Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
703
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna
Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku, diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu. – saking penggalan tutur Kalih Pingpitu BAB I (Raden Rangga) Gbr diambil dr : islamidia.com Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara k
Lapor Hansip
11-07-2020 15:45

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 13 dari 14
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-09-2020 13:30
Thanks agan... ditunggu karya berikut nya
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-09-2020 17:15
Mantap updatenya bro
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-09-2020 17:15
Lanjut bab2 selanjutnya... Kemudian cetak jadi buku atau ebook bro
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
07-09-2020 09:58
mantaaap gaaaan, rencana reden rangga berhasil buat ngelewatin kabupatenn jambangan nyaaa kayak di film2, jagoo bett mikirnyaaa
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
09-09-2020 17:44
lanjut gannnn emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
10-09-2020 12:42
Belum dilanjut gan ceritanya?
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
17-09-2020 21:11
Roman2nya lama nih updatenya
profile-picture
profile-picture
lonelylontong dan onta890 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
17-09-2020 22:21
Wah, ceritanya menarik. Dulu pernah nulis cerita silat macam gini, tapi malah ganti fantasy anime jepang. Oh ya, kalau berkenan, silahkan mampir ke lapak cerita saya di : https://kask.us/iGS27
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prayudo23 dan 3 lainnya memberi reputasi
2 2
0
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
21-09-2020 12:17
Lanjut lagi pak bro emoticon-Angkat Beer
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
21-09-2020 14:12
cuma sebulan😑😑 "waktu itu babang ts mau cuti urusan RL, setelah itu aku akan hadir kembali bersama kalian"

Kini udah hampir 10 tahun, babang ts lupa akan janjinya 🤔

Babang ts juga melupakan tentang hijaunya daun kentang, kini daun daun itu memenuhi seluru pekarangan kaputren kerajaan Watu Galuh.. 🤔
Heeehee
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
28-09-2020 08:50
Agan-agan sekalian, sudah kenyang istirahat, ane siap2 mau nulis lagi.

Pertanyaannya :

Selain serial yg Mahakala Yajna ini, ane pingin nulis seri lain, yang lebih renyah aja dan nggak serius. Jadi ga main politik, ga main kerajaan, paling2 silat biasa aja.

Ada request tertentu atau nggak?

Kalau ada request tertentu, kita diskusi di depan deh, biar enak ane bikin plotnya.
emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
onta890 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
28-09-2020 11:29
Btw, ada yg punya ide ga ya?

Ini ane nulis cersil, itu berlipat-lipat makan waktu dan tenaga dibanding bikin trit biasa.

1 Plot-nya ga boleh kececeran, artinya antara nulis satu bab ke bab berikutnya, ga bisa sembarangan. Kalau trit biasa, sewaktu nulis ya cm mikir untuk yg lagi ditulis, ga perlu mikir sebelumnya bgmn dan nanti ke depannya bgmn.

2. 1 bab, biasanya cersil ini sekitar 1500-2000 kata, 1 trit itu cukup 2000 huruf/karakter. Jadi kira2 panjang 1 bab cersil = 3x lebih panjang dr 1 trit biasa (mungkin lbh).

3. 1 trit ini, yg isinya sekitar 60 bab, yg kalau dijadikan 1 trit sendiri2, mungkin bisa jadi 60-120an trit, jumlah viewernya cmn 17.8k viewer, padahal 1 trit yg mikirnya ga lama, bisa dapat viewer di atas 1K, bahkan di atas 10K.

Jadi kalau ane fokus cmn ngetrit biasa aja, cari2 topik, dsb; mungkin dgn usaha yg lebih mudah, dapt total viewernya 5-10 kali lipat dr nulis cersil bersambung gini.

----------

Jadi rasanya nulis cersil ini, kok antara usaha dgn hasil itu njomplang banget
emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka

Manusiawi juga kan kalau kadang jadi patah semangat? Kira2 nurut agan-agan gmn? Atau jangan2 ntar ane curhat gini kena bully emoticon-Leh Uga
emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
onta890 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 21 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 21 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
29-09-2020 05:14
bikin sesuatu jangan tanggung selesaikan yg dimulai.....btw ceritanya menarik kok...gw tiap hari refreah tapi zonk kaga di update ....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
onta890 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
30-09-2020 16:33
F5 is my best friend emoticon-Wakaka emoticon-Angkat Beer
Diubah oleh gaban05
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
02-10-2020 09:55
Pengumuman, pas 1 bulan sejak buku kedua selesai diupload, buku ketiga akan start update mulai tanggal

06 Oktober 2020

emoticon-Shakehand2
profile-picture
onta890 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
04-10-2020 16:22
Agan-agan, mohon supportnya :

https://play.google.com/store/apps/d...hakalayajna1_1

Serialnya ane bikin jadi app dan ane upload ke google playstore. Baru dibikin bab 1-5, ntar kalau memang ada yang tertarik ya nyusul bab-bab yang selanjutnya.

Boleh kan ya? Namanya orang usaha emoticon-Leh Uga
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
onta890 dan krisnafebriyant memberi reputasi
2 0
2
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-10-2020 09:06
Bab LII
Berhutang Sambil Membawa Pedang.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan Ki Waluyo, pada waktunya nanti tentu kami akan mengembalikan sesuai apa yang kami pinjam hari ini. Lunas berikut dengan bunganya. Silahkan Ki Waluyo simpan surat yang sudah ditanda tangani oleh Raden Rangga.”, ujar Senapati Kalapati, satu dari tiga puluh senapati Rangga Wijaya.

Saat itu Senapati Kalapati datang bersama ratusan prajurit, “mengunjungi” rumah Ki Waluyo, hartawan terkaya di Kademangan Asemrawa.

Ki Waluyo tersenyum kecut, menerima selembar surat dari tangan Senapati Kalapati.

“Ki Waluyo tidak mau membaca dulu isi surat itu?”, tanya Senapati Kalapati dengan berwibawa.

“Tentu... tentu...”, Ki Waluyo dengan setengah hati membaca isi surat itu.

“Silahkan Ki Waluyo bandingkan daftar barang yang tercantum dalam surat itu, dengan barang yang kami pinjam dari Ki Waluyo. Pastikan jangan sampai kami mengambil lebih dari yang dicantumkan. Supaya jangan orang menyangka, Raden Rangga dan pasukannya adalah perampok dan pencuri.”, keras suara Senapati Kalapati terdengar jelas oleh semua yang hadir di tempat itu.

Jantung Ki Waluyo pun berdebar-debar mendengar wibawa yang terpancar dari suara Senapati Kalapati. Perasaan kesal yang sempat muncul, cepat-cepat dia telan kembali. Ketika Ki Waluyo menengadahkan kepala, dia melihat Senapati Kalapati ternyata sedang memandangi dirinya dengan tajam.

“Eh... sudah...sudah aku periksa ki, jumlahnya sesuai.”, ujar Ki Waluyo terbata-bata.

Senapati Kalapati berkata dengan tegas, “Periksa lagi Ki, bandingkan dengan fisiknya, sesuai yang kami bawa. Jika ada yang salah bawa, aku pribadi yang akan meminta maaf dan meluruskan kesalahan.”

Di bawah tatapan mata Senapati Kalapati, Ki Waluyo menurut tanpa banyak bicara. Mengajak beberapa orang abdinya, bersama-sama mereka memeriksa barang-barang yang sudah diangkat ke atas pedati dan siap dibawa pergi.

Beberapa saat kemudian, Ki Waluyo menghadap ke Senapati Kalapati dan dengan hormat berkata, “Sudah sesuai Ki, jumlahnya tepat seperti yang tercantum dalam surat hutang ini.”

Senapati Kalapati mengangguk puas, “Baik, ingat kau simpan baik-baik surat itu, saat kami sudah berhasil menetap dan membangun kerajaan kami. Hutang ini pasti kami lunasi.”

“Pasukan, kita kembali!”, tanpa menunggu jawaban dari Ki Waluyo, Senapati Kalapati melompat ke atas kudanya dan memberi tanda pada pasukan yang dia pimpin untuk membawa pergi perbekalan yang mereka ambil dari gudang Ki Waluyo, kembali ke tempat rombongan mereka berada.

Meninggalkan Ki Waluyo, keluarganya dan para pegawai yang bekerja untuk juragan beras itu, memandangi kepergian pasukan kecil itu dengan berbagai macam ekspresi di wajah mereka masing-masing.

Salah seorang pegawai Ki Waluyo bergumam, “Wah... orang minjem sekarang bawa golok...”

Ki Waluyo tersenyum kecut mendengar ujaran pegawainya itu, “Hei... hati-hati kalau bicara, apa kau tidak dengar kejadian di kademangan sebelah? Mereka tak segan memberi hajaran ketika ada yang bicara sembarangan.”

“Benar kata Ki Waluyo, kudengar ada dua orang laki-laki yang dihajar sampai tak bisa bangun dari tempat tidurnya selama dua-tiga hari, karena bicara sembarangan tentang rombongan dari Kademangan Jati Asih itu.”, kata seorang yang lain.

Pegawai yang diingatkan mengerutkan alis dan berkata, “Jadi apa bedanya mereka ini dengan perampok kalau begitu?”

Ki Waluyo baru saja membuka mulut hendak menegur, ketika terdengar suara tertawa dingin dari atas atap salah satu bangunan yang ada di dekat mereka. Seketika itu juga meremang bulu kuduk Ki Waluyo dan sekalian orang yang ada bersama dengannya. Hampir serentak mereka menoleh ke arah suara tawa itu.

Di atas atap, terlihat beberapa orang duduk, nangkring di sepanjang bubungan atap rumah.

“Aku... aku...”, pegawai Ki Waluyo yang sejak tadi mengomel, memucat wajahnya melihat lima sosok orang yang muncul dengan tiba-tiba seperti hantu.

“Kalian... anak buah... Raden Rangga?”, tanya Ki Waluyo terbata-bata.

“Benar ki, tapi jangan takut, keberadaan kami di sini justru untuk menjaga keamanan kalian.”, ujar salah seorang dari mereka yang duduk di atas bubungan rumah.

“Hei, kau yang banyak bicara. Tahukah kau kenapa dua orang di kademangan sebelah itu kami hajar sampai tak bisa bangun dari pembaringan?”, salah seorang yang lain bertanya dengan suara keras.

”Ti..tidak...”, jawab pegawai Ki Waluyo tergagap.

“Kami hajar orang itu, karena mereka berani mencatut nama Raden Rangga dan berusaha menarik keuntungan dengan memanfaatkan nama kami.”, ujar sosok tersebut.

“Oh... begitu... tapi aku.. tidak tahu.”, dengan jantung berdebaran pegawai Ki Waluyo itu menjawab.

“Nah, sekarang kau sudah tahu. Jika kau menyebarkan kabar bohong, tidak bisa menjaga mulutmu, maka jangan salahkan tanganku jika tiba-tiba dia mampir di mulutmu.”, sahut sosok tersebut kemudian.

“Ya..ya.. tentu kisanak, tentu.”, jawab pegawai Ki Waluyo dengan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.

“Maafkan dia kisanak, dia hanya orang yang lugu, tidak ada maksud jahat darinya.”, Ki Waluyo dengan hati-hati berusaha membela pegawainya itu.

“Jangan kuatir Ki Waluyo, kami ini prajurit, bukan perampok.”, orang yang pertama menyapa Ki Waluyo menjawab.

“Aku tegaskan sekali lagi, keberadaan kami di sini bukan untuk mengancam keselamatan kalian, tapi untuk melindungi kalian dan melindungi nama baik kami. Memastikan tidak ada orang yang memancing di air keruh. Aku harap kalian semua yang ada di sini, mencamkan baik-baik kata-kataku ini.”, ujar laki-laki itu, sebelum dengan ringan melompat turun ke sisi lain dari rumah itu, menghilang dari pandangan Ki Waluyo dan orang-orangnya.

Satu per satu menyusul melompat pergi, ketika tinggal satu orang, tiba-tiba dia berbalik sebelum melompat pergi dan berkata, “Kalian tidak melihat kami, bukan berarti kami sudah pergi dari ini. Kapan kami datang dan kapan kami pergi, jangan harap kalian bisa tahu. Kami satuan khusus pasukan Raden Rangga.”

Setelah kelima orang itu menghilang cukup lama, Ki Waluyo dan orang-orangnya masih diam tak berani bergerak sedikitpun dari tempat mereka berdiri.

“Ki... apa mereka sudah benar-benar pergi?”, salah seorang dari mereka akhirnya memberanikan diri bertanya.

Ki Waluyo tersadar dari lamunannya dan menjawab, “Ya... ya... kukira begitu. Atau bisa juga tidak. Kalian masih di sini?”

“Ya.. bukankah Ki Waluyo juga masih di sini?”, tanya orang itu.

Ki Waluyo tercenung sejenak kemudian tertawa, “Hahahaha, ya...ya.. kau benar juga. Sudahlah, bubar, bubar, kembali ke tempat dan kegiatan kalian masing-masing. Seperti yang dikatakan orang tadi, keberadaan mereka, bukanlah sesuatu yang bisa ditangkap oleh orang biasa seperti kita.”

Ki Waluyo sendiri tanpa menunggu mereka pergi, sudah berjalan ke arah bangunan tempat dia tinggal. Beberapa orang kepercayaannya berjalan mengikuti dia di belakang. Melihat Ki Waluyo diam berpikir, mereka tidak berani mengganggu orang tua itu.

Tiba-tiba Ki Waluyo berhenti dan menoleh ke belakang, “Paman Jelanting, coba kau pergi menemui sahabatku Ki Tanumerta di Kademangan Buluksewu, jika mengikuti arah perjalanannya, bukankah beberapa bulan lagi, pasukan Raden Rangga ini akan melewati pula Kademangan Buluksewu? Nah coba kau ceritakan semua yang terjadi di sini. Aku ingin mendengar pendapatnya. Kau berkuda sendirian, tentunya bisa beberapa kali lebih cepat dari rombongan pasukan yang besar itu.”

Yang dipanggil Paman Jelanting itu mendengarkan perintah Ki Waluyo dengan seksama, kemudian setelah berpikir sejenak, dengan hati-hati bertanya, “Menurut Ki Waluyo, apakah boleh aku membawa beberapa kawan? Atau perlukah kepergianku ini dirahasiakan?”

Ki Waluyo menggeleng, “Tidak, tidak ada yang perlu dirahasiakan, yang aku inginkan adalah kau bisa menyampaikan berita ini dengan lengkap, tepat dan secepat-cepatnya ke Ki Tanumerta. Aku percaya pada pengamatanmu dalam melihat sesuatu, sampaikan apa adanya sesuai fakta, jangan kau tambahkan pendapatmu sendiri.”

“Siap ki, aku mengerti maksud Ki Waluyo.”, jawab Jelanting dengan penuh keyakinan.

“Bagus, kau berangkatlah secepatnya. Ambil bekal sebanyak yang kau perlukan, ingat, yang penting kabar yang tepat dan waktu yang cepat.”, ujar Ki Waluyo.

Setelah Jelanting pergi meninggalkan Ki Waluyo dan dua orang kepercayaan Ki Waluyo yang lain, salah seorang dari dua orang itu bertanya, “Apa yang Ki Waluyo pikirkan?”

Ki Waluyo tertawa kecil dan menjawab, “Hidungku mencium aroma uang.”

Ketiganya pun tertawa, dan orang kepercayaan Ki Waluyo menyahut, “Kalau Ki Waluyo sudah mencium bau uang, aku yakin sebentar lagi kita akan melihat keuntungan besar.”

Ki Waluyo tertawa, “Hahaha, jangan buru-buru, kali ini pertaruhannya cukup besar. Bisa untung, bisa juga buntung.”

“Mengapa begitu Ki?”, tanya mereka.

“Tunggu saja setelah kita mendengar pendapat Ki Tanumerta, umurnya jauh lebih muda dariku, tapi aku percaya indera-nya untuk mencium uang tak kalah tajam dari hidungku.”, sahut Ki Waluyo sambil berjalan masuk ke rumah.

-------------------------------

Di tengah perjalanan, Senapati Kalapati tiba-tiba bertanya pada prajurit yang berjalan mengikuti dia, “Apa kalian merasa kecewa, atau bertanya-tanya dengan keputusan yang diambil Raden Rangga akhir-akhir ini?”

Para prajurit saling berpandangan, mereka bukanlah prajurit-prajurit veteran yang sempat mengikuti para senapati hidup di alam liar selama puluhan tahun. Mereka adalah anak-anak muda kademangan, yang hidup sebagai bagian dari keluarga petani, pedagang atau perajin, sebelum kemudian bergabung ke dalam pasukan Raden Rangga.

Pertempuran-pertempuran yang mereka lalui membuat sifat-sifat mereka mengeras, tak mudah goyah dan tak mudah berubah-ubah. Bahkan dalam situasi tertentu bisa dikatakan mereka akan berubah ganas.

Namun tidak sepenuhnya menjadi liar, selalu ada garis-garis batas yang membatasi keliaran dan keganasan mereka.

Ketika muncul perkataan-perkataan orang yang menyamakan perbuatan mereka dengan perampok dan pencuri, tentu saja itu menyentuh perasaan dan harga diri mereka. Antara marah, tersinggung, tapi juga malu dan bertanya-tanya atas dasar landasan perbuatan mereka.

Salah seorang dari prajurit itu memberanikan diri menyahut, “Maksud Ki Senapati, keputusan Raden Rangga untuk meminjam makanan dan harta dari orang-orang kaya yang hidup di dekat jalur yang kita lewati?”

“Benar.”, sahut Senapati Kalapati singkat.

Para prajurit itu sekali lagi saling berpandangan, ragu-ragu untuk mengungkapkan pendapat.

“Jangan ragu, jawab dengan jujur pertanyaanku. Ini perintah dariku sebagai pimpinan kalian.”, dengan tegas Senapati Kalapati berujar, setengah membentak melihat mereka belum berani menjawab terus terang.

Akhirnya salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk menjawab, “Keputusan Raden Rangga itu demi menyelamatkan nyawa penduduk kademangan yang jumlahnya puluhan ribu orang. Yang diambil hartanya, tidak berkurang sampai kemudian mengancam kehidupan mereka, sebaliknya dengan harta itu, kita menyelamatkan nyawa puluhan ribu orang.”

“Kita mengambil harta orang bukan untuk bersenang-senang atau bermewah-mewah, tapi menyelamatkan nyawa.”, seorang yang lain menyahut.

“Selain itu, Raden Rangga selalu mencatat dengan teliti, dari siapa kita mengambil dan berapa banyak kita mengambil. Ki Senapati, bukankah nantinya kita juga akan mengembalikan apa yang kita ambil?”. Prajurit yang lain ikut menyahut.

Senapati Kalapati menganggukkan kepala, “Benar! Bagus kalau kalian bisa berpikiran terbuka. Dunia ini bukan tempat yang sempurna, terkadang sebagai pimpinan yang keputusannya dapat mempengaruhi nasib hidup puluhan ribu, bahkan mungkin suatu saat nanti jutaan orang, seorang raja akan dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak selalu ideal.”

“Kami bisa memahami kesulitan Raden Rangga Ki Senapati.”

“Benar”

“Benar”

Bersahutan terdengar jawaban dari para prajurit. Senapati Kalapati mengangguk dengan puas, bukan hanya para prajurit di bawah pimpinannya saja, suasana tertekan ini terasa. Di kesatuan-kesatuan yang lain pun, perasaan bersalah dan marah karena merasa sudah melanggar nilai-nilai yang mereka percayai itu juga diam-diam menyebar. Sehingga menjadi tugas para pimpinan, para senapati, untuk meluruskan masalah dan meredam gejolak yang timbul.

Demikian juga di antara penduduk, di mana menjadi tugas Ki Demang dan para bebahu kademangan untuk menjelaskan duduk permasalahannya.

Satu hal yang ditegaskan berulang-ulang oleh Raden Rangga, bahwa setiap apa yang mereka ambil akan dikembalikan, sebulir beras pun tidak boleh terlewat tak tercatat, apalagi tidak dikembalikan.

Bahwa kenyataannya mereka meminjam dengan membawa pasukan bersenjata, hal itu tidak terelakkan. Selain memberikan tekanan pada orang-orang kaya yang mereka datangi, juga untuk mengamankan barang-barang itu sendiri.

Sepanjang perjalanan, belasan kali terjadi pertempuran kecil-kecilan melawan kelompok begal dan pencuri yang berusaha mengambil keuntungan dengan menyerang diam-diam.

Pasukan Rangga pun mendapatkan tempaan melewati berbagai macam kesulitan. Bukan hanya para prajurit, para penduduk desa pun tertempa oleh perjalanan yang panjang ini. Hidup dalam keadaan serba terbatas dan harus mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Mengikuti perintah dari pimpinan mereka, yang tujuannya lebih luas, meskipun terkadang merugikan diri mereka sebagai individu.

Senapati Kalapati pun menyambung, “Kuatkan hati kalian, tidak lama lagi kita akan sampai di tempat yang sudah dipilih oleh Raden Rangga untuk mendirikan kerajaan. Di sana kita akan membangun kembali kehidupan kita. Mengembalikan apa yang sudah kita pinjam dan meluruskan kesalahan yang saat ini terpaksa kita lakukan.”

“Siap Ki Senapati!”, hampir secara serempak terdengar jawaban dari arah para prajurit.

“Itu yang kalian tidak boleh pernah lupakan, jangan sampai kalian terhanyut oleh keadaan, kemudian kehilangan pegangan dan arah.”, demikian Senapati Kalapati memberikan petuah demi petuah, untuk mengingatkan dan menguatkan mereka.

Bersambung ke Bab LIII
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kardison dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-10-2020 19:09
Mantap... Update sesuai janji ...
Lanjut gan
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
1 0
1
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-10-2020 19:41
Lanjutken kisanakemoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
06-10-2020 20:35
Mantap gannn . Tetap semangatt emoticon-Angkat Beer
profile-picture
profile-picture
onta890 dan lonelylontong memberi reputasi
2 0
2
Halaman 13 dari 14
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
teruntuk-aku-dan-kamu
Stories from the Heart
langit-pun-bisa-gelap
Stories from the Heart
pelampiasan-tentang-ketiadaan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
sedih
Stories from the Heart
suatu-saat-akun-offline
B-Log Collections
Stories from the Heart
nasi-goreng-kampung
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia