Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4067
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f469518a2d19562a578fdb9/tegal-salahan-jilid-ii
WARNING!!! Thread orisinil! Dilarang mengcopy, mengutip, memperbanyak, dan atau mengunggah seluruh atau sebagian dari isi thread ini dalam bentuk apapun dan di media manapun tanpa terkecuali. Bagi yang melanggar akan dikenakan tindakan tegas! TEGAL SALAHAN (Jilid II) (TAMAT) Part 1: Genderuwo Jajan Bakso Namanya Kang Tarno. Dia ini adalah tetangga ane Gansist. Pekerjaannya, selain sebagai petani j
Lapor Hansip
27-08-2020 00:00

TEGAL SALAHAN (Jilid II)

icon-verified-thread
Warning!




TEGAL SALAHAN (Jilid II)(TAMAT)

TEGAL SALAHAN (Jilid II)


Part 1:
Genderuwo Jajan Bakso



Namanya Kang Tarno. Dia ini adalah tetangga ane Gansist. Pekerjaannya, selain sebagai petani juga nyambi berjualan bakso keliling kampung. Kang Tarno memang terkenal sebagai sosok yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja.

Ia berjualan dari siang hingga larut malam, berkeliling dari satu desa ke desa lain. Berbeda dengan tukang bakso keliling yang kebanyakan menggunakan gerobak, Kang Tarno berjualan dengan menggunakan rombong yang dipikul. Bukan tanpa sebab. Letak desa yang berada di kaki perbukitan dengan jalanan yang kebanyakan masih berbatu dan naik turun, membuat sedikit kesulitan kalau harus berjualan dengan menggunakan gerobak.

Seperti hari itu, jam sepuluh pagi Kang Tarno sudah siap untuk berangkat berjualan. Setelah membaca Bismillah, dipikulnya rombong bakso yang lumayan berat itu. Ia menyusuri setiap jalanan desa sambil sesekali memukul mukul mangkok dengan menggunakan sendok. "Ting...ting...ting," demikian suara sendok beradu dengan mangkok yang menjadi ciri khas bakso Kang Tarno. Bisa dipastikan setiap terdengar suara itu, maka tak lama lagi Kang Tarno bakalan lewat.

Selain terkenal enak, bakso Kang Tarno juga sangat murah. Satu mangkok hanya ia hargai seribulimaratus rupiah. Tak heran kalau jualan beliau sangat laris. Kami anak anak desa juga sangat menyukainya. Untuk anak anak, Kang Tarno tak pernah mematok harga. Berapapun kami membeli selalu dia layani dengan ramah. Kadang, cukup hanya dengan uang duaratus atau tigaratus perak, kami sudah bisa menikmati satu atau dua buah bola bakso yang ditusuk dengan lidi lalu diolesi kecap dan saos. Terasa sangat lezat dinikmati sambil berjalan pulang dari sekolah.

Namun hari itu sepertinya bukan hari keberuntungan bagi Kang Tarno. Berkeliling desa dari jam sepuluh pagi sampai jam dua sore, baru tiga mangkok bakso yang berhasil ia jual. Kang Tarno tak patah semangat. Ia memutuskan untuk melanjutkan jualannya ke desa sebelah.

Panas terik dan keringat yang bercucuran tak ia pedulikan. Sambil memikul rombong baksonya ia berjalan ke arah utara, menuju ke desa Tarumas. Alhamdulillah, di desa itu ia berhasil menjual lima mangkok bakso.

Sejenak Kang Tarno beristirahat di poskamling yang ada di sudut perempatan jalan. Sambil menikmati sebatang rokoknya, sesekali Kang Tarno kembali memukul mukul mangkok dengan menggunakan sendok, berusaha menarik perhatian para pembeli.

Habis rokok sebatang, tak juga ada pembeli yang datang. Kang Tarnopun kembali memikul rombong baksonya, berjalan ke arah barat, menyusuri jalan raya beraspal menuju ke arah desa Patrolan.

Matahari telah hinggap di punggung bukit Asem di sebelah barat, saat Kang Tarno tiba di desa Patrolan. Beberapa mangkok bakso kembali berhasil ia jual. Saat adzan maghrib berkumandang, Kang Tarno singgah di sebuah warung kopi. Limabelas mangkok bakso telah berhasil ia jual. Jadi ia merasa pantas untuk menghadiahi dirinya dengan secangkir kopi hitam kesukaannya.

Selepas Maghrib, Kang Tarno kembali melanjutkan jualannya. Kali ini ia menuju ke arah selatan, ke desa Mojoretno. Namun, di desa itu sepi. Tak seorangpun yang tertarik untuk membeli baksonya.

Kang Tarno tak patah semangat. Ia mengubah arah langkahnya menuju ke arah timur. Desa Kedhungsono menjadi harapan terakhirnya. Biasanya di malam hari banyak pemuda desa yang nongkrong di poskamling. Mereka langganan tetap Kang Tarno.

Namun harapan tinggal harapan. Sampai di desa itu keadaan juga tak kalah sepi. Tak ada seorangpun yang nongkrong di poskamling. Kang Tarno menurunkan rombong baksonya, lalu duduk di bangku kayu yang ada di poskamling itu. Untuk mengusir rasa sepi, Pak Tarno menyalakan radio kecil yang memang selalu ia bawa saat berjualan. Siaran wayang kulit menemani laki laki itu menikmati rokok kreteknya. Sesekali ia bersenandung, mengikuti alunan suara sinden yang menembangkan gendhing gendhing jawa dari radio kecilnya.

Sampai hampir tengah malam, tak juga ada pembeli yang datang. Pelan Kang Tarno membuka laci tempat uang di rombong baksonya. Beberapa lembar uang ia keluarkan, lalu ia hitung. Baru balik modal, ditambah sedikit keuntungan.

Kang Tarno menghela nafas. Mungkin memang hanya segitu rezekinya hari ini. Setelah merapikan kembali rombong baksonya, Kang Tarnopun kembali berjalan. Kali ini ia memutuskan untuk pulang saja. Percuma juga kalau dilanjutkan berjualan. Hari sudah lewat tengah malam. Tak ada lagi orang yang berkeliaran di jalan.

Sambil memikul rombong baksonya yang terlihat masih sangat berat, Kang Tarno berjalan ke arah utara, melewati area Tegal Salahan menuju ke desa Kedhungjati.

Meski banyak yang bilang kalau area Tegal Salahan ini angker, namun Kang Tarno tak pernah merasa takut. Toh selama ini, setiap pulang berjualan ia selalu lewat di tempat itu. Dan tak pernah sekalipun ia mengalami hal hal yang aneh.

Namun malam itu ada yang berbeda. Kang Tarno merasakan tengkuknya sedikit merinding saat mendekati buk yang ada diantara tanjakan dan turunan jalan Tegal Salahan. Udara juga terasa lebih dingin. Angin yang bertiup sepoi sepoi membawa aroma bau prengus yang menusuk indera penciumannya.

Kang Tarno menghentikan sejenak langkahnya. Dari tempatnya berdiri, terlihat dua sosok bayangan hitam tinggi besar duduk diatas buk beberapa meter di depannya. Satu di sebelah kanan jalan, satu lagi di sisi seberangnya.

"Djanc*k! Apes tenan dino iki. Wes dodolan ra payu, mulih malah dicegat mbah Ndruwo!" (Djanc*k! Apes benar hari ini. Sudah jualan nggak laku, pulang malah dicegat mbah Ndruwo!) gerutu Kang Tarno dalam hati.

Sempat terbersit niat di hati Kang Tarno untuk berputar balik dan mencari jalan lain. Namun niat itu segera ia urungkan. Jalan memutar terlalu jauh. Bisa bisa baru pagi hari nanti ia sampai di rumah.

Akhirnya, setelah mulutnya komat kamit entah mengucapkan kalimat apa, Kang Tarno kembali berjalan dengan kepala sedikit menunduk, berusaha untuk tidak mengacuhkan keberadaan kedua makhluk itu.

Namun, nasib baik rupanya masih enggan untuk berpihak pada Kang Tarno. Saat ia lewat tepat di depan kedua makhluk itu, serempak kedua sosok hitam itu melompat turun dari atas buk dan menghampirinya. Sontak Kang Tarno segera menurunkan rombong baksonya. Kedua lututnya bergetar hebat. Laki laki itu jatuh terduduk diatas jalan berbatu yang sedikit basah oleh embun.

Lewat sudut matanya, Kang Tarno mengamati kedua sosok hitam tinggi besar itu. Sangat menyeramkan. Seluruh tubuh makhluk itu diselimuti oleh rambut lebat berwarna keabu abuan yang terlihat kasar. Dan wajahnya, lebih menyeramkan lagi. Mata bulat besar sebesar lampu senter berwarna merah menyala, hidung pesek besar dengan lubang hidung sebesar pantat gelas, dan mulut lebar dengan sepasang taring sebesar pisang raja yang mencuat dari kedua sudut bibirnya.

Yang lebih menyeramkan lagi adalah, salah satu dari kedua sosok itu memiliki payudara yang sangat besar dan panjang, menggelambir turun hampir menutupi seluruh perutnya yang buncit, tanpa ada sehelai benangpun yang menutupinya. Sangat menjijikkan.

"Bakso, rong mangkok!" (Bakso, dua mangkok!" salah satu dari sosok itu menunjuk ke arah rombong bakso Kang Tarno. Suara makhluk itu terdengar sangat serak dan berat.

Kang Tarnopun mulai sibuk meracik dua mangkok bakso pesanan makhluk itu dengan tangan gemetar. Tak butuh waktu lama, dua mangkok bakso siap dihidangkan. Dan tak menunggu lama juga, tanpa memperdulikan kuah bakso yang panas mengepul, kedua makhluk itu menenggak seluruh isi mangkok sampai tandas tak tersisa.

"As*, duduh panas ngono kok nekat diglogok. Opo ra mlonyoh cangkem'e?" (anj*ng, kuah panas gitu kok nekat ditenggak, apa nggak melepuh tuh mulutnya.) batin Kang Tarno heran.

"Imbuh! Rongpuluh mangkok!" (Nambah! Duapuluh mangkok!") kembali makhluk itu menunjuk rombong bakso Kang Tarno.

"Blaik! Kelakon dirampok Ndruwo tenan ki! Rongpuluh mangkok, gek iki mengko dibayar po ora yo?" (Sial! Beneran dirampok Ndruwo ini! Duapuluh mangkok, kira kira ini nanti dibayar apa enggak ya?) gerutu Kang Tarno dalam hati.

Namun laki laki itu tak kuasa menolak permintaan kedua makhluk hitam besar itu. Lenyap sudah seluruh isi dandang baksonya, setetes kuahpun tak ada yang tersisa. Kang Tarno terduduk lemas, membayangkan kerugian besar yang akan ia derita malam itu.

"HAAAIIIIIIIIKKKKKKKK.....!!!!!" kedua makhluk hitam tinggi besar itu bersendawa dengan sangat kerasnya. Bau nafas busuk menguar dari mulut keduanya, membuat Kang Tarno merasa mual bukan kepalang.

"Dhuwit'e!" (Uangnya!) salah satu dari makhluk hitam besar itu mengulurkan beberapa lembar uang puluhan ribu. Entah uang beneran atau bukan, Kang Tarno tak sempat memeriksanya. Laki laki itu langsung memasukkannya begitu saja ke dalam laci rombong baksonya.

Dan begitu kedua makhluk itu menghilang dibalik kegelapan, Kang Tarno juga langsung ngibrit, setengah berlari menaiki tanjakan jalan Tegal Salahan sambil memikul rombong baksonya yang kini terasa sangat ringan.

***

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke pasar untuk berbelanja, Kang Tarno menyempatkan diri memeriksa laci rombong baksonya. Dan benar saja, bukan lembaran uang puluhan ribu yang ia temukan, tapi hanya beberapa lembar daun sirih yang mulai mengering. Lemas seketika sekujur tubuh Kang Tarno. Dengan wajah lesu, akhirnya Kang Tarno menceritakan kejadian yang ia alami semalam kepada bapak mertuanya.

"Sudah, tak perlu kamu pikirkan kejadian itu. Sekarang kamu ke pasar saja, belanja. Nih, pakai uang bapak dulu. Nanti kamu jualan saja seperti biasa. Dan daun sirih itu, biarkan saja di dalam laci rombongmu. Jangan dibuang, siapa tahu bisa membawa keberuntungan." begitu nasehat sang bapak mertua, sambil memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu untuk modal belanja Kang Tarno.

Meski sedikit bingung, toh Kang Tarno menuruti begitu saja saran dari bapak mertuanya. Dan benar saja. Entah memang kebetulan atau bagaimana, sejak peristiwa itu, jualan bakso Kang Tarno maju pesat. Sekarang ia sudah memiliki kios bakso di pasar kecamatan yang lumayan ramai, dan tak perlu lagi bersusah payah memikul rombong keliling kampung untuk menjajakan baksonya.



*****
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
engaskoez dan 141 lainnya memberi reputasi
138
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 49
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 00:00
INDEX :



Part 1 :Genderuwo Jajan Bakso
Part 2 :Mbah Gabug
Part 3 :Hantu Tanpa Kepala Penghuni Randhu Growong
Part 4 :Gedebog Pisang Itu Ternyata ....
Part 5 :Penganten Wurung
Part 6 :Bayi Sundel Bolong
Part 7 :Yu Sunthi Jadi Kunti (Katanya)
Part 8 :Arwah Perempuan Yang Mati Gantung Diri
Part 9 :Mancing
Part 10 :Memedi Sawah
Part 11 :Digandhuli Peri
Part 12 :Rumah Baru Untuk Dewi
Part 13 :Jagong Ke Alam Gaib
Part 14a :Wasiat Mbah Bogel [Bag. I]
Part 14b :Wasiat Mbah Bogel [Bag. II]
Part 15 :Tamu Tak Diundang
Part 16a :Mbak Patmi DanWewe Gombel [Bag. I]
Part 16b :Mbak Patmi Dan Wewe Gombel [Bag. II]
Part 16c :Mbak Patmi Dan Wewe Gombel [Bag. III]
Part 16d :Mbak Patmi Dan Wewe Gombel [Bag. IV]
Part 16e :Mbak Patmi Dan Wewe Gombel [Bag. V]
Part 17 :Mbah Atmo
Part 18 :Mbak Patmi
Part 19 :Mbah Sumi
Part 20 :Diludahi Pocong
Part 21 :Cinta Ditolak Setan Bertindak
Part 22 :Duel Di Tegal Salahan

Short Story :
Pageblug Di Desa Kedhungjati

Part 23a :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. I]
Part 23b :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. II]
Part 23c :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag.III]
Part 23d :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. IV]
Part 23e :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. V]
Part 23f :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. VI]
Part 23g :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. VII]
Part 23h :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. VIII]
Part 23i :Pageblug Di Desa Kedhungjati [Bag. IX]
Part 24 :Mbah Kendhil


Part 25a :Selasa Kliwon [Bag. I]
Part 25b :Selasa Kliwon [Bag. II]
Part 25c :Selasa Kliwon [Bag. III]
Part 25d :Selasa Kliwon [Bag. IV]
Part 25e :Selasa Kliwon [Bag. V]
Part 25f :Selasa Kliwon [Bag. VI]
Part 25g :Selasa Kliwon [Bag. VII]
Part 25h :Selasa Kliwon [Bag. VIII]
Part 25i :Selasa Kliwon [Bag. IX]
Part 25j :Selasa Kliwon [Bag. X]
Part 26 :Peri Ayu Waru Dhoyong
Part 27 :Pesugihan Gagal
Part 28 :Debog Bosok Galih Asem
Part 29 :Mekasi [Peti Mati Kayu Jati]
Part 30 :Teror Burung Hantu
Part 31 :Sarung Batik
Lanjutan Part 31


Special Bonus

Short Story

Rumah Di Tengah Ladang


Prolog
BAB I : Hari Pertama
BAB II :Malam Pertama
BAB III :Hari Kedua
BAB IV :Santet?
BAB V :Matinya Si Dukun Santet
BAB VI :Teror Di Tengah Ladang
BAB VII :Mbak Halimah
BAB VIII :Kunjungan Mas Bambang
BAB IX :Kunjungan Mbak Halimah
BAB X :BOOMMM!!! Ledakan Amarah Romlah
BAB XI :Keributan Di Pondok
BAB XII :Perempuan Itu Akhirnya Menjadi Gila
BAB XIII :Teror Yang Sebenarnya
BAB XIV :Pencarian
BAB XV :Pertarungan
BAB XVI :Aksi Sang Jawara
BAB XVII :Mengenang Para Pahlawan
Epilog


==TAMAT==
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edhot212 dan 53 lainnya memberi reputasi
54 0
54
Lihat 17 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 17 balasan
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 00:00
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
1980decade dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 00:01

Part 2 : Mbah Gabug

Nama aslinya Mbah Sinem. Tapi kebanyakan orang memanggilnya Mbah Gabug, karena ia memang gabug (=mandul, bhs. Jawa), tak memiliki anak sama sekali. Suaminyapun sudah lama meninggal. Jadilah ia tinggal sendirian di gubuk reot di pinggir desa.

Perawakannya kurus kecil, rambutnyapun telah memutih semua, karena usianya memang sudah diatas tujuhpuluh tahun. Meski begitu, ia masih kuat bekerja di sawah atau ladang, karena untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia memang mengandalkan tenaganya untuk bekerja di sawah atau ladang orang.

Pendengarannya sudah sangat jauh berkurang. Sehingga kalau bicara dengannya harus dengan setengah berteriak. Itupun kadang harus diulang ulang karena ia belum jelas mendengar apa yang kita teriakkan.

Satu lagi, ia memiliki kebiasaan yang sedikit nyleneh. Meski perempuan, tapi ia pecandu rokok tingwe nomor wahid. Sangat jarang bisa menemui nenek ini tanpa ada lintingan tembakau di sela sela jarinya. Di kantongnyapun selalu ada slepen, tempat khusus untuk tembakau dan beraneka ragam perlengkapan membuat rokok tingwe.

Mbah Gabug adalah sosok yang baik dan ramah. Meski kalau diajak ngobrol suka nggak nyambung karena pendengarannya yang kurang, tapi ia selalu ramah pada semua orang. Karena itulah hampir semua warga desa menyukainya.

Mbah Gabug, sosok sederhana itu ternyata juga pernah membuat geger seluruh penghuni desa. Kejadiannya beberapa puluh tahun yang lalu. Berawal dari Yu Sarni yang kehilangan anak bungsunya yang bernama Wulan. Yu Sarni menuduh Mbah Gabuglah yang mengajak pergi Wulan, karena menurut Lilis teman Wulan, Wulan memang diajak pergi sama Mbah Gabug saat sedang mencari kepompong bersama Lilis di Tegal Salahan.

"Aja ngawur kowe Ni, ngarani uwong sak gelem'e dhewe. Gek arep tak nggo apa aku ndhelikne anakmu. 'Ra enek gunane. Malah ngrugekne aku no, wong anakmu ki panganane sak cikrak amoh!" (Jangan ngawur kamu Ni, menuduh orang seenaknya. Buat apa aku menyembunyikan anakmu. Nggak ada gunanya. Malah merugikan aku, orang anakmu makannya sepengki bobrok gitu (maksudnya makannya banyak sekali)) begitu kilah Mbah Gabug saat Yu Sarni menanyakan soal keberadaan anaknya.

"Halah, 'ra sah selak Mbah, wong enek seksine kok. Kae lho, Lilis anake Kang Parman, mau awan nggolek enthung bareng Wulan neng tegal'e Kang Bejo. Terus sampeyan teko ngajak lungo Wulan. Nganti saiki Wulan ra mulih mulih. Cah cilik ki 'ra bakal ngapusi Mbah!" (Halah, nggak usah mengelak Mbah, orang ada saksinya kok. Itu lho, Lilis anaknya Kang Parman, tadi siang mencari kepompong bersama Wulan di ladangnya Kang Bejo, terus sampeyan datang mengajak pergi Wulan. Sampai sekarang Wulan tak pulang pulang. Anak kecil nggak bakalan bohong Mbah!) sengit Yu Sarni berteriak teriak sambil bertolak pinggang dan menunjuk nunjuk muka Mbah Gabug. Perang mulut melawan orang yang kurang pendengarannya memang banyak menguras energi. Nafas Yu Sarni sampai kembang kempis menahan emosi.

"Pitenah kuwi! 'Ra bener babar blas! Aku yo nduwe seksi lho. Akeh malah seksine. Kae, takon'na si Darmi, Sumi, Mijem, Tukijah, Tuminah, Sukarni, Parti, Sanem, Manem, gage, takonana kabeh, sedino 'ki mau aku buruh tandur neng sawah'e Parti, bar maghrib lagi mulih!" (Fitnah itu! Nggak benar sama sekali! Aku juga punya saksi kok. Banyak malah saksinya. Coba tanya sama si Darmi, Sumi, Mijem, Tukijah, Tuminah, Sukarni, Parti, Sanem, Manem, coba, tanyain semua. Seharian ini tadi aku buruh menanam padi di sawahnya Parti, habis maghrib baru pulang.) Mbah Gabugpun tak kalah sengit berteriak sambil sesekali membetulkan tali kutangnya yang melorot.

Adu mulut di malam hari itupun menarik perhatian warga. Orang orang berdatangan untuk melerai mereka. Tapi bukan hal yang mudah melerai dua orang perempuan yang sedang disulut emosi itu. Apalagi memang sudah sejak lama antara Yu Sarni dan Mbah Gabug ini hubungannya kurang baik. Sudah lama mereka tak saling tegur sapa bila bertemu, entah apa sebabnya. Sampai sampai Pak Bayanpun dipanggil untuk turun tangan.

Saksi saksi yang tadi disebutkan oleh Yu Sarni dan Mbah Gabugpun dipanggil. Anehnya, semua membenarkan ucapan Yu Sarni dan Mbah Gabug. Lilis bilang kalau memang tadi siang ia dan Wulan sedang mencari kepompong di ladang Kang Bejo saat Mbah Gabug datang dan mengajak Wulan pergi. Anak usia sembilan tahun itu tak mungkin berbohong, apalagi yang bertanya adalah Pak Bayan, pamong desa.

Sedangkan saksi dari Mbah Gabug yang jumlahnya hampir se-RT itu juga membenarkan bahwa seharian ini Mbah Gabug bersama mereka buruh menanam padi di sawah Yu Parti yang terletak di utara desa, bertolak belakang dengan tempat anak anak itu mencari kepompong di ladang Kang Bejo yang letaknya di sebelah selatan desa.

Wargapun bingung, tak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Sampai akhirnya Pak Modin yang juga ikut datang kesitu mendekati Lilis dan bertanya.

"Nduk, tenan to sing ngajak lunga Wulan mau Mbah Gabug?" (Nduk, benarkah yang mengajak pergi Wulan tadi Mbah Gabug?) tanya Pak Modin pada anak itu.

"Nggih, leres Pak," (Iya, benar Pak,) jawab anak itu polos.

"Mbah Gabug sing ngajak lunga Wulan mau, nganggo klambi opo?" (Mbah Gabug yang mengajak Wulan pergi tadi pakai baju apa?) tanya Pak Modin lagi.

"Ngagem klambi ijo Pak, kalih tapih jarik bathik. Klambine apik banget Pak, kados tiyang badhe jagong," (Pakai baju hijau pak, sama kain jarik batik. Bajunya bagus banget Pak, seperti orang mau pergi kondangan)

"Kowe ngerti, Wulan dijak lunga nyang ngendi? (Kamu tau Wulan diajak pergi kemana?)

"Criyose badhe dijak mlampah mlapah teng kutha Pak." (Katanya mau diajak jalan jalan ke kota Pak)

"Sing ngajak lunga Wulan mau sikile napak lemah ora nduk?" (Yang mengajak pergi Wulan tadi kakinya menginjak tanah enggak nduk?)

"Mboten ngertos Pak." (Nggak tau Pak.)

"Mbah Gabug sing ngajak lunga Wulan mau budeg ora nduk?" (Mbah Gabug yang mengajak pergi Wulan tadi budeg enggak nduk?)

"Mboten Pak. Wong pas kula bisik bisik kalih Wulan dhewek'e mireng kok." (Enggak Pak. Orang pas saya bisik bisik sama Wulan saja dia bisa dengar kok.)

Pak Modin menganguk anggukkan kepala, lalu mendekati Pak Bayan.

"Wis genah iki Pak. Genah nek Wulan digondhol dhemit Tegal Salahan. Apik'e gek ndang digolek'i Pak, mumpung durung kasep." (Sudah jelas ini. Sudah jelas kalau Wulan dibawa dhemit Tegal Salahan. Sebaiknya cepat dicari Pak, sebelum terlambat), kata Pak Modin pada Pak Bayan.

Pak Bayanpun segera mengarahkan warganya untuk melakukan pencarian. Namun, belum juga mereka beranjak dari tempat itu, dari kejauhan nampak Wulan datang. Gadis itu berlari lari kecil sambil bernyanyi nyanyi seperti anak yang sedang kegirangan. Di tangannya menenteng bungkusan plastik hitam.

Yu Sarni segera menyambut anak bungsunya itu. Para wargapun merasa lega. Mereka tak perlu bersusah payah lagi untuk mencari Wulan.

Pak Bayan dan Pak Modin segera menanyai Wulan. Anak itu bercerita kalau ia diajak jalan jalan ke kota oleh Mbah Gabug. Kota yang sangat besar katanya. Banyak bangunan bangunan besar dan megah. Banyak kendaraan kendaraan bagus yang lalu lalang di jalan yang halus dan mulus. Melihat kereta api, pesawat, bahkan ia melihat ada mobil yang bisa terbang. Ia juga dibelikan makanan yang enak enak dan baju baju yang bagus bagus. Semua disimpan dalam kantong plastik yang dibawanya. Namun saat kantong plastik itu dibuka, isinya ternyata hanya daun pisang kering dan potongan potongan kayu lapuk. Pak Modin segera membuang jauh jauh benda itu.

"Sudah jelas sekarang masalahnya. Tak ada yang perlu diributkan lagi. Yang penting Wulan sudah kembali dengan selamat. Lain kali, jangan biarkan anak anak keluyuran sendirian di Tegal Salahan. Yu Sarni, ajak anakmu pulang, mandikan ia bersih bersih, dan pakaian yang ia pakai sekarang, sebaiknya jangan pernah dipakai lagi." kata Pak Modin.

"Benar kata Pak Modin Yu. Dan sebaiknya sampeyan juga harus minta maaf sama Mbah Gabug." sambung Pak Bayan.

"Emoh! Ra sudi aku njaluk ngapura!" sungut Yu Sarni sambil ngeloyor pergi dari tempat itu.

"Huh! Ora mbok jaluk'i ngapura aku yo 'ra pathek'en nduk nduk!" teriak Mbah Gabug sambil masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.

Orang orang hanya bisa geleng geleng kepala melihat kejadian itu. Sepertinya peristiwa malam itu tak bisa mengakhiri perseteruan antara Yu Sarni dan Mbah Gabug.

*****


NB: sekarang Mbah Gabug sudah meninggal, sekitar tahun 2000-an kalau nggak salah. Al Fatihah buat almarhummah, semoga beliau tenang di alam sana
Diubah oleh indrag057
profile-picture
profile-picture
profile-picture
YossudarsoBoy92 dan 52 lainnya memberi reputasi
53 0
53
Lihat 23 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 23 balasan
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:01
Menarik juga ya ceritanya
Itu si pak tarno emang gada takutnya sama makhluk begituan ?
Kan tingginya lumayan itu makhluk menurut cerita-cerita orang yg dah pernah liat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:06
Quote:Original Posted By dwisugar
Menarik juga ya ceritanya
Itu si pak tarno emang gada takutnya sama makhluk begituan ?
Kan tingginya lumayan itu makhluk menurut cerita-cerita orang yg dah pernah liat.


Takut sih gan, tapi mau gimana lagi, udah terlanjur kepergok. Menurut cerita, kalau kita lari justru akan diganggu sama tuh makhluk. Dan memang benar, menurut cerita makhluk ini memiliki tubuh tinggi besar gitu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:17
Quote:Original Posted By dwisugar
Aku sih bersyukur blm pernah ketemu sama makhluk" yg dibilang ghaib itu
Tapi klo liat dan bertemu di mimpi sih sering tapi gak sama seperti yg di film-film.
Apa seseran itukah sampe kita bisa ketakutan klo ktmu langsung ?


Jangan sampe deh ketemu yang begituan.

Kayaknya bedalah ketemu makhluk halus beneran sama yang di film film. Kalau soal kerakutan atau enggak sih tergantung orangnya, kan ada tuh orang yang penakut, ada juga orang yang pemberani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:29
Quote:Original Posted By dwisugar
Seberani apa coba itu orang gan ?
Wahahahahhaa
Mau d ajak brantem juga kagak bisa
Request dong gan
Cerita melintasi portal ghaib
Siapa tau ada referensinya
Hehehehe


Hahaha, mangkanya itu, makhluk halus kan katanya ga bisa nyentuh dan disentuh ya

Sebentar deh, kayaknya ane pernah baca tuh thread soal portal gaib. Tapi ane lupa judulnya. Nanti deh kalau ketemu ane bagi linknya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:36
Siaaap gan di tunggu yaaaa
Penasaran nyari tapi masih belum nemu ini gan
Hehehe
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:39
Quote:Original Posted By dwisugar
Siaaap gan di tunggu yaaaa
Penasaran nyari tapi masih belum nemu ini gan
Hehehe


Oke gan, nanti kalau ketemu ane kabari lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:44
Lapak baru...ijin bikin tenda sambil ngupi...kayaknya bakal lama nihemoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kakangprabu99 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 01:57
Quote:Original Posted By banditos69
Lapak baru...ijin bikin tenda sambil ngupi...kayaknya bakal lama nihemoticon-Toast


Silahkan gan, makasih singgahannya. Semoga betah yaaaemoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 02:36
Gentian Nenda dimari emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 02:48
uwwwww bangeettt emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 03:46
Weeee...gas lah.

Cendol sek.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 06:20
Quote:Original Posted By bunda2411
Gentian Nenda dimari emoticon-Big Grin


Silahkan bund, makasih ya singgahannyaemoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 06:20
Quote:Original Posted By falconforce
uwwwww bangeettt emoticon-Leh Uga


Makasih banyak ganemoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 06:21
Quote:Original Posted By pulaukapok
Weeee...gas lah.

Cendol sek.


Siap gan

Makasih banyak cendolnyaemoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 11:19
ketinggalan lapak barunya gan Indra nih..... pasang kapling dulu ah.... emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 14:06
Wuiiiiiih cerita baru nih. Come back to horor?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
27-08-2020 15:29
Quote:Original Posted By key.99
ketinggalan lapak barunya gan Indra nih..... pasang kapling dulu ah.... emoticon-Toast


Silahkan sist,

Makasih singgahannyaemoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
radityodhee dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Halaman 1 dari 49
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia