Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ef8a853c820844aed356c4a/part-5
Sebelumnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5ef4453ca727682870376e41 Ibu akan datang. Aku harus bersikap baik-baik saja, bukan? Agar tidak memberinya beban. Agar ia juga tidak menyesal karena salah memilihkanku pasangan. Kupoleskan bedak cukup tebal di area lingkar mata, agar bulatan hitam di sana tidak terlalu kelihatan. "Far! Cepetan, ibu kamu sudah datang." 'Ibu kamu', cukup nyeri d
Lapor Hansip
28-06-2020 21:25

Part 5

Part 5

Sebelumnya
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27682870376e41

Ibu akan datang. Aku harus bersikap baik-baik saja, bukan? Agar tidak memberinya beban. Agar ia juga tidak menyesal karena salah memilihkanku pasangan.

Kupoleskan bedak cukup tebal di area lingkar mata, agar bulatan hitam di sana tidak terlalu kelihatan.

"Far! Cepetan, ibu kamu sudah datang."

'Ibu kamu', cukup nyeri di dada. Apakah Angga belum menerima ibuku sebagai ibunya juga? Ah, lupakanlah.

"Bentar!"

Aku segera bangkit, sudah terlalu rindu pada Ayah dan Ibu. Padahal, belum sampai sehari aku tinggal di rumah ini. Rumah? Apakah benar ini rumah? Bukannya lebih mirip neraka?

Aku berjalan gegas menuju ruang tamu. Ayah dan Ibu duduk dengan begitu tenang, tak ada yang menemuinya selain Angga. Apa Mama dan Papa sudah tidur? Kenapa tidak keluar untuk sekadar menyapa dan menyuguhkan teh hangat pada orang tuaku?

Kuseka air mata. Miris rasanya. Bagaimana bisa orang tuaku juga diperlakukan seperti itu? Jika aku saja, tidak apa. Namun, jika sudah menyangkut orang tua, bukankah sangat keterlaluan?

"Ayah, Ibu ...." Aku menyapa mereka dengan senyum hangat. Kupeluk tubuh Ibu erat. Farah rindu, Bu. Farah ingin pulang.

Usai memeluk Ibu, aku beranjak untuk masuk lagi.

"Mau ke mana lagi, toh?" tanya Ibu sembari menarik tanganku.

"Mau buatin teh Ayah dan Ibu."

"Gak usah."

Ibu menarikku untuk duduk di sebelahnya. Mau tidak mau, aku menuruti Ibu.

"Laptopnya mana?" Aku celingak-celinguk mencari laptop yang kuminta.

Ayah menepuk jidatnya. "Astaghfirullah, Ayah tinggal di mobil. Bentar, Ayah ambil."

"Biar Farah aja, Yah. Ayah duduk anteng aja."

Ibu mencegahku untuk berdiri. Lalu mendekapku sekali lagi. "Ibu kangen loh, biarin Ayah saja yang ambil. Kamu di sini saja sama Ibu."

Aku mengangguk, menyetujui permintaan Ibu. Sebab, aku juga rindu.

"Far, kamu kan pengantin baru. Masa' disuruh ngerjain tugas. Atasan kamu apa ndak paham?"

Aku tertawa karena pertanyaan Ibu. Jadi, selama ini Ibu belum tahu karakter atasanku. Jika dia mau sesuatu, dia harus mendapatkannya, tidak peduli ada berapa orang yang akan disusahkan olehnya.

"Lah, malah ketawa," protes Ibu.

"Biarin lah, Bu. Namanya juga kerja ke orang, harus nurut," jawabku singkat.

"Maka dari itu, Bu. Padahal aku ingin berduaan saja dengan Farah, Bu." Angga ikut bicara.

Berdua denganku? Hah? Tidak salah? Bukankah dia tadi berkata bahwa bagus bagiku jika aku bekerja?

Aku tersenyum, meski hati ini ingin mengumpatnya. Dasar laki-laki pembohong! Sikapnya sok manis di depan Ayah dan Ibu. Padahal ....

"Iya, Ibu pengen cepet punya cucu, loh."

Aku melihat mata Ibu berbinar, ucapannya penuh semangat saat menyebut kata 'cucu'.

"Tenang, Bu. Tadi Angga sudah ...."

Aku segera memukul bahu Angga. Kejadian tadi, itu adalah aib menurutku. Dia melakukannya tanpa cinta, sedangkan aku tak berdaya untuk melawan.

Masih terasa bagaimana sakit tubuh dan hatiku karena perlakuannya. Benar bahwa dia berhak atas diriku, tapi caranya yang kasar. Ah, entahlah ....

"Kenapa, Sayang? Kamu malu?" tanya Angga.

Sayang, katanya? Bolehkah aku tertawa? Sungguh sikap yang berbanding terbalik dengan sikap yang tadi, saat hanya berdua denganku. Bisakah aku memanggilnya 'Brengsek'?

"Orang nikah kan udah biasa begituan," ucap Angga lagi.

Tak bisakah dia diam saja? Setiap kali dia bicara, aku akan fokus pada bibirnya yang sudah menciumku paksa tadi. Aku sungguh membencinya.

"Farah masih malu-malu, Bu."

Aku ingin menyumpal mulut Angga yang sedari tadi tak bisa diam. Apa pentingnya bicara hal seperti itu? Toh, aku tidak malu-malu, tapi muak.

"Ga, udah, deh. Berhenti," tegurku.

"Kamu masih manggil Angga, Nduk? Ndak manggil dengan panggilan kesayangan?"

Ibu mengernyit, menunjukkan bahwa dia sangat tidak suka jika aku memanggil Angga tetap dengan sebutan itu. Mau bagaimana lagi? Memanggilnya dengan nama saja sudah untung.

"Padahal, aku memanggilnya dengan sebutan sayang, Bu." Angga menimpali.

"Tara, Ayah datang ...." Ayah berlari kecil, dengan sebungkus makanan di tangan kirinya dan laptop di tangan kanannya.

"Ayah kok lama bener sih?" Ibu merengut pada Ayah. Ah, pasangan itu masih tetap romantis dengan caranya yang unik. "Ibu nungguin Ayah loh, kangen."

Aku dan Ayah tertawa karena ulah Ibu.

"Ini, barusan dari toko. Beli cemilan, buat ngobrol-ngobrol." Ayah meletakkan bungkusan itu ke meja.

"Ish, Ayah. Ngobrol-ngobrol apaan? Kita harus pulang. Biar Farah cepet nyelesain tugas dan langsung istirahat sama Angga." Ibu mencubit pinggang Ayah, kulihat laki-laki itu sedikit meringis.

Andai pernikahanku semanis mereka. Ah, tidak. Ini baru sehari, bukan? Siapa tahu Angga berubah di kemudian hari? Lalu, dia berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Ya, semoga saja Angga berubah.

"Ibu sama Ayah nginep aja, ya. Udah malem gini," usulku.

Kedua orang itu menggeleng serempak. Kompak sekali mereka. "Kita pulang saja, takut mengganggu pengantin baru." Ayah bicara dan tersenyum.

Aku tidak diperlakukan sebagai pengantin baru di sini. Aku tetaplah menjadi Farah yang asing bagi mereka. Tidak ada sapaan ramah, pun tidak ada perlakuan lembut dari seorang yang kusebut suami.

Jika aku menceritakan semua yang ada dalam hati dan pikiranku, bagaimana tanggapan Ayah dan Ibu? Akankah mereka tetap memaksa untuk aku tetap tinggal di sini?

Hmmm .... Sudahlah, sepertinya aku banyak berandai-andai hari ini.

"Ayah dan Ibu pulang sekarang, ya. Itu cemilannya buat kamu aja. Buat nemenin kerjamu," ujar Ibu sembari berdiri. Ia menggamit lengan Ayah yang seolah-olah tak ingin pulang. "Ayo, Yah."

"Ayah pulang dulu, ya, Nak."

Aku mencium tangan Ayah cukup lama. Tak terasa, air mata ini luruh. Ayah membawaku dalam dekapannya. Sungguh hangat.

Jika ada laki-laki di dunia ini yang tak akan pernah menyakitiku, kupercaya bahwa dia hanyalah Ayah seorang.

Ayah, putrimu ingin pulang.

***
Next?
Diubah oleh umiaziza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Satria029 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Part 5
08-07-2020 09:14
lah lanjutannya dibikin thread lg
0 0
0
Part 5
15-07-2020 15:07
Ditunggu nih lanjutan ceritanya emoticon-2 Jempol
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
seorang-ayah-yang-jauh
Stories from the Heart
jurnal-mimpi
Stories from the Heart
surat-surat-lovembers
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
ketakutan
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia