Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
43
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eccc72e09b5ca2fed40d244/sore-bukan-puisi-bukan-pula-sajak-hanya-paragraf
Sore kita duduk di teras, kita bercanda tawa tentang  masih tentang hujan ... itu saja yang kita bahas kenapa tak kunjung bosan? Mungkin karena dengan kamu fikirku ... Kamu tahu pasti aku sangat suka dengan hujan, jika orang berkata banyak kenangan dalam genangan ,,, kalau menurut ku sih hujan adalah benang benang kehidupan yang dikirim oleh Tuhan, dalam rintiknya ada beraneka tujuan ... tentunny
Lapor Hansip
26-05-2020 14:37

SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)

Sore kita duduk di teras, kita bercanda tawa tentang  masih tentang hujan ... itu saja yang kita bahas kenapa tak kunjung bosan? Mungkin karena dengan kamu fikirku ...
Kamu tahu pasti aku sangat suka dengan hujan, jika orang berkata banyak kenangan dalam genangan ,,, kalau menurut ku sih hujan adalah benang benang kehidupan yang dikirim oleh Tuhan, dalam rintiknya ada beraneka tujuan ... tentunnya jika kita tahu. Tentang kodok yang bersenandung saat mendung, tentang ikan yang selalu menunggu hujan di permukaan sembari menunggu serangga yang akan dimakan. Lalu pernah tidak kita dengar rumput yang bercanda dengan tanah, berbicara tentang matahari besok membawa menu apa saat fotosintesa ,, sunggu hujan sore ini sungguh sungguh.

 

Di depan ku ada secangkir teh dan wajah mu yang tersenyum tanpa henti, sesekali memasang manja, kita lupakan perbedaaan umur kita. Deras masih mengguyur subur, serbuk serbuk aroma tanah mulai pindah, semerbak khas menjadi nafas.

 

Ku dengar ceritamu, tentang aneka kepala yang berbeda beda cara berbicara, namun sama cara makan dan cara minum, seperti kebanyakan kata mu, sedang kamu masih seperti rumput yang kuning meski yang lain hijau, namun tetep enjoy kata bule belanda ... tidak masalah seperti hujan ada kala gerimis adakala deras, mereka sama sama hujan, hanya kita saja manusia yang suka membeda bedakan  ...

Lalu kau beri aku sebait puisi  ...

“aku rindu kamu tahu

Tanpa bicara dia ada

Tanpa bicara kamu merasa

Tapi sayang tak tepat waktu “

Lalu aku tutupi kebodohanku dengan senyuman palsu, tapi pintarnya kamu tahu ... kamu berkata

kita ini siapa

Kita hanya manusia kan

Lihat saja hujan,

dengarkan dia berkata

Jalani saja ucapnya

Kamu suka hujan kan

Jadi turuti saja “

Aku semakin kalah tak terarah, kenapa hujan masih saja membahas yang tak jelas, membahas tanya tanya yang tak mau bertanya. Dengan kata sudah kau sudahi sore ini meski, teh di cangkir belum afkir ...

1#

 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
irmawidjaya dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
03-06-2020 23:13
ku kayuh sepeda dengan kuat, kaki dan tangan sepakat mendekati angan, pukul lima kita bertemu di taman. roda depan lebih cepat roda belakang, tak ku pedulikan pohon pohon mahoni, apalagi kerikil yang sesekali terpental, yang aku tahu pukul lima kurang lima aku sudah disana. sudah ku siapkan buku bergambar bunga, ku selipkan sepucuk surat ber amplop jingga ... butuh semalam aku selesaikan satu lembar kata kata, tidak penting apa isinya, yang penting surat ini sampai kepada dia,,,,


......
profile-picture
husnamutia memberi reputasi
1 0
1
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
18-08-2020 10:50
Seperti ikan yang berenang dalam lautan kopi, bermain main dengan gula, dalam cangkir yang kecil kita berdansa, menyatu dalam aroma dan rasa. Sedang mereka yang tak menegrti hanya mengamati, membaca dan menyala nyala seakan kita yang gila, seakan akan kita hanya khayalan. Bagaimana panas yang mendidih terasa sejuk, bagaimana yang pekat hilang tanpa sekat, kita bangun dunia lain dalam seelas yang bertulis poci. Biarlah sepi asal akau dan kamu, biar lah apaadanya asal kita berdua, kita tata gula yang berserakan, kita raih bubuk yang melayang, kita susun biar jadi rumah yang mewah.

Mungkin sebentar lagi dunia ini dingin, tapi aku takkan pergi, paling Cuma sesekali ku kepermukaan mengambil udara untukmu, untuk paru paru mu yang harus melanjutkan kehidupan hingga kita tua, hingga kopi ini surut, hingga gula ini tiada, dan yang tersisa hanya cerita saja ….
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
24-08-2020 01:01
meja berdetak dengan jam, mendengarkan detik mengetik, menjumlah angka tanpa aksara, semua berserakan diatas meja. sedang disudut mata aroma itu bertunas dari secangkir kopi, wanginya alami, seakan membawa imajinasi pergi. di atas kertas yang beberapa gram, semua terekam kisah ku dan kisahmu yang medendam, cerita hitam,percayalah sebagai sejarah aku telah kalah. sengaja tidak aku tata kata kata dan benda benda di atas meja, aku ingin lupa, aku ingin bisa tidur teratur tanpa menngingat aku menangis seperti ayam sekarat ... kau masih berkata kalau aku kuat.

buka saja halaman nomor dua, di lembar itu kan kamu temukan gambar yang menyeketsa bagaimana wajah yang lelah, kaki yang ingin menyerah, hati yang pernah patah .... namun di keterangannya dia masih bocah, jadi maklum kalau Tuhan dedang mengirim pasukan pengiuji yang bernama malaikat yang ada di kanan kiri, meski kadang pindah kedepan bisa juga ikut minum kopi. jangan kau buka lembar ketiga .. karena hanya tersisa separo saja, sisanya hilang terbang, kabur bersama angin melayangke jurang. sudah duduk saja di sebelah orang kalah, biar aku kalah aku tetap bahagia, karena aku kalah kamu menang ... jadi mari kita duduk bercanda dan bersenang senang, kita habiskan kopi sampai matahari tenggelam, seraya kita kunyah kunyah kacang, biar juni datang kita tinggalkan mei, esok seperti ini juga, seperti ini lagi ... jadi aku akan kalah berkali kali, dan kau akan bahagia bertubi tubi.
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
24-08-2020 09:01
CINTAMU ITU SEPERTI HUJAN.

Hujan itu jatuh
dalam bingkai hati
oleh cintamu, seperti ;
air mata
mata air
menetes

Ketika tanah basah
saat kerontang seperti hati
menyejukan
ternyata kau masih di sini
berdiri menunggu
dengan rindu berpendar

Jatuh hujan itu
di hati berbingkai
oleh cintamu, seperti ;
mata air
air mata
menetes

Terima kasih
kau sejukkan hatiku
dengan tulus cintamu
seperti hujan.....

Jangan lagi air matamu jatuh seperti air hujan...
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
26-08-2020 00:21
purnama sebentar lagi menepi berganti kejora, sempurnanya malam akan berjalan tanpamu. sepeerti biasanya hanya beberapa menit teringat, segera terlupa, kamu harus terima. jari mu masih mencari cari kata yang pas untuk menyampaikan pembukaan, menunturkan isi hati meski tak sesuai dengan naskah yang di email tadi pagi. dengan mesin ketik antik kau otak atik, dengan kepala beruban satu dua kau mencari cara, sudut jam yang membentuk segitiga sama sisi kamu tak peduli, setidaknya kokok an sang jantan dikandang yang berkumandang mengingatkan bahwa purnama telah kembali peraduan, bersenggama dengan bulan, dengan awan, dengan hujan, dengan kenyataan.

senyum itu memanjang, di bawah hidung terpajang, sisa sisa batang rokok jadi saksi, kenyataan tak selalu seperti yang diinginkan, dan menyampaikan harus dengan cara yang benar, bukan biar dipuja karena pintar, tapi misinya adalah menyampaikan keadaan kenyataan yang harus diterima tanpa mecari propaganda, tanpa membuat tanda siapa yang jadi tersangka. jam sudah larut aku takut, barangkali jam tujuh lebih cepat berangkat, aku harus rebahkahn lelah sejam dua jam lebih dari cukup ....

sampai jumpa dillapangan, kekasihku tercinta, aku tepat dibawah bentang bendera, jangan kau lihat aku, jangan kau cintai aku, karena aku hanya budak tanpa nama yang harus siap sedia setiap tuan meminta ....
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
27-08-2020 00:27
nyalakan pai di tengah tengah, kita bakar malam biar bara pagi menyala nyala. satukan tangan kita dalam kedamaian kita berputar putar di bawa bintang kita menari seperti anak anak bermain layang layang. keringkan matamu simpan pedihmu di bawah tungku itu, habiskan kopi di atas tanah, sisa tai tai kehidupan, yang basah biar tumbuh membawa tunas bahagia, sepasang kita tertuju pada genggaman yang menyimpan biji benci, lalu kita buang menjadi arang. api belum padam bara belum menangis ... beberapa langkah kaki kita tepati, menghitung berapa kali kita ingin mati, berkali kali kita ingin berlari dari dunia ini.

duduk saja, tak perlu risau tanah menusuk kulit, tak sengeri yang terbayang, ketakutan saja yang mereka reka. rintik api itu terbang seperti kunan kunang ... lihat bayang kita pun ikut menari meski tak sama , setidak nya ikut bersama. kokok ayam di kandang terbang keluar, membangunkan kambing dan sapi, meski untuk kencing dan buang air, setidak nya itu berita bahagia. malam ini kita rayakan waktu yang sudah melempar jauh, memisahkan ruang, menawarkan uang, hingga akhirnya kita putuskan memilih ruang .... memilih waras, menjadi manusia yang berdansa bebas.



0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
03-09-2020 19:28
aku ketuk pintu, kamar kalian diam saja, sedang suara itu ada. aku masuk saja seperti kucing tanpa permisi, berharap kalian peduli, tapi kalian masih asik dengan permainan di tangan. di meja masih seperti biasa kopi hangat dan sepiring pisang goreng jenis raja, terdampar menggoda. tanpa peduli tanpa mengerti aku duduk di kursi yang biasa ku tempati. mendengarkan kalian berdua biacara, menyimak sesuatu yang jamak. Aku terdiam terbelenggu kaku.

Hanya diam saja, aku terpana, satu per satu berbeda dengan yang biasa, biasanya putih kini hitam, entah aku seperti tak mengenal kamar ini, tapi kalian berdua tidak asing. Begitu panjang jelekku, seperti jumlah butiran serbuk kopi, tanpa gula tanpa air. Aku tak marah aku tak dendam, aku terpaku saja, berusaha percaya.

Senja semakin gelap, kopi tinggal setengah, sudah tidak terlalu hangat, pisang goreng pun hanya sendiri. Detik pun tak bisa apa apa melihatku duduk disamping kalian berdua, tak mau memberi tahu berkata kata, apalagi berucapa sapa pada ku, kalian semua seperti lain, aku seperti terhanyut di sungai nil afrika. Menit yang enam puluh kini seakan menjadi tiga ratus enam puluh. Semua terasa sendu ... baru ku tahu aku tak sesempurna itu. Bagaimana pun kalian berdua ... adalah temanku, aku takkan membenci, aku takkan pergi.

Azan magrib ,,, berkumandang menarik telinga, sekedip mata aku kembali ke ruang tamu tanpa sempat berpamitan. Seakan semua kembali ... semua baik baik saja. aku coba datangi lagi ke kamar kalian, ku buka pintu .. ku lihat kopi itu sudah surut dan kering, sedang pisang goreng tadi sudah pergi meninggalkan piring ternaring. lalu senyum kalian berdua melebar menyapa, memanggil nama, aku jawab juga.
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
09-09-2020 04:06
semakin deras hujan yang jatuh, seakan dilangit sudah tidak ada mendung dan atsmosfer. tungku di meja masih setia membakar pantat panci yang berisi kopi khas kota jati. kita masih berbicara tanpa arah. membahas tentang harga beras, membahas tentang bagaimana nasib negeri ini lima tahun lagi. kursi satu lagi selalu kosong belum terisi, berharap kamu disitu tapi tak bisa. tak apa .... namanya juga sahabat tidak bolah sambat. hujan disini ya sampai pagi, aku tidak akan tidur meski berat melanda mata.

senyum mu begitu dekat, mata mu sangat cokelat, rambut mu hitam mengkikat, namun aku hanya bisa senyum sesaat. hujan masih dengan irama yang sama, rindu bercampur duka menjadi satu, menjadi pemanis dalam kopi yang tinggal setengah ku tuang lagi, tak ini malam ini cepat pergi. detak jam mengundang kokok ayam, belum jua mengusir gelap di luar sana. selimut mengganti hangatnya api yang tiba tiba pergi. gelap perlahan hidup, mendekap mata dengan lembut, menutup mata dengan alunan rintik yang memantul di atas lantai kamar, yang dikirim langit untuuku, selain kamu yang ku rindu, waktu juga ku rindu.

aku tak tahu kenpa kopi itu nikmat, saat suka maupun duka ... aku belum tahu jawabnya.
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
01-10-2020 01:19
petang tak beranjak dari pangkuan, masih membuka halaman berikutnya yang dikirim oleh tuhan, hampir sama dengan hari sebelumnya cuma yang ini rasa rasanya lebih banyak paragraf, jadi aku harus keluar dulu ke toko depan untuk membeli kopi dan susu, untuk membeli singkong goreng dan keju. langkah kaki ini sudah terbiasa telanjang, bersalaman dengan rumput dan aspal hingga mereka hafal mana jari manis dan mana ibu jari. lalu di sela sela jemari kaki terjadi obrolan antara jari tengah dengan ibu jari, sedang jari kelingking masih setia menjadi pendengar daeri samping. seperti biasa obrolan tentang keluh dan kesah jari tengah, yang selalu bertanya tanya mengapa, sampai dia lupa bangun dari mimpinya yang panjang. jari kelinking tak pernah berkeluh meski di a kecil dan tersisih, meski dia slalu menjadi yang terakhir saat potong kuku,

bisa jadi itu sudah garis tangan dari tuhan, kata ibu jari, jadi kamu jangan bertanya tanya mengapa, akupun tak tahu kenapa aku bisa jadi ibu dan tidak punya anak sampai sekarang. perjalanan masih panjang , jari tengah masih saja garuk garuk kepala yang hanya tumbuh beberapa bulu, taoi panjang. jari tengah pun berfikir mungkin kita tak tahu karena kita tak punya mata, atau mata kaki kita tertutup tak seperti mata yang ada dikepala terbuka dengan lebar sehingga bisa menerima semua dengan tegar dan sabar. sudah ... kata jari manis, sampai kapanpun berfikir kamu semakin jauh mencari jawabnya takkan bertemu dengannya, nikmati saja kopi di depan kita ... kalau sudah kembung sudahi.



perjalanan kita masih sangat jauh, sesekali bpleh berteduh, sesekali kita nikmati mentari merindukan pagi yang pagi ....


cobalah sentuh embun pagi itu jari tengah menengadah rendah, berusaha merasa apa yang tak dirasa, berusaha tidak bertanya meski di jiwanya sudah meronta ronta ingin menerjang perang. jari kelingking masoh menguping dengan hati hati, tanpa memasang raut yang kalut dia memejamkan mata dan tidur. jari telunjuk memeluk erat jari tengah dan ibu jari, bercerita bahwa semua sama tak ada yang abadi, tak seslau senang terus, sedih pun tiada abadi, semua akan berganti, jadi kita terima saja perjalanan inui, jika sedih pedih tertawalah sekeras kerasnya, jika senang merenunglah karena semua hanya sementara saja .......

semua sepakat bilang iya, meskipun jari tengah memaksa
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
01-10-2020 08:37
Ijin nyimak aja bray emoticon-Cool
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
02-10-2020 22:32
baru saja aku terbangun, jam ditangan menunjuk jam 3 sore, pas sembilan puluh derajat, kupaksakan kaki ini untuk berdiri, meski hati tak ingin. mata terbuka keduanya tapi seperi masih bermimpi, kaki dan tangan masih di awang, melayang goyang tak tenang. coba ku siram tenggorokanku dengan secangkir kopi, tapi masih saja setengah nyawa tertinggal di antara bantal dan kasur, bisa juga terkurung dalam sarung. pelan pelan mulai seimbang, kuraih jendela ku tutup pelan pelan, ku tengok mendung masih bercampur bias bias sore yang malas, burung burung pun yang biasa berkicau di dahan pepohonan tidak satupun terlihat batang hidungnya.

ku tutup rapat, angin dan panas ku beri batas, ku bersekan dan ku bersihkan yang berantakan ... agar lebih teratur. detik menit sudah turun menjadi 80 derajat, tak terasa sangat cepat. ku raih guling lucu, lalu kusanadarkan kepala ini pada bantal, ku lanjutkan mimpi ku lagi ....
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
09-10-2020 03:17
apa kabar sayang ... sore ini diatas kursi tua aku buka surat mu, dan aku baca dengan seksama seorang diri tanpa siapa siapa. di iringi mendung yang berganti reda, ku hapus pilu menjadi harapan, semoga kabar baik tertulis pada garis secarik. seperti biasa dalam huruf latin lau tulis penuh dengan hati hati dan halus, seolah seolah ingin menyampaikan rindu yang tersimpan dibatin, menyampaikan perasaaan yang tulus. senyummku mewakili apa yang kabaca, lega rasanya jika kamu baik baik saja. di antara spasi kalimat kalimat yang kau susun ijinkan ku meneguk kopi yang merajuk menunggu diatas meja, disamping tela tela. kau ceritakan disana sedang musim gugur, desember ini tidak ada yang dominan selain salju, kau kirim juga selembar foto memakai jaket tebal, memakai penutup kepala dari bulu beruang, atau bulu rusa tapi tidak bertanduk, terlihat seperti orang eskimo. aku berpikir mungkin jika disini ada salju tentu akan aku beli sirup, buat es campur sambil menangkap butiran salju yang jatuh gentayangan. lalu kau ceritakan, tentang kereta api yang sudah tidak memakai uap, sudah memakai listrik, semua berjalan cepat secepat kilat, jika datang terlambat maka akan tertinggal .. harus menunggu gerbong berikutnya. disana tidak ada kuda tidak ada juga kereta roda dua, semua suka jalan kaki dan naik kereta api tenaga listrik.

di lembar kedua, kau tulis pesan pesan, seperti biasa kau minta aku sabar, sabar menunggu hingga datang untuk bisa bertemu. dalam penantian jangan lupa ikat erat setia di jiwa, jangan sampai patah, apalagi pecah seperti gelas yang jatuh dari gedung lantai tujuh belas. aku merasa laki laki paling beruntung didunia, aku tidak bekerja, aku tidak memeras keringat, hanya dirumah, uang tersedia. apa yang ku ingin, apa yang ku minta kau beli, kau beri,lalu apa alasanku ... meninggalkanmu. untuk mencari yang lebih cantik ... kurasa kau tidak terlalu jelek, hanya saja agak sedikit gemuk, itupun kan karena setelah melahirkan anak pertama, dan sibuk mengurusi rumah sampai lupa olahraga. mencari yang lebih baik, kurasa dirimu adalah yang paling baik nomor dua setelah ibuku, selain itu tiada. aku bangun siang kau tidak marah, aku telat pulang, kau tunggu dengan senyuman ... dan yang paling membuatku terpaku padamu aku selalu kau panggil sayang.


ijinkan ku meneguk kopi lagi, tuk basahi kerongkongan yang bergejolak meledak seperti, suara induk ayam sehabis bertelur keluar dari kandang langsung menerjang. ku ambil selembar kertas dan sebatang pena, ku tulis surat balasan ,,,,,untuk mu yang jauh di sana.



kekasih ......
aku disni baik baik saja, ini aku baca surat mu sambil menikmati kopi, se usai hujan reda, di teras kursi biasa kita bercanda menghabiskan sore menuju senja, sambil melihat bunga bunga yang kau susun rapi. uang yang kamu kirim masih di bank, sepertinya bulan depan sudah cukup buat beli sapi lagi, sebagian buat bayar sekolah bocah. rencana besok aku apagi pagi ke pasar hewan bersama kawan, mencari indukan sapi metal atau lemosin, atau boisa jadi sapi susu perah saja yang warnanya hitam putih. sawah yang kita beli aku tanami kacang, dan sayur mayur, terong tomat dan cabe semua tumbuh bahagia. owww ya ,,,, anakmu sekarang rajin mirip seperti kamu, setiap pagi bapaknya dibuatkan kopi, baju dicuciin, aku merasa menjadi laki laki dan bapak paling beruntung dimuka bumi. lusa juga ada undangan kesekolahan untuk mengambil surat pengumuman, kelululusan anak kita satu satunya. setiap malam anakmu selalu bercerita tentang rindu, tentang doa ingin melihat ibu nya pulang, menyakiskan waktu wisuda, atau menemani saat masak didapur sambil bercerita tentang masa kecil ibu nya, yang tak pernah dilihatnya sejak sewindu lalu. kekasih .... kopi ini pun sampai dingin, merindukan melihat gigi gingsul mu yang selalu ranum tersenyum di sela sela canda kita,

aku harap kamu tak lama lama disana, sawah dan sapi sudah cukup buat pengahasilan dan makan sehari hari. ibarat kata makan lauk garam tak masalah bagiku, yang penting masih ada kopi. jadi cepat pulang ya sayang ......
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
12-10-2020 21:18
sore tadi ... hujan deras sedari pukul tiga, seakan dia menjemput azan dari tuan menuju masjid pinggir jalan. hujan datang bersama kawannya yang tak punya warna, tak punya aroma, namun terasa seperti udara, angin orang menyebutnya. tak ada sedih jika hujan datang, hatiku seperti percikan air yang jatuh ke jalan, seperi anak yang lincah meski celana bajunya basah kuyup, cahaya mata mu tidak redup. lalu aku melaju dengan kereta tua, jas hujan hangatkan ku, kecuali tangan dan mata, tangan ku yang ingin menyentuhmu dengan ujung jari, kukuku ingin menyatu, dan mataku ingin dibasuh agar sisa air mata lenyap, kesedihan pun tamat. yang ku suka saat hujan, jalanan sepi, yang kurasa angin bernyanyi, yang ku dengar rintik memetik lagu, lalu dedaunan menari nari sambil menyebar ... aroma mawar, cacing merengkuk lelap dibawah tanah, merelakan musim dingin datang lebih awal, lebih panjang dari yang biasa.

tidak ada yang tahu dalam perjalanan ini, ada rindu, ada sakit, ada cinta yang melekat kuat. mata ini terus memandang rintik tintik hujan yang pecah menhantam aspal, ingin menerjemahkan mereka seperti kata kata yang bersatu, berbaris membentuk kalimat, tanpa titik tanpa koma, bak peri yang bercerita mengantarku sebelum membuka mimpi. hati ku bertannya tanya, kemana muara dari kata kata ini, apakah akan kembali langit menjadi mendung, atau menjadi angin yang terbang menuju mendung, atau dia menjadi debu yang tertempel di bulu hidung. kalau rintik ini ku tangkap lalu ku tempel di lembaran buku, jadi berapa halaman ya? hatiku mengira ngira tanpa tahu malu, meskipun tak tahu hatiku masih mengira ngira juga. jarum spido meter masih 120 derajat, badanku pun masih hangat . jari ku lincah bersalaman dengan rintik yang ranum mudah pecah, hidungku pun merasakan kesejukan bulir bulir yang mengalir dari ujung rambut, jatuh ke alis, ke sudut mata, lalu mendarat di ujung hidungku yang tipis.

kesedihan itu kali ini ku tinggalkan, aku sedang baik hati dengan harapan, aku ingin tertawa saja. biar saja waktu itu mati di telan banjir biar saja itu kenangan dimakan ikan cupang, yang jelas aku mau hari ini riang. boleh saja kemarin aku jatuh hingga rapuh, boleh saja aku tiga hari yang lalu aku terluka patah parah, tapi kalau hari ini aku ingin menjadi angin apa aku salah, memang aku kalah tak bisa apa apa, setidaknya aku tidak menyerah. iyaa sepanjang hujan mengalir ... sepanjang hujan berderai ,... aku takkan selesai,
Diubah oleh tjapkijang
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
14-10-2020 19:41
Aku belajar menulis kata kata, tanpa titik dan koma, sore itu di teras rumah, di temani secangkir kopi dan sepirih rebusan ubi tanah. Kali ini asap tembakau sudah tidak di sisi, meski rindu memanggil, bibir menggigil tak stabil, tapi mulai kini aku pecah kongsi. Kemarin setelah di diagnosa aku terkena penyakit paru paru basah, kata dokter kalau aku mau umurnya panjang hiduplah bahagia tanpa asap tembakau. Aku bisa apa selain diam dan menggangguk sebagai persetujuan sepihak saja, meski demi ke baikanku tapi rasanya berat. Di sini udara masih berkawan, meski tak perawan masih cantik buat hidung dan paru paru. Kata kata selalu lebih jujur di banding aku berucap langsung, ketika aku di dekat mu bibir ku seperti terpasung, tak bisa cerita apa apa. Sudah pasti di sini sepi, anak anak sudah beranjak bersama keluarga nya, menjalani dengan mestinya seperti kita dulu waktu usia dua lima. Coba lihat aku .. tidak nampakah uban ini putihnya hampir sama dengan cangkir kopi, yang bergambar kembang sepatu, yang di rangkai daun hijau, jumlahnya tujuh. Kamu tak usah kwahatir aku tidak terlalu banyak gula, Cuma setengah cendok teh, aku tidak mau komplikasi paru paru di campur dengan diabetes, hancur badan ini, tak bisa menulis puisi lagi.


Hmmm ... sore, mendekat sini tak usah malu malu. Ambil saja beberapa potong cemilan itu. Air putih ada di teko warna merah, di atas meja sebelah lemari warna merah. Jangan malu malu ... sudah lama kau kenal aku kan, jadi duduk sejenak kita pandangi anggrek biru.


Putik bungga anggrek di pohon mahoni, sudah mulai bertunas, sesekali pagi ku semprot dengan semprotan burung kenari, sekedar buat menjaga agar tetap segar, indahnya tidak pudar. Hanya itu yang kau tinggalkan, selain foto di almari. Masih ingat dulu bunga itu kita beli jauh jauh naik sepeda dari desa ke kota, berangkat jam enam pagi, ku kayuh sekuat kaki. Sampailah di toko mbak nur, penjual keturunan jawa arab, mungkin nama panjangnya nur endang, kalau panjang. Setengah jam perjalanan tidak terasa, yang terasa waktu kau kesini kesana, memilih warna lalu bertanya aku menjawab, kau bertanya lagi lalu kujawab lagi, sampai aku menyerah dan aku jawab terserah. Ku tulis semua saat lima tahun lagi saat aku mulai pikun dan tuli, aku baca sejarah ... atau hikayat, pemuda gembala yang mendapat tuan putri anak petani. Bisa juga nanti jadi buku yang hanya di cetak satu ... untuk bacaan anak dan cucu, mungkin lucu.

0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
14-10-2020 23:31
...... sore ini begitu gelap, mendung enggan pergi. ku terkurung dalam api yang membara, membakar segala fikir, ku terjebak, ku ingin akhir. berbagai buku tebal ku buat sumpal kepala, aku berharap ini mujarab, namun luka batin ini kian sekarat. angin semilir semakin menyindir, seolah menhentak hentak dengan riak, kakinya yang keras, berbisik tuk balas. sebenarnya aku lelah, jujur aku ingin pulang ke masa lalu, dimana rumah sederhana menjadi sederhana, dimana udara, daun, dan ranting ranting menjadi kawan, yang selalu melengkapi kala ku lara, kala ku ria. masa masa ini terasa sangat lama, detik sangat lambat, deru air mata semakin sepi, ingin kembali.

aku masih ingat, dulu kita berempat, dilapangan samping rumah pak ahmad,kita selalu bermain bola, kita bermain tanpa henti dari sabtu sampai jumat, tapi ini semua lenyap, aku tak tahu dimana, batin ku dan raga ku sendiri, tak mampu berjalan, tak bisa bertemu waktu. ingin aku lupa biar semua bahagia, tapi itu .... tidak ada dalam kosa kata. penjara masa lalu mengurung, seperti mendung penghalang pagi, seperti jurang yang tegap menghadang, tak mungkin aku pulang. jika ini salah, kenapa ada dalam naskah, kau ciptakan darah tuk berderai di antara empat sahabat, yang awalnya kerabat semua tamat karena derajat. angan ku terbaring, hening yang semakin tiada semakin membawa ku ke dunianya dunia .....

angin hujan, bawa aku terbang, biar ku mengalir seperti batang kayu di sungai itu. biar ku pergi tanpa menyakiti, biar ku tenggelam tanpa dendam ...... aku tidak punya apa apa, aku juga tidak menjadi apa apa, semua sia sia saja.

Diubah oleh tjapkijang
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
17-10-2020 10:53
jangan jangan dia di sini karena dia di usir anaknya. perkara karena apa, menurutku karena judi. terakhir aku berkunjung dirumahnya yang tersisa hanya tempat tidur dan kasur. alat elektronik, meja lemari semua sudah tidak ada lagi, di dinding tertinggal foto keluarga waktu pernikahan anaknya yang pertama. sekarang dia sebatang kara, tidak lebih baik semakin lara. rindu nya terbakar menjadi asap putih, terbang menjadi bisu.

setiap sore kulihat di depan toko kelontong, matanya basah berkaca kaca, keriput kulit kian dalam, tatapan minta tolong. aku yang hanya tukang semir sepatu, ingin ku semir jidatnya biar dia berpikir, kalau dia tidak judi pasti nasibnya tidak sesial sekarang, barangjadi dia sudah kecukupan makan tigakali sehari lauk ikan bandeng, sambel tomat, sudah sangat nikmat. coba lihat nasibmu, sekarang ..... bukan ikan bandeng yang kau makan, tapi duri duri ikan sisa sisa kucing, kau kais satu satu, kau kumpulkan lalu kau jilat tak ubahnya lalat.

aku hanya punya sebotol air putih, bukan kopi yang kau idam idamkan, jadi terima saja.

kalau aku ingat ingat dulu, tidak serusak ini kisanak, tiap pagi aku lihat baju mu rapi, tidak berdasi, naik motor bebek merk sosoki, sepatu jreng terlihat mentereng. batinku menghambpiri kepala, mebawa setumpuk tanya .. kenapa waktu bisa semena mena, memutar nasib, memutar mutar tidak jelas, kepala ku pun malah jadi pening mikirin yang gak penting.
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
23-10-2020 03:31
saat itu sepi, rona merah kalah, panji hitam berkibar menutup seluruh kepala. berjuta kaki menuju satu pintu, berjuta kepala tunduk pada waktu, beberapa tak peduli, yang mereka tahu hanya kecewa. ada yang menangis di kolong jendela, ada yang tertawa lepas, menari nari di atas meja, beberapa lagi tunduk berdoa di tengah tengah cinta. rona merah semakin jauh, menjemput biru di barat, namun tak ditemui, semua diam kecuali malam, tanpa senja tanpa pagi, tanpa lara tiada sepi semua tertawa.

di satu sekolah, semua sudah pulang menuju rumah, ada satu menunggu, mengabadikan waktu, menangkap waktu, melukis unsur unsur mansyur, menulis ilmu yang jumlahnya satu. raga biasa tehajar, peluh keringat terbang ke udara, pasir pasir kasar menghujam kaki, debu beku menyedak hidung yang mancung. jemari masih menari nari, mencari satu demi satu huruf yang sama, menuyusun bagai gedung istana dan jembatan, mengotak atik seperti anak anak main mainan, terang tenang, meski diluar berganti remang. takut itu larut, tenggelam menjadi gula yang membungkus rasa sepet daun teh, tertinggal di ujung lidah, di pangkal bibir, secepat kilat berpikir.

semakin jauh semakin dekat, semakin sembunyi semakin terlihat, di inti bumi ku berlari, raga ku tertinggal diatas kursi, wajahku tertampar buku, kenangan ku lupakan, kenyataan merah kalah adalah sejarah, kenyataan takkan kemana kemana, dia tak seperti biru yang meninggalkanku, dia akan seperti waktu yang menusuk bola mataku. sedihku sudah habis, laraku sudah mati, harapan tinggal satu, sudah ku tanam di tanah, ku siram dengan doa, di atas sajadah, di atas kitab kitab, meski aku tahu aku lemah dan kalah aku menhadap dengan gagah. ya .... sore akhirnya kalah,
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
25-10-2020 03:02
peri turun di atas buku, membawa cerita tentang khayalan yang menjadi nyata. duduk di depanku membaca bait demi bait, tentang manis dan pahit. aku tersenyum memandang, seraya senyum berbinar perasaan ku simpan. ku teguk secangkir kopi, melewati malam yang kalut, malam yang kalah dengan rindu yang pilu, rindu yang telanjang apa adanya, tanpa menilai busana mana yang kau kena. suara mu yang lantang menerjang sayang, tanpa tahu malu kau rebut hatiku, hampir saja kopi dan gula menjadi nomor dua. kau lanjutkan cerita tentang hidup, yang penuh dengan sandiwara, tapi mengapa kau tidak, aku bertanya .. kau jawab aku tak bisa aku berbeda. aku tertawa lalu ku teguk lagi air hitam candu. kau sampai lembar tengah bait nomor dua, kau katakan cinta pada ku, aku percaya. meski sebernarnya kau tak butuh jawabanku yang kau butuh hanya melihatku menjadi pendengar yang baik, hingga aku lelap terkurung mimpi.

aku tertidur menuju pagi, peri pergi bersama daftar pustaka. hanya kau tinggalkan selembar foto hitam dan putih, di balik foto itu kaau tulis, tunggu aku, aku akan datang lagi. aku tak mau menunggu dan aku datang padamu.


aku berdiri di depan pintu, rumah tanpaa jendela. ku panggil namamu sambil ku bawa buku dan selembar fotomu. di tanganku tidak ada seikat mawar, tidak juga melati khayangan. aku tidak memberi coklat tidak cuga kepingan emas kerjaaan. aku hanya ingin memberi selembar fotoku yang berwarna dan ingin mengatakan sesuatu padamu. peri bercahaya mendekat, anggun memepesona seperti biasa, tapi aku tidak tergoda. ku berikan foto ku , ku berikan buku yang tertinggal ... lalu peri bertanya lalu kau hanya diam saja? tak berkata kata apa apa ....

tanpa pikir pikir aku katakan saja kau aku rindu.
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
25-10-2020 14:45
Ooo..Uoo…aku rindu..
katakan pada nya aku rindu..
0 0
0
SORE (BUKAN PUISI BUKAN PULA SAJAK, HANYA PARAGRAF)
02-11-2020 03:11
setitik sinar di sudut meja, menerangi sepasang mata dan sepuluh jari, merangkai kata menulis kisah. bibir terkunci mata terbuka besar, menguras perasaan di peras dalam ember kepala yang akan di jemur menjadi kata kata. sepi itu pasti, namun seperti ini yang menjadi teman, beirbicara dengan malam,mengulik beberapa lembar dingin yang tak kunjung habis. sedang meja yang tua tak mau lapuk, rayap masih sibuk dengan memperuncing giginya yang kian tipis. hujan di luar masih tertawa, mengirim beberapa pasukannya untuk merusak aspal yang katanya kuat, menyayat nyayat hati sepi yang tak bisa apa apa, selain tertawa pura pura.

kopi yang hitam tetap saja gelap, meski lentera ku dekatkan, wanginya semakin pagi, semakin pergi. menilik lorong lorong yang kosong, memeriksa jendela apakah sudah terkunci atau masih terluka. detik di dinding tak ubahnya kedip paru paru yang selalu bernyanyi bersama darah bersama oksigen, yang menghabiskan sari sari makanan. memberi serat serat kuat pada nadi, untuk terus berjuan bersama tulang yang masih tegak dongak di atas kursi jati. rintik semakin sayup, bunyi huruf semakin redup, menuju subuh, sesekali kau basuh muka hingga kepala dengan udara, menggaruk nggaruk leher dengan jari kerinduan, berharap sepi yang membuat alergi cepat pergi. selembar saja malam ini, jadi penutup cerita hidup berliku liku, berganti ganti, turun naik, buruk baik, semua ... berharap bahagia, bisa menerima pahitnya biji kopi.


sepucucuk lentera yang hangat, tajam seperti tombak, ku tiup dengan syhadu. padam redam, selamat datang mimpi yang sunyi. selimutku hangat, aku tak kan bersiedih, sedih ku cukup ku tulis saja, tidak ku simpan di jiwa. namamu ku genggam di dada, sembunyi di antara tulang rusuk dan sendi tulang belakang, tetap disitu sampai aku pulang, sayang.
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
tak-punya-hati
Stories from the Heart
lebih-dari-sekedar-no-absen
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia