Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
64
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed0e0f282d49546d54862a4/fiksi-mempertahankan-satu-nama
Perkenalkan. Namaku Benyamin. Dilahirkan mamah berdarah sunda, dan ayah kelahiran Jakarta. Tinggi badanku lumayan, mempunyai muka pas-pasan. Kerja sebagai perangkai kata yang punya penghasilan cukup lumayan. Aku lulusan sekolah teknik menengah yang berada di Jakarta. Lulus dengan hasil memuaskan. Sebenarnya, aku pilih sekolah teknik itu karena banyak teman-temanku yang milihnya juga. Padahal, k
Lapor Hansip
29-05-2020 17:16

[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA

Past Hot Thread
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
Perkenalkan. Namaku Benyamin. Dilahirkan mamah berdarah sunda, dan ayah kelahiran Jakarta. Tinggi badanku lumayan, mempunyai muka pas-pasan. Kerja sebagai perangkai kata yang punya penghasilan cukup lumayan.

Aku lulusan sekolah teknik menengah yang berada di Jakarta. Lulus dengan hasil memuaskan. Sebenarnya, aku pilih sekolah teknik itu karena banyak teman-temanku yang milihnya juga. Padahal, kemauanku adalah menjadi penulis atau pengacara. Tapi tak apa, semua sudah terlewat. Tidak ada yang pantas disesalkan. Kita hanya perlu mengubahnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Aku mempunyai dua sahabat yang bisa dianggap paling dekat. Shania. Adalah sahabatku yang berjenis kelamin perempuan. Dari namanya juga sudah jelas menggambarkan jiwa apa yang ada didalam dirinya. Hasan. Sahabatku yang mempunyai muka lumayan, hobi membaca dan suka tertawa. Sebenarnya masih banyak lagi teman-temanku yang ingin ku kasih tau disinih. Tapi maaf, bukannya aku tak mau. Ini hanya untuk memudahkan jalan cerita yang akan ku karang.

Mungkin itu saja perkenalan yang bisa aku sampaikan. Tulisan ini dibuat hanya untuk kesenangan pribadi saya mengisi waktu luang. Mohon maaf bila ada kekurangan jam terbang serta penulisan yang berantakan. Mohon dimaklumkan, ya.

Real life : Ig @Sultanhasanudinals
Twitter @Sultanhasan07
Salam kenal.


INDEX PART :

PART 1-5 PAGE 1
PART 6 - SAHABAT
PART 7 - HASAN KECELAKAAN
PART 8 - SURAT UNDANGAN REUNIAN
PART 9 - CERITA LAMA
PART 10 - MENUJU PERTEMUAN
PART 11 - PERTEMUAN PERANGKAI
PART 12 - PERTEMUAN MALAM
PART 13 - MEMPERKENALKAN SIFATNYA
Quote:Original Posted By hasanudin39
Selamat sore, Gan! Ada masukan dari salah satu Agan disinih menyarankan untuk menulis ceritanya di forum sebelah juga, dan ane udah bikin disana. Baru post juga hehe. Silahkan mampir, ya! MEMPERTAHANKAN SATU NAMA (WP)
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ayahnyabinbun dan 24 lainnya memberi reputasi
23
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
29-05-2020 17:19

BAGIAN 1 - AWALAN

Quote:Hari ini, aku akan pergi ke pesta pernikahan. Sebenarnya aku tidak kenal siapa orangnya. Aku diajak salah satu temanku, dia wanita, namanya Shania. Kami berteman sudah sejak dari sekolah dasar. Dulu, aku satu sekolah dengannya. Namum memilih sekolah favorite masing-masing ketika menginjak sekolah menengah pertama. Entah karena apa dan alasannya bagaimana, kami bertemu kembali di sekolah teknik yang berada didaerah Jakarta. Rumahku dengan Shania tidak terlalu jauh. Kadang kami menghabiskan waktu berdua sambil meminum kopi dan roti bakar, sekedar bercerita tentang diriku yang masih belum punya pacar atau Shania yang habis jalan dengan pacarnya kemarin malam.

"Udah rapih nih" Pesan dari Shania yang baru ku baca.

"Iyaa, sebentar, lagi pakai jaket" Balasku.

Hari ini, Shania mengajakku pergi. Sebenarnya aku tidak mau karena merasa tidak kenal dan tidak diundang juga. Tapi, hari ini jadwalku tidak ada. Semua pesanan rangkai kata sudah ku kirim tadi malam. Mungkin hari ini hari yang pas, untuk sekedar mencari angin menyegarkan mata.

Triiinggggg...

"Ih lama" Kata Shania mengomeliku lewat telepon.

"Sabar" Kataku. Lalu ku matikan teleponnya. Memakai sepatu dan menjempu Shania didepan rumahnya.

Ku ambil helm serta perlengkapan mengendara, tidak lupa pamit dengan orang tua supaya tidak ada kendala ketika diperjalanan.

"Hallo"
"Udah didepan gang" Kataku menelpon Shania.

Shania datang, temanku yang berpostur tinggi sedang ternyata sudah menunggu rapih untuk dijemput temannya. Haha.

"Lama banget" Kata Shania ketika sudah duduk dan memakai helm di kepalanya.

"Maaf, tadi nyari jaketnya kelamaan" Kataku mencari alasan supaya tidak terlalu kelihatan salah.

"Ayo jalan" Kata Shania.

"Bismillah" Ucapku pelan.

Sore hari yang biasa saja. Seperti biasa ketika kita tinggal di kota yang banyak mempunyai kendaraan. Kelakson mobil bersautan, seperti tidak sabar ingin segera sampai. Padahal harusnya kita sama-sama mengerti, bahwa tinggal di kota seperti ini, mengalami macet adalah makanan sehari-hari. Perjalanan untuk sampai ketempat tujuan ternyata masih cukup lumayan jauh, karena itu, aku masih bisa menanyakan Shania, kenapa mau mengajakku.

"Lagian lo juga gak kemana mana" Kata Shania yang suaranya bersamaan dengan kendaraan lalu-lalang.

"Hah?" Kataku.

"Heeh"
"Lagian lo juga gak kemana-mana" Kata Shania, kini dia mengencangkan suaranya.

"Iyaa sih, kelamaan didepan komputer juga bikin pusing" Kataku, suaranya dibesarkan.

"Sekalian nyari pacar buat lo, siapatau ada yang nyangkut" Kata Shania.

"Hahaha" Tertawa.

Shania memang mengerti temannya yang satu ini. Setelah patah hati ditinggal kekasih satu tahun yang lalu. Aku seperti tidak ingin ada yang mengisi lagi. Seperti tidak tergerak untuk mengutarakan cinta. Rasa mencintai sudah sedikit pudar. Patah hati yang berkepanjangan waktu itu memang masih terasa hingga sekarang. Tapi, apa aku harus terus egois? Membuat orang semangat dengan kata-kata, tapi sendirinya tidak mau bangkit dari keterpurukan.

Motorku tiba-tiba mengasih tau, untung ada pom bensin didekat sini. Sebelum semuanya berantakan, aku memberi sen pada pengendara yang dibelakang. Belok ke kiri untuk mengantri membeli bensin.

"Patungan lu" Kataku ke Shania.

"Yailah pake duit lo dulu" Kata Shania.

"Gada recehan" Kataku.

"Sama, yaampun" Kata Shania.

Sebenarnya itu hanya ledekan, sebelum berangkat, aku juga sudah menyiapkan. Malas membeli eceran dipinggir jalan. Mungkin bisa dibilang sama aja, tapi membeli di pom bensin terasa berbeda.

"Dimulai dari 0 ya" Kata pegawai itu dengan senyum ramahnya.

"Gausah senyum-senyum sama mbaknya" Kata Shania meledekku.

"Hihi pacarnya galak nih ya mas?" Kata mbak-mbak itu.

"Bukan pacarnya saya mbak, tukang ojeknya" Kataku sambil memberi uang, tanda pertukaran apa yang tadi dituangkan.

"Hehe, hati-hati dijalan" Kata mbaknya, ramah.

Kami melanjutkan perjalanan. Katanya sih 15 menit lagi sampai. Shania tidak tau pasti tempatnya, yang punya acara hanya mengshare lokasi alamat via WhatsApp.

"Kita ke kondangan siapa sih?" Tanyaku.

"Ke temen SMP gue, die, tadi rumahnya dideket sekolahan, tapi udah pindah" Kata Shania menjelaskan.

Berarti, yang menikah seumuranku dong? Wah hebat, berani mengambil tindakan untuk menikah di usia muda. Umurku saja baru 20'an.. Mungkin, memang sudah jodohnya.

"Pak, numpang tanya alamat" Kataku yang baru saja turun dari motor menanyakan alamat.

"Ohh ini, mas lurus aja, nanti ada lampu merah kedua belok kanan" Petunjuk dari bapak tua itu.

"Terimakasih pak" Kataku.

Lalu kami melanjutkan perjalanan. Lampu merah kedua, belok kanan. Motor ku gas dengan aman, supaya selamat sampai tujuan. Hanya butuh 10 menit dari tempat menanyakan alamat, kita sudah menukan janur kuning yang terpasang + dengan nama pengantinnya.

"Akhirnya" Kataku sambil melepas jaket.

"Tar dulu, siapin disinih dulu" Kata Shania.

"Bukannya dirumah aja" Kataku sedikit mengomelinya.

"Nungguin lo kelamaan" Kata Shania.

Aku hanya cengar-cengir mendengarnya.

Lalu kami berdua masuk. Seperti halnya acara pernikahan orang Indonesia. Lagu-lagu dangdut sudah kembali dimainkan. Aku tidak ikut bersalaman, hanya duduk menunggu Shania datang. Tapi, ada satu yang membuat pandanganku terfokus pada satu orang. Sosok wanita mengenakan pakaian rapih berwarna biru dengan rambut yang terurai berwana merah dibagian bawahnya.

"Cantik" Gumamku.

"Siapa yang cantik?" Kata Shania mengagetkanku.

"Apasih lu mau tau aja" Kataku mengelak pertanyaannya.

"Makan yuk, laper" Ajak Shania.

Lalu kami berdiri untuk ikut mengantri dengan yang lain. Tapi, pandangnku tetap pada wanita itu, seperti tidak ingin melewatkan sesuatu. Ada rasa ingin berkenalan, tapi masih takut untuk sekedar bersalaman. Ayolah. Aku laki-laki, harus bisa menaklukan pujaan hati. Mau sampai kapan seperti ini? Berdiam diri tidak mau mencari yang pas untuk diajak berdiskusi. Ayolah, mau sampai kapan? Apa harus menunggunya pulang lalu menyesal karena tidak sampai berkenalan? Yuk! Bisa!

"Lu liat cewek yang rambutnya merah gak?" Kataku ke Shania.

"Yang mana" Kata Shania.

"Itu" Kataku memperjelas dengan menunjuknya.

"Ohh, kenapa, lo suka? Cantik sih" Kata Shania.

"Cantik kan?" Kataku.

"Sono kenalan" Kata Shania.

"Iyaa ini mau" Kataku menyakinkan diri sendiri.

"Kayak berani aja" Kata Shania meledekku.

Lalu ku bangun dari bangku itu, berjalan menuju wanita yang daritadi ku amati. Ayo, aku harus bisa menaklukan kemaluan yang ada. Tentu, akupun ingin bahagia, ingin kembali merasakan cinta, ingin kembali semangat seperi dahulu kala ketika belum mengenal putus cinta.

"Hallo, kak" Kataku agak kaku.

"Ada yang bisa dibantu?" Kata wanita itu. Dia tidak sendirian, ada 2 orang temannya yang juga sedang melihati tingkah laku ku.

"Emmm, aku ini dari jasa rangkai kata. Aku mau memphoto kakak, nanti, aku taroh caption di sampingnya, boleh?" Kataku dengan keringat yang mulai bermunculan.

"Ohh gitu ya? Boleh" Lalu wanita itu berdiri. Mengambil seikat bunga yang dia pegang sedari tadi.

"Posenya sambil pegang bunganya aja kak, cantik kayanya" Kataku.

"Hehe bisa aja" Katanya dengan malu.

Lalu kuambil beberapa gambar, walaupun dengan kamera handphone, aku masih mengerti angel photo.

"Bagus kak, enggak keliatan gendut kok" Kataku dengan sedikit candaan, terlalu kaku dan kikuk juga tidak baik.

"Bagus kameranya. Eh, yang photoin juga" Katanya dengan sedikit tertawa. Ah, tadi, aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Sekarang, aku bisa berdiri berdekatan dengan wanita itu.

"Nanti aku kirim ya kak?" Kataku.

"Oiyaa save nomor aku aja, siapatau aku butuh caption untuk masukin photo-photo aku nanti" Katanya dengan senyum.

-

Setelah pertemuan singkat dengannya sore itu. Hati ini seperti bangkit kembali. Rasa ingin mencintai muncul kembali. Sekarang, aku sudah berada dikamar, disampingku ada selembar roti dan kopi. Aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan sambil sesekali mengecek notifikasi dilayar hanphone. Pesanku yang ku kirim bada magribh belum juga dibalas olehnya, mungkin dia sedang sibuk dengan dunianya.

Triinggg....

Nama Shania muncul dipanggilan handphone ku.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Gimana? Udah chatan?" Tanya Shania. Anak yang satu ini memang selalu kepo masalah beginian. Haha.

"Belom dibales, gua lagi ngetik" Kataku.

"Ohh lagi ngetik, yaudah, lanjutin, semangat ya tukang caption" Kata Shania.

Beruntungnya aku, mempunyai sahabat lawan jenis tapi tidak saling mempunyai rasa berlebih. Walaupun banyak orang-orang yang mengira kita pacaran, tapi itu adalah suatu kebanggaan. Karena tidak mudah juga ada orang yang seperti kami. Bisa saling curhat masalah cinta masing-masing. Yang ku tau dari kebanyakan orang. Biasanya ketika kita dekat dengan lawan jenis, akan ada hati yang tumbuh tanpa diminta. Ada perasaan nyaman ketika mempunyai tempar curhat yang hangat. Tapi, alhamdulillah, kami tidak seperti itu. Lagipun, aku sudah berteman dengannya sedari kecil sebelum mengenal kata cinta. Toh kalaupun ada, itu hanya sekedar rasa sayang pertemanan. Tidak ada yang harus dilebih-lebihkan.

"Maaf ya baru aku balas"
"Tadi lagi ngopi diluar"
"Oiya, save nomorku ya. Anggun" Balasan dari orang yang ku tunggu notifikasinya.

Ternyata namanya Anggun, pas, untuk penampilan pertama ketika aku melihatnya. Dia tampak mempesona mengenakan pakaian itu, semua yang kulihat pertama kali tadi adalah suatu kecantikan yang bisa dinikmati kembali.

"Ohh ya? Suka kopi? Wah, sama. Perkenalkan, namaku Benyamin" Balasku.

"Iyaa, aku suka kopi, tapi gak boleh terlalu banyak. Namanya lucu, hihi" Balasnya dengan emotikon senyum diakhir katanya.

Lalu obrolan pun berlanjut sampai pergantian tanggal. Entah kenapa aku bisa dan semangat untuk mengenalnya. Padahal, waktu dulu ada wanita yang mendekatiku, aku tidak se-semangat sekarang, tidak seantusias sekarang. Mungkin benar, cinta dan bahagia kita yang buat. Sedih senang kita yang tentukan. Tentu, hati juga punya pilihan.

Dikamar yang nyaman dengan iringan lagu yang membuatku makin terbawa suasana, sampai tak terasa kopi yang kubuat sudah hampir habis hingga tersisa ampasnya. Tadinya aku ingin meraciknya kembali. Tapi, ku menengok jam kembali, ini sudah hampir pagi. Pantas Anggun sudah pamit tiduran dan mengucapkan ;

"Aku duluan, malam" Balasnya.

"Selamat terlelap, Nggun" Balasku.

Ternyata sudah mau hampir jam 12 malam. Waktunya untuk tidur dan niat untuk kedapur aku pinggirkan. Hari ini sudah jalan-jalannya. Walaupun hanya ke kondangan orang, tapi aku senang bisa berkenalan dengannya. Ayo, mari kita istirahatkan mata. Oiya, jangan sampai lupa, aku belum menulis tentang hari ini di buku harian.

Sekarang aku telah sadar. Patah hati yang berlebih akan terus membawamu kedalam jurang jika kau hanya terus berdiam diri tanpa ada niatan untuk bangkit sekali lagi. Dulu, aku boleh masuk dalam lubang itu. Lubang yang membuatku tak mengenal siapa diriku sendiri. Lubang yang membuatku tidak punya rasa mencintai. Tapi, hari ini, aku bisa senyum-senyum sendiri. Didalam kamar tempat biasa ku bekerja, ada sosok wanita disana yang membuatku kembali ceria. Namanya Anggun, aku suka, sejak pertemuan tak sengaja dengannya.

"Ben, tidur" Ucap mamah ku dari luar kamar.
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
joo1507 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
29-05-2020 22:45

PART 2 - PERLAHAN DEKAT

Quote:Hari-hari yang biasa kujalani setiap hari kian berubah dengan sendirinya. Kalau biasanya aku malas-malasan, apalagi memegang handphone sampai tengah malam. Kini semua berubah, ada perubahan signifikan yang membuatku terus menatap layar handphone kadang sampai ketiduran.

Kedekatan ku dengan Anggun kian gencar. Kami telfonan, bertatap muka lewat vidio call, atau voice note yang diisi lagu-lagu kesukaan. Sebenarnya ada niatku untuk menembaknya. Tapi, ini terlalu cepat untuk lebih lanjut soal perasaan. Mungkin, biarkan saja aku begini. Belum saatnya aku mengutarakan perasaan yang sudah muncul semenjak kita bertemu. Tapi aku juga tidak mau ketinggalan, apalagi sampai melewatinya.

-

"Bang Ben orang sunda ya?" Isi pesan darinya.

"Iyaa, ada dari mamah" Balasku.

"Geus dahar encan? (Sudah makan belum?)" Balasnya.

"Encan, hoream (Enggak, malas)" Balasku.

"Makan atuh, nanti sakit" Balasnya.

Begitulah Anggun. Dia mulai perhatian denganku, walau kadang kita kebingungan ingin membahas apa. Ya wajar-wajar saja, kami tidak saling mengenal. Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang keluar hanya sebatas obrolan kecil biasa.

"Bennn" Itu suara Hasan, salah satu temanku yang memanggil dari bawah.

"Apaa" Kataku sambil menongolkan muka lewat jendela karena kamarku berada diatas.

"Ngopi" Sahutnya dari bawah.

Temanku ini punya wajah yang cukup lumayan. Kalau aku yang suka menulis merangkai kata. Hasan adalah orang yang senang membaca. Nilai bahasa Indonesianya tinggi. Akupun begitu, cuma tidak mau menyombongkan diri hehe.

"Kemana kita" Kataku yang sudah berhadapan dengan Hasan.

"Ngopi keluar kita" Jawab Hasan.

"Ngopi dimana?" Tanyaku.

"Dipinggir jalan aja, biasa" Jawab Hasan.

Jam masih menunjukan pukul 9. Tidak terlalu malam untuk kami mengopi diluar. Aku dan Hasan sudah kenal dari kecil, jadi, mau ngopi berdua pun jadi. Biasanya juga kita bertiga dengan Shania. Tapi ini sudah agak malam untuk mengajaknya keluar, dia pun punya pekerjaan yang kadang menyibukan sampai kadang lupa mengistirahatkan badan. Biarlah, nanti juga akan ada saatnya.

Aku dan Hasan keluar dengan mengendarai motor. Kami sih biasanya nongkrong di warung Emak. Tapi, nyari udara diluar sambil ditemani lalu-lalang juga tidak apa-apa

Aku belum bercerita ke Hasan perihal dekatnya aku dengan salah satu perempuan yang kutemui ketika mengatar Shania pergi. Mungkin nanti ini akan menjadi pembahasan inti ketika sudah selesai memesan kopi.

Kami berhenti di salah satu tempat yang dimana ada tukang kopi pastinya. Dengan duduk beralaskan tikar, kami berdua langsung saja memesan apa saja yang diperlukan, memesan kopi dan cemilan untuk sekedar menghabiskan waktu malam. Setelah memesan, lalu aku mulai membuka pembicaraan soal dekatnya aku dengan wanita bernama Anggun.

"Gua kemarin sama Nia ke kondangan" Kataku.

"Bu kopinya item ya" Kata Hasan yang masih saja sibuk memesan.

"Tadi lu mau cerita apa?" Kata Hasan, lagi.

"Gua kemarin ke kondangan temennya Nia" Kataku.

"Iyaa, terus" Kata Hasan sambil membakar rokok filternya.

"Gua ngeliat cewek, cantik" Kataku.

"Iyalah, kalo gak cantik lo gabakal mau" Kata Hasan meledekiku.

"Haha. Gua udah kenalan, udah dapet nomor teleponnya, udah chatan juga. Tapi, gua belom mau nembak dia sekarang-sekarang" Kataku.

"Nih de kopinya" Kata ibu penjual kopi.

Hasan mengambilnya, lalu menaruhnya ditempat kami duduk.

"Kenapa enggak langsung aja? Biasanya langsung to the point soal perasaan" Kata Hasan mulai menasehatiku.

"Pengennya gitu San. Tapi, gua takut dia gak suka sama gua. Takut juga dapet jawaban yang gaenak, apalagi kita baru kenal" Kataku, lalu membakar rokok.

"Kalo dia bales chat lo dengan lancar, harusnya gak usah ada yang ditakutkan. Lagian kaya anak kecil aja, masih main-main tentang perasaan" Kata Hasan.

Temanku yang satu ini memang handal soal permasalahan yang sedang kita bahas, walaupun kebanyakan wawasannya dia dapat dari buku yang dia baca.

"Nanti, pengennya gua nembak langsung dirumahnya. Hari sabtu nanti, gua berangkat kerumahnya" Kataku.

"Emang tinggal dimana?" Tanya Hasan.

"Di kota sebelah, gak jauh, cuma 30 menit perjalanan" Kataku.

"Dia kuat gak hubungan jarak jauh sama lo?" Tanya Hasan. Pertanyaan seperti ini yang belum aku pikirkan jawabannya.

"Gak tau, kalaupun dia mau, apa aja pasti dilakuin, kan?" Kataku.

"Yaudah, jalanin, perjuangan baru mulai kan? Kita udah dewasa. Seharusnya mengerti soal beginian. Gak mungkin dia mau datang hanya untuk senang-senang apalagi cuma teman chatan sama orang yang baru kenal" Kata Hasan.

Aku diam, memikirkan kata-katanya. Mungkin ada benarnya. Banyak contoh diluaran sana yang masih sibuk main main padahal sudah waktunya hidup berkeluarga. Di umur seusiaku, harusnya sudah mulai mencari apa itu pasangan sejati, yang mau mencintai keadaan dan sayang akan lingkungan sekitar. Maksudku, bukan waktunya lagi bersenang-senang tanpa tujuan, apalagi tidak ada manfaat untuk kedepannya. Kita bukan lagi sedang hidup dalam usia remaja, yang bisa menaruh cinta dan pergi begitu saja. Masih banyak yang harus dipikirkan untuk kedepannya, terlebih, ini menyangkut kebahagiaan orang.

Aku dan Hasan masih menikmati kopi yang kami pesan tadi. Sebenarnya hari ini aku akan menulis salah satu orderan pelanggan yang minta dibuatkan pesan. Pelanggan yang satu ini mempunyai kisah yang bisa dibilang sedih. Bagaimana tidak? Penantiannya bertahun-tahun tak kunjung usai. Laki-laki yang mendekatinya belum juga mengasih kepastian. Mangkanya, pelanggang ini minta dibuatkan pesan, mungkin untuk kekasihnya itu, yang tak kunjung memberi kepastian tapi selalu memberi harapan.

"Lo besok gak kerja?" Tanyaku. Hasan bekerja sebagai kurir disalah satu tempat yang cukup punya nama.

"Besok gua nganternya jauh-jauh, takut besok gabisa ngopi sama lo. Tau sendiri gw kalo tidur gatau waktu" Kata Hasan. Aku hanya nyengir mendengarnya, mengingat temanku yang satu ini memang susah untuk dibangunkan.

"Yaudah, yok pulang" Kataku yang sudah beranjak bangun.

Setelah membayar semuanya, aku dan Hasan bergegas untuk pulang mengingat temanku yang satu ini besok akan berpegian mengantar barang, akupun begitu, masih ada pesenan yang harus segera diselesaikan.

Hasan mengantarku sampai didepan rumah, lalu dia pamit pulang dan aku langsung naik ke kamar, membuka laptop lalu mencari ide untuk dituangkan.

"Ben" Teriak mamahku dari bawah.

"Iyaa" Kataku yang langsung turun kebawah.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Kirain kamu belom pulang" Kata mamahku.

"Kirain kenapa, kan bisa telepon" Kataku.

"Udah mamah telepon 3x tapi kamu gak diangkat" Kata mamahku ada benarnya juga. Daritadi aku belum lagi memegang handphone.

Aku jalan menuju dapur, membuka kulkas, ternyata ada susu dan martabak manis keju. Lumayan, untuk menambah ide.

Triiiingggg

"Hallo, gimana orderannya? Sudah?" Ini telepon dari admin jasa rangkai ku. Dia yang mengatur semua para perangkai dan membagi-bagikan orderan secara merata.

"Dikit lagi selesai" Kataku, padahal satu huruf saja belum ku ketik.

"Okee Ben" Lalu teleponnya mati.

Baru ingin ku meletakan handphone, tapi tidak jadi karena melihat notifikasi yang cukup lumayan banyak.

Pesan pertama yang ku lihat dari Shania

Pesan kedua dari mamah

Pesan ketiga dari Anggun

Aku membalas punyanya Anggun terlebih dahulu, sekedar menanyakan apa saja yang dia lakukan hari ini.

"Ben lagi apa?"
"Anggun lagi jagain adik nih"
"Ben" Pesan dari Anggun.

"Maaf baru balas ya, Nggun"
"Aku mau ngerjain pesenan nih, boleh tunggu sebentar? Nanti Ben yang telepon, ya?" Balasku.

Pesan yang kedua yang ku buka dari Shania.

"Ben, bikinin surat undangan sunatan buat sodara gw" Pesan dari Shania.

"Kirimin photonya + deskripsinya, nanti gua editin" Balasku.

Pesan yang ketiga dari mamah, tidak ku buka, karena tadi sudah menemui dengan yang bersangkutan.

Aku mulai mengeluarkan laptop, menyiapkan tangan diatas keyboard, berfikir sebentar...

Berapa lama lagi penantian ini? Apa begituh susah bagimu membuat suatu pernyatan? Apa yang kau tunggu, dari waktu yang selalu kita habiskan bersama tanpa sebuah kepastian. Bukan aku mau mengeluh untuk ingin mengajakmu dalam satu ikatan. Tapi, apalagi yang kau cari selama ini? Apa kurang bagimu sebuah kenyataan bahwa tidak ada satupun nama lagi yang mau ku cintai selain dirimu yang selalu ku nanti. Apa berat bagimu menyatakan kata cinta? Apa tidak bisa kau lepaskan pernyataan diatas hubungan yang selama ini kita jalani?

Cukup lelah bagiku untuk selalu menunggu. Pegang kata-kataku saat ini. Kalau kau ingin terus seperti ini, menjalani cinta yang tak pasti, menggantung perasaan yang sudah ada dan dirimu tak kunjung berubah, lebih baik aku yang mengalah.


"Sudah" Kata-katanya ku copy, paste, dan ku kirim ke jasa rangkai ku.

"Oke, selamat istirahat Ben!" Ucap adminku, sebut saja Min, biar lebih gampang menyebutnya.

-

"Anggun tidur kayanya. Pesannya gak dibaca, yaudah, besok pagi aja teleponnya. Selamat tidur, Nggun" Gumamku, lagi.
Diubah oleh hasanudin39
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sultanalhadad dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
29-05-2020 23:06
Jangan lupa komen, cendol (kalo boleh) share agan-agan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
joo1507 memberi reputasi
1 0
1
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
31-05-2020 17:36

PART 3 - BERTEMU CLIENT

Quote:Hari ini aku bangun pagi, bersiap-siap mandi dan tidak perlu mampir sebentar ke televisi. Hari ini aku ada janji dengan client, kami berjanjian disalah satu tempat ngopi di daerah Jakarta selatan.

Setelah selesai memakai pakaian, aku memanaskan motor terlebih dahulu, lalu menuangkan susu yang disimpan di kulkas setelah itu menuangkannya kedalam gelas. Sarapan pagi ini roti tawar dikasih mentega ditaburi meses, lumayan untuk mengganjal ketika hendak ke perjalanan. Mamah ku sudah berangkat kerja, begitupun ayahku yang sudah berangkat ke kantor. Kakakku tinggal bersama suaminya didaerah Bogor. Sedangkan adikku sudah berangkat sekolah.

Sudah 10 menit aku memanaskan motor. Sekarang, hanya perlu memberi kabar kepada orang tua, bahwa aku pergi hari ini. Tak lupa juga aku mengabari Anggun yang dari tadi sudah mengirimku pesan "Selamat pagi".

"Haii, pagi! Semoga kerjaannya lancar, ya! Aku ada janji dengan client hari ini, semoga lancar juga, ya, aminn" Balasku.

Aku siap untuk berangkat.

Diperjalanan kali ini terasa berbeda. Panasnya Jakarta terkalahkan oleh kebahagian yang dari hari lalu ku dapatkan. Aku masih saja senyum-senyum sendirian, padahal pengendara lain ribut dengan membunyikan klaksonnya. Entah kenapa aku ini, kenapa bisa seperti ini. Kemacetan ibukota seakan tak berarti apa-apa. Diriku yang biasanya tidak sabaran, kini emosinya mulai bisa kukendalikan. Tapi, aku tak lupa fokus ketika menyetir kendaraan. Aku gak mau sampai jatuh karena terlalu memikirkan hal yang tidak karuan, apalagi perasaan yang belum punya kepastian.

"Hallo kak, aku sudah didepan tempat kopinya" Aku yang menelepon.

"Hallo, masuk aja langsung ya" Katanya.

Aku melihat jam tanganku sebelum masuk kedalam. Ternyata masih jam 11 kurang, mungkin didalam masih sepi, seperti cocok untuk bernegosiasi.

"Benyamin ya?" Tegur wanita yang kira-kira seusiaku juga, memakai jaket hitam dengan rambut yang terurai.

"Benyamin" Kataku senyum sambil mengulurkan tangan.

"Luna" Katanya memperkenalkan.

Aku duduk didepannya, kini kami berhadapan.

"Mau pesan apa?" Katanya.

"Aku boleh liat-liat dulu?" Kataku.

"Silahkan" Katanya.

Aku sebenarnya lapar, tapi ditahan saja, kan tadi sudah makan dirumah, tanggung, dikit lagi jam makan siang, biar sekalian.

"Mau pesan apa?" Tanya pelayan yang berdiri didekat kami.

"Capucino es yang ini ya" Kataku.

Lalu pelayan itu pergi menyiapkan pesananku.

"Jadi gimana kak?" Tanyaku.

"Langsung to the point aja ya, hehe" Katanya.

"Hehe, mau bahas apa dulu kak emangnya?" Tanyaku.

"Sebenarnya keperluanku memakai jasa rangkai kata bukan hanya ingin memesan kata-katanya, tapi aku juga ingin didengar langsung oleh kalian" Katanya.

Aku hanya diam menyermati intonasi bicaranya yang mulai menunjukan ekspresi sedih.

"Aku kangen pada seseorang. Seseorang yang udah lama ninggalin aku. Sebelum kami berpisah, aku mengantarnya sampai bandara. Dia pergi kuliah ke luar negeri. Kami hanya bisa chatingan, itupun dengan jam yang berbeda. Kadang, kami tidak bisa berkomunikasi, mungkin dianya sibuk atau gimana aku gak ngerti" Katanya.

Pelayan datang membawa pesanan. Bicaranya terhenti, aku hanya bisa menuduk mencoba menghormati. Suasananya pun sekarang berubah, aku ikut dibawa alur cerita. Kaffe yang tadinya dingin kini terasa hangat. Bukan salah pendingin ruangannya, tapi cerita kerinduan yang mendalam.

"Minum dulu Ben" Katanya. Luna masih bisa tersenyum.

"Iyaa, aku minum" Kataku mencoba mencairkan suasana.

Sepertinya, ceritanya belum selesai, aku seperti ingin masih dibawa dalam alur cerita.

"Boleh dilanjutin, kak" Kataku.

Dia mulai tersenyum lagi, mencoba membuka bibirnya kembali.

"Waktu itu, aku menelponnya, tapi yang mengangkat bukan dia. Melainkan orang lain, suaranya seperti cewek tapi berbahasa asing, aku gak faham bahasanya, tapi itu cewek" Katanya, raut wajahnya menandakan kalau Luna sedang kesal.

Aku menatap matanya, takut, kalau ada tangisannya yang pecah.

"Besokannya dia chat aku. Aku langsung tanya, yang kemarin itu siapa. Katanya, itu temannya, mereka sedang merayakan ulang tahun. Aku berusaha supaya tetap keliatan baik-baik saja. Mungkin dia ngerasa kalau aku cemburu, dia merayuku, sekarang dia tambah perhatian, jelas itu ngebuat aku tambah rindu" Kata Luna, sekarang dia tersenyum kembali.

Aku menghela nafas, lega, bahwa tidak ada yang harus di khawatirkan.

"Besok dia ulang tahun, aku butuh kata-kata dalam bahasa Indonesia, bisa?" Tanya Luna.

"Kak Luna sudah janjian dengan admin saya kan, tentang segala macam persyaratannya" Tanyaku.

"Sudah kok Ben. Aku sudah pesan kamu 3 hari lalu" Kata Luna.

"Okee, kita mulai ya kak" Kataku.

"Langsung ditaruh di laptop ku aja Ben" Ternyata Luna seniat itu, lalu dia mengeluarkan laptop dari tasnya.

Lalu aku senyum dan mengucapkan permisi untuk meminjamkan laptopnya sebentar.

"Maaf, nama pacar kakak siapa?" Tanyaku.

"Aku suka manggil dia Boy" Katanya.

"Oke, mari kita selesaikan" Kataku.

Selamat bertambah usia, lelaki yang sedang mengejar cita-cita. Peluk dan ciumku dari sini. Semoga kamu mengerti, ketika kamu pulang nanti, akulah orang yang selalu menunggu untuk kau peluk karena terlalu lama menahan rindu yang mendalam.

Selamat atas hari kelahiranmu. Kamu tetap pria yang selalu bisa menaklukanku. Kamu lelaki yang hebat, yang meminta izin untuk pergi menggapai cita-cita. Semoga, bertambahnya usia tidak membuatmu menjadi tua yang menyebalkan, ya!

Maaf, aku hanya bisa mengirimmu pesan singkat. Semoga bahagia, aku tunggu kamu di Jakarta! Happy birthday Boy! I miss you, yes, and always.

Luna, your girlfriend.
South Jakarta.


"Aku save ya, apa mau baca dulu?" Tanyaku.

"Aku baca dulu deh" Kata Luna.

Sembari menunggu Luna membaca, aku membuat kartu ucapan lewat aplikasi di handphone.

"Bagus kok" Kata Luna memujiku.

"Semua price list sudah dibicarakan kan, kak?" Tanyaku.

"Sudah Ben" Kata Luna.

"Okee kak Luna, terimakasih karena sudah memesan jasa rangkai kata kami, bila kakak ingin memesan kembali, bilang adminnya, ingin dibuatkan oleh Benyamin ya kak" Kataku sambil bersalaman dengannya.

"Sama-sama. Terimakasih juga kamu sudah mau dengerin saya cerita haha" Katanya sambil tertawa.

"Iyaa, gapapa kok ka, aku senang bisa membantu" Kataku.

Lalu aku izin pamit, meminum sedikit kopi yang ku pesan, lalu menghampiri kasir dan membayar apa yang ku pesan.

Perutku sudah mulai kelaparan, jam ditanganku juga sudah menunjukan pukul setengah satu. Pantas saja perut ini sudah minta diisi. Tapi aku bingung mau makan kemana, apa mampir dulu ke makanan dipinggir jalan aja ya? Makan dulu aja deh.

Akhirnya aku melanjutkan perjalan sambil mencari makanan dipinggir jalan. Baru setengah jalan, ternyata didepan ada warung nasi Padang. Akhirnya aku mengasih lampu sen untuk belok mampir makan sebentar.

Setelah memesan makanan, aku duduk, membuka handphone, siapatau ada pesan yang mau ku baca.

"Semangat Ben! Jangan telat makan" Balas Anggun. Dia sedang online, apa aku vidio call saja ya?

Tuuuttttuuutttt

"Hallo" Kataku.

"Hallo Ben" Kata Anggun sambil memainkan rambutnya. Entah, kenapa wanita selalu memainkan rambutnya ketika vidio call.

"Lagi dimana?" Tanyaku.

"Lagi makan siang nih. Kamu udah makan belom? Biar otaknya pinter hehe" Katanya sambil tersenyum.

"Ini aku lagi di warung, kamu udah makan?" Tanyaku.

"Kan aku bilang lagi makan siang, kamu makan dulu sanah, udah kelaperan tuh kayanya" Kata Anggun. Jujur, aku malu karena menanyakan itu, padahal Anggun sudah lebih dulu mengasih tau.

"Haha, yaudah aku makan dulu deh, kamu lanjutin ya" Kataku.

"Siap pak penulis" Katanya sambil senyum, lalu mematikan vidio callnya.

Lalu aku kembali melahap makanan yang sudah ku pesan, menguyahnya perlahan sambil sesekali memperhatikan hp yang ku taruh disamping es teh manis dingin.

Aku masih bingung, hari ini akan melanjutkan kemana. Mungkin ke taman? Mungkin jalan-jalan sebentar? Sendiri saja, aku juga butuh waktu itu mengistirahatkan badan.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman yang berada didekat situ. Setibanya, aku hanya duduk-duduk memesan kopi dan membakar rokok. Menikmati keindahan yang ada, melihati para pengunjung yang datang untuk hanya sekedar berphoto atau bersenang-senang. Kadang aku iri pada orang-orang yang punya teman apalagi kekasih yang diakui, tapi malah aku lebih suka sendiri. Bingung sama yang ada didalam diri ini, kenapa susah sekali diajak berkompromi. Mungkin, kalau angin bisa berbicara, dia akan bilang padaku "Kamu harus sedikit berani". Mungkin, aku harus mengalah pada egoku sendiri untuk tidak menahannya terlalu lama. Tapi, tidak harus terburu-buru juga soal kedepannya.

Kopi hitam yang ku pesan sedikit pahit kali ini, mungkin, adukannya kurang merata. Tapi tidak apa-apa, memang suka hakikatnya tidak boleh bohong soal rasa.

-

Aku pulang dengan kondisi kenyang, membuka sepatu lalu ku taruh didekat lemari. Kemudian membuka helm serta jaket yang ku kenakan, cuci kaki lalu pergi naik ke kamar. Hanya itu aktivitasku, walaupun tidak setiap hari seperti ini, kadang malah aku bisa seharian saja dirumah melayani para pelanggan yang meminta pesanannya.

Aku sebenarnya ingin mencari kerja selain menjadi jasa rangkai kata. Sekaligus ingin merasakan kuliah. Aku ingin mengambil jurusan hukum/sastra. Tapi, kata kebanyakan temanku, harusnya dulu aku masuk SMA, bukan STM. Tapi gak apa-apa kali ya? Apapun itu, kan aku yang pilih, mereka hanya menasehati dan aku berterimakasih.

"Tadi abis darimana A?" Tanya adikku ketika aku turun kebawah.

"Abis keluar, kenapa? Mau makan?" Tanyaku.

"Enggak, nanya doang" Kata adikku.

Aku cowok satu-satunya dari anak mamah dan ayah. Suatu keharusan menjaga mereka semua, tentunya.

"Aa mau tidur, kalo ada yang nyamper, suruh naik ke atas aja ya" Kataku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sultanalhadad dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Post ini telah dihapus oleh KS06
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Post ini telah dihapus oleh KS06
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
04-06-2020 16:01
Wah, masuk Hot Thread ternyata emoticon-Big Grin. Makasih semua yang udah baca, komen dan ngasih cendol pastinya. Thx u!
profile-picture
sidikkurniawan0 memberi reputasi
1 0
1
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
04-06-2020 19:53

PART 4 - AKHIRNYA JADIAN

Quote:Suara notifikasi di hp ku berbunyi terus-terusan. Aku yang sedang malas memegangnya, hanya melihatinya sambil menonton tv serta mengemil makanan yang ada. Ini hari minggu, mangkanya aku dirumah saja, tidak tau juga mau kemana. Para pemesan kata-kata juga aku tunda, karena ini hari libur, aku biasanya akan membalasnya esok pagi.

Bingung, mau kemana enaknya, mungkin? Mengajak Anggun keluar sebentar? Coba ah, aku belum pernah bertemu dengannya lagi sehabis acara pernikahan waktu itu.

Aku meraih hp ku yang ada di samping. Menggenggamnya, lalu mencari kontak bernama Anggun.

"Hallo" Ucapku.

"Hallo Ben" Ucap Anggun.

"Assalamualaikum" Ucapku.

"Waalaiqumsalam" Ucap Anggun.

"Kamu gak kemana-mana? Hari libur lho ini" Ucapku sambil berharap dia punya waktu luang.

"Iyaa ya hari libur ya sekarang. Hmm, aku gapunya rencana sih, kenapa gituh?" Tanya Anggun.

"Kamu boleh kirim lokasi rumah? Aku mau main, boleh?" Tanyaku.

"Beneran? Boleh kok, aku kirim ya" Kata Anggun.

"Aku tunggu ya" Kata ku yang langsung mematikan teleponnya.

Ini hari kedua ku untuk bertemu dengannya. Sosok yang kukenal dan kudekati kemarin-kemarin. Sambil menunggu Anggun mengirim titik lokasi, aku harus punya rencana ketika sudah sampai dirumahnya. Enaknya, aku bawa kemana ya Anggun? Destinasi sekitaran situ, atau tempat nongkrong di kota ku.

Tring

"Disini ya" Pesan dari Anggun sambil mengirim titik lokasinya.


"Aku otw" Balasku.

"Kabarin aku kalo udah mau sampai" Balas Anggun.

Aku langsung bersiap-siap untuk kerumahnya. Mandi sebentar, tidak perlu lama yang penting siap untuk diperjalanan. Aku memanaskan motorku yang belum dipakai sejak pagi, antisipasi untuk tidak terjadi apa-apa nanti dijalan. Rumahku sepi, kedua orang tua ku dan adikku sedang pergi kerumah saudaraku. Sebelum aku pergi, aku harus mengabari mereka terlebih dahulu, supaya tidak kaget ketika mereka pulang, tapi kondisi rumah tidak ada orang.

"Ben pergi keluar, pulang malam kayanya, ya" Pesanku ke grup keluarga yang ku bikin untuk memudahkan berkomunikasi.

Tanpa lama-lama, aku memakai jaket serta memakai helm juga. Setelah memastikan semua perlengkapan sudah dibawa, aku langsung menancapkan gas ke alamat yang dikirim Anggun tadi.

Jalanan hari ini sedikit lengang, mungkin yang lainnya sibuk menghabiskan waktu dirumah, entah itu bersama kekasih atau keluarga. Aku terus menyusuri jalan, berharap waktu membawa aku pada keberuntungan. Aku sudah tau jalan menuju rumahnya Anggun, kira-kira hanya butuh 1 jam untuk sampai kerumahnya. Mungkin, ketika sudah mau sampai, aku akan mengecek kembali hp ku untuk melihat lokasi kemana lagi harus aku mencari.

Aku berhenti sebentar untuk ke warung membeli rokok serta minum sambil membuka hp kembali, kira-kira seberapa jauh lagi aku harus mencari.

"Udah dimana Ben?"
"Ben? Udah sampe mana?" Isi pesan dari Anggun.

"Ini aku lagi berhenti sebentar, dikit lagi sampai" Balasku.

Lalu aku masukan kembali hp kedalam kantung jaket. Aku duduk dibangku depan warung yang tersedia. Sedikit melepas cape karena perjalanan, sambil sesekali menengok para pengendara yang lalu lalang. Aku belum memikirkan rencana apa ketika bertemu dengan Anggun. Apa, aku langsung menembaknya saja ya? Terlalu cepat tidak ya untuk menyatakan cinta. Aku takut, ketika ada kata tidak, semua kedekatan yang ku susun harus hancur karena perasaan yang ditolak. Walaupun aku tidak akan bermusuhan karena tidak bisa berpacaran dengannya, tetap saja, kecanggungan pasti melanda sehabis hal itu. Sudahlah, nanti saja dipikirkan lagi. Aku harus segera sampai, karena ada sosok wanita yang menunggu disana.

Aku kembali menaiki motorku lagi, memakai helm, lalu menghidupkan motor. Aku kembali berkendara. Kalau yang aku lihat di maps, mungkin 15 menit lagi sampai, tergantung dari kondisi jalanan yang ada. Macet, atau tidak.

"Belok kiri" Kata suara bot di aplikasi Google.

"Oalah ini" Kataku ketika sudah berada didepan gerbang salah satu perumahan. Aku sudah sampai ternyata.

"Gimana Ben? Udah sampe?" Balas Anggun.

"Udah Nggun, aku didepan gerbang" Balasku.

"Masuk aja kesini, aku didepan rumah sambil nungguin kamu" Balas Anggun tidak lama kemudian.

Aku lalu memasuki area perumahan itu. Perumahan yang bisa dibilang sedikit menengah. Aku kira, tadinya aku akan masuk ke perkampungan. Ternyata aku salah.

Setelah belok kiri dari pintu gerbang, aku melihat sosok wanita menggunakan kaos serta celana santai yang sedang menunggu kedatangan tamu. Aku bunyikan klakson, untuk memberitahu aku sudah sampai ketempat pencarian.

"Haii" Jawab Anggun sambil tersenyum melihatku.

Mukanya cantik, bisa dibilang mirip keturunan Tionghoa, tapi beragama seperti ku.

"Hai" Kataku yang masih berada diatas motor.

"Masuk" Kata Anggun.

"Dirumah ada orang?" Tanyaku sambil memegang tangannya.

"Ada" Kata Anggun yang lalu membuka pintu gerbang rumahnya.

Motornya aku taro luar, supaya gampang ketika ingin pergi kembali.

"Assalamualaikum" Ucapku pertama kali menginjakkan kaki dirumahnya Anggun.

"Walaiqumsalam" Jawab seorang bapak-bapak yang menghampiriku.

"Benyamin pah" Kataku mengenalkan diri sambil bersalaman.

"Papahnya Anggun. Kamu tinggal dimana?" Tanya papahnya Anggun.

"Di Jakarta pah" Jawabku.

"Ohh di Jakarta, dulu kami juga tinggal disana, tapi pindah kesini, silahkan masuk" Kata papahnya Anggun, ramah.

Anggun datang menghampiriku, kini stylenya berubah lebih rapih ketimbang tadi.

"Mau minum apa?" Tanya Anggun yang ikut duduk di sofa sebelahku.

"Apa aja" Kataku.

"Yaudah, bentar ya, aku buatin es teh manis" Kata Anggun yang beranjak kembali kedalam.

"Mah, ada teman Anggun" Teriak Anggun dari dalam.

Tiba-tiba keluar sosok ibu-ibu yang memakai pakaian sopan. Dia ramah, terlihat dari senyumannya ketika melihatku duduk di sofa tamu miliknya.

"Temannya Anggun?" Tanya mamahnya.

"Iyaa mah" Kataku sambil berjabat tangan.

"Udah ditawarin minum?" Tanya mamahnya Anggun.

"Nggun, teman cowokmu ni lho buatin minum" Teriak mamahnya memanggil Anggun.

"Iyaa, ini udah disiapin" Kata Anggun sambil membawa gelas berisikan es teh manis.

"Yaudah, mamah tinggal ya" Ucap mamahnya. Aku hanya senyum.

Anggu lalu duduk didekatku, kini kami bersampingan. Jadi mengingatkanku waktu itu, ketika aku malu-malu ingin berkenalan dengannya, haha.

Lalu kami mengobrol tentang aku yang tadi diperjalanan menuju kesinih. Seketika rasa nyaman ketika didekat Anggun mulai terasa. Aku mendadak jadi tidak gugup malah bisa berbicara dengan lancar. Aku menanyakan "Gimana kerjaannya" sambil sesekali tersenyum. Akupun tersenyum ketika menjawab "Seperti biasa kalo kita bahas waktu dichatan". Anggun tersenyum lagi, entah kenapa dia sangat suka tersenyum untukku. Laki-laki pemalu yang dulu sempat bingung untuk berkenalan dengannya secara langsung.

"Kita udah deket berapa minggu, Nggun?" Tanyaku.

"Udah lumayan lama ya Ben, hehe" Kata Anggun sambil tertawa kecil.

"Jadi inget waktu itu ya Nggun" Kataku.

"Iyaa ya, kamu kok bisa ada disitu. Padahal kamu cerita kalo kamu bukan alumni sekolah itu" Kata Anggun.

"Iyaa haha. Aku nganterin teman aku si Shania, panjang deh ceritanya. Nanti kapan kapan kamu aku ajak ketemu Shania" Kataku.

"Boleh?" Tanya Anggun.

"Boleh Nggun" Kataku.

Lalu kami saling menatap, tersenyum, saling memandang satu sama lain. Seperti datang ketempat baru yang penghuninya sangat terbuka. Aku nyaman berada didekatnya, walaupun belum ada satupun ikatan yang jelas. Seperti ada dorongan untuk mengatakan cinta. Tapi, lagi-lagi bayangan ketakutan akan hal perpisahan mulai lagi terbayangkan. Tapi, mau sampai kapan? Sampai semuanya berantakan karena tidak ada kepastian? Lalu, kalau alasan cinta tidak selalu memiliki. Kenapa kita sudah sejauh ini untuk urusan mencintai? Kenapa? Selalu terngiyang kata-kata untuk mengatakan aku cinta? Perasaan yang tumbuh seiring waktu yang kita isi. Tapi, apa harus secepat ini?

"Disini ada taman atau tempat nongkrong gitu?" Tanyaku ke Anggun.

"Ada danau yang banyak jual jajanan disini Ben, kesana yuk?" Ajak Anggun.

Lalu aku iyakan ajakannya. Bodoh saja kalau aku sampai menolaknya. Ini kan hari yang bisa dibilang berkesan? Mana mungkin momen-momen seperti itu dilewatkan?

Anggun meminta izin untuk siap-siap. Sementara aku, hanya duduk sambil menunggunya berdandan. Sekitaran 10 menit, Anggun keluar lagi, kini tampilannya sangat menawan. Padahal hanya menggunakan celana jeans dan jaket yang sletingnya tidak ditutup dan didalamnya memakai kaos berwarna hitam polos.

"Ayo" Ajak Anggun.

Lalu kami berdua meminta izin untuk keluar sebentar. Orang tuanya Anggun mengizinkan.

Anggun sudah naik dimotor dan kini berada dibelakangku. Kadang sesekali aku melihatinya lewat kaca spion. Takut juga kalau dia nanti jatuh karena ngantuk, kan? Hehe.

"Kamu apasih liat-liatin aku terus" Kata Anggun yang menyadari dirinya diliati.

"Kamu kepedean Nggun" Kataku sambil meledekinya.

"Nanti kamu tambah sayang sama aku" Kata Anggun, kini dagunya ditempelkan ke pundak ku.

"Emang kenapa kalo nambah sayang" Kataku.

"Nanti kamu gak fokus nyetirnya" Kata Anggun sambil terus menaruh dagunya dipudak ku.

Aku tidak menjawab pertanyaannya, sengaja, biar puas mengobrolnya ketika sudah sampai.

Dan kami akhirnya sampai. Setelah memakirkan motorku, kami berdua jalan ke tepi danau itu. Mencari tempat duduk yang pas dan untuk sedikit memesan makanan. Akhirnya, kami sudah duduk dan langsung memesan makanan yang ada. Aku memesan nasi goreng dan Anggun memesan siomay serta minumannya es kelapa muda.

"Aku mau nanya deh" Kata Anggun. Kini tatapannya seakan tidak mengajak bercanda.

"Nanya apa Nggun" Kataku sambil tersenyum menatapnya, mencoba mencairkan suasana.

"Kamu udah punya pacar Ben?" Tanya Anggun.

"Aku gapunya pacar Nggun" Kataku.

Anggun diam, seperti memikirkan sesuatu. Entah apa yang ada didalam otaknya, sampai-sampai makanannya yang datang tidak dia hiraukan. Anggun diam, tetap diam, sambil sesekali merasakan angin yang berhembus. Aku harus melakukan sesuatu, sedikit memberinya penjelasan atas semua itu.

"Aku gak pacaran udah hampir beberapa tahun, Nggun. Tapi semenjak kenal kamu, rasa aku tiba-tiba tumbuh. Tadinya aku yang bingung, jangan-jangan kamu sudah punya hati untuk dijaga. Kamu ngerespon aku cuma karena tidak mau ada kecanggungan" Kataku ke Anggun. Kini dia mulai menatapku kembali.

"Aku gapunya pacar Ben" Kata Anggun sambil tersenyum.

Ada segaris wajah berseri indah yang terpandang didepan kedua kelopak mata. Ada satu nama yang saat ini mulai menarik perhatian. Kita ada, karena atas dasar kedekatan. Tidak perduli siapa dulu yang pernah memulai. Di danau yang airnya tenang seperti dinyanyikan lagu tentang percintaan. Aku memandang satu anugrah ciptaan Tuhan yang sedang aku perjuangkan namanya. Angin yang dibawa dari langit turun keatas dan disambut awan seakan mengiringi aku yang sedang jatuh hati. Aku menatap matanya sambil berharap dalam hati untuk mendapatkan kata iya.

"Kita pacaran yu, Nggun?" Ucapku, perlahan.

"Kenapa baru sekarang? Padahal dari pertama kita chatan aku udah penasaran" Kata Anggun.

"Aku malu untuk mengungkapkan, ini aja baru berani" Kataku.

"Iyaa Ben, aku mau" Kata Anggun sambil tersenyum.

Akhirnya apa yang ditakdirkan datang pada waktu yang sudah ditentukan. Langit yang membiru, angin yang tertiup, daun yang berjatuhan menjadi saksi dua orang manusia yang sekarang sudah mengisi kekosongan di sela-sela rongga hati yang sempat tertutup rapih karena sebelumnya pernah merasakan ditinggal pergi.

Hari ini, aku resmi berpacaran dengannya. Sosok yang ku lihat dari jauh waktu itu. Wanita yang Anggun seperti namanya, kini ia menjadi pacarku yang padahal sebelumnya aku pun malu untuk mengucap kata hai sebagai awal perkenalan. Hari ini, semua berubah sesuai apa yang diperkirakan. Dua orang manusia yang dipertemukan tanpa sengaja hari itu, kini merajut kekasih dan danau yang tenang menjadi saksi.

Quote:Kalau alasan cinta tak harus memiliki, kenapa kita sudah sejauh ini untuk urusan mencintai.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sultanalhadad dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
04-06-2020 20:15
Jangan lupa komen, share serta cendolnya gan!
emoticon-Haiemoticon-Haiemoticon-Hai
profile-picture
sidikkurniawan0 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
05-06-2020 20:05
Nama ente Benyamin, punya anak namanya kasdullah, mantu ente namanya Sarah emoticon-Wakaka
profile-picture
hasanudin39 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
05-06-2020 20:13
Jadi sedang mempertahankan ya?
profile-picture
profile-picture
hasanudin39 dan gesermeja memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
05-06-2020 20:15
Quote:"Aku kangen pada seseorang. Seseorang yang udah lama ninggalin aku. Sebelum kami berpisah, aku mengantarnya sampai bandara. Dia pergi kuliah ke luar negeri. Kami hanya bisa chatingan, itupun dengan jam yang berbeda. Kadang, kami tidak bisa berkomunikasi, mungkin dianya sibuk atau gimana aku gak ngerti" Katanya.


jadi teringat cinta dan rangga
profile-picture
profile-picture
hasanudin39 dan gesermeja memberi reputasi
2 0
2
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
05-06-2020 20:35
Serasa baca roman picisan bre. emoticon-Ngakak
profile-picture
hasanudin39 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
05-06-2020 21:01
semangat apdatenya ganemoticon-Shakehand2
profile-picture
hasanudin39 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
05-06-2020 21:39
Nitip sendal dulu emoticon-Ngacir2
profile-picture
hasanudin39 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
06-06-2020 00:37
Selamat datang untuk semua para agan-agan di thread ane yang masih berantakan ini emoticon-Smilie
0 0
0
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
06-06-2020 10:57
Asikk nitip jejakk 🏍🏍🏍🏍
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
06-06-2020 12:49
nitip jejak dulu ganemoticon-Traveller
profile-picture
hasanudin39 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
06-06-2020 13:45

PART 5 - AKHIRNYA JADIAN II

Quote:"Jadi, kita pacaran?" Tanya Anggun sambil menghadapku dengan penuh senyuman.

"Apa nantinya kita?" Kata ane sambil memegang tangannya.

"Mau apa jadinya kita?" Kata Anggun sambil terus menatapku dengan senyuman.

"Kita bisa kan ngelewatin semuanya?" Kataku.

"Sebagai seorang kekasih yang sudah resmi" Kata Anggun.

"Bagai lelaki yang tidak mau mengecewakan permaisuri" Kataku, lagi.

"Bagai Romeo Juliet yang punya cinta sampai mati" Kata Anggun. Lalu kami saling menatap satu sama lain.


Aku tidak pernah merasakan cinta seperti ini. Pikirku, waktu aku kehilangan. Tidak akan ada yang bisa menggantikan. Waktu aku jatuh, tidak akan ada yang bisa membangkitkan. Ternyata itu salah, semua salah, semua apa yang aku bayangkan jauh dari kenyataannya. Kalau Shania tidak mengajakku hari lalu, mungkin aku tak akan bisa merasakan jatuh cinta seperti hari ini. Kalau aku malu-malu memperkenalkan diri, mungkin aku tidak akan mendapatkan senyuman yang sekarang sedang membuat ku jatuh hati berkali-kali.

Di kota yang aku datangi, ternyata ada sosok wanita yang sedang menanti. Bukan maksud aku ingin membuatnya menunggu. Tapi bicara soal hati adalah hal yang cukup sulit. Seperti yang kita ketahui. Banyak yang memperjuangkan, padahal hanya menjadi angan-angan. Banyak yang menanti. Tapi hanya menunggu cinta yang tak pasti.

Bukannya aku merendahkan. Ada juga, kan, yang bernasib baik sepertiku. Baru kenal sehari, bisa nyambung karena obrolan, tiba-tiba jadian setelah kedekatan. Aneh memang. Cinta perlu kau cari. Maka dari itu, ayo! Jangan berdiam diri!

"Kamu besok gak kerja?" Tanya Anggun.

"Kerja. Kamu kerja apasih? Aku belom tau hehe" Kataku sambil tertawa kecil.

"Aku jagain toko butik, sayang" Kata Anggun, kini dia mulai memanggilku sayang.

"Oalah, kirain aku kerja kantoran" Kataku.

"Aku udah ngelamar di perkantoran dekat-dekat sini, semoga aja keterima ya" Kata Anggun.

"Aminn ya" Kataku.

Suasana mulai sedikit gelap karena sudah mau menjelang sore hari. Tak terasa, hari yang berharga begitu cepat rasanya. Kemesraanku dengannya harus segera usai. Mengingat Anggun juga punya pekerjaan, akupun juga. Tapi aku tidak akan menyianyiakan kesempatan. Aku menatapnya sekali lagi, seraya berkata.

"Aku sekarang pacarmu. Bukan pengatur apalagi pengganggu. Aku suka, karena aku cinta. Aku memilih, karena aku tau kamu orang yang pantas untuk mendapatkannya. Kamu cantik, aku tak naif, apalagi harus berkata, cinta bukan soal fisik melainkan dari hatinya. Tidak, aku gak mau ngomong seperti itu ke kamu. Mana mungkin aku bisa sayang pada orang yang tidak punya rupa. Bagaimana bisa, aku memilih tanpa maksud dan tujuan. Aku bukan orang kaya, apalagi orang punya. Aku enggak tampan, cuma punya rasa untuk di ungkapkan.

"Kamu jaga apa yang ada. Aku gak minta apa-apa. Asal jangan ada penghianatan, ya?" Kata Anggun.

"Aku antar kamu pulang. Biar pas aku sampai rumah. Ada kata rindu yang mengiringi perjalanan" Kataku.

"Aku yang bayar" Kata Anggun.

Anggun berjalan menuju tempat kami memesan makanan. Tidak banyak, hanya cemilan yang kami pesan.

Setelah itu Anggun menyamparku ketempat parkiran. Kini, aku yang bayar. Biar sama-sama tidak ada yang dirugikan. Walau dalam hitungan matematika itu tidak menguntungkan, setidaknya aku mengajarinya kerja sama.

"Ayo kemon" Kata Anggun dengan senyumannya.

Aku gas motorku perlahan. Seperti tidak ingin ada hal yang terlewat ketika kita sudah pulang. Anggun menyenderkan pipinya di pundakku. Kadang sesekali dia memelukku. Sungguh, ini adalah hari yang bisa dibilang membuatku sangat bahagia. Bagaimana tidak? Seharian ditemani dengannya, hehe.

"Kamu pulangnya hati-hati Po" Kata Anggun.

"Po?" Kataku, kaget.

"Panggilan kamu dari aku, hehe" Kata Anggun.

"Haha, kok Po? Namaku kan Benyamin, jauh banget lho" Kataku.

"Kamu gasuka aku panggil Po?" Kata Anggun, haha, dia ngambek.

"Aku suka apa yang kamu suka ajadeh" Kataku, mengalah.

"Gitu dong" Kata Anggun.

Perjalanan terasa tidak ada sepi-sepinya. Selain ditemani pengendara yang lain. Aku dan Anggun bercanda dan tertawa diatas motor.

"Kamu tuh, masa bisa buatin quotes buat orang lain, tapi dirinya sendiri nembak ceweknya cuma bilang. Kita pacaran yu Nggun, haha" Kata Anggun meledekku.

"Aku gamau ya di sama-samain, haha. Bukan gitu sebenarnya. Aku takut kamu tolak. Lagian, percuma aku rangkai, kalo yang didapat hanya kata tidak" Kataku.

"Kamu bisaan aja ngelesnya" Kata Anggun mencubit perutku.

"Nanti jatoh astaga" Kataku sambil tertawa.

"Lagian, ngalah kek jadi cowok" Kata Anggun, sambil sok cemberut.

Semua bercandaan itu berlanjut sampai tak terasa aku sudah berada didepan gerbang perumahannya Anggun. Aku masuk kedalam perumahannya, karena mau pamit juga kepada orang tuanya.

"Yahh, mama sama papah lagi keluar. Kamu langsung pulang apa masuk dulu kedalam?" Tanya Anggun.

"Aku langsung pulang aja ya" Kataku.

"Yaudah" Kata Anggun sambil mengadahkan tangannya.

"Apa ini? Uang bulanan? Haha" Kataku.

"Salim Po" Kata Anggun.

Lalu aku ulurkan tangan. Kirain beneran salim, ternyata hanya diusap perlahan.

"Hati-hati ya, makasih Po" Kata Anggun.

"Aku pulang ya" Kataku. Anggun senyum, akupun juga.

Lalu aku gas kembali motor roda dua ini untuk pulang kerumah. Sungguh kejadian yang banyak indahnya. Inilah hari yang kutakuti kemarin. Inilah hari yang membuatku terus kepikiran. Inilah hari, dimana aku mendapatkannya.

Tringggg

"Dimana" Telepon dari Shania. Aku pinggirkan terlebih dahulu motornya untuk menjawab teleponnya.

"Dijalan, kenapa?" Kataku.

"Gue tunggu rumah, oke? Gue ajak Hasan sekalian" Kata Shania yang lalu dimatikan teleponnya.

Lalu aku bergegas untuk sampai kerumah, tidak enak juga membuat kedua sahabatku menunggu. Maka dari itu, jalannya aku cepatkan.

"Assalamualaikum" Kataku sambil membuka pintu.

"Walaiqumsalam" Kata seisi rumah. Ternyata 2 orang sahabatku sudah menunggu didalam.

"Darimana nih" Kata Hasan.

"Janjian" Kataku sambil senyum-senyum sendirian.

"Kenapa sih lu senyum gajelas gitu" Kata Shania yang mungkin heran. Ini waktunya untuk aku mengabarkan kalau aku sudah jadian.

"Abis pacaran dong sama Anggun" Kataku.

"Hah?" Sontak mereka.

"Hehe" Kataku.

"Serius? Udah jadian?" Tanya Shania.

"Gitu dong, jangan lama-lama" Kata Hasan.

"Dirayain lah" Kata Shania yang langsung merebut hpku.

"Pesen pizza sama minumannya Na" Kata Hasan.

Hp ku kini dikuasai mereka. Baru saja datang, sudah dipalak duluan, sialan.

"Masa sahabat gue punya pacar gak ada perayaan" Kata Shania.

"Haruslah" Kata Hasan.

Lalu aku menceritakan dari awal kejadian kenapa bisa pacaran. Intinya, kedekatan yang lama tidak menjamin kau akan mendapatkannya. Tapi, lihat-lihat dulu siapa yang dituju. Kalau Anggun kemarin balas seadanya, mungkin aku akan menyerah duluan. Kan, itu tandanya dia tak mengasih harapan? Buat apa diperjuangkan. Itu menurutku, terserah kamu.

"Selamat" Kata kedua sahabatku.

Lalu kami tertawa bersama, memakan pizza yang baru saja datang. Lalu tertawa lagi, minum kopi dingin yang kadang gulanya tak terasa. Tertawa lagi, kemudian pulang karena besok banyak pekerjaan.

Quote:Pacarku yang cantik, jangan takut kekurangan pensil alis. Apalagi cuma hal kecil seperti kehabisan lipstik. Kalau persediaan habis, kabari aku secepat mungkin. Cantikmu itu mahal, biar aku yang terus berkorban untuk mendapatkan, nya
profile-picture
profile-picture
sultanalhadad dan joo1507 memberi reputasi
2 0
2
[FIKSI] MEMPERTAHANKAN SATU NAMA
06-06-2020 13:46
Index akan dibuat ketika sudah mencapai page 2. Itu sangat berguna, buat agan-agan, pastinya, kan? Hehe. Selamat membaca, semuanya.emoticon-Haiemoticon-Haiemoticon-Hai
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
egality
Stories from the Heart
bully-crime---thriller
Stories from the Heart
hello-good-bye-bae
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
kumpulan-cerita-seram
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia