Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
138
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed513dd7e3a720d597d76f7/antara-rasa-dann-logika--final-chapter---true-story
Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang di Thread gue. Mungkin Thread terakhir. Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika" yang sebelumnya gue buat. Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat me
Lapor Hansip
01-06-2020 21:42

Antara Rasa dan Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]

Quote:Assalamu'alaikum penghuni KASKUS. Salam hormat bagi momod. Selamat datang di Thread gue. Mungkin Thread terakhir. Melanjutkan Thread sebelumnya dari "Antara Rasa dan Logika" yang sebelumnya gue buat. Dan mohon maaf, pertanyaan dari para reader yang gue jawab kemarin di Thread sebelumnya itu gak semuanya sesuai RL. Kenapa? Karena akan gue jawab semuanya disini. Segitu aja jadi, selamat membaca
.



Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]





Quote:Demi apapun. Aku gak mau menyebutmu sudah tak cantik lagi. Jadi diamlah dan percaya padaku.


Part 1


Hai pagi. Apa kabar denganmu? Bagaimana dengan bulir embun yang menggenang di atas daun lalu jatuh perlahan dari sudutnya? Apakah sudah menyentuh membuat sedikit tanah menjadi kecoklatan lebih tua dari sisi lainnya? Ah, tentu saja begitu. Apakah kau tahu bahwa ada perempuan yang kini setia menunggumu, pagi? Harusnya kau tahu. Perempuanku saat ini sangat menyukaimu.

Semilir angin masuk melalui sela-sela jendela yang sedikit menganga. Udara yang segar menyeruak keseluruh sudut kamar. Kamar kami. Gue kerjip kan mata. sinar matahari pagi yang menelusup melewati tirai yang sudah tidak menutupi jendela sebagian membuat silau. Tentu saja, dia pasti yang melakukan ini. Ah, gue lupa kalo tadi sehabis shalat subuh, malah terlelap lagi.

Gue melirik ponsel di atas nakas. Menyambarnya. Menyipitkan mata lalu menatapnya. Pukul 06.15. masih ada satu jam lebih untuk bermalas-malasan. Tapi suara remaja tanggung itu membuat mata enggan untuk menutup lagi. Gue sibakan selimut. Duduk. lalu berjalan keluar dan berdiri di bawah bingkai pintu.

"Ini bekal nya udah teteh masukin di tas. Jangan lupa dimakan kalo istirahat. Terus, inget, jangan kebanyakan jajan. Ditabung uangnya, ya?" Ujar perempuan yang kini menjadi teman hidup gue ke ramaja tanggung itu. Membereskan tasnya. Lalu memberikannya.

Remaja tanggung itu menyandang tasnya lalu melempar senyum lebar, "siap bos," seraya menggerakan tangannya layaknya hormat kepada komandan. Seragam putih birunya terlihat sedikit kebesaran. Membuatnya agak lucu. Tapi tak apalah.

"Yaudah gih, nanti telat" balasnya tersenyum. Membelai kepalanya lembut.

"Assalamu'alaikum" lalu meraih tangan perempuan itu untuk menyaliminya.

Remaja tanggung itu lekas berjalan. Melirik gue. Dan mengurungkan langkahnya menuju pintu depan. Lalu berjalan menghampiri gue.

"A, aku berangkat dulu"

Gue tersenyum lalu mengangguk. Telapak tangannya yang lebih kecil dari gue kini menggenggam tangan gue, lalu diarahkannya punggung tangan gue ke keningnya. Beberapa detik. Ia lepaskan kembali. "assalamu'alaikum". Lalu berjalan keluar.

"Wa'alaikumsalam. Hati hati dijalan"

Ah, mungkin sekolah adalah hal menyenangkan untuknya sekarang. Hal baru dia dapatkan. Teman baru. Terutama ilmu. Suatu saat nanti ia akan menjadi orang hebat. Sehebat perempuan yang berada di samping gue saat ini.

Teringat waktu itu. Beberapa bulan yang lalu. Gue dan istri mendapati remaja tanggung itu duduk di tepi pelataran masjid tempat dia berteduh. Duduk memeluk lututnya. Membenamkan wajah diantara lututnya. Sepertinya hari itu adalah hari ke-tidak beruntungannya. Langit malam pekat. Tersaput awan. Tidak seperti biasanya. Bintang tidak menunjukan jati dirinya. Bahkan formasinyapun entah kemana.

Remaja tanggung itu terisak. Terisak dalam.

Istri gue menepuk pundaknya. Remaja tanggung itu Mengangkat wajahnya pelan. Sangat pelan. Matanya basah. Bibirnya bergetar. Nafasnya tercekat. Ia duduk di sampingnya. Membelai wajahnya lalu memeluknya. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ibu meninggal teh". Ucapnya bergetar. Hampir tidak terdengar. Istri gue menatap kosong ke arah depan. Tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Lalu memeluk remaja tanggung itu semakin erat. Sejak itulah, istri gue membawanya ke rumah ini. Menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Memberi warna baru setiap hari. Tawa nya. Candanya. Ocehannya. Ah, itu semua sudah bagian dari kami. Gue tahu, istri gue sangat menyayangi remaja tanggung yang tubuhnya tak sesuai dengan usianha kebanyakan. Ia terlalu kecil. Ringkih. Dengan kulit kecoklatan.

Istri gue sudah menyiapkan kopi hitam di atas meja makan lengkap dengan sebungkus rokok.

Dia tentu tahu betul kebiasaan gue. Kopi, rokok, itu sudah menjadi bagian dari pagi. Bagian dari cahaya matahari yang sedikit memberi warna kuning pucat di kaki cakrawala.

"Kamu kok gak bangunin aku sih?"

"Udah, tapi dasar kamunya aja yang kebo, malah tidur lagi!" Cibirnya.

"Yee, enggak ya, tadi subuhkan udah bangun" balas gue.

"Tetep aja, udah gitu ngebo lagi." Cibirnya lagi.

Ups, itulah kelemahan gue. Selepas subuh, malah ketiduran. Atau lebih tepatnya sengaja terlelap lagi.

Gue hanya tersenyum lebar. Menggaruk tengkuk yang gak gatal.

Senyum nya yang hangat mengalahkan hangatnya matahari yang baru muncul ke permukaan

***

Jam 07.15. waktunya menemui setumpuk kerjaan di kantor. Menemui hiruk pikuknya dunia demi sesuap nasi.
Jam 07.50. gue sudah berada di lobi. Pak Yanto, Office boy di kantor gue menyapa dengan senyuman dan anggukan. Gue membalasnya. Berjalan Melewati koridor yang tiap sisinya adalah ruangan staff dan pegawai lainnya.

Gue sampai di meja. Menyimpan tas. Mengeluarkan flashdisk. Menancapkannya pada lubang USB di PC. Ah, tentu saja pekerjaan kemarin telah menunggu.




Lanjut ke part 2 gan-sis emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 5
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
01-06-2020 21:47
Part 2


Gue tahu, ketika kalian membaca ini, mungkin sedang beraktifitas. Entah tidur, entah bekerja, entah bermain, entah makan, dan mungkin sedang menjalankan ibadah. Matahari masih menggantung rendah di cakrawala. Tak lama lagi akan menuju peraduannya. Mungkin tinggal beberapa jam lagi.

Tapi sayangnya, keindahan senja ini gak bisa gue nikmatin sepenuhnya, hanya bias sinarnya saja yang memantul lewat kaca kantor yang bisa gue lihat. Diruangan persegi empat yang tersekat oleh partisi ini, gue duduk di depan komputer yang terhubung dengan PC. Beberapa file kerja gue terbuka di layar monitor.

Sudah lima belas menit berlalu. Hanya hening. Senyap. Hanya suara detak jam dinding. Lalu suara desis pelan dari lubang palka yang menemani. Kalo saja gue gak punya pekerjaan tambahan sore ini, mungkin sudah angkat kaki dengan teman-teman yang lain sejak tadi.

Lembar kerja di layar monitor membuat mata gue sayu. Cahaya monitor kadang perih di mata. Beberapa desain harus gue selsaikan dalam waktu dua hari. Ah mungkin akan gue selsaikan di rumah saja, bathin gue.

Ponsel yang gue letakan di samping monitor tiba-tiba berdering. Gue lihat nama pemanggil sebelum akhirnya gue raih dan menerima teleponnya.

"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam, aa masih di kantor?"

"Iya, ini masih ada kerjaan sedikit. Kamu udah makan? Udah minum obat?"

"Masih lama ya? Aku udah masak. Nunggu aa pulang aja ya, nanti kita makan bareng."

"Yaudah, aa pulang sebentar lagi, ya?"

"Iya a, aa hati-hati dijalannya nanti, assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Telepon terputus. Ponsel gue taruh kembali di meja. Gue raih mouse lalu menutup lembar kerja, dan tampil foto gue dengan perempuan paling gue sayang sebagai background di layar.

Senyumnya yang merekah berseri membuat gue tiba-tiba tersenyum. Ah, gue sayang banget sama dia. Sudah satu tahun ini dia menemani gue, bahkan dari gue nol sampai sekarang bekerja di salah satu konsultan desain.

Setelah puas memandang wajahnya di depan layar, segera gue matikan PC dan membenahi file-file yang berserakan di meja. Beberapa file dan flash disk gue masukan ke tas ransel yang segera gue sandang.

Setelah mematikan lampu di ruangan tempat gue kerja, gue segera melangkah menuju lobi dan keluar dari kantor.

***

Gue tiba di parkiran. Berjalan menghampiri mobil gue yang terparkir di pelataran kantor.

"Mas"

Suara perempuan memanggil gue membuat gue menghentikan langkah untuk masuk mobil. Gue segera memutar badan.

"Hana?"

"Mas mau pulang?"

"Emmm iya, eh, kok lo belum pulang han?" Tanya gue dengan dahi menekuk.

"Abis dari sana" Katanya sambil menunjuk restoran fast-food sebelah selatan kantor.

Gue sedikit melirik ke arah tangannya yang menunjuk.

"Oh, sama siapa?"

"Sama Bian. Tapi cabut duluan dia"

Gue mengangguk pelan.

"Yaudah deh gue cabut duluan ya."

"Emmmm"

"Kenapa?" Tanya gue heran sambil menggaruk tengkuk yang gak gatal.

"Gue boleh nebeng gak?"

Ah Hana, ada-ada saja. Ngapain juga nebeng sama gue. Padahal ada ojol atau gak taksi. Dan yang paling riskan adalah, gue udah punya istri. Haduh. Nanti kalo ada yang lihat bisa jadi bahan omongan! Sial. Tapi kalo gue ngomong blak-blakan menolak permintaannya, itu malah membuat hubungan kami sebagai rekan kerja jadi buruk nanti.

Gue mendesah lirih, "yaudah deh."

"Thanks ya mas he he he"

Gue mengangguk lalu masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi.

Ini pertama kalinya gue mengantar perempuan lain pulang semenjak gue menikah. Gak enak banget rasanya. Ya meskipun gue udah kenal Hana, selama hampir tujuh bulan ini sih. Tapi, tetap saja, ini membuat gue merasa gak nyaman. Terlebih, gue merasa Hana sering mencuri-curi kesempatan untuk berbincang dengan gue. Kadang ke meja kerja, ngajak makan bareng di kantin, atau sekedar menanyakan kerjaannya yang bahkan itu bukan divisi gue.

"Disini?" Tanya gue ketika sampai di depan Rumah dengan cat warna kuning pudar.

"Iya mas" jawabnya seraya melepaskan safetybelt.

"Oh iya mas, emmm.. gimana ya ngomongnya." Lanjutnya kemudian dengan raut wajah yang gelisah.

Untuk kedua kalinya gue harus mengerutkan dahi, "kenapa lagi?"

"Emmm.. gue mau jujur deh sama lo mas."

"Soal?"

"Soal perasaan gue sama lo!"

Soal perasaan dia ke gue? Maksudnya apa? Soal pertemanan kita? Apa dia pernah tersinggung dengan perilaku gue atau ucapan gue? Atau..

"Gue pernah buat salah sama lo Han?"

Hana menggeleng cepat, "enggak mas, lo gak pernah bikin salah sama gue. Justru gue sekarang yang bingung sama perasaan gue sama lo."

"Maksud lo apa sih Han? Gue makin..."

"Gue suka sama lo mas!!" Potong Hana.
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
01-06-2020 22:21
walah ada lanjutannya, mejeng gan
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
01-06-2020 22:24
@alvien70

siap, selamat membaca gan emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
01-06-2020 23:02
wah lanjutannya.. mumpung pekiwan. izin bangun apartemen mewah breemoticon-Cool
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
01-06-2020 23:14
@v.tazmania

86 tercopy gan. ane amanin apartemen nyaemoticon-Hansip
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 00:06
waduh lanjutan nya, kasih cendol dulu gan
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 05:42
Part 3


Nafas gue tiba tiba tercekat mendengar pernyataan Hana. Suka sama gue? Gila apa? Dia tahu kalo gue udah nikah meskipun belum pernah bertemu dengan istri gue.

"Lo jangan bercanda deh Han. Gak lucu ah!" Jawab gue resah.

Hana menatap gue lekat.

"Gue gak bercanda Mas. Gue serius. Gue suka sama lo sejak..." Balasnya lalu seperti berpikir. Dia kembali menatap ke kaca depan mobil, "sejak lo ngajak makan gue ke kantin"

Ah, konyol banget perempuan ini. Itu kan wajar saja. Secara dulu dia karyawan baru di kantor. Apa salahnya gue ngajak dia ke kantin, meskipun itu hanya basa-basi. Toh gue hanya menganggapnya sebagai rekan kerja, gak lebih.

"Han, lo tau kan gue udah nikah?"

"Tau mas, tau. Tapi gue gak bisa bohongin perasaan gue sendiri. Lo ngerti itu kan?"

Ngerti? Bukannya dia yang harus ngerti dengan posisi gue sekarang? Egois!

"Justru gue gak ngerti Han. Kenapa lo suka sama cowok yang udah punya istri?"

"Maafin gue ya mas, maafin gue!" Katanya seraya membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali dan berlalu berjalan masuk ke rumahnya.

Perempuan asal jawa ini membuat gue bingung. Gak habis pikir gue dengan apa yang dia katakan barusan. Seharusnya memiliki nalar yang baik sebagai lulusan S1 akuntansi. Atau malah nalarnya hilang dan lebih mementingkan perasaan?

Gue masih bisa melihat dia berjalan masuk kerumahnya sebelum kembali memacu mobil untuk pulang kerumah.

***

Lampu depan rumah sudah menyala ketika gue sampai di garasi. Perempuan yang kini menjadi istri gue menyambut di depan rumah. Segera gue keluar dari mobil dan menghampirinya yang berdiri di ambang pintu. Senyum manisnya mulai mengembang.

"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam a" jawabnya sambil meraih tangan gue dan menciumnya.

"Capek ya a? Sini aku bawain tasnya."

"Lumayan hehe." Jawab gue sambil menyerahkan tas yang gue bawa.

Gue segera duduk di sofa dan membuka sepatu sementara istri gue menyimpan tas di kamar lalu kembali menghampiri gue dan duduk di samping.

"Gimana kerjaan tambahannya? Udah kelar a?" Tanya nya seraya mengusap bahu gue lembut.

"Alhamdulillah"

"Udah?"

"Belum hehe"

"Ih dodol, kirain udah selesai." Jawabnya. Mencubit kecil lengan kanan gue.

"Sakit gak?"

Gue tersenyum tipis, " enggak kok" lalu memagang pergelangan tangannya, "yuk makan, mumpung belum maghrib"

Dia mengangguk lalu mengikuti gue dari belakang setelah gue melepas genggaman tangannya.

Jujur, dia adalah koki handal di rumah ini, di keluarga kecil ini. Dia adalah istri yang baik. Mungkin gue anggap dia sempurna sebagai seorang istri dimata gue. Gak pernah mengeluh. Sangat hormat pada suami.

"Nih a, makanan kesukaan aa, pindang goreng kering" katanya sambil menaruh pindang goreng di atas piring gue.

"Lili, kamu juga harus makan yang banyak sayang, Ya? Udah gitu minum obat. Tadi baru siang kan minum obatnya?" Jawab gue lembut.

Lili tersenyum dan mengangguk.

Iya, pasca operasi, Lili harus terus menerus tergantung dengan obat-obatan. Tiap bulan check up. Tapi yang gue syukuri adalah keberadaannya dia sekarang. Ada dia di hidup gue.

"Oh iya, bi Marni pulang jam berapa tadi Li?" Tanya gue.

"Emmm, kayanya lima belas menit sebelum aa pulang"

Gue mengangguk.

Bi Marni adalah ART di rumah kami. Sebetulnya Lili menolak untuk menyewa seorang ART. Tapi karena gue gak mau ngambil resiko melihat kondisi fisiknya yang gak boleh terlalu capek, jadi gue memutuskan untuk menyewa ART, bi Marni. Dan meskipun kerja nya hanya pagi sampai sore. Tapi se-enggaknya, itu bisa meminimalisir pekerjaan Lili di rumah.

"Kok dari tadi gak kelihatan iki, kemana dia sayang?"

"Dia lagi ada tugas kelompok katanya. Mungkin jam tujuh baru pulang "

Gue kembali mengangguk. Remaja tanggung itu memang rajin sekarang. Terbukti dari ulangan hariannya yang nilainya sempurna. Selalu saja membuat tetehnya tersenyum bangga. Sering meminta di ajarkan pelajaran yang sulit menurutnya. Atau meminta di ceritakanan hal-hal baru. Ah, remaja tanggung itu benar-benar membuat Lili semakin sayang padanya.

Gak butuh waktu lama, gue dan Lili selesai ritual di meja makan. Lili segera membereskan perlatan makan yang berada di meja sementara Gue ganti baju dan cuci muka. Setelahnya, gue beranjak kembali ke kamar dan membuka laptop. Untuk kemudian membuka file yang gue simpan tadi di kantor.

Lili yang dari dapur menghampiri gue dan duduk di tepi kasur.

"Aa"

"Iya sayang?" Jawab gue tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.

"Tadi Alis ngechat aku"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 05:43
@rafeeng

ashiap, makasih gan emoticon-Cendol Gan
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 08:07
lanjut part 4

mention aku y

emoticon-2 Jempol
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 08:26
Alis tebal belum mau menyerah sepertinya.
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 09:01
Part 4


Nama Alis melesat bagai busur panah, menusuk ingatan gue. membuka kembali Tentang ke-egoisannya, tentang janji-janji masa depan palsunya. tentang pengkhianatannya. tentang hal-hal buruk yang mendominasi di pikiran gue ketimbang hal baiknya.

Alis? Mau ngapain dia ngechat Lili? Atau emang hanya sekedar say hi? Atau say hallo? Atau ada say say yang ujung-ujungnya membicarakan sesuatu yang... Ah entahlah..

Kalimat Lili barusan membuat gue mau gak mau menoleh.

"Alis? Mau ngapain katanya?" Gue datar.

"Cuman nanyain kabar doang a"

"Oh gitu" gue kembali menatap layar laptop.

"Kenapa sih a, sensi banget kalo denger nama Alis?" Tanya nya lembut.

Hah? Sensi? Apa muka datar gue masih terkesan sensi waktu denger nama Alis? Enggak deh kayanya. Atau itu cuman asumsi yang dibuat-buat oleh Lili? Mungkin.

"Ah enggak kok sayang, biasa aja." Gue menyangkal.

"Yakiiinn nih biasa aja? Itu mukanya merah gitu?" Lili menggoda.

Gue mendengus. Lalu melirik ke arah Lili.

"Padahal B aja" jawab gue sambil cemberut.

"Uu tayang-tayang" katanya terkekeh sambil mengelitiki pinggang gue dengan jari-jarinya yang lentik.

Ups. Gue paling gak bisa kalo di gelitikin. Sumpah, itu bisa bikin gue menggeliat dan ngakak abis.

"Ha ha ha ha udah sayang. Yaampun gak kuat! geli banget" gue memohon ampun.

Tapi Lili masih saja dengan senjata gelitiknya, hingga terdengar adzan maghrib berkumandang.

"Sayang udah ha ha, ini udah adzan loh."

Lili mengehentikan kegiatannya.

Dengan sisa-sisa tawa yang masih ada, gue menatap Lili. Manik matanya membuat gue tenang. Teduh. Damai. Menghilangkan semua lelah seharian di kantor. Melupakan kejadian hari ini mengenai Hana. Mengenai ucapannya lebih tepatnya.

Gue membelai lembut wajahnya. Jika teringat perkataan Hana tadi, gue gak sanggup kalo ucapannya itu sampai terdengar oleh Lili. Semoga saja enggak. Dan jangan sampai.

"Shalat dulu yuk?" Ajak gue.

Lili melipat bibirnya. Lalu memutar bola matanya, "aku hari ini dapet a, jadi libur deh"

"Yah, gak main bola dong!" Gue nyengir.

"Ihh, udah ah gih sana mandi terus wudhu, air angetnya udah aku siapin"

"Iya iya" gue terkekeh melihat wajah Lili yang tersipu. Me-merah.

Gue beranjak dari duduk dan melangkah keluar kamar lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ah, memang, air hangat ini membuat otot-otot gue yang tegang mereda seketika. Segar sekali. Kini selesai mandi, gue segera memakai pakaian lengkap untuk shalat dan berjalan menuju mushola kecil di samping kamar.

Tiap selesai shalat, gak pernah terlewat, gue selipkan do'a untuk kesembuhan totalnya Lili. Untuk usianya Lili. Untuk kebahagiaannya Lili. Untuk pahala sebagai istri yang sangat sempurna buat gue. Untuk pahala sebagai istri yang ta'at pada suaminya.

Kadang, bulir air tiba-tiba menggenang di pelupuk mata. Teringat saat wajah pucat pasinya kala itu. Terbaring tak berdaya dengan selang yang menghujam tubuhnya. terbaring di kerubuni oleh dokter spesialis dan petugas medis lainnya. Sepertinya gue gak sanggup kalo itu terjadi lagi. Dan sampai detik ini, gue selalu memohon, agar jangan sampai kejadian itu menimpa Lili lagi.

Tapi itu lah Lili. Dia tidak pernah memperlihatkan keadaannya seperti apa. Selalu mengembangkan senyumnya. Apa lagi untuk gue, suaminya. Gue merasa menjadi suami yang paling beruntung memiliki istri seperti Lili.

***

"A, aku besok mau ke supermarket belanja bulanan. Aa mau nitip apa?"

Ah iya, ini memang jadwal kami belanja bulanan.

"Oh iya ya, emmm.. persediaan makan udah mulai abis ya sayang?" Kata gue.

Lili menyandarkan kepalanya di bahu gue, lalu memindah saluran TV dengan remot yang berada di atas paha gue.

"Iya aa, udah abis bis bis." Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.

"Yaudah kalo gitu, nanti aa kasih uang belanjanya ya."

"Gak usah a, masih ada kok. Yang bulan kemaren aja masih sisa. Mending itu di tabung a."

Masih sisa? Bagiamana bisa Lili menyimpan uang dengan segitu apiknya? Memang benar mitos itu, 'perempuan pandai memanage keuangan rumah tangga' ". Atau mungkin hanya segelintir perempuan yang seperti Lili? Gue gak tahu pasti. Tapi yang jelas, perempuan yang ada di samping gue, dia adalah bendahara terbaik di rumah ini.

"Bener masih cukup?" Tanya gue memastikan.

Lili mengangkat kepalanya dan menatap gue dengan manik matanya yang kecoklatan.

"Masih aa, udah pokoknya itu di tabung. Lagian aku gak kepengen beli apa-apa kok."

Kamu emang gak pernah minta apa-apa Li sama aku. Bathin gue.

Asli, Lili gak pernah meminta apapun sama gue kecuali menjadi suami yang bertanggung jawab untuknya.

Setelah berbincang diruang TV cukup lama hingga rasa kantuk tiba, kami memutuskan untuk pergi ke kamar. Lili menarik selimutnya dan tidur di dada gue sebagai bantalannya. Tangannya memeluk gue. Kini matanya mulai terpejam. damai. tentram.

Pikiran gue kembali melayang jauh. Mengingat wajah Hana tadi sore yang mengatakan kalo 'gue suka sama lo mas'.
Diubah oleh aldiriza
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kaduruk dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 09:03
Quote:Original Posted By muyasy
lanjut part 4

mention aku y

emoticon-2 Jempol


enjoy emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By Cendekia08
Alis tebal belum mau menyerah sepertinya.


haha alisnya harus di kerok ganemoticon-Ngakak
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 10:01
Quote:Original Posted By aldiriza
Part 4


Nama Alis melesat bagai busur panah, menusuk ingatan gue. membuka kembali Tentang ke-egoisannya, tentang janji-janji masa depan palsunya. tentang pengkhianatannya. tentang hal-hal buruk yang mendominasi di pikiran gue ketimbang hal baiknya.

Alis? Mau ngapain dia ngechat Lili? Atau emang hanya sekedar say hi? Atau say hallo? Atau ada say say yang ujung-ujungnya membicarakan sesuatu yang... Ah entahlah..

Kalimat Lili barusan membuat gue mau gak mau menoleh.

"Alis? Mau ngapain katanya?" Gue datar.

"Cuman nanyain kabar doang a"

"Oh gitu" gue kembali menatap layar laptop.

"Kenapa sih a, sensi banget kalo denger nama Alis?" Tanya nya lembut.

Hah? Sensi? Apa muka datar gue masih terkesan sensi waktu denger nama Alis? Enggak deh kayanya. Atau itu cuman asumsi yang dibuat-buat oleh Lili? Mungkin.

"Ah enggak kok sayang, biasa aja." Gue menyangkal.

"Yakiiinn nih biasa aja? Itu mukanya merah gitu?" Lili menggoda.

Gue mendengus. Lalu melirik ke arah Lili.

"Padahal B aja" jawab gue sambil cemberut.

"Uu tayang-tayang" katanya terkekeh sambil mengelitiki pinggang gue dengan jari-jarinya yang lentik.

Ups. Gue paling gak bisa kalo di gelitikin. Sumpah, itu bisa bikin gue menggeliat dan ngakak abis.

"Ha ha ha ha udah sayang. Yaampun gak kuat! geli banget" gue memohon ampun.

Tapi Lili masih saja dengan senjata gelitiknya, hingga terdengar adzan maghrib berkumandang.

"Sayang udah ha ha, ini udah adzan loh."

Lili mengehentikan kegiatannya.

Dengan sisa-sisa tawa yang masih ada, gue menatap Lili. Manik matanya membuat gue tenang. Teduh. Damai. Menghilangkan semua lelah seharian di kantor. Melupakan kejadian hari ini mengenai Hana. Mengenai ucapannya lebih tepatnya.

Gue membelai lembut wajahnya. Jika teringat perkataan Hana tadi, gue gak sanggup kalo ucapannya itu sampai terdengar oleh Lili. Semoga saja enggak. Dan jangan sampai.

"Shalat dulu yuk?" Ajak gue.

Lili melipat bibirnya. Lalu memutar bola matanya, "aku hari ini dapet a, jadi libur deh"

"Yah, gak main bola dong!" Gue nyengir.

"Ihh, udah ah gih sana mandi terus wudhu, air angetnya udah aku siapin"

"Iya iya" gue terkekeh melihat wajah Lili yang tersipu. Me-merah.

Gue beranjak dari duduk dan melangkah keluar kamar lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ah, memang, air hangat ini membuat otot-otot gue yang tegang mereda seketika. Segar sekali. Kini selesai mandi, gue segera memakai pakaian lengkap untuk shalat dan berjalan menuju mushola kecil di samping kamar.

Tiap selesai shalat, gak pernah terlewat, gue selipkan do'a untuk kesembuhan totalnya Lili. Untuk usianya Lili. Untuk kebahagiaannya Lili. Untuk pahala sebagai istri yang sangat sempurna buat gue. Untuk pahala sebagai istri yang ta'at pada suaminya.

Kadang, bulir air tiba-tiba menggenang di pelupuk mata. Teringat saat wajah pucat pasinya kala itu. Terbaring tak berdaya dengan selang yang menghujam tubuhnya. terbaring di kerubuni oleh dokter spesialis dan petugas medis lainnya. Sepertinya gue gak sanggup kalo itu terjadi lagi. Dan sampai detik ini, gue selalu memohon, agar jangan sampai kejadian itu menimpa Lili lagi.

Tapi itu lah Lili. Dia tidak pernah memperlihatkan keadaannya seperti apa. Selalu mengembangkan senyumnya. Apa lagi untuk gue, suaminya. Gue merasa menjadi suami yang paling beruntung memiliki istri seperti Lili.

***

"A, aku besok mau ke supermarket belanja bulanan. Aa mau nitip apa?"

Ah iya, ini memang jadwal kami belanja bulanan.

"Oh iya ya, emmm.. persediaan makan udah mulai abis ya sayang?" Kata gue.

Lili menyandarkan kepalanya di bahu gue, lalu memindah saluran TV dengan remot yang berada di atas paha gue.

"Iya aa, udah abis bis bis." Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.

"Yaudah kalo gitu, nanti aa kasih uang belanjanya ya."

"Gak usah a, masih ada kok. Yang bulan kemaren aja masih sisa. Mending itu di tabung a."

Masih sisa? Bagiamana bisa Lili menyimpan uang dengan segitu apiknya? Memang benar mitos itu, 'perempuan pandai memanage keuangan rumah tangga' ". Atau mungkin hanya segelintir perempuan yang seperti Lili? Gue gak tahu pasti. Tapi yang jelas, perempuan yang ada di samping gue, dia adalah bendahara terbaik di rumah ini.

"Bener masih cukup?" Tanya gue memastikan.

Lili mengangkat kepalanya dan menatap gue dengan manik matanya yang kecoklatan.

"Masih aa, udah pokoknya itu di tabung. Lagian aku gak kepengen beli apa-apa kok."

Kamu emang gak pernah minta apa-apa Li sama aku. Bathin gue.

Asli, Lili gak pernah meminta apapun sama gue kecuali menjadi suami yang bertanggung jawab untuknya.

Setelah berbincang diruang TV cukup lama hingga rasa kantuk tiba, kami memutuskan untuk pergi ke kamar. Lili menarik selimutnya dan tidur di dada gue sebagai bantalannya. Tangannya memeluk gue. Kini matanya mulai terpejam. damai. tentram.

Pikiran gue kembali melayang jauh. Mengingat wajah Hana tadi sore yang mengatakan kalo 'gue suka sama lo mas'.


Dan, aku ikutan ngantuk 😴
profile-picture
nyahprenjak memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 12:39
ada lanjutannya ternyata... emoticon-2 Jempol
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 18:30
sipp lahemoticon-Cendol Gan
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
02-06-2020 18:31
ilustrasinya jga bagus
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
03-06-2020 16:45
wahh ada lanjutannya ternyata. Dilanjut lagi kang updetnya emoticon-Add Friend (S)
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
04-06-2020 00:07
Wah ada kisah baru, newbie numpang mampir ya mamang Fakboi hahaha
profile-picture
kaduruk memberi reputasi
1 0
1
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
04-06-2020 04:34
Menunggu flashback abang satu inj :Wakaka
0 0
0
Antara Rasa dann Logika ( Final Chapter ) [ TRUE STORY ]
04-06-2020 16:00
loh kok macet
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
putri-buruk-rupa
Stories from the Heart
dendam
Stories from the Heart
cerpen-horor-hangit
Stories from the Heart
indigo-bukan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
pengusaha-muda
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia