Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Proses Penukaran Koin Kreator Ada Perubahan Cek Infonya di Sini Gan!
56
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f28598209b5ca056f01c9d3/born-of-mistake
Hari itu di saat semua terasa gelap gulita, tiada lagi harapan langkah yang tak tentu arah membuatku terseret pada pilihan yang salah. Hingga suatu hari sebuah tangan terulur meraihku yang perlahan ia mendekapku ke dalam dadanya yang bidang. Rasa hangat menyelusup ke dalam jiwa, seiring lembutnya usapan tangan lelaki di hadapanku.
Lapor Hansip
04-08-2020 01:37

Born Of Mistake

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Born of mistake
Born Of Mistake


Prolog


Hari itu di saat semua terasa gelap gulita, tiada lagi harapan langkah yang tak tentu arah membuatku terseret pada pilihan yang salah. Hingga suatu hari sebuah tangan terulur meraihku yang perlahan ia mendekapku ke dalam dadanya yang bidang. Rasa hangat menyelusup ke dalam jiwa, seiring lembutnya usapan tangan lelaki di hadapanku.

Embusan napas memburu seiring naik turunnya bahu yang berguncang hebat. Tangisku pecah menyadari akan kebodohan yang selama ini kulakukan. Demi bisa menyadari semua sikap keliru yang ada di dalam diriku, dia lelaki bermata tajam dengan wajah teduh, berkulit putih juga keningnya yang khas seperti seorang profesor.

Lelaki tua yang kini selalu kusebut namanya sebagai Sullivan, dengan senang hati merangkul dan membawaku pada kehidupan nyata. Menyadarkanku bahwa hidup ini sangatlah luas, tidak hanya satu penderitaan saja yang kurasakan, diluar sana tidak sedikit orang yang jauh lebih menderita bahkan secara finansial.

Aku Shireen Andriana harus berjalan tertatih mengarungi derasnya aliran kehidupan, yang terkadang menemui turunan dan tanjakan. Menikmati hamparan kerikil masalah yang kadang membuat langkah kaki terasa begitu menyakitkan. Meski sayap penopangku keduanya masih lengkap, tapi tak pernah kudapatkan secuil semangat dari mereka.

Malang nian nasibku yang hanya dilahirkan tapi tidak pernah diinginkan. Aku seperti terlahir dari sebuah kesalahan yang teramat besar, sehingga mereka berdua sangat membenciku. Kejamnya kehidupan membawaku pada dunia malam jahanam sebagai jalan pelampiasan.


Hidup harus tetap berjalan meski penuh dengan tangisan. Kesalahan di masa lalu harus kutebus mahal di kemudian hari, luka batin yang menggores begitu dalam tak akan pernah bisa hilang. Selalu membekas hingga diri tak mampu lagi menatap bayang dalam cermin.


Sullivan lelaki yang kini berada di sampingku, menemani hari-hari menjadi lebih berwarna. Rasa nyaman yang berubah haluan mengaju pada cinta, tak bisa ku rengguk indahnya surga dunia. Akankah ia menjaga dan melindungiku seperti ia melakukan hal tersebut pada istrinya?


Aku menunggumu di sini, di tempat yang seperti biasanya mampu menciptakan ketenangan di relung batinku. Taman kecil yang berhiaskan berbagai bunga dengan maraknya kupu-kupu bermacam warna.


Karya Umma Saliha
Selanjutnya klik dibawah
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
betiatina dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Born Of Mistake
04-08-2020 01:38
Indeks Link Born Of Mistake

Born Of Mistake

Part 1: Pertemuan dengannya
Part 2: Ayam Kampus
Part 3: Kalut
Part 4: Kost Beha
Part 5: Sedingin Kutub
Part 6: Hati Yang Mencair
Part 7:
Part 8:
Part 9:
Part 10:
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Born Of Mistake
04-08-2020 01:38
Ilustrasi Tokoh
Born Of Mistake


Shireen : Labil, gengsian, selengekan

Sullivan : Kalem, Unik

Yola : konyol, ulet, tegas

Ghailan : cowok kalem, agamis, manis, penyayang
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Born Of Mistake
04-08-2020 01:38
Lagi buat TS ya
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Born Of Mistake
04-08-2020 01:38
Besokan editnya
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Born Of Mistake
04-08-2020 01:38
Mari diskusi santuy


Born Of Mistake
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
04-08-2020 12:52
Kupu Kupu malam kah? Ane masih meraba cerita 😆
profile-picture
ummusaliha memberi reputasi
1 0
1
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
04-08-2020 13:52
ini masih ada lanjutannya kan
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
05-08-2020 01:08
lanjut teh ummu.
emoticon-Jempol
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
05-08-2020 06:31
prolognya pas dibaca berasa sedang baca part satu. saran ambil dari cuplikan isi tulisan atau menganhat sudut pandang si tokoh tentang perihal hidup yang ia jalani. contoh aku ambil dari yang diatas👇

malang nian nasibku yang dilahrkan tapi tidak pernah diinginkan. ------👉ini pas dibaca udah membuat orang penesaran dengan jalan ceritanya tinggal kamu luaskan kata katanya supaya lebih greget lagi
profile-picture
ummusaliha memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
05-08-2020 08:03
Quote:
Part 1
Pertemuan dengannya


Sepulang kuliah aku bergegas menuju tempat kerja. Mata kuliah yang cukup menyebalkan untuk kuhadapi hari ini, belum lagi dosen killer yang membuat seisi kelas mati kutu. Setelah keluar kampus rasanya seperti burung yang keluar dari dalam sangkar, bebas. Angkot sudah berada di depan gerbang kampus. Sambil menuju kost-an sedikit kurebahkan badan di kursi depan.

Beberapa mahasiswa berbincang di bangku belakang, entah kenapa mendengar cerita mereka. Mendadak aku teringat perjuangan saat mengikuti test SBMPTN, ada rasa sesak juga sesal menyelimuti tapi tak sebanding dengan bahagiaku saat ini. Bisa kuliah di sebuah universitas cukup ternama, membuat hatiku bangga.


Saat itu aku bersama Yola sahabat sejak di bangku Aliyah, kami iseng ikut test SBMPTN saking ngebet pengen kuliah. Padahal, kami sendiri tidak tahu akan mengambil jurusan apa. Saat itu ada tiga jurusan yang tersedia yaitu sastra indonesia, sosiologi, dan bimbingan konseling dari tiga kampus berbeda. Semua jurusan aku ikuti dan hasilnya aku terpilih di jurusan sosiologi.


"Ola, dah kau bayar biaya pendaftaran test kemarin?" Tanyaku pada Yola, kami sedang ada di warnet menyelesaikan persyaratan test.

"Aku nunggu kau lah, Reen. Cam mana pulak aku pigi tanpa kau," sahut Yola dengan logat yang khas.

"Aku lupa, kau kan nggak bisa bawa motor hahaha," ejekku menjulurkan lidah.

"Taulah kau tuh, ayo kapan kita pigi. Kau yang bawa motor ya, Reen," pintanya memasang mimik wajah menggemaskan.

"Duitku udah siap sih, tapi kita pinjam motor siapa?"

"Kau ni cam mana pulak lagi, Reen. Bapak kau itu motornya bagus, pinjamlah sikit bin sebentaran ja."

"Gak usah! Mending aku cari sewaan!" Tukasku kesal.

"Kau jangan marah, maaf aku keceplosan, Reen. Kau serius ambil sosiologi?"

"Jalani saja, Ola. Tekadku bulat ingin segera bebas dari rumah yang seperti neraka. Bukankah kau tahu? Bagaimana orang tuaku? Ada ataupun tidak aku di rumah, mana mereka peduli. Sekalipun aku mati, sepertinya mereka malah senang." Mendadak dadaku terasa panas.

"Dah, kau fokus saja pada apa yang mau kau jalani, Reen. Jangan banyak pikir macam-macam, perjalanan kita masih panjang." Ola melontarkan kata-kata yang cukup menghibur.

"Oke, fokus!"


Aku menatapnya bersama senyuman yang mengembang di bibir mungilku. Kami segera beranjak pergi meminjam motor untuk melakukan pembayaran biaya ujian awal nanti. Beruntung motor Lik Sardi sedang menganggur, bermodalkan nekad tanpa SIM juga surat-surat penting, kami berdua pergi ke pusat kota menyusuri jalan tikus menuju sebuah bank yang sudah ditentukan. Walau bukan hidup di pelosok kampung, tapi akses ke pusat kota lumayan rumit.

"Neng, sudah sampai." Suara supir membuyarkan lamunanku. Segera kubayarkan ongkos, lalu tergesa-gesa memasuki kost-an.

Tak menyia-nyiakan waktu selesai mengganti pakaian, aku kembali keluar kost-an menuju hotel yang sudah dipesan oleh pelanggan yang baru berkenalan denganku selama seminggu. Lewat aplikasi whatsapp kami berbincang dan selama itu aku tidak pernah melihat wajahnya.

Hotel bintang lima terlihat megah di depan mata, bangunan bergaya klasik rupanya menjadi pilihan pria itu. Aku berdecak kagum mengamati keindahan bangunan hotel, selama bekerja sebagai kupu kupu malam. Baru kali ini ada orang yang menyewa tempat berkelas untuk bermain, biasanya pelanggan paling bagus selalu membawaku ke dalam hotel kelas kakap.

"Awass!" Beberapa orang berteriak memberikan peringatan.

Aku terkesiap jika sedetik saja langkah maju ke depan, myawaku pasti melayang tertabrak sebuah mobil pajero sport berwarna hitam yang sedang melaju kencang. Jantungku berpacu cepat, badan mendadak gemetar, aku terduduk sebelum menyebrang lagi melewati satu blok jalan.

"Tidak apa-apa?" tanya seorang lelaki yang tidak kusadari kehadirannya.

"Tidak, Pak, saya cuma kaget," jawabku datar.

"Makanya, lain kali kalau mau nyebrang jangan melamun, itu tidak baik, selain mencelakakan diri sendiri kamu juga bisa merugikan orang lain. Untuk itu hati-hati dalam hidup sangat diperlukan. Supaya tidak celaka akibat ulah sendiri," ujarnya memberikan nasihat.

"Anda siapa? Tiba-tiba ceramah di depan saya? Terserah saya donk, mau mati kek mau ketabrak kek, bukan urusan anda!" Hatiku terasa sakit bercampur kesal mendengar perkataannya, meski tak bisa dipungkiri apa yang lelaki itu katakan ada benarnya.

"Sombong!" tukasnya, pria itu membalikkan badan meninggalkanku begitu saja, membuatku semakin kesal.

Sial! Kenapa aku harus terpengaruh pada ucapan orang asing itu, siapa dia berani menceramahiku seperti tadi. Aku bangkit lalu menyebrang jalan, setelah menemui resepsionis aku segera menuju kamar yang sudah dipesan.


Malam ini aku mematut diri di depan cermin, menatap indahnya tubuh mungil bak gitar spanyol. Buah dada menyembul sintal berisi, dipadukan dengan polesan make up tipis yang menjadi ciri khas rona wajahku. Tubuhku terbalut oleh gaun berwarna peach dengan lengan terbuka, rambut sengaja tergerai supaya tercium harumnya yang semerbak. Konon menurut info di internet, rambut merupakan bagian sexy dari wanita.


Di dalam kamar hotel bernuansa serba putih, ditemani temaramnya cahaya dari lilin yang ada di beberapa sudut meja. Membuat suasana semakin terasa romantis, rasa rindu akan kehangatan seorang lelaki yang benar-benar mencintaiku mendadak menyerang relung hati. Sejenak aku terlena dalam khayalan semu, sampai suara pintu terbuka membuyarkan lamunan.

"Om," sapaku ramah pada lelaki yang baru memasuki kamar. Sebelum ingatanku sadar pada pria yang ada di hadapanku sekarang, amarah kembali memuncak di dalam dada.


"Shireen?" Ia balik bertanya, sudut bibirnya menyimpulkan senyum. Penampilannya cukup oke untuk ukuran pria berusia setengah abad.

"Iya, aku Shireen yang Om hubungi lewat whatsapp," jawabku datar. Tidak sedikitpun kulihat raut keheranan dari wajahnya, apa dia tidak mengenaliku?

"Sebentar ya Saya ke kamar mandi dulu," pamitnya tanpa menoleh ke arahku.

"Saya?" Tanyaku di dalam hati, bahasa yang terdengar cukup baku bagiku.

Hati mendadak gusar rasanya setelah tahu pelanggan yang selama ini berkomunikasi denganku adalah orang yang menceramahiku tadi. Otakku berpikir keras, haruskah aku lari dari hotel sekarang juga? Tapi uang yang dia tawarkan tiga hari lalu, cukup menggiurkan untuk menambal biaya kuliah yang sedang melilit pikiranku belakangan ini.

Berjalan mondar mandir seperti setrikaan di depan pintu kamar mandi, bersamaan dengan hati yang semakin gelisah. Apa jadinya jika kulayani bandot tua itu, apa dia akan berceramah seperti tadi atau dia akan melumatku habis-habisan. Harga diriku mendadak muncul demi menahan gengsi.


Lelaki yang kupanggil Om keluar dari kamar mandi, lalu melepas kemeja yang ia pakai dan diganti dengan kaos putih. Sedikitpun ia tidak menatap ataupun menoleh padaku, membuat hati ini sedikit tersinggung. Tapi begitulah kebanyakan pria, masih saja ada yang jual mahal pikirku.

"Shireen, duduklah. Aku ingin segera memulainya malam ini," ucapnya sembari menepuk kasur menyuruhku duduk.


Mataku nyalang menatapnya tajam, pria itu mengernyitkan dahi melihat ekspresiku yang berubah. Setan dalam hatiku terus berbisik menyuruhku meninggalkan hotel, tapi bayangan uang di pelupuk mata menahan langkah kakiku.
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Born Of Mistake
06-08-2020 12:17
Diantos lanjutana, aduh seru sangat menyentuh hatiku yang wa’as ini
0 0
0
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
06-08-2020 18:31
Don't Judge The Cover but itz true money talks bullshit walk emoticon-Jempol letz gettin on
profile-picture
ummusaliha memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
09-08-2020 22:00
Part 2
Ayam Kampus


Quote:.Pria itu bangkit berjalan ke arahku, dengan perlahan aku pun mundur menjauh. Bukannya berhenti dia malah semakin mendekat, disertai seringaian yang membuatku sebal sekaligus suka melihat lesung di pipi kanannya. Matanya lebih tajam dari tatapanku, sampai aku tidak berani menatapnya langsung.

Tersudut! Tidak ada lagi ruang untukku menjauh, pria itu mulai mendekati wajahku. Jarak kami hanya beberapa centi meter saja, mata kami bersirebok sepersekian detik. Ia menatapku lekat tanpa mengucap sepatah kata, bola matanya terus bergerak liar memandangku yang merasa gugup. Tangannya mulai bergerilya di sekitar lenganku yang terbuka, kutepis sentuhannya perlahan.

"Hahahahaha." Tiba-tiba saja dia tertawa lalu menjauh dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Aku hanya terdiam mendengar tawanya yang seolah mengejek. Masih di sini di sudut ruangan dekat meja rias, aku berdiri mematung menatap pria aneh di hadapanku. Dia kembali duduk lalu berdiri, secepat kilat menyambar tubuhku ke dalam gendongannya. Entah kenapa aku tidak bisa berkutik, meski rasanya hati ingin berontak, wangi tubuhnya menusuk indera penciumanku.


"Sudah, diam dan duduklah," perintahnya sambil menurunkan badanku.

"Sebenernya Om mau apa sih?" Nada sewot sengaja kulantunkan untuk membuatnya kesal.

"Menikmatimu," ucapnya santai masih dengan seringai menyebalkan.

"Ya sudah, ayo kita lakukan supaya tugasku cepat selesai. Jujur ya aku malas layanin Om," tukasku.

"Oyah? Nanti kamu ketagihan loh ketemu lagi sama aku." Serangkaian gigi putihnya yang berderet rapi ia perlihatkan.

"Aku cukup profesional ya Om! Tidak ada perasaan dalam pekerjaanku, siapapun cukup sebatas pelanggan."


"Ehem baiklah. Apa motif kamu melakukan ini? Bukankah kamu cukup pintar saat melalui test? Kenapa harus kamu memilih jalan hitam kupu-kupu malam alias ayam kampus, apa alasannya aku ingin tau." Segudang pertanyaan entah pernyataan seenaknya terlontar begitu saja seperti serangan bom.

Panas menyerang dadaku seketika, otak mendadak kebas tidak bisa berpikir.
Bola mataku berputar mendelik malas, haruskah kujawab semua pertanyaannya dengan jujur? Tapi buat apa? Apa pedulinya padaku, kami hanya penjual dan pembeli kan? Mataku masih menatapnya dan bertanya-tanya siapa dia sebenarnya.

"It's oke, Shireen, namaku Sullivan. Panggil Sulli, Ivan atau Om Sulli terserah kamu."

"Apakah ini sebuah negosiasi?" tanyaku menyelidik.


"Kamu ini, belum dijawab pertanyaanku yang tadi sudah bertanya lagi."


"Lalu, kamu siapa sebenarnya? Dari mana kamu tahu soal kuliahku?"


Bukannya menjawab pria tua itu malah tersenyum tengil, aku mendengkus kesal melihat ekspresinya. Mendadak hatiku gelisah, berbagai pertanyaan menumpuk di kepala tentang sosok yang kini berada di depanku. Ia memakai kacamata dan mengganti celana panjangnya, mengenakan jam tangan lalu menggamit tanganku keluar dari kamar.

Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya, tanpa membantah dan menahan gengsi. Aku mengikuti langkahnya, diam-diam mencuri pandang menatap lelaki aneh ini. Di dalam lift tanpa malu dia merangkul tubuhku bersanding di sampingnya. Om Sullivan membawaku keluar dari hotel, tanpa melepaskan jemarinya yang bertaut pada tanganku.

"Aku lapar, kita cari makan diluar saja ya," ucapnya mengulumkan senyum.

"Makan di mana sih? Kenapa gak di dalam aja, apa harga makanannya nggak ke jangkau dompetmu," cibirku.

"Makanan di sana bukan seleraku," jawabnya singkat.


Sepanjang perjalanan mencari kedai makanan, Om Sullivan sesekali berceloteh mengenalkan diri. Tangannya masih saja menggenggam erat jemariku, kami layaknya seorang Ayah dan Anak, karena kedinginan ia memberikan jaketnya padaku. Walau sudah berbuat baik menyelematkanku dari dinginnya udara malam. Aku sama sekali tidak peduli, seperti biasanya tidak ada ruang untuk pelanggan bertandang di hatiku yang sudah membeku.

Pencarian kami berakhir pada sebuah kedai lesehan yang menyediakan makanan cepat saji. Om Sullivan memilih menu ayam kremes, lalapan, lengkap dengan segelas es teh manis. Sedangkan aku memilih lele goreng makanan favoritku. Tidak lama makanan terhidang, pria itu langsung menyantap makanannya. Entah dia lapar atau kelaparan, melihat lahapnya cara dia makan berhasil membuatku tersenyum geli.

"Oke, ini aneh sih. Maaf ya untuk yang tadi di hotel." Om Sullivan berkata di sela makannya yang masih lahap.

"Sebetulnya, saya itu ingin tau saja apa motif kamu menjadi, maaf ayam kampus. Padahal kamu masih bisa melakukan hal lain, dari pada mengambil profesi ini. Mau kah kamu memberitahuku?" Pria itu menenggak es teh manisnya.


Mulutku seperti terkunci sulit sekali mengeluarkan sepatah kata, demi menjawab pertanyaannya yang cukup menusuk hati. Selera makan mendadak hilang, tanganku bergerak mengambil air di mangkok kecil dan mencuci mulut. Kusesap air minum berupa teh hangat yang di sediakan, wajahku berpaling melihat meja yang ada di sebrang tempatku duduk bersama Om Sullivan.


Nafasku tercekat melihat sosok Yola yang tanpa kusadari, ternyata ada di tempat ini bersama Nindya teman satu kamar kost. Dia menatapku dari tempatnya duduk, bola matanya terlihat jelas melotot seakan loncat dari sebrang sana, wajahnya menggambarkan ekspresi terkejut melihat penampilanku sekarang, dengan gaun lengan pendek juga rambut yang tergerai.

Secepat kilat gadis itu bangkit dari duduknya lalu menghampiriku, tak butuh waktu lama ia sudah berdiri tepat di depanku. Wajahnya memerah menampakkan amarah yang cukup bisa kurasakan, nafasnya tersengal, kepalanya menggeleng beberapa kali.

"Shireen! Mana hijabmu!" Hardiknya dengan suara keras.

"La, Ola, bisa kujelaskan. Ayo, duduk dulu," ajakku mencoba negosiasi, aku panik.

"Mana hijabmu?!" Gadis itu benar-benar marah, matanya terus melotot ke arahku.

Masih menunduk malu, aku tetap diam tak ingin menjawab intimidasinya. Namun, hatiku bergetar takut jika Yola mengadukan kejadian ini pada orang tuaku di kampung. Habis sudah jika cerita ini sampai ke telinga mereka, maka perjuanganku akan sia-sia menjaga idealisme yang selama berusaha mati-matian kujaga.


"Yola, kita bicara baik-baik. Pelankan suaramu, aku malu dilihatin orang-orang," ucapku pelan. Yola menatap sekeliling, rona wajahnya memudar santai. Ia lekat menatapku dari atas sampai bawah, lalu pandangannya beralih pada Om Sullivan yang ternganga melihat kejadian barusan.

"Oke, kita pulang sekarang. Jelaskan di rumah, pakai ini untuk menutupi kepalamu." Yola menyodorkan pasmina berwarna merah yang ia keluarkan dari tasnya, aku meraihnya lalu menutupi rambutku.

"Sebentar, aku pamit dulu sama dia," kataku menunjuk ke arah Om Sullivan. Yola pergi menuju mejanya, kulihat ia berjalan ke arah gerobak melakukan pembayaran.


"Om, emm duh, maaf dia teman satu kost. Kami sama-sama dari kampung dan ...," Ucapku bermaksud pamitan.


"Pulanglah, selesaikan urusanmu dengan dia. Jangan khawatir, nanti aku hubungi lagi," kata Om Sullivan santai, tangan kirinya merogoh saku celana dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Pakai untuk ongkos, nanti kita ketemu lagi. Urusanku belum selesai," lanjutnya lagi sambil tersenyum, melanjutkan makannya yang tertunda karena Yola.


"Shireen! Ayo pulang!" Yola menggamit tanganku kasar, hampir saja aku terjatuh karena ditariknya secara tiba-tiba.

Aku mengulumkan senyum pada Om Sullivan yang keheranan menatap Yola. Baru beberapa langkah, gadis itu berbalik menatap Om Sullivan.

"Dasar, bandot tua!" Teriaknya kencang, Om Sullivan tersedak mendengar ucapan Yola. Aku menganggukkan kepala sebagai permintaan maaf, sekilas kulihat pria itu mengusap dadanya.


Kami berlalu meninggalkan kedai, menaiki taksi menuju kost karena waktu hampir tengah malam. Di dalam taksi kami semua terdiam tak ada yang berani membuka suara. Yola nampak sangat marah padaku, sedikitpun aku tidak terkejut dengan sikapnya. Sebab, ini murni kesalahanku yang membohonginya. Diriku terlalu malu untuk mengakui pekerjaan malam yang selama ini dilakoni, Yola adalah gadis yang sangat agamis, jelas saja dia membenci pekerjaanku.


'Maafkan aku, Ola,' lirih batinku berbisik menatapnya dari spion depan.






Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Born Of Mistake
14-08-2020 15:27
Kalut

Quote:

Plak!

Rasa panas menjalari wajahku seiring dengan tamparan Ola yang tepat mengenai pipi kananku. Masih dengan emosinya dia mempertanyakan keputusanku menjalani dunia malam. Lama kelamaan emosi Ola berubah menjadi tangisan. Gadis itu memelukku dan kami menangis bersama, sedangkan Nindya hanya diam menyimak.

"Apa pulak kau ni, Reen, tak sangka lah aku pada kau suka entup-entup dengan Om Om diluaran sana," ucap Ola seraya mengusap ingusnya yang keluar menghiasi tangisannya.

"Aku terpaksa, Ola."

"Apa kau dah tak punya keimanan hah? Kau dah takut Allah gak kasih kau rejeki yang halal lagi, sampai kau mau kerja haram ni!" Hardiknya lagi kembali sewot, matanya kembali tajam menatapku.

"Bukan begitu, tapi ...," Aku terdiam sesaat sebelum melanjutkan penjelasan.


"Apa? Apa memang kau dah suka dengan pekerjaan ni sebagai pelampiasan kesalmu? Apa kau ingin ikuti jejak Mamakmu?"



Bagai tertusuk belati, perkataan Ola berhasil mengoyak batinku. Tak kusangka dia bisa melontarkan perkataan sekeji itu pada sahabatnya sendiri. Aku berbalik menatapnya sengit, sudah terbayang dalam benakku. Inilah yang akan terjadi ketika Ola mengetahui semuanya. Kini penyesalan karena telah membohonginya berganti dengan amarah. Aku benci jika di kaitkan dengan perilaku Mama, hal tersebut menjadi sensitif ketika ada yang berani mengungkit.

"Sudahlah, percuma kujelaskan. Kamu tidak akan mau mengerti, iya aku hanya seorang pelacur tanpa harga diri. Aku tidak sebaik kamu yang pandai menjaga keimanan, terima kasih, Ola." Aku bangkit, meraih tas menahan desakan air yang sebentar lagi akan tumpah dari mataku dan pergi meninggalkan kost-an.

"Reen, Shireen dengar mau kemana ni wey! Dah malam lah, selesaikan dulu urusan kau denganku," teriaknya dari balik pintu. Namun, aku tak peduli sama sekali.


Jam di tangan menunjukkan waktu dini hari, tak lagi kupedulikan bahaya di luar sana. Seorang perempuan berjalan kaki di tengah malam, sepanjang jalan aku menangis mengingat betapa tidak adilnya hidup. Pikiranku sangat kalut mengingat semua ucapan Ola, juga memori kehidupan orang tuaku yang terus berputar tak mau berhenti.


Lagi-lagi aku nengutuk Tuhan yang sudah memperlakukanku dengan sangat jahat, dia memberikan bahagia pada orang lain tapi kenapa tidak padaku. Di saat orang lain bahagia bersama keluarganya kenapa aku malah tersisih. Andai saja dia sedikit berbaik hati, tentu saja aku tidak akan terjerumus pada dunia hitam ini.

Udara malam menemaniku yang tengah merasa gelap tak tentu arah. Gemerlapnya bintang yang menghiasi langit hitam, cahayanya tak mampu masuk menerangi hatiku. Apa yang kurasakan saat ini, entahlah tak bisa ditafsirkan. Antara rasa malu karena ketahuan soal pekerjaan, ataukah kesal karena sikap Ola yang menghujatku. Harusnya sebagai sahabat dia merangkul, setidaknya mau mendengarkan penjelasanku. Namun, wanita itu memang egois karena merasa benar sendiri. Langkah kaki membawaku pada sebuah warung kecil yang masih terlihat buka.

Lebih tepatnya itu gerobak berjalan yang dibuat seperti rumah. Di sana masih ada beberapa pemuda dan bapak-bapak nongkrong bermain gapleh. Karena sangat dingin kuputuskan untuk berhenti, lalu memesan secangkir kopi hitam favoritku.

"Ini, Neng, kopinya silahkan di minum." Seorang pria pemilik warung menyodorkan pesanan.

"Terima kasih, Pak, saya numpang duduk di sini sebentar. Nggak apa-apa?" tawarku.

"Gak apa, silahkan saja Neng kalau tidak risih kumpul dengan bapak-bapak," ucapnya lalu kembali masuk ke dalam gerobak.

Aroma kopi menguar kuat bersama kepulan asap diatas cangkir. Entah kenapa, sudah setahun aku kecanduan minuman yang satu ini. Ada rasa damai ketika rasa pahit dan manis menari di dalam lidah, menenangkan pikiranku di saat kalut. Sebetulnya, banyak teman satu profesi mengajakku belajar mengenal minuman keras sebagai obat penenang. Tapi, otakku masih cukup waras untuk tidak terjerumus lebih dalam.


Kusesap perlahan kopi dalam cangkir plastik. Seperti biasanya rasa tenang mulai merasuki otakku yang sedang kalut. Mengambil udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskan beberapa kali. Kulihat ponsel belum ada satu pun pesan dari Om Sullivan yang katanya akan menghubungiku. Sejenak dahiku berkerut, tiba-tiba pikiranku melayang pada lelaki aneh itu, tanganku bergerilya menyusuri dunia maya. Di sana beberapa status Ola yang agamis melewati beranda, aku hanya menggelengkan kepala melihatnya. Ustadzah sedang tausyiah gumamku.

"Neng, sudah malam nih saya mau tutup warung," kata pemilik warung.

"Loh, bukannya saya baru sebentar di sini, Bang," sahutku heran.

"Neng gak liat jam apa? Ini sudah jam 2 pagi, Abang ngantuk nih neng mon maap juga. Takut jadi fitnah security, berduaan sama cewek cakep," jelasnya dengan raut wajah tak enak.

"Sekali lagi maaf ya, Neng. Kalau gak ada tempat tujuan, Neng diam di masjid saja biar lebih aman."

"Dimana masjidnya, Bang?"

"Dari sini Neng lurus aja, nanti belok kiri belok kanan lagi, nah diujung jalan ada tuh masjid. Nggak pernah tutup kok, maafin ya Neng."


"Iya gak apa Bang, saya yang harusnya minta maaf nggak pergi dari tadi."


"Kalau Neng mau ke masjid, pakai ini sebagai penutup baju yang terbuka. Sekali lagi maaf, Neng, nggak elok diam di masjid dengan baju seperti itu. Maaf juga, ini sarungnya agak bau." Abang warung menyodorkan sehelai sarung berwarna merah muda.


Awalnya ragu untuk kuterima karena aroma sarung itu seperti kerupuk peyot, tapi ada benarnya tidak sopan kalau ke masjid dengan baju terbuka. Aku masih enggan untuk pulang apalagi bertemu dengan Yola.


Ternyata sudah terlalu lama aku duduk di sini tanpa kejelasan, pemuda juga bapak-bapak yang tadi sedang bermain gapleh sudah hilang dari pandangan. Setelah membayar kopi, aku beranjak pergi menuju masjid yang tidak jauh dari warung, mengikuti petunjuk Abang warung, benar saja masjid itu masih terbuka.

Cahaya lampu menerangi seluruh masjid, ada lelaki tua yang sedang melaksanakan salat. Aku berjalan ke arah toilet, membasuh muka yang masih dengan make up. Entah kenapa seperti ada bisikan yang menuntunku untuk berwudhu, dalam basuhan air di wajah. Air mata mengalir deras, rasa rindu akan kasih sayang Tuhan mendera hati, padahal barusan tadi aku mengutuknya.


Begitu langkah kaki masuk ke teras masjid, rasa damai menjalari hati. Seumur hidup aku tidak pernah merasa seperti ini, aku menutup rambut sampai lengan dengan sarung yang diberikan oleh abang warung. Di pojok teras ada lemari kecil berisi mukena. Tidak ada salahnya saat ini bermalam di masjid, siapa tahu bisa bernegosiasi dengan Tuhan.

Tanganku kembali bergerilya memeriksa ponsel, di sana ada beberapa pesan termasuk Yola.


[Reen, kau dimanalah pulang sini, maafin aku tadi syok banget] pesan Yola.


Bibirku tersenyum simpul membaca pesannya, ponsel kembali kuletakkan ke dalam tas. Di atas rak lain, kulihat ada sebuah mushaf Al-Qur'an. Lagi-lagi seperti ada bisikan yang menyuruhku mengambilnya. Teringat pada novel yang pernah kubaca, dimana kisah seorang muallaf yang menemukan hidayah dengan cara mengacak ayat sebanyak tiga kali.

Aku pun melakukan hal yang sama, sampai pada sebuah ayat yang berhasil membuatku merasa malu.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)


Air mataku kembali tumpah
.
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan desyyyyyy memberi reputasi
2 0
2
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
26-08-2020 10:07
Quote:
Part 4
Kost Beha


"Neng, bangun Neng, Astaghfirullah nyebut." Suara seorang wanita, tangannya mengguncangkan bahuku.

Setelah cukup mengumpulkan kewarasan, aku baru teringat tertidur di teras masjid. Mukena yang kupakai masih melekat di dalam badanku. Seorang wanita yang kutaksir usianya sekitar tiga puluh tahunan itu menyodorkan sebotol air mineral.

"Terima kasih, Bu," ucapku yang dibalas senyuman oleh ibu tersebut.

"Kamu kenapa? Kok gelisah sekali tadi lihat?" Tanyanya menyelidik.

"Nggak apa-apa, saya cuma mimpi, Bu."


"Mimpi menjelang subuh itu bisa jadi pertanda baik loh, Neng. Mari kita salat subuh, sebentar lagi adzan berkumandang," ajaknya, sikap ramahnya membuatku merasa sangat nyaman.


Aku mengikuti langkahnya yang menuntunku ke tempat wudhu. Ikut menunaikan salat subuh, meski hanya mengikuti gerakannya saja, karena sudah terlalu lama kutinggalkan tempat sujud ternyaman itu adalah diatas sajadah. Saat kepala menyentuh benda itu, sesuatu kembali terasa mengusik hatiku semacam rasa penyesalan.

Entah kenapa tiba-tiba kerinduan pada Tuhan mencuat begitu kuat dari dalam benak yang paling terdalam. Teringat lagi pada mimpiku yang terasa cukup nyata, apakah ini pertanda dari nya? Aku terus membatin, kutarik nafas berkali-kali untuk menenangkan diri. Namun, bayangan nenek melintasi pelupuk mata bersama mimpi yang sempat kurasakan.

Di rumah sederhana, rumah panggung khas dulu. Cat warna putih dan biru yang mendominasi, menambah suasana semakin terasa asri. Nenek duduk di atas bale bale terbuat dari bambu. Wanita yang tak lagi muda itu nampak sangat cantik, dengan kebaya berwarna maroon dipadukan dengan rok rumbai berhiaskan renda di bawahnya. Nenek mengulumkan senyum padaku, lalu memberikan kode untuk duduk di sebelahnya.

"Nek, Shireen kangen sekali sama Nenek, bolehlah aku main kesini?"


"Boleh, Nduk, Nenek senang kamu datang," jawab Nenek seraya meluruskan rambutku.

"Nek, kenapa hidup terlalu kejam rasanya, hampir tak ada pilihan untuk kita menjalani hidup yang lebih baik," keluhku pada Nenek, tak terasa air bening mengalir hangat membanjiri kedua pipi.

"Namanya juga hidup nak, pasti selalu ada masalah yang akan kita hadapi. Akan tetapi, tidak semua orang mampu menyelesaikan dengan cara yang baik. Rambutmu bagus toh Nduk, tapi lebih bagus lagi kalau di tutupi. Biar suamimu saja nanti yang melihat mahkotamu," kata Nenek memberikan nasihat.

"Shireen mau ikut sama nenek," ucapku merajuk.

"Kamu mau ikut sama Nenek? Ayo." Nenek menggamit tanganku.


Tempat yang sangat indah dipenuhi dengan tanaman hijau, sebuah sungai luas dengan air yang jernih. Terlihat sangat jelas berbagai spesies ikan beragam warna, hidup dengan damai di sana. Saking jernihnya air, aku seperti sedang berkaca melihat di permukaan. Namun, darahku terkesiap hangat melihat pantulan di air. Berkali kali mata ini mengerjap tak percaya.

Di sana aku nampak memakai baju muslim berwarna putih lengkap dengan hijab nya yang menjuntai panjang. Nenek yang ada di sebelahku tak bereaksi sama sekali melihat penampilan baruku. Saat sapuan angin menyibakkan helaian rambut, aku baru tersadar ternyata keadaanki masih seperti tadi dengan baju pendek.

Kulihat lagi pantulan gambar diri di dalam air. Tetap saja sama, di air aku berhijab namun kenyataannya tidak. Raut muka Nenek berubah sedih, perlahan ia melangkah mundur meninggalkanku. Dengan langkah cepat, aku berusaha menyusulnya. Akan tetapi semakin berusaha mengejar, Nenek semakin menjauhiku.


"Nenek, jangan tinggalin Shireen lagi, tolong," rintihku seraya terus berteriak memanggil Nenek.

Kulihat kepalanya hanya menggeleng dan tidak berbalik lagi padaku. Sebelum bayangnya hilang dari pandanganku, Nenek berkata," Jika ingin ikut Nenek, tutuplah rambutmu, Nduk." Setelah itu beliau hilang, bersamaan aku yang terbangun dari mimpi.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, masih di masjid ini. Kaki belum beranjak mau pergi meninggalkan tempat yang semalam menjadi pelindungku dari udara dingin malam. Kutatap lagi layar gawai di tangan, tak ada lagi pesan masuk dari Yola memintaku pulang. Menyebalkan memang, dia membuatku kesal tapi dia khawatir sendiri.

Kutarik nafas perlahan, tiba-tiba gawai bergetar dan menampilkan panggilan telepon dari Om Sullivan.


"Hai, dimana?" Sapanya diujung sana.

"Hmm, ada apa, Om?"


"Jutek gitu suaranya, nggak asyik ah. Aku mau ketemu kamu lagi."


"Tapi, bahkan aku belum pulang dan mengganti pakaianku, Om."

"Kamu dimana sih?"

"Ngapain kepo? Bukan urusan Om," sahutku sewot.


"Songong ye Lu, mau dibantu malah nyolot." Terdengar suaranya meninggi.

"Lagian kepo, ada apa sih?"

"Nanya lagi, aku mau ketemu kamu, jelas!"

"Ya sudah, dimana?"

***

Yola Pov


Tak kusangka kali kawan baikku Shireen suka bermain dengan Om Om di luaran sana. Dia bilang padaku bahwa pekerjaannya hanya di sebuah rumah makan. Lepas kuliah langsung bekerja, membuatku takjub akan kerja kerasnya. Namun malam ini hatiku luluh lantak melihatnya melakukan pekerjaan yang sangat hina di mata norma masyarakat.


"Shireen! Mana hijabmu!" Hardikku dengan suara keras.

"La, Ola, bisa kujelaskan. Ayo, duduk dulu," ajaknya mencoba negosiasi.

"Mana hijabmu?!" Aku membentaknya disertai mata melotot.

Sialnya dia hanya diam menunduk dan Om tua yang bersamanya asyik saja makan. Rasanya ingin sekali ku cocolkan semangkuk sambal di depannya supaya dia tau diri tidak suka pada gadis gadis seperti Shireen yang malang. Yah memanglah nasib gadis itu sangat menyedihkan, kurangnya kasih sayang orang tua membuatnya seperti bebas tanpa arah.

Aku sangat kecewa pada keputusannya menjadi kupu-kupu malam. Dalam hatiku bertanya, apakah harus sampai menjual diri atas nama perjuangan pendidikan? Ada rasa jijik bercampur kasihan padanya, entahlah aku sangat kesal saat ini.

Masih sangat kuingat ketika kami pertama kalinya datang ke kota ini. Melangkah bersama demi menjemput masa depan yang lebih baik, mencari kost an untuk berteduh. Dengan segudang perjuangan yang kami lalui, akhirnya tempat inilah yang menjadi tumpuan hidup. Teringat bagaimana dulu Shireen tidak kerasan dan ingin pindah tempat.


Karena di sini adalah kost-an beha, begitulah kami menyebutnya karena hampir semua penghuni kost hanya memakai tanktop saja jika keluar kamar. Mereka tidak peduli berpapasan dengan lawan jenis, aku sangat ingat Shireen menangis melihat pakaian mereka. Entah apa yang ada dipikirannya sehingga dia sanggup berbuat hina.


"Reen, kenapa pulak kau menangis ah, tak lucu kau bermuram durja macam tuh," godaku saat itu.

"Aku sedih, Ola, kenapa kita harus hidup di lingkungan seperti ini. Kamu tau nggak, ini tuh terlalu gila," sahutnya sambil mengelap ingus.

"Cam mana pulak lah Reen, nggak ada yang murah lagi selain di kost beha ini."


"Semoga saja aku kerasan ya disini, Ola."


Sepenggal percakapan kami kala itu kembali terputar di otakku. Shireen yang selalu idealis dengan prinsipnya seolah hilang menjadi orang lain. Entah dia terpaksa atau mungkin menikmati setiap permainan bersama para lelaki hidung belang itu. Saat ini biarlah dia sendiri entah kemana.
Diubah oleh ummusaliha
profile-picture
profile-picture
ariefdias dan lenitan memberi reputasi
2 0
2
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Post ini telah dihapus oleh KS06
Born Of Mistake
10-09-2020 22:21
Quote:
Part 5
Sedingin kutub


Pagi hari ini tak kurasakan udara yang segar seperti biasanya. Entah karena hatiku yang sesak atau memang cuacanya begitu. Selepas subuh tadi, aku langsung pergi ke kampus. Sebelum kami berpamitan, ibu yang menyapaku memberikan kartu namanya. Dari kertas itulah aku mengetahui namanya adalah Bu Thresya, beliau mengundangku ke rumahnya yang hanya kujawab dengan anggukan.


Suasana kampus sepi sekali, hanya ada petugas office boy yang hilir mudik. Mungkin karena terlalu rajin, aku berangkat sangat pagi. Di warung kecil depan kampus, aku duduk sembari menikmati gorengan bakwan buatan Mpok Mirah, dia pemilik warung yang kerap kali memberikan kelonggaran berupa kasbon di kala dompet kering kerontang.

Janda tua beranak lima itu masih terlihat awet muda. Padahal usianya mulai masuk setengah abad, dengan senyumannya yang kaku Mpok Mirah menyodorkan segelas teh manis hangat. Setiap ada kesempatan, wanita itu selalu saja memberikan teh manis gratis. Katanya, jika melihatku dia teringat seseorang di masa lalunya. Jika sudah bicara, aku pun hanya diam mendengarkannya.

"Neng Shireen, nggak makan berapa hari?" Pertanyaannya membuatku terlonjak kaget.

"Uhuk, uhuk."


"Nih, minum dulu." Mpok Mirah menyodorkan segelas air putih yang langsung kusambar secepat kilat, demi mendamaikan tenggorokan yang terasa panas.

"Memangnya kenapa, Mpok?" tanyaku.

"Itu, Mpok perhatikan sudah enam gorengan yang Neng lahap sambil melamun hahaha." Mpok Mirah mengangkat kedua alis, tangannya tetap sibuk memasukkan adonan ke dalam wajan.


"Hehehe, saya belum makan dari semalam, Mpok. Tenang kok, saya nggak kasbon hari ini. Saya bayar."


"Ah elah, Mpok mah bercanda ih. Jangan bawa perasaan gitcuh ah."


"Kirain Mpok udah nggak Redho gitu Shireen kasbonin," godaku memasang wajah serius.


"Yaelah demi buntu kuda yang mengacir. Mpok mah ikhlas dah Neng mau ngasbon ampe kapan juga, lagian Neng udah Mpok anggap anak. Mana mungkin nggak ridho sama anak sendiri." Mpok Mirah menyunggingkan senyum, memperlihatkan giginya yang berderet rapih.


Mendengarkan perhatian Mpok Mirah cukup menusuk hatiku. Entah kenapa aku tidak pernah suka diperhatikan, karena orang tuaku saja tidak pernah peduli. Mau anaknya hidup ataupun mati, mereka sudah pernah menganggapku. Apalagi setelah keputusanku untuk kuliah, di ambil sebelah pihak yaitu oleh diri sendiri. Aku menatap tubuh sintal Mpok Mirah yang posisinya membelakangiku.


Terbayang dalam benak ini andai saja Ibu se-sayang itu padaku. Mungkin takdir dan dunia hitam ini tidak akan pernah kupilih sebagai jalan hidup. Sampai saat ini aku tidak pernah tau kenapa Ibu begitu berubah drastis. Seolah tak peduli lagi padaku, tidak seperti dulu. Lebih baik aku tidak pernah menelponnya, dari pada setiap bicara selalu berujung pertengkaran.


"Heh, ngapain bengong." Suara Mpok Mirah mengejutkanku yang melamun sebentar tadi.


"Emm, nggak apa-apa, Mpok. Cuma lagi inget sesuatu aja," sahutku sekenanya.


"Yakin? Nggak mau cerita nih sama Mpok."


"Nggak, Shireen baik-baik saja kok."


"Oke deh, semoga para peri dari kahyangan menyertaimu selalu di dalam setiap langkah hidupmu sayang," celotehnya tanpa menoleh ke arahku.


Sontak saja aku tertawa mendengar celotehnya yang selalu membuat perut kram. Sikapnya yang keibuan kadang nyeleneh, membuatku selalu nyaman berlama-lama diam di warungnya. Satu lagi bakwan masuk ke mulut, perutku sudah cukup kenyang apalagi dengan segelas mug teh manis hangat.


Dari kejauhan kulihat Ola dan Nindya berjalan bergandengan, lalu mereka berpisah di depan kampusku. Karena memang Ola tidak sama jurusan mata kuliahnya denganku. Sesaat tadi ekor mataku menangkap tatapan tak suka itu, kembali hadir di raut wajah Ola. Walau dari kejauhan hatiku sangat yakin, Ola sempat melihatku.

Buru-buru kutepis pikiran dan perasaan jahat itu. Setelah menyelesaikan pembayaran pada Mpok Mirah, aku bergegas menuju kelas karena kampus mulai ramai dengan para pelajar. Di dalam kelas, Nindya sudah duduk tepat di bangku yang ada di sebelahku. Aku hanya melemparkan senyum untuk menyapa, kemudian duduk dan membuka buku.


"Reen," sapanya.

"Ya?" Aku menoleh ke arahnya.

"Maafin aku," ucapnya, Nindya menatapku lekat. Membuatku merasa salah tingkah.


"Untuk apa?"


"Karena aku, kamu jadi berantam sama Yola." Nindya menarik napas.


"Bukan salah kamu kok, ini cuma salah paham saja. Don't worry Nind, okay."


"Tapi, kamu terjun ke dunia malam itu karena aku."


Nafasku tercekat mendengar ucapan Nindya, kenapa harus dia membahas itu di sini. Mataku beredar ke sekeliling kelas, syukurlah tidak ada yang mendengar ucapan Nindya.

"Jangan bahas dulu, aku mau fokus belajar. Nanti kita bahas di indekost ya," ucapku menatapnya tajam. Nindya terdiam melihat ekspresiku.


Kelas berjalan dengan lancar, walau tadi sempat konsentrasiku terganggu oleh perkataan Nindya. Sebetulnya aku tidak malu dengan pekerjaan kupu-kupu malam. Kenyataannya banyak kok mahasiswi yang menjadi istri simpanan dosen demi untuk dapat cuan menyambung hidup.

Kehidupan seperti ini sudah biasa bagi kami, hanya saja ada beberapa orang yang kuat menjaga image. Sebagai mahasiwi murni yang berjuang lewat jalur bekerja paruh waktu. Sebetulnya bukan hanya mahasiswi, seperti temanku si Edo Ginting, dia berprofesi sebagai teman kencan online tante-tante.


Menemani para istri yang kesepian, entah apa yang mereka lakukan sepanjang hari. Kata Edo sih suka ada plusnya jika dia mau berbuat lebih. Mungkin sama sepertiku juga, namun entah apa yang dilakukan Edo bisa disebut gigolo atau bukan. Karena dia tidak melayani semua pelanggannya dengan berakhir diatas ranjang.


Gawai berdering tanda panggilan masuk dari Om Sullivan. Tanganku ragu untuk mengangkatnya. Namun, teringat bahwa urusan kami belum selesai. Ternyata lelaki itu mengajakku bertemu, setelah menentukan tempat aku pun segera bergegas, menuju kafe yang dia pesan. Lagipula hari masih siang, enggan rasanya jika harus pulang ke indekost.


"Sudah makan?" tanya Om Sullivan begitu tahu aku sampai, tanpa mempersilahkan duduk.


"Sudah," jawabku tak luput menganggukkan kepala.

"Eh iya, ayo duduk Sayang." Om Sullivan membuka kursi, mengarahkanku untuk duduk di dekatnya.


"Apaan sih!" Entah kenapa mendengar kata sayang, hatiku terasa panas terbakar amarah. Aku menarik kursi kembali dan duduk bersebrangan dengannya.


"Kok, pindah duduknya sih Sayang. Sini donk deket aku, kan pingin kangenan sama kamu," ucapnya lagi terdengar seperti godaan.

"Om, jangan panggil sayang loh. Aku nggak suka!" Tukasku.

"Lama-lama kamu suka kok." Seringai itu kembali terlihat dari wajahnya. Membuat sebuah guratan, menggambarkan kelicikan.

"Hidupku, tanpa cinta dan kehangatan. Jadi, jangan coba coba Om untuk berusaha menyentuh hatiku dengan perhatian palsu, oke."

"Idih, ge er banget ni manusia."

"Apa?!"

"Iya, Elu tuh ge er banget, hahaha," ejeknya seraya membetulkan kaca matanya.

Aku mendelik sebal melihat ekspresinya yang begitu ingin rasanya kuremas dia. Kujadikan dia makanan ikan piranha! Entah apa maksudnya Tuhan menghadirkan dia dalam hidupku. Baru sebentar saja bersamanya, aku mulai sebal. Semoga saja kuat mental menghadapi pelanggan seperti dia.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
10-09-2020 22:24
Quote:
Part 6
Hati yang Mencair


Om Sullivan nampak asyik dengan ponselnya, sesekali ia menatap nakal ke arahku. Memicingkan sebelah matanya, tersenyum tipis. Entah apa yang lelaki ini pikirkan, padahal aku sangat merasa geram. Tapi, dia santai sekali seolah tak peduli pada ekspresi wajah kesal yang tak bisa kusembunyikan.


"Ngobrol disini nggak enak deh, ikut yuk," ajak Om Sullivan.

"Kemana?"

"Biasanya?"

"Ya ampun!" Aku menepuk jidat.

"Ya amplop!" Om Sullivan menirukan adegan sama.

"Ya ke hotel lah, tempat paling nyaman buat berduaan. Emangnya dimana lagi? Kamu ini macam nggak pernah molor sama orang di hotel saja," lanjutnya dengan nada tinggi.


Sepertinya dia agak kesal, melihat wajahnya tertekuk membuatku tersenyum simpul. Dari pada peperangan terjadi, aku menuruti keinginannya. Lagipula benar juga, ngobrol di kafe tidak enak banyak orang. Bisa-bisa kalau istrinya datang, habis sudah aku dibilang pelakor.

Om Sullivan menggandeng tanganku, menuju mobil alphard miliknya yang terparkir di pojokan kafe. Pantas saja dia berani membayar hotel mahal, sepertinya memang orang berduit. Tapi, entah kenapa berbalik sekali dengan penampilannya yang sederhana.


Pertemuan kedua dengannya lelaki paruh baya itu tetap saja, memakai baju kaos lengan pendek dipadukan dengan celana jeans. Untuk ukuran usianya, sebetulnya penampilan tersebut terlalu muda. Tapi, yasudahlah kenapa juga aku mendadak begitu memperhatikannya.


"Shireen, sejak kapan kamu terjun di dunia malam?" tanya Om Sullivan.

"Ya kurang lebih enam bulan ini."

"Sehari berapa pria yang kamu layani?"

"Tergantung, gimana tugas kuliah saja. Kalau sibuk ya cuma satu dalam semalam, kalau libur bisa dua."


"Saat meracik diatas kasur, apakah ada rasa?"


"Maksudnya, Om?"


"Hmm, ya rasa menikmati setiap cumbuan lelaki yang menyentuhmu."


Aku menghela napas panjang, membuang muka ke sisi jendela mobil. Om Sullivan mengambil tangan kananku, menggenggam erat jemari. Seketika, rasa hangat kurasakan dari sentuhannya. Tatapan itu begitu tulus, hatiku berkata dia beda dengan pria lainnya.


"Come on beib, rileks saja. Ceritakan bagaimana perasaanmu," ucapnya sembari menyunggingkan senyum.


"Untuk apa aku cerita ke Om, toh dirimu hanya orang lain."


"Suatu saat nanti, kamu akan akan tau kenapa aku menyuruhmu untuk telanjang." Om Sullivan menghempas pelan tanganku.


Tentu saja aku yang terkejut melihat sikapnya begitu, urat di wajahnya terlihat mengencang. Sepertinya dia memang marah atas sikap sok yang kutunjukkan. Namun, hatiku juga bimbang untuk bercerita padanya.


"Marah nih?" tanyaku.

"Nggak, sedikit berkonde aja," jawabnya datar.


Tawaku lepas tanpa bisa kutahan, mendengar ucapan berkonde. Otakku langsung terbayang, lelaki menyebalkan ini memaki konde dan kebaya. Perut mendadak kram tergelitik sekaligus, Om Sullivan menatapku lekat. Sesaat pria itu ikut tersenyum, namun kembali fokus pada jalanan aspal.


"Mau dengar ceritaku?" tawarku berusaha membujuknya.

"Ayo, ceritakan."


Masih memegangi perut yang kram, bermodalkan kepercayaan. Sedikit demi sedikit aku membuka masa lalu yang cukup lama telah menjadi beban moral. Setelah cukup dengan dialog alot, basa basi nggak jelas. Akhirnya kutemukan rasa nyaman untuk mulai bercerita.


Awalnya aku menceritakan masa lalu, seperti kata Uwak Yuyun ketika aku lahir, kondisi mama dan papa tengah terguncang. Papa tergila-gila pada janda muda beranak satu yang ia anggap sebagai cinta sejatinya. Mama berharap papa mau kembali ke dalam pelukannya, namun akhirnya mama pun tergoda menjalin hubungan dengan pria lain.


Di tengah kekosongan hati, Mama merasa damai menemukan tempat berlindung. Ketika Mama mulai ingin berpisah, tiba-tiba Papa datang kembali ingin bersama, Mama pun memutuskan hubungan dengan pria nya. Akan tetapi, setelah mereka berdamai, keributan malah semakin menjadi saat Mama mengandungku.

"Wait, apa Papa-mu tidak mempercayai Mama-mu?" sela Om Sullivan.


"Percaya apa?"


"Ya analisaku Papa-mu tidak percaya bahwa kamu anak kandungnya, Shireen."

"Aku nggak tau, bisa jadi juga sih. Tapi, Papa dulu sering ngasuh aku kok."

"Lalu sekarang, kalian gimana?"


"Seperti orang asing, mereka tidak peduli lagi. Aku hidup ataupun mati."


Tak terasa perjalanan kami sampai di hotel, setelah memarkirkan mobilnya. Om Sullivan segera ke meja resepsionis memesan kamar. Beberapa kali kulihat banyak orang menjabat tangannya, batinku tergelitik bertanya. Apakah dia orang penting? Atau seorang supir yang biasa mengantar majikannya?
Aku kembali sibuk dengan majalah di tangan, membuka lembar demi lembaran kertas.


Om Sullivan berlari kecil menghampiriku, tanpa canggung lagi ia menggamit tanganku seolah sedang berjalan bersama istrinya. Tatapan dan senyuman orang yang melihat membuatku sebal. Seolah mengerti yang kurasakan, Om Sullivan menempelkan telunjuk di bibirnya, mengedipkan mata dan terus menuntunku berjalan.


Kami memasuki kamar hotel bernuansa putih dengan cat tembok berwarna krem. Sepasang angsa yang terbuat dari handuk, menyambut kedatangan kami. Om Sullivan bergegas ke kamar mandi membersihkan diri, setelahnya ia menyuruhku membersihkan diri juga.


"Kebersihan itu penting, buat kesehatan. Di luar itu bakteri dan polusi bikin nggak sehat," ujarnya dari atas kasur. Aku masih sibuk mengeringkan rambut.

"Betul sekali, Om."

"Shireen, kemarilah." Om Sullivan menepuk ruang kosong di sebelahnya.

Kusimpan handuk diatas kursi rias, beranjak duduk di sebelahnya. Beberapa saat tak ada reaksi, lelaki itu menatap langit-langit kamar. Jemarinya ia adukan satu sama salin, sesekali ia menatapku dan tersenyum. Aku hanya duduk memperhatikan tingkah konyolnya.


Entah sejak kapan mataku terpana melihat postur tubuhnya yang terlentang, adrenalin dalam tubuh terpacu untuk menyentuhnya terlebih dulu. Tapi, mengingat prinsipku tak mau menyentuh jika tidak disentuh duluan. Sekuat tenaga kutahan keinginan tersebut, rasanya seperti orang gila, membenci tapi menyukainya.

Om Sullivan bersiul kecil, membuatku merasa semakin gemas. Mendadak suaranya terasa mendamaikan hati, ia bangkit dari tidurnya. Berbalik menatapku, mata kami bertemu dan hati terasa terhujam belati, mati kutu melihat tatapannya.

"Jadi, kamu melakukan pekerjaan ini karena terpaksa?" Lagi, ia melontarkan pertanyaan yang tidak aku suka.

"Iya, karena biaya kuliah yang tinggi, Om," jawabku jujur.

"Baiklah, jika ada pekerjaan lain. Apa mau kamu tinggalkan pekerjaan ini?"


"Oh, jelas mau Om, mau sekali."


"Jika menjadi istri simpananku, mau?"

Bagai tersambar petir di pagi hari, nafasku tercekat mendengar perkataan Om Sullivan. Lelaki itu mengubah posisi duduknya, ia menggenggam jemariku. Perlahan tangannya mengelus pipi kananku, sentuhan hangatnya membuatku terbuai sesaat.

Jarak kami hanya beberapa senti meter, aku terdiam mematung menunggu aksi selanjutnya. Dengan cepat bibirnya melumat bibirku, kami bergumul hebat saling memberi dan menerima. Sesekali aku menolak sentuhannya ke area intim, namun entah kenapa ada rasa tak rela ketika ia menuruti kemauanku.


"Yes, gesture tubuhmu mengatakan. Aku menginginkanmu, Sullivan," ucapnya berhenti menyerang bibirku. Ia beranjak bangun dari tempat tidur, berjalan meninggalkan kamar tanpa menoleh ke arahku.


Selang dua puluh menit, ia kembali dengan sekantong makanan. Menatanya dengan cekatan diatas sofa panjang dekat kasur, aku hanya terpaku menatap sekotak nasi box berisi ayam, tahu, tempe dan lalapan. Mataku terfokus pada Om Sullivan, yang mulai membuatku penasaran.


"Om, aku ...."

"Makan dulu, kita bicara nanti."


Diubah oleh ummusaliha
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
10-09-2020 22:25
Buat part 7 nanti ya gaws
Diubah oleh ummusaliha
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
Born Of Mistake
10-09-2020 22:27
Quote:
Part 5
Sedingin kutub


Pagi hari ini tak kurasakan udara yang segar seperti biasanya. Entah karena hatiku yang sesak atau memang cuacanya begitu. Selepas subuh tadi, aku langsung pergi ke kampus. Sebelum kami berpamitan, ibu yang menyapaku memberikan kartu namanya. Dari kertas itulah aku mengetahui namanya adalah Bu Thresya, beliau mengundangku ke rumahnya yang hanya kujawab dengan anggukan.


Suasana kampus sepi sekali, hanya ada petugas office boy yang hilir mudik. Mungkin karena terlalu rajin, aku berangkat sangat pagi. Di warung kecil depan kampus, aku duduk sembari menikmati gorengan bakwan buatan Mpok Mirah, dia pemilik warung yang kerap kali memberikan kelonggaran berupa kasbon di kala dompet kering kerontang.

Janda tua beranak lima itu masih terlihat awet muda. Padahal usianya mulai masuk setengah abad, dengan senyumannya yang kaku Mpok Mirah menyodorkan segelas teh manis hangat. Setiap ada kesempatan, wanita itu selalu saja memberikan teh manis gratis. Katanya, jika melihatku dia teringat seseorang di masa lalunya. Jika sudah bicara, aku pun hanya diam mendengarkannya.

"Neng Shireen, nggak makan berapa hari?" Pertanyaannya membuatku terlonjak kaget.

"Uhuk, uhuk."


"Nih, minum dulu." Mpok Mirah menyodorkan segelas air putih yang langsung kusambar secepat kilat, demi mendamaikan tenggorokan yang terasa panas.

"Memangnya kenapa, Mpok?" tanyaku.

"Itu, Mpok perhatikan sudah enam gorengan yang Neng lahap sambil melamun hahaha." Mpok Mirah mengangkat kedua alis, tangannya tetap sibuk memasukkan adonan ke dalam wajan.


"Hehehe, saya belum makan dari semalam, Mpok. Tenang kok, saya nggak kasbon hari ini. Saya bayar."


"Ah elah, Mpok mah bercanda ih. Jangan bawa perasaan gitcuh ah."


"Kirain Mpok udah nggak Redho gitu Shireen kasbonin," godaku memasang wajah serius.


"Yaelah demi buntu kuda yang mengacir. Mpok mah ikhlas dah Neng mau ngasbon ampe kapan juga, lagian Neng udah Mpok anggap anak. Mana mungkin nggak ridho sama anak sendiri." Mpok Mirah menyunggingkan senyum, memperlihatkan giginya yang berderet rapih.


Mendengarkan perhatian Mpok Mirah cukup menusuk hatiku. Entah kenapa aku tidak pernah suka diperhatikan, karena orang tuaku saja tidak pernah peduli. Mau anaknya hidup ataupun mati, mereka sudah pernah menganggapku. Apalagi setelah keputusanku untuk kuliah, di ambil sebelah pihak yaitu oleh diri sendiri. Aku menatap tubuh sintal Mpok Mirah yang posisinya membelakangiku.


Terbayang dalam benak ini andai saja Ibu se-sayang itu padaku. Mungkin takdir dan dunia hitam ini tidak akan pernah kupilih sebagai jalan hidup. Sampai saat ini aku tidak pernah tau kenapa Ibu begitu berubah drastis. Seolah tak peduli lagi padaku, tidak seperti dulu. Lebih baik aku tidak pernah menelponnya, dari pada setiap bicara selalu berujung pertengkaran.


"Heh, ngapain bengong." Suara Mpok Mirah mengejutkanku yang melamun sebentar tadi.


"Emm, nggak apa-apa, Mpok. Cuma lagi inget sesuatu aja," sahutku sekenanya.


"Yakin? Nggak mau cerita nih sama Mpok."


"Nggak, Shireen baik-baik saja kok."


"Oke deh, semoga para peri dari kahyangan menyertaimu selalu di dalam setiap langkah hidupmu sayang," celotehnya tanpa menoleh ke arahku.


Sontak saja aku tertawa mendengar celotehnya yang selalu membuat perut kram. Sikapnya yang keibuan kadang nyeleneh, membuatku selalu nyaman berlama-lama diam di warungnya. Satu lagi bakwan masuk ke mulut, perutku sudah cukup kenyang apalagi dengan segelas mug teh manis hangat.


Dari kejauhan kulihat Ola dan Nindya berjalan bergandengan, lalu mereka berpisah di depan kampusku. Karena memang Ola tidak sama jurusan mata kuliahnya denganku. Sesaat tadi ekor mataku menangkap tatapan tak suka itu, kembali hadir di raut wajah Ola. Walau dari kejauhan hatiku sangat yakin, Ola sempat melihatku.

Buru-buru kutepis pikiran dan perasaan jahat itu. Setelah menyelesaikan pembayaran pada Mpok Mirah, aku bergegas menuju kelas karena kampus mulai ramai dengan para pelajar. Di dalam kelas, Nindya sudah duduk tepat di bangku yang ada di sebelahku. Aku hanya melemparkan senyum untuk menyapa, kemudian duduk dan membuka buku.


"Reen," sapanya.

"Ya?" Aku menoleh ke arahnya.

"Maafin aku," ucapnya, Nindya menatapku lekat. Membuatku merasa salah tingkah.


"Untuk apa?"


"Karena aku, kamu jadi berantam sama Yola." Nindya menarik napas.


"Bukan salah kamu kok, ini cuma salah paham saja. Don't worry Nind, okay."


"Tapi, kamu terjun ke dunia malam itu karena aku."


Nafasku tercekat mendengar ucapan Nindya, kenapa harus dia membahas itu di sini. Mataku beredar ke sekeliling kelas, syukurlah tidak ada yang mendengar ucapan Nindya.

"Jangan bahas dulu, aku mau fokus belajar. Nanti kita bahas di indekost ya," ucapku menatapnya tajam. Nindya terdiam melihat ekspresiku.


Kelas berjalan dengan lancar, walau tadi sempat konsentrasiku terganggu oleh perkataan Nindya. Sebetulnya aku tidak malu dengan pekerjaan kupu-kupu malam. Kenyataannya banyak kok mahasiswi yang menjadi istri simpanan dosen demi untuk dapat cuan menyambung hidup.

Kehidupan seperti ini sudah biasa bagi kami, hanya saja ada beberapa orang yang kuat menjaga image. Sebagai mahasiwi murni yang berjuang lewat jalur bekerja paruh waktu. Sebetulnya bukan hanya mahasiswi, seperti temanku si Edo Ginting, dia berprofesi sebagai teman kencan online tante-tante.


Menemani para istri yang kesepian, entah apa yang mereka lakukan sepanjang hari. Kata Edo sih suka ada plusnya jika dia mau berbuat lebih. Mungkin sama sepertiku juga, namun entah apa yang dilakukan Edo bisa disebut gigolo atau bukan. Karena dia tidak melayani semua pelanggannya dengan berakhir diatas ranjang.


Gawai berdering tanda panggilan masuk dari Om Sullivan. Tanganku ragu untuk mengangkatnya. Namun, teringat bahwa urusan kami belum selesai. Ternyata lelaki itu mengajakku bertemu, setelah menentukan tempat aku pun segera bergegas, menuju kafe yang dia pesan. Lagipula hari masih siang, enggan rasanya jika harus pulang ke indekost.


"Sudah makan?" tanya Om Sullivan begitu tahu aku sampai, tanpa mempersilahkan duduk.


"Sudah," jawabku tak luput menganggukkan kepala.

"Eh iya, ayo duduk Sayang." Om Sullivan membuka kursi, mengarahkanku untuk duduk di dekatnya.


"Apaan sih!" Entah kenapa mendengar kata sayang, hatiku terasa panas terbakar amarah. Aku menarik kursi kembali dan duduk bersebrangan dengannya.


"Kok, pindah duduknya sih Sayang. Sini donk deket aku, kan pingin kangenan sama kamu," ucapnya lagi terdengar seperti godaan.

"Om, jangan panggil sayang loh. Aku nggak suka!" Tukasku.

"Hak saya donk mau manggil kamu apa, beib, sayang, cinta. Lama-lama kamu suka kok." Seringai itu kembali terlihat dari wajahnya. Membuat sebuah guratan, menggambarkan kelicikan.

"Hidupku, tanpa cinta dan kehangatan. Jadi, jangan coba coba Om untuk berusaha menyentuh hatiku dengan perhatian palsu, oke."

"Idih, ge er banget ni manusia." Om Sullivan memalingkan wajah.

"Apa?!"

"Iya, Elu tuh ge er banget, hahaha," ejeknya seraya membetulkan kaca matanya, mengusap cuping hidungnya dengan santai, matanya terus mengarah padaku.

Aku mendelik sebal melihat ekspresinya yang begitu ingin rasanya kuremas dia. Kujadikan dia makanan ikan piranha! Entah apa maksudnya Tuhan menghadirkan dia dalam hidupku. Baru sebentar saja bersamanya, aku mulai sebal. Semoga saja kuat mental menghadapi pelanggan seperti dia.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you
Stories from the Heart
cowok-pengangguran-pemalas
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
the-wonderwall
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia