Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
632
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna
Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku, diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu. – saking penggalan tutur Kalih Pingpitu BAB I (Raden Rangga) Gbr diambil dr : islamidia.com Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara k
Lapor Hansip
11-07-2020 15:45

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 37 lainnya memberi reputasi
38
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
19-07-2020 21:19
Halangan tak pernah absen dalam hidup.
Nada nyanyian suara duka terselip dalam ornamen dari lagu kehidupan.
Sudah ditentukan oleh tangan Sang Pemilik kehidupan.

Kata Tri Pingpitu pada anak-anaknya.


Bab IX
(Harga Yang Harus Dibayar Rangga untuk Keterlambatannya)


Ketika lawannya bertambah tiga orang lagi, Ki Ageng Aras berteriak keras, otot-ototnya menggelembung dan tandangnya menjadi semakin ganas. Matanya seperti berubah merah, dipenuhi pembuluh-pembuluh darah kecil.

“HAA!!”, Sentanu berteriak keras.

Bukan sekedar teriakan, teriakan Sentanu membawa getaran yang mengguncang batin. Gerakan Ki Ageng Aras terhenti untuk sepersekian tarikan nafas. Hanya sekilat saja, namun waktu yang sekejap itu menyelamatkan kepala Branjangan dari tinju Ki Ageng Aras yang menyala-nyala.

Branjangan dengan gesit melontarkan dirinya bergulingan di tanah. Galah Cemani bergerak melindungi rekannya itu. Sementara Gajah Petak dan Bayu Bayanaka secara berbarengan menyerang Ki Ageng Aras dari kiri dan kanan. Ki Ageng Aras melompat mundur, menghindari serangan keduanya. Saat yang sejenak itu digunakannya untuk mengambil nafas.

Setarikan nafas saja, dan dia kembali bergerak ke sudut lain dan menyerang posisi Gajah Petak yang terbuka.

Namun, tentu saja tidak semudah itu mendaratkan serangan, Gajah Petak yang melihat datangnya serangan tidak menghindar, dengan tenaganya yang besar dia balik menyapu serangan Ki Ageng Aras.

Bayu Bayanaka dengan gesit berusaha bergerak mengitari Ki Ageng Aras dan menyerang dari arah yang tak bisa dia lihat. Ki Ageng Aras menggeliat menghindari serangan Bayu Bayanaka. Akibatnya kuda-kudanya tak begitu kuat saat tinjunya berbenturan dengan tinju Gajah Petak. Tubuhnya terpental ke udara, di saat dia masih di udara, Branjangan dan Galah Cemani secara bersamaan menyerang Ki Ageng Aras dari dua sudut yang berbeda.

Ki Ageng Aras berhasil menahan serangan Galah Cemani, tapi kaki Branjangan tak sempat dia hindari secara sempurna dan mampir ke pinggangnya.

Tangan Ki Ageng Aras dengan cepat membabat kaki Branjangan yang masih terjulur dan sempat menyentuh tulang keringnya. Terdengar suara benturan dan bau kulit terbakar pun tercium di udara.

Tidak ada waktu untuk mengurut pinggang yang lebam, atau membubuhi obat pada kaki yang terluka. Ki Ageng Aras terpaksa menghindari serangan Sentanu yang memaksanya masuk ke dalam kepungan tiga orang yang lain. Branjangan dengan segera melompat mengisi sudut yang kosong.

Untuk sesaat pertarungan terhenti, Ki Ageng Aras yang sejak tadi, berhasil bergerak dengan lincah menekan lawan, menghindari terkepung di tengah, akhirnya tak berhasil mempertahankan kedudukannya.

Sekarang Ki Ageng Aras harus jauh lebih berhati-hati untuk menyerang. Lima orang lawannya sudah mengepung rapat dirinya. Setiap Ki Ageng Aras menyerang salah seorang lawan, maka kedudukannya akan terbuka bagi dua sampai tiga orang lawannya yang lain.

Sementara lima orang yang mengepung Ki Ageng Aras pun tak berani sembarangan menyerang. Jika mereka tidak berhati-hati, bukan tidak mungkin Ki Ageng Aras akan kembali lolos dari kepungan mereka.

Enam orang itu pun, hanya bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain, mencari-cari celah untuk menyerang. Belum ada yang berani mendahului menyerang lawannya.

“Menyerahlah Ki Ageng Aras, laki-laki sejati tak malu mengaku kalah.”, seru Tumenggung Widyaguna.

“Hehehe.... aku akui aku tidak akan bisa menang melawan kalian, tapi bukan berarti aku akan menyerah Tumenggung...”, sahut Ki Ageng Aras, tanpa melepaskan kewaspadaannya.

“Atau mungkin Ki Tumenggung ingin menambahkan seorang lagi untuk menjadi lawanku?”, ejek Ki Ageng Aras.

“Hmp... tak perlu...”, sahut Tumenggung Widyaguna pendek.

Tidak mungkin dia memerintahkan Watu Gunung untuk ikut turun mengeroyok, sekarangpun keadaannya sudah cukup memalukan bagi diri mereka. Terlebih situasinya sudah tidak lagi berbahaya seperti sebelumnya.

Percakapan mereka itu membuat Sentanu, Galah Cemani, Branjangan, Bayu Bayanaka dan Gajah Petak, merasa malu. Mereka berlima terus berusaha mencari dan menciptakan kesempatan untuk menyerang. Namun Ki Ageng Aras pun tidak mau tinggal diam, dan terus bergerak menyesuaikan diri dengan pergerakan mereka.

Secara fisik pertarungan ini jauh lebih ringan, tapi secara mental justru jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Syaraf-syaraf Ki Ageng Aras semakin tegang, lawan-lawannya bukanlah sembarang pendekar. Masing-masing punya modal untuk malang melintang sendirian di dunia persilatan. Bukan itu saja, selama bertahun-tahun bekerja sama mengabdi pada Prabu Jaya Lesmana, mereka sudah sering bertarung bersama, sehingga terjalin saling pengertian yang erat di antara mereka.

“Tumenggung, sebaiknya kau pun ikut turun, kulihat Ki Bayu Bayanaka mulai kelelahan, aku kuatir nanti tinjuku tak sengaja melubangi kepalanya.”, ujar Ki Ageng Aras.

“Cih! Aku bukan anak kecil yang mudah terpancing kata-ka--”, seru Bayu Bayanaka dengan marah.

“SREET...!”, belum habis dia berucap, serangan Ki Ageng Aras sungguh-sungguh melayang ke arahnya.

Bayu Bayanaka boleh berkata dia tak terpancing oleh Ki Ageng Aras, tapi emosinya terpancing dan ketika hendak membalas ejekan Ki Ageng Aras, waktu yang sekejap itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ki Ageng Aras. Ki Ageng Aras menyerang dengan ganas, Bayu Bayanaka yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling tinggi di antara mereka, hampir-hampir tak sempat menghindari serangan Ki Ageng Aras.

Serangan Ki Ageng Aras datang tak terduga, Bayu Bayanaka hanya bisa menyurut mundur ke belakang. Di antara mereka berlima, mungkin hanya Gajah Petak dan Branjangan yang berani beradu keras dengan tinju Ki Ageng Aras. Gajah Petak karena tenaganya yang besar, dan Branjangan yang sifatnya berangasan.

Ke empat pendekar yang lain, berusaha memburu dan memaksa Ki Ageng Aras kembali dalam kepungan. Namun lubang yang ditinggalkan Bayu Bayanaka tidak berhasil mereka tutup.

Melalui serangannya itu, Ki Ageng Aras berhasil keluar dari kepungan dan menempatkan diri, sedemikian rupa sehingga tidak ada lawan di belakangnya. Pertarungan pun kembali terjadi dengan sengit, saling serang dan saling bertahan.

Tumenggung Widyaguna mengamati pertarungan itu dengan wajah tegang. Ki Ageng Aras berkelahi kesetanan, semakin lama semakin tak peduli dengan keselamatannya sendiri. Tumenggung Widyaguna tiba-tiba merasa menyesal, mengapa tidak turun tangan sendiri. Ki Ageng Aras sudah pasti akan kalah, yang dia khawatirkan bila Ki Ageng Aras nekat mati sampyuh dengan salah seorang dari lima orang lawannya.

“Kakang Tumenggung, apa kakang berencana untuk turun tangan?”, Watu Gunung bertanya.

Dahi Tumenggung Widyaguna berkerut, beberapa kali dia membuka mulut namun tak mampu mengambil keputusan.

“Kakang, atau aku turun dan membantu mereka?” Watu Gunung kembali bertanya dengan nada cemas.

“Jangan.”, geram Tumenggung Widyaguna.

Dia tahu benar kemampuan Watu Gunung beberapa lapis lebih rendah dari lima rekannya yang lain. Sebenarnya pilihannya tidaklah sulit, hanya harga diri Tumenggung Widyaguna melarang dirinya terjun ke gelanggang pertarungan sekarang.

Dalam keraguan itu, tiba-tiba terdengar suara berdesir dari belakang. Satu sosok berkelebat melewati Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung, geraknya terlalu cepat bagi Tumenggung Widyaguna untuk bereaksi. Pula, pada saat itu seluruh perhatiannya terserap penuh pada pertarungan yang ada di depannya.

Hanya butuh waktu sekejapan saja, sosok itu sudah meluncur mendekati ke enam orang yang sedang bertarung mati-matian.

Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung bergegas memburu ke depan, namun mereka hanya bisa memandang perkembangan di depannya dengan jantung berdebaran. Semuanya terjadi terlalu cepat, beberapa kejapan mata saja sangatlah berharga.

“Hentikan!”, teriak sosok itu berwibawa.

Tanpa ragu dia melompat ke tengah-tengah pertempuran, dengan satu tangan dia menghadang serangan Ki Ageng Aras yang meluncur deras ke arah dada Branjangan yang terlalu nekat. Di saat yang sama, dengan tangan yang lain dia menangkis serangan Gajah Petak yang sudah pasti akan memecahkan kepala Ki Ageng Aras segera setelah Ki Ageng Aras berhasil menghantam dada Branjangan. Sementara dua kakinya terpentang lebar, menancap ke atas tanah, dadanya menyambut pula tendangan Galah Cemani yang meluncur ke arah pinggang Ki Ageng Aras, memastikan dia tidak bisa lolos dari serangan Gajah Petak.

Sosok itu menghadang tiga serangan sekaligus, tiap-tiap serangan mampu membunuh seekor kerbau dewasa dengan mudah. Dada Bayu Bayanaka tergetar mendengar suara itu.

“Hentikan! Hentikan! Dia Raden Rangga!”, buru-buru dia berteriak, sambil berkelebat cepat berusaha menangkis kaki Galah Cemani yang sudah terlanjur meluncur deras tanpa bisa dihentikan.

“DAR!”

“DAR!”

“KRAAK!”

“DUG!”

Belum habis teriakan Bayu Bayanaka, ledakan demi ledakan terdengar keras, diselipi suara patahnya tulang. Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung pada saat itu, sudah terjun pula ke gelanggang.

“Jangan ada yang turun tangan terhadap Ki Ageng Aras!”, seru Rangga hampir bersamaan dengan seruan Bayu Bayanaka.

Kejadian demi kejadian, terjadi hampir bersamaan, kata-kata tak mampu melukiskannya dengan tepat. Rangga berhasil menahan serangan-serangan tersebut, menyelamatkan nyawa Branjangan dan Ki Ageng Aras. Namun tangannya patah ketika berbenturan dengan tinju Gajah Petak, karena di saat yang sama dia harus membagi tenaga menahan serangan Galah Cemani.

Untungnya tapak Bayu Bayanaka masih sempat bersentuhan dengan kaki Galah Cemani dan meredam sebagian tenaganya, sehingga dada Rangga tak sepenuhnya terhajar telak.

Teriakan Rangga tepat pada waktunya, meredam kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Namun harga yang harus dia bayar untuk keteledorannya cukup mahal. Tangan kirinya yang menahan serangan Ki Ageng Aras tampak melepuh kehitaman. Legan kanannya patah menahan tinju Gajah Petak. Beberapa rusuknya pun retak, terkena tendangan Galah Cemani.

“Raden...Raden...”, tujuh orang pendekar itu pun berebut hendak menopang tubuh Rangga yang sempoyongan.

Bayu Bayanaka yang paling cepat dan berhasil menyangga tubuh Rangga sebelum dia jatuh ke tanah.

“Huakk...!”, beberapa gumpal darah segar terlontar keluar dari mulut Rangga.

“Jangan... ada... pertarungan di antara kalian...”, terbata-bata Rangga berkata.

Pandangan matanya terasa kabur, isi dadanya terasa bergolak. Serangan Gajah Petak, Ki Ageng Aras dan Galah Cemani bukan serangan yang mengandalkan tenaga luar dan otot belaka. Jika Rangga tak memiliki ilmu kebal, isi tubuhnya mungkin sudah luluh lantak sekarang ini. Apalagi serangan Ki Ageng Aras yang membawa hawa panas, meskipun bisa dia tangkis namun tetap hawa panas itu menyusup ke dalam tubuhnya. Sambil menggertak gigi dia memaksakan dirinya untuk tetap sadar.

“Kami mengerti Den..”, ujar Tumenggung Widyaguna sambil perlahan-lahan, bersama dengan Bayu Bayanaka mendudukkan Rangga di atas tanah.

Mengetahui usahanya untuk menghentikan pertarungan itu sudah berhasil. Rangga segera memejamkan mata. Mengatur nafas, berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, mengendalikan energi yang bergerak liar dalam tubuhnya. Tumenggung Widyaguna pun menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Rangga, berusaha membantu dengan hati-hati.

“Biarkan aku membantu.”, ujar Ki Ageng Aras dengan berhati-hati.

Tumenggung Widyaguna memandang ke arahnya dengan tajam, keduanya berpandangan beberapa saat lamanya.

“Hawa panas dari Ilmu Gumbala Geniku sudah menyusup masuk ke tubuhnya. Saat ini hanya aku yang bisa menarik kembali hawa panas itu.”, ujar Ki Ageng Aras dengan sungguh-sungguh.

Tidak ada yang berani memutuskan, meskipun Rangga menghentikan pertarungan mereka, tapi Tumenggung Widyaguna dan yang lainnya belum berani mempercayakan keselamatan Rangga di tangan Ki Ageng Aras.

“Biarkan dia.”, kata Rangga dengan lemah.

“Tapi … “, desis Bayu Bayanaka dengan suara tertahan.

Ki Ageng Aras masih belum berani berjalan mendekat. Gajah Petak dan Galah Cemani berdiri menghadang jalannya dengan mata merah dan sembab. Perasaan keduanya bercampur aduk antara rasa marah dan menyesal, karena serangan mereka berdualah yang membuat Rangga berada dalam keadaannya saat ini.

Tumenggung Widyaguna menatap yang lain, berusaha melihat pendapat mereka. Namun Bayu Bayanaka hanya menatap Rangga dengan khawatir, seperti induk ayam kehilangan anaknya. Sentanu dan Branjangan, terlihat sama-sama tidak bisa memutuskan.

Watu Gunung mendesis, “Raden Rangga sudah berkata.”

Tumenggung Widyaguna menghela nafas, “Gajah Petak, Galah Cemani, biarkan Ki Ageng Aras lewat.”

Gajah Petak dan Galah Cemani pun minggir, tapi pandangan mata mereka melekat erat mengamati setiap gerak-gerik Ki Ageng Aras. Demikian pula yang lain. Meskipun Rangga sudah berulang kali menunjukkan sikap yang bersahabat terhadap Ki Ageng Aras, tapi mereka tidak bisa merasa tenang. Sedikit saja Ki Ageng Aras menunjukkan sikap yang mencurigakan, tanpa keraguan lagi, pada saat itu pula dia akan diserang dari segala arah.

Ki Ageng Aras menghela nafas panjang, buru-buru dia bersila di depan Rangga dan menenangkan segala gejolak pikiran. Satu tangannya memegang lengan Rangga yang menghitam, sementara tangan yang lain menempel ke atas tanah.

Tumenggung Widyaguna pun dengan segera menutup kembali matanya, dan dengan hati-hati, sedikit demi sedikit, dan lembut mengalirkan tenaganya ke dalam tubuh Rangga.

Tiga orang itu duduk bersila tanpa mempedulikan situasi di sekitar mereka. Bayu Bayanaka menepuk-nepuk pundak Gajah Petak yang memandangi Rangga dengan rasa khawatir dan sesal. Galah Cemani berdiri sedikit lebih jauh, sesekali menghela nafas.

Sentanu menghampirinya, “Kau tidak apa-apa?”

Galah Cemani menghela nafas, “Tidak masalah, sebaiknya kita berjaga, jangan sampai ada yang mengganggu mereka.”

Sentanu mengangguk setuju. Bayu Bayanaka dan Gajah Petak pun sudah mengambil posisi berjaga. Tak lama kemudian, mereka semua berjaga memagari Rangga, Tumenggung Widyaguna dan Ki Ageng Aras. Tidak ada yang membuat suara.

Malam itu, di pelataran bekas rumah Ki Ageng Aras, yang sekarang sudah hancur berantakan, hanya ada keheningan.

Bersambung ke Bab X

(Agan2... bisa minta tolong share biar lbh banyak pembaca?)
emoticon-Imlek
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jkayudfka dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
24-08-2020 16:52
Bab XL
Gagak Seta Terluka


Tapakdara dan Gagak Seta tidak berani terburu-buru menyerang lawan, dengan senjata di tangan sedikit kesalahan bisa berakhir fatal.

Prajurit-prajurit yang lain menonton dengan tegang. Pertarungan kali ini lebih menegangkan dibanding pertarungan-pertarungan sebelumnya, karena kali ini keduanya sudah menarik senjata andalan mereka masing-masing.

Senjata tak punya mata, demikian salah satu perkataan dalam dunia persilatan.

Sebagian besar prajurit yang menonton tidak peduli siapa yang akan menang. Berbeda dengan prajurit-prajurit telik sandi Raden Rangga dan belasan orang yang selama ini menjadi semacam pengikut Tapakdara, meskipun Tapakdara tidak pernah membentuk perguruan atau persekutuan pendekar. Bagi mereka pertarungan ini memiliki pertaruhan yang lebih besar.

Namun bagi Gagak Seta dan Tapakdara, ribuan orang di sekeliling mereka tidak ada bagi mereka. Dalam dunia mereka hanya ada lawan di depan dan senjata di tangan lawan.

Tapakdara memiliki pengalaman yang lebih banyak dari Gagak Seta, dan Gagak Seta menyadari hal itu. Kesadaran itu membuat beban dalam hati Gagak Seta. Sebagai murid Ki Ageng Aras, dia merasa membawa beban untuk mencapai hasil yang terbaik bagi pasukan telik sandi mereka. Dia menyadari pada saat ini Tapakdara adalah tantangan terberat bagi mereka untuk meraih pangkat Senapati Muda.

Gagak Seta sudah mengambil keputusan, kalaupun dia tidak memenangkan pertarungan ini, dia harus berhasil menghentikan Tapakdara untuk melanjutkan sayembara ini.

Tapakdara menangkap ketegangan Gagak Seta dan menanti dengan konsentrasi penuh kesempatan yang dia yakin akan muncul setiap saat. Benar saja, pada sekejapan mata saja, dia melihat Gagak Seta kehilangan fokusnya.

Pada saat itu juga Golok Emas di tangan Tapakdara berkelebat cepat.

“Trang !!!”, meskipun terburu-buru, Gagak Seta masih sempat menggerakkan kerisnya untuk menahan sabetan golok Tapakdara.

Namun serangan Tapakdara tak berhenti dengan satu sabetan, susul-menyusul.

“Trang! Trang! Trang!”

Berkali-kali, mungkin belasan kali, susul menyusul terdengar benturan antara golok dan keris. Gagak Seta dipaksa terus menghindar mundur, terdesak semakin lama posisinya semakin buruk.

Semakin lama, gerakan Gagak Seta terlihat makin gugup dan kalah cepat setengah langkah dari serangan Tapakdara. Prajurit-prajurit telik sandi dari Kademangan Jati Asih menonton dengan keringat dingin membasahi punggung mereka.

Senapati Lesmana menoleh ke arah Senapati Rendra, “Harusnya kau menebak dari tadi Kakang, sekarang sudah terlambat untuk menebak.”

Senapati Rendra tersenyum tipis, “Ya... anak muda itu akan menang.”

Senapati Lesmana terkejut, “Maksud kakang?”

Senapati Rendra menghela nafas panjang, “Jadi kau pun tertipu?”

Senapati Rendra terdiam beberapa saat sebelum berkata, “Kalian berdua terlalu meremehkan anak muda itu, ketika aku mengamati gerak-geriknya, untuk sekilas aku menangkap kesan yang berbeda. Kukira anak muda itu tentu punya latar belakang yang tidak sederhana.”

“Maksud kakang?”, tanya Senapati Lesmana.

“Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, tapi seperti ada yang menyentuh batinku.”, jawab Senapati Rendra tak jelas.

Senapati Lesmana memandangi Senapati Rendra, tapi tak ada penjelasan lebih lanjut darinya, dan Senapati Lesmana pun kembali memusatkan perhatiannya pada pertarungan yang terjadi di tengah panggung, Kali ini dia mengamati dengan lebih serius.

Tapakdara dan Gagak Seta bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tapakdara terus memburu Gagak Seta, sementara pemuda itu mati-matian berusaha menyelamatkan diri dari serangan Golok Emas milik Tapakdara. Golok Emas Tapakdara berkelebat makin lama makin cepat, dan Gagak Seta semakin kerimpungan dalam menghindarinya.

Kecepatannya setengah lapis di bawah kecepatan gerak Tapakdara, beruntung dia masih selalu sempat menghindar, terkadang dengan gerakan yang sembarangan dan akhirnya menempatkan dirinya dalam posisi yang buruk.

Di belasan tempat di tubuh, tangan dan kakinya sudah terlihat goresan-goresan luka bekas sabetan golok Tapakdara.

Rambutnya terurai awut-awutan, tali pengikat rambutnya sudah tertebas putus oleh golok Tapakdara beberapa gebrakan yang lalu. Demikian pula satu sandal kulit yang dipakai sudah terpotong setengahnya, menyisakan pula luka yang cukup dalam di telapak kaki Gagak Seta sehingga di permukaan panggung kali ini sudah dihiasi ceceran darah di mana-mana.

Untuk beberapa saat lamanya Senapati Lesmana mulai meragukan ketajaman mata rekannya yang lebih tua.

Namun beberapa saat kemudian, Senapati Lesmana merasa dadanya mencelos, tanpa sadar tangannya setengah bergerak meraih keris yang diselipkan di pinggang, “Kakang...”

Senapati Rendra menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan yang terjadi, “Kau menyadarinya sekarang?”

“Tapakdara belum menyadarinya, setiap kali pemuda itu selalu berhasil menghindari serangan yang mematikan. Meskipun dengan demikian, dia juga menempatkan dirinya dalam situasi yang berbahaya, tapi sekarang dia sudah tahu seluruh kartu terbaik dari Tapakdara. Sementara dirinya sendiri masih menyimpan kejutan.”, ujar Senapati Lesmana dengan tatapan khawatir.

“Ya, Tapakdara terlalu dekat dengan permasalahannya, dia sudah terbawa dengan irama pertarungan kali ini, pikirannya sudah tenggelam dengan hawa membunuh. Setiap kali serangannya berhasil melukai lawan, setiap kali dia melihat darah lawan membasahi goloknya, semakin dia tenggelam dalam ilusi bahwa dia berada di atas angin, bahwa sedikit lagi dan lawan akan gugur di bawah serangan goloknya.”, desah Senapati Rendra.

Kedua senapati itu terdiam untuk beberapa saat, kemudian Senapati Rendra bertanya, “Tapakdara, apa dia orang yang kau siapkan untuk menjadi Senapati Pengiringmu?”

Senapati Lesmana menghela nafas panjang beberapa kali dan akhirnya menjawab, “Ya, tadinya aku berharap dia yang memenangkan sayembara ini dan menjadi Senapati Pengiringku. Dari semua orang yang punya kemampuan, dia yang paling menonjol dan latar belakangnya pun jelas.”

Senapati Rendra berpikir untuk beberapa saat lamanya, lalu berkata, “Kalau kau mau, aku bisa membantu Tapakdara diam-diam.”

“Kakang yakin tidak akan ketahuan?”, tanya Senapati Lesmana sambil menoleh ke arah Senapati Rendra penuh harap.

“Hmph... jika di antara mereka ada yang bisa menangkap getaran batin yang aku lontarkan, sudah pasti dia orang yang berkepandaian tinggi dan menyembunyikan kemampuannya. Tak perlu banyak tanya, langsung saja tangkap sebagai mata-mata. Hanya saja aku ingat, bahwa Gagak Seta ini sempat membuat Kakang Glagah Wiru tertarik.”, jawab Senapati Rendra sambil tersenyum sinis.

“Benar dan memang pemuda itu punya sikap yang tepat untuk dijadikan seorang prajurit, tapi latar belakangnya sebagai perantauan tak sejelas Tapakdara yang kita ketahui siapa orang tuanya, gurunya dan latar belakangnya selama belasan tahun ini.”, jawab Senapati Lesmana.

“Jadi bagaimana? Dalam situasi ini, jika aku ikut campur, kemungkinan besar pemuda itu akan kehilangan nyawanya.”, tanya Senapati Rendra menegaskan.

Senapati Lesmana mengamati pertarungan yang sengit di depannya itu, setiap saat bisa saja berarti akhir bagi salah satu dari mereka yang sedang bertarung, kemudian dia pun mengeraskan hati dan menjawab, “Baiklah kakang, jabatan Senapati Pengiring terlalu penting untuk dipegang orang yang tidak kita ketahui dengan jelas latar belakangnya.”

Namun belum sempat Senapati Rendra menjawab, dia yang terus mengawasi pertarungan itu dengan penuh perhatian, wajahnya tiba-tiba berubah. Senapati Lesmana pun buru-buru menengok kembali ke arah pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara.

Gagak Seta yang sudah berlumuran darah di mana-mana, bergulingan di atas lantai panggung, menghindari serangan Tapakdara. Seperti yang sudah-sudah Tapakdara memburu ke depan, tapi tanpa sengaja kakinya sedikit terpeleset ketika menginjak genangan darah yang membasahi lantai panggung.

“Dug!”, jantung Tapakdara terasa seperti jatuh ke perutnya, ketika kedudukan kakinya menggeser di atas genangan darah yang licin, dan membuat dia kehilangan keseimbangan sekejapan mata saja.

Di saat yang sekejap mata itu, Tapakdara melihat pemuda yang dari tadi dia buru, seperti seekor kucing memburu seekor tikus, tiba-tiba matanya mencorong tajam.

Sorot mata mereka bertemu dan Tapakdara melihat sorot mata Gagak Seta yang tajam bagai elang dan tiba-tiba dia tersadar, sedari tadi bukan dia yang memburu Gagak Seta. Pemuda itu yang sedang memburu dia. Menanti saat yang tepat untuk melontarkan satu serangan penghabisan.

Kesadaran yang terlambat.

Ketika pikiran itu sedang berkelebat dalam benaknya, keris di tangan Gagak Seta berkelebat jauh lebih cepat lagi.

“Crass....!! Srkkk...!”, keris di tangan Gagak Seta meluncur tajam, memaku telapak kaki kanan Tapakdara ke atas panggung.

Begitu deras dan kuat tenaga yang dipakai Gagak Seta, hingga kerisnya menembus kaki Tapakdara dan masih terus bergerak menancap ke atas panggung, sampai seluruh bilahnya tertanam dan hanya gagangnya saja yang menyembul keluar dari telapak kaki Tapakdara.

“UAARHHH....!!”, terdengar teriakan Tapakdara menahan rasa sakit yang tak terperi.

Belum habis teriakan Tapakdara, tubuh Gagak Seta yang tadi bergulingan di atas lantai panggung, sekarang sudah melenting dengan gesit di udara. Tubuhnya melayang di atas tubuh Tapakdara yang setengah menunduk karena sebelumnya sedang menyabetkan golok ke arah Gagak Seta yang bergulingan di bawah.

Dua tangan Gagak Seta terkembang seperti seekor garuda, satu kakinya menekuk di depan dada melindungi tubuh, sementara satu kakinya lagi dengan sebat bergerak menendang ke bawah.

“DUG!”, tanpa bisa dihindari, kaki Gagak Seta menghantam punggung Tapakdara yang terbuka lebar.

Tubuh Tapakdara pun terhajar jatuh dengan wajah mencium lantai panggung, tapi Gagak Seta tidak berhenti di situ. Kesepuluh tangannya yang sudah membentuk cakar, bergerak cepat ke arah tangan Tapakdara yang masih menggenggam golok.

“CUKUP!!!”, tiba-tiba terdengar seruan dari arah Senapati Lesmana.

Hampir di saat yang bersamaan terdengar suara, “KRAAK!!”

Gagak Seta dengan tubuh terhuyung-huyung mundur ke belakang, sambil memandang ke arah Senapati Lesmana dan Senapati Rendra dengan wajah terkejut dan takut. Ya, anak muda itu benar-benar terlambat mendengar seruan Senapati Lesmana.

Ketika dia menyadari seruan Senapati Lesmana itu, kesepuluh jarinya sudah mengempos tenaga dan mematahkan lengan Tapakdara.

Senapati Lesmana melotot marah, tapi dia melihat ekspresi wajah Gagak Seta dan menyadari bahwa pemuda itu benar-benar tidak sengaja.

Senapati Rendra yang memiliki mata batin yang tajam juga menangkap ketulusan dari ekspresi wajah pemuda itu, dengan tak kentara dia menggamit lengan Senapati Lesmana dan berbisik, “Anak muda itu benar-benar tak sengaja.”

Senapati Lesmana dengan cepat menguasai dirinya. Bagaimana pun juga dia seorang senapati yang sudah terlatih bukan hanya dari segi ilmu kanuragan, tapi dari mental dan batinnya pun sudah tertempa.

“Tabib, cepat naik ke atas panggung, rawat kedua prajurit ini.”, serunya ke arah tabib-tabib yang sudah bersiap di bawah.”

Maka bergegaslah mereka yang bertugas melompat ke atas panggung dan dengan cekatan mulai merawat luka Tapakdara dan Gagak Seta. Sekilas mata Gagak Seta yang berdiri tak tegak, terlihat lebih parah dengan rambut awut-awutan, tubuh penuh luka dan pakaian sobek di mana-mana.

Namun mereka yang melihat akhir dari pertarungan mereka pun tahu, Tapakdara yang sekarang tertelungkup di atas panggung, menerima serangan yang lebih mematikan. Baju Tapakdara masih bersih dari darah, rambutnya masih terikat rapi. Bahkan dari seluruh tubuhnya hanya dari telapak kakinya saja ada luka dan darah mengucur, tapi pendekar itu sudah tak sadarkan diri dengan luka dalam yang parah dan tulang lengannya patah.

Senapati Lesmana berjalan mendekat dan bertanya, “Bagaimana?”

Tabib yang memeriksa keadaan Tapakdara, menengok ke arah Senapati Lesmana dan menjawab, “Nyawanya bisa diselamatkan, demikian pula tulang lengannya yang patah, dalam waktu beberapa bulan akan kembali seperti sedia kala.”

Senapati Lesmana menghela nafas panjang, dalam hatinya dia berpikir, 'Dalam beberapa bulan... sementara pasukan Rangga akan menyerang kurang dari sebulan lagi.'

“Baiklah, kau bawa dia turun dan rawat dia baik-baik.”, ujar Senapati Lesmana menahan rasa kesal.

Kemudian dia berjalan ke arah tabib yang merawat luka-luka Gagak Seta dan bertanya, “Bagaimana keadaan-nya?”

“Tidak parah Ki, luka-lukanya memang banyak, tapi kebanyakan hanya luka luar. Dalam hitungan hari akan pulih seperti sedia kala.”, jawab tabib tersebut sambil tak hentinya mengoleskan obat dan membebat luka-luka yang terbuka, untuk menghentikan pendarahan.

Gagak Seta dengan takut-takut bertanya pada Senapati Lesmana, “Bagaimana dengan keadaan Kakang Tapakdara Ki? Maafkan aku Ki, tadi aku terlambat mendengar seruan Ki Senapati.”

Senapati Lesmana menoleh, memandang ke arah Gagak Seta, melihat ekspresi anak muda itu, setengah dari kemarahannya menguap, dalam hati dia berpikir, 'Anak muda ini benar-benar tak sengaja. Sepertinya dia juga bukan mata-mata yang menyusup, jika dia mata-mata yang menyusup, kenapa pula dia harus merasa menyesal dan ketakutan telah melukai Tapakdara.'

“Jangan kuatir, menurut tabib, dalam beberapa bulan lagi Tapakdara akan pulih seperti sedia kala.”, jawab Senapati Lesmana dengan nada menghibur.

Kemudian dia menambahkan, “Kau pun tak perlu kuatir, kami paham dalam pertarungan, tak mudah menarik kembali serangan. Apalagi ketika kita sudah terbawa oleh suasana hati kita.”

“Terimakasih Ki Senapati, untuk pengertiannya.”, ujar Gagak Seta dengan lega.

Sekali lagi, ketika Senapati Lesmana melihat kewajaran dan kesungguhan pemuda itu dalam bersikap, dalam hatinya merasa semakin yakin bahwa Gagak Seta bukanlah seorang mata-mata.

Yang tidak dia ketahui, Gagak Seta sesungguhnya merasa takut dan kuatir, karena yang tertanam dalam benaknya adalah dia harus menjadi prajurit yang baik, yang mematuhi Senapati Lesmana sebagai pimpinan, agar dia bisa mendapatkan kepercayaan.

Ketika menyadari tanpa sengaja dia mematahkan lengan Tapakdara, padahal Senapati Lesmana memberikan perintah untuk berhenti bertarung, Gagak Seta berpikir dia sudah merusak rencana yang dibuat para senapati dan membuat malu nama gurunya. Melihat ternyata Senapati Lesmana bisa memahami situasinya, pemuda ini pun merasa lega.

Jadi memang dia benar-benar takut dan kuatir, tapi bukan untuk alasan yang dikira Senapati Lesmana. Kesalah pahaman ini, tentu saja masing-masing dari mereka tidak ada yang tahu.

“Bagaimana, kau ingin mencoba meneruskan pertandingan ini?”, tanya Senapati Lesmana pada Gagak Seta.

Gagak Seta berpikir untuk beberapa saat, Tapakdara sebagai penghalang terberat sudah tersingkir, apakah dia masih perlu melanjutkan?


Bersambung ke Bab XLI
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sentinelprime07 dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
12-08-2020 12:23
Bab XXVII
Babak Pembukaan, Pertarungan Antara Empat Kekuatan


Ketika Gagak Seta sedang dibawa ke tempat hukuman, di tempat lain, ke empat senapati utama dan Adipati Jalak Kenikir mengadakan pertemuan.

“Waktu yang hanya beberapa bulan, tidak cukup untuk menyatukan prajurit-prajurit lama dengan prajurit-prajurit yang baru.”, Senapati Glagah Wiru menutup laporannya.

Adipati Jalak Kenikir dengan ringan menjawab, “Tidak masalah, hal itu sudah termasuk dalam perhitungan kita semua. Kau sudah melakukan yang benar dengan menghukum prajurit baru itu. Setidaknya untuk waktu dekat ini, kesatuan prajurit yang sudah kita latih selama bertahun-tahun akan menjadi kekuatan inti dari kekuatan militer kita, karena itu kita harus benar-benar menjaga kesetiaan mereka.”

Senapati Glagah Wiru mengerutkan kening dan bertanya, “Tapi Ki Adipati, bagaimana kita bisa mengambil hati orang-orang yang punya potensi seperti Gagak Seta hari ini, jika kita bertindak dengan tidak adil? Sayang sekali, jika kita sampai kehilangan kesempatan untuk menampung pemuda-pemuda yang berbakat seperti dirinya.”

Adipati Jalak Kenikir tertawa kecil, “Hehehe, untuk itu aku ingin Ki Glagah Wiru untuk sedikit berkorban.”

Senapati Glagah Wiru tercenung sejenak, lalu dengan cepat menjawab, “Tentu saja, demi Kadipaten Jambangan, jangankan sedikit pengorbanan, jika Ki Adipati meminta aku mempertatuhkan nyawapun aku sudah siap.”

Adipati Jalak Kenikir bergegas menjawab, “Tidak, tidak, tenaga Ki Glagah Wiru sangat kami butuhkan, bagaimana mungkin kami meminta Ki Glagah Wiru berkorban sedemikian besar. Yang kami minta ini kecil saja, tidak akan membahayakan Ki Glagah Wiru, tapi mungkin Ki Glagah Wiru perlu berkorban perasaan.”

Senapati Glagah Wiru menjawab tanpa ragu, “Silahkan Ki Adipati jelaskan.”

“Kita perlu seseorang untuk menenangkan prajurit-prajurit yang lama, mengambil hati mereka, tapi juga mengekang mereka agar mereka jangan bertindak terlampau jauh. Peran itu sekarang sudah diambil oleh Ki Glagah Wiru dengan kejadian hari ini.”, Adipati Jalak Kenikir menjelaskan.

Mata Senapati Glagah Wiru berkilat, sambil menepuk lututnya dia berujar, “Ah... aku mengerti.”

Ke empat senapati utama ini, tidak seorangpun yang berakal pendek. Cukup Adipati Jalak Kenikir menjelaskan satu dan dua, mereka bisa meneruskan tiga, empat dan selanjutnya.

Senapati Lesmana pun bertanya, “Jika demikian, siapa yang Ki Adipati tugaskan untuk mengambil hati prajurit-prajurit yang baru?”

Adipati Jalak Kenikir berpikir sejenak, lalu baik bertanya, “Menurut kalian, siapa yang paling cocok untuk tugas ini? Ki Glagah Wiru sudah pasti tidak bisa.”

Ke empat senapati utama itu saling berpandangan, Senapati Rendra kemudian berkata, “Aku pikir Adi Lesmana yang paling sesuai dengan peran ini. Usianya yang paling muda di antara kita. Sifatnya pun tidak terlalu ketat dengan peraturan, sangat bersesuaian dengan latar belakang sebagian besar prajurit-prajurit yang baru kita terima.”

Senapati Nakula mengangguk, “Benar, jika aku atau Kakang Rendra yang menjadi pimpinan mereka, rasanya kami tidak tahan melihat sikap mereka yang petakilan.”

Adipati Jalak Kenikir mengelus-elus jenggotnya yang tebal dan sudah mulai beruban, “Tapi tidak boleh pula mereka bersikap terlalu lepas. Perlahan-lahan kita harus mengenalkan kedisiplinan militer pada mereka.”

Senapati Glagah Wiru menjawab, “Tugas itu biarlah aku yang mengembannya.”

Tiga senapati yang lain mengangguk setuju, Senapati Rendra menambahkan, “Kepalang basah, Adi Glagah Wiru saat ini sudah menanamkan kesan yang tidak baik dalam hati mereka. Baik juga sekalian dia menjadi momok yang menakutkan.”

Senapati Nakula menimpali, “Sebenarnya Kakang Glagah Wiru tidak terlampau merugi. Benar memang namanya menjadi buruk bagi prajurit-prajurit yang baru, tapi di saat yang sama sikapnya ini akan merebut hati prajurit-prajurit lama.”

Adipati Jalak Kenikir tidak langsung setuju, dia masih berpikir dan kemudian bertanya, “Apakah cukup Ki Lesmana saja yang memimpin prajurit-prajurit yang baru? Jumlah mereka saat ini sudah hampir dua kali lipat lebih banyak dari prajurit-prajurit yang lama.”

Ke empat senapati utama itu terdiam untuk beberapa lama. Senapati Lesmana tidak berani mengemukakan pendapat, dirinya adalah yang termuda dari mereka berempat, jika kesatuan militer di bawah pimpinan-nya justru berjumlah lebih besar dari tiga senapati yang lain, bisa saja menimbulkan kesan yang tidak baik di hati ketiga orang rekannya.

Senapati Glagah Wiru yang memecahkan kebuntuan itu, sambil menepuk pundak Senapati Lesmana dia berucap, “Aku percaya pada kemampuan Adi Lesmana. Dia pasti mampu mengendalikan prajurit-prajurit yang baru kita rekrut itu.”

Ketika melihat Adipati Jalak Kenikir belum bisa mengambil keputusan, Senapati Nakula menambahkan, “Ki Adipati tidak perlu kuatir akan muncul ketidak seimbangan dalam kekuatan militer kita. Memang saat ini kita tidak bisa mengintegrasikan prajurit-prajurit yang baru ke kesatuan yang lama karena kita tidak memiliki cukup waktu. Tidak ada cukup waktu untuk menanamkan kedisiplinan, tidak cukup waktu untuk menyaring siapa yang bisa dipercaya, yang berani dan sebagainya.”

“Namun seiring dengan berjalannya waktu, kita bisa menyaring dari mereka, yang mana yang layak, untuk dipindahkan menjadi bagian dari kesatuan inti kita.”, ujar Senapati Nakula.

“Hmm.... Baiklah, kalau begitu, aku putuskan Ki Lesmana untuk menyatukan seluruh prajurit dan calon prajurit yang baru saja kita terima, menjadi satu kesatuan pasukan, di bawah pimpinan Ki Lesmana.”, ujar Adipati Jalak Kenikir memutuskan.

“Siap Ki Adipati, akan aku laksanakan sebaik mungkin.”, ucap Senapati Lesmana dengan hormat.

“Tapi dengan jumlah pasukan sedemikian besar, siapa yang akan membantumu mengendalikan mereka? Kau harus pikirkan itu baik-baik. Apakah kau ingin membawa sebagian pembantumu yang terpercaya?”, tanya Adipati Jalak Kenikir pada Senapati Lesmana.

Senapati Lesmana berpikir sejenak lalu menjawab, “Tidak Ki Adipati, mungkin hanya dua atau tiga orang bekel, selebihnya akan aku ambil dari prajurit-prajurit baru ini sendiri.”

Senapati Glagah Wiru mengangguk setuju, “Benar, aku rasa keputusan Adi Lesmana ini perlu didukung Ki Adipati. Dengan memberikan orang-orang yang berbakat kesempatan untuk naik tingkat dan menduduki jabatan yang penting, kita bisa menarik perhatian lebih banyak orang yang berbakat dan mempertahankan mereka yang sudah bergabung dengan kita.”

Adipati Jalak Kenikir tertawa, “Kau masih memikirkan pemuda yang bernama Gagak Seta itu Ki?”

Senapati Glagah Wiru tanpa ragu menganggukkan kepala, “Ya, sekilas kulihat pemuda itu memiliki ilmu yang cukup matang. Tapi lebih penting dari itu, dia punya rasa tanggung jawab pada tugasnya dan tahu pula menahan diri.”

“Hmm.... aku jadi ingin tahu seperti apa pemuda itu. Jangan kuatir Ki..., tentu saja kita harus berusaha mempertahankan prajurit-prajurit yang berkualitas, yang bisa dipercaya. Ki Lesmana, tentu punya cara untuk mengobati kekecewaan pemuda itu.”, jawab Adipati Jalak Kenikir.

Senapati Lesmana tersenyum, “Jangan kuatir Kang, aku akan perhatikan pemuda yang namanya Gagak Seta itu, kalau-kalau memang dia layak untuk mendapatkan pangkat tertentu.”

------

Bukan hanya di pihak Kadipaten Jambangan yang terjadi percakapan yang serius, di pihak Rangga Wijaya pun sedang terjadi pertemuan yang serius. Saat itu hanya ada Rangga Wijaya, Ki Ageng Aras, Tumenggung Widyaguna dan Rakryran Rangga Aswatama.

Rakryan Rangga Aswatama menyampaikan laporan hasil dari berita-berita yang dikumpulkan oleh pasukan telik sandi yang tersebar di berbagai tempat.

“Jadi seperti demikian keadaan-nya, kondisi di perbatasan Kerajaan Watu Galuh mulai memanas, tapi belum terjadi pertempuran besar-besaran. Sementara di Kadipaten Jambangan Adipati Jalak Kenikir menerima prajurit baru secara besar-besaran.”, ujarnya menutup laporan.

“Jadi menurut Paman Aswatama ini kesempatan terbaik bagi prajurit-prajurit telik sandi kita untuk mencari kedudukan dalam pasukan Kadipaten Jambangan?”, tanya Rangga.

“Benar raden, ini kesempatan yang terbaik, apalagi berdasarkan setiap laporan yang masuk dari pasukan kita yang sudah berhasil menyusup di sana, kondisi pasukan yang baru ini masih belum terorganisasi dengan baik.”, jawab Rakyran Rangga Aswatama.

“Menurut paman apa mereka memiliki kesempatan yang bagus?”, tanya Rangga.

“Secara kedisiplinan dan sikap keprajuritan, mereka memiliki kelebihan. Namun dari kemampuan olah kanuragan, terus terang ada banyak pesaing yang cukup berat untuk mereka.”, jawab Rakyran Rangga Aswatama.

Untuk sesaat Rangga terdiam, kemudian dia menoleh ke arah Ki Ageng Aras, “Paman Ki Ageng Aras, aku harap paman tidak keberatan jika aku meminta paman untuk memberi mereka yang saat itu bertugas menyusup ke Kadipaten Jambangan sedikit bekal dalam menunaikan tugas mereka.”

Ki Ageng Aras berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tentu saja aku akan mengusahakan yang terbaik, tapi waktu yang hanya beberapa bulan, tentu sangat terbatas apa yang bisa aku lakukan.“

“Tentu saja paman, kita semua di sini menyadari keterbatasan waktu yang ada.”, jawab Rangga.

“Baiklah, tentu saja aku akan mengusahakan yang terbaik.”, jawab Ki Ageng Aras.

“Yang kedua, kalian semua tentu sudah tahu, kondisi kita saat ini. Menurut perhitungan Paman Wirapati, simpanan bahan pangan kita hanya cukup sampai 2 bulan ke depan. Artinya Adi Prabu Jannapati, tidak perlu mengirimkan pasukan mendatangi kita, cukup menahan kita di sini selama dua bulan dan setelah itu dia bisa menyuruh Adipati Jalak Kenikir dan pasukannya datang untuk mengumpulkan mayat kita semua.”, ujar Rangga sambil melihat berkeliling.

Ekspresi keprihatinan bercampur dengan tekat, terpampang di wajah-wajah setiap orang. Namun tekat mereka, lebih mirip tekat orang yang bersiap mempertaruhkan nyawa untuk kemenangan yang hampir tidak mungkin dicapai.

Rangga tersenyum, “Aku punya rencana...”

Mendengar perkataan Rangga dan melihat ekspresi-nya yang tenang, untuk sejenak Tumenggung Widyaguna, Ki Ageng Aras dan Rakryran Rangga Aswatama saling berpandangan, sebelum kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah Rangga dengan rasa ingin tahu terpancar dari sorot mata mereka.

Satu kalimat saja dari Rangga, sudah berhasil mengusir pergi awan gelap yang menaungi hati mereka.

----

Sementara itu di sebuah perkemahan militer yang besar, masih di dalam wilayah Kadipaten Serayu, di tenda utama, terlihat Prabu Jannapati bersama dengan Patih Nandini, beberapa orang tumenggung dan senapati.

Beberapa orang senapati baru saja menyampaikan laporan, yang seorang melaporkan situasi di perbatasan, yang seorang lagi menyampaikan laporan tentang situasi di Kadipaten Jambangan dan seorang yang lain melaporkan situasi di perhentian Raden Rangga.

“Hanya ini yang bisa kau laporkan?”, tanya Prabu Jannapati pada senapati yang bertugas mengumpulkan berita tentang situasi di tempat Raden Rangga.

“Maaf Prabu, keamanan mereka sangat ketat, dari sekian banyak orang yang dikirimkan, beberapa tidak berhasil kembali dari tugas.”, ujar senapati tersebut dengan suara sedikit bergetar dan kepala tertunduk.

Di luar dugaan senapati tersebut, Prabu Jannapati tidak marah seperti biasanya. Senapati itu diam-diam memberanikan diri mengangkat kepala dan melihat ke arah Prabu Jannapati. Dilihatnya, Prabu Jannapati sedang membaca dengan tekun gulungan lontar yang berisi semua keterangan yang bisa dia kumpulkan.

Prabu Jannapati melemparkan lontar itu ke arah Patih Nandini sambil bertanya, “Kau tentu sudah membaca laporan itu dengan lengkap. Bagaimana menurutmu?”

“Pasukan telik sandi kita memang mengalami kesulitan untuk mengumpulkan keterangan, hal ini wajar saja terjadi karena Raden Rangga dan pengikutnya memang berada dalam lingkungan yang tertutup rapat, tidak mengadakan komunikasi dengan dunia luar.”, ujar Patih Nandini menjawab Prabu Jannapati.

Patih Nandini pun lanjut menjelaskan, “Di saat yang sama, dengan kebijakan itu, mereka pun tentu akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Jadi rasanya perhitungan Senapati Ekasatya tentang simpanan bahan pangan mereka itu tidak terlalu meleset jauh. Mudah saja dihitung berapa yang dibawa keluar dari Kademangan Jati Asih, berapa kira-kira konsumsi mereka setiap harinya dan berapa lama mereka bisa bertahan.”

Prabu Jannapati mengangguk puas dan menoleh ke arah Senapati Ekasatya, “Bagus, kau bisa memakai otakmu. Sekarang aku tugaskan padamu, terus ganggu mereka, pertahankan situasi saat ini, di mana mereka tidak berani berkeliaran terlalu jauh dari garis pertahanan mereka. Dengan begitu cadangan makanan mereka pun akan menipis dengan lebih cepat.”

Senapati Ekasatya pun dengan hati lega menjawab, “Siap baginda prabu.”

Prabu Jannapati mengibaskan tangannya tak sabar, “Kau pergi dan laksanakan tugasmu sekarang.”

“Siap baginda prabu.” Melihat Prabu Jannapati mulai tak sabar, Senapati Ekasatya pun tak berani berlama-lama, buru-buru dia bangkit berdiri dan pergi melaksanakan tugas yang diberikan.

Prabu Jannapati tertawa terkekeh, “Hahaha, Rangga... Rangga..., mari kita lihat, sampai berapa lama kau bisa bertahan.”

Tapi sesaat kemudian dia mengerutkan alis, meraih cawan di dekatnya dan membanting cawan itu ke lantai, “Sialan!”

“Nandini, kalau terus menerus seperti ini, jadinya kita hanya memberi kesempatan Jalak Kenikir memperkuat pasukannya!”, seru Prabu Jannapati pada Patih Nandini.

Patih Nandini mengangguk sabar, “Kalau memang Raden Rangga terus bertahan, memang demikian. Tapi apa mungkin Raden Rangga akan diam saja menerima nasib?”

Prabu Jannapati menggelengkan kepala, “Tidak mungkin.”

“Karena itu, cepat atau lambat, Raden Rangga pasti bergerak ke arah Kadipaten Jambangan, dan pada saat itu terjadi, bila sampai Raden Rangga berhasil memenangkan pertempuran. Pasukan kita cukup dekat untuk segera mengejar dan membasmi mereka.”, jawab Patih Nandini.

Prabu Jannapati mengangguk puas, “Bagus... bagus... Sekarang, bagaimana dengan si Tua Gading itu?”

Pertemuan pun dilanjutkan dengan membahas situasi di perbatasan selatan Kerajaan Watu Galuh, di mana pasukan Adipati Gading Kencana dan sekutunya sudah berkumpul, siap berhadapan dengan pasukan Prabu Jannapati.

-----

Beberapa hari kemudian, di perkemahan tempat Adipati Gading Kencana dan pasukannya mendirikan markas, Adipati Gading Kencana dan sekutu-sekutunya juga sedang berkumpul. Setelah upacara pengangkatan Pangeran Adiyasa yang sekarang bergelar Prabu Jayabhuanna, akhirnya terkumpul sembilan kadipaten yang bersedia memberikan dukungan padanya.

Saat ini ke sembilan adipati itu berkumpul untuk membahas situasi mereka, sementara Prabu Jayabhuanna duduk mendengarkan.

“Hmm.... tak kusangka Prabu Jannapati tanpa ragu, menggerakkan hampir semua kekuatan militernya ke selatan.”, ujar seorang adipati yang baru bergabung dalam persekutuan mereka ini.

“Tidak masalah, jangan dikira pasukan yang dikerahkan ini sudah merupakan seluruh kekuatan Kerajaan Watu Galuh, terlampau meremehkan jika kita berpikir demikian.”, jawab Adipati Gading Kencana.

Beberapa adipati yang baru bergabung saling memandang dengan wajah khawatir. Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya, “Jika benar demikian, apa kita punya kemungkinan untuk memenangkan peperangan ini?”

“Hmph.., apa kau takut?”,, jengek Adipati Karangpandan.

“Hee... apa kau menghinaku!?”, adipati yang diejek itu pun merasa panas.

“Tenang semuanya.”, Adipati Gading Kencana menggeram.

“Apa perlunya berkelahi di antara kita sendiri? Ki Adipati Janaka harap tak perlu berkecil hati, bukan tanpa alasan kenapa Prabu Jannapati tidak bisa mengerahkan seluruh pasukannya ke selatan. Bukankah di utara dan barat sudah ada juga kekuatan-kekuatan yang mengincar wilayah Kerajaan Watu Galuh?”, ujar Adipati Gading Kencana mendamaikan mereka.

“Peperangan ini akan menjadi peperangan yang cukup panjang, tidak akan selesai dengan satu-dua pertempuran. Saat ini kita harus bersabar menunggu, jangan menyia-nyiakan kekuatan pasukan kita, sehingga muncul orang ketiga untuk mengambil keuntungan.”, Adipati Gading Kencana meneruskan penjelasannya.

“Kalau begitu mengapa kita mengumpulkan pasukan kita di perbatasan Kerajaan Watu Galuh?”, tanya seorang adipati yang lain.

Adipati Gading Kencana buru-buru menjawab, karena melihat Adipati Karangpandan sudah siap-siap memaki lagi, “Dengan kita mengumpulkan pasukan kita di perbatasan mereka, mau tidak mau Prabu Jannapati harus mengirimkan pasukannya pula ke selatan. Sehingga pertahanan di utara dan barat, tentu jadi melemah. Inilah umpan bagi agar ada kekuatan lain yang berani bergerak menyerang Kerajaan Watu Galuh.”

Adipati Panjalu yang dari tadi diam pun menimbrung, “Dan bukan berarti kita akan diam saja. Jika tiba-tiba muncul kesempatan untuk memperluas wilayah kita, atau memperkuat posisi kita, kenapa tidak?”

“Benar, yang penting, kita hanya menyerang ketika kesempatan itu sudah benar-benar matang. Tidak perlu terburu-buru.”, kata Adipati Gading Kencana membenarkan.

Saat mereka masih hendak melanjutkan diskusi mereka, tiba-tiba datang seorang senapati dengan wajah tegang membawa kabar, “Hormat pada Prabu Jayabhuanna. Hormat pada para adipati sekalian, ada seorang utusan datang membawa pesan, memohon ijin agar bisa bertemu dengan Prabu Jayabhuanna dan para adipati sekalian secara langsung.”

Adipati Karangpandan mendengus, “Siapa utusan yang tidak tahu diri itu? Memangnya utusan siapa dia ini, hendak meminta menghadap langsung?“

Adipati Guntur Aji pun mengerutkan alis, “Masa Prabu Jannapati mengirimkan utusan?”

Senapati itu buru-buru menjawab, “Bukan utusan dari Prabu Jannapati.”

Sebelum senapati itu menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara yang lirih, seperti desiran angin menyusup masuk ke tenda itu, lirih namun terdengar jelas oleh mereka semua yang ada di dalam tenda, “Aku Tumenggung Widyaguna, apa menurut kalian aku tidak pantas untuk menghadap?”

Bersambung ke bab XXVIII

















NB :: Agan-agan sekalian, kalau mmg dirasa cerbung ini cukup menarik, mohon bantuan cendol, rate dan share-nya
emoticon-Imlek
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
papahmudanow dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
19-08-2020 10:51
Bab XXXV
Rangga Akhirnya Mulai Bergerak


Ki Ageng Aras tercenung untuk beberapa lama, memikirkan pertanyaan Senapati Manggala. Sesekali pendekar tua itu menghela nafas, sesekali menoleh ke arah Gagak Seta yang masih tekun berlatih. Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala bercakap-cakap dengan suara rendah, agar tidak mengganggu mereka yang masih berlatih.

Saat ini Gagak Seta tidak lagi duduk bersila, sambil perlahan-lahan melatih jurus-jurus Cakar Garuda, Gagak Seta mengalirkan hawa murni ke bagian-bagian tubuhnya, sesuai yang diajarkan Ki Ageng Aras.

“Ki Ageng Aras tak perlu menjawab, jika tidak berkenan. Maafkan aku ki, bukan pertanyaan yang penting, hanya keceplosan saja aku bertanya.”, ujar Senapati Manggala merasa tak enak.

Ki Ageng Aras menggelengkan kepala, “Tak apa Ki..., aku hanya berpikir saja, apa mungkin aku terlalu terburu-buru. Hanya saja... seperti ada dorongan untuk mengangkat dia menjadi murid. Mungkin karena melihat bakatnya, atau karena saat melihat dia, aku teringat dengan usiaku yang perlahan-lahan mendekati batasnya.”

“Aku kira Ki Ageng Aras tidak salah memilih murid. Terus terang selama dia menjalankan tugasnya, kami sebagai atasannya langsung, tak pernah mendapati sifat yang buruk atau sikap yang mencurigakan dari anak itu.”, ujar Senapati Manggala berusaha menghibur Ki Ageng Aras.

Ki Ageng Aras membuang nafas panjang, seakan ingin melonggarkan dadanya dari beban, lalu menoleh ke arah Senapati Manggala dan tertawa, “Hahaha, ya... kuharap juga demikian. Lagipula masih panjang waktunya sebelum aku mulai mewariskan ilmu-ilmu simpananku. Selama dia mempelajari dasar-dasar ilmuku, masih ada banyak waktu untuk mengamati.”

“Benar, benar. Juga seperti yang sudah aku sampaikan, sepanjang yang kami tahu, dia memiliki sikap yang baik.”, sahut Senapati Manggala.

Kedua orang pendekar itu pun mengalihkan perhatian mereka ke prajurit lain yang juga sedang berlatih. Sesekali mereka berjalan untuk mengamati salah seorang prajurit lebih dekat. Memastikan mereka baik-baik saja.

Satu per satu dari mereka merasa menemui jalan buntu, atau merasa tak kuata menahan kantuk dan memutuskan sudah saatnya untuk kembali ke barak.

Terkadang ada pula yang mengajukan pertanyaan dan melanjutkan kembali latihannya setelah merasa pertanyaannya terjawab. Namun tidak ada yang bisa melawan batasan dari fisik seorang manusia, dan akhirnya tidak ada yang tersisa selain Gagak Seta.

Itu pun dia hanya duduk beristirahat, sambil menunggu gurunya selesai dengan tugasnya. Ki Ageng Aras membiarkan anak muda itu menunggu. Sampai setelah orang terakhir meninggalkan tempat itu, dan tersisa Ki Ageng Aras, Senapati Manggala dan Gagak Seta, barulah Ki Ageng Aras mengalihkan perhatiannya ke pemuda itu.

“Lelah?”, tanya Ki Ageng Aras sambil tertawa.

“Ya guru... badanku rasanya sudah pegal semua, ingin berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.”, jawab Gagak Seta tak menyembunyikan rasa lelahnya.

“Hahahaha..., ya sudah, kembalilah ke barakmu untuk beristirahat.”, ujar Ki Ageng Aras melambaikan tangannya.

“Guru, apa tidak ada tugas khusus?”, tanya Gagak Seta.

“Tidak ada, kau pergunakan waktumu sebaik-baiknya untuk mencerna apa yang sudah aku ajarkan malam ini. Tiga hari lagi, aku ingin melihat sejauh mana kau bisa memahami.”, jawab Ki Ageng Aras.

Setelah berpamitan, Gagak Seta pun kembali ke baraknya.

Tiga hari dua malam, waktu yang pendek bagi prajurit-prajurit telik sandi muda itu untuk mencerna apa yang sudah mereka dapat. Di luar bekal yang diberikan Ki Ageng Aras juga ada pelatihan-pelatihan dan tugas dari Senapati Lesmana dan bawahan-bawahannya. Belum lagi tugas mereka untuk diam-diam menebarkan pengaruh mereka di antara prajurit-prajurit baru Kadipaten Jambangan.

Maka masing-masing dari mereka punya caranya sendiri-sendiri dan prioritasnya sendiri-sendiri.

----

Di perbatasan Kadipaten Jambangan, beberapa orang prajurit berkuda sedang duduk mengobrol sambil menikmati wedang jahe yang mereka seduh di atas satu api unggun kecil.

“Jaga jangan sampai terlalu banyak asap.”, ujar pimpinan mereka.

“Kang, kalaupun mereka ada yang lihat juga tidak masalah. Orang-orang Kademangan Jati Asih itu tidak berani keluar terlalu jauh dari sarang mereka.”, jawab prajurit yang agak muda sambil memastikan agar api unggunnya tak terlalu berasap.

“Jangan meremehkan mereka, tiga puluh senapati andalan Prabu Jaya Lesmana itu sudah terkenal selama puluhan tahun, demikian pula tiga pimpinan mereka. Orang-orang kademangan itu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi beda ceritanya dengan pengikut inti Rangga Wijaya.”, ujar pemimpin prajurit itu.

“Kabarnya mereka berhasil menumpas ribuan orang begal Gunung Awu.”, ujar seorang prajurit yang lain.

“Apa kau jadi takut kang?”, goda prajurit yang muda tadi.

“Cis.. jangan sembarangan ngomong kau, Japra, kutendang nanti kau sampai terkaing-kaing.”, sahut prajurit yang digoda dengan kesal.

“Tidak salah perkataan Wardiman itu, di bawah pengaruh dan bimbingan pengikut inti Rangga, penduduk Kademangan Jati Asih jadi kekuatan yang perlu diperhitungkan. Meskipun aku yakin kita tidak akan kalah, tapi akan jatuh banyak korban dari pihak kita. Itu sebabnya Ki Adipati menarik prajurit-prajurit baru dalam jumlah besar, mereka bisa jadi perisai hidup buat kita yang dianggap sebagai kesatuan utama.”, pimpinan prajurit itu menjelaskan.

“Makanya kalian tidak perlu mencari gara-gara dengan prajurit-prajurit baru itu.”, ujar seorang prajurit yang sudah agak berumur.

“Tapi sikap mereka itu Kang, mengesalkan, ugal-ugalan tak punya disiplin. Kadang kalau lihat tingkahnya pingin aku tempeleng saja.”, jawab prajurit yang lebih muda, yang dipanggil Japra tadi.

“Ya jangan kau lihat, sekarang kan Ki Adipati sudah memisahkan barak mereka, agak jauh di perbatasan.”, jawab prajurit yang lebih tua.

“Asal mereka tidak mencari gara-gara saja.”, gumam si Japra tadi.

“Sudah diam, lihat itu, bukankah itu Semampir? Ini belum waktunya pergantian jaga kan? Ruki dan Uyat juga tidak terlihat. Pasti ada sesuatu.”, ujar pimpinan sekumpulan prajurit itu sambil berdiri.

“Kalian tunggu saja di sini.”, ujarnya sambil melompat naik ke atas kuda, lalu memacu kudanya menemui anak buahnya yang datang dari kejauhan.

“Apa ada sesuatu Kang? Menurut Kakang bagaimana?”, tanya Japra sambil melihat ke kejauhan.

“Bisa jadi...., bisa jadi mereka mulai bergerak. Kau ingat kabar dari Kadipaten Serayu yang sempat kita diceritakan Ki Rusadi? Cadangan makanan mereka mungkin tidak akan tahan sampai dua bulan. Jika mereka terus menunggu, pada akhirnya mereka akan mati kelaparan.”, jawab prajurit yang sudah berumur.

“Baguslah kalau mereka mulai bergerak sekarang, tanganku sudah gatal ingin mencoba kepandaian anak-anak Kademangan Jati Asih itu.”, jawab si Japra.

Prajurit yang tadi diejek Japra melirik ke arah anak muda itu dan bertanya, “Kau tidak gatal ingin mencoba menjajal kepandaian prajurit intinya Raden Rangga Wijaya?”

Si Japra meleletkan lidah sambil menjawab, “Kalau mereka, itu bagian kalian yang lebih senior, aku cukup menjajal anak-anak muda Kademangan Jati Asih saja.”

“Bah, dasar, sialan kau.”, jawab prajurit tadi sambil tertawa kecil.

“Sudah diam, lihat Ki Rusadi sudah memacu kudanya kembali. Sebentar lagi kita akan tahu kabar yang dibawa Semampir.”, kata prajurit yang sudah berumur itu.

Pimpinan prajurit itu memacu kudanya dan dalam waktu yang singkat sudah sampai ke tempat yang lain menunggu.

Tanpa melompat turun dari kudanya dia memberikan perintah, “Sendang, Japra, kalian ikut aku kembali ke kadipaten. Yang lain tetap berjaga di sini seperti tugas semula, Wastu, kau yang jadi pimpinan selama aku pergi.”

“Baik Ki, siap. Ada kabar apa dari Semampir Ki?”, tanya prajurit yang berumur tadi.

“Orang-orang Kademangan Jati Asih mulai bergerak.” Jawab Ki Rusadi, pimpinan prajurit-prajurit itu, sebelum dia memacu kudanya ke Kadipaten Jambangan, diikuti oleh dua orang prajuritnya yang dengan buru-buru melompat ke atas kuda mereka dan memacunya mengikuti Ki Rusadi.

-----

Kabar bergeraknya penduduk Kademangan Jati Asih dipimpin oleh Rangga dan pengikutnya ini dengan cepat sampai ke telinga Prabu Jannapati dan juga pada adipati yang dipimpin oleh Adipati Gading Kencana.

Di Kadipaten Serayu, di depan kemah utama tempat Prabu Jannapati tinggal dalam perang melawan adiknya sendiri yang dijadikan raja boneka oleh Adipati Gading Kencana. Terlihat Patih Nandini diikuti Senapati Arya Pameling di belakangnya, menemui pimpinan penjaga raja.

“Ada berita yang penting, mohon sampaikan pada baginda prabu, Nandini ingin menghadap.”, ujar Patih Nandini dengan sopan.

Beberapa orang prajurit yang sedang berjaga itu saling berpandangan, kemudian pimpinannya mengambil keputusan, “Kau sampaikan dulu pada Putri Gading Kuning, agar beliau yang menyampaikan pada baginda prabu.”

Kemudian berbalik pada Patih Nandini, “Mohon kiranya Ki patih berkenan menunggu sejenak.”

“Tentu saja.”, Jawab Patih Nandini dengan senyum yang menenangkan.

Salah seorang dari prajurit yang berjaga masuk ke dalam. Di dalam tenda, masih ada beberapa tirai pemisah yang memisahkan ruang dalam tempat Prabu Jannapati beristirahat dari pintu masuk yang terluar.

Sekilas dari antara celah tirai yang menutupi bagian dalam, pengawal tadi melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdebar.

Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan, menunduk ke bawah dan tak berani mengangkat kepalanya. Meski begitu, bayangan lekuk tubuh yang sintal dan kulit yang putih mulus, tidak mudah dia singkirkan dari benaknya. Sedikit yang terlihat, tapi dengan rajin otaknya bekerja untuk melengkapi apa yang tidak dia lihat.

Di depan tirai untuk masuk ke ruangan yang paling dalam, ada ruangan yang cukup luas.

Tidak ada prajurit yang berjaga di situ. Ruangan itu dihiasi cukup mewah dan nayaman. Hanya ada empat orang wanita cantik berkulit putih dengan alis lentik dan mata yang sipit. Yang sedang duduk bersantai dan sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.

“Ada apa pengawal?”, tanya salah seorang dari mereka dengan aksen yang janggal di telinga.

“Lapor tuan puteri, ada Ki Patih Nandini dan Ki Senapati Arya Pameling di luar yang ingin bertemu dengan baginda prabu.”, jawab prajurit itu dengan hormat.

“Hmm... apa sebegitu pentingnya? Baginda prabu sedang beristirahat. Coba kau tanyakan pada Patih Nandini, ada berita apa sehingga harus mengganggu istirahat baginda prabu.”, jawab puteri tersebut.

“Ah... tapi...”, prajurit itu terlihat ragu-ragu.

Namun ketika melihat tatapan mata yang tajam dari lawan bicaranya, buru-buru dia mengangguk hormat dan berkata, “Siap tuan puteri, akan hamba tanyakan sekarang.”

Tanpa banyak membuang waktu, prajurit itu bergegas keluar dan menyampaikan pesan dari dalam pada pimpinannya. Pimpinan pengawal itu memandang ke arah Patih Nandini dengan rasa bersalah.

“Maaf Ki... seperti yang Ki Patih dengar.”, ujarnya ragu-ragu.

“Tidak apa-apa, aku mengerti, sampaikan bahwa ada berita tentang pergerakan Raden Rangga beserta seluruh penduduk yang mengikutinya.”, ujar Patih Nandini dengan sabar.

“Terima kasih ki.”, ujar pimpinan pengawal raja itu dengan lega, buru-buru dia menengok ke bawahannya dan berkata, “Kau dengar itu kan, cepat sampaikan.”

“Siap Ki.”, ujar anak buahnya yang segera masuk kembali untuk menyampaikan pesan.

Senapati Arya Pameling mengerutkan alis, merasa tak suka dengan apa yang dia lihat, tak tahan dia bergumam, “Harusnya baginda prabu tidak mengajak mereka ke medan perang.”

Patih Nandini menengok ke arahnya dan tersenyum, “Bukankah dahulu Kakang Tumenggung Sanajaya juga sempat mengajukan keberatan, tapi kemudian kelima orang puteri itu membuktikan bahwa mereka punya ilmu kanuragan yang tak kalah dengan seorang senapati sekalipun.”

Senapati Arya Pameling menghela nafas, merasa tak senang, tapi juga tak tahu harus menjawab apa.

“Sabar saja, baginda prabu bukan orang yang bodoh. Kelima orang puteri itu pun demikian juga.”, ujar Patih Nandini.

Tak lama kemudian pengawal raja yang tadi masuk pun keluar, “Ki Patih dan Ki Senapati harap menunggu sebentar, baginda prabu sedang bersiap.”

Dari dalam tiba-tiba terdengar suara merdu mendayu dengan aksen yang janggal, “Ki Patih silahkan menunggu di dalam, sebentar lagi baginda prabu akan menemui kalian berdua.”

Para pengawal pun bergeser dan memberikan jalan bagi Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling untuk masuk ke dalam. Sementara pengawal yang tadi menyampaikan pesan dalam hati menggerutu, betapa berbeda nada suara puteri itu saat berbicara dengan dirinya tadi.

Ketika Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling masuk ke dalam, di ruangan sebelum ruang tidur Prabu Jannapati itu, sudah ditata dengan rapi, meja hidangan dan tempat duduknya. Sementara dari celah tirai terlihat, tiga orang puteri membantu Prabu Jannapati mengenakan pakaian. Dua orang puteri yang lain, dengan sopan dan luwes menuangkan minuman untuk Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling.

Salah seorang dari mereka, entah sengaja atau tidak, mengerling ke arah Senapati Arya Pameling. Ketika tatapan mata mereka bertemu, jantung Senapati Arya Pameling pun berdebar lebih cepat.

Buru-buru dia menundukkan wajahnya.

Terdengar tertawa kecil yang merdu dari salah satu selir Prabu Jannapati itu ketika dia berjalan meninggalkan mereka.

“Jangan kau goda mereka. Nanti aku cemburu.”, terdengar suara Prabu Jannapati dari dalam, disambut tertawa cekikikan dari para selirnya.

Prabu Jannapati pun keluar menemui Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling, dengan suara lantang dia bertanya. “Nandini, kudengar Rangga akhirnya bergerak juga? Cepat sampaikan laporanmu!”

Bersambung ke Bab XXXVI
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
singomenggolo dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
11-07-2020 15:46
Pertamax, tempat buat index
BUKU KESATU
Gonjang-Ganjing Bhumi Adyatma

Bab I. Raden Rangga
Bab II. Ki Ageng Aras
Bab III. Rangga vs Ki Ageng Aras
Bab IV. Setan-Setan Dari Pegunungan
Bab V. Patih Nandini
Bab VI. Patih Nandini menghadap Prabu Jannapati
Bab VII. Kawan Lama
Bab VIII. Garangnya Seorang Pendekar Tua
Bab IX. Harga Yang Harus Dibayar Rangga utk Keterlambatannya
Bab X. Bangkitnya Trah Prabu Jaya Lesmana
Bab XI. Rencana Rangga
Bab XII. Menangkap Tikus-Tikus
Bab XIII. Pangeran Adiyasa
Bab XIV. Kemarahan Prabu Jannapati
Bab XV. Riak-Riak Menyebar Ke Seluruh Penjuru Bhumi Adyatma
Bab XV. part-2 (Bab XV ga cukup buat di-post satu kali post.)

BUKU KEDUA
BARISAN PANJANG PARA PAHLAWAN

Bab XVI. Awal dari Perjalanan yang Panjang
Bab XVII. Rencana Jahat Prabu Jannapati
Bab XVIII. Begal-Begal Gunung Awu
Bab XIX. Awal Pertempuran Yang Berat
Bab XX. Pembantaian Besar-Besaran.
Bab XXI. Tuntutan Adipati Jalak Kenikir
Bab XXII. Bayang-Bayang Tangan Prabu Jannapati
Bab XXIII. Anak-Anak Muda Kademangan Jati Asih
Bab XXIV. Gagak Seta
Bab XXV. Pasukan Telik Sandi Beraksi
Bab XXVI. Hukuman Untuk Gagak Seta
Bab XXVII. Babak Pembukaan, Pertarungan Antara Empat Kekuatan
Bab XXVIII. Kelicikan Adipati Gading Kencana
Bab XXIX Gagak Seta Keluar dari Penjara
Bab XXX. Kesempatan Bagi Gagak Seta
Bab XXXI. Pertemuan Rahasia Di Tengah Hutan
Bab XXXII. Ki Ageng Aras Mengajar.
Bab XXXIII. Ki Ageng Aras Mengangkat Murid
Bab XXXIV. Kesulitan Seorang Guru.
Bab XXXV Rangga Akhirnya Mulai Bergerak
Bab XXXVI Senapati Arya Pameling Memecahkan Rencana Rahasia Rangga
Bab XXXVII Permainan Memasuki Babak Pertengahan
Bab XXXVIII Kadipaten Jambangan Mulai Memanas
Bab XXXIX Gagak Seta vs Tapakdara
Bab XL. Gagak Seta Terluka
Bab XLI Senapati Gagak Seta
Bab XLII. Firasat Buruk Gagak Seta
Bab XLIII Permainan Mulai Memasuki Babak Akhir
Bab XLIV. Teka-Teki Seribu Prajurit yang Menghilang.
Bab XLV. Jawaban Atas Teka-Teki Menghilangnya Seribu Prajurit
Bab XLVI Pertaruhan Besar Sudah Dimulai, Dadu Sudah Dilemparkan
Bab XLVII Saling Jegal, Raden Rangga vs Prabu Jannapati
Bab XLVIII Barisan Malaikat Pencabut Nyawa
Bab XLIX Rangga Terkepung
Bab L Adipati Gading Kencana Beraksi
Bab LI Epilog Buku Kedua
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
botaysan dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
29-08-2020 13:14
Bab XLV
Jawaban Atas Teka-Teki Menghilangnya Seribu Orang Prajurit .


Perlahan-lahan kesadaran Sabrang kembali, hidungnya mencium bau ramun obat-obatan yang menusuk hidung. Luka-luka di badannya terasa jauh lebih nyaman. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, ditopang oleh tempat berbaring yang cukup empuk dan dilapisi kain.

Mungkin pembaringannya jauh lebih keras dan padat, dibandingkan kasur yang empuk.

Namun terasa sangat nyaman, setelah beberapa hari hampir selalu berada di atas punggung kuda, kalau pun tidur hanya beralaskan tanah, ditambah lagi kelelahan yang amat saat dia harus berpacu dengan waktu untuk sampai secepat-cepatnya ke tempat tujuan.

Sabrang masih menutup matanya agak lama, sambil menikmati istirahat yang dia rindukan, sebelum akhirnya dengan berat hati membuka mata.

“Kau sudah sadar?”, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.

Sabrang menoleh dan hendak membuka mulut, ketika dia melihat berdiri di depannya adalah Senapati Watu Gunung, tapi Senapati Watu Gunung yang saat ini memakai baju prajurit Kerajaan Watu Galuh. Sabrang berkedip-kedip sebentar, otaknya berputar, mencerna keadaaan. Dengan cepat dia mulai mengingat semua yang terjadi, siapa dia, di mana sekarang dia berada, sebagai siapa dan apa tugas yang dia emban.

“Kisanak ini...?”, tanya Sabrang ragu-ragu, berpura-pura tak mengenali Senapati Watu Gunung yang ada di depannya.

“Aku Senapati Mundingsari, yang bertugas memimpin pengawalan perbekalan dari ibukota ke perbatasan di selatan.”, jawab Senapati Watu Gunung membelakangi seseorang di belakangnya, dia mengedipkan sebelah matanya pada Sabrang.

“Bersama denganku ada Senapati Subangsana yang dikirimkan Prabu Jannapati untuk membantu pengawalan, beberapa hari sebelum Adipati Jalak Kenikir mengirimkan kalian untuk membantu juga.”, ujar Senapati Watu Gunung sambil menggeser badan, sehingga Sabrang bisa melihat orang di belakangnya.

Sabrang melihat ke arah orang yang ada di belakang Senapati Watu Gunung, seraut wajah yang tidak dikenal. Anak muda itu menganggukkan kepala.

“Baik Ki Senapati, aku mengerti.”, kata anak muda itu pada Senapati Watu Gunung.

“Sekarang sampaikan apa yang terjadi, sesingkat mungkin tanpa melupakan hal yang penting, agar kami dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.”, ujar Senapati Subangsana dengan nada tak sabar.

“Siap Ki...”, ujar Sabrang.

“Sesuai perintah dari pimpinan kami, Senapati Lesmana, kami berpacu dan hanya sesekali beristirahat untuk mengistirahatkan kuda-kuda kami. Pimpinan kami... Senapati Gagak Seta.. dia masih muda dan kurang pengalaman---”, Sabrang memulai ceritanya, tapi Senapati Subangsana menyela dia.

“Tidak perlu terlalu panjang menjelaskan, apa yang terjadi dalam perjalanan kalian menuju ke tempat ini?”, sela Senapati Subangsana.

“... pasukan Raden Rangga menyergap kami dan dalam keadaan kelelahan dan barisan yang tidak teratur karena memburu waktu, kami mengalami kekalahan.”, lanjut Sabrang dengan alis berkerut.

“Kenapa hanya ada kalian berdua? Bagaimana dengan sisa pasukan yang lain?”, tanya Senapati Watu Gunung.

“Aku tidak tahu ki..., pada saat itu aku dan Kakang Partajaya mendampingi Senapati Gagak Seta memimpin di depan. Mereka menyerang dari sisi kiri, kanan dan belakang barisan. Kami bertempur sengit, tapi mereka sangat tangguh. Senapati Gagak Seta kemudian memerintahkan kami berdua untuk meninggalkan pertempuran dan mencari bala bantuan dari kalian.”, jawab Sabrang.

Senapati Watu Gunung melihat ke arah Senapati Subangsana dan Senapati Subangsana berkata. “Kita keluar dulu.”

Kedua senapati itu pun berjalan meninggalkan tenda.

“Bagaimana menurut Ki Subangsana?”, tanya Senapati Watu Gunung.

“Kau tahu? Kukira prajurit yang dikirimkan Adipati Jalak Kenikir, sudah pasti bukan pasukan utamanya. Melainkan sebagian dari prajurit yang baru beberapa bulan yang lalu diangkat menjadi prajurit.” jawab Senapati Subangsana.

Senapati Watu Gunung pura-pura berpikir agak lama dan kemudian dengan wajah prihatin, “Hmm..., maksud Ki Subangsana... mereka sudah kalah?”

“Hmph... melihat keadaan anak muda itu, kukira dia bukan diperintahkan mundur, tapi kabur. Kukira teman-temannya yang lain juga sudah tersebar-sebar, ada yang lari dan ada yang gugur.”, dengus Senapati Subangsana.

Senapati Watu Gunung terdiam untuk beberapa saat kemudian dengan tegas mengatakan, “Perbekalan ini tidak boleh jatuh ke tangan mereka.”

“Tentu saja.”, sahut Senapati Subangsana.

“Apa perlu kita mengambil jalan memutar? Jika benar mereka disergap ketika melalui jalan ini, jangan-jangan saat ini mereka juga sudah menunggu untuk menyergap kita pula.”, tanya Senapati Watu Gunung.

Senapati Subangsana berpikir cukup lama, sebelum kemudian menggelengkan kepala, “Tidak bisa Ki, satu-satunya jalan memutar ada beberapa hari perjalanan di belakang kita. Itupun akhirnya kita harus memutar cukup jauh. Kita akan membuang waktu terlalu lama, semangat pasukan di perbatasan bisa turun jika perbekalan tidak segera sampai.”

Mereka berdua sama-sama terdiam, Senapati Subangsana merasa pusing menghadapi masalah ini, sementara Senapati Watu Gunung hanya berpura-pura pusing. Ketika melihat Senapati Subangsana, tidak juga menemukan ide, Senapati Watu Gunung pun melontarkan rencana yang sudah Rangga buat jauh-jauh hari.

“Begini saja Ki, jika kita menggabungkan kekuatan pasukan kita, jumlahnya lebih dari seribu. Apalagi lawan juga baru saja bertempur mati-matian. Kita punya kesempatan besar untuk menang. Kenapa tidak kita satukan kekuatan kita? Dan bergerak cepat untuk menyergap mereka sekarang juga, ketika mereka masih belum siap!”, ujar Senapati Watu Gunung dengan sorot mata berapi-api.

“Tapi bagaimana dengan perbekalan yang kita bawa?”, tanya Senapati Subangsana ragu-ragu.

“Untuk sementara kita tinggalkan perbekalan itu di sini, dan akan aku tinggalkan dua ratus orang pasukanku untuk menjaga perbekalan itu.”, ujar Senapati Watu Gunung dengan berani.

Senapati Subangsana mulai merasa ikut bersemangat, “Kau yakin?”

“Tidak ada jalan lain, perbekalan itu lebih aman berada di sini sampai kita berhasil membereskan pasukan Rangga itu.”, Senapati Watu Gunung menjawab.

Ketika dia melihat Senapati Subangsana masih terlihat agak ragu-ragu, Senapati Watu Gunung menambahkan, “Aku nanti yang akan bertanggung jawab di depan Prabu Jannapati jika sampai terjadi sesuatu atas perbekalan ini.”

Senapati Subangsana memandangi Senapati Watu Gunung dalam-dalam, “Apa aku bisa pegang kata-katamu itu?”

“Tentu saja, jika tetap pada rencana semula, lalu kita disergap dan terjadi sesuatu atas perbekalan itu. Bukankah aku juga yang akan dituntut pertanggung jawabannya secara hukum keprajuritan? Karena itu aku memilih rencana ini.”, jawab Senapati Watu Gunung dengan yakin.

“Baiklah, kalau begitu kita harus segera bersiap, sebelum keparat-keparat itu menghilang lagi.”, akhirnya Senapati Subangsana menyetujui rencana Senapati Watu Gunung.

Bergegas kedua orang senapati itu menyiapkan pasukan mereka, ketika Senapati Subangsana sudah siap, dia menemukan Senapati Watu Gunung masih mengatur pertahanan di sekeliling perbekalan yang ditinggalkan.

“Ki Mundingsari, kau belum siap?”, tanya Senapati Subangsana tak sabar.

Senapati Watu Gunung berpura-pura merasa malu, “Sebentar lagi Ki, aku harus memastikan dua ratus orang itu bisa bertahan bila ternyata pasukan Rangga entah dengan cara bagaimana, berhasil melewati kita dan menyerbu.”

Senapati Subangsana terlihat tak sabar, “Jika kau terlalu lama, mereka akan keburu pergi.”

“Eh... bagaimana kalau Ki Subangsana berangkat sekarang juga? Aku akan menyusul secepatnya.”, Senapati Watu Gunung dengan ragu dan sungkan menjawab.

Senapati Subangsana terlihat ragu, tapi ketika melihat prajurit-prajurit Senapati Watu Gunung masih sibuk memindahkan dan mengatur beberapa gerobak agar membentuk tembok pertahanan, akhirnya dia mengambil keputusan.

“Baiklah aku akan memimpin pasukanku lebih dulu, tapi kau secepat mungkin menyusul.”, tegas Senapati Subangsana.

“Tentu saja, aku hanya akan mengarahkan mereka, begitu mereka sudah paham yang aku mau, aku akan segera memimpin pasukanku menyusul Ki Subangsana.”, jawab Senapati Watu Gunung.

“Baik, aku pergi sekarang.”, ujar Senapati Subangsana yang dengan segera memacu kudanya ke arah pasukannya yang sudah menunggu.

Senapati Watu Gunung berpura-pura melanjutkan pekerjaannya mengatur pertahanan. Namun ketika pasukan Senapati Subangsana sudah tak terlihat, Senapati Watu Gunung dan prajurit-prajuritnya pun berhenti bekerja. Sambil saling berpandangan mereka tertawa kecil.

“Hehehe, kita berhasil Di”, ujar salah seorang prajurit.

“Hmm... tapi kita belum boleh berpuas diri Kakang, kita baru berhasil setengahnya.”, jawab Senapati Watu Gunung dengan senyum terkulum.

“Kau benar, ayolah kita jangan membuang waktu lagi. Aku akan berangkat sekarang untuk menemui Gagak Seta, kalian atur sendiri bagaimana yang di sini.”, ujar prajurit tadi, dia adalah Senapati Bayu Bayanaka.

“Baik kakang, cepatlah, sebelum Senapati Subangsana terlalu dekat dengan pasukan Gagak Seta.”, jawab Senapati Watu Gunung.

“Hmm..”, jawab Bayu Bayanaka singkat, sebelum mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berkelebat pergi.

------

Dua puluh lima orang senapati yang dikerahkan Raden Rangga untuk tugas rahasia ini. Jauh sebelum Prabu Jannapati mengirimkan Senapati Subangsana untuk membantu pengawalan, pasukan Raden Rangga yang diam-diam menghilang, sudah memanfaatkan waktu ketika kepergian mereka belum diketahui, untuk secepat-cepatnya menyerang perbekalan Prabu Jannapati di tengah perjalanan.

Kemudian alih-alih melarikan perbekalan itu, atau membakarnya, pasukan Rangga berpura-pura menjadi pengawal perbekalan itu dan melanjutkan perjalanan, membawa perbekalan menuju ke selatan, ke arah Kadipaten Serayu.

Mereka sudah bersiap-siap, selama penyamaran mereka tidak terbongkar, mereka akan meneruskan perjalanan, membawa perbekalan, sebagai pasukan Kerajaan Watu Galuh.

Namun jika sampai penyamaran mereka terbongkar, maka jalan kedua akan mereka ambil, yaitu membakar perbekalan dan kembali menghilang, untuk terus mengganggu pengiriman perbekalan untuk pasukan Prabu Jannapati yang sedang berada di medan perang.

Rupanya dewi keberuntungan memilih untuk berpihak pada Rangga Wijaya. Penyamaran mereka tidak terbongkar, beberapa orang utusan yang dikirim, tidak mengenal Watu Gunung. Maklum saja, pasukan yang dibawa Prabu Jannapati untuk melawan gabungan pasukan para adipati, juga berasal dari berbagai kadipaten di Kerajaan Watu Galuh, sehingga banyak di antara mereka yang tidak saling kenal.

Berbekal kata sandi yang mereka dapatkan dengan cara menyiksa prajurit pengawal perbekalan yang asli, akhirnya pasukan Rangga ini bisa lolos tak terdeteksi sampai saat-saat yang paling penting sekarang ini.

Lalu siapa yang melukai Sabrang dan Partajaya? Mereka berdua yang saling melukai diri mereka sendiri, agar seakan-akan mereka baru saja lolos dari pertempuran yang berat.

Apa tujuannya? Ya untuk memancing Senapati Subangsana.

--------

“Baik kakang, jadi bagaimana pembagiannya? Siapa yang akan membawa perbekalan dan siapa yang maju menyerang?”, tanya Watu Gunung pada beberapa orang senapati yang ikut berkumpul.

“Aku ingin bertarung, beberapa hari ini terlalu membosankan.”, ujar Senapati Gajah Petak disambut tawa senapati yang lain.

Senapati Respati yang lebih tenang pembawaannya berkata, “Sudahlah, biar aku, Adi Trengganu dan Adi Arcayama yang mengawal perbekalan. Aku tahu kalian semua sudah gatal untuk bertarung.”

“Hahahaha.... bagus-bagus, itu baru saudara yang baik.”, sahut Senapati Gajah Petak sambil menepuk-nepuk pundak Senapati Arcayama dengan puas.

Tidak terlihat ketegangan di wajah-wajah mereka, baik para senapati itu, maupun prajurit yang mereka pimpin.

Dalam waktu singkat, tanpa membuang waktu mereka sudah membagi pasukan mereka menjadi dua bagian. Sebagian besar menaiki kudanya dan menyusul Senapati Subangsana yang sedang memimpin pasukannya ke arah Kadipaten Serayu, menuju ke pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin oleh Gagak Seta.

Sementara sisanya yang lebih sedikit, dengan bergegas mengarahkan gerobak-gerobak berisi perbekalan yang disiapkan untuk pasukan Prabu Jannapati selama beberapa bulan ke depan, menyusul di belakang mereka dengan perlahan-lahan. Partajaya dan Sabrang yang dalam kondisi luka-luka, ikut juga bersama dengan rombongan yang membawa perbekalan itu.

--------

Sekarang apa yang akan terjadi nanti ketika pasukan Senapati Subangsana bertemu dengan pasukan yang dipimpin Gagak Seta?

Bagaimana pula kelanjutan rencana Rangga? Apakah mereka berhasil mengelabui Prabu Jannapati?

Lalu bagaimana dengan pertempuran antara pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin Senapati Lesmana, melawan pasukan Raden Rangga? Akan berhasilkah Rangga merebut Kadipaten Jambangan? Bagaimana dia akan memanfaatkan sisa pasukan telik sandinya yang masih berada dalam pasukan Senapati Lesmana?

Bersambung ke Bab XLVI
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
baronfreakz dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
23-08-2020 15:59
Bab XXXIX
Gagak Seta vs Tapakdara


Diam-diam Gagak Seta dan beberapa rekan-rekannya saling bertukar pandang, bagaimana mereka membagi kelompok?

Ada tiga puluh tujuh orang prajurit telik sandi Rangga yang sekarang menyusup ke dalam kesatuan militer Adipati Jalak Kenikir. Mereka semua berhasil bertahan sampai mereka mencapai panggung. Partajaya yang tertua di antara mereka, dan sering mengambil posisi sebagai pemimpin berbisik pada Gagak Seta, “Bagaimana?”

Karena Senapati Lesmana memerintah mereka untuk membentuk sendiri kelompok-kelompok kecil, maka saat ini cukup banyak prajurit yang saling bertukar pendapat, sehingga tidak terlalu mencurigakan ketika Partajaya mengajak Gagak Seta berdiskusi.

Otak Gagak Seta bekerja keras, berpikir dengan cepat, “Kita bagi orang kita jadi tujuh kelompok. Jika perlu bekerja sama dalam kelompok, kita menjadi mayoritas di dalam kelompok. Jika perlu kerja sama antar kelompok, kita bisa punya tujuh kelompok yang berbeda untuk bekerja sama.”

Partajaya berpikir sebentar dan segera menyetujui pemikiran Gagak Seta, “Hmm... kau benar, baik, aku akan sampaikan ke yang lain.”

Ketika semuanya sudah berakhir dalam 34 kelompok-kelompok kecil beranggotakan sepuluh orang, dengan sebagian kelompok berisi sebelas orang, prajurit-prajurit telik sandi Rangga sudah terbagi di tujuh kelompok yang berbeda.

Senapati Lesmana melihat bekeliling, menatap mata mereka satu per satu, dan berkata, “Hmm... bagus, sekarang masing-masing kelompok, silahkan memilih satu orang dari kelompok kalian untuk menjadi pemimpin. Mereka yang terpilih akan mendapat pangkat Bekel.”

Para prajurit di atas panggung pun saling pandang dengan macam-macam pikiran dalam kepalanya.

Senapati Lesmana kemudian menambahkan, “Aku tidak peduli bagaimana caranya kalian memilih satu di antara kalian, mau berkelahi, mau saling keroyok, mau kalian bicarakan baik-baik, itu terserah kalian. Yang perlu kalian ingat, orang yang terpilih nanti akan menjadi Bekel yang akan bertanggung jawab memimpin Lurah-Lurah Prajurit yang ada di kelompoknya itu.”

Gagak Seta kebetulan berada di kelompok dengan sebelas orang anggota, dengan enam orang dari mereka adalah prajurit telik sandi Raden Rangga.

Gagak Seta menatap ke mereka satu per satu sambil berkata dengan lambat dan tegas, “Aku akan menjadi pemimpin kelompok ini. Kalian yang tidak setuju, aku persilahkan untuk maju bertarung dengan tangan kosong, satu lawan satu denganku.”

Mereka pun saling tatap dengan ragu-ragu, seorang prajurit berkata, “Aku tidak keberatan.”

Disusul dua-tiga orang prajurit yang lain, menyatakan hal yang sama.

Tiba-tiba seorang prajurit maju selangkah ke depan. “Aku ingin mencoba ilmumu dulu Gagak Seta.”

“Silahkan kakang.”, jawab Gagak Seta sambil mundur selangkah.

Prajurit-prajurit yang lain pun bergerak mundur, menyisakan ruang bagi keduanya untuk bertarung. Di tempat lain, hal yang kurang lebih sama terjadi. Tidak ada kelompok yang memilih pemimpinnya tanpa melalui pertarungan. Bedanya ada di jumlah prajurit yang ingin bersaing untuk menjadi Bekel. Di tiap kelompok selalu ada mereka yang menyadari kemampuannya tidak cukup, dan puas dengan pangkat Lurah Prajurit, tapi juga selalu ada dua sampai empat orang yang merasa diirnya punya kemampuan untuk menjadi Bekel.

“Awas serangan!”, prajurit yang menantang Gagak Seta dengan cekatan melompat sambil menendang ke arah kepala.

Gagak Seta dengan lincah, menggeser sedikit kedudukannya sehingga tendangan lawan hanya berdesir lewat di depan mukanya. Kemudian ketika lawan masih dalam keadaan melayang, Gagak Seta sedikit merendahkan tubuh dan balas menendang rendah, menyapu kaki lawan.

Tanpa bisa dihindari, tubuh lawan pun berputar di udara.

Namun lawan Gagak Seta bukan orang yang tidak punya kepandaian, dia berani menantang karena memiliki bekal yang cukup. Cepat dia memutar tubuhnya mengikuti arah putaran, sehingga sebelum Gagak Seta bisa menyusulkan serangan yang kedua, salah satu tangannya sudah mencapai tanah. Dengan menggunakan tangan sebagai penopang, dia menggeliat dan mengirimkan tendangan susulan.

Kedua kaki berputaran seperti baling-baling, menyerang pinggang dan kepala Gagak Seta secara berturut-turut.

Gagak Seta bisa saja menghindar tapi tadi ketika mereka mulai bergebrak, pemuda itu sempat berpikir, 'Aku harus menunjukkan kelebihanku, supaya bisa menaklukkan hati mereka.'

Karena memiliki pemikiran seperti itu, maka Gagak Seta kemudian melakukan sesuatu yang tak terduga. Diam-diam sejak tadi dia sudah mulai menggerakkan hawa murni dalam tubuhnya dan sekarang dia sudah siap. Maka ketika tendangan kaki lawan meluncur ke arahnya, Gagak Seta tidak menghindar, melainkan dengan tenang memapak tendangan lawan dengan kedua telapak tangannya.

Prajurit yang menjadi lawan Gagak Seta terkesiap, ketika kedua tangan Gagak Seta memapak tendangannya dengan gerakan melingkar, tenaganya seperti tiba-tiba terserap dan dengan mudah Gagak Seta menangkap kedua kakinya.

Belum hilang rasa kagetnya, dia merasa kaki Gagak Seta dengan ringan menyentuh lehernya yang terbuka lebar, tanpa pertahanan.

“Aku menang kakang.”, ujar Gagak Seta melepaskan kuncian di kaki lawan, mendorongnya menjauh dan bergerak menyurut mundur beberapa langkah.

Prajurit itu dengan gesit, melenting dan melompat berputaran beberapa kali mundur ke belakang, sebelum berdiri dengan tegak.

Dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Kau menang, aku siap menerimamu sebagai pimpinan.”

“Ada yang lain?”, Tanya Gagak Seta dengan tenang.

Melihat bagaimana dengan mudah Gagak Seta mengalahkan lawannya, seorang prajurit lain, yang tadinya juga ingin mencoba menantang Gagak Seta dan menjadi Bekel berpikir dua kali. Ketika dia mendengar beberapa prajurit lain menerima Gagak Seta sebagai Bekel, keinginannya untuk menjadi Bekel pun menghilang.

Demikianlah Gagak Seta dalam satu hari yang sama, berhasil menjadi Lurah Prajurit dan kemudian mendapatkan promosi kedua kalinya dan sekarang menjadi seorang Bekel.

Di kelompok-kelompok yang lain, satu per satu juga akhirnya terpilih seorang Bekel, di antara beberapa orang yang bersaing untuk menduduki posisi itu. Namun tidak semua prosesnya semudah yang dilewati Gagak Seta.

Beberapa orang menjadi Bekel, setelah memeras tenaga untuk mengalahkan saingan-saingannya.

Ada beberapa juga yang mendapatkan luka dalam pertarungan itu.

“Kulihat kalian semua sudah berhasil memilih seorang Bekel di dalam kelompok kalian. Sekarang semua lurah prajurit, maju ke depan, ambil medali yang menunjukkan pangkat kalian ini, lalu turun dari panggung.”, kata Senapati Lesmana, di satu tangannya ada kantong kain.

Satu per satu, mereka yang mendapat pangkat Lurah Prajurit berjalan mendekat dan mengambil satu medali dari dalam kantong yang ada di tangan Senapati Lesmana, kemudian turun dari panggung.

Setelah tinggal 34 orang Bekel yang tinggal berdiri di atas panggung, Senapati Lesmana menatap mereka semua satu per satu, “Bagus, selamat, kalian sudah menjadi seorang Bekel. Sekarang siapa yang masih ingin terus mencoba, tetap tinggal di atas panggung, yang sudah puas dengan kedudukan bekel, silahkan ambil medali pangkat kalian dan turun ke bawah.”

“Berikutnya aku akan mengadu kalian, satu lawan satu, sampai tersisa satu orang saja. Satu orang yang terkuat dan dia akan mendapatkan pangkat Senapati Muda, bertugas menjadi senapati pengiringku dalam tiap pertempuran yang kupimpin.”, lanjut Senapati Lesmana menjelaskan.

Maka para Bekel itu pun saling pandang, dan saling mengukur, mengira-ngira seberapa besar kesempatan yang mereka miliki. Beberapa orang yang sudah kehabisan tenaga dan memiliki luka, menghela nafas kecewa. Mereka melihat Bekel-Bekel yang berdiri dengan nafas masih teratur, tanpa luka sedikitpun.

Beberapa orang bekel memilih mengambil medali pangkatnya dan turun dari atas panggung, satu per satu, sampai akhirnya tersisa dua puluh orang yang masih tetap tinggal di atas panggung.

Senapati Lesmana menunjuk-nunjuk, “Kau, lawan tandingmu dia. Kau dengan dia.”

Demikian dia dengan cepat mengatur, mereka menjadi sepuluh pasangan yang akan bertarung satu lawan satu. Dari dua puluh orang yang berdiri di atas panggung itu, tujuh orang berasal dari kesatuan telik sandi Raden Rangga.

Hal ini tidak lepas dari strategi yang diusulkan Gagak Seta, karena hampir di tiap kelompok mereka memilili jumlah terbanyak, akhirnya dengan relatif mudah mereka berhasil memajukan seorang yang terkuat dari antara mereka untuk menjadi Bekel.

Kali ini kebetulan Gagak Seta berhadapan bukan dengan rekannya. Dalam hati pemuda itu merasa senang, dalam pertarungan yang sebelumnya dia tidak bisa bertarung dengan puas, karena tingkatan lawan yang cukup jauh di bawah dirinya.

'Semoga kali ini bisa bertemu lawan yang tangguh.', Pikir Gagak Seta dalam hati, bukannya jumawa, tapi sejak dia menerima tuntunan langsung dari Ki Ageng Aras, Gagak Seta merasa mendapat kemajuan yang cukup pesat.

Sekarang dia ingin melihat, sampai di mana batas kemampuan dirinya dalam pertarungan yang sesungguhnya.

Pertandingan pertama berjalan dengan ketat, tapi akhirnya Partajaya berhasil mengalahkan lawannya.

Pertandingan kedua berlangsung agak lama, sepertinya keras, tapi luka dan memar yang terjadi hanyalah luka luar, maklum keduanya adalah prajurit telik sandi yang dikirim Raden Rangga untuk menyusup.

Pertandingan ketiga, Gagak Seta maju melawan prajurit yang bernama Tapakdara, seorang pendekar yang cukup terkenal dari Kadipaten Jambangan sendiri. Orang-orang di Kadipaten Jambangan memberi dia julukan, Pendekar Golok Emas.

Ketika sampai pada giliran mereka bertarung, dia menengok ke arah Senapati Lesmana, “Ki, apa boleh aku menggunakan senjata?”

Senapati Lesmana tak langsung menjawab, karena dia tahu Tapakdara terkenal karena permainan goloknya, tapi semua pertandingan, atau pertarungan sebelumnya menggunakan tangan kosong.

Tapakdara menyambung, “Maaf ki, tapi aku punya kelebihan dalam permainan golokku, jika aku bertarung dengan tangan kosong maka aku tidak bisa menunjukkan kemampuanku sepenuhnya. Kalah pun aku tidak merasa yakin akan kelebihan lawan.”

Senapati Lesmana menengok ke arah Gagak Seta, “Bagaimana menurutmu?”

Gagak Seta pun tak berani langsung menjawab, ragu-ragu dia berkata, “Tapi Ki, sehebat-hebatnya ilmu tangan kosong seseorang, bersenjata pasti memiliki keunggulan dibandingkan tanpa senjata.”

Tapakdara menyahut, “Kalau begitu, kau boleh menggunakan senjata. Jika kau tak punya senjata unggulan, maka ya itulah kelebihanku. Apa mungkin kau melarang lawan untuk bersenjata dalam sebuah pertempuran?”

Senapati Lesmana tertawa kecil dan bertanya pada Gagak Seta, “Dia ada benarnya, bagaimana menurut pendapatmu?”

Gagak Seta tak dapat memikirkan alasan lain untuk mendebat, kemudian mengangguk dengan tekat, “Baik Ki, aku setuju dengan perkataan Ki Tapakdara, tak ada alasan untuk tidak menggunakan senjata.”

“Bagus, kalau begitu silahkan kalian menggunakan senjata pilihan kalian. Ingat keputusan ini kalian sepakati sendiri, aku akan berusaha menghentikan pertarungan agar tak ada jatuh korban, tapi aku tidak menjamin. Kalian siap dengan resiko yang kalian hadapi?”, tanya Senapati Lesmana pada Tapakdara dan Gagak Seta.

“Siap Ki”, jawab Gagak Seta singkat.

Tapakdara mengangguk, “Tentu saja, aku yang meminta, jadi aku siap. Ini bukan pertama kalinya aku bertarung mempertaruhkan nyawa.”

“Baik silahkan kalian mulai.”, Senapati Lesmana berujar lalu mundur memberi mereka ruang untuk bertarung.

Tapakdara menengok ke bawah, seseorang melemparkan Golok Emas andalan Tapakdara ke atas. Dengan cekatan Tapakdara menangkap golok itu. Senapati Lesmana dan Senapati Rendra, sekilas saling melihat, mereka sudah paham, ada kelompok-kelompok kecil yang terbentuk dalam kesatuan prajurit yang baru ini. Itu sebabnya Senapati Lesmana mengijinkan mereka untuk membentuk kelompok-kelompok sendiri untuk membentuk kesatuan di bawah pimpinan satu Bekel.

Gagak Seta menunggu Tapakdara maju ke tengah, sementara dia mencabut keris yang ada di pinggangnya.

Tapakdara berdiri dengan tegak kira-kira tiga langkah jauhnya dari Gagak Seta dan bertanya, “Kau sudah siap?”

Gagak Seta mengangguk, “Aku sudah siap.”

Tapakdara pun mengambil kuda-kuda dengan kaki sedikit ditekuk dan golok menyilang di depan dada. Gagak Seta mengambil kuda-kuda, dengan tangan yang memegang keris, berada di depan dada sementara tangan yang lain di sisi pinggang.

“Menurutmu siapa yang akan menang?”, tanya Senapati Lesmana berbisik ke Senapati Rendra.

Senapati Rendra berpikir sambil mengamati keduanya, Gagak Seta dan Tapakdara masih saling bergerak, mengintai mencari kesempatan.

“Terlalu cepat untuk menilai.”, ucap Senapati Rendra.

Bersambung ke Bab XL
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
krisnafebriyant dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
16-08-2020 13:16
Bab XXXI
Pertemuan Rahasia Di Tengah Hutan


Gagak Seta tertidur cukup lama, setelah tiga hari menghabiskan waktu di dalam ruangan yang sempit dan pengap, merasakan udara yang segar rasanya seluruh organ-organ tubuhnya seperti diguyur air yang segar.

Ketika dia terbangun, hari sudah malam, sebagian besar rekan-rekan sesama prajurit sudah tertidur pulas.

Gagak Seta perlahan-lahan meninggalkan baraknya. Seorang prajurit terbangun, tapi kembali tidur tanpa banyak bertanya.

Di luar barak, terlihat prajurit-prajurit berjaga di berbagai titik, dalam kelompok-kelompok kecil. Namun sebagian besar dari mereka, hanya duduk-duduk di sekitar api unggun sambil makan dan minum, bercanda menunggu waktu berlalu.

Gagak Seta berdiri diam di luar baraknya untuk beberapa saat, mengamati keadaan dan memilih-milih, lewat mana dia akan keluar tanpa terlihat, sambil menunggu waktu yang tepat.

Dengan mudah Gagak Seta pergi keluar dari tempat itu tanpa terlihat oleh mereka yang bertugas berjaga. Tanpa membuang waktu dia berlari kecil menuju hutan yang sudah diberitakan Partajaya padanya. Gagak Seta memasang mata dan telinganya baik-baik. Sesekali dia akan berkelebat melompat dan bersembunyi di balik pohon, atau semak-semak, untuk beberapa lama. Mengamati keadaan di sekitarnya, sebelum melanjutkan perjalanannya ke hutan itu.

Semakin dekat dengan hutan itu, semakin dia berhati-hati.

Beberapa ratus meter jauhnya dari hutan itu, ketika Gagak Seta berdiri di bawah bayang-bayang sebuah pohon yang cukup besar dan dengan hati-hati mengamati keadaan, tiba-tiba terdengar, “Psssttt....”

“Dug..!”, jantung Gagak Seta berdebar keras, cepat dia menggeser kedudukannya sambil melihat ke atas.

“Pssttt... ini aku...”, terdengar bisikan dari salah satu dahan yang lebat.

Gagak Seta menajamkan matanya dan melihat seseorang nangkring di atas dahan itu, tersembunyi oleh lebatnya daun.

“Sabrang?”, tanya Gagak Seta sambil berbisik pula.

“Ya, cepat naik ke sini.”, jawab sosok yang bersembunyi di atas pohon itu.

Gagak Seta menghela nafas lega, lalu tanpa ragu dan dengan cekatan memanjat pohon itu. Hanya butuh beberapa saat saja bagi Gagak Seta untuk sampai di atas, dia memilih dahan lain di dekat tempat Sabrang bersembunyi, dahan yang juga sama tersembunyinya.

“Sudah berapa lama kau di sini?”, tanya Gagak Seta berbisik.

“Barusan saja.”, jawab Sabrang.

“Sudah ada berapa orang yang lewat?”, tanya Gagak Seta.

“Yang aku lihat baru tiga orang dengan dirimu, tapi bisa saja sudah ada yang lebih awal lagi dibanding aku.”, jawab Sabrang.

“Jadi menunggu apa kita sekarang?”, tanya Gagak Seta.

Sabrang tertawa tertahan dan menjawab, “Hehe, aku di sini menunggu dirimu, Kakang Partajaya bilang, dia lupa memberitahumu kode pertemuan malam ini.”

“Ah... begitu, pantas saja...”, gumam Gagak Seta.

“Hehe, kau bingung mau ke mana dan mau apa malam ini?”, tanya Sabrang.

Gagak Seta tertawa kecil, “Ya, aku cuma tahu harus pergi ke hutan ini, tapi tak tahu lalu mau apa.”

“Tiap beberapa saat akan terdengar bunyi burung hantu, jika kau mendengarnya dalam urutan bunyi dua kali, berhenti dua hitungan, lalu bunyi lagi dua kali, sebanyak tiga kali. Ke tempat sumber bunyi itu kita berkumpul.”, Sabrang menjelaskan dengan berbisik.

“Ah... baik, kau sudah mendengar kode itu?”, tanya Gagak Seta mengangguk-angguk paham.

“Sudah, kalau kau siap, kita pergi ke sana sekarang.”, jawab Sabrang.

“Baik, kita berangkat sekarang.”, jawab Gagak Seta sambil melompat ringan ke bawah.

Sabrang tertegun untuk sepersekian tarikan nafas, sebelum ikut melompat turun dengan suara yang lebih keras saat kakinya menyentuh tanah.

“Gagak Seta... kau... apa kau berhasil mempelajari Aji Braja Apsara?”, Sabrang bertanya hati-hati.

“Hehe... hanya kulit luarnya saja.”, jawab Gagak Seta sambil tertawa kecil.

“Kampret...! Kadal, kambing! Demit... Setan Alas! Curut!”, Sabrang memaki-maki tertahan sambil tak hentinya memandangi Gagak Seta tak percaya.

“He, tutup mulut busukmu itu, ayo cepat jalan.”, ujar Gagak Seta sambil mendorong Sabrang.

Sabrang pun bergerak menuju ke arah bunyi burung hantu itu terdengar, tapi tiap beberapa langkah, mulutnya mengeluarkan kata makian. Setelah beberapa lama mereka berlari kecil, terdengarlah suara burung hantu berkukuk dua kali, berhenti dua tarikan nafas dan berulang lagi, demikian suara itu terdengar tiga kali.

Arah mereka sudah benar dan dari kerasnya suara itu, rasa-rasanya mereka sudah cukup dekat. Tiba-tiba Sabrang menoleh ke arah Gagak Seta dan bertanya, “Benar, kau sudah berhasil mempelajari Aji Bajra Apsara?”

“Hee... sudah kubilang juga.”, jawab Gagak Seta.

“Hmm... tiga hari di dalam kurungan itu kau berpuasa.”, kata Sabrang,

“Benar.”, jawab Gagak Seta.

Terdengar Sabrang memaki sekali lagi, lalu berkata, “Kau orang pertama yang berhasil, kau tahu itu?”

Gagak Seta mengangkat bahu, “Entahlah, mungkin saja ada sedulur lain yang juga sudah berhasil.”

Sabrang menggelengkan kepala dengan yakin, “Tidak, aku yakin tidak, kita semua sudah sempat mencoba, bahkan Kakang Kartapati sudah mencoba tiga kali dan tidak berhasil.”

“Kebetulan saja, mungkin situasi di penjara itu juga membantu.”, jawab Gagak Seta.

“Ceritakan bagaimana kau bisa berhasil.”, desis Sabrang.

“Psst... lihat kita sudah sampai.”, jawab Gagak Seta tertahan, beberapa puluh langkah di depan mereka, terlindung oleh lebatnya hutan, terlihat satu tempat yang diterangi beberapa obor.

“Ah sial. Baiklah, tapi nanti kau harus cerita.”, ujar Sabrang tak sabar.

“Tentu, tentu, tidak ada rahasia antara saudara sendiri.”, jawab Gagak Seta sambil tertawa geli.

Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat tujuan. Di tanah yang bisa dikatakan cukup lapang, untuk sebuah tempat yang ada di tengah hutan, sudah berkumpul sekitar tiga puluh sampai empat puluh orang laki-laki, membentuk setengah lingkaran kecil.

Di depan barisan itu berdiri dua orang yang sudah mereka semua kenal.

Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala.

“Bagus, semuanya sudah berkumpul.”, ujar Senapati Manggala.

Tanpa suara mereka yang berkumpul di tempat itu serempak memberi hormat pada Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras.

Mereka semua berdiri dengan tegak dalam postur tubuh siap siaga, berbaris cukup rapi dan diam tidak mengeluarkan suara.

Senapati Manggala dengan suara yang cukup jelas, tanpa berteriak, menjelaskan, “Sebagian dari kalian mungkin sudah bisa merasakan kondisi pasukan Kadipaten Jambangan saat ini. Tidak ada disiplin, tidak terorganisasi dengan baik. Kami para pimpinan berpendapat, situasi saat ini adalah kesempatan yang baik bagi kalian, untuk mencari kesempatan untuk mendapatkan kedudukan yang baik dalam pasukan Kadipaten Jambangan.”

Senapati Manggala diam sejenak, sambil mengamati pemuda-pemuda yang berbaris rapi di sekitarnya.

“Jadi sekarang ini adalah tugas kalian untuk berusaha memberikan kesan yang baik, pada pimpinan pasukan kalian, dan juga melebarkan pengaruh kalian di antara prajurit-prajurit yang baru saja diterima menjadi pasukan Kadipaten Jambangan. Sebisa mungkin, sebelum pertempuran antara kita dan mereka terjadi, kalian sudah berhasil mendapatkan kedudukan dalam kesatuan yang baru dibentuk oleh Kadipaten Jambangan.”, Senapati Manggala melanjutkan penjelasannya.

Para prajurit telik sandi yang sebagian besar masih muda itu, mendengarkan dengan penuh disiplin. Meskipun terasa ketegangan, terasa mereka tak setenang sebelumnya, namun semuanya tetap mendengarkan dengan tenang dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.

Senapati Manggala mengamati mereka dan mengangguk puas, lalu melanjutkan penjelasannya, “Untuk membantu kalian dalam menjalankan tugas kalian saat ini, Raden Rangga Wijaya telah mengeluarkan keputusan, mulai malam ini, sampai saat yang tidak ditentukan, selama situasi memungkinkan. Kalian akan berkumpul di tempat ini, untuk mendapatkan pelatihan khusus dari Ki Ageng Aras.”

Terdengar desahan nafas tertahan dari mereka yang berkumpul di tempat itu. Tidak ada yang berbicara, semua tetap menunggu dalam diam, namun bisa terasa semangat mereka terbakar dan bangkit mendengar berita itu. Mereka semua sudah mengenal siapa itu Ki Ageng Aras, seorang pendekar tua yang ilmunya tak kalah tinggi dari Tumenggung Widyaguna.

“Ki Ageng Aras, aku persilahkan.”, ucap Senapati Manggala sambil tersenyum kecil, melihat semangat prajurit-prajurit di bawah pimpinannya itu terbakar oleh berita yang dia bawa.

Senapati Manggala melangkah mundur selangkah dan mempersilahkan Ki Ageng Aras untuk maju ke depan.

Ki Ageng Aras maju selangkah dan setelah mengitarkan pandangan matanya ke pemuda-pemuda yang berbaris rapi di depannya, dia bertanya, “Di antara kalian, siapa yang sudah berhasil mempelajari setidaknya tahap pertama dari gulungan lontar yang berisi Aji Braja Apsara?”

Seketika itu juga terdengar suara gemerisik suara baju dan gerakan badan, karena mereka semua yang berbaris itu saling pandang, melihat ke kiri dan ke kanan, ingin tahu siapa dari mereka yang sudah berhasil. Untuk beberapa saat tidak ada yang mejawab, sampai akhirnya seseorang mengangkat tangan.

“Aku... rasanya sudah sedikit berhasil ki.”, terdengar suara Gagak Seta memecahkan kesunyian.

Serentak semua mata memandang ke arah Gagak Seta. Gagak Seta menurunkan tangan sambil setengah cengar-cengir melihat ke kanan dan ke kiri. Dari wajah teman-temannya Gagak Seta bisa menangkap rasa penasaran ingin bertanya memastikan, tapi di saat yang sama harus menahan diri karena mereka masih berada dalam barisan.

Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras berpandangan sekilas, dalam hati Senapati Manggala merasa terkejut, ternyata ada di antara mereka yang berhasil menguasai Ajian Braja Apsara, meski menurut pengakuannya, hanya selapis saja.

Ki Ageng Aras sebaliknya merasa tergerak hatinya, usianya sudah lanjut dan selama dua puluh tahun dia dipaksa hidup dalam kesendirian karena tugas. Sebagai seorang pendekar, dalam hatinya ada rasa tak rela jika harus mati sebelum bisa mewariskan ilmu-ilmu yang dia pelajari pada seseorang.

Melihat Tumenggung Widyaguna yang seumuran dengan dirinya, namun sudah memiliki beberapa orang murid resmi, salah satunya Senapati Watu Gunung, Ki Ageng Aras pun menyimpan keinginan yang sama.

Sayangnya dia belum menemukan orang yang tepat. Saat dia mendapatkan tugas dari Rangga, diam-diam Ki Ageng Aras menyimpan harapan.

“Maju.”, ujar Ki Ageng Aras singkat.

Gagak Seta pun maju dengan hati sedikit berdebar. Ki Ageng Aras berjalan hingga berdiri berhadapan dengan jarak dua langkah jauhnya dari Gagak Seta.

“Kau merasa sudah menguasai sebagian dari Aji Braja Apsara?”, tanya Ki Ageng Aras menegaskan.

Dengan hormat Gagak Seta menjawab, “Benar Ki, tapi hanya selapis tipis saja.”

“Sudah berapa lama kau berhasil mempelajarinya?”, Tanya Ki Ageng Aras.

“Baru saja ki, baru hari ini aku menuntaskan syarat berpuasa tiga hari lamanya, dan kira-kira kemarin, di hari kedua, aku merasa menguasai tahap pertama dari Aji Braja Apsara.”, jawab Gagak Seta dengan lancar.

“Hmm.... seberapa banyak yang kau ingat dari isi gulungan lontar itu?”, tanya Ki Ageng Aras lebih lanjut.

“Seluruhnya sudah saya hafal ki. Isi tiga gulungan lontar itu sudah saya hafalkan di luar kepala.”, jawab Gagak Seta tanpa keraguan.

Bagus... bagus... nah sekarang bersiaplah. Aku akan menguji seberapa jauh kau menguasai Aji Braja Apsara.”, ujar Ki Ageng Aras setelah menganguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Gagak Seta.

Tanpa banyak cakap, Gagak Seta segera mengambil kuda-kuda dan mengumpulkan semangat dan berkonsentrasi penuh. Orang tua di hadapannya ini adalah seorang pendekar besar, tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati Gagak Seta mengenai hal itu. Berhadapan dengan Ki Ageng Aras, Gagak Seta tak berani meremehkan orang tua itu sedikit pun.

Ki Ageng Aras tersenyum melihat kesigapan Gagak Seta, dalam hati dia memuji. Diamatinya sikap Gagak Seta, tidak ada rasa takut atau gentar yang terlihat.

Kuda-kudanya terlihat mantap, tanpa kehilangan keluwesan untuk bergerak. Sorot mata Gagak Seta tajam mengamati setiap gerak-gerik Ki Ageng Aras.

“Awas serangan.”, seru Ki Ageng Aras sebelum kesepuluh jari tangannya mengembang dan menyerang.

Gagak Seta mengenali jurus serangan itu, jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Serangan Ki Ageng Aras datang dengan cepat, tapi Gagak Seta tak kalah sigap. Dengan gesit dia menghindar sambil menangkis serangan.

Belum sempat Gagak Seta melakukan hal lain, serangan yang berikutnya sudah menyusul kembali. Lagi-lagi serangan yang sama, jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda, namun dari sudut yang berbeda dan menggunakan tangan yang berbeda.

Gagak Seta sekali lagi bergerak menghindar, namun ketika kakinya bergeser, Ki Ageng Aras dengan gesit merendahkan badan dan satu kakinya bergerak menyapu kuda-kuda Gagak Seta.

Gagak Seta pun melompat menghindar, dia mengenali sapuan kaki itu, sapuan kaki itu adalah sebagian gerakan dari jurus ke-empat dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Belum sempat kakinya mendarat, Ki Ageng Aras sudah kembali menyerang. Tubuh Ki Ageng Aras menggeliat dan tangannya menyerang ke arah Gagak Seta yang posisinya berada di belakang tubuhnya.

Jurus kelima dari Silat Sembilan Cakar Garuda.

Cepat tangan Gagak Seta bergerak menangkis serangan Ki Ageng Aras, sekaligus menggunakan tenaga benturan itu untuk menyurut mundur, menjauh dari Ki Ageng Aras.

“Dess!”

Tangan Gagak Seta terasa sedikit kesemutan akibat benturan itu. Namun pemuda itu mengeraskan hatinya dan mencoba balas menyerang. Dengan gesit dia melompat maju, sambil melontarkan sebuah pukulan.

Namun, belum sampai tangannya mengenai sasaran, Gagak Seta dipaksa menarik pukulan, karena Ki Ageng Aras dengan cepat sudah mengubah kedudukan dan menyusup maju mendekat, mengancam pinggangnya yang terbuka.

Lagi-lagi dengan jurus kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda. Sebat gerakan Ki Ageng Aras, selapis lebih cepat dari serangan sebelumnya, menyerang dari sudut yang tidak terduga.

Rekan-rekan Gagak Seta menonton pertarungan itu dengan hati berdebar-debar, tak terasa ikut membayangkan diri mereka berada di posisi Gagak Seta. Serangan Ki Ageng Aras hanya menggunakan tiga jurus yang sama, namun cara dia mengambil sudut serangan, mengombinasikan ketiga jurus itu dan menempatkan diri, membuat Gagak Seta kerepotan.

Sekian lama mereka bertarung, pemuda itu belum menemukan kesempatan untuk balas menyerang.

Serangan Ki Ageng Aras pun semakin mengganas dan membuat Gagak Seta beberapa kali harus menyurut mundur, berlompatan kian kemari dan memeras seluruh konsentrasinya untuk menghindar.

Otak Gagak Seta berputar dengan cepat, sorot matanya menyala-nyala, darah mudanya menggelegak menghadapi alotnya perlawanan Ki Ageng Aras.

Bersambung ke Bab XXXII
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
singomenggolo dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
25-07-2020 20:43
Bab XV part 2
(Riak-Riak Menyebar Ke Seluruh Penjuru Bhumi Adyatma)


Jika di benteng kadipaten ada pertemuan antara Adipati Prdnaja dengan para senapati dan menterinya, maka di salah satu bangunan yang tinggi dan megah, di dalam ibu kota Kadipaten Laweyan, juga sedang terjadi pertemuan yang serius.

Beberapa orang dengan dandanan baju yang asing, sedang berkumpul di sebuah ruangan. Di luar ruangan berjaga ketat para pengawal.

Mata mereka sipit, kulitnya putih kekuningan, sesekali terdengar mereka berbicara dalam bahasa yang berlagu, sesekali bercampur dengan bahasa Bhumi Adyatma.

“Apa ada kabar dari Puteri Shangguan Yin?”, tanya seorang laki-laki bercambang panjang, rambutnya dikepang panjang sampai ke pinggang, di wajahnya terlihat luka menyilang.

Luka itu memanjang, mulai dari ujung mata yang kiri, terus melewati pangkal hidungnya dan berhenti di tulang pipi yang kanan.

“Ada, kabar yang sangat penting malah.”, jawab seorang yang lain, seorang laki-laki berumur 50an, dengan badan bulat. Dandanannya sama seperti yang lain. Wajahnya berkeriput selalu dihias senyum lebar yang membuatnya terlihat ramah dan tidak berbahaya.

“Jelaskan, singkat dan langsung pada tujuan.”, ujar seorang laki-laki muda yang duduk di kursi utama, lebih besar dan sedikit lebih tinggi dibanding kursi yang lain.

“Hamba, yang mulia.”, kata laki-laki gemuk itu sebelum menjelaskan sesingkat yang dia bisa, “Raja yang lama sudah mangkat. Putera Mahkota menggantikan dia. Namun ada gerakan yang berusaha menggulingkan raja yang baru dan menggantikannya dengan adiknya.”

Laki-laki muda itu mendengarkan dengan tenang dan penuh perhatian.

“Raja yang baru segera bertindak dengan cepat dan tegas. Seluruh pengkhianat di ibu kota raja dibasmi habis. Tapi adiknya berhasil lolos dan sekarang berada di Kadipaten Banyu Urip, di mana dia mengumpulkan dukungan.”, laki-laki gemuk itu bercerita hampir tanpa jeda.

“Saat surat dari tuan puteri dikirimkan, raja yang baru sedang menyiapkan pasukan untuk menghukum adiknya dan mereka yang mendukung dia. Demikian kabar yang datang yang mulia.”, laki-laki gemuk itu menutup laporannya.

Laki-laki muda itu mendengus dengan kesal, “Hmph...! Jika cuma itu yang bisa dia dapatkan, tidak ada gunanya dia tinggal di Istana.”

Mereka yang hadir di sana semuanya terdiam. Tidak ada yang berusaha membela sang puteri yang disebut-sebut berada di Istana Kerajaan Watu Galuh. Laki-laki muda itu mengerutkan alis tak sabar.

“Kau sampaikan perintah pada betina itu, pasang mata dan telinga lebih baik lagi. Tak ada gunanya dia berada di sana, jika kabar yang bisa dia kirimkan, bisa kita dapatkan di jalan-jalan dari pedagang-pedagang di pasar.”, ujar laki-laki muda itu dengan suara yang wajar, tidak meninggi, tidak emosional.

Laki-laki gemuk itu berpandangan dengan seorang yang lain, ragu-ragu. Laki-laki muda yang memimpin pertemuan itu melihat mereka.

“Apa masih ada hal yang lain yang belum kau sampaikan?”, dia bertanya.

Ketika lelaki yang gemuk masih ragu-ragu, rekannya yang kemudian menjawab, “Ada kabar dari tuan puteri yang tidak kami dengar dari sumber lain. Tapi kami agak ragu akan kebenarannya....”

Laki-laki muda tadi menaikkan alisnya, “Karena kalian hanya mendengar kabar ini dari dia? Tapi tidak bisa mendapatkan berita serupa dari sumber lain?”

“I..i...iya...”, jawab mereka berdua terbata-bata.

“Takk!!”

Laki-laki muda itu mengetukkan gagang kipasnya dengan sedikit keras ke atas meja dan mendengus kesal, “Huh! Tolol! Justru itu gunanya dia ada di sana.”

Wajah kedua laki-laki itu berubah pucat. Laki-laki muda itu sama sekali tidak meninggikan nada suaranya, bahkan ketukan kipasnya di meja pun tak terlalu keras. Namun kedua laki-laki itu gemetar kerakutan melihat dia mengungkapkan rasa kesal.

“Ampunkan kami pangeran... Ampun yang mulia...”, dua laki-laki itu dengan panik, buru-buru berlutut di lantai dan memohon-mohon.

“Cukup! Sekarang jelaskan dengan bernar.”, ujar laki-laki muda itu sambil mengibaskan kipas di tangannya dengan kesal.

'Yang mulia sungguh berhati besar... Terima kasih yang mulia...--”, mereka berdua masih akan memuji dan berterima kasih panjang lebar, tapi tatapan mata laki-laki muda itu membuat mereka berhenti saat itu juga.

Laki-laki yang gemuk, bergegas menjelaskan sambil menghapus keringat di wajahnya, “Tuan puteri mengatakan, putera dari raja yang sebelumnya, Prabu Jaya Lesmana, tidak ada cerita yang jelas, namun tampaknya Prabu Jannapati melihat dia sebagai ancaman yang lebih besar dari adiknya.”

“Ah... begitu.. menarik...menarik... Bukankah dia diasingkan di sebuah kademangan kecil? Apa kita tidak memiliki orang yang bertugas mengumpulkan berita di sana?”, laki-laki muda itu sekarang tampak bersemangat.

“Ada yang mulia, namun sudah cukup lama tidak ada kabar baru dari mereka.” jawab laki-laki bercambang dengan luka menyilang di wajah.

“Tidak ada kabar apa pun, bahkan setelah terjadi berbagai macam kejadian di ibu kota raja?”, tanya laki-laki muda itu.

“Benar yang mulia.”, jawab laki-laki bercambang.

“Heeheehee, di saat yang sama Prabu Jannapati melihat dia sebagai ancaman.... menarik...menarik...”, laki-laki muda itu tersenyum senang, kipas di tangannya tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk meja berirama.

Setelah cukup lama mereka semua menunggu, akhirnya laki-laki muda itu mengangkat wajahnya dan memberikan perintah, “Kirimkan orang untuk memeriksa tempat pengasingan pewaris sah dari Kerajaan Watu Galuh itu.”

“Siap laksanakan Yang mulia.”, jawab pengikut-pengikutnya dengan serempak.

Di berbagai tempat di Bhumi Adyatma, suasana terasa mulai bergolak, seperti riak-riak kecil yang menyebar dari Kerajaan Watu Galuh. Gelombangnya terasa sampai jauh ke ujung-ujung Bhumi Adyatma.

Kadipaten kecil dan besar, mendengar kabar yang terjadi di ibu kota Kerajaan Watu Galuh.

Adipati-adipati dan para pemimpin tanah perdikan, mendapatkan surat undangan dari Adipati Gading Kencana untuk menghadiri penobatan Pangeran Adiyasa sebagai Prabu Jayabhuanna.

Di saat yang sama, surat-surat rahasia dikirimkan dari ibukota Kerajaan Watu Galuh ke beberapa adipati di luar wilayah Kerajaan Watu Galuh.

Kabar berita tentang pergolakan yang sedang terjadi di Kerajaan Watu Galuh itu bahkan sampai juga ke ujung yang paling timur, di mana seorang adipati muda baru saja menggantikan ayahnya yang memilih untuk melepaskan kedudukannya di pemerintahan dan menjalani sisa hidupnya sebagai pandhita.

“Demikianlah kabra berita yang sampai pada kita ayah. Bagaimana menurut ayahanda?”, tanya pemuda itu dengan hormat.

“Bagaimana dengan pendapatmu sendiri?”, tanya ayahnya.

“Hahaha.... ananda hanya ingin menguji sejauh mana ananda bisa mendaki. Bertahun-tahun belajar, berlatih, tapi tidak pernah mencobanya dalam ujian yang sesungguhnya. Rasanya ada yag kurang.”, jawab adipati muda itu dengan mata bersinar-sinar.

Ayahnya menghela nafas panjang, “Ayah rasa kau sudah mengambi keputusan.”

Pemuda itu diam untuk beberapa lama, lalu dengan berhati-hati menjawab, “Aku tak percaya ada orang yang bisa mengalahkan ayah sebagai seorang panglima. Aku tidak percaya ada yang bisa mengalahkan pasukan Kadipaten Kedung Wetan.”

Ayahnya menghela nafas, “Aku sudah tua, sebisa mungkin aku tidak ingin berkecimpung di dunia persilatan lagi.”

Wajah yang sudah penuh keriput itu masih terlihat gagah, tapi juga tampak garis-garis kelelahan di sana. Sejak isterinya meninggal dunia, Ki Kebo Suwarna tak lagi segarang dulu.

“Ayah tak perlu kuatir, ananda pasti bersikap hati-hati dalam mengambi keputusan.”, jawab pemuda itu dengan prihatin melihat kelelahan di wajah ayahnya.

“Hmmm... kau tahu, berusaha terlalu keras, kadang sama buruknya dengan tidak berusaha? Aku tahu kau penuh dengan semangat dan api kehidupan menyala-nyala dengan kuat dalam dirimu. Tapi pesanku, jangan sampai kehilangan akal budi.”, ujar Ki Kebo Suwarna pada anaknya, Adipati Taruna Menggala.

“Aku mengerti ayah.”, jawab Adipati Taruna Menggala.

Wajahnya cakap, dengan alis lebat berbentuk golok. Tubuhnya tinggi dan kokoh. Laki-laki pilihan di antara laki-laki pilihan.

Hawa di atas langit Bhumi Adyatma pun terasa memanas. Dari ujung timur hingga barat, dari utara sampai selatan. Riak-riak ombak kecil mulai menghiasi Bhumi Adyatma.



Bagian Pertama dari Mahakala Yajna selesai di Bab XV ini.


Bersambung ke Buku II (Bab 16)

TS mohon waktu untuk mengorganisasi lagi semua yang sudah TS tuliskan di Bagian 1 ini, terutama sifat dan karakter para tokoh, supaya bisa konsisten di perkembangan cerita berikutnya.

Karena itu, upload yang biasanya 1 upload/hari, untuk sementara akan berhenti.

TS juga lagi banyak kerjaan di kantor, jadi sekali lagi mohon diberikan waktu utk mengatur plot di bagian kedua + mengorganisir data tentang semua tokoh yang sudah diceritakan di bagian pertama ini.

Moga2 minggu depan sudah bisa kembali dengan upload normal 1 upload/hari.

Kalau ada masukan, kritik, saran silahkan komen, semua masukan akan TS dengar dan jadi masukan. Meskipun tentunya TS sudah punya gambaran kasar ttg apa yang akan terjadi berikutnya.
emoticon-Imlek

Kemudian ttg kuis, jangan lupa, emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka , seharusnya setelah membaca sampai Bab XV, pembaca bisa melihat ada perbedaan antara bab yg jadi kuis, dengan bab yg tidak jadi kuis.
emoticon-Shakehand2
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aditya0892aldy dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
27-08-2020 10:39
Bab XLIII
Permainan Mulai Memasuki Babak Akhir


Hari berlalu dengan cepat, pasukan Rangga dan rakyat yang mengikutinya semakin lama, semakin dekat ke perbatasan Kademangan Jambangan.

Kesatuan militer Kadipaten Jambangan yang baru saja dibentuk, sudah dua hari lamanya dikerahkan menjaga perbatasan kadipaten. Tenda-tenda militer besar dan kecil menghiasi padang rumput yang menjadi pintu masuk ke Kadipaten Jambangan.

Umbul-umbul dan panji-panji yang menandakan baik kesatuan yang baru, maupun kesatuan-kesatuan yang lebih kecil di bawahnya, berkibar-kibar di berbagai lokasi, menandakan pasukan siapa yang berkemah di sana.

Di Kadipaten Serayu, di perbatasan paling selatan Kerajaan Watu Galuh, suasananya pun tidak kalah menegangkan. Beberapa hari yang lalu, gabungan pasukan para adipati yang mendukung Prabu Jayabhuanna bergerak mendekati perbatasan. Tanpa membuang waktu pasukan Kerajaan Watu Galuh pun bergerak menutup pergerakan mereka. Kedua pasukan berkemah berhadap-hadapan dengan jarak tak lebih dari satu kilometer jauhnya.

Hampir setiap hari kedua pasukan saling berhadapan dalam gelar perang terbuka.

Namun pasukan Adipati Gading Kencana tidak memulai penyerangan, dan pasukan Kerajaan Watu Galuh bersikap menunggu.

Benar-benar menguji mental dan disiplin para prajurit, ketika mereka harus selalu dalam keadaan siap berperang, sementara kapan mereka akan berperang tidak mereka ketahui. Sesekali beberapa senapati atau bekel akan maju ke depan dan saling menantang.

Pertarungan satu lawan satu terjadi di hadapan sekalian pasukan, menang dan kalahnya mereka ikut mempengaruhi moral pasukan. Sejauh ini kedua pihak sama-sama pernah menang, pernah juga kalah.

Tidak lagi bermalas-malasan di dalam tenda kebesarannya, setiap hari Prabu Jannapati turun sendiri ke medan pertempuran. Menyemangati pasukan, sesekali melontarkan tantangan perang satu lawan satu ke arah pasukan Adipati Gading Kencana, namun sejauh ini tidak ada yang berani menanggapi tantangannya.

Dengan sendirinya, hal ini membut moral pasukan Kerajaan Watu Galuh terjaga. Namun jika moral pasukan di tingkat bawah terjaga tinggi, tidak demikian keadaannya di tingkat atas. Setelah selesai berkeliling di depan garis pertahanan dan menyemangati pasukannya, Prabu Jannapati kembali ke dalam tenda kebesarannya.

Di dalam sana, jauh dari telinga prajurit-prajurit yang berjaga, ekspresi wajahnya berubah muram dan tegang. Patih Nandini, beberapa orang Tumenggung dan Senapati terlihat berkumpul di dalam tenda itu.

“Belum ada kabar, ke mana pasukan Rangga sekarang berada?”, tanya Prabu Jannapati dengan wajah keruh.

“Belum baginda, jejaknya sudah ditemukan mengarah ke pusat Kerajaan Watu Galuh, namun kemudian menghilang di tengah Alas Rawagantung.”, jawab senapati yang bertugas memimpin pasukan telik sandi.

“Bagaimana dengan jumlahnya? Kalian sudah punya gambaran yang lebih pasti?”, tanya Prabu Jannapati kemudian.

“Sudah gusti prabu, kami berhasil menemukan jejak-jejak tentang bagaimana mereka menghilang dari pasukan utama tanpa teramati oleh pasukan telik sandi kita, dan dari situ kami berhasil menghitung, setidaknya jumlah mereka mendekati 1000 orang, tapi tidak akan lebih dari 1000 orang prajurit.”, jawab senapati tersebut.

“Seribu orang... Hhh.... bagaimana seribu orang bisa menghilang begitu saja?”, geram Prabu Jannapati.

Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Prabu Jannapati itu. Patih Nandini juga terpekur memandangi peta besar yang digelar di atas meja, di tengah-tengah tenda pertemuan itu.

“Kita harus tahu ke mana mereka pergi. Saat ini pasukan Adipati Gading Kencana berani memasang gelar terbuka berhadapan dengan pasukan kita. Sudah tentu ada hubungannya dengan pasukan Raden Rangga yang menyusup ke dalam wilayah kita.”, kata Patih Nandini dengan serius.

Jika biasanya dalam keadaan apa pun Patih Nandini terlihat tenang, kali ini tidak. Kali ini Patih Nandini pun terlihat tegang. Setiap orang yang berada di dalam kemah pertemuan itu merasa tegang, seakan-akan ada bayangan yang tidak terlihat, sedang menodongkan pisau ke punggung mereka.

Seorang tumenggung ragu-ragu bertanya, “Apa perlu kita menarik mundur sebagian dari pasukan kita ke ibu kota?”

Sebelum Prabu Jannapati mendamprat tumenggung tersebut, buru-buru Patih Nandini menjawab, “Tidak perlu, jika hanya untuk mengamankan ibu kota dari serangan seribu orang prajurit. Kesatuan Darespati dan pasukan yang kita tinggalkan di ibu kota saat ini, sudah cukup untuk mempertahankan ibu kota.”

Prabu Jannapati menelan kemarahan yang sudah hampir terlontar, kemudian dia bertanya, “Bagaimana dengan pengiriman perbekalan makanan bulan ini? Kalian sudah pastikan semuanya aman?”

“Mereka sudah beberapa hari yang lalu meninggalkan Kadipaten Mager Asri, dalam hitungan hari mereka akan sampai. Hamba juga sudah mengirimkan seribu orang prajurit dari pasukan kita untuk membantu mengamankan perbekalan.”, jawab Patih Nandini.

Prabu Jannapati mengamati peta di atas meja, “Perintahkan mereka, hanya lakukan perjalanan di siang hari. Kemudian selalu pastikan pasukan pengintai memeriksa keadaan lebih dahulu sebelum mereka mulai bergerak. Lebih baik terlambat beberapa hari daripada terjadi sesuatu dengan mereka.”

“Siap baginda.”, jawab Patih Nandini.

Prabu Jannapati terlihat masih tak puas, “Dengar, pada saat ini hampir tidak ada target penting yang bisa jadi sasaran seribu orang pasukan Rangga itu, kecuali pengiriman perbekalan kita. Nandini apa perlu kita mengirimkan lebih banyak lagi pasukan untuk melindungi pengiriman perbekalan kita itu?”

Patih Nandini berpikir beberapa lama, kemudian menggelengkan kepala, “Sebelum kita menerima kabar menghilangnya pasukan Rangga, kita sudah menugaskan 800 orang prajurit untuk mengawal pengiriman perbekalan dari ibu kota menuju ke perbatasan. Kemudian setelah ada kita mendapatkan berita itu, dengan segera kita mengirim orang untuk memperingatkan mereka, sekaligus menyusul mengirimkan 1000 orang prajurit untuk membantu mengawal perbekalan.”

Setelah menguraikan apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya, Patih Nandini melanjutkan, “Jika sekarang kita mengurangi lagi pasukan kita di perbatasan, maka justru kedudukan kita di sini yang berbahaya. Bagaimana kalau misalnya seribu orang pasukan Rangga itu sejatinya sedang bersembunyi dan menunggu untuk menyerang pasukan kita dari belakang, bersamaan dengan serangan dari pasukan Pangeran Adiyasa yang menyerang secara berterang dari depan?”

Melihat Prabu Jannapati masih menatap ke atas peta sambil mengerutkan alis, Patih Nandini kemudian menambahkan, “Baginda prabu jangan terlalu kuatir, 1800 orang prajurit kalau mengambil strategi bertahan, bisa manahan mereka cukup lama. Pada saat itu, jika benar 1000 orang prajurit Raden Rangga itu menyerang mereka, masih belum terlambat untuk mengirimkan pasukan untuk membantu mereka.”

Prabu Jannapati berdiri dengan tak sabar dan berjalan mondar-mandir, seperti seekor singa yang kelaparan, akhirnya dia menoleh ke arah Patih Nandini dan berkata, “Aku masih merasa tidak aman, Nandini, perintahkan pada Adipati Jalak Kenikir, untuk mengirimkan 1000 orang prajuritnya untuk memperkuat pengawalan perbekalan kita itu.”

Patih Nandini berpikir untuk beberapa saat, kemudian menjawab. “Baiklah, hamba akan pergi sendiri ke Kadipaten Jambangan untuk menyampaikan perintah itu.”

Prabu Jannapati mengangguk, “Bagus, katakan padanya, seribu orang prajurit Rangga yang paling berpengalaman sedang bergerak sembunyi-sembunyi dan bersiap untuk merebut perbekalan kita. Tidak ada alasan baginya untuk menolak permintaan kita ini. Kalau sampai pasukan kita di selatan ini harus mundur, toh kadipaten-nya juga akan terancam oleh keberadaan pasukan Adipati Gading Kencana.”

Patih Nandini mengangguk, “Hamba mengerti dan hamba yakin Adipati Jalak Kenikir juga bisa menghitung setiap kemungkinannya.”

--------

beberapa waktu kemudian, di hari itu juga, di Kadipaten Jambangan, di sebuah ruangan kecil yang asri, Patih Nandini sedang duduk dijamu langsung oleh Adipati Jalak Kenikir. Patih Nandini tersenyum kecut melihat Adipati Jalak Kenikir yang masih sempat-sempatnya menikmati kenyamanan dalam keadaan saat ini.

“Ki Adipati tentu sudah tahu tentang seribu orang prajurit Rangga yang diam-diam memisahkan diri dari pasukan utama.”, Patih Nandini tidak ingin membuang waktu dengan berputar-putar.

“Tentu, tentu.... Ki Patih tentunya juga mendengar bahwa Adipati Seroja dan Adipati Talitaman menggerakkan pasukan mereka dan sekarang berkemah tepat di luar perbatasan Kadipaten Jambangan.”, jawab Adipati Jalak Kenikir.

Patih Nandini meletakkan cangkir di tangannya, wedang jahe yang dihidangkan Adipati Jalak Kenikir, hatinya terlampau rusuh untuk merasakan nikmatnya wedang jahe hangat itu, “Ki Adipati jangan bercanda, jumlah pasukan gabungan yang berhadapan dengan pasukan kerajaan tidak banyak berubah. Artinya pasukan yang mengancam Kadipaten Jambangan, hanya ramai dan terlihat besar, padahal aslinya tidak demikian.”

“Atau sebaliknya, pasukan Adipati Gading Kencana yang mengancam pasukan kerajaan yang menampakkan diri mengerikan, padahal sebenarnya kosong.”, sahut Adipati Jalak Kenikir tak mau kalah.

Patih Nandini memejamkan mata, merasa lelah menghadapi Adipati Jalak Kenikir yang licin seperti belut ini.

“Ki Adipati, marilah kita berhenti bermain kata. Apa keuntungannya Adipati Gading Kencana membantu Raden Rangga merebut Kadipaten Jambangan? Jumlah pasukan Adipati Seroja dan Adipati Talitaman ditambah pasukan Raden Rangga tak akan cukup untuk merebut Kadipaten Jambangan yang bertahan di balik tembok kota dalam hitungan hari. Kemudian apa mungkin kami akan diam saja jika itu terjadi?”, tanya Patih Nandini pada Adipati Jalak Kenikir.

Melihat Adipati Jalak Kenikir masih terdiam, Patih Nandini menambahkan, “Tapi apabila perbekalan yang dikirimkan dari ibu kota, sampai gagal sampai pada kami. Mau tidak mau dalam hitungan minggu pasukan harus mundur kembali ke asalnya masing-masing.”

Adipati Jalak Kenikir dengan tenang mengisi kembali cangkir Patih Nandini yang sudah kosong, “Jadi... Prabu Jannapati meminta pasukan bantuan, tanpa ada tawaran apa-apa sebagai timbal balik?”

Patih Nandini menggertakkan rahangnya dengan keras, “Apa Ki Adipati sudah siap untuk kehilangan Kadipaten Jambangan?”

Adipati Jalak Kenikir tersenyum lebar, “Ya... kehilangan sebuah kadipaten tidak terlalu menyakitkan dibanding kehilangan satu kerajaan.”

“Apa yang Ki Adipati mau?”, tanya Patih Nandini dengan sorot mata tajam mengancam.

Adipati Jalak Kenikir menjawab dengan tenang, “Jangan marah Ki, kali ini aku tidak minta terlalu banyak. Kalian ingin aku mengirimkan seribu orang prajurit berkuda untuk cepat bergabung mengawal perbekalan. Aku akan sediakan prajuritnya, kalian yang menyediakan kudanya, dan setelah mereka selesai dengan tugas mengawal, mereka akan kembali ke Kadipaten Jambangan berikut dengan kudanya.”

Patih Nandini bangkit berdiri dan dengan suara menahan marah dia menjawab, “Baik, sekarang juga aku akan kirimkan. Aku ingin mereka berangkat hari ini juga dan bergabung dengan pengawal perbekalan secepat-cepatnya.”

“Siap terima perintah Ki Patih, tentu saja aku akan memerintahkan mereka secepatnya bergerak, kalau perlu tanpa istirahat. Perbekalan itu sangat penting bagi kita, aku pun tak ingin melihat pasukan kerajaan kita kelaparan karena pengiriman perbekalan yang bermasalah.”, jawab Adipati Jalak Kenikir dengan hormat sambil tersenyum simpul.

Patih Nandini mengebaskan lengan bajunya dan meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan.

-----

Sore harinya terlihat Gagak Seta berkuda, memimpin seribu orang prajurit berkuda. Seribu orang prajurit yang diambil dari kesatuan yang baru, menyusuri jalan menuju ke Kadipaten Serayu. Mereka memacu kuda mereka dengan bersemangat.

“Gagak Seta, coba ceritakan kembali tugas yang diberikan oleh Ki Senapati Lesmana pada kita, Rewang dan Ganjar katanya penasaran.”, ujar salah seorang prajurit sambil memacu kudanya mendekati Gagak Seta yang berada di depan.

Partajaya yang berkuda seiring dengan Gagak Seta mengerutkan alis hendak menegur Lurah Prajurit yang tanpa memperhatikan tatanan keprajuritan berderap keluar dari barisan dan bertanya pada Gagak Seta, seperti bertanya pada teman biasa.

Gagak Seta menepuk pundak Partajaya dan menggelengkan kepala, kemudian menoleh pada Lurah Prajurit itu, “Daripada aku berulang-ulang bercerita, kau panggil semua Lurah Prajurit untuk berkuda di depan bersamaku.”

“Hahaha, siaap... Kakang Partajaya, jangan karena jadi Bekel kau kemudian jadi kaku begitu. Biasa sajalah.”, ujar Lurah Prajurit itu kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, berkuda kembali ke barisan untuk memanggil Lurah Prajurit yang lain.

Partajaya berkata pada Gagak Seta, “Gagak Seta, kalau seperti ini terus, apa bedanya nanti pasukan kita dengan gerombolan begal Gunung Awu?”

Gagak Seta tertawa kecil, “Ya... tapi jangan lupa kakang, mereka bukan pasukan Raden Rangga.”

Partajaya tercenung mendengar jawaban Gagak Seta, kemudian menghela nafas panjang, “Hahh.... kau benar.... tapi... bagaimana pun juga, mengenal mereka selama beberapa bulan ini...”

Partajaya menoleh ke belakang, melihat barisan kuda yang tidak beraturan, Lurah Prajurit yang tadi terlihat berkuda dari satu barisan ke barisan lain.

“Gagak Seta..., menurutmu... kita... akan memimpin mereka pada... kematian?”, tanya Partajaya ragu-ragu.

Gagak Seta menjawab dengan serius, “Aku harap tidak, tapi kita tidak boleh lupa siapa diri kita dan apa tugas kita yang sebenarnya.”

Sejenak kemudian dia menambahkan, “Kakang, kita sudah memilih jalan untuk menjadi prajurit, demikian juga mereka. Jangankan nyawa mereka, bukankah kita pun sudah siap untuk mengorbankan nyawa kita sendiri?”

“Kau benar...”, desis Partajaya dengan wajah serius.

“Jangan lupakan, anak-anak, orang tua, saudara, keluarga kita. Keselamatan mereka, berada di tangan kita juga.”, ujar Gagak Seta berusaha menguatkan rekannya yang lebih tua darinya.

Partajaya mengangguk pada Gagak Seta, sambil tersenyum, “Kau benar Gagak Seta, jangan kuatir, aku tidak lupa. Maaf, aku justru mencari penguatan darimu.”

Gagak Seta tertawa lepas, “Hahaha, biasa saja kakang, aku pun terkadang terganggu dengan kedudukan kita ini. Sungguh tugas yang tidak mudah.”

Partajaya terdiam mendengar kata Gagak Seta dan bergumam, “Semoga saudara-saudara kita yang tetap di Kadipaten Jambangan baik-baik saja.”

“Semoga...”, jawab Gagak Seta dengan wajah muram, teringat lagi dengan firasat buruknya saat baru menjadi senapati.

Bersambung ke Bab XLIV
Diubah oleh lonelylontong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-stole-my-heart-true-story
Stories from the Heart
bastard-hotelier
Stories from the Heart
natsu-no-hanami-n2h---fiksi
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Stories from the Heart
the-dark-tower-2017
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia