Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
41
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f29ffbb68cc953ecd378f56/persahabatan-berdarah
-KREEEK- Suara rengekan engsel jendela membangunkan Nadira yang terlelap di balik selimut lembutnya. Namun ia berusaha kembali terlelap dan mengabaikan suara itu. -KREEEK- Lagi-lagi suara rengekan itu kembali menyapa gendang telinganya. "Ini sudah yang kesekian kalinya," Jam dinding biru yang terus berdetak di tembok sebrang ranjangnya menunjukkan pukul dua dini hari, dimana Nadira tak kan perna
Lapor Hansip
05-08-2020 07:39

PERSAHABATAN BERDARAH

Past Hot Thread
icon-verified-thread
PERSAHABATAN BERDARAH


Prolog

-KREEEK-
Suara rengekan engsel jendela membangunkan Nadira yang terlelap di balik selimut lembutnya. Namun ia berusaha kembali terlelap dan mengabaikan suara itu.

-KREEEK-
Lagi-lagi suara rengekan itu kembali menyapa gendang telinganya.

"Ini sudah yang kesekian kalinya,"
Jam dinding biru yang terus berdetak di tembok sebrang ranjangnya menunjukkan pukul dua dini hari, dimana Nadira tak kan pernah bisa tidur pada saat-saat itu.

Anggin yang dingin menyeruak masuk memenuhi ruangan, membawa semerbak aroma khas tanah basah bercampur mawar menyeruak di hidung Nadira. Bukan pertanda hujan, namun apa yang selalu membangunkannya pukul dua dini hari berusaha membangunkannya.

"Revan!, please jangan ganggu aku setiap hari!, aku ingin istirahat Van." Suara Nadira nampak meninggi, ia benar-benar kesal dengan Revan. Yah, Revan. Dia adalah penyebab suara dan aroma yang sedari tadi menganggu Nadira.

"Van, aku sudah bilang padamu, aku akan mencari sebab kematian mu. Tapi ku mohon Van, izin kanlah aku beristirahat supaya besok aku bisa fokus."

Yah Revan memang seorang remaja yang sangat tampan, badannya yang atletis juga wajahnya yang manis tentu akan memikat siapapun yang melihatnya, namun itu dulu. Karena sekarang hanya dua sahabatnya yang dapat melihatnya. Dan hal itu tidak berlaku untuk orang lain, karena sejatinya kini ia hanya sebatas arwah penasaran dan bukan manusia seperti kedua sahabatnya.

-KRIIING..KRINGG-
`Dering ponsel Nadira mebuatnya berhenti memarahi Revan. Dan ia sepontan melihat touchscreen yang tertera nomor sahabatnya yakni Rasya, sahabat Nadira dan Revan.

"Malam Ra, sorry malam-malam menelvon, aku hanya memastikan saja dirimu sedang bersama Revan. Aku ada di depan kamarmu." Suara di sebrang masih nampak begitu segar, berbeda dengan Nadira yang agak paru karena bangun tidur.

"Rasya?, sungguh kau ada di balik jendela?."

"Ia, aku di sini."

-TUUT-
Panggilan nampak di putus oleh Nadira, ia segera menyibak selimutnya dan bergegas membuka jenddela yang sebenarnya sudah sedikit terbuka karena angin yang di sebabkan kehadiran Revan tadi.

Rasya memang sahabat Revan dan Nadira, dan di antara mereka bertiga hanaya Rasya yang memiliki kelebihan sejak dulu mereka berteman.Sejatinya Rasya memang memiliki kelebihan indra ke enam yang dapat melihat mahluk-mahluk tak kasat mata yang tak lain termasuk juga dengan Revan yang sejatinya kini adalah arwah penasaran. Berbeda halnya dengan Nadira yang hanya bisa melihat Revan tepat jam dua dini hari, dimana waktu seolah berhenti. Nadira sendiripun tak mengerti mengapa hal itu terjadi yang membuatnya tak pernah bisa beristirahat dengan nyenyak di malam hari, meski dalam keadaan paling lelah sekalipun.

"Ada apa kau kemari?."

"Diam, aku sudah menemukan titik terang Revan kecelakaan dan masuk jurang pekan lalu, dan pelakunya adalah Rama, teman satu kelas kita. Polisi sudah menangkapnya, dan kau Revan, kau bisa pergi dengan tenang."

"...." Hening sesaat, hanya suara gemerisik dedaunan yang menemani ketiganya. Ada rasa sedih di hati Nadira, ia sungguh tak ingin jauh dari Revan, meski ia sering merasa terganggu, tapi hakikatnya ia pun tak ingin Revan pergi.

"Dengan alasan apa Rama mensabotase mobil Revan?."

"Karena ia mencintaimu Ra, dan dua hari sebelum kecelakaan itu menimpa Revan, kau menolaknya mentah-mentah demi Revan."

"Tapi aku tidak mencintainya Sya, dan bukankah Rama juga sahabat kita?."

"Tapi seharusnya kau pendam rasa mu jangan kau katakan jika kau mencintai Revan jika kau tau Rama mencintaimu. Sekarang persahabatan kita hancur, Revan meninggal, dan Rama di penjara. Apa ini yang kau mau?."

"Maafkan aku Sya." Air mata mengalir deras di pipi Nadira, begitu pula dengan Revan yang mencintai Nadira. Namun takdir berkata lain. Sejatinya Revan dan Nadira adalah dua insan yang terpaut dalam kisah persahabatan rasa cinta, namun keduanya harus terpisah sebelum Revan sempat meng ikrarkan janji pada Nadira.

"Maafkan aku Van,Van, Revan!," panggil Nadira yang menyadari Revan tak ada di ruangannya.

"Ra, Revan telah tenang di alam sana, ini untuk mu dari Revan," Ucap Rasya sedkit gemetar memberikan setangkai mawar merah di depan cermin yang menyimpan tukisan di lembaran daunnya.

"Jaga Nadira, dan cintai dia. Terima kasih sahabatku."
Sekuntum mawar kenangan itu sukses membuat air mata keduanya mengalir. Dan dari persahabatan empat sekawan itu kini tinggal mereka, semua hancur hanya karena cinta segi tiga.

Jika dalam aliran air berkaitan dengan cahaya matahari, maka mustahil tak tercipta lumut di dalamnya. Begitu pula persahabatan kelimanya yang mustahil jika murni kasih persahabatan saja, tentu suatu hari akan ada bumbu-bumbu cinta yang kam mewarnai, atau akan menghapus warna persahabatan mereka.
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a9r7a dan 13 lainnya memberi reputasi
12
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 07:44
Lanjutan cerita
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
profile-picture
qoryqory dan masnukho memberi reputasi
2 0
2
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 07:44
Lanjutan cerita
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
profile-picture
masnukho dan cattleyaonly memberi reputasi
2 0
2
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 07:45
Lanjutan cerita
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
profile-picture
masnukho dan cattleyaonly memberi reputasi
2 0
2
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 07:45
Lanjutan cerita
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
cattleyaonly memberi reputasi
1 0
1
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 10:01
Sip. Ditunggu lanjutannyaemoticon-2 Jempol
profile-picture
masnukho memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 10:58
Mantap, semangat 😁
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 12:09
Enjoyed it, bagus kak ceritanya begitu menarik👍
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 12:35
Mantaaaappp
profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 12:42
Ini blm selesai ya? Masih ada lanjutannya?
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 13:22
Semangattt!
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
05-08-2020 18:43
good.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
06-08-2020 11:13
Singkat Jelas Padatemoticon-Jempol
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
07-08-2020 08:28

Persahabatan Berdarah

PERSAHABATAN BERDARAH

Part 1


Rembulan yang bersinar, seakan mengerti kesedihan mereka, dan menyambut kepergian Revan. Kini tak kan ada lagi yang membangunkannya tepat pukul dua dini hari, sunyi, tenang, namun jiwanya tak memiliki ketenangan. Karena sejatinya ia begitu mencintai Revan dan ia masih mengharapkannya. Namun, semua itu tak mungkin, karena kini Revan telah tenang di alamnya, sedang ia harus kembali melanjutkan hidupnya.

Malam semakin larut, membuat Rasya tak bisa berlama-lama di balik jendela itu.

"Hapuslah air mata mu, Revan akan sedih jika kau menangis terus. Dan maaf aku harus pergi," ucap Rasya sembari beranjak dari jendela kamar Nadira.

"Terima kasih Sya."

Langkah Rasya terus menjauh dengan berat, tanpa ia sadari, ia tertatih bersama dengan bulir-bulir jernih di matanya yang nampak samar di bawah terpaan cahaya rembulan. Berat memang, namun itulah takdir dan kenyataan, yang kita tak akan pernah mampu untuk mencegahnya, dan tak akan mampu untuk menerka bagaimana kelanjutan kisah atau apa yang akan datang pada hari esok. Sedih, atau bahagia hanya tuhan yang tau. Karena kita hanya sebatas pemeran diatas panggung sandiwara, yang terus mengikuti takdir, tanpa bisa menepisnya. Yang kita bisa hanya mempersiapkan sebaik-baiknya.

"Sebenarnya akupun tak sanggup kehilangan Revan Ra, hanya saja ini takdir," gumam Rasya di bawah cahaya bulan samar yang terhalang dahan pohon yang tenang.

Suasana malam yang hening, membuat Nadira masih terpaku di tepi jendela kamar, ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Rasanya baru saja ia bercengkrama bersama dengan Revan,dan sekarang dia sudah pergi untuk selamanya. Kini hanya setangkai mawar merah yang akan tetap ia abadikan sebagai tanda bukti cinta kasihnya pada Revan, sekalipun Revan telah pergi.

-BIB...BIB...-
Ponsel Nadira bergetar berulang menandakan panggilan masuk yang membubarkan semua lamunannya.

"Rasya," gumamnya saat melihat touchscrennya.
Hallo Ra, maaf aku menelvonmu. Suara di sebrang terdengar sumbang.

"Kau menangis Sya?."

"Tidak, aku hanya kurang suka dengan udara malam," jawab Rasya yang menyeka air mata tanpa sepengetahuan Nadira.

"Kau dimana?," tanya Nadira terdengar Khawatir, ia hanya tak enak hati jika sahabatnya harus kedinginan di luar.

"Sudah, tutplah jendelamu, istirahatlah aku sudah perjalanan pulang jangan khawatirkan aku."

Jalanan lengang membiarkan mobil hijau stabilo itu membelah angin malam, tentu sunyi, sedih,rindu dirasakan oleh pengemudinya,yang tak lain dan tak bukan adalah Rasya. Ia ngat betul bagaimana kecelakaan pekan lalu merenggut nyawa Revan tepat di jalan yang saat ini ia lalui. Sebuah jalan yang dulu penuh kehangatan persahabatan, kini berubah menjadi sayatan luka setiapkali melaluinya.

Rembulan yang bersinar kini tak lagi nampak, ia enyah begitu hujan mengguyur jalanan kota yang lengang, air mata menetes perlahan di pipi Rasya membuat dirinya seakan berkendara di tengah kabut tebal.

"Sya."

"Eh, ia Ra." Suara di sebrang membubarkan lamunannya dalam pilu.

"Kau baik-baik saja?."

"Ia aku baik-baik saja, bahkan saat ini aku sudah berada di apatermenku."

Rasya memang hidup sendiri di kota Metropolitan dengan sejuta kesibukan ini. Ia merpakan anak tunggal yang di tinggalkan kedua orang tuanya merajut asa di negeri orang. Ia sebenarnya rindu akan kota hujan tanah kelahirannya, namun ia sudah bahagia, juga pilu di kota sejuta kesibukan ini bersama tiga sahabatnya yang kini berasa bagaikan duri.

"Beristirahatlah Ra,besok aku akan kembali untuk menenangkanmu, dan kita jenguk makan Revan ya."

"Tapi-"

"Sudahlah, lelapkan fikiranmu, tutup jendelamu dan istirahatlah."
Akhirnya dengan berat hati Nadira menutup jendela kamarnya mengabaikan rintik hujan diluar, dan bergegas menggapai selimutnya yang setia menanti di ranjangnya.

"Terima kasih Sya,"

"Sama-sama."

-TUUT-
Panggilan pun di tutup oleh Nadira,sejatinya ia belum bisa terlelap, ia masih terisak di balik balutan selimut birunya, berharap semua hanya mimpi hingga ia terlelap karena lelah.

Berbeda halnya dengan Rasya yang duduk menghadap jendela menatap aktivitas kota yang tak berhenti jua, ia masih tak percaya semua ini terjadi seakan kilat yang tak menanti mata untuk berkedip dalam menyiapkan diri menatapnya. Sungguh cepat, dan tak terduga.

"Tuhan, apakah ini permainan takdirmu, ataukah racun dari cinta yang salah di antara kami?",gumam Rasya memecah hening sejenak. Karena rintik hujan yang menabrak keras jendela apatermennya tak mampu menjawab pertanyaannya di malam penuh liku ini.
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizka.aulia dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
PERSAHABATAN BERDARAH
07-08-2020 08:30
Selamat membaca😉
profile-picture
Rizqyimanudin8 memberi reputasi
1 0
1
PERSAHABATAN BERDARAH
07-08-2020 19:41
Kak Mantap
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
PERSAHABATAN BERDARAH
09-08-2020 13:03

PERSAHABATAN BERDARAH

PERSAHABATAN BERDARAH


Part 2



Di lain sisi masih dengan waktu yang sama Rama masih terjaga dengan kilatan mata yang memendam dendam membara. Di balik jeruji yang kini menghadang di hadapannya, menghancurkan segala mimpi-mimpi yang ada.

"Mati satu sisa satu," gumam Rama dengan
rahang yang mengeras. Seakan seluruh sarafnya tak terima dengan keadaan ini. Bahkan ia masih ingat bagaimana tragisnya kematian Revan pekan lalu mati terpanggang bersama mobil yang di gunakannya untuk menjemput Nadira kekasih pujaannya.

Tanpa pernah ia tau betapa ketiga sahabatnya begitu menyayanginya, yah ketiganya yang tak lain dan tak bukan juga dengan Revan sahabatnya sendiri yang mati secara tragis karena butanya hati akibat rasa cintanya yang begitu mendalam kepada Nadira. Bahkan tak puas sampai di situ Rama masih ingin menghabisi satu nyawa lagi demi pencapaian hasratnya kepada Nadira. Rasya, sahabat baiknya sejak duduk di bangku SMA menghabiskan waktu dengannya adalah hal yang menyenangkan sebelum hadirnya cinta uta bersama dengan kehadiran Nadira pujaan hatinya.

Bahkan rinai hujan diluar pun tau, betapa kisah persahabatan mereka seharusnya penuh kebahagiaan dan kedamaian, namun apalah daya hati manusia dikala kebencian tersulut atasnama cinta dan perasaan.
***

"Nadira, tunggu aku," suara yang benar-benar ia hafal, membuat angannya melayang.

"Ada apa Ma?."

"Aku mau ngomong penting nih."

"Udah ngomong aja."

"Nggak bisa di sini," balas Rama sembari melirik Revan yang tengah berdiri menanti keduanya. Mata kuliah kali ini terasa begitulama bagi Nadira yang inin segera pulang dan besok berlibur bersama dengan Revan.

"Kenapa?."

"Baiklah, jika kau ingin aku mengatakannya di sini."

"..." Baik Revan ataupun Nadira hanya terdiam.

"Jujur Ra, aku mencintaimu, dan maukah kamu menjadi kekasihku?."

"........." Hening tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Nadira, ia hanya menatap Revan yang kini tertunduk seolah tak mendengarkan.

"Ra, jawab aku."

"Hem, eh apa Van, eh maaf maksudku Ma." Nadira tampak begitu gugup hingga ia salah menyebutkan nama. Karena yang saat ini ada di hatinya memang Revan.

"Van?," delik Rama tak percaya.

"Maaf Ma."

"Baiklah tak apa, aku pulang duluan."

"Ma, Rama. Jangan salah faham dulu Ma," cegah Revan yang merasa canggung terhadap Rama.

"Hay,Ma, Van."

"..."

"Eh, Ma tunggu."

"Eh, tunggu dulu, ada apa dengan kalian?, kenapa tiba-tiba Rama pergi?, dan kau ada apa ini?," tanya Rasya yang baru saja bergabung dan melewatkan sesuatu.

"Revan, maafkan aku, aku tak bermaksud-"

"Sudah tak ada yang perlu di salahkan, besok kita batalkan saja ya. Masalah ini harus selesai," Cegat Revan memutus kata-kata Nadira yang membuat Rasya bingung.

"Hey ada apa ini, kenapa nampak tegang sekali, lagi pula besok ada acara apa?."

"Tak apa Sya, ayo kita pulang," jawab Revan yang berlalu begitu saja meninggalkan Nadira yang masih tenggelam dalam rasa bersalah.

"Eh, nanti-nanti pasti ada yang nggak beres. Ada apaan sih Van, Ra?."

"..." Nadira yang berjalan di belakang Revan tak beraniangkat bicara ia hanya menghitung jumlah debu yang sedang riuni di lantai lorong kelas. Begitu juga dengan Revan yang masih bungkam tak menghiraukan Rasya yang bingung dengan ketiga sahabatnya.

Bahkan selama perjalananpun semua terasa hening. Rasya yang kala itu jadi sopir untk ketiga sahabatnya bingung tujuh keliling. Ia merasa bahwa masalah ini bukan hal sepele, karena bagaimana mungkin, jika hanya hal kecil Rama sampai memutuskan untuk pulang sendiri menggunakan taxi tak ingin bersama dengan ketiga sahabatnya.

Matahari semakin membenamkan diri di ufuk barat. Sebagaimana biasa, Rasya atau pun sopir di antara ketiganya harus mengantarkan Nadira sampai kerumah dengan selamat. Namun tak seperi biasa yang tegur sapa, atau melepas lambaian tangan menyatakan janji jumpa di esok hari. Kali ini hambar hanya tundukan dari Nadira dan wajah Revan yang berpaling kesudut lain.

"Sampai besok Ra, jangan galau ya," seloroh Rasya berusaha mencairkan suasana, namun apalah daya ia tak pernah tau apa isi hati manusia, bagikan bejana yang terisi angin, kita takkan pernah tau seberapa mereka terkumpul dan bercerita dalam bejana itu.
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
rizka.aulia memberi reputasi
1 0
1
PERSAHABATAN BERDARAH
12-08-2020 09:30

PERSAHABATAN BERDARAH

PERSAHABATAN BERDARAH

Part3


"Lho sudah pulang Nak?," sambut Bu Elsa yang tak lain dan tak bukan adalah mama Nadira.

"Sudah Ma," jawab Nadira datar sembari mencium tangan Ibundanya dan melangkah masuk ke dalam bangunan yang tak begitu besar itu.

Nadira memang berasal dari keluarga berada hanya saja keluarganya lebih suka hidup dengan sederhana dan tak terlalu menonjol.

"Nak, ada apa kamu apa ada masalah tadi?."

"Nggak kok Ma, Cuma capek aja,jadi mau mandi dulu." Lagi-lagi masih dengan nada yang datar.

Akhirnya sang Ibunda membiarkan putri tunggalnya itu menenangkan dirinya sejenak. Karena sebagaimana naluri ibu yang selalu benar. Terlebih lagi dengan Nadira seseorang yang selalu nampak cerinya dan percakapannya yang selau terdengar renyah. Hari ini nampak begitu datar, apa lagi jika bukan masalah yang di alami dalam kisah cinta ataupun persahabatannya.

Mentari semakin menyingsing di ufuk barat. Nadira masih termenung di balik jendela kamarnya menimang-nimang ponsel yang kaliini nampak sunyi dari pesan singkat ataupun panggilan video sahabat terkasihnya. Ah atau mungkin saja sahabat hanya sebuah kata berkedok saja bagi perasaannya yang lain pada Revan.

Senja ini ia benar-benar gundah, karena ia tak ingin ada permasalahan di dalam persahabatannya, namun iapun tak sanggup jika harus bersama dengan Rama karena sedikitpun ia tak pernah mencintai Rama.

"Kok di tolak sih, angkat Van," gumamnya setelah memutuskan untuk menelvon Revan berulangkali namun selalu di tolak. Tak sepertibiasanya Revan seperti ini.

Ya Tuhan, apa karena masalah tadi?,apa semua jadi seserius ini?, Nadira mrasa begitu rapuh hingga matanya terasa panas hingga air mata tak terasa mengalir begitu saja membasahi pipinya.

-Bib...Bib...
"Hah, Revan?." Sontak saja Nadira melihat layar ponselnya. Namun seketika wajahnya berubah kembali dari tangi, senyum, muram kembali. Karena bukan Revan, panggilan masuk itu adalah Rasya. Tanpa peduli Nadira menutup panggilan tanpa berniat menjawabnya terlebih dahulu meski semenit saja. Ia sendiri tak mengerti bagaimana ia bisa begitu membenci hari ini.

-Ting- Notifikasi singkat berdering, pertanda pesan masuk. Namun lagi-lagidari Rasya.

"Kamu kenapa nggak jawab panggilan aku?,aku mau tanya kenapa Revan dan Rama berantem?."

"Apa?!" pesan singkat Rasya sukses membuat Nadira terlonjak terkejut. Ia pun memutuskan untuk menelvon balik Rasya.

Belum juga satu menit berlalu, panggilan itu sudah terhubung dengan Rasya yang nampak tersengal-sengal di ujung telvon.

"Hallo Sya, kamu dimana?,terus kamu tau mereka berantem dimana?," brondong Nadira habis-habisan yang malah membuat Rasya yang di sebrang telvon termangu.

"Sya!"

"Eh,ia Ra?," Rasya nampak gugup karena ia terkejut di bentak oleh Nadira dari sebrang.

"Kok malah diem sih?, kamu tau Revan sama Rama berantem dimana?." Nadira nampa begitu antusias menantikan jawaban Rasya yang malah kebanyakan diam.

"Ra, aku tu tanya."

"Lho, aku juga tanya."

"Kok malah balik tanya?." Suara Nadira semakin meninggi karena kesal dengan Rasya.

"Aku nggak tau mereka berantem Ra, yang aku tau tadi pasti ada masalah sewaktu di kampus,yang buat Rama pulang duluan dan sekarang Rama belum sampai rumah."

"Apa?!"

"Nah maka itu aku bingung. Aku juga telvon Revan nggak di angkat malah di reject."

"Eh sama. Lalu kemana mereka?."

"Makanya aku nelvon kamu."

Panggilanpun hening sejenak karena baik Nadira ataupun Rasya masih berusaha menerka-terka dimanakah kedua sahabatnya. Hingga panggilan berakhir Nadira masih terpaku di balik jendela sembari menatap gelap yang terus merayap. Ia begitu takut akan apa kesalahan yang ia akibatkan hari ini. Yang ia harap semoga takkan ada perpecahan di antara mereka yang kini berasa cermin di ujung tanduk
Diubah oleh tusammasbaltair
profile-picture
profile-picture
Rizqyimanudin8 dan darmawati040 memberi reputasi
2 0
2
PERSAHABATAN BERDARAH
12-08-2020 09:51
"Lho sudah pulang Nak?," 

setelah tanda (?) jangan kasi (,) lagi.
profile-picture
tusammasbaltair memberi reputasi
1 0
1
PERSAHABATAN BERDARAH
12-08-2020 09:53
"Eh,ia Ra?," ini juga.

"Eh, ia, Ra?" (,) dalam dialognya harusnya tiga. 😊
profile-picture
tusammasbaltair memberi reputasi
1 0
1
PERSAHABATAN BERDARAH
12-08-2020 09:54
"Eh sama. Lalu kemana mereka?."

intinya, setelah tanda (?) (!) jangan kasi tanda baca seperti (.) (,)

kata kemana, yang benar itu,

ke mana. Tulisannya (ke)nya dipisah.

Karena, menunjukan keterangan tempat. Atau kata tempat.

Jika menunjukanketerangan tempat dan waktu, penulisannya dipisah.

Jika itu termasuk kata kerja, maka tulisannya digabung.

misal: dimakan (di)nya digabung.

di kebun. (di)nya dipisah.
Diubah oleh darmawati040
profile-picture
profile-picture
Yudasa98 dan tusammasbaltair memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
fantasy-fragments-of-power
Stories from the Heart
manusia-manusia-senja
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia