Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
19
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f2f088c9a972e23267bd8a1/cinta-di-balik-layar--cerpen--true-story
Quote:Aku disini hanya ingin menceritakan bagiamana bahwa jatuh cinta itu bisa menghendaki pada siapapun yang ia kehendaki. Bahkan pada mereka yang belum saling bertemu. Dan ini terjadi padaku. Jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah bertatap muka sebelumnya Masa Lalu Elvanda. Sebelumnya, aku sudah menceritakan perihal masa laluku padamu. Tentang orang yang pernah mengisi hati. Namanya sam
Lapor Hansip
09-08-2020 03:18

Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )

Past Hot Thread
Quote:Aku disini hanya ingin menceritakan bagiamana bahwa jatuh cinta itu bisa menghendaki pada siapapun yang ia kehendaki. Bahkan pada mereka yang belum saling bertemu. Dan ini terjadi padaku. Jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah bertatap muka sebelumnya



Masa Lalu


Elvanda. Sebelumnya, aku sudah menceritakan perihal masa laluku padamu. Tentang orang yang pernah mengisi hati. Namanya sama sepertimu. Waktu itu aku cerita padamu bahwa aku mencintai sahabatku sendiri. Tiga tahun lamanya. Tiga tahun masa memendam rasa. Tiga tahun mencintai dalam diam. Aku masih ingat bahwa kamu bilang : kok kaya drama!, Aku hanya tertawa. Memang seperti itu adanya. Aku tidak mendramatisir kisahku.

Kuceritakan semua itu padamu. Bahwa dalam tiga tahun itu adalah masa terindahku. Mencintai cinta pertamaku. Tapi semua tahu, cinta itu kadang membawa luka. Melilit seperti kawat berduri. Sehingga kita susah lepas dari lilitannya. Pedih. Tapi sebelumnya, aku sangat menikmatinya. Tidak ada seorangpun yang tahu mengenai perasaanku padanya. Pada perempuan yang namanya sama sepertimu. Tiga tahun yang terasa sangat cepat. Tiga tahun yang sangat indah. Tapi hancur oleh satu hari saja. Iya, satu hari yang memilukan. Satu hari yang akan ku kenang dalam ingatanku. Bahkan mengalahkan kenangan tiga tahun itu El.

Kamu masih ingat, aku menceritakan itu semua lewat chat yang panjang beberapa bulan yang lalu. Cerita yang bahkan tidak pernah aku ceritakan pada siapapun. Hanya padamu El. Kuceritakan bahwa cinta pertamaku, sahabatku sendiri, dia telah meninggalkanku. Dia tidak pernah bilang jika dia sakit. Sakit yang akhirnya merenggut nyawanya. Dan dengan kepergiannya, aku menjadi tahu, bahwa diapun mencintaiku. Bahkan sebelum aku mencintainya.

Aku menangis sebisaku. Tak sanggup rasanya. Aku tahu kematian itu pasti. Tapi kenapa harus hinggap pada orang yang sedang mencinta? Tuhan telah mematahkan hati hambanya. Tuhan telah merenggut satu kebahagian yang aku anggap mutlak. Sejak saat itu, aku menjadi lelaki yang tak berdaya. Hidup tak karuan. Setiap mengingat dirinya, aku menangis. Setiap mencicipi makanan kesukaannya, aku menangis. Dia sangat suka nasi padang. Apa lagi kikil. Jika aku rindu padanya, aku sempatkan untuk mampir di rumah makan padang favorit kami. Makan disitu. Mengenang canda kami disitu.

Aku sudah seperti mayat hidup. Rasa pedih bak di hunus oleh pedang tajam itu tak kunjung sembuh. Aku belum menceritakan bagian ini padamu El. Ayahku, waktu itu, menghampiriku ketika aku di kamar. Aku masih ingat, itu siang hari di akhir pekan. Tubuhku masih di balut selimut. Aku sengaja seperti itu. Ayahku menepuk-nepuk pundaku. Aku menggerakan badan, dan segera duduk. Namun kepalaku tertunduk. Ayahku bilang, "makan dulu Zal". Aku hanya diam. Ayahku terisak. Aku segera mendongakan kepala. Sungguh, aku baru pertama melihat ayahku mengeluarkan air mata. Yang aku tahu, ayahku adalah orang yang tegar. Kuat.

"Kamu sampai kapan akan seperti ini terus?" ayahku sudah mengusap air matanya.

"Kapan kamu akan peduli dengan dirimu sendiri zal?" lanjutnya.

"Aku boleh bertanya yah?"

"Bertanyalah, apapun itu"

"Kenapa tuhan tega sama aku? Apa dia tidak membiarkan hambanya saling mencintai yah?" dadaku rasanya sesak.

"Justru tuhan sangat cinta pada hambanya. Jangan kamu berpaling dari cinta tuhan zal. Apa kamu tahu penyakit yang di derita Elvanda itu bagaimana rasanya?" aku menggeleng, "maka dari itu, Tuhan memanggilnya karena cinta, tidak ingin Elvanda merasakan rasa sakit yang terlalu lama" nadanya sangat serius. Ayahku memang orang yang seperti ini. Tegas. Tapi senyumannya bisa mendamaikan hati.

Aku sudah menangis. Air mataku jatuh begitu saja. Setiap mendengar namanya di sebut, dadaku bergetar, hatiku tergores.

"Dan Tuhan cinta sama kamu. Kamu masih di beri kesempatan bisa hidup sampai sekarang. Sehat wal afiat. Dan Tuhan akan menjatuhkan cintanya lagi padamu zal"

Ayah segera berlalu setelah mengucapkan kalimat itu. Mungkin ada benarnya. Elvanda sahabatku, dia sudah terlalu lama merasakan sakit. Tapi, ini bagai hukum bagiku. Aku belum sempat menyatakan cintaku padanya, dan Tuhan dengan kuasanya memusnahkan kesempatanku. Aku tahu, mungkin kamu akan menganggap aku gila El, karena aku telah mencintai sahabatku sendiri dengan demikian. Tapi disini, aku tidak akan memanggilmu Elvanda, kita sepakat, tapi sepertinya hanya aku yang sepakat bahwa aku memanggilmu dengan panggilan Pie ( pai ). Memang aku mengambil nama itu dari kue pie. Manis. Sama seperti kamu.

Aku masih terdiam. Menangisi hal yang seharusnya aku relakan. Mengambil fotonya di atas nakas yang ku hias dengan bingkai. Aku menatapnya lekat. Melihat senyumnya yang memikat. Tentu saja, Elvanda sahabatku memiliki senyum yang sempurna. Namun aku tidak ingin membandingkannya denganmu Pai. Bukankah wanita memang tidak suka di banding-bandingkan? Bahkan akupun seperti itu.

Aku menatap fotonya cukup lama. Mencoba mengikhlaskan. Bahkan ini adalah pertama kalinya aku coba mengikhlaskan. Karena sebelumnya, aku tidak pernah terima jika tuhan mengambil dia dariku. Tidak sama sekali. Aku berontak. Aku sakit hati. Bahkan aku mengancam Tuhan, bahwa aku tidak akan lagi percaya padanya. Tapi kali ini, setelah berbicara dengan ayahku, aku mulai akan mengikhlaskan dia, cinta pertamaku yang hilang.
Diubah oleh pemujaseblac
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
09-08-2020 03:19
Terima Kasih Sudah Singgah.


Aku sudah bilang, bahwa aku akan menceritakan tentang jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah kita jumpai. Aku tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya. Dan ini soal cintaku padamu pai. Sebelum aku menceritakan ini, aku pastikan, bahwa aku hanya jatuh cinta sama kamu. Dan Elvanda sahabatku, dia adalah bagian dalam masa laluku yang tidak akan aku bawa lagi dalam kehidupanku sekarang. Biarlah dia kukubur rapat dalam hati.

Pai, kamu tahu, aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengenalmu lewat Line. Iya, aplikasi itu yang memperkenalkan aku dengan mu. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, aku install kembali aplikasi itu. Padahal sebelumnya sudah ku hapus. Lama sekali aku tidak menggunakannya.

Aku masih ingat, hari itu aku sedang duduk di teras kos. Mengusap layar ponsel dan membuka Line. Aku mencoba mengotak atik akun Line ku, meskipun tidak tahu tujuannya apa. Karena memang, sudah tidak ada siapapun kenalanku yang berkomunikasi denganku lewat Line. Tidak sengaja aku melihat fitur people nearby. Kamu juga tahu itu bukan, Pai? Aku segera klik fitur itu. Dan beberapa kali merefresh karena kebanyakan yang tampil adalah laki-laki. Sampai akhirnya, aku menemukan kamu di bagian paling atas. Aku masih ingat photo profilmu waktu itu. Kamu tidak tersenyum. Dan posisi kamera untuk memotretmu posisinya lebih rendah darimu. Jadi fotomu agak terlihat dari bawah.

Kamu cantik di foto itu Pai, sungguh. Aku akan memujimu disini. Karena aku tidak berani jika memujimu secara langsung lewat chat. Aku suka halismu, halis yang tebal. Rahang yang kokoh. Dan balutan jilbab itu menjadikan kamu lebih cantik dari siapapun yang pernah aku kenal sebelumnya. Aku segera klik tambahkan teman.

Mungkin cukup lama kamu meng-accept pertemananku. Aku tidak tahu pasti. Tapi ketika aku melihat ponsel dan membuka Line, satu notifikasi pertemanan muncul. Aku lihat, dan itulah hari pertama aku berbalas pesan denganmu. Aku merasanya sangat nyaman. Berbunga. Ah, tedengar lebay ya? Hehe.. Tapi sungguh, itu yang aku rasakan. Waktu itu, aku tidak terlalu bernafsu untuk menanyakan rutinitasmu. Aku lebih memilih untuk ngobrol ngalor ngidul. Ngobrol unfaedah kalo anak zaman sekarang bilang. Meskipun kadang aku jengkel karena jawabanmu yang singkat dan padat. Tapi aku menikmatinya Pai. Sangat menikmatinya.

Bahkan setelah seminggu berlalu. Aku semakin menikmati hubunganku denganmu yang hanya sebatas teman chat. Teman di balik layar. Lalu, Kita sering membahas soal agama. Kamu pintar. Aku suka itu. Dan baru setelahnya aku memberanikan diri, bertanya, kesibukanmu apa? Dan kamu menjawab, "aku kuliah". Obrolan itu larut kembali. Sampai aku tahu bahwa kamu kuliah di salah satu universitas di Malang.

Sebulan berlalu. Kamu ingat, aku bilang bahwa aku ingin menikahimu dua tahun lagi sebelum aku pulang ke kotaku di jawa barat Pai? Sungguh, aku berkata seperti itu sangat serius. Terlalu cepatkah? Aku tidak tahu. Tapi aku hanya ingin mengutarakan keinginanku padamu. Dan pai, ketika aku di kota kelahiranku, itu adalah masa tersulitku setelah awal pandemi. Seharusnya aku mendapatkan pekerjaan, tetapi karena sakitku, kesempatan itu musnah. Sirna. Sesampainya di kota kelahiranku, aku sibuk dengan urusanku, dan tidak sempat mengabarimu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu ketika aku hilang hehe. Mungkin biasa saja.

Karena kondisiku yang memburuk, aku jatuh sakit di hari kedua. Dan di hari kedua itu, sorenya, aku mengabarimu. Kamu bilang: kemana aja kok menghilang?. Pertanyaan yang sangat membuatku merasa dianggap keberadaannya olehmu Pai. Aku sering senyum-senyum sendiri seperti orang gila ketika berbalas pesan denganmu. Aku cerita padamu bukan bahwa aku di opname? Iya, aku benci itu. Aku tidak suka aroma rumah sakit. Aku tidak suka obat-obatan. Dan aku tidak suka jarum suntik, itu mengerikan.

Sudah banyak hal yang kita bahas. Keseharianmu yang suka nonton drakor. Atau kamu yang malas mandi tapi yang aku yakin, bahwa kamu akan tetap cantik Pai.

Dan aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada orang yang belum pernah kutemui. Cinta yang orang lain anggap tidak mungkin, karena biasanya dari mata lalu jatuh ke hati. Dan mungkin saja kamu pun beranggapan seperti itu. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli kamu menganggap aku main-main dengan kata jatuh cinta.

Aku sudah bilang padamu, bahwa aku bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta. Tapi cinta telah menjatuhkan itu padamu Pai. Aku kembali merasakan jatuh cinta. Sekali lagi, setelah sembuh dan pulang. Aku memberanikan diri mengucapkan bahwa aku mencintaimu. Kamu bertanya, apa alasannya. Tidak, aku tidak memiliki jawabannya Pai. Sama sekali tidak.

Setiap malam, aku sering menyebutmu dalam doaku. Agar Tuhan memperkenankan orang yang aku cintai membalas cintaku. Tapi tidak. Sekali lagi Tuhan mematahkan hati hambanya yang sedang mencinta. Tuhan tidak memberikan kesempatan bagiku untuk merasakan cinta yang berbalas. Ketika kamu sedang dalam masa gelisah soal hidupmu. Aku khawatir. Aku kehilangan kamu. Padahal itu hanya sehari Pai. Tapi hari berikutnya, itu adalah titik akhir dari doaku setiap malam. Doaku yang meminta agar Tuhan berkenan memberikanku kesempatan untuk dicintai.

Kamu ingat, setelah satu hari kamu menghilang, siang itu kamu mengirim pesan padaku Pai. Dan ada beberapa pesan yang aku hapus karena, malu sebetulnya. Kamu tanya, "itu apa yang di hapus?" aku hanya bilang itu bukan apa-apa. Lalu aku mengimkan pesan yang ku hapus itu karena sempat ku screen shot sebelum menghapusnya. Namun aku hapus di beberapa bagian. Dan ada satu bagian yang aku lupa untuk menghapusnya. Kamu membalas pesanku dengan tawaan. Mungkin bercanda. Tapi itu hal yang sangat menyakitkan. Ada rindu yang di tertawakan. Lalu ada rasa ingin bertemu yang kamu abaikan. Pai, aku hanya ingin bertemu denganmu, satu kali saja. Tapi aku tahu, bahwa kamu tidak mau.

Iya, itu sudah cukup membuktikan, bahwa Tuhan sudah mematahkan hatiku ketika aku jatuh cinta. Aku tidak menyalahkanmu Pai. Tidak. Tapi kamu harus tahu, bahwa aku menyerah. Bahwa aku mengaku kalah pada Tuhan yang lebih berkuasa atas cinta hambanya.

Aku kembali patah hati. Aku kembali harus merasakan sesaknya. Ini adalah rasa yang palingku benci. Bahkan semua orang benci. Tapi, sungguh, aku tidak pernah membencimu, Pai. Karena aku yang kembali melakukan salah. Jatuh cinta pada orang yang tidak mencintaku.

Aku menulis ini, hanya untuk meredakan sakitku. Bukan untuk mengubah pikiranmu.

Selesai
Diubah oleh pemujaseblac
profile-picture
profile-picture
gimmefive dan husnamutia memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
09-08-2020 07:55
thats good.
emoticon-Jempol
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
11-08-2020 13:03
Sedih banget kisahnya
0 0
0
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
11-08-2020 14:36
Wawww keren bangett nihh di balik layar storynyaa
0 0
0
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
11-08-2020 14:38
Sangattt kerenn good fatherr bangett dah
0 0
0
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
11-08-2020 20:27
hallo emoticon-Toast
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
14-08-2020 14:58
Can relate pokoknya sedih bgt emoticon-Wow
Btw mampir juga ya kak ke work saya https://www.kaskus.co.id/thread/5f34...ile&med=thread
0 0
0
Cinta Di Balik Layar ( Cerpen : True Story )
27-08-2020 06:58
mantap ceritanya emoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia