Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
15
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f0db54ee83c724a53488245/rumah-berhantu
Gak kerasa, udah mau dua tahun aja ngontrak di rumah yang gue tempatin ini. Terima kasih sudah menjadi saksi bisu suka duka kami sejak awal meniti usaha, rumah! Awal datang, masih inget dulu gue ngambek sama laki karena milih rumah ini. Namun, alesannya cukup dimengerti, karena rumah ini yang paling deket ke lapak jualan, terus harga sewanya juga murah, bisa bulanan dulu, pula.  Secara, duit sisa
Lapor Hansip
14-07-2020 20:38

Rumah Berhantu



Gak kerasa, udah mau dua tahun aja ngontrak di rumah yang gue tempatin ini. Terima kasih sudah menjadi saksi bisu suka duka kami sejak awal meniti usaha, rumah!


Awal datang, masih inget dulu gue ngambek sama laki karena milih rumah ini. Namun, alesannya cukup dimengerti, karena rumah ini yang paling deket ke lapak jualan, terus harga sewanya juga murah, bisa bulanan dulu, pula. 


Secara, duit sisa modal jualan beli ini-itu minim. Namun, keadaan rumahnya itu ... Bulu roma--tanpa irama--langsung meremang saat nyampe. Halaman sekelilingnya luas, rimbun dengan pohon mangga hingga daun-daun kering berserakan banyak banget sampai ke teras. Semua pintu dan jendela pake teralis besi, mungkin karena rumahnya di ujung, jadi sebagai antisipasi  pencurian. Namun, menghadirkan kesan serem, gitu.


Masuk ke dalem, suasana lebih serem. Pertama, terlalu luas untuk ditempati berdua. Terdiri dari; ruang tamu, ruang tengah, tiga kamar tidur, kamar mandi yang luas, tapi masih bersih seperti baru dengan bak air yang sangat besar. Dapurnya yang paling luas. Suasananya temaram dan sarang laba-laba bnyak banget di seluruh langit-langit. 


Butuh waktu seharian beres-beres dan bersih-bersih. Kayaknya udah lama banget kosong.


Malam pertama, suasana bener-bener mencekam. Angin berembus kenceng banget, menguarkan udara dingin menusuk tulang. Setelah solat isya dan ngaji, gue ama laki tidur merepet ke dinding. 


Iya, laki gue ikutan ciut. Vangke! Suara bergedebug keras bersahutan dari arah dapur dan kamar yang kita jadiin gudang. Awalnya berusaha mikir positif, mungkin tikus. Namun, terbantahkan saat suara orang mandi bergejebur dari kamar mandi disusul suara tawa cekikikan serta ... pintu kamar digedor keras berkali-kali!


Esok subuhnya, air sebak abis, lantai kamar mandi basah. Ada beberapa helai rambut yang sangat panjang saat gue nyapu pagi. Jelas bukan rambut gue, karena rambut gue cuma sebahu. Ya Allah ... makin ngeri dah rasanya. Kalau rambut penghuni sebelumnya juga gak mungkin, wong kemarennya udah disapuin dan dipel berkali-kali, gak ada, tuh nemu rambut.


Pas ke warung, sesebapak yang lagi ngopi liat gue dari atas ke bawah. Gue bikin pake bahasa Indonesia, ya, biar gosah translate. Aslinya pake bahasa Jawa.


"Anak siapa kamu, Neng? Kayak baru liat," katanya, kemudian menyeruput kopi di hadapan.


"Saya emang bukan orang sini, Pak. Aslinya dari Tasik, besok mulai jualan es buah rumput laut di toang sana," jawab gue sopan.


Si Bapak manggut-manggut. "Di sini, ngontrak?"


"Iya, di rumah ujung sana," sahut gue sambil nunjuk arah pulang.


Air muka si Bapak seketika berubah, gaes. Ibu warung juga. Mereka pandang-pandangan.


"Beranian. Sama anak suami?" 


"Emh, sama suami, Pak. Belum punya anak saya. Emang kenapa, Pak?" Perasaan gue mulai gak enak.


"Gak pernah ada yang betah di sana mah," katanya sambil menandaskan kopinya yang tinggal setengah.


"Iya, kenapa?" Gue mulai gak sabar.


Si Bapak menghela napas dan mulai bercerita ....


Bersambung, ya, banyak keanehan yang gue temuin. Beberapa kali juga pernah nemu penampakannya. Bahkan, terakhir sempet ada kefoto penampakannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
meydiariandi dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Rumah Berhantu
14-07-2020 20:57
Premium ane amankan sblm hilang... emoticon-Leh Uga

Ditunggu kelanjutan cerita si Bapak yg misterius
0 0
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Rumah Berhantu
14-07-2020 21:41
mejeng ah.. emoticon-Cool
profile-picture
snoopze memberi reputasi
1 0
1
Rumah Berhantu
15-07-2020 06:54
Di tunggu klanjutannya emoticon-Travelleremoticon-Takut (S)
profile-picture
putrateratai.7 memberi reputasi
1 0
1
Rumah Berhantu
15-07-2020 14:34
ane subcribe sist. penasaran cerita kelanjutannya, kira kira ada sejarah rumahnya ga? kek pembunuhan gituh. itu asli jail jin nya sist. 🤔🤔

ane Berasa kek nonton film horor. 🙏
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Rumah Berhantu
15-07-2020 18:02
wuh masih anget
ikutan nenda ah walaupun serem emoticon-Takut
profile-picture
putrateratai.7 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Rumah Berhantu
16-07-2020 10:01
[B]"Iya, jadi gak ada yang betah pokoknya yang ngontrak di sana. Paling lama sebulan dua bulan," sahutnya. "Abis banyak penunggunya," lanjutnya setengah berbisik.


Njir ... gue nelen saliva. Emang udah ketebak, si. Semalem aja rame banget pada pesta.


"Emang penunggunya wujudnya gimana, si, Pak?" Gue takut denger cerita selanjutnya, tapi penasaran.


"Ya, beda-beda. Ada ... eh, Pak. Kopi, Pak!" Ceritanya terhenti saat Pak Dirman datang. Ish, vangke! Gue udah serius nyimak.


Pak Dirman hanya mengangguk.


Jadi, Pak Dirman itu yang dipercaya atas rumah yang gue tempatin. Pas transaksi negosiasi harga juga kemarin sama beliau. Rumahnya persis di sebelah, tapi ngebelakangin. 


Konon, pemilik rumahnya sudah meninggal karena lanjut usia, sementara anak-anaknya berdomisili di luar kota. Jadilah beliau yang dipercaya mengurus rumah itu.


"Belanja, Neng?" tanyanya sopan saat menyadari keberadaan gue.


"I-iya, Pak." Gue gugup, kemudian pamit pulang setelah bayar belanjaan gue.


___


Nyampe rumah, gue cerita sama laki tentang sepotong berita yang gue dapet di warung. Laki meringis sambil mengelus tengkuknya yang mungkin meremang kayak tengkuk gue.


"Kumaha, atuh? Sieun, euy!" (Gimana, dong? Takut, euy!) ucap gue.


"Nya kumaha deui? Sabar we sabulan mah. Ke lah neangan deui nu rada dekeut ka tempat jualan. Atuda imah ieu nu pangdekeutna. Jeba murah. Barina ge da eweuh duit ayeuna mah ek pindah ge," (ya gimana lagi? Sabar aja barang sebulan. Nanti cari lagi yang agak deket ke lapak. Abisan rumah ini yang paling deket. Murah pula. Lagian, kalau cari sekarang, uangnya juga gak ada) jawabnya lesu.


Ya, emang iyasi.


"Heeh we murah, da mereun daripada eweuh nu nyicingan," (iyalah murah, mungkin daripada gak ada yang nempatin) ketus gue. Laki cuma muter bola mata. Emang diamah kalo gue ngomel jarang nyaut. 


Kemudian setelahnya kita sibuk dengan pikiran masing-masing.


___


"Dih, elah. Cicing apa di imah. Make teuing mimilu," (diem apa di rumah, ngapain ngikut) ejek laki saat gue ngikut ke lapak. Pura-pura kagak tau gimana rumahnya. Sue!


Kebetulan lagi kemarau. Di lapak rame lagi pada mompa air ke sawah-sawah. Emang, kiri kanan jalan raya tempat gue jualan terbentang sawah yang kagak keliatan ujungnya. Manjain mata minus tujuh gue. Lumayan.


Sekilas, gue liat bapak-bapak yang pada bergerombol menatap kami dengan tatapan, entah. Agak aneh. Tak lama, mereka menghampiri dan memesan es buah rumput laut kami.


"Yang ngontrak di rumah ujung itu, ya, Mas?" Sesebapak memulai obrolan.


"Iya, Pak," jawab laki gue. Gue nyimak aja sambil maen gadget.


"Betah?" tanya yang lain dengan nada sedikit ketawa.


"Ya, gitulah, Mas. Orang baru dua hari," jawab laki lagi.


Gue mulai ikut nyimak. Gadget gue taruh di tas selempang.


"Gak ada yang betah, Mas, tinggal di sana. Iiihhh." Si Bapak bergidig sembari menyeringai.


"Emang kenapa, sih, Pak? Ada penampakan apa, gtu?" Gue mulai angkat bicara



"Gini." Ditaruhnya mangkok. "Banyak penunggunya. Ada yang bilang liat kuntilanak, sering ketawa-ketawa," sahutnya.


Yaampun ... emang dua malem ini tuh makhluk bar-bar bener ketawa-ketiwi. Amit-amit dah kudu nengok wujudnya.


"Yang paling serem yang terakhir nempatin, Mbak," ucap yang lainnya.


"Apaan?" tanya gue sambil meringis.


"Pas suaminya gak ada, ada yang nyamperin nyerupain suaminya. Untung suaminya keburu pulang. Udah dipeluk. Makannya jangan ditinggal sendiri istrinya, Mas."


Sontak, gue cengkeram lengan laki kuat-kuat.


"Dah, Bapak nakutin, nih!" sanggah gue. Berharap cerita itu cuman omong kosong.


"Eh, udah kalau gak percaya. Saya aja kalau lewat sana suka ngebut. Di halaman sampingnya saya pernah liat hantu wanita itu. Tau pohon randu yang besar di pojok itu?"


Gue ngangguk.


"Di sana tempat maennya."


"Ish, Bapak, ahhh ... dahlah gak usah dibahas." Gue mendelik.


Si Bapak makin menjadi nafsunya buat cerita.


"Kadang kalau malem suka ada suara dan tapak kaki kuda, soalnya dulunya di sana tempat jagal. Saya serius, Mbak." Si Bapak benar-benar serius tampaknya.


Mimik mukanya berubah.


"Hati-hati pokoknya. Kalau kalian betah di sana lama-lama, salut saya. Berarti kalian sakti."


Anjirlah ... ampe kata sakti kebawa-bawa.


Cerita pun terus mengalir. Banyak ternyata cerita mistis di sekitar sini. Di antaranya tentang tikungan sebelum rumah kontrakan gue.


"Nah, tikungan itu." Si Bapak nunjuk tikungan yang keliatan dari lapak.


"Iya, kenapa?" Gue gak sabar. Banyak basa-basi abisan.


"Udah beberapa kali ada yang celaka di sana. Pas pembuangan sampah itu. Jadi kalau yang gak fokus, lewat sana malem-malem keliatannya jalan lurus. Jadinya nabrak pohon besar itu. Terakhir minggu lalu matanya pecah. Jarang ada yang selamat. Konon juga ada penampakan tiga anak kecil. Maennya suka di sana sampai rumah kontrakan kalian itu." 


Lagi-lagi kontrakan gue, coba. Emang pas belokan adalah tempat pembuangan sampah. Ada pohon besar juga. Kalau lurus dari sini ya emang pas nabrak pohon itu. Serem amat, ya ....


___


Semenjak denger cerita itu, gue ama laki jadi gak betah diem di rumah. Setelah solat maghrib, beres-beres dan masak gula buat jualan besoknya, kita keluyuran maen. Baru balik pas bener-bener ngantuk. Cara itu lumayan membantu ketimbang diem di rumah dengan suasana mencekam.


Seminggu kemudian, gue ama laki maen ke kontrakan mertua. Emang kita jualan di sini ngikut mertua yang udah sepuluh tahun jualan di daerah yang berbeda. Kami ceritain semua yang kami alami.


"Dih, jiga nu tara sarolat wae maraneh mah. Sanghareupan, solat, ngaji. Da ari urang katempo wani mah nukitu ge malik sieun. Barisa ngaji, henteu? Kulhu-kulhu, atuh can sarebu balik mah," ( kalian kayak yang gak pernah solat aja. Hadapin, solat, ngaji. Kalau kita berani, mereka bakal berbalik takut. Bisa ngaji, gak? Al-ikhlas ke belom serebu balik mah) pepatah mertua ngegampangin. Kagak tau dah kalau dia yang ngalamin, berani apa, kagak? 


Wkwkwkwk ... tapi ada benernya juga, ya?


"Heg ilikan anu gugurubugan th. Boa beurit. Da jarorok maraneh mah," (terus liat yang gedebug-gedebug, tuh. Barangkali tikus. Kalian, 'kan jorok) kata Bapak Mertua lagi. Ish! Sebenernya kita kagak jorok, tapi, emang Pakmer itu tipe orang yang super duper apik. Gak bisa liat yang berantakan atau kotor setitik pun. Serius. Pernah tinggal semingguan di kontrakannya, barengan emak tiri laki gue juga sebelum nemu kontrakan sendiri soalnya. Namun, atinya baik, sih. Banget.


Besok malemnya, gue inisiatif ajak laki berani-beraniin diri. Bermula dari ngecek gudang. Jadi, di dalam rumah ini ada banyak perabot entah milik almarhum pemiliknya, atau penghuni sebelumnya. Semuanya gue masukin ke gudang. Alesan kamar ini dijadiin gudang karena kurang layak aja. Dindingnya gak dicat, sementara langit-langitnya gak berfalapon. Langsung genting gitu.


Saat gue nyinkab bantal di atas tumpukan piring-piring, tara ....


Tikus segede-gede anak kucing berlarian. Sontak gue lari keluar. Geli. Laki sigap nangkep dua makhluk menjijikan itu. Kayaknya berasal dari atap. Ternyata bener, gak sepenuhnya sumber kebisingan itu berasal dari makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Sorry, ya, cuy! Gue udah suudzhaan.


Mungkin karena udah berusaha ngumpulin keberanian dan energi positif lainnya, rasanya gak semencekam malam-malam sebelumnya. Pintu kamar gue buka lebar-lebar, tak lupa sebelumnya membaca surah Al-kahfi. Setelahnya, Alhamdulillah lebih tenang dan bisa terlelap ditemani murotal yang sebelumnya gue download.


___


Tiba-tiba, napas terasa sesak. Gak ada udara yang mampu gue ambil. Gue terlonjak manakala membuka mata, makhluk berdaster putih lusuh dan rambut sangat panjang menutupi sebagian wajahnya mengangkang menduduki dada. Leher rasanya sesak dan sakit dicekik tangan berkuku hitam panjangnya. Sementara kedua belah tanyan gue dipegang oleh dua makhluk kecil berwarna hitam legam. 


Gue berusaha beristighfar dan membaca asma Allah lainnya. Tapi terasa sulit. Makhluk di atas menyeringai menampilkan mulut penuh darah busuk kehitaman. 


Tes ... tes 


Darah itu menetes ke wajah gue, menguarkan bau busuk mengaduk isi perut. Ya Rabb ... sakit.


TBC


Tokoh-tokoh dalam cerita bukan nama sebenarnya./B]
Diubah oleh unievejvongsa
profile-picture
meydiariandi memberi reputasi
1 0
1
Rumah Berhantu
16-07-2020 13:46
Lanjut terus ceritanya..ngeri ngeri sedap bacanya
profile-picture
unievejvongsa memberi reputasi
1 0
1
Rumah Berhantu
16-07-2020 23:04
oke makin seru ceritanya . lanjuttt
profile-picture
unievejvongsa memberi reputasi
1 0
1
Rumah Berhantu
19-07-2020 21:23
Klaw sama guru ane dlu mah dia nyiram air panas ke penjuru ruangan dirumah.. katanya sih 'biar menantang ' emoticon-Ngakak
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Supranatural
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia