Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e9dab26f0bdb23cc608a811/bab-23--persyaratan
Bab 23 : Persyaratan ???????????? Lily memang hanya memiliki ibu dan 3 adiknya sebagai keluarga inti. Tapi yang ia lihat hari ini adalah ada 5 kepala keluarga dirumah itu. Mertua Adiknya, Calon mertua adiknya yang akan menikah bulan depan, paman dari sebelah ibunya dan paman dari sebelah ayahnya. Belum lagi 3 sepupu perempuan dan suaminya, serta 4 sepupu laki-laki dan istri serta anak mereka. Ruma
Lapor Hansip
20-04-2020 21:01

Bab 23 : Persyaratan

Past Hot Thread
Bab 23 : Persyaratan

🌸🌸🌸

Lily memang hanya memiliki ibu dan 3 adiknya sebagai keluarga inti. Tapi yang ia lihat hari ini adalah ada 5 kepala keluarga dirumah itu. Mertua Adiknya, Calon mertua adiknya yang akan menikah bulan depan, paman dari sebelah ibunya dan paman dari sebelah ayahnya. Belum lagi 3 sepupu perempuan dan suaminya, serta 4 sepupu laki-laki dan istri serta anak mereka. Rumah besar itu terlihat penuh dimanapun.

Apa-apaan ini??

Mereka baru saja tiba dirumah setengah jam yang lalu. Varo dan Lily dihentikan oleh Bibi Seli yang kembali di pekerjakan Varo dirumah barunya untuk menyambut kedatangan keluarga Lily. Bibi Seli menjelaskan pada mereka bahwa keluarga Lily yang datang berjumlah 39 orang. Lily dan Varo hanya saling pandang dan tidak bisa berkata apapun saat itu.

"Kita perlu menambah 1 atau 2 tingkat lagi, kalau semua keluargamu mau berkunjung kesini." Varo berbisik pada Lily. Ia juga sedikit terkejut melihat keluarga besar gadis itu.

"Sejujurnya....kamu yang mengundang mereka semua kesini??, atau mereka yang datang sendiri??" Lily bertanya kebingungan.

Varo menjawab jujur. Aku hanya bilang pada ibumu kalau ingin membicarakan masalah pernikahan sekaligus mengundang keluargamu untuk tau tempat tinggal kita. Aku hanya membayar tiket pesawat ibu dan adik-adikmu, aku tidak tau kalau yang lain datang juga."

Di rumah itu mereka hanya memiliki 6 kamar. Maka dari itulah Varo berani mengundang Ibunda Lily dan adik-adiknya, tapi ia tidak menduga kalau rumahnya akan kekurangan kamar. Jadi Varo segera menyuruh salah satu bodyguardnya memesan kamar hotel yang berada sekitar 1 menit dari rumahnya. Ia sebelumnya langsung meminta ma'af pada keluarga Lily yang terpaksa harus tidur di hotel.

Akhirnya 1 kamar dirumah itu ditempati oleh Ibunda Lily dan Lian, kamar kedua ditempati oleh Dinda dan suaminya, kamar ketiga ditempati Lily dan Reyna, kamar ke 4 adalah kamar bayi, anak Dinda dan Arion tidur disana, kamar ke-5 ditempati oleh calon suami Reyna dan pacar Lian, kamar ke 6 tentu saja di tempati sang pemilik rumah. Sisanya menginap di hotel yang tentu saja sudah dibayar oleh Varo.

"Aku nggak tau kalau calon kakak iparku ternyata orang terkenal." Lian menyikut Lily yang sedang memandikan Arion.

Lily yang sejak tadi penasaran akhirnya bertanya. "Kenapa paman dan bibi yang jarang terlihat mengunjungi kita semuanya datang, kenapa para sepupu yang nggak pernah peduli dengan keluarga kita juga datang??. Jangan pura-pura bodoh, aku tau kamu juga nggak suka pada mereka."

Lian tersenyum canggung. "Sebenarnya hari itu ada acara syukuran yang diadakan mertuanya kak Dinda, semuanya datang, kakak sendiri kan tau, mertuanya kak Dinda orang kaya dan...para penjilat itu bermanis-manis muka seperti biasanya." Nada penjelasan dari Lian terdengar jelas kalau dia membenci keluarga ayah dan ibundanya. Mereka tak pernah ada ketika Lily dan keluarganya dalam kesulitan, bahkan tak datang saat kematian ayahnya. Tapi mereka itu selalu muncul ketika ada acara pesta atau hajatan lainnya. Pamer tentang keluarga mereka yang lebih sukses dari keluarga Lily, kadang menyindir terang-terangan, dan tentu saja Lily selalu menjadi target utama sindiran itu.

"Kak Varo nelpon, dan bilang ingin bunda ke Jakarta. Mereka ada disana dan bertanya apa itu kak Lily yang nelpon lalu menyindir kak Lily yang nggak hadir di acara syukuran itu. Jadi, Bunda bilang kalau itu pacar kak Lily dan menunjukkan foto kak Varo ke mereka."

"Nah salah satu suami sepupu kita, mengenali wajah kak Varo sebagai salah satu pengusaha berlian paling sukses di Indonesia dan tentu saja mereka jadi ingin memastikan itu kak Varo atau bukan. Jadi mereka sengaja mengikuti kita kesini, mereka membayar tiket mereka sendiri, dan kakak bisa menebak rencana apa yang ada di kepala mereka.

Varo tiba-tiba muncul dibelakang mereka berdua. Pria itu entah sejak kapan menguping dan kali ini memiliki kesempatan untuk menyela pembicaraan itu.

"Kalau kalian punya rencana antisipasi, atau mau balas dendam. Tolong ajak aku juga."

"......"

"......"

Pria itu berpakaian hitam itu, menggigit apel merah ditangannya sambil tersenyum mengerikan. "Aku punya segudang ide yang pasti bisa membuat mereka berhenti mengacaukan hidup kalian."

Lian menoleh kearah kakaknya, menunggu respon kakaknya itu. Lily menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Oke!!. Aku serahkan semuanya padamu."

Mendengar jawaban itu, senyum Varo malah terlihat makin mengerikan bagi Lian. Tapi Lily sudah mulai terbiasa dengan itu.


🌺🌺


Lily benar-benar stress. Gadis itu terus menarik nafas dalam begitu mereka memasuki Keraton at Plaza, a Luxury Collection Hotel Jakarta. Pria itu menyewa 11 kamar hotel untuk 3 hari dengan mudahnya. Hotel itu salah satu hotel termahal di Jakarta, Lily bahkan tidak pernah bermimpi akan memesan kamar di hotel itu, sungguh terlalu membuang-buang uang. Fasilitasnya memang fantastis, terbukti dari restoran dan makanan mewah yang mereka sediakan, tapi harga yang dibayar juga jauh lebih fantastis.

Varo berkata santai ketika mereka memasuki hotel. "Hotelnya bagus. Gimana kalau kita bulan madu disini saja??."

Lily langsung menggeleng tidak suka. Terlalu buang-buang uang.

"Bagaimana nak Varo bisa ketemu dengan Lily kami, setau bibi dia gadis yang sangat pendiam dan jarang bergaul??."

Pertanyaan pertama yang sungguh menohok.

"Kak Varo baru buka cabang di salah satu mall di Palembang, saya dan suami sering membeli perhiasan disana. Suami saya juga seorang pengusaha. Ia memiliki toko mas di 3 mall di Palembang, beliau ingin sekali bekerja sama dengan anda."

Kalimat pamer sebagai pembuka obrolan yang membuat Lily tambah speechless.

"Saya sering membaca berita bisnis, dan wajah anda begitu familiar. Ah, ayah saya juga pembisnis, ia bekerja di Kalimantan."

Sekarang Lily jadi tau, siapa yang yang mengenali wajah Varo dan mengusulkan mereka bertemu pria itu. Ia adalah suami sepupu perempuannya yang dulu pernah naksir pada adiknya Dinda.

Lily dan Dinda tanpa sengaja saling bertatapan dan tersenyum. Mereka tau benar watak pria itu, ia yang paling sering menyombongkan diri dengan harta milik keluarganya.

"Ma'af." akhirnya Varo angkat bicara. Pria itu tersenyum ramah lalu mengatakan bahwa ia mengundang mereka semua kesini untuk membicarakan masalah pernikahan. Ia tidak akan membahas tentang hal lain selain itu.

"Saudara perempuanku adalah rekan bisnis anda. Dia tinggal di Jepang sekarang, wanita muda baru berusia 20 tahun, namun sukses menjadi modeling. Dia pernah mengiklankan kalung berlian milik anda tahun lalu, mungkin anda mengenalnya. "

Sekarang adalah istri dari sepupu laki-laki Lily yang bicara. Wanita itu sedikit mendekat kearah Varo dan berbisik.

"Dia jauh lebih cantik, dan pasti akan sangat serasi dengan anda, aku bisa mengenalkannya padamu." Wanita itu menunjukkan foto adik perempuannya pada Varo, sayangnya pria itu sama sekali tidak tertarik. Ia bahkan tak melirik foto itu sedikitpun dan mulai bicara pada Ibunda Lily.

"Karena semua keluarga Bunda ada disini dan Lily juga tidak ingin pernikahan yang mewah. Maka kami memutuskan untuk menikah dirumah dan dihadiri oleh keluarga, juga beberapa teman dekat Lily dan Varo. Menurut bunda bagaimana??."

Ibunda Lily tersenyum. Sebenarnya ia agak khawatir setelah mengetahui identitas Varo. Ibunda Lily sebenarnya hanya menutup matanya dari kesombongan sanak keluarganya, juga dari celaan-celaan mereka. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa Varo adalah pengusaha yang jauh lebih sukses dan kaya daripada mereka. Mereka mulai melakukan pendekatan dan kadang malah berusaha merusak keharmonisan rumah tangga anak-anaknya.

Dinda sering bercerita padanya, bahwa suaminya sering di ganggu oleh sepupu-sepupu wanitanya, mereka menggoda suami Dinda secara terang-terangan, untungnya suami Dinda bukan pria brengsek yang mau menyelingkuhi istrinya. Ibunda Lily hanya bisa menasehati keduanya agar percaya dan selalu menyayangi satu sama lain.

Lain halnya dengan Reyna. Calon suaminya Reyhan bahkan hampir membatalkan pertunangan mereka, karena melihat Reyna sedang dicium paksa oleh adik dari suami sepupunya. Untungnya kesalahpahaman itu tak membuat hubungan mereka putus. Reyhan yang posesif akhirnya tak mengizinkan Reyna berhubungan dengan para sepupunya dan Reyna dengan senang hati melakukannya.

Lian yang cuek namun cantik dan imut, selalu jadi sasaran dijodohkan dengan adik suami dan istri dari sepupunya karena ia berstatus sebagai calon dokter. Lian yang sudah lama tau sifat buruk mereka, memblokir semua yang berhubungan dengan sepupu-sepupunya itu bahkan juga dengan paman dan bibinya. Lian yang paling membenci mereka, karena gadis itulah yang pernah menangis menelpon mereka untuk hadir di pemakanan ayahnya namun diabaikan.

Lily tidak pernah di jodoh-jodohkan atau diganggu, namun anaknya yang satu itu selalu jadi bahan celaan, karena berpenampilan biasa dan tidak secantik saudari-saudarinya. Kehidupannya selama ini bisa dibilang tidak terlalu sukses, karena ia bekerja sebagai koki di restoran biasa. Bahkan ketika anaknya itu diketahui dipecat, sanak keluarganya langsung menelpon dan marah-marah karena menganggap Lily sebagai aib dari keluarga dan membuat nama baik mereka jadi rusak. Untungnya gadis itu tak pernah peduli dengan celaan mereka, dan tetap tegar menjalani hidupnya.

Sekarang, Ibunda Lily ingin menguji calon menantunya, pantaskah ia mendapatkan hati anak gadisnya yang paling baik sedunia ini. Ibunda Lily tidak peduli dengan latar belakang Varo, ia hanya peduli Varo baik atau tidak pada anaknya. Jadi, ia memutuskan untuk membiarkan sanak keluarganya datang dan berulah. Ia tau, jika Varo benar-benar mencintai anaknya maka ia tidak akan pernah tergoda dengan bujuk rayu yang lain. Karena bisa dilihat dengan jelas, perbedaan latar belakang Lily dengan sanak keluarganya yang lain.

"Lily hanya bercerita pada ibu kalau dia menjadi seorang babysiter dan dibayar dengan gaji tinggi. Lily mengenalmu karena dia pernah menjadi babysiter Rion dan setelahnya kalian berpacaran. Ia tidak pernah memberitau bunda tentang latar belakang keluarga dan pekerjaanmu. Dia hanya bilang, kamu pria yang baik. Anak gadis ku ini, sangat pendiam dan hampir tidak pernah mengeluh tentang masalah yang dialaminya. Dia baik pada orang yang memperlakukannya dengan baik, dia tidak cantik tapi bagiku, dia salah satu anak gadis ku yang paling cantik. Lily sangan pandai memasak, dia bisa memasak apapun dengan sekali mencicipi masakan yang tak pernah ia masak. Lily juga pandai menangkap ikan, bisa menjadi tukang revarasi rumah, dia adalah kakak perempuan terbaik yang dimiliki adik-adiknya. Bunda berharap, kriteria itu bisa memenuhi syarat untuk menjadi istrimu. Bukan karena dia harus secantik bidadari, juga bukan karena dia harus dari keluarga kaya raya."

"Bunda selalu menetapkan persyaratan tertulis. Jika kalian tidak lagi saling mencintai nantinya, maka hubungan silatuhrami kalian terputus sebatas itu, anak akan menjadi milik kami, dan kami tidak membutuhkan sedikitpun harta warisan dari anda." Ibunda Lily menunjuk kearah suami Dinda, tunangan Reyna, pacar Lian dan terakhir Varo yang duduk didepannya.

"Itu baru syarat dari bunda, belum syarat tertulis dari kami." Lian mulai berbicara setelah ibundanya menyampaikan semua keinginannya. "Kalau kalian bercerai baik-baik, kalian hanya putus hubungan silaturahmi. Tapi kalau alasannya karena pelakor, aku akan menuntut kalian di pengadilan, menyebarkan berita perselingkuhan kalian di situs jejaring sosial, akan ku pastikan kalian malu untuk keluar dari rumah."

"Juga denda 100, ah..tidak..tidak...bukan M tapi T, kamu ngerti kan." Reyna tersenyum sangat manis ketika mengatakan hal itu. "Aku punya banyak kenalan dari media, juga beberapa polisi, ditektif dan pengacara handal. Hal seperti itu bisa diselidiki dengan mudah."

Varo hanya tersenyum mendengar persyaratan itu. Ia beralih menatap seorang wanita yang sedang menyuapi Arion makan. Suami dari wanita itu bahkan harus menyikutnya ketika istrinya itu tak kunjung bicara.

Dinda tersenyum kearah Arion dan mengelus kepala si kecil itu sebelum akhirnya menyatakan persyaratannya. "Bunda bilang kami tidak boleh mengambil hartamu sepeserpun dan aku setuju. Kami tidak kekurangan kurang, kalau soal membuka restoran, aku dan Reyna bisa membiayainya sekarang, karena kak Lily lah yang dulu membiayai kuliah kami, jadi...

Wanita itu masih mengelus kepala Arion ketika bicara. "Kalau kamu ketahuan selingkuh....maka Arion akan menjadi anak ku, hahahahaha....."

"....."

"....."

"....."

"Nah, tolong tanda tangani surat perjanjian ini. Dinda menyuruh suaminya mengeluarkan lembaran surat yang sudah diketik rapi bahkan ditanda tangani oleh ibunda, dan Dinda, Reyna dan juga Lian.

Lily hanya tersenyum ketika menerima tatapan dari Varo. Gadis itu tertawa dalam hatinya.

Kalau soal pacaran, ibundanya adalah orang yang gampang menyukai orang lain asalkan mereka terlihat memperlakukan anaknya dengan baik. Tapi kalau soal pernikahan. Ibu dan juga adik-adiknya termasuk Lily, mereka tipe yang akan memikirkan hal itu masak-masak. Jangan sampai mereka terluka, jangan sampai kebahagiaan mereka hancur di masa depan. Mereka mengajukan persyaratan yang benar-benar perlu dipikirkan berulang kali oleh calon suami mereka.

Sudah ku bilang, menikah itu bukan persoalan yang gampang kan!!


🌸🌸🌸

Bab selanjutnya :

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9d0f02b06887f8
Diubah oleh cicimasni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
icon-close-thread
Thread sudah digembok
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
death-among-us
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia