Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
13
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed35da1facb9569d1181fc8/menikahlah-denganku-vol-2
Menikahlah Denganku di Dunia yang Indah Ini! Volume 2 Penulis: Suwoko Saiyan Blurb: Kisah dunia yang diisi oleh wanita saja masih berlanjut. Alex yang sudah mulai bisa menerima sikap Reina, harus dihadapkan oleh masalah baru. Pasukan Kerajaan mulai bergerak, tetapi bukan itu saja. Para petualang, penyihir, dan Gadis Iblis yang selalu meneror Alfterin pun juga bergerak secara bersamaan. Sepertinya
Lapor Hansip
31-05-2020 14:32

Menikahlah Denganku! Vol. 2

icon-verified-thread
Menikahlah Denganku! Vol. 2


Menikahlah Denganku di Dunia yang Indah Ini! Volume 2
Penulis: Suwoko Saiyan

Blurb:

Kisah dunia yang diisi oleh wanita saja masih berlanjut. Alex yang sudah mulai bisa menerima sikap Reina, harus dihadapkan oleh masalah baru. Pasukan Kerajaan mulai bergerak, tetapi bukan itu saja. Para petualang, penyihir, dan Gadis Iblis yang selalu meneror Alfterin pun juga bergerak secara bersamaan. Sepertinya akan ada kekacauan besar yang bakal melanda Alfterin.



Sebelum membaca Volume ke-2 ini, sebaiknya agan membaca dulu Volume yang pertama. Menikahlah Denganku di Dunia yang Indah Ini! Volume 1


DAFTAR EPISODE:


~ SELAMAT MEMBACA ~



PROLOG

Ruangan yang besar untuk dirinya sendiri. Duduk di atas singgasana sambil menatap pintu besar jauh di depannya. Ia menunggu seseorang menyampaikan pesan untuknya.

"Yang Mulia, bukankah ini sudah terlalu lama sejak saat itu." Seorang wanita bergaris wajah tua mendadak muncul dari pintu yang lain, lantas menunduk hormat dihadapan Ratu.

"Greta, aku tahu. Namun, bukankah hanya hal ini yang bisa kulakukan?" Gadis berambut pirang dengan pakaian sutra dan mahkota di puncak kepalanya, menghela napas kecewa. Ia menatap jendela bermosaik indah yang bergambar seorang Raja, Ratu, dan putri kecilnya.

"Benar, Yang Mulia. Seorang Ratu memang tak diizinkan untuk melakukan hal-hal berbahaya. Itu demi kebaikan kita semua." Wanita bernama Greta itu mengangkat wajahnya dengan senyuman yang menyertai.

Tak terasa bibir Ratu sedikit terangkat. Senyuman Greta adalah satu-satunya yang bisa membuat dia tenang selama ini. Lima belas tahun sejak 'Kejadian Besar' di istana Alfterin pecah, Greta-lah yang mengurusnya hingga kini Ratu genap berusia 18 tahun.

Namun, ada sedikit hal yang mengganjal hati Ratu. Setelah semua yang dulu pernah terjadi karena keluarga kerajaan, apakah Greta mampu memaafkan kesalahan itu begitu saja? Bukankah ini sedikit aneh?

Ratu tak yakin untuk menanyakan pertanyaan ini tapi, jika dipendam terlalu lama malah akan tidak baik. Ia merasa tak perlu ada rasa yang disembunyikan di antara dirinya dan Greta. Namun, saat melihat wajah tulus Greta, Ratu selalu yakin jika wanita paruh baya tersebut tak menyimpan dendam apapun kepadanya.

"Greta, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu." Suara Ratu menggema.

Greta mengangkat wajahnya. Heran. Namun, segera menundukan kepala lagi. "Sesuai permintaan Anda, Yang Mulia. Silakan bertanya kepada saya."

Ratu menggigit bibir. Ia ragu, tapi harus. "Greta, apakah kau membenciku?"

Greta bergeming, berbanding terbalik dengan Ratu yang begitu menantikan jawabannya.

Jika dia memang membencinya, Ratu tak bisa berbuat banyak. Lagipula, kesalahan memang berpihak pada keluarga kerajaan. Hal itu juga membuktikan bahwa tak ada seorang pun yang menyukainya, meski dirinya adalah seorang Ratu.

"Yang Mulia Ratu Allea," ucapan Greta mengambang, terdengar menggema.

Ratu Allea masih menunggu jawaban wanita di depannya tersebut dengan perasaan tak keruan. Namun, di saat keputusasaan sudah mulai merasuki ....

"Apakah Anda meragukan kesetian saya?" Ucapan tegas Greta membuat Ratu terdiam. Tak terasa, seulas senyum terbentuk di bibirnya.

"Tentu saja, aku tidak pernah meragukanmu, Greta." Karena kaulah yang sudah membesarkanku hingga bisa menjadi seperti sekarang. Itulah kata yang ingin Ratu ucapkan, hanya saja suaranya tertahan di tenggorokan.

Pintu besar di belakang Greta terbuka perlahan. Seorang prajurit wanita dengan rambut kecoklatan yang dikuncir kuda dan armor lengkap tak lupa pedangnya, datang. Dia segera menghadap Ratu dan berjongkok memberi hormat.

"Saya datang membawa berita terbaru, Yang Mulia."

"Apa itu, Jendral Rin?" Ratu mulai tertarik dengan berita dari Jendral Rin. Lagipula, itulah yang sejak tadi ia tunggu.

Jendral Rin menghela napas, kemudian senyum sinis terlukis di bibirnya. "Saya yakin Yang Mulia akan senang mendengarnya."

"Jendral Rin, lebih baik Anda segera menyampaikan apa isi beritanya. Ratu Allea sudah terlalu lama menantikan kedatangan Anda." Greta melirik sadis ke arah Rin.

"Maafkan saya, Ketua Pelayan Greta, dan Yang Mulia Ratu Allea." Jendral Rin menunduk kemudian melanjutkan. "Saya baru saja menemukan kabar gembira. Tadi pagi, tepat di alun-alun pasar Alfterin, seorang laki-laki mendadak muncul dari sebuah lingkaran hitam yang diduga portal."

Ratu Allea dan Greta terlonjak. Sejak terakhir kali 5 tahun yang lalu mereka dapat melihat laki-laki, dan sekarang muncul lagi di tengah pasar.

Ratu Allea berjalan tergesa-gesa ke arah Rin. Ia berjongkok di depan Jendral Rin dengan wajah antusias. "Katakan! Katakan, Jendral Rin! Di mana dia sekarang!"

Bahu Jendral Rin tergoncang karena Ratu terlalu bersemangat. Namun, sepertinya dia akan mengacaukan suasana hati Ratu Allea. "Maafkan saya, Yang Mulia, tapi laki-laki itu kabur setelah mendapat pengeroyokan dari para wanita. Saya tidak sempat melerainya."

Ratu Allea lemas seketika dan tersimpuh di lantai, pun Greta yang tampak kecewa.

"Anda seharusnya bisa bergerak cepat, Jendral Rin. Yang Mulia terlanjur bersemangat setelah mendapat kabar ini dari Anda." Greta menghela napas.

"Maafkan saya, Ketua Pelayan Greta. Namun, bukan berarti saya tidak mendapatkan petunjuk apapun soal laki-laki itu." Rin mengeluarkan sekantung plastik berisi makanan bungkus dan buku dari balik jubahnya.

Ratu Allea dan Greta kembali terkejut melihat benda yang masih asing itu.

"Apa maksudnya ini, Jendral Rin?" tanya Greta masih berhati-hati dengan benda yang dibawa Jendral Rin.

"Apakah ini benda yang dibawa laki-laki itu?" Ratu Allea membuka plastik itu dan mengeluarkan beberapa isinya. Namun, tetap saja ia tidak tahu itu benda apa saja.

"Anda benar, Yang Mulia, laki-laki itu menjatuhkan benda aneh ini di alun-alun pasar dan saya memungutnya." Jendral Rin kembali percaya diri. "Dan seharusnya, Ketua Pelayan Greta, paham apa yang sedang saya pikirkan dengan benda tersebut."

Greta melirik Jendral Rin dan plastik itu bergantian, kemudian memikirkan apa hubungannya untuk mengetahui di mana laki-laki itu sekarang. Namun, ia mendadak terkejut sendiri dengan pemikirannya. "Mungkinkah maskud Anda, Anda ingin membawa plastik ini kepada para alkemis?"

"Kita bisa mengetahui di mana laki-laki itu berada dengan melacaknya lewat benda yang pernah ia pegang. Tentu saja ini pekerjaan yang mudah bagi para Alkemis kerajaan, bukan?" ucap Jendral Rin.

Greta menghela napas, lantas menoleh ke arah Ratu. Jika beliau mengizinkan, tentu saja Greta tak akan bisa membantah saran Jendral Rin. Namun, belum sempat Greta bertanya, Ratu tanggap bereaksi.

"Tentu saja aku akan mengizinkan kalian. Panggil para Alkemis kerajaan untuk mulai menelusuri di mana laki-laki itu sekarang."

"Seperti yang Anda perintahkan, Yang Mulia. Saya izin untuk pamit dan segera memanggil para Alkemis." Jendral Rin menunduk hormat sebelum kemudian berdiri hendak pergi, tapi Ratu menarik jubahnya. Jendral Rin berhenti dan menoleh ke arah Ratu. "Ada apa—"

"Jika ... jika boleh tahu, apakah dia laki-laki yang tepat?" Ratu memalingkan wajahnya, pipinya bersemu kemerahan. Namun, tentu saja Jendral menyadari hal itu. Seulas senyum membentuk bibirnya.

"Saya tidak bisa mengatakan bahwa dia kandidat yang cocok untuk Anda, tapi jika boleh berpendapat. Dia adalah laki-laki yang tepat," jelas Jendral Rin. Namun, Ratu tak bereaksi. Jendral Rin yang melihatnya, semakin paham maksud tingkah itu. "Yang Mulia, tak perlu khawatir dengan sosoknya. Dia adalah seorang pemuda yang saya tebak seumuran dengan kita."

Ratu mendadak menoleh ke arah Jendral Rin. Namun, segera memalingkan mukanya lagi dan berusaha menyembunyikan senyum. Akan tetapi, Greta dan Jendral Rin bisa melihatnya dengan jelas.

"Jadi begitu, ya," gumam Ratu. Ia tak bisa menyembunyikan wajahnya terlalu lama.

Jauh dari istana kerajaan, di sebuah desa terpencil bernama Anvylle, di dalam kamar. Seorang gadis berambut coklat sedang memastikan laki-laki di atas ranjang itu baik-baik saja. Senyum Reina mengembang, satu persatu rencananya berjalan dengan mulus.

***
Diubah oleh suwokotumdex
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Menikahlah Denganku! Vol. 2
31-05-2020 17:20
akhirnya yang ditunggu, lanjutkan bosemoticon-Toast
profile-picture
suwokotumdex memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Menikahlah Denganku! Vol. 2
01-06-2020 01:54
Lanjutkan gan
Smangat ya nulisnya
✌️✌️✌️
profile-picture
suwokotumdex memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Menikahlah Denganku! Vol. 2
01-06-2020 22:28
kayaknya kenal deh, dengan penulis ini. namanya nggak asing sepertinya bagiku😄. tapi entahlah, siapa tau aku salah orang. wkwkwkkkk @suwokotumdex
profile-picture
suwokotumdex memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ..
Menikahlah Denganku! Vol. 2
08-06-2020 23:05

EPISODE 1 - Kelompok Pengembara

Pasar Alfterin pagi ini ramai seperti biasanya. Pedagang dan pembeli sama-sama saling mengajukan harga. Sekilas memang terdengar seperti tempat perlelangan kendati mereka hanya menawar harga pada umumnya. Di antara keramaian wanita itu, seorang gadis tampak memilah beberapa sayuran. Rambut coklat terang, mata yang selalu tampak tenang, serta suara lembut. Namanya Reina. Seperti biasa saat persediaan makanan mulai menipis, ia pasti mampir ke pasar Alfterin untuk membeli beberapa. Namun, tujuannya kali ini bukan itu saja.

Setelah memberikan beberapa keping koin ke pedagang, Reina beranjak pergi. Matanya menelisik ke sekitar memastikan tak ada yang mencurigakan. Sampai saat ini, keadaan cukup tenang seperti hari biasanya. Akan tetapi, hal itu tak serta-merta membuat Reina bisa bernapas lega. Papan pengumuman di tengah alun-alun yang terpampang dengan jelas itu membuat Reina khawatir. Kerajaan sepertinya mulai bergerak.

Reina berhenti di depan papan pengumuman. Selembaran kertas yang ditempel di sana memperlihatkan lukisan wajah laki-laki yang dia kenal. Alex Elvano, menjadi buronan dengan imbalan 1000 keping emas bagi yang bisa menangkapnya tanpa terluka sedikit pun.

"Hei, lihat, sepertinya Ratu tengik itu mulai bergerak."

"Ah, benar juga. Lihat dia bahkan rela memberi 1000 keping emas pada siapapun yang bisa menangkap laki-laki itu."

"Kau ingin mencoba menangkapnya?"

"Tentu saja! Aku ingin menangkap laki-laki itu dan menjadikannya suamiku!"

"Bukankah itu berarti kau tak akan mendapatkan emasnya?"

"Ah, masa bodoh dengan emas, aku lebih mengingkan laki-laki itu."

"Jika kau sudah mendapatkannya, jangan lupa untuk memberi tahuku. Kita bisa bermain dengan laki-laki itu secara bersama, ha-ha-ha-ha ...."

Perbincangan dua gadis di samping Reina membuatnya risi.

"Mendapatkan Tuan Alex, jangan kalian pikir akan semudah itu," gumam Reina.

Kedua gadis itu kontan menoleh. "Hei, apa kau bicara sesuatu?"

Reina tersenyum kecil, lantas memilih pergi. Meladeni mereka hanya akan buang-buang waktu saja. Namun, langkah Reina kembali terhenti. Seseorang berteriak histeris yang membuat pasar yang sudah ramai semakin gaduh.

"Seorang pria! Ada seorang pria di sini!"

Reina terkesiap mendengar teriakan itu. Seorang pria, mungkinkah ... "Tuan Alex?!"

Gadis itu berlari menembus padatnya manusia. Dia cukup terlatih untuk situasi seperti ini. Reina menembus celah-celah dengan sempurna. Namun, mau bagaimanapun juga mereka terlalu banyak. Reina terpaksa berhenti dan mencoba mengintip sebisanya. Tak terlihat jelas, tapi dia bisa memastikan memang ada seorang lelaki di depan sana tengah berlari. Jika itu benar Tuan Alex, masalah ini bisa sangat berbahaya. Lagipula, apa yang dilakukannya di tempat ini. Bukankah lebih aman jika tetap di persembunyian.

Reina meloncat dan menjadikan bahu orang lain sebagi pijakan. Hanya ini satu-satunya jalan yang lebih cepat. Dia meloncat lagi ke tempat yang lebih tinggi, sebuah bangunan. Matanya menangkap sosok itu, seorang laki-laki dan perempuan berhasil keluar dari pasar dan berlari ke arah hutan. Namun, Reina sama sekali tak mengenali mereka.

"Siapa mereka?" gumam Reina. Kedua orang itu menghilang di dalam hutan. Anehnya, para wanita yang mengejar tadi seperti dibuat kebingungan, seolah ada sihir yang menyelimuti pelarian kedua orang itu.

Mau bagaimana pun juga, mereka tak bisa dibiarkan. Reina berpikir untuk mencari tahu dulu kebenarannya. Dia berharap mereka bukanlah ancaman.

Reina meloncat turun, lantas bergegas keluar dari pasar.

Tanpa Reina sadari, seorang perempuan dengan armor lengkap mengawasinya sejak tadi dari bawah. Wajahnya muram dengan mata tajam. Ia kemudian melenggang pergi ke istana dengan kudanya, ada berita baru yang harus disampaikan kepada Ratu. Setidaknya itulah yang sekarang dipikirkan oleh Jendral Rin.

***


Reina berjalan perlahan memasuki hutan sembari memastikan jejak kedua orang asing itu. Semalam baru saja hujan jadi tanah di hutan ini masih sedikit berlumpur. Selain jejak kakinya sendiri tadi pagi, Reina menemukan jejak lain. Kaki yang besar, kemungkinan mereka memakai boots.

Reina semakin yakin mereka masih tak jauh dari sini. Gadis itu memejamkan mata dan mendengarkan setiap gerakan. Suara angin yang menggoyangkan dedaunan terdengar lebih dominan, hampir tak ada suara lain kecuali suara napas berat. Mata Reina terbuka. Asal suaranya tak terlalu jauh, itu pasti mereka. Fakta bahwa mereka kelelahan setelah dikejar-kejar oleh wanita sepasar tadi cukup masuk akal.

Berjalan perlahan sesekali bersembunyi di balik pohon, ataupun semak. Reina tak bisa menemukan kedua orang itu. Padahal ia yakin sekali mereka tak terlalu jauh. Reina membangkitkan kekuatan sihirnya untuk melacak keberadaan mereka, tapi ia tak bisa merasakannya sama sekali. Apakah mereka pergi secepat itu?

"Apa yang kau inginkan dari kami?" Sebuah suara mendadak muncul dari belakang Reina. Gadis itu memutar tubuhnya dan melihat kedua orang asing itu di sana.

Laki-laki dengan pakaian serba biru itu mengarahkan pedangnya ke muka Reina. Wajahnya masam, matanya seolah ingin mengayunkan pedang itu jika Reina bergerak tiba-tiba.

"Gomba, hentikan!" Perempuan di sampingnya menepis lengan laki-laki bernama Gomba. "Bisakah kau itu tenang sedikit!"

"Tenang? Setelah mendapat perlakuan mengerikan dari sekumpulan wanita tadi? Elly, kau jangan bercanda!" ucap Gomba dengan nada tinggi.

"Mengerikan katamu? Kau itu sebenarnya senang kan! Mana ada pria bodoh yang marah saat sekumpulan wanita mengerumuninya?" Perempuan bernama Elly itu ganti membentak.

"Hah? Jadi kaupikir itu menyenangkan? Saat mereka memaksaku, menarik tanganku, dan berusaha memakanku! Kau pikir itu menyenangkan!" Gomba lagi-lagi tak mau mengalah.

Sementara Reina, ya, dia terjebak di antara perdebatan kedua orang asing ini. Ia tak tahu harus berbuat apa, lagipula ... Reina kan memang tak kenal dengan mereka.

"Permisi, Tuan dan Nona."

"Apa?!" Gomba dan Elly kompak berteriak ke Reina.

Reina terkesiap dan memandang wajah kedua orang asing itu yang memerah--karena amarah. Lantas tersenyum kecut. Dia benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana. Namun, di sisi lain kedua orang ini sepertinya bukan berasal dari Alfterin sepetinya. Petualang?

"Ah, sudahlah!" Elly menyilangkan tangan ke dada dan membalikan badan, memunggungi Reina dan Gomba.

Sungguh, Reina benar-benar terjebak di perdabatan yang konyol. "Maaf, Tuan, tapi sebenernya kalian ini siapa? Sepertinya kalian masih baru di tempat ini."

Gomba menoleh ke arah Reina, tentu, dengan tatapan waspada. Trauma tentang serangan para wanita tadi membuatnya benar-benar harus waspada. Dia menghela napas. "Aku ini pengembara."

"Petualang! Sudah berapa kali kubilang kita ini petualang!" Elly menyahut.

"Terserah kau saja menyebutnya apa!" Gomba tak kalah sinis.

"Petualang? Jadi benar kalian memang bukan berasal dari Alfterin," tanya Reina memastikan.

"Huum, tentu saja. Oh, ya ... jika dari pengamatanku, kau ini sepertinya agak berbeda?" Elly memandang Reina secara teliti.

"Berbeda? Maksud Nona berambut pirang?" Reina menelengkan kepala.

"Maksudku, kau sepertinya tak terlalu tertarik dengan Gomba? Beda dengan wanita di pasar tadi." Elly mendekati Reina.

Reina tertawa kecil. "Saya tidak mengerti maksud Nona tapi, ya, saya mengerti perasaan Anda yang baru datang di tanah Alfterin."

Elly memicingkan mata. "Kau mencurigakan, tapi aku suka!" Sekarang gadis itu malah kegirangan. "Setidaknya tak ada wanita yang akan merebut—"

"Hei, apa kau tau situasi yang terjadi di kerajaan ini? Aku merasa ada yang aneh." Gomba memotong ucapan Elly yang dibalas tatapan sinis gadis dengan panahan di punggungnya itu.

Reina mengangguk. "Tapi, sepertinya kita tak bisa banyak berbincang sekarang, setidaknya sampai mereka pergi."

Gomba dan Elly siaga, pun Reina. Dua puluh prajurit mendadak mengelilingi mereka. Salah seorang prajurit wanita di atas kuda turun dan mendekat. Ia lantas menarik pedang dari sarungnya, dan mengacungkan ke arah tiga orang di hadapannya.

"Atas nama Ratu Allea, kalian bertiga harus ikut kami ke istana!" teriak Jendral Rin tegas.

Ketegangan yang tak bisa dihindari.

***



FYI: Gomba dan Elly, merupakan tokoh dari WN lain saya yang berjudul 'The Nomad'. Belum pernah membacanya? Tentu, karena memang belum pernah saya publikasikan, dan rencananya akan saya publikasikan nanti jika banyak yang menyukai kedua tokoh tersebut.
profile-picture
profile-picture
hazzzzzzz dan alvicenasanjaya memberi reputasi
2 0
2
Menikahlah Denganku! Vol. 2
09-06-2020 01:03
Smangat ya updatenya gan
Cerita agan bagus. Mudah2an banyak yg suka sama cerita agan n mudah2an agan bisa mengembangkan lagi bakat nulis agan n jadi penulis besar
profile-picture
suwokotumdex memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
bully-crime---thriller
Stories from the Heart
hello-good-bye-bae
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
kumpulan-cerita-seram
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia