Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Proses Penukaran Koin Kreator Ada Perubahan Cek Infonya di Sini Gan!
1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f28c5a209b5ca53090adc7a/pengorbanan
Hari mulai gelap, saat suami istri berusia enam puluh tahunan berjalan pulang menuju rumah mereka di area perkampungan kumuh. Sang suami, dengan kaki pincangnya, mendorong gerobak kecil berisi karung-karung lusuh. Sementara itu, sang istri mengikutinya dari belakang, sambil membawa sebilah tongkat yang ujungnya sedikit melengkung dan tajam. Kedua orang tersebut adalah Karmin dan Sumirah. Di usia s
Lapor Hansip
04-08-2020 09:19

pengorbanan


Hari mulai gelap, saat suami istri berusia enam puluh tahunan berjalan pulang menuju rumah mereka di area perkampungan kumuh. Sang suami, dengan kaki pincangnya, mendorong gerobak kecil berisi karung-karung lusuh. Sementara itu, sang istri mengikutinya dari belakang, sambil membawa sebilah tongkat yang ujungnya sedikit melengkung dan tajam.

Kedua orang tersebut adalah Karmin dan Sumirah. Di usia senjanya, mereka hanya hidup berdua. Jarwo, putra mereka satu-satunya, meninggal dunia karena demam berdarah dua puluh tahun lalu, di usianya yang baru sebelas tahun. Saat itu mereka terlambat membawa Jarwo ke rumah sakit karena keterbatasan biaya.

Krisis moneter yang terjadi di tahun 1997, membuat pabrik garmen tempat Karmin bekerja gulung tikar dan memaksanya menjadi seorang pengangguran. Kondisi kakinya yang pincang sejak lahir, membuat dirinya kesulitan mencari pekerjaan lain.

Akhirnya, untuk menyambung hidup, Karmin dan Sumirah mengais rejeki dengan cara mengumpulkan sampah-sampah plastik dan kardus bekas, yang kemudian ditukar dengan beberapa lembar recehan di pengepul. Sesekali, tetangga kampung sebelah akan mengupah mereka untuk bersih-bersih atau berkebun.

🌻🌻🌻

Karmin memandang istrinya yang masih berbalut mukena sehabis salat isya. Tangan Sumirah sedang asik menghitung lembaran-lembaran lusuh yang tersimpan di dalam kaleng bekas. Entah sudah kali keberapa ia menghitung uang-uang tersebut.

"Dua juta seratus lima puluh ribu rupiah," gumam Sumirah. "Alhamdulillah, uangnya benar-benar sudah cukup ini, Pakne." Wajahnya tampak semringah.

Karmin ikut tersenyum melihat rona bahagia di wajah istri yang sudah empat puluh tahun mendampinginya itu.

"Iya, Bune, alhamdulillah," jawab Karmin. Diraihnya cangkir seng hijau bermotif lurik di hadapannya. "Sudah to, ndak usah dihitung-hitung terus. Jumlahnya ndak akan bertambah meskipun berkali-kali dihitung," goda Karmin. Perlahan, diteguknya kopi hitam buatan Sumirah.

"Ah, Pakne ini lho." Wanita itu tersipu malu. "Bune masih tidak percaya, rasanya seperti mimpi ya, Pakne. Akhirnya uang ini terkumpul juga." Sepasang mata tua Sumirah berkaca-kaca.

Karmin kembali tersenyum. Hatinya kini sedang dipenuhi oleh rasa syukur. Setelah menabung cukup lama, akhirnya tahun ini ia dan istrinya memiliki cukup uang untuk membeli seekor kambing yang mereka impi-impikan. Seekor kambing yang akan mereka kurbankan di hari raya Idul Adha, lima hari lagi.

Mungkin bagi sebagian orang, uang senilai dua juta rupiah bisa dengan mudah diperoleh. Tapi baginya dan Sumirah, uang tersebut baru bisa terkumpul setelah perjuangan nyaris sembilan tahun. Ah, Karmin kembali teringat saat mereka terseok-seok menyisihkan recehan dari pendapatan mereka yang tidak seberapa.

"Sudah, uangnya disimpan dulu, Bune. Besok, kita ke rumah Haji Parto untuk membeli kambing. Semoga masih ada kambing seharga dua jutaan di sana," ujar Karmin, yang disambut anggukan oleh sang istri.

🌻🌻🌻

Karmin dan Sumirah terlihat rapi pagi ini. Rasanya sudah tidak sabar melangkahkan kaki ke rumah Haji Parto, untuk membeli seekor kambing yang mereka idam-idamkan.

"Uangnya sudah dibawa kan, Bune?" tanya Karmin.

"Sudah, Pakne," jawab Sumirah. Dipeluknya tas kecil berwarna hitam usang yang berisi lembar-lembar lusuh senilai dua jutaan.

Sepasang suami istri itu kemudian melangkahkan kaki menyusuri jalan kampung, sembari sesekali membalas sapaan tetangga yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

Hingga kemudian, suara tangisan sampai ke telinga keduanya. Tangisan yang berasal dari gubuk kecil yang ditinggali Nanang dan Adi, kakak beradik yang sudah satu tahun terakhir ini hidup berdua saja, setelah ditinggal minggat oleh ayahnya yang kepincut penyanyi dangdut keliling. Ibunya yang bekerja sebagai TKW tidak pernah terdengar kabarnya lagi sejak lima tahun yang lalu.

Tanpa pikir panjang, Karmin dan Sumirah bergegas masuk ke gubuk itu.
Dilihatnya Nanang sedang terisak di samping adiknya yang terbaring menggigil.

"Kenapa, Le?" Karmin bertanya.

"Adi demam tinggi sejak dua hari yang lalu. Nanang bingung harus minta tolong sama siapa, Mbah," jawab remaja berusia tiga belas tahun itu. Matanya terlihat merah dan sembab.

Pandangan Karmin beralih ke arah Sumirah yang sedang mengecek kondisi Adi.

Mata Sumirah tiba-tiba terbelalak.

"Pakne," ucap Sumirah, lirih, sambil menatap wajah suaminya. Satu tangannya menunjuk ke arah leher Adi.

Karmin memicingkan mata agar bisa melihat dengan jelas. "Astaghfirullah!" seru Karmin saat melihat deretan bintik merah di leher dan lengan Adi. Bayangan Jarwo, putranya yang meninggal dua puluh tahun lalu, kembali muncul di kepala lelaki itu.

Ditatapnya mata Sumirah, seolah meminta persetujuan. Sumirah membalas tatapannya dengan sebuah anggukan kepala.

🌻🌻🌻

Dengan langkah pincangnya, Karmin mendorong gerobak berisi setumpuk plastik dan kardus bekas. Sementara itu, di sebelahnya, sang istri tampak berjalan mendampingi.

Langkah Karmin terhenti ketika melihat sang istri menoleh ke arah masjid yang mereka lewati. Beberapa ekor kambing dan dua ekor sapi tampak diikat berjejer di samping masjid, siap untuk dikurbankan esok hari.

Karmin menyentuh tangan Sumirah yang keriput. "Ikhlas ya, Bune. Kita belum diizinkan berkurban tahun ini," bisiknya lirih.

"Insyaallah ikhlas, Pakne. Yang terpenting kondisi Adi sudah lebih baik sekarang." Sumirah tersenyum.

Entah kenapa, melihat senyum Sumirah, hati Karmin justru nelangsa. Ia tahu pasti seberapa besar keinginan istrinya untuk bisa ikut berkurban. Tapi bagaimanapun, inilah takdir terbaik dari Allah.

"Semoga Allah menerima pengorbanan kita untuk tidak berkurban tahun ini ya, Bune. Semoga suatu saat impian kita untuk berkurban bisa terlaksana." Karmin menghibur hati istrinya, sekaligus hatinya sendiri.

"Iya, Pakne, insyaallah," jawab Sumirah.

Sepasang suami istri itu pun melanjutkan perjalanan pulang. Di dalam hati mereka masing-masing, terlantun takbir untuk menyambut Idul Adha esok hari.

-End-
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
pengorbanan
04-08-2020 10:22
Bagus ceritanya emoticon-Smilie
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you
Stories from the Heart
cowok-pengangguran-pemalas
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
the-wonderwall
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia