Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
12
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee29cdcaf7e934d47439318/kirana-dan-hujan
Apakah kamu sudah tahu apa tujuan hidupmu? Apakah kamu tahu apa yang paling kamu inginkan? Seberapa kuat keinginanmu untuk kamu wujudkan? Apakah hal yang ingin kau capai adalah hal yang menyenangkan untukmu? Buku mengantarkanmu menuju jedela dunia, kamu dapat tahu apapun melalui itu. Buku juga mengantarkanmu tidak hanya ke dunia nyata namun ada banyak dunia yg diciptakan lewat buku. Entah fakta at
Lapor Hansip
12-06-2020 04:06

Kirana dan Hujan

icon-verified-thread
Apakah kamu sudah tahu apa tujuan hidupmu?

Apakah kamu tahu apa yang paling kamu inginkan?

Seberapa kuat keinginanmu untuk kamu wujudkan?

Apakah hal yang ingin kau capai adalah hal yang menyenangkan untukmu?


Buku mengantarkanmu menuju jedela dunia, kamu dapat tahu apapun melalui itu. Buku juga mengantarkanmu tidak hanya ke dunia nyata namun ada banyak dunia yg diciptakan lewat buku. Entah fakta atau fiktif bagiku menarik semua. Karya abadi yang mengantarkan pembaca ke dunia yang diciptakan si penulis.

Banyak sekali kisah yang yang tidak terungkap namun dapat tertuang lewat tulisan yg tersusun dalam lembaran-lembararan yang menjadi buku.

Kita tidak dapat memaksakan orang lain menyukai buku. Dengan deretan huruf yang tersusun dalam tiap kata, kalimat, baris dan paragraf kadang membuat orang yang tidak menyukai buku akan pusing melihatnya.

Aku menyukai sejarah sejak kecil. Lewat sejarah aku dapat mengetahui banyak tentang masa lalu, selain itu aku juga tertarik dengan arkeolog. Keduanya menyatukan satu sama lain. Banyak teka-teki yang perlu diungkap dari masa ke masa. Dari kecil sampai dewasa keinginan dan ketertarikanku sama sekali tidak berubah, bahkan semakin menguat.

Orang-orang mungkin akan menyebut orang dengan ketertariakan sejarah adalah orang yang jadul, kaku, kuper atau ledekan lainnya. Bagiku itu tidak berpengaruh karena aku menyukainya.

Aku tinggal bersama teman yang kutemui awal aku pindah bekerja. Dia penulis untuk acara-acara di televisi. Kami menyewa rumah kecil yang dikontrakkan. Kami sama-sama suka membaca dan suka buku.

Pagi ini aku berangkat ke kampus, bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa dan saling bertukar informasi. Bagiku mereka bukan murid yang harus ku ajar, namun mereka ku anggap teman berbagi ilmu dan informasi. Menyenangkan bisa bergelut di dunia pendidikan. Rasanya hidup ini dinamis.

Quote:"Pagi bu dosen... Selamat ulang tahun ya"

"Pagi juga, kamu asal ngucapin ulang tahun ke orang-orang tapi nggak kasih kado apapun"

"Nanti aku tunjukin kadonyaemoticon-Big Grin ", ucap Rudi sambil keluar ruangan. Ia adalah teman sejawat, dosen juga di jurusanku.


Aku siap-siap untuk masuk kelas. Hari ini jadwal mereka presentasi jadi cukup santai untukku. Semoga ada yang benar-benar menarik hari ini tidak sekedar menyelesaikan tugas saja.

***

Mendung menutupi langit pagi ini. Rintikan air mulai jatuh ke bumi, tanah yang lama tak tersentuh hujan memunculkan aroma khasnya. Andai pagi ini tidak kelas, aku akan menikmati hujan dengan melihat hujan yang jatuh, merasakan suaranya yang menenangkan hati seperti musik chopin yang selalu berhasil memainkan emosi pendengarnya dengan tut tut piano yang ia mainkan. Hujan memainkan musiknya dengan air yang jatuh dari atas ke beberapa benda di bawahnya, semua menyatu menciptakan harmoninya sendiri. Tak ingin terus jatuh dalam suasana hujan, aku memulai kelas hari ini.

"Silahkan kelompok yang mau presentasi lebih dulu, saya persilahkan"
Diubah oleh bonesky
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Kirana dan Hujan
31-10-2020 02:11

Kasus



Hujan masih turun serasa meluapkan kesenangannya dapat turun ke bumi. Perjalanan mereka turun ke bumi yakni untuk naik lagi menjadi uap dan akan turun lagi menjadi hujan. Tak jemu takdir yang terus berputar dan berulang, naik untuk turun dan turun untuk naik lagi. Alangkah bahagianya air yang turun ini bisa berfiltrasi menjadi air tanah yang sangat berguna untuk kehidupan, keberlangsungan hidup yang panjang.

Rudi membersamai langkah Kirana tanpa menoleh atau menyapa. Ia berjalan lebih pelan di belakang sedari tadi, di waktu yang tepat baru ia menyamakan langkahnya.

"Astaga, ta kira siapa"

"Haha, dah selesai jam nya?"

"Udah"

"Tadi kan di kantor q bilang bakal ngasih kado, tuh kadonya", sambil menunjuk ke luar halaman kampus.

"Mana?", kirana merasa bingung.

"Itu yang jatuh dari langit", jawab rudi polos sambil melebarkan senyuman.

"Hmmm?", kirana mengernyitkan dahinya masih merasa bingung.

"Kamu suka hujan kan, makanya q kasih hujan pagi ini"

"Hujan? Kado? Emang kamu cenayang, apa roh pemanggil hujan", kirana sedikit kesal karena candaan receh rudi.

"Bukan, aku berasal dari suku air dan masih saudaraan Katara, haha"

"Haha, ta kira kamu Suho"

Berdua dalam derap langkah yang seirama dengan banyolan garing yang sama sekali tidak berkualitas dan masih ditemani hujan, sejenak mereka melepas posisi mereka dari pekerjaannya untuk saling menghibur satu sama lain.

***

Sejak satu tahun lalu, kirana ditunjuk sebagai pembina UKM drama. Ia sempat menekuni bidang itu dari sekolah sampai kuliah. Drama adalah hobi yang membuatnya dapat mengekpresikan semua karakter untuknya. Ia merasakan berbagai emosi saat menjadi berbagai macam karakter.

Setiap Selasa malam UKM tersebut selalu latihan. Kirana sering sekedar menengok sesi latihan mereka walaupun tidak setiap latihan. Rata-rata pembina hanya akan datang saat acara besar pada UKM tersebut, atau bahkan tidak pernah. Mahasiswa yang biasanya akan menghampiri untuk meminta persetujuan acara atau yang ada kaitannya dengan pendanaan. Namun lain halnya dengan Kirana dimana dia memang menyukainya terlebih dia dosen muda yang masih baru.

Ia duduk di luar sambil melihat sudut-sudut kampung di waktu gelap. Suasana yang berbanding terbalik saat pagi esok, ramai dan hampir semua sudut ada mahasiswa yang melakukan berbagai aktivitasnya. Ia membayangkangkan akan berapa lama kah ia akan di sini, hari-harinya akan ia lewati, hari, bulan dan tahun sudah ia lewati rasanya baru kemarin ia masuk dan memperkenalkan diri.

"Pak Rudi... "

"Eh, kamu. Belum pulang?"

"Belum, masih sore gini. Pak gimana kalo kita makan bareng"

"Emmm, ayo Bu Kirana", ajak Pak Rudi semangat.

Sebenarnya Kirana merasa sudah lapar juga. Namun, ia belum terbiasa makan bareng dengan teman kerjanya dan dengan mahasiswanya dalam satu meja. Jika dipikir-pikir makannya jadi tidak terlalu bebas, namun apa dikata cacing-cacing di perutnya sudah bergelincang.

"Makan dimana?", jawab Kirana.

"Chicken aja"

"Chicken??? ", Kirana merasa lesu mendengar makanan itu.

Ada hal yg membuatnya jadi membenci ayam. Hal sepele, dan sebenarnya bukan salahnya ayamnya juga.

Sekitar dua tahun Karin dan Bayu, mantan pacarnya janjian ketemu di K*C. Cukup lama karin menunggu, karena sudah tak tahan menahan lapar, akhirnya ia pesan makanan dan langsung ia makan.

Sudah habis setengah porsi, Bayu baru keliatan batang hidungnya. Ia cukup kesal karena Bayu datang sangat terlambat. Ia langsung minta maaf dan memesan makanan untuknya. Ia pesan satu bucket chicken dengan minuman. Saat ia akan membayar, ia merogoh-rogoh saku dan terlihat sangat panik. Kemudian, ia membuka tasnya dan mencari-cari. Cukup lama ia di depan kasir, untung saat itu masih sepi.

Saat kirana berdiri akan menuju kasir, Bayu baru menemukan uangnya. Uangnya keluar dengan berantakan, aku sempat melihat sekitar 5 lembar ratusan ribu dan masih ada pecahan lain. Baru kali ini aku melihat ia ada uang segitu. Lalu Bayu memberikan tip untuk pelayan tersebut satu lembar. Sungguh baru kali ini ia seperti ini, dia yg ku tahu adalah orang yang hemat dalam menggunakan uangnya. Saat itu juga aku melihat dia memberikan tip dan sedang saling lempar senyum sambil meminta maaf. Kesal tingkat dewa rasanya melihat ekspresi mereka. Dan ternyata itu adalah awal dari putus dirinya dan Bayu.

"Bu Kirana?????"

"Hm?", Kirana mulai terbangun dari lamunannya.

"Yuk, kita makan", ajak Pak Rudi.

"Emmm, kalian saja. Q makan di rumah saja. Dah ya q pulang dulu"

"Oh, mau di anter?"

"Nggak usah. Kalian makan saja"

Rudi juga ingin juga membatalkan namum hal itu pasti membuat kecewa mahasiswanya. "Ayo, kita makan saja", ajak Pak Rudi.

***

Beberapa dosen lain dari jurusannya atau dari luar jurusan kerap kali menjodoh-jodohkan Karin dan Rudi. Gerak gerik Rudi pun sebenarnya sudah terlihat jelas, hanya satu orang yang mungkin tidak dapat melihatnya. Dia adalah karin. Perasaannya dengan Rudi biasa saja, ia pun tidak mau menilai sendiri kalo Rudinya sendiri yang menyampaikan langsung. Sehingga ia memilih cuek dan tak menaruh harapan apapun.

Pagi sekali, ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu kontrakan Karin. Ia bangun dengan terpaksa dan langsung mengikat rambutnya sambil bergumam karena Minggu paginya terusik oleh tamu yang ia tak tahu.

"Pagi. Maaf mengganggu"

Karin membelakakan matanya karena tidak memyangka tamu yang datang di pagi itu. Ia terkejut dan masih penasaran tentang apa yang terjadi.

"Pagi juga. Ada apa ya?"

"Dengan ibu Kirana?"


"Ya, saya".

"Maaf mengganggu, apa kemarin malam ibu di kampus?"

"Betul. Kenapa ya pak? "

"Boleh kami tanya sesuatu"

"Ya, silahkan masuk".

Investigasi itu berlangsung sekitar 1jam. Ia tidak menyangka kalau ada kasus kematian malam kemarin. Setelah selesai penyidik bertanya, ia meminta bantuan karin jika suatu saat diminta ke kantor polisi agar ia ke sana.

Sepuluh menit setelah polisi datang, Rudi datang dengan tergesa-gesa. Ia menyuruh segera ke kampus karena ada rapat kampus terkait insiden tersebut. Karin meminta Rudi untuk menunggu di luar karena ia baru ingat kalo dia belum mandi.

Setelah semua berkumpul, pembahasan insiden dimulai. Suasana cukup tegang dan pembahasan dengan satu tujuan yakni menyelamatkan nama baik universitas.

Ada satu orang yang baru diantara mereka atau memang dia jarang terlibat langsung masalah universitas. Entahlah, sebagian memang baru melihatnya namun sebagian nampak tak kaget atas kehadirannya.

Sorot matanya tajam ke depan dan langsung menembus jika bertatapan secara langsung. Tulang rahangnya tegas terlihat. Mimik mukanya semakin mendeskripsikan seperti apa dia.

Teddy. Nama yang diperkenalkannya.

Setelah ditentukan prioritas kepentingan dan beberapa batasan, rapat selesai. Selesai untuk rapat tapi awal untuk investigasi dan penyelesaian semua masalah ini.

Teddy meminta keterangan dariku dan Rudi, di mana kami berada di TKP saat malam kejdian.

Untuk mengangkrabkan diri, Rudi mengajaknya untuk makan bersama. Dengan tanpa ragu-ragu, Teddy menolak tanpa alasan.

"iish,"

"Napa, ko tiba-tiba kamu kesal?", tanya Rudi sambil tersenyum.

"Arogan banget", jawabnya dengan muka kesal.

"Haha, q yg ditolak tapi kamu yg marah. Makan aja yuk"

Diubah oleh bonesky
profile-picture
profile-picture
i4munited dan blackgaming memberi reputasi
2 0
2
Kirana dan Hujan
09-11-2020 22:50

Bertemu Lagi

Kirana menopang kepalanya dengan tangan kanannya sambik memegang remot tv. Memang benar pandangannya ke arah TV namun pikirannya entah kemana. Lina, teman satu kontrakannya memperhatikan tingkah temannya yang mematung. Ia geleng-geleng kepala lalu memanggilnya.

"Na, kasian TV-nya lo cuekin", teriaknya.

Remot terjatuh saat Kirana tiba-tiba mendengar perkataan Lina.

Lina mendekat dan duduk di sampingnya.

"Lo kenapa sih? Ada masalah?"

"Gw cuma lagi inget-inget pas kejadian malam itu".

"Pas kasus itu?"

"Iya. Gw ga habis pikir, kejadiannya deket banget tapi gw ga tahu apa-apa. Coba kalo gw saat itu muter-muter bentar, pasti ceritanya beda. Gw mungkin bisa nyelametin"

"Na, kalo itu yg lo pikir. Coba deh mikir juga, gimana kalo pas lo liat kejadiannya sekarang lo bisa jadi tersangkanya, pas lo liat kejadiannya lo bisa jadi korbannya juga, atau lo pas liat kejadiannya lo sekarang jadi trauma"

"Amit-amit, dah. Ko lo mikirnya gitu?"

"Abisnya lo ga bersyukur ma keadaan sekarang. Yang penting syukurin dan jalani saja sebisa dan semampu kita".

"Uidihhhh, bijaksana sekali Lina ku sekarang".

"Ah basi, udah berkali-kali bukan hanya sekali".

"Haha, oke deh. Makasih ya. Lo emang temen gw yang bijaksini banget".

"Dah ah."

"Gimana kerjaan lo di TV?"

"Ya gitulah. Kadang udah nulis susah2 tp diganti ma sutradarahnya"

"Haha, berarti tulisan lo kurang menarik."

"Hmm, tega banget"

"Canda, haha. Jalan yuk, lama ga jalan berdua sambil belanja bulanan".

"I like it".

***

Sampai di pintu masuk mereka berdua sangat antusias buat belanja. Kaki mereka yang seharusnya merasa letih bekerja, serasa sembuh seketika.

"Kemana dulu kita?"

"Pakaian gimana?"

"Yuk"

Kami memang tidak ada niatan untuk belanja pakaian tapi yang namanya udah di tempat belanja gini kalo ga dilihat dulu rasanya ada yg kurang.

"Sandra!!!!", teriak Lina keras.

Lina teriak histeris dan memeluk seseorang. Kirana cuma senyum melihat tingkah sahabatnya itu. "Pasti dia teman deketnya", pikirnya. Ia melangkah mendekat ke 2 orang yang sedang melepas kangen.

Sekali lagi kirana tersenyum cerah melihat temannya bahagia. Saat ia melihat ke depan, ia menemukan sosok yg ia kenal baru-baru ini. Dia melihatku tanpa ekspresi

Pikirannya terganggu dengan berbagai spekulasi, apa dia teman, keluarga, pacar, istri atau rekan tapi jika rekan kerja sepertinya sama sekali bukan, tebakan teebesar adalah pacarnya tetapi Sandra dapet kekasih yang arogan seperti dia. Sedangkan Sandra terlihat humble sekali.

"Na, ni temen gw. Sandra namanya", ucap Lina.

"Hai, Kirana"

"Hello, Lina. Oh ya, ni Teddy, pacar aku"

Kirana membeku sejenak mengetahui bahwa pengacara kaku dan arogan itu adalah pacarnya. Dia tidak tahu harus mengaku memang kenal atau pura-pura tidak tahu. Teddy sama sekali tidak memberi kode bagaimana seharusnya dia harus bersikap. Dari pada bohong akhirnya kirana jujur, karena itu akan lebih melegakan.

"Hai, kita ketemu lagi"

Sandra dan Lina mengangkat alis mereka karena ternyata mereka kaget bahwa kirana dan teddy sudah kenal.

"Hai", jawabannya singkat.

"Oh, kalian udah saling kenal?"

"Dia salah satu saksi di kasusku", jelas Teddy.

"Jangan-jangan kasus yang itu ya, Kir?", tanya Lina.

"Huum", kirana mengiyakan.

Teddy mengangkat telp saat ponselnya berdering, setelahnya ia mengedipkan mata ke Sandra. Ia pamit karena harus bersegera pergi.

Kirana dan Lina melanjutkan agenda shopping mereka. Mereka menghabisakan waktu walaupun hanya melihat-lihat apa yang menurut mereka lucu. Sampai keduanya mulai keroncongan dan memutuskan untuk makan.

"Lin, Sandra ma Teddy itu dah lama?"

Sandra mengangkat bahunya.

"Artinya baru dong, kamu aja baru tahu tuh", cerca Kirana.

"Sandra tuh orangnya memang suka gonta-ganti pasangan. Tetapi memang Teddy bener-bener bisa buat Sandra jatuh cinta", terang Lina.

"Hmmm, tapi menurutku Teddy harusnya beruntung punya Sandra".

"Haha, kenapa lo mikir gitu?"

"Teddy tuh keliatan banget orangnya arogan. Harus sabar jadi pacarnya".

"Entahlah".

###########################
profile-picture
profile-picture
i4munited dan blackgaming memberi reputasi
2 0
2
Kirana dan Hujan
31-12-2020 00:16

Mulai Bosan

Awal kebersamaan Teddy dan Sandra bukan hal yg mudah awalnya. Satu orang dengan karakter dingin dan cueknya, satunya lagi dengan pesona supel dan easy going. Sandra membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk bisa mendapatkan hati Teddy dan setelah bersama pun ia harus banyak menyesuaikan diri dengannya. Banyak yang tidak menyukai Teddy, terutama teman-teman Sandra. Mereka berkata bahwa ia sudah kena guna-gunanya Teddy. Namun dari semua pernyataan teman-temannya tidak ada satupun yg mengerti isi dalam hatinya. Banyak orang yg ia temui selalu membahas tentang masa lalunya, tentang kedekatannya dengan teman laki-lakinya, insecure dengan isi hp pasangannya dan hal-hal tidak dewasa lain yg ia tidak sukai. Semua hal itu tidak berlaku untuk Teddy. Setelah jalan bersama selama satu tahun, teman-teman sandra baru memahami kenapa sandra begitu terobsesi dengan Teddy.

Hari ini sandra, lina dan teman-teman dekatnya bertemu. Topik yang ramai dibahas yakni tentang pasangan mereka masing-masing. Sebagian besar sudah mengalami putus nyambung beberapa kali. Namun untuk sandra, dengan masa pacaran yg masih lumayan belum lama, ia berkata masih tenang-tenang saja, jika ada perdebatan tidak sampai terucap kata putus. Ini hubungan yang paling tenang selama Sandra berpacaran dengan sebelum-sebelumnya.

Teman-temannya mendorong untuk mencoba mengetes kesabaran dan ketenangan dari Teddy. Sandra tentu langsung menolak, namun ia tersenyum setelahnya, rasanya ia ingin mencoba hal tersebut, yaitu membuat Teddy marah dan kehilangan kesabarannya.

***

Usai rapat menjelang sidang, di ruangan itu tersisa Rudi dan Kirana. Mereka berada di sisi yang berjauhan namun berhadapan. Rudi membuat candaan ringan untuk membuat kirana tersenyum dan itu berhasil. Setelahnya ia mengatur nada suaranya dan meminta waktunya kepada kirana untuk mendengarkan dengan seksama.

Rudi bercerita bagaimana awal bertemu, apa yang ia pikirkan dan rasakan, dan bagaimana perasaannya terus tumbuh. Rudi menyatakan perasaannya ke kirana.
Suasana hening, kirana tak menyangka di waktu itu ia akan mendengar pernyataan dari Rudi.

Kreeeekkkkk

"Kita jadi ke BFN?", ucap seorang rekan sesama dosen dan juga teman kirana.

"Oh ya, ini baru selesai beres-beres", jawab kirana sedikit gugup.

"Kalian di sini berdua saja?", ucapnya polos.

"Iya ini makanya bantuin biar cepat kelar"

"Haha, kasian. Oke deh".

***

Teddy sampai rumah, ia duduk sambil melepas dasi yang masih tersemat di bajunya. Sambil melepasnya ia masih terpikir dengan tingkah kirana yang spontanitas tanpa pikir dan tidak hati-hati.

"Cape banget ya?", ucap sandra.

"Heem, lumayan"

"Masih ngurusin yg kampus?"

"Masih. Pekan ini selesai"

"Bisa luangin waktu kamu?"

"Sekarang?"

"Iya"

"Kasih aku waktu tidur 30menit. Ntar bangunin"

"iya, sayang"


Sandra merasa tidak enak hati. Ajakannya hanya alasan dia saja. Tidak disangka, pacarnya itu benar-benar kelelahan. Butuh waktu beberapa detik saja, Teddy sudah terlelap di sofa. Sandra mengambilkannya selimut, lalu ia menuju kamar lagi untuk tidur.

Terasa membosankan berpasangan dengan Teddy. Dia terlalu santai dan selalu percaya penuh padanya. Ketika sandra mencoba mengutak-atik hp nya ia bahkan memberikan semua akses dengan pesan tidak mengubah apapun. Isi obrolannya sangat kaku. Selalu ada yg mendekatinya tapi dia cuek. Obrolan2 bersama teman-temannya terlihat dia tidak terlalu banyak tingkah. Namun, ia sama sekali tidak mengecek hp sandra. Ketika sandra merengek ada yg mendekati ia hanya bilang untuk tidak meladeni tanpa melirik pesan yg sepotong-potong sengaja dibacakan.

Saat tengah malam, Teddy bangun dan ia kaget karena ia tertidur terlalu lama dan ia melihat sekitar, ruangan sepi dan lampu-lampu sudah dimatikan.

Ia pun pergi ke kamar dan melihat sandra sudah tertidur di sana. Teddy tersenyum melihat kekasihnya tertidur. Ia menghampiri dan memeluknya dari belakang. Sandra terbangun dan dengan setengah sadar ia menyadari bahwa di sampingnya sudah ada Teddy di sana. Ia lalu menghadap Teddy dan memeluknya balik.
profile-picture
profile-picture
i4munited dan blackgaming memberi reputasi
2 0
2
Kirana dan Hujan
20-01-2021 00:00

Berubah

Rencana Sandra segera ingin ia laksanakan. Hubungannya terlalu tenang untuk dirinya. Sebelum dengan Teddy, padahal ia mendambakan hubungan yang adem ayem seperti sekarang. Namun ketika menjalaninya hal itu terasa membosankan.

Sandra pergi bersama teman-temannya, mereka bilang akan mengenalkan beberapa teman laki-laki lainnya. Pertemuan berlangsung di restoran private. Dalam waktu yg cepat setelah semua kenal satu sama lain, mereka semua tampak sangat akrab.

Sandra merasa cocok dengan Naka. Mereka berencana untuk bermain golf di akhir pekan nanti.


*****

Usai kasus kematian mahasiswa selesai, Kirana tidak pernah lagi bertemu dengan Teddy. Seharusnya ia senang karena hari-harinya kembali tenang dan damai. Namun ternyata ia merasa ada yang hilang. Ia ingin sekali bercerita kepada Lina, tetapi Lina juga teman baik Sandra, tidak mungkin ia menceritakan hal yang tidak semestinya. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri.

Usai mengajar kelas di jam terakhir, Kirana berniat untuk tidak langsung pulang. Ia akan melihat beberapa tugas mahasiswanya.

Tanpa terdengar langkah kaki, Rudi muncul dengan memegang beberapa buku dan presensi ditangan kanannya. Ia meliat kirana dan hanya tersenyum.

Kirana yang baru sadar ada seseorang di depannya yg sedang intens melihatnya, ia merasa terkejut.

"Di, ngagetin aja. Salam, atau sapa kek?!"

Rudi geli mendengarnya. Ia mengambil kursi dan duduk tepat di depan Kirana dan menaruh buku yang ia bawa di pangkuannya.

Ia menarik napas sambil mencoba lebih tenang. Kemudian ia mulai berkata.

"Kirana"

"Ya?"

"Aku sayang sama kamu"

Kirana berhenti mengoreksi tugas mahasiswanya dan mendongakan kepalanya ke arah Rudi. Sepertinya ia mendengar hal aneh jadi ia ingin memastikannya lagi.

"Apa?"

"Aku sayang sama kamu. Suka, tertarik"

Kirana merasa hal tersebut sepertinya tidak nyata dan tidak serius.

"Kamu lagi latihan buat nembak cewe atau kamu mau ngetes aku. Hmmm, sayang kamu ga berhasil, Di".

"I'm serious. I love you"

Kirana masih tak percaya. Ia mengernyitkan dahinya.

"Your joke looks so real"

Rudi diam dan tersenyum. Hal itu membuat Kirana jadi berpikir dua kali dan baru benar-benar menyadari bahwa apa yang Rudi sampaikan serius.

"Aku kira tadi becanda. Sorry"

"Not sorry. Aku memang sering becanda sampai orang tidak bisa membedakannya"

"Ini terlalu mendadak tau hal ini. Aku kira selama ini kamu jalan sama mahasiswa kamu"

"Aku hanya bersikap ramah"

"Ramah kamu bisa buat banyak orang salah paham"

"Bukankah kedekatan kita juga bisa buat banyak orang salah paham"

"Karena sikapmu kalau ga menolak, palah keg mengiyakan".

Rudi kembali tersenyum. Ia menahan tawa geli melihat sikap kirana.

"Kan aku emang suka"

Kirana terdiam dan berpikir.

"Di, q pernah merasakan hal tersebut ke kamu. Tapi sekarang aq g tau bagaimana perasaanku sekarang"

Rudi memikirkan suatu hal yang memang akhi2 ini membuatnya tidak tenang.

"Sekarang sudah ada orang lain dipikiranmu?"

Kirana bingung harus menjawab bagaimana. Ia paham bahwa ketertarikannya dengan orang yg baru ia kenal seharusnya tidak muncul dan di depannya sudah ada orang yg baik yg pernah ia sukai sebelumnya sedang menyatakan perasaan kepadanya.

Tidak ingin membuat kirana terbebani maka Rudi memecahkan suasana yg canggung.

"Kamu ga harus jawab sekarang tentang perasaanmu ma aq sekarang. Aku bakal nunggu jawabanmu dan tidak usah terbebani atau ga enak. Bersikap seperti sebelumnya, kalau kamu berubah akan lebih membuatku terbebani. Yuk, pulang dah sore", ucap Rudi dengan semangat.

"Heem, aku ngrapiin ini dulu"

"Ya, aq keluar dulu ya. Sampai jumpa"

"Ya"

Kirana tak menyangka bahwa ia tidak bisa menjawab langsung ketika Rudi menyatakan perasaannya. Padahal sebelumnya ia pernah memimpikan hal ini. Namun hatinya berat untuk menerima hal itu. Pikirannya kini telah teralihkan oleh seseorang yang begitu membuatnya kesal setiap kali bertemu dan bahkan tiba-tiba muncul di pikirannya.
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Kirana dan Hujan
07-02-2021 13:07

Menemukan Kembali

Awal kita hanya ingin memecah kebosanan saja, namun kedepan tidak ada jaminan untuk hanya sekedar itu. Kita mungkin bisa mengontrol tindakan kita namun kita tidak pernah bisa mengontrol perasaan kita. Otak akan tahu siapa tuannya, namun hati tidak mengenal siapa pemiliknya.


Sandra semakin hari semakin terbawa permainan yang ia ciptakan sendiri. Ia berhasil menemukan kekurangan-kekurangan dari Teddy lewat Naka tanpa kehilangan salah satunya.

Teddy merasakan perubahan yang terjadi pada kekasihnya itu. Namun ia berpikir bahwa Sandra semakin dewasa sehingga ia lebih bisa mengontrol emosinya.

Pagi ini Sandra ingin memberikan waktunya seutuhnya pada Teddy, karena tepat ditanggal itu adalah ulang tahun Teddy.

Sandra membangunkan Teddy dan memberinya cupcake dan ucapan ulang tahun. Karena masih ingin kembali tidur, Teddy meniup lilin dan meminta Sandra untuk tidur kembali.

"Happy birthday, sayang", ucap Sandra sambil mengecupnya.

"Thank you".

"May I ask you something?"

"Kan aku yg ulang tahun, ko km yg minta?", ujar Teddy sambil tertawa.

"Boleh. Everything for you"

"Thank you"

"Mau minta apaan?"

"Today, stay with me. Just with me and let's do something together".

Teddy tersenyum sambil menatap mata Sandra. Sandra pun jadi salting dengan apa yg dilakukan olehnya.

"Beb, apaan sih? Jangan ngliatin gitu dong. Malu tau"

"Aku bakal kabulin keinginan kamu. Maaf ya tidak banyak waktu untuk kamu"

"Kamu tu workaholic, kalo ga dipaksa libur kamu ga bakal ambil cuti kamu".

"Makin sayang"

Teddy menghujani Sandra dengan ciuman. Keduanya kembali bercengkrama di bawah selimut. Sampai akhirnya mereka kembali tertelap.


*****

Teddy bangun lebih dulu, ia langsung ke kamar mandi dan menuju ke dapur. Teddy memang lebih jago memasak. Tinggal sendiri mrmbuatnya jadi harus bisa menangani segala urusan rumah sendiri sampai akhirnya terlatih secara alami.

Dengan kemeja yg kebesaran, Sandra mendekat ke dapur dan duduk di meja makan sambil melihat Teddy memasak.

"Sayang," panggil Sandra.

"Ya? Wait, it's almost done".

Sandra mengangguk.

"Tahu nggak, kamu tuh kalo lagi masak seksi banget buatku".

Teddy tersenyum mendengar perkataannya.

Akhirnya makanan siap dan keduanya sarapan bersama.

"Lama ya kita nggak gini", ucap Sandra.

"Mari lakukan lebih sering ke depannya" jawab Teddy.

"Aku kalo ke sini yg ada rumah kosong. Kamu pulang larut. Paginya kamu udah siap-siap buat pergi kerja lagi. Moment yang ada pas tidur kamu hug me".

"Maaf ya"

"Iya gapapa. Ke depannya kamu tetep peluk aku pas tidur dan kamu jangan lama-lama natap aku sambil bicara sendiri. Bangunin aku dan ajak ngobrol".

Teddy kaget karena ternyata selama ini Sandra menyadari dan ia tidak benar-benar tidur.

"Kamu tahu?"

"Tahulah. Bau kamu itu khas, badan kamu tu hangat banget. Jadi mesti kebangun kalo kamu dah di samping aku".

Setelah menyelesaikan makanannya. Sandra membereskan dan mencuci perlengkapan makannya. Teddy memeluknya dari belakang. He's just like a baby for today. Suasana kembali memanas, keduanya kembali bergelut. Teddy menggendongnya sampai ruang tengah. Dan di sana aktivitas kembali terjadi.

"Teddy, kamu manja banget hari ini?"

"Kamu yg minta aku di rumah terus sama km. Itu keg kamu bangunin anak singa."

"Hmmm, sok jaim, sok cool, sok galak, sok untouched kalo di luar. Padahal di dalam you're like my cute cat"

Teddy tersenyum dan tidak menyangkal perkataan Sandra.

"Sandra, how about married?"

"Kamu lagi lamar aku?", ucap Sandra sambil menggoda Teddy.

"Emmm, bukan sih. Cuma aku survei dulu. Kalo kamu dah siap, aku bakal buat plan berikutnya".

"Uunccccchhh, my lil' caty. You're so cute", goda Sandra.

Ia mulai berpikir tentang perlakuannya di belakang baru-baru ini. Teddy yang seperti inilah versi Teddy versi komplit. Namun ia sempat hilang untuk itu ia pergi ke yang lain.

"Sayang, maaf ya"

"Maaf untuk apa?"

"Untuk semuanya"

"Hmmm, kamu pengin sekarang aku nilai sebagai pacar atau lawyer"

"Kenapa?"

"Kalo sebagai lawyer, kamu minta maaf artinya ada kesalahan yg kamu lakuin entah hal itu aku tahu atau belum tahu"

"Kalo sebagai pacar?"

"Akan aku jawab, oke gapapa sayang".

Sandra memeluknya tanpa meneruskan topik yang mereka bicarakan sampai ia kembali terlelap lagi.

Teddy mengambil HP nya untuk melihat beberapa pesan yg masuk. Saat akan mengambilnya, ia melihat hp sandra menyala karena ada notif pesan yang masuk.

Naka: "How ur day?"

Pesan-pesan seperti itu memang sering masuk di hp nya Sandra. Dari dulu rasanya risih sekali liatnya sampai sekarang sudah biasa karena ia tahu Sandra tidak pernah merespon lebih. Namun, tumben-tumben pesan tersebut ada kontak namanya. Biasanya pesan-pesan seperti itu masuk hanya nomor-nomor saja.

Tidak ingin membuat hari ini rusak, Teddy tetap positif thinking dan percaya dengan Sandra.

*****

Sorenya keduanya memutuskan untuk keluar rumah untuk makan.

Rudi yang sudah di sana duluan melihat Teddy. Ia memperhatikannya secara diam-diam. Setelah beberapa saat ia yakin bahwa teman wanita yang bersama Teddy adalah pacarnya.

Ketika melihat Teddy, Rudi ingat dengan Kirana, wanita yang disayanginya. Cara melihat Kirana ke Teddy dan cara Kirana menyikapi Teddy, walaupun keduanya seperti berantem namun ia tahu ada sorot mata yang berbeda dari Kirana ke Teddy. Ia kesal karena bagaimana jika kirana melihat memont ini dan apakah dia tahu bahwa Teddy sudah ada yg memiliki.

Saat Teddy menuju arah toilet, hal itu menjadi kesempatan Rudi untuk memastikannya sendiri.

"Ted, lu di sini?"

Teddy menengok dan melihat Rudi tepat di sampingnya. Ia hanya melihat tanpa menjawab sapaan dari Rudi.

"Tadi itu pacar lu?"

"Heem"

"Gw harap lu tipe orang yang setia satu"

"Maksud lu?"

"Gapapa. Pacar lu dah cantik jadi ga perlu nengok-nengok ke yg lain".

"Lu ada masalah apa ma gw?"

"Gw cuma ngingetin sebagai teman"

"Gw ga pernah temenan ma lu".

"Oke"

Teddy pun keluar dari toilet duluan karena tidak tahan dengan perkataan ngaco Rudi. Ia kembali duduk di tempatnya.

*****

Saat bangun, Teddy sudah tidak melihat Sandra di sampingnya. Tadi malam ia memang sudah izin untuk pergi ke lapangan golf.

Teddy membuka HP-nya untuk memastikan pertemuan dengan kliennya pagi ini juga. Ia melihat pesan dimana tempat pertemuannya berganti. Tempat itu adalah tempat dimana Sandra juga bermain. Ia tersenyum sumringah karena dapat 2 hal dalam 1 kesempatan. Setidaknya ia bisa menyapa Sandra sebentar di sana. Ia segera bergegas untuk berangkat.

Sampai di sana, Teddy pemanasan dahulu. Baru akan mencari Sandra namun kliennya sudah datang. Ia pun membatalkan niatnya. Mereka sambil bermain sambil menjelaskan perkata yang akan ditangani.

Setelah kelar, mereka menuju tempat makan. Tak disangka, ia melihat Sandra yang dari tadi berdiri tidak jauh dari tempatnya. Ia tertawa lepas di sana. Seandainya tidak sedang bersama klien, segera ia susul ke sana.


Selesai makan, Teddy menghubungi Sandra apakah sudah selesai bermain atau belum. Sandra menjawab sudah hampir selesai. Teddy pun menunggu Sandra keluar.

Sandra dan Naka berniat akan ke tempat makan yang ia bicarakan tadi. Sandra dan Naka keluar bersama namun saat Naka mengecek kunci motornya ternyata tidak ada. Akhirnya Naka menyuruh Sandra untuk menunggu di depan, ia akan segera kembali.

Teddy melihat Sandra yang sedang berjalan tanpa melihat sekitarnya. Ia lalu melambaikan tangan dan memanggilnya. Sandra kaget ternyata di depannya ada Teddy. Apa yang dilakukannya di sini dan apakah dari tadi Teddy tahu bahwa ia bersama Naka tadi.

"Mau balik?", ucap Teddy.

Sandra masih bingung dan bertanya, "Sayang kamu di sini ngapain? Katanya janjian sama klien?"

"Iya ini barusan selesai"

"Ko kamu ga bilang kalo pertemuannya di sini?"

"Iya, baru di rubah pas pagi"

Sandra mulai gelagapan dan segera mengajak Teddy keluar dadi sana.

Sampai mobil, Sandra melihat HP nya ada beberapa panggilan dari Naka. Ia segera memberikan pesan kalau ia balik duluan karena ada Teddy.

Sandra ingin memastikan sampai mana Teddy tahu tentang ia dan Naka hari ini. Ia harus berhati-hati karena bisa saja Teddy tahu namun menyembunyikannya. Walaupun untuk saat ini sepertinya Teddy tidak tahu.

"Sayang, tadi kamu di mana? Ko aku ga liat kamu?", tanya Sandra.

"Emmm, sebenarnya deket. Tapi ternyata aku juga ga tau kamu di sana. Tahu-tahu pas aku mau balik"

"Kamu liat aku?"

"Ya"

"Pas lagi ngapain?"

"Pas kamu lagi ngobrol2 sama teman kamu. Siapa dia?"

"Oh, dia namanya Naka"

"Naka? Q kaya pernah tahu namanya
Tapi dimana ya"

"Di berkas kamu atau daftar saksi kamu"

"Haha, ada-ada saja. Kita mau pergi dulu atau gimana?"

"Kita ke rumah mamah ya"

"Hmm, oke. Aku juga lama ga ketemu".

"Iya, kalau ketemu kamu disuruh nikahin aq cepat-cepat".

"Ya baguslah. Aku juga dah siap"

"Ish, kamu. Mau ya nanti malam tidur sendiri"

"Yah, ko gitu".

Sampai di rumah, Sandra cukup kaget karena ada kakak perempuannya di sana. Hubungan persaudaraan mereka kurang baik bahkan sama sekali tidak akur. Jika keduanya ada di sana, maka yang ada adalah perang mulut terus. Teddy pun sudah tahu hal itu. Namun ia tidak cukup tahu lebih jauh karena Sandra memang tidak mau menceritakan secara detail. Dan ia tidak memaksanya untuk menjelaskan itu.

"Welcome home. Ted, kamu masih sama Sandra. Awet juga", ucap kakaknya.

Papah dan mamahnya Sandra datang dan meminta Sandra agar hari ini tetap di rumah. Mereka juga meminta Teddy agar menginap. Bukannya Sandra setuju palah sebaiknya. Ia meminta agar Teddy pulang saja. Karena merasa tidak enak akhirnya Teddy menginap. Teddy diminta keluarga sandra agar istirahat di kamar tamu.

Sandra menyeretnya agar ke kamarnya terlebih dahulu. Ia tahu apa yg akan dilakukan kakaknya jika meninggalkan Teddy sendirian.

Teddy duduk di depan meja rias Sandra untuk melihat koleksi pernak perniknya. Sedangkan Sandra sudah terbujur capek.

Tiga ketukan terdengar dari pintu dan pintupun terbuka.

"Ted, kamu setia sekali dengan adikku. Laki-laki itu boleh lebih satu. Adikku itu pasti punya orang lain, jadi kamu tidak perlu banyak menahan diri."

Sandra emosi dengan kedatangan kakaknya ke dalam kamarnya dan berkata keterlaluan dengan Teddy terkait dirinya. Dia juga mencoba menggoda Teddy dihadapannya.
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Kirana dan Hujan
07-02-2021 15:41

Salting

Teddy dan Sandra berbincang-bincang di dekat kolam. Mereka larut dalam obrolan malam. Sampai akhirnya Sandra menyuruh Teddy untuk balik ke kamar. Sandra bilang akan ke kamarnya kalau semuanya sudah tidur.

Tidak butuh waktu lama, untuk Teddy terlelap. Entah jam berapa, Teddy merasa ada seseorang yang membuka kamarnya. Itu pasti Sandra. Ia memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggungnya. Ta ingin terlalu terburu-buru, Teddy membiarkannya.

Selang beberapa menit, ada seseorang lagi yang membuka pintu. Iya menyalakan senter hp nya lalu mengarah ke ranjang. Teddy kesilauan dan ia melihat ke arah senter. Lalu lampu pun dinyalakan.

"Ted!", seru Sandra.

Teddy kaget bahwa orang yang berdiri adalah Sandra. Dan siapa yang tidur bersamanya.

Ia berbalik badan dan kaget melihat kakaknya Sandra yg berada di sampingnya.

Tidak ingin membuat kedua orang tua bangun. Sandra langsung menyeret kakaknya keluar. Teddy tidak tahu apa yg harus dikatakannya. Ia sama sekali tidak tahu hal tersebut.

Kakaknya tertawa sinis dan puas melihat raut muka dan kekesalan adiknya. Ia pun keluar dengan tawa puas.

"Ssyang, maaf", ucap Teddy.

"Kenapa kamu ga kunci kamarmu?"

"Katanya kamu mau ke sini"

Sandra masih sangat marah namun ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Teddy. Di sini dia tidak tahu, tetapi kenapa ia tidak bisa membedakan antara dia dan kakaknya padahal sudah sering mereka bersama.

Akhirnya keduanya tidur bersama, Teddy memeluknya namun Sandra masih dingin.

"Ted, gimana kalo kita menikah. Biar pernikahan kita bisa disegerakan gimana kalau aku hamil duluan".

Teddy melihat ke wajah Sandra karena kaget mendengar perkataan Sandra. Lalu ia mencoba mencairkan suasana.

"Sekali kamu mengucap nanti kamu ga boleh menarik perkataanmu ya. Aku sih siap-siap saja, haha"

"Hah"

"Ko responnya gitu?"

"Aku masih ingin bebas. Aku tarik lagi"

"Ko kamu mudah banget nariknya. Besok kalo kita lagi nglakuin maka aq akan ngasih di dalam"

Sandra melotot dan menggigit tangannya keras.

"Sakit, yang"

"Itu belum seberapanya ya. Awas kalo kamu berani nglakuin itu!"

"Sekarang aja gimana?", gurau Teddy.

Sandra kembali menggigitnya lebih keras. Teddy pun semakin kesakitan sambil menahan suara agar tidak membuat berisik.

"Oke. Aku nyerah, nggak akan gw lakuin, sakit, Yang."

Keduanyapun akhirnya terlelap.

*****

Lina memperlihatkan kebersamaan Sandra dan Teddy lewat akun instagramnya kepada Kirana. Hal ini ia lakukan agar perasaan Kirana bisa semakin move on dari orang yang sudah mempunyai pasangan.

Kirana memang tidak pernah ada niatan untuk merebut seseorang yang sudah mempunyai pasangan. Hal tersebut terlalu ekstrim buatnya. Namun perasaannya memang tidak bisa ia kontrol. Perasaan itu muncul dan ia harus terus berusaha menghapus dan menghilangkannya.

Hari ini dia ada acara hiking bersama dosen-dosen di kampusnya. Kegiatan itu dilaksanakan untuk beberapa orang yang memang menyukainya.

Pagi sungguh cerah dan ia sangat bersemangat untuk pergi. Semuanya berkumpul dan mulai berjalan bersama-sama. Hari itu Rudi tidak ikut karena ada acara keluarga. Hal tersebut membuat Kirana semakin tidak terbebani dan merasa lebih bebas.


Naik ke atas bukit sekitar 2 jam dan beristirahat sejenak di sana. Lalu turun kembali karena tiba-tiba cuaca berubah.

Saat perjalanan turun menuju basecamp kembali. Semua tampak berpencar tidak seperti waktu berangkat. Terlebih rintik-rintik hujan mulai turun.

Kirana menepi ke sebuah bekas warung yg sudah tidak terpakai. Ia akan beristirahat sebentar sambil memakai jas hujannya.

Selang beberapa saat ia melihat seseorang datang mendekat ke tempat ia berteduh.

Awalnya mukanya tidak terlalu terlihat karena ditutupi pakai tangannya. Setelah menepi, barulah ia tahu.

"Teddy?"

Teddy melihat dan menatap seseorang yang berada di sampingnya.

"Kamu lagi" ucapnya dingin.

"Maksud kamu?"

"Gapapa. Kita sama-sama di sini buat berteduh. Mari jaga agar tidak saling bertengkar dulu. Aku ingin ketenangan"

Kirana sungguh kesal. Ingin sekali ia menutup mulutnya dengan cabai dan manjambak rambutnya. Sabar, ucapnya dalam batin.

"Kamu liat Pak Eko?"

"Kenapa?"

"Aku disuruh menjemputnya"

"Memang apa hubungannya kamu sama Pak Eko, supirnya?"

"Asal ngomong aja. Dia pamanku"

Kirana mulai berpikir tentang hubungan Teddy adalah keponakan dari Pak Eko. Saat sedang berpikir serius, terdengar suara guntur dan kilapan petir yang terlihat di depan. Kirana kaget dan takut. Ia menutup telinga dan bersembunyi di badan Teddy. Ia kaget karena melihat reaksi Kirana begitu takutanya dengan itu. Ia bingung harus berbuat apa. Ia mencoba menenangkan Kirana dengan mengusap kepalanya.

"Its ok. Ada gw di sini. Gapapa"

Darah Teddy berdesir saat Kirana masih memeluknya. Jantungnya lama-lama terasa berdetak sedikit lebih cepat.

Seseorang memotretnya dan menggoda mereka. Dikiranya mereka sedang bermesraan. Teddy ingin segera melepaskan pelukan Kirana namun tidak tega. Sampai cuaca mulai cerah kembali. Akhirnya mereka berdua kembali turun. Keduanya terlihat kikuk satu sama lain.

Seluruh dosen di sana menggodanya. Mereka semua befoto untuk mengabadikan moment. Tak terkecuali, Teddy ikut berfoto juga.

Setelah mengantarkan pamannya balik. Teddy melanjutkan untuk ke kantor guna mengambil berkasnya. Ia menjemput Sandra setelahnya namun tidak jadi karena kliennya meminta bertemu untuk meeting.

Sandra masih terpikir tentang tingkah kakaknya yang masih belum memaafkannya setelah dulu mantan pacar kakaknya pernah dekat dengannya. Namun tidak berlangsung lama. Ia menganggap bahwa sandra adalah penghancur hubungannya. Saat iseng-iseng membuka instagram Teddy, ia melihat ada foto2 yg ditandai juga serta beberapa komen yg disertainya.

Ia melihat foto2 hiking dan ada foto yg membuatnya melotot. Di sana terlihat Teddy sedang memeluk seseorang. Ia mencoba memperbesar gambarnya. Wajah Teddy nampak jelas namun wajah wanita yg ada dipelukannya tidak terlihat. Darahnya mendidih dan otaknya mulai kacau.

Sandra langsung menghubungi Teddy dan bertanya keberadaan serta kegiatan yang dilakukan. Ia menelponnya lewat videocall. Sempat beberapa kali direject namun akhirnya diangkat oleh Teddy. Sandra kalut ta mempercayainya sampai diangkat. Akhirnya Teddy mengalah dan memperlihatkan keberadaannya. Sandra menutup teleponnya namun Teddy masih utang penjelasan soal foto itu.

Di saat yang bersamaan, Naka datang menyapa Sandra. Mereka akhirnya satu table. Setelah mulai merasa mabuk. Sandra meminta pulang, ia tidak ingin terlihat terlalu mabuk dihadapan Teddy. Ia pun diantar pulang oleh Naka.

Saat Sandra sudah sampai, mobil Teddy hampir sampai. Teddy melihat Sandra yg baru pulang.

*****

"Sayang, kamu mabuk?"

"Aku cuma minum dikit"

"Kamu ada masalah?"

"Aku cuma ingin menenangkan diri"

"Kamu tadi pulang pakai apa?"

"Taksi"

"Oh. Lain kali hubungi aku, nanti aku yg jemput ga aman kamu sendiri dalam kondisi gitu kalau ga sama temanmu yg penting ada yg nemenin"

"Aku boleh ditemenin temenku?"

"Tentu boleh untuk keamananmu juga"

Teddy agak curiga apa yg terjadi pada pasangannya itu.

"Aku ingin tidur sendiri" ucap Sandra.

Teddy tidak menjawab, ia pun keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan-pelan.

Ia tidur di sofa meskipun masih ada kamar yang kosong.

Paginya Sandra keluar kamar dan melihat Teddy tidur meringkuk. Ia pun membangunkannya.

"Ted, bangun. Kalau tidur itu di kamar bukan di luar gini".

Teddy bangun dan duduk.

Hoaammm

"Kamu itu kalo tidur di kamar. Biasanya juga di kamar terus walaupun aku usir"

Tiba-tiba Teddy mual, ia segera pergi ke kamar mandi untuk memuntahkannya. Sandra pun panik melihat kondisinya. Ia menyusulnya ke kamar mandi lalu menepuk-nepuk punggungnya.

"Kamu sakit?"

Teddy tidak menjawab sampai ia selesai memuntahkannya.

"Aku hamil sayang", ucapnya sambil tersenyum gurau.

"Lama-lama kamu jengkeli ya. Jangan pasang muka akrab sama orang lain. Tetap jadi Teddy yg dingin dan untouched able. Sekarang masuk kamar, kamu istirahat dulu".

"Aku udah boleh masuk kamar?"

"Apaan sih, itu juga kamar kamu. Aku kan cuma numpang"


"Cukup-cukup. Aku istirahat di kamar"

Setengah Teddy istirahat, Sandra memang sekarang tidak terlalu memperhatikan perubahan Teddy. Sekarang memang dia lebih akrab dengan orang lain, lebih friendly dan rasa menolongnya kembali tumbuh seperti saat ia mulai menyukainya. Di satu sisi hal itu yg membuatnya jatuh hati namun di sisi lain ia semakin merasa insecure.

Sambil menjaganya ia sambil memainkan rambut Teddy yang menutupi dahinya. Ia berkata sendiri di samping Teddy.

"Kamu kemarin dari mana?"
"Ketika kita salah satunya sudah merasa bosan, apa yg harus kita lakuin?"
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu. Tapi aku takut kalau sampai kehilangan kamu. Aku egois banget"
"Banyak temanku yg sekarang berubah pandangan terhadapmu. Yg dulu sebal dan malas sekarang mereka berkata kalau kamu keren terutama saat dengan setelan jasmu dan saat kamu kerja. Harusnya aku senang tetapi hal itu mrmbuatku semakin takut dan cemas. Padahal dulu aku menginginkan teman-temanku menerimamu dan kita bisa kumpul bareng. Tapi setelah terjadi, itu membuatku takut".


*****

Pak Eko yang melihat foto antara ponakannya dan Dosen Kirana semakin ingin menjodohkan mereka berdua. Ia beberapa kaki meminta ponakannya untuk menjemputnya. Teddy yang sudah menganggap pamannya sebagai orang tuanya sendiri tidak merasa ada kejanggalan awal-awalnya.

Saat hujan turun lebat, kesempatan Pak Eko untuk kembali meminta jemput ponakannya. Ia tahu bahwa sore itu Bu kirana ada jam sampai sore. Usai jam perkuliahan, tepat saat Teddy baru datang.

Saat Teddy sampai, pak eko meminta bu kirana untuk makan bersama. Makan yang hangat-hangat dan pedas saat hujan adalah keharusan. Teddy dan Kirana sama2 bingung dengan apa yg ada di kepala pak eko. Walaupun menolak, tidak mungkin akan kalah argumen. Ketiganya menuju foodcourt memesan makanan dan ngobrol2.


Sandra yang sudah ada di sana lebih dahulu kaget melihat Teddy. Ia memang sedang berkumpul dengan teman-temannya sekaligus di sana ada Naka yang selalu di sampingnya. Ia ingin sekali menghampirinya dan menanyakan langsung apa yg mereka lakukan. Kalau itu masalah pekerjaan pasti ia sangat malu dan bingung mau ditaruh mana mukanya. Di sisi lain ia sangat curiga dengan keberadaan Teddy, pamannya dan satu wanita di sana.

Suara gemuruh petir kembali menggelegar. Kirana kembali ketakutan, Teddy yang sebelumnya sudah pernah mengetahui langsung menenangkannya. Pamannya hanya tersenyum melihat kedua anak muda di sampingnya.

Sandra baru ingat kalau ia pernah melihat hal yg sama seperti itu. Ia mencoba mengingat-ingat dan kemudian ia kembali mengingat, saat hiking. Kemungkinan besar dia adalah wanita di foto itu.

Kirana langsung salting ketika Teddy mencoba menangkannya dan melihat ke arah pak Eko yang senyum2.

"Maaf"
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Kirana dan Hujan
07-02-2021 17:36

One Step Closer

Pak Eko merasa iya bertanggung jawab atas masa depan keponakannya. Umur yang sudah cukup matang dan kemapanan serta penghasilan yg cukup buat Teddy membuat pamannya ingin segera melihat Teddy menikah. Sore ini ia berkunjung ke rumah Teddy untuk membicarakan hal tersebut.

Teddy membuka pintunya saat pamannya datang. Karena tanpa pemberitahuan, Teddy sama sekali tidak tahu dan di situ juga sedang ada Sandra.

Pamannya kaget melihat ada wanita di rumahnya. Lalu Teddy mengenalkan Sandra sebagai pacarnya. Pak Eko merasa tidak asing dengannya. Ia sepertinya sering melihatnya namun ia lupa dimana. Karena ada Sandra, beliau menunda niatannya untuk berbicara serius.

Pamannya izin ke kamar mandi. Ia melihat di sana ada 2 tempat sikat gini. Hal ini berarti mereka sudah tinggal bersama.

Pak Eko pamit dan Teddy berusaha untuk mengantarnya. Di perjalanan mereka berdua mulai berbicara terkait Sandra.

"Ted, paman tahu kamu sudah dewasa. Kamu tahu kan apa yg sedang kamu jalani salah?"

"Tahu, paman. Aku sudah mencoba untuk menikahinya tapi dianya yg bilang belum siap"

"Orang tuanya tahu?"

"Tahu"

"Paman akan pura-pura tidak tahu akan hal ini. Paman akan mencoba menerima, namun jika terbukti Sandra itu tidak setia dengan kamu maka paman akan bertindak tegas".

Teddy tidak menjawab apapun perkataan pamannya. Ia merasa malu dan bersalah dengan pamannya.

*****

Ia pulang mengantarkan pamannya dengan perasaan bersalah. Melihat pamannya seperti itu ia merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Tanpa di sadari Teddy berakhir di depan kontrakan Kirana. Ia menggambil HP dan menelpon Kirana.

"Hallo"

"Ya, hallo"

"Kamu di rumah?"

"Iya"

"Bisa keluar?"

Kirana merasa aneh karena tiba-tiba ditelpon Teddy. Tak disangka di luar memang sudah ada Teddy.

"Tumben, ada apa Ted?"

"Kamu bisa nemeni aku bentar?"

"Maksudnya?"

"Anggep aja kita impas karna sering nganter kamu pulang"

"Ga gitu juga. Itu kan paksaan pak Eko"

"Apapun itu. Bisa temenin aku sebagai teman"

Kirana merasa tidak nyaman ketika menerima atau menolaknya. Ia sudah banyak berhutang budi padanya namun jika menerima juga bukan hal baik karena dia ada pasangan.

"Cepat naik, aq ga akan ngapa2in kamu. We're just friend".

Kirana kira ia tidak akan pergi kemana2 untuk itu ia tidak memasang sabuk pengamannya. Teddy hanya duduk diam sejenak. Ia melihat ke arah Kirana dan melihat kirana belum memakai sabuk pengamannya. Ia pun meminta untuk memasangnya.

Tempat tujuan tidak diketahui. Teddy hanya menyetir ke depan sampai akhirnya ia sampai di pantai.

"Kita turun?" tanya Kirana.

"Nggak usah, di luar dingin"

Keduanya melepaskan sabuk pengaman dan sama2 diam. Teddy mengambil minuman dan dua gelas yang selalu ia bawa.

Teddy menuangkan untuk dirinya dan kirana.
"Na, kamu tahu aku sudah punya pasangan?"

"Heem, Sandra"

"Pamanku tidak suka"

"Bujuk terus. Jangan nyerah"

Teddy sudah mulai mengeluarkan pikiran yang selama ini bersarang.

"Ted, kamu jangan sampai mabuk. Kamu perlu nganterin aku balik"

"Q tidak suka mabuk juga ko. Hanya menghangatkan badan saja. Na, apa kamu tahu kalo pamanku suka sekali denganmu"

"Beliau baik dengan semua orang"

"Hmmm, memang kamu benar. Apa kamu tahu kalau dia mencoba untuk menjodohkan kita"

"Sempat ada pikiran begitu. Tapi lama2 hilang sendiri"

"Kenapa?"

"Kamu itu punya pasangan yg lebih dari segala-galanya yg diinginkan banyak laki2".

Teddy tersenyum, ia lalu bercerita banyak hal dan Kirana hanya mendengarkan dan memberikan komentar seperlunya.

Karena sudah cukup larut, Teddy memutuskan untuk pulang. Ia melihat kembali Kirana yg belum juga memasang sabuk pengaman. Teddy mendekat dan menarik sabuk pengamannya untuk dipasang di badan Kirana.

Kirana kaget dan ia menahan napas saat Teddy memasangnya. Teddy pun baru menyadari bahwa wajah mereka berdua sangat dekat. Jantung keduanya berdetak tak karuan. Sampai akhirnya Teddy memejamkan mata dan mencium Kirana. Kirana pun terhipnotis dengan suasana saat itu. Ia menerima kecupan lembut dari Teddy. Laki-laki yang ia cintai sekaligus lupakan.

Hampir Teddy kehilangan kesadarannya. Ia mencoba keras untuk melawan dirinya sendiri saat ia mulai menurunkan seat Kirana.

Teddy tidak ingin membuat Kirana tersinggung, ia mencoba untuk berhenti dan menatapnya agar Kirana juga sadar. Benar saja, setelah Teddy berhenti, kirana tersadar. Ia pun menamparnya.

"Sorry"

Keduanya sama2 merapikan bajunya dan kembali.

Mobil kembali melaju menuju kontrakan Kirana. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan. Keduanya masih merasa kikuk. Sebelum Kirana turun, Teddy menahannya.

"Na, gw mau tanya"

Kirana tidak menjawab dan hanya melihatnya. Teddy meneruskan perkataannya.

"Kamu ada rasa suka sama aku?"

Kirana sama sekali tidak menjawab dan ia langsung keluar dari mobil dan masuk ke rumah.

*****

Ketika sampai rumah, Teddy melihat Sandra yg sedang menonton film di depan TV.

Teddy tidak langsung ke dekat dengan Sandra. Ia segera ganti baju karena takut bau Kirana menempel di bajunya. Setelah selesai barulah ia duduk di sampingnya.

"Film apaan?"

"Korea"

"Hmm"

Teddy pun ikut menonton dan sebenarnya sebagian pikirannya masih tentang kejadian tadi. Entah kenapa adegan di film tersebut hampir sama dengannya. Hal tersebut akhirnya kembali membangkitkan yang tadi sempat tertunda.

Sandra sebenarnya agak curiga dengan sikap Teddy yg terlalu mudah terpancing. Saat di pertengahan permainannya, Teddy menyebut nama orang lain. Sungguh hal tersebut sangat mengejutkannya. Tidak pernah sekalipun Teddy mengucap nama orang lain. Dan baru kali ini, ia mengucap nama orang lain. Hatinya benar-benar hancur dan ia sangat marah namun ia tidak akan menghukum Teddy sekarang.

Paginya, kepala Teddy terasa pusing. Ia melihat sekitar kamarnya dan ia benar-benar mengacaukannya. Sandra pun terbangun.

"Morning"

"Morning"

"Tadi malam kita ngapain aja?"

Sandra tertawa kecil, "Kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu tadi malam. Kamu yang beresin semua, aku masih ngantuk".

Teddy mengusap-usap kepalanya sendiri. Sandra bangun lagi dan berkata.

"Kamu akhirnya ngasih aku di dalam ya. Kamu harus siap-siap jadi ayah".

Teddy melotot dan kaget.

Setelah beres-beres dan mandi, Teddy siap untuk berangkat kerja. Ia membangunkan Sandra untuk sarapan bersama.

"Tedd, kamu suka wanita yang kerja atau tidak?"

"Hm, tumben tanya itu?"

"Ya, jawab aja".

"Hmmm, sama aja. Kalo emang suka ya suka saja tanpa mandang kerja atau g".

"Tadi malam kamu luar biasa banget. Tapi ada hal yg ku benci"

Teddy menatap dan berhenti makan, "Tadi malam kenapa?"

"Gapapa".

"Hmm, kalau memang nanti kamu jadi mengandung, aku siap jadi suami dam ayah kapanpun"

"Haha, apaan sih. Oh ya, kamh punya klien atau teman kantor yang namanya na gitu?"

"Hmmm? Na, siapa ya. Aku lupa, kalo ingat nanti aku kasih tau"

Teddy masih belum sadar, ia memang agak mabuk tadi malam.

"Kemarin ngobrol apa sama paman kamu, kayaknya pulang2 jadi banyak pikiran?"

"Hmmm, ngobrolin apa ya? Pernikahan kita hehe"

Sandra diem dan mulai berkata serius.

"Sayang, gimana kalo kamu menikah sama orang lain tapi kamu tetap menomorsatukan aku".


"Haha, kamu pengin aku mainin perasaan anak orang. Nyakitin kamu dan keluargamu, buat aku jadi laki-laki g bertanggung jawab"

"Bukannya harusnya kamu senang ya?"

"Aku bukan orang keg gitu"

Karena sudah cukup siang, akhirnya Teddy berangkat ke kantor.
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Kirana dan Hujan
10-03-2021 23:05

Konsekuensi

Perasaan berdebar akan tetap dirasakan mesti kita telah mencintai seseorang. Jika debaran itu terus terpicu maka akan semakin menguat. Namun jika rasa itu tidak terpupuk kembali maka lama kelamaan akan layu dengan sendirinya.

Terlalu melelahkan jika kita harus menyukai orang yg baru lagi. Harus mempelajari kebiasaannya, adaptasi, berantem, mengalah, dan seterusnya sampai beberapa tahun lagi agar saling bisa lebih memahami satu sama lain. Melelahkan.

Teddy tidak akan membiarkan dirinya larut dalam debaran sementara. Sudah cukup Sandra untuknya.

"Sayang, apa kamu sudah siap untuk pernikahan?", tanya Teddy.

"Kenapa? Ko tanya itu lagi?""

"Gapapa. Kamu belum siap?"

"Kita obrolin lain kali ya. Aku mau ke tempat biasa"

"Heem, hati-hati"

Hari ini Sandra ke tempat golf bersama Naka. Ia sebenarnya sudah ingin mengakhiri hubungannya sebelum Teddy tahu. Hari ini juga ia akan melakukannya.

Naka lebih dulu sampai tempat. Ia memberitahukan bahwa ia sedang bermain dan menunjukkan posisinya. Tak butuh waktu lama untuk Sandra menemukan Naka bermain. Saat sudah di sampingnya ia diam tanpa menyapa dulu, melihat reaksi Naka saat melihatnya. Ia memang sedang asik bermain dengan seorang yang belum pernah ia kenal karena keduanya nampak dari belakang. Tapi untuk Naka, ia hafal sekali postur tubuhnya.

Saat Naka berpaling ke belakang ternyata ia baru tahu kalau Sandra sudah datang. Ia pun meminta izin rekannya. Rekannya pun melihat ke belakang untuk melihat wanita yg ingin ditemui Naka. Saat melihatnya, ia tampak tak asing dengan wajahnya. Sandra pun melihat wajah rekan Naka yg memperhatikannya.

Naka mendekat ke Sandra lalu menyapanya. Sandra juga mencoba mengingat kembali dan bertanya pada Naka. Bukannya menjawab, Naka menggandeng dan mengenalkan Sandra kepada rekannya.

"Mr Eko, this is Sandra. Sandra, this is Mr. Eko", ucap Naka mengenalkan satu sama lain.

Baik Sandra dan Mr. Eko sama-sama terkejut. Sandra bingung harus bagaimana dalam bersikap.

Sebaliknya Mr. Eko atau paman Teddy, beliau langsung merespon untuk berpura-pura tidak mengenalinya. Ia paham nantinya Sandra akan kikuk dalam bersikap jikalau tahu bahwa Sandra adalah kekasih dari keponakannya dimana sekarang ia bersama dengan rekan main golfnya.

"Sandra, suka main golf juga?", ucap Mr. Eko.

"Masih latihan, jauh dikatakan bisa", jawab Sandra.

Mr. Eko akhirnya pamit untuk pindah tempat. Mulai dari awal Sandra sudah tidak fokus, ia ingin sekali keluar dari area itu. Sejam rasa sehari, waktu berjalan sangat lambat. Gerak geriknya serasa diperhatikan namun sebenarnya tidak karena posisi Mr. Eko dan mereka cukup jauh. Dia benar-benar merasa tidak nyaman.

Sandra mencoba bertahan untuk bermain, tetapi pada akhirnya ia menyerah dan mengatakan untuk selesai.

"Naka, nanti kita makan dulu"

"Oke. Ku tunggu di depan ya"

"Oke"

Mulai dari situ Sandra mulai berpikir dan merangkai kata yang akan ia sampaikan. Jantungnya berdetak tak beraturan. Di satu sisi ia masih nyaman dengan Naka, di sisi lain dia tidak ingin kehilangan Teddy.

***

Naka sangat menikmati makannya, sebaliknya Sandra hanya melahap sedikit, selebihnya ia lebih banyak bengong sambil mainin garpu dan sendoknya.

Naka yang telah selesai makan dan melihat ke arah Sandra tampak bertanya-tanya, kenapa ia tidak tidak semangat hari ini.

"San, makannya jangan dimainin saja. Kasihan petani yg udah nanem sampai manen, kasihan juga yang udah masak. Atau makanannya ga enak, mau ganti?" ucap Naka.

"Hmmm? Ganti? Enggak ko, q yg lagi kurang napsu makan", jawab Sandra.

"Yaudah, dimakan. Atau kamu mau nyampein sesuatu?"

"Naka"

"Ya?"

"Kamu tahukan aku sudah ada Teddy?"

"Ya, kamu yg bilang dulu. Ada apa sama Teddy?"

"Bukan Teddy-nya, tapi aku"

"Hmm, kenapa sama kamu?"

"Aku minta maaf. Sepertinya kita mulai sekarang sudah cukup"

"Alasannya?"

"Aku ga pengin lebih mengecewakan Teddy. Apa kulakukan oasti nantinya aku juga akan dapat balasan walaupun entah dengan cara apa dan kapan waktunya, aku ga tau"

"Aku kira dengan diberikan waktu dan kesempatan, akan ada hasil lain buatku. Ternyata aku masih belum bisa ngeyakinin kamu ya"

"Selama ini aku nyaman. Tapi hatiku masih tetap untuk Teddy"

"Oke. Aku juga minta maaf karena walaupun aku tahu kamu ada seseorang tapi aku masih tetap ingin diberikan kesempatan. Dan jika sesuatu terjadi, jangan sungkan untuk kasih tahu aku. Aku selalu siap buat kamu. Aku masih boleh ngubungi kamu kan? "

"Iya. Kita masih tetap berteman seperti awal"

"Thanks. Kamu itu wanita yg bisa buatku jadi diri sendiri."

Sandra tersenyum, ia bisa lega karena semua berjalan lancar. Ia pun pamit pulang. Naka berniat untuk mengantarnya, apalagi saat itu hujan. Namun Sandra tetap menolak. Ia ingin naik kendaraan umum saja.

Saat akan memesan taksi online, Teddy menelpon dan menanyakan keberadaannya. Ia bilang akan mrnjemputnya. Walaupun ia menjelaskan akan naik taksi tapi Teddy tetap ingin menjemputnya. Akhirnya, Sandra mengiyakan dan akan menunggu.


Dari meja yang berbeda, Kirana beberapa kali melihat ke arah Sandra dengan laki-laki yang jelas bukan Teddy. Mereka sempat beberapa kali bergandengan tangan. Ia benar-benar dibuat penasaran padahal ia tidak ingin memedulikannya.

Kirana akhirnya cabut duluan. Sampai di luar ternyata hujan sedang deras-derasnya. Ia berdiri di luar sambil memikirkan bagaimana ia akan pulang. Jika lama kemudian, Sandra datang sendiri. Ia tidak bersama temannya tadi. Setelahnya Teddy datang dengan payungnya. Mendadak Kirana langsung memalingkan wajahnya. Teddy memang datang untuk menjemput Sandra, namun ia tidak tahu kalau kekasihnya baru wasting time dengan cowok lain.


Teddy melihat Kirana, ia ingin menyapanya tetapi sepertinya ia memang sengaja agar tidak terlihat. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi bersama Sandra.

"Thanks, ya yang", ucap Sandra.

"Iya, kaya sama siapa. Seat belt-nya dipakai", jawab Teddy.

"Pakaiin"

Teddy senyum sambil mengaitkan seat belt Sandra. Selama perjalanan Teddy menanyakan tentang permainannya. Namun Sandra merasa tidak nyaman. Ia masih was-was dengan hal yang akan dilakukan oleh pamannya terkait dirinya dan Naka. Dan ia pasti memilih untuk segera jujur sebelum Teddy tahu dari pamannya. Namun ia masih gugup untuk membicarakan hal itu.

"Kamu ta anterin pulang ya"

"Aku mau bicara"

"Hmm, tentang apa?"

"Dua bulan ini, aku dekat dengan seseorang"

"Maksudnya?"

"Ya, aku dekat dengan laki-laki lain selain kamu. Aku minta maaf"

"Kenapa?"

"Awal-awalnya aku hanya main-main saja. Ternyata berkelanjutan"

"Kalian ngapain aja?"

"Hanya main golf dan makan"



Teddy sangat marah dan kecewa dengan pernyataan itu tapi dia berusaha tenang dan tetap berpikir jernih.

"Tadi juga?"

"Iya. Maaf seharusnya ga terjadi. Q ngalukuin kesalahan fatal dan buat kamu kecewa. Q pengin memperbaiki hubungan kita".

Teddy masih diam, ingin dia marah tapi di situ tempat umum.

"Aku antar kamu pulang"

Mobil segera melaju dan selama perjalanan tidak ada satu patah kata pun keluar.

Sampai rumah, Teddy mulai kembali berbicara.

"Kali ini aku maafkan. Kamu putus hubungan dengan pria itu dan jangan diulang lagi"

"Iya, aku janji"

"Kalau gitu masuk. Kalau dia datengin atau gangguin kamu bilang ke aq".

"Kriiiiiiiigggggg"

Teddy mengangkat telepon dari pamannya. Sarah yang masih duduk di sampingnya mulai was-was terhadap pembicaraan mereka.

"Aku pergi dulu"

"Iya, hati-hati".


profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Kirana dan Hujan
11-03-2021 20:54

Mulai Berbalik

Kedatangan Teddy sudah di nanti-nantikan oleh tantenya. Ia langsung menyuruhnya masuk dan makan. Paman dan tantenya memang sudah menganggap Teddy seperti anaknya sendiri, terlebih mereka tidak mempunyai seorang anak.

Selesai makan, Pak Eko langsung mengajak Teddy ke ruang kerjanya. Mereka akan berbicara serius karena itu tujuannya utama Teddy sekarang di sana.

"Ted, paman sudah bekerja lebih dari separuh umur paman sekarang. Kamu tahukan apa yang diinginkan seseorang di hari tua mereka?"

"Hmm"

"Paman di kampus masuk dalam pengurus yayasan juga, tapi permasalahan kampus tidaklah setenang air sungai. Banyak sekali tantangan dan perkembangan untuk masa sekarang yang terus menerus berkembang. Namun di umur paman yang sekarang, rasanya paman sudah merasa capai. Paman ingin lebih samtai sama tante kamu. Paman ingin lebih menikmati hari-hari dengan tenang"

"Terus?"

"Paman ingin ada seseorang yang melanjutkan perjuangan paman. Kampus sudah paman anggap rumah kedua. Kalau nanti setelah paman istirahat, sayang kalau tidak ada keluarga yang melanjutkan perjuangan ini. Karena paman hanya punya kamu, paman harap kamu atau calon istri kamu kelak bisa melanjutkan perjuangan paman".

"Tapi aku tidak terlalu suka kehidupan kampus, sistemnya, dan banyak hal lainnya"

"Paman nggak minta harus kamu yang ngurus. Paman minta keluarga dari kamu"

"Tapi aku belum berkeluarga paman"

"Maka dari itu, paman harap kamu segera meminang wanita untuk jadi teman hidupmu"

"Tapi paman.. ."

"Kenapa?"

"Sandra tidak terlalu paham tentang masalah kampus. Dia lebih ke..."

"Sandra? Kamu yakin sama dia? "

"Sekarang dia yang dekat dan kami sudah mengenal dekat. Tujuan kami tentu saja membina rumah tangga"

"Pikirkan lagi, carilah orang lain selain Sandra. Jujur paman kurang setuju. Cari istri yang nanti akan benar-benar jadi ibu dari anak-anak kamu. Yang dapat memberikan edukasi yang positif"

"Paman,,,"

"Ted, selain Sandra. Paman mohon"

Teddy terdiam seribu bahasa. Dia baru kali ini melihat pamannya meminta sesuatu hal padanya. Dari kecil, pamannya selalu membebaskan dia apa yang ia lakukan dan ia support. Menjadi pengacara pun yang dia tahu hatinya berat menerima tetap ia berusaha untuk lebih bersabar dan tetap mendukung. Sekarang Teddy bingung harus memilih Sandra sebagai istrinya atau pamannya.

"Pikirkan lagi. Paman harap kamu mau membuka sedikit celah dan mempertimbangkan"

"Kalau memang paman memginginkan aku selain dengan Sandra, paman ingin aku membuka diri dengan siapa?"

"Kamu sungguh ingin mendengarkan rekomendasi dari paman?"

"Heem"

"Kirana"

"Kirana? Dosen di kampus itu?"

"Iya"

"Paman, Kirana itu sudah dengan dosen laki-laki yang di sana juga. Yang satu jurusan"

"Kamu salah. Mereka hanya teman. Walaupun laki-lakinya suka, tapi Kirana belum mau membuka diri untuknya"

"Paman tahu? Paman nyelidiki dia? "

"Hanya mendengar dari sumber terpercaya saja. Paman akan kasih kamu waktu untuk berpikir"

Teddy tidak habis pikir kenapa pamannya berpikir untuk menjodohkannya dengan Kirana. Ada hal apa yang membuat pamannya memilih Kirana. Ada hubungan khusus, harusnya dia tahu, atau ada kepentingan lain yang ia belum tahu.

***

Tiga hari berselang, Teddy mencoba untuk mencari tahu tentang hubungan paman dan Kirana. Ia memberitahukan lewat pesan singkat kepada pamannya untuk diberikan space waktu mengetahui tentang Kirana. Pamannya pun menyetujui hal tersebut. Teddy menyembunyikan hal ini pada Sandra.

Pak Eko memanggil Kirana ke ruangannya. Ia meminta dari progdi lain menemaninya untuk study banding. Kirana menyetujui walaupun ia sedikit merasa aneh, namun karena sudah permintaan bernama maka ia tidak bisa menolak.

Kirana diminta ke kampus pagi-pagi sekali untuk berangkat bersama pak Eko. Ia sudah menyiapkan beberapa stel baju untuk bermalam selama 2 hari di sana. Liburan sambil kerja, hal yang banyak diinginkan banyak dosen muda.

Kirana duduk di depan kantor sambil menenteng tas kecilnya dan di sampingnya sudah ada tas yang sedikit besar yang isinya baju.

Mobil lewat di depannya lalu putar balik. Melihat dari jenis mobilnya seperti Kirana paham pemilik mobil tersebut.

Pak Eko keluar lalu melihat ke arah sekitar. Beliau melihat Kirana dan mendekat. Tak lama setelah itu, Teddy keluar dari mobil. Pak Eko mengajak Kirana untuk ke mobil dan akhirnya mereka masuk. Saat mereka akan bersiap berangkat, pak Eko menyampaikan kalau dia ada urusan mendadak untuk menemui tamu kampus. Ia pun mengatakan kepada Kirana agar ia tetap berangkat ke sana dengan di temani Teddy. Karena merasa tidak enak, akhirnya Kirana meminta agar ia berangkat sendiri saja. Namun, pak Eko bersikeras agar ia berangkat dengan Teddy karena Teddy akan ikut study banding mewakili dirinya. Terkait hasilnya itu menjadi tugas Kirana.

"Ibu Kirana... "

"Ya, Pak Teddy?"

"Emmmm, sebaiknya kita panggil nama masing-masing ya"

"Baik"

"Soal dulu, q mau minta maaf telah lancang"

"Sudah lupakan saja"

"Oke"


***

Sandra hari ini bertemu dengan Naka karena Naka tidak berhenti-hentinya meneror Sandra atas keputusannya lepas darinya. Ia berjanji setelah mereka bertemu Naka tidak lagi menerornya.

Mereka bertemu di tempat terakhir mereka makan. Di sana Naka mengatakan akan segera memberitahukan kepada Teddy soal hubungan gelapnya dengan Sandra. Sandra pun dengan tenang telah memberitahukan kepada kekasihnya dan saat itu juga Naka sudah tidak berdaya. Naka meninggalkan kafe. Dan saat itu juga, Sandra mencoba menghubungi Lina untuk makan bersama di kafe itu.

Sandra bercerita tentang hari-hari beratnya.

"Gila lu ya emang" ucap Lina setelah mendengarkan cerita.

"Namanya juga khilaf"

"Sekarang Teddy dimana?"

"Lagi keluar kota, nganter pamannya dinas"

Lina berpikir kalau Kirana juga sedang keluar kota, tempatnya juga sama namun sayangnya dia bilang akan pergi bersama dosen senior di kampusnya. Lina menyimpan agar Sandra tidak membebani Kirana antara hubungan Sandra dan Teddy.

"Kenapa lu? Bengong", ucap Sandra.

"Eh, gapapa. Berarti lu sekarang dah siap buat nikah sama Teddy?"

"Sejujurnya belum tapi dari pada putus ya mending nikah"

"Kalau misal, jelek-jeleknya ya, Teddy nikah sama cewe lain gimana?"

"Gw bakal datengin tuh cewe, ga bakal gw biarin mereka bahagia"

"Haha sadis amat lu"

Lina meminum minumannya sambil berpikir tentang Kirana. Bagaimana jika memang benar terjadi, kasian Kirana, semoga pikirannya salah.
0 0
0
Kirana dan Hujan
12-03-2021 01:36

Cari Tahu

Seharian Teddy dan Kirana melaksanakan study bandingnya, setelah selesai mereka pergi ke hotel dekat situ. Kamar mereka bersebelahan, tanpa satu patah kata, Teddy masuk dan langsung mengunci kamarnya. Kirana hanya geleng-geleng melihat sikapnya.

Teddy menelpon Sandra saat di kamar, namun tidak diangkat. Akhirnya ia memutuskan untuk mandi dan tidur.

Tidak beda dengan Teddy, Kirana mandi namun setelah itu perutnya kelaparan. Ia agak bingung mau pesan layanan kamar atau makan di luar. Ia mengirimkan pesan pada Teddy untuk makan di luar tapi tidak dibalas, ia pun menelpon tapi tidak diangkat.

"Ni manusia pasti ketiduran" gerutu Kirana kesal.

Akhirnya ia memesan layanan kamar untuk makanannya. Sambil menunggu makan, ia menelpon Lina. Mereka bercanda riuh. Lalu, Lina tiba-tiba menanyakan tentang study bandingnya.

"Kamu ke sana bareng siapa? Siapa nama dosennya yang bareng kamu?"

"Hmmm, sebenarnya q ga jadi pergi sama pak Eko. Beliau tiba-tiba ada urusan mendadak"

"Terus kamu sendiri di sana?"

"Ya sendiri ga sendiri sih"

"Maksudnya?"

"Q pergi bareng Teddy"

"Teddy? Yang pengacara itu?"

"Heem. Rese banget, orang rese tetap rese"

Lina kembali terpikirkan antara mereka berdua. Terlalu banyak kesempatan-kesempatan mereka berdua, sepertinya memang ada orang lain yg mengatur pertemuan mereka.

"Woiii, diem aja!"

"Eh, gw lagi mikir"

"Mesti kelupaan sesuatu ya, jangan-jangan lupa lagi masak air"

"Emmm, gw mau keluar dulu cari makan. Bye"

"Oke. Bye"

Tok... Tok.... Tok....

Kirana senang akhirnya makanan datang. Saat pintu dibuka ternyata yang datang Teddy.

"Kamu, ngapain?"

"Katanya mau keluar buat makan?"

"Emmm,..."

Belum sempat menjawab pelayan hotel datang membawa makanan pesanannya.

"Kamu pesan makanan di sini?"

"Eh, iya. Tadi kamu ga bales-bales, yaudah aku pesen"

Teddy menarik napas dan memegang dahinya. Kirana mengambil makanannya.

"Mau masuk?"

"Hmm, ga perlu"

"Ted,..."

"Apa?"

"Kamu ngambek?"

"Aku mau keluar nyari angin"

"Tungguin, q juga mau ikut bosen di kamar"

"Makanannya bagaimana?"

"Kamu masuk dulu, tungguin aq. Ga lama ko"

Setelah berpikir akhirnya Teddy mau masuk dan menunggunya selesai makan.

"Sini makan bareng" ajak Kirana.

"Kamu aja. Q belum lapar"

Melihat Kirana makan begitu lahap, lama-lama cacing-cacing di perut Teddy mendadak minta jatah.

"Sini cobain"

"Nggak"

"Sesuap saja. Kasian tuh perutnya"

Teddy tidak bisa menyembunyikan rasa malunya karena perutnya tiba-tiba berbunyi. Namun ia tetap kukuh untuk tidak mencoba makanannya.

Selesai makan, akhirnya Teddy dan Kirana keluar. Kirana berharap ada sedikit obrolan tentang study banding tadi, namun nyatanya Teddy tidak pernah membahasnya sekalipun. Ya karena itu memang bukan bidangnya akhirnya dia tidak tertarik untuk membahasnya.

"Kita mau kemana?" tanya Kirana.

"Cari makan"

"Tapi aku dah makan"

"Makan lagi juga ga papa. Tadi siapa yang minta ikut?"

"Oke, q nurut dan ga akan tanya2 lagi"

"Bagus"

Kirana saat itu benar-benar gantian nemenin Teddy makan. Dia hanya pesan minum karena memang ia sudah kenyang.

"Teddy boleh tanya?"

"Hm"

"Pak Eko tu paman kamu?"

"Heem"

"Kamu dari kecil sama beliau?"

"Iya"

"Oh"

Selesai makan Teddy mengajak Kirana jalan-jalan. Ia masih punya misi untuk mencari tahu tentang hubungan pamannya dengan Kirana. Kenapa pamannya sangat menyepesialkan dia.
0 0
0
Kirana dan Hujan
13-04-2021 14:29

Menguak

Permintaan paman untuk menjodohkanku dengan Kirana adalah hal yang sangat tidak mungkin dilakukan. Aku yang pasti menolak dan begitu pula dengan Kirana. Dia ada Rudi yang sangat mencintainya.

Aku bingung mau mulai pembicaraan dari mana untuk mengorek-ngorek tentang siapa Kirana, ada hubungan apa dengan paman, apakah paman hutang budi dengan Kirana atau keluarganya.

"Ted..." panggil Kirana.

"Hemm?"

"Kamu nggak nelpon Sandra?"

"Oh. Nanti kalau di kamar"

Ia baru ingat kalau dari tadi ia belum lagi menghubungi Sandra. Semenjak Sandra ketahuan selingkuh lagi, rasanya memang sudah ada yang beda dari sebelumnya. Dan ketika hati ragu, ia baru meminta untuk hubungan kami yang lebih serius, sebelum-sebelumnya ia selalu menolak.

Kriiinggggg

Teddy melihat layar HPnya, di sana tertera nama pamannya.

"Halo"

"Halo, Ted. Gimana di sana?"

"Baik, semuanya lancar"

"Termasuk kamu dan Kirana?"

"Apaan sih.... "

"Hahaha"

Suara tawa pamannya membuat Teddy geleng-geleng. Akhirnya telepon ditutup setelah memastikan keadaan ponakannya.

Tidak ingin banyak berpikir, Teddy akhirnya memutuskan untuk menanyakan secara langsung kepada Kirana tentang mereka dan pamannya.

"Na, boleh aku tanya. Tolong jawab sejujurnya"

"Serius banget. Iya, aku jawab jujur, apaan? "

"Kamu tahu kalau paman itu jodohin kita?"

Kirana membelaklakan matanya, ia diam seribu bahasa, serasa ada petir di siang bolong yang menyambarnya.

"Jodohin? Kamu sama aku?! "

Teddy mengusap-usap dahinya, entah apa yang disampaikannya itu benar atau salah tapi ia juga sebenarnya grogi menyampaikan hal itu. Namun, hal tersebut terlalu mengganggunya untuk itu ia inginkan solusi.

"He'em"

"Ko bisa?", tanya Kirana bingung.

"Mana aku tahu. Aku juga bingung, makanya aku tanya"

"Kamu kan ada Sandra dan kalian udah cukup lama"

"Iya, makanya itu. Kamu juga ada Rudi kan? Kita sama-sama ada"

"Aku sama Rudi nggak ada apa-apa. "

"Bukannya kalian pacaran?"

"Enggak. Kami hanya teman dosen saja, kebetulan dia baik banget sama aku"

"Ya, apapun hubungan kalian. Sekarang aku ingin tahu, kamu atau keluarga kamu ada hubungan apa sama paman nggak?"

"Hubungan apa? Aku juga baru tahu tentang Pak Eko pas di kampus. "

"Coba ingat-ingat lagi"

"Sama sekali enggak ada, nggak percayaan banget"

"Terus, kenapa paman pengin jodohin kita?"

Kirana mengangkat bahu menunjukan ketidaktahuannya.

Mereka berdua pun kembali ke hotel dan menuju kamar masing-masing.

Kirana kepikiran tentang perkataan Teddy terkait perjodohan mereka. Ia ingin bercerita kepada Lina tetapi dia adalah teman dekat Sandra, pacar Teddy.

Dia mengambil HP nya dan menelpon ibunya.

"Halo"

"Halo, Bu"

"Ada apa, Na? Di sana lancar?"

"Lancar apa?"

"Kerjaan kamu"

Tiba-tiba Kirana berpikir yang tidak-tidak tentang pertanyaan ibunya yang harusnya biasa saja.

"Oh, lancar"

"Syukurlah"

"Bu, apa ibu kenal yang namanya Pak Eko?"

"Eko siapa?"

"Pak Eko Suryo, dosen di kampus tempat Kirana ngajar"

"Eko Suryo, bentar. Sepertinya ibu pernah dengar"

Setelah menunggu ibu mengingat-ingat, akhirnya ketemu.

"Oh iya, na. Ibu tahu pak Eko Suryo"

"Siapa, Bu?"

"Dia teman akrab ayahmu"

"Teman ayah?"

"Iya, mereka akrab sekali"

"Tapi ko ayah nggak pernah cerita atau ada fotonya"

"Haha, ada ko fotonya. Kalau nama memang mereka ada panggilan akrab sendiri."

"Oh"

Kirana agak ragu menanyakan tentang perjodohannya dengan Teddy, apakah benar adanya atau tidak. Namun ia agak sedikit malu menyampaikannya.

"Bu, Kirana mau tanya"

"Iya, ada apa na?"

"Emmm, apa ayah berniat buat jodohin aku sama ponakannya pak Eko?"

Ibunya terdiam, sepertinya ia tahu dari pak Eko.

"Kirana, putri ibu. Soal perjodohan itu memang sempat terucap saat dulu, saat ayah, ibu dan pak Eko sedang ngobrol2. Namun kami tidak akan memaksa kamu. Menikah itu pilihan kamu, masa depan kamu, ibadah kamu. Jadi ibu sama sekali tidak memaksa."

"Oh"

"Kamu dah ketemu sama pak Eko?"

"Udah. Tapi aku nggak tahu kalau beliau teman ayah"

"Kalau ponakannya?"

"Sudah"

"Bagaimana dia?"

"Baik"

"Ganteng?"

"Ya, begitu"

"Kamu suka?"

"Ih, apaan sih ibu..."

"Haha, baik iya, ganteng iya juga. Bukannya udah bagus"

"Apaan sih ibu, udahlah"

"Maaf, Na. Intinya kami serahin keputusan sama kamu"

"Heem, Bu. "

"Baik-baik ya di sana"

"Iya, bu. Sudah dulu ya"

"Heem"

Kirana berniat untuk memberitahukannya kepada Teddy nanti.

*********

Teddy awalnya akan menurunkan Kirana di kampus saja seperti saat awal mereka berangkat. Namun ketika melihat bawaannya sepertinya ia harus mengantarkannya sampai ke kosannya.

Kirana turun setelah beberapa jam perjalanan. Teddy pun juga ikut turun untuk mengambil tasnya Kirana.

Saat akan menurunkan kedua tas Kirana dari mobil, ada orang yang keluar dari gerbang kosan. Ia adalah orang yang sangat ia kenal.

Mereka sama-sama terdiam. Sandra heran kenapa Teddy di sini, dan begitupun juga Teddy karena ia juga tidak jujur kalau ia hanya pergi berdua, ia bilang kalau ia pergi dengan pamannya.

"Sayang, kenapa kamu di sini? Dan kenapa kalian bisa berdua? Bukannya kamu sama pamanmu saja? " ucap Sandra curiga.

"Aku cuma nganterin"

Kirana bingung harus berkata atau diam. Ia benar-benar di posisi serba salah.

"Benar begitu? Kalian tidak pergi bersama? " tanya Sandra kepada Kirana.

Sandra menunjukan kemesraannya dengan Teddy dihadapan Kirana. Ia cipika cipiki dan merangkul tangan Teddy sambil menyatakan kerinduannya. Teddy merasa tidak enak dan begitupun juga dengan Kirana. Ada rasa tidak enak hati sekaligus kesal melihat mereka berdua.

Kirana bingung harus menjawab apa. Sebelumnya mereka berdua tidak ada kesepakatan apapun. Teddy kenapa tidak jujur kepada Sandra.

"Kita ngobrol di mobil saja", perintah Teddy dengan tegas.

Sandra paham ketika Teddy sudah dengan nada dan ekspresi seperti itu maka yang perlu ia lakukan hanya mengikutinya. Mereka juga baru saja selesai baikan, Sandra tidak ingin Teddy kesal terutama di hadapan orang lain.

Sandra dan Teddy masuk mobil. Dalam perjalanan, Sandra menyangga kepalanya sambil melihat keluar walaupun kaca mobil tertutup.

"Kamu bohong" ucap Sandra.

"Maaf, itu permintaan paman"

"Kenapa kamu nggak jujur saja?"

"Belum sempat"

"Kalau kamu nggak ketahuan apa kamu akan diam saja?"

Teddy terdiam sambil tetap fokus menyetir.

"Kenapa kamu nggak jujur saat di sana? Jadi itu alasan kamu jarang mengangkat vcall dari aku"

"Itu nggak seperti yang kamu bayangin"

"Kalian satu hotel? "

Teddy mengangguk.

"Sekamar?"

"Kamu mikirnya aneh-aneh. Kami hanya berangkat studi banding, kembali ke hotel terus di kamarnya masing-masing. Udah itu saja"

"Sepertinya ada sesuatu yang masih kamu tutupin"

Karena kecapean juga akhirnya, Teddy berhenti dan mukanya terlihat sangat kesal.

"Aku nggak pernah tanya kamu pergi sama siapa"

"Kamu mau bahas masalah kemarin?" seru Sandra.

"Aku nggak mau berantem di sini. Aku capek"

"Aku minta maaf soal aku dan Naka, ku kira itu sudah selesai kemarin sebelum kamu berangkat"

Teddy diam dan sepertinya memang itu yang mereka butuhkan satu sama lain.

Teddy melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan Sandra pulang. Walaupun sebenarnya ia ingin mengajak Sandra pulang ke rumahnya.

Setelah mengantarkan Sandra pulang, Teddy balik ke rumah. Ia melihat tas kecil kepunyaan Kirana tertinggal di mobilnya. Ia pun mengeluarkan tas itu dan membawanya ke dalam rumah.

Kepala Teddy terasa sangat berat setelah keluar dari mobil. Ia menaruh tasnya dan segera mengambil parasetamol dan meminumnya. Ia ke kamar dan mencoba untuk tidur. Saat mengecek hpnya ada pesan dari Kirana kalau ia ingin mrngambil tasnya nanti malam.

Takut Teddy tidak mendengar saat nanti Kirana ke rumahnya, ia pun memberikan nomor rumahnya dan nanti untuk mengambil sendiri tasnya.

Setelah tidur terlelap, badannya penuh dengan keringat dingin. Bukannya semakin membaik, palah sebaliknya. Ia pun melepas bajunya namun tetap memakai selimut untuk menjaga suhu badannya.

****

Kirana ingin sekali mengajak Lina bersamanya ke tempat Teddy, namun hal itu sepertinya kan menimbulkan banyak kecurigaan antara dia dan Teddy.


Sampai sana, Kirana mengetok-ngetok rumahnya dan memencet tombol rumahnya namun tetap tidak ada jawaban. Ia pun menelpon Teddy, namun hasilnya sama saja. Akhirnya ia masuk dengan kode yang sudah Teddy berikan.

Ia masuk sambil memanggil Teddy. Ia melihat tasnya, namun ia sama sekali tidak menemukan seseorang di sana. Ia tertarik dengan kamar tertutup dekat sana. Ia pun mengetok sambil memanggil nama Teddy. Saat memegang handle pintunya ternyata tidak tertutup. Ia pun membuka pelan-pelan.

Ia melihat Teddy dalam posisi muka yang penuh keringat dan merintih. Ia segera mendekat dan mengecek suhunya. Badannya sangat panas, ia sangat cemas dan kuatir. Ia segera mencari alat untuk kompres.

Satu jam ia tungguin sambil mengkompres tapi tidak ada perubahan. Ia ingin membawanya ke rumah sakit tapi badannya sangat berat.

Teddy memegang tangan Kirana sambil meringkuk seperti anak-anak. Saat mengecek kembali suhu badannya, Teddy menarik tubuh Kirana dan ia pun memeluknya.

Kirana kaget dan ia bingung harus berbuat apa. Dekapan Teddy sangat kuat, badannya juga sangat panas. Ketika ia akan melepasnya rasanya tidak tega. Akhirnya, ia tetap diam saja, mungkin sebentar lagi ia akan tertidur lelap dan melepas dekapannya.

Kirana mulai menguap karena ia belum sempat istirahat setelah perjalanan panjang. Ia pun lama-lama tertidur karena Teddy lama melepas dekapannya.

*****

Tengah malam Teddy terbangun, ia melihat dirinya yang mendekap Kirana. Kaget bukan kepalang saat ia menyadari hal tersebut secara sadar.

Pasti ada alasan rasional kenapa hal ini sampai terjadi. Ia melihat sekitar dan melihat peralatan kompres di sana. Ia coba mengingat-ingat kembali. Dia hanya ingat kalau dia kepalanya sakit dan minum obat, setelah itu dia tidak ingat.

Kirana mulai bergerak dan ia mulai membuka mata. Teddy cepat-cepat pura-pura tidur kembali.

Kirana dengan pelan-pelan menyingkirkan tangan Teddy dari badannya. Lalu, ia mengecek suhu badan Teddy, hasilnya sudah kembali normal. Ia pun merapikan diri dan pulang. Teddy pun segera membuka matanya saat Kirana keluar dari rumahnya.
0 0
0
Kirana dan Hujan
13-04-2021 23:54

Melamar

Teddy dipanggil untuk segera menemui pamannya dalam waktu dekat terkait dengan alasan hasil studi bandingnya. Bagaimana pun pamannya juga menjadi penanggung jawab atas kampusnya.

Ia ke sana setelah dua hari berselang karena kesibukannya juga di tempat kerjanya. Sampai di sana, ia melihat dokter barusan keluar dari kamar pamannya. Ia tidak tahu kalau pamannya sakit. Ia segera menghampiri dokter dan menanyakan terkait kondisi pamannya.

Dokternya tidak mau mengatakan secara gamblang terkait penyakit pamannya karena permintaannya. Namun, ia memberikan nasihat agar pamannya segera pensiun dan dapat memulihkan kesehatannya secara maksimal.

Tak berselang lama, pamannya keluar dari kamar dan bergabung dengan mereka.

"Dok, ini ponakan saya yg sudah saya anggap seperti anak sendiri."

"Oh, ini. Pantesan kuatir sekali", ja2ab dokter dengan gelak tawa.

"Kuatir tapi kalo disuruh nurutin permintaan pamannya nggak mau nurut", ucap pamannya.

"Permintaan yang mana?"

"Nikah, hanya itu", jawab pamannya dengan enteng.

"Iya tuh nak. Kalau misal dikabulin paman kamu akan cepat pulih"

"Betul, dok. Kalau dia mau nikah dengan Kirana pasti paman ga pusing2 lagi mikirin pengganti paman kelak"

Teddy hanya senyum mendengar umpatan-umpatan pamannya dan didukung oleh dokter. Tapi memang biasanya saat paman seperti bercanda seperti ini, biasanya itu adalah hal yang paman benar-benar inginkan tapi beliau tidak ingin memaksa.

Dokterpun pulang setelah meminum minumannya dan ngobrol sedikit bersama Teddy dan pasiennya.

Sekarang tinggal Pak Eko dan Teddy di sana. Dari bincangan tadi Teddy ingin membicarakan serius terkait pernikahan.

"Paman, bagaimana jika aku menikahi Sandra?", ujar Teddy serius.

"Kamu tahu jawaban paman. Dan kenapa paman tidak menyukainya, kamu mungkin jg sudah tahu"

"Aku tahu paman ingin aku mendapatkan yg terbaik. Dan masalah Sandra, ya aku tahu baru-baru ini"

"Baru-baru ini atau kamu sudah tau awalnya dulu?"

"Sudah tahu dari awal dulu"

"Dan kamu kira dia akan berubah dengan segala perjuangan diri dapetin kamu"

Teddy hanya diam karena memang hal itu benar adanya. Namun perjuangan Sandra mampu merenggut hati Teddy.

"Apakah nanti paman akan mau berhenti dari kampus jika memang nanti aku menikah dengan Kirana?"

"Tentu, tapi kamu tidak boleh karena hal itu saja. Menikah kamu harus setia dengan dia, kamu dan pasangan kamu menyatu dalam hal apapun yang merupakan bagian tak terpisahkan. Tetapi kalau kamu niatnya agar paman bisa pensiun saja, maka paman nggak akan ngebiarin kamu nglakuin itu"

"Kenapa Kirana, bukan orang lain? Apakah paman ada hutang budi dengan keluarga Kirana?"

Paman hanya diam. Dia ingat sekali ketika awal perkenalannya dengan ayahnya Kirana. Dia tidak menyangka bisa menemukan orang sebaik dia. Dan melihat Kirana sekarang, ia benar-benar mirip ayahnya. Ia ingin ponakannya mendapatkan istri yang baik.

" Sudahlah Ted, jika memang kamu tidak ingin melakukannya paman tidak ingin memaksa."

Melihat pamannya yang hanya pasrah seperti itu pasti ada sesuatu besar yang pamannya tutupi.

*****

Perselisihan Teddy dan Sandra berakhir dengan break. Sandra ingin membuat Teddy berlutut minta maaf terlebih dahulu. Ia tahu bahwa Teddy tidak tahan jika lama-lama di rumah sendiri, dia pasti membutuhkan dirinya di sampingnya. Walaupun belum menikah tetapi hubungan mereka bisa dikatakan sudah seperti orang yang sudah menikah.

Teddy semakin sering ke rumah pamannya. Ia jadi tahu bahwa pamannya memang sering sakit. Ia terus memikirkan tentang keinginan pamannya tersebut. Jika mungkin Kirana bisa menjadi solusi, maka ia harus segera membuat rencana, rencana dengan berbagai lapis di dalamnya.

Setelah dipikirkan, akhirnya Teddy menemui pamannya dan menyampaikan hal serius padanya.

"Paman, aku mau menikah dengan Kirana", ucap Teddy.

"Benar? Apa kamu coba untuk mrmbuat lelucon?", jawab pamannya dengan curiga.

"Aku serius"

"Kamu yakin? Kamu ingin menikah bukan karena paman?"

"Ini kehendakku sendiri"

"Bagaimana dengan Sandra"

"Nanti aku beritahukan. Namun aku ada syarat"

"Apa?"

"Acara kami tertutup dan sederhana. Paman tahu kan kalau aku tidak suka ramai dan ribet"

Pamannya terlihat sangat senang dan berbinar.

"Aku akan menghubungi keluarganya. Kita ke sana pekan depan".

"Iya"

******

Teddy, paman dan bibinya menuju ke rumah Kirana setelah berselang empat hari semenjak hari itu.

Kirana sebelumnya sudah diberitahukan untuk pulang tanpa ia tahu apa tujuan ia diminta pulang.

Sampai hari pertemuan kedua belah pihak keluarga, Kirana masih kaget dan bingung. Kenapa keluarga pak eko di sana beserta Teddy juga.

Setengah penyampaian maksud, Kirana sangat kaget.
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
B-Log Collections
Stories from the Heart
seumur-hidup-dibalik-penjara
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia