News
Batal
KATEGORI
link has been copied
57
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f01df0768cc950f4e3fb202/jic-ke-depan-harus-jadi-pusat-perubahan-islam-dunia
RADAR NONSTOP - Jakarta Islamic Centre (JIC) ke depan harus menjadi pusat perubahan Islam di ibu kota, nasional hingga internasional. Sebagai lembaga dakwah, JIC juga harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Islam. Hal ini dikatakan ulama Jakarta yang juga Ketua Majlis Taklim AR-Rasyid Jakarta, Kyai Salim Thohir kepada wartawan di Jakarta. Menurutnya, JIC ke depan tidak lagi dikelola
Lapor Hansip
05-07-2020 21:09

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia

RADAR NONSTOP - Jakarta Islamic Centre (JIC) ke depan harus menjadi pusat perubahan Islam di ibu kota, nasional hingga internasional. Sebagai lembaga dakwah, JIC juga harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Islam.

Hal ini dikatakan ulama Jakarta yang juga Ketua Majlis Taklim AR-Rasyid Jakarta, Kyai Salim Thohir kepada wartawan di Jakarta. Menurutnya, JIC ke depan tidak lagi dikelola oleh orang yang hanya sekedar paham agama tapi harus memiliki jaringan luas dan mampu membawa perubahan.

Majlis Taklim AR-Rasyid Jakarta berdiri oleh Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta. Pengajian perdana digelar di rumah dinas Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan di Jalan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

Ar Rasyid digunakan bukan semata-mata merupakan nama tengah Anies, namun juga karena nama ini termasuk Asmahul Husna, dan memiliki arti yang sangat bagus yakni Rasyid artinya cerdik.

"Jaringan secara nasional hingga internasional. Denyut dan nafas Islam di ibu kota harus menggema ke dunia internasional dan bukan acara-acara seremonial saja," ungkap Kyai Saltho sapaan akrab Salim Thohir, Rabu (1/7).

JIC menurutnya, harus mampu menjadi pusat pengembangan sumberdaya muslim, pengkajian data dan informasi serta budaya Islam di ibu kota yang bertarap internasional.

"Bukan lagi bicara sebatas hal kecil. Mampu mewujudkan pusat pengembangan lslam Jakarta sebagai landmark dengan sosok fisik yang monumental bernuansa lslami di mana masjid sebagai sentrum-nya," tukasnya.

Diketahui, dalam waktu dekat kepengurusan atau komisioner JIC baru akan dilakukan penetapan. Berdasarkan peraturan daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2014 tentang pusat pengkajian dan pengembangan Islam Jakarta, JIC  merupakan Lembaga Pemerintah Daerah yang terdiri dari unsur Pemerintah Daerah dan masyarakat (merupakan pelaksana Pengelola JIC sebagai Badan Manajemen dan di bantu oleh Sekretariat merupakan bagian dari perangkat daerah/PNS).

AR-Rasyid Jakarta menurut Kyai Saltho juga sudah mengirim surat resmi kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan agar sosok seorang ketua dan pengurus (komisioner) JIC ke depan harus punya komitmen teguh dalam bekerja secara propesional dan seluruh aktivitas-nya selalu berada dalam koridor syari'ah lslam, amanah dan bertanggungjawab.

"Memiliki kapabilitas, integritas dan kredibilitas yg baik secara akademik dan wawasan keislaman serta ahlakul karimah. Harus full time afresiatif, integritas dan kredbilitas yang kuat dan propesional,solid dan handal. Lalu, berwawasan ke-islaman dan memiliki keahlian akademik serta pengembangan ekonomi umat," tambahnya.

Kyai Saltho juga meminta kepada semua pihak tidak memaksakan kehendak dan memberikan kesempatan kepada figur yang mampu menjadikan JIC sebagai motor pergerakan Islam dalam membangkitkan ekonomi ummat.

"Karena ini bukan lembaga politik, kita ingin Islam di Jakarta maju dan dikenal di dunia internasional. Dan tidak ada lagi yang hanya sekedar bikin acara seremonial. Ini wewenang gubernur dan tidak ada yang bisa menekan," tambahnya.

JIC terletak di Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara atau bekasi lokalisasi Kramat Tunggak yang digusur oleh mantan Gubernur Sutiyoso. Istilah yang populer pada saat itu yakni mengubah imej 'Haram Jadah Menjadi Sejadah'

Pada tahun 2001 Sutiyoso melakukan sebuah Forum Curah Gagasan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengetahui sejauh mana dukungan masyarakat terhadap sebuah perubahan yang telah dicanangkan.

Pada 24 Mei 2001 dukungan itu semakin menguat, dan gagasan untuk membangun Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Sutiyoso kepada Prof Azzumardi Azra yang menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah di New York di sela-sela kunjungannya ke PBB pada tanggal 11-18 April 2001 dan mendapatkan respon yang sangat positif.

Setelah adanya konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, praktisi baik skala lokal maupun regional bahkan international akhirnya diwujudkan dalam sebuah master plan pembangunan JIC pada tahun 2002. Kemudian dalam rangka memperkuat ide dan gagasan pembangunan JIC, pada Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Prancis.
radarnonstop

usul diatas itu bagus, kenapa indonesia tidak menciptakan islam sendiri
yg bisa dicontoh oleh dunia
gini bray, indonesia punya ISLAM nusantara kan
kenapa itu tdk dikembangkan, kalo perlu kita buat quran sendiri (qiraat yang sdh ada kita pilih mana yg paling bagus)

negara umat islam terbesar dunia, masa' kalah sama morocco yg punya quran sendiri
ada 10 qiraat di dunia ini bray ada riwayat alduri, alsoosi, albazzi, alruh, warsh, hafs, dll
dan ada 3 yg sudah terkenal

Quran (riwayat warsh) Ini quran punya morocco

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia



Quran (riwayat Hamza)

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia



Quran (riwayat Hafs)

JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia


gimana bray, drpd ribut terus kufar kafir kufar kafir
mending duduk bareng, kita musyawarah
buat sendiri quran versi indonesia mengikut 10 qiraat yg ada
jd tidak ada lagi perbedaan, waktu sholat ied
dan kadrun bisa ditumpas habis

jd yg beranggapan quran itu terjaga hingga huruf-hurufx itu salah besar
yg terjaga itu maknax, bukan kata per kata di dalam quran
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ceuhetty dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 21:12
Syabir Ally sendiri mengakui perbedaan quran di seluruh dunia


bagi faqir quota coba langsung pilih menit ke 6:50 youtube
Diubah oleh jonitamvan
profile-picture
jin.goa.hiro memberi reputasi
1 0
1
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 21:30
apakah ini awto-kefir?

mari tanya salafi wahabby pujaan indonistan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Proloque dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Post ini telah dihapus oleh KS06
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 21:38
pindahkan kotak ajaib ke JIC emoticon-Ultah
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan jonitamvan memberi reputasi
2 0
2
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 21:39
Gelombang Transformasi Muslim di Dunia Barat


Dunia Islam, di masa kejayaannya, sebenarnya sudah sangat modern. Kemodernan ini relatif sebanding dengan segala aspek peradaban yang diraih oleh Eropa
Oleh: Hasnan Bachtiar

Realitas kehidupan Muslim di negara-negara dunia pertama saat ini, sebenarnya tidak terlepas dari pencapaian peradaban Barat. Tentu saja kehidupan mereka tidak semuanya tampak baik. Barangkali, hal ini sejalan dengan upaya meraih cita-cita ideal kemodernan (terutama Eropa dan Amerika), yang tidak dapat sepenuhnya dikatakan berhasil.

Di tengah ketidaksempurnaan itulah, komunitas Muslim terbangun. Menurut Saïd Amir Arjomand (2004) faktor terpenting yang memungkinkan hal itu adalah adanya globalisasi. Secara historis, globalisasi tidak hanya mengalir dari Barat ke dunia Muslim melalui gelombang kolonisasi yang dimulai sejak abad ke-18, namun juga dari dunia Muslim menuju pelbagai belahan dunia lainnya sejak abad ke-8.

Secara lebih detil, dalam “Spacetime and the Muslim journey West: industrial communications in the making of the Muslim World” (2014), Nile Green mengamati adanya pusatpusat komunitas Muslim di negara-negara Barat. Para musafir Muslim bermigrasi dari tanah kelahirannya, dan tentu saja bertransformasi.

Terdapat nilai penting yang dapat digali dari transformasi tersebut. Yakni, adanya refleksi intelektual yang luar biasa mengenai dua hal: spirit pembaruan Barat dan universalitas Islam. Mereka tidak kembali ke tanah kelahirannya, oleh karena tinggal, menetap, membangun komunitas di antara para musafir lainnya dari Timur Tengah, Afrika dan Asia, dengan pelbagai akar tradisi kebudayaan yang kaya.

Keislaman mereka, tentu saja berbeda dengan apa yang dimiliki oleh nenek moyangnya di kampung. Secara garis besar, ciri khas yang membedakannya adalah pandangan hidup Muslim yang reformistik, yang peka terhadap perubahan zaman dan pentingnya kontekstualisasi ajaran agama. Proses transformasi Muslim ini terjadi di kisaran akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Pada masa-masa ini, gelombang kolonialisme Barat sedang mendapatkan tempatnya. Hal ini terjadi kurang lebih berbarengan dengan jatuhnya kejayaan pelbagai imperium besar di dunia Islam seperti Dinasti Safawi (Dud mân e Safavi) pada pertengahan abad ke-18, Dinasti Mughal (Mughliyah Salthanat) pada pertengahan abad ke-19 dan Dinasti Turki Utsmani (Devlet-i ‘Alîye-i ‘Oshmânîye) pada awal abad ke-20. Tentu konteks historis ini menjadi faktor yang signifikan terhadap lahirnya pemikiran mengenai pembaruan.

Dunia Islam, di masa kejayaannya, sebenarnya sudah sangat modern. Kemodernan ini relatif sebanding dengan segala aspek peradaban yang diraih oleh Eropa. Setidaknya, jika dilihat dari sudut pandang tata negara, sistem hukum, pertumbuhan ruang publik, mobilitas sosial yang massif, praktik kebebasan berpikir dan berkeyakinan yang kosmopolitan, kuatnya peran institusi keagamaan dalam persoalan kemaslahatan publik dan gaya hidup, bangkitnya kapitalisme dan seterusnya (John Voll 2008, Green 2012, Evstatiev 2013 & Salvatore 2016). Nilainilai unggul di balik hal-hal ini, menjadi imajinasi yang mengakar kuat bagi para musafir tersebut.

Tatkala mereka membandingkan dan melakukan refleksi kritis mengenai dua arus kemodernan, maka hal yang paling menonjol adalah persoalan ruang dan waktu. Mereka menyadari bahwa sedang menjalani kehidupan dengan ruang dan waktu yang berbeda. Menurut Wolfgang Kaschuba, dalam karyanya “Die Überwindung der Distanz” (2004) menyatakan bahwa konsepsi mereka mengenai kekinian dan kedisinian (Zeit und Raum) turut dibangun oleh konteks industrialisasi Eropa abad ke-19.

Mereka sejatinya memiliki ruang memori (Gedächtnisraum) yang “baru” sebagai Muslim yang mendeteritorialisasi lokusnya yang semula. Artinya, mereka tidak lagi tinggal di wilayah Arab, Turki, Persia atau India. Jadi, Barat menurut mereka, juga adalah dunia Muslim. Refleksi ini sesungguhnya, menghasilkan penempatan ulang akan makna sebagai Muslim, dalam level pemikiran yang lebih abstrak. Proses ini terus bergulir hingga abad ke-21.

Dengan mempertimbangkan pelbagai kompleksitas sosiokultural, politik dan ekonomi, terutama yang dibawa oleh gelombang globalisasi, maka saat ini, fenomena Muslim Barat semakin popular. Terbitnya buku “To be a European Muslim” (1998) yang dikarang oleh Tariq Ramadan, menjadi bukti yang paling otentik tentang adanya transformasi Muslim yang telah didiskusikan. Sebenarnya ada banyak judul buku mengenai hal ini, yang ditulis dengan pelbagai perspektif. Para sarjana seperti Jocelyne Cesari, Samir Amghar, Amel Boubekeur, Michael Emerson, Mark Sedgwick, Paul Weller, Ihsan Yilmaz dan yang lainnya, mendedikasikan dirinya untuk mengamati fenomena penting ini.

Yang terpenting adalah, kaum Muslim Barat mempertahankan akar mereka sebagai Muslim, memperkayanya dengan cara refleksi dan kontekstualisasi, menemukan relevansinya di hadapan zaman dan turut memberikan kontribusi terhadap modernisasi Barat yang masih terus berlangsung. Di samping itu, mereka memiliki makna baru mengenai “pulang ke rumah”. Tentu saja bukan kembali ke tanah kelahiran atau kampung halaman, tetapi lokus yang menjadi rumah baru bagi mereka: Barat. Bersambung

Hasnan Bachtiar, dosen UMM, menekuni hukum perang dan hubungan internasional, alumnus the Centre for Arab and Islamic Studies (CAIS), the Australian National University (ANU)

Sumber: Majalah SM Edisi 13 Tahun 2017
muhammadiyah

yo bray, negara barat sudah mulai berubah,
Masa' kita kalah
malu bray negara mayoritas muslim terbesar dunia tapi kalah
emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan pheeroni memberi reputasi
2 0
2
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 21:44
Ar Rasyid digunakan bukan semata-mata merupakan nama tengah Anies, namun juga karena nama ini termasuk Asmahul Husna, dan memiliki arti yang sangat bagus yakni Rasyid artinya cerdik

https://kbbi.web.id/cerdik.html

cer·dik a 1 cepat mengerti (tentang situasi dan sebagainya) dan pandai mencari pemecahannya dan sebagainya; panjang akal: jika jadi pedagang, selain harus pandai berdagang, harus -- pula; 2 banyak akalnya (tipu muslihatnya); licik; licin: dia seorang penipu yang -- , lima kali berhasil lolos dari penangkapan polisi;
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aldonistic dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 21:46
Maroko sj berani buat quran sendiri untk lwn WAHABI


King Mohammed VI’s ‘Moroccanized’ Qur’an to Counter Wahhabism


King Mohammed VI launched a project on the “Moroccanization” and “Malikization” of the Qur’an in 2010 to counter Wahhabism among Moroccans.
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia

Rabat – Almost a decade has passed since Morocco’s Mohammed VI Foundation for the Publication of the Holy Qur’an began preparing a new version of the Qur’an. The new Qur’an is written in a special font and recited in such a manner as is best suited to the Moroccan context and the Maliki school of Islam, which Morocco follows.

The King ordered the Moroccan version, which came to be called the “Mushaf Mohammadi,” in 2010 purportedly to counter Wahhabism, the conservative interpretation of Islam many Saudis follow.

Different methods of recitation

How would the Mushaf Mohammadi have an impact? Morocco World News consulted several Rabat imams after the director of the Mohammed VI Foundation, Hamid Hammani, claimed in 2017 that Morocco needs to combat Wahhabism because students who pursue their Islamic studies in Saudi Arabia come back home transformed into “bombs.”

Hammani made his remark to an ethnographer at the Jacque Berque Center in Rabat, Anouk Cohen, who examined the implementation of the project in a 2017 article titled, “Seeing and Hearing the Book. A Moroccan Edition of the Quran.”

Local imams did not have clear answers as to how the Mushaf Mohammedi is consolidating the Maliki school of thought or confront Wahhabism in Morocco.

“By teaching the oriental recitation of the Quran,” argued Hamid Hamani, “children will end up distanced from the Maliki school.”

The leading imam at the Hassan Mosque in Rabat told MWN how Saudi and Moroccan readings of the Qur’an differ, saying, “With regard to Qur’anic recitation, Morocco adopts the Warsh ‘an Nafi’ canonical method, unlike Saudi Arabia, which adopts Hafs ‘an ‘Asim. These readings differ in recitation, utterances, and sometimes in meaning.”

The changes resulting from the different readings are relatively small and have little to no bearing on the unanimous understandings of the Qur’an among Sunnis.

“Adhering to this reading [Warsh] will clear up the confusion Moroccans have in this regard,” asserted the imam.

The recitations do not differ on “contentious verses” pertaining to jihad or martyrdom. They also do not differ on verses relating to the five pillars of Islam: The statement of faith, pilgrimage, prayer, charity, and fasting.

Despite the differences, the Hassan Mosque imam, like others MWN spoke to, did not expound on how the different readings can prevent Moroccan pupils from embracing the Wahhabi-inspired thought.

The primary objective, Hamani said, is “not to propagate the Mushaf Mohammadi. It’s about politics, that is, extremism.”

Hamani argued that pointing children toward what he believes is the proper way of reciting the Qur’an will have an influence beyond recitation: “It’s a dogma without being a dogma.”

Hamani explained that almost all Qur’anic schools (called msids) in Morocco currently teach Oriental recitations. “These schools attract orphans who end up absorbing the Wahhabi version of Islam.”

Cohen’s article noted that calligraphers and clerics would have to decide on the details of the writing style and letter shapes, balancing between highlighting the text through a typically “Moroccan script” and the necessity of clarity and justice to the recitation.

State controls on Qur’anic distribution
The Mohammed VI Foundation said it would limit the distribution of other versions of the Qur’an, subjecting them to strict printing laws. The foundation would also impose import restrictions on all Qur’ans except those produced in Egypt and Lebanon, where companies are capable of designing “unique models.”

According to Minister of Endowment and Islamic Affairs Ahmed Taoufik, there were approximately 14,000 Qur’anic schools in Morocco in 2017. The schools had more than 450,000 pupils, of whom 40 percent were women.

The foundation publishes nearly 1 million copies of the Qur’an every year to supply mosques and to export to countries adopting the warsh method of reading, especially African countries.

One way Islam in Morocco differs from Saudi Arabia is through the collective recitation of “hizb,” one out of 60 sections of the Qur’an, specially divided for ease of learning and memorization. Historically rooted in Morocco, reciting hizb in mosques is rarely practiced in the Middle East where orthodox Muslims regard it as “bid’a,” a novelty disapproved of by a large number of scholars.

Some imams in Morocco even refuse the recitation of the hizb in their mosques, even though it is part of a specific program put in place by Morocco’s Islamic ministry.

However, Morocco is determined to push for its “Moroccanization” policy. The state has dedicated television and radio channels to teaching the proper recitation of the Muhammadi Qur’an and introduced literacy courses on Islamic studies in Qur’anic schools and in kindergartens.

With an overwhelming number of Qur’anic seats of learning, authorities want to make sure the policy is well-implemented. If organizations fail to adhere to the policy regulations, the state cuts its public subsidies for them.

In coordination with the Ministry of Endowment and Islamic Affairs, the foundation initiated the printing of 51,160 copies of the Qur’an in the English language, 3,000 copies in Braille, and 2,335 for near-sighted people as well as overseeing a Qur’an teaching and memorization program and organizing Qur’anic recitation competitions in prisons.
morocco

Indonesia takut buat quran sendiri untk lawan Kadrun
emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
profile-picture
areszzjay memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh KS06
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 22:28
mantap, kalo perlu besok imam mahdi beserta kuda2nya wajib berasal dari indonesia emoticon-Wkwkwk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
winehsuka dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 22:35
Kenyataan yg berbanding terbalik dengan delusi emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 22:41
Terakhir kita ngebahas quran yg katanya bnyk versi, itu menghasilkan lebih dr 100 komen dr berbagai akun kaskuser

Masak mau dimulai dr awal lagi?
0 0
0
Lihat 46 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 23:09
itu yg ga sengaja kemakan kambing
kambingnye masuk neraka ape syurga bre ?

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
pheeroni dan anak.soleh.papa memberi reputasi
2 0
2
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
05-07-2020 23:48
yang baca masih quran salah aja diangkat jadi ulama
bisa ancur dah
profile-picture
areszzjay memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
06-07-2020 00:04
yo bray jgn berdebat, kalian bukan orang arab
hanya mengandalkan syekh google dan kyai youtube

itu memang benar bray, quran tiap mashab berbeda
contoh aja ini bray, gw copas dari FB
Quote:Beda quran versi HAMZA dan HAFS, ini a'ruf dan qiraatx beda
MENGENAL MUSHAF MADINAH DAN MUSYKILATNYA

Oleh: H. Khaeruddin Khasbullah

(Berdasar saran teman- teman agar artikel ini ditampilkan ulang terpisah dengan artikel Tajwid, sehingga lebih mudah ditela'ah)

Sekarang ini banyak beredar Mushaf cetakan Timur Tengah (selanjutnya disebut Mushaf Madinah). Karena cetakannya bagus dan tulisannya terang, banyak kaum muslimin yang tertarik untuk menggunakannya, namun disisi lain banyak kaum muslimin Indonesia yang belum mengenal tanda baca yang dipakai pada Mushaf ini sehingga mereka sering mengalami kesulitan bahkan salah dalam membacanya.

Tidak sebagaimana Mushaf Qur’an gaya tulisan Asia Tenggara (Mushaf Turki Utsmany), Mushaf Madinah walaupun sama- sama berdasar QIRO’AT IMAM ASHIM ALA RIWAYATI HAFSH BITHORIQOTI ASYATIHIBIYYAH, ia memiliki tanda- tanda baca dan penulisan khusus yang tidak biasa dipakai dalam Mushaf Indonesia/ Asia Tenggara, sehingga bagi pemula dan bagi mereka yang kurang memahami bahasa Arab, sering terjadi kesalahan baca yang kadang- kadang berakibat menjadi berubah makna kandungannya, dan ini tentu saja tidak boleh terjadi.

Maka atas dasar keprihatinan tersebut, atas karunia dan seizin Allah semata, penulis berusaha akan menjelaskannya kepada para pembaca dan pencinta Ilmu Al- Qur’an, mudah- mudahan dengan asbab tulisan yang kami buat ringkas ini dapat bermanfaat bagi segenap kaum muslimin muslimat dan bagi siapapun yang membaca dan mempelajarinya dan insya Allah Biaunillah akan menjadi amal jariyah bagi penulis sepanjang masa. Amin,

Maka inilah beberapa tanda baca dan tulisan khusus yang dipergunakan pada Mushaf Madinah, penulis paparkan kan berdasarkan Al- Mushaf Al- Muyassar karya As- Syaikh Abdul Jalil Isa dan berdasarkan kitab- kitab n yang lain seperti kitab Al- Muqni’u Fi Rosmi Masohifil Amshor oleh Imam Abu Amr Ad- Dani,dll :

MOHON MAAF SEBELUMNYA, MUNGKIN ADA BEBERAPA KARAKTER (TULISAN) YANG TIDAK BISA DITULISKAN DENGAN SEBENARNYA SESUAI MUSHAF ASLINYA PADA BLOG INI SEHINGGA DIGANTI DENGAN PENJELASAN AGAR PEMIRSA BERKENAN MELIHAT TULISAN ASLINYA DI MUSHAF CETAKAN MADINAH.

بسم الله الرجمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا مجمد وعلى ال سيدنا محمد

I. TANDA MAD/ GHOIRU MAD.

1.Mad Badal dituliskan dengan menggunakan Hamzah + Alif ( ءا ) sebagai pengganti alif dengan tanda Fatkhah panjang ( اٰ ). Seperti:
ءَادَمَ = اٰدَمَ - ءَامَنُواْ = اٰمَنُوْا - ءَازَرَ = اٰزَرَ

2.Bila Hamzah berada DITENGAH Lam Alif ( لأ ), maka Hamzah harus dibaca panjang sebagai Mad Badal, beda dengan Hamzah DIUJUNG Lam Alif ( لا ), seperti:
لَأَيَاتٍ = لاٰ يَاتٍ - لَأَيَةً = لَاٰيَةً

3.Sedangkan pada kalimat- kalimat dibawah ini dimana Hamzah ditulis DIUJUNG Lam Alif, maka Hamzah dibaca pendek, kecuali bila setelahnya ada Wawu sukun dan hamzahnya berharokat dhommah, seperti:
لَا وْضَعُوا - لَا عَدوا - لَأَرَيْنَكُمْ - لَأَرْجُمَنكُمْ
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda pada: QS.9 At- Taubah 46, 47, QS. 47 Muhammad 30

4.Tanda Alif kecil ( ا ), Ya’ kecil ( ﮮ ) dan Wawu kecil (و ) TANPA SYAKAL adalah tanda mad, harus dibaca panjang. Seperti:
ذلِكَ = ذَالِكَ - يَلْوُونَ = يَلْوُوْنَ - إِﮮلفِهِمْ = اِيْلَافِهِمْ

5.Begitu juga bila Wawu kecil atau Ya’ kecil itu jatuh setelah Ha’ Dhomir, maka Ha’ nya dibaca panjang sebagai Mad Shilah. Seperti:
لَهُ و = لَه’ بِهِﮮ = بِهٖ
Hati- hati saat Waqof
(لَهُ و ) diwaqof =”Lah”. Bukan “Lahu”
(بِهِﮮ ) diwaqof =”Bih”. Bukan “Bihi”

6.Bila ada Wawu diatasnya ada Alif berdiri dan sebelumnya ada huruf berharakat Fatkhah, maka Wawunya dianggap tidak ada dan dianggap sebagai Alif (Mad). Seperti:
ٱلصلَوٰةَ = الصلَاةَ - ٱلزكَوٰة = الزكَاَةَ - ٱلحَيَوٰةَ = الحَيَاةَ -
ٱلربَوٰ = الربَا

7.Huruf Ya’ ( ى ) tak bertitik bila diatasnya ada tanda alif kecil, maka Ya’ nya dianggap tidak ada dan dibaca sebagai Alif (Mad). Seperti:
هَدىنِ = هَدَانِ - التوْرَىٰةَ = التوْرَاةَ - أَرَىٰكَ = اَرَاكَ
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda pada:QS. 6 Al- An'am 80, QS. 4 An- Nisa' 104

8.Bila ada huruf Ya’ ( ى ) tak bertitik dan tak berharokat di AKHIR KALIMAT, maka berarti ia adalah Ya’ sukun sebagai tanda Mad. Seperti:
ٱلذِى = الذِيْ - يُوحِى = يُوْحِيْ - رَبى = رَبيْ

9. Namun bila DIBAWAH Ya’ ada Hamzah, maka Hamzah dibaca pendek, Ya’ bukan tanda Mad!... Seperti pada QS 10 Yunus 15 dan QS. 51 Adz- Dzariyat 43:
تِلْقَآئِ نَفْسِى = تِلْقَآءِ نَفْسِيْ ( QS. 10 Yunus 15)
وَرَآئِ حِجَابٍ = وَرَءِ حِجَابٍ ( QS.51Adz- Dzariyat 43)
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda.

10.Bandingkan dengan tulisan dan tanda dibawah ini dimana Hamzah juga dibaca pendek:
مِن نبَإْ ى = مِنْ نَبَإِ (QS.6 Al- An'am 34)
لِشَاْىءٍ = لِشَيْءٍ (QS.18 Al- Kahfi 23)
وَمَلَإىْهِ = وَمَلَئِهِ (QS.7 Al- A'rof 103)
أَفَإِ ىْنْ = أَفَ ئِنْ (QS.3 Ali Imron 144, QS.21 Al- Ambiya' 34 )

11.Tanda bulat kecil ( ° ) diatas sebuah huruf, berarti huruf tersebut dianggap tidak ada dan tidak usah dibaca. Awas hati- hati kabalikan dalam Qur’an Indonesia yang kadang dipakai sebagai tanda sukun. Seperti:
أُوْلٰئِكَ - أُوْلِى أَجْنِحَةٍ - أُوْلُوأ الْعِلْمِ - وَأوْلٰتُ ٱلأَحْمَالِ -
يَتْلُواْ صُحُفاً - مِن نبَإِىْ الْمُرْسَلِيْنَ - ءامنواْ - بَنَيْناَ بأييْد
Hati- hati, Wawu tak berharokat justru sebagai tanda Mad!!!
Seperti:
أُولهُمْ لِأُخْرَاهُمْ (QS 7 Al- A'rof 39)
(لَفِى الصحُفِ الْأُولىٰ (QS.87 Al- A'la 18)
Penting: - Pada lafadh Tsamuuda bila di Waqof, “Dal” nya disukun, menjadi Mad Aridh Lissukun...Tsamuuud. (Bila washol, DA dibaca pendek).
۞ ثَمُوْداْ - ثَمُودَ - ثَمُودْ

12. Tanda BULAT PANJANG kecil ( ) diatas Alif menunjukkan bahwa pada SAAT WASHOL DIBACA PENDEK – SAAT WAQOF DIBACA PANJANG. Seperti :
أناْ - لكنا ْ - الظنونا ْ - السبيلا ْ - الرسولاْ-
قَوَارِيْرَاْ (الإنسان ١٥)
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda pada:QS. 18. Al- Kahfi 38, QS. 33 Al Ahzab 10, 66,67.
Catatan:
- Khusus pada Surat Al- Insan ayat 16, bila diwaqof DISUKUN:
قَوَارِيْرَا ْ قَوَارِيرْ۞ (الإنسان 15)
- Khusus pada Surat Al- Insan ayat 4 bila diwaqof BOLEH DISUKUN atau DIBACA PANJANG SATU ALIF, yakni:
سَلاَسِلَا ْ - سَلَاسِلاَ ۞ \ سَلاَسِلْ۞

13.Pada contoh dibawah ini Wawu dibaca pendek, bila terpaksa Waqof, Wawu disukun menjadi Mad Thobi'i
لِتَتْلُوَاْ - لِيَرْبُوَاْ - لِيَبْلُوَاْ - وَنَبْلُوَاْ - لَنْ نَدْعُوَاْ
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda pada:QS. 13 Ar- Ro'du 30, QS. 30 Ar- Ruum 39, QS. 47 Muhammad 4 dan 31, QS. 18 Al- Kahfi 14

14.Hamzah diatas Wawu + Alif bertanda bulat kecil, maka Wawu dan Alifnya tidak dibaca, seperti:
ٱلعُلَمَاؤُاْ = العُلَمَاءُ - أَنبَاؤُاْ = اَنْبَاءُ - ٱلضعَفَاؤُاْ = الضعَفَاءُ
شُرَكَآؤُاْ = شُرَكَاءُ - يَتَفَيؤُاْ = يَتَفَيأُ - يُنَشؤُاْ = يُنَشأُ - ويدرؤا = ويدرء
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda pada: QS. Al- An'am 94, QS.35 Fathir 28, QS.43. Az- Zukhruf 18, QS.42 As- Syuro 40, QS 24. An- Nur 8, dll

II. IDGHOM KAMIL/ NAQIS.
Dalam Mushaf Madinah dikenal Idghom Kamil (Lebur Sempurna) dan Idghom Naqis (Lebur Tak Sempurna) baik untuk Idghom Mutaqorribain/ Mutajannisain/ Idghom Bighunnah/ Idghom Mimy, dsb. Berikut penjelasannya.

15.Huruf TAK BERHARAKAT APAPUN disusul dengan huruf bertasydid menunjukkan bahwa huruf yang pertama “lebur” secara sempurna (Idghom Kamil), seperti:

- أُجِيْبَت دعْوَتُكُمَا - يَلْهَث ذّالِكَ - وَقَالَت طائِفَةٌ - وَمَن يكْرَههن
- اركب معنا
Lihat tulisan aslinya di Mushaf Madinah anda pada:QS.7 Al- A'rof 176, QS.11 Hud 42, QS.33 Al- Ahzab 13, QS. 24 An- Nur 33, dll.

16.Huruf TAK BERHARAKAT APAPUN disusul dengan huruf tak bertasydid menunjukkan bahwa huruf yang pertama:

a. IDGHOM, “Lebur” secara tidak sempurna (Idghom Naqis) kedalam huruf berikutnya. Seperti:
فَرطتُمْ - بَسَطتَ - أَلَمْ نَخْلُقكُمْ -
مَن يَقُولُ - مِن وَالٍ

b. IKHFA', ”Samar” bila huruf yang tak berharokat itu ADALAH huruf NUN tatkala bertemu dengan huruf lima belas, atau huruf MIM ketika ketemu BA’. Lihat keterangan tentang Ikhfa’, baik Ikhfa’ Haqiqy atau Ikhfa’ Syafawi, seperti:
مِن تَحْتِهَا - مِن ثَمَرَةٍ - إِن رَبهُم بِهِمْ

17.IQLAB, "Berubah". Meletakkan huruf MIM kecil didepan harokat Fatkhah, Dhommah atau Kasroh nya huruf NUN menunjukkan bahwa huruf NUN itu “berubah”/ Iqlab seperti membaca huruf MIM yang tersamar disertai dengung. Lihat kembali pelajaran IQLAB.

Contoh pada QS 98/4 - QS 13/43 - 68/13:
شهيدا بينى ( QS. 13. Ar- Ro'du 43, QS. Al- Ahqof 8)
من بعد ما جاءتهم (QS. 98 Al- Bayyinah 4)
عتل بعد ذالك زنيم (QS. 68 Al- Qolam 13)

18.Penulisan dua harokat GANDA Dhommatain- Fatkhtain- Kasrotain , menunjukkan TANWIN yang dibaca Idhar (jelas). Ingat kembali pelajaran Idhar.
سَمِيْع̋ عَلِيْمٌ - وَلاَ شَرَابا ًإِلا - قَوْمٍ هَاد

19.Penyusunan harokat ganda tersebut diatas bila diikuti huruf yang bertasydid, menunjukkan terjadinya Idghom Kamil. Ingat pelajaran tentang hukum Nun Mati dan Tanwin.
خُشُب̋ مسَندَةٌ - غَفُوراً رحِيماً - وُجُوه̋ يوْمَئِذٍ ناعِمَةٌ

20.Meletakkan tanda potongan kepala huruf kha' tanpa titik diatas huruf NUN (dalam makalah ini ditulis pakai bulatan kecil kerana kesulitan teknis) - menunjukkan bahwa huruf NUN tersebut harus dibaca Idhar (jelas). Ingat pelajaran Idhar.
مِن خَيْرٍ - وَيَنؤَ ن عَنْهُ - مَنْ ءَامَنَ
قَدْ سَمِعَ - أَوَعَظْتَ - وَخُضْتُمْ

III. TANDA- TANDA KHUSUS

21.Bila ada tanda huruf Nun ( ) kecil, berarti harus dibaca disana ada Nun Sukun. Satu- satunya pada Qur'an Surat 21 Al- Ambiya' 88, Seperti:
Lihat tulisan aslinya dalam Mushaf Madinah tanpa huruf Nun yang kedua. = نُنْجِيْ

22.Bila ada Ya’ kecil diatas Ya’, berarti sesungguhnya ada dobel Ya’ (Ya’ ganda), seperti pada QS 3 Ali Imron 20 - QS 5 Al- Maidah 111 - QS 7 Al- A'rof 196:
- وَالْأُمييْن - الحَوَارِييْنَ - - وَلِييَ
Lihat tulisan aslinya di mushaf madinah pada ayat- ayat tersebut diatas..

23.Bacaan TASHIL ditandai juga dengan BULATAN KECIL diatas Hamzah. Tashil artinya meringankan bacaan Hamzah ke II. Ikuti bacaan guru. Lihat pada Qur'an Surat 41 Fusshilat 44:
أَاَعْجَمِي

24.Bacaan IMALAH ditandai dengan BELAH KETUPAT KECIL. Imalah artinya mencondongkan harokat Fatkhah ke 2/3 KASROH (Roo dibaca Ree- seperti Republik). Ikuti bacaan guru. Seperti pada Qur'an Surat 11 Hud 41:
بسم الله مَجْرَىهَا وَمُرْسَاهَا

25.Huruf SHOD bertanda SIN diatasnya, maka huruf tersebut harus dibaca SIN. Seperti pada Surat 2/245
والله يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
dan Qur'an Surat 2 Al- Baqoroh 245 dan QS. 7 Al- A'rof 69:
وَزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْطَةً

26.Huruf SHOD bertanda SIN dibawahnya, berarti huruf Shod tersebut BOLEH DIBACA SIN BOLEH DIBACA SHOD, tapi dibaca SIN lebih baik. Contoh pada Surat 52 At- Thur 37:
أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُوْنَ

27.Huruf SHOD tak bertanda apapun tetap harus dibaca SHOD. Contoh pada Qur'an Surat 88 Al- Ghisyiyah 22.
لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ
Catatan: Bandingkan semua ini pada Mushaf Indonesia yang semua bertanda Sin diatasnya.

28. SAKTAH ditandai dengan Huruf SIN kecil diatas huruf selain Shod.
Saktah yakni berhenti sejenak tanpa nafas selama satu alif.
Menurut Imam ‘Ashim di Al- Qur’an hanya terdapat di 4 (empat) tempat, yaitu:
Surat Al- Kahfi ayat1, Surat Yasin ayat 52, Surat Al- Qiyamah ayat 27 dan Surat Al- Muthoffifiin ayat 14. Berikut contonya berturut- turut:
وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ و عِوَجاً ۞ قَيماً..(الكهف 1-2)
مِنْ مَرْقَدِنَا - هَذَا( يس 52)
وَقِيْلَ مَنْ رَاقٍ ( القيامة 27)
كَلا بَلْ رَانَ ( المطففين 14)
Bila ada tanda Saktah yang lain, diabaikan.

IV. HAMZAH WASHOL

29. Semua “Al” harus dibaca FATKHAH hamzahnya, baik Al Qomariyah atau Al Syamsyiyah.
Ingat, diatas Alif bukan tanda Dhommah, tapi TANDA HAMZAH WASHOL.
ٱلذِى - ٱلْحَمْدُ لِلهِ - ٱلصلَوٰةُ - ٱلزكَوٰةَ - ٱلشمْسُ - ٱلْقَمَرُ

30. Tidak ada TANDA NUN KECIL berharokat kasroh (Nun Iwadl) pada Mushaf Madinah, beda dengan Mushaf Indonesia. Hati- hati, sering keliru baca.
Agar tidak salah, ingat ketentuan berikut:
“Apabila ada TANWIN bertemu dengan HAMZAH WASHOL, maka tanwinnya DIGANTI DENGAN NUN IWADL.Bila harokat asalnya Fatkhatain atau Fatkhah panjang, maka harus dibaca pendek. Bila terpaksa waqof dibaca panjang satu alif “.
Contoh:
عُزَيْرٌ ٱبْنُ الله = عُزَيْرُنِ ابْنُ اللهِ (التوبة 30)
جَزَاءً ٱلحُسْنٰى = جَزَاءَن الْحُسْنَىٰ (الكهف 88)
لَهْواً انْفَضوا = لَهْوَنِ انْفَضوا (الجمعة 11)
قَوْماً اللهُ = قَوْمَ نِ اللهُ (الاعراف 164)
قل هو الله احد ۞ الله الصمد ...قل هو الله احدن الله الصمد
Hati- hati, jangan memakai "Li"- Lillaaah. (kesalahan fatal yang sering dilakukan)

31. Dalam Mushaf cetakan Madinah, Hamzah Washol diawal kalimat tidak diberikan harokat sebagaimana pada Mushaf Indonesia, namun ada potongan kepala huruf Shod (seperti dhommah kecil), maka perhatikan ketentuan berikut:

a. Bila setelah huruf mati berharokat DHOMMAH, maka Hamzah Washol dibaca DHOMMAH. Contoh:
ٱنظُرْ = أُنْظُرْ (النساء 50 ) - ٱقْتُلُوا يُوسُفَ = أُقْتُلُوْا ..(يوسف 9 )
ٱدْخُلُوهَا = أُدْخُلُوْهَا (الحجر 46 )

b. Bila setelah huruf mati berharokat KASROH, maka Hamzah Washol dibaca KASROH. Contoh:
ٱرْجِعُوأ = إِرْجِعُوْا (يوسف 71) – ٱنفِرُوأ = إِنْفِرُوْا (التوبة 41)
اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُوْلُ ( ص 18)

c . Bila setelah huruf mati berharokat FATKHAH, maka Hamzah Washol dibaca KASROH .
Contoh:
ٱعْلَمُوأ = إِعْلَمُوْا (المائدة 98) –
ٱتبِعُوأ = إِتبِعُوْا (أصله إِتْتَبِعُوْا) يس 21
Ingat: Tak ada Hamzal Washol DIBACA FATKHAH kecuali pada “AL” (ٱل)

والله الموفق الى اقوم الطريق


mengenai quran tidak lengkap itu jg benar, jd jgn diputar2 lagi
perang yamama, banyak pelafal quran mati bukan cuman 1 atau 2 orng
mau versi sahih, gw punya jg
Quote:'Abdullah b. 'Abbas reported that 'Umar b. Khattab sat on the pulpit of Allah's Messenger (ﷺ) and said:
Verily Allah sent Muhammad (ﷺ) with truth and He sent down the Book upon him, and the verse of stoning was included in what was sent down to him. We recited it, retained it in our memory and understood it. Allah's Messenger (ﷺ) awarded the punishment of stoning to death (to the married adulterer and adulteress) and, after him, we also awarded the punishment of stoning, I am afraid that with the lapse of time, the people (may forget it) and may say: We do not find the punishment of stoning in the Book of Allah, and thus go astray by abandoning this duty prescribed by Allah. Stoning is a duty laid down in Allah's Book for married men and women who commit adultery when proof is established, or it there is pregnancy, or a confession.
حَدثَنِي أَبُو الطاهِرِ، وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالاَ حَدثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ، أَنهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَباسٍ، يَقُولُ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطابِ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِن اللهَ قَدْ بَعَثَ مُحَمدًا صلى الله عليه وسلم بِالْحَق وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ فَكَانَ مِما أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرجْمِ قَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا فَرَجَمَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ فَأَخْشَى إِنْ طَالَ بِالناسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ مَا نَجِدُ الرجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ فَيَضِلوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَإِن الرجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ حَق عَلَى مَنْ زَنَى إِذَا أَحْصَنَ مِنَ الرجَالِ وَالنسَاءِ إِذَا قَامَتِ الْبَينَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوْ الاِعْتِرَافُ ‏.‏

sahih muslim
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Post ini telah dihapus oleh KS06
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
06-07-2020 01:07
kan dah tak bilang di postingan ane kemaren, nih bahasa emang multi tafsir kalo udah mode RAW. Jadi kudu ijtima' berkali2 dan cari penghafalnya yang bener2 kuat dan akurat nih.

auto belajar bahasa arob dah ane emoticon-Traveller
profile-picture
anak.soleh.papa memberi reputasi
1 0
1
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
06-07-2020 03:15
gua percaya tuhan, tapi gak percaya agama itu sebaiknya belajar kitab apa
profile-picture
profile-picture
anak.soleh.papa dan areszzjay memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
06-07-2020 03:55
Bedain syiah dan ahmadiyah aja mereka gak bisa

Apalagi bedain qiroat emoticon-Wkwkwk
profile-picture
profile-picture
anak.soleh.papa dan areszzjay memberi reputasi
1 1
0
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
06-07-2020 04:43
Ini agama aisyah
profile-picture
anak.soleh.papa memberi reputasi
1 0
1
JIC Ke Depan Harus Jadi Pusat Perubahan Islam Dunia
06-07-2020 05:16
Ya udah ane gembok aja sekalian
emoticon-Big Grin
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia