Kategori

Pengaturan

Mode Malambeta
Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Syarat & Ketentuan

Kebijakan Privasi

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

robbolaAvatar border
TS
robbola
teori politi

Melalui Teori Politik, Dr Jafar Ahmad Ungkap Rahasia Kekuasaan Soeharto

Bagaimana rahasia Jenderal Soeharto melanggengkan kekuasaannya hingga 32 tahun itu dikuak Dr. Jafar dalam Channel Belajar Politik.
***
Sesi kali ini, Rabu 27 Mei 2020, lewat Channel Belajar Politik, Dr Jafar Ahmad membedah seputar teori dalam politik. Bagaimana menggunakan teori, untuk membaca peristiwa-peristiwa politik yang terkadang dinilai terlalu rumit dan pelik.
Ia didampingi Awin Sutan Mudo, wartawan dan penulis buku biografi tokoh politik.
Menggunakan teori patron-klien, Dr Jafar Ahmad membongkar rahasia-rahasia kekuasaan Soeharto.
Begini penjelasannya...
Si bos namanya patron. Dalam konteks itu, Seoharto adalah patron. Ia punya klien yang banyak sekali. Dari Menteri, Panglima TNI, Kapolri, hingga pengusaha.
Sebagai klien, mereka memperoleh keuntungan--baik kekuasaan ataupun sumber ekonomi-- dari loyalitasnya kepada patron. Maklum saja, mereka menjadi sangat tergantung kepada si patron.
Mereka misalnya, akan merasa kehilangan, merasa terancam--terutama kebutuhan ekonominya--, jika Soeharto turun tahta. Menjadi wajar, ketika mereka berupaya sekuat tenaga untuk mempertahankan kekuasaan si patron.
Sebaliknya, ibarat candu. Sebagai patron, Soeharto terus memupuk kliennya, hingga mereka merasa ketergantungan. Mereka mendapat jabatan dan akses ekonomi yang kian besar.
Sementara masyarakat di bawah berselimut kemiskinan, lehernya dijerat utang atau makan seadanya, mereka tak peduli.
Dari hari ke hari, tatanan politik yang dibangun semakin kuat. Tahtanya kian kokoh. Semua elit berusaha keras untuk tetap berada di zona itu. Zona nyaman dan melenakan itu.
“Karena nyaman, para elit pasti mendukung si patron. Andaikan patron runtuh, akan timbul kecemasan, mereka merasa sumber kekayaan akan hilang. Nah, inilah yang dibangun Soeharto selama bertahun-tahun,”kata Dr Jafar Ahmad.
Pertanyaannya, mengapa Soeharto bisa runtuh?
Dr Jafar Ahmad, lantas menggunakan teori gerakan sosial untuk menjelaskan fenomena jatuhnya rezim Soeharto, yang sangat kuat itu.
Secara sederhana, Jafar--begitu ia akrab disapa--, menjelaskan, secara teori, ada tiga syarat terjadinya gerakan sosial. Dari momentum, mobilisasi sumber daya hingga framing atau pembingkaian.
Runtuhnya Soeharto, menurut Jafar, berawal dari sebuah memontum yang bernama krisis ekonomi, tahun 1997. Dari sanalah muncul kesempatan politik dimana para elit di lingkaran kekuasaan, pecah.
Badai krisis memantik ketidaknyaman dikalangan elit, sehingga mereka merasa kekuasaan Soeharto tak bisa lagi dipertahankan.
Terjadilah mobilisasi massa hingga pembingkaian sebuah issu, bernama KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).
“Kalaulah kenyamanan bisa dipertahankan, Soeharti tidak akan jatuh. Tengok saja Mahatir, dia tidak jatuh. Karena dia bisa mempertahankan kenyamanaan di internal elit,”ujarnya.
“Ada yang bilang ini bagian dari operasi inteljien asing, mungkin saja ada bagian dari itu. Tapi, intinya, bahwa seorang akademisi harus mampu menganalisis peristiwa politik dari sebuah teori, yang sudah secara umum diakui. Kalaulah tidak melihat peristiwa dari kacamata teori, kita akan riweh sendiri,”katanya.
Lalu, apa teori itu?
Secara sederhana, kata Jafar, teori adalah penjelasan sistematis terhadap peristiwa yang rumit.
Misalnya ada peristiwa di daerah A, diteliti, dan ditemukan variabel atau konsep. Nah, konsep-konsep itu dihubungkan, lalu di analisis dan dibuatkan rangkuman sistematis untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi.
Semakin baik sebuah teori, jika tingkat generalisasinya lebih luas. Dia misalnya, tak hanya bisa digunakan di Jambi, tapi, juga bisa dipakai di Jakarta, maupun di belahan dunia manapun.
“Sadar atau tidak, kita hidup dengan menggunakan sebuah teori. Kadang ada orang suka merendahkan, ahhh... itu hanya teori. Prakteknya mana?. Padahal, seluruh perjalan hidup kita sebenarnya diisi oleh keputusan-keputusan berdasarkan teori. Baik secara tertulis ataupun tidak,”kata Jafar.
Dalam politik, teori itu banyak sekali...turunannya juga banyak.
Misalnya untuk menjelaskan perilaku memilih. “ Bisa menggunakan teori psikologi. Kita juga bisa pinjam teori ilmu ekonomi,”ujarnya.
Ketika menganalisis peristiwa politik, kata Jafar, seseorang mesti mencari teori yang tepat untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi.
“Keliru menggunakan teori terhadap suatu peristiwa, kita akan salah menganalisis. Boleh jadi kita tak menemukan inti dari sebuah peristiwa politik, karena kita keliru menggunakan teori,”ujarnya.
Dari sekian banyak teori politik itu, menurut Jafar, hanya menjelaskan empat hal saja.
Apa itu?
“Bagaimana merebut kekuasaan. Mempertahankan kekuasaan. Bagaimana memperluas kekuasaan. Dan bagaimana meruntuhkan kekuasaan,”katanya.
Seperti teori gerakan sosial tadi, bisa dipakai untuk menjelaskan bagaimana kekuasaan diruntuhkan. Kekuasaan, kata Jafar, secara teori, baru akan runtuh ketika memenuhi tiga syarat.
Pertama, terjadi kesempatan politik. Dimana model politik menjadi tercerai berai karena elitnya pecah, sehingga terjadilah konflik.
“Maka, jangan coba-coba mau meruntuhkan rezim, ketika elitnya sedang solid. Secara teori tak akan bisa begitu,”kata Jafar.
Kedua, gerakan sosial baru bisa efektif, ketika ada mobilisasi sumber daya. Ada uang, ada barang yang dimobilisir atau dimanfaatkan untuk gerakan sosial.
Lalu, ada framing alias pembingkaian. Ada isu yang secara terus menerus dihembuskan. Isu itu dipropagandakan sehingga kelompok gerakan sosial terbingkai dalam satu isu.
“Misalnya tumbangnya Soeharto tadi, digunakanlah framing isu KKN. Jelas model gerakan akan terfokus. Kalau tidak ada framing, gerakannya tak akan terfokus..,”katanya.
Awin lantas bertanya tentang kekalahan Ahok di Pilkada DKI...
Lagi-lagi Jafar menjelaskan menggunakan teori gerakan sosial.
Dalam kasus Ahok, kata Jafar, terjadi mobilisasi orang untuk tidak memilih Ahok. Kemudian terjadi perpecahan elit--mereka yang punya kekuatan untuk mempengaruhi Pilkada DKI--.
“Perpecahan mereka sangat oposisi biner. Satu elit mendukung Ahok, satu kelompok elit tidak. Mereka bergerak saling bertarung,”ujarnya.
Terjadi pula mobilisasi sumber daya. Ada orang yang bergerak, entah dengan sengaja, atau karena kerelaannya. Lalu ada framing yang dibangun.
“Dengan isu yang sangat sensitif. Yaitu isu pelecehan agama, kebetulan dia tidak beragama Islam. Ini dipotret dalam sebuah framing,”bebernya.
Menurut Jafar, seluruh teori politik hanya menjelaskan seputar kekuasaan, bagaimana ia di rebut, dipertahankan, diperluas dan diruntuhkan.
Mengakhiri sesi Channel Belajar Politik, Jafar menyebut seluruh riset dan penelitian, hanya berusaha untuk memperlakukan teori dengan tiga cara.
Menguji teori dengan menemukan apakah teori itu bisa digunakan atau tidak. Kalaulah bisa, itu namnya konfirmasi teori. Jika tidak, itu namanya klasifikasi teori atau mengkonstruksi teori baru.
Tapi, jika ada temuan-temuan tambahan dari teori yang ada, itu namanya revisi teori.
“Tugas riset para sarjana, magister dan doktor ilmu politik, hanya berputar tiga hal itu,”ujarnya.
Pandai membaca teori, pandai pula membaca peristiwa politik yang rumit dan pelik itu. (*)
0
166
0
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buat Latihan Posting
Buat Latihan Posting
KASKUS Official
35.7KThread1.9KAnggota
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.