Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
27
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec3998209b5ca6d580a1031/patient
Senin adalah hari yang paling dibenci bagi sebagian orang, mereka harus melupakan rebahan dan kembali memikirkan sekolahan. Yang dibenci bukanlah hari Seninnya, tapi kegiatan yang ada di hari Senin. Ya, apa lagi kalau bukan upacara bendera. Seperti biasa setiap pagi Mariah selalu menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dengan lauk seadanya, tapi rasa syukur mereka tidak pernah luntur, kecuali anak
Lapor Hansip
19-05-2020 15:32

PATIENT โ€“ 1. Keluarga

Past Hot Thread
Senin adalah hari yang paling dibenci bagi sebagian orang. Yang dibenci bukanlah hari Seninnya, tapi kegiatan yang ada di hari Senin. Ya, apa lagi kalau bukan upacara bendera. Seperti biasa setiap pagi Mariah selalu menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dengan lauk seadanya, tapi rasa syukur mereka tidak pernah luntur, kecuali anak yang satu itu.

Saat ini mereka sedang duduk melingkar di dapur dengan nasi di tengah mereka dan tempe goreng sebagai temannya.

"Mak, kok makannya sama tempe lagi sih!" ucap Angkasa, anak pertama Mariah selalu saja begitu. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan Bapaknya. Selalu ingin makan enak tanpa melihat keadaan yang serba kekurangan. Tidak bisa menerima kenyataan. Pantas saja Mariah tidak betah.

"Segitu juga untung kamu Nak, masih bisa makan," ucap Mariah lalu mengambil piring, mengisinya dengan nasi lengkap dengan tempe gorengnya. Dia menyodorkan piring itu ke hadapan Angkasa.

"Angkasa gak nafsu makan Mak, Aku langsung berangkat aja. Assalamualaikum!" ucap Angkasa, lalu dia pergi tanpa mencium tangan Mariah. Itulah kebiasaan Angkasa jika sedang marah terhadap Emaknya.

"Ck. Apa-apan sih Kak Angkasa," ucap Langit, anak Mariah yang ke dua. Mariah hanya tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Langit. Walau hatinya begitu sakit.

"Surya, Langit, Bulan, Bintang, Mentari, kalian makan yang kenyang ya, Emak mau ke kamar dulu," ucap Mariah kepada anak-anaknya. Mereka hanya mengangguk lalu melanjutkan aktivitasnya.

Tidak ada yang berbicara saat mereka makan, sampai akhirnya, "Angkasa emang kayak gitu ya sifatnya?" tanya Surya.

"Dulu sih gak gitu." Bintang menjawab.

"Emangnya kenapa?" tanya Surya lagi. Bintang hanya menggeleng pelan.

Anak-anak Mariah semuanya ada enam, yaitu Angkasa, Surya, Langit, Bintang, Rembulan, dan Mentari. Semuanya anak kandung kecuali Surya. Dia diangkat tiga bulan yang lalu. Jadi wajar saja kalau Dia belum tahu sifat asli saudara-saudaranya.

Jika ada yang bertanya kemana Bapaknya, Dia sudah pergi jauh meninggalkan Mariah dan anak-anaknya dua tahun lalu. Entah karena keadaan atau hanya ingin mencari kebebasan, yang pasti keduanya sudah merasa tidak cocok lagi. Sifat Samsudin yang egois dan keras kepala sangat berbanding terbalik dengan Mariah yang ramah dan penyabar. Tapi sesabar apapun Mariah, dia tetap manusia, ada masanya Mariah tidak sanggup menghadapi sifat suaminya. Ditambah dengan ekonomi mereka yang bisa disebut kurang. Jika keduanya sudah tidak betah, sudah tidak alasan bagi mereka untuk tetap bertahan.

"Mungkin Kak Angkasa iri sama Kak Surya yang hanya seorang anak angkat tapi diperlakukan sama seperti anak kandung Emak," ucap Mentari dengan polosnya.

"Ish, Tari! Gak boleh gitu ah, gak baik," ucap Langit merasa tidak enak dengan Kakak angkatnya.

"Emang bener kok apa yang diucapin Tari. Menurut pandangan Kak Angkasa anak kandung sama anak angkat itu harus beda. Mulai dari perhatian Emak, sekolah sama makannya harus be-"

"Tari!" bentak Langit pada Tari sebelum omongannya semakin jauh dan dapat menyinggung Kakaknya. Baru kali ini dirinya dibentak sang Kakak. Satu kata dengan nada tinggi membuat hatinya sakit. Sebelumnya Ia tidak pernah dibentak seperti ini, sesalah apapun dirinya.

"Udah lah Kak Bulan, Tari itu masih kecil," ucap Bintang membela Adiknya.

"Iya Lan, betul kata Bintang. Lagian aku gak apa-apa kok," ucap Surya dengan senyuman di wajahnya. Sebenarnya hati Surya sakit, tapi Surya tahu apa yang diucapkan adiknya memang benar, meski tidak seharusnya diucapkan di depan Surya. Dia memakluminya karena anak seusia Mentari masih sangat polos. Dia menyadari bahwa dirinya hadir ditengah keluarga Mariah dan membuat salah satu anaknya merasa iri. Iya, Dia sadar! Tapi apa yang harus dia lakukan sekarang? Pergi pun hanya akan membuat Mariah berfikir bahwa Surya tidak betah hidup serba kekurangan.

Pikiran Surya berkelana, memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan. Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara, tidak ada suara sendok yang beradu dengan piring, karena mereka makan tidak memakai sendok. Hanya kecanggungan yang menyelimuti mereka.




Quote:Original Posted By rinliaa โ–บ
Wajah tampan, penampilan cool, cocok dengan motor ninja merah yang dibawanya. Penampilannya di sekolah sangat berbeda dengan keadaannya di rumah. Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Seorang gadis cantik duduk manis dibonceng oleh Angkasa. Anak seorang usahawan itu adalah kekasihnya. Mereka terlihat sangat cocok karena selain wajah mereka yang hampir menyerupai sempurna, mereka juga anak orang kaya.

Mungkin itulah yang orang lain tahu. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Angkasa hanyalah anak seorang janda yang hidup serba kekurangan, kecuali Surya. Itu salah satu alasan kenapa Angkasa benci kepada Surya, saudara angkatnya. Dia takut rahasia tentang keluarganya terbongkar. Alasan lainnya karena Surya hanya saudara angkat. Angkasa iri jika Surya bisa mendapatkan kasih sayang Emak layaknya anak kandung sendiri.

Anak pertama Mariah ini tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bukan anak orang kaya. Ah, bukan. Maksudnya belum bisa menerima kenyataan. Andai saja suatu saat dia sadar.

Angkasa menghentikan motornya di tempat parkir, membuka helmnya lalu melihat pantulan wajahnya di spion. Dia merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Gadis yang tadi diboncengnya sudah turun dari motor beberapa detik yang lalu. Kini pandangannya beralih kepada Tiara, kekasihnya. Angkasa memberikan senyum termanisnya kepada gadis 17 tahun itu. Senyum yang tidak pernah Ia berikan kepada siapapun, bahkan Emaknya sendiri.

"Angsa! Sini Lo," panggil Arya, -teman sekelasnya Angkasa- dengan sedikit berteriak. Dia menghampiri Angkasa yang masih duduk diatas motornya.

Angsa. Itulah panggilan dari teman-temannya untuk Angkasa.

"Apaan lo pagi-pagi udah teriak-teriak aja," ucap Angkasa kesal, lalu turun dari motornya.

"Biasa," ucap Arya sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.

"Biasa apaan?" tanya Angkasa semakin tidak mengerti yang dimaksud Arya.

"Gak usah pura-pura lupa, lo udah janji mau jajanin gue kan," jawab Arya sambil meletakkan tangannya di bahu Angkasa.

"Kemarin gue bilang istirahat pertama," ucap Angkasa lalu menepis tangan Arya.

"Sekarang gak bisa apa, gue laper nih Sa, belum sarapan," ucap Arya menempelkan telapak tangan kanannya di perut saat mengucapkan kata lapar.

"Lebay Lo! gue juga sama belum sarapan," timpal Angkasa tidak mau kalah.

"Udah deh kasih aja kenapa sih," ucap Tiara kepada Angkasa jengah melihat mereka bertengkar dipagi yang seharusnya damai ini.

"Gak bisa gitu dong sayang, nanti istirahat pertama dia minta lagi," ucap Angkasa sambil mengelus rambut Tiara.

"Kenapa Lo takut gue minta jajan dua kali, orang kaya bangkrut? Hahaha ...," ucap Arya sambil tertawa mengejek, "tumben juga lo berangkat sekolah belum sarapan, kehabisan stok beras lo?" lanjutnya.

"Bukan gitu tolol! Yang ada gue bangkrut karena jajanin lo terus. Udah lah ganggu aja lo, sana pergi!" Angkasa mengusir Arya yang sekarang tengah berjalan menjauh sambil terus mentertawakan leluconnya. Sementara Angkasa merasa tersinggung dengan ucapan Arya. Dia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang kaya, namun Dia belum bisa menerima.

Mau jajanin Arya gimana? Gue aja gak dikasih duit sama Emak, batin Angkasa.

Seketika Angkasa melihat Surya menuruni sepedanya. Dia tersenyum miring saat hadir ide licik dikepalanya.

"Kamu liatin apa sih, sayang?" tanya Tiara ketika menyadari Angkasa menatap lurus bukan pada dirinya. Dia mengikuti arah mata Angkasa dan mendapati Surya disana.

"Sayang, kamu ke kelas duluan aja, Aku mau ngobrol dulu sama Surya," ucap Angkasa terburu-buru, takut jika Tiara menolak ditinggalkan. Tiara mencegah dengan mencekal lengan Angkasa.

"Tapi aku mau nungguin-" Dia tidak menyelesaikan kalimatnya ketika Angkasa menghempaskan tangannya lalu berlari menuju tempat dimana Surya berada. Tentu saja Tiara sangat kesal. Sementara Angkasa tidak peduli dengan Tiara yang kini sudah meninggalkan tempat parkir.

"Surya, gue mau kita ketemu di rooftop satu jam sebelum istirahat pertama," ucap Angkasa To The Point. Surya menyimpan sepedanya di tempat yang teduh, lalu menatap Angkasa.

"Mau ngapain?" tanya Surya kebingungan. Biasanya Angkasa paling tidak suka bicara dengan Surya di sekolah. Tapi hari ini? Sungguh ini sebuah keberuntungan bagi Surya.

"Gak usah banyak tanya. Turutin aja," ucap Angkasa, yang sekejap menempatkan tangan kanannya di pundak Surya lalu pergi meninggalkan Surya yang masih heran dengan sikap saudara angkatnya.




Bersambung ....
Diubah oleh rinliaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
PATIENT
30-05-2020 15:53
masih sepi ya
profile-picture
rinliaa memberi reputasi
1 0
1
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
PATIENT
30-05-2020 23:08
Komen keduaemoticon-Genitemoticon-Genit
profile-picture
rinliaa memberi reputasi
1 0
1
Lihat 16 balasan
Memuat data ..
PATIENT
31-05-2020 00:34
Punya anjing ga Mariah? Klo punya, ntar namanya Pluto ya? emoticon-Peace

profile-picture
rinliaa memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
PATIENT
01-06-2020 19:40
Hadir๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

mau nonton dan nyimak cerita di sini๐Ÿ˜„.
profile-picture
rinliaa memberi reputasi
1 0
1
PATIENT
02-06-2020 08:42
Lanjut gan, ceritanya menarik emoticon-Smilie
Btw mampir juga ya ke work saya https://www.kaskus.co.id/thread/5eca...ile&med=thread
profile-picture
profile-picture
rinliaa dan rizky27062017 memberi reputasi
2 0
2
PATIENT
14-06-2020 11:59

PATIENT โ€“ 2

Wajah tampan, penampilan cool, cocok dengan motor ninja merah yang dibawanya. Penampilannya di sekolah sangat berbeda dengan keadaannya di rumah. Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Seorang gadis cantik duduk manis dibonceng oleh Angkasa. Anak seorang usahawan itu adalah kekasihnya. Mereka terlihat sangat cocok karena selain wajah mereka yang hampir menyerupai sempurna, mereka juga anak orang kaya.

Mungkin itulah yang orang lain tahu. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Angkasa hanyalah anak seorang janda yang hidup serba kekurangan, kecuali Surya. Itu salah satu alasan kenapa Angkasa benci kepada Surya, saudara angkatnya. Dia takut rahasia tentang keluarganya terbongkar. Alasan lainnya karena Surya hanya saudara angkat. Angkasa iri jika Surya bisa mendapatkan kasih sayang Emak layaknya anak kandung sendiri.

Anak pertama Mariah ini tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bukan anak orang kaya. Ah, bukan. Maksudnya belum bisa menerima kenyataan. Andai saja suatu saat dia sadar.

Angkasa menghentikan motornya di tempat parkir, membuka helmnya lalu melihat pantulan wajahnya di spion. Dia merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Gadis yang tadi diboncengnya sudah turun dari motor beberapa detik yang lalu. Kini pandangannya beralih kepada Tiara, kekasihnya. Angkasa memberikan senyum termanisnya kepada gadis 17 tahun itu. Senyum yang tidak pernah Ia berikan kepada siapapun, bahkan Emaknya sendiri.

"Angsa! Sini Lo," panggil Arya, -teman sekelasnya Angkasa- dengan sedikit berteriak. Dia menghampiri Angkasa yang masih duduk diatas motornya.

Angsa. Itulah panggilan dari teman-temannya untuk Angkasa.

"Apaan lo pagi-pagi udah teriak-teriak aja," ucap Angkasa kesal, lalu turun dari motornya.

"Biasa," ucap Arya sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.

"Biasa apaan?" tanya Angkasa semakin tidak mengerti yang dimaksud Arya.

"Gak usah pura-pura lupa, lo udah janji mau jajanin gue kan," jawab Arya sambil meletakkan tangannya di bahu Angkasa.

"Kemarin gue bilang istirahat pertama," ucap Angkasa lalu menepis tangan Arya.

"Sekarang gak bisa apa, gue laper nih Sa, belum sarapan," ucap Arya menempelkan telapak tangan kanannya di perut saat mengucapkan kata lapar.

"Lebay Lo! gue juga sama belum sarapan," timpal Angkasa tidak mau kalah.

"Udah deh kasih aja kenapa sih," ucap Tiara kepada Angkasa jengah melihat mereka bertengkar dipagi yang seharusnya damai ini.

"Gak bisa gitu dong sayang, nanti istirahat pertama dia minta lagi," ucap Angkasa sambil mengelus rambut Tiara.

"Kenapa Lo takut gue minta jajan dua kali, orang kaya bangkrut? Hahaha ...," ucap Arya sambil tertawa mengejek, "tumben juga lo berangkat sekolah belum sarapan, kehabisan stok beras lo?" lanjutnya.

"Bukan gitu tolol! Yang ada gue bangkrut karena jajanin lo terus. Udah lah ganggu aja lo, sana pergi!" Angkasa mengusir Arya yang sekarang tengah berjalan menjauh sambil terus mentertawakan leluconnya. Sementara Angkasa merasa tersinggung dengan ucapan Arya. Dia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang kaya, namun Dia belum bisa menerima.

Mau jajanin Arya gimana? Gue aja gak dikasih duit sama Emak, batin Angkasa.

Seketika Angkasa melihat Surya menuruni sepedanya. Dia tersenyum miring saat hadir ide licik dikepalanya.

"Kamu liatin apa sih, sayang?" tanya Tiara ketika menyadari Angkasa menatap lurus bukan pada dirinya. Dia mengikuti arah mata Angkasa dan mendapati Surya disana.

"Sayang, kamu ke kelas duluan aja, Aku mau ngobrol dulu sama Surya," ucap Angkasa terburu-buru, takut jika Tiara menolak ditinggalkan. Tiara mencegah dengan mencekal lengan Angkasa.

"Tapi aku mau nungguin-" Dia tidak menyelesaikan kalimatnya ketika Angkasa menghempaskan tangannya lalu berlari menuju tempat dimana Surya berada. Tentu saja Tiara sangat kesal. Sementara Angkasa tidak peduli dengan Tiara yang kini sudah meninggalkan tempat parkir.

"Surya, gue mau kita ketemu di rooftop satu jam sebelum istirahat pertama," ucap Angkasa To The Point. Surya menyimpan sepedanya di tempat yang teduh, lalu menatap Angkasa.

"Mau ngapain?" tanya Surya kebingungan. Biasanya Angkasa paling tidak suka bicara dengan Surya di sekolah. Tapi hari ini? Sungguh ini sebuah keberuntungan bagi Surya.

"Gak usah banyak tanya. Turutin aja," ucap Angkasa, yang sekejap menempatkan tangan kanannya di pundak Surya lalu pergi meninggalkan Surya yang masih heran dengan sikap saudara angkatnya.




Bersambung ....
profile-picture
vien26 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
harimau-penjaga-ii
Stories from the Heart
egality
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
kutunggu-jandamu-dik-romlah
Stories from the Heart
maaf-mama-aku-memilih-bunda
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia