Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
116
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5efee37edbf76412dd3a46fa/antara-si-jeruk-gue-dan-miss-londo-cantik---season-2
Season 1 Season 2 PART. 01 PART. 02 Prolog Suara musik menghentak gendang telinga dalam bauran hingar bingar lampu disko menemaninya melewati malam yang begitu berat. Beberapa orang mulai turun melantai mengikuti ketukan yang membangkitkan adrenaline, masing-masing mencoba melepaskan tekanan di dalam kepala sembari berharap setiap gerakan-gerakan itu mampu melepaskan beban berat mereka satu persat
Lapor Hansip
03-07-2020 14:51

Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2

icon-verified-thread
Season 1

Season 2

PART. 01
PART. 02

Prolog


Suara musik menghentak gendang telinga dalam bauran hingar bingar lampu disko menemaninya melewati malam yang begitu berat. Beberapa orang mulai turun melantai mengikuti ketukan yang membangkitkan adrenaline, masing-masing mencoba melepaskan tekanan di dalam kepala sembari berharap setiap gerakan-gerakan itu mampu melepaskan beban berat mereka satu persatu. Tidak sedikit juga yang memilih duduk di depan bar dengan ditemani segelas minuman kesukaan mereka.

Bukan kali pertama, karena hampir setiap ia merasakan himpitan di dalam dada dan tak ada orang yang bisa mengembalikan keadaannya semula. Ia seperti kehilangan akal dan seakan tak menyisakan rasionalitas pada setiap ketelitian cara berpikirnya, sungguh tak ada tempat untuknya bersandar dan ia merasa “ketenangan” seperti inilah yang ia cari.

it’s not fair!…“ Ucap wanita berparas cantik itu sembari memperhatikan bar tender yang tengah menuangkan satu gelas Scotch Whisky dingin dengan potongan jeruk nipis tepat dihadapannya.

come on girl, what’s going on?”

Everyone left me, Huhh…..I feel unloved

Wanita cantik itu mulai menjilati pinggiran gelas kemudian menenggak minuman dingin yang ada di depannya dengan perlahan namun pasti. Dalam satu kali putaran reffrainlagu, hanya tersisa bongkahan es kecil dan potongan jeruk nipis di dalam gelas yang mengembun. Kelopak matanya terpejam sejenak, lalu menyibakkan rambut indahnya ke depan bibir seperti mengingat - ingat semua perisitiwa perih yang pernah terjadi di dalam hidupnya.

give me more!“ ucap wanita yang membiarkan rambutnya tergerai indah dengan balutan dress berwarna hitam sebagai ungkapan rasa gelapnya saat itu.

easy girl, you’re the star…they should be the ones you left behind” tukas bar tender itu kemudian membuatkan minuman seperti yang diminta pertama kali.

“ does God really exist? !!”

Wanita itu mulai ragu dengan keberadaan-Nya, yang ia lakukan saat ini hanyalah bentuk pasrahnya terhadap semua masalah yang datang bertubi-tubi.

I’m not sure, enjoy your drink…! all problems will be ashamed to approach you ”

Bar tendermemberikan pesanan kesekian kali kepada wanita yang memilki mata setajam elang itu. Ia kembali menenggak minuman kesukaannya, memejamkan mata, hingga tak dapat menahan air matanya jatuh membasahi pipi. Ia benar-benar rapuh, sungguh berat bebannya, hingga air mata itu layaknya puncak gunung es yang terlihat sedikit dipermukaan tanpa diketahui sebesar apa sebenarnya.

more!“ ucap wanita itu

Matanya berkaca-kaca karena air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya.

“ absolutely…you’re my strong girl, just don’t do anything stupid alright?” ucap bar tendermemberikan semangat dengan kepalan tangan. Ia sudah terbiasa menjadi pendengar yang baik bagi para pelanggan setianya.

Hanya itu yang bisa ia lakukan saat gelombang besar datang menerpa hidupnya. Walau ia selalu mencoba tegar di depan orang lain, namun ia takkan kuat menjalani kerapuhan itu dalam kesendiriannya. Ia hanya butuh orang yang tulus menyayangi dan selalu berada di dekatnya. Tapi satu persatu orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya.

 “ cukup! …” cegah seorang laki-laki dengan cekatan mengambil gelas kristal berisi Scotch Whisky dingin yang ada di tangannya.

Wanita itu menatap nanar ke arah laki-laki yang telah berani merampas apa yang ia kira mampu melenyapkan segala kesedihannya.

“Akbar….!!”

Raut wajah wanita itu seketika berubah-ubah dengan begitu cepat, antara kemarahan dan tawa kecil bercampur begitu menyakitkan. Ia terlihat sangat tak menginginkan kehadirannya tetapi di sisi lain hatinya sangat merindukan sosok orang yang sekarang berdiri dihadapannya. Ia lantas mengguncang tubuh laki-laki itu dengan kedua tangan memegang erat kemejanya.

“ …kenapa lo dateng lagi setelah pergi gitu aja…?”
Diubah oleh juna.pilot
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 43 lainnya memberi reputasi
44
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
26-07-2020 00:46
Quote:PART 02



Apa kabar Rendy setelah hari ulang tahunnya yang ke 21? Tampaknya tidak banyak berubah, rambutnya masih rimbun layaknya bonsai pohon beringin. Statusnya pun masih jomblo sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya saja ada sedikit perubahan pada usahanya menarik perhatian Aulia Jasmine yang merupakan adik perempuan sahabatnya itu.

Dari saat ia bertemu Jasmine untuk kali pertama. Saat itu Rendy sudah berikrar didalam hati bahwa inilah tipe wanita impiannya. Berhidung mancung, berkulit putih ditambah vibe timur tengah yang menjadikan Jasmine terlihat sempurna dimata Rendy.

Harus diakui bahwa ia memiliki selera yang cukup tinggi. Niatnya baik, Rendy ingin memperbaiki keturunan, tapi itu bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Berapa banyak cowok ganteng nan kaya yang akhirnya gagal mendapatkan hati Jasmine. Kasihan kau anak muda, lebih baik cuci muka, minum obat cacing lalu bersiaplah untuk tidur, tapi jangan lupa berdoa.

Sementara Jasmine, ia bahkan tak tahu lelaki seperti apa yang sebenarnya ia cari? Ia cukup lelah menghadapi para lelaki yang coba mendekat demi menarik perhatiannya dengan pola yang sudah bisa ia tebak. Tapi soal Rendy, walaupun konyol ia hampir tak pernah gagal membuat Jasmine tertawa.

**

Gawai milik Jasmine berdering tepat di atas meja belajarnya. Mood-nya sedang baik saat ini, hingga memudahkankan ia untuk merapihkan semua pakaian yang cukup berantakan di beberapa sudut kamar.

“……”

“Bang Rendy” tertulis jelas pada gawai milik Jasmine. Perhatiannya sedikit teralihkan, tetapi masih merasa tanggung meninggalkan aktivitasnya tersebut. Setelah dua atau tiga kali barulah Jasmine bisa menjawab panggilan tersebut.

“ Halo…” Sapa Rendy

“ Iya halo…” balas Jasmine

“ lagi sibuk kah?”

“ lumayan, lagi beresin kamar, ada apa bang?”

“ gak, mau nanya aja, Juna di rumah gak?”

“ lagi keluar bang ”

“ tapi kalo Jeje ada kan?”

“ hmm… bilang aja mau nyari gue, pake nanya bang Juna ”

“ intro dulu Je, hehe…?

“ kenapa, bang rendy mau ke rumah?”

“ kok ngerti sih Je?”

“ apalagi coba?… bang ren, gue sekalian nitip ya”

“ dengan senang hati, mo nitip apa?”

“ jus alpukat, sama mie pangsit, cabenya di pisah, banyakin sayurnya…nanti uangnya gue ganti bang”

“ oh..siaapp, di tunggu!”

Mungkin jika yang di minta Jasmine adalah brokoli manis, Rendy akan berusaha sekuat tenaga menyirami rambutnya dengan mayonnaise panas yang ditambah sedikit gula pasir. Baginya, permintaan Jasmine adalah sebuah titah dan kewajibannya hanyalah membawakan apa yang ia minta ke hadapannya.

**


“ Raline susah di ajak keluar sekarang, setelah putus sama Ari kayak gak semangat gitu dia, setahu gue sih emang dia gak bisa sendiri ” curhat Karin yang tengah duduk di sofa ruang tamu Inez sembari memainkan gawainya.

“ …lagi pengen sendiri aja kali…” balas Inez yang kemudian membuka lemari es bermaksud mengambil Jus jeruk kemasan untuk diminum bersama Karin.

“ bisa jadi…hari ini alasannya mager pas gue ajak nyalon bareng” Karin seperti menyetujui alasan sahabatnya itu.

“ tapi ulang tahun Rendy kemaren dia dateng kan?” Ucap Inez sembari menyesap jus jeruk dingin itu tepat didepan sahabatnya.

“ iya sih… tapi gue kira Juna cukup memenuhi kriteria dia deh” sambung Karin tiba-tiba melontarkan kalimat itu.

“ Bbrruhhh….” Inez menyemburkan jus jeruk yang baru saja ia sesap ke dalam mulut.

“ gak mungkin…” sambung Inez yang kemudian membersihkan bekas semburan jus jeruk di celana jeans-nya menggunakan tisu.

“ …apa sih yang gak mungkin?” lanjut Karin yang cukup mengetahui karakter Raline.

“ …gak mungkin aja raline sama juna…” Inez masih cukup ragu mendetailkan alasannya tersebut, ada banyak hal yang sepertinya belum Karin ketahui soal perasaannya ke Juna, perasaan Juna ke Raline. Hanya saja Inez belum siap untuk menceritakan hal tersebut. Terlalu rumit!

**


Si jeruk benar-benar mampu menjelaskan perjalanan panjang Juna hingga pada detik ini. Saat terberat yang datang silih berganti ia tetap membersamai Juna menyusuri setiap sudut kota menjalankan peran yang ditakdirkan untuk ia mainkan. Termasuk perjalanan cintanya yang penuh liku dan lebam di sekujur badan.

Juna membawa Raline tiba dirumahnya. Ini adalah kali pertama Raline datang ke rumah Juna dengan status baru. Tak lagi sebagai teman yang begitu ia kagumi, melihat tanpa bisa dimiliki, berharap tanpa tahu akan diharapkan. Menebak-nebak isi hati dan uring-uringan sendiri saat semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Semua itu sudah menjadi bagian dari masa lalu yang tak mungkin bisa dilupakan untuk Juna.

“ assalamualaikum…” Juna memberi salam

“ waalaikumsalam” Terdengar balasan dari dalam rumah.

“ Jeje….” Sapa Raline ramah begitu mengetahui Jasmine yang membukakan pintu.

“ kak Raline…” Jasmine pun menyambut sapaan itu dengan ciuman di kedua pipi Raline.

“ masuk kak!” Ajak Jasmine

“ abang lo ini gak dicium juga?” goda Juna ke adiknya itu sembari tersenyum

“ga ah, takut sial” seloroh Jasmine seolah ejek mengejek adalah bagian rutinitas mereka

“eh eh… bisa gitu ya ke abang lo yang keren ini, tuh liat calon kakak ipar lo! mana ada sial-sialnya bareng gue” bela Juna sembari meminta dukungan Raline

“tau dari mana lo bang kalo kak Raline gak sial, bukannya sama lo aja udah sial itungannya? Wekkk … hahahahaha”

“hahahaha” Raline ikut tertawa melihat hangatnya dua kakak beradik ini

“gini nih kalau kalian udah ngumpul, pasti kompakan nyerang gue” Lanjut Juna

“ gitu aja ngambek, sini tangannya” ucap jasmine kemudian mencium tangan kakaknya, meskipun mereka seperti itu, tapi jasmine tidak pernah untuk tidak menghormati kakaknya, baginya juna adalah sosok ayah yang menjadi panutan untuknya.

“ kakak bawa ini…” Raline sedikit mengangkat bungkusan berisi donat yang tak sengaja ia beli.

Jasmine menerima donat yang diberikan Raline “ makasih banyak kak, tapi yang paling suka donat itu laki-laki disebelah kakak” khusus kalimat terakhir, Jasmine berbisik ke telinga Raline.

“ kok kakak gak tahu…”

“ makanya jeje kasih tahu…”

“ pada ngomongin gue ini?” seloroh Juna

“ pede banget!” Timpal Jasmine kemudian menggandeng Raline masuk ke dalam rumah.

Ciri khas rumah ini selalu ramah buat siapa saja. Para penghuninya begitu hangat seakan tamu yang singgah ke rumah ini menganggap seperti rumahnya sendiri.

“ BUN….ada kak Raline..” ucap Jasmine sembari menuju dapur guna memindahkan donat-donat tersebut ke atas piring.

“ kok gak ngabarin kalo mau main ke rumah, apa kabar kamu sayang?” Sapa Bundo ramah.

“ baik bun, bundo sehat?” balas Raline

“ alhamdulillah sehat, Raline…maafin anak bundo ya kalo kemaren itu kurang peka!” Nada kalimat terakhir bundo keluarkan pelan agar tak terdengar oleh Juna.

“ …” Raline menoleh ke arah Juna yang telah asyik menyabotase siaran tv Jasmine di ruang keluarga.

“ iya bun…jadi malu nih” Jawab Raline dengan raut wajah yang memerah.

“ Juna sayang banget sama kamu” ucap Bundo sambil tersenyum.

“ …” Raline pun tak dapat berkomentar apa-apa dan hanya membalasnya dengan senyuman.

“ kalian santai aja di rumah, bundo mau ke kantor lagi”

“ berangkat lagi bun?” Tanya Juna yang melihat Bundo menuju pintu rumah.

“ iya, baik-baik di rumah!”

“ Iya bun” Jawab Juna

“ Raline, Bundo berangkat dulu ya”

“ Iya bun, hati-hati”

“…” Senyum bundo terlihat dari raut wajahnya sembari berjalan keluar.

**


“ Je…donatnya bawa sini, buruan!”

“ BENTAR! cepet banget kalo soal donat, heran” gerutu Jasmine

Raline menyusul Jasmine ke arah dapur, mereka berdua cukup dekat bahkan sebelum Juna berpacaran dengan Raline. Beberapa kali, Raline meminta Jasmine menemaninya untuk berbelanja ataupun ke salon bersama. Raline merasa menjadi seorang kakak jika bersama dengan Jasmine, maklum mengingat Raline adalah anak tunggal dan terbiasa menjalani semuanya sendirian.

“ kakak kalo mau minum ambil aja sendiri, soalnya kakak kan bukan tamu lagi dirumah ini”

“ begitu yah…” lanjut Raline kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral dari dispenser didekat lemari es.

“ Jeje ngira kak raline bener-bener gak bisa nerima bang Juna loh” ucap jasmine seakan masih tidak percaya

“ abangmu ternyata gak gampang nyerah…” raline mencoba memberikan jawaban sesingkat mungkin

“ tapi bukan kasian kan?” tanya jasmine kembali

“ Hmm…bagus yah! abangnya sendiri di jelek-jelekin begitu, adek macam apa lo!” tiba-tiba terdengar gerutu Juna yang ternyata sudah berada di depan pintu dapur dan mendengar percakapan mereka berdua.

“ ini donat lo, udah sana!”

“ awas lo ngomong macem-macem” lanjut Juna mengancam Jasmine sambil menggigit donat lalu kembali ke ruang tv dengan sepiring makanan kesuakaannya itu.

“ bukan kasian kan kak?” Tanya Jasmine mengulangi pertanyaannya yang terjeda.

“ dikit sih…”

“ Hahh…???”

“ enggaklah becanda Je…”

“ Yeayy…kirain, eh kak, kenapa yah menurutku cowok humoris itu punya daya tariknya sendiri, beda aja gitu”

“ udah pengalaman apa gimana nih?” sindir Raline setelah meneguk air dari gelas yang ia pegang dengan tangan kanan.

“ hehe…”

“ setahu gue sih tipikal mereka itu unik, punya caranya sendiri buat nyairin suasana atau malah kita yang dibuat gregetan pengen ngejambak rambutnya, eegghhh!” Lanjut Raline dengan ekspresi gemasnya.

“ bener banget kak, haha…coba kalo yang serius banget, kita lagi bad mood mereka juga bakal ikutan” lanjut jasmine dengan tawa kecilnya

“kayaknya kakak tahu nih siapa orang yang lagi kamu omongin?”

“ hmm…sok tahu nih kakak”

“ Assalamu’alaikum”

“ waalaikumsalam…”

“ …” Raline memberikan isyarat dengan jarinya ke arah suara

“ …” Jasmine mengangkat kedua bahunya lantas dibalas senyuman oleh Raline

“ waalaikumsalam…ngapain lo kemari?” ucap Juna berdiri tepat di depan pintu

“ tujuan gue bukan mau ketemu lo onta, minggir“

“ …” Juna menaikkan satu alisnya

“ mau rumah sakit apa kuburan?” tantang Juna dengan kepalan tangan kanan dan kirinya.

“ titipan gue ada kan bang?” Ucap Jasmine dari arah dapur.

“ tuh denger gak lo? Ada dong Je” jawab Rendy dengan senyum menyeringai

“ kalian berdua janjian? Ada apa ini… eh jelasin dulu, Je…Gue abang lo” sambung Juna menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi antara adiknya dengan sayur brokoli ini.

“ …gue beli banyak mie pangsit nih sama jus alpukat, ayo makan bareng!” sela rendy sembari menunjukkan tentengan tas kresek penuh dengan makanan

“ urusan kita belom selesai kribo” seloroh Juna dengan mulut penuh berisi donat.

“ bundo di rumah?” Tanya Rendy ke Jasmine yang tak mengindahkan perkataan sahabatnya itu.

“ tadi istirahat siang pulang, trus berangkat lagi” jawab jasmine

“ Ohh…”

Jasmine langsung menuju dapur dimana Raline masih berada disana.

“ kayaknya kakak kenal deh suara itu” singgung Raline begitu Jasmine berada di dapur

“ kakak gak kenal kok, hehe…”

“ yakin? itu makanan banyak banget Je…”

“ gue pesennya satu, tapi yang di bawa banyak banget, tau tuh…kakak mau?” Jasmine menawarkan mie pangsit dan jus alpukat yang dibawa Rendy.

“ kenyang sih, kakak baru makan sama abangmu tadi”

“ jus nya aja deh?”

“ bolehlah…tapi takut gendut minum manis terus dari tadi”

“ halah…bang Juna gak akan komplain, tenang aja!”

“ hahaha…okay…”

Juna dan Rendy sedang asyik berdebat hingga TV yang menonton mereka di ruang keluarga. Sementara Jasmine dan Raline berjalan menuju ruang keluarga dari arah dapur membawa beberapa piring mie pangsit dan jus alpukat.

“ …loh kok ada lo re, wahh…emang brengsek nih Si Onta…jelasin lo pada!”

“ lagi pengen main aja ke sini” jawab Raline santai

“ Halah gak mungkin…jujur lo semua…”

“ beneran!” jawab Juna

“ gue jedotin nih pala lo onta” ancam Rendy sambil memegang salah satu Pundak Juna.

“ orang lagi pengen main, emang kenapa…aneh si kribo ihh” lanjut Juna sembari menggigit donat rasa cokelat kesukaannya.

“ bisa lo yah, kemaren aja lo nangis-nangis…dasar bucin lo…” ejek Rendy membongkar aib Juna

“ idihh siapa yang nangis…” elak Juna dengan mulut penuh donat.

“ emang bener Ren dia nangis?” Tanya Raline penasaran

“ beneran, untung ada gue, kalo gak udah bunuh diri nih bocah” jawab rendy dengan menarik hidung juna

“ … gue botakin lo!…jangan percaya keringet firaun ini, gak bener itu sayang” Lanjut Juna membela diri dengan kalimat terakhir tertuju pada Raline.

“ HAAAH…emang kampret lo Jun, udah sayang-sayangan aja…abis itu diem-diem lagi, giliran susah inget gue, tibanya seneng lupa…telor lu dasar!” keluh Rendy, tapi sebenarnya ia ikut merasa bahagia akhirnya sahabatnya itu mendapatkan apa yang selama ini ia impikan.

“ lah lo ngapain disini…pake janjian sama adek gue…gak izin lagi, main belakang lo ya?” balas Juna mengomentari.

“ pada mau makan gak nih, ribut aja!” tegur Jasmine ke Juna dan Rendy

“ ya maaf bang, adek kan cuma becanda doang, makan yuk keburu dingin mienya” Nada bicara Rendy tiba-tiba menciut saat teringat jika kartu As nya ada di Juna, Ia lantas memilih untuk mengalihkan pembicaraan, bagaimanapun kakak ipar selalu benar.

Kaldu ayam, pangsit goreng, dan manisnya cokelat dalam segelas jus alpukat menjadi saksi bisu hangatnya hubungan diantara mereka. Adik kesayangan, sahabat sejati dan tentunya kepingan hati yang telah lama dinanti berkumpul bersama pusaran kebahagiaan menanti senja yang sebentar lagi akan datang.

Kita hidup dengan ego masing-masing, tapi nyatanya kita tidak benar-benar, masing-masing. Ada kala kita harus mendengar, tiba saatnya pula kita ingin didengar. Sebuah putaran yang memang dipergilirkan untuk manusia lemah seperti kebanyakan. Sampai kapan bisa menyelesaikan semuanya sendiri? Sampai egomu habis dimakan tangis air mata? Jangan begitu!
Diubah oleh juna.pilot
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donny065 dan 24 lainnya memberi reputasi
25 0
25
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
26-07-2020 00:32
Quote:PART 01



Scooter orange menerobos gelap yang tengah asyik menyelimuti langit kota. Cuaca pertengahan tahun cukup dingin dalam balutan malam berhias kerlip bintang yang tak saling sapa. Juna dan Raline baru saja pulang menghadiri acara ulang tahun sahabat mereka. Sepanjang perjalanan Raline tak banyak bicara seakan terbebani oleh berita yang baru saja ia dengar dari gawai miliknya.

Raline hampir menyerah mencari informasi itu sejak sekian lama, namun ketika ia mulai mengikhlaskannya, ternyata kabar itu datang tak terduga bahwa yang ia cari selama ini masih hidup. Perasaannya lantas berkecamuk antara harus bahagia atau bersedih saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Jika memang benar masih hidup, mengapa tak ada sedikitpun kabar darinya walau hanya satu kalimat?

Juna merasa ada perubahan sebelum dan sesudah mereka menerima berita itu. Gelak tawa saat pesta ulang tahun tadi seakan tiba-tiba lenyap ditelan bumi. Mereka hanya sibuk dalam diamnya masing-masing. Hanya suara deru angin dan knalpot vespa yang menenami setiap meter perjalanan mereka malam itu.

Dingin. Sepi. Hingga pekatnya malam mereka buat tersinggung. Juna hanya tak ingin memperkeruh suasana. Berbagai narasi dikepalanya ia hitung sampai bilangan ketiga sebelum ia putuskan untuk dikatakan.

“ kamu gak apa-apa?” Tanya Juna mengkhawatirkan kondisi Raline yang hanya bisa ia lihat dari balik kaca spion.

“ …” Raline membisu, ia bahkan tidak mempedulikan keadaannya sendiri.

“ terus apa rencana kamu sekarang?”

“…aku gak tahu harus ngapain” jawab Raline singkat

“ apapun keputusan kamu, aku bakal dukung” lanjut Juna memberikan motivasi kepada orang yang sangat ia sayangi.

“ aku seneng tapi juga sedih, kalau emang bener dia masih hidup, kenapa sekalipun gak pernah ngasih kabar? apa mungkin dia udah lupa, atau mungkin emang sengaja mau mutusin hubungan sama aku? putrinya sendiri?" jawab Raline mengutarakan apa yang membebani pikirannya.

Walaupun samar, dari balik kaca spion Juna melihat air mata itu perlahan jatuh membasahi kedua pipi kekasihnya itu.

“ stop berpikiran gitu” Lanjut Juna mencoba menenangkan Raline

“ …” sementara Raline masih nyaman dalam tangisnya.

Gear vespa dalam posisi netral, berhenti tepat didepan rumah Raline. Walaupun Juna tahu betul bahwa hal itu selalu berat buatnya, tapi ia hanya berusaha mengantarkannya pulang tepat waktu. Sekarang, kedudukan Raline di mata Juna layaknya Bundo dan Jasmine yang begitu ia cintai.

Juna mematikan mesin vespa kemudian membantu Raline yang telah berdiri menunggu agar Juna melepaskan helm pilot yang melekat dikepalanya. Perlahan, Juna membukakan helm pilot tersebut sembari merapikan Rambut raline yang sedikit berantakan. Juna berdiri tepat dihadapan Raline sembari menyeka air mata kekasihnya itu dengan kedua tangannya.

“ masuk sana, istirahat!” pinta Juna dengan suara lembut

“ ….” Raline hanya membalas dingin dengan menatap Juna lalu menggelengkan kepalanya pelan

“ udah malem…” tambah Juna dengan maksud agar Raline memenuhi keinginannya untuk segera masuk ke dalam rumah.

“…” bahasa tubuh Raline masih tak berubah.

Juna coba mengartikan bahasa tubuh kekasihnya itu. Raline bukanlah wanita lemah yang mudah putus asa begitu saja, setidaknya itu yang dipikirkan Juna. Tapi ia sadar, sosok yang kuat itu hanyalah manusia biasa yang bisa terjatuh dan menangis. Juna memeluk kekasihnya cukup erat hingga terdengar isak tangis dari bahu yang ia sediakan sebagai tempat bersandar.

“ …” isak tangis Raline kian terdengar, tangannya memeluk Juna semakin erat seperti tak ingin melepaskan.

“ …” Juna pun tak mampu berkata apa-apa, lidahnya kelu, hanya telapak tangan yang bisa ia andalkan guna mengusap kepala Raline berulang-ulang.

“ apa papa gak kepengen aku ada?” Tanya Raline, suaranya bercampur isak tangis yang berpadu menjadi satu.

“sshh… jangan gitu ah, jangan mikir yang macem-macem” Jawab Juna masih memeluk tubuh kekasihnya itu.

“apa kamu bakal ninggalin aku juga?” Tanya Raline tiba-tiba menodong Juna dengan pertanyaan aneh seperti itu.

“Hah? Kok tiba-tiba nanya gitu?” sontak Juna kaget. Ia lantas melihat wajah Raline guna memastikan pertanyaan itu serius ia ucapkan.

“ semua yang aku sayang, pergi ninggalin aku…..” tangis Raline kembali pecah.

“ gak lah sayang, gak mungkin aku ninggalin kamu” bujuk Juna mencoba menenangkan Raline sembari kembali memeluknya lebih erat.

“Pasti ada alasan yang gak kita tau kenapa papamu pergi dan gak pernah ngasi kabar” ucap Juna mencoba menjelaskan sudut pandang berpikirnya

“…….” Raline masih larut dengan tangisnya

Juna menyadari bahwa selama ini Raline mencoba terlihat sebagai pribadi yang kuat di depan banyak orang. Tapi saat sendiri, ia begitu rapuh seakan tak sanggup berdiri memikul beban berat dipundaknya. Juna tahu apa yang harus ia lakukan. Raline butuh tempat bersandar tanpa perlu menjadi orang lain.

**


Beberapa minggu ke depan Juna akan memasuki tahun ke empat perkuliahannya. Sungguh bulan-bulan tersibuk dengan kerja praktek dan skripsi yang sangat menguras tenaga, belum lagi ditambah kerja part time yang biasa ia lakukan. Tapi baginya, semua itu adalah tanggung jawab yang harus ia penuhi dengan segenap jiwa dan hati yang besar.

Liburan semester genap masih berlangsung, cukup banyak waktu buatnya menghabiskan waktu berdua bersama Raline. Juna sangat mengerti, bahwa disaat-saat seperti ini Raline sangat membutuhkan dia selalu ada disampingnya. Juna tak ingin, Raline sendirian menghabiskan air matanya di sudut kamar.

“ bang, es kacang merahnya satu lagi yah!” pinta Juna sambil mengacungkan tangan ke salah seorang pramusaji.

“ baik kak, ditunggu sebentar…”

“mau nambah lagi gak?” tanya Juna ke Raline yang berada tepat disebelahnya sedang asyik menikmati pempek yang tertusuk garpu.

Mereka berdua sedang menghabiskan waktu makan siang bersama di restoran pempek di depan kantor walikota Palembang. Siang ini mataharinya cukup terik hingga membuat tenggorokan mereka terasa haus tak berkesudahan.

“ kamu nyuruh aku nambah lagi, kamu mau aku gendut?” tanya Raline sembari menyuapkan pempek yang telah dicelupkan cuka itu ke mulutnya.

“ beneran gak mau yah?” Juna kembali memastikan

“ …” tampaknya Raline tidak begitu tertarik menanggapi pertanyaan Juna, ia masih asyik menghabiskan pempek yang ada di piringnya
Restoran ini adalah tempat makan favorit mereka berdua. Sama-sama menyukai kuliner pedas, bekeringat bersama sembari membicarakan hal-hal menarik adalah momen yang paling mereka tunggu di sela padatnya aktivitas mereka.

“ ini pesanannya kak” salah seorang pramusaji menyajikan pesanan es kacang merah ke dekat Juna

“ okay, terimakasih” jawab Juna

“ bagi dikit sayang….pedes!” Raline menggeser mangkuk es campur itu ke dekatnya

slllurrpp….

“ hmm…bilangnya takut gendut tapi es campur mau abis dua” sindir Juna

“ abis pedes banget...”

“ He-eh …” jawab Juna mengalah sembari menenggak air mineral yang tersedia di meja.

Juna merasa bahwa hal-hal seperti inilah yang harus ia lakukan supaya Raline tidak terus fokus tentang ayahnya. Menghabiskan waktu bersama akan meminimalisasi Raline untuk kembali larut dalam kesedihan. Apapun itu Juna akan melakukannya demi memberikan rasa nyaman untuk kekasihnya itu.

“ sayang, main ke rumah kamu yuk?” ajak Raline penuh semangat.

“ …gak mau ah, gak ada yang menarik di rumah…”

“ pengen ketemu bundo sama jasmine, bosen ngeliatin kamu terus…”

“ bilangnya bosen…tapi kalo gak ada nyariin”

“ udah ah buruan…” ajak Raline, sudah dipastikan Juna tidak akan sanggup menolak permintaan Raline jika kekasihnya itu mulai memaksa.

“kalau kayak gini aja maksa, terus maksa ngelakuin yang lainnya kapan?” ucap Juna sembari menunjukkan raut wajah mesum dengan sedikit bercanda

“iihhh.. mikirnya coba, dasar!” raut wajah Raline terlihat sedikit kesal, tapi hal itu tak pernah gagal memikat hati Juna.

“hehe… becanda, mau sekarang ke rumahnya?”

“iya sekarang aja” senyum Raline mulai terukir di wajahnya

Merekapun beranjak dari restoran tersebut sementara Juna berhenti sejenak didepan kasir untuk membayar pesanan mereka. Suatu penghargaan apabila Raline membiarkan Juna melakukan itu. Jika ingat beberapa momen dimasa lalu, Juna merasa tidak berguna Jika Raline sudah memberikan kartu platinumnya di depan kasir. Setidaknya, kali ini Juna merasa menjadi kekasih yang lebih baik buat Raline.

Cuaca diluar masih cukup panas, bagi Juna hal itu bukanlah suatu halangan berarti, ia terbiasa bermain bola tepat pukul dua siang bersama teman-temannya sewaktu kecil. Bagaimana dengan Raline? tampaknya ia juga biasa saja, hanya kulitnya yang putih itu berubah menjadi kemerahan seiring terpapar sinar ultraviolet yang cukup intens.

“ eh bentar sayang…” Raline kembali turun dari motor dan menghampiri penjual donat yang berjalan di depan restoran.

“ ….” Juna masih di atas motor melihat Raline mendekati penjual kecil itu

Raline membuka helm pilot yang telah terpasang rapi menutupi rambutnya. Kemudian duduk berjongkok di depan anak perempuan itu dengan senyum terbaiknya.

“ Kakak mau donatnya?” Tanya penjual kecil itu.

Raline mengangguk pelan “…kakak beli sepuluh” Jawab raline

“ Rasa apa aja kak?”

“ di campur aja”

“ baik kak”

“ umur kamu berapa?” Tanya raline begitu lembut sambil memegang pundak anak perempuan itu.

“ 7 Tahun kak”

“ tinggal dimana?”

“ … di rumah susun deket jembatan”

“ sama orang tua?”

Ia menggeleng “ aku gak tahu mereka dimana, aku tinggal sama temen-temen yang sama kayak aku”

“ ada yang jagain kalian?”

“…” anak perempuan itu mengangguk

“ yang saya tahu dia orang tua angkat kami semua”

“ …” Raline mengusap pundak anak itu

“ …ini donatnya kak” Ucap anak perempuan itu memberikan kotak berisi 10 donat pesanan Raline dikemas dalam sebuah kantung plastik.

“ bentar ya….kakak ambil uangnya dulu…” Ucap raline sembari membuka tas kecil yang ia bawa.

Entah berapa lembar uang pecahan lima puluh ribu yang ia keluarkan dari dalam dompetnya.

“ kebanyakan kak, semuanya cuma 30 ribu” Penjual kecil itu merasa ada yang tidak berjalan normal seperti biasanya.

“ lebihnya buat kamu aja” Raline berdiri sembari menenteng plastik yang berisi donat pesanannya tersebut.

“ terimakasih banyak kak” ucap penjual donat kecil itu penuh senyum tersungging di wajahnya.

“ kamu…semangat yah Jualannya!” ucap Raline dengan senyum termanisnya lalu berpaling menuju Juna, sementara sang pemilik vespa orange itu ikut tersenyum melihat apa yang sudah dilakukan Raline, ia tak menyangka bahwa Raline mengetahui apa yang ia suka.
Diubah oleh juna.pilot
profile-picture
profile-picture
profile-picture
donny065 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
30-07-2020 22:25
Anak lu udah kelas berapa bang Juna ?
Lah malah nanya kabar anaknya nih hehe...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alfian5758 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
12-09-2020 03:12
numpang masang tenda om jun
profile-picture
profile-picture
lovearzfi dan situmeang96 memberi reputasi
2 0
2
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
30-07-2020 13:06
mantapz bang jun updateny
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan emzehd26 memberi reputasi
2 0
2
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
28-07-2020 20:32
Quote:Original Posted By davasuv
seharusnya jangan buat trit lagi kalau belum bisa aktif update...

maaf ya gan klo lama update, yg penting story nya slsai walaupun lama, hehe

Quote:Original Posted By ariid
Awal pembukaan yang pecah emoticon-Leh Uga

mksh gan, ikutin trs update nya ya

Quote:Original Posted By tom122
Gokil apdetny, berasa bgt hangatnya masa itu. Thanks gan TS yg sering jd bang toyib haha

haha...lebaran kmren ane gak pulang

Quote:Original Posted By casper777
Akhirnya ada lanjutannya nih si orange, btw si orange dijual kagak tuh jun?

gak dijual, dititipin aja

Quote:Original Posted By ezz4592
Baru baca prolog ae udh senam jantung, jingan emg kau jun

maaf gan, pegangan yg kenceng

Quote:Original Posted By Indjay
Terima kasih om jun.... Dah update

sama2

Quote:Original Posted By zhekhe88
Mantabbhh...emoticon-Leh Uga

👍

Quote:Original Posted By ezz4592
Sekarang pake orang ke tiga ya jun, sejauh ini bagus lah walopun rada kaku juga biasa baca dr sudut pandang lu pribadi

ane pengen explore tulisan ane, sudut pandang org ketiga pengalaman baru buat ane nulis kek gini

Quote:Original Posted By elbe94
Hmmm mngkin ini sih salah satu yg bikin lm up pke sudut pndang org ketiga jd harus wawancara 1 per 1 tokoh yg ada dan lebih rapi ap bukan lu yg bikin bang?

yg bikin tetap ane, perlu banyak ngobrol sama pelaku sejarah dan buka album lama

Quote:Original Posted By ardibarker
Mantappp emang bang juna..
Kayanya enak aja gitu,, bisa bersahabat kaya gitu..
Selalu seperti itu ya bang jun..
Nice story..

siiipp

Quote:Original Posted By navicchan
ngakak abieszz xixixixixi emoticon-Ngakak emoticon-Matabelo

👍👍

Quote:Original Posted By yoeggy
wah baru tau kalo ada lanjutan nya emoticon-Big Grin
semangat babang Jun buat apdet part-part lanjutannya

💪💪💪

Quote:Original Posted By Adaptorsoak
ceritanya makinnn berat nihhh .. update trus ya om junnn jangan putuss ..

gua culik jasmine klo sampe putus ...

👍👍

Quote:Original Posted By kkaze22
Waduh wakakak.....

😎😎

Quote:Original Posted By abak24
Wah muncul lagi si onta ama firaun.....wkwkwk
Nenda dlu ah

duo sejoli

Quote:Original Posted By rmhhrd
Akhirnya...Sijeruk di lanjut lagi.....dan Si Juna udah jadian aja sama Raline...........Lanjut

🙌🙌🙌
profile-picture
profile-picture
situmeang96 dan emzehd26 memberi reputasi
2 0
2
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
03-07-2020 17:18
Jasmin mana Jasmin 🤤🤤🤤🤤
profile-picture
profile-picture
kkaze22 dan kuyaman46 memberi reputasi
2 0
2
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
12-09-2020 14:50
Seperti sebelumnya... Kumpulan dulu.
Taon depan baru dibaca
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
26-08-2020 18:11
Update dong bang Jun!!!
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
Antara si Jeruk, Gue dan Miss Londo Cantik - Season 2
16-08-2020 17:49
Masih setia menunggu emoticon-Smilie
profile-picture
situmeang96 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-stole-my-heart-true-story
Stories from the Heart
bastard-hotelier
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia