamu kenapa, Ka?" tanyaku lalu mendekat padanya, melihat lukanya.
.
"Awas ih!! Gara- gara elo nih!" ujarnya dengan sedikit emosi lalu mendorongku sedikit kasar.
.
"Hah? Aku? Masa sih? " tanyaku sambil menatap Arka bingung.
.
Nita mendekat lalu memelukku dengan perlahan membawaku kembali ke tempat tidur.
"Istirahat dulu, Beb." bisik nya.
.
"Ka ... Udah deh, Ka. Dia kan nggak sengaja." bela Joe kepadaku sambil menarik Arka menjauh.
.
"Aku kenapa sih? " tanyaku mendesak.
.
Semua menatapku dingin, Nita mengisyaratkan Joe untuk mendekat padaku. Joe menarik nafas panjang, lalu kini duduk di pinggir kasur, menatapku agak lama.
"Yas ...." panggil Joe agak pelan.
.
"Hm?"
.
"Apa yang kamu liat tadi di toilet?"
.
Aku diam beberapa saat dan menatap langit- langit sambil mengingat kejadian tadi.
"Ya ampun, Joe!" pekikku sambil mencengkram tangan Joe.
.
"Kenapa?" Joe mengernyitkan kening, penasaran pada apa yang akan kuceritakan.
.
"Tadi ... Pas aku mau cuci tangan ke wastafel ... Nggak tau kenapa ... Suasana sekelilingku berubah." jelasku perlahan.
.
"Berubah? Maksud nya apa, Beb?" tanya Nita yang ikut mendekat dan duduk di samping Joe. Joe melirik sekilas ke Nita, dan sedikit kikuk.
Sementara Arka hanya berdiri di dekat pintu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
.
"Berubah jadi aneh. Kayak bukan toilet kita." jelasku lagi, "Sepi. Nggak ada satupun orang, padahal aku pikir kalian masih di toilet loh. Dan ... Aku ngeliat cewek yang waktu itu aku temuin di koridor sekolah, yang bikin aku nyasar ke gudang itu loh, Ka!" tambahku dengan bersemangat dan melihat ke Arka yang masih kesal.
.
"Terus?" tanya Joe datar.
.
"Dia ...." kataku pelan.
.
"Dia kenapa, Beb?" tanya Nita penasaran.
.
"Dia ... Nyekik aku, Beb."
.
"Hah? Terus ... Kamu nggak apa- apa kan, Beb?" tanya Nita agak panik.
.
"Ya ... Aku agak panik, sakit juga. Tapi nggak lama setelah itu, banyak asap putih, terus semua gelap."
.
Kami diam. Joe terlihat berfikir lalu menarik nafas dalam.
"Ya udah, nggak apa - apa sekarang. " kata Joe yakin.
.
"Emang aku kenapa?"
.
"Loe kesurupan ampe cakar - cakar gue. Nih ... Nih ... Sakit tau. " gerutu Arka sambil menunjukan kedua lengannya yang terluka.
.
"Namanya juga kesurupan, ya nggak sadar kali Arka! Elu mah, luka gitu aja heboh. Kayak nggak biasa bengep aja tu muka!" oceh Nita kesal.
.
"Udah ... Udah ... Kamu udah nggak apa apa kan Yas? " tanya Joe.
.
Aku mengangguk pelan.
.
"Mau disini? Atau balik kelas nih? " tanya Joe memberikan pilihan.
.
"Hm."
.
"Kalau di sini, dan sampai kesurupan lagi ... Gue kagak mau nolongin!" ungkap Arka datar.
.
"Ya udah, balik kelas aja. " jawabku dengan nada sedikit merajuk.
.
Kami akhirnya kembali ke kelas masing- masing.
.
============
.
"Maaaa ... Mama ...." teriakku dari ruang tamu.
Cuaca siang ini begitu menyengat kulit. Nita sudah pulang ke rumahnya setelah mengantarku barusan.
Kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tengah.
.
Hening.
.
'Mama kemana yah?' batinku.
.
Akhirnya dengan berat hati kulangkahkan kaki ku menuju dapur, mencari keberadaan Mamaku. Biasanya dapur adalah tempat Mama menghabiskan waktu. Mama suka masak, dan yang pasti makanan buatan Mama, enak. Tapi kali ini, dapur kosong. Peralatan masak bahkan masih tertata rapi di tempatnya.
.
Tap!

"ALLAHU AKBAR!! " teriakku kencang. Seseorang menepuk bahuku hingga aku terperanjat.
.
"Kenapa sih?" tanya Mama tanpa rasa bersalah.
.
"Mama ih! Ngagetin deh!" gerutuku sebal.
.
"Lebay deh kamu"
.
"Ih Mama! Sok gaul!" kataku gemas "Mama darimana sih?"
.
"Dari kamar. Ni beres beres baju" kata Mamaku sambil menenteng tas pakaian yang biasa dipakai bepergian.
.
"Tunggu! Mama mau ke mana?" tanyaku menyelidik.
.
"Mama mau ke tempat sodaranya Papa, yang di luar kota. Kamu baik- baik di rumah ya." jelas Mama sambil sibuk memainkan benda pipih ditangannya disertai kekehan pelan.
.
"Nggak mau!"
.
"Hah? Apanya yang nggak mau?" tanya Mama yang kini beralih menatapku.
.
"Ikut pokoknya"
.
"Yas, nggak bisa. Mama sama Papa paling nggak 3 hari kesana. Soalnya jaraknya lumayan. Dan lagi kamu kan harus sekolah. Masa mau bolos. " terang Mama lebih menjurus ke memaksa.
.
"Yasmin nggak mau di rumah sendirian. Takut loh, Ma. " rengekku.
.
"Ih apaan sih, Nduk. Biasanya juga di rumah sendiri nggak apa apa kok sekarang malah gini. Lagian Ada Bu Lastri "
.
"Takut Ma!"
.
"Takut apaan?"
.
"Setan ...." gumamku pelan.
.
"Hah? Setan? Pppffffftt ... Hahaha. " tawa Mama.
.
"Ih, Mama ... Kok malah ketawa sih!" rengekku makin manja.

"Ya habisnya kamu. Takut setan. Sholatmu buat apa to, Nduk. Bacain doa aja kalo nongol. Beres. " jawab Mama enteng.
.
"Bacain doa? Enak bener Mama. Coba kalo nongol beneran. Emang Mama nggak pucet?" sindirku.
.
"Halah ... Kamu ...."
.
Braaak!
.
Tiba tiba kursi di ruang makan jatuh sendiri. Kami berdua saling pandang. Aku lalu merapat ke Mama.
"Tuh kan, Mama sih!" bisikku pelan ke Mama.
.
"Paling angin ah, udah ya. Mama berangkat. Papa udah nunggu di luar tuh. Tar ngomel lagi!" kata Mama lalu berjalan ke depan sambil menenteng tasnya. "Oh iya, Nduk ... Kalau kamu takut, ajak aja Nita kesini. Nginep sini." kata Mama lalu melenggang ke l. uar dengan santainya.
.
'Enak bener Mama ngomongnya. Sendirinya aja takut gitu kan. Ish! '
.
Kuputuskan naik ke kamarku.
.
Tap.
Tap.
Tap.
.
Saat sudah di depan pintu kamar aku menolah ke belakang. Aku merasa seperti diikuti. Embusan angin menerpa tubuhku. Ku tengok tengok ke sekeliling.
.
Sunyi.
.
Saat ku berbalik hendak masuk ke kamar ...
"MASYA ALLAH!!" Pekikku lalu mundur beberapa langkah karena tiba tiba saja Bu Lastri ada di depan kamarku membawa sapu dan kain pel.
.
"Mbak Yasmin udah pulang?" tanya Bu Lastri datar.
.
"Ba ... Ba ... Barusan, Bu. " jawabku tergagap
.
"Ibu pergi, mungkin 3hari baru pulang." terangnya masih dengan gaya yang sama. Datar.
.
"Udah tau. Misi, Bu. Aku mau masuk. "
aku ngeloyor masuk ke kamar begitu saja.
.
Aku makin takut dengannya. Apalagi Mama dan Papa tidak di rumah nanti malam. Sepertinya Bu Lastri lebih menyeramkan dari setan.
.
======
.
Tok
Tok
Tok
.
Aku sedang mengerjakan tugas sambil makan cemilan di kamar lalu menoleh ke pintu.
.
"Ya? " sahutku memastikan siapa yang mengetuk pintu kamarku.
.
"Makan malam sudah siap, Mba." kata Bu Lastri dari luar.
.
"Oh iya, Bu." karena memang perutku lapar, aku pun mengemasi buku bukuku lalu ke luar kamar.
Saat kubuka pintu, ternyata Bu Lastri tidak ada.
.
"Bu ... Bu Lastri ...."
.
Hening.
.
'Mungkin sudah turun' pikirku.
.
Dengan santai aku berjalan turun ke bawah.
.
Dug!
Dug!
Dug!
.
Sebuah bola basket terpental pental di sekitarku. Aku diam sambil berfikir siapa yang bermain bola basket di dalam rumah. Karena di rumah hanya ada Bu Lastri dan aku.
Saat bola ada di kakiku, kutundukan badan dan mengambilnya. Ku tengok sekitar. Tidak ada siapapun. Bulu kudukku meremang. Dan bola yang kupegang kini seperti bergerak gerak.
Saat ku lihat lagi ...
.
"Aaaargggghhhh!!! " kulempar kepala itu jauh jauh dan berlari ke kamarku.
Yah, kepala. Bukan bola. Entah sejak kapan, bola yang tadi menggelinding berubah menjadi kepala manusia. Aku terus berlari masuk ke kamarku dan kukunci pintu cepat cepat. Segera kusingkap selimut dan masuk ke dalamnya.
Badanku gemetaran. Baru kali ini, secara terang terangan aku diteror seperti ini.
.
Tak
Tak
Tak
.
Lagi. Ada suara langkah kaki mendekat. Aku bahkan sempat menangis karena ketakutan. Keringat dingin mulai mengucur deras. Perlahan selimut seperti ditarik. Aku pegang erat selimut ini agar aku tetap di dalam. Aku begitu takut, hingga tidak bisa berfikir jernih.
Lalu sunyi. Selimut tidak lagi ditarik paksa oleh 'nya'. Namun hal ini justru membuatku makin takut.
.
Di mana makhluk itu. Batinku
.
Kuberanikan diri melihat ke luar. Meyingkap selimut sedikit. Dan ... Tidak ada siapapun.
.
Krataaak ...
.
Ranjang yang kududuki bergerak gerak. Makin lama makin kencang. Saat aku ingin turun, ranjang ini malah berputar kencang. Dan aku pun terlempar jatuh ke lantai.
.
Bug!
.
Sesuatu mulai bergerak dari kolong. Sebuah tangan hitam dengan kuku kuku panjang.
"Ya ampun! " pekikku panik.
Aku mundur mundur dan berlari menuju pintu.
.
Klek
Klek
Klek
.
Pintu terkunci!
SHIT!!
.
Kurapatkan tubuhku menempel pada pintu. Kini, tangan itu mulai terlihat jelas. Bahkan tubuhnya mulai nampak. Rambutnya terurai panjang dengan pakaian putih kusam. Dia terus merangkak mendekatiku. Aku pun terus menghindar. Lalu berlari ke arah balkon.
Karena panik, aku melangkahkan kakiku dan turun perlahan dari atas. Berbekal pegangan plafon dan pipa pipa yang menempel di tembok, aku terus turun dengan tergesa gesa.
.
Tap!
.
Tiba tiba makhluk itu mulai mengejarku sampai ke sini dia pun mulai turun dengan mudahnya, bagai cicak yang merayap pada tembok. Gerakannya gesit. Dan tiba tiba wajahnya sudah tepat ada di depan wajahku.
.
"Aaaarrrghhh!! " teriakku keras. Pegangan pun terlepas. Dan ...
.
Bug!
.
Aku terjatuh membentur paving beton di halaman.
"Aaawww!" erangku lalu memegangi kedua siku-ku yang sepertinya juga terluka. Makhluk tadi menatap dingin padaku lalu menyeringai. Dengan tenaga yang masih tersisa aku berlari tanpa mengenakan alas kaki. Berusaha pergi sejauh jauhnya.
.
Sampai di jalan raya, keadaan sudah aman pikirku. 'Dia' tak lagi terlihat mengikutiku. Aku berjalan dengan meringis menahan sakit di sekujur tubuhku.
.
Hingga ...
.
Bruuuughhh!!
.
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
1 0
1
THE HAUNTED HOUSE
22-09-2020 23:17
Lanjut ganemoticon-Jempol
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
23-09-2020 09:27
Asliii serem amat tuh rumahemoticon-Takut
Untung baca cerita nya pagi, kalau malam ga punya nyaliemoticon-Hammer

Lanjutkan ya sist aku bantu rate 5 yahemoticon-Rate 5 Star
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
24-09-2020 10:07
PART 4 TEROR

Sebuah mobil sedan merah melesat cukup kencang dan berhasil menabrakku hingga aku jatuh terguling di aspal jalan. Alhasil tubuhku yang sudah terluka makin bertambah goresan nya. Tak lama, seorang pria berlari dengan terburu buru menghampiriku.

"Maaf... Maaf..., " ujarnya merasa bersalah. "Loh! Elo! " pekiknya.

Suara yang tidak asing, pikirku.
"Yaaaaah, Arka kamvret! Kali nyetir yang bener napa sih! Nih gue luka! Bego banget elo tau! " maki ku sambil memukuli nya pelan.

"Eh eh eh... Mak! Woles napa! Elu sih, jalan ketengah aja. Kan gue gak liat. Gelap! " omel Arka balik.

"Arkaaaaaaa! Jahaaaaat! Sakiiiiit" rengekku manja.

"Eh... eh... Maaf... Maaf... " kata Arka tak enak. Lalu dia menatapku tajam.
"Elo kenapa sih? Kok berantakan gini? Ini karena gue tabrak tadi?" tanya Arka cemas.

Kupegangi wajahku sambil sedikit meringis menahan sakit.
"Bukan kok. Sebelum kamu tabrak juga udah gini bentuknya. Hehe" kataku diiringi senyum menutupi semua rasa sakit dan takut yang masih kurasakan.

"Yas... Kenapa sih?" tanya Arka heran melihatku.

"Hah? Apanya yang kenapa sih?" tanyaku balik sambil celingukan mengamati keadaan sekitar.

Arka diam beberapa saat.
"Ya udah, gue anter pulang. Udah malem nih. Nggak baik cewek keluyuran malem- malem" ajak Arka lalu menggandengku begitu saja.

Kutahan tangannya. Dia pun menoleh.
"Kenapa? " tanya nya heran.

"Gue nggak mau pulang kerumah. " jawabku lantang.

Arka mengerutkan kening.
"Nape lu? Kabur dari rumah? Kagak dikasih uang jajan? " terka Arka sok tau.

"Cih... Apaan sih Arka! Udah ah! Sana kalau elo mau balik. Gue bisa sendiri. " jelasku lalu hendak pergi dari hadapannya.

"Tunggu! " Arka menahan tanganku dan membuatku kembali menoleh padanya.

"Apalagi?" tanyaku yang mulai jengah.

"Elo mau kemana? "

"Kemana aja deh! " sahutku sambil menarik nafas panjang.

"Kerumah Nita?"

"Hmm... Enggak ah. Udah malem. Ganggu. Paling tar nyari hotel aja deh. " jawabku enteng.

"Hotel?" tanya Arka setengah meledek.

"Kenapa?"

"Elo yakin mau nyari hotel dengan kondisi loe yang gini?" tunjuk Arka ke arahku.

"Emang kenapa?"

"Yang ada elu bakal diusir. Dikira gembel. Lagian emang elu ada duit?" tanya Arka lagi.

Aku diam.
Benar juga, aku tadi pergi dengan tergesa- gesa. Jangan kan uang, alas kaki pun aku lupa memakainya.
Kujambak rambutku sendiri sambil melihat sekeliling. Berharap ada petunjuk, dimana aku harus tidur malam ini.

"Ya udah yuk. Ikut gue! " ajak Arka kembali menarik tanganku menuju mobilnya. Aku pasrah dan hanya diam sepanjang jalan.

"Ngomong- ngomong, elu kenapa sih? Abis kerampokan?" tanya Arka yang masih penasaran. Sambil sesekali melirik padaku namun tetap fokus menyetir.

"Bukan. " jawabku pelan.

"Terus?"

"Gue ketemu setan dirumah" jawabku sekenanya.

"Pffffttt... Hahahahaha..., " tawa Arka meledak begitu saja.

"Is... Kampret emang lu! " makiku dengan nada suara pelan. Aku malas berdebat. Aku juga malas berkelahi dengan nya. Aku benar benar, lelah.
Kupandangi jendela samping kiriku dan menyilangkan kedua tanganku didepan. Tak kuhiraukan lagi kalimat Arka yang terus meledekku.

'Coba kalau tu setan ngikut yah. Rasain lu, Ka. ' batinku kesal.

Buuug!

Ada sesuatu terjatuh diatas mobil. Kami berdua diam lalu saling pandang. Jantungku kembali berdegup kencang.
"Ka... Itu apa?" tanyaku sambil menatap atas kami.

"Eum... Ranting pohon mungkin. Udah, nggak apa- apa. " jawab Arka santai.

Dug!
Dug!
Dug!

Suara itu makin mendekat dan kini berada tepat diatas kami berdua. Arka melirikku.
"Kucing kali yah? Biar gue turunin deh " ujarnya lalu menepikan mobil.

"Eh, Arka! Jangan! Mending terus jalan aja deh. Tempat ini sepi banget liat tuh kebun semua. " suruhku.

"Kasian tu kucing, Yas. Tar jatuh kelindes kan mati. " jawab Arka lalu menepi dan mematikan mesin mobilnya.

"Arka! Arka! Jangan, Ka! " larangku.

Tapi Arka tetap akan turun, tapi sebelum turun aku bersikeras menahannya.

"Tunggu, Ka! Please... Jangan. Gue takut 'dia'... Makhluk yang ada dirumah gue. "

"Hah? Setan yang elo bilang tadi? Jadi dia ngikutin elo sampe sini? Gitu? "

Aku mengangguk cepat.

"Pppffffttttt... Hahahaaha" Arka kembali tertawa lebar.

Kemudian ...
Tap
Tap
Tap

Sesuatu, lebih tepatnya seseorang, perlahan turun dari atap mobil. Dari arah kaca depan, benda hitam turun makin lama makin banyak. Sebuah rambut panjang yang perlahan menutupi hampir seluruh bagian kaca depan mobil. Arka dan aku melotot.
"Arka ... Jalan, Ka! " suruhku dengan berbisik. Perlahan Arka meraih kunci mobil yang masih menempel.
Kini rambut panjang itu mulai menunjukan wajahnya. Kepalanya mulai terlihat. Wajahnya putih pucat, dengan bola mata berwarna merah menyala, bibirnya robek hingga sampai telinga, sehingga barisan gigi gigi taringnya nampak jelas. Kulitnya melepuh dan mengeluarkan cairan dimana mana.

"Arka... " panggilku sambil kucengkram lengannya. Arka diam dan masih terus menatap mata merah menyala itu.

"Arka... " panggilku lagi. Dan belum ada reaksi apapun dari nya.

"ARKA!!! " Teriakku yang sudah tidak tahan lagi.

Arka menoleh dengan gugup. Seperti orang bingung.
"JALAN!! " Kataku lagi.

Dengan cepat Arka menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobil dengan cepat.

Breeeem!

Ciiiiiit!!

Bunyi decitan ban mobil terdengar cukup keras. Mobil melaju kencang. Bahkan aku sampai menutup mataku karena takut. Arka terus menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
Berbelok kekanan dan kekiri, kadang menukik tajam karena makhluk ini masih menempel di atas mobilnya.

Hingga saat sampai belokan yang cukup curam, Arka lupa mengerem dan...

Byuuuur!

Kami masuk kesebuah danau yang ada diujung jalan ini. Mobil makin lama makin tenggelam. Arka berusaha membuka pintu sampingnya. Sementara aku terus memukul mukul kaca mobil. Aku takut tenggelam. Karena aku tidak bisa berenang.

Brakk!
Braak!
Braak!
"TOLONG!! " teriakku kencang.
Perlahan air mulai masuk dan entah kenapa pintu tidak bisa terbuka.
Hingga tak terasa air sudah mencapai dada. Aku makin ketakutan, panik dan terus berteriak. Arka menendang pintu tanpa kenal lelah.
Dan... Braaak!!

Pintu berhasil terbuka. Air pun makin naik. Entah sudah berapa banyak air danau yang ku minum. Semua terasa blur. Pandanganku makin tertutup air. Namun, kulihat Arka sudah ada didepanku.

========
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
1 0
1
THE HAUNTED HOUSE
24-09-2020 10:12
Quote:Original Posted By banditos69
Lanjut ganemoticon-Jempol
siap gan. Terima kasih, udh mampir.emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By sucay23
Asliii serem amat tuh rumahemoticon-Takut
Untung baca cerita nya pagi, kalau malam ga punya nyaliemoticon-Hammer

Lanjutkan ya sist aku bantu rate 5 yahemoticon-Rate 5 Star


Makasih sis emoticon-Angel
profile-picture
banditos69 memberi reputasi
1 0
1
THE HAUNTED HOUSE
24-09-2020 17:59
Makin mengerikanemoticon-Takut
Lalu setelah itu kamu pingsan ya sist? Eh spoileremoticon-Cape d... (S)
profile-picture
ny.sukrisna memberi reputasi
1 0
1
THE HAUNTED HOUSE
27-09-2020 21:06
Up lagiemoticon-Cool
0 0
0
THE HAUNTED HOUSE
28-09-2020 16:47
ikutan nyimak mnunggu apdetan niyh nyah.. emoticon-Malu (S)

smangat yaaa... slalu dtunggu karya ny.. emoticon-Kiss (S)
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
accidentally-you
Stories from the Heart
senandung-black-n-blue
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia