Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
4
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f27c2aedbf76435894bd4df/caper-catatan-perjalanan-rani
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Apa kabar gansist? Semoga sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Amiin... Cerita ini merupakan pengalaman ane pribadi tapi sudah dimodifikasi. Maksudnya, cerita ini banyak sedikitnya sudah ada perubahan dari pengalaman aslinya. Karakter dan watak tokohnya ane ambil dari pribadi ane sendiri sekaligus dari teman ane yang ane kenal pedagang
Lapor Hansip
03-08-2020 14:54

CAPER (Catatan Perjalanan Rani)

icon-verified-thread


Quote:
assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabar gansist? Semoga sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Amiin...

Cerita ini merupakan pengalaman ane pribadi tapi sudah dimodifikasi. Maksudnya, cerita ini banyak sedikitnya sudah ada perubahan dari pengalaman aslinya. Karakter dan watak tokohnya ane ambil dari pribadi ane sendiri sekaligus dari teman ane yang ane kenal pedagang juga.

Ambil baiknya buang buruknya
Selamat membaca


Berdagang

Part 1

"Boleh kak..."
"Boleh buk..."
"Kerudungnya...?"

__________


Hari ini adalah training gue jadi seorang pedagang. Bukan kerjaan di kantoran doang yang ada trainingnya, pedagang juga ada ternyata. Yang gue bayangin pertama kali saat diajak berdagang adalah bos cowok ganteng dan masih muda. Tapi khayalan gue mental seketika saat bertemu langsung dengan pemilik toko.
"nah, ini dia tokonya", kata bibi yang ngenalin gue disana. Tokonya gak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
"datang juga akhirnya, biasanya kamu suka boong Dah", jawab pemilik toko ke si bibi yang namanya adalah Idah.

Gue ga tau mau ngomong apa disana, jadinya yah diem doang nyimak mereka ngomong tentang gue. Berasa sedang diinterview gaess..

"ini dia Pak yang saya omongin, dia baru lulus SMA, ikut kakaknya ke jakarta karena mau cari pengalaman katanya", kata Bi Idah menjelaskan tanpa di aba-aba.

Gue cuma senyum mesem sekedar mengiyakan ucapan Bi Idah.

Setelah bicara cukup banyak, Bi Idah pamit mau menjajakan dagangannya lagi keliling di toko-toko sekitar sana. Bi Idah jualan banyak cemilan makanya bisa kenal sama bos gue yang memang salah satu langganan setianya.

"oh ya, nama kamu siapa tadi?", bapak bos nanyain nama gue lagi padahal emang tadi belum dikasih tau.
"saya Rani pak", jawab gue sekenanya.
"oke, Rani sekarang coba belajar jadi pedagang yang aktif ya. Lihat cewek depan sana! Dia juga baru mulai masuk kerja disana tapi udah lincah layanin pembeli. Kamu bisa belajar dari dia saat menawarkan dagangannya", jelas pak bos yang lebih patut gue panggil kakek.
"siap pak, laksanakan", jawab gue lantang bak prajurit TNI.



Selesai basa basi perkenalan diri, gue nanya-nanya tentang harga setiap dagangan milik pas bos. Sebenernya dagangan tidak terlalu banyak dan itupun masih model yang lama. Jadi gak butuh waktu banyak, gue udah mulai hapal sama harga-harganya.

"nah, udah tau kan? Bapak tinggal duduk disana ya, kan sudah tau harganya", kata pak bos sambil menunjuk sebuah warung kopi di seberang toko.

Sentak gue kaget. Rasanya masih gugup dan gue berdoa semoga jangan sampai ada pembeli sebelum si bapak bos balik ketoko. Bodo amat dagangannya gak laku pokoknya gue tetep kocar kacir berdoa moga gak ada pembeli.

Alhamdulillah doa gue, anak sholeha, baik hati, dan suka menabung terkabul. Gak ada pembeli yang mampir walau gue udah manggil-manggil seperti pedagang lainnya.

Lama pak bos mantau gue dari jauh akhirnya dia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah gue.
"gimana?", tanya pak bos yang bikin gue kikuk.
"belum ada yang nyangkut pak pembelinya", jawab gue mesem-mesem.
"gapapa, sekarang memang sedang musim sepi kok", jawab pak bos lagi.

Gue asyik berbincang dengan pak bos sampai gak sadar ada orang yang sedang lihat-lihat dagangan gue.

"ehh, cari apa kak?", tanya gue basa basi seramah mungkin dengan senyum paling manis.
"lihat-lihat dulu dek", jawabnya tetap memperhatikan dagangan gue.
"daleman kerudung yang ini berapa dek?", tanyanya saat menemukan apa yang dia cari dari tadi.
"ohh.. Itu murah kok kak, sekodinya Rp. 100.000, kalau ecerannya Rp. 10.000 per potongnhanya", jawab gue salah tinggah karena diperhatiin sama pak bos.
"beli lima buah aja boleh gak dek?"
"beli satu aja boleh masa beli lima ga boleh? Hehe.." jawab gue becanda tapi kakak pembeli ga ada ketawanya sama sekali. Garing amat lelucon gue.
"yaudah saya beli lima aja, warnanya boleh dipilih kan?", jawabnya lagi masih sibuk mengutak atik dalaman kerudung yang akan dibeli.
"boleh kak, tapi kakak yakin beli lima aja? Lebih untung beli setengah kodi lho kak. Harganya sama aja seperti beli lima potong", jawab gue mencoba menjelaskan.
"gak dek, kebanyakan", jawabnya sambil mengeluarkan dalaman kerudung yang dipilih dari plastiknya.
"lahhh", gue jadi bingung sendiri sama si kakak.
"nah, ini udah. Bungkus dek", ia menyodorkan pilihannya ke gue untuk dibungkus. "jadi Rp. 50.000 kan?", katanya lagi.
"iya kak", sambil gue menyodorkan barangnya.

Gue heran kenapa si kakak mau aja beli lima potong doang. Padahal lima potong dikali Rp.10.000 kan Rp. 50.000. Nah, harganya setara sama beli 10 potong alias setengah kodi. Tapi apa boleh buat. Gue udah jelasin tapi dianya aja yang gak mau.

Setelah si kakak pembeli pergi, gue kasih uangnya ke pak bos.
"pak, ini uangnya", gue sodorin uangnya.
"dia beli berapa?", pak bos ternyata kepo juga pake nanyain gitu. Gue pikir dia bakal terima terus langsung masuk laci uangnya, ternyata enggak.
"lima potong pak".
"lho, kok lima potong? Kan uangnya Rp.50.000 harusnya dikasih setengah kodi", jawab pak bos ngomelin gue.
"udah di kasih tau gitu pak, tapi dianya gak mau. Kebanyakan katanya", jawab gue mencoba menjelaskan.
"yaudah, sana jaga di depan lagi!"

Gue gak jawab sambil berlalu meninggalkan pak bos yang sedang ngitung duit hasil dagangannya dari pagi. Namun, saat gue jalan samar-samar mendengar si pak bos ngomong 'dagang kok gak jujur'. Gue lirik ke belakang dia tetap sibuk dengan lembaran rupiah ditangannya.

Gue gak habis pikir, kok malah gue yang disalahin gak jujur. Toh orang belanjanya yang gak mau masa gue paksain harus ambil setengah kodi. Lagian kan untung gede malah si pak bos. Tepok jidat...

__________



Azan berkumandang di masjid. Hal ini sekaligus jadi pertanda istirahat sholat dan makan siang buat gue. Gue belum tau banyak tempat makan disana, apalagi yang ramah dikantong. Tapi, gue juga gengsi kalau nanya lagi ke pak bos karena sekilas tadi dia udah ngasih tau tempatnya. Gue lapar tapi takut nyasar. Yang paling gue ingat cuma warung soto yang letaknya berjarak tiga toko dari tempat gue sekarang. Gue izin ke pak bos buat makan siang.

Sesampainya gue diwarung soto gue langsung ditawarin sama penjualnya.

Bersambung...

profile-picture
profile-picture
profile-picture
caturkristiyani dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
CAPER (Catatan Perjalanan Rani)
03-08-2020 14:55
nangkring dimari dulu
0 0
0
CAPER (Catatan Perjalanan Rani)
03-08-2020 14:56
nikmati membaca dengan santai
0 0
0
CAPER (Catatan Perjalanan Rani)
03-08-2020 19:04
thats good.
emoticon-Jempol
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
prof-pic
Tulis balasan post ini gan...
prof-pic
Guest
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
bastard-hotelier
Stories from the Heart
natsu-no-hanami-n2h---fiksi
Stories from the Heart
you
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia