Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
632
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna
Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku, diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu. – saking penggalan tutur Kalih Pingpitu BAB I (Raden Rangga) Gbr diambil dr : islamidia.com Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara k
Lapor Hansip
11-07-2020 15:45

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 13
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
12-07-2020 10:03
Blm update lg nih, tinggalin jejak dulu
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
12-07-2020 19:42
Oke, menyimak gan. kapan lanjut ke bab 3?
Diubah oleh Yuwen
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
13-07-2020 15:06
Halusinasi menguasai angan-anganku, yang nampak seperti benar dalam pikirku nyatanya omong-kosong saja kenyataannya, hanya lontaran opini tak berarti.

Keluhan kami bertiga dalam tujuh berulang.


Bab 3
(Rangga Vs Ki Ageng Aras)


Tanah terasa terguncang dan pasir-pasir berhamburan, saat sepasang kaki Ki Ageng Aras menjejak tanah, berkelebat menghadang Raden Rangga yang berusaha melewati dirinya. Jika gerakan Ki Ageng Aras tak ubahnya seekor harimau yang perkasa, maka gerakan Rangga lebih mirip gerakan seekor monyet yang lincah.

Tiap kali Ki Ageng Aras berkelebat mengejar, tentu hentakan kakinya menghamburkan debu tanah yang dipijak. Demikian pula, pukulan dan tendangan Ki Ageng Aras, setiap serangan selalu membawa suara angin berkesiuran.

Sementara itu Rangga berlompatan dengan lincah dalam menghadapi serangan-serangan Ki Ageng Aras. Terkadang selama beberapa gebrakan, kakinya bahkan sama sekali tak menapak tanah. Menggunakan momentum dari benturan antara dirinya dan Ki Ageng Aras, Rangga mampu bergerak dari satu posisi ke posisi lain.

Mereka sama lincahnya, tapi sudah sekian lama mereka berkelahi, belum satu kalipun Rangga balik menyerang.

Bukan berarti Ki Ageng Aras merasa dirinya di atas angin, justru sebaliknya pendekar tua itu merasa dipermainkan. Diam-diam di antara serangan-serangannya, secara sembunyi-sembunyi Ki Ageng Aras menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil merapal mantra dalam hati.

Setiap kali dia selesai merapal mantra, seulas warna kemerahan menyapu telapak tangan Ki Ageng Aras, dan hawa panas memancar keluar.

Sedikit demi sedikit, hawa panas semakin kuat memancar dari kedua telapak tangan Ki Ageng Aras. Sampai akhirnya seluruh lengannya dari siku sampai ujung jari merah membara.

Warna langit sudah mulai berubah kemerahan. Permukaan tanah di sekitar gapura Kademangan Jati Asih berlubang-lubang, porak poranda oleh gempuran Ki Ageng Aras. Hawa udara pagi yang harusnya dingin, terasa panas dan kering. Samar-samar tercium juga bau seperti daging terbakar.

Lengan baju Rangga, terlihat robek dan hangus di beberapa tempat. Serangan Ki Ageng Aras memang tidak ada yang telak mampir ke tubuhnya. Namun setiap kali dia terpaksa menangkis pukulan Ki Ageng Aras, lengannya yang bersentuhan dengan lengan Ki Ageng Aras terasa seperti tersengat besi panas.

Keringat sudah membasahi tubuh kedua pendekar itu, nafas mereka pun mulai memburu. Ki Ageng Aras yang berumur lebih lanjut, mulai kesulitan untuk mempertahankan kegarangannya, serangannya tak lagi sederas tadi. Tentu saja Rangga tidak mengijinkan pendekar tua itu mengambil nafas, ketika serangan Ki Ageng Aras mengendur, Rangga mulai nelancarkan serangan.

Tidak mudah bagi Rangga untuk mendaratkan serangan, karena dia harus berhati-hati dengan kedua lengan Ki Ageng Aras yang membara.

Namun Rangga tak kurang akal, serangannya berganti-ganti sasaran, terkadang mengarah ke bagian atas, dan seringkali pula mengarah ke kuda-kuda Ki Ageng Aras.

Seperti umumnya pendekar, otot-otot kaki Ki Ageng Aras pun liat seperti akar pepohonan, sementara tulangnya keras seperti batu karang. Meski demikian, tulang kaki Rangga pun tak kalah kerasnya. Jika di awal-awal pertarungan hampir-hampir tak terdengar suara benturan, saat ini tiap beberapa kali tarikan nafas, terdengar ledakan-ledakan kecil, akibat benturan antara kaki Rangga dengan kaki Ki Ageng Aras.

Setapak demi setapak, Ki Ageng Aras yang mulai terdorong mundur. Tulang keringnya terasa pedih dihajar tendangan Rangga. Kuda-kudanya mulai goyah.

Ki Ageng Aras yang tahu Rangga tak ingin membentur lengannya yang berbalutkan Ajian Gumbala Geni, tak lagi membiarkan kakinya beradu dengan kaki Rangga. Pendekar tua itu merendahkan kuda-kudanya dan mengadu tendangan Rangga dengan kedua lengannya yang memancarkan sinar kemerahan.

Jika sebelumnya Rangga menghindari lengan Ki Ageng Aras, kali ini pemuda itu memilih menahan pedihnya sengatan lengan Ki Ageng Aras, daripada menarik kembali serangannya.

Ki Ageng Aras pun dipaksa bertarung dengan kuda-kuda yang sangat rendah, sementara serangan Rangga datang dari berbagai arah dan memaksa pendekar tua itu untuk terus berpindah-pindah dengan posisi tubuh seperti itu.

Dalam satu kesempatan, kaki Ki Ageng Aras menginjak tanah yang berlubang, dan pendekar tua itu kehilangan keseimbangannya.

Tenaganya sudah jauh berkurang, saat dia kehilangan pijakan, kakinya pun tak kuat menahan gerak luncur tubuhnya. Ki Ageng Aras pun jatuh terduduk. Rangga tak menyia-nyiakan kesempatan, kaki-nya meluncur dengan deras menghantam pelipis Ki Ageng Aras.

Tubuh pendekar tua itu pun terpelanting berputaran.

Serangan-serangan Rangga tak juga berhenti menyambar setiap ruang yang terbuka dari pertahanan Ki Ageng Aras. Satu-dua kali Ki Ageng Aras mampu menangkis serangan Rangga, namun kedudukannya sudah tak lagi mantap.

Hantaman kaki Rangga membuat kepalanya terasa pening dan pandangan matanya nanar. Serangan-serangan Rangga tak mampu sepenuhnya dia ikuti. Semakin lama, semakin banyak serangan Rangga yang menghajar tubuh tua Ki Ageng Aras. Namun pendekar tua itu belum juga menyerah. Ki Ageng Aras bukan anak kemarin sore yang menangis dan berlari pulang hanya karena sedikit hajaran.

Sampai ketika sebuah pukulan Rangga menghajar tepat di ulu hatinya. Tanpa bisa ditahan, Ki Ageng Aras pun jatuh berlutut. Untuk beberapa saat, nafasnya terhenti dan Ki Ageng Aras harus berjuang untuk menguasai tubuhnya.

Kali ini Rangga berdiri menunggu, sambil mengatur nafasnya yang memburu.

Cukup lama Ki Ageng Aras terdiam dan mengatur nafas, menormalkan kembali fungsi kerja tubuhnya. Kedua pendekar itu sadar, dalam kondisinya saat ini, Ki Ageng Aras tidak akan mampu melawan sama sekali.

Ki Ageng Aras sudah siap menerima kematian, pasrah pada keadaan. Namun setelah beberapa tarikan nafas, Rangga tidak juga melancarkan serangan, pendekar tua itu pun tahu dia sudah lolos dari lubang kematian.

Atau lebih tepatnya, sejak awal memang tidak ada keinginan Rangga untuk merenggut nyawanya.

Ki Ageng Aras tidak menunggu sampai keadaan tubuhnya pulih benar. Saat dia merasa sepersepuluh tenaganya sudah kembali, pendekar tua itu pun membuka mata dan berdiri menegakkan badan. Meski kalah di bawah tangan lawan yang lebih muda, Ki Ageng Aras tak kemudian kehilangan kejantanannya. Matanya masih menyala dan suaranya masih terdengar tegas.

“Kau sudah menang …, pendekar tua ini tak mampu menyelesaikan tugasnya.”, ujar Ki Ageng Aras dengan ketenangan yang tak dibuat-buat.

“Namun harap Raden Rangga jangan salah mengerti, tak mampu bukan berarti Ki Ageng Aras akan jadi orang yang melupakan tugas dan sumpahnya. Selama Raden Rangga masih berada di luar Kademangan Jati Asih, tentu aku yang tua ini akan terus berusaha mengejar dan menghadang setiap gerak-gerik raden.” ucap pendekar tua itu dengan gagah.

Rangga tersenyum dan menjawab, “Tentu saja, tapi kali ini, mau tak mau Ki Ageng Aras harus menunggu tiga-empat hari sebelum mengejarku lagi.”

Ki Ageng Aras tersenyum kecut, kenyataan memang tak selalu sejalan dengan niatan hati. Rangga yang berdiri di depannya sudah bernafas dengan normal. Meski pakaiannya masih basah oleh keringat, namun tenaganya sudah pulih kembali.

Sebaliknya Ki Ageng Aras harus mengakui, jangankan berlari cepat mengejar Rangga. Untuk berlari kecil-kecil saja saat ini dia sudah tak mampu, dan kira-kira besok pagi, sekujur badannya akan mengerang kesakitan setelah otot-ototnya dipaksa mengerahkan tenaga berlebihan.

Ki Ageng Aras pun akhirnya terpaksa menerima kenyataan itu, “Jika sampai seminggu Raden Rangga belum kembali ke rumah. Aku pasti akan mencari raden sampai ketemu.”

Rangga menganggukkan kepala, “Kuharap semua urusanku akan selesai kurang dari seminggu.”

Ki Ageng Aras menengok melihat langit yang sudah bertambah terang, sebentar lagi orang akan mulai lalu lalang, melewati tempat itu.

“Kau pergilah sekarang. Semoga Sang Hyang Esa menyertaimu.”, ujar Ki Ageng Aras.

“Semoga ki, semoga...”, Rangga menjawab dengan hikmat, sebelum berbalik pergi dan dalam hitungan yang tak sampai sepeminuman teh, sudah menghilang dari pandangan mata Ki Ageng Aras.

Ki Ageng Aras masih berdiri di tempat itu untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian sambil tertatih-tatih dia berjalan menuju ke tempat dia bernaung, mengawasi perbatasan Kademangan Jati Asih, selama ini.

Sembari dia berjalan, terngianglah kembali titah Prabu Anglang Bhuanna ketika itu.

“Ki Ageng Aras, aku memberi tugas padamu. Sepanjang kau masih hidup, kau harus menjaga Rangga. Jangan biarkan dia selangkah pun meninggalkan Kademangan Jati Asih.”

“Bila kelak anak itu sudah beranjak dewasa dan hendak meninggalkan Kademangan Jati Asih, maka tugasmu untuk menghentikan dia. Jika tak bisa dengan kata-kata, hentikan dengan kekuatan. Jika kau tak bisa menghentikannya, maka ikuti dia ke mana pun dia pergi, jangan pernah lepaskan dia dari pengawasanmu.”

“Akan tetapi sebaliknya, bila ada orang yang datang memasuki Kademangan Jati Asih dengan niatan buruk, maka tugasmu pula untuk menghentikan orang tersebut.”

Langkah kaki Ki Ageng Aras pun terhenti, tiba-tiba seakan-akan ada secercah cahaya yang melintasi benaknya.

'Apakah aku salah memahami titah Gusti Prabu?', tanya Ki Ageng Aras dalam hati.

Ki Ageng Aras memandangi ujung jalan, tempat di mana sosok Rangga menghilang dari pandangan mata. Jantung-nya mulai berdebar-debar.

'Apakah aku salah memahami titah Gusti Prabu?', sekali lagi Ki Ageng Aras bertanya dalam hati.

Untuk sejenak, pendekar tua itu ingin berlari menyusul Rangga. Namun dadanya yang terasa nyeri setiap kali dia menarik nafas menyadarkan dia.

Sambil menggertakkan rahangnya dan tangan terkepal kuat, pendekar tua itu mendesis, “Satu minggu lagi... satu minggu lagi Rangga. Jika kau belum juga pulang dalam waktu satu minggu itu, sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu.”

-------

Sementara Ki Ageng Aras bergumul dengan pikiran dan kenangannya sendiri, Rangga sudah jauh meninggalkan Kademangan Jati Asih. Sengaja dia memilih untuk memotong jalan, meski harus melewati daerah-daerah yang tak dihuni manusia.

Waktunya tak banyak, pada Ki Ageng Aras dia berjanji akan kembali dalam waktu satu minggu. Dengan berkuda saja, tak cukup waktu empat hari untuk menempuh jarak dari Kademangan Jati Asih ke ibu kota Kerajaan Watu Galuh. Namun Ki Ageng Aras bisa mengira-ngira ilmu apa saja yang ada dalam diri Rangga. Bagaimana pun juga ayahnya adalah seorang raja yang terkenal akan kesaktiannya di medan perang.

Seharian Rangga terus berlari. Beberapa kademangan sudah dia lampaui, ketika malam tiba, dan di depannya kali ini menanti hutan yang lebat.

Rangga tidak sedikitpun mengurangi kecepatannya berlari. Dalam hitungan detik, dia sudah memasuki hutan yang lebat itu. Tiba-tiba ketika dia melewati sebuah pohon beringin besar, satu sosok hitam menyambar dari puncak pohon. Sepasang tangan dengan sepuluh jari terbuka lebar siap mencengkeram pundak Rangga.

Ibukota kerajaan masih beberapa hari jauhnya. Masih ada banyak hutan dan wilayah-wilayah angker yang harus Rangga lewati. Mampukah dia menepati janjinya pada Ki Ageng Aras?

Bersambung ke Bab IV
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
baronfreakz dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
13-07-2020 18:53
Pertamax...lanjuttttt
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
13-07-2020 20:02
gelar karpet nunggu part selanjutnyaa...
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
13-07-2020 23:46
Ikut nenda gan....

Fiksi apa ya??
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
14-07-2020 19:11
Hitam rambutmu, menari-nari ditiup angin senja.
Berlarian darah dalam nadiku, menyeru puisi-puisi cinta.
Detak-detak jantungku seperti deburan ombak di lautan, mengguncang-guncang kesadaranku.
Duh dinda pujaan, aku oleng hilang keseimbangan karena dirimu.

Tembang cinta Raden Panca Kapingpitu


Bab 4
(Setan-Setan Di Pegunungan)


Sepasang tangan yang terbuka lebar itu tinggal seruas jari saja dari pundak Rangga, ketika tiba-tiba tubuh Rangga menggeliat, melepaskan diri. Bau badan yang tajam menyengat hidung Rangga, saat bayangan itu lewat di sisinya.

“Eh!”, bayangan hitam itu terkejut.

Namun gerakan dan reaksinya tak kalah cekatan dari Rangga, kakinya menjejak batang pohon dan tubuhnya kembali meluncur ke arah Rangga.

Kali ini Rangga sudah bersiap, disambutnya serangan lawan dengan pukulan yang tak kalah cepat. Bayangan hitam itu, tak menarik serangan, sengaja ia ingin membenturkan telapak tangannya dengan tinju Rangga, menjajagi tenaga lawan di depannya.

“DUG!”

Keduanya mundur tersurut beberapa langkah. Bayangan hitam itu terkejut merasakan tenaga lawan yang masih muda. Matanya tajam mengamati lawan. Rangga terlihat tenang, menantikan serangan selanjutnya.

“Jangan pongah, aku hanya mengerahkan sedikit tenaga saja.”, dengus bayangan hitam itu kesal.

Rangga tertawa kecil, “Sama.”

Karena berhenti bertarung sejenak, Rangga jadi bisa mengamati lawannya kali ini. Dalam gelapnya hutan, tidak banyak yang terlihat, hanya rambut yang panjang sampai ke pinggang dibiarkan terurai menutupi sebagian wajahnya. Badan-nya yang gemuk dan gempal, tak sesuai dengan kecepatannya bergerak.

Mendengar jawaban Rangga yang terasa meremehkan, bayangan hitam itu menggeram marah, “GRRRR... bocah gemblung, kurobek mulutmu!”

Sekali lagi dia menyerang, dalam setarikan nafas saja, dua sampai tiga kali telapak tangan mereka beradu. Bayangan hitam itu memang cepat, tapi Rangga tak kalah cepat. Lengannya keras seperti baja, namun tangan Rangga tak kalah pula kerasnya.

Beberapa kali mereka beradu gebrakan, bayangan hitam itu bergerak semakin cepat. Rangga bisa merasakan, bayangan hitam ini seorang pendekar yang ahli dalam pertarungan jarak dekat. Cengkereman tangannya mengancam titik-titk persendian Rangga. Jika dia terus mengikuti irama lawan, niscaya dia akan mengalami kekalahan.

Lagipula Rangga sudah memastikan apa yang ingin dia pastikan.

Dalam satu kesempatan, Rangga berhasil melepaskan diri dari libatan lawan. Tubuhnya menyurut mundur dengan cepat. Tangannya merogoh ke saku bajunya.

Bayangan hitam itu baru saja hendak memburu kembali Rangga dan bertarung dalam jangkauan yang dia suka, ketika Rangga melemparkan pisau kecil ke arahnya. Jantungnya serasa turun ke perut, menerima serangan yang mendadak itu.

“Pengecut!”, serunya sambil melompat surut ke depan.

Tangannya bergerak cepat melindungi dada, namun sekejap kemudian dia tertawa, “Wha ha ha... bocah ingusan, kau belajarlah lagi sepuluh tahun melempar senjata rahasia. Seranganmu tak ubahnya permainan gundhu anak kecil.”

Pisau kecil itu menyambar terlalu lemah, dan mudah saja bagi bayangan hitam itu untuk menangkap gagangnya. Serangan gelap Rangga, tak sedikitpun membahayakan nyawa bayangan hitam itu.

Bayangan hitam itu pun sedang bersiap melontarkan ejekan lain, ketika jari-jarinya merasa ukiran pada gagang pisau itu. Dadanya seperti digedor palu godam. Bayangan hitam itu tertegun memandangi pisau kecil yang ada di tangannya. Sesekali dia melemparkan pandangan ke arah Rangga yang berdiri dengan tenang, membiarkan dirinya mengamati pisau kecil itu.

Hutan itu terlalu lebat, sinar rembulan hampir-hampir tak menembus tebalnya pepohonan. Keduanya mampu bertarung dalam gelap, membuktikan ketajaman rasa dan panca indera mereka. Setelah meraba ukiran pada gagang pisau kecil itu, barulah bayangan hitam itu terbuka pikirannya. Jika sebelumnya dia hanya berpikir untuk menyerang, sekarang barulah dia bisa menyadari kelebihan-kelebihan lawan di depannya itu dari kebanyakan orang.

Berulang kali dia mengamati pisau itu, jari-jarinya cukup peka untuk merasakan ukiran di gagang pisau.

Namun hatinya masih terasa gamang. Sudah dua puluh tahun lebih dia menanti di hutan ini. Dua puluh tahun dalam ketidak pastian. Hampir-hampir dia sudah lupa, untuk apa dia berada di hutan ini. Ketika kesadarannya sendiri semakin kabur oleh liarnya alam, kejadian malam ini benar-benar menggoncangkan batinnya kembali pada budi yang lama dilupakan.

Ragu-ragu bayangan hitam itu bertanya, suaranya pun terdengar hormat, hilang sudah kejumawaan-nya yang tadi dipertontonkan, “Bolehkah.... bolehkah hamba menyalakan api?”

“Tentu saja.”, jawab Rangga singkat.

Mendengar nada dan sikap bayangan hitam itu ketika bertanya, Rangga tahu, tujuannya sudah tercapai. Tanpa ragu dia berjalan mendekati bayangan hitam yang sedang berusaha menyalakan api itu.

“Kau perlu bantuan?”, tanya Rangga.

Laki-laki gemuk dengan rambut terurai panjang itu sedang berjongkok dan berusaha menyalakan seonggok daun-daun dan ranting kering.

“Tidak raden, tidak perlu.”, jawabnya.

Api belum sempat menyala, namun bayangan hitam itu tak lagi mempedulikan, baik batu api di tangannya, ataupun ukiran pada gagang pisau kecil yang menunggu nyalanya api.

Dilemparkannya kedua barang itu ke tanah, dan laki-laki itu berlutut memeluk kaki Rangga sambil menangis tersedu-sedu, “Raden Rangga... raden... raden....”

Rangga membungkuk dan memeluk laki-laki itu. Laki-laki itu memeluk kakinya begitu erat hingga dia kesulitan untuk mengangkat laki-laki itu berdiri. Akhirnya Rangga pun membiarkan laki-laki itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakinya. Rangga yang selalu bersikap masa bodoh, tak mampu menahan air mata. Bau badan menyengat yang menguar dari laki-laki itu sedikitpun tak dia rasakan. Dadanya terasa tercekat, memikirkan pengorbanan yang sudah diberikan atas nama kesetiaan.

Entah berapa lama dua orang laki-laki itu saling berpelukan di tengah hutan yang gelap.

Perlahan sedu sedan laki-laki itu pun mereda.

“Paman, bangkitlah. Bangun paman.”, ujar Rangga sambil mengangkat laki-laki itu berdiri.

“Bisa tertawa seluruh pendekar di Bhumi Adyatma jika mereka mendengar Senapati Bayu Bayanaka menangis tersedu-sedu seperti bocah kehilangan gundhu.”, sambung Rangga sambil menekan isakan yang ingin terlontar dari dadanya.

Senapati Bayu Bayanaka, malang melintang di dunia persilatan selama belasan tahun sebagai perampok tunggal, sebelum akhirnya takluk di tangan ayah Rangga. Prabu Jaya Lesmana waktu itu menangkapnya dalam satu pertarungan satu lawan satu. Bayu Bayanaka dihajar berhari-hari, diseret dari satu rumah ke rumah lain, dipaksa untuk melihat kerusakan dan penderitaan akibat perbuatannya.

Laki-laki sangar yang namanya ditakuti oleh seluruh penduduk Kerajaan Watu Galuh pada saat itu, ternyata seorang yang keras di luar, tapi lembut hatinya.

Terlalu panjang untuk diceritakan, bagaimana Prabu Jaya Lesmana menyelidiki masa lalu Bayanaka dan melihat setitik kebaikan dalam diri perampok ini. Namun sejak saat itu, Bayu Bayanaka menjadi satu dari sekian senapati yang rela mati demi Prabu Jaya Lesmana.

Kematian Prabu Jaya Lesmana menjadi pukulan yang berat bagi senapati ini. Daya hidupnya kembali terbakar, ketika Rangga mengumpulkan dan memberikan satu misi pada mereka yang setia pada ayahnya,

Dua puluh tahun lamanya tiga puluh orang senapati, dua orang rangga dan seorang tumenggung, menghilang dari keramaian dunia. Hidup dalam kesendirian, menunggu junjungan mereka, Pangeran Rangga, Putera Mahkota pewaris sejati Kerajaan Watu Galuh, putera tunggal dari junjungan mereka Prabu Jaya Lesmana, memanggil mereka keluar dari pengasingan.

Panggilan, yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi, dan mereka harus menghabiskan sisa hidup mereka dalam penantian yang sia-sia.

Rangga yang saat itu baru berusia dua belas tahun, tidak bisa membayangkan beratnya tugas yang dia berikan pada 33 orang yang setia pada ayahnya itu. Otaknya sangat cerdas bagi anak seumur dia, bahkan tidak kalah tajam dibandingkan pamanda-nya Pangeran Israya. Namun pengalaman hidupnya tidaklah banyak, hingga saat itu tak terbayang dalam benak Rangga, seberapa berat beban tugas yang dia perintahkan bagi seorang manusia.

Umumnya laki-laki, memiliki kebutuhan, dari tataran yang paling rendah seperti memenuhi kebutuhan nafsu badannya. Kemudian semakin beradab beranjak naik memiliki kebutuhan akan derajat, dan seterusnya sampai pada puncaknya kebutuhan untuk memiliki hidup yang bermakna.

Semua itu dia renggut dari mereka, atas nama kesetiaan dan nilai-nilai kekesatriaan.

“Maafkan aku paman.”, kata Rangga dengan sungguh-sungguh, matanya menatap lurus memandang Bayu Bayanaka.

Bayu Bayanaka yang sudah bisa menenangkan hatinya menjawab dengan tegas, “Tidak ada yang perlu dimaafkan raden. Perintah raden itu juga untuk kepentingan yang lebih besar.”

Rangga mengangguk-angggukan kepala, “Syukur kalau paman bisa mengerti.”

“Raden tidak perlu kuatir, kami semua menerima perintah raden dengan pikiran yang terang benderang dan nurani bersih.”, jawab Bayu Bayanaka tanpa ragu.

“Meski... kuharap mereka semua baik-baik saja.”, ujarnya lirih.

Wajah Rangga ikut berawan mendengar itu, “Semoga mereka semua baik-baik saja paman.”

“Sekarang apa rencana raden? Apakah sudah saatnya raden akan memimpin kita semua, mengangkat panji dan menghajar pergi baik Israya itu dari istana?”, tanya Bayu Bayanaka dengan berapi-api.

Rangga tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Bayu Bayanaka, “Tidak paman, untuk saat ini, cukup bila kita semua berkumpul dan menyiapkan diri. Sedikit kabar untuk paman, lima hari yang lalu Pamanda Israya sudah mangkat.”

“Mati!? Bagus! Bang...”, mata Bayu Bayanaka melotot dan mulutnya menyeringai, hendak tertawa lebar mendengar kematian Prabu Anglang Bhuanna dan memaki-makinya sampai puas.

Namun Rangga buru-buru menyela Bayu Bayanaka, “Jangan maki-maki dia lagi paman, sepertinya ada yang perlu diluruskan lebih jauh tentang hal ini.”

“Apa maksud raden?”, gerutu Bayu Bayanaka.

“Dengarkan aku baik-baik paman. Selama dua puluh tahun ini aku sudah menimbang-nimbang, menyelidiki dan mencari berita. Menurutku kecurigaan kita pada Pamanda Prabu Anglang Bhuanna itu sudah salah tempat.”, Rangga berusaha menjelaskan.

Wajah Bayu Bayanaka berkerut-kerut, terlihat jelas dia tidak bisa menerima penjelasan Rangga tersebut. Namun yang di hadapannya itu adalah junjungannya, tak sampai hati dia menyanggah.

“Aku tahu, ini sulit diterima. Tapi, yang penting sekarang tugas paman adalah membantuku untuk memanggil yang lain dan menungguku di sekitaran Kademangan Jati Asih. Jangan membuat gerakan apa-apa, sampai aku kembali pulang ke sana.”, ujar Rangga dengan tegas.

Waktunya tidak banyak, dengan bergegas dia menjelaskan rencana perjalanannya menuju ke ibu kota, dan siapa saja yang akan dia temui sepanjang perjalanan itu. Sementara sisanya, merupakan tugas Bayu Bayanaka untuk mengatur bagaimana menyampaikan pesan dari Rangga.

“Ingat paman, begitu kalian berkumpul di sekitar Kademangan Jati Asih, jangan terburu memunculkan diri. Tunggu isyarat dariku.”, Rangga menegaskan sekali lagi, dia teringat akan Ki Ageng Aras yang juga berdiam di sekitar Kademangan Jati Asih.

“Jangan kuatir raden, menunggu dua puluh tahun sudah kami lewati, masakan rusak hanya karena tak mau menunggu beberapa hari?”, jawab Bayu Bayanaka sambil menyeringai, denyut kehidupan mengaliri kembali darahnya yang sudah lama mendingin.

“Bagus.”, jawab Rangga pendek.

Malam itu juga Rangga meninggalkan Bayu Bayanaka, sepanjang perjalanan satu per satu orang-orang yang dia kirim untuk menjadi setan-setan di pegunungan dia bangunkan dari mimpi buruk mereka. Selama tiga hari Rangga menempuh perjalanan sampai ke ibu kota, pesannya pun menyebar dengan cepat seperti api yang merambat di padang rumput yang kering.

Tidak semua pengikutnya mengasingkan diri sendirian. Ada yang membawa keluarganya, ada yang membawa orang kepercayaan, dan ada pula yang dalam dua puluh tahun itu diam-diam mengumpulkan pengikutnya sendiri.

Ketika kaki Rangga akhirnya menginjak ibu kota Kerajaan Watu Galuh, nun jauh di berbagai sudut kerajaan, bergerak setan-setan dari pegunungan.

Rangga menatap istana yang menjulang di tengah-tengah bangunan yang lain.

“Aku pulang...”, ucapnya setengah berbisik.

Bersambung ke Bab 5
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 8 lainnya memberi reputasi
8 1
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
14-07-2020 19:42
Makin menarik emoticon-nyantai
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 7 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
14-07-2020 20:26
mantap bikin penasaran 😁 lanjukan gan
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
15-07-2020 10:34
dibikin komik nya gan biar lebih mantep
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
15-07-2020 12:23
Mantap ceritanya gan, ditunggu kelanjutannya👍
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
15-07-2020 12:29
Mantap Kang ceritanya...seakan kita bisa merasakan hidup di jaman itu
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
15-07-2020 16:40
bagus cerita nya ini, menunggu lanjutan nya...
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
16-07-2020 00:56
Hujan malam itu diiringi angin yang kencang. Langit nampak gelap gulita karena ditutupi awan tebal. Api obor bergoyang menerangi sebuah kuil kecil sebelum dimatikan oleh hempasan air hujan.

-Penggalan cerita Papat Pingpitu


Bab 5
(Patih Nandini)


Taman Nawa Kama, Keraton pribadi Prabu Jannapati, Kerajaan Watu Galuh. Luasnya beberapa hektar, dikelilingi tembok tebal setinggi dua kali orang dewasa. Pada bagian terluar mengelilingi bangunan utama, adalah barak dari 500 prajurit pilihan yang siap mati demi Pangeran Puguh yang sekarang bergelar Prabu Jannapati.

Sepanjang dinding tembok pembatas, setiap beberapa puluh meter berdiri menara penjaga, dengan setidaknya dua orang prajurit di dalamnya.

Setiap waktu, selalu ada dua belas regu prajurit, masing-masing regu beranggotakan sepuluh orang prajurit, dipimpin seorang lurah prajurit.

Total keseluruhan kesatuan di Taman Nawa Kamma, terdapat lima ratus orang prajurit, terbagi menjadi 50 kelompok kecil yang masing-masing dipimpin seorang lurah prajurit. Kemudian 50 kelompok itu dibagi menjadi dua, bagian luar dan bagian dalam, masing-masing dipimpin oleh seorang bekel.

Yang memimpin mereka semua adalah Senapati Arya Penggiling, yang bertanggung jawab langsung pada Prabu Jannapati.

Meski gelarnya hanyalah seorang senapati, tapi seorang tumenggung pun tidak berani menghalangi tugasnya. Selain Prabu Jannapati, hanya Patih Nandini yang punya hak untuk memberinya perintah.

Di bagian terdalam Taman Nawa Kama, terdapat sebuah danau kecil buatan, dengan taman yang diatur asri di sekelilingnya. Di sisi barat danau itu, dibangun sebuah pendapa kecil tak berdinding. Bau harum bunga samar-samar tercium seiring hembusan angin yang bertiup melewati pendapa itu.

Suara kicauan ratusan burung yang dilepas hidup bebas di antara pepohonan dalam taman itu, mengiringi dengus nafas seorang lelaki bercampur desah manja seorang wanita, di latar belakangi derit amben yang bergoyang berirama.

Sepasang kaki yang jenjang padat berisi, melingkar di pinggang Prabu Jannapati. Kulitnya yang putih membentuk kontras dengan kulit Prabu Jannapati yang gelap. Tubuh yang tampak lunak dan rapuh di bawah serangan tangan liar Prabu Jannapati itu meronta menggoda, diiringi erangan, menggetarkan hati Prabu Jannapati.

Tubuh-tubuh ramping, kulit yang putih dan kaki yang jenjang, khas wanita dari tanah seberang, memabukkan Prabu Jannapati dengan kecantikan dan kegenitan mereka. Sepasang kakak-beradik, hadiah dari utusan khan yang agung.

Di sekeliling pendapa itu, berbaris puluhan penjaga membelakangi pendapa. Raut wajah mereka yang keras, tak berubah sedikitpun meski telinga mereka mendengar erangan yang bisa membangkitkan nafsu dan bayangan yang liar.

Mata dan telinga mereka tertutup dari segala apa yang terjadi di dalam pendapa. Tugas mereka hanya satu, memastikan tidak ada orang atau apapun mengganggu Prabu Jannapati menyelesaikan “tugas”nya.

Pada saat Prabu Jannapati sedang menunaikan “tugas”, Rangga sedang duduk menikmati kopi hangat di salah satu bangunan dalam istana, tempat abdi dalem tinggal. Bajunya sudah berganti dengan baju yang meskipun bukan baju yang mewah, tapi jauh lebih baik dari yang biasa dia pakai. Rambutnya yang panjang sedikit basah, tersisir rapi. Tidak terlihat bahwa sebelumnya dia menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam.

Sepasang suami isteri yang sudah sangat tua, dengan telaten meladeni pemuda itu. Wajah kedua orang tua mengamati setiap gerak-gerik Rangga penuh perhatian.

“Bagaimana den? Kata orang itu namanya kopi, orang-orang berkulit pucat itu membawanya dari negeri dewa-dewa berasal.”, kata kakek tua.

“Pahit kan ya den? Tapi tumenggung-tumenggung, bahkan katanya Patih Nandini, setiap hari pasti menyempatkan diri untuk minum kopi itu.”, sambung isterinya.

“Hmm... pahit kek, nek, tapi ditambah gula aren jadi pas rasanya.”, jawab Rangga sambil menyisip kopi itu dengan nikmatnya.

Kakek dan nenek itu pun tersenyum senang mendengar jawaban Rangga.

“Kalau Den Rangga mau, kakek menyimpan satu kantung penuh kopi yang sudah digoreng dan digiling, jadi tinggal diseduh saja pakai air panas.”, ujar kakek tua itu dengan bersemangat.

“Jangan kek, nanti kalau ada yang memeriksa gudang, kakek bisa kena masalah.”, ujar Rangga menggelengkan kepala.

“Jangan kuatir den, yang ini tidak bakal ketahuan. Setan tua ini mengumpulkan kopi ini sedikit-sedikit setiap ada pengiriman baru dari orang kulit pucat itu. Nanti kalau sudah terkumpul sekantung kecil, ditukarnya kopi lama itu dengan sekantung kecil kopi yang baru datang. Lama kelamaan terkumpul cukup banyak juga.”, sahut si nenek sambil terkekeh.
“Hmm... pokoknya raden jangan kuatir. Aman den.”, timpal suaminya dengan mata berbinar.

“Hahahaha, baiklah kalau begitu. Aku akan menikmati hasil perjuangan kakek ini dengan penuh rasa syukur.”, tertawa dan mengacungkan jempol pada kakek itu.

Sepasang kakek dan nenek itu pun terlihat senang dan bangga, bisa melakukan sesuatu untuk Rangga.

“Jadi sudah sejak beberapa hari ini Adimas Puguh mengurung diri dalam Taman Nawa Kamma?”, Rangga bertanya, waktunya tak banyak dan meskipun dia menghargai sepasang suami isteri tua tersebut, tapi kedatangan-nya kali ini bukan untuk sebuah silaturahmi.

“Benar den, pertama-tama Pangeran Puguh mengundang beberapa orang adipati untuk menemui dirinya dalam sebuah pertemuan tertutup. Keesokan harinya dia mengumpulkan sekalian pejabat dan mengumumkan bahwa dirinya akan menutup diri, tirakat selama dua minggu dalam Taman Nawa Kama.”, kakek tua itu menjelaskan.

Isterinya mendengus dengan nada mengejek, saat si kakek mengatakan Pangeran Puguh bertirakat di dalam Taman Nawa Kama. Rangga tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak nenek tua itu. Lalu mengangguk ke suaminya untuk meneruskan cerita.

“Selang beberapa hari kemudian satuan-satuan pasukan dari kadipaten-kadipaten, yang adipatinya diundang dalam pertemuan tertutup itu satu per satu mulai berkumpul, mendirikan perkemahan di sekitaran ibu kota.”, demikian kakek tua itu menyelesaikan laporannya.

Rangga mendesah panjang, wajahnya tampak muram. Sambil berpikir, disesapnya kopi yang masih hangat. Kedua pasang suami isteri tua itu tak berani mengganggu Rangga yang sedang termenung-menung itu.

“Kakek bilang, Patih Nandini selalu mendatangi Taman Nawa Kamma setidaknya satu hari sekali?”, Rangga keluar dari lamunannya dan bertanya.

“Benar raden, setelah selesai segala urusan pemerintahan, tentu di akhir hari Patih Nandini akan menyempatkan diri menemui Pangeran Puguh.”, jawab kakek tua.

“Hmm... baiklah, aku akan mencoba menemuinya.”, Rangga mengambil keputusan.

“Hati-hati raden, Patih Nandini adalah orang yang pilih tanding, dan dia juga sangat setia pada Pangeran Puguh.”, kakek tua itu terkejut mendengar keputusan Rangga.

“Benar den, menurut cerita yang kami dengar, saat Patih Nandini masih remaja, dia terlunta-lunta di sebuah kadipaten. Mengemis di jalanan... dan Pangeran Puguh-lah yang menolong dan mengangkat derajatnya.”, isterinya menimpali.

“Bagi Patih Nandini, Pangeran Puguh sudah seperti orang tuanya sendiri.”, suaminya menambahkan.

“Jangan kuatir kek... nek... itu artinya dia orang yang tepat untuk kutemui.”, Rangga bangkit berdiri dan menenangkan mereka dengan senyumannya.

Rangga berjalan hendak keluar rumah dari pintu belakang. Sepasang suami dan isteri yang sudah renta itu mengikutinya dengan hormat. Mata si nenek tua, terlihat berkaca-kaca. Suaminya meremas tangan si nenek, dan menepuk-nepuk punggungnya lembut.

“Oh ya, haha, sebelum aku lupa, mana kopinya kek. Mungkin aku akan segera kembali ke Kademangan Jati Asih setelah aku bertemu dengan Patih Nandini, tanpa sempat menemui kalian kembali.”, ketika hampir sampai di pintu.

“Ah ya benar, bagaimana aku bisa lupa. Nek, cepat ambilkan kopinya.”, ujar si kakek sambil menepuk kepala.

“Oalah, ki ki... kamu sekarang jadi pelupa.”, ujar isterinya sambil terkekeh, bergegas pergi ke dalam untuk mengambil kopi yang diminta Rangga.

Ketika nenek itu sedang pergi ke dalam kamar, Rangga berkata dengan suara rendah, “Kek... aku berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah, pecah perang antar kerabat, namun menilik sifat Adimas Puguh, hal itu akan sulit dihindari.”

“Lalu bagaimana den?”, kakek itu bertanya dengan nada prihatin.

Rangga terdiam beberapa lama sebelum menjawab, “Aku tidak tahu kek... kali ini aku tidak bisa memikirkan jalan yang terbaik. Jika kakek dan nenek pergi dari ibukota, bisa jadi hal itu justru mengundang kecurigaan Dimas Puguh dan membawa petaka bagi kalian, tapi...”

Kakek itu dengan tangan bergetar menyentuh lengan Rangga, “Raden, biarkan kami yang membuat keputusan. Sama seperti dua puluh tahun yang lalu, ketika raden bertanya pada kami.”

Rangga memandangi wajah laki tua renta itu. Gurat keriput sudah memenuhi wajahnya, satu-dua noda-noda gelap menghiasi kulitnya yang terbakar matahari. Namun wajah kakek itu terasa berpendar dengan kedamaian yang memancar dari dalam batinnya.

“Aku berhutang banyak pada kalian berdua.”, desah Rangga sedih.

“Hahaha, tak sebanyak hutang kami pada ayah dan ibu raden. Lagipula kami sudah renta, seberapa panjang lagi kami masih hidup, tidak terlalu banyak bedanya.”, ujar kakek tua itu dengan ringan.

“Benar kata dia itu den... justru raden yang masih muda, masih menyimpan banyak harapan dan menanggung banyak tugas yang harus menjaga diri raden baik-baik. Jangan mengambil tindakan yang membahayakan diri raden”, sambung isterinya yang berjalan keluar sambil membawa sekantung kopi di tangan.

“Hahaha... nenek tak perlu kuatir, di seluruh Bhumi Adyatna ini, tidak ada yang bisa menyentuhku seujung kuku-pun tanpa aku kehendaki.”, Rangga tertawa menyombongkan diri, bola matanya bergerak kocak, menggoda si nenek.

Nenek tua itu berusaha tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling berpandangan saja. Tak ada kata yang bisa terucap.

“Aku pergi...”, akhirnya Rangga berpamitan.

Kemudian sambil mengangkat kantung kopi di tangannya dia tertawa, “Hahaha, aku sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya minum kopi ini di pagi hari, sambil teringat dari mana kopi ini berasal. Hahaha, kakek, sesekali kau campurkanlah tai kering tikus dalam biji kopi mereka.”

Bagi Rangga tak sulit melompati tembok halaman belakang yang tak seberapa tinggi itu, dan dengan cepat dia menghilang di antara lorong rumah-rumah panjang. Mereka yang tinggal di perkampungan kecil ini hanyalah abdi dalem istana biasa, tidak ada yang bisa melihatnya di luar kemauannya.

Ketika Rangga sudah pergi beberapa lama, terdengar suara nenek tua itu terisak.

“Lho lho, kenapa nyi... jangan ditangisi Den Rangga sudah tumbuh besar, jadi laki-laki yang tanggon. Tidak ada yang perlu ditangisi.”, ujar suaminya berusaha menghibur.

“Oalah ki...ki... seluruh kerajaan ini mestinya itu jadi milik dia, tapi sekarang dia cuma pergi bawa kopi. Piye to ki... ki..”, nenek itu berkata sambil menangis sesenggukan, suaminya hanya bisa memeluk isterinya, sambil mengusap air mata yang menetes.

Tiba-tiba si kakek menggeram dan berlari ke dapur.

“Ki.. ki... mau apa kamu?”, isterinya terkejut dan heran.

“Mau cari tai kering tikus, buat kucampur ke kopi untuk pejabat-pejabat tak punya malu itu.”, sahut si kakek dari dalam dapur.

Isterinya pun bergegas memburu ke dalam sambil mengomel, “Ngawur... ngawur.. Den Rangga itu cuma guyon. Jangan sembarangan cari masalah.”

-----

Patih Nandini hanya ditemani dua orang pengawal pribadi, ketika dia meninggalkan gedung balai pertemuan dan pergi berjalan kaki menuju Taman Nawa Kama. Usianya masih sangat muda bagi seorang yang menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah kerajaan. Sebagai seorang patih, bisa dikatakan seluruh kekuasaan pemerintahan ada di tangannya, hanya Prabu Jannapati yang punya hak untuk mengoreksi atau membatalkan keputusannya.

Wajahnya cakap dan berwibawa, tubuhnya tinggi tegap berisi. Kemampuannya dalam bermain politik sudah teruji saat Pangeran Adiyasa berusaha mengambil alih kedudukan Prabu Jannapati sebagai putera mahkota. Kemampuannya dalam tata pemerintahan juga sudah dia tunjukkan selama beberapa minggu ini dia menjalankan tugas. Hanya dalam hal ilmu kanuragan, yang belum pernah sungguh-sungguh teruji.

Di tengah perjalanan, Patih Nandini melihat seorang abdi dalem sedang membawa tongkat kayu dan berusaha meraih sebuah sarang tabuhan yang tergantung di satu ranting pohon yang tinggi. Beberapa ekor tabuhan terlihat keluar masuk sarangnya, tapi untung tongkat kayu itu belum sampai kena ke sarang mereka.

“Hei!”, seru Patih Nandini pada laki-laki itu.

Mendengar seruan-nya laki-laki itu pun berhenti, dan ketika dia melihat bahwa yang memanggilnya adalah Patih Nandini, maka buru-buru dia berlari mendekat sambil memberi hormat.

“Jangan kau lakukan itu. Apa kau tidak tahu bahayanya mengganggu tabuhan?”, tanya Patih Nandini.

“Apa bedanya dengan tawon biasa?”, tanya laki-laki itu.

“Tentu saja beda, sengat tabuhan jauh lebih berbahaya, lagipula mereka bisa menyengat berkali-kali, tidak seperti tawon biasa. Jika tidak mengganggu, sebaiknya biarkan saja.”, jawab Patih Nandini dengan sabar.

“Mengganggu sih tidak, tapi bikin sepet mata kalau melihatnya.”, sahut laki-laki itu sambil nyengir lebar.

“Dasar tidak tahu sopan santun, kau tahu sedang bicara dengan siapa!?” Salah seorang pengawal Patih Nandini kehilangan kesabaran, tangannya sudah bergerak seperti hendak menarik senjata di pinggang, membuat laki-laki yang ditegur itu, menyurut mundur ketakutan dan jatuh terduduk di tanah.

Patih Nandini dengan tangkas menangkap pergelangan tangan pengawalnya itu. “Tahan.”

Kemudian berbalik ke arah laki-laki yang terduduk di tanah itu, Patih Nandini berusaha menenangkan dia, “Tidak usah takut, tidak ada apa-apa. Hanya saja sebaiknya kau mendengarkan nasihatku, biarkan tabuhan itu hidup dengan tenang, jangan kau ganggu.”

Dengan terbata-bata, laki-laki itu menganggukkan kepala berkali-kali sambil mengiyakan, “Baik den, benar den, kalau tidak mengganggu ya jangan diganggu. Toh tabuhan itu diam saja di sarangnya, tidak mengganggu aku. Kalau aku ganggu, justru nanti disengatnya aku.”

Patih Nandini tersenyum, “Benar, toh dia tidak mengganggumu, jadi kenapa kau membahayakan dirimu dengan mengganggu dia.”

“Benar den, benar sekali, bodoh sekali aku tadi. Buat apa aku mengutak-atik tabuhan yang tidak bersalah apa-apa itu.”, keluh laki-laki itu sambil memukul kepalanya sendiri.

“Tadi aku merasa terancam melihat sarang tabuhan yang besar itu. Lama-lama aku merasa sebal melihatnya,” ujar laki-laki itu berusaha menjelaskan.

“Hmm... tabuhan tidak akan menyengatmu, asal kau juga jangan mengganggu-nya. Sekarang pergilah, tidak usah kau usik lagi sarang tabuhan itu.”, kata Patih Nandini sembari memberi tanda pada laki-laki itu untuk pergi.

“Baik den.” Ujar laki-laki itu dengan hormat.

Patih Nandini dan kedua pengawalnya pun melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba dada Patih Nandini berdebar keras, sebuah ingatan berkelebat dalam benaknya. Buru-buru dia berbalik, namun laki-laki itu sudah tak terlihat. Wajah Patih Nandini terlihat tegang, matanya tajam berkeliling menyelidik, berusaha menangkap sosok laki-laki tadi. Kedua pengawalnya jadi ikut tegang melihat gerak-gerik Patih Nandini, dengan tangan siap di gagang senjata, mereka ikut mengamati keadaan di sekitar mereka.

“Apakah kalian bisa mengingat wajah laki-laki tadi?”, Patih Nandini menegakkan tubuhnya, matanya masih sesekali dengan tajam menyapu ke sekelilingnya.

“Laki-laki yang mana Ki Patih?”, salah satu pengawal balik bertanya, tapi baru saja dia selesai bertanya, wajahnya berubah menjadi pucat.

“Setan...”, desisnya marah, marah bercapur rasa takut.

“Bagaimana denganmu, kau juga lupa tentang laki-laki barusan?”, Patih Nandini bertanya pada pengawal yang lain.

Pengawal itu menggelengkan kepala, susah payah dia meneguk ludah dan menjawab, “Iya Ki Patih, jika Ki Patih tidak bertanya, tentu aku sudah lupa sama sekali.”

Kedua pengawal itu saling berpandangan, mereka bukan orang yang tidak berilmu. Sebagai orang yang dipilih secara pribadi oleh Patih Nandini, tentu mereka memiliki kelebihan dibanding prajurit kebanyakan. Meski mereka lebih banyak menekuni ilmu kanuragan, dibanding menekuni ilmu kebatinan, tapi latihan-latihan yang mereka jalani membuat batin mereka cukup kuat.

“Apa kita perlu mencarinya Ki Patih?”, tanya mereka.

“Lupakan saja, orang itu sudah tidak ada di sini.”, ujar Patih Nandini menenangkan kedua pengawalnya.

Melihat mereka masih terguncang oleh peristiwa yang baru saja terjadi, Patih Nandini berkata pada mereka, “Orang itu tidak memiliki niat jahat terhadap kita, sehingga keberadaan-nya tidak memancing naluri pertahanan kita. Itu sebabnya dengan mudah dia bisa membuat kita larut dalam ilusi yang dia ciptakan.”

Kedua pengawal itu merasa sedikit lega mendengar penjelasan Patih Nandini. Meskipun demikian barulah ketika bersama Patih Nandini mereka meninggalkan tempat itu, mereka benar-benar merasa lega.

Sepanjang perjalanan, Patih Nandini tenggelam dalam benaknya sendiri, 'Siapa dia? Apa tujuannya mencegat kami tadi?'

Bersambung ke Bab VI
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
16-07-2020 01:40
********* BREAK NEWS *********
Sedikit informasi saja, apabila nanti Mahakala Yajna ini sudah sampai ke bab 10, TS berencana untuk mengadakan kuis kecil-kecilan.

Clue-nya ada menyebar dari bab 1-10.

Hadiahnya ya ada dikit.

Nantinya cm ada 1 pemenang, yang paling cepet post dengan jawabannya di trit yang nanti TS buat, itu yg dapat.

Lebih lengkapnya, nantikan saja setelah Mahakala Yajna sampai di bab 10.

Salam dan terimakasih.
emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
panjiam06 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
16-07-2020 01:47
Meskipun fiksi , kalo itu bermanfaat dan banyak hikmah kehidupan yg bisa diambil kenapa tidak ?
alur ceritanya bagus, yg paling penting , updatenya aja
kaya minum obat ya gan , 3*1 sehari
kwkkwkkwkkw
semoga tidak ad kentang diantra kita
balik lg jadi SR kegoa
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
16-07-2020 09:16
emoticon-Wakaka njir kopi campur tai tikus kering...saingannya kopi luwak ini mah
profile-picture
profile-picture
prayudo25 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
16-07-2020 21:25
Hembusan nafasnya membelai pipiku, anganku membara terbakar nafsu.
Nafasnya menyatu dengan nafasku. Detak jantungnya, detak jantungku.
Oleng sudah sendi-sendi keraton yang agung, dilanda ombak hawa nafsu.

Keluh kesah Papat Pingpitu


Bab VI
(Patih Nandini Menghadap Prabu Jannapati)


Percakapannya dengan laki-laki misterius itu masih berputar-putar dalam benak Patih Nandini saat dia menghadap Prabu Jannapati untuk melaporkan segala apa yang terjadi di hari itu.

Prabu Jannapati mendengarkan laporan Patih Nandini dari atas pembaringan. Tiga orang selir baru, hadiah seorang khan dari negeri seberang, dia biarkan menemani dia di pendapa itu. Dengan telaten mereka meladeni segala keperluan Prabu Jannapati. Meskipun ada Patih Nandini di depannya, baik Prabu Jannapati, maupun ketiga selir barunya tidak malu-malu menunjukkan sikap mesra.

“Cukup, cukup... tentang urusan sehari-hari Kerajaan Watu Galuh, aku percaya penuh padamu.” Prabu Jannapati melambaikan tangannya tak sabar, ketika Patih Nandini menyampaikan laporannya satu per satu. Hal itu sudah biasa terjadi, namun Patih Nandini tidak pernah berhenti menyampaikan laporan tersebut setiap harinya.

“Baik, baginda, hamba siap melaksanakan.”, jawab Patih Nandini dengan hormat.

“Bagaimana dengan persiapan rencana yang sudah aku perintahkan pada ke-empat adipati itu?”, tanya Prabu Jannapati.

Patih Nandini tidak segera menjawab, pandang matanya mengarah ke tiga selir yang ikut hadir di situ, lalu kembali menghadap ke arah Prabu Jannapati dengan tatap mata bertanya-tanya.

“Laporkan saja.”, kata prabu Jannapati singkat.

Patih Nandini dengan patuh menjawab, “Pasukan mereka sudah berkumpul di perbatasan ibu kota baginda. Hanya tinggal menunggu perintah terakhir dari baginda. Mereka ingin diberi kesempatan untuk bertemu dengan baginda sekali lagi, sebelum pergi menjalankan titah baginda.”

“Dasar penjilat mereka semua itu.”, dengus Prabu Jannapati kesal, “Malam ini juga, kau temui mereka, katakan perintahku tidak berubah. Jika mereka masih ragu, aku bisa meminta adipati yang lain untuk melaksanakannya.”

“Siap baginda...”, ada jeda keraguan dalam jawaban Patih Nandini.

Prabu Jannapati menangkap keraguan di mata Patih Nandini. Sebelum menjadi raja, Prabu Jannapati dikenal sebagai pangeran yang cerdas dan tegas, tapi angkuh dan keras kepala. Para pejabat istana dan adipati, tidak berani menentang apa yang menjadi keputusannya. Namun tidak demikian dengan Patih Nandini, Prabu Jannapati memperlakukan Patih Nandini sebagai orang yang berkedudukan sederajat dengan dirinya. Pendapat dan nasihat Patih Nandini, mendapatkan tempat khusus dalam pertimbangan-pertimbangan Prabu Jannapati.

“Nandini, kau tidak setuju?”, selidik Prabu Jannapati.

Patih Nandini mempertimbangkan apa yang sebaiknya dia sampaikan, pada akhirnya Patih Nandini memilih untuk menceritakan pertemuannya dengan lelaki misterius yang dia temui hari ini. Prabu Jannapati mendengarkan dengan seksama. Di tengah-tengah Patih Nandini bercerita, Prabu Jannapati menghentikan ceritanya sebentar. Dia usir pergi ketiga selirnya untuk kemudian meminta Patih Nandini melanjutkan.

“Demikian baginda.”, Patih Nandini menutup ceritanya.

Mata Prabu Jannapati berkilat-kilat, jarinya mengetuk-ngetuk tiang pendapa. Cerita Patih Nandini membuat dia bersemangat.

“Menurutmu, siapa orang itu?”, tanyanya.

“Mungkin salah satu pengikut almarhum Prabu Jaya Lesmana, bukankah mereka menghilang seiring dengan diasingkannya Pangeran Rangga Wijaya?”, Patih Nandini berkerut alis berusaha mengingat-ingat wajah laki-laki itu, namun ingatannya seperti tertutup kabut yang pekat.

Prabu Jannapati menggertakkan rahangnya, “Nandini... aku tidak suka ada orang yang mengancamku.”

“Baginda... selama ini mereka tidak pernah terlibat dengan politik kerajaan. Seperti yang dikiaskan--”, Prabu Jannapati memutuskan kata-kata Patih Nandini ketika dia berusaha mendebat Prabu Jannapati, di antara semua pejabat hanya dia yang berani melakukan hal itu.

“Mereka seperti sarang tabuhan yang tidak mengganggu, dan aku seperti orang bodoh yang mencari mati, mengganggu mereka, begitu? Begitukah maksudmu Nandini!?”, Prabu Jannapati menggeram marah.

Prajurit yang menjaga pendapa itu terlihat tegang. Wajah yang tak berubah sedikitpun mendengar percintaan Prabu Jannapati dan ketiga selirnya, berubah oleh nada kemarahan dalam geram Prabu Jannapati. Tangan-tangan mereka tanpa sadar menggenggam erat-erat tombak-tombak di tangan mereka.

Namun, Patih Nandini yang menjadi sasaran kemarahan Prabu Jannapati terlihat tenang, dia membungkuk dalam-dalam lalu berkata, “Demikianlah pendapat hamba, jika baginda tak berkenan, silahkan baginda cabut keris di pinggang baginda dan tebas leher hamba ini.”

“Nandini.... apa kau ingin mati!?, seru Prabu Jannapati gusar.

“Tentu saja tidak baginda.”, jawab Patih Nandini.

“Jadi mengapa kau menghalangiku untuk menghancur leburkan mereka yang berani menentangku Nandini !?”, tukas Prabu Jannapati dengan nada keras.

“Baginda sendiri tentu bisa menjawabnya, bahkan ayahanda baginda pun memilih untuk mengabaikan mereka. Pangeran Rangga terikat oleh sumpahnya, jika dia melanggar sumpahnya maka dia akan kehilangan dukungan dari para pengikut setia ayahnya. Sebaliknya jika kita melanggar titah yang sudah disabdakan ayah baginda, maka mereka yang selama ini dia bersembunyi entah di mana, akan bergerak, menimbulkan kekacauan di mana-mana.”, jawab Patih Nandini masih menundukkan kepala.

Ketika Patih Nandini merasa kemarahan Prabu Jannapati mereda, dengan hati-hati diangkatnya pandangannya melihat ke arah Prabu Jannapati.

“Aku tidak suka ada yang mengancam diriku Nandini.”, kembali Prabu Jannapati mengulangi kalimat itu, tapi kali ini nadanya tak lagi berapi-api.

Dalam ketenangannya, Prabu Jannapati justru lebih menyeramkan dibanding ketika dia dalam keadaan marah.

Patih Nandini menjawab, “Mereka ada di tempat yang gelap, sementara kita berada di tempat yang terang. Baginda juga baru saja menduduki takhta kerajaan, sebelum baginda berhasil menyatukan seluruh kekuatan di bawah tangan baginda, sebaiknya kita lupakan dulu mereka.”

“Bagaimana jika Rangga Wijaya menggunakan kesempatan ini untuk mencoba merebut kembali takhta kerajaan Watu Galuh?” Prabu Jannapati bertanya.

“Untuk melakukan itu, Pangeran Rangga harus mengumpulkan terlebih dahulu para pengikutnya yang setia. Mereka akan kehilangan satu-satunya keuntungan mereka saat ini. Di saat yang sama baginda juga memiliki alasan yang kuat, untuk mengerahkan pasukan dan membabat habis Pangeran Rangga Wijaya bersama pengikutnya.”, jawab Patih Nandini dengan lancar.

Jauh sebelum bertemu dengan Prabu Jannapati, pertemuannya dengan laki-laki misterius itu membuat dia berpikir panjang tentang kedudukan Rangga dalam peta perpolitikan Kerajaan Watu Galuh.

“Apakah kau juga berpikir bahwa aku harus membatalkan rencana itu?”, tanya Prabu Jannapati, kemarahannya yang tadi meledak-ledak tersapu bersih oleh penjelasan Patih Nandini.

Patih Nandini menggelengkan kepala, “Tidak baginda, hamba setuju dengan pendapat baginda tentang masalah itu.”

“Kalau begitu, kau temui empat kura-kura itu, suruh mereka bergegas menyelesaikan tugas yang kuberikan pada mereka. Jika tidak …. hmm.... kalau kepala mereka tak bisa digunakan untuk berpikir, tak ada gunanya lagi kepala itu menghiasi pundak mereka.”, mata Prabu Jannapati kembali menyala oleh kemarahan.

“Hamba laksanakan.”, jawab Patih Nandini singkat dan tanpa membuang waktu dia pun pergi melaksanakan perintah Prabu Jannapati.

-----

Malam itu, dari empat penjuru ibu kota terdengar teriak dan isak tangis. Warna merah membara mewarnai langit ibu kota Kerajaan Watu Galuh. Gedung-gedung terbakar, bau anyir darah memenuhi udara.

Sejarah di kemudian hari mencatat, malam itu tidak kurang dari enam ribu orang tewas oleh pedang.

Puluhan kuil-kuil tempat pamujan Dewa Siwa dibakar habis hingga rata ke tanah. Mereka yang dicurigai mendukung Pangeran Adiyasa untuk menjadi putera mahkota, tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup.

Dari luar pasukan dari empat kadipaten bergerak masuk dengan cepat dan rapi, menutup semua jalan untuk kabur. Dari dalam, pasukan chakra bhirawa yang berada langsung di bawah pimpinan Patih Nandini bergerak cepat membantai habis keluarga dan pengikut Rakryan Tumenggung Nayottama. Pemimpin dan tiang utama penyangga para pejabat yang mendukung Pangeran Adiyasa.

Malam itu Patih Nandini membuktikan kemampuannya dalam olah kanuragan. Tumenggung Nayottama dibantu dua orang senapati kepercayaan-nya tak mampu mengalahkan Patih Nandini yang bertarung sendirian.

Empat adipati yang mendapatkan kepercayaan dari Prabu Jannapati pun berlomba, secepat mungkin menyelesaikan pengikut-pengikut Pangeran Adiyasa yang lain, sesuai dengan daftar tugas yang mereka miliki masing-masing.

Mereka berharap dapat merebut hati Prabu Jannapati dengan menangkap Tumenggung Nayottama yang terkenal kesaktiannya, atau setidaknya membantu Patih Nandini menangkapnya.

Namun, ternyata ketika empat adipati itu sampai di tempat kediaman Tumenggung Nayottama, semuanya telah usai. Patih Nandini sedang duduk membelakangi kediaman Tumenggung Nayottama yang dihiasi lidah-lidah api menyala-nyala. Di depannya, berjajar rapi tiga buah kepala, kepala Tumenggung Nayottama dan dua orang senapati pengawalnya.

“Selesai?”, tanya Patih Nandini singkat.

Berdebar dada ke empat orang adipati itu. Patih Nandini jauh lebih muda dari mereka, tapi perbawa-nya mampu membuat mereka merasa gentar. Patih Nandini yang biasanya terlihat tenang, malam itu berubah seperti jelmaan Rahwana, garang, haus darah.

“Selesai Ki Patih.”, jawab Adipati Banyubiru, dia yang paling cepat mendapatkan kembali ketenangannya.

“Bagus... ikuti aku. Kita temui baginda prabu.”, Patih Nandini bangkit berdiri, tangannya dengan cekatan meraih ketiga butir kepala yang ada di depannya.

Sambil menenteng kepala Tumenggung Nayottama dan dua kepala yang lain, Patih Nandini melompat ke atas kudanya dan menderap menuju ke Taman Nawa Kamma. Ke empat adipati saling berpandangan sejenak, sebelum bergegas mengikutinya.

----

Saat itu semua terjadi, Rangga sendiri sedang berlari kembali ke Kademangan Jati Asih. Laki-laki misterius yang menemui Patih Nandini itu tentu saja adalah dirinya.

Setelah menemui Patih Nandini, Rangga segera pergi meninggalkan ibu kota. Malam itu, ketika di ibu kota terjadi pembantaian besar-besaran, Rangga sudah berada jauh di luar ibukota. Namun dari kejauhan dia masih bisa melihat, langit di ibu kota yang menyala merah membara.

“Gila... Dimas Puguh benar-benar sudah menjadi gila.”, desisnya menyaksikan hal itu.

Terkenang dia akan Pangeran Puguh yang masih kanak-kanak. Sejak kecil, wataknya keras, tak mau mengalah pada siapapun. Dalam hal itu, dia mewarisi watak ayahnya.

Rangga memandangi langit di atas ibu kota Watu Galuh yang berpendar merah dan mendesis, “Tapi Pamanda Israya, tidak akan pernah melakukan hal ini...Puguh.. kau bodoh!”

Sambil menggeram marah, Rangga membalikkan badan dan kembali berlari ke arah Kademangan Jati Asih. Tindakan Prabu Jannapati malam itu, meyakinkan Rangga, dirinya tak mungkin bisa menjejak bumi yang sama dengan sepupunya itu.

Selama dia masih hidup, Prabu Jannapati tidak akan tenang dalam tidurnya. Selama Prabu Jannapati hidup, maka dirinya dan orang-orang yang penting bagi dirinya, berada dalam bahaya. Ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak Rangga.

Apa peran Patih Nandini dalam pembantaian malam ini? Seperti apa hubungan Patih Nandini dengan Prabu Jannapati? Apakah dia hanya seorang patih yang tahu mengikuti perintah rajanya? Atau Patih Nandini dengan aktif membisikkan rencana-rencana ke telinga Jannapati?

Apa pula yang akan dilakukan Jannapati setelah ini?

Pikiran-pikiran itu berputaran dalam benak Rangga, tanpa bisa dia hentikan.

Bersambung ke Bab 7
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
krisnhawan dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
17-07-2020 11:41
Lamjuttt...jossss
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
17-07-2020 12:43
ijin bergabung gan, ceritanya bagus
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 2 dari 13
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
manusia-manusia-senja
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
santet-untuk-pelakor
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia