Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
10
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f315a172525c301635c9c9a/ratapan-batu-besar
Ilustrasi Gambar : Batu Besar (pulsk.com) Dahulu kala ada sebuah batu besar yang berada di ketinggian pegunungan. Batu itu hidup dengan damai, tenang, dan nyaman. Dikelilingi oleh ragam tumbuh-tumbuhan subur dan awan-awan yang melayang mendekat padanya. Udaranya sejuk masih terjaga. Seakan-akan melewati musim demi musim mejadi lebih menyenangkan. Itulah batu besar yang tahun demi tahun menghabiska
Lapor Hansip
10-08-2020 21:30

Ratapan Batu Besar

icon-verified-thread
Ratapan Batu Besar
Ilustrasi Gambar : Batu Besar (pulsk.com)

Dahulu kala ada sebuah batu besar yang berada di ketinggian pegunungan. Batu itu hidup dengan damai, tenang, dan nyaman. Dikelilingi oleh ragam tumbuh-tumbuhan subur dan awan-awan yang melayang mendekat padanya. Udaranya sejuk masih terjaga. Seakan-akan melewati musim demi musim mejadi lebih menyenangkan.

Itulah batu besar yang tahun demi tahun menghabiskan waktunya di atas pegunungan tinggi. Hewan-hewan sering kali duduk bersandar dikulitnya. Burung-burung pun apalagi. Rerumputan yang melegak-lenggok juga menghibur si batu besar itu.

Suatu hari ada sekelompok manusia mendirikan tenda dan bermalam didekatnya. Api unggun pun tak absen dari ramainya nyanyian dan cerita mereka. Si batu besar menjadi saksi keseruan wajah-wajah riang anak manusia itu. Tawa demi tawa terlintas melintasi wajah-wajah mereka dengan hangatnya malam di ketinggian gunung.

Menyaksikan tingkah, cerita, dan kelakuan anak manusia yang begitu menyenangkan si batu besar menjadi penasaran. Terbesit dilubuk hatinya untuk dapat berada dibawah sana yang tertutupi oleh rimbunnya pepohonan hijau. Ia ingin berpetualangan melintasi panorama alam bawah pegunungan.  Sama seperti yang anak manusia itu lakukan.

Keesokan harinya. Pagi hari yang cerah dengan salam matahari menyengat kedalam kulit-kulit kami diatas pegunungan. Awan-awan berkabut putih mulai memisahkan diri meminta kami mengabadikan indahnya ketinggian. Lalu seruan dari anak manusia ramai-ramai mengabadikan momen ini didekat batu besar. Tenda-tenda dirubuhkan dan dimasukan kedalam tas mereka. Seolah menjadi tanda akhir dari jejak meraka di dekat batu besar.

Ketika para manusia itu sudah siap meninggalkan si batu besar mereka mencatatkan tulisan didekat kulit batu besar. Mencatatkan nama-nama mereka dan tanda tangan yang menjadi salam perpisahana mereka ditempat itu. Baru kali ini si batu besar dikunjungi oleh anak manusia seperti mereka. Senang dan gembira hati si batu besar setelah tau ada kehidupan yang menyenangkan di bawah gunung ini. Anak-anak manusia itu pun pergi dari sisi batu besar.

Sejak kejadian itu si batu besar tidak pernah lagi kedatangan tamu manusia. Ia hanya melihat garis-garis yang diukir dibadannya. Terbesit pun ingin kebawah ia takut dan memilih bersabar barangkali masih ada manusia yang mengunjunginya.

Waktu pun berlalu begitu panjang hingga membuat si batu besar menangis dan meratapi hidupnya yang ditinggal pergi oleh manusia. Hingga ia pun sudah tidak tahan lagi ingin sesegera mungkin berada dibawah sana, mengikuti jejak-jejak para manusia yang pernah menemani kesepian malamnya. Si batu besar berdoa dan terus berdoa tanpa henti agar dikabulkan doanya untuk sampai di bawah sana.

Tuhan mendengar doa yang dikumandangkan oleh si batu besar dan memberikan getaran hebat di area pegunungan itu. Getaran yang hebat itu menghempas si batu besar jauh dari ketinggian hingga menuju dasar dari pegunungan itu. Berkali-kali memantul hingga ukuran si batu besar menjadi sedang lalu mengecil 3kali lipat dari ukuran besarnya.

Akhirnya si batu besar itu sampai juga kebawah jauh dari pegunungan tempat ia tinggal. Namun kehidupannya berubah saat dirinya berada dibawah, apalagi ukurannya tak sesebesar dulu. Kereta kuda melewatinya dan terinjak-injak lalu terhempas. Anak-anak manusia berlalu lalang dan menendangnya hingga jadi lebih kecil benar-benar kecil. Tubuh yang sudah mengecil membuat kemampuannya jadi tidak berarti apa-apa hingga setetes air hujan pun mengenainya saja sudah membuat ia kesakitan dan kediniginan.

Kini hidup si batu besar itu pun menangis tak henti-hentinya meratapi pilihanya ini. Selalu melihat keatas dan sesekali halu akan kehidupannya diatas gunung itu. Semua tinggal kenangan yang menyisakan luka dan penyeselan. Tiada artinya lagi!

Sebuah cerita dari negeri kayangan pikiran TS

Semoga Terhibur

Jangan lupa cendol nya ya! 

emoticon-Recommended Seller




profile-picture
profile-picture
profile-picture
AKRAAS dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Ratapan Batu Besar
10-08-2020 21:39
Kunjungi Juga Cerita Ane Lainnya yang gak kalah menarik!

Kamu! Hujan Yang Kunantikan
Idul Adha Bang Phijay Bareng Bung Pencoy " Asmara diatas segala-galanya"
Perayaan Idul Adha Ala Phijay "Jemput Paksa"

Semoga Bermanfaat Terima Kasih Sudah Mampir
I love u gaes
0 0
0
Ratapan Batu Besar
10-08-2020 23:43
Semangat nulisnya gan 👍
profile-picture
Mnsukra memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ratapan Batu Besar
11-08-2020 00:28
thats good.
emoticon-Jempol

deep banget nih ceritanya.
profile-picture
Mnsukra memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Ratapan Batu Besar
11-08-2020 13:21
suatu hari, seorang lelaki tua lusuh pergi melewati jalan tsb. terik matahari membakar kulit memacu keringat. tak ada org disisinya. sesekali ia berhenti dan memandangi jalan tanah berbatu yg lurus tanpa ujung, lalu membatin 'seberapa jauh lagi aku harus pergi?'

'aduuuh.. sakit'. kaki telanjangnya ngilu. meringis. kombinasi batu besar dan pohon semak yg sudah meninggi ditepi jalan dirasa pas utk berteduh.

'ah.. sejuk'
meluruskan punggung, merogoh tas kumal, mengambil roti tawar dan sebotol air mineral.
'ah.. kenyang'
mengurut kaki, melamun hampa.

'cliiing...'
seberkas sinar biru yg berasal dari tumpukan batu disisi jalan lain mencoba mengganggu penglihatannya.

sejenak termenung, keningnya berkerut seperti mengingat sesuatu, sekejap kemudian ia pun berharap lebih pada apa yg dilihatnya. bergegas ia lari menghampiri tumpukan batu tsb.

'hup'.. satu bongkahan batu ukuran sedang di enyahkan ke samping.
'cliiiing' sinar kebiruan kembali memancar sendu menerangi mata.

senyum terlihat dipipi kerutnya.

'terima kasih Tuhan'
ambil, lalu bergegas pergi.
ia tahu kemana arah yg harus ia tuju.

'terima kasih Tuhan'
batu dan pohon tersenyum.
kini kembali sepi, menanti org yg menepi. kali ini entah dgn cara apa mereka berbagi rejeki.
Diubah oleh adek.chombi
profile-picture
Mnsukra memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Ratapan Batu Besar
18-08-2020 20:53

Luka Yang Merubah

Aku telah terpecahkan menjadi puing-puing kecil. Melihat ukuranku yang sekarang, tak sebesar dulu lagi. Aku Batu Besar yang dahulu tinggal diatas gunung tinggi disana. Tepat berada diatas kepalaku. Terombang ambing dengan goncangan gunung yang dahsyatnya, hingga membawaku di dekat sungai yang ditinggali oleh ikan-ikan. Bening airnya, nampak jelas jika dipandang dari sudut manapun.

Sampai di titik terendah ini, adalah keinginanku untuk bertemu sang manusia yang menempatkan tanda di badanku. Tanda itu sekarang tergabung bersama debu-debu goncangan waktu itu. Tiada yang tersisa, kecuali hangatnya ingatan itu terbayang.

Aku si Batu Besar yang merubah namaku menjadi Batu Kecil. Bagian tubuhku? Entah kemana mereka. Mungkin ada sisa yang melekat dari tulisan anak manusia itu.

Awalnya memang kurasa sakit sekali, jatuh dari ketinggian beribu-ribu kaki, lalu badanku memisah dan terbagi-bagi. Itu yang kurasakan. Sakit itu belum selesai.

Sampai di daratan ini, menyatu dengan pasir jalanan dekat sungai, rasa sakit itu mesti harus kurasakan lagi. Terlindas roda kereta kuda, ditendang oleh anak manusia, diinjak-injak dan setiap keramaian mereka, aku harus siap menahan rasa sakit itu kembali.

Dulu memang aku begitu besar, bagiku diinjak seperti sekarang akan membuatku geli lalu tertawa. Goresan apapun tak ada apa-apanya.

“Aaaaaah...”, terus bertertiak kesakitan setiah hari, tanpa rasa lelah untuk menyesali, lalu kemudian aku terus menangisi.
“Hiiks ... hiiks...”, isak tangisku pun kadang pecah. Aku benar-benar terluka dan hatiku harus benar-benar segera dioperasi.

Sungguh kini aku benar-benar malang nasibnya. Tapi itu karena doaku kepada sang pencipta untuk berada di daratan ini.

Hingga suatu ketika aku baru menyadari bahwa bukan aku saja yang seperti ini. Menahan kesakitan setiap hari yang kemudian berhamburan air mata dikala sepi. Mereka ada disekelilingku, menahan rasa sakit hingga tenggelam ke dalam tanah. Berteriak minta tolong agar tetap mengapung di atas permukaan. Belum lagi mereka yang berada di dasar air sungai, yang setiap saat menahan derasnya arus sungai. Atau mungkin tertabrak oleh puing benda-bemda asing yang menyakiti.

“Oooh sungguh penderitaan ini seperti neraka bagiku Tuhan...”, batinku terus mengomentari situasi.

Tapi, itulah kenyataannya. Mereka harus menahan rasa sakit demi yang membutuhkan. Berapa besar rasa sakit itu, tak akan ada apa-apanya ketimbang melihat yang lain bisa tertawa bahagia. Ditempat ini ada banyak lalu lalang manusia, ditempat ini pula kawan-kawanku dan aku berteriak untuk menopang kaki-kaki mereka, bahkan ada pula yang terlempar jauh. Ada yang masuk ke dalam sungai, ada yang nyangkut di atas pohon tinggi, dan ada pula dijadikan bahan bangunan rumah mewah.

Biarpun hidupku dan kawanku seperti ini, aku rela demikian, asalkan ada bahagia di wajah kalian ‘Sang Manusia’.




0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kematian-cahaya-harapan
Stories from the Heart
janji-manis-100-real-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
firasat-kematian
Stories from the Heart
Stories from the Heart
lika-liku-kehidupan-nina
Stories from the Heart
rekomendasi-film-romantis
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia