Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
6
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ecf695ff0bdb23f974159e6/jodoh-terbaik-pilihan-ibu---cerpen
"Kapan Nikah?" Pertanyaan yang tak asing di telingaku. Bukan sekali saja orang-orang bertanya. Dua, tiga, bahkan lebih. Namaku, Kanya Adista Jelita. Seorang guru sekolah dasar di daerahku. Anak sulung dari dua bersaudara. Memasuki usia 24 tahun, menurutku masih muda. Mungkin, karena rata-rata gadis di sini nikah muda. Lulus SMA langsung ke KUA. Jadi mereka menganggapku perawan tua. Bukan tidak mau
Lapor Hansip
28-05-2020 14:33

Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen

Past Hot Thread
icon-verified-thread
"Kapan Nikah?"
Pertanyaan yang tak asing di telingaku. Bukan sekali saja orang-orang bertanya. Dua, tiga, bahkan lebih.
Namaku, Kanya Adista Jelita. Seorang guru sekolah dasar di daerahku. Anak sulung dari dua bersaudara.
Memasuki usia 24 tahun, menurutku masih muda. Mungkin, karena rata-rata gadis di sini nikah muda. Lulus SMA langsung ke KUA. Jadi mereka menganggapku perawan tua. Bukan tidak mau menikah, hanya saja aku ingin mengejar cita-citaku terlebih dahulu.
Walaupun Ibu mengijinkanku kuliah, masih saja berpikiran kolot.
Kata Ibuku, "Setinggi-tingginya anak perempuan itu ujung-ujungnya dapur, sumur, dan kasur. Ibu kamu ini dulu umur sembilan belas tahun sudah punya kamu. _Lah_ kamu, sekarang sudah dua puluh empat mau nunggu apalagi? Kerja? Sudah. _Noh_, Rita temen SD kamu sudah punya anak dua, kamu kapan nikah?"
***
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
"Ingat nanti langsung pulang! Jangan mampir-mampir!" Kanjeng Ibu mewanti-wanti anak gadisnya ini.
"Apalagi sih, Bu? Pokoknya Kanya tidak mau dijodoh-jodohin lagi. Kesannya aku ini tidak laku saja."
"Itu kamu tahu tidak laku. Pacar saja tidak punya."
"Ya Tuhan, kata-katanya _ajib_ bener! Kanya pokoknya tidak mau, Bu. Hari gini main jodoh-jodohan. Kuno! Seperti ningrat saja. Kita itu bukan darah biru. Darah Kanya itu merah."
"Memang hanya darah biru yang boleh dijodohin? Sepertinya tidak ada undang-undangnya deh. Kalau kamu dari kemarin sudah bawa calon, tentu ibu tidak perlu susah-susah jodohin kamu dengan anak temen ibu."
"Ayah saja melarangku pacaran, lantas aku nyomot jodoh dari mana, Bu."
"_Nah_, itu tahu. Jodohmu itu hilalnya saja belum tampak. Makanya sekarang ibu bantu kamu biar jodohmu itu kelihatan."
"Enggak mau, nanti cowok pilihan Ibu _nyeleneh_ lagi."
"_Nyeleneh gimana_, to? Kamunya saja yang banyak milih."
"Mereka enggak banget, Bu. Bukan selera Kanya Adista Jelita."
"_Halah_, kamu itu yang kebanyakan milih-milih tampang saja. Harus ganteng, pinter lah. Harus ini itu," omel Ibu yang memang ada benarnya.
"_Yaelah_, Bu. Tampang itu tetep nomer satu. Buat perbaikan keturunan. Hahaha."
"_Wes_, kali ini yang terakhir. Kalau kamu tidak cocok ya sudah."
Aku jalankan Beat hitamku meninggalkan rumah. Aku harus segera sampai sekolah. Kini tidak lagi peduli soal perjodohan. Sudah terlalu membosankan.
Cowok yang Ibu jodohkan denganku selalu saja aneh. Feri, cowok penyuka warna merah muda. Terlalu gemulai menurutku. Kejantanannya diragukan.
Kemudian, Aryo. Dia memang gagah, tampan, dan lumayan buat dibawa kondangan. Namun, belum apa-apa sudah membentakku. Setelah menikah nanti, aku takut dia hobi main tangan.
Rizal, dengan cambang terkesan cowok seksi. Laki banget. Sayang ternyata dia penyuka pedang-pedangan. _Ogah_ banget. Aku pernah memergokinya sedang ciuman dengan sesama pemilik batang di tempat parkir sebuah rumah makan cepat saji. Kok ya mereka sudah kehilangan urat malu.
***
Sepulang mengajar aku langsung tiduran di kamar. Biarlah dianggap 'kaum rebahan', kenyataannya memang begitu. Namun, semua berakhir saat Ibu menghampiriku.
"Buruan mandi! Anak perawan kok pemalas."
"Iya, Kanjeng Mami!"
"Udah jangan ditekuk mulu itu muka! Udah jelek, tambah jelek."
" _Ealah_, punya ibu kok hobi ngehina anak gadisnya mulu. Jangan-jangan aku ini anak tiri ya, Bu!"
"_Hus_! Ngomong tidak ada saringannya. Buruan mandi! Keringatmu itu loh bau asem."
Setelah selesai mandi, ternyata Ibu masih saja di kamarku.
"Kali ini dengarkan ibu ya, _Nok_! Ibu sudah carikan kamu calon terbaik. Dia baik, mapan, sopan, tidak macam-macam. Anaknya tidak merokok, sholih, rajin ibadah, dan menghargai orang lain. Pokoknya suami idaman, sangat cocok dibawa kondangan," kata Ibu membela pilihannya.
"Tapi, Bu ...."
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
"Sudah, ketemu dulu. Belum apa-apa kok kamu nolak. Tidak baik itu. Jangan terkesan kamu gadis sombong, nanti jauh jodohmu!" nasihat Ibu sekian kalinya.
"Malah nyumpahin anak sendiri."
"Ingat nanti malam dandan yang cantik! Perjodohan itu membuatmu lebih terlihat elegan. Bukan seperti pacaran tidak sehat. Diseret sana sini tidak jelas. Macam cewek gampangan."
Ibu terlihat sangat antusias banget dengan perjodohan ini. Mungkinkah ini saatnya aku membahagiakannya?
***

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Bersamaan dengan pintu kamar terbuka dan muncul Dimas--adikku yang sudah tampak rapi.
"Kak, sudah belum? Dandan lama amat, tetep aja jelek."
Inginku mengumpat, tetapi takut dikata jahat. Boleh tidak itu bocah masuk lagi ke perut emak.
"Itu teman Ibu sudah di ruang tamu. Mereka sudah nungguin dari tadi. Kata Ibu, kakak cepat keluar!"
 "Iya, bentar," kataku di tengah kegundahan.
"Jangan pake lama!" perintah adikku sambil menutup pintu.
Rasanya aku ingin menjambak rambutku. Sayangnya kerudung telah menutup sempurna.
"_Aaaarg! Mengapa harus ada perjodohan sih? Macam zaman nenek moyang aja. Jangan-jangan aku mau dijodohin sama om-om tua, botak, dan buncit! Oh, tidak!_"
Setelah perang batin hingga beberapa menit, akhirnya kumantapkan hati. Aku menghembuskan napas pelan, seraya sedikit membetulkan letak kerudung.
Bismillah. Semangat, Kanya!
Ya Tuhan, aku trauma dengan lelaki bercambang yang ternyata suka pedang-pedangan.
"Ini putrimu to, Din? Masyaalloh cantik!" ucap Bude Sopia membuyarkan lamunanku. Beliau menatap tak berkedip.
Ibu menyenggol lenganku. Memberi isyarat supaya aku mengenalkan diri. Sedangkan, Dimas justru tersenyum mengejek.
"Assalamualaikum, saya Kanya, Bude," sapaku sambil mencium tangan.
"Waalaikumsalam, Sayang. Ya ampun cantik sekali. Masih kuliah, ya?"
"Saya mengajar di SD, Bude."
"Masyaallah, hebat. Masih muda sudah jadi guru. Tipe Ramadhan banget. Cantik dan pintar."
Aku tersenyum canggung. Sedangkan pandanganku tertuju pada cowok itu. Ia tampak tersenyum tipis.
Kemudian, entah apa yang para tetua itu obrolkan aku tidak terlalu menyimak. Dimas ternyata cocok dengan Ramadhan, mereka asik bercerita. Sedangkan aku, justru sibuk dengan lamunanku.
Setelah cukup lama mereka berbasa-basi, sebuah pertanyaan membuyarkan lamunanku.
"Bagaimana, _Nduk_? Kamu setuju 'kan?" tanya Bude Sopia.
"_Hah_? Kenapa, Bude?"
"Kamu itu ditanya malah balik tanya. _Piye to, Nduk_. Kamu itu ngayalnya _nyampe_ mana?" kata Ayah seolah menyindirku. Beliau kalau ngomong tak tahu tempat saja, persis Ibu.
"Kamu setuju 'kan dengan perjodohan ini, _Nduk_? Kalau Ramadhan, setuju tidak, _Le_?" Kali ini Pakde Rahmat yang bertanya.
"Rama _manut_ saja, Pak. Kalau Dek Kanya setuju dan mau menerima Rama apa adanya, kita bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Mungkin ini terkesan mendadak. Dek Kanya bisa mempertimbangkannya."
_Masyaallah, suaranya nyess. Bikin dedek emes terpesona._
"Bagaimana, _Nduk_?" tanya Ayah.
Aku bingung harus menjawab apa. Dimas tampak senyum-senyum sendiri. Sedang lainnya berharap cemas menanti jawabanku.
"Beri Kanya waktu! Ini sangat mendadak. Kanya bingung, takut salah mengambil keputusan."
"Bagaimana, Nak Rama?" tanya Ayah.
"Baik, Paman. Biar Dek Kanya memantapkan jawabannya. Saya tidak memaksa harus jawab sekarang."
Aku mendesah pelan. _Bismillah!_
"Tolong beri saya waktu satu bulan!"

***
Setelah malam itu, perasaanku semakin tak karuan. Pekerjaan sempat keteteran, karena fokusku terpecah.
"_Nok_!" panggil Ibu mengagetkanku. Aku bahkah tak tahu kedatangannya di kamarku.
"Ya, Bu," jawabku lirih.
"Kamu kebanyakan melamun. Kalau kamu memang tidak setuju, kamu bisa menolak. Ibu tidak mau memberatkanmu. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Ibu ingin bisa melihatmu menikah dan kamu bahagia."
Aku masih bergeming. Entah, harus kujawab apa?
"Kami membatasi pergaulanmu. Kami menjodohkanmu semata-mata agar kamu terhindar dari hal-hal buruk di luar sana. Kami ingin kamu menjaga mahkota berhargamu dengan baik. Hanya suami yang berhak mendapatkannya. Namun, jika kamu tidak bahagia, kali ini kamu berhak kok mencari jodohmu sendiri. Semoga ibu masih diberi panjang umur, diberi kesempatan melihatmu menikah."
"Kanya bingung, Bu."
"Minta yang terbaik sama Allah. Sholatlah!"
Aku mengangguk, lalu memeluk Ibu erat. Tak terasa air mataku menetes. Entah, karena haru ataukah kegundahanku.
"Sudah, jangan menangis!"
"Kanya sayang Ibu."
"Ibu juga. Sayang ibu lebih banyak dibanding kamu."
***
Pertemuan kedua, perasaanku tetap saja cemas. Jantungku masih berdebar kencang. Sepertinya, aku butuh dokter sekarang.
"Bagaimana Nak Kanya?" tanya Bude Sopia.
"Bismillah. Ya, saya terima."
"Alhamdulillah," ucap mereka serentak.
Kulihat Ramadan tampak tersenyum puas dengan jawabanku.
"Sekarang kita tentukan saja hari baiknya, bagaimana?" tanya Pakde Rahmat.
"Bolehkah saya ajukan beberapa permintaan ke Mas Rama, Pakde?"
"Boleh, boleh, _Nduk_."
"Saya ingin langsung menikah saja, tanpa ada acara pertunangan. Kapan waktunya, _manut_. Saya ingin pesta pernikahan yang sederhana, yang penting kesakralannya. Dan satu lagi, apakah Mas Rama tetap mengijinkan saya mengajar setelah menikah nanti?"
"Soal pernikahan saya _manut_, Dek. Dan jika adek masih ingin mengajar, saya tidak keberatan. Asal adek tetap tahu fitrahnya sebagai seorang istri."
Hampir tiga jam berembuk, akhirnya ditetapkan harinya. Tiga bulan dari sekarang. Secepatnya, karena takut terjadi fitnah. Soal mahar, aku tidak memberatkan. Cukup seperangkat alat sholat.
***
"Saya terima nikah dan kimpoinya Kanya Adista Jelita binti Ardi Ardiansyah dengan mas kimpoi seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah."
Hari ini aku telah sah menyandang status sebagai seorang istri. Semua terasa seperti mimpi. Sepertinya baru kemarin Ayah mengajari berjalan dan Ibu masih menyuapiku.
Setelah acara ijab kabul, kini diteruskan sungkeman. Ayah memelukku erat memberi beberapa nasihat untukku dan juga Mas Rama--panggilan untuk suamiku--.
Saat berganti Ibu. Beliau mendekapku erat.
"Tugas Ibu selesai ya, _Nok_. Ibu akhirnya melihatmu menikah. Ibu yakin Nak Rama yang terbaik untukmu. Ia bisa membimbingmu. Jadilah istri yang sholihah. _Manut_ suami ya, _Nok_. Jadilah ibu yang bijaksana kelak untuk anak-anakmu. Ibu menyayangimu."
Belum puas aku memeluk ibu, beliau sudah jatuh luruh ke lantai. Kini, kebahagiaan itu hanya sekejap. Terganti dengan jeritan tangisanku.
"Ibu ...."
***
"Bu ... Kanya kangen!"
Hari ini tiga tahun kepergian Ibu. Tepat saat pernikahanku, beliau pergi untuk selama-lamanya.
Ibu tak pernah memberitahu penyakitnya. Beliau lebih memilih memendam sendiri. Sakit jantung bertahun-tahun, tak pernah kudengar beliau mengeluh. Pura-pura terlihat kuat, padahal rapuh.
"Bu, terima kasih telah memberiku jodoh yang terbaik."
Perjodohan yang terkesan kuno, kolot, ternyata membawa banyak perubahan dalam hidupku. Aku sempat ragu. Namun, justru ini jodoh terbaik dari Ibu untukku.
Mas Rama, benar seperti yang Ibu katakan. Baik. Bahkan, sangat baik.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
amaliasyifa dan 21 lainnya memberi reputasi
20
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
03-06-2020 10:56
Salut gan.
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi
1 0
1
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
03-06-2020 20:32
yang terbaik
0 0
0
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
04-06-2020 18:36
Babeeeeehhhh emoticon-Mewek
0 0
0
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
05-06-2020 10:23
emoticon-Angel
0 0
0
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
06-06-2020 15:31
alhamdulillah smoga langgeng sis emoticon-Malu
0 0
0
Jodoh Terbaik Pilihan Ibu - Cerpen
07-06-2020 09:53
emoticon-Cendol Gan
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
harusnya-kita-bahagia
Stories from the Heart
death-among-us
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia