Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1049
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e98398dc342bb34613edd1e/hitam
Perkenalan Ini adalah kisah fiksi. Hasil karanganku yang selama ini jadi silent reader. Kucoba beranikan diri membuat tulisan yang terinspirasi dari pengalaman orang-orang, urban legend, atau pengalamanku sendiri, yang ditambahi dengan imajinasi. Karena aku adalah nubie, jadi mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan dan kesalahan fakta-fakta. Tolong di ingat, ini adalah fiksi belaka. Dibuat untuk
Lapor Hansip
16-04-2020 17:55

HITAM

HITAM


HITAM

Perkenalan

Ini adalah kisah fiksi. Hasil karanganku yang selama ini jadi silent reader. Kucoba beranikan diri membuat tulisan yang terinspirasi dari pengalaman orang-orang, urban legend, atau pengalamanku sendiri, yang ditambahi dengan imajinasi. Karena aku adalah nubie, jadi mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan dan kesalahan fakta-fakta. Tolong di ingat, ini adalah fiksi belaka. Dibuat untuk hiburan semata. Jika ada yang menyinggung, mohon dimaafkan. Dimohon bijak dalam menanggapi.

Namaku Aryandra, biasa dipanggil Arya atau Andra. Entah sejak kapan aku punya hal semacam ini. Aku nggak tau, nggak ingat. Aku bisa melihat dan merasakan makhluk dari alam lain. Aku bisa melihat kejadian-kejadian masa lampau hanya dengan menyentuh benda, melihat, bahkan cuma dari mendengar cerita seseorang.

Aku nggak tau apa yang terjadi dengan diriku, dan aku nggak tau ini berasal dari mana. Yang kutahu, ini tidaklah normal, bukanlah kodrat dari manusia biasa. Yang terjadi padaku ini terlalu aneh, dan sudah terlalu banyak buat seorang manusia biasa.

Seingatku, sudah dari semasa kecil aku bisa melihat makhluk-makhluk itu. Tapi aku nggak ingat kapan tepatnya. Yang ku ingat, semasa kecilku dulu aku sering melihat kelebatan-kelebatan bayangan hitam, kain putih panjang yang melayang diantara pohon, ada juga kain panjang berwarna merah, sampai bungkusan kain putih seperti bungkus permen yang menempel di pohon.. Tapi ya cuma sebatas itu, cuma melihat kelebatan-kelebatan sekilas, nggak melihat bentuk utuh nyata.

Tapi lama-kelamaan pandangan mataku seakan menguat, menjadi lebih peka. Aku bisa melihat sosok-sosok halus dengan utuh. Awalnya cuma melihat yang berbentuk manusia biasa, terus mulai di tampakin bentuk aneh-aneh, manusia dengan kaki atau tangan yang panjang sebelah, manusia berkepala botak bertelinga lancip. Ada yang berbentuk hewan, berkepala dua.. banyak sekali bentuk-bentuk ganjil.

Saat itu semua yang kulihat tidaklah seram, atau mungkin aku belum melihat yang seram. Jadi aku tidak merasa takut, karena lama-lama jadi terbiasa. Ditambah lagi aku nggak pernah nggagas. Dasarnya lagi, aku anak yang ndableg, nggak nggagasan, cuek terhadap segala sesuatu. Dan semua penampakan itu nggak aku perhatikan dengan serius. Paling aku cuma kaget aja melihat ada yang nongol secara mendadak gitu.

Lambat laun, seakan perasaan dan mata ini bertambah menguat lagi. Aku bisa melihat sosok-sosok berbentuk lebih aneh lagi. Lebih seram. Makhluk berbentuk gorila berbulu di seluruh tubuhnya. Sosok manusia berkepala kuda, wanita berkaki ular. Sampai sosok berbentuk leak.

Entah kenapa aku bisa melihat secara bertahap gitu. Apakah ini normal? Tapi bagaimana patokan ukuran normal dan tidak normal buat orang sepertiku? Seperti apakah tolok ukur kata normal itu? Entahlah..

Namun ini ada untungnya juga buatku, aku menjadi tidak takut dengan sosok makhluk halus, yang seram sekalipun. Meskipun kadang terkejut juga kalau ada yang tau-tau nongol didepanku. Kadang bulu kuduk merinding. Tapi aku tidak merasa takut.

Satu hal yang pasti, aku belum pernah menanggapi mereka, belum pernah berbicara dengan mereka. Ketika mereka memanggil namaku, aku tidak pernah menggubrisnya, apalagi memanggil mereka, belum pernah sekalipun.

Aku tidak berusaha mencari tahu atas apa yang terjadi dengan diriku, kenapa aku bisa begini, apa namanya, dan berasal dari mana. Biarlah semua berjalan apa adanya, kujalani hidupku seperti air mengalir. Mungkin kelak semua akan terbuka dengan sendirinya.

INDEX


HITAM
source

Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
krisnhawan dan 81 lainnya memberi reputasi
80
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 35
HITAM
16-04-2020 18:50
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nobowname dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
HITAM
16-04-2020 19:02
nitip sendal pejwan ah..
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan Mbahjoyo911 memberi reputasi
2 0
2
HITAM
16-04-2020 19:15
Awal

     Waktu itu kira-kira aku kelas 5 sd.  Suatu malam aku ikut pengajian di kampung sebelah, agak jauh dari rumah. Aku bersama dua temanku, Edi dan Joni. Karena sudah jam sepuluh malam,dan jarak rumah kami yang jauh, berjalan kaki, maka aku mengajak dua temanku untuk pulang duluan sebelum pengajian selesai.

Quote:    "Jon, Ed, kita pulang duluan yuk, ntar bisa kemalaman nyampe rumah ini, bisa di marahi ibuku lah..." kataku.

    Edi menyahut, "Ntar dulu lah, bentar lagi selesai ni. Biar selesai sekalian."

    "Pulang sekarang aja Ed, jalanan gelap lho, dah malam lagi, aku takut." sahut Joni

    "Alaah, kamu emang penakut Jon."

    "Udahlah, kita pulang sekarang aja." kataku menengahi.


     Akhirnya kita pulang sebelum pengajian selesai, berjalan kaki melewati jalanan yang gelap dan sepi. Kampungku emang pinggiran kota, jadi penerangan jalan masih agak minim. Saat kami melewati tanah kosong luas yang ditumbuhi pohon-pohon lebat, Edi dan Joni mempercepat langkah kaki mereka. Aku jadi ketinggalan di belakang.

Quote:     "Woi. Jalan jangan cepet-cepet.. santai aja lah." kataku.

     Edi menyahut "kamu nggak ngerti ceritanya sih, kata orang-orang, tanah kosong itu angker lho."

    "Alaah, angker apanya?!" kataku menyangkal.

    Mendadak terdengar suara tawa perempuan.

    "Hihihihihi.."

     Edi dan Joni seperti di komando, mendadak lari ke cang tunggang-langgang. Otomatis aku jadi celingukan sendirian, ditinggal lari mereka.

     "Sial bener mereka berdua, denger orang ketawa aja kenapa harus lari?!" batinku.


     Aku masih celingukan mencari soal apa dan siapa yang tertawa. Tiba-tiba angin bertiup kenceng banget, sampai pohon-pohon besar bergoyang-goyang. Lalu aku melihat kelebatan siluet sebentuk kain panjang berwarna hitam. Aku heran, biasanya kelebat kain terbang tu berwarna putih, atau merah. Lha ini kok berwarna hitam. Aku terus melihat kain itu sampai menghilang di pohon-pohon gelap.

      Lalu aku berjalan lagi berniat melanjutkan perjalanan pulang. Teman-temanku sudah lari jauh nggak kelihatan. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, didepanku sudah ada orang berdiri ditengah jalan berjarak kira-kira 10 meter dariku.

     Orang itu memakai semacam jubah atau gaun panjang berwarna gelap, entah hitam atau biru. Rambut panjang acak-acakan. Karena penerangan yang minim, maka orang itu cuma berbentuk siluet nggak jelas. Aku nggak tau siapa dia.

Quote:    "Siapa kamu?" kataku mencoba mencari tahu.

    "Hihihihihi…" dia cuma tertawa melengking.


     Disitulah aku baru sadar kalau didepanku adalah makhluk halus. Dan aku tau sosok itu adalah perempuan dari tertawanya yang melengking tinggi. Dia berjalan, eh.., melayang mendekatiku. Secara nggak sadar aku otomatis mundur. 

     Setelah sosok itu berjarak 5 meter dariku, ternyata bajunya semacam baju kurung panjang berwarna hitam. Berwajah putih banget, mulut lebar banget, bertaring panjang, mata yang 1 cuma rongga hitam berdarah, nggak ada bola mata. Rambutnya panjang acak-acakan. Wajahnya nggak begitu jelas. Cuma terlihat putih banget seperti dilumuri bedak. 

      Bulu-bulu di kudukku dan ditanganku meremang berdiri. Perasaan macam apa ini, entahlah.. Anehnya,aku tidak merasa takut, cuma merinding mengkirik. Aku malah heran banget. Dari semua ciri-cirinya, aku mengira sosok itu adalah kuntilanak. Tapi kenapa bajunya berwarna hitam?

      Aku sering mendengar cerita-cerita dari tetangga dan teman-temanku soal kuntilanak, dan aku juga sering melihat kelebatnya. Tapi dari cerita-cerita yang kudengar dan dari yang pernah kulihat, kuntilanak itu memakai baju ikonik putih atau merah. Itu adalah baju khas kuntilanak. Tapi sosok yang didepanku, meski semua cirinya adalah ciri khas kuntilanak, tapi kok  berbaju hitam? Inilah yang membuatku heran banget. Aku belum pernah melihat sosok kunti berbaju hitam.

        Dia mendekat lagi ke arahku, sampai berjarak 3 meter didepanku. Bulu-bulu di leher belakang dan di tanganku semakin meremang. Ada perasaan semacam tertekan, ditekan dari depan. Membuat kepalaku jadi pusing. Perasaan seperti daya tolak menolak dari 2 magnet berbeda kutub yang didekatkan. Tapi daya tolak dari sosok itu lebih besar, hingga aku merasa tertekan dan secara nggak sadar aku mundur.

      Aku merasakan energi dari sosok itu menerpaku. Energi yang berubah-ubah. Dari rasa panas membakar. Kemudian menjadi rasa sejuk dingin menenangkan. Hingga membuat tubuhku panas-dingin meriang. Aku bener-bener heran. Kok ya ada makhluk dari jenis jin bisa berubah-ubah aura begini. Aura hitam dan putih.
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
HITAM
16-04-2020 19:32
Pertemuan pertama

   Makhluk itu masih didepanku. Dia mulai berbicara. Suaranya terdengar seperti datang dari kejauhan. Dan anehnya, suaranya lembut dan merdu. Sungguh aneh, makhluk dengan wujud mengerikan begini bisa bersuara lembut dan merdu.

    
Quote:"Namaku Salma. Aku adalah bangsa jin biasanya menampakkan diri dengan ujud yang disebut manusia sebagai kuntilanak hitam."

   "Mana ada kuntilanak hitam? Dimana-mana yang namanya kuntilanak itu putih atau merah! Jangan dusta kamu!" kataku membantah.

    "Aku tidak berdusta. Aku memang kuntilanak hitam. Tidak banyak dari jenisku. Jarang sekali. Mungkin kamu belum pernah melihat yang sepertiku."


     Aku diam, kupikir-pikir benar juga, mungkin aku belum pernah melihat. Orang-orang mungkin juga belum pernah melihatnya. Tapi sudahlah, nggak penting untuk diketahui.

   
Quote:"Kenapa kamu mencegat aku dan teman-temanku?" kataku setelah terdiam.

   "Aku tertarik dengan auramu. Bersinar menenangkan."

  "Aura itu apa? Aku nggak punya aura!" bantahku nggak ngerti.

 "Semua orang punya aura. Dan auramu itu putih biru, sejuk.. membuatku nyaman.. Bolehkah aku ikut denganmu?"

   "Tidak boleh!" jawabku cepat.

   "Kenapa?" tanya nya.
   "Aku takut!" Jawabku.

   "Kamu takut denganku?"

   "Tidak! Aku takut kamu akan mencelakakanku, aku takut kamu mengganggu keluarga dan teman-temanku. Dan satu hal yang penting, aku takut kamu akan membuat aku jadi jahat. Pokoknya tidak boleh!"


  Aku ingat perkataan guru agamaku yang bilang kalau manusia meminta sesuatu kepada jin, maka dia termasuk syirik, dan itu adalah dosa yang tak terampuni. Dan kalau manusia sampai tergoda bujuk rayu jin, maka dia akan menjadi jahat.

   
Quote:"Ya sudahlah… tapi boleh kan kalau aku memantaumu dari jauh? Membantumu kalau kamu butuh bantuan?"

   "Terserah! Asal jangan dekati aku, keluargaku, dan teman-temanku. Dan yang penting aku tidak minta sesuatu darimu, dan tidak meinta bantuanmu" kataku dengan ketus.

"Terimakasih. "Ini terimalah. Ini adalah hadiah dariku." katanya sambil mengulurkan tangan.


     Entah darimana, tahu-tahu dia sudah memegang sesuatu. Ternyata yang dibawanya adalah cincin berwarna putih dengan mata batu berwarna merah terang. Batu merah itu sebesar kacang tanah. Indah sekali cincin itu.

Quote:   "Apa ini? Aku nggak suka menyimpan benda-benda seperti itu.!" kataku.

     "Ini cuma cincin biasa, cuma perhiasan, anggaplah sebagai kenang-kenangan."

   Akhirnya ku terima cincin itu. Kuanggap sebagai cincin biasa cuma seperti perhiasan. Lagian bagus banget juga.

   "Baiklah, aku harus pergi. Aku akan selalu mengawasimu. Aku akan datang membantu kalau kamu butuh bantuan." kata makhluk itu.

    "Terserah lah... Kamu dah mengganggu perjalananku yang membuatku kemalaman sampai rumah!"

   "Maafkan aku.. membuatmu kemalaman… satu hal lagi, sebenarnya kamu adalah anak istimewa. Anak yang diberi kelebihan, bisa melihat dan merasakan makhluk-makhluk sepertiku… dan kelebihanmu menjadi semakin kuat setelah bertemu denganku.. selamat tinggal…"

    Dia menghilang begitu saja dari hadapanku. Aku masih diam ditempat memikirkan kata-katanya. Kelebihan apanya?! Kutukan, malah iya! Menjadi manusia nggak normal kok diberi kelebihan, istimewa katanya. Istimewa darimana?! Malah kalau bisa, aku memilih nggak diberi kelebihan, aku memilih nggak menjadi istimewa.

   Itulah pertama kali aku berbicara dengan bangsa jin, pertama kali berinteraksi dan menanggapi makhluk halus. Entah kenapa saat itu kok aku mau-maunya menanggapi. Seakan tersihir untuk mau berbicara dengan mereka.
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
HITAM
16-04-2020 23:02
Ijin gelar tenda mbah...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
HITAM
17-04-2020 08:58
Tambah peka

Setelah pertemuanku dengan sosok yang mengaku Kuntilanak Hitam itu, aku sudah nggak memikirkannya lagi. Bahkan aku sampai lupa pernah bertemu dengannya, karena aku emang orang yang tidak memikirkan suatu hal dengan mendalam.

   Ada hal baru yang terjadi di kampungku. Aku merasakan kampungku seakan-akan jadi jauh lebih ramai. orang berlalu-lalang di jalan depan rumah. Kenapa jadi ramai begini? Pada kemana itu kok lalu lalang begitu? Pikirku. Tapi waktu kulihat sekilas, nggak ada yang kukenal, orang-orang baru. Mungkinkah ada orang yang pindah dan menetap dikampung ini? Tapi kenapa banyak banget? Makin ku pikirkan, makin penasaran. Daripada bertambah penasaran, maka kucoba bertanya.

   Suatu siang di jalan depan rumahku, diantara orang lalu lalang, ada orang tua berjalan dengan susah payah, bajunya lusuh, mungkin usianya 80 tahunan karena jalannya sudah susah. Kudekati dia dan mencoba bertanya.

   
Quote:"Mbah.. mau kemana?"

   Orangtua itu diam aja sambil terus berjalan.

   Aku panggil lagi. "Mbah…!"


  Akhirnya orangtua itu berhenti, menoleh ke arahku. Aku kaget sekali. Wajah itu, bukanlah wajah manusia. Sekilas memang mirip sama wajah orang tua biasa, tapi beda dengan wajah manusia, susah mendeskripsikannya. Lalu kulihat matanya. Pandangan matanya kosong. Tidak ada cahaya sama sekali, beda banget dengan mata manusia!

    Kulihat sekeliling, melihat orang-orang yang lain, ternyata pandangan mata mereka sama, kosong.. Dari situlah baru aku sadar kalau mereka bukanlah manusia. Mereka adalah jin. Tapi kenapa bisa banyak banget begini? Di siang hari pula! Si mbah yang ku ajak bicara tadi pun tau-tau udah nggak ada

  Aku terhenyak, terduduk di tanah halaman rumah. Banyak pertanyaan di kepalaku. Kenapa aku sekarang bisa melihat mereka semua? Di siang bolong begini pula! Biasanya aku melihat cuma 1-2 makhluk. Ini kenapa bisa langsung banyak begini? Lalu aku teringat pertemuanku dengan Salma, makhluk yang mengaku kuntilanak hitam. Dia bilang kelebihanku akan semakin kuat setelah aku bertemu dengannya. Disitulah aku  sadar, jadi ini yang dia maksud.

    Aku masuk kerumah dan duduk di kursi ruang tamu. Sepertinya ada yang terlewatkan, tapi apa ya..? Ahh.. iya, aku baru sadar kalau ternyata rumahku sepi dari makhluk-makhluk halus, padahal di jalan depan rumah dan di sekitar rumah itu banyak. Seingatku, sedari kecil dulu aku nggak pernah melihat satupun sosok makhluk halus didalam rumahku, seperti yang sering kulihat waktu berada diluar rumah. Kok didalam rumah bisa "bersih" begini? Aahh sudahlah.. ngapain mikir hal nggak penting kayak gitu, pikirku.

     Sekarang baru aku tau kalau makhluk halus itu di siang bolong pun tetap ada. Mereka juga beraktivitas seperti manusia. Bekerja, punya rumah, punya anak istri. Aku bingung dengan apa yang kurasa, heran, takjub. Seakan suatu dunia baru, alam lain, terbentang di hadapanku. Alam yang terasa sangat asing. Alam lain yang dulunya kulihat samar-samar, sekarang terlihat jelas.

      Malam harinya sehabis sholat isya, aku duduk-duduk sendirian di depan rumah. Kulihat jalan depan rumah sepi, nggak ada makhluk yang lewat. Apalagi orang lewat, blas nggak ada Aku heran, biasanya jalan ini ramai oleh makhluk-makhluk halus, sekarang jadi sepi.

      Tiba-tiba kulihat nyala api kecil di jalan sebelah kiri ku, aku pikir itu adalah tetanggaku yang membawa obor. Orangnya tidak kelihatan, tertutup pagar rumah. Aku menunggu dia lewat. Hari gini masih pake obor, mbok ya pakai senter biar praktis, gitu pikirku.

  Nyala api itu semakin dekat, berhenti didepan rumahku, baru aku sadar kalau orangnya tidak ada, bahkan batang pegangan obor pun nggak ada, cuma nyala api sebesar bola tenis melayang di udara..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
HITAM
17-04-2020 21:56
nyimak.
emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Lazyfisherman dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
HITAM
17-04-2020 23:10
Quote:Original Posted By bobzlogic
nitip sendal pejwan ah..

Quote:Original Posted By Epot014
Ijin gelar tenda mbah...

Quote:Original Posted By bukhorigan
nyimak.
emoticon-Cool

Semoga bisa menghibur
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
HITAM
18-04-2020 06:44
Bantuan Salma

    
Nyala api sebesar bola tenis itu masih melayang di sana, di jalan depan rumahku. Perlahan-lahan, api itu membesar, terus membesar, kemudian mulai tampak wujud kepala, lalu badan, tangan dan akhirnya kaki. Sekarang nyala api itu berbentuk seperti manusia utuh, manusia api!

   Tanpa ku duga, makhluk api itu melayang ke arahku. Aku jadi kaget, dan berusaha lari menghindar. Tapi sebelum makhluk itu masuk pekarangan, mendadak ada kelebat kain panjang berwarna hitam, melesat menabrak makhluk api itu, terdengar ledakan kecil saat mereka bertabrakan. Makhluk api terpental jauh ke jalan. Kain hitam itu melesat mengejar makhluk api itu, seakan terus memburunya. Kembali mereka bertabrakan dengan ledakan kecil. Makhluk api itu terpental lagi lalu menghilang.

    Aku sempat bengong menyaksikan semua itu, seperti mimpi saja bisa melihat hal kayak gitu. Mendadak kain hitam itu melesat ke arahku, reflek aku menghindar. Tapi ternyata kain itu berhenti didepanku, berdiri memanjang atas bawah. Lalu kain itu perlahan berubah menjadi wujud manusia. 

   Ternyata dia adalah seorang gadis, cantik sekali, memakai gaun hitam panjang. Rambut lurus tergerai panjang dan hitam. Kulit putih, hidung mancung, alis tebal, bibir tipis. Kalau sekarang, bisa ku deskripsikan wajahnya seperti gadis dari Timur Tengah. Belum pernah aku melihat wajah itu.. lalu aku sadar kalau dia adalah jin.


      
Quote:"Kita bertemu lagi, Arya." sapa makhluk itu.

      "Siapa kamu? Tau namaku dari mana?!" sahutku. "Kalau kamu berniat mengganggu, lebih baik pergi dari sini!"

     "Masak kamu lupa sama aku? Aku Salma."


   
Aku berusaha mengingat-ingat. Salma.. iya, aku baru ingat, dia adalah kuntilanak hitam berwajah putih menyeramkan yang pernah menemuiku dulu. Auranya pun sama, berubah-ubah panas dan dingin. Hitam dan putih. Kenapa dulu dia tidak berujud seperti ini saja?! Kan enak dilihat, nggak bikin merinding kayak dulu. Nggak nyangka ternyata dia mengikutiku sampai sekarang. Kukira itu cuma pertemuan 1x aja, sesudah itu dia akan pergi, ternyata tidak.


    
Quote:"Salma? Kenapa ujudmu bisa berubah seperti ini? Kamu sekarang jadi…. Cantik.. eh.." kataku keceplosan.

      "Kamu lupa ya, aku ini jin, aku bisa merubah wujud."
    Iya juga ya, dia kan jin, bisa merubah-rubah sosoknya. "Terus kenapa kamu kemari? Kenapa tadi kamu membantuku?"

   "Aku sudah pernah bilang, aku akan terus memantaumu, aku akan datang ketika kamu dalam bahaya, seperti tadi."

   "Aku nggak butuh bantuanmu, ada yang jauh lebih hebat yang akan membantuku, yaitu Tuhanku."
    "Aku percaya itu. Tapi Ini inisiatifku sendiri untuk membantumu." kata Salma. Dia melayang mendekat ke arahku. Otomatis aku mundur-mundur menjauh.

   Lalu dia menyambung omongannya. "Aku kesini juga mau mengusir makhluk-makhluk halus di sekitar sini yang sering usil menampakkan diri. Kamu sekarang bisa melihat mereka semua dengan jelas, aku kuatir kalau kamu terganggu, jadi aku usir aja semua." 

   "Jadi jalanan jadi sepi dan bersih dari makhluk-makhluk itu karena perbuatanmu?"

      "Iya, biar kamu nggak merasa terganggu"

    "Ya sudah terserahlah.." kataku akhirnya.

    "Dimanakah cincin yang aku beri dulu? Kok nggak kamu pake?"

     Inget aja ini jin ama cincin itu. "Ada di saku ku, belum aku pakai." kataku sambil merogoh saku dan mengeluarkan cincin itu.

      "Ya sudah.. yang penting jangan kau buang.."

     "Apa sih pentingnya? Cuma cincin kayak gini. Meskipun bagus sih.." tanyaku. Memang aku benar-benar nggak ngerti soal cincin kayak gitu. Yang kutahu, cincin itu bagus sekali.

     "Cincin itu adalah penghubung antara aku dan kamu. Kalau kamu membawa terus cincin itu, maka aku akan tahu dimanapun kamu berada. Kalau kamu mau, kamu bisa memanggilku sewaktu-waktu, aku pasti datang, ya karena cincin itu.." jelas Salma.

   Waduh.. Malah serasa kayak di mata-matai ya, apa cincin ini menjadi semacam GPS di jaman sekarang ini? Wah, kalau gitu, nggak aku bawa kemana-mana aja deh.

  Salma menambahkan.  "Sebenarnya masih banyak kegunaan cincin itu, tapi aku tau kamu nggak mungkin menggunakannya."

   "Emang apa kegunaan lainnya?" tanyaku.

   "Nanti kamu akan tahu sendiri." Jawabnya.


    
Aneh banget ini jin, dulu bilangnya itu adalah cincin biasa, terus tadi ngasih tau ada kegunaan lain cincin itu. Sekarang nggak mau ngasih tau apa kegunaanya.. Aku masih saja keheranan, kenapa ini jin mengikutiku sampai sejauh ini? Dan tadi juga sempat membantuku. Padahal dulu aku melarang dia mengikuti aku. Mendadak terdengar suara ayah mengagetkanku.


   
Quote:"Ngapain kamu duduk di tanah di tengah halaman kayak gitu?" kata ayah, entah sejak kapan dia berdiri di ambang pintu.
   Aku cuma cengengesan. "Hehe.. Lagi ngadem yah.." jawabku sekenanya. Aku menoleh ke Salma ternyata dia sudah menghilang.
      "Masuk rumah sana, dah malam.. cepet tidur.." kata ayah.
     "Iya ayah.." kataku sambil masuk rumah.


Aku masuk rumah, terus ke kamar dan bersiap tidur, tapi kemunculan Salma tadi, mau nggak mau membuat aku mikir, apakah dia akan mengikutiku terus? Apa dia juga akan membantu terus ketika aku dalam bahaya? Terus apa tujuannya? Apa keuntungannya? Lha kenapa aku malah mikir sejauh itu? Ah sudahlah, Lebih baik tidur.
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
HITAM
18-04-2020 07:35
Maaf ni.. maaf..
Kemarin indeks nya nggak pas, luput. Tapi sekarang udah dibenerin, udah pas.
Sorry.. masih nubie..
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
HITAM
18-04-2020 18:23
Rumah

 
 Rumahku terletak di pinggiran kota, jadi tidak terlalu ramai, masih ada kesan suasana desa. Rumahku yang walaupun tidak terlalu besar tapi termasuk asri, ada 2 pohon mangga di pekarangan depan rumah, di pojokan kiri kanan. Di halaman belakang, ada pohon kelapa gading dan pohon jambu air. Kalau siang hari, rumahku jadi nggak terlalu panas, karena adanya pohon-pohon itu.

    Sudah pernah kusebutkan sebelumnya, meskipun di sekitar rumahku ada makhluk-makhluk halus, tapi di dalam rumah tidak ada sama sekali, "bersih" dari makhluk halus. Ini yang membuatku penasaran.  Pada suatu sore aku coba mencari apa penyebabnya. Aku duduk merenung, konsentrasi mencari, maka tergambarlah didepanku, tembok cahaya yang bersinar redup, Tembok sinar ini mengelilingi rumahku, sehingga terlihat seperti benteng yang menjaga rumah.

   Aku berkonsentrasi lebih keras, mencari tahu darimana tembok sinar itu. Maka terlihatlah 4 buah bungkusan kain putih kecil tergantung di 4 sudut rumah sebelah atas. Siapa juga yang memasang bungkusan begituan? Itu kan musyrik namanya. Emang sih untuk membentengi rumah, tapi menurut guru agamaku, kalau pengen terbebas dari bahaya, maka mintalah perlindungan itu kepada Tuhan.  Itu adalah perlindungan paling kuat.

      Aku harus mencari tahu darimana bungkusan itu. Aku harus menanyakan soal itu kepada ayahku. Suatu sore, setelah sholat maghrib, kami sekeluarga menonton tv diruang tamu. Kupikir inilah saat yang tepat untuk menanyakan soal buntalan itu ke ayah.
 

   
Quote:"Yah, itu bungkusan apa..? Kok bisa ada disitu?" kataku sambil menunjuk pojokan rumah sebelah atas.

    "Ooh itu..aku nggak tau apa isinya, dulu mbah kakungmu yang memasang, katanya sih untuk perlindungan rumah." Jawab ayah. Mbah kakung adalah ayah dari ayahku, kakekku. (kakung = laki-laki, mbah kakung = mbah laki-laki = kakek)

    "Mbok dilepas aja to yah.." kataku.

   "Udah biarkan saja, dari pada mbahmu marah." jawab ayah.

   Aku terdiam, berpikir, kalau mbahku yang memasang bungkusan itu, berarti beliau juga mengerti soal makhluk-makhluk halus. Suatu saat kalau ketemu akan kutanyakan ke mbah kakung.

   "Jadi mbah kakung itu mengerti soal makhluk halus gitu to yah..?"

   "Iya.. beliau tahu, dan mengerti...  sepertinya mbahmu itu dapat dari mbahnya lagi. Semacam keturunan gitu."

   "Ooo.. jadi di keluarga kita ada semacam ilmu turun temurun gitu to, baru tahu aku." kataku.

   "Ayah juga nggak tahu soal itu, ntar kalau ketemu mbahmu, coba tanyakan." jawab ayah.

     "Apa ayah juga mengerti soal hal-hal kayak gitu?  Seperti mbah kakung?"

    "Tidak, ayah tidak mendapat ilmu turunan itu. Tapi ayah senang tidak mendapatkanya."

   "Terus selain kakek, ada nggak anggota keluarga kita yang bisa mengerti hal-hal kayak gitu?"

    "Pakdemu itu sebenarnya juga bisa, tapi dia mendapatkan itu bukan karena keturunan, dia memang belajar dan berguru."

   "Pakde Nardi itu bisa juga yah?!"

  "Iya, tapi sepertinya tidak terlalu dalam, soalnya dia bukan keturunan, tapi cuma belajar, jadi ya nggak terlalu kuat lah.."


   Pakde Nardi adalah kakak dari ayahku. Baru aku tahu kalau dia juga bisa. Ntar kapan kapan aku pergi ke rumahnya aja, mau menanyakan hal-hal kayak gitu.

   Sekarang baru aku mengerti dari mana ini semua, apa yang terjadi denganku, adalah ilmu turunan yang sudah turun-temurun. Ternyata yang dipikirkan ayah itu sama dengan yang kupikirkan. Tidak mau mendapat kelebihan atau apalah itu namanya. Tapi aku nggak bisa memilih, hal itu datang secara acak dari nenek moyang, menurun ke salah satu keturunan tanpa bisa dihindari dan tentunya atas seizin Tuhan. Dan sialnya, kebetulan aku yang ketiban turunan itu. 

   Mungkin ini adalah cobaan dari Tuhan, karena kalau Tuhan tidak mengizinkan, semua ini tidak akan terjadi. Ya Sudahlah.., aku menerimanya dengan pasrah, dan mencoba jadi lebih sabar lagi...
 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
HITAM
19-04-2020 08:33
Onggo-inggi

Aku sudah naik ke kelas 6 dan sekarang adalah liburan tengah semester Untuk mengisinya, aku biasa menyalurkan hobiku. Salah satu hobiku adalah memancing. Dari kecil aku suka memancing. Apalagi rumahku dekat dengan sungai. Siang itu sepulang sekolah aku dan temanku Edi dan Joni berencana memancing ke sungai. Aku mempersiapkan pancing sederhanaku. Di halaman sudah ada 2 temanku menunggu. Aku pamit ke ibuku.


Quote:   "Bu, aku mau mancing di sungai, sama Edi dan Joni,boleh ya?"

   "Jangan pulang terlalu sore ya. Dan jangan dekat-dekat dengan kedung. Sudah banyak orang tenggelam disitu, soalnya sungai dibagian itu dalam banget, lagian disitu ada onggo-inggi nya." pesan ibu.

    "Onggo-inggi itu apa bu?"

  "Onggo-inggi adalah hantu sungai, suka menyeret orang kedalam air hingga tenggelam. Ingat pesan ibu, jangan dekat-dekat ke kedung." (Kedung= bagian terdalam dari sungai, palung sungai)

  "Iya bu.." aku berjalan keluar rumah." Yuk berangkat, biar nggak kesorean." kataku pada 2 temanku.


  Kami bertiga berangkat ke sungai jalan kaki. Sesampainya di sungai, menyiapkan segala peralatan pancing, maka dimulailah keasyikan memancing. Tapi nasib kayaknya lagi sial, setelah 1 jam memancing, nggak ada 1 ikanpun yang nyangkut. Sampai berganti-ganti umpan pun tetap aja ikannya nggak ada yang makan.


Quote:   "Sial bener, apa ikannya sudah habis ya? masak nggak dapat ikan sama sekali?!" gerutu Edi.

   "Mungkin kitanya aja yang nggak bisa mancing!" timpal Joni.

   "Ya mungkin malah dua-duanya, ikannya habis, dan kita juga nggak bisa mancing, hehe.." kataku sekalian aja.

  "Kita pindah ke kedung aja yuk, katanya disana banyak ikannya." ajak Edi.

    "Nggak mau ah, tadi sudah dipesan ibuku, nggak boleh kesana." jawabku.

   "Alaaah, sebentar aja kok, yuk?!"


   Edi sudah berjalan pindah menuju kedung. Terpaksa aku dan Joni mengikuti. Kedung sungai terletak agak ke hilir, agak jauh. Kami harus berjalan kaki kira-kira 10 menit. Disini banyak pohon-pohon lebat dan rumput-rumput di pinggiran sungai, tampak singup dan angker.
Kami menyiapkan umpan, lalu mulai memancing. Dan benar saja, baru 5 menit memancing, Edi sudah dapat 1 ikan besar, berturut-turut aku dan Joni juga dapat. Seperti panen, ikan terus nyangkut di kail kami. Nggak nyangka begitu banyak ikan disini.


Quote:   "Bener kan kataku?! Disini emang banyak ikan!". kata Edi.
"Iya juga sih, tapi aku masih takut, disini kan airnya dalam banget?!" kataku.


 
 Kami terus memancing, makin banyak ikan yang kami dapat. Saking asyiknya kami mancing, tak terasa waktu sudah sore, mungkin jam 5 lebih, menjelang petang. Dalam remang-remang itu, di tengah sungai, aku melihat semacam rambut yang panjang kusut mengambang terbawa arus. Belum lagi aku tahu itu apa, tiba-tiba rambut itu keluar dari air, dan dibawah rambut itu ternyata ada kepala!

  Yang muncul di permukaan air cuma kepalanya aja, badannya nggak kelihatan. Aku mengira itu adalah orang yang tenggelam. Kupertajam pandanganku. Tapi kepala itu membuka matanya! dan tertawa terkekeh-kekeh, memperlihatkan taring menyembul di mulutnya, dengan mata yang melotot, kulit keriput seperti bekas terbakar. Tiba-tiba kepala itu berteriak.


Quote:    "Huahahaha, aku sudah memberikan ikan yang banyak ke kalian, sekarang aku minta nyawa kalian. Hahahaha.." kata kepala itu dengan suara besar dan berat mengerikan.


  
Kemudian kepala itu melesat cepat di permukaan air, menuju ke arah kami. Sontak, Edi dan Joni langsung lari tunggang langgang. Aku juga berdiri dan mau ikut lari, tapi terlambat! Kakiku terasa kayak ada yang mencengkeram yang membuat aku tidak bisa lari. Ketika kulihat kakiku, ternyata yang mencengkeram adalah semacam tentakel gurita! Tapi mana ada gurita di sungai?!

   Cengkeraman tentakel di kakiku terasa semakin menguat . Aku menjejak-jejakkan kaki berusaha melepaskan diri, tapi tetap tidak bisa lepas. Sementara itu kepala sudah mendekatiku. Kedua Temanku sudah tidak kelihatan lagi. Sedikit demi sedikit, tentakel itu mulai menarikku ke dalam air. Reflek aku memegang pohon yang ada di pinggir sungai. Sambil berdoa kepada Tuhan, aku terus menjejakkan kakiku, meskipun tetap tidak berhasil.

  Sempat terlintas di pikiranku mungkin ini adalah onggo-inggi yang diceritakan ibu. Aku menoleh ke kepala itu agar bisa mellihat sosoknya. Ternyata kepala itu sudah berada diluar air, dan badannya berbentuk gurita, tetapi tentakelnya banyak sekali dan panjang-panjang! Jadi onggo-inggi itu makhluk berbentuk gurita dengan kepala manusia seperti kakek-kakek, bertaring, berambut panjang kusut.

   Ditengah kepanikan karena terancam bahaya, aku terus memegang erat batang pohon itu sambil terus berdoa. Saat keputusasaan sudah di ujung,  aku teringat 1 nama, tanpa sadar ku berbisik nama itu.


Quote:  "Salma!"


Pegangan tanganku ke batang pohon semakin mengendor, tenagaku habis sementara tentakel itu terus berusaha menarikku ke air. Saat itulah dari atasku melesat bayangan hitam langsung melabrak makhluk jin sungai itu. Cengkeraman di kakiku terlepas. Aku langsung berusaha merangkak menjauhi sungai, setelah agak jauh, aku berbalik melihat. 

   Ternyata bayangan itu adalah Salma yang sedang berujud kuntilanak hitam. Jauh lebih seram daripada saat pertama kali kami bertemu, ditambah kuku jari tangan yang panjang banget. Salma mengibas-ngibaskan tangan kearah makhluk sungai itu, seperti gerakan menebas dengan tangan.

   Dari tangan salma keluar sinar-sinar biru berbentuk sabit. Dan sinar-sinar itu seolah memotong-motong tentakel makhluk itu. Terdengar jeritan keras dari makhluk itu, namun cuma sebentar, karena kemudian kepalanya ikut terpotong sinar biru dari Salma. Makhluk itu terpental masuk ke sungai dalam bentuk terpotong-potong.

    Salma sudah berubah bentuk lagi menjadi wanita cantik berjubah hitam. Dia masih berdiri melayang di tepi sungai, mengawasi kearah jatuhnya makhluk tadi, seakan memastikan kalau makhluk itu benar-benar musnah. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan.


 
Quote:   "Maafkan aku Arya, aku datang terlambat, karena aku harus mencarimu dulu. Kamu tidak membawa cincin yang ku berikan." kata Salma menyesal.

     "Sudahlah, tidak apa-apa. Aku yang salah, tidak menuruti pesan ibu. Aku mau pulang saja." kataku sambil masih gemetaran.

  "Aku akan mengikutimu sampai rumah, memastikan kamu aman." kata Salma.


   Memang cincin pemberian salma itu sudah jarang aku pakai. Sebenarnya aku nggak mau minta bantuan ke Salma. Tapi tadi dengan sangat terpaksa aku memanggil Salma, karena nyawaku dalam bahaya. Aku pulang dengan tubuh lemas sekali, dan dengan rasa bersalah ke ibu. Bahkan ikan hasil pancingan tadi, beserta pancingnya sekalian, kutinggalkan di sungai. Pulang kemalaman. Wah, pasti ibu marah besar ini.
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
HITAM
19-04-2020 10:56
Keren ceritanya gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
HITAM
19-04-2020 18:13
Quote:Original Posted By Ramboindo11
Keren ceritanya gan

Thanks gan..
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan Lazyfisherman memberi reputasi
2 0
2
HITAM
20-04-2020 08:50
Pakde

    Tak terasa aku udah lulus aja dari sd. Dan saat ini lagi liburan kelulusan. Aku berniat mengunjungi rumah pakde Nardi, karena aku jarang banget kerumahnya, Pakde Nardi adalah kakak pertama dari ayahku. Nanti sekalian aku akan menanyakan tentang keanehan yang terjadi padaku.  Kata ayah, pakdeku ini juga tahu hal-hal mistis dan alam gaib.. Rumah pakde agak jauh dari rumahku, beda desa.. Aku ke rumah pakde dengan naik sepeda

   Setengah jam naik sepeda, aku sampai di depan rumah pakde, di halaman rumahnya aku lihat sosok gagah berpakaian dan berikat kepala hitam seperti pendekar jaman dahulu, aku tau dia itu adalah bangsa jin, sepertinya sosok ini menjaga rumah pakde. Aku masuk ke halaman rumah, sosok itu tersenyum padaku, aneh, tahu aja nggak. Aku terus melangkah ke rumah pakde, sampai di depan pintu, aku mengucap salam.

 
Quote:  "Assalamu 'alaikum."

  "Wa'alaikum salam." Terdengar jawaban suara dari dalam. Sesaat kemudian tampak pakde keluar dari rumah. "Weehh.. kamu to Ndra, sudah lama nggak kesini.. mari masuk.."

  "Iya pakde." Aku berjalan mengikuti pakde masuk kerumahnya. Kami duduk diruang tamu.

   "Ada apa ini.. tumben ke sini.. ayah ibumu baik-baik saja kan?"

  "Iya alhamdulillah mereka sehat pakde.. anu…" omonganku terhenti karena aku melihat sosok perempuan melayang di tengah ruang tamu, terus menuju pojok rumah. Pandanganku terus mengikutinya sampai ke pojok. Perempuan itu lalu tersenyum padaku, tanpa sadar aku ikut tersenyum dengan kikuk.

    Pakde menyadari ini dan ikut menengok ke pojok. "Lhoh?! Kamu bisa melihat dia to Ndra?" tanyanya terkejut

   "Hehehe. Iya pakde.. cantik banget. .pendekar di halaman itu juga gagah."

  "Oalahh.. ternyata kamu juga bisa.. kok ya nggak bilang-bilang.. sejak kapan?"

  "Sejak kecil pakde.."

  "Kok ayahmu nggak pernah cerita ya.. tapi orangtuamu tahu nggak?"

   "Hehe.. belum tau pakde."

  "Gimana sih, orangtua malah nggak dikasih tau."

  "Aku takut mereka nggak percaya pakde, atau malah mereka panik ntar. makanya aku nggak cerita. Tapi ayah pernah cerita kalau pakde ini bisa, makanya aku kemari, buat nanya-nanya."


Tiba-tiba aku merasa aura sangat kuat berubah-ubah panas dan dingin, sepertinya ini adalah aura Salma, tapi dia dimana ya? Kok dia bisa menyusulku? Atau emang dari rumah dia mengikuti dari rumah ya? batinku. Pakde tampaknya juga merasakan karena dia terdiam beberapa saat.

  Jin perempuan penjaga rumah pakde melayang ke pintu, rupanya dia juga merasakan aura itu, dia tampak waspada, terlihat dari gerakannya yang memasang sikap bertahan, lalu dia melayang ke luar rumah.

Quote:"Sebentar." kata pakde, lalu dia berdiri, berjalan menuju pintu, dan melihat keluar, ke arah jalan. "Perempuan itu mengikutimu to Ndra?" tanya pakde.

  "Perempuan yang mana pakde?" tanyaku berpura-pura.

    "Itu yang di jalan depan rumah." kata pakde sambil menunjuk ke luar.

   Aku berdiri untuk ikut melihat keluar. "Eehh,.iya pakde.. hehe.. namanya Salma."


   Di halaman rumah pakde, kulihat jin perempuan dan jin laki-laki penjaga rumah pakde tampak waspada, menatap tajam mengintimidasi ke arah Salma. Mereka seakan mencegat dan siap menyerang kalau Salma masuk ke halaman. Sebaliknya, Salma malah terlihat santai, dia berdiri melayang di seberang jalan, sambil senyum-senyum meremehkan, wajar saja, auranya jauh lebih kuat dibanding dua jin penjaga rumah pakde itu.

Quote: "Weh.. kuat banget lho, pasti itu jin sudah tua umurnya, auranya kuat banget., tapi kok berubah-ubah ya?"

  "Ya itu yang bikin aku bingung pakde."

   "Sudah berapa lama dia ikut kamu?"

  "Sebenarnya aku nggak mau dia ngikut kok pakde, tapi dia nekat aja."

   "Lho? Kenapa nggak mau?"

  "Karena aku nggak mau bergantung pada jin nantinya."

  "Ya baguslah kalau gitu.. Eh, cantik lho dia, lebih cantik dari nyai itu." kata pakde bercanda sambil menunjuk ke pojokan rumah, kearah sosok perempuan yang lewat tadi. "Sejak kapan kamu tahu dia?"

 "Yaa sudah setahunan lebih pakde. Dia juga sering membantuku. "

   "Wah.. nggak nyangka, bisa diikuti jin yang sangat kuat kayak gitu.. Dia bisa ngikuti kamu gimana ceritanya?"

  "Entahlah pakde, suatu hari tau-tau dia datang begitu saja, terus ngomong kalau pengen ikut aku, tapi aku nggak mau."

 "Seharusnya orangtuamu tau ini, nanti biar pakde yang ngomong ke mereka."

  "Terserah pakde aja lah." jawabku. "Aku mau nanya, sebenarnya ini semua dari mana to pakde?

  "Sebenarnya ini adalah keturunan, tiap 2 generasi pasti ada salah satu anggota keluarga yang bisa ini. Selalu begitu sejak dulu, semacam turun-temurun. Tetapi pakdemu ini bukan keturunan, karena kakekmu juga bisa, maka harusnya generasi cucunya yang bisa. Eh ternyata nurun ke kamu."

  "Lha pakde bisa dapat itu darimana?"

  "Sudah sejak muda, pakde tertarik dengan hal-hal gaib gitu, jadi pakde belajar, dan berkeliling mencari guru. Jadi ini bukan alami. Karena itulah jadi nggak begitu kuat."

  "Oo gitu ya.. lha terus yang pakde dapatkan itu digunakan untuk keperluan apa? Maksudku, ada gunanya nggak?" tanyaku penasaran.

   "Yaa ada lah gunanya. Sebenarnya pakde belajar kayak gitu cuma sekedar hobi, menjawab semua rasa penasaran. Tapi kadang ada juga tetangga minta bantuan ke pakde karena diganggu makhluk halus. Ya pakde cuma menolong sebisanya aja. Kalau kira-kira nggak kuat ya dilepas aja."

  "Owh, ada gunanya ternyata."

   "Iya pasti lah. Kalau kamu pengen tau soal silsilah nenek moyang kita, tanyalah ke mbah kakung, dia tahu dengan detail itu."

  "Ooo.. yaudah, nanti kapan-kapan berkunjung ke rumah kakek." jawabku. "Sebenarnya aku nggak mau kok pakde, bisa kayak ginian, kalau bisa ya tak buang aja."

  "Lhoo kenapa? Aku yang pengen bisa aja harus belajar kesana kemari kok. Kamu yang sudah bisa malah nggak mau."

   "Nggak tenang pakde, kemana-mana selalu melihat, bikin risih. Lagian aku takut lama-lama jadi bergantung pada itu."

  "Yaa bagus sebenarnya."

  "Pakde tau gimana cara membuangnya?"

  "Wah.. kalau untuk kasus kayak kamu ya susah. Kalo aku sih gampang, aku kan dulu mencari dan belajar, kalau ingin membuang ya tinggal buang aja ilmunya, atau melanggar pantangannya, udah hilang sendiri."

  "Jadi pakde nggak bisa ya?" kataku kecewa.

   "Kalau aku sih nggak bisa. Mungkin ada orang lain yang bisa, mungkin ustad pondok pesantren."

  "Wah, harus mencari ustad yang bisa donk."

  "Sepertinya memang harus begitu. Kamu yakin mau menghilangkannya? Nggak ingin mengendalikannya..?" tanya pakde.

  "Lha emang bisa dikendalikan pakde?" tanyaku heran.

  "Ya bisa lah.. malah kalau sudah bisa mengendalikan, maka akan semakin kuat." 

  "Nggak ah, dihilangkan saja." kataku.

 
Pakde Nardi lalu mengajakku ke suatu ruangan dirumahnya. Didalam ruangan itu kulihat berbagai macam senjata kuno. Mulai dari aneka macam keris, besar dan kecil, ada juga macam-macam tombak. Di tengah ruangan ada meja kecil, dan diatas meja itu tersusun rapi banyak sekali sekali jenis akik aneka warna. Disudut kanan ruangan tampak peti-peti kecil, peti itu semuanya berbentuk bagus banget.

Mungkinkah semua ini yang disebut benda-benda pusaka? Berarti didalam benda-benda ini ada jin nya. Entahlah, saat ini aku nggak mau melihatnya. Aku harus konsentrasi dulu kalau pengen melihat jin yang berada di dalam suatu benda, makanya saat ini aku malas melihatnya.

Pakde melangkah menuju ke lemari di sudut kiri ruangan, membukanya, lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari itu. Dia berbalik ke arahku, ternyata yang diambilnya adalah 2 bungkusan kain putih. Dia meletakkan 2 bungkusan itu ke atas meja.

Bungkusan pertama berisi keris sangat kecil, seukuran jari telujuk, tak bergagang, berwarna kuning emas, mungkin memang terbuat dari emas. Ada ukiran-ukiran di sepajang badan keris itu. (orang menyebutnya cundrik)

Bungkusan kedua berisi logam kuning berbentuk kerucut dengan bagian bawah melebar ke bawah. Panjangnya sekitar 10 cm. Ditengah bagian bawah itu ada semacam pegangan. Benda ini tipis sekali, dan ada ukiran-ukirannya juga.(orang menyebutnya gunungan wayang)

Waktu itu aku tak tahu apa nama kedua benda itu, yang pasti, 2 benda itu bagus berkilat-kilat. Aki masih heran, darimana pakde mendapat benda-benda ini, mana banyak banget lagi.

Quote:"Aku mau memberikan sesuatu ke kamu. Pilihlah, yang mana yang kamu suka, dua--duanya juga boleh." kata pakde padaku.

"Pakde memberikan ini padaku? Sebenarnya benda ini intuk apa to pakde?" kataku.

"Ya cuma untuk pegangan, koleksi. Kamu mau nggak?" tanya pakde.

"Makasih banyak pakde, tapi aku nggak suka menyimpan benda-benda semacam itu." jawabku.

Pakde tampak heran. "Beneran kamu nggak mau?"

"Nggak pakde, makasih banyak."

"Ya sudah kalau gitu." Pakde membungkus kembali dua benda itu. "Tapi kalau suatu saat kamu berubah pikiran, datanglah kerumah pakde."

"Iya pakde, sekali lagi,makasih banyak." jawabku.


Kami berbincang--bincang lama sekali, sore, akupun pamit pulang, pakde melarang aku untuk pulang dan menyuruh aku menginap di rumahnya. Dengan halus aku menolaknya. Pakde berpesan agar aku agar sering-sering datang kerumahnya. Mungkin dia ingin mengajariku mengendalikan keanehan di diriku ini. 

  Sekarang makin jelas, yang terjadi padaku adalah keturunan, seperti yang pernah dikatakan ayah. Dan sayangnya pakde tidak tahu cara menghilangkannya. Yang bikin aku penasaran dan jengkel, kenapa harus aku yang menerimanya?
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
HITAM
20-04-2020 11:21
lanjut lagi gan ...berasa kyk bukan cerita fiksi ,kyk asli ....ditunggu update selanjutnya ya emoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
HITAM
20-04-2020 12:32
emoticon-Jempolemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
HITAM
20-04-2020 13:18
Quote:Original Posted By blckmmb7
lanjut lagi gan ...berasa kyk bukan cerita fiksi ,kyk asli ....ditunggu update selanjutnya ya emoticon-Ngacir

Quote:Original Posted By ngrh93
emoticon-Jempolemoticon-Jempol

Siap
Diubah oleh Mbahjoyo911
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan Lazyfisherman memberi reputasi
2 0
2
HITAM
21-04-2020 08:19
Serangan

    Malam minggu itu, udara terasa nggak enak banget, panas, lembab, gerah, bikin keringetan. Nggak biasanya hawanya sampai kayak gini. Firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang buruk, tapi aku tak tahu apa itu. Karena didalam rumah terasa sangat panas, maka aku keluar rumah untuk mencari angin.

Ternyata diluar hawanya sama saja. Panas dan lembab. Semakin aneh aja. Aku duduk di kursi depan rumah, baru aja duduk , ibu udah muncul dan menyuruhku ke warung.


Quote: "Ndra, tolong ibu dibeliin kopi ya. Kopinya ayah abis itu. Beli di warung pojokan it aja."

  "Iya bu. Tapi ntar aku dibuatin kopi juga ya." jawabku.

  "Ya ntar aja dibuatin sekalian." Kata ibu sambil menyerahkan uang.


  Aku beranjak mengambil sepedaku dan menggenjot ke arah warung. Sesampai di warung aku beli 2 bungkus kopi. Setelah itu aku genjot lagi sepedaku untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, aku melihat suatu sinar merah melesat cepat diatasku. Kemudian muncul lagi sinar di belakangnya. Muncul lagi, dan lagi, kira-kira ada 10an sinar merah melesat berurutan, dan menuju kearah yang searah dengan rumahku.

  Aku menggenjot sepeda dengan cepat, ngebut. Aku kuatir sinar-sinar itu menuju rumahku. Ternyata sinar-sinar merah itu menabrak dinding rumah pak Har, seorang tetanggaku yang berjarak 4 rumah dari rumahku. Tabrakan sinar-sinar merah dan dinding rumah pak Har itu menimbulkan ledakan-ledakan keras. 

  Kulihat pak Har keluar dari rumahnya, dia celingukan mencari-cari. Lalu dia berdiri mematung, garuk-garuk kepala. Anehnya, tidak ada 1 pun tetangga yang keluar rumah. Apa nggak ada yang mendengar ledakan-ledakan tadi ya? Padahal keras banget tadi.

Di pojokan halaman rumah pak Har, aku melihat dua sosok pocong. Kok bisa ada pocong disini? Biasanya nggak ada jin disini?! pikirku. Pak Har tidak bisa melihatnya, karena 2 pocong itu lewat didepan pak Har, dan pak Har pun tidak bereaksi. Pocong itu melayang ke arah rumah pak Har, terus masuk rumah menembus tembok. Wah.. ada kejadian apa pula ini..?


Quote: "Ada apa pak? Lagi nyari apa?" tanyaku ke pak Har.

  "Eh.. kamu to Ndra. Ini tadi kayaknya ada yang melempari rumah. Keras banget bunyinya. Sampai dinding rumahku bergetar lho. Apa tadi dilempari mercon ya? Kok sampai keras bunyinya." 

  "Masak sih pak? Aku barusan lewat sini, tapi nggak ada orang tuh pak." jawabku pura-pura nggak tau.

   "Ini pasti kerjaan anak-anak perempatan itu! Kurang kerjaan banget, melempari rumah orang, pake mercon lagi!. Kerjaannya cuma mengganggu orang saja!! Awas aja kalau ketahuan!." Pak Har menggerutu sambil berjalan masuk lagi ke rumahnya.


  Memang di batas desa ini ada perempatan jalan yang sering dipakai anak-anak buat nongkrong. Mereka sering nggodain cewek-cewek lewat. Aku melanjutkan bersepeda pulang sambil mikir. Itu tadi sinar apa ya? Kok bisa meledak gitu? Suaranya keras banget lagi. Kenapa yang dituju rumahnya pak Har? Dan kenapa tetangga-tetangga sepertinya nggak denger, padahal ledakannya keras banget. Ah sudahlah, kenapa aku bisa mikirin itu.

  Keesokan harinya, minggu pagi sekitar jam 9, pak Har datang kerumahku. Aku berpikir, mungkin ini ada hubungannya sama kejadian semalam, moga aja aku nggak disalahkan. Mungkin aja pak Har mengira aku yang melempari rumahnya.


Quote:   "Ayahmu ada nggak Ndra?" tanya pak Har.

  "Oh, ada pak, mari masuk dulu, tak panggilkan dulu." jawabku. 


  Selamaaat, selamat.. ternyata pak Har mencari ayahku. Pak Har aku persilahkan duduk diruang tamu. Aku terus masuk memanggil ayah. Lalu aku keluar dan duduk di serambi rumah, tapi dari serambi ini masih kedengaran suara ayah dan pak Har yang berbincang-bincang. Jadi aku masih bisa mendengar dengan jelas tentang apa yang mereka perbincangkan.


Quote:  "Eh.., pak Har, ada apa pak? Kayaknya penting banget."

  "Maaf mengganggu ya pak.. saya kesini mau minta tolong, kakakmu pak Nardi itu kan bisa mengerti soal hal-hal gaib, saya minta tolong buat dihubungkan dengannya, kira-kira bisa nggak pak?" pak Har menjelaskan.

 "Oohh.. tentu bisa.. lha emang ada masalah apa pak?" jawab ayahku.

  "Begini, tadi malam itu rumah saya kayak ada yang melempari pakai mercon, bunyinya keras banget. Itu kemarin si Andra juga pas lewat sana. Terus pas tengah malam, genting rumah itu kayak ada yang menyebari pasir, kayak pasir dituang di genting gitu pak. Pagi harinya, tahu-tahu istri saya merasa sakit diseluruh badan, mau bangun nggak bisa, katanya badan terasa lumpuh, lehernya terasa kayak ada yang mencekik. Saya kok curiga ini adalah kiriman dari orang." panjang lebar pak Har menjelaskan.

   "Kiriman? Maksud pak Har, santet gitu? Ataukah teluh?" tanya ayah.

  "Saya juga nggak tau apa itu. Makanya saya minta tolong, buat dihubungkan dengan mas Nardi. Biar tahu ada apa sebenarnya." Nardi adalah kakak dari ayahku, pakdeku.

  "Waduh.. kok sampai segitunya ya pak, ini namanya musibah kalau gini. Baiklah aku akan ke rumah mas Nardi dan menjemputnya sekarang, lebih cepat lebih baik." kata ayahku.

  "Terima kasih pak, maaf udah mengganggu istirahatnya." pak Har terlihat sungkan

  "Ooh nggak apa-apa, jangan dipikirkan, sesama tetangga kan harus tolong-menolong to pak." jawab ayahku.

  "Ya sudah.. kalau gitu saya pamit dulu, sekali lagi makasih banyak ya pak, dan maaf sudah mengganggu." pak Har pamit pulang.


  Ayah juga mengambil sepeda motornya untuk ke rumah pakde Nardi. Aku masih di serambi rumah, memikirkan, berarti sinar-sinar merah yang kulihat kemarin malam itu ada hubungannya sama sakitnya istrinya pak Har. Kata ayah tadi itu adalah santet, atau bisa juga teluh. 

  Benarkah santet dan teluh itu bentuknya demikian? Entahlah, aku juga nggak ngerti, lagian aku juga belum pernah melihat santet. Gaib memang benar-benar membingungkan, apalagi buat yang bocah sepertiku. Tapi kok aku juga penasaran terus, pengen tahu terus. Mungkin inilah yang dirasakan pakde Nardi, penasaran terus, sampai membuat  dia pengen belajar tentang gaib dan berkelana mencari guru.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
HITAM
21-04-2020 09:51
widih lgsg update ..mantap lah.,cm rada nanggung ya gan updatenya emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Halaman 1 dari 35
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
death-among-us
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia